[Multichapter] My Love #1

MY LOVE PART 1

By : Matsuyama Retha

Genre : Romance, Friendly, Family

Rating : PG-15

Cast : Matsushima Sou (Sexy Zone), Nakamura Reia (Johnny’s Jr.), Chinen Yuri (HSJ), Chinen Yuna (OC), Hirayama Rena (OC), Koike Minami (Keyakizaka46)

Disclaimer    : Author just owns the story. Matsushima Sou, Nakamura Reia, and Chinen Yuri are belong to Johnny’s Ent. Maafkan atas cerita yang gaje dan ga nyambung ini karena hasil semedi Author ketika kesengsem sm Sou-chan & Reia XD

 tumblr_ne0472gylx1tf40juo_1280_%e5%89%af%e6%9c%ac

 

 

The love that embrace only one in this world. You must believe it.

 

Chinen Yuna POV

 

“Huaaa … akhirnya sampai juga dirumah!!” seruku setelah memasuki rumahku yang sudah sekian lama aku tinggalkan bersama keluargaku. Kepergianku ke German selama 3 tahun lamanya membuatku sangat rindu pada rumahku tercinta ini.

 

*_*_*_*

 

Namaku Chinen Yuna. Aku adalah anak ketiga dari Chinen Takahiro dengan Yamamoto (Chinen) Serika. Dan aku mempunyai kakak laki-laki yang bernama Chinen Yuri dan kakak perempuan yang bernama Chinen Saaya. Usia ku dengan Yuri-nii berbeda 5 tahun dan dengan Saaya-nee berbeda 7 tahun. Cukup jauh bukan? Kedua kakakku ini adalah penyanyi sekaligus artis yang paling banyak diminati selain beberapa artis-artis lainnya. Yuri-nii merupakan member grup Hey Say JUMP, talent agensi grup Johnny’s Entertainment. Nama perusahaan itu cukup terkenal, namun aku tidak begitu menghiraukan nama perusahaan itu.

 

Setelah benar-benar memasuki rumah, akupun melihat seisi ruangan rumahku tercinta ini. Melihat keadaan seisi ruangan dan memastikan apakah masih sama seperti 3 tahun yang lalu?

 

“Uhh!! Kenapa rumahku benar-benar berdebu? Mana ada sarang laba-laba pula. Haduh!!” keluhku kemudian setelah melihat seisi ruangan rumahku ini. begitu banyak debu yang menempel disetiap barang-barang di ruangan ini.

“Efek kita tinggal terlalu lama dan juga di rumah ini tak ada pembantu. Jadilah debu dimana-mana.” Yuri-nii menimpali perkataanku pertanda setuju.

“Uwaaa kasihan sekali rumah kita yang tak terawatt selama 3 tahun!!” seru Saya-nee sembari melepaskan sarang laba-laba yang menempel di sudut dinding.

“Kita harus membersihkannya. Jika tidak, akan menimbulkan penyakit!” – “Yosh!! Mari bekerja!!!” kuhembuskan nafasku untuk mencoba untuk tetap bersemangat melawan kelelahan untuk bisa membersihkan semua debu yang menempel disetiap barang-barang diruangan ini.

 

Yuri-nii maupun Saaya-nee setuju dengan perkataanku. Meskipun mereka juga kelelahan sama seperti diriku, namun ini rumah kami jadi harus dibersihkan. Lagipula tak nyaman juga kalau rumah kami penuh debu seperti ini.

 

.

 

20 menit pun berlalu. Semua barang-barang di ruangan ini sudah tertata rapi dan terlihat bersih. Sangat menyejukkan pandangan mata ini saat melihatnya.

 

Terlintas dipikiranku bahwa aku juga harus memastikan apakah ruangan di lantai 2 juga sama-sama kotornya atau bahkan tidak sama sekali.

 

“Ano, kita harus mengecek lantai 2 apakah kotor juga.” Ucapku pada kedua kakakku.

“Ryokai!”

 

Pada akhirnya, kami bertiga pun bergegas menuju ke lantai 2 dimana letak kamar tidur kami berada. Tentu saja untuk memastikan apakah juga berdebu seperti di lantai 1 tadi. Ku hembuskan nafasku sebagai persiapan diri jika harus ditakdirkan untuk membersihkan ruangan lantai 2 nantinya.

 

Dan benar saja. Sebelum kami sampai dilantai 2, dari pegangan tangga yang terhubung menuju ke lantai 2 itu juga berdebu. Lantai tangga itu pun juga berdebu. Baiklah, sepertinya kami bertiga harus menerima kenyataan ini semua bahwa kami telah meninggalkan rumah tercinta selama 3 tahun lamanya sehingga menimbulkan tumbuhnya debu-debu.

 

Namun kami tetap menaiki tangga yang berdebu itu untuk melihat keadaan ruangan di lantai 2 itu.

 

Dan alhasil, “Astaga!! Kenapa berdebu juga sih!! Beginilah resikonya kalau meninggalkan rumah selama 3 tahun.” semua barang di lantai 2 juga sama-sama berdebu. Kali ini kami juga harus membersihkan seisi ruangan yang ada dilantai 2 ini.

 

“Baiklah!! Aku harus bersemangat membersihkan barang-barang yang ada disini. Yosh!!” ucapku dan segera mengambil alat-alat kebersihan.

“Yoshaaaa!!” seru kedua kakakku secara serempak sembari ikut mengambil alat-alat kebersihan.

 

Setelah semua peralatan kebersihan terkumpul, kami pun memulai membersihkan setiap sudut lorong ruangan yang ada di lantai 2 ini. Dari toilet yang letaknya diujung utara sana, lalu berjalan 180o kearah selatan menyusuri ruang bermain yang biasanya digunakan semua saudara sepupu kami saat bermain disini, lalu kamar papa dan mama yang terkesan ellegant itu, kemudian kamar kakak ku, Chinen Yuri dan Chinen Saaya, lalu akhirnya … kamarku. My sweetie Room!!

 

Perkecualian untuk kamar kedua kakakku, hanya mereka yang membersihkan sendiri. Sementara kamarku, tentu saja aku yang membersihkan sendiri.

 

Setelah selesai membersihkan bagian luar lantai 2, akupun mulai memasuki kamarku yang sudah lama aku rindukan. Semua barang-barang masih tertata rapi. Namun hanya satu saja objek yang menganggu pemandangan mataku. Debu!!

 

“Why it be must dirty again!!” omelku kemudian. Namun bagaimana lagi, aku juga tidak bisa membiarkan kamarku yang penuh dengan debu itu hinggap disetiap barang-barangku.

“Baiklah!! Kali ini kalian .. semua debu .. akan musnah dihadapanku!!” cukup aneh bukan berbicara pada debu yang hanya sebuah objek dianggap tidak berguna itu? Entah karena hal apa aku ingin melakukan itu.

“Yosh!! Ganbarrimasshou!!” dan perang membasmi debu pun di mulai. Sudah cukup lelah untuk membersihnya, membasminya, bahkan menghilangkan debu-debu yang mengjengkelkan itu dari semua barang-barang berharga yang ada dirumahku ini. Terutama kamarku tercinta.

 

.

 

“Huaaaa!! Aku lelah sekali!!” ujarku sambil membaringkan diri ke kasur ku ini. Selain aku merindukan kamarku ini, akupun juga merindukan bisa tidur di kasurku ini yang sangat nyaman.

 

Lalu beberapa saat kemudian aku pun bangkit dari kasur ku dan berjalan menuju kearah jendela. Melihat suasana Distrik Tokyo. Distrik yang sangat kurindukan. Sang matahari pun sudah mulai terbenam secara perlahan seiring berjalannya waktu.

 

“Kenapa cepat sekali? Perasaan tadi masih siang .. apa karena aku terlalu fokus pada pekerjaanku membersihkan rumah sampai-sampai tidak sadar kalau malam hari telah datang?”

 

Kulihat jam dinding yang tertera di dinding kamarku. Waktupun menunjukkan pukul 05.30 pm. Cepat sekali rasanya.

 

“Oi Yuna-chan, hari ini kau dan Saaya-nee memasak ya. Masaklah makanan yang enak!” suara Yuri-nii kini menggema di gendang telingaku dan sesaat kemudian aku menghembuskan nafas ku. Sebenarnya aku lagi tak mood untuk memasak.

“Ugh seenaknya saja Niichan!!” keluhku pada Yuri-nii.

“Mama ‘kan lagi di German sama Papa, jadinya kamu sama Saaya-nee yang masak selama mereka masih disana. Oke? Nanti kubantu sedikit deh.”

“Baka! Bantu kok sedikit. Banyak bantu lah!” seruku yang mulai kesal dengan Yuri-nii.

“Haha! Iya-iya nanti kubantu kok. Sudah sana mandi dulu. Kutunggu dibawah sama Saaya-nee.” Tak lama setelah mengatakan itu padaku, Yuri-nii melesat pergi.

“Hai!!!” teriakku kemudian yang entah terdengar oleh Yuri-nii atau tidak.

“Aku harus mandi sekarang supaya bisa fresh kembali.” Ujarku dan segera turun ke lantai bawah untuk mengambil tas koper ku dan membawanya ke kamarku. Dengan penuh perjuangan aku mengangkat tas koper ku yang teramat berat ini.

 

*+* 6.30 a.m. *+*

 

KRING KRING KRING!!!

 

Aku dapat mendengar suara deringan jam weker yang berdering dengan nyaringnya itu dan sukseslah membuatku bangun dari tidur nyenyak ku.

 

KRING KRING KRING!!!

 

Setelah benar-benar bangun, akupun langsung mematikan jam weker yang terkesan, berisik itu. Kemudian aku merenggangkan semua otot-ototku sesaat agar tidak kaku.

“Sesungguhnya aku masih lelah. Tapi hari ini adalah hari pertamaku masuk di universitas yang baru.” Ucapku sedikit malas. Tapi aku berusaha untuk tetap bersemangat menghilangkan semua rasa lelahku itu. Mungkin dengan cara mandi bisa membuat semangatku kembali lagi.

 

Belum lama aku beranjak dari kasur tercintaku, sebuah suara pintu kamar yang terbuka kini terdengar di telingaku. Nah siapa yang tiba-tiba masuk ke kamarku?

 

“Ohayou Yuna-chan!! Hari ini kau memasuki kampus yang baru ‘kan?” ternyata Yuri-nii yang mendadak masuk. Hal itu membuatku sedikit kesal.

“Niichan!! Bisa tidak ketuk pintu dulu?!” keluhku tak lama setelahnya.

“Haha gomen. Niichan ‘kan mau memastikanmu sudah bangun atau belum.”

“Iya-iya. Aku sudah bangun. Sekarang Niichan keluar dan bantu Saaya-nee memasak! Sana-sana!”

“Iya-iya Baka Imouto!!”

“Baka janai!!”

 

Yeah, beginilah keluarga kami. Tiada hari tanpa keributan simple yang biasa dilakukan. Tapi mengasyikkan dan tidak membuat hubungan keluarga kami menjadi runyam, justru menambah erat hubungan karena jika tidak begini akan terasa sepi.

 

.

 

Jam sudah menunjukkan pukul 07.05. Sebenarnya jam masuk di universitas yang baru masih 35 menit lagi tapi karena aku ingin berangkat ke sana dengan sedikit santai dan tidak terlalu terburu-buru.

 

Setelah mempersiapkan semuanya, dari mandi pagi tadi sampai selesai sarapan, aku pun akhirnya berangkat ke kampusku yang baru.

 

.

 

Selama perjalanan aku terus membawa iPhone-ku sambil melihat kesekitar. Sudah sejak keluar dari rumah aku menjalankan aplikasi MAP yang ada di iPhone-ku. Aku tidak mengerti arah menuju ke kampus yang baru.

 

Aku pun memulai untuk melihat ke sekitar setelah melihat peta dari aplikasi MAP iPhone ku. Dan …

 

BRRUUKKK …

 

“Itteee …”

 

Dengan tidak sengaja aku telah berpapasan dengan seseorang yang ada didepanku.

 

“Ah, sumimasen. Daijoubu desuka?” tanya orang itu padaku. Ternyata orang itu adalah seorang pria.

“Hai. Daijoubu desu.” Balasku cepat. Kemudian pemuda itu mengulurkan tangannya dihadapanku. Dengan cepat aku meraihnya dan segera bangkit berdiri, kemudian aku membersihkan celana jeans ku yang terkena debu di jalanan itu.

“Ah. Maaf aku harus segera pergi.” Ucapku terkesan terburu-buru dan mulai bergegas pergi.

“Ano, Sumimasen.” Sebelum aku benar-benar pergi, tiba-tiba dia berkata sesuatu sehingga membuat langkahku terhenti dan membalikkan badan kearahnya.

“Hai?” tanyaku singkat.

“Ano, apa kau mencari letak kampus Meiji?” tanya pemuda itu yang dengan suksesnya membuatku terkejut. Bagaimana dia bisa tahu pemikiranku?

“Ah, hai …” ucapku singkat dan tersenyum. Pemuda itu pun juga tersenyum. Kawaii!!!  Dengan reflek aku menggumam kata ‘kawaii’ pada pemuda ini.

“Eh, nani?” sepertinya pemuda itu tampak kebingungan. Apakah dia bisa mendengar gumamanku tadi? Tanyaku dalam hati.

“Ah, nani mo. Ano, aku harus ke kampus untuk mengurus registrasi ulang. Jya ne ..” ucapku pada pemuda itu dan melambai-lambaikan tanganku padanya. Dengan refleks aku membalikkan badanku kearah jalanan tadi.

“Chotto!! Kau salah jalan!!” seru pemuda itu yang sukses membuat langkahku mendadak terhenti dan kembali membalikkan badanku kearahnya lagi. Salah jalan? Yang benar saja?! Omelku dalam hati.

“Arah kampus Meiji lewat sini.” Jelas pemuda itu tadi sambil meluruskan tangannya kearah jalanan yang searah dengan pemuda itu tadi.

 

Lalu kulihat iPhone-ku untuk memastikan lagi. Yabaii!! Ternyata aku salah jalan!! Jeritku dalam hati. Untung saja pemuda ini menghentikanku. Jika tidak, aku akan tersesat nantinya.

 

“Ah. Arigatou gozaimasu!!” ucapku dan segera berlari mendahului pemuda itu. Entah kenapa rasanya aku sedikit malu dan jantungku berdetak begitu cepatnya.

 

Ada apa dengan aku ini, kenapa jantungku berdetak kencang sekali? Dan juga wajahku sepertinya terlihat merona. Doushite??

 

*_ Meiji University _*

 

“Yosh!! Akhirnya sampai juga.” Ucapku dengan perasaan lega. Terlihat dengan jelas di gedung universitas itu terdapat tulisan ‘MEIJI UNIVERSITY’ dengan huruf kapital. Menurut kata orang-orang, universitas ini benar-benar elit se-Jepang ke-2 setelah Keio University.

 

Aku merasa bahwa diriku beruntung sekali bisa menjadi mahasiswi di tempat ini. aku melihat ke sekitar halaman universitas ini. Banyak sekali mahasiswa yang keren dan cantik disini dan beberapa mahasiswa dari luar negri juga ada. Kini rasa gugup pun mulai menampakkan dirinya lagi di dalam diriku. Entah kenapa aku merasakan seperti itu. Ah, mungkin karena baru pertama kalinya masuk ke universitas baru, wajar saja bukan kalau timbul rasa gugup?

 

“KYAAAAAAA”

 

Mendadak semua mahasiswi yang ada disekitarku berteriak tidak karuan sehingga membuatku bergidik sendiri dan membuat langkahku terhenti. Rasa penasaran pun mulai timbul dalam pikiranku. Hal apa yang membuat mereka berteriak histeris seperti itu? Bagaikan bertemu sang malaikat baik hati dan ramah. Seketika itu juga aku membalikkan badanku menuju kearah kerumunan mahasiswa disana.

 

Dan hal apa yang membuat mereka menjadi heboh sendiri? Yup seorang pemuda tampan yang baru saja masuk itu-lah yang membuat heboh semua mahasiswa disekitarku ini, kecuali aku.

 

Dia kan pria yang aku temui di jalan. Batinku setelah benar-benar mengetahui pria yang dikerumuni banyak mahasiswi itu.

 

“Kyaaa … Reia-kun!!! kakkoi na!!” – “Reia-kun, daisuki!! Kyaaaahhhhh!!!”

 

Begitulah kata-kata yang terlontar di bibir semua mahasiswi disini. Akupun bingung sendiri, hal apa yang di sukai dari pria itu?

 

Jadi namanya Reia yah? Pikirku kemudian setelah mengetahui nama pria itu. Kulihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Waktu sudah menunjukkan pukul 7.27 a.m.

 

Yabaii!! Aku harus cepat menuju ke ruang registrasi sekarang!

 

Mulailah aku berlari mengitari koridor universitas. Sampai-sampai aku ….

 

BBRRUUKK

 

“Itte …” keluhku kemudian. Lagi-lagi aku menabrak orang disini.

“Sumimasen, daijoubu ka?” tanya seseorang padaku. Suara itu adalah suara anak gadis.

“Hai daijoubu desu.” balasku cepat dan segera bangkit berdiri.

“Kau mahasiswi baru ya?” Tanya gadis itu.

“Un. Hajimemashiete .. watashi wa Chinen Yuna desu. Yoroshiku onegaishimasu.” Ucapku memperkenalkan diri pada gadis yang ada didepanku itu.

“Hah?! Chi-Chinen Yuna? Kau adik kandung Chinen Yuri Hey Say JUMP itu?!” Tanya gadis itu yang benar-benar terkejut jika mengetahui namaku. Terlebih nama margaku ini.

“Hai. Chinen Yuri no imouto desu.” Jawabku sembari menganggukkan kepala.

“Huaa senangnya bisa bertemu dengan adiknya Chinen-kun. Ah hajimemashita, watashi wa Hirayama Rena desu. Chinen Yuri no fansu. Yoroshiku onegaishimasu. Kuharap kita bisa jadi teman baik, Yuna-chan!” gadis itu pun tersenyum kearahku setelah memperkenalkan namanya.

“Ah! Tentu, Rena-san. Ano, kau bisa menunjukkan padaku ruang registrasi ulang?” ucapku masih terlihat kebingungan maupun terlihat kikuk. Sungguh, ini adalah teman pertama yang berbicara padaku hari ini.

“Ayo ikut denganku.” Pada akhirnya gadis yang bernama Rena itu menunjukkan arah menuju ke ruang registrasi ulang.

“Nah, ruang registrasi ulangnya ada disana. Douzo.” Ucap gadis itu sambil menunjukkan ruang registrasi yang jaraknya masih beberapa senti lagi.

“Wakatta!! Arigatou gozaimasu.”

“Ngomong-ngomong, Yuna-chan jurusan apa?” Tanya Rena-san padaku.

“Sastra Inggris.” Jawabku singkat dan ditambah dengan senyuman sebaik mungkin.

“Sastra Inggris? Huaa dapat teman baru!!” Rena-san pun berteriak kegirangan.

“Wah, senangnya dapat teman satu jurusan. Yokatta desu!” ucapku.

“Un. Perlu aku temani?” Tanya Rena-san yang menawarkan diri.

“Tidak perlu Rena-san. Hontou ni arigatou gozaimasu.” Ucapku setengah membungkuk pada Rena.

“Ah, wakatta. Kalau begitu aku ke kelas dulu. Jya ne ..” Rena pun melambaikan tangannya kearahku dan akupun membalas lambaiannya. Betapa ramah nya dia padaku.

 

Aku berlari tergesa-gesa menuju ruang registrasi untuk mengurus keperluan tentang kepindahanku di universitas ini. Seperti nya ini sudah jam masuk kelas. Tapi entahlah karena jam kelas di universitas ini pasti berbeda-beda.

 

“Sumimasen.” Ucapku sebelum benar-benar masuk ke ruang registrasi ulang.

“Ah, kau yang bernama Chinen Yuna?” tanya seorang pria paruh baya mengenakan kemeja berwarna putih dengan sedikit garis-garis bening disekitar kemeja itu. Sepertinya dia yang mengurus keperluan registrasi.

“Hai.” Jawabku singkat dan sopan tentunya.

“Mari silahkan masuk.” Suruh beliau padaku.

“Hai!!” balasku dengan sopan sambil membungkukkan badan kearah beliau lalu masuk ke dalam ruangan itu.

 

Setelah berbicara dengan beliau, mengurus bagian-bagian registrasi dan sebagainya, beliau langsung memberitahu ku bahwa aku akan di kelompokkan dalam kelas A dengan penggolongan jam kuliah yang sudah ditentukan.

 

Terlintas dipikiranku, bagaimana keadaan di sana? Bagaimana sikap mereka? Bagaimana keadaan dikelas saat belajar? Apakah mereka orang yang famous?  Beberapa tanda tanya langsung menyerbu pikiran ku. Sekarang aku sangat merasa gugup sekali.

 

GROUP A ENGLISH LITERATURE CLASS

 

Sesampainya kami di ruang kelas kelompok A, bapak yang mengurus registrasi ku tadi mulai mengetuk pintu kelas yang tertutup itu.

“Chotto matte kudasai.” Seru suara seorang dosen di dalam kelas. Lalu di buka nya lah pintu kelas itu. Kemudian bapak itu beserta dosen sedang mengobrol sesaat.

“Chinen-san, ini Dan-sensei. Dia dosen bagian Integrated Course di kelas grup A. Beliau juga sebagai wali studimu.” Jelas bapak itu sedemikian singkat mengenai perkenalan dosen Sastra Inggris. Kemudian bapak itu menyerahkanku langsung pada Dan-Sensei, dosen bahasa inggris. Kebetulan sekali beliau adalah wali di kelas grup A dan sekarang adalah jam pelajarannya di kelas ini.

 

Aku pun mengikuti Dan-Sensei di belakangnya. Sesungguhnya aku masih merasa gugup. Aku harap mahasiswa di kelas grup A itu bersikap “friendly

 

Dan-Sensei pun masuk kelas. Namun sebelumnya, beliau menyuruhku untuk menunggu di sebelah pintu kelas. Dan aku pun menuruti perkataannya itu.

 

“Wakatta. Kali ini kita kedatangan mahasiswa baru.” Ucap Dan-sensei pada seluruh mahasiswa kelas itu. Kemudian beliau mengalihkan pandangannya kearahku. “Chinen-san, douzo.” Ucap beliau mempersilahkan aku masuk. Dengan rasa gugup, akupun mulai memasuki kelas ini.

 

“Are? Chinen-san? Masaka?!!”

“Tak mungkin Chinen-kun kuliah lagi, bukan? Dia sudah lulus beberapa tahun yang lalu.”

“Tak mungkin juga Chinen Saaya.”

“Lalu Chinen siapa?”

“SSStttttt……”

 

Belum juga aku memasuki kelasku, beberapa celoteh dari mahasiswa di kelas ini membuatku benar-benar gugup dan juga sedikit heran. Apakah mereka juga mengenal kakakku? Sampai mereka hafal betul kapan kakakku lulus kuliah. Ah, aku benar-benar gugup sekarang.

 

“Minna .. kochira wa Chinen-san”

“Hai, hajimemashite. Watashi wa Chinen Yuna desu. Yoroshiku Onegaishimasu.” aku langsung membungkuk ke arah semua mahasiswa di kelas ini.

“Yoroshiku!!!” respon semua mahasiswa disini.

“Huaaa Yuna-san kawaii!!”

“Meskipun wajahnya gak mirip Chinen-kun, tapi benar-benar cantik!”

“Nee Yuna-san, benarkah kau adiknya Chinen Yuri?” Aku pun terkejut ketika salah seorang mahasiswa menanyakan hal itu padaku.

“Ah, hai. Chinen Yuri no imouto desu.” Ucapku kemudian sembari tersenyum malu.

“Huaa sugoi!! Kita dapat teman yang merupakan adik dari seorang artis nih!”

“Hei, dia juga adiknya Chinen Saaya-san ‘kan?”

“Yaa!!”

 

Yokatta. Mahasiswa di kelas ini bersikap ramah, sama seperti yang aku inginkan, ureshii na!!!

 

“Hai, Chinen-san. Silahkan duduk di bangku manapun yang kosong.” suruh Dan-sensei yang mempersilahkanku untuk mencari bangku kosong. Sejenak aku melihat ke sekitar kelas. Memperhatikan wajah setiap mahasiswa disini.

 

Sempat dilanda rasa kebingungan untuk memilih bangku, tiba-tiba seorang mahasiswi melambaikan tangan nya padaku.

 

Itukan, Rena-san!! Gadis yang tadi memberitahuku ruang registrasi. Aaah yokatta aku sekelas dengan nya. Akupun hanya membalas lambaian itu dengan senyuman yang terbaik.

 

Lalu aku kembali memperhatikan semua mahasiswa dikelas ini. Namun salah seorang pria mengalihkan pandanganku, sehingga aku kini hanya melihat pria itu.

 

Dia .. dia kan pria yang namanya Reia itu bukan? Dan .. kami sekelas??

 

2 buah pertanyaan kini mulai muncul dipikiranku. Tak disangka aku bisa sekelas dengan pemuda itu. Benar-benar sangat kebetulan, haha…

 

Pemuda itu tampak tertawa dengan ke-3 temannya. Setelah dia menyadari kedatanganku untuk menuju ke bangku kosong yang dekat jendela itu –dimana ada Rena-san di sana-, pemuda itu langsung mengalihkan pandangannya dan tersenyum padaku. Shitteru?!!  Aku langsung mengalihkan pandanganku dan segera melangkah menuju ke bangku ku yang letaknya tepat dibelakang Rena-san dan dekat dengan jendela.

 

          ‘anak bernama Reia itu?!’

 

Aku tidak akan memikirkannya. Aku pun langsung duduk dan menyiapkan buku Integrated Course yang telah kubeli sebelum waktu kegiatan perkuliahan dimulai dan segera memperhatikan Dan-Sensei yang menjelaskan materi itu untuk 1 jam lebih 30 menit kedepan.

 

 

“Aaaah, aku tidak mengerti apa yang sensei jelaskan” keluh Rena-san, wajahnya terlihat frustasi sekali. memang, pelajaran tadi susah dimegerti, tapi aku dapat memahami sedikit demi sedikit.

“Ano ne, Rena-san. Aku beruntung bukan, bisa sekelas denganmu.” Ucapku kepada Rena-san sambil ternyemun. Untuk kali ini aku merasa sangat senang, bisa sekelas dengan gadis baik ini. Terlebih dia ini fans berat kakakku, Chinen Yuri.

“Un, yokatta nee”

“Hehe”

“Ayo kita ke kantin sembari menunggu kelas berikutnya.”

“Hai.”

 

Sekarang adalah waktu istirahat dimana kelas Integrated Course telah dilaksanakan. Aku meregangkan tubuh ku sejenak sebelum pergi ke kantin bersama Rena-san. Duduk selama beberapa jam membuat pinggangku sedikit pegal. Aku melihat kearah jendela. Cuaca diluar sangat cerah. Awan nya pun terlihat indah. Kirei naa…

“Ikou, Yuna-chan!” Ajak Rena-san yang sudah bersiap untuk pergi ke kantin itu.          “Hai!” jawabku dengan semangat yang ditambah dengan senyuman sebaik mungkin.

 

Selama perjalanan menuju kantin kampus, Rena-san menjelaskan beberapa tempat yang penting di universitas Meiji ini. Banyak sekali sejarah didalamnya terlebih pembuatan gedung universitas ini. Bahkan di tempat tertentu terpasang beberapa foto yang berjejer rapi di dinding. Menampakkan foto gedung universitas dari pertama kali dibangun sampai saat ini. Benar-benar universitas terbaik!

 

Sesampainya kami di kantin kampus, sesaat membuatku terhenti sesaat. Mengapa? Tentu saja aku terpesona dengan nuansa kantin disana. Benar-benar luas dan lebar. Banyak sekali stand-stand makanan yang berdiri disana menyajikan makanan yang berbeda dan unik. Benar-benar kampus impian.

 

“Nah, disini banyak stand makanan, jadi silahkan pilih mau beli apa. Haha!” ucap Rena-san sembari tertawa pelan.

“Ah kau benar, Rena-san. Disini banyak sekali stand makanan. Benar-benar membuatku bingung mau beli apa. Hahah!” ucapku kemudian dan ikut tertawa.

“Ne, mulai sekarang panggil aku Rena-chan, oke?”

“Hai!”

 

“Chotto!!!” tiba-tiba saja suara seorang pemuda terdengar jelas di telingaku. Padahal kantin ini cukup ramai dengan banyak mahasiswa dari berbagai fakultas, tapi kenapa bisa terdengar?

“Eh, Matsushima-kun?” ucap Rena-chan yang tersirat nada bertanya pada pemuda itu. Namanya Matsushima-kun? Nama marga kah?

“Ah, doumo Matsushima Sou desu! Boku wa Chinen Yuri-kun no fansu desu!” ucap pemuda bernama Matsushima Sou itu yang memperkenalkan diri dihadapanku.

“Ah, Chinen Yuna desu. Jadi, kau juga fans kakakku?” tanyaku padanya.

“Yes! Ah iya, panggil aku Sou-chan, oke Yuna-chan?” ucapnya yang sedikit memaksakan diriku untuk memanggilnya ‘Sou-chan’.

“Y-Yuna-chan?!!” betapa kagetnya diriku saat Sou menyebut nama kecilku.

“Iie yo?” Tanya Sou dengan tampang wajahnya yang terkesan .. err kakkoi itu.

“Ah, un. Iie desu yo, Sou-chan.” Ucapku sedikit gugup.

 

“KYAAAAA… dia berbicara dengan gadis itu. Aku benar-benar iri”

“Iya benar-benar beruntung gadis itu.”

 

Beberapa desas-desus kini terdengar disekitar kantin ini. Pandangan seluruh mahasiswi yang berada di kantin ini semuanya mengarah kearah kami bertiga. Benar-benar gugup. Tapi, entah ini hanya firasatku atau bukan, Sou-chan dan Rena-chan tak menghiraukan pandangan seluruh mahasiswi disini. Apa mereka tak menyadarinya? Pikirku kemudian.

 

“Nah, sekarang kita cari makan.” Tiba-tiba lamunanku buyar ketika Sou-chan berkata ‘cari makan’ dengan penuh semangat sembari berjalan melewatiku dan juga Rena-chan.

“Baka!!” teriak Rena-chan dan berjalan mengikuti arah laju Sou-chan. Aku hanya tertawa kecil dan juga melangkah mengikuti mereka.

 

Sepertinya aku harus bisa mengabaikan desas-desus tak jelas itu.

 

*_*_*_*

Author POV

 

Seorang pemuda dengan kacamata hitam yang bertengger di batang hidungnya, kini telah menapakkan kakinya setelah -diduga- menguntit ketiga mahasiswa –yang diantaranya 2 gadis dan 1 pemuda- yang berjalan menuju kantin untuk membeli makanan.

 

Kacamata itu pun telah dilepasnya secara perlahan sehingga tampaklah manik mata yang kecoklatan itu.

 

“Sou-chan? Apa-apaan dia itu seenaknya saja memaksa Yuna-chan untuk memanggilnya Sou-chan. Apa yang dia pikirkan hah?!!”

 

Seorang pemuda yang berwajah tampan –dan juga tersirat cantik didalamnya- kini memandang tak suka terhadap ketiga mahasiswa yang berada di kantin sana. Terlebih pandangannya mengarah pada satu orang.

 

Ketiga mahasiswa itu adalah Matsushima Sou, Chinen Yuna, dan Hirayama Rena. Namun pandangan tajam pemuda itu kini mengarah pada Matsushima Sou.

 

“Entah kenapa aku tak suka melihat Yuna-chan tampak akrab dengan Sou. Aku benar-benar merasa tersaingi.” Keluh pemuda itu dan tanpa sadar tangannya mengepal kuat.

 

Matanya menatap tajam pada Matsushima Sou yang saat ini berbincang ria dengan Chinen Yuna. Tak disangka pula Hirayama Rena hanya ikut berbaur saja disana.

 

Raut wajah pemuda itu kini memandang tak suka ketika melihat keakraban Matsushima Sou dengan Chinen Yuna. Tersirat makna ‘cemburu’ pada raut wajahnya.

 

“Tak akan kubiarkan kau memenangkan hati Yuna-chan setelah apa yang kau lakukan dulu dengan merebut semua yang harusnya milikku, Matsushima Sou!!” setelah mengucapkan sebuah kalimat yang tak mengenakkan, terlebih menekankan pada nama Matsushima Sou, pemuda itu langsung pergi meninggalkan kantin itu.

 

“KYAAAAKK REIA-KUN!!!”

“KAKKOI!!!”

 

Teriakkan para mahasiswi disana kini tak dihiraukan oleh pemuda yang disapa Reia-kun itu. Bernama lengkap Nakamura Reia.

 

Dirinya pun kembali memasang kacamata hitamnya lagi sembari berjalan cepat meninggalkan kantin itu menuju kearah yang belum ditentukan olehnya sendiri.

 

Di sisi lain, seorang gadis cantik dengan rambut sebahu berwarna coklat gelap yang dikucir samping itu pun kini merasakan hal yang sama seperti Reia. Memandang tak suka ke arah tiga mahasiswa tadi.

 

Tangan gadis itu mengepal seolah emosinya cepat tersalur di tangannya dengan menggunakan jurus teleportasi. Manik matanya yang kecoklatan itu seakan mengeluarkan api yang membara. Terlebih hatinya saat ini.

 

“Lihat saja kau, Chinen Yuna. Tak akan kubiarkan kau merebut Sou-chan dan juga Reia-kun!!” ucap gadis itu dan pergi meninggalkan kantin.

 

To be continued~

 

Comments are Love ❤ :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s