[Minichapter] Dark Orange (chap 1)

  • Juara 1 SAGITTARIUS SQUAD Fanfic Challenge

Dark Orange
by. HINO
Genre: Romance, Historical, Friendship
Rating : PG-13
Starring : Maruyama Ryuhei, Ohkura Tadayoshi, Yasuda Shota (Kanjani Eight)
Other characters :Inagaki Goro (SMAP), Nagase Tomoya (TOKIO), Domoto Koichi, Domoto Tsuyoshi (Kinki Kids), Kitayama Hiromitsu (Kis-My-Ft2), Ohno Satoshi (Arashi), Murakami Shingo, Yokoyama Yuu (Kanjani Eight), Yaotome Hikaru (Hey!Say!JUMP), Tsukada Ryoichi (A.B.C-Z),Hamada Takahiro (Johnny’s West)
Disclaimer: All characters are under Johnny’s Entertainment.

TRAILER : https://youtu.be/Xp9CA993wxI

dark-orange-cover

“Yasu! Yasu! YAASUUUUUUU!!!!”

Kudengar teriakan Ohkura menggema di sepanjang lorong gua yang gelap tempat kami berteduh. Tangisannya mengalahkan suara hantaman air hujan dan angin yang menderu seperti badai di luar sana. Petir sesekali menyambar seraya menggetarkan dinding-dinding batu, dengan kerlip cahayanya yang ikut menerangi mulut gua. Terang, terang sekali. Saking terangnya hingga aku bisa melihat ekspresi horror di wajah Ohkura yang sedang memeluk Yasu.

Aku bersandar di sebuah batu besar sambil terus memegangi dada sebelah kananku. Tak mampu bergerak lebih jauh meskipun aku ingin sekali bergabung bersama Ohkura. Rasa-rasanya tulang rusukku ada yang patah, tapi semoga saja tidak. Bila dibandingkan dengan kondisi Yasu, keadaanku memang sama sekali bukan apa-apa. Lelaki kecil itu berdarah di sekujur tubuhnya dan tengah kehilangan kesadaran.

“Yasu! Bangun!” Ohkura mengguncang tubuh Yasu sambil sesekali mengencangkan kain yang melilit di tubuh anak itu. Dengan darah yang terus menerus merembes dari luka-luka sayatan ke kain seperti tanpa henti, Ohkura tidak peduli pada pakaiannya yang sudah berubah warna menjadi merah akibat mendekap Yasu sepanjang waktu. “Yasu! Aku mohon!” erangnya frustrasi. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa anak yang dipanggil akan merespon.

Semua ini terjadi bukan salah siapa-siapa. Tapi jika memang harus mencari kambing hitamnya, aku akan menyalahkan General Yokoyama, orang kepercayaan raja sekaligus atasan kami. Dialah yang bertanggung jawab atas kegagalan misi ini karena telah mengirim tiga prajurit muda untuk menyelinap ke wilayah musuh. Mungkin aku dan Ohkura adalah sesuatu yang lain lagi, tapi Yasu . . . Yasu benar-benar tidak mengetahui apapun. Dia adalah prajurit berhati suci yang melaksanakan tugas tanpa peduli resiko dirinya akan terbunuh. Aku menyesal telah membiarkannya ikut dalam misi ini. Aku menyesal telah membiarkannya dimanfaatkan oleh pihak istana.

“Yasu… hiks, Yasu….” Ohkura memeluk sosok di pangkuannya sambil terus menangis. Badannya meringkuk di tanah, membungkus tubuh Yasu seakan tak ingin melepaskan. Membuatku semakin merasa sakit. Baik itu tentang adanya kemungkinan bahwa Yasu saat ini telah tewas, atau tentang aku yang tidak bisa berbuat apapun.

Langit abu-abu kala itu terlihat begitu kelam di pandanganku, dinding gua pun terasa begitu dingin sedingin es, suara jeritan-jeritan Ohkura seperti memaksaku untuk memutus segala harapan di dalam benak. Tapi meskipun begitu, rasanya aku masih ingin mempercayai bahwa kami bertiga akan bisa pulang ke istana dengan kondisi hidup.

“Ohkura,” panggilku seraya menahan denyutan perih di tulang rusukku dengan tangan. Aku tahu bahwa suaraku dikalahkan oleh deru hujan sehingga aku harus mengumpulkan seluruh tenagaku untuk berteriak keras.

“OHKURA!” panggilku. Dia pun menengok, masih dengan ekspresi horor.

“Maru…” ucapnya lirih. “Yasu masih bernapas…” lanjutnya lagi, kali ini dengan seulas senyum. Aku baru saja hendak mengusulkan agar ia memindahkan Yasu ke sisi gua yang lebih kering dan hangat, namun seketika itu juga ide tersebut menghilang entah kemana. Fakta yang disampaikan Ohkura barusan membuat hatiku bergetar dengan kencangnya. Syukurlah. Syukurlah, pikirku.

“Maru! Yasu masih bernapas!!” teriak lelaki itu histeris. Dengan cekatan ia melepas jubah prajurit miliknya sambil lalu dibalutkan ke sekujur tubuh Yasu. Aku pun segera melakukan hal yang sama. Dengan susah payah kutarik jubahku dari punggung dan menyodorkannya ke Ohkura.

“Hangatkan dia!” kataku kemudian. Ohkura pun mengangguk. Diangkatnya tubuh Yasu dan dipindahkannya ke dekatku. Ia ingat betul nasihat yang pernah diberikan oleh guru kami di kelas bertahan hidup, tentang cara paling mudah menjaga suhu tubuh dalam kondisi ekstrim saat melakukan pengintaian.

Jangan memisahkan diri. Berkumpulah dalam kelompok dan selalu berada dekat satu sama lain.

Aku pun sangat setuju dengan hal itu. Sebab ketika Yasu diletakkan di sampingku, sekujur tubuhku mendadak terasa hangat. Aku bisa melihatnya bernapas. Dia benar-benar masih hidup.

“Syukurlah…” gumamku pelan. Kubersihkan wajahnya dari darah yang menempel dengan kain jubah sambil lalu kuelus pelan kepalanya. Kuperhatikan dada Yasu naik turun terpatah-patah serta bibirnya yang sedikit gemetar. Aku pun menyuruh Ohkura, sebagai satu-satunya di antara kami yang tidak terluka parah, agar membuat api. Tanpa banyak bertanya, lelaki itupun segera mulai bekerja dengan bebatuan dan sisa-sisa peralatan.

Dalam keheningan selanjutnya, kami sudah mulai agak merasa tenang. Belum benar-benar tenang memang, tapi jelas lebih rileks daripada keadaan kami sebelumnya. Kulihat Ohkura juga telah berhasil membuat api kecil. Cepat sekali, pikirku. Anak itu memang jenius, wajar saja kalau ia dikirim untuk misi ini. Tidak seperti prajurit awam lainnya yang minim pengalaman, termasuk aku. Ayahnya adalah seorang pemburu terkenal sehingga sejak kecil Ohkura sudah terbiasa beradu dengan alam. Namun demikian, tentu saja berburu dan berperang adalah dua buah hal yang berbeda.

Ohkura memberitahuku. Ia bilang ada yang aneh dalam misi ini. Kami bertiga tidak menerima surat tugas dari raja sebagaimana biasanya prosedur tersebut dilaksanakan ketika prajurit akan menjalankan misi. Perintah pengintaian diberikan langsung oleh General Yokoyama kepada kami saat itu. Beliau bilang, ini adalah misi rahasia. Kerajaan musuh sudah melakukan pergerakan dan membangun benteng di hutan sebelah barat istana. Kami dikirim untuk melakukan penyelidikan terhadap benteng tersebut. Info itu sangat penting dan berpengaruh besar pada rencana penyerangan berikutnya.

Tapi kenapa? Kenapa kami? Kenapa prajurit awam seperti kami yang dikirim? Jika memang misi ini sangat butuh untuk sukses, kenapa mengambil resiko dengan mengirimkan prajurit berkapasitas kecil seperti kami? Aku dan Ohkura terus memikirkan hal itu sepanjang waktu.

Terakhir kali kami berdiskusi, Ohkura bilang ada kemungkinan bahwa kami adalah kelinci percobaan. General Yokoyama sebenarnya sudah tahu kekuatan musuh, dan misi pengintaian ini adalah sebuah kebohongan. Jika kami mati, maka tidak akan ada seorang pun yang tahu. Keluarga kami pun tidak bisa menuntut pihak istana karena mereka tidak menerima surat pemberitahuan tugas. Memikirkan hal itu, tentu saja aku merasa marah. Terlebih lagi dengan kenyataan yang terjadi sekarang, kami berada di ambang kematian dan bantuan dari istana belum juga muncul.

“Aku rasa mereka tidak akan datang,” gumam Ohkura seraya berbaring di sisi Yasu. Emosinya terlihat sudah lebih stabil dibanding beberapa menit sebelumnya. “Kita seharusnya tidak lari ke hutan bagian dalam. Mustahil mereka mencari sampai ke tempat ini… pasti kita dikira sudah mati,” ucapnya kemudian. Aku masih terus mengelus-elus kepala Yasu sambil mendengarkan.

“Aku sudah curiga sejak awal, selain kita ada prajurit lain yang dikirim untuk mengawasi misi ini,” Ohkura menengok ke arahku. Dan “Eh?” adalah reaksi kaget yang tidak bisa kusembunyikan.

“Sejak kita melewati perbatasan, aku sadar ada orang-orang yang mengikuti kita,” katanya lagi. Aku menatap Ohkura penasaran.

“Kau yakin itu bukan dari pihak musuh?” tanyaku ragu.

“Bukan. Aku kenal baju patrol dari kerajaan musuh. Yang kulihat berbeda dengan pasukan patrol yang menyerang kita,” jawabnya menggeleng. “Mulanya kupikir orang-orang itu adalah prajurit lapis dua yang diutus oleh istana untuk membantu kita dalam misi ini. Makanya aku diam saja dan menunggu. Tapi ketika kita diserang dan mereka melarikan diri, aku langsung tahu bahwa mereka ditugaskan bukan untuk itu. Sepertinya General Yokoyama benar-benar menjadikan kita sebagai kelinci percobaan,” lanjut Ohkura lagi dengan nada geram. Tangannya perlahan melingkari tubuh Yasu yang ada di samping seraya mendekap anak tersebut penuh perhatian. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana caranya Ohkura bisa merasa marah dan bersikap lembut di saat yang bersamaan seperti itu. Tapi aku bisa mengerti situasinya.

Aku menarik napas berat.

“Seandainya itu benar, lalu apa yang harus kita lakukan?” aku melorot dari sandaran batu dan ikut berbaring bersama keduanya, mengapit Yasu di antara diriku dan Ohkura. Kuletakkan kepala dekat dengan dada Yasu seraya membiarkan suara napas lemahnya bernyanyi di telingaku. Aku bahkan sama sekali tidak peduli dengan bau darah yang tercium dari sosoknya. Sama seperti Ohkura, kulingkarkan tanganku di tubuh Yasu. Dan seketika itu juga aku merasa aman.

“Kita harus pulang ke istana hidup-hidup,” jawab Ohkura sambil memejamkan matanya.

“Kita harus pulang ke istana hidup-hidup,” sahutku kemudian, meskipun tidak tahu apakah kami benar-benar bisa bertahan sampai esok hari atau tidak.

Aku sadar luka yang diderita Yasu bukanlah yang terbilang ringan. Tanpa obat-obatan dan penanganan segera, harapan untuk hidupnya sangatlah tipis. Memikirkan adanya kemungkinan bahwa Yasu telah tiada saat aku bangun nanti membuatku jadi merasa takut untuk terlelap. Tapi apalah daya, ketahanan tubuh inipun juga ada batasnya. Rasa-rasanya aku sudah menggunakan seluruh cadangan tenagaku selama pelarian melelahkan ini, dan sekarang nampaknya tak ada lagi yang tersisa.

“Maru, kau baik-baik saja?” suara Ohkura terdengar tepat ketika aku hampir saja terlelap.

“Un,” jawabku singkat.

“Kau dan Yasu istirahatlah, aku akan berjaga,” katanya lagi. Tapi aku agak tak yakin dengan hal itu.

Aku ingat Ohkuralah yang terus-terusan menggendong Yasu di punggungnya dari lembah tempat kami jatuh hingga ke gua. Dan dia jugalah yang bertarung melawan kawanan anjing hutan sehingga kami bisa menggunakan tempat ini untuk berteduh. Meskipun ketangguhan fisiknya tak diragukan, aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam batinnya. Ia pasti juga membutuhkan istirahat. Kami semua butuh istirahat.

“Kalau kau ingin bertukar, bangunkan aku,” ucapku akhirnya. Sebagai seorang prajurit yang dituntut untuk siaga dalam keadaan apapun, indra pendengaran kami sengaja dilatih agar sensitif. Meskipun mata ini terpejam, kesadaran kami tidak akan pernah benar-benar mati seratus persen. Akan bahaya sekali jika anjing-anjing hutan tadi kembali ke sini dan menyerang saat kami tengah tertidur. Karena itulah Ohkura pun mengiyakan.

Suasana seketika berubah menjadi hening. Hujan yang seperti badai di luar gua masih belum juga berkurang keganasannya. Api buatan Ohkura sama sekali tidak memancarkan panas, justru aku malah menduga bahwa api itu akan mati dalam beberapa menit kedepan. Membuatku semakin merapat kepada Yasu, mencoba menjaga suhu tubuh kami supaya tetap pada temperatur yang normal.

Kudengar Ohkura sesekali terbatuk. Mungkin dia kedinginan. Apa boleh buat, sebab jubah-jubah kami digunakan untuk membungkus Yasu. Seandainya saja ransel-ransel kami tidak dirampas oleh para prajurit patrol, saat ini kami pasti sudah membangun tenda dan mengisi perut dengan makanan. Sayangnya, tidak ada satupun barang yang bisa kami pertahankan, kecuali mungkin pedang dan pakaian yang melekat di tubuh kami.

“Ada apa?” tanyaku ketika tiba-tiba kurasakan Ohkura bangkit dari posisinya dan berjalan ke arah mulut gua. Padahal belum ada lima menit semenjak aku mulai merasa rileks.

“Ada seseorang,” jawab Ohkura seraya mengambil pedangnya. “Barusan aku melihat sesuatu di balik pepohonan,” lanjutnya lagi. Membuatku merasa takut dan kagum di saat yang bersamaan. Aku tahu Ohkura adalah anak seorang pemburu, tapi kemampuannya bisa melihat di kegelapan adalah sesuatu yang luar biasa. Meskipun terkadang ia sering sekali membuat seisi kelompok panik karena mengira seekor rusa sebagai musuh, aku bersyukur tingkat kewaspadaannya bisa diandalkan.

“Pasukan patrol? Tak kusangka mereka masih mengejar kita…” ucapku terduduk seraya meraih pedang yang diletakkan tak jauh dari perapian.

“Aku rasa itu bukan pasukan patrol,” Ohkura mengendap-endap di dekat mulut gua. Tak begitu mempedulikan percikan air hujan yang mengenai rambut dan wajahnya. Sesuatu memang sedang bergerak di kejauhan. Aku tak dapat melihat tapi bisa kurasakan kehadiran sosok selain kami bertiga di sana.

“Ohkura, jangan terlalu menunjukkan dirimu,” kataku mengingatkan seraya menyuruh Ohkura untuk berpindah dari tempatnya berdiri. “Kau pasti ingat sebagian besar dari mereka membawa panah saat mengejar kita,” lanjutku sambil membuat gerakan-gerakan kecil, mengetes sejauh apa aku bisa menahan rasa sakit di dadaku. Ohkura masih saja mengamati.

“Enam… tujuh…” matanya menyusuri semak belukar dan pohon-pohon besar di sekeliling gua. “Maru… mereka dalam jumlah banyak,” ucapnya menengok ke arahku dengan ekspresi resah. Aku pun tak dapat menahan rasa berdebar di dadaku. Pertaruhannya hanya ada dua. Kalau itu prajurit dari istana, kami tertolong. Tapi kalau itu prajurit musuh, maka kami akan berakhir di tempat ini. Sayangnya, ucapan Ohkura mengenai General Yokoyama dan para pengintai yang kabur meninggalkan kami sebelumnya membuat harapanku semakin kecil. Di saat seperti ini, yang bisa kupikirkan hanyalah bagaimana caranya agar kami bertiga bisa kabur.

“Ohkura, aku rasa kita harus masuk lebih jauh lagi ke dalam. Mungkin ujung gua ini tembus ke suatu tempat,” ucapku mengusulkan. Aku sempat mengusap keringat dingin dari dahi Yasu yang menggigil di tempatnya berbaring, khawatir tak punya banyak waktu sampai orang-orang luar tersebut memutuskan untuk mendatangi kami. Ohkura pun mengangguk dan segera beranjak dari mulut gua.

Tapi baru saja dua langkah lelaki itu berjalan, seseorang melompat masuk dari bagian atas mulut gua dan menghantamkan kakinya ke punggung Ohkura. Keras sekali, hingga orang yang dihantam pun langsung jatuh membentur tanah.

Sosok yang datang mendadak itu sendiri terlihat seperti seorang prajurit assassin, seluruh tubuhnya dibalut kain hingga ke wajah. Di punggungnya pun terdapat pedang panjang, yang kuduga adalah samurai berwarna hitam.

Tak sempat Ohkura ataupun aku bereaksi, orang-orang dengan pakaian dan senjata yang sama secara serentak masuk ke dalam gua beberapa detik setelahnya. Jumlah mereka banyak, lebih dari sepuluh orang. Aku sama sekali tidak mengetahui siapa mereka. Tapi dari perlakuan mereka terhadap Ohkura, aku langsung tahu bahwa mereka bukan berada di pihak kami.

Ohkura menggeram ketika orang-orang itu menahannya di tanah. Ia mencoba berontak namun dengan mudah usahanya dipatahkan oleh salah seorang dari mereka. Tangannya diinjak sehingga ia terpaksa melepaskan pedang yang dibawanya tadi. Sementara beberapa orang lainnya segera mengerubungiku dan Yasu. Karena terlalu shock dengan penyergapan ini, aku pun tidak bisa bergerak dari posisiku. Semua terjadi begitu cepat sampai otakku tidak mampu memproses.

Hal terakhir yang kuingat sebelum mereka memukulku hingga aku kehilangan kesadaran hanyalah suara kilat menyambar yang menggema di dalam gua. Tapi setelah itu, semuanya tiba-tiba berubah menjadi gelap.

Pada saat yang sama, kupikir hidupku benar-benar telah berakhir.

Ya.

Kurasakan waktu berjalan sangat lambat. Ketika orang-orang tersebut membawa kami keluar dari gua menuju tempat mereka, aku sama sekali tidak ingat prosesnya. Aku tidak tahu apa tujuan ataupun arti dari semua tindakan mereka. Bahkan aku curiga bahwa penguluran waktu ini tak akan lama dan pada akhirnya kami akan dibunuh juga. Jika benar mereka ada di pihak musuh, tanpa menunggu eksekusi pun hidup kami sama saja sudah tamat.

Namun tak disangka, berkebalikan dengan semua prediksiku dan Ohkura sebelumnya, secara mengejutkan ternyata kami masih tetap bisa bernapas sampai detik ini. Saat aku membuka mata untuk pertama kalinya setelah penyergapan itu, hal pertama yang kulihat adalah orang yang paling aku khawatirkan. Yasu.

Yasu ada di depanku, terbaring berbalut perban.

“Maru,” panggil Ohkura padaku. Dan saat itu barulah aku menyadari bahwa ia juga ada di sana, di hadapanku, duduk di samping Yasu. “Bagaimana lukamu? Kau baik-baik saja?” tanyanya seraya berjalan menghampiriku. Kulihat tidak ada orang lain di tempat ini kecuali kami bertiga.

“Kurasa…. aku merasa lebih baik,” jawabku terduduk sambil lalu menggerakkan badanku ke kiri dan ke kanan untuk mengecek. Tidak sesakit sebelumnya, pikirku. Ohkura pun menghela napas dengan lega.

“Apa yang terjadi?” tanyaku kemudian dengan ekspresi bingung. Perlahan kuperhatikan keadaan sekeliling dan mendapati bahwa ini bukanlah tempat yang kukenal. Dinding marmer berwarna hijau, atap yang tinggi, lantai dari batu hitam yang terlihat mengkilap, ranjang dengan kasur empuk. Apakah ini sebuah tipuan?

“Aku sama bingungnya denganmu,” jawab Ohkura sebelum aku melontarkan pertanyaan lagi. “Mereka mengunci kita di sini,” lanjutnya seraya bangkit dan berjalan ke arah pintu. Satu-satunya pintu yang ada di ruangan ini, yang sepertinya juga terbuat dari batu.

“Kenapa mereka tidak membunuh kita? Mereka bukan musuh?” aku mencoba bangkit dari posisiku namun Ohkura menyuruhku untuk tetap duduk. Lelaki itu kembali menghampiriku dan kami berdua pun duduk bersebelahan.

“Aku masih belum yakin. Tapi aku benar-benar bersyukur mereka mau mengobati kita,” Ohkura menatap Yasu sambil menghelakan napasnya, membuatku ikut melakukan hal yang sama.

“Kau benar,” gumamku pelan.

Kami berdua lalu terdiam. Merasa syok dan juga lelah. Rasa-rasanya kami sudah tidak tahu lagi kemana alur cerita ini akan dibawa. Tidak ada keinginan lain bagi tiga prajurit yang tertangkap oleh musuh kecuali mereka diberikan kesempatan untuk hidup. Nyawa kami bertiga memang tidak ada harganya bagi istana, tapi bagi kami dan orang-orang yang mencintai kami, ini adalah sesuatu yang tidak ternilai. Aku bahkan sempat berpikir, jika setelah ini kami benar-benar bisa bebas, maka aku akan berhenti menjadi prajurit. Aku tidak mau terlibat dengan konflik istana seperti yang Ohkura pernah jelaskan padaku. Tidak seperti dua temanku yang lain, pada dasarnya aku memang seorang pengecut.

GREK! GREK GREK!

Aku dan Ohkura terlonjak ketika pintu ruangan tiba-tiba saja bergeser. Reflek memasang posisi bertarung sebagaimana kami selalu dilatih demikian oleh guru-guru kami di barak. Tak mempedulikan sakit di dadaku yang tiba-tiba terasa kembali, mungkin karena aku bergerak terlalu cepat sehingga tulang rusukku bergeser, aku berdiri di dekat tempat Yasu berbaring.

Seorang pria masuk ke dalam ruangan diikuti dengan beberapa pengawalnya. Pengawal-pengawal tersebut berpakaian sama seperti orang-orang yang menyergap kami di gua beberapa waktu lalu. Sementara pria yang dikawal itu mengenakan sebuah baju perang dengan jubah berwarna ungu. Wajahnya tegas. Pandangan matanya yang ditujukan kepada kami segera membuat aku dan Ohkura merasa gentar.

“Kalian utusan General Yokoyama?” tanyanya tanpa basa-basi.

Tidak seperti Ohkura yang berusaha menahan diri untuk tidak menjawab pertanyaan itu, aku secara tak sadar mengangguk mengiyakan. Pria tersebut pun melangkah mendekat sambil lalu mengamati kami dalam diam. Auranya terlalu kuat sehingga aku hanya bisa membatu di tempat.

“Siapa di antara kalian yang membawa data perang?” tanyanya kemudian. Membuat baik aku maupun Ohkura bingung dan saling melempar pandang.

“Kalian sudah aman di sini, bicaralah,” ucapnya tegas. Pria itu memegang bahu Ohkura seraya menggoyangnya pelan, namun tentu saja anak yang dipegang tidak tahu harus bicara apa. Pertanyaan yang dilontarkan orang itu benar-benar terasa aneh, sebab kami bertiga diutus untuk mencuri informasi, dan bukan malah membawa informasi.

“Aku tahu kalian diserang oleh prajurit patrol semalam. Aku benar-benar minta maaf. Tapi anak buahku berada di posisi yang tidak bisa sembarangan membantu kalian, aku harap kalian mengerti,” ucapnya lagi, kali ini berganti memegang bahuku. Tapi tidak ada satupun dari aku atau Ohkura yang merespon perkataan pria tersebut. Kami hanya terdiam saja karena kami tidak mengerti.

“Kita tidak punya banyak waktu lagi. Aku harus segera memproses data perang dari General Yokoyama secepatnya. Kalau kalian ingin imbalan, aku bisa memberikan uang seberapa banyakpun yang kalian mau,” ucap pria itu dengan nada tegas. “Aku mengerti prajurit seperti kalian pasti tak akan mau melakukan misi berbahaya seperti ini tanpa imbalan yang besar. Aku akan membayar sepuluh kali lipat dari apa yang dijanjikan General Yokoyama pada kalian,” lanjutnya lagi. Membuat aku bergidik ngeri. Bukan hanya karena ia menawari kami dengan uang sebagai pengganti nyawa kami yang hampir saja hilang, tapi juga terhadap fakta bahwa pernah ada prajurit-prajurit yang memanfaatkan misi demi keuntungan pribadi mereka. Dan sesungguhnya, General Yokoyama sendiri tidak pernah menjanjikan apapun kepada kami.

Ohkura mengerutkan kedua alisnya.

“Sepertinya kau berbicara pada prajurit yang salah. Kami diutus oleh General Yokoyama untuk menyelidiki benteng kerajaan milik Raja Ohno, bukan untuk menyampaikan data perang. Kami bahkan tidak tahu sama sekali tentang data perang yang kau maksud,” ucap Ohkura berusaha menjelaskan. Kalau saja bukan karena orang-orang ini telah menyelamatkan kami dari hutan, pasti ia tidak akan jujur memberi tahu tentang misi rahasia yang kami emban. Meski belum yakin, entah mengapa aku dan Ohkura memiliki firasat bahwa mereka sebenarnya bukan musuh.

“Ini aneh,” gumam pria tersebut heran. “Aku tidak pernah dengar soal rencana pengintaian terhadap benteng sebelumnya. Terlalu beresiko jika General Yokoyama bertindak tanpa memberitahuku,” lanjutnya seakan berbicara pada diri sendiri. Aku dan Ohkura kembali melempar pandang. Entah apa maksud dari ekspresi Ohkura kepadaku, tapi aku hanya bisa membalasnya dengan menggeleng.

“Jika kalian bukan prajurit pengirim data, berarti ada prajurit lain utusan General Yokoyama yang masih berkeliaran di luar sana. Hamada,” pria tersebut membalikkan badan seraya memanggil salah satu anak buahnya. “Kirim pasukan untuk menelusuri hutan. Dalam waktu empat puluh delapan jam aku ingin data perang sampai di tanganku,” ucapnya memberi perintah. Orang yang dipanggil Hamada tersebut pun segera mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan.

“Mengirim prajurit dalam jumlah sedikit untuk mengintai benteng sangat beresiko tinggi untuk gagal. Kalian beruntung orang-orangku berhasil menemukan kalian di gua. Kalau tidak, kalian pasti sudah mati saat ini,” ujar pria tersebut kembali menatapku dan Ohkura. Suara sepatu besinya yang menapak di lantai terdengar cukup keras, membuatku sedikit terlonjak di tempatku berdiri.

“Seandainya saja kalian bukan utusan General Yokoyama, kalian akan kubunuh sekarang juga karena telah mengetahui perihal pengiriman data perang dan juga tempat ini,” lanjutnya lagi. Aku melirik horor ke arah Ohkura.

“Untuk sementara kalian akan kubiarkan di sini sampai kondisi kalian normal kembali,” pria tersebut memperhatikan Yasu sejenak sebelum kemudian beranjak meninggalkan kami. Ohkura pun buru-buru menahannya.

“Tunggu dulu!” Ohkura segera berlari ke hadapan pria tersebut. “Tolong beritahu kami apa yang sebenarnya sedang terjadi! Kenapa General Yokoyama mengirim prajurit kecil seperti kami untuk menyelidiki benteng musuh?!” tanya Ohkura dengan nada yang terdengar emosi. Tak hanya Ohkura, sebenarnya aku pun ingin menanyakan hal yang sama. Ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi, meskipun di saat yang bersamaan ada perasaan takut jika harus terlibat terlalu jauh dengan konflik kerajaan.

Pria tersebut menatap Ohkura sejenak sebelum mengangguk.

“Itu juga hal yang ingin kuketahui, anak muda. Apa alasan General Yokoyama mengirim kalian untuk melakukan pengintaian,” jawabnya pelan. Para pengawalnya menahan tubuh Ohkura di tempatnya berdiri, namun pria itu menyuruh mereka untuk menghentikan hal tersebut.

“Namaku Murakami Shingo. Sayangnya saat ini ada hal yang harus aku kerjakan di ruanganku. Jika kau mau, kita bisa bicara di sana,” ucapnya kemudian. Membiarkan Ohkura terdiam sejenak memikirkan tawaran tersebut. Pria itu tahu baik aku maupun Ohkura sama-sama belum mempercayainya seratus persen. Namun rasa penasaran di benak kami sudah tidak dapat dibendung lagi.

Ohkura melihat ke arahku dan aku segera memberikan anggukkan setuju padanya. Pria berjubah ungu dan para pengawalnya pun lalu berjalan meninggalkan ruangan, diikuti dengan Ohkura di belakangnya. Mereka tidak lagi mengunci pintu seperti sebelum ini, dan itu membuatku merasa tenang. Semakin meyakinkanku bahwa mereka bukanlah musuh. Tapi jika memang demikian, lalu siapakah sebenarnya mereka? Apa hubungan mereka dengan General Yokoyama? Dan apa yang mereka maksud dengan data perang? Aku benar-benar tidak mengetahuinya. Akan kupercayakan Ohkura untuk menggali semua informasi tersebut.

“Hhhh,” setelah mereka berlalu, aku pun menghela napas dengan berat. Antara merasa tertekan dan juga lega. Entah yang mana yang lebih dominan.

Kulihat Yasu masih tertidur di pembaringan. Tubuh kecilnya yang terbalut perban terlihat begitu lemah dan menyedihkan. Aku bisa melihat beberapa luka sayatan yang telah mengering membekas di lengannya. Hembusan napas anak itu terdengar beberapa kali lipat lebih keras ketika keheningan mulai menyelimuti ruangan tempat kami berada. Membuat dadaku sedikit berdebar. Aku benar-benar merasa senang dia masih hidup.

Kuletakkan tanganku di kepala Yasu dan mulai menyisir rambutnya dengan jari-jari. Kusingkirkan poni dari dahinya yang berkeringat sebelum lalu ikut berbaring di sampingnya. Membiarkan cahaya matahari dari ventilasi menghiburku dengan refleksinya yang terpantul di langit-langit. Sejenak aku merasakan damai di dadaku. Ah, aku ingin pulang, pikirku seraya memejamkan mata.

Meski baru satu minggu terlewat sejak keberangkatan kami dari istana, tapi rasanya sudah seperti berbulan-bulan kami berkeliaran di tengah hutan. Memang ini bukanlah misi pertama yang pernah aku jalani, namun baru kali ini aku tidak mampu meyakinkan diriku bahwa tim kami akan bisa pulang ke istana dalam keadaan hidup. Di samping itu, bayangan sosok Yasu yang berlumur darah dan hampir mati di depan mataku tidak akan pernah bisa kulupakan. Lebih dari apapun, hal yang paling aku takutkan adalah kemungkinan bahwa aku pulang tidak bersamanya.

“Uhuk,” suara batuk Yasu mengagetkanku.

“Yasu!” segera aku terbangun dari posisiku untuk melihat kondisinya. Kusaksikan kedua matanya tengah terbuka dengan perlahan.

“Yasu,” aku tersenyum. Kupegang tangannya dan kuelus kepalanya sambil terus memperhatikan. Sepertinya anak itu sedang berusaha untuk mengumpulkan seluruh kesadarannya. “Syukurlah…” kataku lagi ketika bola matanya mengarah padaku.

Aku memang tidak yakin akan kondisi tulang-tulang dan sendinya, tapi aku tahu persis seluruh tubuhnya tersayat duri-duri tajam saat terjatuh di lembah. Tidak sepertiku dan Ohkura yang hanya mendapat luka-luka lebam, darah Yasu berceceran kemana-mana, melumuri tubuh kecilnya yang malang. Sejak ia kehilangan kesadaran, kupikir kondisi bagian dalam tubuhnya juga terluka dan remuk, namun faktanya ternyata tidak sehoror itu. Kulihat Yasu berusaha untuk duduk dan aku pun segera membantunya.

“Yasu… ada yang sakit?” tanyaku khawatir. Kutopang punggungnya dengan lenganku agar ia tidak terjatuh ke kasur. Ia menggeram lemah saat akhirnya berhasil menegakkan tubuhnya.

“Di mana ini?” tanya Yasu seraya menggoyang tanganku. Aku tidak tahu apakah obat yang diberikan Murakami dan anak buahnya memang sangat manjur, atau sebenarnya Yasu adalah seorang monster. Aku ingat sekali bagaimana tubuhnya jatuh menghantam bebatuan sebelum terhempas ke semak berduri. Meskipun ia memakai pelindung kepala, seharusnya tulang dada, lengan, atau kakinya patah karena benturan tersebut. Tapi yang ada di hadapanku sekarang adalah sesuatu yang ajaib. Luka-luka sayatannya memang sesuatu yang lain lagi, namun Yasu sama sekali tidak terlihat kesakitan ketika ia meregangkan tubuhnya.

“Yasu, kau tidak apa-apa?” bukannya menjawab pertanyaan aku malah balik bertanya pada anak itu.

“Un… sekujur tubuhku rasanya perih, tapi aku rasa aku baik-baik saja,” jawabnya sambil mengelus-elus dadanya yang dibalut perban. Aku pun secara insting ikut mengelusnya.

“Syukurlah,” gumamku pelan.

“Hei Maru, kita ada di mana?” Yasu menepuk-nepuk tanganku yang ada di dadanya beberapa kali. Membuatku sedikit bergeser seraya memberinya ruang untuk bergerak. “Di mana Ohkura?” tanyanya lagi sambil menengok ke kiri dan ke kanan, mencari sosok teman satu tim kami yang tentu saja tidak ada di ruangan ini. Ia kemudian berhenti dan melihat ke arahku. Aku belum sempat menjawab dua petanyaannya tadi ketika anak itu kembali menanyaiku.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya.

Aku benar-benar salut dengan kekuatan hati Yasu. Ia sama sekali tidak punya pikiran negatif ataupun pesimis terhadap situasi. Padahal bisa saja ada kemungkinan kami sedang berada di penjara musuh dan Ohkura sudah mati. Namun jelas sekali di wajahnya tidak ada ekspresi kepanikan. Jika aku ada di posisi Yasu, mungkin saat ini aku tengah menangis sambil gemetaran. Atau aku akan mengira bahwa diriku telah mati dan ada di alam yang berbeda.

“Lebih baik dari kondisimu,” jawabku tenang seraya memeluknya. Seakan seperti sudah lama sekali tidak bertemu, entah mengapa aku merasa rindu pada anak itu.

Yasu tersenyum lemah.

“Hei, kita masih punya misi yang harus diselesaikan,” ucapnya mengingatkan. Kepala lelaki itu kembali bergerak-gerak penasaran mengamati sekeliling ruangan. Aku pun dengan berat hati melepas pelukanku. Walaupun aku benci jika harus kembali pada masalah pekerjaan, aku tetap harus melakukannya karena ini adalah sebuah tanggung jawab.

“Sekelompok orang tak dikenal menyelamatkan kita di hutan dan membawa kita ke tempat ini. Mereka menanyakan hal aneh tentang data perang meskipun kita dikirim bukan untuk itu. Sekarang Ohkura sedang berbicara dengan pemimpin mereka, Murakami Shingo. Sepertinya pria itu punya hubungan dengan General Yokoyama dan-” Yasu memegang kedua pundakku dengan ekspresi terkejut.

“Murakami Shingo?!” ia menggoyang-goyang pundakku dengan heboh, “Kita….. ada di markas Murakami Shingo?!”. Aku mengangguk. “Kalau begitu…. Maru! aku harus bertemu dengannya!” ucap Yasu seraya berusaha turun dari kasur. Anak itu hampir saja terjatuh ke lantai kalau saja aku tidak memeganginya.

“Untuk apa?” tanyaku seraya menarik tubuh Yasu, tidak membiarkannya pergi begitu saja. Kulingkarkan lenganku ke pinggang yang bersangkutan tanpa berniat untuk menyakitinya. Dan Yasu tahu bahwa aku berusaha untuk menguncinya sehingga iapun menepuk-nepuk tanganku meminta agar dilepaskan.

“Tenanglah, Ohkura sedang mencari informasi dari pria itu,” aku menolak membiarkannya pergi walaupun sepertinya Yasu punya sesuatu yang penting untuk dilakukan. Ia baru saja memperoleh kesadarannya beberapa menit lalu dan aku tidak tahu efek samping apa yang akan anak itu terima setelah ini. Aku ingin dia tetap berada di tempat tidur, setidaknya sampai Ohkura kembali nanti.

“Maru! Ini penting!” kurasakan tangan Yasu berusaha memisahkan kedua lenganku yang ada di pinggangnya. Perlawanan yang sama sekali tidak berguna, pikirku. Aku tahu anak itu sedang kehilangan tenaga sehingga dengan mudah aku bisa segera membaringkannya kembali di kasur. Apapun yang ingin Yasu sampaikan kepada pria bernama Murakami tersebut, aku akan mendengarkannya di tempat ini.

“Kau kenal pria itu?” tanyaku memerangkap Yasu di tempat tidur. Dengan kondisinya sekarang, aku yakin ia tidak akan sanggup menyingkirkanku dari atas tubuhnya seperti yang biasa ia lakukan saat kami berduel di kelas bertarung. Lelaki tersebut pun menatapku sambil sedikit terengah.

“Un,” jawabnya mengangguk. “Aku harus menyampaikan data perang padanya,” ia melanjutkan.

Mataku membulat karena terkejut. Apakah ia baru saja mengatakan soal data perang? Mungkin aku salah dengar, pikirku.

“Kau…? Data perang…?” kutatap wajah lelaki di bawahku dengan perasaan bingung. Rasanya aku tidak siap untuk mendengarkan penjelasan panjang dari Yasu mengenai hal ini.

“Benar. General Yokoyama memberikan kepercayaannya padaku untuk menyampaikan data perang istana kepada Murakami Shingo,” Yasu meletakkan kedua tangannya di dadaku. “Maru kumohon, ini bukan saatnya menjelaskan, aku harus segera menyampaikan informasi penting ini,” ucapnya seraya mendorong tubuhku perlahan. Aku bergeming. Kutahan kedua tangannya di pembaringan.

“Tapi…” kutatap mata Yasu. “Kupikir kita bertiga dikirim sebagai pengintai,” ucapku tak percaya. Spekulasiku dan Ohkura selama ini nampaknya telah melenceng jauh dari apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin General Yokoyama memang benar serius mengirim kami dalam misi ini karena suatu hal, dan bukan hanya sekedar menjadikan kami sebagai kelinci percobaan saja.

Yasu terdiam sejenak.

“Bisakah kita bicara dengan posisi yang lebih nyaman?” tanya lelaki tersebut menggoyang kedua pergelangan tangannya. Membuatku buru-buru melepaskan pegangan sambil lalu menyingkir dari atas tubuhnya.

Kutarik tangan Yasu ke arahku untuk membantunya bangun. Masih saja kurasakan miris melihat perban-perban putih membalut seluruh tubuh lelaki itu. Meski sebenarnya tidak ada niatan untuk membuka pembicaraan tentang kemelut misi ini, aku sadar aku tidak punya pilihan lain. Ada rasa penasaran yang mulai membuatku tidak nyaman.

“Beritahu aku yang sebenarnya,” ucapku seraya memosisikan kami berdua untuk duduk berhadapan. Tidak ada sedikitpun keraguan terlihat dari sorot mata Yasu padaku. Dan iapun mulai bercerita.

Ini adalah sebuah konflik yang berlarut-larut, katanya. Cerita klasik soal perebutan kekuasaan dan juga harga diri yang akhirnya mempengaruhi kesejahteraan seluruh elemen kerajaan. Dan sejarah tentang runtuhnya wilayah Jia adalah permulaan bagaimana semua ini bisa terjadi. Jujur aku sama sekali tidak pernah mengunjungi perpustakaan istana untuk membaca sejarah tersebut. Adalah Yasu dan Ohkura di level yang berbeda denganku soal pengetahuan tentang kerajaan. Yasu paham hal itu sehingga dengan sabar menceritakan kepadaku dari awal secara mendetail.

Jadi, sebelum kerajaan-kerajaan yang sekarang membentuk pemerintahannya masing-masing, wilayah mereka berada di bawah kekuasaan satu kerajaan super power bernama Jia. Jia dipimpin oleh seorang raja yang sangat individualis dan war-oriented, yang tidak tertarik kepada wanita sehingga beliau tidak memiliki keturunan. Setelah raja wafat, terjadilah perebutan kekuasaan di antara para petinggi-petinggi kerajaan atas wilayah Jia. Hal itu menyebabkan Jia terpecah menjadi tiga domain besar, yakni Okto, Yoto, dan Saikan.

Saat itu Wilayah Okto berada di bawah kekuasaan General Inagaki, sementara Yoto ada di bawah kekuasaan General Nagase, di mana kedua general tersebut bersama antek-anteknya berambisi untuk  menguasai seluruh wilayah Jia. Karena sama-sama ingin menggantikan posisi raja sebelumnya, baik Inagaki maupun Nagase berusaha untuk menghabisi nyawa satu sama lain. Hal itupun membuat para pengikut mereka juga jadi saling berperang, bahkan tak segan menghancurkan dan meneror pemukiman warga untuk menunjukkan kekuatan masing-masing.

Sementara itu, wilayah Saikan dibawahi oleh General Koichi, yang setia kepada raja Jia sebelumnya. Selalu berusaha menerapkan sistem demokrasi di istana untuk memilih siapa penerus raja berikutnya. Namun sayang, kedua general lainnya tidak menyukai cara Koichi yang terkesan menghalang-halangi mereka untuk meraih posisi raja. Sebab mereka tahu orang-orang istana menaruh kepercayaan besar pada pria itu. Pada akhirnya, mereka pun menganggap Koichi sebagai penghalang yang harus disingkirkan.

Inagaki, Nagase, dan Koichi mau tak mau harus membentuk pemerintahan dan pasukan tempur sendiri untuk mempertahankan wilayah-wilayah mereka. Tahun-tahun penuh peperangan tidak memberikan efek yang sedikit bagi kesejahteraan masyarakat Okto, Yoto, dan terlebih lagi Saikan. Banyak dari warga Saikan yang menjadi korban serangan membabi buta dari kedua pasukan wilayah lain. Terlalu menyedihkan bagi Koichi melihat orang-orang biasa yang setia kepada raja harus mati meskipun konflik ini terjadi bukan karena salah mereka.

Dalam peperangan besar di gunung selama tiga hari tiga malam melawan pasukan Yoto, Koichipun akhirnya gugur di medan pertempuran. Dengan demikian otomatis wilayah Saikan kini berada di bawah kekuasaan Nagase.

Konflik perebutan wilayah Jia di antara Inagaki dan Nagase masih terus berlanjut sampai akhirnya kedua general tersebut wafat karena usia. Pemerintahan Okto dan Yoto diserahkan kepada keturunan-keturunan mereka, yang lambat laun tidak terlalu berambisi dalam merebut kekuasaan. Mereka sadar bahwa konflik internal di Jia yang telah berlangsung selama puluhan tahun justru menguntungkan musuh-musuh Jia.  Meski tak lagi berperang, Okto dan Yoto enggan bersatu. Mereka memutuskan untuk tetap berdiri di atas kaki pemerintahan masing-masing secara independen.

Walaupun di dalam buku sejarah dituliskan bahwa sejak itu kedua pemerintahan hidup berdampingan dengan damai, rupanya hal itu hanya sebuah kisah lama saja. Semenjak Okto dipimpin oleh Raja Kitayama dan Yoto dipimpin oleh Raja Ohno, perang secara terbuka kembali terjadi. Ambisi lama untuk menguasai wilayah Jia tiba-tiba muncul lagi ke permukaan setelah sekian lama terpendam. Dari sinilah kemudian dimulai misi “pengiriman data perang” yang dilakukan oleh anak buah Koichi.

Ya. Meskipun General Koichi telah mati dan Saikan dikuasai oleh Yoto, namun gerakan bawah tanah untuk mengembalikan pemerintahan Jia seperti dulu ternyata masih aktif. Dibawah komando Tsuyoshi, tangan kanan General Koichi, para pengikut setia raja Jia terus mengawasi jalannya pemerintahan Okto dan Yoto. Tsuyoshi mengirimkan dua orang kepercayaannya, yakni Yokoyama Yuu dan Murakami Shingo untuk masuk ke dalam struktur pemerintahan. Yokoyama berhasil menjabat sebagai general divisi pertahanan di Okto, sedangkan Murakami menjadi komandan prajurit di Yoto. Kedua orang tersebut bertugas untuk memata-matai kerajaan sekaligus mengawal jalannya plot kudeta yang telah diatur oleh Tsuyoshi. Yokoyama dan Murakami bertukar “data perang” untuk mengontrol jumlah dan penempatan para prajurit di wilayah pertempuran. Hal itu dibutuhkan Tsuyoshi agar ia bisa mengkalkulasi dan membuat rencana kudeta dengan kemungkinan gagal yang paling kecil.

Puncak dari kudeta tersebut adalah penguatan dokumen resmi kerajaan yang menyatakan bahwa seluruh wilayah Jia, termasuk di dalamnya Okto, Yoto, dan Saikan, adalah satu kesatuan yang absolut. Pemilihan raja pun akan dilakukan secara demokrasi seperti yang pernah digagas oleh Koichi. Dan Jia hanya akan memiliki satu raja saja, di luar itu, jika ada yang memberontak maka silahkan meninggalkan wilayah Jia.

Saat ini, dokumen resmi tersebut dipegang oleh Tsuyoshi setelah Koichi wafat. Semua general Jia tahu tentang dokumen tersebut, namun tak satupun dari mereka mengindahkannya. Bahkan Inagaki dan Nagase di awal secara terang-terangan menyatakan diri memberontak dan memerangi Koichi. Kekuatan dokumen tersebut akan menjadi penarik bagi seluruh elemen Jia, mulai dari anggota istana sampai ke masyarakatnya, untuk bersama-sama bersatu kembali sebagai Jia, bukan Okto, Yoto, ataupun Saikan. Fakta bahwa peperangan perebutan kekuasaan telah menyengsarakan seluruh masyarakat Jia dan memisahkan mereka dalam kubu-kubu tak bertanggung jawab, membuat Tsuyoshi dan para pengikut setia raja semakin yakin untuk menjalankan rencana ini.

Tapi tentu saja tidak semudah itu. Tidak semudah mengayunkan pedang di udara, plot kudeta ini rupanya lebih rumit daripada yang dibayangkan. Sebab nampaknya kini Raja Ohno sudah mulai mengendus kehadiran pembelot di antara orang-orangnya. Itulah alasan mengapa Murakami membangun benteng di dalam hutan yang jauh dari istana. Raja Ohno mengira benteng itu adalah benteng pertahanan, namun Murakami sebenarnya sedang membangun sebuah basecamp sebagai tempatnya mengatur strategi.

“Dan sekarang kita ada di sini,” ucap Yasu mengakhiri ceritanya.

Aku menarik napas. Baru pertama kali kudengar sejarah mengerikan ini dan semuanya terasa seperti sebuah dongeng. Memang tidak banyak yang bisa kuproses di dalam otakku, namun aku sedikit mengerti garis besarnya. Bila dibandingkan dengan konflik dan rencana kudeta itu sendiri, sebenarnya aku lebih ingin tahu alasan mengapa kami bertiga bisa sampai terlibat ke dalamnya. Mengapa prajurit awam seperti kami yang dikirim untuk menyampaikan data perang, dan mengapa Yasu tahu hal ini sementara aku dan Ohkura tidak. Tak ada yang lebih mengusik pikiranku selain keberadaan kami di dalam situasi ini.

“Kau menyembunyikan tujuan misi yang sebenarnya dariku dan Ohkura,” ucapku sambil menatapnya. Tak kulepaskan pandanganku dari Yasu meskipun ia terkadang beralih. “Selama misi, aku dan Ohkura selalu berpikir bahwa General Yokoyama telah menggunakan kita sebagai kelinci percobaannya,” lanjutku lagi, kali ini sambil memegang tangan Yasu dan menggoyangnya. “Apa yang terjadi?” tanyaku dengan alis berkerut.

Yasu berganti memegang tanganku sambil mulai kembali bercerita.

Malam itu, General Yokoyama mendapat informasi dari Raja Kitayama bahwa Okto akan melakukan penyerangan terhadap Yoto secara diam-diam. Wilayah yang akan diserang adalah perbatasan bagian barat, yakni wilayah tempat Murakami berada. Pasukan yang dikirim berjumlah sekitar empat ribu orang dengan jenis senjata dan strategi perang yang berbeda dari biasanya. Beruntung General Yokoyama memiliki akses baik dengan penasihat raja, sehingga ia bisa segera mendapatkan salinan data perang dari orang tersebut. Data perang tersebut harus dikirimkan kepada Murakami yang berada di Yoto agar pria itu bisa mengatur strategi.

Seperti pada perang-perang sebelumnya, mereka berusaha agar tidak terjadi pertumpahan darah yang terlalu besar, terutama jika pertempuran merambat ke wilayah pemukiman warga. Sebelumnya, Tsuyoshi juga selalu menegaskan bahwa Okto dan Yoto harus ditaklukan oleh orang-orang Saikan. Membiarkan Okto dan Yoto menghancurkan satu sama lain tidak akan membuat ambisi kekuasaan mereka menghilang. Karena itulah Yokoyama dan Murakami berperan penting sebagai pengontrol sampai nanti Saikan siap untuk mengudeta kedua kerajaan.

Sayangnya, untuk mengantarkan data perang tersebut, General Yokoyama tidak bisa sembarangan menyuruh orang. Posisi Yokoyama tidak cukup kuat untuk memakai prajuritnya di saat kondisi istana sedang siap perang. Semua misi yang dilakukan prajurit dalam waktu siaga perang harus mendapat ijin dari raja. Sementara Yokoyama sendiri tidak bisa keluar masuk Okto karena akan terlihat mencurigakan. Pada akhirnya, beliau pun membuat sebuah keputusan darurat, yakni menggunakan prajurit muda yang tidak tergabung dalam pasukan perang untuk mengantarkan informasi tersebut. Dan Yasu bersedia menerima tugas itu.

“Kau langsung percaya padanya? Kau yakin dia tidak sedang menghasutmu?” tanyaku heran. Aku tahu Yasu tidak bodoh, ia sangat rasional dan tidak pernah buru-buru mengambil keputusan sebelum memikirkannya dengan matang. Untuknya bisa langsung menerima misi berbahaya ini hanya karena telah mendengar cerita dari atasan kami yang juga belum pasti kebenarannya, adalah hampir mustahil.

Aku paham bahwa hati Yasu sangat lembut, ia adalah orang paling jujur dan paling baik yang pernah aku temui. Dan aku percaya pada pepatah lama, bahwa kejujuran hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang jujur, sehingga aku tidak perlu mencurigai General Yokoyama. Tapi meski demikian, tetap saja aku merasa butuh untuk mempertanyakannya.

Yasu mengangguk.

“Kau masih ingat apa yang menyebabkanku tinggal di panti asuhan?” Ia menaikkan kedua alisnya seraya menarik tangan dariku. Membuatku berhenti bergerak selama beberapa detik.

Ah…begitu rupanya, pikirku. Aku ingat, kedua orang tua Yasu tewas saat terjadi pembantaian di desa oleh pasukan Yoto sepuluh tahun lalu. Ia adalah salah satu dari sedikit manusia yang selamat dari tragedi itu, dan karena usianya yang masih terbilang sangat muda, Yasu pun dipindahkan ke penampungan di istana.

“Aku ingin sekali melindungi Okto dari para pembunuh keji seperti mereka, untuk itulah aku memutuskan menjadi prajurit dan mengabdi pada raja. Tapi cerita General Yokoyama telah membuka pikiranku. Meskipun aku punya kekuatan untuk melindungi Okto, selama kedua kerajaan masih berambisi untuk berkuasa, pembantaian dan peperangan akan selalu tetap mereka lakukan. Kalaupun aku membantu Okto untuk menghancurkan Yoto, lalu apa bedanya aku dengan para pembunuh keji itu? Bukan rahasia lagi jika sistem peperangan kita sangatlah kotor…” Yasu mengelus dadanya perlahan. “Jika apa yang dikatakan General Yokoyama memang benar, aku harus melihatnya dengan mataku sendiri. Aku harus bertemu dengan orang yang bernama Tsuyoshi itu dan membuktikan keberadaan dokumen resmi Jia yang akan mempersatukan Okto, Yoto, dan Saikan,” lanjutnya lagi. “Kalau di sana ada harapan untuk menghentikan semua peperangan ini… meskipun kecil, aku ingin mempercayainya,” Yasu tersenyum lemah kepadaku.

Aku pun tertegun.

Tiba-tiba saja aku merasa bahwa Yasu ada di level yang sangat jauh berbeda dariku. Ia terlalu suci. Terlalu luar biasa. Di balik ketenangannya, aku tidak pernah menyangka bahwa selama ini Yasu memikirkan semua itu, memendam semua itu. Rasa-rasanya sudah tidak ada alasan lagi bagiku untuk menolak kenyataan ini.

“Kenapa kau melibatkan aku dan Ohkura?” telah kuputuskan sebagai pertanyaan terakhirku padanya. Kulihat senyuman Yasu masih bertahan di wajah anak itu. Aku tidak mengerti bagaimana ia bisa terlihat sedemikian menakjubkan meskipun seluruh tubuhnya terbalut perban dan kulitnya penuh luka.

Anak itu mengambil napas sejenak sebelum kemudian menjawab.

“Memang benar akulah yang meminta General Yokoyama untuk memasukkan kau dan Ohkura ke dalam tim,” ucapnya mengangguk. Kepalanya  lalu menunduk untuk menghindari kontak mata denganku. “Jika aku menemukan kebenaran, maka aku ingin kita bertiga ada di sana… di pihak yang benar,” Yasu mengangkat kepalanya perlahan. “Tapi jika aku salah…” lanjutnya lagi dengan suara lirih. “Aku tidak ingin mati kecuali di tangan kalian”.

Hentikan.

Aku tidak ingin mendengarnya. Aku berharap aku tidak mendengarnya. Kalau ternyata benar General Yokoyama hanya memanfaatkan kami untuk mengirim data perang, sementara cerita tentang dokumen resmi Jia dan kudeta itu hanyalah karangannya saja, maka itu artinya kami bertiga adalah para pembelot Okto karena telah membocorkan rahasia prang kepada pihak musuh. Para pembelot harus dihukum mati. Rasa-rasanya aku sudah tahu apa maksud Yasu meskipun ia belum menjelaskan.

“Bunuhlah aku dan bawalah aku kepada Raja Kitayama, katakan bahwa kalian telah menangkap seorang pengkhianat. Dengan begitu kalian berdua tidak akan dicurigai dan bebas dari hukuman. Aku tahu ini pertaruhan. Aku minta maaf atas keegoisanku….” air muka Yasu tiba-tiba terlihat menjadi sangat serius. Dan aku benci hal itu. Sebab itu artinya dia benar-benar memaknai apa yang ia ucapkan.

Tidak. Tidak sama sekali terbesit di benakku pemikiran bahwa kami harus membunuh Yasu untuk menyelamatkan diri. Maksudku, aku dan Ohkura memang pernah punya kecurigaan terhadap General Yokoyama. Tapi seandainya pun kemungkinan buruk itu terjadi, tentu saja orang yang paling pantas dieksekusi adalah General Yokoyama sendiri, bukan Yasu. Fakta bahwa kami bertiga hampir tewas di hutan saat menjalankan misi bahkan telah membuatku lupa tentang seluruh spekulasi. Yang paling penting bagiku saat ini adalah bagaimana caranya kami bertiga bisa bertahan hidup. Tidak peduli kami berada di kubu yang manapun. Pembelot sekalipun.

“Yasu, aku percaya padamu,” ucapku menggoyang pelan bahunya. Kali ini Yasu menatapku dengan ekspresi yang sendu. “Aku akan selalu bersamamu apapun yang terjadi nanti,” ucapku lagi. Aku ingin dia merasa yakin bahwa aku ada di pihaknya.

Yasu mengangguk.

“Aku punya firasat bahwa kita telah mengambil jalan yang benar,” ucapnya kemudian. Aku pun segera memeluk anak itu.

“Aku percaya firasatmu,” balasku seraya mendekapnya erat. Tak begitu mempedulikan ucapan terima kasih yang ia sampaikan padaku setelahnya. Aku tahu ini terkesan aneh karena aku baru saja mendengar sebuah cerita gelap tentang konflik kerajaan. Tapi entah mengapa aku justru merasa tenang. Apa boleh buat, Yasu ada di dekapanku membuat diriku merasa lengkap. Seperti telah menemukan sebuah rumah, aku tidak peduli apa yang terjadi dengan dunia di luar itu.

“Terima kasih,” ucap Yasu lagi sambil membalas pelukanku. Anak itu membiarkan kami terdiam di posisi tersebut selama beberapa detik sebelum akhirnya menepuk punggungku pelan.

“Maru, bisakah kau mengantarkanku menemui Murakami Shingo? Aku harus segera menyampaikan data perang ini,” pinta Yasu seraya menarik tubuhnya dariku, membuatku agak sedikit kecewa karena sejujurnya aku masih ingin memeluk anak itu.

“Un,” jawabku. Apa boleh buat, sekarang memang bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan hal ini. “Kau kuat berjalan?” tanyaku segera ketika Yasu bergeser ke pinggir kasur. Meski kakinya terlihat baik-baik saja, aku tak bisa memastikan apakah ia benar-benar sanggup berjalan sendiri atau tidak.

“Aku merasa ototku melemah, tapi aku masih sanggup untuk berjalan. Apakah kau meremehkan hasil latihan ketahanan fisikku selama ini?” Yasu tersenyum seraya berdiri tegak. Tidak, tentu saja tidak. Aku sama sekali tidak heran. Ia adalah satu-satunya prajurit yang berhasil mengalahkan lima orang berturut-turut saat demonstrasi di kelas bertarung, termasuk aku. Seharusnya aku tidak meragukannya.

“Aku bisa menggendongmu jika kau mau,” candaku seraya memberinya sebuah senyuman. Ia pun hanya tertawa kecil. Ketika aku baru saja hendak membantu memapah Yasu, tiba-tiba saja seseorang masuk ke dalam ruangan tempat kami berada.

“!!”

“Ah, Ohkura,” gumamku dan Yasu berbarengan saat menyadari siapakah sosok tersebut. Teman satu tim kami itu terhenti di tempatnya berdiri sambil memasang ekspresi terkejut.

“Ada apa?” tanya Yasu heran. Tanpa mengatakan apapun Ohkura segera menghampiri Yasu dan memeluk anak itu. Ya, tentu saja, pikirku. Aku sangat memahami perasaannya. Mungkin jika aku ada di posisi Ohkura, reaksiku akan lebih heboh lagi dari itu.

“Ohkura, aku baik-baik saja,” ucap Yasu seraya mengelus punggung lelaki tersebut. “Bagaimana lukamu?” tanyanya kemudian. Sudah jadi kebiasaan anak itu untuk menghawatirkan keadaan orang lain meskipun sesungguhnya ia tahu bahwa kondisinyalah yang paling parah di antara kami bertiga. Namun seperti dugaanku, Ohkura tidak menjawab dan hanya menggeleng saja sambil semakin erat memeluk Yasu.

“Kesehatan Ohkura lebih baik dari kita berdua,” aku mewakilkan lelaki tersebut untuk bicara. Aku juga tidak tahu mengapa.

Keduanya lalu terdiam. Kulihat tubuh kecil Yasu seperti tenggelam di dalam lengan Ohkura sampai aku tidak bisa melihat wajahnya. Suasana pun menjadi begitu hening untuk beberapa menit ke depan, hingga membuatku tak sabar dan akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan mereka.

Kupeluk dua orang tersebut sambil bergurau, “Kita bertiga seperti dayang-dayang istana yang baru saja selesai menonton opera,” dan sukses membuat Ohkura beserta Yasu tertawa geli karenanya.

Aku tidak berbohong. Mereka tahu itu. Kami para prajurit sering memergoki para dayang yang baru saja pulang dari menonton opera berpelukan sambil menangis tersedu-sedu di dapur atau koridor istana. Jika ditanya, mereka tidak hanya akan memberitahu alasannya, tapi juga akan menceritakan seluruh isi pertunjukkan, mulai dari drama percintaan hingga ke tragedi bunuh diri si pemeran utama. Dan yakinlah bahwa hal itu sangat membosankan. Aku pernah mencobanya. Dan aku menyesal telah melakukannya.

Ohkura tersenyum geli.

“Jangan samakan aku dengan kalian yang suka bergaul dengan para dayang sampai-sampai kalian rela memakai baju wanita,” ucap anak itu seraya mendorongku dengan sikutnya. Mendengar itu Yasu pun segera mengangkat kepala untuk melihat ke orang yang bersangkutan sambil bertanya, “Dari mana kau tahu?” dengan polosnya. Aku yakin Ohkura tidak ingin memberitahu Yasu bahwa ia juga pernah melakukan hal tersebut, sehingga ketika aku hendak menjawab, lelaki itu pun kembali mendorongku.

“Dengar, aku akan menceritakan kepada kalian informasi yang telah kudapat dari Murakami Shingo,” ucap Ohkura mengalihkan perhatian. Tapi karena hal itu memang lebih penting, aku pun membiarkannya. “Meski kita tidak bisa langsung mempercayai pria itu, kurasa tidak ada salahnya jika kita memikirkan hal ini,” lanjutnya lagi sambil mendudukkan dirinya dan Yasu di kasur. Aku mengangguk mendengarkan.

“Kalian pernah dengar sejarah tentang wilayah Jia? Konflik ini bermula dari sana,“ ucap Ohkura mulai menjelaskan. Terasa seperti sebuah deja vu, rasa-rasanya aku bisa menebak apa yang akan disampaikan oleh anak itu.

“Tunggu. Jika kau akan menceritakan kepada kami tentang Jia, perebutan kekuasaan, dokumen resmi, pembelotan, data perang, dan kudeta, kurasa kau tidak perlu melakukannya,” ucapku seraya menepuk-nepuk bahu Ohkura pelan. Lelaki itu terhenti dan menoleh ke arahku.

“Yasu telah menceritakan semuanya padaku,” kataku sebelum ia menanyakan apa alasannya. “Dan dia adalah pembawa data perang yang sedang Murakami Shingo cari,” ucapku lagi, tak kubiarkan anak itu merespon. “Dan kita bertiga adalah pembelot,” kurangkul pundak Ohkura dengan bangga. Bukan karena kami pembelot aku merasa bangga, tapi karena aku sudah tahu informasi ini sebelum ia menjelaskannya. Anak jenius itu selalu tahu apapun lebih dulu daripadaku, sehingga meski ini bukan perlombaan, aku merasa menang.

“EEH?!” Ohkura terkejut di tempatnya duduk. Matanya menatap horor Yasu yang mengangguk-angguk mengiyakan.

“Kuharap kita membelot di jalan yang benar,” gumam Yasu sambil membiarkanku duduk di sebelahnya. Aku baru saja hendak memberitahu Ohkura keseluruhan cerita ketika Yasu menggoyang tanganku pelan. “Lebih baik sekarang kalian antarkan aku untuk menemui Murakami Shingo dan kita bicarakan semuanya di sana. Waktu kita tak banyak, data perang ini harus segera diserahkan,” ucapnya mengingatkan. Aku cukup salut pada Ohkura yang bisa menahan diri untuk tidak bertanya dan mengiyakan saran Yasu tersebut.

“Tentu saja,” ucapku segera berdiri. Tanpa mengulur waktu lebih lama lagi, kami bertiga pun segera beranjak meninggalkan ruangan menuju tempat Murakami Shingo berada.

Chapter 1 : Misi Terselubung

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s