[Multichapter] Le ciel e Youkoso (chap 2)

Tittle               : Le ciel e Youkoso : One Step Ahead
Author            : Fuchii & Aquina
Genre              : AU, Slice of Life
Cast                  : Lewis Jesse, Tanaka Juri, Morimoto Shintaro, Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Kouchi Yugo (SixTONES); OC
Disclaimer    :
SixTONES members are under Johnnys & Associates

 potato_201701_14-copy

Project natal yg terinspirasi oleh photoshoot di majalah Potato edisi Januari 2017. Mohon maaf apabila ada typo dan alur yg terkesan cepat karena author sendiri ngerjainnya ngebut demi ngejar natal meskipun ujung-ujungnya ga dipost pas natal juga X’D

Selamat menikmati! Ditunggu komennya~ :3

*****

“Le ciel e youkoso.”

Ucap keenam pelayan tampan saat pelanggan membuka pintu kaca Café itu. Jangan lupakan senyum ramah mereka setiap kali melayani para pelanggan.

Le ciel Café yang hanya buka saat menjelang natal. Café itu selalu penuh setiap harinya. Café yang buka pada hari Senin hingga Kamis pukul 10 siang hingga jam 6 sore selama satu bulan tepat sebelum hari natal. Café yang sangat terkenal dikalangan remaja putri bukan hanya karena pelayannya merupakan pemuda yang tampan ataupun makanan dengan rasa yang enak, tapi berdasarkan rumor yang beredar, pelayan dari Café ini akan menemanimu dan membantumu menyelesaikan masalah yang sedang kau hadapi. Tentu saja servis itu tidak semata-mata dapat kalian minta saat datang ke sana seperti kalian memesan cheesecake ataupun milkshake, bisa dibilang itu adalah secret service Le ciel Café.

Berdasarkan rumor juga, jika kalian datang ke Café ini saat sedang memiliki masalah, entah bagaimana cara mereka mengetahuinya, salah satu dari pelayan itu akan memberi kalian secarik kertas berwarna yang bertuliskan “Kau bisa bicara denganku jika kau sedang memiliki masalah” beserta dengan nama si pelayan juga tempat dan waktu yang dia berikan untuk pertemuan.

Pelayan itu akan menunggu kalian seharian di tempat pertemuan itu. Karena saat itu ada seorang gadis yang pada mulanya tak mempercayai tulisan yang tertulis pada kertas kecil itu. Namun akhirnya ia memutuskan untuk datang untuk memastikan apakah hal itu benar atau tidak. Pelayan itu menuliskan untuk bertemu pada jam 11 siang, namun gadis itu baru sampai di sana pada pukul 7 malam, dan pelayan itu masih setia menunggu di sana. Tak ada ekspresi kekesalan pada wajah pemuda itu, sebaliknya, ia malah tersenyum dan berkata, “Akhirnya kau datang juga. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu. Jadi, maukah kau menceritakan hal yang mengganggu pikiranmu? Aku akan membantumu.”

*****

Gadis berambut ikal sepunggung itu berjalan menyusuri pertokoan yang cukup ramai mengingat ini sudah mendekati natal. Banyak orang berlalu lalang dengan membawa kantong berbagai ukuran yang gadis itu yakini sebagai hadiah natal yang telah mereka beli. Netra bulatnya menangkap sosok gadis cantik yang tengah berjalan beriringan dengan dua temannya. Mereka berhenti dan berbincang sebentar mengenai baju yang dipajang pada etalase toko. Kedua teman gadis cantik itu mendahuluinya masuk ke dalam toko.

“Gadis cantik yang fashionable. Ia pasti gadis kaya yang hendak membeli banyak baju untuk koleksinya.”

Tapi di luar dugaan, gadis cantik itu memandang nanar pada etalase toko itu. Kemudian tanpa sengaja, saat gadis berambut ikal itu melewatinya, ia mendengar helaan napas dan kalimat yang keluar dari gadis cantik tadi, “Gaji baito-ku belum cukup untuk membeli ini.”

“Eh? Gaji baito? Yang benar saja? Bukannya dia gadis kaya yang tidak perlu baito? Sial. Aku tertipu penampilannya…”

.

.

Irasshaimase,” seorang pemuda berperawakan kurus tinggi dengan dandanan rapi menyambut gadis berambut ikal itu.

Hanya saja, meski penampilannya bisa dibilang kelewat perlente—kemeja putih polos yang disetrika licin tanpa kerutan serta rambut yang disibak ke belakang dan ditata menggunakan pomade—untuk ukuran pelayan café, tapi bahkan dengan senyum ramah sekalipun, wajah pelayan itu terlihat lebih mirip yankee yang gadis itu lihat di film-film. Hal itu sontak membuat gadis itu terperanjat kaget.

“Orang seperti ini… ada di tempat seperti ini…? Serius?” ucapnya dalam hati.

“Meja untuk berapa orang, Ojou-sama?” pelayan ber-nametag Taki itu bertanya dengan ramah.

“Satu orang,” jawabnya singkat dengan senyum yang dipaksakan.

Pelayan itu mengangguk dan tersenyum, “Baiklah, silakan memesan lebih dulu di kasir. Akan saya siapkan meja untuk Ojou-sama.

Tanpa menjawab, gadis itu kembali memaksakan senyum sekilas dan mengangguk sebagai gantinya. Ia berjalan menuju kasir untuk memesan sesuai dengan instruksi pelayan tadi. Akan tetapi, detik berikutnya ia kembali terperanjat kaget. Seorang pemuda berperawakan bongsor dengan rambut dicat coklat terang menyambutnya di balik meja kasir.

“Apa benar café ini penuh dengan ikemen seperti yang orang-orang bilang?” tanyanya dalam hati mulai meragukan.

“Mau pesan apa?” tanya si pelayan dengan nada, yah… ramah selayaknya seorang pelayan. Tapi tetap saja setiap kali gadis mencoba mencuri pandang untuk memperhatikan si pelayan, fisik si pelayan sedikit menggelitik hatinya.

“Eh… aku mau pesan ini dan ini,” kata ­Haruna beberapa detik kemudian dengan menunjuk buku menu yang terbuka di hadapannya.

“Baiklah. Pesanan ini atas nama siapa?” tanya pelayan ber-nametag Shin itu.

“Haruna.”

“Baiklah. Silakan mengambil tempat duduk yang telah disiapkan,” kata sang pelayan diakhiri senyum lebar dan mengulurkan tangannya ke arah pelayan ber-nametag Taki tadi.

Sementara itu Haruna hanya tertawa canggung. Ia beranjak menuju meja yang telah disiapkan  di pojok ruangan. Sambil berjalan, ia memperhatikan interior café yang terkesan sederhana tapi elegan. Bagus, tapi tak ‘seramai’ nama cafénya. Setidaknya begitu menurut Haruna.

.

.

“Pesanan atas nama Haruna-sama?”

Haruna yang awalnya sudah melupakan pelayan ber-nametag Taki tadi karena telah larut dalam obrolan singkat yang menyenangkan dengan teman-temannya melalui aplikasi di ponselnya, mendadak terpaksa mengingat wajah yankee itu lagi. Karena pelayan itu tengah tersenyum di hadapannya tersenyum ramah sambil membawa nampan berisi chocolate layer cake dan vanilla milkshake pesanannya.

Ojou-sama?

“Ah, iya benar,” Haruna tersadar belum menjawab pertanyaan sang pelayan.

Pelayan itu tersenyum dan meletakkan pesanan Haruna di meja bulat kecil itu. Setelah mengucapkan kalimat ramah seperti pelayan kebanyakan, ia undur diri dari hadapan Haruna.

“Yang benar saja?! Kenapa harus dia yang mengantar pesananku? Memang, sih, dia ramah, tapi… ah sudahlah.”

Memutuskan untuk mengakhiri rutukannya dalam hati, Haruna mengambil garpu kecil yang terbalut tissue berwarna light blue di samping piring kecil cake-nya. Saat mengangkatnya, Haruna merasa jika jemarinya menyentuh sesuatu di belakang tissue itu.

Gadis berambut ikal itu membalik tissue itu dan mendapati lipatan kertas berwarna biru.

DEG

Jantung Haruna berdetak kencang. Tentu saja ia tahu apa itu. Secarik kertas yang akan kau dapatkan di café ini jika kau memiliki masalah. Sedangkan Haruna merasa ia tak memiliki masalah apapun.

Ataukah surat ini salah alamat?

Mengesampingkan berbagai spekulasinya, Haruna menyimpan surat itu ke dalam sakunya dan mencoba menikmati cake pesanannya dengan santai meski irama jantungnya masih tidak beraturan.

Beberapa saat kemudian, seorang pelayan dengan potongan rambut pendek dan dicat pirang berjalan ke arah Haruna diikuti tiga orang perempuan yang kemudian duduk di meja di sebelahnya. Awalnya, mata Haruna fokus memperhatikan ketiga perempuan itu sampai sang pelayan mengeluarkan suaranya.

“Silakan duduk, Oujo-sama-tachi. Mohon tunggu sebentar, pesanan kalian akan segera datang.”

Haruna langsung luluh oleh suara husky si pelayan yang khas. Benar-benar tipe Haruna. Ia juga tak melepaskan matanya dari punggung si pelayan yang berjalan menjauh. Tubuh tinggi ramping, kulit yang bisa dibilang kelewat putih untuk ukuran laki-laki, wajah yang manis, ditambah suara yang membuat hati Haruna bergetar mendengarnya.

“Ugh, benar-benar ikemen…” pujinya dalam hati. Tapi kemudian, delusinya langsung sirna karena teringat sesuatu. Sambil melihat sekilas ke arah ketiga perempun tadi, ia merutuk dalam hati, “Beruntungnya mereka dilayani pelayan setampan itu…”

Bukan berarti pelayan ber-nametag Taki tadi tidak tampan, Haruna mengakui jika pelayan itu cukup manis saat tersenyum. Nada bicaranyapun tak berbeda dengan pelayan berambut pirang tadi, sama-sama ramah. Mungkin karena kulit tan dan tatanan rambutnya bukanlah tipe Haruna untuk menganggap pemuda itu sebagai ikemen.

.

.

“Kudengar Rikugien Garden itu tempat yang menyenangkan untuk menenangkan diri dari hiruk pikuk kota. Maukah kau menemaniku kesana? Aku menunggumu di depan taman tanggal 24 Desember jam 1 siang.”

Mengikuti instruksi surat, atau lebih tepatnya memo yang ditulis dengan tinta hitam di atas kertas berwarna biru itu, Haruna kini berdiri di depan taman yang terletak di tengah kota Tokyo itu. Dia baru tiba beberapa menit yang lalu dan masih ada sekitar sepuluh menit sebelum jarum jam tepat menunjukkan pukul satu. Haruna memutuskan untuk menunggu di sana.

“Jam 1 lebih 10 menit,” Haruna melirik jam tangannya. “Kemana dia? Apa benar dia akan datang?”  Haruna menyapukan pandangannya. Tak satupun wajah yang dikenalnya sebagai si penulis surat—setidaknya wajah-wajah yang ia lihat di café tempo hari—itu di antara orang yang berlalu lalang. Ia menghela napas kecil. Kakinya sudah terasa pegal karena telah berdiri selama 20 menit. “Atau mungkin dia sudah di dalam?”

Setelah memikirkan berbagai kemungkinan, akhirnya gadis itu memutuskan untuk masuk ke dalam area taman. Mungkin saja orang yang ditunggunya telah berada di dalam. Sekalian saja Haruna ingin mengistirahatkan kakinya yang sudah mulai kaku karena lama berdiri dan terkena udara yang dingin walaupun ia telah mengenakan stoking yang cukup tebal.

Ia mengambil tempat duduk di bangku taman panjang yang tak terlalu jauh dari bagian depan taman. Bisa saja Haruna memilih untuk pulang. Lagipula siapa yang menjamin ia akan datang? Pikir Haruna. Tapi entah kenapa gadis itu lebih memilih untuk menunggu.

“Haruna-san?”

“Eh?” Haruna mendongak. Netranya mendapati wajah yang dikenalnya sebagai pelayan ber-nametag Taki tempo hari tengah tersenyum padanya. Namun hari ini pelayan itu terlihat lebih santai dengan kaos dibalut jaket navy­ dan celana jeans. Tatanan rambutnya juga berbeda, pemuda itu membiarkan poni cokelatnya jatuh menutupi dahinya. Di luar dugaan, Haruna sempat terkesima dengan pemuda di hadapannya.

“Haruna-san?” pemuda itu kembali menyapa Haruna yang masih diam memandanginya tanpa menjawab sapaannya. Haruna mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian ia segera bangkit dari duduknya di kursi taman itu, “Ah, iya…” menyembunyikan kegugupannya, ia menyibakkan rambutnya di belakang telinganya.

“Maaf sudah menunggu lama, tadi ada urusan sedikit,” kata pemuda itu. Masih dengan senyum lembut dan ramah seperti tadi.

“Tak masalah, aku juga baru datang,” jawab Haruna seadanya. Tak enak juga mengatakan dengan terlalu jujur jika kakinya sudah kaku membeku tadi.

“Benar juga, aku belum memperkenalkan diri,” pemuda itu tersenyum tipis. “Panggil saja aku Juri, Haruna-san,” Haruna menunduk sopan sebagai balasan karena pemuda itu juga menunduk sekilas.

“Jadi, bolehkah aku memanggilmu Haruna-san?” tanya Juri memastikan apakah gadis itu tak keberatan. Haruna mengangguk ringan, “Ya, tak masalah…”

Juri menghirup napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya hingga menciptakan asap putih di depan wajahnya. “Bagaimana menurutmu Haruna-san?”

“Eh?”

“Mengenai taman ini. Walaupun Tokyo dikenal sebagai kota metropolitan yang penuh dengan gedung pencakar langit, tapi ternyata kota ini masih memiliki taman yang indah. Memang, sampul saja tak bisa seutuhnya menjelaskan isi dari sesuatu,” ujar Juri enteng, ia tersenyum hangat pada Haruna yang hanya terdiam mendengar ucapan pemuda jangkung di hadapannya ini.

.

.

“Apa Haruna-san juga merayakan natal dengan keluarga?” tanya Juri saat mereka sedang melihat-lihat pernak-pernik pohon natal di sebuah toko. Juri yang mengajaknya karena Haruna sendiri tak memiliki tujuan. Haruna mengangguk, “Tidak terlalu sering. Ayahku bekerja di luar kota dan menetap di sana, aku di sini tinggal bersama Ibu yang bekerja juga dan kakak perempuanku yang sedang sibuk dengan tugas akhir kuliahnya yang entah kenapa selalu mendapatkan revisi dari dosen pembimbingnya,” Haruna tertawa kecil di akhir kalimatnya.

Juri melirik Haruna dari ekor matanya. Mengamati ekspresi Haruna yang terlihat sedih namun berusaha ditutupinya dengan senyum dan nada bicara yang ringan. “Tahun ini sepertinya keluargaku juga tak merayakan natal. Juri-san sendiri bagaimana? Sering merayakan natal?” Haruna bertanya balik karena merasa tak enak karena sedari tadi hanya Juri yang mengambil inisiatif untuk memulai pembicaraan.

“Begitulah, aku setiap tahun merayakan natal. Kalau Haruna-san tak keberatan, ingin merayakan natal bersama kami?” tanya Juri yang terlihat antusias.

Kami?” Haruna balik bertanya,  tak mengerti maksud Juri.

.

.

Anou, Juri-san… sebenarnya kita akan pergi kemana?” tanya Haruna waswas. Pergi dengan orang yang tak terlalu dikenalnya tentu membuatnya sedikit khawatir. Apalagi kini mereka berdua tengah berjalan menjauhi keramaian kota dan langit sudah mulai memerah.

Juri tersenyum, “Kau akan mengetahuinya jika kita sampai nanti.” Haruna mendengus kecil. Juri terus menjawab dengan jawaban yang sama.

“Keberatan jika aku merokok, Haruna-san?” Pemuda itu seakan tak menunggu persetujuan Haruna. Ia telah menyusupkan sebatang rokok di antara celah bibirnya dan menyulutnya dengan korek.

Yang benar saja?! Aku bahkan belum bilang iya,” omel Haruna kesal. Dalam hati tentunya. “Tak bisakah dia setidaknya menungguku mengangguk?” Rutukan Haruna terus berlanjut sampai akhirnya langkah kaki Juri berhenti.

Di sinilah mereka sekarang. Berdiri di depan gereja besar bercat putih.

Gereja Chikaramachi.

Itulah yang tertulis pada papan nama yang terletak di bagian gerbang.

“Gereja?” gumam Haruna masih tak mengerti. Gadis bermantel cream itu menoleh pada pemuda di sampingnya yang tengah membuang puntung rokoknya di tempat sampah.

Pemuda itu kembali tersenyum seraya mengangkat kedua alisnya, “Mari, kutunjukkan jalannya, Haruna-san.” Kemudian ia berjalan mendahului Haruna memasuki halaman luas gereja itu. Mau tak mau, gadis itu mengikuti jejak Juri untuk masuk lebih dalam. Haruna terkesima dengan keindahan arsitektur gereja itu. Bangunnya memang tidak banyak detil. Hanya bangunan yang didominasi warna putih dengan atap bergaya Jepang dengan satu menara di samping kanannya. Justru karena desainnya yang minimalis, menurut Haruna, gereja itu jadi terlihat lebih menenangkan. Ditambah lagi halamannya yang luas dan ditumbuhi beberapa pohon besar dan tanaman semak di dekat pagarnya.

“Juri-niichan!!”

“Ah, Juri-niichan sudah datang!!”

Lamunan Haruna terpecah saat suara nyaring khas anak-anak menyeruak masuk ke dalam gendang telinganya. Ia menatap Juri yang kini tengah dikerubungi oleh anak-anak dengan pandangan sangsi. “Orang seperti ini… bisa akrab dengan anak-anak?”

Mengesampingkan penampilannya yang mirip yankee dan—sepertinya—kebiasaan merokoknya, sekali lagi Haruna harus mulai mengakui Juri memang pribadi yang ramah.

Juri berjongkok, menyamakan tingginya dengan beberapa anak yang mengerumuninya. Ia tersenyum lebar, “aku membeli pernak-pernik pohon natal yang baru. Jadi, anggap saja ini hadiah natalku untuk kalian semua,” kemudian ia menyerahkan kantong yang sedari tadi dibawanya kepada salah satu gadis kecil yang berdiri di hadapannya.

“Yaay!! Arigatou, Juri-niichan!” Gadis kecil berkuncir dua itu mewakili anak kecil lainnya memeluk Juri. Kemudian gadis itu berlari masuk ke dalam bangunan yang terletak di belakang gereja utama tadi. Haruna tak banyak bicara dan masih sibuk dengan berbagai spekulasi dalam pikirannya sendiri.

“Orang ini… sebenarnya orang yang bagaimana?”

Juri berdiri kembali. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Senyum tulus dan sorot matanya yang tertuju pada anak-anak kecil itu sarat akan kehangatan. “Gereja ini mempunyai panti asuhan,” ucap Juri menjelaskan. Sepertinya ia sadar jika client di sampingnya itu sudah menyimpan berbagai pertanyaan dalam benaknya. “Aku sering datang ke sini. Karena aku tinggal sendiri di kota ini, aku sering menghabiskan malam natalku bersama mereka.”

Haruna diam, mendengarkan dengan seksama semua kata yang keluar dari mulut pemuda jangkung itu.

“Ayo masuk ke dalam, hari sudah mulai gelap,” ajak Juri lembut.

.

.

“Terima kasih sudah repot-repot datang lagi kemari,” seorang wanita paruh baya pada Haruna dan Juri. Ia menaruh nampan berisi dua cangkir cokelat hangat di meja di hadapan mereka. Juri mengibaskan tangannya, “Sama sekali tidak, Bunda. Aku justru merasa senang bisa menjadi bagian dalam keluarga ini,”

“Jadi, sekarang Juri sudah punya kekasih?” tanya wanita yang Juri panggil Bunda tadi sambil melirik Haruna yang masih diam mendengarkan. Haruna terkejut mendengarnya, ia menggeleng cepat, “Ti-tidak. Bukan seperti itu,”

Juri tertawa renyah, “Dia client-ku hari ini, Bunda,” jawabnya singkat sambil melirik Haruna—yang entah kenapa—wajahnya memerah sekarang.

Dan semakin memerah ketika ia menyadari sosok suster yang dipanggil Juri dengan sebutan ‘bunda’ itu memperhatikannya. Maka dengan canggung, Haruna memberanikan untuk memperkenalkan diri. “Nama saya Haruna. Salam kenal,” ucapnya sambil membungkuk singkat.

“Ah, Haruna ya… nama yang indah,” sang suster tersenyum. “Saya Miura. Tapi apabila berkenan, tidak apa-apa jika Haruna-san memanggil saya dengan sebutan ‘bunda’ seperti yang lain.”

“Juri-niichan, bantu kami menghias pohon natal,” seorang bocah kecil yang mengenakan kaos berwarna merah itu menghampiri Juri. Ia menarik tangan Juri, sebagai ajakan yang tak terbantahkan untuk Juri.

“Sabar sedikit, Kou,” Juri tersenyum lebar dan bangkit dari duduknya. “Kenapa buru-buru?”

“Kalau kita tidak cepat menghiasnya, Santa-san tidak akan segera datang!” jawab bocah tadi. Juri terkekeh dan mengacak rambut bocah itu lembut, “Baiklah! Ayo kita hias pohon natal ini!”

Kemudian Juri bergabung bersama anak-anak itu. Tak seluruhnya anak kecil berusia sekolah dasar, ada juga beberapa yang—sepertinya—sudah memasuki usia sekolah menengah. Haruna terus menatap Juri yang bersenang-senang bersama saudaranya.

“Haruna-san,”

Mau tak mau Haruna mengalihkan pandangannya pada sosok yang memanggilnya, “Hai?”

“Menurutmu, Juri itu orang yang bagaimana?” tanya sang Bunda.

“Umm… Dia orang yang baik dan supel…” jawab Haruna dengan jeda cukup lama karena ia sendiri tidak yakin harus menjawab bagaimana.

“Tak sesuai dengan penampilannya ya? Penampilannya terlihat sangat cuek dan tak peduli dengan orang lain,” sang Bunda menimpali dengan tawa kecil di akhir kalimatnya.

“Begitulah…” respon Haruna singkat karena takut dibilang beranggapan yang tidak-tidak tentang orang yang baru ditemuinya. Walau sebenarnya, ia mempunyai banyak hal untuk diungkapkan pada Juri.

Selama dua tahun Miyazaki Haruna menempuh kuliah, selama dua tahun itu juga Haruna masih canggung untuk memulai percakapan dengan orang lain. Ia selalu ingin masuk ke dalam lingkaran pertemanan dengan atau seperti teman-teman gadisnya yang lain. Tapi bagi dirinya yang sulit memulai pembicaraan, itu masih menjadi impian yang belum terwujud.

Haruna terlalu takut jika topik pembicaraannya nanti tidak disukai oleh lawan bicaranya. Sehingga Haruna selalu mengira-ngira bagaimana sifat dan kemungkinan yang ada mengenai seseorang. Memenuhi otaknya dengan berbagai spekulasi mengenai sifat seseorang. Namun tak jarang juga spekulasi Haruna meleset jauh dari kenyataan yang ada.

.

.

Merry Christmas!” pemuda jangkung berponi itu memberikan sebuah bingkisan kecil pada anak kecil tak sengaja menabraknya saat keluar dari gerbang gereja. Haruna yakin anak itu bukanlah salah satu dari penghuni panti asuhan karena di belakangnya terlihat wanita dan pria yang memanggil nama anak itu kemudian menyuruhnya berhati-hati dan meminta maaf pada Juri.

“Maafkan anak kami, ia kelewat bersemangat untuk segera pulang ke rumah,” wanita bermantel cokelat tua itu menunduk diikuti dengan pria di sampingnya. “Kai bilang tak sabar untuk mendapatkan hadiah dari Santa-san,” Lanjut pria yang Haruna yakini sebagai ayah dari bocah laki-laki yang bernama Kai itu.

Juri tertawa. “Tidak masalah, aku mengerti,” Juri berjongkok, menyamakan tingginya dengan Kai yang sibuk mengira-ngira apa yang ada di dalam bingkisan kecil berwarma merah dengan hiasan pita putih yang baru saja diterimanya dari kakak-yang-tak-sengaja-ditabraknya tadi. “Apa Kai-kun yakin sudah menjadi anak yang manis? Santa-san tak akan memberi hadiah pada anak yang nakal. Kau tahu itu, kan?”

“Tentu saja! Aku sudah menjadi anak yang manis. Aku sudah membantu ibu mencuci piringku sendiri dan merapikan kamarku,” jawab Kai dengan bersemangat.

“Begitukah? Baguslah kalau begitu. Segeralah pulang, mungkin saja Santa-san sudah meninggalkan hadiah di bawah pohon natalmu,” Juri menepuk ringan kepala Kai dan hanya direspon dengan anggukan penuh semangat.

Haruna terus memperhatikan Juri. Bagaimana pemuda itu mengawali pembicaraan dan ia tersenyum ramah. Tanpa sadar Haruna merasa iri pada Juri yang bisa dengan mudah memulai pembicaraan. Dengan orang yang tak dikenal sekalipun.

“Juri-san… supel ya…” ucap Haruna pelan ketika Juri sudah kembali menegakkan badannya.

Juri melirik Haruna yang tak melihat ke arahnya, pandangannya tertuju pada Kai dan orang tuanya yang telah pergi menjauh.

“Haruna-san juga bisa menjadi orang yang supel,” sahut Juri melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti untuk mengantar Haruna pulang. Walaupun ini malam natal yang mungkin lebih ramai dari malam biasanya, bukan berarti Juri membiarkan Haruna pulang sendirian. Bagaimanapun Juri adalah laki-laki, ditambah Haruna adalah client yang harus dijaganya.

“Haruna-san hanya perlu tersenyum dan membawa diri masuk ke dalam alur pembicaraan mereka,” Juri memasukkan kedua tangannya di saku jaketnya. Malam sudah mulai larut dan udara semakin dingin. Juri melirik Haruna yang berjalan di sebelahnya. Tak menyahut apapun, tapi Juri tahu jika gadis itu tengah memikirkan ucapannya.

“Jangan menilai buku dari sampulnya,” tambahnya lagi. “Memang, orang akan tertarik membaca buku itu jika ia tertarik dengan sampul dan sinopsis yang disajikan. Namun menilai dan menghakimi seseorang hanya dari penampilannya bukanlah hal yang baik.”

“I-itu… aku juga tahu,” elak Haruna. Mencoba menutupi fakta bahwa sebenarnya apa yang dikatakan Juri tepat sasaran.

“Apakah Haruna-san takut ditolak?”

DEG

Sontak langkah Haruna terhenti. Ia kemudian menatap Juri yang kini saling berhadapan dengannya.

“Ah, ternyata aku benar.”

Kalimat Juri barusan sukses membuat tekanan yang tidak bisa dijelaskan di dada Haruna. Seolah kalimat Juri merupakan hantaman keras untuk Haruna. Mental Haruna lebih tepatnya. Detik berikutnya, Haruna menduga bahwa Juri akan mulai menghakiminya, tapi di luar dugaan, pria jangkung itu mengembangkan senyum.

“Hidup itu soal pilihan. Kalau diibaratkan battle game, hidup itu soal menyerang atau bertahan. Terserah Haruna-san memilih yang mana. Kalau tidak pernah menyesal, bukan hidup namanya. Lagipula, kita tidak akan tahu kalau tidak dicoba.”

.

.

A-anou…” celetuk Haruna menghentikan langkah Juri ketika mereka sampai di taman tempat mereka bertemu tadi. “Sampai di sini saja tidak apa-apa.”

Hontou ni ii no?” tanya Juri memastikan.

Un, rumahku di dekat sini. Jadi Juri-san tenang saja,” Haruna tersenyum tipis di akhir kalimatnya.

“Wah, kebetulan sekali. Padahal aku asal saja memilih tempat ini sebagai tempat pertemuan kita..” Juri tertawa kecil. “Jya, otsukaresama,” tambahnya kemudian membungkuk singkat sambil tersenyum kepada Haruna. “Jika tidak keberatan… Datanglah ke café kami lagi. Besok adalah hari terakhir kami buka untuk tahun ini.”

Sou ka.. Un…” ucap Haruna disertai anggukan singkat.

Jya, mata ne.”

.

.

“Hidup itu soal pilihan. Kalau diibaratkan battle game, hidup itu soal menyerang atau bertahan.”

Haruna melihat seorang bocah kecil tengah menangis di ujung blok. “Haruskah aku menolongnya?”  Pikirnya. “Oh, ayolah Haruna. Dia hanya anak kecil. Kau bisa berdosa jika tak membantunya. Lagipula cukup antarkan dia ke pos polisi terdekat karena sepertinya ia tengah tersesat.”

“Kalau diibaratkan battle game, hidup itu soal menyerang atau bertahan. Terserah Haruna-san memilih yang mana.” Kalimat Juri kembali terngiang di kepalanya.

Setelah berdebat cukup lama dengan dirinya sendiri, Haruna berlari kecil ke arah bocah kecil bermantel putih itu.

“Haruna-san hanya perlu tersenyum…”

“Ada apa, adik kecil? Kau tersesat?” gadis berambut ikal itu berjongkok, menyamakan tingginya dengan bocah itu. Bocah itu melihat Haruna sebentar, masih dengan menangis, ia mengangguk.

“Dimana rumahmu? Kakak kantar sampai rumah, ya?” Haruna mengusap puncak kepala bocah kecil itu. Yang ternyata membuat isakan bocah itu sedikit mereda, “Aku tidak tahu. Tadi aku sedang berjalan-jalan dengan oniichan..

Haruna menggigit bibir bawahnya, berpikir apakah yang harus ia lakukan selanjutnya. “Kalau begitu, bagaimana kalau kakak antar ke pos polisi? Mungkin kakakmu sudah menunggu di sana,”

Haruna tersenyum saat bocah itu berhenti menangis dan menatap dirinya lekat-lekat. “Bagaimana? Ayo,” ajaknya sembari mengulurkan tangannya. Bocah itu mengusap jejak air matanya dan mengangguk. Tanpa diduga, bocah itu meraih tangan Haruna.

Haruna berdiri kembali dan menggandeng bocah itu menuju pos polisi terdekat. “Arigatou, oneechan…” Bocah itu berkata pelan. Haruna mengerjapkan matanya beberapa kali. Arigatou? Barusan dia berterima kasih padaku?

Tapi, belum sampai di pos polisi yang dituju, bocah kecil itu berteriak, “Oniichan!”

“Eh?” Haruna terkejut karena bocah itu tiba-tiba melepaskan tangannya. Ia berlari ke arah pemuda yang terlihat sedang gelisah dan menyisirkan pandangannya seperti sedang mencari sesuatu—atau seseorang. Pemuda itu menoleh—entah kenapa, wajahnya terlihat familiar di mata Haruna.  Kemudian ekspresi muramnya berubah seratus delapan puluh derajat saat melihat bocah itu berlari padanya, Yu-chan!” Pemuda itu menjawab teriakan bocah kecil itu.

Bocah itu memeluk erat pemuda—yang dipanggilnya oniichan—tadi. “Kemana saja? Sudah kubilang untuk tidak pergi kemana-mana,” pemuda itu mencubit pipi bocah itu.

Itai.. Gomen, niichan…” bocah itu berusaha melepaskan cubitan di pipinya. “Untung saja ada kakak baik hati yang mau mengantarku ke pos polisi,” bocah itu menunjuk Haruna yang masih berdiri di tempatnya. Pemuda itu mengikuti arah yang ditunjuk adiknya.

Ketika jarak mereka sudah semakin dekat, Haruna baru menyadari siapa sosok kakak laki-laki anak kecil tersebut.

“Eh? Miyazaki?” pemuda itu bertanya ragu-ragu.

“Haruna-san hanya perlu tersenyum dan membawa diri masuk ke dalam alur pembicaraan mereka,”

Haruna mencoba tersenyum, “Ah, jadi dia adikmu, Yamada-kun?”

Yamada Akira, teman seangkatan Haruna di jurusan yang sama.

“Begitulah, dia memang sering tersesat. Padahal sudah kubilang untuk tidak pergi kemana-mana saat aku membeli minuman,” pemuda itu mengacak rambut adiknya. “Kebetulan sekali Yu-chan bertemu denganmu,” ia tersenyum lebar.

Melihat senyuman itu membuat Haruna tersipu. Bagaimana tidak? Pemuda itu adalah orang yang Haruna sukai diam-diam. Mereka sering satu kelas di kampus. Meski begitu, mereka tak terlalu banyak mengobrol, ditambah sifat Haruna yang dikenal pendiam di kelasnya.

“Sebagai ucapan terima kasih, kutraktir makan besok. Bagaimana?” tanya pemuda itu menawarkan. Haruna menahan jeritannya, berusaha untuk tenang dan tersenyum manis. “Tentu saja,” jawabnya mantap.

.

.

Sepuluh menit kemudian, setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Akira dan mengucapkan salam perpisahan pada adiknya, Yuki, Haruna kini berdiri di depan Le Ciel Café yang terlihat sedang ramai oleh pelanggan. Di papan menu yang terletak di depan café yang biasanya tertulis menu spesial untuk hari itu, kini tertulis “Hari terakhir dibuka” dengan warna pastel dan huruf bergaya pop yang imut. Kalau sebelumnya, Haruna kesini karena penasaran, kali ini ia datang kembali untuk berterima kasih. Pada Juri. Ia sama sekali tidak ingat untuk menanyakan kontak pria itu, sehingga mau tak mau, ia harus datang ke café dan menyampaikannya secara langsung.

Maka, dengan satu tarikan napas panjang dan senyuman, ia mendorong pintu café terbuka.

“Irasshaimase!”

Detik berikutnya, Haruna sukses terperanjat kaget sambil menahan napas begitu mengetahui siapa yang menyambutnya di depan pintu. Seorang pemuda berambut pirang yang ia kagumi tempo hari kini berdiri tepat di depannya.

Ara, apa saya mengagetkan Ojou-sama?” tanya si pelayan lembut.

“Ti-tidak kok,” Haruna menggeleng dengan canggung kemudian segera menuju kasir dan memesan makanan. Tapi jantungnya kembali dibuat jumpalitan ketika ternyata si pelayan berambut piranglah yang bertugas mengantarnya menuju tempat duduknya.

“Wah, pas sekali. Baru saja ada yang meninggalkan tempat ini. Café ini memang selalu padat saat hari terakhir dibuka, jadi agak sulit untuk mendapatkan tempat duduk,” pelayan ber-nametag Kyo itu tersenyum di akhir kalimatnya. “Kalau begitu, mohon menunggu pesanan Anda sebentar,” ucapnya disusul dengan membungkuk singkat sebelum meninggalkan Haruna duduk sendirian di mejanya.

“Maaf sudah menunggu lama.”

Sontak Haruna menoleh ke sumber suara yang tidak asing baginya itu. Berjarak dua meja di sebelah kanannya, Haruna melihat Juri sedang mengantarkan pesanan.  Haruna sudah bersiap untuk mengangkat tangannya memanggil Juri tapi diurungkannya ketika menyadari pemuda jangkung itu terlihat sibuk. Langkah kakinya bahkan terlihat lebih cepat dari saat pertama kali Haruna datang. Dia juga melewati Haruna begitu saja saat berjalan di depan mejanya.

Sambil menarik ujung bibirnya membentuk senyum, Haruna mengeluarkan bolpoin dan buku memo dari dalam tasnya. Merobek salah satu halamannya dan mulai menulis. Mencoba menyampaikan rasa terima kasihnya pada Juri dalam satu lembar kertas berukuran A6.

Begitu selesai, Haruna melipatnya dan menuliskan “untuk Juri-san” di bagian luar lipatannya karena ia tidak membawa amplop sama sekali. Tadinya, ia bermaksud menitipkan surat itu pada Kyo, tapi Haruna belum selesai menulis suratnya ketika pesanannya datang. Maka, jalan terakhir sepertinya adalah menitipkannya pada kasir. Yah, sekaligus membayar.

A-anou…” ucap Haruna seusai menyerahkan uang kepada kasir sesuai jumlah yang tertera pada bill-nya. Tepat ketika si pelayan menggedikkan kepalanya ke samping untuk menyibakkan poni yang sepertinya sudah kepanjangan dan mengganggu matanya.

“Ya, ada apa?”

“Ngg…” Haruna tertunduk sebentar. Ayolah, bilang begitu saja kenapa sulit sekali? Rutuknya dalam hati pada dirinya sendiri. Kebiasaannya yang satu ini memang masih sulit dihilangkan. “Bisakah Anda menyampaikan ini kepada pelayan bernama Juri-san?”

Pelayan ber-nametag Yuu itu mengulurkan tangan untuk menerima surat dari Haruna. Ia kemudian tersenyum, “Baiklah, akan saya sampaikan.”

“Terima kasih banyak,” Haruna mengangguk sopan dan melangkah menuju pintu keluar. “Terima kasih atas kunjungannya,” suara yang sangat Haruna kenal menyapa telinganya. Mengangkat pandangannya, ternyata Juri yang membukakan pintu untuknya. Haruna tersenyum, begitu juga Juri. Haruna mengangguk dan pergi keluar café.

“Selama ini aku tahu jika hidup memang pilihan. Tapi aku tak pernah berani mengambil langkah untuk maju. Selalu berdiam dalam zona nyaman yang padahal justru menjerumuskan aku untuk terus menilai buku dari sampulnya saja. Berkat Juri-san, aku sudah berani untuk mengambil satu langkah maju. Dan akan terus maju untuk selanjutnya. Haruna.”

–to be continued–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s