[Multichapter] Please be MINE Again #1

PLEASE BE MINE AGAIN Part 1

by : Matsuyama Retha

Genre : Romance, (Hard) Violence, (Hard) Fluff

Rating : NC-17 *masih aman kok*

Cast : Hirano Sho (Mr. KING), Matsumoto Reina (OC), Nakamura Kaito (Travis Japan), Kawago Hina (Nogizaka46), Koichi Goseki (A.B.C-Z) as Hirano Goseki, Kikuchi Moa (BABYMETAL) as Hirano Moa, Totsuka Shota (A.B.C-Z) as Matsumoto Shota, Matsumoto Kota (Johnny’s Jr.)

16229957_1232232140205688_1652411126_o_%e5%89%af%e6%9c%ac

.. DOUZO ..

BBRRAAKK ..

 

“Pa, sudah aku katakan kalau aku tidak ingin dijodohkan dengan wanita brengsek itu!!” Sebuah keributan kini telah menjelma ke seluruh penjuru rumah kediaman Hirano. Sang anak sulung Hirano ini, Hirano Sho, lagi-lagi dia-lah yang membuat keributan.

“Onii-chan, kenapa sih Onii-chan tidak menurut apa kata Papa? Lagipula calon nya juga cantik kok dan juga berkepribadian baik.” Gerutu sang bungsu Hirano ini, Hirano Moa, yang sangat setuju dengan pernyataan yang diberikan oleh tuan Hirano yang merupakan ayah dari kedua kakak beradik ini.

“Adikmu saja setuju dengan Papa. Masa kamu yang akan Papa jodohkan tidak setuju?” mulai-lah sang Ayah dari kedua bersaudara ini, Hirano Goseki, mengajukan pernyataannya itu.

“Tidak! Aku tidak setuju! Bagaimana bisa Papa menjodohkanku dengan gadis yang aku benci?! Kenapa harus dia, Pa? Lagipula gadis di dunia ini tidak cuma dia saja! Aku sudah besar dan aku sudah tahu bagaimana memilih gadis yang baik! Pokoknya aku tidak akan mau dijodohkan dengan gadis itu! Titik!!”

 

Lagi-lagi, anak sulung Hirano ini tetap bersikeras untuk membantah Ayahnya itu. Dia-pun akhirnya meninggalkan Ayah dan adik perempuannya itu.

 

“Aku tidak akan setuju kalau Sho-nii bersikeras akan menikahi Hina brengsek itu!” Kini, Moa mulai menggerutu menyebut nama Hina dan itu sukses membuat sang Ayah bingung akan maksud dari ucapan putrinya ini.

“Apa maksudmu, sayang?” tanya Goseki pada putri kesayangannya itu dan membelai rambut hitam yang terurai panjang itu.

“Namanya Hina Kawago, Pa. Jujur Pa, rasanya aku ingin muntah lihat orang itu! Berlagak paling cantik sendiri, terus sombong pula! Aduh, serius kalau Sho-nii sungguh-sungguh akan menikahi Hina itu nantinya aku bakal pusing jadinya, Pa!”

 

Mulailah Moa mengeluarkan semua omelan yang selalu diterima oleh Goseki dengan sabar. Dirinya tahu bahwa putri kesayangannya ini sangat anti-orang yang berperilaku buruk, bahkan mungkin sangat buruk. Dia bangga memiliki putri seperti Moa itu.

 

“Tenanglah, Sayang. Papa akan berusaha untuk bisa membujuk kakakmu itu agar bisa menerima gadis pilihan Papa.” Ujar Goseki yang penuh dengan tekadnya itu.

“Arigatou Papa.” Senang. Ya rasa itu sedang dialami oleh Moa. Dia senang kalau Ayahnya akan mengusahakan agar Sho dapat menerima gadis yang telah dipilih oleh ayahnya itu.

“Hmm. Kalau begitu sekarang kamu kembali tidur ya.” Jawaban pun secara langsung diterima oleh Goseki. Moa menganggukkan kepalanya dengan semangat dan segera melesat pergi menuju kamarnya itu.

 

Dukung Papa ya Moa supaya Papa bisa meyakinkan kakakmu tentang perjodohan ini.

 

Goseki pun mulai merasakan gelisah. Ya walau sebagian dia merasa sedikit tenang karena putri yang merupakan anak bungsunya itu sangat menyetujui rencana perjodohan ini. Lalu ia pun mulai berjalan menuju ke kamarnya.

 

@ Hirano Sho Room ..

 

Kau … namamu tidak akan pernah aku lupakan! Kau tahu kenapa aku tidak bisa melupakan namamu sedikit pun di pikiranku? Ya, karena kau lah yang menyebabkan Mamaku meninggal! Jika kau tidak nampak di hadapanku saat itu, maka aku tidak akan kehilangan Mamaku!!

 

Putra sulung Hirano ini mulai meremas sebuah foto saat dirinya masih kecil. Namun tidak hanya dirinya saja yang ada difoto itu. Ada foto seorang gadis kecil yang di peluknya dan juga foto sang Ibu dari anak sulung Hirano ini.

 

Manik matanya yang hitam kini telah menatap tajam pada gadis kecil itu. Rasa amarahnya mulai meningkat tanpa disadari. Gadis kecil itu mengingatkan dirinya akan kejadian tak terduga yang menimpa Ibunya 15 tahun yang lalu. Saat itu Hirano Sho berumur 5 tahun dan gadis kecil yang ada di fotonya itu sedang berumur 4 tahun. Usia mereka hanya berbeda 1 tahun. Pada saat Ibu Sho meninggal, dia pun perlahan mulai membenci gadis kecil yang merupakan teman dekatnya dahulu.

 

Flashback 15 years ago ..

 

Canda tawa maupun kebahagiaan ada diantara ketiga orang ini. Seorang wanita yang usianya sekitar 26 tahun dan kedua anak kecil masing-masing berusia 5 dan 4 tahun itu.

 

Mereka bermain bersama-sama disebuah taman yang tidak sepi pengunjung itu. Anak gadis yang berusia 4 tahun itu mulai melemparkan sebuah bola kearah seorang pemuda yang usianya 5 tahun itu. Teriakan gembira pun mulai terdengar. Senyuman dari wanita paruh baya pun mulai mengembang. Melihat putranya yang bermain dengan senang dengan anak gadis yang merupakan putri bungsu dari temannya itu. Namanya Matsumoto Reina. Anak itulah yang membuat wanita paruh baya ini sangat menginginkan putri itu menjadi menantunya saat mereka besar nanti.

 

..

 

        “Ibu! Lempar bolanya kesini!” seru anak laki-laki dengan semangatnya sehingga membuat sang Ibu tersenyum kearah anak itu. Bola itu pun pada akhirnya dilemparkan dalam tempo pelan tepat kearah anak laki-laki itu.

        “Sho-kun, lempar bolanya kesini!” seru anak perempuan yang jaraknya tidak jauh dari anak laki-laki yang dipanggil ‘Sho’ itu. Lengkapnya Hirano Sho.

        “Baiklah, Rei-chan. Tangkap ini!” mulai-lah bola yang lumayan besar bagi anak seusia Sho maupun Reina terlemparkan. Lalu di tangkapnya bola itu.

 

Begitu seterusnya …

 

 

Namun sebuah tragedi yang tidak diinginkan pun terjadi …

 

        “Bibi Serika, tangkap bola ini!!” seru gadis kecil sambil melempar bola itu dengan sekuat tenaga. Namun bola itu tidak berhasil di tangkap oleh Serika karena bola itu melambung tinggi akibat pelemparan dari gadis kecil yang cukup kuat itu.

 

Serika pun pada akhirnya berlari ke arah bola yang akan turun dari lambungan yang tinggi itu dan terhenti tepat ditengah jalanan. Setelah mengambil bola itu, Serika tidak menyadari bahwa dari arah barat sana ada sebuah mobil sedan berwarna abu-abu itu sedang melaju cepat dan tepat kearah Serika yang sedang mengambil bola itu.

 

Sho pun akhirnya menyadari akan hal itu, “Mama, awas!!” serunya dari tepi jalanan.

 

        “Bibi Serika, awas!!” gadis kecil bernama Reina itu juga mau kalah memperingati Serika. Namun alhasil Serika tidak mendengar teriakan dari kedua anak itu. Dan ..

 

BIMPT .. BIMPT ..!!

 

CCIIIITTTT …

 

Karena tidak menghiraukan peringatan dari kedua anak kecil tadi, Serika pun akhirnya kena tulahnya. Dirinya telah ditabrak oleh mobil sedan yang lajunya cepat itu. Darah segar pun mulai bercucuran di puncak kepala Serika. Nafas nya memburu dengan cepat. Mungkin karena dirinya tidak bisa menahan rasa sakit yang ada dikepalanya dan seluruh organ tubuhnya yang terasa sakit itu.

 

        “Mama!!!” – “Bibi!!!” seru Sho dan Reina bersama-sama dan segera menghampiri Serika yang tubuhnya melemas ditengah jalanan itu. Banyak orang pun mengerumuni Serika dan panik kesana-kemari untuk mencari bantuan.

        “MAMA!!” – “BIBI!! Daijoubu desuka?” seru Sho dan Reina lagi. Mereka tampak ketakutan sekali.

        “Apa kalian berdua anaknya?” – “Akulah anaknya!!” ketus Sho kecil.

        “Sabarlah, Nak. Ambulance-nya sebentar lagi datang.” Ucap salah satu kerumunan orang itu dengan lemah lembut.

        “Bisa cepat sedikit, Paman? Mama-ku sudah banyak sekali mengeluarkan darah dikepalanya!! Hiks .. hiks ..” Sho mulai terisak. Dia merasa ketakutan sekali. Tangannya mulai bergemetaran.

        “Sho-kun. Tenanglah. Aku juga .. hiks .. hiks ..” Reina pun juga tak kalah ketakutannya dengan Sho. Dia memeluk Sho dan mencoba memberinya ketenangan, walau dirinya sendiri juga merasa tidak tenang. Namun Sho menepisnya.

        “Jangan peluk aku!!” – “Hiks .. hiks .. mama!! Bertahanlah!!” Sho kembali mengguncang-guncangkan tubuh lemas Serika. Tidak ada respon apapun dari Serika. Tubuhnya sangat lemas sehingga tidak bisa merespon ucapan anaknya itu.

        “Nak, kau tahu nomor telepon rumahmu? Jika iya, akan kupinjamkan keitaiku agar kau bisa menghubungi keluargamu yang lainnya.” Ucap wanita yang usianya sekitar 30 tahun itu dan tersenyum kearah anak itu.

        “Ne, arigato gozaimasu.” Ucap Sho sesopan mungkin dan menerima bantuan dari wanita itu.

 

.

 

        “Sho-kun!! bagaimana keadaan Mama, sayang?” seorang pria yang usianya sekitar 28 tahun itu menghampiri Sho yang sedari tadi duduk terdiam dikursi depan ruang UGD. Tak lain adalah Papa dari Sho itu. ~Hirano Goseki

        “Papa. Mama tadi ditabrak oleh mobil yang jalannya cepat sekali. Dan itu gara-gara dia!!” ungkap Sho dengan kesal sambil menunjuk kearah Reina yang sedari tadi hanya berdiri terdiam di sebelah ruang UGD. Yang ditunjuk hanya terdiam menunduk

        “Kamu gak boleh bilang seperti itu, sayang. Lagipula ..” ucapan Goseki sempat terhenti karena pintu dari ruang UGD itu telah dibuka. Seorang dokter yang mengenakan seragam operasinya itu telah keluar dari ruang operasinya dan melepas masker berwarna biru telur yang dipakainya.

        “Sensei, bagaimana keadaan istri saya?” tanya Goseki dengan penuh kekhawatiran.

        “Ne, Sensei. Bagaimana keadaan Mama? Apa Mama bisa sembuh? Hiks .. hiks ..” Sho pun juga tidak mau kalah bertanya pada dokter itu.

        “Iya, Sensei. Bibi Serika bisa sembuh?” Reina pada akhirnya juga ikut bertanya pada sang dokter.

        “Hontou ni gomenasai. Ibu Hirano Serika tidak bisa diselamatkan. Darah yang keluar dari kepalanya itu sangatlah banyak, sehingga kami tidak bisa untuk menghentikannya dan hal itu karena dia terkena benturan keras sampai berdarah seperti itu. Dia, telah menghembuskan nafas terakhirnya.” Ucap sang Dokter dengan nada yang terkesan menyesal itu.

        “Ah, dan ini ada surat untuk anda. Sebelum Nyonya Hirano menghembuskan nafas terakhirnya, dia menitipkan surat ini untuk anda. Douzo.” Lanjutnya dan kemudian memberi sebuah surat kepada Goseki.

        “Hai.” Lalu diterimanya surat itu oleh Goseki dan menyimpannya di saku celana.

        “Papa, apa maksud perkataan Sensei? .. hiks hiks .. pa!! Apa maksudnya!!” Sho mengguncang-guncangkan baju Goseki. Dia tidak mengerti apa maksud dari perkataan Dokter itu.

 

Lalu Goseki menunduk sehingga dirinya bisa sejajar dengan tinggi Sho.

 

        “Mama .. telah tiada untuk selamanya, Sayang.” Ucapnya kemudian sehingga membuat Sho tercengang. Terlebih lagi Reina yang tadi hanya terdiam.

        “Nani? Berarti Mama sudah .. sudah .. gak ada lagi?” Goseki hanya mengangguk kepalanya. Bulir-bulir air mata Sho akhirnya mulai berjatuhan dengan tempo cepat. Lalu dia berhamburan memeluk Goseki dengan erat dan menangis dipelukannya.

        “Iya sayang. Tapi kau harus tabah. Biarkan mama pergi dengan tenang disurga sana. Pasti suatu saat kita akan bersatu kembali disana.” Ucap Goseki yang sedang berusaha untuk menenangkan anaknya itu.

 

Lalu Sho melepaskan pelukannya dengan cepat dan berjalan ke arah Reina berdiri.

 

BBRRUUKK ..

 

        “Ittai!!” rintih Reina kesakitan akibat dirinya didorong oleh Sho.

        “Gara-gara kamu, Mamaku jadi seperti ini!! kamu jahat!!”

        “Aaahhh!! Ittaaiiiii!!! Sho-kun, gomenasai. Aku .. aku .. aaa ittaaiii!!”

 

Sho terus saja mencengkeram rambut panjang Reina dengan kuat sampai-sampai membuat Reina merintih kesakitan. Goseki pun langsung melepas cengkeraman anaknya itu dan membawanya menjauh dari Reina. Sebaliknya Dokter itu juga membawa Reina menjauh dar Sho agar dirinya tidak disakiti lebih lagi.

 

        “Sho-kun, sudahlah! Ini bukan salahnya. Kau jangan mencari masalah disini, Nak.” Ucap Goseki yang menasehati itu.

        “Dengar ya, Matsumoto Reina!! Suatu saat aku akan membalaskan dendamku padamu yang lebih sakit lagi dibandingkan saat ini! Camkan itu baik-baik!”

 

DEG … Goseki  terkejut bukan main. Dia tidak sadar jika anak sulungnya itu akan berkata sedemikian kejamnya pada Reina, padahal dia masih kecil. Dapat dari mana perkataan itu? Pikir Goseki kemudian yang mungkin tidak akan ada jawabannya.

 

        “Pa, ayo kita pulang!” Goseki pun hanya menuruti perkataan anak sulungnya dan segera pulang.

 

        “Ne, gadis kecil. Daijoubu desuka?” tanya Dokter itu pada Reina yang sejak tadi hanya diam dan menahan tangisannya itu.

        “Da .. daijoubu .. Sen .. sei ..” jawab Reina dengan terbata-bata tanpa memandangi Dokter yang sedang berbicara padanya itu.

        “Mari Sensei antarkan pulang.” Ujar Dokter itu dengan sepenuh hati dan mengulaskan sebuah senyuman agar Reina merasa lebih tenang.

 

Flashback off

 

Aku harus menemuimu sekarang, Matsumoto Reina!! Kau tidak akan bisa menghindar dariku. Setelah Mamaku meninggal, kau menghilang begitu saja dan tidak tampak. Kau ingin lari dari masalah? Tcih .. tidak akan bisa. Kau masih ada urusan denganku!!

 

Sho mencengkeram kuat sebuah foto yang sedari tadi dia pegang. Rasa amarahnya itu sudah berada ditangannya itu. Dia meremas foto itu dan membuangnya ke luar jendela.

 

Tcih!! Kau harus kusiksa sampai mati!!

 

TOK TOK TOK …

 

“Siapa?” jawab Sho dengan nada cuek.

M .. Mat .. Matsumoto .. Reina .. desu.” Ucap seorang gadis dibalik pintu kamar Sho.

 

Nani? Reina? Kenapa dia bisa disini? Malam-malam begini?

 

Lalu tanpa berpikir panjang, Sho segera berlari menuju ke arah pintu kamarnya dan membuka pintu itu.

 

Mulailah sudah amarah Sho dan keinginannya untuk membalas dendam pada gadis yang selama ini diincarnya. Tak lain adalah Matsumoto Reina

 

“Kau!!”

“Sumimasen. Aku kesini ..” – “aaahhh iitaiii!!”

 

Tanpa banyak menunggu, Sho segera menarik paksa tangan gadis itu masuk kedalam kamarnya. Didorongnya gadis itu masuk kedalam dan Sho langsung menutup pintu itu dan menguncinya.

 

“Sho-kun .. tolong .. jangan balas dendam padaku. Aku .. aku ..”

“Tidak! Kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau perbuat 15 tahun yang lalu!”

 

Mulailah Sho mencengkeram kedua lengan Reina itu dan mendorongnya hingga tubuhnya bersentuhan dengan tembok. Dia telah mengunci tubuh Reina supaya dirinya tidak bisa bergerak sekalipun. Sho pun semakin merapatkan dirinya agar bisa bersentuhan dengan Reina. Hal itu membuat Reina menjadi ketakutan dan dirinya tak bisa melawan sekarang.

 

“Jika kau tidak menuruti apa perkatakanku, bersiaplah jika suatu saat aku menyiksamu sampai mati!” – “Dan juga, aku harus bisa mendapatkan hal yang berharga darimu. Pastinya kau tahu apa yang aku maksudkan. Kouhai-chan!!” Sho mengulaskan senyum liciknya dan sukseslah membuat Reina hanya linglung tak mengerti.

“Apa maksudmu, Sho-kun?” rasa penasaran pun kini ada didalam Reina. Tidak hanya itu saja, di sisi lain dia juga ketakutan jika Sho akan melakukan tindakan yang tidak-tidak pada dirinya.

 

Sho masih memandang manik mata hitam Reina, dengan tujuan untuk memancingnya agar terus menatapnya. Tanpa Reina sadari, tangan Sho yang sejak tadi tidak terpakai perlahan membuka bagian bawah rok terusan sepaha yang dikenakan oleh Reina. Sho pun berpikir sejenak, supaya Reina tidak terkejut mendadak dia terus merapatkan tubuhnya sehingga Reina merasakan hembusan nafas Sho.

 

Setelah itu, tangan Sho perlahan naik ke dalam rok terusan yang dikenakan oleh Reina. Sampailah pada sasarannya itu. Daerah pribadinya yang paling berharga oleh semua wanita. Sho membelai daerah itu dengan lembut, walau daerah itu masih terbalut celana dalam yang dikenakan Reina.

 

“Ah, Sho-kun chotto!!” Reina pun akhirnya menyadari apa yang telah dilakukan oleh Sho tadi. Dengan cepat ia melepaskan tangan Sho yang sedang asyiknya membelai lembut daerah itu. Namun Sho tetap berkutat untuk terus membelai lembut daerah itu.

“Sho!! Lepaskan!!” – “Jika kau tidak mengikuti apa yang aku lakukan, bersiap-siaplah untuk penyiksaan yang akan kau hadapi!!” mata Reina membulat sempurna setelah apa yang dia dengar dari perkataan Sho yang menurutnya benar-benar mengerikan. Nafasnya memburu dan jantungnya pun berdegup kencang. Akankah hal yang sangat berharga itu diperebutkan oleh Sho?

 

“Sho-kun, aku mohon. Jangan lakukan ini. ki .. kita belum menikah.”

“Tidak penting! Dan aku juga harus bisa mengambil ciuman pertamamu!” Jawab Sho dan pada akhirnya dia langsung mengecup bibir tipis Reina. Namun tak ada balasan dari Reina. Tanpa ada kata menyerah, Sho pun pada akhirnya mulai mencari cara agar dirinya bisa terangsang.

“Aaahhhh!! Sho-kun!!!” sasaran Sho selanjutnya berhasil. Dalam keadaan masih mencium Reina, tangannya itu kini beralih pada dada Reina yang mulai mengeras itu. Diremasnya dengan lembut agar Reina terangsang dan bisa membalas ciuman dari Sho.

 

Rasanya Reina ingin menolak. Namun apa daya, tenaganya tidak cukup kuat untuk menghindari Sho ataupun mendorongnya jauh dari dirinya.

 

“Jangan membantah! Terus saja ikuti apa yang aku lakukan!” bisik Sho ditengah ciumannya itu. Kini ciuman Sho beralih ke leher Reina dan memberi tanda di lehernya itu.

“Dengan begini, kau akan menjadi milikku. Namun jangan salah paham dulu. Penyiksaan yang akan kuberikan padamu tetap berlaku!” setelah memberi tanda dileher Reina, Sho membawa Reina ke atas kasurnya dan menidurkan Reina disana.

 

Reina tidak bisa menolak lagi. Jika dia tidak menuruti setiap perlakuan Sho terhadapnya, itu akan membuatnya sangat marah nantinya.

 

“Suatu saat nanti. Aku akan mengambil hal yang sangat berharga darimu. Namun untuk selanjutnya aku tidak akan pernah mau menikah denganmu!! Dan juga aku tidak akan bertanggung jawab atas perbuatanku itu!” ulasan senyum licik pun telah dilakukan oleh Sho. Dia pun menindih tubuh Reina diatasnya.

“Sho-kun, aku mohon jangan kau lakukan ini terhadapku. Aku .. aku .. benar-benar tidak sengaja akan hal itu dan juga aku tidak ..”

“Tidak bermaksud untuk mencelakakan Mamaku, hah?!”

 

PLAKK. Sebuah tamparan telah sukses mendarat di pipi Reina.

 

“Ingat ya! Aku tidak peduli semua alasanmu itu! Yang jelas kaulah penyebab Mamaku meninggal! Titik!!” amarah Sho kini mulai memuncak. Dia pun bangkit dan berjalan menuju kearah pintu kamarnya.

 

CEKLEK ..

 

“Sebelum kau keluar, ada hal yang ingin aku katakan.” Sho menjeda ucapannya itu dan menghembuskan nafasnya berat.

“Mulai besok pagi Papaku akan ke luar negeri untuk melakukan sebuah proyek selama 2 tahun. Aku rasa kau harus menginap dirumahku selama itu.”

“Apa? 2 tahun?” tanya Reina dengan gugup. Takut membuat amarah Sho semakin menjadi.

“Ya. Selama itu kau harus menuruti apa perkataanku dan apa mauku!” ucap Sho dengan sedikit cuek. Layaknya ia sedang berkata pada seorang pembantu. Reina hanya mengangguk pertanda setuju. Dia juga tidak ingin membuat amarah Sho semakin memuncak, jadi dirinya hanya bisa pasrah.

“Satu lagi, Papa-ku berangkat jam 3 pagi dari rumah, jadi kau harus sudah ada disini sebelum aku bangun. Ah satu lagi! Setelah aku bangun, aku ingin sarapanku, persiapan pakaian untuk kuliah sudah kau persiapkan. Mengerti?!”

 

Jelas Sho secara panjang lebar. Seperti majikan yang menyuruh pembantunya dengan seenaknya. Namun hal itu hanya ditanggapi oleh Reina dengan sekali anggukan. Tanpa berpikir panjang, Reina keluar dari kamar itu. Wajahnya masih tampak lesu seperti biasanya.

 

Sho-kun, sebegitu hinanya diriku di mata-mu, sehingga kau anggap aku sebagai pembantumu?

 

To be Continue~

 

Comments are ❤ :*

Advertisements

6 thoughts on “[Multichapter] Please be MINE Again #1

      1. Matsuyama Retha Post author

        Hahaha okay stay tune aja ya dan doakan smg ide ny ngalir trs soalny udh lama mampet di otak 😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s