[Minichapter] Lost In America (#2) – END

  • Juara 2 SAGITTARIUS SQUAD Fanfic Challenge

LOST IN AMERICA
By: kyomochii
Genre: Drama, Family, Mistery, Romance, Suspense
Rating: PG-13
Cast: Kyomoto Taiga, Jesse (SixTONES); Chinen Yuri, Nakajima Yuto, Arioka Daiki, Inoo Kei, Yamada Ryosuke (and the rest member of Hey! Say! JUMP as member of the house); Ohno Satoshi (Arashi); Konno Taiki (Johnny’s Jr)
Disclaimer: This fanfic is just a pop-up imagination. I don’t have anything. All cast is under Johnny’s Talent Agency.
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Taiga mengamati, sepertinya ada yang disembunyikan dari misteri hilangnya Yamada. Haruskah Taiga terlibat di dalamnya demi mengungkap kebenarannya? Tapi nyatanya, Taiga memang sudah terlibat. Taiga memutuskan, pertama-tama harus mencari tahu hubungan masing-masing orang dengan Yamada. Bukan hubungan yang kasat mata, tapi hubungan yang lebih kompleks di dalamnya.

Saat sore hari, seluruh penghuni rumah sedang melakukan persiapan untuk pesta barbekyu, perayaan ulang tahun Rida. Taiga mendekati Taiki saat anak itu sedang sibuk membantu Chinen menyiapkan beberapa bahan. “Perlu bantuan?” Taiga menawari.

“Taiga-nii bisa bantu bawa sosisnya?” Taiga mengangguk dan membantu Taiki membawa sosis ke halaman, tempat mereka akan berpesta. Setelah selesai melakukan tugas mereka, Taiga mengambilkan minum untuk dirinya dan Taiki dan bersantai sejenak, sedangkan yang lain sedang menyiapkan api dan beberapa meja makan.

Pendant yang bagus. Pasti benda yang sangat berharga milik kakakmu, ya?” tanya Taiga langsung ke pokok masalah. Taiki memegang pendant yang sekarang dikalungkannya di lehernya, mengamatinya dengan sayang. “Ini adalah hadiah pertama yang diberikan ayah untuk Ryo-nii saat dia berhasil masuk ke klub sepak bola junior di sekolahnya. Mungkin juga hadiah terakhir, karena setelah itu ayah pergi meninggalkannya untuk pergi ke Amerika dan tidak ada kabar hingga hari ini.” Taiki menerawang, seolah membayangkan saat bercerita tentang Yamada. “Kamu sangat menyayangi kakakmu, ya?”

“Cuma dia satu-satunya yang kupunya di dunia ini, Taiga-nii. Aku tidak pernah dekat dengan keluargaku yang lain, makanya Ryo-nii memutuskan untuk mengajakku mencari ayah di Amerika. Tapi kita malah berakhir terpisah lagi seperti ini. Aku kangen, Ryo-nii.” Air mata mulai mengalir di pipi Taiki. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, Taiga hanya memeluknya untuk membuatnya tenang.

“Kalau kamu kangen dengan kakakmu, mungkin kamu bisa menceritakan padaku orang yang seperti apa kakakmu itu. Dengan begitu, kamu akan mengingat yang baik-baik tentangnya dan sedikit menghilangkan rasa kangenmu.” Taiga menyarankan. Taiki mengikuti saran Taiga dan mulai menceritakan tentang Yamada. Kebiasaan-kebiasaan yang dimilikinya, kesukaan dan apa yang tidak disukanya, apa saja yang sudah mereka lakukan selama di Amerika, dan dengan sedikit pancingan, Taiga berhasil membuat Taiki menceritakan hubungan Yamada dengan para penghuni rumah lainnya.

“Selama ini, Yuto-nii, Yuri-nii dan Keito-nii yang paling dekat dengan Ryo-nii. Mungkin karena mereka sepantaran, sehingga mereka lebih banyak nyambungnya saat membahas banyak hal. Selain mereka bertiga, Ryo-nii juga sangat dekat dengan Daiki-nii. Mereka bisa menghabiskan waktu seharian bersama di dalam kamar tanpa ada seorang pun yang tahu apa yang mereka lakukan. Tapi mereka selalu bilang kalau itu urusan pekerjaan.”

Taiga ragu-ragu untuk menanyakannya, karena takut Taiki salah mengartikan rasa penasarannya. Tapi akhirnya Taiga menanyakannya juga. “Apa menurutmu mereka mempunyai hubungan? Kamu tahu yang aku maksud, kan?”

Taiki tersenyum miris, tapi mengangguk dan menjawabnya juga. “Ryo-nii dan Daiki-nii itu lebih bisa dibilang kakak-adik seperti Yuto-nii dan Yuri-nii kalau dibandingkan mempunyai hubungan yang seperti kamu pikirkan. Dan aku lebih tahu, siapa orang yang lebih disayang Ryo-nii melebihi Daiki-nii.”

“Siapa?” tanya Taiga terlewat bersemangat karena penasaran. “Yuri-nii. Ryo-nii akan melakukan apapun demi Yuri-nii sama seperti dia akan melakukan apapun untukku. Bahkan Ryo-nii sering bertengkar dengan Yuto-nii kalau sudah menyangkut Yuri-nii. Kalau sudah bertengkar, mereka mirip ibu dan ayah yang memperebutkan hak asuh anak mereka di persidangan perceraian. Hubungan yang rumit memang.” Taiki tertawa, terlihat sedang membayangkan.

Mendengar penjelasan Taiki, Taiga dapat menyimpulkan kalau Yamada tidak memiliki perasaan apapun ke Daiki, selain rasa sayang kepada seorang kakak. Yamada menganggap Chinen sebagai adiknya juga, sama seperti Yuto dan mereka sering bertengkar hanya untuk merebutkan perhatian Chinen.

“Oh iya, Taiki. Keito itu orangnya seperti apa? Selama tinggal di sini, aku sama sekali belum pernah bicara dengannya.”

“Hmm, Keito-nii ya? Mungkin dia memang menghindari untuk berbicara denganmu. Karena bahasa Jepangnya sangat buruk. Dia sudah tinggal berkeliling dunia sejak kecil, sehingga dia menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa sehari-harinya. Tapi dia orang yang sangat baik. Karena cuma Keito-nii yang selalu berhasil meredakan perseteruan antara Ryo-nii dan Yuto-nii kalau sudah mencapai puncaknya.” Oh, jadi itu alasannya, Keito tidak pernah mengajak Taiga berbicara.

Sekarang Taiga tahu kepada siapa lagi dia harus bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya. Yuto, Chinen dan Daiki. Selain mereka bertiga, Taiga tidak melihat hubungan yang terlalu penting di antara Yamada dengan penghuni lainnya. Tentu saja, kalau Taiga mengesampingkan kecemburuan Inoo yang melihat kedekatan Yamada dan Daiki, maka Taiga bisa memasukkan Inoo dalam kategori rival dan akan menanyainya terakhir nanti.

Selanjutnya Taiga mendekati Yuto yang sedang fokus meracik kopi di dapur. “Yuto-kun bisa bikin kopi?” tanya Taiga tiba-tiba, membuat Yuto kaget karena tidak menyangka akan ada yang mengajaknya bicara.

“Oh, Taiga. Kamu mengagetkanku saja! Tentu saja aku bisa! Kopi buatanku paling enak diantara semua orang yang ada di rumah ini.” Kata Yuto membanggakan diri.

Taiga mencoba memikirkan kata-kata apa yang cocok untuk memulai mencari tahu hubungan Yuto dan Yamada. Yuto sudah banyak bercerita sebelumnya, tentang Yamada dan penghuni rumah lainnya. Tapi tidak tentang hubungannya dengan Yamada, yang baru Taiga tahu dari Taiki beberapa saat lalu. “Kamu habis ngobrol dengan Taiki ya? Kalian ngobrolin apa?” tanya Yuto di sela-sela kesibukannya meracik kopi.

Aha! Sebelum Taiga menemukan bagaimana ide untuk memulainya, Yuto sudah memancing sendiri dan membuat Taiga lebih mudah menanyakannya. “Oh, dia sedang menceritakan tentang Yamada-kun. Habis katanya dia kangen, jadi kusuruh saja dia menceritakan hal-hal yang dia ingat tentang kakaknya, kurasa cara itu cukup efektif.” Yuto ber-oh mendengar penjelasan Taiga, masih sibuk meracik kopi.

“Oh iya, Taiki juga menceritakan kepadaku tentang hubunganmu dengan Yamada-kun. Katanya, kalian seperti sepasang suami-istri yang sedang memperebutkan hak asuh anak setiap kali merebutkan perhatian Chinen-kun. Kalian ternyata sedekat itu ya.” Taiga sengaja menambahkan pendapatnya untuk memancing respon Yuto.

“Hmm, aku akan mengatakan ‘kita tidak dekat!’ dengan angkuhnya kalau saja dia masih ada di sini. Tapi setelah dia pergi, aku mulai berpikiran kalau sebenarnya kami memang selalu sedekat itu karena persamaan-persamaan prinsip kami. Aku sangat merasa kehilangan karena sekarang tidak ada lagi orang yang bisa aku ajak bertengkar setiap hari.” kata Yuto cukup tenang, meski Taiga dapat merasakan nada suara Yuto sedikit bergetar saat mengatakannya.

“Apa kamu tahu, bagaimana sebenarnya Yamada-kun bisa menghilang? Kamu bilang, kalian pergi bersama saat liburan, kan? Pasti Yamada-kun bersama dengan salah satu dari kalian sebelum menghilang. Tidak mungkin dia terus sendiri, kan?” Taiga menuntut Yuto untuk menjelaskan padanya.

“Aku kurang tahu banyak. Karena waktu itu, selain pergi liburan, kebetulan aku ada sesi pemotretan. Jadi aku tidak selalu bersama dengan yang lainnya. Tapi kurasa Chiichan mengetahui banyak hal. Cuma dia, selain Taiki, yang tidak akan pernah meninggalkan Yamachan sendiri. Aku tidak mengerti mengapa Chiichan masih belum menceritakan apapun padaku. Kurasa dia punya alasannya, aku hanya perlu menunggu saja kapan waktunya dia akan cerita. Karena tidak pernah ada rahasia di antara kami sebelum ini.” Yuto mengakhiri penjelasannya dan mengajak Taiga kembali ke halaman karena dia sudah menyelesaikan racikan kopinya.

Taiga tidak enak ingin bertanya lebih banyak lagi kepada Yuto, karena pemuda itu sudah menyibukkan dirinya mengobrol dengan Keito dalam bahasa inggris. Terpaksa Taiga menghindar dan memilih mencari Chinen untuk bertanya lebih banyak lagi. Toh, Chinen sudah berjanji akan bercerita kepadanya tentang kakak Taiki.

“Hai, Chinen-kun. Kamu sedang apa?” tanya Taiga basa-basi. “Oh, hei Taiga. Ini aku sedang membantu Rida memisahkan daging, mana yang bisa digunakan untuk barbekyu dan tidak. Mau bantu?” Taiga hanya bisa nyengir mendengar tawaran Chinen. Jangankan memisahkan daging, memegang pisau saja, Taiga belum pernah selain untuk mengupas apel.

“Chinen-kun ahli ya untuk urusan seperti ini?” Puji Taiga dengan tulus, karena merasa sangat iri dengan kemampuan Chinen. Meskipun banyak orang memanjakannya, tapi masih saja Chinen bisa melakukan banyak hal kalau dibandingkan Taiga. “Sebenarnya, Ryo-kun yang sudah mengajarkan banyak hal kepadaku.”

Taiga terkejut, kenapa semua orang selalu memudahkan dirinya untuk memulai pembicaran mengenai Yamada sejak dia memutuskan ingin mengetahuinya. Tanpa membuang kesempatan, Taiga mencoba mengingatkan Chinen akan janjinya. “Oh iya, bukannya kamu berjanji untuk menceritakan tentang Yamada-kun kepadaku?”

“Kurasa Yutti sudah menceritakan banyak hal kepadamu. Apalagi yang ingin kamu tanyakan?” Chinen tersenyum sinis, seolah menuduh Taiga sudah mendapatkan informasi dengan cara yang tidak semestinya. Taiga berusaha tidak menghiraukannya dan melanjutkan pertanyaannya.

“Hmm, tadi kamu bilang kalau Yamada-kun memberikan pendant miliknya padamu tepat sebelum dia menghilang. Berarti, kalian sedang bersama sebelum dia menghilang?” Mendengar tebakan Taiga, Chinen menghentikan kegiatan mengirisnya. Melihat Taiga dengan pandangan menilai.

“Aku memang bersamanya saat di pantai, tapi tidak TEPAT saat dia akan menghilang. Daichan mengajaknya membicarakan masalah PEKERJAAN dan mereka berjalan menjauh dariku supaya aku tidak bisa mendengarkan. Setelah itu, aku tidak melihat Daichan kembali bersama Ryo-kun. Kupikir dia sudah kembali ke mobil bersama Rida dan Taiki, jadi aku pergi untuk menemui Yutti.” Chinen menjelaskan dengan memberikan penekanan pada kata ‘tepat’ dan ‘pekerjaan’.

“Berarti Yamada-kun sengaja memberikan pendant itu untukmu, saat kalian masih berdua? Kalau pendant itu untukmu, kenapa kamu memberikannya pada Taiki? Kalau pendant itu untuk Taiki, kenapa dia tidak memberikannya secara langsung saja? Kenapa harus memberikannya ke kamu dulu? Seolah-olah dia tahu kalau dia akan menghilang.” Lagi-lagi Taiga menyerang Chinen dengan pertanyaan bertubi-tubi. Chinen terlihat bingung untuk menjawabnya.

“Terlebih, aku seperti pernah melihat pendant itu sebelumnya. Padahal Yamada-kun sudah memberikannya padamu sebelum aku mengenal kalian. Dimana aku pernah melihatnya? Kurasa aku pernah melihat pendant itu di lemari Yamada-kun saat aku pertama kali mengecek isi lemarinya. Maafkan atas kelancanganku, tapi apa kamu bisa mejelaskannya Chinen-kun? Kamu yang membuat lemari Yamada-kun berantakan, kan? Lalu merapikannya lagi tadi pagi karena mengira aku belum menyadarinya?” tuduh Taiga karena merasa yakin dengan spekulasinya.

Chinen masih terdiam, memandang Taiga tidak percaya. “Kamu terlalu banyak ingin tahu, Taiga.” Kata Chinen akhirnya. “Aku akan memberitahukan hanya sebatas yang bisa kuberitahu padamu. Setelah ini, kumohon jangan bertanya-tanya lagi. Pergilah bersama dengan temanmu yang akan menjemputmu nanti sebelum terjadi hal yang tidak kamu inginkan.” Chinen memperingatkan Taiga sebelum memulai ceritanya.

“Ryo-kun memang tidak pernah memberikan pendant itu padaku, aku yang mencarinya di lemari kamarnya dan memberikan pada Taiki hari ini. Karena Ryo-kun pernah berkata padaku, semacam mewasiatkan, kalau suatu hari terjadi hal yang tidak diinginkan padanya, dia ingin Taiki memilikinya. Hanya pendant itu yang menyimpan kenangan tentang Ryo-kun dan Ayah mereka. Dan hanya dengan pendant itu, ayah mereka bisa mengenali Taiki. Taiki belum pernah sekalipun dalam hidupnya bertemu dengan ayah mereka. Kedua orang tua mereka bercerai tepat setelah kelahiran Taiki. Sehingga Taiki ikut bersama ibunya dan Ryo-kun bersama ayahnya. Kamu sadar kan kalau nama keluarga mereka berbeda meskipun bersaudara?”

“Eh? Aku kira nama Taiki, Yamada Taiki.” Jawab Taiga dengan polosnya. “Bukan. Namanya Konno Taiki, mengikuti nama keluarga ibunya.” Chinen mendengus, mengetahui Taiga sebenarnya memang tidak tahu apa-apa.

“Ryo-kun tinggal bersama dengan ayah dan neneknya sejak saat itu. Tapi setahun kemudian, ayah Ryo-kun memutuskan tinggal di Amerika. Tanpa sepengetahuan nenek dan ayahnya, Ryo-kun sering pergi mengunjungi ibu dan adiknya. Mereka saudara, tapi hidup terpisah sejak kecil karena keegoisan kedua orang tua mereka. Sampai ketika dia sudah dewasa, saat ibunya meninggal, Ryo-kun berjanji akan merawat Taiki apapun yang terjadi. Ryo-kun sangat menyayangi Taiki dan akan melakukan apapun untuknya. Bahkan pergi ke Amerika untuk mencari ayah mereka, itu juga merupakan keinginan Taiki. Karena merasa dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi, Ryo-kun memutuskan memberikan pendant itu kepada Taiki dan meminta tolong pada Rida untuk mengantar Taiki ke suatu tempat yang dia yakin sebagai tempat ayah mereka berada saat ini. Tapi berhubung Rida belum siap untuk berpisah dengan Taiki, kami menundanya hingga hari ini.”

Chinen mengakhiri ceritanya dan kembali sibuk mengiris daging, menyuruh Taiga untuk pergi darinya dan tidak bertanya-tanya lagi. Merasa tidak ada yang ingin ditanyakan lagi pada Chinen, Taiga memutuskan untuk mencari Daiki, orang terakhir yang ingin ditanyainya, sebelum dia meninggalkan rumah ini untuk selamanya.

“Hai, Daiki-kun. Sendiri saja? Di mana Inoo-kun?” tanya Taiga begitu melihat Daiki tapi tidak melihat Inoo di sampingnya. “Dia sedang menunggu temanmu, Jesse. Sepertinya dia sebentar lagi akan sampai.” Jelas Daiki. Untuk pertama kalinya, mendengar nama Jesse tidak menimbulkan kesenangan di hati Taiga. Taiga merasa Jesse datang terlalu cepat, padahal dia belum berhasil mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.

“Oh.” Taiga keceplosan ber-oh pendek, membuat Daiki heran melihatnya. “Bukannya tadi siang kamu begitu senangnya sampai peluk-peluk, Kei? Apa-apaan ekspresimu saat ini? Sebegitunya kamu tidak mau meninggalkan kami, hah?” Goda Daiki, membuat Taiga buru-buru bergeleng cepat tidak membenarkannya.

“Bukan begitu. Tentu saja aku ingin cepat bertemu Jesse, tapi ada sesuatu yang mengganggu pikiranku.” Melihat reaksi Taiga, Daiki malah tertawa. “Kalau dilihat dari dekat, kamu memang tidak terlihat mirip Yamachan. Tapi reaksimu barusan, mirip banget sama reaksi yang biasa Yamachan lakukan setiap kali tidak tahu bagaimana harus menjelaskan sesuatu.”

“Begitukah?” tanya Taiga malu-malu. “Ah iya, Daiki-kun. Aku dengar dari Taiki kalau Daiki-kun dan Yamada-kun begitu dekat sampai semua orang mengira kalian kakak-adik.” Kata Taiga, mencoba menghubung-hubungkan Daiki dan Yamada.

“Sebenarnya kami tidak sedekat itu. Kami hanya bersama untuk urusan pekerjaan dan sesekali bermain game bersama. Itu saja. Tapi karena sebagian besar waktuku kuhabiskan bersama dengannya, makanya orang-orang berpikiran kalau kita dekat. Bahkan Kei juga salah paham karenanya.”

“Hei, apa nih namaku disebut-sebut?” Tiba-tiba Inoo muncul dari belakang Taiga. “Oh, hai Inoo-kun. Kami sedang membicarakan Yamada-kun.” Jawab Taiga dengan polosnya.

“Kalian membicarakan apa tentang Yamada? Sudahlah, dia sudah pergi tidak usah dibicarakan lagi. Sebaiknya kamu juga pergi malam ini bersama Jesse, Taiga. Jangan bertanya-tanya lagi, sebelum terjadi hal yang tidak kamu inginkan.” Kata Inoo memperingatkan Taiga sama seperti Chinen memperingatkannya.

“Jangan lakukan apa-apa pada Taiga! Dia tidak tahu apa-apa. Jangan menyeret dia ke dalam masalah kita!” Daiki tampak memperingatkan Inoo tentang sesuatu yang sepertinya akan dilakukan Inoo kalau Taiga tidak menuruti peringatannya.

“Oh, apa yang sudah aku lakukan? Aku tidak melakukan apa-apa pada Yamada, tidak akan juga pada Taiga. Kenapa kamu masih tidak mempercayaiku?” Inoo memandang tajam Daiki lalu mengalihkan pandangannya ke Taiga, seolah menyuruhnya pergi. Tidak ingin terlibat pada pertengkaran mereka, Taiga memutuskan untuk menurutinya. Tapi samar-samar Taiga masih bisa mendengar apa yang sedang mereka pertengkarkan.

“Tapi kamu mendorongnya ke laut!” Suara Daiki terdengar tertahan, mencoba sepelan mungkin agar tidak ada orang lain yang bisa mendengar percakapan mereka. “Oh, kamu mulai lagi! Kita tidak bisa menemukannya, bahkan setelah berhari-hari mencarinya. Yang tandanya dia bisa menyelamatkan diri. Dia tidak mati, Daichan! Dia masih hidup. Dia selamat. Hanya sedang bersembunyi dari kita, entah apa alasannya!” Suara Inoo tampak sedikit membentak, sehingga membuat Daiki tidak berani lagi membantahnya.

Taiga terkejut mengetahui kenyataan kalau Yamada menghilang setelah Inoo mendorongnya ke laut. Selama ini, Taiga selalu berpikir kalau Inoo orang yang baik. Ternyata benar seperti yang dikatakan Yuto, Inoo memang pencemburu berat. Bahkan Inoo terlihat sudah mencemburui Taiga hanya karena dia ngobrol sedikit saja dengan Daiki.

Taiga tidak memperhatikan jalan karena terlalu memikirkan tentang apa yang baru saja di dengarnya dan membuatnya menabrak seseorang yang sedang berdiri di depannya. Taiga mencium parfum yang sudah sangat dikenalinya, lalu mendongakkan kepala memandang wajah siapa yang sudah ditabraknya.

“Yo. Bahkan dalam keadaan melamun pun kamu selalu menuju ke arahku. Sebegitunya kah kamu memikirkanku?” Taiga melihat Jesse, orang yang sudah sangat dirindukannya, sekarang sudah berdiri di depannya, tersenyum menggoda. Tanpa berkata-kata, Taiga langsung memeluknya untuk melepaskan rasa kangennya. “Aku kangen kamu. Kangeeeeeeen banget!” kata Taiga, masih dalam pelukan Jesse.

“Aku tahu. Makanya aku datang untuk menjemputmu. Aku juga kangen kamu.” Balas Jesse sambil mengecup ujung kepala Taiga dengan sayang. “Sudah yuk. Tidak enak kalau sampai dilihat yang lainnya.” Taiga menuruti Jesse, dan mengikutinya lalu mengenalkan Jesse kepada yang lainnya.

“Oh iya, di mana Rida? Aku belum melihatnya daritadi. Padahal ini kan hari besar untuknya.” Kata Taiga saat menyadari keabsenan Rida di antara mereka. “Sebentar lagi Rida akan datang kok, kita mulai saja dulu pestanya. Rida pasti tidak keberatan.” Kata Chinen disetujui oleh teman-temannya yang lain.

Saat sedang asyik memanggang beberapa daging, Taiga tidak sengaja melihat Rida keluar dari sebuah ruangan dengan membawa piring dan cangkir kosong, seperti bekas makan seseorang. Karena penasaran, Taiga ijin untuk pergi ke toilet sebagai alasan untuk mengecek apa sebenarnya yang ada di ruangan yang baru saja ditinggalkan Rida.

Taiga kaget mengetahui apa yang sudah dilihatnya. Setelah menghubung-hubungkan dengan penjelasan orang-orang yang ditanyainya hari ini, akhirnya Taiga mengetahui semua kebenarannya. Tapi Taiga tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Apakah bijak bagi dirinya yang hanya orang luar, untuk mengungkap kebenaran ini?

Jesse penasaran melihat Taiga yang tiba-tiba menjadi pendiam sejak dia melihatnya lagi hari ini, seperti banyak sekali yang sedang dipikirkannya. “Taiga, are you okay? Apa sebaiknya kita langsung pulang saja hari ini?”

“Oh, gomen Jesse-kun. Aku ada banyak hal yang mengganggu pikiranku selama aku tinggal di sini. Nanti aku akan menceritakannya padamu. Tapi sekarang aku ingin mendengar pendapatmu. Andai kamu mengetahui kebenaran, yang sepertinya sengaja disembunyikan tanpa kamu tahu alasannya, apa yang akan kamu lakukan? Kamu bakal mengungkapkannya, tidak? Terlebih, kasusnya di sini, kamu cuma orang luar yang seharusnya tidak tahu apa-apa. Tapi aku tidak bisa kalau aku tidak menceritakannya. Aku akan terus dihantui rasa bersalah. Setidaknya untuk Taiki yang sudah sangat merindukan kakaknya.” Jelas Taiga, mengeluarkan segala pikiran yang ada di kepalanya.

Jesse menepuk pelan kepala Taiga, lalu membelainya dengan lembut, berhasil menyalurkan ketenangan ke dalam diri Taiga. Setelah Taiga cukup tenang, Jesse mulai mengatakan pendapatnya. “Aku tahu kamu memikirkan Taiki. Tapi, apa kamu pikir mereka yang merahasiakannya juga tidak memikirkan Taiki? Lebih baik kamu percaya saja dengan mereka.”

Taiga tertegun mendengar penjelasan Jesse, tapi mengangguk pasrah karena mengerti maksud yang ingin disampaikannya. Benar saja, pasti Rida mempunyai alasan untuk melakukannya. Dan Rida merupakan salah satu orang yang sangat peduli dengan Taiki melebihi siapapun di antara mereka, bahkan melebihi Taiga yang baru saja mengenalnya.

“Tapi kalau kamu memang merasa ingin menceritakannya, coba kamu ceritakan pada orang yang memang kamu rasa tahu kebenarannya. Supaya kamu tahu apa alasan mereka melakukannya.” Taiga terbelalak mendengar ide Jesse. Tentu saja, Taiga harus menceritakan langsung pada orang yang mengetahuinya. Untuk memberi pelajaran kalau Taiga sudah mengetahui rahasianya, bahkan tanpa dia menceritakan detailnya.

Setelah berpamitan dengan semua orang, Taiga meminta waktu lebih lama untuk berbicara lebih lama dengan Chinen, empat mata saja.

“Ada apa?” tanya Chinen tanpa menatap mata Taiga. “Aku sudah mengetahui semua kebenarannya. Tapi aku tidak mengetahui alasan mengapa kalian melakukannya.” Jawab Taiga.

“Kebenaran apa?” tanya Chinen tidak memahami maksud perkataan Taiga.

“Dari beberapa yang kamu ceritakan padaku, aku menyadari ada beberapa kebohongan yang membuatku sadar tentang kebenarannya.” Chinen masih berusaha menghindari kontak mata dengan Taiga.

“Pertama tentang pendant Yamada-kun, lalu tentang kesamaan kata-kata yang kamu ucapkan dengan Inoo-kun, dan yang terakhir saat kamu bilang ‘kamu pergi mencari Yuto-kun saat melihat Daiki-kun kembali tidak bersama Yamada-kun’.”

Melihat Chinen sama sekali tidak terpengaruh dengan kata-katanya, membuat Taiga tidak sabar untuk mengungkap semua yang sudah diketahuinya.

“Kamu menceritakan tentang Yamada-kun yang memwasiatkan pendant-nya supaya diberikan kepada Taiki, seolah-olah Yamada-kun mengatakannya bukan sejak lama. Tapi baru saja menyuruhmu setelah mengetahui dia tidak bisa melakukan apa-apa. Awalnya aku tidak tahu apa yang kamu maksud dengan tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi setelah melihat langsung keadaannya, aku tahu kenapa Yamada-kun tidak bisa melakukan apa-apa. Kedua, tentang kesamaan ucapanmu dengan Inoo-kun. Kamu tahu kalau Inoo-kun yang mendorong Yamada-kun ke laut sampai dia mengalami kecacatan seperti sekarang. Kamu tahu kalau Inoo-kun juga akan melakukannya padaku kalau aku masih terus mengganggu hidupnya, misalnya seperti mengetahui rahasianya yang sudah menyebabkan Yamada-kun lumpuh. Kamu ingin menyelamatkanku, terima kasih.” Taiga tersenyum, tulus menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Chinen.

“Lalu yang terakhir, kamu bilang mencari Yuto-kun? Padahal Yuto-kun menceritakan kalau dia memang ikut liburan tapi dia juga sedang ada pemotretan. Jadi aku tahu, tidak mungkin dia akan kembali bersama kalian, melainkan bersama kru majalahnya, jadi tidak mungkin kamu pergi mencarinya. Dan kalau aku menjadi kamu, melihat orang yang kamu cinta tidak kembali bersama orang yang membawanya pergi, aku pasti akan langsung pergi mencarinya, bukan malah pergi. Kamu menyelamatkannya. Kamu menyelamatkan Yamada-kun. Meskipun keadaannya sejak hari itu tidak lagi sama, kamu tetap bersamanya dan menuruti semua keinginannya, karena kamu mencintainya!” Mendengar Taiga mengetahui rahasia terbesarnya, membuat Chinen tidak lagi berpura-pura mengacuhkannya.

“Kamu dan Rida tetap merawatnya. Aku sudah melihat semuanya.” Taiga mengakhiri cerita, menunggu Chinen menganggapinya. Chinen menghela napas panjang sebelum menganggapi Taiga. “Aku tidak menyangka kamu akan bisa mengetahui semua kebenarannya hanya dalam satu hari. Bahkan Yutti sudah berbulan-bulan mengorek informasi dariku belum bisa menyimpulkan sejauh itu. Mungkin karena memang dia belum pernah melihatnya.” Chinen tersenyum.

“Semua yang kamu katakan memang benar, jadi maafkan aku karena sudah berkata tidak jujur padamu. Aku melakukannya karena Ryo-kun ingin tidak ada seorang pun mengetahui keadaannya, terlebih Taiki. Dia tidak ingin melihat Taiki bersedih karena melihat keadaannya. Makanya, Ryo-kun ingin Rida segera mengantar Taiki untuk pergi menemui ayah mereka. Setelah Taiki tidak lagi tinggal bersama kami, kami berencana untuk mengungkap semua kebenarannya. Kami hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada Inoochan, membiarkannya dihantui ketakutan dan rasa bersalah. Kami tidak ingin membawanya ke jalur hukum. Jadi kami rasa, cara ini yang paling efektif. Terima kasih karena kamu sudah menahan diri untuk tidak memberitahukan kebenarannya. Kami juga melakukan semua ini demi Taiki.” Chinen tersenyum mengakhiri penjelasannya dan mengantar Taiga sampai ruang depan.

Setelah mengetahui kebenaran dan juga alasan kenapa kebenaran itu disembunyikan, akhirnya Taiga bisa meninggalkan rumah ini dengan tenang. Taiga menghampiri Jesse yang sudah menyambutnya dengan pelukan. “Tadaima.” Kata Taiga saat berada dalam pelukan Jesse.

“Okaeri.” Balas Jesse, menuntun Taiga menuju mobilnya, masih memeluknya.

Saat di parkiran mobil, tiba-tiba Taiga lagi-lagi merasakan seperti ada seseorang sedang mengawasinya. Taiga mengitarkan pandangannya, mencari kalau-kalau ada salah satu dari temannya yang ingin mengantarkan kepergiannya, tapi Taiga tidak melihat siapa-siapa.

“Ada apa?” tanya Jesse penasaran melihat wajah kebingungan Taiga. “Ah, bukan apa-apa. Sepertinya hanya perasaanku saja. Ayo kita pulaaaang!” Kata Taiga kembali memfokuskan pandangannya ke jalan.

“Oi, oi. Ini rumah nenekku, bukan rumah kita. Jadi bukan pulang namanya! Lagian, kamu juga belum pernah ke sana!” kata Jesse menegur Taiga.

Mengabaikan teguran Jesse, Taiga mulai sibuk menyetel music player di mobil Jesse dan menikmati sisa perjalanan mereka. Bersama dengan Jesse, Taiga akan memulai petualangan barunya di Amerika. Welcome to The Real USA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s