[Multichapter] ITS REASON (#5)

Its Reason
By: kyomochii
Genre: Drama, Friendship, Romance
Rating: PG-15
Cast: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Kouchi Yugo, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Morita Myuto, Yasui Kentaro, Sanada Yuma, Hagiya Keigo (Love Tune as Figuran); Ichigo Yua, Kirie Hazuki, Kimura Aika, Akane Hayakawa (Ayaka), Nishinoya Chiru, Suomi Risa, Takahara Airin, Hideyoshi Sora (OC)
Disclaimer: Thanks to All My “Rusuh Random” Friends Who Lend Their OC for This Story.
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Hokuto berkali-kali melihat ke arah tim Kouchi. Hanya ada Kouchi, Myuto dan Sanada. Sudah dua hari Hokuto tidak melihat Taiga dan Hazuki. Mereka kemana?

“Kamu kenapa?” tanya Sora yang memperhatikan Hokuto, terlihat khawatir. Hokuto menggeleng kepala cepat, lalu mencoba kembali fokus ke meja nya.

“Pelatihan hari ini sudah selesai, Hokuto.” Hokuto mengelilingkan pendangan ke seluruh ruangan, melihat semua orang sudah bersiap-siap merapikan meja mereka.

Gomen, senpai.” Kata Hokuto menundukkan kepala, malu memandang Sora karena terus-terusan mengabaikan instruksi gadis itu sepanjang pelatihan.

“Aku akan memaafkanmu hari ini. Tapi sebagai gantinya, kamu harus mentraktirku dan menceritakan semua yang membuatmu resah!” Sebagai penebusan dosa, Hokuto mengangguk menyetujuinya.

Hokuto mengajak Sora mampir ke sebuah kedai ramen langganannya.

Gomen, senpai. Hanya kedai ramen biasa. Tapi jangan ragukan rasanya, tidak kalah dari restoran bintang lima!” sombong Hokuto.

“Ya kali, restoran bintang lima menunya ramen!?” sahut Sora disusul tawa renyah keduanya.

Setelah memesan menu favoritnya, Hokuto meminta ijin untuk pergi ke belakang sebentar, meninggalkan Sora. Sora memperhatikan Hokuto yang sedang berbincang dengan seorang laki-laki, sepertinya pemilik kedai, tampak sangat akrab sekali.

“Senpai mau sake? Kata paman pemilik kedai, ini baru dikeluarkan dari gudang penyimpanan. Berani taruhan seberapa kuat efeknya?” tantang Hokuto sambil menyodorkan sebuah botol sake yang dia bawa ke arah Sora.

“Boleh. Sebenarnya, aku peminum yang cukup kuat lho. Berani taruhan siapa yang lebih kuat di antara kita?” Sora menantang balik Hokuto. Hokuto menerima tantangan Sora. Karena selama ini, dia tidak pernah kalah sekalipun dari teman-temannya, terutama Taiga.

Sebagai bahan taruhannya, yang kalah harus menceritakan sisi terkelam dari kehidupan mereka, usul Sora. Sejak pertama kali menceritakan kehidupannya pada Hokuto dan juga mendengar cerita pemuda itu, Sora seolah kecanduan ingin mengetahui lebih banyak tentang Hokuto dan ingin pemuda itu tahu lebih banyak tentang dirinya juga. Mungkin karena perasaan senasib yang dirasakannya. Setiap kali melihat wajah Hokuto yang gelisah, Sora ingin menjadi salah satu orang yang bisa menghiburnya.  Bukan slaah satu, tapi satu-satunya kalau bisa.

Tiba-tiba Sora teringat alasannya membuat Hokuto pergi mentraktirnya. “Hokuto sedang ada masalah?”

Awalnya Hokuto diam saja, terlihat enggan membuka suara. Tapi melihat Sora yang begitu mengkhawatirkannya, Hokuto memutuskan untuk bercerita. Hokuto menceritakan tentang pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan Taiga kepada Sora.

“Aku jadi kepikiran, apa sebaiknya aku punya pacar juga? Jujur aku belum pernah memikirkannya. Dan juga, apa sebegitu mengganggunya aku buat Taiga? Dia terus-terusan menghindariku di rumah, saat kuliah bahkan di pelatihan juga.”

“Hokuto belum pernah pacaran? Eh, belum pernah menyukai seseorang? Suka cewek maksudnya?” tanya Sora mengkoreksi pengakuan Hokuto. Ada sedikit perasaan senang yang mengganggunya, tapi Sora suka, saat Hokuto mengatakan dia belum pernah memikirkan tentang pacar.

“Hmm, suka ya? Aku menyukai Yua dan Hazuki, karena mereka sahabatku. Tapi aku tidak mungkin pacaran dengan mereka kan? Kata Yua, tidak ada yang namanya sahabat jadi cinta. Perasaan cinta itu, harus tumbuh dari saat pertama bertemu.”

Sora tersenyum mendengar penjelasan Hokuto. “Nee, Hokuto. Cinta itu datang tanpa alasan dan bisa ke siapa saja. Baik ke orang yang pertama bertemu ataupun ke sahabat kita. Kita tidak bisa memilihnya. Kata orang, cinta itu buta.”

Hokuto tahu itu. Tapi masalahnya, gadis yang dia suka lah yang berpikiran seperti itu. Ya, Hokuto pernah menyukai Yua. Saat Hokuto mengungkapkan perasaannya, Yua mengatakan kalau perasaan sayang di antara mereka tidak lebih dari rasa sayang seorang sahabat, bukannya cinta. Sejak saat itu, Hokuto mulai meragukan perasaan sukanya.

Tanpa sadar Hokuto malah melamun dan mengabaikan Sora.

“Jadi kamu masih kepikiran kata-kata Taiga, sampai kamu mengabaikan semua instruksiku juga?” tanya Sora lagi, mencoba menyadarkan Hokuto dari lamunannya.

“Itu salah satunya. Selain itu, aku juga kepikiran Hazuki. Sudah dua hari ini dia tidak bisa dihubungi. Tidak biasanya dia absen tanpa mengatakan apapun padaku. Aku takut benar-benar ada masalah di laboratorium penelitian ayahnya.” Yang berarti papa juga dalam masalah’. Lanjut Hokuto dalam hati, belum siap Sora tahu tentang kekhawatirannya yang sebenarnya.

“Tapi kalau sampai besok dia tidak menghubungiku, aku akan pergi ke rumahnya. Sekarang kita lanjutkan makan saja.” Hokuto menambahkan sebelum Sora sempat membalasnya karena melihat pesanan ramen mereka sudah datang.

Setelah menghabiskan makanan, Hokuto dan Sora memulai kompetisi minum sake mereka. Ternyata Sora memang jauh lebih kuat dari yang Hokuto duga. Hokuto sudah menuangkan sake dari botol ketiga mereka saat tiba-tiba kepalanya terasa berat dan menumpahkan semua sisa sake ke baju Sora.

Gomen, senpai.” Hokuto panik, hendak membersihkan baju Sora, tapi malah tersandung dan jatuh menimpa Sora.

Gomen, senpai.”

“Berheti meminta maaf! Sudah berapa kali kamu meminta maaf padaku hari ini? Diamlah dan cepat berdiri! Kamu berat tahu!”

Hokuto berusaha mengangkat tubuhnya, tapi badannya terlalu lemah untuk berdiri sendiri. Setelah ditolong beberapa orang yang merasa kasihan melihat Sora, keduanya memutuskan untuk pulang agar Sora bisa segera berganti pakaian.

“Aku akan mengantarkan senpai! Kita pesan taksi.” Hokuto bersikeras untuk mengantar Sora.

Setibanya di depan apartemen Sora, Hokuto menahan Sora saat gadis itu hendak keluar menuju apartemennya. “Senpai, apa aku boleh menginap di sini? Dengan keadaanku yang seperti ini, aku tidak mau membuat Taiga salah paham dan mengira aku begini karena dia.” Melihat keadaan Hokuto, Sora tidak punya pilihan lain selain memapah pemuda itu menuju apartemennya.

*****
Risa masih terus-terusan mengagumi keindahan yang ada di depan matanya. Belum pernah selama ini dia berada sedekat ini dengan pemuda idamannya, Taiga. Apapun yang dilakukan pemuda itu, semuanya terlihat indah.

“Mau beli crepe? Apa rasa favoritmu? Strawberry?” Taiga menawari Risa, membuat Risa tersadar dari lamunannya. “Ichigo? Ah eh, rasa vanila saja. Aku tidak terlalu suka rasa buah.” Taiga tersenyum mendengar jawaban Risa, membuat jantung Risa seolah berhenti seketika.

Oh, Tuhan. Ini sungguh tidak baik untuk kesehatan jantungku!! Senang sih… tapi rasanya belum siap saja! Apa aku benar tidak sedang bermimpi? Risa mencubit punggung tangannya lalu mengaduh merasakan sakitnya. Ini bukan mimpi!

“Ini crepe untukmu.” Taiga menyodorkan crepe vanila yang baru dibelinya. Risa memperhatikan tangan Taiga satunya, yang memegang dua kantong crepe take away rasa strawberry. “Senpai tidak memakannya?” tanya Risa pura-pura tidak tahu alasannya.

“Aku membelikannya untuk Yua.” Jawab Taiga tanpa rasa bersalah.

Tentu saja! Risa tahu betul, crepe strawberry adalah jajanan favorit Yua. Tapi Risa diam saja, tidak ingin menghancurkan kesenangannya karena Taiga sudah mengajaknya jalan berdua.

“Oh iya, Risa-chan. Maaf tiba-tiba mengajakmu jalan berdua. Jujur saja, aku terus memikirkanmu sejak terakhir kali kita bertemu.” Risa tersedak crepe yang dimakannya. Buru-buru Taiga menyodorkan minuman kaleng di tangannya. Risa tahu, ini terlihat konyol. Tapi, Taiga pasti bisa melihat wajah Risa yang terlewat bahagia mendengar kata-katanya.

“Taiga-kun terus memikirkanku? Kenapa?” tanya Risa setelah berhasil menghentikan batuknya.

“Kenapa ya? Aku kurang yakin dengan alasannya. Bahkan sepertinya aku tidak perlu alasan untuk menjawabnya. Aku memikirkanmu begitu saja.” Risa lagi-lagi dibuat melayang mendengar kata-kata Taiga. Taiga terkikik melihat reaksi Risa, lalu menepuk pelan kepalanya.

“Mukamu merah, mirip kepiting rebus. Lucu tauk!” Taiga menggoda Risa.

“Taiga-kun sengaja ya? Ya ampun, malunya!!” Risa menutup wajah dengan tasnya, sengaja menghindari tatapan Taiga.

“Mulai sekarang, bersikaplah biasa saja padaku. Aku tahu kamu sangat dekat dengan Yua, makanya kamu juga harus dekat denganku. Teman Yua, temanku juga.” kata Taiga sambil menyisihkan tas dari wajah Risa, membuatnya bisa memandang bebas wajah gadis itu.

“Lihatlah, wajahmu terlalu manis untuk ditutupi tas begitu. Ayo jalan lagi!” Taiga menggamit tangan Risa dan menenteng tas Risa di tangan yang satunya. Risa hanya bisa pasrah kemana pun Taiga mengajaknya.

Taiga mengajak Risa pergi ke tempat-tempat favoritnya (and the genk) semasa SMA. Setelah lama-lama bernostalgia, Taiga menawarkan Risa untuk mengantarnya pulang. Tapi sebelum pulang, Taiga mengajak Risa mampir ke sebuah toko buku untuk membeli beberapa majalah.

Tanpa diduga, Risa melihat Yua dan Kouchi juga ada di sana. Sebelum Taiga sempat melihat mereka, buru-buru Risa membuat alasan agar Taiga langsung mengantarnya pulang dulu.

“Taiga-kun, mamaku sudah menyuruhku cepat pulang. Kalau senpai tidak keberatan, bagaimana kalau senpai mengantarku pulang dulu? Lagipula, senpai masih bisa mampir ke sini setelah mengantarku pulang ke rumah.” Taiga mengecek jam di ponselnya, lalu mengangguk menyetujui usul Risa.

“Maaf sudah mengajakmu jalan sampai selarut ini. Kalau mamamu marah, biarkan aku yang menjelaskannya.” Kata Taiga, merasa tidak enak dengan Risa. Bagaimanapun, acara pergi dengannya, tidak pernah ada dalam agenda Risa.

“Mamaku tidak akan marah kok, Taiga-kun. Mungkin dia cuma khawatir saja. Biasanya kalau aku pulang malam, pasti ada Hagi-chan yang akan mencariku. Tapi sejak kemarin, Hagi-chan memutuskan untuk tinggal bersama Shintaro-kun, makanya tidak ada lagi yang akan mencari…” Risa menggantungkan kata-katanya, karena teringat hal penting yang seharusnya dia lakukan.

Ya ampun, Hagi-chan! Seharusnya aku pergi ke rumah Shintaro-kun untuk bicara dengannya. Risa meremas kedua tangannya, kesal dengan dirinya sendiri. Ya sudahlah, besok aku akan mencoba bicara dengannya lagi. Pikir Risa memilih solusi.

“Hagiya tinggal dengan Shin? Kok bisa?” tanya Taiga heran. Terakhir Taiga melihat Hagiya, dia pergi bersama Airin ke pesta Hikari dan membuat Shintaro marah besar malam itu.

Risa menghela napas lega karena Taiga tidak menyadari jeda dalam kata-katanya. “Aku kurang tahu pasti. Tapi aku akan menceritakan sepemahamanku di mobil nanti. Ayo kita cepat pulang!?” Risa mengingatkan Taiga untuk cepat pergi. Tepat saat itu, Yua melihat sosok Taiga dan Risa dari kejauhan.

“Itu bukannya Taiga?” tanya Yua pada Kouchi.

“Mana?” Kouchi mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Yua. Tapi dia tidak paham, ke arah mana tepatnya Yua melihat Taiga.

“Sudah pergi. Mungkin dia tidak melihat kita di sini. Kamu sudah selesai? Aku mau ke kasir dulu ya?” Yua berjalan ke arah kasir untuk membayar beberapa manga yang dibelinya. Yua masih memikirkan sosok Taiga dan Risa yang baru saja dilihatnya. Yua cukup yakin, kalau itu memang mereka. Dimanapun Taiga berada, Yua pasti bisa menotisnya. Begitu juga Risa.

Kenapa mereka bisa pergi berdua? Bukannya Taiga pacaran dengan Chiru? Tapi kenapa malah jalan sama Risa? Kok kesel ya aku jadinya?

*****
Shintaro memperhatikan Hagiya dan Yua yang terdiam di ruang tengahnya. Setelah mendengar cerita mereka tentang kebersamaan Risa dan Taiga, Shintaro merasa rencananya sia-sia.

“Jadi sekarang Taiga mendekati Risa?” tanya Shintaro lagi ingin memastikan kesaksian keduanya.

“Iya, Shin! Padahal aku tahu, dan kurasa Taiga juga tahu kalau Risa menyukainya! Kalau dia seperti ini, usahaku mendekatkan Kouchi dan Risa akan sia-sia!” Yua meluapkan kekesalannya pada Shintaro.

“Aku tahu, Risa menyukai Taiga-senpai sejak lama. Kalau sainganku dia, sepertinya aku menyerah saja. Risa hanya menyukai Taiga-senpai, satu-satunya. Apalagi kalau Taiga-senpai membalas perasaannya. Kecil, sangat kecil, bahkan mustahil untukku mendapatkan hatinya.” Kata Hagiya frustasi di sebelah Yua. Butuh beberapa menit untuk Yua menelan informasi dari kata-kata yang baru diucapkan Hagiya.

“Eeee? Heeeee? Hagi-kun menyukai Risa? Sejak kapan?” tanya Yua salah tingkah. Sekarang posisinya semakin sulit. Siapa yang harus dia bantu untuk mendapatkan Risa? Kouchi atau Hagiya?

“Sudah sejak lama, Yua-chan.”

“Paggil aku senpai!” protes Yua di tengah-tengah curhatan Hagiya. Tapi pemuda itu mengabaikannya dan melanjutkan ceritanya.

“Bahkan aku tidak ingat kapan tepatnya. Kami sudah selalu bersama sejak kecil. Mungkin saja perasaan itu tumbuh saat kami masih TK atau saat kami sudah beranjak dewasa. Aku tidak menyadarinya. Tapi saat aku mengerti apa itu cinta, hanya ada satu nama yang selalu ada, Risa. Aku mencintainya dan berharap dia mengetahui perasaanku juga. Makanya aku memutuskan untuk tetap tinggal di Tokyo dan menghabiskan masa SMAku bersamanya. Tapi sepertinya, kesempatanku sudah hilang sekarang.”

Yua tidak tahu harus berkata apa. Dia menatap Shintaro meminta dukungan untuk menyemangati Hagiya, tapi pemuda itu juga diam seribu bahasa. Yua memang tidak terlalu dekat dengan Hagiya, tapi dia tahu Hagiya dan Risa memang selalu bersama.

“Bahkan rencana mendekatkan Yua-chan dengan Kouchi-kun sekarang sudah tidak ada gunanya. Karena sejak awal, Risa tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Kouchi-kun.” Jelas Hagiya, tanpa sadar membongkar rencana Shintaro. Sebuah bantal mendarat tepat di wajah Hagiya, membuatnya meringis melihat tampang galak Shintaro.

Yua memandang Shintaro dan Hagiya bergantian, tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. “Aku dan Kouchi? Kenapa?” tanya Yua dengan wajah polosnya.

“Umm, emmm…” Shintaro kebingungan mau menjelaskannya bagaimana, jadi dia asal saja mengarang cerita. “Kouchi sebenarnya menyukaimu. Dia tidak sungguh-sungguh mendekati Risa. Lihat saja, daripada dengan Risa, sekarang dia malah lebih dekat denganmu. Jadi aku berencana menyadarkan Kouchi tentang perasaannya padamu.”

“Ngawur!!!” Yua melemparkan bantal di hadapan Hagiya ke arah Shintaro lagi. “Kouchi cuma dekat denganku karena kita mempunyai banyak kesamaan. Tidak ada perasaan apa-apa di antara kita. Lagipula, ada orang lain yang aku suka!”

“Siapaaaaaa?” tanya Shintaro heboh karena merasa baru kali ini mendengar Yua mengatakan ada orang yang dia suka.

“Aku sudah pernah menceritakannya padamu, Shin! Itu lhooo, cowok yang menyelamatkanku saat darma wisata pertama kita!” Shintaro terlihat memutar bola matanya, bosan mendengar cerita imajinasi Yua.

“Aku memang tidak melihat wajahnya, tapi aku yakin dia itu nyata. Aku yakin sebenarnya Taiga melihatnya juga! Entah kenapa dia tidak mau mengatakannya. Tapi aku yakin, kalau dia melihatku lagi, dia pasti akan mengenaliku seketika. Karena aku yakin, kita sudah saling jatuh cinta pada pandangan pertama!”

Hai hai, wakarimashita. Jadi sekarang, bagaimana kamu akan menjelaskannya ke Kouchi?” tanya Shintaro menyela cerita Yua.

“Aku tidak tahu. Makanya aku datang ke sini. Sebenarnya aku tidak yakin Taiga serius dengan Risa. Tapi setelah mengetahui perasaan Hagi-kun, sepertinya aku akan membantu membuat Kouchi berhenti mendekati Risa.” Yua menatap Hagiya, meyakinkan pemuda itu kalau dia memberikan dukungan sepenuh hatinya.

Arigatou, senpai.” Yua refleks memeluk Hagiya, karena untuk pertama kali dalam hidupnya Hagiya memanggilnya senpai.

“Woi woi, Hagiya sesak tuh, Yua! Ngomong-ngomong, kamu tidak berniat menginap di sini kan?” Yua melepaskan pelukannya pada Hagiya lalu memandang Shintaro dengan pandangan sok manja.

“Anterin dong, Shin-kun!” Rengek Yua sambil mengerlingkan matanya.

“Euh, jijay. Iya-iya habis ini aku anterin!” Balas Shintaro sambil melemparkan lagi bantal ke arah Yua.

Drrrrrt

Ponsel Yua bergetar, menunjukkan nama Taiga sedang meneleponnya.

“Kamu masih di rumah Shin?” Terdengar suara Taiga sangat khawatir di seberang telepon.

“Iya sih. Tapi sudah mau pulang. Bagaimana kamu tahu aku di rumah Shin?” tanya Yua penasaran.

“Jangan kemana-mana. Aku akan menjemputmu. Aku sudah perjalanan.” Bip, bunyi Taiga mengakhiri teleponnya.

“Taiga ya?” tanya Shintaro menebak dari ekspresi Yua.

“Bagaimana dia tahu aku ada di sini?” Yua mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab Taiga, berharap Shintaro bisa menebak jawabannya.

“Mungkin Kouchi memberitahunya. Kouchi mengantarmu karena permintaan Taiga, kan?” Yua manggut-manggut mendengar spekulasi Shintaro. “Ya, bisa jadi.”

*****

“Kamu bilang, Juri sendiri yang akan mengajaknya?” tanya Ayaka masih tidak percaya.

Ayaka sudah menceritakan semua rencana yang disusunnya dengan Jesse kepada Aika, tapi gadis itu menolak semua idenya. Katanya, dia hanya akan pergi kalau Juri sendiri yang mengajaknya. Dan setelah mendengar cerita dari Jesse kalau Juri berinisiatif menawarkan diri mengajak Aika, Ayaka terlewat senang karena semua berjalan sesuai rencananya.

“Kita lihat saja besok. Apa Aika akan datang di tempat janjian kita. Sekarang aku mau pulang dulu ya, sayang. Aku perlu mengambil beberapa barang untuk bekal perjalanan kita. See you, tomorrow~” Jesse mengecup bibir Ayaka sebelum pamit pulang ke rumahnya.

Untuk pertama kalinya Jesse pulang ke rumahnya sebelum tengah malam sejak Ayaka memutuskan tinggal di apartemen. Bahkan biasanya Jesse hanya pulang untuk berganti pakaian dan sarapan sebelum pergi lagi ke apartemen Ayaka.

Saat memasuki halaman rumahnya, Jesse melihat ada sebuah mobil yang tidak dikenal terparkir di sana. “Apa papa sedang ada tamu? Padahal besok akhir pekan.” Jesse berdecak heran.

Tapi Jesse tidak melihat tanda-tanda adanya tamu di ruang tamu, ruang tengah ataupun dapurnya. Terus itu mobil siapa? Batin Jesse.

Jesse melihat lampu kamarnya menyala, padahal dia ingat kalau tadi pagi sudah mematikannya. Ketika membuka pintu kamarnya, Jesse terkejut mendapati Hazuki sudah duduk manis di atas sofa kamarnya.

Konbanwa.” Sapa Hazuki sopan, lalu bangkit dari tempat duduknya untuk membungkuk, memberikan salam pada Jesse. Buru-buru Jesse membungkuk, membalas salam Hazuki. “Konbanwa.

“Hazuki-san, ada apa? Kenapa tiba-tiba ada di kamar saya? Bukannya kita bisa bertemu di kampus saja? Maaf, saya jadi canggung kalau bertemu Anda di luar urusan kuliah.” Kata Jesse tiba-tiba secara refleks berbicara formal kepada Hazuki. Hazuki tertawa melihatnya.

“Jesse-kun tidak perlu seformal itu padaku. Panggil Hazuki seperti biasa saja.” Hazuki mendekat ke arah Jesse, menepuk pelan lengannya untuk melunturkan kecanggungan di antara mereka.

“Tapi ini di rumah. Kalau papa mendengarnya…” Belum sempat Jesse melanjutkan kata-katanya, Hazuki menangkupkan tangan mungilnya ke mulut Jesse.

“Mungkin malah itu yang diinginkan Alan-san.” Jawab Hazuki tenang, tapi nada suaranya terlihat bimbang. Jesse menunggu Hazuki melanjutkan penjelasannya.

“Aku tahu, kamu pasti belum mendengarnya. Tapi kedua orang tua kita sudah mengatur persiapan perjodohan kita.” Seketika Jesse langsung memutar tubuh Hazuki, memandang lurus kedua matanya, mencari tahu kalau-kalau gadis itu sedang bercanda. Tapi tidak, Hazuki menceritakan yang sejujurnya.

“Kamu bercanda kan, Hazuki? Terus bagaimana dengan hubunganku dan Ayaka?” tanya Jesse menuntut pada Hazuki.

“Makanya aku datang ke sini untuk minta tolong padamu, Jesse-kun. Kamu tahu sendiri kalau aku tidak punya pacar, jadi percuma saja aku menolak karena ayahku tidak akan mau mendengarkan. Tapi kamu punya Ayaka. Bicaralah dengan papamu bersama Ayaka, jelaskan tentang hubungan kalian! Aku yakin, Alan-san pasti bisa menerimanya.” Hazuki menjelaskan tujuannya menemui Jesse.

Jesse terdiam, merenungkan ide Hazuki. Selama ini, Jesse memang belum pernah mengenalkan Ayaka pada kedua orang tuanya. Tapi Jesse yakin, mereka mengetahui tentang hubungannya dengan Ayaka. Pernah sekali Jesse membahasnya, seminggu setelah dia jadian dengan Ayaka. Apa mungkin mereka sengaja mengabaikannya?

“Aku akan mencobanya. Terima kasih sudah memberitahuku, Hazuki.” Hazuki tersenyum mendengar jawaban Jesse. “Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu.” Pamit Hazuki.

“Tunggu! Sebaiknya kamu makan malam di sini dulu. Aku akan mengantarmu pulang setelah itu.” Jesse menahan Hazuki untuk pergi.

“Aku sudah makan kok, Jesse-kun. Lagipula aku bawa mobil sendiri. Kamu tidak perlu repot mengantarku.” Tolak Hazuki sopan, mengindahkan tawaran Jesse.

“Baiklah, aku tidak akan memaksamu makan malam. Tapi aku akan tetap mengantarmu. Kita bawa mobil sendiri-sendiri.” Kata Jesse memaksa, membuat Hazuki akhirnya menurut juga.

Setelah mengantarkan Hazuki, Jesse mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah dan kembali ke apartemen Ayaka. Dilihatnya gadis yang dicintainya itu sudah tertidur lelap, berbalut gaun tidur warna marun yang sedikit terbuka di bagian bahunya, memamerkan sedikit dadanya. Selama ini, Jesse selalu menahan diri untuk tidak menyentuh Ayaka melebihi batas-batas yang sudah ditentukannya. Tapi malam ini, Jesse seperti kehilangan akalnya.

Perlahan Jesse mendekati tempat tidur Ayaka, lalu berbaring di sebelahnya. Dipandanginya setiap lekuk wajah Ayaka. Tangan Jesse meraba wajah Ayaka, membelai lembut setiap bagiannya. Keningnya, pelupuk matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya. Rangsangan hebat mendorong Jesse untuk mendekatkan bibirnya. Bukan hanya dengan tangan, Jesse meraba seluruh bagian wajah Ayaka dengan bibirnya. Dikecupnya berkali-kali setiap jengkal wajah Ayaka. Ayaka terbangun saat Jesse mulai melumat bibirnya dengan penuh tenaga.

“Jess, ada apa?” tanya Ayaka di sela-sela ciuman Jesse. Jesse tidak menghiraukannya dan semakin menciumi Ayaka dengan penuh gairah. Bahkan ciuman Jesse sekarang sudah mendarat di bagian atas dada Ayaka. Merasa ada yang tidak beres dengan kekasihnya, Ayaka mendorong Jesse dan memandangnya lekat-lekat di kedua matanya.

“Ada apa?” tanya Ayaka tegas, menuntut penjelasan dari Jesse. Pandangan Jesse masih tertuju pada bagian dada Ayaka yang semakin terbuka akibat perbuatannya.

“Apa kamu begitu menginginkannya? Aku akan membiarkanmu melakukannya asal kamu menceritakan alasannya.” Tawar Ayaka, mencoba membuat Jesse berbicara.

“Ayo kita melakukannya malam ini! Kalau kamu hamil, maka akan semakin mudah membatalkan perjodohanku dengan Hazuki.”

PLAK

Tanpa sadar Ayaka menampar Jesse. Ayaka belum paham sepenuhnya apa yang sudah terjadi antara Jesse dan Hazuki. Tapi, Hamil? Perjodohan? Sepertinya Ayaka mulai memahami mengapa Jesse bertindak kacau seperti malam ini.

Tamparan Ayaka berhasil mengembalikan akal sehat Jesse. Jesse memperhatikan Ayaka yang melihatnya dengan pandangan kasihan, merasa malu sendiri.

“Maaf, Aya-chan. Sepertinya aku butuh waktu beberapa hari untuk sendiri. Maaf aku tidak bisa ikut ke Osaka bersama Aika dan Juri. Aku mencintaimu.” Jesse mengecup kening Ayaka, lalu sekali lagi pergi meninggalkannya malam ini.

*****
Juri membeku melihat pesan yang dikirimkan Jesse dan Ayaka kepadanya. Kedua temannya itu, secara tiba-tiba membatalkan rencana liburan mereka, yang artinya hari ini Juri akan menghabiskan waktu hanya berdua dengan Aika.

“Kamu masih ingin pergi ke Osaka?” tanya Aika setelah membaca pesan yang juga dikirimkan kepadanya. Juri masih terdiam, belum ingin memutuskan apa-apa.

“Aika, gomen. Sebaiknya kita batalkan saja. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kita hanya pergi berdua ke Osaka.” kata Juri akhirnya.

“Kenapa kalau hanya berdua, memangnya? Toh, kita sudah sama-sama dewasa. Tidak mungkin kesasar juga.” Protes Aika. Padahal aku sudah menantikan hari ini, tambah Aika dalam hati.

Juri menelan ludah mendengar kata-kata Aika. Apa dia tidak mengerti apa yang aku pikirkan? Pergi berdua saja, setelah apa yang aku lakukan padanya? Dia yakin? Aku saja tidak yakin pada diriku sendiri. Juri berdialog dengan dirinya sendiri.

“Bukan begitu.” Juri ingin mencoba menjelaskan, tapi tidak ada satu alasan pun yang bisa dia pikirkan.

“Baiklah, kita pulang saja.” Aika kesal melihat sikap plin-plan Juri. Baru kemarin pemuda itu terlihat bersemangat mengajaknya pergi, tapi hari ini sikapnya benar-benar beda. Padahal Aika sudah sangat senang karena mengira Juri memang mempunyai perasaan yang sama dengannya. Ternyata pemuda itu mengajaknya hanya demi Jesse dan Ayaka.

“Tunggu!” Juri menahan Aika pergi. “Aku tidak bilang akan membatalkan rencana jalan-jalan kita. Hanya saja, sebaiknya tidak usah jauh-jauh ke Osaka.”

Juri mengajak Aika pergi ke taman hiburan seperti kencan pertama dan terakhirnya dengan Chiru. Hanya tempat itu yang terpikirkan oleh Juri sebagai ganti rencana jalan-jalan mereka ke Osaka. Berbeda dengan Chiru yang phobia roller coaster, Aika justru sudah memaksa Juri menaiki wahana itu untuk yang kedua kali.

“Gilaaaa! Kamu keren banget, Aikaaaa! Aku mencintaimuuuuuuuu!!” Teriak Juri saat roller coaster mereka sedang menuruni tanjakan tertinggi, bercampur bersama deru angin membiaskan suaranya. Juri sengaja mengatakannya saat itu karena belum siap kalau Aika mendengarnya langsung dari mulutnya.

Setelah menyelesaikan roller coaster kedua mereka, Aika dan Juri memutuskan untuk istirahat sejenak. Aika membelikan coklat panas untuk keduanya. Juri memandang Aika dengan penuh rasa cinta, terkagum pada dirinya sendiri karena bisa menahan keinginan untuk menciumnya.

Karena aku sudah tahu kalau aku mencintainya, aku bisa menahan diri untuk tidak sembarangan menciumnya. Terlepas dari apa dia memang mempunyai perasaan yang sama padaku, setidaknya aku lebih mengerti sedikit perasaannya saat ada orang yang menciumnya lalu menyuruhnya melupakan begitu saja, sungguh brengsek diriku dulu. Maki Juri kepada dirinya sendiri dalam hati.

“Juri, habis ini aku mau naik biang lala ya?” pinta Aika. Sebenarnya, kalau bisa, Juri menghindari untuk menaiki wahana yang satu itu hari ini. Masih tersisa sedikit memori menyakitkan dari kejadian terakhir dia menaiki wahana itu. Tapi melihat wajah memohon Aika, Juri tidak sanggup menolaknya. “Baiklah.”

Juri memutuskan untuk duduk berseberangan dengan Aika, menghindari duduk di sebelahnya saat menaiki biang lala. Aika tidak merasa terganggu dengan keputusan Juri. Toh, dia jadi bisa lebih leluasa menikmati pemandangan dari sebelah kiri dan kanannya tanpa ada Juri menghalangi.

“Aku heran, kenapa setiap cewek selalu suka melihat pemandangan dari biang lala.” Gumam Juri sambil tersenyum melihat tingkah Aika. Mendengar Juri berbicara, Aika menghentikan kelakuan hebohnya.

“Setiap cewek? Maksudmu aku dan Chiru?” tanya Aika tepat sasaran. Juri terlihat menghindari tatapan Aika, menolak membahasnya. Tapi tanpa sadar mulutnya berbicara tanpa dia bisa mengaturnya. Juri menceritakan kejadian malam itu antara dia dan Chiru, termasuk ciuman mereka.

“Anehnya, aku tidak ada perasaan apa-apa saat mencium Chiru. Berbeda saat aku menciummu. Tapi sekarang aku tahu, itu semua karena aku mencintaimu, bukan Chiru.” Sedetik kemudian, Aika sudah menjatuhkan tubuhnya di atas pangkuan Juri, mencium pemuda itu sebagai ungkapan perasaannya.

Melihat reaksi Aika, Juri sekarang yakin kalau gadis itu juga mencintainya. Disibaknya rambut Aika yang menutupi wajahnya, membuat Juri mengagumi keindahan yang ada di depan matanya.

Gomen, aku lama menyadarinya. Kurasa, aku sudah menyukaimu sejak SMA. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa mengabaikannya. Aku…” belum sempat Juri melanjutkan kata-katanya, Aika kembali membungkam Juri dengan ciumannya. Aika tidak membutuhkan penjelasan apapun dari masa lalu mereka. Yang Aika tahu, sekarang Juri mencintainya, sama seperti dia mencintai Juri. Juri membalas ciuman Aika dan merasa enggan untuk melepasnya. Tidak sekarang, saat dia sudah menyadari perasaannya.

To be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s