[Multichapter] Le ciel e Youkoso (chap 1)

Tittle              : Le ciel e Youkoso: Love Yourself
Author           : Fuchii & Aquina
Genre             : AU, Slice of Life
Cast                 : Lewis Jesse, Tanaka Juri, Morimoto Shintaro, Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Kouchi Yugo (SixTONES); OC
Disclaimer    :
SixTONES members are under Johnnys & Associates

 potato_201701_14-copy

Project natal yg terinspirasi oleh photoshoot di majalah Potato edisi Januari 2017. Mohon maaf apabila ada typo dan alur yg terkesan cepat karena author sendiri ngerjainnya ngebut demi ngejar natal meskipun ujung-ujungnya ga dipost pas natal juga X’D

Selamat menikmati! Ditunggu komennya~ :3

 

*****

 

“Le ciel e youkoso.”

Ucap keenam pelayan tampan saat pelanggan membuka pintu kaca café itu. Jangan lupakan senyum ramah mereka setiap kali melayani para pelanggan.

Le ciel Café yang hanya buka saat menjelang natal. Café itu selalu penuh setiap harinya. Café yang buka pada hari Senin hingga Kamis pukul 10 siang hingga jam 6 sore selama satu bulan tepat sebelum hari natal. Café yang sangat terkenal dikalangan remaja putri bukan hanya karena pelayannya merupakan pemuda yang tampan ataupun makanan dengan rasa yang enak, tapi berdasarkan rumor yang beredar, pelayan dari café ini akan menemanimu dan membantumu menyelesaikan masalah yang sedang kau hadapi. Tentu saja servis itu tidak semata-mata dapat kalian minta saat datang ke sana seperti kalian memesan cheesecake ataupun milkshake, bisa dibilang itu adalah secret service Le ciel Café.

Berdasarkan rumor juga, jika kalian datang ke café ini saat sedang memiliki masalah, entah bagaimana cara mereka mengetahuinya, salah satu dari pelayan itu akan memberi kalian secarik kertas berwarna yang bertuliskan “Kau bisa bicara denganku jika kau sedang memiliki masalah” beserta dengan nama si pelayan juga tempat dan waktu yang dia berikan untuk pertemuan.

Pelayan itu akan menunggu kalian seharian di tempat pertemuan itu. Karena saat itu ada seorang gadis yang pada mulanya tak mempercayai tulisan yang tertulis pada kertas kecil itu. Namun akhirnya ia memutuskan untuk datang untuk memastikan apakah hal itu benar atau tidak. Pelayan itu menuliskan untuk bertemu pada jam 11 siang, namun gadis itu baru sampai di sana pada pukul 7 malam, dan pelayan itu masih setia menunggu di sana. Tak ada ekspresi kekesalan pada wajah pemuda itu, sebaliknya, ia malah tersenyum dan berkata, “Akhirnya kau datang juga. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu. Jadi, maukah kau menceritakan hal yang mengganggu pikiranmu? Aku akan membantumu.”

 

*****

 

“Wah! Hikari, itu kan tas model terbaru? Bukannya masih dijual terbatas di toko-toko?”

“Eh? Kau mengubah model rambutmu ya?! Entah kenapa model rambut apapun selalu cocok dengan Hikari.”

“Gelangmu hari ini lucu sekali. Beli dimana? Aku juga ingin yang seperti punya Hikari.”

Pujian demi pujian terus tertuju pada Takahashi Hikari. Juga sorotan mata kagum dari murid-murid lain saat berjalan melewati koridor.

“Ah, itu semua memang sudah seharusnya kudapatkan,” ucap Hikari dalam hati.

Siapa sih yang tidak mengenal Takahashi Hikari? Siswi kebanggaan SMA Tatsuno. Tak hanya berparas cantik, modis dan selalu kekinian, peringkat Hikari tidak pernah turun jauh dari 3 besar. Bukankah hal yang wajar kalau seisi sekolah mengidolakannya?

Senyum Hikari selalu mengembang perlahan setiap kali memikirkan tentang kepopulerannya.

Namun, di balik hasil yang gemilang, pasti ada usaha keras.

Tadaima,” ucap Hikari ketika sampai di rumahnya yang sedang kosong. Ayahnya sudah pasti belum pulang kerja, ibunya entah pergi kemana. Rumah itu sederhana dan bergaya Jepang. Cukup kontras jika dibandingkan dengan penampilan Hikari yang bak putri konglomerat.

Ia masuk ke kamarnya, membuka kembali majalah fashion terbitan terbaru. Gadis berambut panjang itu menghela napas saat halaman majalah terbuka menunjukkan sepatu model terbaru. Dengan kesal ia melemparkan majalahnya ke sudut ruangan, “Bagaimana bisa aku mendapatkan uang sebanyak itu dalam bulan ini?!” keluhnya saat mengingat jumlah angka 0 yang tertera pada majalah tadi cukup membuatnya sakit kepala.

Hikari membuka dompet dan menghitung lembaran uang yang terdapat di sana. Hanya delapan ribu yen. Lagi-lagi Hikari menghela napas. Itu adalah uang jajannya yang tersisa untuk beberapa waktu ke depan. Tentu sangat kurang bagi Hikari yang selalu mengikuti trend-trend fashion terbaru. Yang mengharuskan dirinya membeli barang atau make up terbaru setiap bulan atau bahkan setiap minggu.

“Aku lelah seperti ini,” gumamnya.

Setelah berdiam diri cukup lama, gadis itu mengganti seragamnya dan tatanan rambut yang lebih sederhana.

.

.

“Takahashi, tolong kembalikan buku-buku ini di raknya!”

Gadis berkuncir kuda itu mengangguk dan segera mengangkat tumpukan buku-buku tebal itu menuju rak buku yang dimaksud. Dengan sabar ia menata buku-buku itu satu per satu sesuai dengan abjad. Lalu, saat buku terakhir sudah terselip di rak, ia menghela napas. “Sepertinya sekarang aku bisa mengerjakan PR Bahasa Jepang,” ucapnya sambil menyeka sedikit keringat yang muncul di dahinya.

Di sekolahnya, Hikari memang terlihat seperti seorang putri yang diidolakan oleh murid-murid lain, tapi beginilah keseharian Takahashi Hikari yang sebenarnya. Setelah pulang sekolah, Hikari tidak bisa langsung beristirahat ataupun mengerjakan tugas dengan santai selayaknya anak SMA pada umumnya. Seringkali tanpa mengisi perut terlebih dahulu, ia langsung mengganti seragamnya dengan baju biasa kemudian berangkat menuju tempatnya bekerja sambilan. Hal ini sudah dilakukan Hikari sejak pertama kali masuk SMA Tatsuno yang merupakan SMA favorit di daerahnya. Dimana ia harus bersaing dengan ratusan calon siswa baru saat ujian masuk untuk mendapatkan kursi di sekolah tersebut. Dan dengan usaha keras dan sedikit keberuntungan, Hikari bisa melewati ujian masuk meski tidak berhasil mendapat nilai tertinggi seperti harapan muluknya.

Tapi perjuangannya tidak berakhir di situ. Hikari yang mengambil ujian masuk tanpa persetujuan keluarganya, harus adu mulut terlebih dahulu sebelum akhirnya mendapatkan ijin. Pasalnya, finansial keluarganya hanya tergolong cukup. Ayahnya seorang guru SD, sedangkan ibunya hanya sesekali bekerja jika ada tawaran pekerjaan dari tetangga. Tentunya akan sulit bagi mereka untuk menyekolahkan Hikari di sekolah unggulan yang SPP per bulannya hampir tiga perempat gaji ayahnya selama sebulan.

“Kau tahu sendiri finansial keluarga kita, Hikari… Kenapa tidak mendiskusikan hal sepenting ini pada kami sebelumnya?” tanya lelaki paruh baya pada seorang gadis yang duduk di hadapannya dan istrinya. Gadis itu diam, tangannya mengepal erat. Tak berani beradu pandang pada kedua orangtuanya.

“Hikari…” sang ibu kini angkat bicara. “Lihat ayah dan ibu, Hikari…”

Perlahan Hikari mengangkat pandangannya. Ia menatap raut wajah kedua orangtuanya. Oh, mungkin ia akan memilih untuk mundur saja jika orangtuanya masih tidak memberinya izin. Sebelum gadis itu menyuarakan isi pikirannya, sang ayah kembali buka suara, “Ini adalah SMA yang Hikari inginkan sejak dulu, kan?”

Hikari terdiam. Perlahan senyum sang ibu terkembang, “Kami mengetahuinya. Hikari diam-diam belajar hingga larut malam. Beberapa kali Ibu mendengar percakapanmu dengan temanmu di telepon jika kau benar-benar ingin masuk SMA Tatsuno…”

Hikari masih diam. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang.

“Baiklah…” sang ayah menggantungkan ucapannya. Membuat Hikari berpikir keras, “Eh?”

“Ibu akan mencoba membantu untuk bekerja juga…” tambah sang ibu.

“Semalam kami sudah membicarakan hal ini. Kemudian kami sepakat untuk mengizinkanmu untuk masuk SMA Tatsuno,” ayahnya tersenyum.

Tanpa pikir panjang, Hikari berseru, “Aku juga akan baito untuk uang saku. Jadi ayah dan ibu tak perlu merisaukan uang sakuku.”

Di sinilah Hikari berada sekarang. Berusaha untuk tidak mengeluh meskipun tubuhnya lelah dan meminta untuk diistirahatkan. Ini adalah resiko yang dia pilih demi menjaga popularitasnya sebagai siswi yang paling dikagumi seisi sekolah. Setidaknya untuk saat ini.

.

.

“Ne ne, pernah dengar tidak tentang Le Ciel Café? Ada banyak rumor yang beredar tentang café itu.”

“Ah, aku tahu café itu! Banyak yang bilang kalau pelayan café-nya akan membantu menyelesaikan masalah kita.”

“Oh, café itu,” celetuk Hikari di tengah celotehan teman-temannya. “Aku sering kesana,” tambahnya tanpa pikir panjang.

Di sinilah Hikari sekarang, bersama beberapa teman sekolahnya. Duduk manis di Le ciel Café. Ini semua ide salah satu temannya yang mengiriminya email kemarin malam untuk mampir di café ini sepulang sekolah hari ini.

Hikari sedikit menyesali kebohongannya mengenai café yang kebetulan sering ia lewati sepulang baito padahal ini adalah kali pertamanya menginjakkan kaki di café yang sedang digandrungi banyak remaja putri. Karena alasan itulah Hikari rela berbohong. Akan memalukan kalau anak yang selalu up to date seperti Hikari belum pernah pergi ke café yang sedang in barang sekali.

Hikari terus melamun, untung saja hari ini baito-nya di perpustakaan kota sedang libur, sehingga ia bisa menerima ajakan temannya. Namun ia terus memikirkan uang sakunya yang sedang sekarat sekarang. Memang harga di café ini tidak terlalu mahal, tapi Hikari sedang berencana menghemat untuk dapat membeli sepatu keluaran terbaru yang akan rilis awal bulan Januari nanti.

“Hikari?” salah satu dari temannya mengguncang bahunya pelan. Membuat lamunan Hikari terpecah, “Eh? Ada apa, Sumire?”

“Kau melamun. Apa sedang tidak enak badan?” tanya Sumire terlihat khawatir. Hikari melihat dua temannya yang lain yang juga menatapnya dengan pandangan khawatir yang sama. Dengan cepat Hikari tertawa renyah dan mengibaskan tangannya, “Maaf. Aku hanya memikirkan sepatu yang akan rilis bulan Januari nanti itu tidak terlalu bagus. Desainnya terlalu glamour padahal itu adalah sepatu santai.”

“Ah, benar juga jika dipikir-pikir…” Yumi, salah satu temannya yang lain menanggapi dengan antusias. Hikari tersenyum saat melihat ketiga temannya mulai sibuk dengan topik fashion yang diciptakannya guna mengalihkan pembicaraan mereka.

“Eh, ngomong-ngomong… pelayan café yang kau bilang pernah berfoto denganmu yang mana?” celetuk Sumire ditengah-tengah obrolan santai mereka.

DEG!

Padahal Hikari sudah berhasil membuat teman-temannya tidak membahas tentang pelayan café walau hanya sesaat. Sambil menyembunyikan kepanikannya, Hikari pura-pura menyisirkan pandangannya ke penjuru café yang mampu ditangkap matanya. “Sepertinya dia sedang libur hari ini. Aku tidak melihatnya sejak tadi,” elak Hikari.

“Yah… sayang sekali…” gerutu Rika disusul dengan keluhan teman-temannya yang lain.

Omatase itashimashita. Silakan dinikmati pesanannya, Oujo-samatachi,” ucap pelayan café bertubuh jangkung dan rambut pendek coklat tua dengan nada lembut yang sukses membuat Rika dan Sumire menahan pekikan. Ditambah sorotan aura ramah dari manik mata yang berwarna senada dengan rambutnya, tentu saja dengan mudah membuat ketiga temannya sukses melupakan topik yang baru saja mereka bahas sebelumnya. Tidak terkecuali Hikari.

Matanya hampir tak berkedip memperhatikan sosok di hadapannya itu. Ia terpukau pada satu titik. Mata. Ramah, tapi tajam di saat bersamaan. Hikari tak tahu mana yang lebih dominan.

“Aku berani bertaruh! Dia pasti half!” pekik Rika tertahan setelah pelayan tersebut meninggalkan mereka dengan senyuman yang membuat hati mereka berempat meleleh saking menawannya.

“Aku setuju!” pekik Sumire sambil menggenggam erat kedua tangannya sendiri. “Mana ada orang Jepang yang berwajah se… se… ah, entahlah. Aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Yang pasti dia tampan!”

Hikari ikut tertawa bersama Rika dan Yumi menanggapi ocehan Sumire yang diucapkan dengan intonasi super cepat.

Saat tiba gilirannya, Hikari mengeluarkan uang dengan jumlah sesuai yang tertera di bill. Ia yang sedari tadi sibuk dengan dompetnya kini sadar mengapa ketiga temannya ribut sendiri saat sedang membayar.

“Cantik…” ucap Hikari tanpa sadar saat bertatap muka dengan kasir yang sedang bertugas.

Okyaku-sama… daijoubu?” ucap sang kasir memastikan kalau Hikari masih menapak di tanah. “H-hai,” dengan semburat merah–karena malu–di pipi, Hikari menyerahkan lembaran uang di tangannya.

“Datang lagi ya! Kami selalu menunggu,” ucap sang kasir ketika menyerahkan struk pembayaran Hikari. Hikari menerimanya dengan kepala tertunduk. Dia hendak memasukkan struk itu ke tasnya tapi disadarinya ada kertas berwarna lain yang terselip di balik struk tersebut. Hikari membacanya sekilas. Kemudian memekik tanpa suara dan kembali menatap sang kasir yang kini tersenyum seolah berkata, “Daijoubu.”

Hikari yang tidak tahu harus bereaksi bagaimana, membungkuk singkat sebagai balasan kemudian buru-buru memasukkan kertas itu ke tasnya dan menyusul ketiga temannya yang menunggu Hikari di dekat pintu keluar.

“Kasir tadi siapa namanya? Aku naksir,” ucap Sumire malu-malu.

“Di nametag-nya sih Kyo. Tapi aku tidak yakin itu nama asli…”

“Kalau yang melayani kita tadi siapa namanya? Aku terlalu terpesona dengan wajahnya sampai lupa melihat nametag-nya…” sesal Yumi ketika mereka sudah berada di luar cafe.

Hikari menghela napas lega. Pasalnya ia baru saja akan berdoa agar teman-temannya tidak melihat dirinya mendapatkan ‘pesan khusus’ saat sedang berada di kasir. Hari ini, berkat ketampanan dan pesona para pelayan cafe yang berhasil mengambil hati teman-temannya itu, Hikari terselamatkan.

.

.

“Aku sudah menunggumu,” ucap seorang pemuda jangkung berbalut mantel berwarna gelap itu. Hikari terkesima dengan penampilan pemuda yang ia ketahui sebagai pelayan café tempo hari, kini benar-benar berdiri menunggunya di dekat pintu keluar stasiun sesuai dengan tulisan di kertas berwarna merah yang ia terima kemarin.

“Aku ingin lebih mengenal sosokmu yang bercahaya. Maukah kau bertemu denganku di depan stasiun hari Minggu ini pukul 8?”

“Oh iya. Namamu Hikari ya? Cocok sekali dengan penampilanmu,” pemuda itu tersenyum lembut semakin membuat Hikari salah tingkah. Hikari berpura-pura berdehem untuk menutupi rasa malunya, “Apa maksudmu? Ehm…” Hikari kesulitan mengingat nama yang tertera pada nametag pemuda itu saat di café.

“Ah, sorry. Namaku Jesse,” Jesse teringat jika dirinya belum memperkenalkan diri. Hikari menyebutkan nama Jesse berulang kali dalam hatinya. Seperti dugaannya dan teman-temannya, ternyata pemuda itu memang half. Terlihat dari namanya yang kini sudah Hikari ketahui, ditambah dengan pengucapan kata ‘sorry’ yang sangat bagus.

“Nah, apa Hikari-san punya tempat yang ingin dituju hari ini?”

Hikari berpikir keras. Memang ia baru saja menerima gajinya dari baito-nya di perpustakaan, menimbang-nimbang apakah bijak ia menggunakannya terlalu banyak hari ini. Pada akhirnya Hikari hanya menggeleng sambil tertawa canggung, “Aku tidak punya tujuan hari ini. Apa Jesse-san ingin pergi ke suatu tempat?”

Jesse berpikir sebentar, “Bagaimana jika kita pergi melihat-lihat baju atau sepatu? Maaf tapi aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian kemarin. Hikari-san sangat update mengenai fashion, ya? Terlihat sekali jika Hikari-san sangat peduli dengan penampilan.”

Hikari tersenyum malu-malu, walau sebenarnya ia tak terlalu paham apakah itu merupakan pujian atau sindiran. “Ah, tak perlu. Lagipula barang yang ingin kubeli baru rilis bulan Januari nanti,” Hikari berusaha menolak.

Jesse tertawa kecil, “Hanya pergi melihat-lihat saja tak masalah, kan?”

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Hikari tersenyum dan mengangguk.

.

.

“Eh? Tas ini bukannya sudah sold out bulan lalu?” Hikari tanpa sadar mengeluarkan suara cukup keras. Ia masih tetap fokus melihat tas cokelat kecil bertali panjang itu yang masih ada di etalase toko.

“Ingin membelinya, Hikari-san?” tanya Jesse. “Sepertinya tas itu hanya tersisa satu saja.” Terlihat Jesse mengelilingkan pandangannya.

Seakan tersadar jika Hikari pergi bersama Jesse, ia merutuki dirinya sendiri. Gawat, kenapa aku bisa kelepasan bicara.

“Ah, tidak. Aku akan membeli edisi terbaru saja. Yang ini merupakan edisi musim gugur lalu,” jawab Hikari tenang. Padahal dalam benaknya, ia sangat menginginkan tas itu. Saat itu Hikari tak bisa membelinya karena gajinya sedang terpakai untuk keperluan lain. Seminggu kemudian, Hikari telah mendapatkan uang yang cukup untuk membeli tas yang diidam-idamkannya itu. Namun sayang sekali Hikari harus menelan kekecewaan karena tas itu telah sold out sehari sebelumnya.

Jesse hanya mengangguk-angguk, “Hikari-san benar-benar update mengenai fashion, ya?! Tapi tak mengherankan juga, karena Hikari-san merupakan siswi di SMA Tatsuno, kan?!”

Hikari mengangguk mantap. Sejujurnya ia lebih senang saat ada seseorang yang memuji atau membicarakan mengenai sekolahnya dibanding dengan penampilannya atau pengetahuannya mengenai fashion. Siapa yang tidak tahu SMA Tatsuno? Bisa masuk saja sudah merupakan kebanggaan tersendiri.

“Ingin pergi ke toko lain, Hikari-san?” tanya Jesse lagi setelah Hikari menjelajahi toko kedua yang mereka datangi. Hikari berpikir sejenak. Sebenarnya masih ada satu toko lagi yang ingin ia kunjungi. Namun ia mengingat harga di toko itu yang cukup tinggi, sehingga membuatnya sering berkecil hati saat pergi ke sana. Tapi mau bagaimanapun di sana adalah salah satu toko yang sangat cepat menjual edisi terbaru. “Baiklah, satu toko lagi,” jawab Hikari pada Jesse yang masih setia menemaninya.

.

.

Yappari… Harganya mahal sekali,” keluh Hikari dengan volume rendah saat melihat pricetag salah satu baju yang dikenakan mannequin. Takut jika Jesse mendengar keluhannya kali ini.

Jesse tersenyum tipis saat melihat Hikari yang tengah memilah-milah baju sambil berulang kali melihat pricetag yang terpasang di sana dan berujung gadis itu menghela napas kecil.

“Kau terlihat kesulitan, ada yang bisa kubantu?” tanya Jesse cukup tiba-tiba hingga membuat Hikari yang sedang sibuk dengan dirinya sendiri terlonjak kaget dan hampir menjatuhkan hanger yang sedang ia pegang. Hal itu sukses mengundang kikikan keluar dari mulut laki-laki itu. “Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu.”

“Ti-tidak apa-apa,” ucap Hikari sambil tertunduk malu dan menyibakkan rambutnya yang hari ini digerai ke samping.

“Daritadi kulihat kau hanya melihat-lihat saja tanpa memilih satu pun… Kupikir kau sedang bingung memilih atau bagaimana, makanya aku bertanya. Yah, barang-barang yang dijual di sini modelnya bagus-bagus, sih… Menurutku wajar saja kalau bahkan orang yang update tentang fashion seperti Hikari-san sekalipun kesulitan memilih.”

Hikari hanya diam mendengarkan kalimat Jesse yang diakhiri dengan senyum lembut itu.

Anou… boleh aku bertanya sesuatu?”

“Oh, tentu saja. Silakan.”

“Mungkin ini sedikit kurang sopan, tapi… apakah Hikari-san sering belanja sendirian?”

DEG.

Seketika Hikari menyesali keputusannya beberapa detik yang lalu untuk membiarkan Jesse bertanya. Oh, sial. Bagaimana dia bisa tahu? Rutuk Hikari dalam hati. Hikari yang sejak awal merasa canggung karena hampir tidak punya pengalaman pergi berdua saja dengan anak laki-laki meskipun ia siswi populer, kini semakin canggung karena pertanyaan Jesse yang tepat sasaran.

Jesse mengembangkan senyumnya, “Kalau dilihat dari ekspresi Hikari-san sekarang, sepertinya aku benar. Daritadi aku bertanya-tanya, Hikari-san terlihat sibuk melihat-lihat baju sendiri tanpa sekalipun melihatku atau bertanya padahal aku selalu berada di sampingmu. Biar kutebak,” Jesse mengangkat tangan kirinya kemudian menekuk jarinya satu per satu seiring dia menyebutkan spekulasi-spekulasinya. “Pertama, Hikari-san lebih suka berbelanja sendiri karena punya selera fashion sendiri dan tidak mau melibatkan orang lain dalam hal ini. Kedua, Hikari-san masih malu-malu denganku karena kita baru saling mengenal kurang dari dua jam yang lalu. Ketiga… ah, lupakan saja. Aku yakin pasti yang pertama,” tambah Jesse penuh percaya diri.

Maa…” Hikari hanya mengangguk pasrah. Memang bisa dibilang dia perfeksionis jika menyangkut penampilan. Tapi alasannya lebih suka berbelanja sendiri bukanlah itu. “Karena… teman-temanku lebih banyak menghabiskan waktu di tempat les sepulang sekolah, makanya kami jarang berkumpul bersama di luar sekolah.”

“Begitukah?” tanya Jesse dengan senyum penuh arti, membuat Hikari sedikit sulit berbohong lagi.

Hikari hanya mengangguk cepat dan kembali menyibukkan dirinya dengan memilah baju-baju lagi. Menghindari kontak mata dengan laki-laki jangkung bermata tajam itu.

.

.

“Aku traktir Hikari-san hari ini,” ucap Jesse sambil tersenyum. “Kita sudah jalan seharian. Hikari-san pasti lelah. Pilihlah yang kau suka.”

Hikari mengerjapkan matanya sejenak, “Apa tidak apa-apa?” tanya Hikari memastikan kesungguhan Jesse. Lelaki blasteran itu mengangguk ringan, “Tentu. Apa aku terlihat sedang bercanda?” Ia mengangkat alisnya disertai senyum hangatnya.

Hikari kembali salah tingkah melihatnya, “Tidak… Bukan begitu…”

Jesse tertawa renyah, “Jangan sungkan-sungkan, Hikari-san. Kau client-ku hari ini.”

Hikari tersenyum, “Baiklah kalau begitu. Aku akan memesan yang aku inginkan.”

.

.

Gochisousama deshita,”

Pandangan Jesse tak lepas dari gadis di hadapannya yang tengah menyeka bibirnya dengan tissue yang disediakan. Merasa diperhatikan, Hikari melihat Jesse, “Apa ada saus yang tertinggal di wajahku?” Jesse mendengus geli, mengibaskan tangannya, “Tidak. Aku hanya terkesima dengan table manner Hikari-san. Seharusnya aku tak perlu heran, karena Hikari-san pasti berasal dari keluarga yang sangat menjaga etikanya, kan?”

Hikari diam. Tak mengiyakan ataupun mengelak dengan pujian Jesse. Kemudian ia teringat sesuatu, “Jesse-san…”

Jesse hanya melirik Hikari dengan pandangan bertanya karena ia tengah meminum jusnya.

Anou…” Hikari bingung harus bagaimana menanyakannya. “Kenapa kau memberiku kertas itu? Aku tidak punya masalah apapun…”

“Karena aku ingin membantu Hikari-san,” Jawab Jesse singkat disertai senyum tipisnya. Hikari sedikit meremas ujung roknya karena gugup, “Membantu apa?” Hikari masih mengelak dengan bertanya kembali.

Jesse menatap lurus pada mata bulat Hikari, “Aku tidak akan memberikan kertas itu tanpa alasan. Meski Hikari-san berkata tidak punya masalah sekalipun.”

Hikari masih menatap Jesse dengan tatapan bingung, “Maksud Jesse-san apa?”

Jesse kembali tersenyum. “Seperti namamu, kau juga bisa bersinar.

“Sejak awal kita berkenalan hari ini, ada hal yang terus mengganjal di pikiranku. Kenapa orang se-fashionable Hikari-san lebih memilih barang-barang yang dikeluarkan brand tertentu saja padahal di luar sana masih banyak brand yang lebih cocok dengan Hikari-san. Yah, itu menurutku saja sih,” tambah Jesse sambil mengangkat bahu di akhir kalimat.

.

.

Hikari terus merenungi kalimat yang diucapkan Jesse padanya tadi sore.

“Sesekali, cobalah jadi dirimu sendiri.”

Merupakan kalimat terakhir sebelum akhirnya Jesse undur diri karena mendapat panggilan mendadak dari temannya. Meninggalkan Hikari sendirian memikirkan alasan Jesse mengucapkan hal itu padanya.

Hikari tak merasa punya masalah yang perlu ia khawatirkan. Dia mendapatkan apa yang sudah ia perjuangkan. Kepopuleran, prestasi akademik, teman… Hidupnya sudah sempurna sekarang.

Atau tidak?

Demi ambisinya itu, seringkali ia harus pulang malam karena kerja sambilan dan hampir tidak ada waktu untuk belajar. Esoknya, dia harus bangun pagi untuk menyiapkan penampilannya hari itu. Belum lagi dia harus berangkat dari rumah lebih awal agar tidak ketinggalan kereta. Bohong kalau tenaga Hikari tidak terkuras banyak demi menjaga pamornya sebagai siswi yang dikagumi karena prestasi akademiknya tapi tetap fashionable.

Saat Jesse bertanya tentang alasan Hikari selalu update mengenai perkembangan fashion terkini, Hikari dengan lugas menjawab karena suka. Namun, jika dipikir lebih mendalam, itu hanyalah kebohongan yang Hikari sendiri ingin mempercayainya.

Saat Hikari menjawab alasan mengapa ia lebih suka belanja sendiri pun, ia juga berbohong. Sebenarnya, ia tidak mau teman-temannya mengetahui kondisi Hikari yang sebenarnya.

Hikari bangkit dari duduknya, berjalan menuju cermin panjangnya di sudut kamarnya yang penuh dengan tumpukan majalah fashion. Menatap pantulan dirinya sendiri dalam-dalam.

Apakah benar ini dirinya? Dirinya yang sesungguhnya?

Masih dengan riasan tipis, gaya rambut dan pakaian yang manis. Hikari perlahan menghapus riasannya dan menyisir rambut panjangnya. Ia memejamkan matanya, berusaha mencari kebenaran yang sebenarnya ia ketahui namun tak ingin ia akui.

“Hikari-chan, kau manis sekali!”

“Hikari, kau sudah membeli sepatu yang kau ceritakan kemarin?”

“Yappari, Hikari memang sempurna!”

“Wah, kau masuk 5 besar lagi? Hikari memang pintar!”

“Pintar dan cantik. Aku ingin jadi seperti Hikari-chan!”

Pujian dan sanjungan teman-temannya terus terngiang di kepalanya. Hal itu bukannya membuat Hikari senang, tapi malah membuat Hikari terbebani. Semakin ia dipuji, semakin berat bebannya untuk menjaga pamornya.

“Sesekali, cobalah jadi dirimu sendiri.”

Hikari teringat kembali kalimat yang dilontarkan Jesse. Hikari membuka lemarinya yang penuh dengan baju dan tas berbagai brand yang ia dapatkan dengan susah payah. Ia menatap nanar semua koleksinya.

Untuk apa ia bekerja begitu keras untuk memoles penampilannya?

Untuk apa ia memaksakan diri untuk terus membeli barang terbaru?

Oh. Tanpa itu semua, Hikari hanyalah siswi biasa saja. Dia tidak akan sepopuler sekarang.

Tapi…

Bukankah itu berarti orang-orang yang melihatnya sekarang… Ah, tidak. Mereka tidak melihat Hikari. Mereka hanya melihat barang-barang yang dipakai Hikari.

Hikari seketika terjatuh, berlutut di lantai kamarnya. Air mata mengalir di pipi yang riasannya masih belum terhapus secara sempurna.

Selama ini dia terlalu terpaku pada kata ‘populer’ hingga dia terlena oleh utopia yang ia ciptakan sendiri. Ia juga terlena oleh pujian-pujian yang ditujukan kepadanya. Yang menjunjung diri Hikari begitu tinggi hingga ia lupa untuk menapakkan kaki di tanah.

Selama ini ia selalu dibayang-bayangi rasa takut akan ditinggalkan. Dia takut kalau dirinya tidak populer lagi. Karena itu, dia berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan perhatian semua orang dengan caranya. Meskipun itu berarti ia harus berbohong pada dirinya sendiri.

Tapi bagaimana Hikari tahu jika ketidak populeran itu menakutkan sedangkan dia sendiri belum pernah mengalaminya?

Ah, tidak juga. Saat SMP dulu Hikari bukanlah siswi yang populer. Ia merupakan gadis yang cukup cuek dengan penampiannya, apalagi mengenai fashion. Jika diingat-ingat, tidak menjadi populer tidaklah seburuk yang Hikari pikir. Ia tak pernah mendapat sanjungan berlebih seperti sekarang, paling-paling hanya saat ia menyabet juara kelas. Memang selama ini Hikari merupakan gadis yang pandai dalam bidang akademik. Ia suka belajar mengenai berbagai rumus dan bahasa. Ia sesungguhnya lebih menikmati waktunya saat belajar atau mengerjakan tugasnya dibanding saat membaca majalah fashion atau berbelanja di butik.

“Jadilah dirimu sendiri…” Hikari menggumamkan kalimat yang terus terngiang di kepalanya. Haruskah ia melangkah keluar dari zona nyamannya? Haruskah ia berhenti membeli berbagai barang model terbaru? Apakah teman-temannya masih tetap bersamanya? Apakah kepopulerannya akan lenyap?

.

.

“Hikari!” Hikari menoleh ke arah sumber suara disertai lambaian tangan di antara deretan meja yang berjajar di ruangan terbuka.

“Sumire!” Hikari membalas lambaian tangan Sumire sambil tersenyum lebar. Ia kemudian menarik satu kursi kosong di antara Sumire dan Rika kemudian duduk.

“Hikari…?” Rika mendadak memandangi Hikari dengan tatapan ragu dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“Ya?” jawab Hikari tenang sambil balik menatap Rika. “Ada apa? Kenapa kalian memandangiku seperti itu?”

“Itu kan…” Sumire menunjuk tas yang dibawa Hikari. “Tas keluaran musim lalu?”

Hikari mengangguk mengiyakan.

“Kau… tidak membeli tas yang rilis kemarin?”

Hikari menggeleng, senyumnya terkembang sempurna. Seakan ia sudah mengetahui jika akan dihujani pertanyaan serupa. “Tidak. Lagipula jika dipikir-pikir, untuk apa selalu membeli barang terbaru jika barang lamamu masih bagus dan bisa digunakan? Kita tidak harus membeli barang terbaru untuk bisa fashionable, kan?” Sumire dan Rika hanya diam, entah apa yang mereka berdua pikirkan.

Hikari tertawa renyah, “Kalian kenapa?” Gadis itu berdiri, “Lihat, aku memadukan baju dan rok ini. Kalian ingat kan? Rok ini satu set dengan kemeja merah itu. Kupikir ini tidak terlalu buruk,” gadis itu kembali duduk.

“Lagipula aku juga ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri setelah ini. Sekalipun dapat, aku tidak bisa mengandalkan beasiswa saja, kupikir aku perlu menabung dari sekarang. Ada cita-cita yang lebih ingin kukejar daripada sekedar tampil modis setiap hari,” senyum manis mengembang di akhir kalimat Hikari.

Namun, seperti baru mendengar berita yang sangat mengejutkan, ketiga temannya diam tak bergeming dengan mulut menganga mendengar pernyataan Hikari barusan.

Sasuga Hikari!” kata Sumire akhirnya disertai tepuk tangan memecah keheningan. “Aku benar-benar merasa beruntung mempunyai teman seperti Hikari.”

Hikari tersenyum lebar. Diam-diam ia menghela napas lega. Ketakutannya selama ini tak terjadi. Ia berhasil keluar dari zona nyamannya yang sebenarnya malah menekannya. Bahkan ia dapat jujur mengenai cita-citanya melanjutkan kuliah di luar negeri pada teman-temannya.

Entah bagaimana jadinya jika ia tak bertemu dengan Jesse yang—ia anggap—berjasa dalam perubahan dirinya sekarang. Memang lelaki itu tak banyak bicara padanya, tapi Jesse melontarkan berbagai poin penting yang sukses membuat Hikari membuka matanya. Melihat dan mengakui kebenaran yang selalu ia tutupi.

.

.

Sore itu, masih mengenakan seragam sekolah, Hikari mendorong pintu café yang hari ini pun ramai oleh pelanggan. Suara bel menyambut langkah pertamanya.

Irasshaimase!” seorang pelayan bertubuh tinggi dengan perawakan yang lebih berisi dari Jesse menyambut Hikari dengan senyum hangat dari balik meja kasir.

Anou…” Hikari melangkah malu-malu mendekati kasir. “Apa saya bisa bertemu dengan Jesse-san?”

“Ah, Jesse ya… Sayang sekali dia mengakhiri shift-nya lebih awal hari ini karena urusan mendadak.”

“Ah… begitu ya…” tersirat nada kekecewaan dalam perkataan Hikari. Padahal hari ini ia sengaja mengambil libur dari pekerjaan sambilannya demi menemui Jesse.

“Namamu… Takahashi Hikari, ya?” pertanyaan mendadak dari sang kasir sukses mengagetkan Hikari.

Hikari baru akan bertanya kenapa kasir berambut hitam legam itu bisa tahu namanya ketika tiba-tiba tangan sang kasir mengulurkan sebuah amplop merah polos. Ia bahkan lebar hingga kedua taring di deretan giginya yang rapi terlihat, “Jesse menitipkan ini untukmu.”

Hikari memandangi amplop tersebut beberapa detik sebelum akhirnya menerimanya.

“Nah, jadi… apakah Ojou-sama ingin menikmati secangkir teh sambil membaca surat itu di tempat yang nyaman?”

Hikari mengangguk mengiyakan kemudian memilih tempat duduk di samping jendela. Ia menaruh tasnya kemudian menunggu pesanannya datang sambil melihat orang yang lalu lalang di jalanan. Tiba-tiba terbersit di kepala Hikari, “Apakah orang-orang itu juga pernah sepertiku?”

Omatase itashimashimashita. Silakan menikmati pesanan Anda, Ojou-sama,” seorang pelayan yang datang mengantarkan pesanan Hikari. Membuyarkan lamunannya sore itu.

“Terima kasih… Eh?” Hikari mengerutkan kening ketika menyadari ada sepotong cake yang tidak masuk daftar pesanannya. “Saya tidak memesan cake ini…” ucapnya sambil mendongak menatap sang pelayan.

Pelayan berperawakan kurus dengan rambut yang ditata rapi menggunakan pomade itu tersenyum kepadanya, “Itu hadiah dari salah satu pelayan kami.”

Satu nama terbesit di otak Hikari. Jesse.

“Baiklah, saya permisi dulu,” ucap si pelayan sambil membungkuk kemudian pergi meninggalkan Hikari.

Mata Hikari kini tertuju pada amplop merah di meja. Ia meraih amplop itu kemudian menarik napas dalam-dalam. Menyiapkan hati sebelum membaca apapun isi surat di tangannya itu. Lalu, dengan perlahan, Hikari menarik isinya…

Kau sudah berjuang keras. Selamat!”

 

–to be continued–

 

Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Le ciel e Youkoso (chap 1)

  1. Abe Reina

    Suki sm critanya 😍😍
    Ga kebayang klo yg ky gni bener2 ada 😍😍 bakal betah di cafe nya XD
    Ditunggu part selanjutnya n keep writing 😁😁

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s