[Multichapter] Le ciel e Youkoso (chap 3)

Tittle               : Le ciel e Youkoso : Be Brave
Author           : Fuchii & Aquina
Genre             : AU, Slice of Life
Cast               : Lewis Jesse, Tanaka Juri, Morimoto Shintaro, Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Kouchi Yugo (SixTONES); OC
Disclaimer    :
SixTONES members are under Johnnys & Associates

 potato_201701_14-copy

Project natal yg terinspirasi oleh photoshoot di majalah Potato edisi Januari 2017. Mohon maaf apabila ada typo dan alur yg terkesan cepat karena author sendiri ngerjainnya ngebut demi ngejar natal meskipun ujung-ujungnya ga dipost pas natal juga X’D

Selamat menikmati! Ditunggu komennya~ :3

 

*****

 

“Le ciel e youkoso.”

Ucap keenam pelayan tampan saat pelanggan membuka pintu kaca Café itu. Jangan lupakan senyum ramah mereka setiap kali melayani para pelanggan.

Le ciel Café yang hanya buka saat menjelang natal. Café itu selalu penuh setiap harinya. Café yang buka pada hari Senin hingga Kamis pukul 10 siang hingga jam 6 sore selama satu bulan tepat sebelum hari natal. Café yang sangat terkenal dikalangan remaja putri bukan hanya karena pelayannya merupakan pemuda yang tampan ataupun makanan dengan rasa yang enak, tapi berdasarkan rumor yang beredar, pelayan dari Café ini akan menemanimu dan membantumu menyelesaikan masalah yang sedang kau hadapi. Tentu saja servis itu tidak semata-mata dapat kalian minta saat datang ke sana seperti kalian memesan cheesecake ataupun milkshake, bisa dibilang itu adalah secret service Le ciel Café.

Berdasarkan rumor juga, jika kalian datang ke Café ini saat sedang memiliki masalah, entah bagaimana cara mereka mengetahuinya, salah satu dari pelayan itu akan memberi kalian secarik kertas berwarna yang bertuliskan “Kau bisa bicara denganku jika kau sedang memiliki masalah” beserta dengan nama si pelayan juga tempat dan waktu yang dia berikan untuk pertemuan.

Pelayan itu akan menunggu kalian seharian di tempat pertemuan itu. Karena saat itu ada seorang gadis yang pada mulanya tak mempercayai tulisan yang tertulis pada kertas kecil itu. Namun akhirnya ia memutuskan untuk datang untuk memastikan apakah hal itu benar atau tidak. Pelayan itu menuliskan untuk bertemu pada jam 11 siang, namun gadis itu baru sampai di sana pada pukul 7 malam, dan pelayan itu masih setia menunggu di sana. Tak ada ekspresi kekesalan pada wajah pemuda itu, sebaliknya, ia malah tersenyum dan berkata, “Akhirnya kau datang juga. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu. Jadi, maukah kau menceritakan hal yang mengganggu pikiranmu? Aku akan membantumu.”

 

*****

 

Kobayashi Mitsuha menatap ragu pada cafe bertuliskan Le Ciel di papan namanya itu. Memang banyak rumor mengenai café ini. Tapi…

“Apa benar begitu?” tanya Mitsuha pada dirinya sendiri dengan kening berkerut.

Mitsuha sudah berdiri di depan café itu selama kurang lebih sepuluh menit. Ia menunggu temannya, Sachi, yang hari ini mengajaknya untuk mencoba café yang selalu dibicarakan oleh siswi-siswi di kelasnya itu atas dasar penasaran. Mitsuha mengiyakan saja ajakan Sachi berhubung dia sedang lengang dan tidak tahu harus melakukan apa. Namun, sudah lewat setengah jam dari waktu yang dijanjikan, tapi Mitsuha sama sekali belum melihat tanda-tanda keberadaan Sachi. Mitsuha sendiri sudah terlambat dua puluh menit, tapi ia tidak menyangka Sachi yang begitu antusias pada awalnya datang lebih lambat dari Mitsuha.

Sambil menghembuskan napas ke tangannya yang mulai membeku, Mitsuha merogoh kantong mantelnya untuk mengambil ponsel lalu mengirim pesan pada Sachi. “Aku masuk duluan.

Setelah memastikan pesannya terkirim, Mitsuha masuk ke dalam café. Ia mendapatkan sambutan hangat dari pelayan bertubuh tinggi dengan potongan rambut pendek dibelah menyamping. “Irasshaimase!

Mitsuha mengangguk dan tersenyum tipis ke arah pelayan bername tag Matsu itu. Ia menyukai rambut hitam si pelayan dengan tatanan yang membuat rambutnya terlihat bervolume itu.

“Silakan memesan ke kasir terlebih dahulu,” ucapnya dengan nada ramah dan senyum yang terkesan sopan.

Awalnya Mitsuha ragu apakah baik jika dia memesan terlebih dahulu mengingat Sachi belum datang. Tapi karena ia kedinginan, pada akhirnya Mitsuha memesan secangkir Chamomile Tea hangat dan memutuskan untuk memesan lagi jika Sachi sudah datang nanti.

Setelah diantar oleh Matsu—untuk sementara Mitsuha membiarkan dirinya beranggapan bahwa nama pelayan itu benar-benar Matsu—ke meja kosong di dekat jendela, Mitsuha duduk dan mengobservasi isi café. “Apa bedanya café ini dengan ikemen café pada umumnya?” tanyanya dalam hati.

Mitsuha kemudian kembali mengambil ponselnya. Ekspresi wajahnya berubah sedikit masam ketika mengetahui belum ada balasan sama sekali dari temannya itu. Bahkan belum ada tanda read di samping pesan yang terakhir kali ia kirim Mitsuha. “Sachi kemana sih?” gumamnya dengan nada kesal.

“Maaf sudah menunggu lama.”

Kalimat barusan hampir saja membuat Mitsuha menjatuhkan ponselnya mengingat perhatiannya sedang tercurah pada ponsel. Mitsuha buru-buru menaruh ponselnya di meja dengan posisi terbalik tapi berakhir dengan tanpa sengaja menjatuhkan benda itu dari tangannya saat jarak dengan meja tinggal sekitar lima sentimeter. Tapi tetap saja menimbulkan suara yang cukup keras.

“Apa Anda baik-baik saja, Ojou-sama?” tanya Matsu sambil sedikit membungkukkan badannya.

Mitsuha menggelengkan kepala kuat-kuat, “Ti-tidak apa-apa…”

Matsu tersenyum, “Baiklah kalau begitu. Anda bisa memanggil saya jika membutuhkan sesuatu nanti.”

Setelah Matsu pergi, Mitsuha tertunduk malu dan menyeruput tehnya. Kehangatan dan wangi Chamomile-nya sedikit menenangkan pikirannya yang bercampur aduk. Mitsuha seketika bersyukur Matsu adalah pelayan café, bukan guru atau siswa yang ia jumpai setiap hari di sekolah sehingga Mitsuha tidak perlu mengingat-ingat kejadian memalukan ini setiap kali bertemu dengan Matsu. Ah, Mitsuha juga bersyukur pipinya sudah memerah sejak awal karena kedinginan. Kalau tidak…

Mitsuha menghela napas panjang.

Sekitar lima menit kemudian, ponsel Mitsuha bergetar. Ada pesan balasan dari Sachi. Dengan semangat, Mitsuha membukanya.

Mitsuha-chan, maaf aku ada urusan mendadak jadi tidak bisa datang ke café

Seketika, mood Mitsuha langsung anjlok. Kedua alisnya bertaut, rahangnya mengeras karena menahan emosinya. Bagaimana bisa Sachi semena-mena membatalkan janjinya.

Ada urusan mendadak katanya?

Oh, ayolah. Setengah jam sebelum waktu janjian dengan Sachi tadi, Mitsuha juga mendadak diharuskan untuk ikut pesta yang diadakan oleh kantor ibunya. Mitsuha merasa sudah terlalu sering menemani ibunya untuk pergi ke pesta semacam itu, sebagai gantinya Mitsuha berusaha menolak. Ia menyarankan agar ibunya mencoba mengajak adiknya yang hanya terpaut satu tahun lebih muda darinya untuk pergi ke pesta. Mitsuha merasa adiknya jarang bisa menemani ibunya karena jadwal kegiatan club di sekolahnya cukup padat. Namun ini sudah musim dingin dan menjelang akhir tahun, tak mungkin juga club voli putri terus berlatih, kan?

Setelah meyakinkan ibunya yang memakan waktu lima belas menit, Mitsuha bergegas pergi menuju café yang legendaris itu. Mitsuha sudah merasa tak enak jika dirinya sampai terlambat datang. Tak ingin mengecewakan temannya tentu saja. Namun setelah perjuangan dan penantiannya, Sachi hanya mengiriminya sebaris kalimat yang membuat Mitsuha ingin menelan temannya itu bulat-bulat.

Mitsuha mendengus keras. Merasa masa bodoh dengan pandangan beberapa tamu di café itu yang—mungkin—melihatnya dengan tatapan aneh. Maka, tanpa menghabiskan tehnya yang baru berkurang seperempat cangkir, Mitsuha langsung berdiri dan berjalan dengan langkah cepat menuju kasir.

Sampai di meja kasir, ia disambut oleh pelayan lain yang ber-name tag Kyo. Sedikit terkesima dengan manisnya senyum kasir berambut pirang itu, namun karena tertutup oleh emosinya yang mulai sulit ditahan, dengan cepat Mitsuha membayar sesuai dengan jumlah tagihan yang disebutkan oleh Kyo.

“Terima kasih banyak,” Kyo membungkuk dan tersenyum. Mitsuha bahkan tak menunggu Kyo selesai bicara untuk meninggalkan tempatnya. Masa bodoh dengan ikemen café ini, Mitsuha ingin segera pulang ke rumah. Agar setidaknya ia bisa menelepon dengan leluasa dan mendapat penjelasan lebih jelas mengapa Sachi membatalkan janjinya.

Karena terlalu terburu-buru, Mitsuha tak sengaja menabrak pelayan yang tengah membawa nampan berisi gelas yang masih penuh. Membuat pelayan itu tanpa sengaja menumpahkannya pada meja berisi tiga orang gadis.

“KYAA!” Salah satu tamu yang bajunya terkena cipratan minuman tadi berteriak nyaring. Membuat gaduh seisi café. Beruntung minuman itu tak sepenuhnya tumpah pada baju sang tamu.

Dengan cekatan, pelayan lain datang untuk membantu membereskan kekacauan yang terjadi.

“Hei, kau! Ini salahmu!” gadis itu berdiri, menunjuk Mitsuha dengan emosi. “Bajuku jadi kotor!”

“Maafkan kami, silakan Ojou-samatachi pindah ke meja lain,” pelayan ber-name tag Matsu mempersilakan tamu—yang malang—itu untuk pindah menuju meja lain. “Akan kami antarkan kembali pesanan anda yang sama persis seperti sebelumnya.”

Sedangkan dua pelayan lain, yang ber-name tag Yuu dan Taki membereskan meja yang terlihat berantakan karena tumpahan minuman tadi.

Sementara itu, Mitsuha berdiri mematung di tempatnya. Hanya menyaksikan kekacauan yang tak sengaja ia lakukan. Bukannya dia tak peduli, tapi dia terlalu syok bahkan untuk mengucapkan sepatah kata ‘maaf’. Bibirnya bergetar. Pandangan matanya mulai kabur karena matanya dilinangi air mata.

Ojou-sama, maukah Anda ikut saya ke belakang untuk menenangkan diri?”

Tak memperhatikan pelayan mana yang mengajaknya, Mitsuha mengangguk dan membiarkan pelayan itu menuntunnya menuju bagian belakang café. Seketika—diiringi rasa hampa seolah lubang besar tiba-tiba terbentuk di hati—Mitsuha merasa bersalah kepada para pelayan yang terlihat berusaha keras menutupi kesalahannya. Seandainya saja tadi dia tidak buru-buru. Seandainya saja tadi dia lebih berhati-hati. Seandainya saja… dia tidak memilih untuk datang ke café ini….

Air mata Mitsuha jatuh menetes tanpa bisa ia bendung ketika pelayan yang membawanya ke ruang istirahat karyawan itu mendudukkannya di sofa.

Ojou-sama, saya mohon maaf tapi maukah Anda menunggu sebentar?”

Mitsuha mengangguk dengan kepala tertunduk, ia tidak mau siapa pun melihatnya sedang menangis sekarang. Ia baru berani mengangkat kepala ketika pelayan tadi sudah keluar. Dengan punggung tangannya, Mitsuha mengelap air matanya. “Seharusnya aku di rumah saja hari ini,” gumamnya sambil menahan isakan.

Kemudian, pintu ruangan kembali terbuka. Seorang pelayan ber-name tag Shin, yang Mitsuha kenali sebagai pelayan yang ia tabrak tadi, masuk membawa cangkir—terlihat uap tipis mengepul dari cangkir itu—sambil tersenyum ramah. “Saya membawakan Anda Chamomile Tea. Aromanya akan membantu Anda tenang,” ucapnya lalu menaruh cangkir itu di meja di depan Mitsuha. “Dan… apa Ojou-sama keberatan jika saya duduk di sini?” tanya Shin sambil menunjuk space kosong di samping Mitsuha.

Mitsuha mengangguk. Lalu, ketika Shin sudah duduk, Mitsuha perlahan membuka mulutnya untuk berbicara, “Maaf… gara-gara aku, kalian semua jadi…”

Shin menyela ucapan Mitsuha yang belum selesai, “Ini bukan salah Anda. Anda pasti punya alasan kenapa buru-buru, kan?! Semua orang pasti punya alasan untuk melakukan sesuatu,” ucapnya dengan nada yang menenangkan.

Setiap orang pasti punya alasan… kalimat itu terngiang di telinga Mitsuha untuk beberapa saat. Lalu, alasan apa yang membuat Sachi terlambat dan membatalkan janjinya begitu saja? Tentu saja Mitsuha ingin tahu.

.

.

Esoknya, Mitsuha datang lebih pagi ke sekolah. Ia menunggu Sachi dengan tidak sabaran di depan kelas. Keduanya memang terbiasa datang pagi, tapi karena Mitsuha tiba sepuluh menit lebih awal, penantiannya terasa lama. Lalu, begitu Sachi datang, Mitsuha langsung menghadangnya tanpa memberi Sachi kesempatan untuk menaruh tas dan membawanya ke tempat sepi dimana mereka bisa berbicara lebih leluasa.

“Jadi, jelaskan padaku, Kanzaki Sachi! Kenapa kau membatalkan janji denganku secara sepihak kemarin? Urusan mendadak katamu, hm?” ucap Mitsuha dengan lengan yang terlipat.

“Aku bisa jelaskan, Mitsuha-chan. Sungguh!”

Meski teman akrabnya itu sudah memasang tampang bersalah dan terus berusaha meminta maaf dengan cara menspam inbox Mitsuha semalaman, ia masih sulit untuk tidak marah.

“Kemarin, ketua klubku tiba-tiba meminta anggotanya berkumpul untuk membahas latihan untuk pertandingan musim depan yang dimulai besok…” jelas Mitsuha dengan nada menyesal.

“Kenapa kumpulnya tidak hari ini? Atau besok? Lagipula ini masih musim dingin. Kalian masih punya banyak waktu,” Mitsuha tak bisa menyembunyikan rasa kesal dalam nada bicaranya.

“Memang sih… tapi…”

Tanpa menunggu Sachi menyelesaikan kalimatnya, Mitsuha menyela lebih dulu, “Kau tahu, Sachi? Kemarin aku juga hampir membatalkan janji kita karena ibuku memintaku untuk menemaninya ke pesta. Tapi aku berangkat ke café itu dan menunggumu di luar sampai tanganku hampir membeku. Kau bahkan tidak menghubungiku sama sekali sehingga aku memutuskan sendiri untuk masuk ke dalam. Lalu, saat akhirnya kau menghubungiku setelah menunggu lama, kau bilang tidak bisa pergi? Yang benar saja?” nada bicaranya mulai meninggi. “Aku begitu marah sampai tidak sengaja menabrak salah satu pelayan dan membuatnya menumpahkan minuman ke bajunya. Hariku benar-benar buruk kemarin, Sachi.”

“Mitsuha-chan… maaf…”

Maaf? Itu saja? Mitsuha yang berharap Sachi mengatakan lebih dari sekedar maaf, kini meledak, “Kau sudah berjanji denganku lebih dulu! Maaf tidak mengubah apapun sekarang!”

Dengan tatapan tidak percaya, Mitsuha meninggalkan teman akrabnya itu dan kembali ke kelas lebih dulu. Matanya berkaca-kaca. Mitsuha sudah mengorbankan permintaan ibunya demi menepati janji dengan Sachi tapi hanya maaf yang Mitsuha dapatkan. Kalau hanya maaf, siapa saja bisa mengucapkannya, gerutu Mitsuha dalam hati.

.

.

Sejak hari itu, Mitsuha sama sekali tidak mau berbicara dengan Sachi lagi. Awalnya, Sachi masih mencoba menyapa, seolah tidak terjadi apa-apa sehingga Mitsuha yang masih marah menjadi semakin tak acuh. Kini mereka benar-benar tidak saling berkomunikasi bahkan lewat chatting sekalipun.

Mitsuha memantapkan hatinya untuk mendiamkan Sachi sampai Sachi sendiri yang mengakui kesalahannya. Mitsuha sudah berkorban untuk Sachi, kenapa Sachi tidak mau berkorban untuknya?

“Besok Minggu… enaknya kemana ya?!” gumam Mitsuha sambil men-scroll timeline media sosialnya begitu menyadari hari ini adalah hari terakhir masuk sekolah. Dia ingin sekali pergi jalan-jalan besok. Tapi kemana? Dengan siapa?

Ne, Kanzaki. Boleh minta waktumu sebentar?”

Mitsuha tahu bukan namanya yang dipanggil, tapi ia menoleh. Terlihat Sachi—sepertinya baru saja kembali dari membeli jus di vending machine—berdiri di depan Sawayama, salah satu siswi di kelasnya.

“Ada apa?” tanya Sachi sambil menyeruput jusnya.

“Besok aku dan Maeda butuh satu orang lagi untuk diajak pergi… kau mau tidak menemani kami?”

“Kemana?”

“Akan kuberitahu tempatnya lewat e-mail nanti. Yang penting, kau mau ikut tidak?”

Sachi terlihat berpikir untuk beberapa saat, “Yah, baiklah. Lagipula besok aku kosong.”

Mitsuha tercengang. Semudah itukah Sachi menerima ajakan orang lain? Dia bahkan belum meminta maaf dengan benar pada Mitsuha dan dia sudah mau pergi dengan yang lain. Yang benar saja?

Mitsuha mendengus kesal kemudian kembali menyibukkan diri dengan ponsel pintarnya.

.

.

Cahaya mentari di Minggu pagi yang menyeruak lewat kelambu jendela kamar Mitsuha, membangunkannya dari tidurnya. Setelah membuka mata dengan ogah-ogahan dan menggeliat, ia meraba-raba area sebelah kanannya di dekat bantal untuk mencari ponselnya. Begitu ketemu, ia menekan tombol lock di sisi atas ponselnya. Jam digital yang tertera di lockscreen­-nya menunjukkan pukul tujuh pagi. Lalu, fitur ramalan cuaca yang ada di bawah jam menampilkan gambar matahari tertutup awan mendung dan suhu sepuluh derajat celcius. Pantas saja tidur Mitsuha terasa nyenyak semalam karena didukung cuaca dingin dan selimut tebal.

Meski sudah terjaga, Mitsuha tidak langsung turun dari kasur. Ia memilih untuk menikmati kehangatan selimutnya dulu sampai ia rasa hari sudah cukup siang untuk beranjak dari kasur. Lagipula, kedua orang tuanya sedang pergi ke luar kota, adiknya juga pasti sedang bermalas-malasan di kamarnya. Jadi, tidak akan ada yang memarahinya hari ini meskipun Mitsuha tidak keluar dari kamar sampai malam sekalipun.

Sambil mengubah posisi beberapa kali, Mitsuha terus mengutak-atik ponselnya. Entah itu bermain game atau sekedar mengecek media sosialnya kalau-kalau ada berita baru. Ia baru berhenti ketika ponselnya tiba-tiba mati karena dayanya habis. Sambil mendengus kesal, ia bangun dan melihat jam di dinding kamarnya. Sudah hampir pukul sepuluh. Maka, meski dengan malas, Mitsuha turun dari kasur untuk men-charge ponselnya dan—masih dengan ogah-ogahan—berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.

Begitu selesai, ia pergi ke dapur untuk mengisi perut. Mitsuha juga mengambil beberapa camilan. Meski sebenarnya ingin pergi keluar, Mitsuha mengurungkan niatnya dengan dalih cuaca sedang dingin. Dia akhirnya memutuskan untuk menghabiskan sisa harinya dengan menonton drama di kamar.

Tetapi, meski sudah meyakinkan diri untuk berada di rumah saja, beberapa kali ia tergoda dan melirik keluar jendela. Sampai akhirnya, ketika ia hendak mengambil DVD drama ke-empatnya, Mitsuha menghela napas panjang dan menyerah lalu buru-buru ganti baju serta merias diri—setidaknya cukup untuk membuatnya tidak terlihat lusuh. Ia menyambar mantel dan tas kecilnya lalu memasukkan ponsel dan dompetnya ke dalamnya. Mitsuha juga menuruni tangga secepat yang ia bisa—sambil memakai mantelnya—seolah sedang diburu waktu. Begitu tiba di luar, ia menghela napas lega dan tersenyum lebar. Senang karena akhirnya ia memutuskan untuk pergi keluar setelah sedikit perang batin. Lalu, tanpa menyia-nyiakan waktunya, Mitsuha melangkah keluar pagar rumahnya dan mulai berjalan dengan langkah ringan.

Namun, karena tanpa persiapan dan tujuan pasti, pada akhirnya Mitsuha berhenti di konbini terdekat untuk membeli latte dan duduk-duduk di kursi di dekat jendela. Awalnya, terbesit keinginan di benak Mitsuha untuk datang lagi ke Le Ciel Café. Tapi mengingat kejadian yang menimpanya minggu lalu, Mitsuha langsung mengurungkan niatnya. Bagaimana kalau para pelayan di sana masih mengingat wajahnya? Terutama Shin dan Matsu yang berinteraksi paling lama dengannya. Bagaiman kalau secara kebetulan tamu yang terkena tumpahan minuman waktu itu juga datang? Memikirkannya saja sudah membuat mood Mitsuha jelek. Apalagi jika mengingat tentang Sachi, makin membuat Mitsuha ingin marah-marah kepada semua orang yang ditemuinya.

Lagipula, untuk apa Mitsuha memikirkan Sachi? Dia pasti sudah bersenang-senang dengan Sawayama dan Maeda sekarang, pikirnya kesal sambil meminum latte-nya.

Lalu, bosan karena tidak melakukan apapun selain duduk melihat orang-orang berlalu-lalang lewat jendela konbini sampai latte-nya habis, Mitsuha beranjak dari tempat duduknya dan keluar. Ia mengecek jam di ponselnya—lupa memakai jam tangan karena terburu-buru. Masih pukul 4 sore. Mitsuha berencana pulang ke rumah jika sudah pukul 6. Lebih sedikit juga tak masalah. Toh hanya akan ada adiknya di rumah jika ia pulang nanti.

“Enaknya kemana ya…” pikirnya seraya menimang-nimang beberapa opsi yang muncul di kepalanya. Karena udara dingin, Mitsuha memasukkan tangan ke saku mantelnya. Cukup hangat, pikirnya. Lalu, ujung jarinya menyentuh sesuatu yang—dari tekstur dan bentuknya—Mitsuha yakini adalah kertas.

Benar saja, begitu dikeluarkan, benda tersebut memang kertas. Berwarna hijau dan terlipat rapi. Sepertinya sebuah memo. “Apa ini?” gumam Mitsuha sambil membuka lipatan memo tersebut dengan kening berkerut.

 “Untuk mengungkap kebenaran, perlu perjuangan. Ingin coba mengobrol denganku? Kutunggu di Shinjuku Gyoen tanggal 11 Desember pukul 1 siang.”

Jantung Mitsuha mencelos dan matanya terbelalak.

Berdasarkan rumor juga, jika kalian datang ke Café ini saat sedang memiliki masalah, entah bagaimana cara mereka mengetahuinya, salah satu dari pelayan itu akan memberi kalian secarik kertas berwarna yang bertuliskan “Kau bisa bicara denganku jika kau sedang memiliki masalah” beserta dengan nama si pelayan juga tempat dan waktu yang dia berikan untuk pertemuan.

“Mungkinkah ini…” tanpa berpikir panjang lagi, Mitsuha berlari secepat yang ia bisa menuju tempat yang tertulis di memo. Kalau jam yang dijanjikan adalah pukul 1 siang, berarti ia telah membuat pelayan itu menunggu selama tiga jam. Waktu yang cukup lama untuk menunggu orang yang tidak dikenal. Meskipun ada kemungkinan si pelayan, entah siapapun itu, sudah pergi karena tidak mau menunggu lama. Tapi Mitsuha tetap berlari hingga tanpa sengaja menabrak beberapa orang. Ia bahkan lupa meminta maaf kepada beberapa orang yang ditabraknya.

Tak tahu sudah berapa lama ia berlari, Mitsuha yang napasnya sudah mulai habis akhirnya tiba di bagian samping taman. Lalu, dengan sisa tenaganya, ia berlari ke bagian depan taman dan…

“Aku sudah menunggumu loh!” seorang pria berperawakan tinggi dengan wajah yang tidak asing menyambut Mitsuha. Pria yang sedari tadi berdiri dengan punggung menempel pada tembok itu kini menegakkan badannya dan tersenyum pada Mitsuha. “Kupikir kau tidak akan datang.”

Mitsuha tak menjawab. Napasnya tersengal pasca berlari hingga ke tempat janjian. Dengan sisa tenaganya, ia menegakkan badan dan mulai merangkai kata-kata, “Maaf… aku… baru membaca… memonya….”

“Ah, tidak apa-apa,” pria itu kembali tersenyum. “Seharusnya memang sejak awal kuserahkan langsung saja, bukan memasukkannya diam-diam ke kantong mantel Mitsuha-san,” ia mengakhiri kalimatnya dengan tertawa kecil.

Mitsuha baru akan menanyakan kenapa pria itu tahu namanya ketika tiba-tiba ia ingat siapa pria yang ada di hadapannya sekarang. “Shin-san?” tanyanya sedikit tidak yakin.

“Shin saja tidak apa-apa. Maaf, lupa memperkenalkan diri terlebih dahulu,” Shin kembali tersenyum. “Apa menurutmu sudah terlalu sore untuk jalan-jalan di taman, Mitsuha-san?”

Mitsuha menimbang-nimbang, memang masih jam 4 lebih, tapi cuaca cukup dingin dan berawan. Lagipula pria di hadapannya ini sudah nyaris mati membeku menunggunya.

“Kita pergi ke café dekat sini bagaimana? Sebagai permintaan maaf, kau telah menungguku begitu lama…” Mitsuha menggantung kalimatnya. Ia benar-benar merasa bersalah setelah membuat kekacauan di Le ciel tempo hari, kini ia membuat seseorang yang tak dikenalnya menunggunya selama 3 jam lebih. Melihat bibir Shin yang sedikit pucat menandakan jika pemuda itu memang kedinginan walau telah mengenakan syal dan mantel yang tebal.

.

.

“Kutraktir sebagai permintaan maaf, Shin-san,” ucap Mitsuha. Masih tidak enak hati dengan pemuda itu. Shin mengangkat sebelah alisnya, “Tidak perlu, Mitsuha-san. Seharusnya aku yang melakukan itu. Kau client-ku hari ini,”

“Tidak, tidak. Tolong. Mungkin hanya ini yang dapat kulakukan. Setidaknya agar aku menganggap kau sudah memaafkanku…” Mitsuha menggigit bibirnya. Berusaha memohon pada Shin. Shin mendengus geli, “Baiklah, Mitsuha-san. Cukup cokelat hangat saja,” pemuda tinggi itu mengelilingkan pandangannya. “Aku akan mencari tempat duduk. Sepertinya café ini mulai ramai,”

“Baiklah.”

.

.

“Kau yakin tak ingin makan sesuatu? Kau sudah berdiri di sana 3 jam lebih…” Mitsuha bertanya lagi saat pesanan mereka datang. Sepiring pasta untuk dirinya dan dua cangkir cokelat hangat untuk mereka berdua.

Shin menyeruput cokelat hangatnya kemudian tersenyum, “Tidak perlu, Mitsuha-san. Ini sudah lebih dari cukup.”

Mitsuha masih diam memandangi Shin. Shin tersenyum hangat, “Silakan. Tidak enak jika sudah dingin, kan, Mitsuha-san?!”

Mitsuha mengangguk dan mulai menyantap pastanya.

“Mitsuha-san kenapa bisa begitu merasa bersalah padaku?” tanya Shin membuka topik pembicaraan.

Mitsuha menelan pastanya, “Tentu saja…. Karena menunggu itu bukan hal yang menyenangkan. Apalagi sampai 3 jam lebih…” pegangannya pada sendok dan garpunya mengerat. Mengingat waktu disaat ia menunggu Sachi di depan Le ciel café dan membuat kenangan yang—sangat—tidak menyenangkan untuk memorinya. Mitsuha tak menatap Shin, pandangannya tertuju pada piringnya.

Shin menarik kedua ujung bibirnya sedikit, “Memang, menunggu bukan hal yang menyenangkan. Tapi orang yang kita tunggu pasti punya alasan kenapa ia sampai membuat kita menunggu, kan?”

DEG

Mitsuha terdiam. Teringat adu mulutnya dengan Sachi saat itu.

“Ada apa Mitsuha-san?” Shin melihat Mitsuha terdiam. Mitsuha masih diam. Haruskah ia menceritakan sakit hati yang dialaminya pada Shin? Tapi Shin hanya orang asing yang baru dikenalnya. Di lain sisi, Mitsuha ingin mengurangi beban pikirannya sekaligus membuktikan rumor yang beredar itu.

“Tidak apa-apa,” jawab Mitsuha kembali menyantap pastanya. Shin hanya tersenyum tipis dan meneguk kembali cokelat hangatnya.

.

.

“Jadi, mau kemana kita setelah ini?” tanya Shin saat melihat Mitsuha menyeka bibirnya menggunakan tissue. Mitsuha mengecek jam di ponselnya, 5.20. Ia merasa masih terlalu awal untuk kembali ke rumah. Tapi ia juga tak punya tujuan untuk menghabiskan waktu.

“Atau Mitsuha-san ingin pulang?” Shin menatap lurus pada Mitsuha.

Anou…” Mitsuha memberanikan diri untuk membuka topik pembicaraan. “Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Kau baru saja melakukannya, Mitsuha-san,” jawab Shin cepat sambil tersenyum.

Mitsuha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Benar juga. Uh, sepertinya dirinya terlalu gugup. Lagipula untuk apa juga dia segugup ini?

“Maaf, silakan tanya saja,” Shin mengulurkan tangannya sekilas, mempersilakan Mitsuha melanjutkan kata-katanya.

“Shin-san merupakan pelayan di Le ciel café itu, kan?”

“Begitulah,” jawab Shin enteng.

“Lalu, apakah rumor itu benar adanya?” tanya Mitsuha takut-takut. Shin hanya diam, tak menjawab Mitsuha selama beberapa saat. Sepertinya pemuda itu ingin Mitsuha melanjutkan kalimatnya.

“Kau jelas tahu, kan? Rumor yang beredar mengenai Le ciel café? Para pelayan di sana akan membantu client-nya untuk menyelesaikan masalahnya.”

“Ah, rumor itu. Ya, aku tahu.” Shin mengangguk. “Lalu?”

“Apakah rumor itu benar adanya?”

Shin tersenyum. Senyum penuh arti. Mitsuha tak tahu pasti maksud di balik senyum pemuda tan di hadapannya. “Bagaimana jika kau buktikan sendiri?”

“Buktikan?”

Shin mengangguk, “Mitsuha-san sedang ada masalah, bukan? Sepertinya masalah saat itu masih berlanjut hingga hari ini, ya?” Mitsuha jelas tahu kata-kata ‘saat itu’ yang dimaksud Shin adalah saat ia mengacaukan keadaan café tempo hari. Mitsuha menunduk, membuat Shin paham jika ucapannya tepat sasaran.

“Nah, berceritalah padaku, Mitsuha-san.”

Lalu Mitsuha menceritakan bagaimana dirinya menunggu Sachi di depan Le ciel café selama kurang lebih 40 menit. Tapi tiba-tiba saja Sachi membatalkan janjinya. Yang setelah diusut, Sachi ada kegiatan mendadak dari klubnya. Sedangkan dirinya sudah mati-matian menolak ajakan ibunya yang mengajaknya ke pesta.

“Aku tak bisa menerima alasannya. Aku sudah berkorban untuknya. Kenapa ia tak bisa melakukan hal yang sama untukku?” Mitsuha berusaha menahan emosinya. Ia tak ingin emosinya lepas kendali dan bisa menyebabkan kekacauan lagi.

“Aku sudah banyak berkorban untuknya. Tidak hanya sekali atau dua kali. Aku pernah mengantarnya mencari pakaian yang hendak dipakainya untuk kencan pertamanya dengan salah satu senpai kami di sekolah. Aku menemaninya terus mencari dari toko ke toko hingga hari gelap. Padahal saat itu aku juga harus menyelesaikan tugas fisika yang belum kuselesaikan,” tambahnya.

Shin masih diam mendengarkan. Tak mengeluarkan sepatah katapun.

“Saat itu hujan deras. Kebetulan aku melihat ramalan cuaca di pagi hari dan memutuskan untuk membawa payung. Tapi dia tidak membawa payung. Aku meminjamkan payungku padanya. Aku mengatakan jika aku ada kegiatan klub dan mungkin akan pulang lebih sore yang kemungkinan hujan sudah berhenti.”

“Mitsuha-san berbohong padanya?” tanya Shin akhirnya.

“Tidak sepenuhnya berbohong. Aku memang ada urusan sedikit. Tapi tidak selama yang ku katakan. Aku mengatakannya agar dia bisa pulang dengan tenang.”

“Berbohong untuk menyenangkan orang lain?”

Mitsuha menunduk, “Aku langsung kembali ke dalam agar dia bisa bergegas pulang karena hujan semakin deras. Tapi yang kulihat dari koridor malah senpai yang mengajaknya itu menawarkan sepayung berdua dengannya.”

“Dan dia menerimanya?” tebak Shin sambil tersenyum tipis. “Mitsuha-san marah karena dia tak menghargai payung yang kau pinjamkan padanya?”

Mitsuha diam. Masih berusaha menahan emosinya. Ditambah air matanya ingin menerobos keluar sekarang.

“Mitsuha-san menanyakan hal itu padanya?”

Mitsuha menggeleng. Untuk apa bertanya padanya? Toh jawabannya sudah pasti. Sachi pasti lebih memilih sepayung berdua dengan Yamamoto-senpai. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, tentu saja.

“Mitsuha-san.”

Mau tak mau Mitsuha mengangkat pandangannya. Memandang lurus pada mata Shin. “Semua orang punya alasan untuk melakukan sesuatu. Untuk melakukan kejahatan sekalipun. Mencuri agar ia dapat bertahan hidup misalnya?”

“Polisi dan pengadilan saja terus menginterogasi tersangka agar dapat mengetahui kebenarannya. Mempertimbangkan banyak hal dan hingga akhirnya jika tak terbukti tak bersalah, tersangka bebas akan tuduhan.”

Mitsuha menggigit bibir bawahnya. Ia gelisah. Ia takut menerima kenyataan kalau-kalau Sachi tak menganggapnya sebagai teman yang baik. Karena itulah Mitsuha sedikit takut menanyakan alasan.

“Bagaimana Mitsuha-san tahu kebenarannya jika tak menanyakannya?”

“Aku sudah menanyakannya…” Mitsuha berusaha membela dirinya.

“Dan mempercayainya?” tambah Shin.

DEG

Mitsuha bungkam. Ia sering kali tak mempercayai alasan yang Sachi berikan padanya.

“Sebagai teman yang baik, tentu kita harus mempercayai teman yang sudah berusaha meminta maaf dan menjelaskan alasannya pada kita, kan?!”

“Bagaimana jika dia berbohong?”

“Kau pasti akan tahu kebenarannya nanti. Kau akan tahu alasan yang sesungguhnya kenapa ia sampai harus berbohong padamu.”

.

.

“Shin-san,” Mitsuha memberanikan diri untuk membuka topik pembicaraan. Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Tentu Shin mengantar Mitsuha, karena gadis itu client-nya. Setelah sedikit pemaksaan pada Mitsuha tentunya.

“Ya?” pemuda itu memasukkan kedua tangannya di saku mantelnya. Sepertinya suhu semakin dingin mengingat hari sudah gelap.

“Aku tak siap untuk tahu kenyataannya jika memang ia berbohong padaku,” Mitsuha menghentikan langkahnya. Membuat Shin juga harus menghentikan langkahnya.

“Kenyataan memang pahit, Mitsuha-san…” Shin memandang langit malam yang masih tertutup awan. “Tapi tak selalu kebenaran yang disembunyikan adalah hal yang pahit.”

“Tapi bagaimana jika itu adalah hal yang pahit?”

“Mitsuha-san sudah berkorban banyak,” Shin tersenyum, menatap Mitsuha yang gundah. “Jika memang itu adalah hal yang pahit, Mitsuha-san pasti akan mengecap rasa manis nanti. Biarkan waktu yang menjawab, Mitsuha-san.”

Mitsuha masih terdiam. Memikirkan ucapan Shin.

“Mitsuha-san hanya perlu percaya padanya. Seperti dia mempercayai Mitsuha-san.”

.

.

Meskipun matanya sedikit sembap karena baru bisa memejamkan mata setelah lewat tengah malam, hari ini Mitsuha datang lebih awal. Kalimat Shin yang menari-nari di kepalanya semalaman sukses memberinya dukungan untuk kembali menghadang Sachi di depan kelas. Hanya saja kali ini untuk memastikan apa yang dipikirkan Sachi tentangnya.

Mitsuha yang kini tengah berdiri di koridor di depan kelasnya, menatap ujung sepatunya dengan gelisah. Ia memikirkan berbagai kemungkinan yang mungkin akan ia hadapi nantinya. Bagaimana kalau Sachi sebenarnya begini? Bagaimana kalau Sachi begitu?

“Mitsuha… chan?”

Mitsuha yang sibuk dengan pikirannya sendiri dan tak memperhatikan sekitar terperanjat kaget ketika tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. Dan lebih syok lagi begitu tau siapa sosok tersebut.

“Aku kira siapa berdiri di depan kelas pagi-pagi begini.”

Sosok yang Mitsuha ingin ajak bicara hari ini malah mendatanginya terlebih dahulu. “Ohayou, Sachi,” sapa Mitsuha dengan canggung sambil sesekali mencuri pandang ke sekitarnya. Masih tak berani menatap mata Sachi secara langsung.

Ohayou…” balas Sachi dengan nada yang sama canggungnya.

Keheningan menyelimuti keduanya selama beberapa saat. Lalu, di saat yang bersamaan, “Anou!

Kembali diselimuti atmosfer canggung, Mitsuha memberanikan diri menyela lebih dahulu, “Ada hal yang harus aku bicarakan dengan Sachi hari ini… apa kau tidak keberatan?”

Sachi terlihat salah tingkah. Ia mengayunkan badannya ke depan dan ke belakang sebelum akhirnya berbicara, “U-un… kebetulan sekali aku juga sama.”

Lalu, setelah Sachi menaruh tasnya di mejanya, keduanya pergi menuju atap sekolah. Memang bukan pilihan tempat yang bagus, terutama di musim dingin seperti sekarang. Tapi di situ merupakan pilihan teraman jika tidak ingin ada yang mendengarkan pembicaraan mereka.

Polisi dan pengadilan saja terus menginterogasi tersangka agar dapat mengetahui kebenarannya.

“Kenapa saat itu kau bisa membatalkan janji kita?” tanya Mitsuha setelah mengumpulkan keberaniannya. Sachi menatap lurus mata Mitsuha, “Aku ada urusan klub yang mendadak. Maaf kalau hal itu sangat menyakitimu, Mitsuha-chan…” raut wajahnya berubah sendu.

“Sebagai teman yang baik, tentu kita harus mempercayai teman yang sudah berusaha meminta maaf dan menjelaskan alasannya pada kita, kan?”

Mitsuha menunduk. Memikirkan kata-kata Shin dan alasan Sachi apakah benar-benar bisa dipercaya.

“Aku mengerti…” Mitsuha berujar pada akhirnya. Sachi tersenyum dan hendak memeluk Mitsuha, namun Mitsuha mengangkat tangannya.

“Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan….”

Sachi hanya diam, memandang Mitsuha dengan tatapan bertanya.

“Saat aku meminjamkan payungku padamu, aku bilang aku ada kegiatan klub hingga sore,” Mitsuha menarik napasnya. “Kenapa saat itu kau tidak menggunakan payungku dan malah memilih sepayung berdua dengan Yamamoto-senpai?”

Raut wajah Sachi terlihat terkejut, “Uhm… Saat itu Yamamoto-senpai minta tolong padaku untuk mengantarnya ke rumah sakit. Kau ingat tidak? Waktu itu dia sedang mengalami patah tulang di lengannya karena kecelakaan.”

Mitsuha berusaha mengingat-ingat. Seingatnya memang Yamamoto sedang mengalami patah tulang yang menyebabkan dia harus libur kegiatan klub basketnya selama beberapa saat.

“Dia minta tolong padaku untuk mengantarnya ke rumah sakit untuk check up. Dia bilang jika kesulitan membawa payungnya dengan tangan kiri karena juga mengalami luka di bagian bahu kirinya. Sehingga ia tak bisa membawa tasnya di pundak.”

“Kenyataan memang pahit. Tapi tak selalu kebenaran yang disembunyikan adalah hal yang pahit.”

Mitsuha terdiam. Seketika ia merasa bersalah karena telah berburuk sangka pada Sachi.

“Aku hanya mengantarnya. Setelah dari rumah sakit, aku pulang ke rumah menggunakan payung pinjamanmu, Mitsuha-chan…” Sachi memandang Sachi dengan pandangan bersalah. “Apa itu yang mengganggumu selama ini? Maaf, seharusnya aku menceritakannya padamu lebih awal…”

“Lalu kenapa kau tak menceritakannya padaku?”

“Uhm… Sebenarnya aku ingin bercerita padamu, tapi aku merasa tidak enak karena kulihat Mitsuha-chan sedang belajar untuk ujian. Sehingga aku tak menceritakannya dulu padamu. Aku bermaksud menceritakannya padamu saat di Le ciel café. Maaf, Mitsuha-chan…”

“Mitsuha-san hanya perlu percaya padanya. Seperti dia mempercayai Mitsuha-san.”

Senyum Mitsuha mengembang kemudian memeluk sahabatnya, dan dibalas oleh Sachi dengan penuh kerinduan. Beberapa lama tak mengobrol dengan Sachi membuat Mitsuha kesepian.

.

.

“Dimana kau membuat kekacauan itu, Mitsuha-chan?” tanya Sachi dengan suara pelan pada Mitsuha yang tengah menikmati secangkir teh Chamomile-nya dengan tenang.

“Di sana, dekat kasir. Meja yang sama dengan pelayan tinggi berkulit tan itu mengantarkan pesanan tamu,” jawab Mitsuha dengan nada menahan tawa.

“Lalu, tamu itu tidak memarahimu?” tanya Sachi. Mitsuha menghela napas frustasi, “Kau bercanda? Aku hampir dimakannya hidup-hidup saat itu, Kanzaki-san.”

Sachi terkikik geli. Melihat tawa Sachi membuat Mitsuha ikut tertawa. Rasanya sudah lama Mitsuha tak tertawa bersama Sachi.

Mitsuha mengangkat pandangannya walau masih tertawa bersama Sachi. Pandangannya bertemu dengan Shin yang hendak membersihkan meja di sebelah kanannya. Shin tersenyum tipis melihat Mitsuha dan Sachi. Mitsuha membalas senyum Shin dan mengatakan, “Arigatou,” hanya melalui gerakan bibirnya agar tak diketahui oleh Sachi. Shin hanya tersenyum sedikit lebih lebar sebagai jawabannya.

 

To be continue

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Le ciel e Youkoso (chap 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s