[Oneshot] Wedding Dress

Juara Favorite SAGITTARIUS SQUAD CHALLENGE

Wedding Dress
by. Riri Riya Kurokocchi
ONESHOT
Genre : Romance, Drama, Family
Rating : PG-13
Starring : Chinen Yuri, Yaotome Hikaru (HSJ); Ohno Satoshi (Arashi); Ozawa Miyuki, Ikenouchi Miku
Disclaimer : We don’t own all characters here. Chinen Yuri, Yaotome Hikaru and Ohno Satoshi are under Johnnys & Associates; Ozawa Miyuki and Ikenouchi Miku are character ini SPROUT manga.

wedding-dress-cover

Yuri… Aku mencintaimu…

“Yuri! Yuri!” Panggilan dari luar kamar disertai gedoran keras di pintu membuatku terbangun dan terlonjak kaget seketika. Setengah terjaga, aku membuka pintu dengan malas sambil mengucek mata agar pandanganku jelas.

“Berisik, Kak! Ada apa, sih pagi-pagi teriak-teriak?” omelku kepada Kakak keduaku, Hikaru Yaotome. Aku terbiasa memanggilnya Kak Hikalu.

Namun wajah cemasnya membuatku mengerutkan kening.

“Kenapa, sih mukanya gitu-gitu banget?” tanyaku.

“Ah… Enggak. Cepetan bangun, cuci muka terus sarapan. Belakangan ini kamu tidurnya suka kelamaan.” Caranya bicara kelihatan hati-hati sekali, mencurigakan. Setelah berkata begitu, dia kabur begitu saja.

Iseng aku melihat jam dinding dan terbelalak karena waktu menunjukkan pukul 11 siang. Ini sih bukan telat lagi. Bablas namanya. Untung hari ini hari minggu.

***

“Konnichiwa oni san tachi…” sapaku kepada mereka berdua yang sudah duduk kecut di meja makan. Kecut karena sepertinya sudah sangat lapar.

“Nyadar juga dia kalo udah siang. Perut gak keroncongan lagi, dangdutan malah.” Gerutu Kak Hikalu.

Ohno Satoshi, Kakak pertamaku hanya tersenyum. Dia paling pendiam dan paling sabar diantara kami, tiga bersaudara. Kau tidak perlu bertanya juga pasti sudah tahu kan jika aku anak bontot?

“Kenapa kalian nggak makan duluan aja?” Sebetulnya itu pertanyaan bodoh yang sudah seringkali kuutarakan. Mereka tidak pernah sarapan tanpa menungguku.

“Nggak perlu dijawab, kan Hikaru? Ayo duduk. Bibi masak enak.” ucap Kak Satoshi, berikut anggukan Kak Hikalu.

“Kak Satoshi mau kemana kok udah rapi?” tanyaku. Hari ini dia mengenakan kemeja kotak-kotak biru, dengan bawahan celana jeans hitam. Pakaian simple pun jika orangnya tampan pasti terlihat keren.

“Ngajak kamu jalan-jalan.” jawabnya pendek.

Lah, kok tumben? Biasanya dia selalu sibuk bekerja? Biasanya aku dan Kak Hikalu ngerayu sampai mulut berbusa juga tidak pernah dihiraukannya?

“Kak Hikalu ikut juga?”

“Enggak, deh… Aku udah ada janji.”

***

Pukul 1 siang, aku dan Kak Satoshi menapakkan kaki di food court mall. Karena tadi sudah makan, kami hanya membeli dua gelas minuman lalu lanjut berkeliling mall untuk belanja.

“Eh, Kak. Tolong pegang sebentar.” ucapku sembari mengulurkan gelasku kepada Kak Satoshi. Ia menerima gelas itu, dan mengekor langkahku menuju deretan gaun. Saat ini kami sedang berada di toko pakaian langganan Kak Satoshi.

“Buat apa kamu lihat-lihat gaun?” tanyanya heran.

“Aku mau beli 1 buat Miyu…” tukasku senang.

Ozawa Miyuki adalah gadis yang telah memiliki hatiku. Kau tahu? Dia manis sekali. Tidak terlalu tinggi, tapi juga tidak terlalu pendek. Senyumnya yang berlesung mampu mengalihkan hampir setiap kesedihan dan keluh kesahku. Dia memang bukan perempuan sempurna, tapi kesederhanaan dan sifat baiknya adalah segalanya bagiku. Aku sangat mencintainya. 3 bulan lagi, aku akan menikah.

“Yuri…”

“Ya?” jawabku, setengah cuek karena aku sedang bingung memilih gaun mana yang kira-kira pas. Semuanya cantik. Lebih tepatnya, Miyuki-ku pasti cocok memakai yang manapun.

“Udah, ayo pergi…” Kak Satoshi berucap lirih, menatapku jengah.

“Kakak bosan? Kalo gitu tunggu disana aja.” tunjukku pada deretan kursi di dekat kasir. Tanpa menjawabku, ia berjalan pelan ke arah telunjukku menuju. Mungkin Kak Satoshi lelah karena selama ini dia sangat sibuk. Kami sudah lama tidak memiliki orang tua, jadi Kak Satoshi yang bertanggung jawab meneruskan bisnis keluarga. Sedangkan Kak Hikalu masih kuliah S2.

Saat berjalan ke kasir, aku melewati manekin yang dipakaikan gaun pengantin putih. Sangat indah. Mungkin keluaran terbaru. Sayangnya, aku sudah membelikannya untuk Miyu. 2 minggu yang lalu, gaun pengantin itu sengaja kugantung di tembok sudut kamar, karena aku merasa bahagia setiap menatapnya dan membayangkan ekspresi senang Miyu. Setelah membayar gaun, aku menghampiri Kak Satoshi.

“Udah, Kak. Sekarang kemana lagi?”

Time Zone?” usulnya.

“Ayukkk…” Aku paling senang pergi kesana main Pump it Up.

Saat kami berjalan, tiba-tiba seorang gadis menghampiri kami.

“Yuri… Kak Satoshi…” Gadis itu menatapku dan Kak Satoshi bergantian dengan mata berkaca-kaca. Tak lama, air mata meleleh membasahi pipinya.

Dare?” Aku bergumam keheranan. Kak Satoshi dengan cepat menarik gadis itu menjauhiku untuk mengajaknya bicara. Aku mengawasi mereka dari kejauhan. Aku tidak mampu mendengar pembicaraannya, tapi mereka kelihatan serius. Gadis itu bahkan mulai menangis tersedu-sedu. Ada apa ini? Apa dia kekasih Kak Satoshi? Atau mantan pacarnya? Aku tidak berani mendekat karena kupikir aku tidak berhak ikut campur. Selang beberapa waktu, Kak Satoshi meninggalkan gadis itu dan menghampiriku. Tentunya setelah mengantarkan gadis itu kepada seorang teman perempuan yang tadi bersamanya.

“Ayo pergi.”

“Itu siapa? Mantan pacar?”

“Anggap aja begitu.” jawabnya pendek.

“Eee? Misterius banget???” godaku sambil tertawa.

Urusai.”

“Cih! Pelitnya… Selalu aja nggak mau bagi cerita kalo soal cewek.”

Seperti biasa, dengan seulas senyum kecil Kak Satoshi menjawab. Kau harus tahu, dia ini Kakak laki-laki paling keren versiku. Walau pendiam dan serius, tapi dia bijaksana dan sangat penuh kasih sayang. Di saat-saat tertentu, dia juga bisa memberikanmu senyuman maut yang akan membuat jantungmu berdetak lebih kencang dari semestinya. Ini bukan berarti Kak Hikalu tidak baik. Dia juga keren dengan gayanya sendiri. Cengengesan, kocak, cerewet, tapi dia sangat peduli dan peka terhadap hal apa saja di sekitarnya. Di mataku, mereka berdua istimewa. Aku beruntung terlahir sebagai adik mereka.

***

“Kak Hikalu… !!! Lihat!!! Kami belanja banyak, loh…” Sesampainya di rumah, aku segera pamer.

What? Apa aja yang kamu beli? Nggak habis tuh uangnya Kak Satoshi????” Kak Hikalu bertanya kaget, menghentikan kegiatannya menonton televisi. Sepertinya dia belum  lama datang karena knalpot motornya masih hangat. Aku tadi tidak sengaja menyenggolnya saat lewat halaman.

“Sebagian pake uangku sendiri, kok. Tapi banyak yang ditraktir juga, sih… Hehehe. Salah sendiri nggak ikut.” ejekku.

“Berisik! Udah gak bawa oleh-oleh, pamer lagi…”

Sebuah tas pakaian kugunakan untuk menepuk pundaknya dari samping.

“Jangan buruk sangka… Siapa bilang aku gak bawa oleh-oleh? Tuh oleh-olehnya.” Tas pakaian itu lalu kuletakkan di samping dia duduk.

“Ehehehhehhe. Arigatou…” tawanya. Sepasang gingsul menghiasi bibirnya kiri kanan. Kak Satoshi belum pergi. Dia duduk di samping Kak Hikalu dari tadi, sambil menyimak pembicaraan kami.

“Aku juga beli gaun buat Miyu. Lihat, deh…” Aku mengeluarkan sebuah gaun pink dari tas pakaian untuk kutunjukkan kepadanya. Raut muka Kak Hikalu serta merta menegang.

“Beli gaun buat Miyu???? Ngapain kamu beli barang lagi buat dia???!” hardiknya marah.

Aku sama sekali tidak paham mengapa dia selalu emosi saat aku mulai membicarakan Miyu. Lagipula aku bahkan tidak meminta uangnya.

“Emangnya kenapa, Kak?”

Kak Satoshi berdiri, seperti hendak mengatakan sesuatu.

“Ada apa, sih?”

“Kamu itu seharusnya sadar…”

“Hikaru!” Kak Satoshi membentaknya sebelum dia sempat melanjutkan kalimatnya.

Dengan kesal Kak Hikalu merenggut tas pakaian berisi kemeja yang tadi kuberikan kepadanya lalu berjalan menuju kamar.

“Aneh banget, sih dia. Marah-marah nggak jelas.” Aku menggerutu kesal. Aku juga ingat kalau dulu dia pernah naksir Miyu. Dan pada akhirnya Miyu lebih memilihku. Tapi semuanya sudah jelas. Seharusnya dia bisa bersikap dewasa dan menerima kenyataan. Bagaimana jika nanti Miyu menjadi istriku? Apakah aku akan bertengkar dengannya setiap kali aku membicarakan Miyu? Kira-kira seminggu yang lalu dia juga marah-marah saat aku menunjukkan gelang yang kubelikan untuk Miyu. Aku kemudian berjalan memasuki kamar dan melempar barang-barangku ke kasur, lalu duduk di tepi ranjang. Kutatap gaun pengantin milik Miyu di sudut kamar lekat-lekat. Aku merasa ada sesuatu yang ganjil, tetapi tidak dapat mengingatnya.

***

“Sampai kapan bakalan kayak gini, Kak?”

Keesokan harinya, aku tidak sengaja mendengar percakapan Kak Satoshi dan Kak Hikalu di teras. Hari masih pagi. Bukan jam bangunku, tapi entah mengapa aku mendadak bangun dan ingin menghirup udara segar di halaman rumah.

“Kakak juga pusing, Hikaru. Sakit banget ngelihat dia kayak gini terus-terusan. Tapi tolong jangan pake emosi. Masalah nggak akan kelar. Kakak takut dia collapse lagi dan nggak bisa makan apa-apa.” Kak Satoshi menepuk bahu Kak Hikalu yang menunduk sedih.

“Kak… Kalian ngomongin apa sebenernya? Dia siapa? Masalah apa?” Aku menghujani mereka dengan pertanyaan-pertanyaan.

Kedua Kakakku menoleh kaget ke arahku.

“Yuri? Tumben udah bangun?” Kak Satoshi bertanya.

“Jawab dulu pertanyaanku, Kak. Jangan malah nanya balik. Kalian nyembunyiin apa dari aku?” cecarku.

“Enggak… Lagi ngomongin temen Ka…”

“Lagi ngomongin kamu.” potong Kak Hikalu.

“Aku? Aku kenapa?”

“Hikaru!” Kak Satoshi berseru.

“Soal Miyu.” Kak Hikalu melanjutkan kalimatnya. Sementara Kak Satoshi membasuhkan kedua telapak tangan ke mukanya sendiri. Rahangnya gemeretak menahan perasaan kalut.

“Miyu?”

“Yuri… Tolong… Kamu harus terima kenyataan…” Direngkuhnya kedua bahuku kuat-kuat.

“Miyu udah meninggal…”

Otakku mencerna pelan-pelan kalimatnya dengan tampang bodoh.

“Kakak jangan bercanda.” sanggahku. “Miyu baik-baik aja… Dia cuman lagi pergi ke… Pergi…”

Lidahku mendadak kelu. Aku tidak mampu melanjutkan lagi kalimatku.

Pergi kemana? Miyu pergi kemana? Kenapa beberapa minggu ini dia tidak pernah muncul?

Dengan sangat keras aku mencoba mengingat, tapi hasilnya nihil. Tiba-tiba kepalaku menjadi teramat pusing dan sakit. Aku oleng, tapi Kak Hikalu dengan sigap menopangku.

“Mi…yu…” Kata terakhir yang kuucapkan mengantarkanku kepada ambang batas ketidak sadaran. Tak berapa lama aku pingsan dalam pelukan Kak Hikalu.

***

“Yuri… Apa aku akan cantik saat memakai gaun ini?”

“Tentu.” jawabku seraya membelai lembut pundaknya.

“Apa aku akan cantik saat mereka mendandaniku?”

“Tanpa berdandan pun kamu sudah cantik. Kalo dandan pasti jauh lebih cantik.” pujiku. Wajahnya tersipu malu sambil mengalihkan tatapannya dariku, dan memandang gaun pengantin yang baru saja kami beli. Sungguh, menyambut hari pernikahan adalah sesuatu yang sangat menegangkan sekaligus membahagiakan.

***

“Aku akan tetap di hatimu. Jaga diri baik-baik, ya…” Hari itu dia berpamitan padaku untuk pergi berlibur bersama teman-temannya. Aku tidak bisa ikut karena harus belajar untuk ujian. Tapi sehari kemudian, aku mendengar kabar bahwa bus yang dia tumpangi mengalami kecelakaan, dan nama Miyu berada diantara daftar korban meninggal.

Aku hampir gila. Aku merasa hidup, tetapi seperti tidak bernyawa. Aku mulai tidak bisa menerima kenyataan dan hanya sanggup berpikir bawa dia belum pulang dari liburannya.

***

“Miyu…” Aku bergumam, sebelum akhirnya membuka kelopakku. Penglihatanku buram tertutup air mata. Tepat di depanku, Kak Hikalu duduk memasang wajah cemas.

“Yuri? Kak… Yuri udah bangun, Kak!!!” teriaknya. Kak Satoshi segera berhambur memasuki kamar. Apakah hari sudah siang? Berapa lama aku tertidur? Aku ingin bertanya tapi kata-kata sama sekali tidak keluar dari bibirku. Aku hanya menatap mereka dengan perasaan berkecamuk, dan air mata yang semakin deras berlinangan, membuat kepalaku terasa berat.

“Yuri… Yuri… Kamu nggak apa-apa?” Kak Satoshi menggenggam tanganku erat. Baru kusadari sebuah jarum infus menancap di lenganku.

“Sakit, Kak…” gumamku. Susah payah aku mengeluarkan suara.

“Kakak panggilin dokter, ya?”

Aku menggeleng lemah.

“Hatiku yang sakit, Kak…”

“Yuri…” Kedua Kakakku tidak sanggup lagi membendung air matanya. Mereka menangis, iba melihatku seperti ini.

Aku mengingatnya. Kalimat terakhir Miyu. Kabar kecelakaan itu. Semuanya.

“Yuri plisss jangan kayak gini lagi. Kamu udah punya Miku.” Kak Hikalu berucap.

“Miku?”

“Calon istri kamu.”

“Calon istri?” Aku berusaha mengingat kembali. Ingatanku sepertinya kacau. Bukankah calon istriku itu Miyu?

“Jangan dipaksa.” Kak Satoshi menenangkan. “Miku… Masuk…”

Setelah Kak Satoshi berkata begitu, seorang gadis berperawakan mungil muncul. Dia gadis yang kulihat di mall tempo hari. Dia mendekatiku perlahan. Kedua bola matanya sarat akan kerinduan. Tapi aku benar-benar lupa dengannya.

“Ini Miku.” Kak Hikalu menjelaskan.

Gadis itu mendekat, lalu meraba kedua pipiku sambil menitikkan air mata. Apakah dia benar-benar calon istriku?

“Kalo kamu udah tenang, kalian harus bicara baik-baik.” pesan Kak Satoshi sebelum meninggalkan aku dan Miku berdua.

Sepeninggal mereka, keheningan mengisi ruangan ini. Tidak satu ucap pun keluar dari bibir mungilnya. Dia hanya membelai-belai rambutku dengan lembut. Matanya sangat sembab, sepertinya dia sudah menangis untuk waktu yang lama. Aku mungkin tidak mengingatnya, tapi aku merasa dekat. Seolah ada sebuah benang takdir tipis yang menghubungkan kami.

“Miyu itu, tunangan kamu.” Miku membuka pembicaraan. “Waktu kalian mau nikah, tiba-tiba dia meninggal.”

Iya, soal ini aku sudah ingat.

“Tapi itu udah lama. 3 tahun lalu waktu kamu masih kuliah.”

Eh?

“Kak Satoshi sama Kak Hikaru bilang, kamu hancur. Kamu stress berat. Nggak mau makan, nggak mau ngampus. Nggak mau keluar rumah. Tapi… pada akhirnya kamu bisa move on…”

Miku menghela napas sejenak, sedangkan aku begitu menanti-nantikan kalimat berikutnya.

“Satu tahun lalu, kita ketemu waktu kamu hampir pingsan di kereta. Waktu itu aku nolongin kamu. Pas udah sadar, kamu bilang kamu pusing dan mual sama suasana kelas ekonomi. Haa… Dasar anak orang kaya.” Miku tersenyum simpul, seperti mengenang sesuatu yang sangat berharga.

“Seharusnya kalo udah tahu gitu kamu nggak pilih kelas ekonomi, kan? Kalo tiket kelas VIP habis mending nggak jadi pergi. Ya, kan?”

Aku menatapnya dengan dahi berkerut. Gagal mengingat moment itu.

“Sejak itu kita jadi akrab. Jadian… Terus kamu ngelamar aku. Tapi, nggak disangka 2 bulan lalu kamu kecelakaan, kepalamu kebentur. Nggak keras, sih. Tapi bikin kamu jadi amnesia. Dan kebetulan, aku yang kamu buang dari ingatanmu. Digantiin Miyu.”

“Aku nyoba bikin kamu inget aku, tapi gagal. Tiap kali Kak Hikaru atau Kak Satoshi ngingetin, kamu mesti pingsan. Waktu sadar, Miyu lagi Miyu lagi yang dibahas. Mereka juga jadi sibuk merhatiin dan ngeluangin waktu buat kamu yang suka bengong, suka nggak bangun-bangun kalo tidur.”

Jadi ini alasan Kak Hikalu sering marah-marah? Juga alasan kekhawatirannya waktu menggedor pintu kamarku? Dan juga alasan Kak Satoshi menyempatkan waktunya untukku?

“Akhirnya, aku disuruh mundur dulu sama Kak Satoshi. Jujur aja berat banget. Waktu aku lihat kamu di mall rasanya pengen lari meluk kamu. Aku bener-bener kangen…”

Apakah karena itu dia menangis? Menangisi seseorang sepertiku yang sudah melupakannya? Menyakiti hatinya?

“Dengar. Aku sayang sama kamu tulus. Kalo kamu perlu waktu buat mikir, nggak apa-apa. Kalo kamu nggak suka aku ada di deket kamu, aku juga bakalan pergi. Meski dengan berat hati…” lirihnya.

Aku tidak menjawab perkataannya, tapi setidaknya aku sudah paham bagaimana cerita sebenarnya, dan betapa dewasanya dia menyikapi ini. Dua hari kemudian, gadis itu datang karena aku memintanya.

“Maaf…” ucapku.

“Untuk apa?”

“Untuk bikin kamu sedih. Untuk bikin kamu ngerasa kesepian dan sakit hati.”

“Kamu udah inget?” Bola matanya membulat.

“Belum.”

“Kalo belum kenapa ngomong begini? Terpaksa?”

“Enggak. Cuma udah mikir panjang lebar dan akhirnya sadar.”

“Sadar?”

“Untuk nggak menyia-nyiakan kasih sayang kamu.”

“Jangan paksakan kalo nggak ada rasa.”

“Kalo gitu bikin aku ‘ada rasa’ lagi sama kamu.”

“Hah?”

“Mulai dari awal.”

“Kamu nggak lagi ngigau, kan?”

Kepalaku sedikit berdenyut. ‘Kamu nggak lagi ngigau, kan?’ adalah kalimat yang tidak asing bagiku. Mungkin dia sudah sering mengucapkannya.

“Aku sehat, cuman lemes aja dua hari makan infus doang.”

Dua hari ini perutku memang sangat tidak bersahabat. Setiap kali makan, meski hanya beberapa suap, aku selalu memuntahkannya. Kak Satoshi dan Kak Hikalu bahkan bergantian menjagaku karena sangat khawatir.

Miku tersenyum senang. Wajah sayunya mendadak hilang entah kemana.

“Aku bikinin bubur, ya…” Sebelum pergi, ia menyempatkan membelai puncak kepalaku.

Yuri… Aku mencintaimu…

Sangat-sangat mencintaimu.

Tapi jika aku harus pergi lebih dulu, kamu harus ikhlas.

Jalanmu masih panjang…

Kamu pasti akan menemukan seseorang yang bisa menyayangimu sebaik aku.

Aku ingat, beberapa baris pesan singkat kuterima dari Miyu sekitar 3 minggu sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku merasa aneh, tapi tidak menganggap jika itu adalah pesan terakhirnya.

Aku juga sangat mencintaimu, Miyu. Tapi sayang, takdir kita bersimpangan.

Kini, meskipun aku tidak mengingatnya, tapi telah ada seorang gadis yang dengan tulus mencintaiku.

Hei, Miyu… Apakah kamu merindukanku sehingga kamu berbuat usil seperti ini?

Dalam diam, air mata merembes lagi dari kedua kelopakku. Terbayang jelas kenangan indah kami, betapa aku dulu sangat mencintainya. Mengapa? Mengapa ingatanku harus kembali ke masa itu? Membuat hatiku harus hancur untuk yang kedua kali. Terlebih harus membuat kedua kakakku dan gadis sebaik Miku ikut terkena imbasnya?

Ataukah… Aku yang sedang merindukanmu???

Miyu, tenanglah… Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja…

Tak berapa lama, mereka bertiga muncul bersamaan. Kak Hikalu membawa sebuah kue tart dengan dua buah lilin angka 2 dan 3 di atasnya.

“Eh? Siapa yang ulang tahun?” tanyaku bodoh, sambil mengusap mataku.

“Kamu.”

“Aku? Aku udah 23 tahun?”

“Iya. Emangnya kamu pikir umur kamu berapa?”

“17?”

“Kamu sebetulnya tersesat di ingatan yang mana, sih? Minta ditabok ini bocah lama-lama…” Kak Hikalu mengomel kesal. Aku hanya tersenyum karena tak ada tenaga untuk tertawa seperti Miku dan Kak Satoshi. Mungkin ini aneh, tapi aku ingat jika umurku 23 tahun. Aku hanya menggodanya.

Kata orang, tidak selamanya sesuatu berjalan seperti yang kita inginkan. Itu benar. Tapi ingatlah, seburuk apapun, Tuhan tidak akan membiarkanmu terpuruk sendirian. Pasti ada orang-orang ‘bodoh tapi baik’ yang setia menemanimu. Bodohnya untuk Kak Hikalu. Baiknya untuk Miku dan Kak Satoshi. Hahaha, bercanda. Jika kau tidak menemukannya, mungkin kau hanya memerlukan sedikit kepekaan untuk merasakan. Karena cinta, hadir dimana saja.

Gaun pengantin itu… Besok aku harus membuang atau menyimpannya rapat-rapat di tempat lain, dan menggantikannya dengan milik Miku. Termasuk semua kenangan tentangnya, harusnya kuikhlaskan saja agar ia tenang disana. Miyu… Sayonara

THE END

Advertisements

3 thoughts on “[Oneshot] Wedding Dress

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s