[Drabble] BEAUTIFUL ILLUMINATION

BEAUTIFUL ILLUMINATION
Author : yamariena
Type : drabble
Genre : Romance
Rating : PG-17 

Cast: Chinen Yuri, Yamada Ryosuke, Inoo Kei (HSJ); Nakagawa Miki, Koizumi Arina, Sato Miharu (OC)

24 Desember… Christmas Eve

Suasana di rumah keluarga Koizumi mendada ksepi. Mengingat Sora sudah tidak lagi tinggal disana. Miharu dan Miki sudah keluar dari pagi katanya kencan dengan pacar masing-masing. Tinggallah sang owner sendiri, yang tidak bias kemana-mana karena harus bekerja. Yap! Kerja di hari terakhir sebelum kantor libur selama 10 hari. Karena itu suasana kantor hari itu sangat sibuk untuk persiapan rapat akhir tahun.

Di salah satu kubikel, seorang gadis dengan wajah super suntuk, sibuk mengetik di komputernya. Tiba-tiba telpon di mejanya berdering, membuat gadis itu harus menghentikan pekerjaannya sejenak.

“Sekretaris Koizumi, keruangan saya sebentar!” seru suara di seberang sana singkat.

Arina meletakkan kembali ganggang teleponnya dengan kasar, lalu bangkit sambil menggerutu dan berjalan masuk ke ruangan Presiden Direktur. Beberapa minggu berlalu sejak pemuda itu sudah mengambil alih posisi kepemimpinan dari ayahnya sebagai Presiden Direktur, begitu pula Arina yang langsung mendapat kenaikan jabatan sebagai sekretaris. Meski naik jabatan naik gaji, tapi naik jabatan berarti yang lain juga…. meningkatnya kesibukan.

“Permisi pak presdir,” seru Arina setelah masuk ke ruangan, dilihatnya Yamada sibuk berkutat dengan berbagai berkas diatas mejanya.

“Ini sudah selesai di cek, bisa langsung di fotokopi untuk rapat nanti, dan yang ini tolong berikan pada masing-masing ketua devisi untuk diperbaiki.” Kata pemuda itu, memilah beberapa berkas. Arina mengangguk dan mengambil tumpukan map itu ke tangannya. Mengabaikan Yamada yang memandang setiap pergerakan yang dilakukannya.

“Saya permisi dulu, pak,” Arina membungkuk sedikit lalu berbalik untuk keluar dari ruangan itu.

“Ricchan,” panggil Yamada, membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik, “Kau baik-baik saja? Wajahmu sedikit pucat,” kata pemuda itu.

“Hanya sedikit kelelahan, tapi tidak masalah.” Jawabnya singkat, “Kalau begitu, saya permisi dulu pak presdir,” seru gadis itu lagi lalu segera keluar dari ruangan itu.

Segera setelah itu, Arina segera mengumpulkan para kepala devisi dan menyerahkan berkas-berkas tadi, minta tolong pada office boy untuk mem-fotocopy beberapa berkas lainnya dan membaginya ke tiap-tiap peserta rapat nanti.

Setelah selesai, gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat duduknya sendiri sambil mengambil nafas panjang.

‘Hanya tinggal satu file lagi yang perlu di ketik dan di cetak, lalu persiapan untuk rapat,’ gumam gadis itu sambil melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya sendiri.

Saat itulah matanya mendapati sesuatu diatas mejanya, dan sebuah notes.

Minum ini, jangan sampai sakit.

 

Arina mendengus membaca notes tanpa nama itu. Dari tulisannya saja gadis itu sudah tau siapa yang meletakkannya. Siapa lagi kalau bukan si presiden direktur itu. Sambil membuka minuman energi itu, gadis itu memeriksa ponselnya sejenak, membaca pesan singkat dari Miharu dan Miki yang mengatakan tidak akan pulang dan menginap di tempat lagi.

“Hhh.. malam ini sendiri lagi deh,” keluh gadis itu sebelum meletakkan kembali ponselnya dan mulai berkutat kembali dengan pekerjaannya.

 

-*-

 

♪Lucky – EXO♪

Dilahirkan di negara yang sama
Berbicara dalam bahasa yang sama
Kita sangat beruntung, keberutungan yang bagus 

Tidak ada yang pasti di dunia ini

 

“Taman bermain? Yuri paling baik sedunia deh~”

Masih kuingat seruan riangnya saat kuberikan dua buah tiket ke taman bermain. Senyuman merekah dan tidak lepas dari bibirnya. 24 Desember akan menjadi kencan kami ke taman bermain.

Nakagawa Miki.

Satu nama itu yang berhasil mengisi ruang hatiku yang kosong selama ini. Satu nama yang tidak ingin kubuat kecewa, dan satu nama yang senyuman selalu ingin ku jaga selalu berada di wajahnya.

Apa ini keberuntungan?

Apakah aku pernah bereinkarnasi? Kira-kira hidupku sebelumnya seperti apa sampai aku diberkati oleh seorang seperti Miki di hidupku sekarang? Lupakan hal itu, tapi Miki benar-benar membuatku beruntung karena merasakan perasaan ini.

 

“Aku bisa memanggil namamu dan aku bisa memegang tanganmu
Apakah sinar matahari hanya bersinar padaku? Dapatkah aku bahagia seperti ini?
Kau memanggil namaku dan bersandar padaku
Apakah sinar matahari hanya bersinar padamu? Bisakah kau bersinar seperti itu?”

 

“Yuri, kita naik itu ya…”

Senyuman sumringah itu memberikan efek padaku untuk ikut tersenyum bersamamu. Tanganmu yang hangat tergenggam erat di tanganku. Apalagi yang paling membahagiakan selain mendapati bahwa orang yang kau sayangi sepenuh hati juga membalasnya dan menyayangimu sepenuh hatinya?

Yang paling aku suka adalah ekspresimu saat kita naik bianglala. Bianglala paling besar di kota ini. Hingga saat di puncak, kita seperti sedang meraih awan. Tapi aku tidak merasa perlu untuk menyentuh langit, karena aku sudah menemukan langit tempatku bernaung, yaitu dirimu.

Kau tau Miki? Kau lah cinta pertamaku, dan kau jua yang mengajarkan padaku apa itu artinya cinta. Terlepas dari apa kesukaan kita, terlepas dari apa perbedaan kita, ataupun persamaan kita. Aku hanya tau bahwa aku cinta padamu.

“Hai, chiiizu~” Ckrek!!

Aku tersenyum melihat foto yang baru kita tangkap berdua. Kau dan aku tersenyum di dalamnya. Di satu foto yang lain, kau menggembungkan pipi denganku yang manyun. Kau tertawa dengan riang. Apa kau tau bukan foto itu yang membuatku merasa sangat bahagia, tapi melihat tawa dan senyuman di wajahmu?

“Miki,” panggilku.

Kau memalingkan wajahmu dari ponselmu sejenak dan memandangku, apa kau bisa melihat wajahmu sendiri saat ini Miki? Kau benar-benar terlihat menggemaskan.

Ku raih tengkukmu dan membuatmu semakin mendekat padaku, lalu mengecup lembut bibir lembutmu. Tepat dipuncak bianglala, dan kembang api yang meletus diangkasa.

Manis.

Aku beruntung bahwa semua ini adalah milikku. Nakagawa Miki adalah milikku.

 

“So lucky my love
So lucky to have you
So lucky to be your love, I am.”

 

-*-

 

♪Man in Love – Infinite♪

“Aku menyenandungkan nada yang awalnya tidak kusukai sebelumnya
Semua melodrama di dunia entah sejak kapan terlihat seperti cerita diriku
Aku mencoba untuk memperbaiki penampilanku disaat sebelumnya tidak peduli
Kini ku mengerti mengapa kopi terasa sangat pahit”

 

‘Hem hem hem…’ aku bersenandung kecil sambil mematut penampilanku sendiri di depan cermin.

Hari ini aku akan berkencan dengan Miharu.

Mengingat satu kalimat itu, senyuman di wajahku lebih sumringah dari sebelumnya. Bagaikan ini adalah kencan pertama. Padahal sudah berapa kali kami berkencan seperti ini. Tapi setiap apapun yang ku lakukan bersamanya, terasa sangat menyenangkan, meski hanya sebuah kencan sederhana.

“Tidak-tidak. Ini tidak bagus! Aku terlihat seperti paman-paman saja,” keluhku, lalu ku lepaskan lagi baju yang melekat di tubuhku dan menggantinya.

Ini sudah baju kesekian yang ku coba dan selalu berakhir dengan ku lempar lagi diatas tempat tidur. Mengherankan. Kenapa mendadak baju-bajuku terlihat mengerikan saat ku kenakan? Kenapa se rumit ini memilih baju hanya untuk berkencan? Dan kenapa pula aku merasa seperti perempuan?

“Argghh.. ini mengesalkan” akhirnya ku kenakan satu baju yang ku rasa sedikit lebih mendingan. Sederhana namun tetap terlihat keren. Miharu tidak suka dengan pria yang berdandan berlebihan. Aku tau.

Beberapa menit berlalu dan kini aku sudah memarkirkan mobil di dekat salah satu pertokoan, di dekat tempat janji bertemu dengan gadisku. Hahaha… tidak apa-apa bukan aku memanggilnya begitu? Dia memang milikku. Miharu ku.

Meski dia selalu aneh-aneh. Demi apa dia meminta keliling kota dan wisata kuliner sebagai tema kencan malam natal kami? Miharu ku memang suka makan, tapi di anugrahi tubuh yang proposional. Dia selalu membanggakan hal itu saat ku lihat nafsu makannya yang sedang berada diambang batas.

Tapi aku tidak mengeluh. Sungguh. Selama aku bisa melihat raut bahagia di wajahnya, itu bukan masalah. Apapun untuk Miharu ku.

Sambil berjalan menyusuri beberapa pertokoan yang sudah dihiasi dengan pernak-pernik khas natal, aku bisa melihat tidak jauh dari sana, Miharu ku sudah menungguku. Lihatlah dia memanyunkan bibirnya sambil bermain dengan ponselnya sendiri. Sesekali terlihat tersenyum, tertawa kecil, dan kembali manyun. Aku penasaran dia sedang melihat apa? Apakah sedang melihat foto-fotoku sehingga dia tertawa seperti itu? Bisakah aku merasa percaya diri dengan hal itu?

Trrrttt… ponselku berbunyi dan melihat pesan dari Miharu.

Kau dimana, brengsek! Aku sudah hampir membeku dari tadi!!

Aku tersenyum semakin lebar membacanya. Miharu ku imut sekali. Ternyata yang membuatnya manyun dari tadi adalah aku? Apa kau begitu tidak sabar bertemu denganku?

Ku percepat langkah kakiku dan menghampirinya. Kini bibirnya semakin manyun saat memandangku. Miharu ku sayang, apa kau tau perbuatanmu ini membuatku ingin mencium mu?

“Kau kemana saja? Kau pikir sudah berapa lama aku berdiri disini?” bibir ranum itu sudah mulai mengomel seperti biasanya.

Miharu ku, kau benar-benar gadis paling menggemaskan di seluruh dunia. Ku harap hanya diriku saja yang melihatnya dan hanya padaku saja kau bersikap menggemaskan seperti ini. Kau hanya milikku.

“Miharu,” panggilku, dan dia menghentikan omelannya.

Langsung saja ku daratkan satu kecupan di bibir ranum miliknya.

Oh, lihatlah wajahnya yang memerah itu? Seperti tomat. Membuatku ingin sekali menghentikan kencan ini dan segera membawanya ke apartemenku, menghabiskan hari ini bersama dengannya. Tapi aku harus menahan diriku, karena kalau Miharu ku ngambek, itu akan menghabiskan waktu berhari-hari untuk memperbaiki suasana hatinya. Itu kalau kau tidak tau saja bagaimana caranya. Tapi aku tau, dan tidak akan ku beritau.

Ku lepaskan kecupanku dari bibirnya dan dia hanya terdiam memandang kearahku. Sepertinya tidak menyangka bahwa akan ku kecup di tengah keramaian seperti ini.

“Sekarang ayo kita jalan, sebelum toko-toko yang menjual makanan kesukaanmu itu diserbu orang lain dan berakhir dengan kau merengut kesal dan merusak kencan kita hari ini!” kataku menarik tangannya dari sana.

Ku lingkarkan tanganku di pundaknya dengan erat dan dia menurut kali ini. Lihat betapa manisnya dia kalau sudah menurut seperti ini.

Aku mencintaimu, Miharu ku.

 

“Ketika seorang pria sedang jatuh cinta ia akan tetap di sisimu.
Akan melakukan apa saja untuk dirimu
Ketika aku sedang jatuh cinta inginku berikan segalanya untukmu
Hanya dengan satu harapan, yaitu hatimu.
Ketika aku sedang jatuh cinta, ketika aku telah jatuh untukmu”

 

-*-

 

♪Don’t Go –EXO♪

“Kepakan sayap kecilmu mencuri perhatianku
Gerakan tanganmu seakan menuntunku mengikutimu
Setiap malamku teringat akan ketulusan matamu dan cerita dalam diammu
Tersesat ku terjatuh dalam indahnya pesonamu
Mabuk oleh indahmu dan lupa bagaimana caranya bernafas”

 

Kupu-kupu.

Satu kata itu yang bisa ku gambarkan saat bertemu dengan Koizumi Arina pertama kali.

Dilahirkan di dalam sebuah keluarga yang menuntuk kesempurnaan sejak kecil, membuatku melupakan bagaimana caranya menjadi bahagia. Setiap hari di tuntut untuk bisa tumbuh menjadi sosok sempurna, menjadi anak yang bisa dibanggakan, dan menjadi sosok penerus yang di akui oleh semua orang. Tanpa sadar aku tumbuh tanpa sempat menikmati masa kecilku karena tuntutan kesempurnaan itu.

Tibalah hari itu, hari pertama aku bertemu dengannya. Sosok kecilnya yang lebih banyak diam dan wajah suntuknya di tengah pesta perusahaan seperti ini. Arina memang tidak suka dengan bentuk keramaian seperti ini. Dan daripada membaur dengan putri-putri dari para tamu lainnya, gadis itu lebih memilih keluar ke teras, duduk santai disalah satu bangku, dengan earphone dan menikmati kesendiriannya. Wajah itu seakan menarikku untuk mendekatinya, dan entah sejak kapan timbul rasa dalam diriku untuk menjaganya.

Raut wajah terkejutnya setelah ku dekati, sikapnya yang ramah dan sopan namun juga menjaga jarak, Arina berbeda dengan gadis-gadis lainnya. Pertemuan demi pertemuan lainnya yang tanpa sengaja, seperti takdir yang menarikku padanya. Dan tanpa ku sadari hubungan kami sudah lebih dalam daripada kelihatannya. Yang membuatku paling bahagia adalah, Ibu, wanita paling ku hormati di dunia ini, menerima keberadaannya. Dan hal itu membuatku yakin bahwa Arina sudah menjadi sosok yang penting dalam hidupku.

 

“Bahkan saat aku harus menempuh jalan asing dan tersesat
Hati ini yang terus menuntunku
Perlahan aku melihat langkahmu, mata kuatmu yang tersembunyi
dan lembutnya pandanganmu
aku tidak bisa menyangkal semua itu”

 

Lihatlah wajah merengutnya yang kesal, saat dia ku tarik masuk kedalam mobil. Aku tau kalau malam ini dia akan sendirian di rumahnya. Tapi aku tidak setega itu membiarkannya sendirian saja dirumah dengan wajah kelelahannya. Bagaimana jika dia pingsan? Mungkin ini sedikit berlebihan… tapi apapun tentang Arina, aku peduli. Sangat. Setidaknya di rumahku ada para pelayan, lebih baik menikmati malam natal seperti ini daripada sendirian dirumahnya. Lagipula rumahku juga akan menjadi rumahnya nanti.

Semakin jauh aku mengenalnya, aku mendapati bahwa Arina ku adalah gadis yang galak. Tapi bukan tanpa sebab, dia seperti itu untukku juga. Aku tau itu dengan benar. Aku tidak masalah dengannya yang mengatur hidupku seperti itu. Aku sudah meletakkan hatiku di telapak tangannya.

“aku tidak bawa baju ganti!! Kau ingin aku memakai baju ini sampai besok?!” coba lihat itu, dia sudah mulai protes segala macam saat masuk kedalam rumahku. Soal baju? Apa dia lupa dengan setumpuk pakaian yang dibelikan ibu untuknya dan tidak dibawanya pulang dengan alasan lemarinya penuh?

Aku berjalan ke lemari dan memberinya beberapa potong gaun itu padanya, membuatnya bungkam dan kini merengut sendiri. Kamar ini sudah menjadi kamarnya setiap dia menginap disini, jadi baju-baju itu memang tersimpan rapi di dalam lemari.

Jika kau melihatnya begitu saja, kalian akan menganggap bahwa gadis ini benci padaku. Tapi coba lihat dari sudut pandang yang berbeda, seperti alasannya tidak ingin menginap hari ini. Ini malam natal, dan kami baru saja selesai bertarung memimpin sebuah rapat besar sambil merangkum banyak hal yang terjadi di perusahaan setahun ini. Mengevaluasi kerja para pegawai dan mulai merancang desk job untuk tahun depan. Apa yang terpikirkan saat melihat seseorang yang memimpin rapat sebesar itu. Ya, benar. Lelah! Fisik dan pikiran! Dan alasannya menolak adalah dia memberikan waktu untukku istirahat. Dimana orang lain memilih untuk berkencan dan menghabiskan waktunya dengan pasangan mereka, Arina memilih mengalah untukku.

Kurang disayang apalagi aku? Dibalik sikap denialnya yang sebenarnya menggemaskan itu, aku tau Arina memperhatikanku dengan baik. Memikirkannya entah kenapa membuatku tersenyum lebar.

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, aku kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia belum tidur dan terlihat duduk santai di tempat tidur sambil bermain dengan ponselnya. Aku hanya berjalan dan ikut naik keatas tempat tidurnya.

“Ngapain kesini? Sana balik ke kama~hemmppp” omelan protesnya ku bungkam dengan bibirku, dan dia tidak terlihat menolaknya sama sekali.

Ciuman ringan, tanpa nafsu apapun. Dan setelah itu aku melepaskannya, menatap wajahnya yang juga sedang memandangku. Ku elus pipinya lalu berbaring dan menjadikan pangkuannya sebagai bantalku.

“Punya kamar sendiri malah tidur disini. Kau pikir pangkuanku bantal? Sana tidur di kamarmu sendiri!”

Mulutnya boleh saja protes, tapi lihat tubuhnya sama sekali tidak bereaksi dan justru membuatku semakin merasa nyaman. Tangannya saja sudah membelai kepalaku. Dasar denial.

“Ricchan… I love you” kataku, ku kecup singkat tangannya yang bermain di rambutku.

“hem…” jawabnya singkat. Aku terkekeh pelan.

 

“Bawalah aku, bawa aku bersamamu ke tempat kau berada
Meski itu di ujung dunia, aku akan terus mengikutimu
Jangan pergi dari pandanganku meski pagi datang menyapa
Gerakan tangan kecilmu telah mengambil perasaan bingung dalam hatiku”

-*-

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s