[Multichapter] ITS REASON (#7) ~END~

Its Reason
By: kyomochii
Genre: Drama, Friendship, Romance
Rating: PG-15
Cast: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Kouchi Yugo, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Morita Myuto, Yasui Kentaro, Sanada Yuma, Hagiya Keigo (Love Tune as Figuran); Ichigo Yua, Kirie Hazuki, Kimura Aika, Akane Hayakawa (Ayaka), Nishinoya Chiru, Suomi Risa, Takahara Airin, Hideyoshi Sora (OC)
Disclaimer: Thanks to All My “Rusuh Random” Friends Who Lend Their OC for This Story.
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Setelah satu minggu di rumah sakit, Juri akhirnya diijinkan pulang dan melakukan rawat jalan. Aika memutuskan untuk sementara tinggal di rumah Juri agar bisa merawatnya setiap hari.

“Iya aku akan pergi kuliah. Tapi biarkan aku tinggal di sini sampai setidaknya kamu bisa jalan lagi.” Aika memaksa, membuat Juri tidak bisa menolaknya. Lagipula, orang tua Aika sudah memberikan ijinnya sedangkan orang tua Juri malah menerima usul Aika dengan senang hati, terutama ibunya. Pasalnya, ibu Juri selalu menginginkan anak perempuan untuk tinggal di rumah mereka, karena Juri lima bersaudara laki-laki semua.

“Aika-nee, sebaiknya kamu hati-hati kalau membersihkan laci Juri. Di sana banyak barang terlarang.” Aika mengernyitkan dahi mendengar kata-kata ambigu Subaru, yang langsung pergi sambil terkikik meninggalkan Aika dan Juri.

“Barang terlarang apa?” tanya Aika curiga. Lalu membuka laci Juri untuk memeriksanya. Tidak ada apa-apa. “Jangan dengarkan Subaru, dia cuma menggodamu.”

“Jangan-jangan ada hubungannya dengan hari kecelakaan?” tanya Aika masih penuh kecurigaan.

“Sudah kubilang, aku cuma habis mengambil foto Fuji-san dari beberapa sudut kota buat update blogku. Lagipula, kamu tahu sendiri aku ke sana tidak bawa apa-apa. Cuma bawa ponsel saja. Kamu bisa cek sendiri, Aika.” Juri menjelaskan sekali lagi cerita yang sudah berkali-kali diulanginya setiap kali ada yang bertanya apa yang sedang dilakukannya di Yamanashi.

“Memang salah ya kalau pergi ke Yamanashi cuma buat hobi?” gumam Juri.

“Salah. Semua yang kamu lakukan salah. Kamu salah karena pergi ke Yamanashi tanpa memberitahu siapa-siapa, bahkan tidak memberitahuku, kekasihmu. Kamu salah karena pergi ke Yamanashi tanpa membawa identitas apapun. Untung saja kamu sudah menyetel nomorku. Kalau belum? Bagaimana kami bisa menemukanmu? Kamu salah karena keasyikan dengan hobimu memotret Fuji-san sampai tidak memperhatikan jalan dan membuatmu kecelakaan. Kamu salah…” Juri menarik Aika dan menciumnya untuk menghentikan ocehannya.

Cara Juri terbukti ampuh. Karena setelah Juri menciumnya, Aika langsung diam dan tidak mengatakan apa-apa lagi tentang kesalahan-kesalahannya.

“Ngomong-ngomong, kamu tidak mau membantu ibu? Sebaiknya kamu belajar rasa masakan keluarga Tanaka dari sekarang, biar nanti tidak kesulitan adaptasi saat kita sudah menikah.” Telinga Aika memerah mendengar godaan Juri lalu memutuskan untuk segera pergi ke dapur, mengabaikan Juri yang menertawakan reaksinya.

“Subaru sialan! Untung aku sudah memindahkan semua majalah dan video pornoku ke tumpukan buku bekas. Kalau sampai Aika melihatnya…” Juri membayangkan kemungkinan kalau sampai Aika memergoki koleksi video pornonya.

“Hmm, apa malah sebaiknya kita lihat berdua saja ya?” Juri terkikik membayangkan pikiran liarnya.

Berkat Aika yang selalu merawatnya, cuma butuh waktu seminggu saja Juri sudah bisa berjalan lagi dan beraktifitas normal seperti biasa, bahkan hari ini dia sudah bisa pergi kuliah. Karena kesehatan Juri sudah pulih, maka saatnya Aika kembali ke apartemennya.

“Aku akan langsung mengantarnya pulang sepulang kuliah nanti, bu.” Juri melihat ibunya masih berat melepaskan kepulangan Aika.

“Sering-sering main ke sini ya, sayang. Atau kapan-kapan, ibu boleh kan mampir apartemenmu?” Ibu Juri masih memegangi tangan Aika, enggan melepasnya.

“Tidak, bu. Jangan ke apartemen Aika. Ibu cuma akan mengganggu kita. Aku akan sering-sering mengajak Aika main ke sini. Lagipula tidak lama lagi Aika juga akan menjadi bagian keluarga ini.” Kata Juri seenaknya, membuat ibunya memukul kepalanya.

“Dasar anak ini! Kalau perlu ibu akan mengganggumu setiap hari kalau mau berbuat macam-macam dengan Aika. Dan lagi, kuliah dulu yang benar! Lulus, dapat kerja yang bagus, baru pikirkan menikah! Siapa yang mengajarimu jadi anak seperti ini, hah?” Juri menghindari pukulan ibunya, lalu menarik Aika untuk segera berangkat kuliah.

“Ibu dan ayah saja menikah setelah lulus sekolah. Jangan tanya aku meniru siapa.” Juri mengajak Aika berlari sekuat tenaga, sebelum sempat ibunya mengejarnya. Juri terbahak saat berhasil menghindari kejaran ibunya. Sedangkan Aika mengawasi penuh kekhawatiran.

“Kamu baik-baik saja?” Aika mengecek kaki Juri, memastikan Juri tidak merasakan sakit setelah dipakai berlari.

“Tidak apa-apa, sayang. Lihat, bahkan aku sudah bisa lonjak-lonjak seperti ini.” Juri melonjak-lonjak, meyakinkan Aika kalau dia baik-baik saja. Setelah yakin Juri baik-baik saja, Aika bisa bernapas lega.

“Semua karena kamu yang selalu merawatku. Selanjutnya, ijinkan aku untuk selalu menjagamu.” Juri mengecup kening Aika. “Tentu saja, itu kewajibanmu.” Balas Aika.

*****
Pada akhirnya Jesse memilih untuk bersama Hazuki dan melepaskan Ayaka. Setelah memikirkan lagi perasaannya, Jesse menyadari kenyataan kalau dia lebih berat untuk meninggalkan Hazuki dibandingkan Ayaka. Meskipun sakit, Ayaka berbesar hati menerima keputusan Jesse dan memutuskan untuk mengambil beasiswanya ke Eropa.

Oke, aku harus move on! Siapa tahu di Eropa, aku bisa mendapatkan cowok yang jauh lebih keren dari Jesse!  Ayaka menyemangati dirinya sediri. Tapi…

“Maafkan aku Aya-chan. Aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa meninggalkan Hazuki. Hazukilah alasanku berada di sini. Aku ada di sini karena Hazuki dan hanya untuk Hazuki. Kalau bukan karena Hazuki, mungkin kita tidak akan pernah bertemu dan merasakan cinta. Terima kasih untuk semuanya.” Kata-kata Jesse masih terngiang di kepala Ayaka, membuatnya tidak bisa berhenti memikirkannya.

“Kamu baik-baik saja, Aya?” tanya Chiru khawatir dengan keadaan temannya.

Nee, Chiru, bagaimana caramu menahan sakit saat melepaskan Juri untu Aika? Gomen, waktu itu aku tidak sadar kalau kamu benar-benar mencintainya dan sempat ingin membantu mendekatkan Juri dengan Aika.”

“Tanpa bantuanmu pun, mereka sudah ditakdirkan bersama, Aya.” Chiru tersenyum manjawab pertanyaan Ayaka.

“Bagaimana aku bisa menahan sakit? Dari awal, bukan aku dulu yang melakukannya tapi Aika. Aku bisa melakukannya karena memikirkan Aika saat menahan rasa sakitnya melihat Juri bersamaku. Karena aku tahu, cinta Aika ke Juri jauh lebih besar dibandingkan cintaku pada Juri, makanya aku bisa melepasnya.” Ayaka merenungkan kata-kata Chiru.

“Hazuki juga menahan perasaannya demi melihat Jesse bahagia bersamaku. Aku bisa memikirkannya. Tapi aku tidak mau bilang kalau cinta Hazuki lebih besar dari cintaku ke Jesse. Bisa dibilang, cinta kita sama besarnya ke Jesse. Tapi… bagaimanapun Jesse lebih memilihnya, jadi aku harus mengikhlaskannya. Meskipun susah. Aaaaargh.” Ayaka menempelkan kepalanya di meja rias milik Chiru.

“Sudahlah, berhenti galau. Kamu mau mengacaukan meja riasku? Itu lipstikku, aaaa… Aya!! Ayo sudah kita berangkat kuliah. Hari ini hari pertama Juri masuk kuliah setelah kesembuhannya. Aku ingin melihatnya, meskipun aku tidak berani menjenguknya.” Chiru menarik Ayaka untuk segera berangkat kuliah.

*****
Yua-Kouchi, Hazuki-Jesse sedang ngobrol di kantin saat melihat Taiga lewat bersama Sora. Sudah dua minggu sejak kejadian malam itu, Yua belum bicara sama sekali dengan Taiga.

“Aku yakin waktu itu melihat Sora-senpai dan Hoku di lobi rumah sakit saat Yuu-chan menjemputku. Pasti ada sesuatu di antara mereka. Tapi aku perhatikan, akhir-akhir ini Sora-senpai malah dekat dengan Taiga. Masa’ sih dia tega merebut Sora-senpai dari Hoku, sahabatnya sendiri?” Yua geleng-geleng kepala tidak ingin mempercayai dugaannya sendiri.

“Belum tentu, Yua. Kalau menghubungkan dengan kejadian kalian dan Risa, Taiga mendekati Risa biar dia tidak lagi berhubungan dengan Kouchi. Setelah Kouchi tidak lagi mendekatinya, Taiga meninggalkan Risa. Bisa jadi, sekarang dia juga sedang menerapkan taktik yang sama. Taiga mendekati Sora-senpai untuk memisahkannya dari Hokutan. Terus setelah mereka tidak lagi bersama, Taiga akan meninggalkan Sora-senpai.” Hazuki menyeruput minuman dari gelas Jesse sebelum melanjutkan. “Tapi bedanya, kalau kasus kalian, karena Taiga ingin mendekatkanmu dengan Kouchi. Tapi kalau kasus kali ini, dia ingin memiliki Hokuto sendiri.” Hazuki mengakhiri spekulasinya.

“Hazuuuu! Jess, kendalikan pikiran fujoshi Hazu!” Yua memandang galak ke arah Jesse dan Hazuki, yang malah tertawa melihat respon Yua.

“Jangan suka menggosip seenaknya! Sora-senpai hanya membantu Taiga karena besok kontes duta kampus, Yua!” Shintaro yang baru datang, langsung menimpuk kepala Yua karena cerita ngawurnya.

“Kok aku doang sih? Hazu malah lebih ngawur ceritanya tapi kamu tidak nimpuk dia! Shin-chan pilih kasih! Yuu-chaan…” Yua sok-sokan mengadu pada Kouchi yang pura-pura membela Yua untuk menyenangkan hatinya.

“Ngomong-ngomong, kamu masih belum mau bicara sama Taiga, Yua? Sudah dua minggu kalian diam-diaman. Sebaiknya kamu menemuinya. Setidaknya beri dia dukungan untuk kontes besok.” Shintaro menyarankan.

Yua merenungkan saran Shintaro. Sebenarnya Yua juga tidak mengerti mengapa dia masih belum ingin bicara dengan Taiga. Tapi ini sudah dua minggu, waktu terlama Yua marah dengan Taiga, bahkan karena kesalahan Taiga yang tidak jelas dan tidak seharusnya Yua marah. “Baiklah, nanti aku akan bicara dengannya.” Kata Yua pada akhirnya.

Sejak kemarin Yua berusaha menemui Taiga, tapi pemuda begitu sulit untuk ditemuinya. Bahkan pesannya belum ada yang dibaca. Satu-satunya cara untuk bicara dengan Taiga sebelum kontes adalah menemuinya di backstage.

“Kamu sedang apa di sini Yua? Ah, Taiga ya?” tanya Sora yang kebetulan melihat Yua sedang berdiri di depan pintu ruang backstage. Sora mengajak Yua masuk dan menemui Taiga. Taiga tampak terkejut melihat Yua ada di backstage untuk menemuinya. Taiga mengajak Yua untuk keluar supaya mereka bisa lebih leluasa bicara berdua.

“Sudah tidak marah nih?” tanya Taiga menggoda Yua dengan senyuman khasnya, membuat Yua tidak bisa lama-lama lagi marah kepadanya.

“Kenapa kamu tidak mengajakku bicara dulu? Kamu tahu sendiri kalau aku marah, aku anti meminta maaf dulu. Seharusnya kamu tahu itu. Padahal, kalau kamu mengajakku bicara, aku tidak perlu lama-lama marah denganmu. Aku kangen kamu.” Tanpa sadar Yua mulai menitikkan air mata. Taiga memeluk Yua untuk menenangkannya.

“Hei, jangan menangis! Kamu tahu, kalau kamu menangis lama-lama, aku bisa ikut menangis juga. Aku tidak mau make-up ku luntur gara-gara menangis bersamamu. Atau Chiru akan membunuhku.” Yua tertawa mendengar Taiga menggodanya seperti biasa.

“Maaf, aku sudah lama mengabaikanmu. Aku datang ke sini cuma ingin menyemangatimu. Semoga sukses Taiga.” Yua mengecup pipi Taiga untuk memberikan dukungan kepada sahabatnya itu.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Yua-chan. Aku tidak pernah menyalahkanmu. Karena aku menyayangimu, sahabatku.” Taiga membalas mengecup kening Yua.

“Aku juga menyayangimu.” Yua memeluk Taiga dengan erat, sebelum mengantarnya kembali ke ruang backstage.

*****
Kontes duta kampus malam ini berjalan lancar. Meskipun tidak menang, Taiga berhasil menyabet penghargaan sebagai kontestan terfavorite karena bakat menyanyi, dance dan aktingnya yang memukau. Sehingga Taiga diberikan kesempatan untuk memberikan sambutan.

“Terima kasih untuk semua yang mendukung saya. Saya tidak menyangka bisa mendapatkan penghargaan ini di tahun pertama saya. Tapi dengan sepenuh hati, saya memang menginginkannya. Saya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat semua orang mengingat saya, selagi bisa.” Taiga berdeham pelan, sebelum melanjutkan sambutannya.

“Penghargaan ini saya persembahkan untuk semua orang yang mengenal saya, terutama orang-orang yang mengenal saya jauh dari sebelum malam ini. Di kesempatan ini pula, saya ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya untuk sahabat-sahabat saya yang sangat saya cintai. Ichigo Yua, sahabat kecil saya yang selalu ceria. Tanpa dia, hari-hari saya tidak akan pernah indah. Matsumura Hokuto, teman serumah dan ternista saya. Tanpa dia, saya tidak akan pernah bisa bangun pagi untuk pergi kuliah, memasak untuk saya dan banyak hal lagi yang sudah dia lakukan untuk saya. Kirie Hazuki, sahabat tercantik yang pernah saya punya, karena sahabat perempuan saya hanya dia dan Yua.” Yua dan yang lainnya tertawa mendengar gurauan Taiga seperti biasa.

“Tanpa dia, saya akan mati bosan karena tidak ada orang yang bisa saya bully.” Hazuki protes keras saat Taiga mengatakannya, membuat Yua dan yang lainnya tertawa semakin keras. “Dan Morimoto Shintaro, sahabat besar saya yang selalu menjadi penjembatan di antara kami semua. Tanpa dia, mungkin kami tidak mungkin masih bersama sampai hari ini.”

Benar. Kalau bukan karena Shin-chan, aku pasti belum berbaikan dengan Taiga sekarang. Yua memandang Shintaro dengan sayang.

“Dan tidak lupa untuk Nishinoya Chiru, teman seperjuangan saya dari angkatan tahun pertama. Maaf sayang, aku merebut tropimu tahun ini. Tapi tahun depan kamu pasti bisa mendapatkannya. Terima kasih juga kepada Sora-senpai yang banyak membantu saya hingga hari ini. Kouchi Yugo, Morita Myuto, dan Yasui Kentarou, teman sekelas saya yang random dan selalu membuat suasana kelas menjadi meriah dengan keaktifan mereka. Aku mencintai kalian semua. Terima kasih banyak.” Tepuk tangan meriah menggema mengisi ruangan, mengiringi Taiga kembali ke bangku kontestan.

Tapi belum ada beberapa langkah, tiba-tiba saja Taiga terjatuh dan Hokuto segera berlari mengangkatnya, meminta Sora untuk menelepon ambulan untuk mereka.

“Ada apa?” Yua panik, menggenggam erat tangan Kouchi tidak sanggup bergerak sama sekali. Tiba-tiba saja badannya menjadi kaku melihat Taiga jatuh seperti itu.

*****
Sora menemani Hokuto menemui dokter yang selama ini merawat Taiga. Selama dua minggu ini, mereka lah yang selalu siaga mengantar Taiga ke rumah sakit jika keadaanya memburuk tiba-tiba.

“Jantungnya sudah bekerja maksimal selama satu bulan ini. Taiga tahu hal ini akan terjadi, makanya dia memutuskan untuk mempercayakan keadaannya kepada kalian. Tapi bagaimana pun juga, keadaannya saat ini harus saya bicarakan dengan orang tua Taiga.”

“Baik, dok. Kami akan menghubungi orang tua Taiga. Permisi.” Sora dan Hokuto saling berpandangan, tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Mereka bisa menebak apa yang ingin dokter bicarakan kepada orang tua Taiga tentang keadaannya.

Setelah menemui dokter, mama Taiga menyempatkan diri untuk menemui sahabat-sahabat Taiga dan menjelaskan kalau Taiga memiliki kelainan pada jantungnya sejak lahir. Mama Taiga meminta maaf karena selama ini sudah merahasiakan dari semuanya.

“Taiga ingin mempunyai teman yang normal, bukan yang berteman dengannya karena kasihan. Makanya, kami terpaksa tidak pernah membahasnya. Padahal selama ini kami sudah merawatnya dengan baik. Tapi satu tahun lalu, dokter mendiagnosa kalau umur Taiga tidak akan lama. Karena itu, sebisa mungkin kami menuruti semua keinginannya, termasuk tinggal sendiri dan mencoba mandiri, selagi bisa katanya. Bahkan mengikuti kontes duta kampus yang menguras tenaganya…” Mama Taiga terisak, tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Sudah tiga hari, tapi Taiga belum juga sadarkan diri. Selama itu, Yua tidak mau meninggalkan sisi Taiga sama sekali. Bahkan untuk makan saja, Yua harus disuapi. Yua jadi bisa merasakan perasaan Aika saat menunggu Juri yang tidak sadarkan diri. Yua tidak ingin membayangkan kalau ini terjadi pada Kouchi.

“Kamu tahu kalau Taiga sakit, Hoku?” tanya Yua di kesempatan Hokuto menemaninya menunggu Taiga.

“Tidak, sampai dua minggu lalu, saat aku meninggalkannya dan menginap di tempat Sora. Aku tidak tahu kalau selama ini dia memintaku untuk tinggal bersamanya untuk memastikan dia bisa terbangun keesokan hari dan kembali melihat dunia. Aku tidak pernah tahu, kalau dia diam-diam terbangun tengah malam untuk meminum obatnya, makanya dia sering bangun kesiangan. Makanya dia membutuhkanku untuk membangunkannya.” Hokuto mengatur jeda untuk bernapas.

“Keadaan Taiga memburuk dalam sebulan terakhir. Saat dia pulang dalam keadaan mabuk, kukira dia bodoh sudah melakukannya karena tidak sadar dengan kelemahannya terhadap alkohol. Tapi kemudian aku mengetahui dari Chiru kalau Taiga seperti sengaja melakukannya. Sepertinya dia sempat merasa lelah dengan penyakitnya dan mungkin mencoba mengakhiri hidupnya.” Yua tercekat mendengar kata-kata Hokuto.

“Mungkin, Yua. Karena pasti itu yang akan kulakukan kalau menjadi Taiga. Aku tidak bisa membayangkan perasaan tertekannya karena menyimpan semua ini sendiri.” Yua juga tidak bisa membayangkan Taiga mengalami semua itu sendiri dan tidak pernah menceritakan sedikitpun keadaannya kepada mereka, sahabat-sahabatnya. “Kenapa dia merahasiakannya?”

“Ada banyak hal yang Taiga sembunyikan dari kita, Yua. Terlalu banyak. Tapi bakat aktingnya terlalu alami. Bahkan aku saja yang tinggal serumah dengannya sampai tidak bisa menyadarinya. Bahkan dia dengan sempurna menutupi perasaannya.” Hokuto menghela napas sebelum melanjutkan.

“Ada satu hal yang harus kamu tahu, Yua. Aku tidak peduli lagi Taiga akan marah padaku kalau aku mengatakannya. Tapi kamu harus mengetahuinya.” Hokuto berdiri, mengambil tropi yang didapat Taiga saat kontes pemilihan duta kampus. Yua memperhatikan Hokuto dengan terheran.

“Karena Sora dekat dengan panitia kontes, jadi kami bisa mengetahui Taiga akan memenangkan salah satu penghargaan bahkan sebelum pengumumannya. Saat kami memberitahunya, dia meminta panitia untuk tidak menuliskan namanya di tropinya tapi…” Hokuto menyerahkan tropi milik Taiga, dibacanya tulisan yang tertera di sana.

I LOVE YOU, YUA.

Tulisan emas yang tergores pada tropi hitam itu berkilap tertimpa cahaya lampu. Yua tidak bisa mempercayainya. “A-apa maksudnya?” tanya Yua terbata.

“Saat dia mengatakan tropi ini dia persembahkan untuk semua orang yang mengenalnya, sebenarnya dia cuma ingin mempersembahkan tropi ini untukmu, yang paling mengenalnya. Makanya dia mengungkapkan perasaannya padamu di tropi itu.” Jelas Hokuto.

“Taiga mencintaiku?” tanya Yua masih tidak percaya.

“Ya, dia mencintaimu. Selalu. Sejak dulu.” Tegas Hokuto.

“Sebenarnya semua orang bisa melihatnya. Tapi sudah kubilang, dia jago berakting untuk menutupi perasaannya. Dia pura-pura menjadi playboy supaya kamu tidak menyadari perasaannya. Tapi sebanyak apapun cewek yang didekatinya, dia tidak pernah sampai pacaran dengan mereka. Karena Taiga selalu menjaga hatinya untuk selalu mencintaimu, satu.”

“Kalau dia begitu mencintaiku, kenapa dia tidak pernah mengatakannya padaku? Kenapa dia malah membuatku dan Kouchi bersatu?”

“Taiga membuatmu dan Kouchi bersatu karena dia begitu mencintaimu. Taiga hanya ingin melihatmu bahagia bersama orang yang kamu cintai kalau dia sudah tiada. Sejak awal Taiga sudah tahu kalau Kouchi adalah cinta pertamamu. Karena itu, dia mencoba memisahkannya dengan Risa dan membuat Kouchi hanya melihatmu dan membuatmu bahagia. Taiga tidak bisa mengatakan kalau dia mencintaimu karena dia tidak ingin kamu membalas perasaannya dan menderita sendiri saat dia sudah tidak ada. Taiga tidak ingin orang yang dicintainya menderita, Yua. Kebahagiaanmu lah alasannya Yua.”

Air mata Yua sudah tidak bisa dibendung lagi, sekarang dia menangis sejadinya dan memeluk tangan Taiga yang bisa diraihnya. Semua kenangan indah mereka berdua yang tersimpan di memori Yua sedang bermain sesukanya di pikiran Yua. Yua mengingat semua perhatian Taiga kepadanya. Yua mengingat Taiga yang selalu menjaganya. Yua mengingat saat Taiga memukul pelan kepalanya dengan sayang. Yua mengingat setiap kali Taiga memeluknya. Bagaimana bisa dia tidak menyadari perasaan Taiga? Dia terlalu takut dengan terorinya sendiri tentang ‘tidak mungkin ada yang namanya sahabat jadi cinta!’ Andai saja Yua tidak mempercayainya, Yua akan bisa melihat perasaan tulus Taiga yang mencintainya.

“Kenapa kamu tidak mengatakannya, bodoh?! Kenapa baru sekarang aku menyadari alasan-alasan di balik setiap tindakanmu? Untuk kebahagiaanku karena kamu mencintaiku, hah? Kenapa kamu tidak pernah menjelaskan alasan-alasanmu, bodoh!?”

Tangan Taiga yang sedang dipeluk Yua tiba-tiba bergerak. Hokuto dan Yua segera memanggil dokter untuk memberitahukan kesadaran Taiga.

*****
Airin masih memeluk Shintaro dengan erat, enggan melepasnya. Shintaro tidak mengerti apa yang sudah terjadi dengan kekasihnya. Airin tiba-tiba saja seperti itu sejak sepulangnya dari sekolah. Berulang kali dia menanyainya, tapi Airin belum juga mengeluarkan suara untuk menjelaskannya sehingga membuat Shintaro terpaksa diam dan membalas pelukannya.

“Shin-kun, kematian itu menakutkan.” Kata Airin tiba-tiba. Shintaro merasa pelukan Airin semakin erat menguasainya.

“Dalam waktu dua minggu terakhir, aku sudah melihat orang yang hampir meninggal karena kecelakaan. Orang yang hampir meninggal karena sakit. Bahkan hari ini aku melihat sendiri kematian karena pembunuhan.”

Mendengar kata-kata Airin, Shintaro buru-buru mengangkat wajah kekasihnya, menatap lurus ke matanya. “Pembunuhan?”

“Shin-kun tahu Buko? Babi milik penjaga kebun sekolah yang selalu kita beri makan? Entah sejak kapan, aku jadi kebiasaan memberinya makan dan menjadi sangat menyayanginya. Tapi hari ini, aku melihatnya dibunuh di depan mataku untuk bahan ujian praktek. Rasanya…” Bukannya sedih, sebenarnya Shintaro malah ingin tertawa mendengar cerita Airin tapi mengurungkan niatnya saat melihat Airin mulai menitikkan air mata.

“Saat melihat Buko yang kusayang mati di depan mataku, tiba-tiba saja aku teringat kejadian saat Juri-kun kecelakaan. Waktu itu, kupikir Aika lebay sampai lemas begitu padahal Juri-kun sudah dalam perawatan. Tapi saat aku melihat Buko, aku jadi memikirkan andai saja yang waktu itu kecelakaan Shin-kun, aku tidak sanggup membayangkannya.” Tangis Airin semakin kencang saat menyebut nama Shintaro dan membayangkannya berada di posisi Juri. Shintaro hanya bisa memeluk Airin untuk menenangkannya.

“Aku juga jadi mengerti bagaimana perasaan Shin-kun sekarang saat melihat keadaan Taiga-kun.” Tanpa sadar air mata Shintaro juga mulai menitik saat Airin menyebut nama Taiga. Shintaro mengencangkan pelukannya, seolah takut kehilangan Airin juga.

“Shin-kun, jangan pernah tinggalkan aku. Aku tidak mau kehilangan Shin-kun. Karena rasanya sakit sekali kehilangan orang yang kita sayang. Aku dulu belum memahaminya saat pertama kali kita berpisah. Tapi sekarang, aku tidak akan membiarkan lagi Shin-kun melakukannya. Ku mohon, tetaplah bersamaku selamanya.” Tanpa mengucapkan sepatah kata, dengan pelukan Shintaro mengungkapkan perasaannya, sama, dia tidak ingin Airin meninggalkannya.

*****
Malam itu, Taiga menginginkan semua sahabat dan teman-temannya ada di sampingnya. Bahkan Taiga ingin Juri, Jesse, Airin, Risa dan Hagiya ikut berkumpul bersamanya.

“Tidak banyak yang ingin aku katakan. Aku hanya ingin meminta maaf atas keegoisanku selama ini dan membuat banyak orang terluka bahkan kecewa denganku, terutama Risa dan Hagiya, maafkan aku.” Risa mengangguk, tidak sanggup menahan air matanya lalu menyembunyikan wajah di balik lengan Hagiya.

“Juri, aku juga ingin minta maaf kalau sempat membuatmu salah paham. Sungguh aku tidak ada apa-apa dengan Chiru.” Ucap Taiga berusaha keras menyamakan suaranya dengan cara bicaranya yang biasanya, membuat Hokuto dan Yua tidak bisa menahan senyum, karena mereka lah yang paling sering mendengar kata-kata itu.

“Chiru memintaku untuk tidak mengatakan apa-apa saat itu biar kamu tidak lagi memikirkannya dan menyadari perasaanmu pada Aika. Dan gara-gara itu, aku sampai dicurigai Hoku dan Yua. Kamu tidak boleh menyia-nyiakan pengorbananku. Kamu harus terus menjaga Aika.”

“Siap, dengan segenap hati.” Jawab Juri dengan nada bercanda untuk melunturkan suasana canggung di antara mereka.

“Jesse, aku titip Hazu ya. Tolong jaga dia untukku.” Jesse mengangguk lalu membenamkan Hazuki yang tidak sanggup menahan tangis ke dalam pelukannya.

“Hoku, Shin, jaga orang-orang yang paling berharga untuk kalian. Selalu buat bahagia mereka selama kalian bisa.”

Sebuah pemandangan melankolis sedang terjadi di hadapan mereka semua. Hokuto dan Shintaro sedang menangis sejadi-jadinya dan memeluk Taiga. Lalu Hazuki dan Yua mengikutinya. Mereka berlima berpelukan sangat lama sampai semua orang selain mereka keluar ruangan, memberikan waktu untuk mereka.

“Jangan lama-lama memelukku, nanti aku semakin sesak jadinya.” Kata Taiga mencoba bercanda, namun akhirnya membuat teman-temannya melepaskan pelukan mereka.

“Yua kemarilah.” Taiga memberikan kode agar Yua kembali memeluknya.

“Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kujelaskan padamu. Tapi sepertinya Hoku sudah merebut jatahku karena dia sudah menjelaskan semua yang ingin kukatakan padamu.” Taiga melempar pandangan pura-pura marah ke arah Hokuto yang sudah menjelaskan perasaannya ke Yua, lalu melanjutkan bicara.

“Tapi aku ingin mengucapkannya dari mulutku sendiri…” Taiga mengatur jeda. “Aku mencintaimu. Aku mencintaimu Yua. Aku sangat bahagia bisa hidup di dunia ini sebagai orang yang mencintaimu. Kalau aku dilahirkan kembali, aku akan tetap memilih menjadi orang yang mencintaimu. Karena mencintaimu, aku hanya mengenal keindahan. Begitu indah, karena aku mencintaimu.” Yua hanya bisa menangis dalam pelukan Taiga, tidak sanggup berkata apa-apa.

Setelah cukup lama menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya, Taiga meminta mereka untuk memanggilkan Kouchi. “Bisakah aku bicara berdua saja dengan Kouchi?” Taiga memohon kepada sahabat-sahabatnya untuk meninggalkan mereka berdua.

Hokuto, Shintaro dan Hazuki pergi keluar sesuai permintaan Taiga. Tapi Yua tidak beranjak dari tempatnya. “Biarkan aku di sini.” Pinta Yua.

“Tidak Yua, aku cuma ingin bicara dengan Kouchi berdua.” Taiga membelai rambut Yua dengan sayang, meminta pengertiannya.

“Kalau ini tentang aku, maka kalian wajib melibatkanku.” Kata Yua keras kepala, membuat Taiga tidak bisa lagi menolaknya. Taiga meminta Yua pergi ke sisi Kouchi, lalu memperhatikan keduanya, terlihat bahagia.

“Maaf melibatkanmu dalam masalahku, Kouchi. Tapi aku tahu kamu dan Yua saling mencintai. Jaga Yua untuk bagianku juga ya.” Pinta Taiga pada Kouchi.

“Tentu saja aku akan menjaganya dengan sepenuh hati.” Jawab Kouchi menirukan gaya Juri.

“Aku yakin, kalau kamu pasti bisa membahagiakan Yua. Tapi ingatlah, aku yang membiarkan kalian bersama di kehidupan ini. Kalau di kehidupan selanjutnya aku terlahir sehat, aku tidak akan menyerahkan Yua kepadamu dengan suka hati.” Kata Taiga mengingatkan Kouchi.

“Aku juga tidak akan menyerah memenangkan hatinya.” Tantang Kouchi.

“Baiklah aku terima tantanganmu. Kalau begitu sampai ketemu di kehidupan selanjutnya.” Tantang balik Taiga.

Tiba-tiba saja Taiga memejamkan mata setelah mengatakannya. Yua menjadi histeris saat melihatnya dan kembali berlari memeluknya.

“Taiga! Tidak. Taiga jangan pergi dulu! Taiga!” Yua memanggil Taiga dengan sekeras-kerasnya, belum rela kalau sahabatnya itu pergi meninggalkannya.

“Diamlah Yua! Jangan berisik di rumah sakit. Aku masih belum mati.” Kata Taiga kembali membuka matanya. Tangis Yua kembali pecah. Dipeluknya Taiga semakin erat.

“Aku masih belum mati karena aku belum pernah menciummu, Yua.” Mendengar Taiga menggodanya, Yua tidak bisa menahan tawa di sela-sela tangisnya. “Gak lucu!” Yua memukul pelan dada Taiga, mulai berusaha menghentikan tangisnya.

Entah sejak kapan, Kouchi sudah keluar ruangan meninggalkann Yua hanya berdua dengan Taiga.

“Aku tidak bercanda. Setidaknya buatlah aku mati tenang setelah kamu menciumku.” Pinta Taiga sok serius.

“Aku tidak mau menciummu kalau kamu mati setelah aku menciummu.” Yua balas menggoda Taiga.

Tanpa aba-aba, tiba-tiba saja Taiga menarik kepala Yua, lalu dengan lembut menyisipkan lidahnya di antara bibir Yua. Yua membiarkan lidah Taiga menjelajah seluruh mulutnya, menggigiti dan mengisap setiap bagian bibirnya. Lagi-lagi Yua tidak mampu menahan air matanya, menyadari kenyataan kalau mungkin saja ini ciuman pertama dan terakhirnya dengan Taiga.

Andai saja aku sempat membalas perasaannya, sesal Yua dalam hati, lalu membalas ciuman Taiga dengan hati perih.

Dua hari setelah malam itu, Taiga menghembuskan napas terakhir di dampingi keempat sahabatnya. Taiga meninggal dengan senyum mengembang di wajahnya. Sebelum meninggal, Taiga sempat mengucapkan rasa terima kasih karena Tuhan masih memberinya waktu untuk melihat teman-temannya bahagia dan bisa menjelaskan alasannya~

– fin –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s