[Multichapter] ITS REASON (#6)

Its Reason
By: kyomochii
Genre: Drama, Friendship, Romance
Rating: PG-15
Cast: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Kouchi Yugo, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Morita Myuto, Yasui Kentaro, Sanada Yuma, Hagiya Keigo (Love Tune as Figuran); Ichigo Yua, Kirie Hazuki, Kimura Aika, Akane Hayakawa (Ayaka), Nishinoya Chiru, Suomi Risa, Takahara Airin, Hideyoshi Sora (OC)
Disclaimer: Thanks to All My “Rusuh Random” Friends Who Lend Their OC for This Story.
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Ponsel Hokuto terus berdering, telepon dari Taiga. Sora ragu-ragu mengangkatnya. “Moshi moshi.”

Terdapat jeda lama, sebelum terdengar suara Taiga di seberang sana. “Ini siapa? Hoku mana?”

“Ini Sora, Hideyoshi Sora. Hokuto masih tidur, Taiga.” Terdapat jeda cukup lama lagi. Sora tidak tahu apa yang dipikirkan Taiga.

“Senpai, apa aku boleh minta alamat apartemenmu?” Setelah Sora mendikte alamat apartemennya, Taiga langsung menutup teleponnya.

Tidak ada sepuluh menit, Taiga sudah berdiri di depan pintu apartemen Sora. Melihat Hokuto yang masih belum sadarkan juga, Taiga nekat menyiramkan air ke wajahnya. Hokuto mengeluh karena ada orang yang berani mengganggu tidurnya. Tapi begitu menyadari Taiga sudah berdiri di hadapannya, Hokuto langsung menegakkan badannya.

“Kenapa kamu ada di sini?” Hokuto sibuk memungut kaos kaki yang dia lepas dengan asal semalam.

“Cepat cuci muka! Kita pulang sekarang!” Bentak Taiga mengabaikan pertanyaan Hokuto, lalu meminta maaf kepada Sora karena sudah merepotkannya.

“Kenapa kamu sampai bisa menginap di tempat Sora-senpai?” tanya Taiga pada Hokuto saat keduanya sudah berada di mobil, melaju pulang ke rumah mereka. Hokuto diam saja, fokus dengan jalanan di depannya.

“Aku sengaja tidak bicara denganmu supaya kamu bisa menenangkan pikiranmu. Bukan malah pergi ke tempat lain untuk pelarian.” Sindir Taiga kehabisan kata-kata.

“Aku tidak pernah menjadikan Sora sebagai pelarian. Bagaimana kalau aku benar-benar menyukainya? Aku berbeda denganmu, yang terus-terusan menghindar mengakui perasaanmu!” Cercah Hokuto membalas sindiran Taiga. Taiga menyadari Hokuto memanggil Sora dengan nama depannya saja, yang berarti memang sudah terjadi apa-apa di antara mereka.

“Apa yang kamu tahu tentang perasaanku, hah?” Taiga sengaja meninggikan suaranya.

“Berhentilah pura-pura menutupi perasaanmu ke Yua! Aku bisa melihat semuanya, karena aku juga pernah mencintainya. Tapi aku tahu, kamu sudah mencintainya jauh sebelum aku mengenalnya. Tidak perlu menjadikan Chiru sebagai pelariannya.”

“Aku tidak ada apa-apa dengan Chiru!” bantah Taiga segera. “Lagipula aku melakukan semua ini juga demi Yua. Aku cuma ingin melihatnya bahagia.”

“Kenapa kamu berpikir begitu? Bukannya Yua akan bahagia kalau bersamamu?”

“Aku akan menjelaskan semuanya. Tapi kamu harus janji tidak akan pernah meninggalkanku lagi. Aku membutuhkanmu.”

*****
“Hazuki-chan, kamu cantik seperti pengantin!” Puji Jesse saat pertama kali melihat Hazuki mengenakan kimono.

“Terima kasih, Jesse-kun.” Jawab Hazuki malu-malu karena pertama kali ada laki-laki yang memujinya cantik selain ayahnya.

“Kalau sudah besar nanti, aku ingin Hazuki-chan menjadi pengantinku.”

Jesse terduduk di samping tempat tidurnya, memandang foto masa kecilnya bersama Hazuki yang mengenakan kimono, terlihat sangat lucu sedang menggandeng tangannya. Sudah lama Jesse tidak pernah lagi mengingat kenangan masa kecilnya, saat hanya Hazuki lah satu-satunya temannya.

“Waktu itu, aku mengatakannya tanpa ada maksud apa-apa. Kenapa sekarang malah menjadi nyata?!” Jesse merutuk dirinya sendiri.

TOK TOK

Bunyi pintu kamar Jesse diketuk. “Jesse-san, Kirie-san datang ingin menemui Anda.” Kata Salah satu asisten rumah tangga Jesse.

Hazuki ke sini lagi? Kenapa tidak langsung masuk saja? “Iya. Sebentar lagi aku turun.” Sahut Jesse malas-malasan.

Ternyata yang datang bukan Hazuki melainkan ibunya. “Konnichiwa, Oba-sama.” Salam Jesse sopan begitu Ibu Hazuki melihatnya.

“Maaf tiba-tiba menemuimu tanpa pemberitahuan dulu. Tapi ku rasa kamu sudah tahu maksud kedatanganku ke sini. Hazuki pasti sudah menceritakannya.” Jesse mengangguk sopan, lalu duduk di seberang Ibu Hazuki, menunggunya melanjutkan kata-katanya.

“Perjodohan ini, sebenarnya bukan sesuatu yang baru untuk kita bicarakan. Sejak awal kedatanganmu ke Jepang, kamu memang sudah ditakdirkan untuk menjadi suami Hazuki nantinya. Semua mengetahuinya, termasuk Hazuki dan Kamu. Mungkin kamu sudah melupakannya, entah sengaja atau tidak, tapi tidak untuk Hazuki.” Jesse terbelalak mendengar penjelasan Ibu Hazuki, belum sanggup berkata-kata, hanya diam saja menunggu Ibu Hazuki melanjutkan.

“Saat mendengar kamu mempunyai kekasih, awalnya kami ingin menegurmu, tapi Hazuki menghalangi. Katanya, agar kamu mempunyai pengalaman sebelum menikah dengannya. Dia percaya sepenuhnya denganmu, karena itu kami membiarkannya.” Terdapat Jeda beberapa detik, Ibu Hazuki terlihat menimbang-nimbang pesan yang ingin disampaikannya.

“Tahun depan, saat usia Hazuki 20 tahun, saat itu dia harus memutuskan pernikahannya. Tapi melihatmu masih bersama perempuan lain, kami tidak bisa membiarkannya. Kami ingin kamu meninggalkan gadis itu dan kembalilah pada Hazuki!”

“Tapi Oba-sama…” Belum sempat Jesse menjawab, Ibu Hazuki menyelanya lagi.

“Mungkin kamu tidak menyadari betapa Hazuki mencintaimu, sampai merelakanmu untuk bahagia dengan orang lain. Tapi sebagai orang tua, aku hanya ingin melihat kebahagiaan Hazuki. Kebahagiaannya bersamamu, seperti yang selama ini dia impikan. Tidak pernah sekalipun dia berhenti memikirkanmu, aku tahu itu. Karena aku ibunya.”

“Masih ada satu tahun untukmu memikirkannya. Tapi ku mohon, pikirkan perasaan Hazuki juga.” Ibu Hazuki menambahkan sebelum akhirnya berpamitan.

Setelah kepulangan Ibu Hazuki, Jesse merenungkan setiap kata-katanya. Jesse ingat, dia memang sudah dijodohkan dengan Hazuki sejak mereka masih belum tahu apa-apa. Tapi Jesse tidak pernah tahu kalau Hazuki mencintainya. Bahkan gadis itu yang membantu Juri untuk mendekatkannya dengan Ayaka. “Apa sih maumu, Hazuki?”

*****

Semalam, setelah Taiga mengantarnya pulang, Yua terkejut melihat Risa menelponnya. Gadis itu menceritakan kencannya dengan Taiga, seperti Yua peduli saja ingin mengetahuinya. Selama ini, Yua tidak masalah Taiga dekat dengan siapa saja, asal perhatiannya ke Yua tetap tidak berubah. Nyatanya, meskipun pergi kencan dengan Risa, Taiga masih ingat membelikan crepe strawberry kesukaannya.

Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiran Yua. Saat Risa menanyakan ‘lagi’, apa Yua rela kalau Taiga benar-benar mencintai Risa? Saat Taiga menemukan orang yang benar-benar dicintainya, bisa saja dia akan mulai mengabaikan Yua. Lalu, apakah selama ini tidak ada ‘cinta’ yang tumbuh di antara mereka?

“Cinta itu macam-macam. Tidak cuma satu jenis. Aku memang mencintai Taiga, tapi cinta sebagai seorang sahabat, tidak lebih.” Jawab Yua keras kepala.

Tidak ada yang namanya sahabat jadi cinta, Yua. Kalaupun ada itu hanya di cerita cerita, tidak di realita. Yua mengingatkan dirinya sendiri.

“Kamu kenapa?” tanya Kouchi saat melihat Yua terus melamun sepanjang perjalanan mereka. Yua sudah berjanji untuk menemani Kouchi menjenguk neneknya, karena ingin membalas budi Kouchi yang selama ini mau disuruh Taiga untuk mengantarnya.

“Mmm… Kou-chan, kamu lebih percaya mana antara cinta pada pandangan pertama atau sahabat jadi cinta?” Yua menuangkan isi pikirannya.

“Yang pertama. Cinta pada pandangan pertama. Makanya aku bilang, kan? Aku menyukai Risa sejak pertama melihatnya. Yang seperti itu yang kunamakan cinta.” Kouchi meringis, pede dengan jawabannya. Yua tertawa karena merasa bodoh sudah bertanya. Tentu saja, Kouchi akan sepemikiran dengannya.

“Kou-chan yakin dengan Risa? Bagaimana kalau ada orang lain yang dia suka?” Yua masih belum sempat menceritakan tentang kedekatan Risa dan Taiga, apalagi perasaan Hagiya. Yua tidak tahu harus memulainya darimana.

“Ya yakin lah. Kalau tidak, mana mungkin kita bisa sedekat sekarang. Kamu tahu sendiri bagaimana hubungan kita sebelumnya!?” Kouchi tertawa mengingat masa-masa kelam mereka.

“Hmm, benar juga.” Sahut Yua menyetujuinya.

“Yua, sebaiknya kamu siap-siap. Sebentar lagi kita sampai.” Kata Kouchi mengingatkan Yua untuk mengecek barang-barangnya.

“Huwaaaa, Kobe!! Sudah lama aku tidak ke sini!” Yua berlarian kegirangan saat melihat pemandangan pegunungan yang tampak jelas sejak mereka tiba di stasiun.

“Jangan lari-lari! Kita masih harus naik taksi setelah ini. Kamu pasti akan lebih menyukai pemandangan dari rumah nenekku.” Yua menurut dan mengikuti Kouchi dengan patuh.

“Syukurlah kamu menikmatinya. Sebegitu kangennya kamu dengan suasana Kobe?” Kouchi mendekati Yua yang sedang merendam kakinya di salah satu sumber air panas di belakang rumah neneknya. Yua tersenyum mendengar pertanyaan Kouchi, senyum yang disukainya.

Nee, Kou-chan mau dengar cerita romantis?” tawar Yua tidak meyakinkan. Tapi Kouchi mengangguk saja sambil menyodorkan beberapa camilan.

“Tahu tidak, kenapa aku sangat menyukai Kobe?” tanya Yua.

“Kenapa memangnya?” sahut Kouchi sambil menjejalkan anggur ke mulut Yua.

“Karena aku bertemu cinta pertamaku di Kobe!” Yua terlihat bersemangat memulai ceritanya. Mendengar Yua mengatakan kata ‘cinta’, perasaan aneh mengganggu Kouchi. Selama mengenal Yua, baru pertama kali ini gadis itu menceritakan kisah cintanya.

“Kamu pernah jatuh cinta?” tanya Kouchi sewot, membuat Yua memukul kepala Kouchi dengan handuk yang dipegangnya.

“Pernah lah! Makanya dengarkan ceritaku.” Yua menghela napas sebelum memulai ceritanya.

“Jadi, dulu waktu SMA, aku pernah berdarma wisata ke Kobe. Waktu itu, pertama kalinya buatku naik Ropeway. Aku sangat takut ketinggian, jadi sepanjang perjalanan, aku terus memejamkan mata. Tanpa sadar, saat akan turun dari Ropeway, aku melewatkan satu pijakan. Aku terjatuh dari ketinggian yang menakutkan. Tapi waktu itu, aku tidak sendirian. Ada seorang cowok yang menyelamatkanku. Dia terus memelukku dan menahan badanku agar tidak terhempas langsung ke tanah. Untung saja waktu itu, salju sudah turun, sehingga badannya juga tidak terhempas langsung ke tanah. Karena masih syok, aku tidak sempat mengingat wajahnya. Tapi aku yakin dia sempat memelukku sebelum Taiga datang menjemputku. Sejak saat itu aku selalu memikirkannya, dan aku yakin kalau aku sudah jatuh cinta padanya!” Yua mengakhiri ceritanya.

Mendengar cerita Yua, tiba-tiba kepala Kouchi terasa sakit, seperti sebuah ingatan berusaha masuk ke dalam pikirannya. Samar-samar, Kouchi bisa membayangkan kejadian yang Yua ceritakan. Bukan hanya membayangkan, tapi mengalaminya sendiri. Iya, dialah yang menyelamatkan Yua saat itu. Pantas saja, selama ini Kouchi selalu merasa familiar dengan senyuman Yua, karena dia memang pernah melihatnya.

“Apa kamu jatuh di Arima Ropeway?” tanya Kouchi memastikan. Yua mengangguk membenarkan. “Bagaimana kamu tahu?”

Kouchi mendekatkan kepalanya ke arah Yua, memperlihatkan sebuah bekas luka di bagian tengkuk belakangnya yang tertutup rambutnya. “Setelah kejadian itu, aku pulang ke rumah nenek dalam keadaan baik-baik saja. Tapi tidak berapa lama setelah itu aku kehilangan kesadaran cukup lama. Saat sadar, aku sudah terbangun di rumah sakit Tokyo. Banyak kenangan yang terlupakan setelah itu, termasuk kejadian saat aku menyelamatkanmu. Tapi akhir-akhir ini aku berusaha mengingat semuanya, meskipun aku harus menahan sakit kepala saat melakukannya.”

Yua memandang Kouchi tidak percaya. “Kamu yang sudah menyelamatkanku? Kamu cinta pertamaku? Arienai!” sembur Yua, masih tidak mau menerima kenyataan kalau Kouchi lah sang penyelamat hidupnya.

“Sepertinya begitu.” Kouchi tertawa, mengabaikan ekspresi merajuk Yua, malah berniat menggodanya.

“Jadi kamu cinta nih sama aku?” goda Kouchi, masih menertawakan Yua.

“Tidak jadi. Aku tarik kata-kataku! Lagipula waktu itu aku tidak tahu kalau cowok itu kamu! Kalau aku tahu, aku tidak mungkin jatuh cinta!” sanggah Yua, tidak mau mengakui perasaannya yang sebenarnya. Kouchi semakin terbahak mendengar sanggahan Yua dan tidak henti-hentinya menggoda gadis itu.

*****
Sudah beberapa hari ini, Kouchi sudah tidak pernah menghubungi Risa. “Mungkin dia sudah lelah.” Gumam Risa.

Ada pesan lain yang lebih membuat Risa sangat bahagia dibandingkan menerima pesan-pesan yang dikirim Kouchi selama ini. Sebuah pesan dari Taiga yang mengucapkan ‘Oyasumi’ untuknya. Risa masih terus membayangkan saat Taiga datang menjemputnya dan mengajaknya jalan-jalan.

“Tapi, semakin dipikirkan, aku semakin tidak mengerti apa maunya. Dia mengajakku jalan, tapi masih sempat-sempatnya memikirkan Yua-nee. Apa sebegitu pentingnya Yua-nee untuknya? Tapi Aku sudah memastikan kalau Yua-nee tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Taiga-kun…” Risa memejamkan matanya, ingin mempercayai kata-kata Yua.

“Tapi apa mungkin kalau aku jadi Yua-nee, tidak jatuh cinta pada Taiga-kun? Tauk ah.” Risa membenamkan lagi wajahnya ke bantal, masih enggan meninggalkan zona nyamannya di akhir pekan.

PING

Sebuah pesan masuk ke ponsel Risa. Risa melonjak kegirangan saat mengetahui pesan itu dari Taiga.

“Ha? Taiga-kun sudah ada di depan rumah?!” Risa menyibak selambu kamarnya, melihat mobil Taiga sudah terparkir di halaman rumahnya. Buru-buru Risa membasuh muka dan dandan seadanya, lalu turun menemui Taiga.

“Taiga-kun, masuklah. Maaf, sedang tidak ada siapa-siapa di rumah.” Kata Risa membukakan pintunya.

“Sebenarnya aku ingin mengajakmu keluar kalau kamu tidak keberatan. Mau makan malam bareng?” Melihat senyum Taiga saat mengatakannya, bagaimana mungkin Risa bisa menolaknya?!

Taiga mengajak Risa ke sebuah restoran yang baru buka di dekat stasiun, karena masih banyak promo katanya.

Diajak makan di pinggir jalan pun aku rela! Asal Taiga-senpai yang mengajaknya. Pikiran Risa melayang-layang meninggalkan raganya.

Nee, Risa-chan, kita sudah sampai.” Kata Taiga menyadarkan Risa dari lamunannya.

Hai.” Sahut Risa salah tingkah karena kepergok Taiga sedang melamun sambil memandangi wajahnya.

“Kamu mau pesan apa?” tawar Taiga saat mereka sudah masuk ke dalam restoran.

“Hmm, sama seperti Taiga-kun saja.” Jawab Risa, berusaha terlihat normal di hadapan Taiga, masih merasa malu gara-gara kelakuannya.

Setelah selesai makan malam, Taiga mengajak Risa jalan-jalan di taman depan stasiun, untuk mencari angin katanya. Tapi tidak lama, lagi-lagi Risa melihat Kouchi dan Yua mengganggu kencan mereka. Tapi… malam ini sepertinya Taiga sengaja. Taiga sengaja mengajaknya ke stasiun untuk menjemput Yua?

Yua hendak mengalihkan pandangan Kouchi agar tidak melihat Risa dan Taiga, yang entah mengapa tiba-tiba saja muncul di depan stasiun saat dia baru pulang dari Kobe bersama Kouchi. Tapi Kouchi sudah keburu melihatnya dan mengajak Yua berjalan ke arah mereka.

“Yo. Kalian sedang apa?” tanya Kouchi saat menghampiri Risa dan Taiga.

“Aku baru saja mengajak Risa-chan makan malam. Bagaimana jalan-jalan kalian ke Kobe? Apa kamu sudah menemukan cinta pertamamu, Yua?” tanya Taiga menggoda Yua.

“Kamu mengetahuinya? Kamu tahu kalau Kouchi orangnya? Kenapa selama ini kamu diam saja!?” tanya Yua curiga.

“Kalaupun aku mengatakannya, percuma saja. Karena Kouchi tidak mengingatnya. Aku tahu dari pertama dia melihatku, seolah dia tidak mengenalku. Padahal hari itu, kami sempat berkenalan. Tapi saat dia melihatmu, dia mengatakan kalau seperti pernah melihatmu. Aku yakin, seiring berjalannya waktu, dia akan bisa mengingatmu. Makanya, aku tidak suka saat dia pura-pura mendekati Risa, padahal aku tahu dia menyukaimu.”

BRUK.

Sebuah bogem mentah mendarat di wajah cantik Taiga, membuatnya terjerembap di tanah. “Aku tidak pernah menjadikan Risa pelarian saja. Aku memang benar-benar menyukainya.” Kouchi terlihat sangat marah. Lalu pergi begitu saja meninggalkan Taiga dan yang lainnya. Yua mengejar Kouchi, tidak sekalipun melihat ke arah Taiga ataupun berniat menolongnya. Taiga tersenyum melihat reaksi Yua.

“Kou-chan, tunggu! Jangan pergi dalam keadaan emosi begitu!” Yua berhasil menyamai langkah Kouchi, lalu menarik lengannya sampai pemuda itu memutar badan menghadap ke arahnya. Yua memperhatikan Kouchi dengan seksama, masih diam saja.

Nee, Yua. Aku kesal bukan karena Taiga salah mengatakannya. Tapi aku kesal karena semua yang dikatakan Taiga benar adanya. Aku kesal, karena aku sudah menyakiti Risa. Kenapa aku tidak sadar kalau selama ini aku memang menyukaimu? Aku hanya pura-pura membencimu.”

Sementara di tempat lain,

“Taiga-kun tidak apa-apa?” Risa berusaha membantu Taiga berdiri.

“Risa, maaf.” Kata Taiga.

“Maaf untuk apa?” Risa tidak mengerti Taiga meminta maaf kepadanya karena apa.

“Aku membiarkan Kouchi mendekatimu padahal aku tahu kalau dia tidak serius menyukaimu.” Kata Taiga lemah.

“Aku…” Risa hendak menjawab Taiga kalau dia tidak apa-apa, tapi kata-kata Taiga berikutnya membuat Risa tidak lagi merasa tidak apa-apa.

“Aku juga minta maaf, karena sengaja mendekatimu karena ingin membuat Kouchi melupakanmu dan kembali pada Yua. Aku hanya ingin melihat mereka bersama.”

DEG

Risa tidak lagi bisa membendung air matanya. Saat Taiga mengatakan kalau dia hanya mendekatinya demi Yua, Risa semakin yakin kalau Taiga memang mencintai Yua, tidak pernah sekalipun pemuda itu mempunyai perasaan padanya. Tidak ingin mendengarkan penjelasan Taiga lagi, Risa berlari sekuat tenaga. Risa berlari ke satu tempat yang selalu menjadi tujuannya.

TING TONG TING TONG

Risa memencet tombol rumah itu dengan tidak sabar. Saat sosok pemuda yang membukakan pintu adalah orang yang paling ingin ditemuinya, Risa langsung memeluknya dan membenamkan wajah ke dada pemuda itu, menangis sepuasnya.

“Risa-chan, ada apa?” tanyanya.

“Hagi-chan… huu…huuuaaaa.” Tangis Risa pecah dalam pelukan Hagiya, membuat Hagiya terpaksa tidak bertanya apa-apa, menunggu sampai gadis itu berhenti menangis dan menceritakan sendiri masalahnya.

*****
Melihat pesan dari Hazuki, Yua dan Aika langsung pergi ke rumah gadis itu. Setelah mendengar cerita sebenarnya, Aika paham alasan Jesse dan Ayaka membatalkan janji mereka.

“Jadi, kamu merelakan begitu saja Ayaka dan Jesse?” Aika geleng-geleng kepala mendengar keputusan Hazuki.

“Aku bahagia asal Jesse bahagia. Dan kebahagian Jesse cuma bersama Ayaka, bukan bersamaku.” Jawab Hazuki keras kepala.

“Hazu sayang, aku tahu kamu memikirkan perasaan Jesse. Tapi bagaimana dengan perasaanmu? Kamu boleh menyembunyikan perasaanmu ke Jesse dari semua orang dengan pura-pura menjadi fujoshi, tapi ingat kamu tidak akan bisa menyembunyikannya dari aku dan Aika. Kami sudah lama mengetahuinya, tapi kami sengaja diam saja. Tapi sekarang, apa kamu yakin akan melepaskannya?”

Hazuki menatap kedua sahabatnya dengan pandangan lelah. “Kalian itu ya, sok-sokan menasehati aku. Padahal kalian sendiri juga melakukan hal yang sama.” Yua dan Aika saling berpandangan.

“Aika, kamu juga melakukannya saat Juri memilih Chiru.”

“Tapi sekarang Juri memilihku.” Sanggah Aika buru-buru. “Tapi kamu juga pernah merelakannya! Mengorbankan perasaanmu demi kebahagiaan Juri, karena kamu mencintainya.” Aika menunduk, tidak bisa menyangkal tuduhan Hazuki.

“Dan kamu Yua.” Hazuki memandang Yua lekat-lekat. “Hee, aku juga? Tapi aku tidak pernah merasa merelakan siapa-siapa.”

“Berhenti pura-pura! Aku tahu kamu mencintai Taiga. Kamu bertahan di sisinya, meskipun dia terus-terusan berganti pacar. Aku saja yang melihatmu merasa kasihan. Tapi kamu bisa melakukannya. Kalau kamu bisa, kenapa aku tidak?!” kata Hazuki menyudutkan Yua.

“Aku tidak mencintai Taiga. Oh, baiklah. Aku mencintainya sebagai seorang sahabat, tidak lebih. Aku cuma ingin selalu di sampingnya, sebagai sahabat.” Bantah Yua, meyakinkan kedua temannya.

“Ada orang lain yang kucintai, lebih dari sekedar sahabat. Aku mencintai Kouchi.” Seketika Aika dan Hazuki terbelalak mendengar pengakuan Yua.

“Sejak kapan?” tanya Aika dan Hazuki bebarengan. Yua menceritakan tentang Kouchi yang merupakan cinta pertamanya. Awalnya Yua juga membantah perasaannya. Tapi sejak mengetahui Kouchi adalah orang yang pernah menyelamatkan hidupnya, cara pandang Yua kepada Kouchi seketika berubah. Apalagi saat Kouchi menyatakan perasaannya, Yua tidak bisa membohongi lagi hatinya.

“Aku benci mengakuinya. Tapi sejak pertama kali melihatmu dengan Kouchi, kalian memang cocok sih, meskipun setiap ketemu pasti berantem mulu.” Hazuki tertawa, menggoda pengakuan cinta Yua.

“Iya iya. Tertawa saja semaumu! Sekarang bagaimana menyelesaikan masalahmu? Kumohon, jangan mengorbankan perasaanmu, Hazu. Aku memang belum pernah mengalaminya, tapi aku yakin rasanya pasti menyakitkan. Iya kan, Aika?” Yua meminta dukungan Aika.

“Aku hanya akan menerima perjodohan ini kalau Jesse yang menginginkannya.” kata Hazuki tetap teguh dengan keputusannya.

*****
Airin sedang memilah beberapa brosur jurusan dari beberapa Universitas yang ingin dipilihnya.

Nee, Shin-kun, menurutmu keren mana, desain produk atau desain grafis?” tanya Airin meminta pendapat Shintaro.

“Memang apa bedanya? Bukannya satu jurusan desain ya?” Shintaro mengambil brosur jurusan Airin dan mengamatinya.

“Kurang tahu pasti sih, tapi di Universitasmu, keduanya dijadikan dua jurusan yang berbeda tapi satu fakultas.” Jelas Airin.

“Ini sih bukan jurusan berbeda, Ai-chan. Tapi program studi berbeda. Kamu wajib memilihnya di tahun pertama tapi masih bisa pindah di tahun kedua kalau merasa tidak cocok dengan program studinya. Keduanya masih sama-sama jurusan desain. Contohnya, Aku, Yua, Taiga, Hokuto dan Hazuki mengambil jurusan yang sama, tapi program studinya berbeda. Taiga, Hokuto dan Hazuki lebih teknikal, yang bekerja di laboratorium, melakukan penelitiannya. Sedangkan aku dan Yua lebih ke manajerialnya. Di tahun pertama, mata kuliah kami masih banyak yang sama. Tapi nanti di tahun kedua, akan lebih fokus di program studi masing-masing.” Jelas Shintaro panjang lebar, tapi jujur saja Airin masih tidak memahaminya.

“Iya aja deh.” Airin tertawa, membuat Shintaro gemas dan menggelitik Airin sampai gadis itu tertawa terpingkal dan menyerah pada akhirnya. Keduanya tergeletak di atas sofa ruang tengah apartemen Shintaro, menikmati kebersaman mereka lagi setelah beberapa lama Airin tidak bisa mengunjungi kekasihnya karena ada Hagiya.

“Jadi Hagi-kun sudah pulang ke rumah Risa, ya?” Airin sudah mendengar cerita tentang Risa yang datang-datang menangis saat menemui Hagiya. Meskipun Risa datang menemuinya karena patah hati gara-gara Taiga, tapi Hagiya memutuskan untuk kembali ke sisinya. Karena bagaimanapun, Risa membutuhkannya, kata Hagiya. “Semoga Risa bisa menyadari pengorbanan Hagi-kun secepatnya.”

“Aku senang gara-gara Taiga, Risa menyadari kalau cuma Hagiya yang selalu ada untuknya. Tapi tetap saja, nanti kalau ketemu aku ingin menonjok wajah Taiga.” Gumam Shintaro masih kesal karena tidak menyukai cara Taiga menyakiti perasaan Risa karena sudah memanfaatkannya. Memangnya tidak ada cara lainnya apa?!!

“Menurut Shin-kun, kenapa Taiga-kun sampai melakukan semua itu demi Yua-senpai?”

“Kenapa lagi kalau bukan karena dia bodoh!?” Shintaro dan Airin sama-sama tahu alasan yang sebenarnya, tapi sengaja tidak membahasnya lagi. Berapa kali pun mereka membahasnya, mereka tidak bisa mengerti alasan Taiga melakukan semuanya. Kalau dia memang mencintai Yua, mengapa malah menyatukan Yua dengan Kouchi, bahkan sampai tega menyakiti Risa?

Drrrt drrrt

“Telepon dari Yua? Ada apa?” Shintaro mengangkat teleponnya.

“Shin-chan, Juri kecelakaan! Aku akan nyalakan GPS, kamu cepat ke sini!” Tut. Yua mengakhiri teleponnya bahkan Shintaro belum sempat mengucapkan sepatah kata.

“Ada apa, Shin-kun?” tanya Airin penasaran.

“Juri kecelakaan. Sepertinya Yua sedang dalam kesulitan. Aku harus cepat menyusulnya.” Shintaro buru-buru mengambil mantel dan kunci mobilnya.

“Aku ikut!” Airin melompat, bergegas mengikuti Shintaro.

*****
Hazuki dan Yua merangkul Aika yang terduduk lemas di bangku depan ruang IGD, tempat Juri sedang ditangani. Mereka segera mengantar Aika, begitu pihak rumah sakit menghubunginya. Juri sedang tidak membawa identitas apa-apa saat kecelakaan terjadi, hanya ponsel satu-satunya alat komunikasi yang dipegang Juri. Saat ditemukan, ponselnya dalam keadaan terkunci. Untung saja Juri sudah mengatur nomor Aika sebagai salah satu nomor darurat yang harus dihubungi kalau terjadi apa-apa padanya.

“Bagaimana keadaan Juri?” tanya Jesse yang baru datang. Jesse langsung melacak lokasi rumah sakit melalui GPS Hazuki setelah gadis itu memberitahunya Juri mengalami kecelakaan.

“Kami masih belum boleh melihatnya. Cuma Aika tadi yang diperbolehkan melihatnya. Tapi…” Hazuki tidak perlu melanjutkan kata-katanya, karena melihat keadaan Aika saja, Jesse sudah bisa menebak bagaimana kondisi Juri sekarang.

“Aku akan membeli beberapa minuman.” Hazuki berdiri, hendak meninggalkan Aika, Yua dan Jesse saat tangan Jesse menahannya. “Aku ikut denganmu.” Lalu keduanya pun pergi bersama.

Tidak lama kemudian, Shintaro dan Airin datang bersama dengan kembalinya Hazuki dan Jesse membawa beberapa kaleng minuman. Setelah hampir satu jam menunggu, seorang dokter keluar dan menghampiri Aika dan kawan-kawan.

“Kerabat Tanaka-san?” Semuanya mengangguk bersamaan. “Apa kalian sudah menghubungi keluarganya?”

“Sudah, dok. Tapi karena papa-mamanya masih di luar negeri, mungkin nanti malam baru tiba. Sedang kakak-kakak Juri sedang melakukan tour ke luar kota, saya tidak bisa menghubungi mereka. Adiknya sebentar lagi akan tiba di sini. Ada apa, dok?” Jesse menjelaskan secara detail.

“Sebenarnya kami sedang kehabisan stok darah. Mungkin di antara kalian ada yang bergolongan darah sama dengan Tanaka-san? Takutnya, kalau menunggu adik Tanaka-san, semakin banyak kehilangan darah, nanti akan semakin sulit mengembalikan kesadarannya.”

Semuanya saling berpandangan. Yua, Shintaro dan Airin sudah pasti tereliminasi karena golongan darah mereka berbeda dengan Juri. Sedangkan Jesse dan Aika tidak tahu golongan darah mereka apa. “Aku tidak tahu golongan darahku apa. Tapi kalau cocok, silahkan ambil darahku sebanyak-banyaknya, dok. Asal Juri bisa sadar secepatnya.” Aika menyodorkan lengannya, tanda siap untuk melakukan donor darah.

“Golongan darahku sama dengan Juri, dok. Ambil darahku saja biar tidak menghabiskan waktu untuk pemeriksaan darah dulu. Lagipula, keadaanku jauh lebih sehat dari Aika.” Hazuki menawarkan diri menggantikan Aika dan memaksa teman-temannya untuk mendukungnya.

“Baiklah. Mari ikut saya.” Hazuki pergi mengikuti dokter untuk melakukan donor darah.

“Sebaiknya aku pergi bersamanya.” Kata Jesse, mengikuti Hazuki dan dokter itu pergi.

Sudah lima jam sejak dokter mengijinkan kerabat Juri menjenguknya secara bergantian, tapi Juri masih belum sadarkan diri juga. Jesse, Hazuki, Shintaro dan Airin pamitan pulang dan berjanji akan kembali lagi besok. Sedangkan Yua memutuskan untuk menemani Aika. Aika tidak ingin sedikitpun meninggalkan sisi Juri dan terus menggenggam tangan kekasihnya itu, berharap kalau dia melakukannya, Juri akan segera bisa memanggil lagi namanya.

“Aika, kamu harus makan dulu. Kamu belum makan apa-apa sejak tiba di sini. Jangan sampai kamu sakit juga.” Aika menggeleng, menolak ajakan Yua. Aika sedang tidak napsu makan melihat Juri yang belum sadarkan diri.

“Sayang, kamu pergi makan dulu dengan Yua-chan ya. Nanti kalau Juri sadarkan diri saat kamu pergi, Ibu akan langsung menyuruh Subaru memanggilmu. Jangan tidak makan! Juri saja meskipun tidak sadarkan diri masih mendapat nutrisi dari infus. Kamu juga butuh nutrisi kalau mau menjaganya.” Kata Ibu Juri merayu Aika untuk pergi makan. Akhirnya Aika menurut juga.

Setelah kembali dari kantin rumah sakit, Yua mengajak Aika jalan-jalan sebentar untuk sejenak merilekskan pikirannya. Tapi Aika malah menangis sejadinya di pelukan Yua.

“Kenapa ini bisa terjadi? Padahal kemarin saat kami berpisah, dia masih baik-baik saja. Dan lagi, ada urusan apa sampai ke Yamanashi? Apa yang dia lakukan? Pantas saja, dia bilang tidak bisa mengajakku pergi di hari minggu, padahal kita baru jadian!” Yua menepuk-nepuk punggung Aika pelan untuk menenangkannya.

“Aku belum tahu apa-apa tentang Juri, tapi kenapa aku bisa merasa sekehilangan ini? Bisa saja dia melakukan yang tidak-tidak tanpa sepengetahuanku. Bisa saja dia orang jahat.” Omongan Aika mulai melantur, mungkin karena saking lelahnya.

“Aika sayang, Juri bukan orang seperti itu. Aku mengenalnya cukup baik, meskipun tidak sebaik dirimu yang selalu memperhatikannya. Percayalah saja padanya. Dia pasti akan menceritakan semuanya padamu kalau dia sudah sadarkan diri nanti.” Yua mencoba menenangkan Aika. Aika tidak lagi mengatakan apa-apa, tapi masih menangis di pelukan Yua.

Setelah sepuluh jam perawatan, akhirnya Juri sadarkan diri juga. Setelah yakin keadaan Juri cukup kuat, ayah Juri meminta rujukan untuk memindahkan Juri ke salah satu rumah sakit di Tokyo. Yua masih menemani Aika, sampai Juri pindah ke rumah sakit barunya.

Saat Yua memutuskan untuk pulang dulu dan mengikuti beberapa kuliah, Yua seperti melihat Hokuto dan Sora di lobi. Namun kemudian pandangannya terhalang orang lalu lalang yang lebih tinggi darinya, membuatnya kehilangan jejak Hokuto dan Sora.

“Itu tadi Hoku dan Sora-senpai, bukan ya? Apa yang mereka lakukan di sini?” Tapi pikiran Yua langsung teralihkan saat melihat Kouchi sudah di lobi untuk menjemputnya, lalu dia pergi bersamanya.

To be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s