[Minichapter] Lost In America (#1)

– Juara 2 SAGITTARIUS SQUAD Fanfic Challenge

LOST IN AMERICA
By: kyomochii
Genre: Drama, Family, Mistery, Romance, Suspense
Rating: PG-13
Cast: Kyomoto Taiga, Jesse (SixTONES); Chinen Yuri, Nakajima Yuto, Arioka Daiki, Inoo Kei, Yamada Ryosuke (and the rest member of Hey! Say! JUMP as member of the house); Ohno Satoshi (Arashi); Konno Taiki (Johnny’s Jr)
Disclaimer: This fanfic is just a pop-up imagination. I don’t have anything. All cast is under Johnny’s Talent Agency.
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Sudah hampir dua hari, Taiga berjalan tanpa tujuan yang jelas. Rencananya untuk pergi ke Amerika menyusul Jesse, sekarang jadi berantakan. Dengan bodohnya, Taiga percaya begitu saja ketika seorang sopir taksi, datang menawari untuk membawakan barang-barangnya dan berjanji mengantarnya ke tempat tujuan. Tapi baru 10 menit keluar bandara, sopir taksi itu malah menepikan mobilnya. Setelah itu segerombolan pemuda mendekati mereka dan salah seorang di antaranya menarik keluar Taiga. Mereka mengambil semua barang Taiga, hanya menyisakan baju yang dikenakannya dan juga paspor dan visa miliknya.

Semua barang bawaan Taiga musnah, termasuk juga HPnya. Tanpa HPnya, Taiga tidak bisa menghubungi Jesse ataupun keluarganya. Dan yang terparah, Taiga sama sekali tidak pernah mengingat nomor mereka. Di tengah rasa putus asa, lelah dan lapar yang luar biasa, Taiga memutuskan untuk berhenti di sebuah pemukiman yang dilewatinya, berharap ada seseorang yang berbaik hati mau menolongnya.

Taiga terlihat seperti orang kebingungan ketika tiba-tiba seorang gadis, tampak berusia sekitar 12 tahunan, mendekat mengajaknya berbicara dalam bahasa korea. Karena sadar Taiga tidak paham dengan apa yang dibicarakannya, gadis itu memanggil salah seorang temannya yang tampak 3 tahun lebih tua darinya.

“Halo, perkenalkan nama saya Seunghye. Apakah kamu pekerja baru di daerah sini? Maaf, adikku mengira kamu orang Korea. Kalau boleh tahu, darimana kah asalmu?” tanya gadis itu fasih dalam bahasa inggris.

Sebenarnya Taiga tahu apa yang dikatakan gadis itu, tapi dia tidak tahu bagaimana membalasnya. Taiga menyesal, selama ini sudah menolak mentah-mentah setiap kali Jesse menawari untuk mengajarinya bahasa inggris, ‘Toh kita akan selalu bersama. Ngapain juga aku harus belajar? Kan, kamu bisa jadi translatorku, selalu!’ kata Taiga. Taiga tidak pernah membayangkan, dia akan benar-benar tersesat di negara asing tanpa Jesse di sampingnya!

“Ano… etto… ee… Taiga, Kyomoto Taiga from Japan desu.” Jawab Taiga terbata-bata. Duh! Taiga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa malu karena tidak lancar bahkan untuk percakapan yang sangat sederhana.

“Ah, Jepang, syukurlah. Aku bisa sedikit-sedikit berbahasa Jepang kok, Yuri-nii yang mengajarinya. Sebaiknya kamu aku antar ke tempat mereka.” Kata gadis itu dalam bahasa jepang, dan campuran bahasa inggris, membuatnya terlihat lucu saat mengucapkannya. Taiga hanya mengangguk, karena masih trauma untuk berbicara bahasa inggris lagi setelah kegagalan pertamanya, dan pergi mengikuti kedua gadis itu kemana akan mengantarnya.

Mereka tidak akan menipuku! Mereka terlalu lucu untuk jadi seorang penipu. Lagipula, aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dirampok. Pikiran Taiga bergejolak, ketika kedua gadis itu mengajaknya menyeberangi sebuah lapangan yang dibatasi kawat berduri, tempat yang begitu sepi dan terlihat sangat berbahaya untuk dilewati dua gadis kecil sendirian.

Begitu mereka berhasil melintasi lapangan, Taiga melihat sebuah penginapan sederhana, tapi cukup nyaman jika dibandingan dengan pemukiman tadi, kental sekali dengan suasana Jepangnya. Saat kedua gadis itu tiba di depan pintunya, seorang pemuda imut, terlihat terlalu imut sehingga Taiga ragu untuk menebak umurnya, menghampiri mereka dan mengelap lembut pipi keduanya, terlihat sangat khawatir.

“Kalian kenapa ke sini malam-malam begini? Berdua saja? Sebaiknya kalian masuk dan menginap di sini malam ini. Aku akan menghubungi Rida* untuk memberitahukan orang tua kalian. Ayo masuk!” (Rida* = Leader = Ketua). Pemuda itu menggendong gadis yang kecil, meski terlihat sangat kesusahan, mengajak keduanya masuk, saat tangan Seunghye menahannya untuk memberitahukan keberadaan Taiga.

“Yuri-nii, sebenarnya kita mengantarkan seseorang ke sini.” Saat Seunghye mengatakannya, tampaknya pemuda itu baru menyadari keberadaan Taiga. “Oh, hai. Orang Jepang?” Taiga mengangguk sopan dan buru-buru memperkenalkan dirinya.

“Kyomoto Taiga desu. 22 tahun, tapi masih satu minggu lagi sih.” Taiga meringis malu karena merasa sudah mengatakan hal yang sangat tidak penting. “Wah sama dong! Aku juga 23 tahun satu minggu lagi! Kamu lahir tanggal berapa?”

“Hmm, 3 Desember. Kalau, kamu…?” Taiga sengaja menggantung saat menyebutkan ‘kamu’ agar pemuda itu sadar kalau dia belum memperkenalkan dirinya.

“Ah, iya. Aku Chinen Yuri. Panggil aku sesukamu! Aku tidak akan mempermasalahkannya.” Kata pemuda itu tersenyum ramah. “Kalau aku sih 30 november. Ngomong-ngomong, di rumah ini banyak yang ulang tahun sebentar lagi. Asyiik, pesta tiap hari.” Seru Chinen, yang kalau Taiga tidak yakin sudah mendengar Chinen mengatakan usianya akan 23, yang artinya setahun lebih tua darinya, pasti akan mengira Chinen masih bocah.

“Ya ampun, aku jadi lama-lama membiarkan kalian di luar, padahal cuaca mulai dingin seperti ini. Ayo kita lanjutkan ngobrol di dalam.” Chinen mempersilahkan Taiga masuk ke penginapannya, yang lebih nyaman di sebut rumah, masih menggendong adik Seunghye dalam pelukannya.

“Sebentar, aku akan mengantar Seunghye dan Jiyeoul ke kamar dulu. Kamu tunggu di sini sebentar ya!” kata Chinen, lalu menghilang di balik sebuah lemari, yang Taiga yakin terdapat pintu di belakangnya yang menuju ke suatu tempat.

Taiga melihat seorang anak laki-laki sedang tertidur di meja seberang tempatnya menunggu, tampak ketiduran saat belajar. Taiga menarik kursi sangat pelan, tidak ingin membangunkan anak laki-laki itu. Tapi sepertinya usahanya gagal, karena anak laki-laki itu sudah terbangun saat Taiga masih mulai menggerakkan tangannya untuk menarik kursi.

“Ah, eh, iya niichan, aku mau pindah ke kamar kok. Oyasumi.” Katanya seraya meninggalkan Taiga yang masih melongo kebingungan. “Sepertinya dia ngigau!” tebak Taiga, lalu terkikik, karena baru pertama kali baginya melihat orang mengigau secara langsung.

“Kamu kenapa?” tanya Chinen, saat pemuda itu sudah kembali dan menghampirinya. “Ah, itu, anak yang ketiduran di situ tadi. Sepertinya dia ngigau dan memanggilku ‘niichan’, terus pergi begitu saja ke kamar.” Jelas Taiga masih terkikik. Kejadian tadi, bahkan terlihat lebih lucu saat dia menceritakannya kembali.

“Dia memanggilmu ‘niichan’? Mungkin dia memang menganggapmu sebagai kakaknya.” Taiga tidak mengerti maksud Chinen, sehingga memintanya untuk menjelaskan lebih detail.

“Anak itu namanya Taiki. Dia pergi ke Amerika bersama kakaknya, hanya berdua, dengan tujuan, mencari ayah mereka. Waktu itu umurnya masih 14 tahun dan kakaknya sekitar 20 tahun, pontang-panting ke sana-sini, mencari sebuah alamat yang pernah diberikan ayah mereka ke ibu mereka. Tapi saat mereka tiba di alamat itu, orang-orang di tempat lama ayahnya mengatakan kalau sudah pindah dan memberikan alamat baru. Tapi setiap kali tiba di alamat baru, mereka tetap tidak bisa menemukan ayah mereka. Sampai setahun kemudian, mereka tiba di tempat ini dan ketemu Rida. Meskipun Rida tahu kalau ayah mereka sudah tidak bekerja di daerah sini lagi, Rida melarang mereka untuk pergi dan menyuruh mereka untuk menetap di sini. Rida menyekolahkan Taiki dan memberi pekerjaan kepada kakaknya, serta mengijinkan mereka setiap akhir pekan untuk pergi mencari ayah mereka dengan syarat tetap kembali ke rumah ini.” Chinen tampak sudah mengakhiri ceritanya, tapi Taiga masih mempunyai banyak pertanyaan yang sepertinya belum Chinen ceritakan.

“Terus? Apakah mereka sudah menemukan ayah mereka? Berarti kakak Taiki tinggal di sini juga? Apa kita memang mirip? Sampai Taiki salah mengenaliku sebagai kakaknya?” Taiga menyerang Chinen dengan pertanyaan secara bertubi-tubi. Chinen tertawa, tapi Taiga tidak tahu kenapa Chinen menertawainya.

“Ternyata kamu orangnya gampang penasaran juga ya. Tapi aku tidak akan menceritakannya hari ini. Tidak sebelum kamu menceritakan tentang dirimu. Bagaimana kamu bisa tiba di sini tanpa satu barangpun selain bawa diri?” Chinen menegaskan kalau rumah mereka bukan tempat penampungan orang asing, meskipun Chinen yakin Rida akan melakukannya. Tapi setidaknya, Chinen ingin mengetahui latar belakang Taiga dengan sebaik-baiknya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi di rumah mereka.

Taiga menceritakan kejadian yang dialaminya, mencoba sedikit mendramatisir agar Chinen bersimpati kepadanya, tapi ternyata malah sebaliknya, bahkan Chinen menertawainya lebih keras daripada saat dia bertanya.

“Ya ampun Taiga, kamu umur berapa?!! Hello, boy!! Ini Amerika!!! Mungkin aku seharusnya kaget karena kamu masih perawan sampai tiba di tempat ini! Dengan wajah cantik seperti itu, Tuhan masih sangat menyayangimu karena sudah menghindarkanmu dari gerombolan pemuda yang suka melakukan asusila di daerah sekitar sini!” Taiga tidak tahu harus berekspresi seperti apa saat mendengar Chinen mengatakannya, Shock? Malu? Takut? Senang karena sudah selamat? Semua perasaan campur aduk di pikirannya. Butuh waktu beberapa menit sampai Chinen berhasil menghentikan tawanya.

“Kamu pasti belum makan dari kemarin, kan? Ini ada beberapa sisa makan malam hari ini. Maaf adanya cuma makanan siap saji, karena Rida belum pulang selama dua hari ini. Meskipun hari ini jadwalnya pulang, sih. Nikmatilah, anggap saja rumah sendiri.” Kata Chinen seraya menyerahkan cup ramen yang sudah disiramnya dengan air panas dan membuatkan sebuah coklat panas untuk menghangatkan tubuh Taiga.

Meskipun hanya ramen instan, tapi sudah sangat mampu menghilangkan derita kelaparan dan rasa rindu Taiga akan makanan. Taiga tidak tahu bagaimana lagi caranya berterima kasih kepada Tuhan karena sudah sangat menyanyanginya selama dua hari ini, karena selalu melindunginya dan mempertemukannya dengan orang-orang baik ini, yah meskipun sudah membuatnya menderita karena tidak melindunginya dari permapokan kemarin.

Setelah selesai makan, Chinen menyuruh Taiga untuk mandi dan memberinya baju ganti milik kakak Taiki bahkan menyuruhnya untuk tidur di kamar kakak Taiki. Taiga menurutinya tanpa bertanya, karena Chinen tadi sudah berjanji akan menceritakannya besok. Akibat kelelahannya yang parah, begitu menempelkan kepalanya di bantal, Taiga sudah berlayar ke alam mimpinya. Dengan senyum tersungging, Taiga siap menyambut hari esok yang cerah.

*****
Taiga terbangun dari tidurnya karena gelisah. Taiga merasa ada seseorang yang sedang mengawasinya, entah siapa. Tangannya meraba-raba bagian bawah bantal, tempatnya biasa meletakkan HPnya. “Oh iya, HPku kan hilang.” Keluh Taiga saat kesadarannya mulai terkumpul sepenuhnya. Tanpa HP, Taiga merasa benar-benar tidak tahu apa-apa.

Taiga memutuskan untuk keluar kamar, mencaritahu sudah pukul berapa dia terbangun. Betapa terkejutnya dia saat mendapati hari sudah sangat cerah sedangkan jam di dinding masih menunjukkan pukul 5 pagi.

Oh, bukan. Tentu saja itu bukan pukul 5 pagi, tapi pukul 5 sore, yang berarti pukul 7 pagi di Jepang keesokan harinya. “Ya ampun, aku masih belum terbiasa dengan jetlag ini!” keluh Taiga dalam hati. Taiga tidak tahu tepatnya, sudah berapa lama dia tertidur.

“Yo, Taiga! Kamu sudah bangun!” Taiga mendengar suara Chinen datang mengagetkannya dari belakang. “Eh, Ohayou Chinen-kun!” sapa Taiga, meskipun dia tahu hari sudah sore.

“Ohayou! Gimana tidurmu? Nyenyak? Beberapa kali aku mengecek kamarmu, sepertinya kamu terlalu lelah dan belum terbiasa dengan perbedaan waktu, makanya aku terpaksa membiarkanmu. Sebaiknya kamu mulai membiasakan diri kalau ingin tinggal dalam jangka waktu lama di Amerika!”

Taiga menunduk malu karena ini memang kali pertamanya ke Amerika, tentu saja dia belum terbiasa. Taiga mengikuti Chinen, menawari untuk membantu membawa sayuran yang ada di tangannya. “Ini mau diapakan, Chinen-kun?” tanya Taiga penasaran.

“Tentu saja akan menanamnya. Ini jatah makanan rumah ini untuk beberapa bulan ke depan. Kamu tahu, cuma sayuran ini yang bisa tumbuh dengan baik di musim dingin. Entahlah aku tidak tahu apa namanya, yang pasti rasanya tidak kalah enak dari terong belanda!”

Hah? Terong? Oh tidak, itu makanan yang paling Taiga tidak suka. Tapi Taiga terpaksa ber-oh sebagai tanda dia mengerti maksud Chinen dan memutuskan untuk tidak bertanya-tanya lagi.

Taiga melihat beberapa orang sudah berada di halaman belakang rumah, terlihat sibuk membersihkan pekarangan yang akan mereka gunakan untuk menanam sayuran tadi. Saat Taiga mendekat, tampak keterkejutan di wajah hampir semua orang yang memandangnya. Tahu kalau belum ada seorangpun yang ditemuinya selain Chinen, Taiga berinisiatif untuk memperkenalkan dirinya.

“Konnichiwa, Kyomoto Taiga desu.” salam Taiga, mencoba melunturkan kecanggungan di antara mereka. “Wah, kami terkejut! Kami kira kamu…” kata seorang pemuda berambut jamur menghentikan kata-katanya saat seorang temannya memperingatkannya.

“Oh, hai. Kenalkan aku Nakajima Yuto. Senang bisa bertemu denganmu, Taiga! Panggil saja aku Yuto, karena semua orang memanggilku begitu.” Seorang pemuda dengan tinggi yang sama dengannya, tapi memliki badan super tegap, layaknya seorang model, datang menyapa Taiga. Taiga menerima uluran tangan Yuto, balas menyalaminya, meskipun belum terbiasa.

“Aku Arioka Daiki dan ini Inoo Kei. Santai saja dengan kami. Tidak perlu mengkhawatirkan umur.” Sapa seorang pemuda dengan perawakan sama imutnya dengan Chinen memperkenalkan teman rambut jamurnya juga sebagai Inoo Kei. “Hai, Daiki-kun, Inoo-kun.” Taiga membungkuk sopan, membalas sapaan kedua pemuda itu yang tidak menyalaminya seperti yang dilakukan Yuto.

“Chiichan sudah menceritakan garis besar keadaan yang menimpamu, kami ikut prihatin mendengarnya.” Kata Yuto berusaha terdengar sangat bersimpati, tapi gagal menyembunyikan sedikit perasaan menggelitiknya. Taiga menghargai usaha Yuto untuk tidak tertawa, setidaknya Chinen semalam bereaksi lebih parah.

“Kamu bilang, temanmu berkuliah di sini kan? Tenang saja, kami punya Inoochan yang mempunyai koneksi ke berbagai Persatuan Pelajar yang tinggal di Amerika. Kami akan membantumu untuk segera bertemu dengan temanmu.” Taiga merasa semua kegelisahannya sirna seketika saat mendengar Yuto mengatakannya.

“Hontou ni?” Taiga meminta Yuto untuk memperjelas kata-katanya. “Iya, aku akan mencoba membantu sebisanya. Ngomong-ngomong, siapa nama temanmu?”  kata Inoo yang sudah berjalan mendekati Taiga. Setelah dilihat dari dekat, pemuda itu terlihat sangat cantik, bahkan bagi Taiga yang sedari lahir sering dikira cewek oleh teman-teman mamanya.

“Jesse, Lewis Jesse, Inoo-kun.” kata Taiga tergagap karena sedikit kaget ketika Inoo mendekatkan wajah terlalu dekat dengannya. “Hmm, maaf, aku lupa pakai softlensku, jadi penglihatanku sedikit kabur. Aku harus melihatmu dari dekat agar bisa mengenali wajahmu. Ternyata kalau dari dekat kamu tidak sama dengan Yamada.” Kata Inoo sedikit bergumam saat menyebut nama yang diucapkannya.

“Eh, tunggu dulu! Jesse? Lewis Jesse? Namanya bukan seperti orang Jepang!” kata Yuto tiba-tiba. “Ah, iya. Dia memang blasteran. Tapi dari kecil sudah tinggal di Jepang, karena tinggal bersama papa dan mamanya. Tapi begitu kuliah, dia memutuskan untuk kembali ke Amerika untuk menemani neneknya.” Jelas Taiga, menjawab kebingungan Yuto.

“Hmmm, sepertinya aku tidak asing dengan nama itu. Lewis, hmmmm? Kei, bukannya kamu punya saudara jauh yang ayahnya orang Amerika? Siapa namanya?” tanya Daiki, mencoba mengingatkan temannya. “Iya, namanya memang Lewis. Aku hanya pernah sekali bertemu dengannya saat di pesta pernikahan mereka, itu sudah lama sekali. Jadi aku tidak tahu ada berapa anak mereka. Lagipula, nama Lewis itu banyak sekali di Amerika.” Jelas Inoo, terlihat enggan membahas silsilah keluarganya.

“Tapi tidak ada salahnya mencoba. Aku akan menghubungi mereka nanti. Siapa tahu, memang sepupuku adalah teman yang sedang kamu cari.” tambah Inoo tidak ingin mengecewakan Taiga.

“Terima kasih, Inoo-kun, Daiki-kun.” Taiga membungkuk dalam-dalam, tidak tahu bagaimana mengekspresikan rasa terima kasihnya.

“Woi, kalian sudah selesai ceritanya belum? Aku sama Keito perlu bantuan nih!” Chinen berteriak memanggil teman-temannya yang tiba-tiba angkat tangan dan membiarkannya bekerja hanya berdua dengan pemuda bernama Keito itu. Akhirnya keempatnya memutuskan kembali ke pekarangan untuk membantu Keito dan Chinen agar pekerjaan mereka cepat selesai sebelum petang.

*****
Taiga tidak tahu mengapa teman-temannya menyuruhnya untuk bersembunyi sambil membawa kue ulang tahun. Setidaknya, dia harus tetap bersembunyi sampai Chinen memberinya aba-aba untuk boleh menunjukkan diri. Mendadak suasana menjadi hening. Taiga penasaran apa yang terjadi tapi mengurungkan niatnya untuk mengintip.

“Tadaima.” Terdengar suara seorang anak laki-laki yang baru pulang dari sekolahnya. Mungkin Taiki, pikir Taiga. Karena seharian tadi, Taiga sama sekali belum melihat Taiki.

“Otanjoubi Omedetou, Taiki!” Keheningan terpecah saat seisi ruangan sudah penuh dengan suara terompet dan bunga letup di mana-mana. Saat itu juga, Taiga mengerti mengapa dia harus bersembunyi.

“Taiga, kamu boleh keluar sekarang. Sambil menyanyi selamat ulang tahun, bisa?” Chinen memberi aba-aba pelan saat semua orang berhasil menyita seuruh perhatian Taiki. Taiga melakukan sesuai intruksi yang diberikan Chinen.

Tiba-tiba suasana kembali hening saat Taiga sudah berdiri di depan Taiki. Tentu saja anak itu tahu kalau Taiga bukanlah kakaknya, karena suara mereka pasti berbeda. Tapi ternyata, kenyataan itu tidak membuat Taiki menghentikan langkahnya untuk memeluk Taiga.

“Maaf, aku tahu kamu bukan kakakku. Badanmu juga terlalu kurus untuk jadi kakakku. Tapi ijinkan aku memelukmu untuk melepaskan rinduku.” Kata Taiki yang sudah memeluk Taiga dengan posesif, membuat Taiga meminta Yuto untuk mengambil kue ulang tahun yang sedang dibawanya agar tidak terjatuh.

Perlahan Taiga mulai membalas pelukan Taiki, merasa aneh karena belum pernah melakukannya sebelumnya. Tentu saja kalau berpelukan, Taiga sudah sering melakukannya. Dengan papanya, dengan mamanya, ataupun dengan Jesse. Tapi dengan anak lelaki yang lebih kecil darinya, ini pertama kali bagi Taiga, karena Taiga adalah anak tunggal di keluarganya.

“Terima kasih.” Kata Taiki saat mengakhiri pelukannya. “Kamu terlihat cocok pakai baju kakakku. Tapi aku yakin, celananya pasti kependekan semua di kamu.” Taiga tersenyum mendengar pernyataan Taiki. Sepertinya, kakak Taiki memang mempunyai postur lebih pendek darinya. Benar saja, Taiga akhirnya terpaksa meminjam celana dari Yuto karena tidak menemukan satu celana pun yang bisa dipakainya di lemari kakak Taiki.

“Ayo Taiki, tiup lilinnya. Nanti keburu angin yang meniupnya lho.” Yuto menyodorkan kue ulang tahun Taiki agar anak itu meniup lilinnya. “Minna arigatou. Yuto-nii, Yuri-nii, Keito-nii, Daiki-nii, Kei-nii, etto…” Pandangan Taiki tertuju pada Taiga. “Taiga, panggil aku Taiga!”

“Taiga-nii. Arigatou, minna.” Taiki memejamkan matanya untuk membuat permohonan, lalu meniup lilin ulang tahunnya.

“Tapi seperti biasa, untuk menghemat biaya, kita akan merayakannya dua hari lagi bersama dengan ulang tahun Rida.” kata Inoo mengingatkan. “Jadi menu malam ini, hanya makan malam biasa!” Chinen menambahkan. Lalu semuanya mulai makan malam bersama.

“Ano, Yuto-kun, apa aku boleh tanya sesuatu tentang kakak Taiki?” tanya Taiga hati-hati saat keduanya sudah tinggal berdua saja karena yang lainnya memutuskan untuk pergi tidur lebih awal.

Yuto menimbang-nimbang, terlihat sedang sibuk memilih kata-kata, entah untuk menolak memberitahu Taiga atau menyusun cerita agar Taiga mudah memahaminya. “Sebenarnya, aku tidak yakin apa aku boleh membertitahumu. Tapi sejak awal aku melihatmu, aku merasa kamu orang yang bisa menyimpan rahasia. Jadi aku akan menceritakannya. Hanya garis besarnya saja, ya?” tawar Yuto menyetujui untuk memberi tahu Taiga. Taiga mengangguk, tidak menolak sesedikit apapun informasi yang akan diberikan Yuto demi menghilangkan rasa penasarannya.

“Beberapa bulan lalu, kami semua melakukan liburan musim panas di sebuah pantai di daerah Portland. Kami terlalu asyik, sehingga lupa untuk tidak saling menjaga satu sama lain. Sampai tiba waktu pulang, kami menyadari kalau Yamachan sudah tidak ada lagi bersama kami. Kami sudah mencarinya, bahkan petugas keselamatan membantu kami untuk mencarinya. Selama berhari-hari, kami terus mencarinya. Tapi tidak membuahkan hasil apa-apa. Bahkan hingga hari ini, kami semua tidak ada yang tahu bagaimana nasib Yamachan yang sebenarnya.” Suara Yuto terdengar berat, seperti sangat kehilangan.

“Apa kalian sudah melaporkannya ke polisi?” tanya Taiga, tidak tahu harus menanggapi bagaimana. “Kami sudah melakukannya. Bahkan kami sudah membuat berita orang hilang. Tapi belum ada seorang pun yang melihatnya.” Jawab Yuto.

“Kami semua sudah memikirkan kemungkinan terburuk, tapi tidak mengatakannya demi Taiki. Setidaknya, sampai kami benar-benar melihat mayat Yamachan, kami tidak akan menganggapnya sudah tiada.” Kata-kata Yuto tercekat saat mengucapkan kata ‘mayat’ dan terlihat sedang menahan diri untuk tidak menangis.

“Sudah, hanya sejauh itu yang bisa aku ceritakan. Tolong jangan tanya lebih jauh lagi.” Kata Yuto mengakhiri penjelasannya lalu ijin untuk pergi ke kamar terlebih dulu setelah mengingatkan Taiga untuk pergi tidur juga.

“Jadi, Yama… etto siapa ya namanya? Hmm, kalau tidak salah Inoo-kun tadi sore menyebutnya ‘Yamada’… Ya, Yamada-kun ini belum tahu masih hidup atau sudah meninggal ya? Kenapa aku punya firasat buruk tentang kejadian ini ya?”

Taiga menoleh ke belakang, ketika tiba-tiba perasaan seperti sedang diawasi kembali menghantuinya. Taiga memperhatikan seisi ruangan, tapi tidak menemukan seorang pun sedang mengawasinya. Karena merasa tidak enak, akhirnya Taiga memutuskan untuk pergi ke kamar juga. Taiga mengunci pintu kamarnya, masih merasa parno, takut kalau-kalau ada yang mengikutinya.

*****
Untuk pertama kalinya, Taiga melihat penghuni rumah yang ditinggalinya secara lengkap, ditambah 4 orang lagi selain orang-orang yang sudah ditemuinya. Ada Yabu Kota, Takaki Yuya dan Yaotome Hikaru yang terlihat sepantaran dengan Inoo dan Daiki. Serta seorang lagi, Ohno Satoshi, Rida yang sedari kemarin terus Chinen bicarakan.

“Ohayou, Taiga! Ini pertama kali kita bertemu ya? Maaf, kami memang selalu pulang lebih dari tengah malam dan harus berangkat kerja lagi saat siang. Sehingga kemarin kita tidak sempat bertemu ya?!” Sapa Hikaru, yang terlihat paling ramah di antara ketiga orang yang baru dikenalnya. Sedangkan Rida, meskipun Chinen menceritakan betapa baikknya dia, sejak pertama melihat wajahnya, Taiga tidak bisa mendapatkan kesan ramah. Sehingga Taiga terus-terusan berusaha menghindari untuk bertatapan langsung dengannya.

“Ngomong-ngomong, Taiki, Chinen-kun dan Daiki-kun kemana? Kok aku tidak melihat mereka?” tanya Taiga kepada Yuto, yang sengaja dia duduk di sebelahnya. Karena hanya Yuto, satu-satunya yang membuat Taiga nyaman dan merasa tidak sungkan.

“Chiichan dan Taiki baru saja pergi saat kamu datang. Kalau Daichan, dia memang jarang turun untuk sarapan. Nanti Inoochan akan membawakan sarapannya saat dia kembali ke kamar mereka.” Yuto menjelaskan.

“Ah iya, Yuto-kun. Semua orang di rumah ini, sekamar berdua, kan? Tapi kenapa Yamada-kun hanya sendiri?” Taiga merasa penasaran, setelah menyadari kalau semua orang memang tinggal satu kamar berdua. Yuto dengan Chinen, Keito dengan Takaki, Daiki dengan Inoo dan Yabu dengan Hikaru.

“Sebenarnya dia satu kamar berdua dengan Taiki. Tapi sejak dia menghilang, Taiki tinggal di kamar Rida. Sehingga kamar mereka menjadi kosong, dan sekarang kamu yang memakainya.” Taiga ber-oh panjang tanda memahami penjelasan Yuto.

“Oh iya, Taiga. Aku sudah meminta alamat rumah saudaraku yang di Amerika. Tapi aku belum bisa ke sana hingga lusa. Hari ini aku akan mencoba mencarikan informasi dari forum-forum yang aku kenal anggotanya.” Kata Inoo setelah menyelesaikan sarapannya.

“Terima kasih, Inoo-kun. Terima kasih banyak.” Kata Taiga di sela-sela kesibukan mengunyah sarapannya.

“Apa aku boleh ikut untuk besok lusa?” tanya Taiga. “Hmm, baiklah. Kita akan mengaturnya nanti. Aku mau membawakan sarapan Daichan dulu ya. Semoga harimu menyenangkan.” Inoo terlihat menghilang, setelah menaiki tangga menuju kamarnya.

“Lalu, rencanamu hari ini apa, Taiga?” tanya Yuto yang hampir menyelesaikan sarapannya. “Hmm, aku tidak tahu. Aku tidak tahu mana-mana di Amerika. Mungkin seharian di rumah saja.” Taiga tidak kepikiran apapun yang ingin dilakukannya selain segera bertemu dengan Jesse.

“Bagaimana kalau ikut aku kerja? Siapa tahu, kamu juga bisa menghasilkan uang dengan tampangmu itu.” Kata Yuto menyarankan. Taiga menyetujui ide Yuto dan segera menuju kamarnya untuk berganti baju. Untungnya, meskipun Yamada berpostur kecil, tapi baju-bajunya masih tetap stylish dan dia cukup menyukainya.

Taiga terkejut saat mendapati lemarinya sangat berantakan, seperti seseorang telah mengobrak-abrik lemarinya untuk mencari sesuatu. Setelah menemukan baju yang sesuai seleranya, Taiga hendak merapikan lemarinya ketika suara Yuto terdengar menyuruhnya untuk segera, sehingga dia mengurungkan niatnya dan meninggalkan kamarnya begitu saja.

Seharian penuh, Taiga mengikuti Yuto ke tempat kerjanya. Betul sesuai dugaan Taiga, Yuto memang bekerja sebagai model sebuah majalah fashion Asia yang sedang berusaha melebarkan sayapnya di Amerika.

“Kalau kamu sering membeli majalah fashion, aku sudah sering menjadi model dari SMA. Aku memutuskan pergi ke Amerika karena tidak bisa membiarkan Chiichan sendiri tanpa perlindungan. Kamu lihat kan, dia selalu bergantung padaku?”

Jujur saja, Taiga tidak terlalu melihat Chinen yang bergantung pada Yuto, tapi mengangguk saja mengiyakan asal Yuto senang.

“Dia mendapat panggilan untuk menjadi tenaga pengajar sukarela di beberapa pemukiman asing yang ada di Amerika.” Yuto menjelaskan mengapa Chinen sampai harus ke Amerika. “Seperti daerah rumah Seunghye?” Taiga mengingat Seunghye yang pernah mengatakan kalau Chinen sering mengajarinya.

“Nah iya! Seperti pemukiman yang ada di sekitar rumah kita. Tempat itu merupakan favorite Chiichan, makanya kami memutuskan tinggal di dekat sana berdasarkan rekomendasi Keito, teman mengajar Chiichan.”

“Jadi kamu model, Chinen-kun dan Keito-kun pengajar, Taiki masih sekolah, Yabu-kun, Takaki-kun dan Hikaru-kun bekerja dengan Rida di sebuah perusahaan Jepang di dekat pemukiman, Inoo-kun peneliti, terus kalau Daiki-kun dan Yamada-kun apa pekerjaan mereka?” tanya Taiga setelah membuat sebuah kesimpulan dari cerita Yuto tentang pekerjaan orang-orang di rumahnya.

“Mereka berdua lulusan sekolah IT ternama di Jepang. Mereka sering melakukan pekerjaan dari rumah saja. Sehingga membuat keduanya sangat dekat dan sepertinya sempat membuat Inoochan cemburu dengan Yamachan gara-gara itu.” Yuto tertawa.

“Bukannya mau menutup mata, tapi sepertinya setiap orang di rumah kita mempunyai perasaan dengan masing-masing teman sekamarnya. Tidak termasuk aku tentunya. Aku menganggap Chiichan sudah seperti adikku. Aku masih menyukai cewek kok.” Yuto berusaha mengklarifikasi hubungannya dengan Chinen. Taiga hanya tersenyum penuh makna menanggapi pemikiran Yuto.

“Wah, aku terkejut kamu sama sekali tidak kaget dengan kenyataan yang aku ceritakan. Jangan bilang, kamu juga?” tanya Yuto penuh selidik. Taiga mengalihkan pandangannya, mencoba mengabaikan tuduhan Yuto. Tapi yang dilakukannya malah membuat Yuto membuat kesimpulan kalau Taiga juga sama.

“Oke, aku sudah bilang kalau aku masih suka cewek. Jadi, tolong jangan punya perasaan kepadaku ya?” Yuto memohon, membuat Taiga merasa tidak enak dibuatnya. “Sudahlah Yuto-kun, tidak perlu membahas itu. Aku sudah punya seseorang yang aku cinta. Jadi tenang saja!”

“Oh, syukurlah. Eh? Kamu sudah punya? Cowok kah? Atau cewek?” tanya Yuto masih berusaha melanjutkan. “Yuto-kun…” Sekarang giliran Taiga yang memohon pada Yuto untuk menghentikan interogasinya. Yuto menyerah karena sejujurnya dia juga tidak ingin membahasnya lebih jauh lagi.

“Jadi Inoo-kun tidak menyukai Yamada-kun?” Taiga mencoba memperjelas hubungan antara Inoo dan Yamada.

“Bukannya tidak suka. Tapi cuma pernah cemburu saja. Lagipula dia tidak cuma cemburu dengan Yamachan kok. Dia juga cemburu dengan Takaki-kun bahkan aku, hanya karena kami tidak terlihat mempunyai hubungan dengan teman sekamar kami. Inoochan memang pencemburu berat.”

“Tadi pagi aku cerita ke kamu kalau Daichan jarang turun untuk sarapan, kan? Hikaru-kun pernah bilang kalau Inoochan melarang Daichan turun karena Daichan terlihat sangat cantik setiap kali bangun tidur dan membuat Inoochan merasa semua orang akan tertarik pada Daichan kalau melihatnya. Dulu pernah sekali Daichan turun untuk sarapan dan Takaki-kun tidak henti memandanginya.”

“Eh? Jadi di antara mereka siapa yang menjadi ukenya?” tanya Taiga secara refleks, karena menurutnya Inoo terlihat sangat cantik, sehingga dia mengira kalau Inoo lah yang menjadi ukenya.

“Entahlah, aku tidak paham dengan hal-hal seperti itu. Jangan tanya padaku!” kata Yuto sedikit emosi karena menyesal sudah memancing Taiga ke dalam pembicaraan yang selama ini berusaha dihindarinya.

“Baiklah.” Taiga mengikuti Yuto dan memutuskan untuk tidak membahas apa-apa lagi.

****
Ketika bangun tidur keesokan paginya, Taiga kaget saat melihat lemarinya yang sudah rapi lagi. Taiga tidak ingat sudah merapikannya. Bahkan semalam saat dia mengambil baju ganti, Taiga yakin lemarinya masih belum rapi sama sekali.

“Apa mungkin aku merapikannya secara tidak sadar? Rapi-rapi saat tidur, mungkin? Ah sudahlah, yang penting sudah rapi lagi.” kata Taiga pasrah, lalu memutuskan turun untuk sarapan.

Karena hari ini ketepatan hari sabtu, penghuni rumah lengkap sedang di rumah semua. Taiga terkejut saat melihat Rida sedang tertawa dengan Taiki, terlihat seperti seorang ayah yang sedang bermain dengan anaknya.

“Ohayou!” Taiga mencoba menyapa lebih dulu, was-was menunggu bagaimana reaksi Rida. “Ohayou, Taiga!” Balas Rida masih dengan senyumnya, membuat Taiga benar-benar merasa bersalah karena sempat menganggap Rida sebagai orang yang tidak ramah.

“Wah, iya. Pertama kali melihatmu tadi, aku sempat mengira kalau kamu Ryosuke. Tapi kalau dilihat dari dekat, kamu mempunyai wajah lebih cantik.” Rida tertawa, meruntuhkan dinding kecanggungan di antara keduanya.

“Ngomong-ngomong, aku belum sempat menyapamu kemarin pagi. Selamat datang di rumah kami. Tenang saja, aku tidak akan memungut sepeser pun untuk biaya penginapan. Dan kalau untuk makanan, kebetulan selama kamu tinggal di sini adalah hari-hari spesial untuk sebagian besar dari kami, jadi anggap saja kami yang mengundangmu, jadi tidak perlu memikirkannya.” Kata Rida mencoba ramah, meskipun sedang menekankan tentang perhitungan kalau besok-besok Taiga wajib membayarnya.

“Rida jangan galak-galak sama Taiga dong! Dia juga Sagitarius Squad lho! Dia lahir tanggal 3 Desember.” Chinen mencoba memberikan pembelaan untuk Taiga.

“Wah, tanggal 3? Sehari setelah aku dong? Berarti tahun ini aku boleh merayakan telat saja ya? Sekalian barengan Taiga. Jadi traktirannya nanti kita patungan.” Hikaru merangkul Taiga, mencoba mengajaknya bersekongkol.

“Hikaru hentikan! Kamu membuat Taiga tidak nyaman. Lagipula, Taiga belum tentu masih di sini sampai hari itu. Inoochan akan membantunya mencari alamat rumah temannya. Lagipula, Rida sudah berencana untuk membantu Taiga kembali ke Jepang kalau dia tidak berhasil bertemu dengan temannya.” Yabu datang dari arah belakang Hikaru dan Taiga, menarik Hikaru untuk menjauhi Taiga. Sekilas Taiga dapat melihat senyum penuh makna tersungging di bibir Hikaru.

“Paspor dan Visamu masih ada kan, Taiga?” Perhatian Taiga kembali fokus ke Rida yang sedang menanyainya. “Masih ada, Rida. Untung saja perampoknya cukup baik hati untuk mengeluarkan beberapa dokumen penting, supaya aku tidak dideportasi katanya.”

“Mana ada perampok baik hati, Taiga!” Yuto memukul pelan kepala Taiga saat pemuda itu sudah berdiri di sampingnya. Taiga mengaduh manja, membuat Yuto seketika menghindar dari sisinya, mengingat Taiga mungkin tertarik kepadanya.

“Kalian berisik sekali, padahal masih jam segini.” Komentar Inoo yang turun sendiri seraya melihat jam di dinding, menunjukkan masih pukul 7.

“Oh iya, Taiga. Aku membawa kabar baik dan buruk untukmu. Mana dulu yang ingin kamu dengar?” Inoo menawarkan pilihan pada Taiga, seolah sedang menawari roti saja. Taiga terpaksa memilih kabar buruk terlebih dulu, karena tidak ingin menelan kepahitan setelah terbuai kemanisan yang memabukkan.

“Wah sayang sekali pilihan yang salah. Harusnya kalau kamu memilih kabar baik, aku tidak perlu mengatakan kabar buruknya.” Kata Inoo menggoda Taiga. Taiga tidak mengerti maksud Inoo sehingga meminta Inoo untuk cepat-cepat menjelaskannya.

“Jadi, nama Lewis Jesse tidak terdaftar di Persatuan Pelajar mana pun. Jadi kemungkinan, dia memang belum menjadi warga negara Jepang, sehingga dia mendaftar kuliah sebagai warga negara Amerika. Sehingga kemungkinan menemukannya lewat koneksiku yang satu ini sangat mustahil.” Taiga lemas mendengar kabar yang disampaikan Inoo. Berarti memang pulang ke Jepang lah, pilihan yang dimilikinya satu-satunya.

Andai saja Taiga bisa mengingat nomor kedua orang tuanya atau nomor rumahnya, semua ini tidak akan terjadi serumit ini. Jesse pasti akan mudah menemukannya kalau saja Taiga bisa menghubungi salah satu keluarganya atau keluarga Jesse di Jepang. “Lalu kabar baiknya?” tanya Taiga dengan suara super lemah, tidak yakin kalau kabar yang akan disampaikan Inoo benar-benar baik setelah kegagalannya dalam usaha menemukan Jesse.

“Lewis saudara jauhku itu memang mempunyai anak bernama Jesse. Dan aku sudah berhasil menghubunginya. Dia akan ke sini malam ini untuk menjemputmu.”

Seperti ada sebuah kembang api meledak di perutnya, Taiga melonjak kegirangan dibuatnya. Bahkan secara refleks dia memeluk Inoo yang sudah memberinya kabar baik yang benar-benar baik.

“Sudah-sudah. Kalian memberikan contoh yang tidak baik untuk Taiki. Taiki, kamu lebih baik banyak bergaul dengan Yuto saja ya. Jangan dengan mereka.” Kata Rida memperingatkan Taiki, lalu keduanya tertawa.

“Oh iya, Taiki. Mumpung aku ingat, aku harus memberikan ini padamu. Pendant kesayangan Ryo-kun. Dia menitipkannya padaku tepat sebelum menghilang. Aku merasa bersalah karena selalu menyimpannya untukku sendiri. Tapi aku tahu, kamu yang lebih berhak untuk menyimpannya.” Taiki menerima pendant yang diberikan Chinen, lalu memeluknya dengan penuh perasaan sayang. “Arigatou, Yuri-nii.”

Taiga memperhatikan pendant yang dipegang Taiki, merasa tidak asing, seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi di mana? Sepanjang hari itu, perhatian Taiga hampir tersita penuh memikirkan di mana dia pernah melihat pendant Yamada. Bahkan kebahagiaannya karena akan bertemu Jesse, tersisihkan begitu saja.

Taiga merasa aneh dengan semua ini, rasanya dia seperti harus terlibat dalam setiap masalah yang berhubungan dengan Yamada. Misteri perasaan yang merasa selalu diawasi setiap kali setelah membahas Yamada, lemari Yamada yang berantakan tapi tiba-tiba rapi sendiri, dan sekarang pendant milik Yamada. Seolah, Yamada masih ada di suatu tempat, dan benar-benar sedang mengawasi. Atau setidaknya, ada orang yang memiliki peran sebagai pengganti Yamada di rumah ini. Tapi siapa?

—–

To Be Continue

Advertisements

One thought on “[Minichapter] Lost In America (#1)

  1. Cimull

    Wahhh akhirnya Taiga bisa ketemu Jesse yeyeye~
    Inoo-kun jadi penyelamatnya Taigaa~
    Aku makin penasaran ini sebenarnya Yamada-kun menghilangnya karena apa (?)
    Dan Taiga apakah akan lebih jauh masuk untuk mengikuti misteri hilangnya yamada /?) Ditunggu lanjutannya min~ 💕👍👍👍

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s