[Minichapter] Broken Wings (#1)

  • Juara 3 SAGITTARIUS SQUAD CHALLENGE

BROKEN WINGS PART 1
By : Hanazuki
Chara : Kyomoto Taiga (SixTONES), Iwahashi Genki (Mr Prince), Matsushima Sou (Sexy Zone), Abe Ryohei (Snowman), Chinen Yuri (Hey! Say! JUMP), Kyomoto Kirie (OC), dan beberapa karakter dari game Ensemble Star dan karakter lain yang ikut muncul namanya.
Rating: R-13
Genre: Romance (?), Family, drama, Friendship

broken-wings-cover

“Oniichan… chotto matte… oniichaaaan ….”

Bruuuuk

“Kirie chan,  daijoubu?”

“Huaaaa oniichan ittai ….”

Chuuup

“Daijoubu.. daijoubu ….”

*********

“Onee san doushite…. doushite  ….!!!!!!”

“Sudah… kau tak perlu menangisi seperti itu, kakakmu tidak akan tenang kalau kau terus menangis di makamnya seperti ini”

“tapi kenapa? Kenapa onee san bunuh diri seperti ini kenapa?”

“It’s OK, I’m here for you …”

*********

“Ohayou Kirie chan… tidur senyak semalam?”

“um… aaaa tamagoyaki khas oniichan … ummm yummi”

“Arigatou …” Kyomoto Taiga membelai rambut adiknya.

Kyomoto Taiga, Kyomoto Kirie, kakak adik yang sejak kecil sudah ditinggal orang tuanya. Ayahnya supervisor QC di salah satu merk pakaian rumah sakit ternama yang sudah hampir 10 tahun menghabiskan masa kerjanya di luar Jepang dan hanya sesekali pulang ke rumah. Ibunya, dokter bedah terbaik di Jepang. Sangat jarang memiliki waktu untuk keluarganya. Taiga-lah yang sejak kecil menjaga Kirie sendirian, belajar memasak, bermain, belajar ekstra keras demi merawat adik semata wayangnya itu.

“Ummmm Oniichan, hari ini hari perdanamu kan? Cepat berangkat atau kau akan terlambat” Kirie sambil asik memakan tamogoyaki yang ada di atas meja.

“um… aku berangkat dulu yaaa.. kau jangan sampai telat juga yaaa…” Taiga yang selesai menyeruput ocha hangatnya berpamitan, tak lupa meninggalkan kecupan di jidat adiknya, kebiasaan yang selalu ia lakukan sejak kecil

.

“Ohayou gozaimasu. Selamat datang di akademi North Tokyo Star dimana mulai hari ini kalian akan melakukan kegiatan sebagai calon pesepak bola profesional. Dari semua peserta seleksi, hanya kalianlah 20 yang terpilih. Bersiaplah untuk benar benar terjun di dunia sepak bola internasional. Saya Hamada Takahiro yang akan menjadi pelatih utama kalian selama di akademi. Lalu ada pelatih Ohno Satoshi sebagai pelatih untuk kiper. Manfaatkanlah momen kalian selama di akademi karena tidak ada yang tau kapan kalian akan dipanggil ke tim utama.”

“Yes Coach” serempak ke dua puluh remaja usia 17-20 tahun menjawab, termasuk Taiga di dalamnya.

“Sebelum memulai latihan pertama, saya ingin kalian saling mengenal. Akan saya berikan waktu 60 menit untuk saling berkenalan, karena inti utama dalam sepak bola adalah kerja sama tim dan saling percaya.” Coach Hamada memulai

“Dan yang terpenting adalah kalian harus membangun kepercayaan satu sama lain sejak awal, baik untuk kiper, defender, midfielder, atau dimanapun posisi kalian. Ada pertanyaan?” Coach Ohno menambahkan.

“Baiklah bila tidak ada pertanyaan, kalian bebas melakukan apapun selama 60 menit masa saling mengenal ini. Dan apabila nanti kalian mendengar suara lonceng dari lapangan, segeralah menuju ke stadion utama NTS dan berkumpul dalam satu kelompok berisikan 5 orang dengan posisi berbeda yang diinginkan. Oke baiklah kegiatan pertama kalian bisa dimulai dari sekarang” Coach Hamada menutup sesi pertama, bersama Coach Ohno berjalan meninggalkan lokasi bersama Coach Ohno

Taiga melihat sekeliling, belum ada satupun yang dikenalnya. Tapi ia yakin beberapa wajah pernah dilihatnya, mungkin saat turnamen antar SMA, mungkin.

“Kyomoto Taiga?” seseorang menepuk pundaknya, membuyarkan lamunan Taiga

“Em….?” Taiga diam memandang pria yang menepuk pundaknya.

“Kau lupa aku? Jahat sekali yaaa!!!” pria tadi masih sibuk menepuk pundak taiga berkali kali, berharap ada sedikit ingatan Taiga untuk dirinya. Taiga hanya tersenyum manis, si yang merasa mengenal Taiga itu paham betul kode yang dikeluarkan Taiga. Kode yang sangat jelas kalau Taiga lupa.

“Sudah kuduga kau pasti lupa. Abe Ryohei. Masih lupa? Dulu kita bermain bersama di lapangan dekat rumahmu, dan kau selalu mengajak adikmu yang manis itu, siapa namanya Kirie? Kikan… ? emmm sepertinya Kirie. Hahaha” Taiga masih memutar otaknya, mencari serpihan memori masa kecilnya yang entah terselip dimana.

“Sebentar… Abebe? Yang waktu kecil kau selalu nangis saat tidak bisa menjaga barisan belakang dari seranganku saat kita bermain bola? Yang tiba tiba menangis pulang sambil berteriak Mama? Hahahahaha …. kemana saja kau 12 tahun ini heeeh?” Taiga yang ingat tak segan memukul kepala teman sama kecilnya itu. Tentu Abebe sudah sangat berubah menjadi lebih tampan daripada saat dia kecil dulu. Keduanya tertawa mengingat masa lalu bersama mereka.

“Ano… bolehkah kami bergabung? Aku Iwahashi Genki, kalian boleh panggil Genki saja.” Dua pemuda datang menghampiri Taiga dan Abebe, dua orang yang lagi-lagi tampak tak asing bagi Taiga

“umm… Kyomoto Taiga. Salam kenal.”

“Matsushima Sou. Salam kenal”

“hah…hah.. hah… tinggal kalian. Chinen Yuri. Salam kenal. Aku biasa bermain di posisi defender hehehe” tiba-tiba seorang datang lagi dengan terengah-engah. Sosoknya yang tidak terlalu tinggi dan berbadan kecil cukup meragukan sebenarnya untuk posisi defender, tapi siapa yang tahu kenyataan dilapangan.

“Ano…mungkin kita berlima bisa jadi satu tim? Kebetulan posisi Genki adalah kiper,dan aku juga defender” Matsushima Sou mulai percakapan dengan malu

“Tentu saja, tapi sepertinya Taiga belum berkenalan dengan yang lain ya kan?” Abe Ryohei yang biasa dipanggil Abebe ini menyenggol keras pinggang Taiga. “Oh ya, aku belum perkenalan, Abe Ryohei, kalian boleh panggil aku Abebe seperti yang lain. Aku ex pemain sayap terbaik dari Hokaido haahahha”

“Oke jadi diputuskan yaa, Iwahashi kun, Matsushima kun, Kyomoto kun, Abe kun, dan aku satu tim. Mohon kerjasamanyaa…” Chinen Yuri mencoba mengakrabkan diri dengan calon teman satu timnya ini.

“Baiklah, tapi sebelumnya aku kan berkeliling ke 15 orang lainnya untuk memperkenalkan diri, kalian mulailah tanpa aku” Taiga menyetujui, tapi bergegas meninggalkan kelompoknya untuk berkenalan dengan anggota yang lain. Salah satu kelemahan Taiga sejak kecil memang untuk menghafal nama orang, jadi tugas pertama ini tentu saja sulit baginya.

“Aku ikut Taiga yaaaa hehehe” Abebe menyusul Taiga cepat. Tentu saja banyak sekali yang ingin ia bahas bersama teman masa kecilnya itu di sela sela latihan.

Triiiiiiiiiiing Triiiiiiiiiiiiiiiiiiiing Triiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing

Suara loncong tanda waktu tugas pertama selesai. Keduapuluh anggota baru akademi NTS segera menuju stadion utama kebanggaan tim NTS. Dengan kapasitas 81.052 kursi penonton membuat stadion menyala warna ungu ketika tim kebanggaan berlaga.

Baru mulai memasuki lapangan stadion, keduapuluh anggota baru dikejutkan lagi dengan kehadiran tim utama NTS lengkap dengan tim pelatih dan staffnya.

“Selamat datang di rumah kebanggaan NTS. Selamat bergabung dan menjadi pemain sepak bola profesional. Kalianlah 20 orang yang berhasil melewati ujian masuk yang begitu berat, dan di depan kalian masih ada banyak tantangan yang menanti sebelum benar-benar menjadi pemain terbaik dan masuk tim utama.” Matsumura Hokuto, Kapten tim utama NTS memberi ucapan selamat datangnya pada juniornya yang baru bergabung. Hokuto termasuk salah satu pemain akademi NTS sejak berusia 8 tahun yang sukses sampai menjadi kapten dan termasuk salah satu pemain timnas Jepang.

“Dari 4 tim kecil yang sudah kalian bentuk tadi, masing masing akan digabungkan dengan anggota dari tim utama, dan akan kita adakan pertandingan pembuka untuk mengukur seberapa kemampuan kalian.” Coach Hamada memulai instruksi selanjutnya. “Dan akan saya bacakan susunan untuk setiap tim. Silahkan berkumpul dengan timnya masing masing. Tim pertama, Iwahashi Genki, Abe Ryohei, Kyomoto Taiga, Matsushima Sou, Chinen Yuri dari anggota akademi akan bergabung dengan Matsumura Hokuto, Nakayama Yuma, Kojima Ken, Sakuma Daisuke, Akana Ryunosuke, dan Yamada Ryosuke dan akan di dampingi oleh coach Ohno Satoshi. Silahkan berkumpul dalam satu tim.”

“Chinen kun, ohisashiburi.. aku tau kau pasti akan berhasil masuk tim ini” Yamada Ryosuke menyapa Chinen yang ternyata adik kelas dan rekan satu timnya saat SMA

“Senpai… aku menepati janjiku senpai, meski kini senpai sudah ada di tim utama tapi aku pasti akan segera menyusulmu”, Chinen tersenyum menyambut sambutan dari seniornya, meski terpaut 2 tahun namun hubungan mereka tak pernah tanggung.

“Apa kau grogi Taiga?” Abebe menyenggol pelan pinggang Taiga sambil berbisik pelan, berharap tak ada yang mendengar.

“Daijoubu… tim ini pasti akan menang hehe mohon bantuannya yaa” Hokuto yang merupakan tim kapten utama begitu tenang dan ramah menanggapi juniornya yang baru, berusaha membuat nyaman dan tidak grogi.

“Ah senpai.. mohon bantuannya” Taiga menundukkan kepala sebagai rasa hormatnya. Tentu saja ia sangat tahu sosok yang kini satu tim dengannya. Siapa yang tidak tahu Matsumura Hokuto yang begitu terkenal? Masuk tim utama dalam usia 19 tahun dan menjadi kapten di usianya yang baru menginjak 24 tahun. Menolak tawaran tim besar bahkan tim ternama dari Italy hingga Spanyol untuk bertahan di NTS.

Pertandingan awal dimulai, empat tim gabungan antara anggota akademi dan tim utama NTS salaing beradu kemampuan. Tentu saja, tim utama tak sedikitpun menurunkan kemampuan meraka dalam bermain profesional, hal ini memang sengaja dilakukan untuk melatih mental dan melihat potensi dari anggota akademi. Tim Matsumura Hokuto menang tipis dalam pertandingan kali ini, tentu saja berkat bantuan dari tim utama dan kemampuan maksimal dari anggota akademi yang tak kalah hebatnya.

*********

“Tadaimaaa…. Kiriechan kakak pulang …” Taiga membuka sepatunya, tak sendirian ia sengaja mengundang Abebe makan malam bersama. Banyak sekali hal yang ingin mereka bicarakan.

“Okaerinasai… eh ?” Kiriechan yang berlari kecil dari dapur menambut kakaknya sedikit terhenti dan bingung melihat kakaknya membawa orang seorang teman, pemandangan yang langka.

“Hallo Kirie chan… apa kabar? Aaaaaah kau tambah imut sekali hehe.. apa kau ingat aku?” Abebe menyapa Kirie sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, berharap adik teman masa kecilnya itu masih ingat dia.

“emmmm?” Senyuman Kirie bukti kalau dia tidak ingat sama sekali. Wajar saja, ketika Abebe pindah ke Hokaido umur Kirie baru 4 tahun.

“Baka! Mana Kirie ingat denganmu hahahaha. Dia Abebe, teman masa kecil kakak, kau tidak ingat dulu kita bertiga sering main bersama?” Taiga mengecup jidat adiknya sebagai sapaannya pulang kerumah yang sedikit terlambat.

“hehe gomenn.. aku tak ingat” Kirie tersenyum malu. “Oniichan belum makan kan? Hari ini aku masak spesial, cepat mandi dulu setelah itu kita makan bersama”

“ummbh. Ayo Abebe kau ikut ke kamarku, tak akan kubiarkan kau menggoda adikku yang manis ini hahaha”, Taiga menyeret Abebe ke kamarnya di lantai 2, menghabiskan waktu bersama mengenang masa kecil mereka. Abebe membuka satu persatu album foto yang disimpan Taiga, tampak beberapa fotonya dan Taiga saat masih kecil, tapi tak banyak. Sebagian besar isi album foto lebih ke foto Kirie, adiknya. Bahkan beberapa foto yang dipajang di kamar justru foton Kirie, bukan Taiga, ataupun tim sepak bolanya.

“Taiga, kau …..”

“hemm? Knapa?”Taiga sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk yang dipegangnya. Taiga saat basah benar benar menggoda.

“jangan bilang kau selama ini….” Abebe menghentikan ucapannya, tak yakin akan apa yang akan dia sampaikan pada Taiga, ia juga masih tak percaya akan apa yang dilihatnya. Koleksi kamar Taiga yang penuh foto dan barang pemberian Kirie, lengkap dengan pesan pesan manis dari adiknya yang cantik itu.

“Oniisan …. kenapa lama sekali, makanannya sudah hampir dingin. Ayo cepat makan.” Kirie membuyarkan imajinasi Abebe

“hai…haik…haikkk” Taiga memeluk Kirie dari belakang, Abebe hanya bisa diam mematung melihat kelakuan mereka berdua, masih menjadi sesuatu yang aneh baginya.

*********

Suara peluit pelatih, cone yang berjajar, botol air minum yang tergeletak berantakan, rumput alami yang tumbuh terawat dan gesekan sepatu dengan rumput lapangan memenuhi lapangan latihan NTS setiap hari, pun hari ini. Teriknya matahari diselingi hembusan angin musim gugur tak menyurutkan semangat para pemain untuk menghadapi pertandingan persahabatan di akhir minggu ini.

Kyomoto Taiga, Iwahashi Genki , Matsushima Sou , Abe Ryohei , Chinen Yuri, kelimanya masuk ke list pemain utama yang akan turun di pertandingan persahabatan minggu ini. Bersama Yusuke Yamamoto, Hidaka Hokuto, Sakurai Keito, Shino Hajime, Aoi Yuuta, dan  Ito Daisuke masuk ke 11 pemain utama tim U-19 NTS.

Pertandingan persahabatan kali ini akan melawan tim Sapporo da Arc, salah satu tim dengan pemain junior terbaik di Jepang. Pertandingan persahabatan memang diadakan di stadion utama NTS, tapi jangan salah fans SdA terkenal fans yang sangat loyal bahkan untuk tim Junior selalu ada fans yang datang kemanapun mereka bertanding.

.

Peluit tanda babak pertama dimulai, angin bertiup cukup kencang mengacaukan laju bola hari ini. Pertandingan persahabatan pertama bagi tim U-19 NTS. Kedua tim saling berebut bola, mencoba mencetak angka ke gawang lawing. Kick in beberapa kali untuk kedua tim, beberapa kesempatan juga menjadi milik NTS tapi gagal dieksekusi Taiga.

Pertarungan 2 x 45 menit berjalan begitu sengit, 3 kali pergantian pemain benar-benar dimanfaatkan NTS. Chinen Yuri yang menjadi defender sempat kewalahan menghadapi serangan bertubi SdA di babak kedua menjadi pemain yang pertama digantikan. Disusul cedera engkel yang dialami Aoi Yuuta. Di menit akhir coach Hamada sengaja mengganti Ito Daisuke untuk mencoba pemain lain.

Sayangnya pertandingan panas di hari berangin itu membuat kedua belah pihak harus puas dengan nilai imbang tanpa gol bagi keduanya. Tim U-19 NTS memasuki ruang loker pemain, coach Hamada tidak marah, hanya mencoba membangkitkan kembali semangat juang anak-anaknya yang redup setelah pertandingan, memang bukan pertandingan debut di turnamen yang sebenarnya, namun hasil seri ternyata tidak memuaskan mereka.

Taiga keluar dengan lemas dari ruangan bersama Abebe, sudah berganti pakaian biasa.

“Oniichaan… otsukare…”Kirie memeluk kakaknya, rupanya sedari tadi ia menunggu diluar ruang loker pemain, menunggu kakaknya tentunya.

“Aaah Kiriechan, gomenne… aku tak bisa menepati janjiku untuk menang hari ini,” Taiga mengelus rambut adiknya itu sebagai permintaan maafnya. Kirie mengangguk sambil tersenyum mendengar permintaan maaf kakaknya.

“Konichiwa Abe kun. Kau mau ikut makan siang dengan kami hari ini?” Kirie melepaskan pelukan kakaknya, tapi tangannya masih menggandeng erat, tapi disembunyikan dibalik badannya. Melihat situasi yang kurang meyakinkan Abebe menolaknya halus, Kirie dan Taiga sama sama tersenyum manis mendengar jawaban Abe.

.

Menyebalkan, seenaknya saja bermanis-manis seperti itu di depanku. Tunggu aku ya kakak, tak akan ku biarkan kau di sana tetap bersedih.

Seorang pria melihat dari kejauhan Taiga, Kirie, dan Abe sambil meremas keras ujung kemeja yang dipakainya, cukup keras. Seorang temannya menarik tangan pria itu, mencoba membujuknya agar tak makin terlarut dalam emosi sesaat.

*********

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s