[Multichapter] Kareshi Gacha part 4

Untitled-1

KARESHI GACHA

Author : yamariena

Type : Multichapter

Genre : Romance, Comedy, fantasy

Rating : PG-17

Cast: Yamada Ryosuke, Inoo Kei (HSJ); Koizumi Arina, Sato Miharu (OC)

Desclimer: terinspirasi dari Oniichan Gacha wkwkwkwkwk

******

Hangatnya mentari pagi perlahan membangunkan pemilik sepasang mata yang masih terlelap ditempatnya. Sosok itu tampak menguap dan mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memperjelas orientasinya yang masih di dominasi rasa kantuk yang kuat. Masih dengan mata sedikit terpejam, tangannya menelusup ke bawah bantal, mencari ponselnya, benar-benar mengabaikan bahaya dari perbuatannya. Setelah dilihatnya angka kecil diponselnya yang menunjukkan pukul 9 pagi, matanya kini membuka sempurna dan buru-buru bangkit dari posisinya. Tapi gerakan tiba-tiba itu membuat sengatan rasa sakit menyerang kepalanya, menggoyahkan keseimbangannya, dan membuatnya kembali berbaring ditempatnya. Kali ini dengan posisi terlentang sambil meletakkan lengannya ke kepala.

“Ohayou, Ricchan. Tidur lagi saja kalau masih pusing,” sebuah suara seorang pemuda berhasil membuatnya buru-buru menoleh ke samping dan mendapati ada sosok lain disana. Tidur disampingnya.

Gadis itu semakin melebarkan matanya saat memandang sosok yang tadi menegurnya tersenyum memandangnya. Namun bukan itu saja, posisi mereka saat ini benar-benar membuat gadis itu ingin menenggelamkan dirinya ke danau beku di antartika. Bagaimana mungkin dia menjadikan lengan pemuda itu menjadi bantalnya? Apa sejak semalam mereka tidur dengan posisi seperti itu?? YANG BENAR SAJA!!

“KAU?!” kata gadis itu hampir menjerit histeris.

Pria itu menutup telinganya sambil memasang ekspresi kesal, “Bisa tidak sekali aja bangun pagi itu tidak berteriak?”

“Kenapa kau bisa disini? Kenapa aku bisa tidur bersamamu?” tanya gadis itu lagi.

Pemuda itu hanya bangkit dan mengangkat bahunya, “Mana aku tau, begitu bangun kau sudah disampingku, bergelung nyaman dan menjadikan lenganku sebagai bantal,” jawabnya santai.

Seketika saja gadis itu merasa entah kenapa udara disekitarnya mendadak pengap. Dirinya merasa kesulitan untuk bernapas dan entah kenapa pipinya memanas. Benar saja, seharian kemarin pemuda ini tidak sadarkan diri, hingga dia hampir terlelap tadi malam suhu tubuh pria itu masih dingin. Tunggu! Jadi, pemuda ini sudah sembuh?!

“Ryosuke, tunggu dulu!” kata gadis itu lagi membuat langkah pemuda itu yang sudah hampir pintu kamar berhenti sejenak.

“Apa?” tanyanya datar.

Arina berjalan mendekatinya lalu menempelkan tangannya di pelipis pemuda itu dan satu tangannya lagi di pelipisnya sendiri.

“Sudah normal,” gumamnya, lalu kembali memandang sosok itu dengan tatapan serius, “Benar sudah baik-baik saja? Tidak merasa dingin?” tanyanya.

Pemuda itu hanya menyerit sambil tersenyum tipis, “Aku sudah tidak apa-apa, Ricchan. Tumben sekali kau khawatir padaku?” katanya dengan nada menyindir di akhir.

Tidak menanggapi sindiran pemuda itu, Arina menghela nafas dengan lega di tempatnya. “Syukurlah. Kau membuat orang panik semalam, sampai tidak sadarkan diri begitu.” celetuknya.

Mendengar itu entah kenapa membuat Ryosuke tersenyum semakin lebar. Satu tangannya terangkat dan menyentuh puncak kepala gadis itu dan mengusapnya lembut. Tidak sadar bahwa perbuatannya yang tiba-tiba itu mengantarkan satu perasaan aneh untuk gadis itu, “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, dan merawatku semalaman,” katanya.

Sekarang Arina merasakan bahwa jantungnya hampir saja melompat keluar dari dadanya. Kenapa sikap pemuda ini suka berubah-ubah seperti ini?

Pemuda itu kemudian kembali menurunkan usapannya dan memandang ke Arina lagi. “Aku akan cuci muka, kau mulailah masak sarapan. Aku sudah menahan lapar dari tadi karena menunggumu bangun tidur,” Nah, kenapa sekarang sikap menyebalkan pemuda itu kembali?

Ngomong-ngomong soal sarapan? Kenapa dia tidak melihat orang itu sejak tadi?

Baru berpikir sejenak, tiba-tiba saja Ryosuke kembali masuk ke kamar dan memandang Arina dengan tatapan yang sulit diartikan.

“A…ada apa?” tanya Arina.

Pemuda itu menggaruk tengkuknya seperti salah tingkah, “itu, sedang ada orang di kamar mandi…” katanya.

“Mungkin itu Miharu,” kata Arina. Mengingat sudah jam segini, pasti Inoo sudah pergi bekerja.

Pemuda iti kembali terlihat salah tingkah, Arina semakin mengerit bingung. “Kenapa?” tanyanya.

“Ah tidak, hanya saja sepertinya dia tidak sendiri…” katanya.

Arina semakin menyerit bingung, lalu tanpa memedulikan larangan Ryosuke padanya, gadis itu berjalan keluar mendekati kamar mandi yang berada di dekat dapur.

“Aahhnn… Kei.. hhh… j..jangan..”

“Hhh… Miharu, se… sebentar.. lagi….”

Arina menahan nafasnya sambil dengan pupil melebar. Tinggal selangkah lagi mencapai pintu kamar mandi, dirinya diasambut dengan suara erangan dan desahan dari dalam. Pantas saja pemuda itu salah tingkah, si pemilik apartemen yang dikiranya sudah pergi kerja kini sedang melakukan perbuatan asusila dengan sahabatnya, di dalam kamar mandi pula. Saat akan berbalik, Arina mendapati Ryosuke berada tepat di belakangnya dan kini sedang menatapnya.

“S…sudah ku bilang berhenti kan tadi?” kata pemuda itu.

Arina menelan ludahnya dengan susah payah sambil mengerjap beberapa kali. Suasana ini benar-benar membuat canggung.

“A….aku… akan membuat sarapan,” kata Arina pelan sambil buru-buru pergi dari sana dan berjalan ke dapur.

Ryosuke menipiskan bibirnya dengan sudut yang mencuat naik, pemuda itu lalu menyusul Arina dan mendapati gadis itu sedang menyendokkan nasi goreng ke dua piring.

“Sepertinya, Miharu sudah memasak nasi goreng. Tidak masalah kan? Apa kau mau sarapan yang lain?” tanya Arina saat menyadari Ryosuke di dekatnya.

“Tidak masalah,” pemuda itu tampak menuang kopi yang terlihat masih hangat dari coffee machine ke dalam cangkir, “Kau mau?” tanyanya pada Arina.

Arina mengangkat kepalanya sedikit dan menggeleng, “Tidak, aku tidak terbiasa dengan kopi di pagi hari. Aku air putih saja,” kata gadis itu.

Ryosuke lalu mengambil satu gelas dan mengisinya dengan air putih, “aku duluan ke meja makan,” katanya saat melewati Arina yang sedang menghias piring nasi gorengnya.

Saat Arina meletakkan piring nasi goreng itu ke meja makan, pintu kamar mandi pun terbuka. Menampilan sosok dua orang dengan pakaian santai.

“Aku mau cuci muka dulu,” kata Ryosuke sambil beranjak dari tempatnya dan dibalas anggukan oleh Arina.

“Yamada-kun, Arina, kalian sudah bangun?” tanya Miharu pelan dengan wajah memerah. Disampingnya, Kei tersenyum salah tingkah, apalagi melihat Ryosuke yang berjalan melewati mereka berdua sambil nyengir lebar. Berbanding terbalik dengan Arina yang memandang keduanya sambil mengankat sebelah alisnya.

“Nasi gorengnya masih ada banyak, kalian tidak makan?” tanya Arina.

“Kami sudah makan tadi,” jawab Inoo sambil mengambil tempat di meja makan, sementara Miharu sedang menuang kopi untuknya.

Arina mengangangguk. Miharu datang dengan dua cangkir kopi untuk dirinya sendiri dan Inoo. Arina masih bisa melihat bibir Miharu yang bengkak, membuat gadis itu meringis kecil di tempatnya.

“Jadi, Yamada-kun sudah sembuh?” tanya Miharu melepas suasana canggung saat itu.

“Begitulah, suhu tubuhnya sudah normal tadi,” jawab Arina.

“Apa yang terjadi? Kenapa semalam dia jadi seperti itu?” kali ini Inoo yang bertanya.

Arina menggeleng, “entahlah, aku belum bertanya masalah itu,” katanya.

Tepat saat itu, Yamada keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar.

“Aku juga mau cuci muka dulu,” kata Arina pada Miharu dan Inoo sambil beranjak dari tempatnya.

Yamada kini sudah kembali duduk di tempatnya dan mulai menikmati sarapannya.

“Miharu, aku juga minta nasi gorengnya. Entah kenapa aku merasa lapar lagi,” kata Inoo.

“Baiklah,” kata Miharu sambil beranjak dari tempatnya.

“Tentu saja lapar lagi. Memangnya berapa kalori yang kalian habiskan untuk olahraga pagi” celetuk Arina sebelum menutup kamar mandi.

Membuat Inoo tersedak saat menyesap kopinya, Miharu hampir saja menjatuhkan piring di pegangannya, dan Yamada terbahak di tempatnya.

**********

Arina mengutak atik ponselnya dalam diam. Membuka pesan, kontak, dan lain-lain benda dalam genggamannya tersebut. Kini baik Arina dan Yamada, keduanya sedang berada di dalam kereta yang akan membawa mereka pulang ke apartemen Arina. Yamada tidur sambil bersender di pundak Arina dan gadis itu sama sekali tidak terlihat risih. Seolah-olah hal itu memang wajar.

Hal ini bukan tanpa sebab. Beberapa jam yang lalu, masih di apartemen Miharu, pemuda itu menceritakan yang terjadi padanya kemarin.

“HAH? Kehabisan Tenaga?” koor Arina, Miharu, dan Inoo bersamaan.

“Memangnya ada yang seperti itu?” tanya Arina dengan tatapan menyelidik.

“Pada dasarnya aku bukan manusia, jadi yah jawabannya tentu saja,” kata pemuda itu dengan santai.

“Jadi itu artinya, kau tidak bisa jauh dari Arina lebih dari 24 jam, atau akan terjadi hal yang seperti kemarin?” Miharu mengambil kesimpulan dari perkataan Yamada.

“Bukankah kau juga makan dan tidur, memang hal tersebut bukan termasuk dalam mengisi ulang tenaga?” kali ini Inoo yang bertanya.

“Yah, aku juga dapat tenaga dari itu semua, tapi sifatnya hanya sementara. Untuk manusia biasa mungkin iya. Tapi hubungan antara gacha dan pemiliknya bukan hubungan yang sederhana. Arina pemilikku, dia juga sumber tenagaku, jadi intinya aku dan Arina terikat. Kalau tidur atau makan seperti yang kalian bilang, diantara keduanya, makananlah sumber tenaga yang paling besar. Kalau aku dan Arina terpisah, aku bisa mendapat tenaga dari makanan, tapi apa kalian bisa menyiapkan makanan dalam jumlah yang banyak?”

Inoo dan Miharu tampak mengangguk di tempatnya. Sedangkan Arina, gadis itu terpekur sendiri ditempatnya. Bencana kembali bertambah, dia tidak bisa jauh-jauh dari pemuda itu. Dia sumber tenaganya. Lebih parah lagi, untuk memperolehnya, mereka harus melakukan hal yang paling di benci oleh gadis itu. Skinship! Seperti berpelukan, bergandengan, atau saling bersandar satu sama lain. Meski tidak sampai melakukan hal-hal yang lebih jauh, tetap saja….

“Dengan kata lain kau dan Arina terikat kontrak seperti cerita di shounen manga begitu?” entah kenapa Miharu terlihat lebih antusias dari biasanya.

“Tidak persis seperti itu. Bisa dibilang hanya kontrak sementara sampai dia mengembalikanku atau mengikat kontrak yang sebenarnya?”jawab Yamada lagi.

“Bagaimana caranya? Apa pernikahan? Atau melakukan hal-hal ecchi?”

“Miharu… kau terlalu berlebihan,” Inoo menenangkan kekasihnya yang sangat menggebu-gebu bertanya. Miharu melayangkan protes pada Inoo.

“Too much information untuk orang luar,” jawab Yamada kali ini. Pemuda itu melirik ke Arina yang hanya mendengarkan dengan mulut terbuka lebar.

Melakukan hal ecchi? Terima kasih! Itu tidak akan terjadi sampai kapanpun! Aku akan segera mengembalikanmu!!! Jerit Arina dalam hati.

“Apa yang sedang kau lakukan dengan benda itu?” tanya Yamada pelan sambil mengangkat kepalanya dari pundak Arina.

Sepertinya pemuda itu sudah bangun. Atau mungkin tidak tidur sama sekali, pikir Arina.

Gadis itu mendesah pelan. Membuyarkan pikirannya, lalu menyerahkan benda itu pada Yamada. Pemuda itu menerimanya dengan ragu.

“Untukku?” tanyanya.

“Supaya kau bisa menghubungi dan menemukanku saat tenagamu hampir habis, pasti ada saat seperti kemarin dimana kita harus berpisah. Aku hanya tidak ingin merepotkan Miharu dan Inoo lagi karena kau jadi tidak sadarkan diri,” jelas Arina tanpa memandang ke pemuda itu.

Yamada melihat ponsel pintar berwarna merah di tangannya. Bukan keluaran terbaru tapi lumayan bagus.

“Kau menghamburkan uangmu lagi?” tanya pemuda itu sambil menyipit.

“Tidak banyak. Lagipula pengeluaran penting, bukan sia-sia juga.” gumam gadis itu kini sambil mengutak atik ponselnya sendiri yang berwarna biru.

Tiba-tiba benda mungil berwarna merah di genggaman Yamada bergetar sesaat. Yamada melihat sebuah nomor dan nama Arina tertera di sana sebelum kemudian mati.

“Nomorku” kata Arina singkat.

Yamada memandang ponsel itu dan Arina secara bergantian sebelum menyimpannya kedalam saku mantelnya sendiri.

“Aku akan membalasnya,” gumam pemuda itu.

“Eh? Apa?” Arina tidak begitu mengerti, namun Yamada hanya tersenyum dan menggeleng. “Bukan apa-apa,” balasnya.

Arina memandang Yamada sesaat, pemuda itu hanya duduk sambil menyilangkan tangannya di depan dada dan sibuk memperhatikan sekitar.

**********

Arina duduk di depan meja di ruang tengah. Di depannya sebuah laptop sedang menyala dan menampilkan tampilan ms word, jari-jari gadis itu mengetik dengan cepat. Di sebelah kiri leptop banyak sekali buku-buku yang berada dalam posisi yang terbuka. Di sebelah kanan, sebuah mug berisi kopi dan seteoples keripik sebagai cemilan. Kacamata bertengger di wajahnya yang terlihat serius dan sesekali tampak menyerit karena berpikir.

Yamada berdiri di dekat pintu kamar tamu memandang sosok Arina yang sangat serius ~tanpa menyadari bahwa ada sosok lain yang memandangnya~ sambil tersenyum. Yamada melirik kearah jam dinding di ruangan itu, sedikit memiringkan kepalanya saat melihat jarum yang ditunjuk jam itu.

“Ricchan, kau tidak tidur?” tanyanya.

Pertanyaan itu mampu membuat Arina tersadar akan sosok lain yang sudah memperhatikannya sejak tadi, “masih banyak yang harus dilakukan. Kalau mau tidur saja duluan,” seru gadis itu.

“Aku akan disini saja,” putus pemuda itu tiba-tiba sambil mengambil tempat di sofa yang kini menjadi sandaran Arina yang sejak tadi duduk di lantai beralaskan karpet tebal itu.

“Eh? Tidur saja di kamarmu, kenapa malah disini?!” tetapi sia-sia saja protes gadis itu, karena Yamada malah membaringkan tubuhnya diatas sofa dan terlihat tidak peduli dengan protes gadis itu.

Arina berdecak dengan kesal melihat pemuda ini mulai keras kepala. Akhirnya dia memutuskan untuk mengabaikan saja pemuda itu dan kembali melanjutkan mengerjakan ketikannya.

“Sedang mengerjakan apa?” tanya Yamada, sedikit mengangkat kepalanya dan membaca apa yang sesang diketik gadis itu.

“Pekerjaan sampinganku,” jawab gadis itu singkat.

Sekali lihat, pria itu sudah mrngerti apa pekerjaan sampingan yang dimaksud oleh gadis itu. Melihat apa yang sedang si ketiknya dan draft tebal, gadis itu sedang menerjemah. Berarti pekerjaan sampingannya penerjemah?

“Apa aku cari kerja sampingan juga ya?” gumam Yamada tanpa sadar.

“Eh? Apa?” Arina kembali menghentikan pekerjaan karena mengira pria itu sedang berbicara padanya.

Namun Yamada hanya tersenyum dan menggeleng, mengangkat tangannya dan menyentuh ringan kepala gadis itu, “Bukan apa-apa. Aku ke kamar dulu,”

“P-pergi saja.. s-siapa juga yang menyuruhmu disini!” Arina kembali memalingkan wajah ke pekerjaannya dengan salah tingkah.

Yamada tertawa geli sambil bangkit dari tempatnya, “Jangan tidur malam-malam” kata pemuda itu lagi sambil lalu.

“Cerewet! Seperti ibu-ibu saja!” protes Arina lagi.

Sesaat kemudian pemuda itu sudah berada di dalam kamarnya, mengambil ponsel merah pemberian Arina padanya, lalu mulai sibuk berkirim pesan dengan seseorang. Setelah berkirim beberapa kali, Yamada merasakan suasana mendadak sepi. Pria itu mengintip keluar dan mendapati Arina tertidur lelap dengan kepala bersandar di atas meja dan laptop masih menyala.

“Padahal sudah kelelahan begitu, dasar keras kepala” gerutu Yamada saat sudah berada di samping gadis itu dan memandang wajah terlelapnya.

Yamada menyimpan ketikan gadis itu dan mematikan laptopnya, lalu mengangkat tubuh Arina dan membawanya ke kamar. Tinggal bersama selama ini, cukup membuat pemuda itu mengenal sifat gadis keras kepala itu, termasuk mengetahui bahwa gadis itu tidak akan terbangun dengan mudah jika sudah tertidur lelap.

Yamada membaringkan Arina di tempat tidur dan menyelimutinya. Memandang sejenak wajah lelap itu sambil tersenyum tipis.

“Mimpi indah,” ucapnya singkat sambil mengelus kepala gadis itu sebelum keluar dari kamar.

_*_

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s