[Minichapter] Dark Orange (chap 3)

  • Juara 1 SAGITTARIUS SQUAD Fanfic Challenge

Dark Orange
by. HINO
Genre: Romance, Historical, Friendship
Rating : PG-13
Starring : Maruyama Ryuhei, Ohkura Tadayoshi, Yasuda Shota (Kanjani Eight)
Other characters :Inagaki Goro (SMAP), Nagase Tomoya (TOKIO), Domoto Koichi, Domoto Tsuyoshi (Kinki Kids), Kitayama Hiromitsu (Kis-My-Ft2), Ohno Satoshi (Arashi), Murakami Shingo, Yokoyama Yuu (Kanjani Eight), Yaotome Hikaru (Hey!Say!JUMP), Tsukada Ryoichi (A.B.C-Z),Hamada Takahiro (Johnny’s West)
Disclaimer: All characters are under Johnny’s Entertainment.

WATCH THE TRAILER HERE!!

dark-orange-cover

Fajar mulai menyingsing. Cahaya kuning kemerahan merayap perlahan di langit sebelah timur. Bertepatan dengan suara ayam jantan yang berkokok keras di atap gerbang, aku, Yasu, dan Ohkura melangkahkan kaki kami untuk pertama kalinya di tanah Saikan. Berbeda dengan imajinasi menyeramkan yang terbangun dari perkataan Tsukada tentang kota ini, ternyata suasananya sangat damai dan bersahabat. Dibanding dengan dua wilayah yang sudah kami lewati sebelumnya, Saikan seperti punya dimensi dan waktu yang terpisah dari Yoto. Rasanya tidak dapat dipercaya jika kondisi tempat ini masih sangat hidup meskipun berita penyerangan Kaosa telah diketahui oleh orang-orang istana. Persis seperti apa yang diberitahukan salah seorang prajurit elit pada kami, tidak ada satupun pasukan Raja Ohno yang berjaga di sini.

“Aku tidak pernah merasa senormal ini selama sebulan terakhir,” ujar Ohkura melepas tudung kepalanya sambil lalu mematikan lentera. Aku juga, pikirku. Tiap kali kami masuk ke wilayah musuh, kami selalu saja merasa seperti seekor tikus yang sedang mencoba bertahan hidup dalam pengawasan elang-elang kelaparan. Rasa gelisah yang berkepanjangan membuat kondisi kejiwaan kami begitu haus akan ketenangan. Dan suasana di Saikan dapat mengembalikan itu semua. Kami berjalan di tengah kota ini seperti layaknya penduduk biasa. Tidak ada yang menatap kami dengan tajam atau menghardik kami dengan kasar.

“Di mana kita bisa menemui Tsuyoshi?” bisik Yasu seraya menarikku ke sisinya. Tak kusangka ia masih saja merasa tegang sementara aku dan Ohkura dengan tenang mengamati keramaian. Aku tahu kami sedang diburu waktu, tapi kepala kami juga butuh oksigen, sehingga aku pun merangkul anak itu untuk membuatnya sedikit lebih rileks.

“Kita akan segera menemukannya,” ucapku seraya mengangguk. Bekas-bekas sayatan di tangan Yasu terlihat dari sudut mataku ketika anak itu menyingkap tudung di kepalanya. Seketika membuatku merasa gelisah. Terkadang aku harus mengakui bahwa sinar matahari terlalu jujur untuk menampakkan sesuatu yang tidak ingin kulihat.

“Haruskah kita bertanya pada seseorang?” tanya Ohkura membalikkan badannya ke arah kami berdua. Berjalan di sepanjang kegelapan malam tanpa istirahat membuat wajahnya terlihat acak-acakan. Tapi bukan berarti bahwa wajahku tidak. Justru aku yakin kalau kondisiku pasti lebih parah dari dua orang lainnya.

“Kurasa begitu,” jawab Yasu sambil lalu menebarkan pandangannya ke sekeliling. Beberapa orang terlihat mulai memperhatikan kami. Apa boleh buat, jubah hitam yang kami kenakan sangat mencolok dibanding dengan pakaian para penduduk kota. Sebenarnya Ohkura sempat mengusulkan agar kami mencopot jubah sebelum masuk ke Saikan, tetapi hal itu tidak jadi kami lakukan karena tidak ada tempat lain untuk menyembunyikan pedang-pedang kami.

“Permisi,” tiba-tiba saja beberapa orang pria datang menghampiri. Wajah mereka terlihat begitu ramah dan penuh senyuman. “Apakah kalian pendatang?” tanya salah seorang di antara mereka pada kami. Aku, Yasu, dan Ohkura segera saja membenarkan.

“Kami mencari pria bernama Tsuyoshi,” ucap Ohkura memberitahu. Entah ini hanya perasaanku saja atau bukan, namun air muka para pria tadi segera berubah menjadi serius. Keempatnya lalu bergerak perlahan seraya memojokkan kami di dinding sebuah bangunan hingga kami tidak bisa pergi ke manapun. Perawakan pria-pria itu memang biasa saja, tapi aku tidak tahu apa yang membuat kami bertiga terdiam tidak bisa melawan.

“Maaf, Master Tsuyoshi tidak bisa ditemui oleh sembarang orang,” ucap salah satu pria sambil terus menginspeksi kami. Pada titik ini aku sadar bahwa mereka tahu kami membawa senjata, sebab beberapa dari mereka terus menatap pedang-pedang di pinggang kami, yang padahal pedang-pedang tersebut tertutupi oleh kain jubah. Kurasakan Yasu mengambil napas panjang seraya berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.

“Kami utusan Commander Murakami,” ucap Yasu akhirnya, mendahuluiku dan Ohkura yang juga hendak menjelaskan. Segera saja aku menunjukkan kain ungu berstempel Yoto yang diberikan oleh Commander Murakami sebagai tanda pengenal. Yasu dan Ohkura pun mengikuti.

“Ada banyak hal yang harus dilaporkan,” ucapku ketika para pria mengambil kain ungu tersebut dari tangan kami. Setelah sejenak mengkonfirmasi, mereka pun mengangguk dan menawarkan diri untuk mengantar. Kudengar beberapa dari mereka meminta maaf karena telah mencurigai kami, meskipun semua orang tahu bahwa itu adalah hal yang wajar terjadi dalam kondisi siaga perang. Tapi setidaknya mereka tahu sopan santun, pikirku.

“Lewat sini,” ucap seorang pria ketika kami masuk ke sebuah bangunan tua yang sepertinya adalah bekas tempat latihan berpedang. Ia menyuruh kami untuk menuruni tangga rahasia yang tersembunyi di balik tumpukkan kayu-kayu besar. Kupikir ini menarik sekali. Jika Tsuyoshi bukan ancaman bagi Okto dan Yoto, tidak mungkin orang itu membuat tempat persembunyian untuk melindungi dirinya seperti ini. Ia tahu para petinggi ingin membunuhnya untuk menghilangkan dokumen Jia, sehingga ia harus selalu waspada.

Aku, Yasu, dan Ohkura terus mengikuti para pria tersebut dalam diam. Ada perasaan berdebar yang tidak bisa kuhentikan di dalam dada sehingga membuatku mengeluarkan keringat dingin. Dan aku tahu bahwa itu terjadi bukan hanya padaku saja, Yasu dan Ohkura juga pasti sedikit banyak merasa gugup. Ini adalah saat-saat penentuan hidup kami sebagai seorang prajurit. Memutuskan keberpihakan pada sesuatu adalah hal yang sangat berat dan harus bisa dipertanggungjawabkan. Apa yang akan terjadi setelah ini sama sekali di luar kesiapanku. Sungguh tidak ada yang bisa kulakukan selain mengharapkan kebenaran sebagai hasil dari perjalanan ini.

CKLEK.

Pintu kayu menuju sebuah ruangan telah dibuka. Mereka yang membukakannya untuk kami. Terlihat sesosok pria menoleh dari tempatnya duduk ketika kami bertiga masuk ke dalam ruangan tersebut.

“Utusan Murakami,” ucap seorang pengantar memberitahu sebelum kemudian menutup pintu dari luar. Meninggalkan kami bertiga berdiri mematung di hadapan pria yang sepertinya adalah Tsuyoshi, pemimpin Saikan. Auranya sama sekali berbeda dengan para petinggi yang pernah kami temui sebelum ini. Ia tidak terlihat berbahaya. Dan gaya berpakaiannya lebih seperti penduduk biasa daripada seorang tangan kanan general.

Tsuyoshi mengamati kami seraya bangkit dari posisinya.

“Kalian bukan orang Yoto,” ucapnya kemudian, membuat kami bertiga semakin mematung di tempat kami berdiri. Tidak tahu darimana dia mengetahui hal tersebut, tapi kurasa kemampuan analisanya sangat luar biasa. Kami baru saja bertatap muka selama kurang lebih satu menit dan ia segera tahu bahwa kami bukan berasal dari Yoto. Tapi rasanya baik aku, Yasu, maupun Ohkura sudah tidak ada keinginan lagi untuk berkelit dari fakta.

“Kami sedang mencari kebenaran tentang dokumen Jia, kuharap kau mau menunjukkannya,” ucap Yasu melangkah perlahan ke arah meja Tsuyoshi. “Dan kami… akan memberikan semua informasi yang kami tahu,” lanjut anak itu lagi dengan wajah penuh rasa cemas. Mungkin ia takut jika Tsuyoshi tidak mempercayai niat baik kami datang ke Saikan dan terus menyembunyikan dokumen itu. Meskipun yang lebih aku khawatirkan lagi adalah jika ternyata dokumen itu sebenarnya hanya sebuah kebohongan saja.

Tsuyoshi terus menatap kami dengan ekspresi yang sulit kupahami. Tapi kemudian aku merasa sedikit lega karena pada akhirnya ia memberikan sebuah senyuman kecil sambil mengangguk.

“Tentu saja. Mengatakan kebenaran memang sudah menjadi tugasku,” ucap pria itu mengeluarkan segulung kertas berlapis plastik dari balik bajunya. “Kalau aku berbohong, kepalaku untuk kalian,” lanjutnya dengan yakin sambil lalu menyerahkan kertas itu pada Yasu. Tidak nampak sedikitpun keraguan atau rasa takut di wajah Tsuyoshi. Aku dan Ohkura pun segera bergabung bersama Yasu untuk melihat isi dokumen tersebut.

“Ini… asli,” gumam Yasu menunjuk stempel Jia dan tulisan tangan raja yang tercetak di sana. Aku tidak pernah membaca buku sejarah sehingga tidak mengetahui pasti bagaimana bentuknya. Tapi karena Ohkura juga ikut membenarkan, maka tidak salah lagi bahwa dokumen itu adalah asli. Terlihat ada ekspresi lega di wajah Yasu setelah memastikan dengan mata kepalanya sendiri kebenaran dari apa yang ia percayai selama ini. Dan aku pun turut merasa gembira dengan hal itu.

“Syukurlah,” gumamku mengguncang pundak Yasu pelan. Anak itu mengangguk dengan wajah haru sambil lalu menyerahkan dokumen tersebut kembali ke Tsuyoshi.

“Kupikir kalian butuh istirahat. Bagaimana kalau kita berdiskusi di kedai?” tanya Tsuyoshi menggulung dokumen dan memasukkannya kembali ke dalam kantung di balik bajunya. Aku bisa mengerti kenapa ia harus selalu membawa kertas penting itu bersamanya setiap saat, sebab jika kertas itu sampai hilang atau pindah ke tangan yang salah, maka perang kekuasaan ini tidak akan pernah berakhir untuk selamanya. Aku dan Ohkura mengangguk.

“Tapi… pasukan elit Okto saat ini mungkin sedang bertempur dengan Yaotome dan anak buahnya. Jika mereka menang, maka Saikan akan jadi target selanjutnya, apakah tidak sebaiknya kita cepat mengatur strategi?” Yasu menahan tanganku dan Ohkura agar kami tetap berada di tempat. Salah satu kebiasaan buruk anak itu jika sedang dalam mood serius adalah melupakan kesehatan dirinya sendiri. “Belum lagi dengan rencana Raja Kitayama yang akan turun langsung kepph-“

Ohkura membungkam mulut Yasu seraya mendekap kepala anak itu di dadanya.

“Suatu kehormatan bisa mendapat jamuan makan dari Master Tsuyoshi. Kebetulan kami bertiga sudah sangat lapar sekali,” ucap Ohkura tersenyum. “Seperti yang anda katakan, kita bisa mendiskusikannya di meja makan,” sambungnya lagi seraya mengangguk hormat. Aku setuju dengan Ohkura sehingga aku tidak mengatakan apapun untuk membela Yasu. Master Tsuyoshi, begitu kini aku memanggilnya, pun tertawa kecil.

“Mati karena kelaparan adalah cara mati paling konyol bagi seorang prajurit,” ujarnya seraya berjalan melewati kami dan membuka pintu. “Aku yakin setelah ini kita tidak akn bisa makan dengan tenang untuk jangka waktu yang cukup lama. Karena itu, nikmatilah selagi masih sempat,” lanjutnya masih dengan senyuman sambil kemudian menghilang di balik tembok. Ohkura sama sekali tidak menggubris protes Yasu dan menyuruh kami untuk buru-buru mengikuti beliau.

Aku tidak tahu apakah aku bisa mengingat semua isi pembicaraan kami selama makan di kedai bersama Master Tsuyoshi. Tapi pada kenyataannya, tidak ada satupun diskusi mengenai strategi kudeta atau yang berkaitan dengan hal itu. Justru kami bertiga lebih banyak menceritakan tentang diri kami kepada pria tersebut. Semacam diinterogasi, tapi dalam suasana yang lebih bersahabat. Beliau juga sedikit bercerita tentang hubungannya dengan General Koichi. Ini menarik, pikirku. Sebab tidak ada dari kami yang benar-benar tahu tentang kehidupan orang-orang Jia di jaman dahulu. Selain mendapat banyak informasi tentang hal itu, kami juga mendapat nasihat yang banyak dari Master Tsuyoshi. Terutama tentang tanggung jawab dan pengabdian kami sebagai seorang prajurit. Pembicaraan tersebut pun berlangsung cukup lama hingga tidak ada dari kami yang menyadari bahwa matahari sudah berada di posisi puncaknya.

Saat keluar dari kedai, kulihat para wanita dan anak-anak kecil tidak lagi berkeliaran di jalanan seperti saat fajar tadi. Lebih banyak pemuda dan pria-pria kini nampak mengisi seluk beluk kota. Master Tsuyoshi bilang, jadwal penjagaan Saikan diperketat setelah Commander Murakami mengirim informasi sekitar satu minggu yang lalu kepadanya tentang penyerangan diam-diam Okto ke Yoto.

“Murakami akan baik-baik saja. Aku sudah memprediksi Ohno tidak akan mengirim bantuan pasukan ke ibukota. Karenanya aku akan minta agar Yokoyama juga ikut turun untuk mengontrol perang,” Master Tsuyoshi membuka lebar peta Yoto di atas mejanya segera setelah kami kembali ke ruang bawah tanah. Lagi-lagi sebelum kami menjelaskan apapun pria itu sudah lebih dulu mengetahui semuanya. Soal Raja Kitayama yang menjalankan taktik mengecoh, Raja Ohno dengan taktik pura-pura terdesaknya, dan juga Commander Murakami yang ditumbalkan. Aku tidak tahu sebesar dan sedalam apa jaringan informasi yang dimiliki oleh Master Tsuyoshi, tapi hal itu memang sesuai dengan ekspektasiku. Untuk menjalankan kudeta raksasa, tidak mungkin ia bergerak dengan massa yang sedikit dan juga taktik murahan.

“Lalu apa rencana berikutnya? Raja Kitayama turun ke Yoto adalah kesempatan yang mungkin tidak akan pernah terjadi lagi di masa depan. Kita tidak boleh menyia-nyiakan ini,” Yasu mengingatkan. Aku dan Ohkura mengamati peta Yoto yang sudah penuh dengan simbol-simbol dan coretan tinta. Nampaknya Master Tsuyoshi memang punya rencana matang soal ini.

“Aku tidak yakin untuk melakukan kudeta dalam waktu dekat, apalagi di saat dua kerajaan bertemu. Sebab jumlah pasukan Saikan masih kalah banyak dibanding dengan Yoto ataupun Okto,” ungkap Master Tsuyoshi. Ia terdiam selama beberapa menit untuk membiarkan orang-orang kepercayaannya masuk ke dalam ruangan bergabung bersama kami. Dan tiba-tiba saja dadaku langsung berdebar dengan kencang. Aku belum pernah sekalipun terlibat dalam diskusi pengaturan strategi perang, sehingga suasana yang serius seperti ini membuatku agak sedikit gugup.

“Tapi apa yang dikatakan anak ini benar. Kita tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan begitu saja,” lanjut pria tersebut kemudian. “Aku akan menjelaskan situasi dan strategi kita,” Master Tsuyoshi mengambil sebuah kayu tipis sebagai alat penunjuk sambil lalu menyuruh semua orang untuk mendekat ke meja. Konsentrasiku ada pada level tertinggi sehingga tak bisa kulepaskan pandanganku dari peta besar di sana.

“Yang terjadi sekarang adalah Okto sedang menyerang ibukota dengan tiga ribu prajurit. Begitu ibukota ditaklukan, Kitayama akan bergerak masuk dengan jumlah pasukan yang lebih besar, kuperkirakan sekitar sepuluh ribu prajurit. Dari data yang kudapat, Ohno juga telah menumpuk hampir tiga perempat pasukan Yoto di istana. Semua ditempatkan pada titik-titik tertutup, yang mengartikan bahwa orang itu benar-benar ingin membiarkan Kitayama masuk ke dalam istana. Jika salah satu dari mereka mati, maka satu dari yang lain akan mengambil alih kekuasaan. Dan bukan itu yang kita mau,” Master Tsuyoshi menatap kami satu demi satu dengan pandangan mata yang tegas. “Kita akan melakukan percobaan kudeta. Tentu saja langkah-langkah yang diambil adalah yang paling efektif dan beresiko paling kecil,” lanjut beliau sambil mulai menggambarkan rencana di peta.

“Kita tidak punya cukup prajurit untuk menghentikan benturan antara pasukan Okto dan Yoto, karena itu kita hanya harus berfokus pada Ohno dan Kitayama. Pada akhirnya pun prajurit juga tidak akan bisa bergerak jika raja mereka mati. Hanya saja, antisipasi kita adalah para general dan para commander yang memprovokasi. Kemampuan bertarung mereka tidak bisa dilawan oleh prajurit biasa, maka dari itu aku akan menugaskan orang-orang terbaik Saikan untuk menghadapi mereka jika sampai terjadi benturan. Ingatlah untuk selalu fokus pada pemimpin-pemimpin pasukan, karena mereka bertindak seperti otak dalam tubuh. Bekukan para general dan para commander, maka seluruh pasukan mereka akan lumpuh,” ucap Master Tsuyoshi menjelaskan. Kami semua mengangguk paham.

“Kalian lihat tempat ini? Ini adalah jembatan utama yang menghubungkan istana dengan ibukota, Kitayama jelas akan masuk lewat jembatan ini. Dan karena sebagian besar pasukan Yoto ditempatkan di istana bagian depan, benturan juga kemungkinan besar akan terjadi di tempat ini. Maka kita harus masuk melalui jalan lain. Ini…. wilayah ini adalah hutan, dan jembatan ini menghubungkan hutan dengan istana bagian belakang. Kita akan masuk dari sini,” Master Tsuyoshi terus berbicara dan tidak ada satupun dari kami yang menginterupsi.

“Meskipun aku bilang ini adalah percobaan kudeta, tapi ini adalah sebuah pertaruhan. Sebab jika kita gagal, maka Saikan akan kembali jadi target utama penghancuran Okto dan Yoto. Mereka akan tahu jika aku masih menyimpan dokumen resmi ini, lalu keselamatan kalian dan penduduk pun akan semakin terancam. Apa kalian siap?” tanya pria itu kepada kami. Aku, Yasu, dan Ohkura tidak bisa memberikan jawaban apapun atas pertanyaan itu, namun orang-orang lain justru tertawa.

“Master Tsuyoshi, kau seperti tidak tahu saja, hahahaha. Hati kami bahkan jauh lebih siap dari apapun juga. Seluruh penduduk mendukung kudeta ini dan tahu bahwa ada resiko terbunuh jika melakukannya. Tapi kami tidak akan pernah menyesal. Kami akan selalu bergerak bersama kebenaran,” ucap salah seorang dari mereka. Aku salut pada keteguhan hati orang-orang Saikan, sepertinya rasa rindu mereka terhadap kedamaian telah membuat mental mereka jadi sedemikian kuatnya. Dan takut mati tidak lagi menjadi alasan untuk mundur dari pertempuran.

“Kita semua tahu bahwa Ohno bukan raja yang mudah ditipu. Selama inipun ia selalu berusaha membunuhku diam-diam dengan berbagai cara, kupikir ia akan segera tahu jika kita masuk secara terang-terangan lewat jalan belakang,” Master Tsuyoshi kembali menjelaskan. “Aku butuh orang-orang dengan kemampuan menyelinap yang handal untuk membantuku masuk,” ucapnya lagi. Matanya mengamati kami satu persatu untuk mengkonfirmasi siapa-siapa saja yang hadir di tempat ini. Entah mengapa aku menjadi semakin tegang.

“Murakami dan Yokoyama memang tergabung dalam pasukan perang, tapi kita tidak bisa hanya mengandalkan mereka. Kalian berenam bawalah prajurit kita ke wilayah istana malam ini, katakan bahwa Saikan sudah jatuh ke tangan Kitayama dan berbaurlah dengan para penduduk yang mengungsi di sana, itu adalah satu-satunya cara agar kita bisa mendekati istana tanpa dicurigai,” Master Tsuyoshi menunjuk enam orang di antara kami seraya memberi arahan. “Lalu…. kalian berlima bawalah sebagian prajurit kita ke ibukota untuk bergabung bersama Murakami. Mintalah untuk bergabung ke dalam pasukannya. Berbaurlah bersama prajurit Yoto dan intai terus para general dan commander mereka,” lanjutnya lagi. Lima orang yang dimaksud mengangguk siap. Pria itu lalu memegang pundak dua orang yang berdiri di sisi kiri dan kanannya.

“Kau, kau, dan tiga orang lainnya. Temuilah Yokoyama dan sampaikan rencana kita. Berbaurlah dengan pasukan Okto dan intai terus Kitayama. Pastikan bahwa ia akan masuk lewat ibukota, dan bukan jalan lain,” ucap Master Tsuyoshi menggoyang bahu keduanya. “Saat terjadi benturan, ingat untuk selalu menghabisi general dan commander yang bertindak sebagai provokator,” lanjutnya kemudian. Dua orang tersebut pun mengangguk, bersamaan juga dengan tiga orang lainnya yang ditunjuk tadi.

Semua orang nampak siap dengan strategi ini, pikirku. Aku tidak tahu apakah jauh sebelumnya Master Tsuyoshi sudah memprediksikan semua ini lalu mengatur rencana sedemikian rupa sehingga tidak terlihat ada kepanikan yang mendadak. Atau sebenarnya memang orang-orang Saikan yang terlalu setia, tidak memiliki keraguan sedikitpun terhadap pemimpin mereka.

“Dan kalian berempat menemaniku menyelinap lewat istana bagian belakang,” ucap Master Tsuyoshi kepada seorang pria paruh baya dan tiga orang pemuda yang berdiri tak jauh darinya. “Tugas kalian adalah melindungi dokumen ini. Jika terjadi sesuatu padaku, kalian berempat harus menggantikanku melakukan eksekusi,” katanya seraya berjalan mendekati salah seorang di antara mereka. “Paman… jika aku mati, ambillah posisiku untuk memimpin Saikan, dan bacakan isi dokumen ini kepada seluruh rakyat,” Master Tsuyoshi menepuk pundak pria kepercayaannya tersebut dengan tegas. Kulihat ada sedikit gelimang keraguan di mata yang bersangkutan, meskipun ia berusaha untuk menyembunyikannya.

“Adalah tanggung jawab kami semua untuk tidak membiarkanmu mati, Master,” jawab pria itu sambil lalu dibenarkan oleh semua orang. Master Tsuyoshi hanya tersenyum saja dan segera kembali ke posisinya semula.

“Kemungkinan terburuknya adalah kita gagal mengeksekusi Ohno dan Kitayama. Saat itu terjadi, yang paling penting adalah keselamatan para penduduk. Jika bisa lari, maka lari dan hindarilah pertempuran dengan kedua kerajaan. Dan jangan pernah menginisiasi perkelahian sebelum ada perintah dariku. Mengerti?” Master Tsuyoshi meletakkan kayu penunjuk yang ada di tangannya ke meja. Semua orang pun mengiyakan mengerti.

Meski tidak ada yang komplain soal rencana tersebut, diskusi masih tetap terus berlangsung. Kami membicarakan tentang kemungkinan Tsukada mengalahkan Yaotome dan menyerang Saikan, juga tentang keselamatan para penduduk yang ada di kota-kota sekitar. Tapi Master Tsuyoshi bilang kami tidak perlu khawatir soal itu. Sebab semua penduduk Saikan adalah keturunan prajurit Jia, sehingga soal taktik melindungi diri tak perlulah diremehkan. Lagipula, anak buah Master Tsuyoshi selain yang hadir di ruangan ini ada juga yang sudah ditugaskan untuk mengamankan rakyat. Kalau hanya urusan segerombol pasukan elit, Master Tsuyoshi tidak pernah menghawatirkannya. Orang-orang Saikan sangat terlatih dan jauh lebih kuat dari mereka.

Aku sempat merasa lega dengan keyakinan yang dimiliki oleh Master Tsuyoshi dan warga Saikan, itu artinya kemungkinan rencana ini untuk berhasil adalah sekitar sembilan puluh persen. Belum lagi jika mengingat kekuatan para prajurit Jia yang terkenal di atas rata-rata, dan juga Master Tsuyoshi sebagai tangan kanan General Koichi, tentu saja itu semakin menambah keyakinanku. Hanya saja aku, Yasu, dan Ohkura bingung di mana kami harus menemposisikan diri kami dalam strategi ini.

“Ijinkan aku ikut bersama anda Master!” Yasu berkata dengan suara yang cukup keras dari tempatnya berdiri, membuat semua orang kaget. Termasuk aku dan Ohkura. Apakah ia baru saja menawarkan diri untuk mengawal Master Tsuyoshi masuk ke dalam istana? Aku tahu ia sangat ingin sekali terlibat dalam kudeta ini, tapi aku tidak setuju jika anak itu mengambil posisi yang berbahaya. Terlebih lagi, Yasu tidak mengatakan “kami”, tapi “aku”, yang artinya ia tidak mau aku dan Ohkura ikut bersamanya. Maka aku pun segera memegang pundak anak tersebut untuk memprotes usulnya.

“Tunggu dulu Yasu. Kita belum membicarakan ini,” ucapku berusaha menahannya untuk tidak mengambil keputusan sendiri. Kurasakan semua mata segera tertuju pada kami. Ini pertama kalinya kami bertemu dengan sebagian besar dari mereka, jadi wajar jika terdengar pertanyaan, “Siapa mereka?” dari orang-orang tersebut.

Yasu menoleh ke arahku.

“Maru, kita tidak punya waktu untuk itu! Master Tsuyoshi butuh bantuan segera!” tukas anak itu tegas. Meski aku paham perasaannya, terkadang aku juga merasa khawatir dengan semangatnya yang terlalu meluap-luap. Tapi tidak bisa kuingkari bahwa kami memang tidak punya banyak waktu. Master Tsuyoshi bilang, perkiraan Raja Kitayama sampai ke istana adalah tiga hari, dan sebelum itu, semua orang harus sudah bergerak ke posisinya masing-masing.

 

“Aku tidak bisa menggunakan prajurit biasa untuk tugas itu. Bukannya aku tidak percaya, tapi kalian pasti paham resikonya,” Master Tsuyoshi mengingatkan. Aku lega pria itu tidak langsung menerima permintaan Yasu.

“Ini bukan hanya membahayakan nyawamu, tapi juga membahayakan keberhasilan rencana ini. Menggunakan orang yang belum berpengalaman hanya akan menghambat pergerakan saja,” tambah salah seorang pemuda lagi. Sebenarnya aku tidak butuh ia untuk menjelaskan alasan lainnya. Membahayakan nyawa akan selalu jadi alasan utama bagiku untuk tidak setuju pada rencana Yasu.

“Kita tidak tahu berapa banyak prajurit yang ada di dalam istana! Aku akan membantu Master Tsuyoshi menerobos sampai ke tempat Raja Ohno!” anak itu masih saja bersikukuh. Menanggapi fakta bahwa kami memang kekurangan prajurit, beberapa orang pun lalu mengangguk, sedangkan Master Tsuyoshi hanya terdiam. Dan aku merasa resah dengan keterdiaman pria tersebut, sebab itu mengartikan bahwa ia sedang mempertimbangkannya.

“Kita bisa menggunakannya untuk mengecoh lawan,” ucap pria paruh baya memberitahu Master Tsuyoshi. Ia bermaksud untuk berbicara dengan suara yang pelan namun hal itu terdengar cukup keras di telingaku. Dan aku tidak suka dengan pilihan kata “menggunakan” yang dilontarkannya seakan-akan Yasu adalah sebuah alat.

“Orang-orang istana mengenal Master Tsuyoshi, sehingga untuk meloloskan beliau ke dalam istana kita harus mengalihkan perhatian para penjaga. Semakin banyak semakin baik. Kau yakin dengan kemampuan bertarungmu?” tanya si pria memastikan. Yasu segera mengangguk.

“Tidak pernah seyakin ini,” ucap anak itu serius. Aku baru saja hendak memprotesnya ketika Ohkura sudah lebih dulu berbicara.

“Yasu tidak akan pergi tanpaku,” ucap lelaki itu memegang pundak orang yang bersangkutan dengan yakin. Aku membulatkan mataku. Seharusnya aku tahu Ohkura pasti akan mendukung keputusan itu karena dua orang tersebut memang punya keinginan untuk terlibat. Sebagai seorang prajurit, aku tahu level mereka jauh berada di atasku. Dan di antara kami bertiga mungkin hanya aku saja yang tidak punya keberanian. Tapi meski demikian, sebenarnya aku berharap bahwa Ohkura akan menahan Yasu untuk tidak mengambil posisi tersebut.

“Tunggu Ohkura, kau tidak perlu melakukan ini!” Yasu berganti memegangi lengan lelaki yang bersangkutan. Meskipun kupikir kata-kata itu seharusnya dilontarkan olehku dan Ohkura kepada dirinya. “Sebaiknya kau dan Maru tinggal saja di Saikan, sehingga jika misi ini gagal maka-“

“Apa kau meremehkanku?” Ohkura memotong ucapan Yasu. “Apa kau mau bilang bahwa kemampuan bertarungmu ada di atasku?” lelaki itu tidak menatap Yasu meskipun ia sedang berbicara kepadanya. Aku tahu Ohkura tidak bermaksud kasar atau merendahkan sama sekali, ia hanya tidak mau Yasu memaksakan diri melakukan semuanya sendirian. Dari awal kami bertiga selalu bergerak bersama-sama, jadi tidak mungkin aku dan Ohkura membiarkannya begitu saja.

Yasu tidak menjawab. Ia membiarkan lelaki yang lebih tinggi meneruskan bicara.

“Aku tidak mau berbesar kepala, tapi aku adalah prajurit muda terbaik di Okto. Kalian bisa memanfaatkan kekuatanku dalam rencana ini,” Ohkura berusaha meyakinkan Master Tsuyoshi dan orang-orang Saikan bahwa dirinya patut dipertimbangkan. Walaupun aku yakin anak itu hanya sedang mencari cara agar ia bisa ikut bersama Yasu. Meski tidak setuju, sebenarnya aku pun memikirkan hal yang sama. Jika itu memang keinginan Yasu, maka tidak ada hal yang bisa kulakukan selain ikut bersamanya.

“Ohkura, apa kau serius?” tanya Yasu menggoyang lengan Ohkura dengan cemas. Aku tak habis pikir, bagaimana bisa anak itu menghawatirkan keselamatan orang lain sementara ia sendiri tengah melibatkan diri ke dalam hal yang berbahaya? Tidakkah ia juga memikirkan perasaanku dan Ohkura? Sampai saat ini aku masih saja kesulitan untuk memahami jalan pikiran orang-orang baik seperti dirinya.

“Apa aku pernah tidak serius denganmu?” tanya Ohkura balik seraya menatap lurus Yasu. Keduanya lalu saling berpandangan dalam kebisuan seraya mencoba memahami pikiran masing-masing. Suasana di dalam ruangan pun tiba-tiba saja berubah menjadi hening. Dan tidak ada satu pun dari kami yang berani memecahkannya.

Kecuali mungkin Master Tsuyoshi.

“Aku suka semangat kalian,” ucapnya tersenyum. Membuat Yasu dan Ohkura segera mengalihkan pandangan mereka. Pria itu lalu berjalan perlahan dari posisinya dan berhenti di hadapan kami bertiga. “Terima kasih atas tawaran ini,” ia menjulurkan tangan kanannya pada kami. “Aku mohon kerjasamanya,” ucap Master Tsuyoshi mengkonfirmasi. Yasu tidak bisa membendung rasa senangnya dan segera menjabat tangan pria tersebut. Tentu saja aku tidak merasa lega dengan keputusan ini, meskipun sedikit banyak juga turut merasa bangga karenanya. Kurasa belum pernah ada prajurit dari kerajaan musuh yang dipercaya untuk ada di posisi itu dalam rencana kudeta. Dan tidak ada prajurit muda lain yang pernah mendapat pengalaman seperti kami. Ini mungkin memang tidak tepat, tapi jika bisa, aku akan bilang ini adalah bagian dari sebuah prestasi.

“Aku mengerti,” ucapku ketika Master Tsuyoshi berganti menyalamiku. “Kami akan berusaha melaksanakannya dengan baik,” lanjutku seraya melihat ke Yasu. Anak yang bersangkutan pun memegangi lenganku.

“Maru, kau yakin?” tanya anak itu memastikan. Apakah ia ingin agar aku berkata jujur bahwa aku tidak setuju jika ia harus membahayakan dirinya sendiri? Apakah ia juga ingin aku jujur bahwa aku takut bila terjadi sesuatu dengannya dan ingin agar kami bertiga tetap tinggal di Saikan? Dan membuat dirinya kecewa denganku? Aku mengangguk untuk menunjukkan pada Yasu bahwa aku mendukungya.

“Aku hanya kaget karena ini terlalu terburu-buru. Kalau kau dan Ohkura bergabung, tentu saja aku tidak mau tinggal diam di belakang,” kataku menggenggam tangannya. Yasu mengangguk paham. Dan dengan itu Master Tsuyoshi pun kembali ke posisinya semula untuk menyampaikan detail keseluruhan strategi pada kami. Beliau juga memberikan arahan kepada beberapa orang kepercayaannya untuk segera bergerak malam ini.

Hari itu juga operasi kudeta telah dimulai, lebih mendadak dari dugaanku sebelumnya. Dan rasanya semenjak kami mendapat misi dari General Yokoyama beberapa minggu lalu, sampai saat ini perasaanku tidak pernah benar-benar tenang. Meski mencoba untuk rileks dan meyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja, rasa takut itu tetap ada. Apa boleh buat, pikiran buruk memang lebih sering singgah di benakku dan membuatku resah sepanjang waktu. Jika coba menyelami diri sendiri, mungkin keresahan terbesar itu berasal dari dua hal. Yakni aku takut kehilangan nyawaku. Dan takut kehilangan Yasu.

“Aku minta maaf jika aku keras kepala,” ucap anak itu ketika diskusi telah selesai dan kami bertiga masuk ke dalam ruangan yang disediakan oleh Master Tsuyoshi untuk beristirahat. Namun aku tidak merespon. Kurasa tidak ada gunanya juga ia meminta maaf pada kami sekarang karena semua sudah diputuskan. Lagipula, ia tidak melakukan sesuatu yang salah dan adalah keputusanku untuk juga ikut melibatkan diri. Ohkura pasti mengerti kekhawatiranku, sebab ia pun merasakan hal yang sama, hanya saja ia mampu mengungkapkan perasaannya dengan lebih jujur.

“Kenapa kau minta maaf?” Ohkura bertanya dari kasur tempatnya duduk. Ia melepas jubah yang ia kenakan dan melemparnya asal. Aku dan Yasu mengikuti. “Jujur, aku memang agak sedikit kesal karena kau suka memutuskan apapun secara sepihak. Saat menerima misi pengiriman data perang dari General Yokoyama pun juga begitu, tidak memberitahuku dan Maru terlebih dulu,” ucap anak itu seraya membiarkanku duduk di sebelahnya. “Lari dan berdiam diri bukanlah sifatmu, aku paham akan hal itu. Aku juga tidak memungkiri bahwa kita dapat mengetahui kebenaran ini karena dirimu,” lanjutnya lagi. “Tapi juga jangan kau lupakan Yasu…” Ohkura menatap lelaki di hadapannya sambil mengambil napas sejenak. “Fakta bahwa kita bertiga hampir kehilangan nyawa karenanya,” ucap lelaki itu kemudian, membuat Yasu terdiam di tempatnya berdiri. Aku setuju dengan apa yang dikatakan Ohkura. Seratus persen setuju. Bagiku, lebih penting dari apapun juga adalah nyawa kami bertiga. Jika sejak awal kami sudah tewas di hutan, tidak akan ada juga cerita kami terlibat dalam kudeta.

“Aku tidak menyalahkanmu. Tapi coba lihat kondisimu sendiri. Kau bahkan tidak bisa menghindari serangan ini,” Ohkura tiba-tiba bangkit dari posisinya dan mencengkram pakaian Yasu seraya mengangkat anak itu ke udara. Ia lalu membanting Yasu ke kasur dan menahan wajah yang bersangkutan dengan sebelah tangannya. Napas lelaki yang lebih kecil terdengar memburu karena terkejut. Mencoba melepaskan diri namun jelas tidak mampu melakukannya. Gerakan Ohkura terlalu cepat sehingga aku pun tidak sempat bereaksi dan hanya terlonjak di tempatku duduk.

“Mereka membawa pedang… dan kau akan tamat…” gumam lelaki itu seraya membuat goresan imajinari di dada Yasu dengan telunjuknya. Mungkin Yasu tidak terlalu merasa terancam dengan hal itu, namun malah justru aku yang merasa tidak nyaman.

“Ohkura, hentikan,” ucapku sebelum ia menyakiti Yasu walapun aku tahu itu adalah sesuatu yang mustahil. Kutarik tubuh lelaki tersebut agar ia segera beranjak dari posisinya. “Adalah tugas kita untuk melindungi Yasu, bukankah kau yang bilang begitu?” ucapku berusaha menenangkan Ohkura. Meskipun di antara kami bertiga sebenarnya akulah yang terlihat paling panik.

Ohkura pun terdiam sejenak. Ia lalu mendengus kecil.

Baru saja ia hendak bangkit, Yasu tiba-tiba menangkap tangan lelaki itu seraya menahannya untuk tetap di tempat. Segera kaki Yasu naik ke pundak Ohkura dan mengunci leher yang bersangkutan dengan begitu kuatnya. Tangan kanan Ohkura terjebak di antara lengan dan tubuh Yasu yang mengapitnya sehingga tidak bisa digerakkan. Ia mencoba meronta namun itu hanya membuat kaki lelaki yang lebih kecil semakin kuat mencekiknya. Dan ketika merasa dirinya tak lagi bisa bernapas, Ohkura pun memukul-mukul kasur dengan tangan kirinya sebagai tanda menyerah.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi hal itu terlihat sangat lucu bagiku. Setelah sekian lama lulus dari kelas bertarung, akhirnya aku bisa melihat lagi Yasu menggunakan teknik itu untuk membuat lawannya tak berdaya. Tapi jangan salah sangka, dulu aku pun pernah mengalami hal yang sama seperti Ohkura. Dan aku tahu betul betapa menderitanya tercekik dalam posisi seperti itu. Lewat beberapa detik saja kami bisa langsung kehilangan kesadaran.

“Justru aku yang khawatir padamu jika kau mudah lengah,” ucap Yasu menyingkirkan dirinya dari Ohkura dan membiarkan lelaki itu mengambil napas. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa ketika Ohkura mulai terbatuk. Kuraih tangan Yasu untuk membantunya turun dari tempat tidur.

“Dan kau telah mengklaim dirimu sendiri sebagai prajurit muda terbaik tadi,” ujarku sambil tertawa. Membuat Ohkura tersenyum kesal di tempatnya berbaring.

“Terbaik di Okto. Kita tidak sedang di Okto sekarang,” jawabnya dengan nafas masih tersengal. Pintar berkelit, pikirku. Tapi biarlah, sebab aku pun tahu persis kemampuan Ohkura yang sebenarnya dalam pertarungan.

Menanggapi keraguan Master Tsuyoshi terhadap kami yang hanya seorang prajurit biasa, itu karena beliau belum pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kami bekerja. Ohkura adalah sesuatu yang spesial karena kekuatan instingnya sangat tinggi, sedangkan Yasu adalah prajurit cerdas yang menguasai semua jenis senjata. Di antara kami bertiga, mungkin hanya kemampuanku saja yang terlihat normal seperti prajurit pada umumnya.

“Aku sudah memutuskan, kalian berdua ada di bawah tanggungjawabku,” Ohkura terduduk sambil lalu menatap kami berdua. Kulihat Yasu dengan santainya memindahkan jubah-jubah kami yang berserakan di atas kasur ke gantungan di balik pintu. Mataku terus memperhatikan gerak-gerik anak itu walaupun sebenarnya pikiranku sedang berfokus pada perkataan Ohkura barusan.

“Kau tidak perlu secemas itu soal keadaanku,” Yasu menyahut dari tempatnya berdiri. “Kalian berdua juga berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil,” ia menyandarkan pedang-pedang milik kami di dinding dengan sedemikian rapinya. “Yang harus kalian lindungi adalah Master Tsuyoshi, bukan aku,” lanjutnya lagi seraya mengingatkan.

Untuk apa, pikirku. Aku percaya bahwa sebenarnya Master Tsuyoshi bisa melindungi dirinya sendiri. Ia tumbuh di lingkungan Jia dan menghabiskan hampir seluruh masa mudanya bersama General Koichi. Kemampuannya mungkin sudah setara dengan para raja. Ditambah lagi ada empat orang anak buahnya yang akan ikut mengawal. Aku tidak tahu tentang tiga pemuda di antaranya, tapi pria paruh baya kepercayaan Master Tsuyoshi nampaknya juga bukan orang biasa. Mereka semua adalah orang-orang yang levelnya lebih tinggi dari kami. Alasan satu-satunya untuk melindungi Master Tsuyoshi adalah karena ia membawa dokumen resmi Jia.

“Tapi aku tidak mengenal dia seperti aku mengenalmu,” gumamku ketika Yasu berjalan mendekat. Anak itu berhenti bergerak dan melihat ke arahku sambil kemudian tertawa kecil.

“Apa kau mau bilang bahwa nyawaku lebih penting daripada nyawanya?” tanya anak itu berkacak pinggang. “Walapun aku bukan siapa-siapa dan dia adalah orang yang membawa harapan untuk kedamaian?” Yasu menaikkan sebelah alisnya. “Walaupun aku hanyalah prajurit biasa sementara dia seorang pemimpin bagi orang banyak?” ia melanjutkan. “Walaupun aku tidak punya apa-apa sementara dia punya semua informasi dan kekuatan?”

Aku ingin sekali menjawab iya untuk semua pertanyaan Yasu tersebut, namun aku takut mengecewakannya. Kami sama-sama tahu bahwa prioritas paling utama bagi seorang prajurit adalah kepentingan kerajaan dan khalayak umum. Melibatkan perasaan atau emosi pribadi saat melakukan tugas hanya akan berdampak buruk bagi pengambilan keputusan. Sebagai prajurit, kami dituntut untuk selalu fokus dan profesional, aku tahu itu.

“Kau dan Master Tsuyoshi sama pentingnya bagiku,” ucapku akhirnya setelah memikirkan kata-kata yang tepat.

Aku mengenal Yasu sudah sangat lama. Anak itu lugu dan memiliki hati yang sangat lurus. Saking lurusnya aku sampai tidak tega untuk membiarkannya berjalan sendirian. Meskipun sejujurnya aku tidak peduli dengan Jia, kudeta, dan “jalan kebenaran” yang menjadi alasannya melakukan semua ini, namun aku tetap akan mendampinginya kemanapun ia pergi. Aku tetap akan menemaninya sampai kapanpun juga, dan mendukung apapun yang diyakininya.

“Aku tidak peduli kalian mau atau tidak, yang jelas aku tidak akan membiarkan kalian berdua lepas dari pengawasanku,” ucap Ohkura melipat tangannya. “Kita berangkat ke istana bertiga dalam keadaan hidup, dan harus pulang bertiga dalam keadaan hidup juga,” lanjutnya serius. Aku dan Yasu menoleh ke arahnya dalam diam selama beberapa saat.

“Tentu saja. Itu yang kita semua harapkan,” ujar Yasu mengangguk.

Aku bersyukur dengan apa yang disampaikan Ohkura barusan kepada kami. Dari semua orang yang tergabung di dalam tim pengawalan Master Tsuyoshi, memang hanya Yasu dan lelaki itu saja yang aku percayai. Bukan masalah kekuatan atau apapun, tapi lebih kepada percaya bahwa ia akan memprioritaskan keselamatan kami bertiga selama menjalankan misi. Dan hal itu membuatku sedikit merasa tenang.

“Hhhh,” aku pun memeluk Yasu. Entah untuk apa.

“Maru, apa yang kau lakukan?” Yasu tertawa geli sambil lalu menepuk-nepuk punggungku. Sepertinya ia kaget. Kudengar Ohkura juga melemparkan pertanyaan yang sama, namun aku tidak terlalu menggubrisnya dan hanya menggeleng saja. Setelah sejenak membiarkan kami berada dalam posisi seperti itu, lelaki yang dipeluk pun akhirnya mendorong tubuhku pelan. “Sebaiknya kita istirahat. Kita butuh menyimpan banyak energi untuk besok,” ucapnya sambil duduk di pinggir kasur seraya membuka kedua sepatunya. Aku dan Ohkura pun segera menyetujui usul tersebut.

Malam ini adalah salah satu dari malam-malam terakhir kami berada di Saikan. Sambil menanti kedatangan Raja Kitayama di istana Yoto, semua anak buah Master Tsuyoshi menempatkan diri mereka di posisi sesuai strategi yang telah direncanakan. Sebagai tim terakhir yang akan menyusup ke dalam kastil, Master Tsuyoshi dan ketujuh pengawalnya, termasuk kami bertiga, akan berangkat dari Saikan dua hari lagi. Kami akan mengintai istana dari dalam hutan sampai Raja Kitayama benar-benar telah memasuki kastil. Begitu kedua raja berada di dalam satu tempat yang sama, saat itulah penyerangan akan dilaksanakan. Dan untuk menghadapi hal itu, persiapan kami tidak main-main.

Dalam sisa waktu dua hari sebelum keberangkatan, kami bertiga sempat untuk berlatih fisik. Jarak antara terakhir kali kami bertarung di hutan sampai saat ini mungkin sekitar dua minggu. Masih belum terlalu lama sejak otot-otot kami dilatih untuk persiapan misi pengintaian. Namun disebabkan oleh luka-luka akibat terjatuh di lembah, akan lebih baik jika kami tetap berlatih dan memanaskan kembali “mesin” yang ada di dalam tubuh.

Faktanya, Ohkura memiliki kondisi paling fit di antara kami bertiga. Ia dan seorang pemuda salah satu anak buah Master Tsuyoshi ditunjuk untuk berada di posisi depan. Atau kasarnya, alat pengecoh. Sebenarnya aku tidak suka mereka menggunakan istilah tersebut untuk menyebut posisi itu, sebab kata ‘pengecoh’ seperti memiliki konotasi semacam ‘tumbal’. Dan dalam sebuah misi penyerangan, kebanyakan prajurit pengecoh gugur walaupun misi tersebut berhasil terlaksana. Meski sempat lega karena bukan Yasu yang ada di posisi tersebut, namun hal itu tetap membuatku merasa was-was. Bahkan hingga waktu keberangkatan kami tiba, perasaan itu tidak kunjung berkurang dan malah semakin menjadi-jadi.

Di hari yang dijadwalkan, kami bergerak dari Saikan pagi hari. Gagal untuk menenangkan pikiran, aku pun tak kuasa menahan rasa gugupku di sepanjang perjalanan. Meski Ohkura dan Yasu terlihat lebih siap dariku, namun aku tahu bahwa mereka juga sebenarnya merasa tegang. Master Tsuyoshi pun tiada hentinya mengingatkan kami untuk selalu fokus dan tenang. Beliau mengatakan bahwa kecemasan berlebih hanya akan menimbulkan kepanikan, kepanikan itu akan membuat kita terburu-buru mengambil keputusan, dan sebuah keputusan yang salah bisa berdampak fatal bagi keberlangsungan misi ini. Kami benar-benar harus bisa mengendalikan emosi dan adrenalin agar semua berjalan sesuai dengan rencana.

GRUDUK! GRUDUK! GRUDUK!

Cuaca di hari kudeta tidak bersahabat. Mendung berkepanjangan sejak fajar membuat suasana menjadi suram. Ketika kami masih menjadi trainee, Yasu pernah memberitahuku bahwa ia tidak menyukai mendung. Ia menyukai hujan, namun tidak suka pada mendung yang mengawali prosesnya. Apalagi jika awan mendung tersebut tidak kunjung berubah menjadi buliran air, Yasu menyebutnya sebagai abu-abu abadi. Meski mood-nya sering turun jika suasana langit sedang seperti ini, namun hal itu tidak nampak pada dirinya sekarang. Ia terlalu fokus pada misi ini sehingga tidak terlalu mempedulikan hal tersebut. Aku juga tidak akan bertanya atau mengingatkannya soal itu.

Dalam waktu kurang dari enam jam, tim kami telah berhasil menembus hutan dan tiba di wilayah target. Diselimuti pepohonan yang berjajar di pinggiran istana Yoto, kami mengendap-endap di antara bayang-bayang hutan menuju jembatan. Harus kuakui, langit abu-abu kala itu membantu meredupkan penglihatan dan menyamarkan keberadaan kami dari pengawasan para prajurit penjaga.

Jujur, ini adalah pertama kalinya aku, Yasu, dan Ohkura melihat istana Yoto dengan mata kepala kami sendiri. Bila diamati, luas keseluruhan kastil ditambah dengan halaman, taman, dan sungai raksasa yang mengelilinginya ternyata lebih besar dari bayangan kami. Wajar saja, pikirku. Sebab ini adalah wilayah utama musuh. Pasukan perang Okto pun mungkin tidak pernah bisa menembus hingga ke tempat ini di penyerangan-penyerangan sebelumnya, apalagi kami yang hanya seorang prajurit penjaga. Rasanya untuk bisa menapakkan kaki di tanah ini adalah sebuah prestasi tersendiri bagi kami. Aku pun merasa ada secercah semangat timbul di dadaku.

“Berhenti,” tiba-tiba Master Tsuyoshi menyuruh kami untuk berhenti bergerak. Ia berjongkok di antara semak belukar dan semua orangpun segera berkumpul di dekat pria tersebut. Mengambil posisi tidak terlalu dekat dengan jembatan, Master Tsuyoshi lalu memberikan arahannya kepada kami.

“Ohkura, apa yang kau lihat?” tanya beliau seraya menyuruh Ohkura untuk berjongkok di sisinya. Lelaki yang dimaksud segera mengamati kondisi di kejauhan dengan seksama. Aku bersyukur Ohkura ada di tim ini, sebab kami tidak perlu bergerak terlalu dekat dengan istana untuk mengetahui keadaan di sana. Itu jelas akan mengurangi resiko kami ditangkap oleh para prajurit.

“Tidak ada penjaga di jembatan. Di depan pintu masuk ada sekitar tiga puluh orang. Dan di dinding atas ada dua puluh… atau lebih,” ucap Ohkura memberitahu.

Sesuai dengan prediksi Master Tsuyoshi, jumlah prajurit yang berjaga di belakang istana jauh berbeda dengan yang ada di pintu utama. Beliau bilang, masuk ke istana hanya dapat melalui dua jalan saja, jembatan depan dan jembatan belakang. Mengingat bagian belakang istana adalah hutan dan kota terdekat jaraknya cukup jauh, aku bisa paham kenapa Raja Ohno meletakkan sedikit penjaga di sana. Tapi untuk jumlah hanya lima puluh prajurit, rasa-rasanya ini agak sedikit ceroboh.

“Gambarkan padaku detilnya,” Master Tsuyoshi menepuk bahu Ohkura. Anak yang ditepuk mengangguk.

“Prajurit di pintu masuk semuanya membawa pedang. Dan… seragam mereka berwarna merah. Aku belum pernah melihat seragam itu sebelumnya,” ucap anak itu menginformasikan. “Lalu… prajurit di dinding atas membawa crossbow, tapi nampaknya ada juga yang menggunakan panah biasa. Mereka semua memakai armor besi,” lanjutnya lagi berusaha menjelaskan. Matanya menyipit, mengartikan bahwa ia sedang fokus. Aku tidak perlu lagi meyakinkan orang-orang bahwa Ohkura adalah sesuatu yang khusus. Kami semua sadar bahwa jarak antara tempat persembunyian kami dengan pintu masuk tidaklah dekat. Kalaupun bisa mengamati, normalnya para prajurit di sana hanya akan terlihat seperti patung-patung kecil tidak berwajah saja. Tapi untuk Ohkura bisa menggambarkan dengan sedemikian detil, tidak ada kata yang pantas diberikan padanya selain luar biasa.

Master Tsuyoshi pun terkesima. Ia sempat memandangi Ohkura selama beberapa saat seolah-olah penasaran apakah bentuk mata anak itu berbeda dengan orang normal atau tidak. Namun tak lama beliau segera beralih.

“Apakah Kitayama sudah tiba?” tanyanya pada pria paruh baya yang berjongkok tak jauh dari kami. Orang yang dimaksud langsung mengangguk sambil menjawab, “Pasukan Okto sudah tiba di lokasi, tapi belum ada tanda-tanda Kitayama akan masuk ke kastil. Mungkin sebentar lagi”, membuat kami semua menoleh ke arahnya dengan ekspresi tegang.

“Baiklah, ini rencana kita,” sahut Master Tsuyoshi segera. Di antara kami semua, mungkin hanya beliau sajalah yang paling terlihat siap. Ia pun dengan tenang memberitahukan pada kami apa yang harus dilakukan mulai dari sini.

“Aku tidak akan masuk lewat pintu itu, tapi lewat dinding atas, karena itu akan membuatku lebih cepat sampai ke ruangan Ohno. Dan juga lebih efisien untuk menghindari perkelahian di dalam kastil. Kurasa prajurit berpedang di sana bukan masalah bagi kita, orang-orang dengan senjata jarak jauh justru lebih mengganggu. Tidak ada cara lain kecuali menghabisi mereka semua,” ucap beliau memberitahu. “Aku percaya pada kemampuan bertarung kalian. Bukakan jalan untukku agar aku bisa memanjat ke atas,” lanjutnya lagi sambil menatap kami satu persatu. Pria paruh baya kepercayaan Master Tsuyoshi pun ikut memberi penjelasan tambahan.

“Aku akan mengikuti Master Tsuyoshi sampai ke tempat raja. Kalian berenam terus alihkan perhatian para penjaga di pintu masuk. Ingat, tugas kalian adalah untuk tidak membiarkan mereka menangkap atau mengetahui keberadaan Master Tsuyoshi. Konsentrasi Yoto sedang berpusat pada Kitayama, kita harus memanfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya,” ucap pria itu tegas. Kami semua mengangguk paham.

Aku merasa tanganku tiba-tiba saja berubah menjadi dingin, padahal sarung tangan hitam kami lumayan tebal. Sekalinya aku merasa gugup, aku harus segera menghadapi penyebab timbulnya rasa itu untuk mengurangi efek buruk darinya. Berdiam dan menanti justru akan membuat keresahan di dalam hatiku semakin parah. Namun apa boleh buat, kami tetap tidak bisa bergerak sebelum Raja Kitayama benar-benar memasuki istana. Semua rencana dan bayang-bayang pertempuran pun membuat kepalaku berdenyut lumayan kencang. Dan aku harus berpegangan pada Yasu agar tidak limbung.

“Kau baik-baik saja?” tanya anak itu memegangi sambil lalu menyandarkanku di sebuah pohon. “Maru, kau banyak berkeringat,” gumamnya seraya mengusap dahiku dengan punggung tangannya. Aku bahkan tidak sadar jika aku mulai mengeluarkan keringat dingin. “Hei, ada apa? Kau sakit?” tanyanya lagi dengan ekspresi khawatir. Aku pun buru-buru menggeleng.

“Aku hanya terlalu tegang,” jawabku meyakinkannya. Kubiarkan Yasu membenarkan posisi jubahku seolah-olah aku sedang kedinginan. Ohkura yang mengetahui hal tersebut pun berjalan menghampiri kami.

“Aku ada di depan. Kalian tak perlu cemas,” ucapnya memegangi bahuku dan Yasu bersamaan.

“Justru kau ada di depan aku jadi cemas,” balasku segera. Meskipun aku benar serius mengkhawatirkan keselamatannya, tapi setelah kupikir lagi, aku tidak bisa menunjukkan rasa lemahku pada anak itu. “Apa kau benar bisa memimpin tim ini?” lanjutku sambil tersenyum mengejek. Ohkura membalas senyuman itu dengan sebuah pukulan ke dadaku.

“Apa maksudmu? Tentu saja aku berharap kita berdua yang ada di depan,” ucap anak itu sambil lalu tertawa kecil. Mungkin ia pikir aku cemburu pada dirinya karena ia yang dipilih untuk berada di posisi tersebut. Tapi tentu saja itu adalah sebuah pemikiran yang salah. Mentalku tidak akan sanggup untuk menerima tekanan seperti yang ia dapatkan. Mengetahui bahwa Ohkura ditempatkan di posisi itu saja sudah membuat perasaanku was-was, apalagi jika itu adalah diriku sendiri. Aku tidak tahu akan sekacau apa pikiranku jadinya.

“Kita semua bertanggungjawab terhadap misi ini. Apapun posisinya,” ucap Yasu mengingatkan. Kurasa ia tidak perlu mengatakannya karena aku dan Ohkura pun mengerti akan hal itu. Ini hanya masalah kekhawatiranku saja yang terlalu berlebihan.

“Kalian berdua ada di bawah tanggungjawabku, ingat?” Ohkura berkacak pinggang sambil melihat kepadaku dan Yasu bergantian.

“Ya. Dan kalaupun kami tidak mau, kau akan tetap melakukannya,” ujar Yasu ikut berkacak pinggang. Ia seolah-olah mengatakan pada Ohkura bahwa tidak ada gunanya juga anak itu mengingatkan kami karena pada akhirnya pun tidak ada yang bisa menahannya. Lelaki yang lebih tinggi mengacak-acak rambut Yasu sambil kemudian tersenyum.

“Tepat sekali,” ucapnya singkat. Dan dengan itu, kami bertiga pun lalu segera kembali berkumpul bersama Master Tsuyoshi dan yang lainnya untuk mengawasi kastil. Namun belum ada lima belas menit kami mengamati dari kejauhan, tiba-tiba saja semua orang dikagetkan oleh sebuah suara bergaung yang sangat keras.

FUOOOOOOOOOONG

Suara tersebut terdengar di seluruh wilayah istana sebanyak tiga kali. Sesekali suara itu di sambut oleh gelegar petir di antara awan-awan mendung seolah-olah keduanya sedang berkomunikasi. Hal tersebut cukup menyeramkan dan tidak ada dari kami yang tidak merinding karenanya. Bahkan para penjaga nun jauh di sana pun juga terlihat kaget dan langsung rusuh.

“Itu Raja Kitayama,” ucap Yasu memberitahu. “Suara terompet raksasa milik Okto menandakan bahwa raja sudah hadir,” lanjutnya lagi seraya menoleh ke arah Master Tsuyoshi. Sebagai warga Okto yang tinggal di dekat istana, aku selalu mendengar suara itu hampir di setiap perayaan, namun sampai saat ini aku tidak pernah tahu bagaimana cara kerja benda raksasa tersebut. Juga bagaimana terompet itu dibuat sehingga bisa menghasilkan suara sedemikian kerasnya. Kupikir mungkin Yasu tahu, sebab ia pernah mengikuti kelas mekanik di barak musim dingin tahun lalu. Aku ingin sekali menanyakan padanya karena penasaran, tapi tentu saja ini bukan waktu yang tepat untuk itu.

“Master, kita bergerak sekarang?” tanya si pria paruh baya seraya berdiri dari posisinya. Master Tsuyoshi mengiyakan sambil kemudian segera bangkit. Kami semua pun mengikuti beliau.

“Apapun yang terjadi, ingatlah bahwa kita ada di jalan yang benar,” ucapnya terakhir kali sebelum lalu mengenakan tudung kepala. Kata-kata itu bergema di dalam kepalaku.

Aku mengambil napas tajam dan menghembuskannya dengan tajam juga agar rasa berdebar di dadaku berkurang. Kugenggam gagang pedang yang ada di pinggang untuk mengingatkanku bahwa ini adalah kenyataan yang harus dihadapi. Menyerang atau diserang. Membunuh atau dibunuh. Tidak terlalu banyak pilihan yang tersedia bagi prajurit seperti kami. Dan misi ini harus berhasil. Karena mungkin saja tidak ada kesempatan kedua setelah ini.

“Kalian berdua, maju,” perintah pria paruh baya kepada Ohkura dan salah seorang pemuda bawahannya. Kedua lelaki yang dimaksud pun tidak banyak bicara dan mengangguk paham. Mereka lalu memimpin kami berjalan keluar dari tempat persembunyian menuju jembatan.

Harus kuakui. Istana Yoto sebenarnya sangat indah. Walaupun cuaca sedang mendung dan sedikit berangin, itu tidak mengurangi kemegahan bangunan kastil, jembatan, dan ornamen-ornamen patung di sekitar istana. Bahkan rerumputan pun terlihat terawat dan ditanam teratur. Berbeda dengan istana Okto yang dikelilingi dinding batu, tempat ini hampir seperti menyatu dengan alam. Sungai besar yang melingkupi istana memiliki aliran air yang jernih sehingga kami bisa melihat ikan-ikan berenang di bawah permukaannya. Awan kelabu pun dapat terpantul sempurna di sana, begitu juga dengan bayangan kami yang sedang berjalan perlahan melewati jembatan.

Mulanya aku mengira jarak antara persembunyian kami dengan kastil tidak terlalu jauh. Namun semakin lama kami berjalan menuju pintu masuk, semakin aku menyadari bahwa jembatan ini ternyata cukup panjang. Dan itu memberikanku banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Kini mataku tak lagi memandangi hal lain kecuali gerombolan para penjaga yang mengawasi kami dari tempat mereka berdiri. Ketika kaki kami menapaki bagian ujung akhir jembatan, suara-suara crossbow berderak segera terdengar. Ohkura pun berhenti dan menghalangi kami dengan sebelah tangannya.

“Tidak ada yang boleh keluar masuk kastil saat ini!!” Teriak seorang penjaga dengan suara lantang. Beberapa dari mereka segera bergerak menghampiri kami di jembatan sambil menodongkan pedang. Kurasakan Master Tsuyoshi menempel dibalik punggungku seraya menyembunyikan diri. Lalu Yasu dan dua pemuda lainnya pun ikut merapat ke arahku untuk menutupi keberadaan beliau. Kami semua sengaja mengenakan jubah hitam yang seragam agar terlihat sama.

“Pergi dari sini!!” teriak mereka lagi. Ohkura berusaha untuk bernegosiasi meskipun kami semua tahu bahwa itu adalah hal yang mustahil. Terlalu berbelit-belit dan mengulur-ulur waktu, salah seorang dari prajurit pun akhirnya berjalan lebih dekat dengan dahi berkerut.

“Kalian bukan penduduk biasa,” gumamnya curiga sambil lalu menjulurkan tangan untuk menyingkap jubah Ohkura. Tetapi lelaki yang dimaksud tidak berniat menghindar, sebab kami semua memang sudah memprediksi ini. Prajurit penjaga itu sangat terkejut ketika melihat tangan Ohkura ternyata sedang menggenggam gagang pedang di balik jubahnya, siap untuk menebas.

ZLEB!

Ohkura menusukkan pedangnya di sela-sela baju besi musuh untuk membuat orang yang bersangkutan lumpuh. Gerakannya lumayan cepat hingga tidak ada dari mereka yang sempat bereaksi terhadap serangan itu. Meski demikian, para prajurit di dinding atas yang memang sudah siaga sejak awal tidak lagi menahan diri mereka untuk menembak. Begitu menyadari bahwa kami berniat masuk ke dalam istana, puluhan panah milik para penjaga seketika itu juga melesat di udara, mengarah ke tempat kami berada. Dan semua orang dalam tim dengan sigap segera berpencar ke segala arah. Dalam beberapa detik selanjutnya, pertarungan pun tak dapat dielakkan lagi.

Aku dan para pelindung berusaha menerobos kerumunan prajurit untuk membuka jalan bagi Master Tsuyoshi, namun beliau sendiri nampaknya cukup lihai menghindari serangan dari orang-orang. Pria paruh baya kepercayaannya pun sangat cekatan. Seperti dugaanku sebelumnya, orang itu memang punya kemampuan yang tidak biasa. Ia menggunakan senjata unik yang belum pernah kulihat selama ini. Semacam rantai besi panjang dengan pengait di ujungnya. Senjata itu terlihat aneh namun harus kuakui juga sangat efektif untuk pertarungan jarak jauh. Pria itu berhasil menarik jatuh beberapa prajurit di atas dinding hanya dengan beberapa kali sabetan saja.

“Yasu!” Master Tsuyoshi memberikan kode kepada anak yang dimaksud untuk menghabisi beberapa prajurit yang ada di bawah dinding. Dengan sigap Yasu pun menyingkirkan orang-orang di sana agar Master Tsuyoshi bisa memanjat ke atas. Pria paruh baya juga tak membuang waktu dan segera memanjat dari sisi yang berbeda dengan rantai besinya. Ia pun menghalangi seorang prajurit untuk menembakkan anak panahnya ke arah Master Tsuyoshi. Seperti yang diberitahukan pada kami sebelumnya, prajurit dengan crossbow memang harus dihabisi karena mereka berbahaya dan berpotensi menyerang tiba-tiba.

Aku menebaskan pedangku pada seorang penjaga yang hendak mendekati Ohkura dari arah belakang. Tebasanku mengenai lengan orang itu dan Ohkura segera berbalik untuk menghabisinya.

“Maru! Kurasa kita harus membuka pintu masuknya!” teriak lelaki itu padaku. Aku tidak tahu mengapa kami harus melakukan hal itu, tapi aku mengangguk dan mengikuti apa katanya. Sekilas kulihat Yasu dan Master Tsuyoshi tengah berusaha mencari cara untuk memanjat dinding. Kini aku mengerti, para prajurit memang harus dikecohkan agar keduanya bisa naik ke atas.

“Berhenti!!” Seorang prajurit menembakkan panahnya kepada Ohkura ketika anak itu bergerak menuju pintu. Beruntung instingnya sangat bagus sehingga ia segera menangkis serangan tersebut dengan pedangnya. Dan justru aku yang tidak sadar bahwa ada panah-panah lain sedang diarahkan padaku.

TRANG! TRANG!

Suara anak panah menghantam benda keras terdengar keras di dekat telingaku. Anak buah Master Tsuyoshi baru saja menggunakan pedangnya untuk melindungiku dan aku bersyukur karenanya. Kuakui, kami benar-benar tidak bisa lengah meski hanya sebentar saja. Dalam situasi seperti ini, ada banyak sekali kemungkinan untuk terluka atau mati, bahkan dari arah yang tidak kita sangka-sangka.

“Ugh!” aku menendang keras tubuh seorang prajurit yang hendak mendekat. Kutusuk tubuhnya secepat kilat dengan ujung pedang sebelum ia sempat bangkit dari tanah. Kuserahkan beberapa prajurit lainnya pada anak buah Master Tsuyoshi agar aku bisa mengikuti Ohkura. Lelaki itu telah berhasil mencapai pintu masuk namun tidak bisa membukanya.

“Pintunya dikunci!” Teriaknya seraya menendang sekuat tenaga besi besar di sana dengan kakinya. Aku mengerti bahwa ia berteriak agar orang-orang terfokus padanya, tapi jujur saja, itu membuatku merasa tidak nyaman.

BAM!

Aku juga menendang pintu itu sama seperti yang Ohkura lakukan. Sukses membuat mata semua orang tertuju pada kami. Tentu saja para penjaga tidak akan membiarkan siapapun masuk ke dalam kastil, sehingga mereka pun segera mengerubungi kami berdua. Sempurna, pikirku.

Aku, Ohkura, dan ketiga anak buah Master Tsuyoshi berkumpul di dekat pintu masuk untuk membuat keributan. Pada saat yang bersamaan, Yasu telah berhasil sampai di atas dan mengacaukan para prajurit pemanah. Ia tahu betul bahwa orang yang terbiasa menggunakan senjata jarak jauh berpotensi lemah untuk pertarungan jarak dekat, maka tidak sulit baginya untuk mengalahkan orang-orang tersebut. Dan benar saja, tak butuh waktu lama sampai satu persatu tubuh para pemanah jatuh dari atas menghantam tanah.

ZRASSH!

Aku menebaskan pedangku ke leher musuh hingga darahnya bermuncratan keluar. Pemandangan yang sangat horor, pikirku. Tapi dibandingkan dengan melihat mayat yang mati karena dibunuh oleh diri sendiri, lebih mengerikan lagi bagiku melihat mayat yang mati karena dibunuh oleh orang lain. Sebab dalam posisi bertarung, selalu ada insting untuk melindungi diri dari lawan. Psikologisnya tentu akan berbeda dengan saat kita melihat pembantaian atau penyiksaan yang dilakukan oleh orang lain.

“Jumlah mereka tinggal sedikit,” gumamku pada Ohkura ketika kami berhasil melewati satu jam pertama kudeta dengan mulus. Seluruh anggota tim masih lengkap, tidak ada yang terluka, dan jumlah musuh sudah berkurang banyak. Yasu dan pria paruh baya pun sukses menghabisi para pemanah sehingga kini Master Tsuyoshi bisa naik ke atas dengan aman.

“Dalam hitungan menit, prajurit dari dalam istana akan keluar, jangan lengah,” balasnya seraya mengingatkan. Aku mengangguk paham. Kulihat anak buah Master Tsuyoshi membunuh sisa prajurit yang ada dengan begitu mudahnya. Untuk jumlah tiga puluh orang, prajurit-prajurit itu memang tidak terlalu menyusahkan, tapi jika jumlah mereka bertambah banyak, hal tersebut bisa sangat menguras tenaga. Dan aku sadar bahwa hal yang paling dibutuhkan dalam misi ini adalah stamina tubuh. Karena tugas kami adalah mengecoh, tentu harus bertahan selama mungkin di medan untuk memberikan Master Tsuyoshi keleluasaan ruang dan waktu.

ZLEB!

Yasu menusukkan pedangnya ke seorang penjaga terluka yang masih mencoba untuk menyerang Master Tsuyoshi. Wilayah dinding di atas pintu masuk ternyata lebih luas dari dugaan kami. Bagian tersebut dihubungkan ke level kastil yang lebih tinggi oleh sebuah tangga. Aku tidak tahu ke ruangan mana tangga itu menuju, tapi prajurit penjaga bisa keluar masuk dari sana. Dan sesuai dengan prediksi Ohkura, jumlah mereka tiba-tiba saja bertambah.

“Aku akan mencari cara untuk naik ke atap,” ucap Master Tsuyoshi memberitahu Yasu dan pria kepercayannya. Ia berusaha mencari jalan alternatif untuk masuk ke dalam kastil tanpa harus berhadapan dengan para penjaga. Tapi itu rasanya hampir mustahil mengingat bangunan ini sangat tertutup. Jalan untuk masuk mungkin memang benar-benar tidak ada lagi selain melewati tangga dan pintu besi.

“Siapa kalian?!” teriak seorang prajurit panik sambil lalu mengayunkan pedangnya ke arah Master Tsuyoshi. Keduanya sempat bertarung dan Yasu pun harus buru-buru menghabisi prajurit tersebut agar tidak menghalangi. Aku, Ohkura, dan para pelindung lain sempat terganggu dengan suara gerombolan prajurit yang keluar dari tangga di atas. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba saja pintu besi di hadapanku terbuka dengan lebarnya. Puluhan prajurit berseragam merah pun muncul dan menghalangi kami untuk masuk. Tapi tidak ada yang berkecil hati, sebab ini memang bagian dari rencana. Menggiring semua penjaga keluar dari kastil adalah salah satu tugas pengecoh.

Aku, Ohkura, dan yang lainnya segera mundur. Cukup jauh hingga mendekati jembatan. Kulihat dari tempatku berdiri, Master Tsuyoshi agak kesulitan masuk ke dalam kastil karena para prajurit terus bermunculan dari tangga. Yasu dan pria paruh baya pun berusaha untuk bertahan di atas sana meski sulit.

“Aku akan ke atas,” ucap Ohkura menggoyang bahuku dan segera berlari pergi. Tidak sempat kumengejarnya karena para prajurit di pintu masuk langsung menyerang kami. Aku dan ketiga pemuda lainnya harus tetap menyibukkan orang-orang di bawah agar mereka tidak membaca strategi Master Tsuyoshi. Meski juga ingin menyusul Yasu di atas sana, namun aku sadar bahwa aku harus bekerja dengan profesional.

“Apakah kalian prajurit Okto?!” tanya seorang penjaga dengan ekspresi marah kepadaku. “Raja Kitayama akan melakukan negosiasi dengan Raja Ohno! Kenapa kalian malah merusuh?!” tanyanya lagi sambil mengayunkan pedang ke arahku. Aku menahan pedangnya dengan milikku sambil lalu menendang orang itu jatuh ke tanah.

“Kami hanyalah rakyat yang ingin menuntut kedamaian,” ucapku memberitahu. Aku juga tidak tahu mengapa aku mengatakan hal itu padanya. Kulihat sekelebat emosi di mata orang itu saat ia bangkit dan berusaha mencekikku. Aku pun segera menebaskan pedangku ke tubuhnya sebelum ia berhasil berdiri.

SYUU! SYUU!

Suara belasan anak panah membelah udara terdengar dengan begitu jelas. Pasukan panah yang keluar dari tangga langsung menembaki Ohkura ketika anak itu mencoba memanjat dinding. Harus segera menghindar kalau tak mau mati, anak itupun terpaksa berlari menjauh dari kastil. Terlihat Master Tsuyoshi dan pria kepercayannya masih berusaha menerobos masuk, namun sepertinya juga tidak memungkinkan. Yasu sendiri tidak punya pilihan lain kecuali terus bertarung untuk menyingkirkan para penjaga yang berdatangan seperti tanpa henti.

Jumlah prajurit di dalam kastil memang tidak diprediksi oleh Master Tsuyoshi. Tidak ada dari kami yang tahu berapa banyak mereka sehingga resiko tertahan di luar memang sangat besar. Tapi bagaimanapun juga, yang paling penting adalah meloloskan Master Tsuyoshi hingga ke ruangan Raja Ohno sebelum sang raja menyadari kudeta ini. Selama ia masih berfokus pada Raja Kitayama, kami tetap masih punya kesempatan.

“Master, sebaiknya anda bersembunyi dulu,” ucap Yasu menyarankan. “Akan berbahaya sekali jika mereka mengenali anda dan melapor pada Raja Ohno,” jelasnya lagi sambil lalu memberikan kode kepada si pria bahwa ada tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi. Letaknya ada di balik tangga naik. “Sampai ada kesempatan untuk masuk, mohon jangan terlalu banyak bergerak,” Yasu membiarkan Master Tsuyoshi memikirkan usulnya sambil tetap melindungi beliau dari serangan para penjaga.

BUAKK!

Seseorang tiba-tiba memukul Yasu, mengangkat, dan menghantamkannya ke lantai dengan kasar. Ia dan Master Tsuyoshi mendadak dikeroyok dan tidak ada yang bisa melindungi mereka kecuali pria paruh baya di sana. Orang itu segera menggunakan rantainya untuk mengikat para prajurit yang bergerombol dan menjatuhkan mereka ke luar dinding. Tubuh orang-orang tersebut melayang di udara sejenak sebelum kemudian terhempas keras ke tanah. Untuk seorang pria tua, kupikir kekuatan ototnya terbilang tidak normal.

“Yasu!” aku dan Ohkura berteriak bersamaan. Keributan di atas sana terlihat jelas dari posisi kami dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak. Aku tahu seharusnya keberadaan mereka di atas sana tidak boleh menjadi fokus, tapi sekali lagi kukatakan, aku tidak bisa menahan diriku. Dan untungnya tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada Yasu ataupun Master Tsuyoshi. Terima kasih pada pria kepercayaan beliau yang sudah menyelamatkan dua orang itu.

“Jangan biarkan mereka mengganggu pertemuan!!” teriak seorang prajurit di dekatku kepada para prajurit lainnya. Ia menunjuk ke dinding atas dengan pedangnya untuk memberitahu posisi tim kami yang ada di sana. Aku pun buru-buru menusuk tubuhnya supaya ia diam. Setelah itu aku segera berlari menuju ke pintu masuk agar orang-orang kembali fokus pada tim pengecoh. Kulihat kali ini Ohkura juga sudah berhasil memanjat dinding.

“Menyingkir dari mereka!” teriak lelaki itu sambil mengayunkan pedangnya ke arah prajurit-prajurit yang bermaksud menyerang Yasu dan Master Tsuyoshi lagi. “Yasu, kau tidak apa-apa?” Ohkura menggoyang pundak anak yang bersangkutan untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja.

“Aku tidak apa-apa, tapi Master butuh untuk segera masuk ke dalam kastil,” jawab Yasu dengan napas tersengal. Keduanya berbicara hampir seperti berbisik dan tidak ada yang bisa mendengar kecuali diri mereka sendiri. Ohkura tanpa rasa takut segera menghampiri para prajurit dan menghabisi orang-orang tersebut dengan pedangnya. Pria kepercayaan Master Tsuyoshi dan Yasu pun juga segera bergabung dengan lelaki itu di pertarungan. Kami memang tidak boleh membuang waktu, sebab tidak ada yang tahu sampai berapa lama Raja Kitayama akan menetap di dalam kastil.

ZRASSH!

Aku menebaskan pedangku kepada seorang musuh sebelum lalu berlari menjauh dari pintu. Sengaja kembali ke posisi di dekat jembatan untuk mengulur waktu. Staminaku memang masih ada, masih cukup untuk bertahan sampai beberapa jam kedepan. Tapi itupun kalau pertempurannya sesuai dengan prosedur, dimana ada kesempatan bertahan dan menyerang dari masing-masing pihak. Namun dalam peperangan dengan jumlah yang tidak seimbang seperti ini, aku tidak tahu apakah kami bisa bertahan selama itu. Tidak ada waktu istirahat ataupun bertahan bagi kami. Yang ada hanya terus menyerang sampai kudeta ini selesai. Setidaknya, seperti yang telah diperintahkan oleh Master Tsuyoshi, kami harus terus menyerang sampai beliau berhasil menemui kedua raja.

Dengan tekad yang kuat dan juga karena tuntutan waktu, dalam hitungan menit kami pun berhasil mengurangi jumlah prajurit penjaga hingga tiga perempatnya. Suatu daya tarung luar biasa yang belum pernah kualami sebelumnya. Meskipun hal itu juga memberikan dampak besar terhadap stamina kami, namun semua terbayar karena kini Master Tsuyoshi bisa menerobos masuk melalui tangga. Sebelum gerombolan prajurit lain berdatangan, beliau sudah harus berhasil menyelinap ke dalam kastil. Dan ini adalah saat yang paling tepat untuk itu.

Atau mungkin juga tidak.

 

Dark Orange Chapter 3 END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s