[Multichapter] MIRROR (#1)

MIRROR
By: kyomochii
Genre: Drama, Family, Mystery, Romance, Supranatural
Rating: PG-13
Cast: Kyomoto Taiga, Kouchi Yugo, Matsumura Hokuto, Jesse, Tanaka Juri, Morimoto Shintaro (SixTONES); Chinen Yuri, Nakajima Yuto (Hey! Say! JUMP); Yua, Lewis Ruika, Kimura Aika (OC)
Disclaimer: Author don’t have anything. Most of cast are under Johnny’s Talent Agency.
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

mirror

Yua memperhatikan Taiga yang sedang berjalan ke arahnya, terlihat begitu gelisah.

“Kenapa? Habisnya banyak, kan? Sudah kubilang patungan saja. Meski masih SMA, tapi aku punya cukup uang untuk membayar jajanku sendiri. Kamu tidak perlu memaksakannya.”

“Tidak bisa begitu!” potong Taiga segera. “Berapa kali harus kubilang, kalau kamu itu sudah menjadi kewajibanku? Apapun kebutuhanmu, semua juga menjadi kebutuhanku. Karena kamu calon istriku.”

“Kyomoto-san… jangan mulai lagi deh! Kita pacar saja bukan, bagaimana bisa aku menjadi calon istrimu? Lagipula aku masih SMA. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan kedepannya. Aku tidak mau cepat-cepat menikah.”

“Panggil aku Taiga, Yua! Berapa kali juga, aku harus mengingatkanmu, kalau kamu akan menjadi Kyomoto…”

“Taiga, sudahlah. Aku tahu berapa kali pun aku menolak, kamu tidak akan mendengarkannya.” sergah Yua lelah berdebat dengan Taiga.

“Aku tidak akan memaksamu untuk segera menikah. Aku akan menunggumu sampai kapan pun juga. Karena menurut ramalan, kita sudah ditakdirkan untuk bersama selamanya. Jadi, kamu masih bisa mewujudkan semua mimpi-mimpimu dan aku akan selalu menjadi orang yang pertama mendukungmu.” jelas Taiga mantap, untuk kesekian kalinya. Yua hanya bisa memandang Taiga pasrah.

Untung saja kamu cakep. Kalau tidak, mana mungkin aku mau percaya dengan ramalan bodohmu itu, Taiga! Yua hanya bisa mengomel dalam hati.

Kehadiran Taiga dalam kehidupan Yua, sebenarnya begitu tiba-tiba. Kurang lebih, semua bermula dari 6 bulan lalu, saat Yua tidak sengaja menemukan Taiga yang tergeletak lemah tidak jauh dari rumahnya sepulang sekolah.

Tapi berapa kalipun Yua dan keluarganya menanyakan asal Taiga, pemuda itu tetap diam seribu bahasa, bersikukuh menyembunyikan identitasnya. Karena merasa curiga, papa Yua hendak melaporkannya ke polisi sebelum Taiga mulai berkata kalau dia datang karena sebuah ramalan yang mengatakan kalau dia adalah “masa depan” Yua. Dia datang, hanya untuk Yua.

Lalu semuanya terjadi begitu saja. Setelah Taiga berbicara dengan orang tua Yua, entah apa, karena Yua tidak diijinkan berada di sana, orang tuanya mengijinkan Taiga untuk tinggal bersama mereka. Dan sejak hari itu pula, Yua hidup sebagai calon istri Taiga.

“Ya sudah. Sekarang kita mau ke mana?” tanya Yua, mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka.

“Ada tempat wisata yang baru dibuka di dekat tempatku bekerja. Konsepnya seperti kota tua. Kupikir kamu akan tertarik kalau aku mengajakmu ke sana. Bagaimana?”

“Kota tua? Apa terlihat seperti bangunan di buku-buku cerita? Suasana Italia? Ah bukan, Roma? Perancis? Ah apalah itu. Apa akan terlihat seperti itu, Taiga?” tanya Yua bersemangat. Taiga tersenyum melihatnya. Begitu mudah merubah suasana hati Yua.

“Mungkin seperti itu. Aku kan juga belum pernah ke sana. Bagaimana, kamu mau?”

“Mau mau mau mau!”

Tanpa buang waktu, Yua menarik Taiga dan langsung masuk ke dalam sebuah taksi yang penumpangnya baru turun di depan mereka.

“Tenang saja. Uang taksi aku yang bayar. Anggap saja ganti uang makan barusan. Lagipula, kamu masih harus bayar uang sewa kamar ke papa.” kata Yua sedikit memaksa saat melihat wajah protes Taiga, terlihat jelas mengkhawatirkan biaya taksi mereka. Tanpa protes, Taiga hanya mengangguk saja. Mau protes pun, taksi mereka sudah jalan ke tempat tujuan yang dijelaskan Yua kepada sopirnya tanpa menunggu persetujuan Taiga.

“Wah… rame juga ya?! Pantas saja, hari libur sih. Taiga, ayo kita ke bangunan sebelah sana! Itu mirip gereja yang pernah aku lihat di manga favoritku!” Yua menarik tangan Taiga untuk mengikutinya dengan penuh semangat.

“Kamu tahu Taiga? Di manga yang aku baca, biasanya mereka melakukan upacara kedewasaan di gereja. Tapi itu untuk golongan bangsawan saja sih. Entah kalau rakyat biasa, aku belum pernah mengetahuinya.”

“Aku tahu, karena aku sudah pernah melakukannya.”

“Hmm? Untuk pementasan drama ya? Asyik ya kalau jadi aktor drama. Pasti pernah memerankan siapa saja dari jaman kapan saja. Jadi penasaran dengan ceritanya.”

“Kenapa? Yua mau juga jadi artis drama? Kalau mau, aku bisa tanya ke produser tempatku bekerja. Siapa tahu dia membutuhkan peran yang cocok dimainkan gadis SMA.”

“Kamu bercanda? Aku main drama? Yang ada, aku di suruh peran bocah!” Yua tertawa. “Aku lebih tertarik menulis cerita daripada memainkan drama. Suatu hari nanti, kalau aku berhasil menuliskan sebuah kisah yang dikenal dunia, aku mau kamu yang memainkan perannya, Taiga.”

“Tentu saja!” Taiga menepuk pelan kepala Yua, dengan tulus menyemangatinya. Apapun impian Yua, Taiga sudah berjanji akan mendukungnya.

Lalu keduanya berjalan berkeliling kota tua, suasananya persis di manga yang Yua suka. Bahkan reruntuhan di beberapa bagian, membuat Yua tidak asing dengan pemandangannya. Tiba-tiba saja Yua menarik Taiga memasuki sebuah area yang mirip seperti pemakaman, di antara reruntuhan di dekat mereka. Ada sebuah batu nisan, hanya sebuah, terlihat di sana. Saat keduanya memasuki daerah itu, suasana aneh menyelimuti keduanya.

“Yua, sebaiknya kita kembali saja. Tidak ada orang yang ke sini juga. Perasaanku jadi tidak enak tiba-tiba.” Taiga berkali-kali mengecek ke segala arah. Seolah tiba-tiba mereka hanya berada di sana berdua saja. Suara hiruk pikuk yang tadi menggema, hilang seketika.

“Tenanglah, Taiga. Itu cuma perasaanmu saja. Tunggu sebentar, aku cuma mau mengecek sesuatu.” Yua tidak mendengarkan Taiga dan berjalan semakin ke dalam, mendekati batu nisan lalu mengambil sesuatu dari sana.

“Itu apa?” tanya Taiga curiga saat Yua sudah berjalan kembali ke arahnya.

“Cermin?” Yua menunjukkan sebuah cermin yang sekarang sudah dipegangnya. “Cuma sebelah ya? Sepertinya ada pasangannya. Entah kenapa, aku merasa familiar saat melihatnya. Menurutmu, apa aku boleh menyimpannya?”

“Ah, itu. Mungkin benda itu memang ditakdirkan untuk menjadi milikmu. Tidak banyak, orang yang menyadari keberadaannya. Mungkin benda itu yang memanggilmu untuk menjadi pemiliknya. Mungkin, memang seharusnya kamu yang menyimpannya.”

Salah. Kesalahan aku bertanya ke Taiga. Dia kan memang selalu percaya tidak ada yang namanya kebetulan. Sudah pasti dia akan mengatakan kalau ini sudah takdirku untuk memiliki cermin itu. Rutuk Yua dalam hati.

Tapi bodo lah dengan kepercayaan Taiga! Lagipula aku memang ingin memilikinya. Yua mengangguk meyetujui pendapat Taiga. Lalu keduanya kembali ke jalan utama. Tidak terjadi apa-apa.

Setelah puas berkeliling kota lama dan mengabadikan beberapa foto, keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah, karena sudah malam juga. Setibanya di rumah, aneh, Yua tidak keberatan saat Taiga menciumnya. Ciuman di ujung kepala tentunya. Padahal biasanya, Yua akan langsung marah-marah setiap kali Taiga melakukannya.

“Kamu mau mandi dulu, apa aku dulu?” tanya Taiga saat keduanya hendak berpisah menuju kamar masing-masing.

“Nee, Taiga. Kamu bilang, aku calon istrimu kan? Bagaimana kalau kita mandi bersama saja? Mumpung papa dan mama tidak ada di rumah.” Taiga tampak terkejut mendengar tawaran Yua, tidak biasanya. Selama ini, gadis itu selalu menghindar, jangankan mandi bersama, Taiga memegang tangannya saja, Yua akan sangat marah-marah.

“Jangan bercanda, Yua. Aku sudah bilang, aku akan menunggumu sampai kapan pun juga. Kamu tidak perlu terpaksa melakukannya.” jawab Taiga berusaha menenangkan dirinya. Bohong kalau dia tidak menginginkannya, sangat ingin melakukannya malah. Tapi perubahan sikap Yua yang terlalu tiba-tiba, membuatnya was was juga.

“Aku tidak bercanda. Entah kenapa, aku sekarang menjadi yakin kalau kamu memang jodohku.”

“Hah?” Taiga tidak paham dengan yang dikatakan Yua.

“Aku juga tidak tahu. Tapi aku tidak mau lagi membuatmu menunggu. Kamu sudah bersabar denganku selama ini yang menolakmu. Anggap saja, ini ucapan terima kasih dariku karena kamu sudah mau menemaniku hari ini.”

“Yua…” ragu-ragu, Taiga mendekatkan kepalanya ke arah Yua, memiringkannya, dan sedetik kemudian, bibir lembut Taiga menyentuh bibir mungil Yua. Taiga menarik kepalanya, menunggu reaksi Yua. Tidak ada reaksi apa-apa. Sekali lagi, Taiga menempelkan bibirnya, mengecup lembut bibir Yua, tidak ingin memaksa. Masih tidak ada reaksi juga. Taiga mulai memainkan lidahnya, menyisip pelan ujung bibir Yua, menunggu dengan sabar Yua membalas ciumannya.

Yua membuka sedikit mulutnya, memberi akses pada lidah Taiga untuk menginvasi ke dalam rongga mulutnya. Saat Taiga sedang asyik memainkan lidahnya, tanpa sadar Yua dengan jahil memegang daerah pribadinya.

“Yua, apa yang kamu lakukan?!” Mendengar Taiga salah tingkah, Yua malah tertawa.

“Sebegitunya kamu ingin melakukannya? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana selama ini kamu menahannya setiap kali berdekatan denganku.” Yua masih tertawa. Taiga hanya bisa menunduk malu saat mendengar kata-kata itu dari mulut Yua.

Bukan seperti itu. Taiga belum pernah menginginkan Yua sebesar itu. Tapi saat bibirnya menyentuh bibir Yua untuk pertama kalinya, Taiga tidak bisa membendung hasratnya.

“Bagaimana? Mau mandi bersama?” tawar Yua lagi, setengah menggoda.

“Tidak. Mandilah dulu. Aku akan menyiapkan makan malam untuk kita.” tolak Taiga mendorong Yua dan berbalik arah hendak menuju dapur tepat sebelum tangan Yua menariknya. Kali ini bibir Yua yang berinisiatif menempel di bibirnya. Kuluman lembut, membuat Taiga ketagihan untuk membalasnya.

“Sudahlah, mandi dulu sana!” Taiga dengan enggan melepas ciumannya. Semakin lama dia mencium Yua, semakin besar gejolak hasratnya untuk melakukan lebih terhadap Yua.

Yua hanya tertawa melihat reaksi Taiga, dan berlalu kembali ke kamarnya. Taiga buru-buru pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam mereka, sebelum menyesali keputusannya.

— Interval —

“Kyomoto? Aku seperti pernah mendengar namanya.” gumam Shintaro setelah mendengar cerita Yua.

“SUDAH GITU AJA? KALIAN TIDAK NGELAKUIN APA-APA SETELAHNYA?”

PLAK!

Sebuah timpukan cukup keras melayang ke kepala Jesse, Ruika lah pelakunya. Jesse memandang kakaknya dengan pandangan ‘Apa salahku? Aku kan cuma bertanya!’, masih sibuk mengusap-usap kepalanya.

“Itu cuma mimpi, bodoh!” Omel Ruika kepada adik kembarnya. Jesse hanya bisa menggaruk-garuk kepala, meringis memamerkan gigi-gigi indahnya, tanda rasa bersalah.

“Tapi kamu masih bisa mengingat mimpimu dengan baik, seperti pernah mengalaminya saja. Jangan-jangan kamu punya kekuatan mimpi, Yua? Sebaiknya kamu konsultasi dengan guru BK!” Juri menasehati Yua.

“Hei, hei. Apa kalian lupa Yua siapa? Dia itu anak keluarga Nakajima. Sudah pasti dia mempunyai kemampuan seperti itu, meskipun belum sempurna. Kalau dia giat berlatih, kemampuannya pasti bisa disejajarkan dengan kakak-kakaknya.” protes Ruika, memberikan pembelaan untuk Yua.

“Iya, sih. Tapi kalau dibandingkan YutoYuri-senpai, Yua masih belum ada apa-apanya. Lihat saja, dia tidak ada bagus-bagusnya. Bahkan nilai akademisnya kalau dibandingkan kita yang berasal dari keluarga biasa, dia peringkat terbawah.” Juri menunjukkan hasil ujian kelasnya, yang jelas-jelas menunjukkan Yua memperoleh peringkat terbawah kedua, setelah Yugo, yang memang jarang masuk sekolah.

Yua hanya tersenyum mendengar komentar teman-temannya. Sebenarnya, bukan rahasia kalau dia bukan keturunan asli keluarga Nakajima. Dia dan kakaknya, Yuri hanyalah anak angkat keluarga Nakajima. Mereka mempunyai nama keluarga yang berbeda, Chinen Yuri dan Chinen Yua. Tapi bukan itu masalahnya. Meskipun hanya anak angkat, Yuri mempunyai prestasi yang istimewa, tidak kalah dengan Yuto yang asli keturunan Nakajima. Sedangkan Yua, hanya seorang gadis yang terlewat biasa saja.

“Kalian lagi ngomongin apa?” tiba-tiba saja Yuri muncul dari arah belakang Yua. Seketika reaksi Juri, Jesse dan Ruika berubah salah tingkah. Meskipun Yuri kakak kelas mereka, bahkan kakak dari teman baik mereka, tapi sekalipun mereka belum pernah berbicara normal kepadanya. Ada perasaan aneh setiap kali keluarga Nakajima berada di sekitar orang biasa, tapi sekali lagi, hal itu tidak berlaku untuk Yua.

“Ah, Yuri-senpai. Ano…” Juri terbata-bata hendak menjelaskan, saking gugupnya.

“Biasa, niichan. Mereka lagi godain aku karena tidak sepintar niichan-tachi.” Yua mengadu kepada kakaknya, yang disambut elusan lembut di kepalanya.

“Kamu tidak perlu terburu memikirkannya. Biarkan saja kemampuanmu keluar dengan sendirinya. Yang penting kamu bahagia.” Yua mengangguk mendengar kata-kata Yuri, karena memang ini bukan pertama kali mendengarnya.

“Yasudah, pulang yuk?” Yua mengangguk, mengiyakan ajakan kakaknya lalu berpamitan kepada teman-temannya.

“Ah, iya! Kyomoto itu salah satu keluarga keturunan bangsawan yang tinggal di pinggiran kota!” Ruika, Jesse dan Juri memandangi Shintaro yang tiba-tiba bergumam tidak jelas.

“Kyomoto?” tanya Juri.

“Tadi Yua-chan… eh, di mana dia?” Shintaro baru menyadari Yua sudah tidak ada di antara mereka.

“Sudah pulang sama kakaknya. Ya ampun, kebiasaan deh! Kalau lagi mikir, suka lupa sama keadaan sekitarnya.” Keluh Juri geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya.

“Hehe. Gomen.” Shintaro nyengir kuda melihat Juri memarahinya.

“Ya sudah, pulang yuk? Sudah sore juga.” Tanpa protes, Juri, Shintaro dan Jesse mengikuti Ruika meninggalkan kantin sekolah mereka.

*****

“Yuri-nii, mana Yuto-nii?” tanya Yua.

“Yutti tadi pulang dulu, ada Aika di rumah.” jawab Yuri, masih fokus dengan buku saku di tangannya.

“Aika-sama di rumah? Aku duluan yaaaa!” tanpa menghiraukan aba-aba Yuri, Yua melesat begitu saja saking ingin cepatnya sampai di rumah.

Tadaima.” seru Yua, hampir berteriak, menyeruak masuk rumah, mencari sosok Aika.

Okaeri, Yua-san. Bagaimana sekolahmu hari ini?” sosok Aika muncul dari dapur rumah mereka, masih lengkap menggunakan celemeknya. Di tangannya nampak hidangan yang sangat menggoda selera, sepertinya menu makan malam mereka hari ini. Yua selalu menyukai semua masakan Aika.

“Aika-sama masak apa? Wah sepertinya enaaaaak.” Aika hanya tersenyum mendengar komen Yua, tapi sedikit berjengit saat menyadari bagaimana Yua memanggilnya.

“Yua-san, sudah kubilang jangan panggil aku Aika-sama!” protes Aika, masih fokus menata beberapa makanan di meja.

“Kenapa?” tanya Yua dengan polosnya. “Ya… tidak enak saja di dengarnya.”

“Habisnya kamu tinggal di rumah besar yang ada di pinggiran kota, kan? Rumah keturunan bangsawan itu? Kamu sendiri yang mengatakannya.” jawab Yua asal, mulai menggerecoki pekerjaan Aika dengan mencomot beberapa karage untuk dimasukkan ke mulutnya.

“Aku hanya anak kepala pelayan, Yua-san. Aku juga ingat sudah pernah mengatakannya. Kumohon panggil aku Aika saja.”

“Kalau begitu panggil aku Yua juga! Yua-chan juga boleh. Yua-san terlalu formal menurutku.”

Aika menghela napas mendengar permintaan Yua. Sepertinya, kalau bukan dia yang memulainya, Yua tidak akan pernah mau mendengarkannya. Aika mengangguk pasrah akhirnya.

“Yua, ganti baju dulu sana! Belum cuci tangan juga. Dasar anak satu ini ya!” Yua melihat Yuto sudah berjalan ke arahnya sedang marah-marah. Dengan cepat Yua menghindar sebelum tangan Yuto berhasil mencubit pipinya, mengelak, langsung menuju kamarnya sambil tertawa.

“Maafkan kelakuannya. Yuri terlalu memanjakannya, makanya dia sering seenaknya. Kalian sedang ngomongin apa?” tanya Yuto saat sudah tinggal berdua dengan Aika.

“Yua-sama memintaku untuk memanggilnya nama. Padahal, memanggilnya Yua-san saja, sudah sangat sulit untukku.” keluh Aika.

“Bersabarlah. Kamu pasti bisa. Aku dan Yuri saja sudah mulai terbiasa.”

“Kalian kalau ngomongin Yua jangan pas anaknya ada di rumah!” Yuri buru-buru menghampiri saudaranya saat tidak sengaja mendengar pembicaraan Yuto dan Aika. “Bagaimana kalau Yua bisa mendengar semuanya?”

“Yua baru masuk kamarnya, tenang saja. Lagipula, kami juga tidak seceroboh itu, Yuri!” Yuto mengingatkan.

“Oke, baiklah. Ngomong-ngomong Aika, ada kepentingan apa kamu sampai repot-repot datang ke sini?” tanya Yuri mengalihkan pandangannya dari Yuto ke Aika yang sudah menyelesaikan pekerjaannya menata makanan di meja.

“Kunjungan rutin seperti biasa. Dan juga, aku membawa misi dari Kyomoto-sama.”

“Kita bahas nanti saja!” sela Yuto saat menyadari kehadiran Yua.

“Yuri-nii, kenapa belum ganti baju sih? Malah ikutan ngobrol begitu!” rengek Yua saat melihat kedua kakaknya malah asyik ngobrol dengan Aika. Yuri melihat ke arah Yua yang sudah berganti dengan kaos lengan pendek bersetelan celana jeans pendek bekas miliknya. Sudah berulang kali Yuri menyuruh Yua untuk tidak lagi memakainya, karena sudah membelikan beberapa potong celana baru untuk adiknya, tapi Yua tidak pernah mendengarkan. Katanya, sudah terlanjur sayang sih, sambil tertawa.

Dasar! Omel Yuri dalam hati melihat kelakuan adiknya. Tanpa buang waktu, karena tahu Yua akan semakin ngeselin kalau lagi lapar, Yuri memutuskan untuk menuruti permintaan adiknya.

“Iya, iya my baby Yu. Cerewet banget adikku satu ini!” Yuri sempat-sempatnya mencubiti pipi Yua sebelum pergi ke kamarnya. Dengan kegesitannya, tentu saja, Yuri dapat menghindari serangan balasan dari adiknya, berhasil membuat Yua ngomel-ngomel tidak keruan saat berjalan menuju Yuto dan Aika.

Yuto mengelus pipi Yua, bekas cubitan Yuri untuk menenangkannya. Melihat keakraban di antara Yuto, Yuri dan Yua, membuat Aika meyakinkan dirinya kalau dia juga bisa bersikap biasa.

“Yua, kamu paling suka udang, kan? Aku buatkan menu ini khusus untukmu.” Aika mencoba sekuat tenaga untuk membiasakan dirinya memanggil Yua seperti lainnya.

Arigatou, Aika.” Yua tersenyum, merasa lega karena akhirnya Aika bisa memanggilnya nama saja. Meskipun Yua dapat merasakan keterpaksaan di nada bicaranya, yang Yua tidak tahu mengapa susah sekali untuk Aika memanggil namanya saja. Tapi ya sudahlah, yang penting Aika sudah memanggilku Yua.

*****

Sekai-gakuen adalah sekolah SMA, tapi bukan SMA biasa. Di saat sekolah lain mengajarkan tentang ilmu alam untuk sekedar pengetahuan saja, di SMA ini, ilmu alam penting dipelajari untuk bahan-bahan pengobatan dan membaca alam. Apa yang terjadi saat hujan turun lebih dari 3 hari? Di sekolah biasa, kalian akan menganggapnya sebagai fenomena alam biasa. Tapi di sini, bukan hanya itu yang akan menjadi kesimpulan murid-muridnya.

“Alam sedang menangis karena hutan di bagian utara sudah hampir penuh dengan rumah-rumah.”

Ame-warashi sedang galau karena salah satu payung kesayangannya hilang.”

“Dewa langit lupa menutup keran hujan. Makanya, selama 3 hari hujan tidak berhenti. Salah satu dari kita harus mengingatkannya!”

Mana jawaban yang benar? Tidak ada yang salah. Semua kemungkinan ada. Ya, di Sekai-gakuen pemikiran seperti ini tidaklah dianggap aneh. Karena sebagian besar dari muridnya, sengaja memasukinya dengan tujuan bisa mengetahui alasan yang sebenarnya, yang tidak bisa dijelaskan lebih dari sekedar fenomena alam saja. Sekolah khusus calon cenayang, mungkin seperti itu bahasanya. Tidak banyak yang bersekolah di sini. Mungkin hanya sekitar 5 sampai 7 orang per kelasnya. Yua dan kawan-kawannya merupakan murid angkatan tahun pertama.

Kalau saja Yua bukan anak angkat keluarga Nakajima, tidak ada seorang pun di kelasnya yang asli merupakan keturunan cenayang. Ya, keluarga Nakajima adalah salah satu keluarga cenayang terhebat di kotanya. Semua keturunanya dikaruniai kemampuan-kemampuan istimewa, bahkan kecerdasan yang luar biasa.

Tapi ada satu orang yang kemampuannya sungguh luar biasa, meskipun tidak ada keturunan cenayang mengalir di darahnya (Eh, dua dengan Yuri sepertinya). Hokuto namanya. Tidak ada yang tahu siapa nama keluarganya, karena pihak sekolah pun sepertinya merahasiakannya. Tapi semua orang tahu kalau dia awalnya hanya orang biasa seperti mereka, karena keturunan cenayang biasanya memiliki tanda.

“Kamu lagi-lagi curi pandang ke Hokuto ya, Yua-chan?” suara Shintaro yang tiba-tiba mengagetkan Yua.

“Shin-chaaaaaan! Bisa tidak sih munculnya biasa saja? Jangan tiba-tiba gitu, dong!?” omel Yua, membenarkan posisinya.

“Aku lho sudah dari tadi di sini. Kamu saja yang tidak memperhatikannya!” Shintaro membela diri.

“Tapi ngomong-ngomong, kamu tiap hari merhatiin Hokuto. Naksir ya?” goda Shintaro lagi. Seketika wajah Yua memerah.

“Apa’an sih? Biasa saja. Ruika juga sering melakukannya.” cibir Yua, membela dirinya dengan membawa-bawa nama Ruika.

Baru saja dibicarakan, Ruika masuk ke kelas, jelas-jelas dengan sengaja menabrakkan diri ke meja Hokuto, membuatnya meringis kesakitan. Tapi Hokuto tetap cuek dan tidak mengalihkan pandangan sedikit pun dari bacaannya. Yua dan Shintaro tertawa terbahak melihat kegagalan Ruika mencuri perhatian Hokuto.

“Heran deh! Gimana sih cara membuat Hokuto berbaur dengan kita? Dia itu ya… entahlah gimana jelasinnya!” Ruika berjalan ke arah Yua dan Shintaro masih mengomel seraya menggosok-gosok pinggangnya yang terbentur meja Hokuto.

Yua masih memperhatikan Hokuto, yang dia yakin sekilas mengalihkan pandangannya ke arah Jesse yang masuk ke dalam kelas tepat setelah Ruika. Eh?

Bukan. Hokuto bukan memperhatikan Jesse. Tapi seseorang yang berjalan di belakang Jesse, Yugo. Sama seperti Hokuto, tidak ada seorang pun yang mengetahui nama keluarganya.

Tumben dia masuk sekolah, batin Yua.

“Pagi Jesse, Ruika, Shintaro, Yua, yo Hokuto!” Yugo menyapa satu per satu teman kelasnya, mengabaikan pandangan keheranan yang menyerbunya.

“Ngomong-ngomong, di mana Juri? Belum datang ya?” tanya Yugo masih dengan santai.

Pucuk dicinta, Juri pun tiba. Orang yang dibicarakan muncul tidak lama kemudian, yang sayangnya datangnya bersamaan dengan salah satu guru mereka. Sehingga mereka terpaksa mengakhiri perbincangan pagi mereka.

Siang harinya, di pelajaran kelas mantra, mereka diwajibkan untuk berpasangan. Dengan cepat, Jesse menarik kakaknya untuk satu kelompok dengannya, Juri berhasil menempelkan mejanya dengan meja Shintaro lebih cepat dibandingkan Yua.

“Aku harus sama sensei?” gerutu Yua karena tahu kalau Hokuto pasti lebih memilih dengan Yugo, karena kabarnya, mereka sudah berteman sejak lama.

“Yua, kamu sama Hoku saja. Biar aku yang sama sensei. Kamu tahu sendiri kan, aku jarang masuk sekolah?” Yugo menghalangi langkah Yua yang berjalan menuju meja guru, menyuruhnya pergi ke bangkunya di sebelah Hokuto.

“Apa hubungannya? Aku juga tidak lebih baik dari kamu, Yugo. Tidak usah sengaja mengalah begitu.” Sebenarnya, Yua lebih merasa tidak enak karena harus berpasangan dengan Hokuto dibandingkan sekedar menolak permintaan Yugo.

“Ayolah, aku tahu kamu suka Hoku. Kamu mau melewatkan kesempatan ini?” Yugo mengerlingkan matanya jenaka, sengaja menggoda Yua.

“Bagaimana kamu…?” belum sempat Yua melanjutkan kata-katanya, Yugo sudah berjalan cepat ke arah guru mereka. “Sensei, onegaishimasu.”

Melihat kelakuan Yugo, Yua berdecak kesal dan dengan gugup berjalan ke arah Hokuto. Hokuto sepertinya tidak menyadari kalau pasangannya berganti karena sedang fokus menghafal beberapa mantra. Terpaksa Yua menepuk pelan pundaknya, untuk menyadarkannya.

“Hokuto, apa aku boleh bergabung denganmu? Yugo yang menyuruhku.” Yua berharap dia mengatakannya dengan lancar dan tidak terlihat aneh di mata Hokuto.

“Tentu saja, Yua. Duduklah.” Hokuto menyuruh Yua duduk di sebelahnya agar mereka bisa segera memulai pelajarannya.

Melihat rencananya berjalan sesuai keinginannya, Yugo tersenyum penuh kemenangan, tampak begitu bahagia meihat kebahagiaan di mata Yua. You must be happy, Yua!

*****

Ruika kesal karena sepanjang pelajaran tadi Yua berhasil satu kelompok dengan Hokuto, gara-gara Jesse menariknya. Andai Yua berpasangan dengan Shintaro seperti biasa, Juri akan mengajak Jesse sebagai pasangannya, dan dia bisa dengan aktif mengajak Hokuto menjadi pasangannya.

Semuanya gara-gara, Jesse! Gerutu Ruika dalam hati.

“Mukamu kenapa, Ruika? Lagi kesal ya?” Yuri lagi-lagi muncul tiba-tiba, mungkin itu sudah menjadi kebiasaannya. Ruika sedikit berjingkat, gagal menyembunyikan kekagetannya. “Yuri-senpai!”

Yuri hanya tersenyum melihat reaksi Ruika. Ini bukan pertama kali mereka berbicara berdua, tentu saja. Tapi masih begitu sulit untuk Yuri agar orang yang diajaknya bicara bersikap biasa-biasa saja. Entah karena alasan apa, dia dan Yuto sepertinya mempunyai semacam aura yang membuat mereka susah bergaul dengan orang biasa.

“Yua masih di kelas, sebentar lagi pasti keluar. Jesse masih ke toilet, jadi aku menunggunya.”

Oh, yang kedua harusnya aku tidak perlu mengatakannya, rutuk Ruika dalam hati.

“Iya, aku juga akan menunggu mereka bersamamu. Boleh, kan?” tanya Yuri, memamerkan senyum termanisnya.

“Boleh. Tentu saja boleh, senpai!” Jawab Ruika terlewat bersemangat, luluh dengan senyuman Yuri yang berhasil memikat hatinya.

Arigatou.” Yuri tertawa.

Ruika merasa sangat malu karena sudah salah tingkah di depan kakak sahabatnya. Tapi, siapa juga yang bisa menolak pria tampan yang sangat baik mendekatinya?

Bodoh. Mana mungkin Yuri-senpai berpikiran begitu. Dia pasti cuma baik ke aku karena aku sahabat Yua, adiknya. Ruika menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berusaha menyembunyikan salah tingkahnya.

“Oh, itu Yua! Kita langsung pulang dulu ya, Ruika. Sampai ketemu besok!” Yuri beranjak meninggalkan Ruika, berjalan ke arah Yua, lalu keduanya pergi bersama. Enaknya jadi Yua.

“Aku ini mikir apa sih?! Adikku juga tidak kalah ganteng kok kalau dibanding kakak-kakak Yua. Tapi…”

“Yo, neechan! Langsung pulang, yuk? Yua sudah pulang, kan? Aku tadi melihatnya sudah jalan bareng Yuri-senpai.” Ruika mengangguk menyetujui ajakan adiknya. Jesse mengalungkan tangannya di bahu Ruika, bergelanyut manja, membuat Ruika kewalahan menopang berat tubuh adiknya.

“Jess, kamu itu sudah besar! Berhenti manja-manjaan! Kamu tidak sadar badanmu sudah hampir dua kali lipat kalau dibandingkan badanku, hah? Bisa-bisa aku ambruk kalau kamu seperti ini!” omel Ruika.

“Kalau begitu, pakai mantra pengecilan dong, neechan! Biar aku bisa manja-manjaan sepuasnya denganmu.” rengek Jesse, masih enggan melepaskan rangkulannya.

Seperti apapun Ruika berusaha melepaskan rangkulan Jesse saat di jalan, mereka akan tetap berakhir seperti itu begitu sampai di rumah. Jesse tidak akan berhenti menggelanyuti tubuhnya. Ruika hanya geleng-geleng kepala melihat sifat manja adiknya.

Ganteng sih. Tapi manjanya itu bikin kesal! Ruika mengecup bibir adiknya untuk menghentikan sifat manjanya. Cara itu selalu ampuh membuat Jesse berhenti bersikap manja dan berjalan menjauhi Ruika.

“Cepat ganti baju, aku akan menyiapkan makan malam untuk kita.” Ruika berteriak kepada Jesse yang sudah berjalan menuju kamarnya. Tidak ada jawaban, tapi Ruika yakin Jesse mendengarnya.

 

***** to be continued.

Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] MIRROR (#1)

  1. c.kei26

    Wahhh ada misteri apa yang di sembunyikan oleh Yuri dan Yuto tentang Yua (?)
    , Taiga yang selalu bilang kalau Yua adalah calon istrinya(?), dannn Hokuto yang terlalu menutup diri (?) . Penasarannnnn XD
    Ditunggu kelanjutannya …. 😊😄

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s