[Oneshot] Evil Plans

Evil Plans

Hey! Say! JUMP Chinen Yuri

Koizumi Arina

Hideyoshi Sora

Hey! Say! JUMP Yamada Ryosuke

Hey! Say! JUMP Takaki Yuya

Hey! Say! JUMP Inoo Kei

Sato Miharu

Kanagawa Miki

By: Shield Via Yoichi ft. NadiaMiki

ff ini kami persembahkan untuk kak Gita yang ulang tahun tanggal 1 dan kak Dini yang ulang tahunn tanggal 7! Happy birthday!!! XD kami sengaja ngucapinnya telat X”’D terimalah hadiah dari kami ini~ :3 semoga kakak-kakak sekalian senang, muach~!

Di hari Sabtu siang yang tenang, tinggallah dua orang gadis di sebuah rumah besar. Seharusnya memang tenang karena keadaan rumah yang sepi dari penghuni lainnya. Yang lainnya sedang pergi berbelanja.

“Ukh, Miki! Berhenti bolak-balik seperti setrikaan di depan TV, aku sedang menonton!” marah seorang gadis yang sedang duduk di sofa. Ia melemparkan bantal sofa pada sosok yang dipanggil Miki.

Miki menghela napas berat kemudian mengambil bantal yang dilemparkan padanya dan duduk di samping gadis yang menonton itu sambil memeluk bantal.

Untuk beberapa saat ketenangan terjadi, hanya suara TV yang terdengar mengisi ruangan itu. Tapi Miki tampaknya tidak jera untuk tidak dimarahi oleh orang yang ada di sebelahnya, ia mulai menghela napas keras berkali-kali.

Merasa terganggu, akhirnya ia memutuskan untuk mematikan TV dan melihat ke arah Miki, “Kau kenapa sih?”

“Miharu-nee, tolong aku.. Otakku mulai pecah memikirkannya.”

Miharu menaikkan alisnya sebelah, “Kenapa? Apa yang terjadi?”

“Yuri kan sebentar lagi ulang tahun, aku bingung mau memberi kejutan seperti apa,” jelasnya. Ia melihat wajah Miharu yang tampak khawatir berubah menjadi sedikit kesal, “Belum lagi Arina-nee dan Sora-nee juga, kan?”

Mata Miharu melebar, “Apa? Sudah mau Desember saja?” katanya seakan tidak peduli dengan ulang tahun Chinen di akhir bulan November, “Rasanya baru kemarin aku merayakan ulang tahun Kei.”

“Ya, ya, ya~ Otak nee sekarang memang cuma ada Inoo-senpai semua. Sampai lupa kalau ini sudah November.” kesal Miki.

Miharu hanya meringis kecil, “Jadi, kau mau merayakannya bagaimana?”

Miki meletakkan telunjuknya di dagunya, “Hm… Belum tahu, makanya aku bingung.” Tiba-tiba Miharu menyeringai membuat Miki menyerit, “Kenapa, nee?”

“Aku punya ide~”

***

“Jadi, kami mau bilang sesuatu…” kata Miharu tersenyum begitu manis pada dua pemuda yang ada di depannya, keduanya melihat Miharu dan Miki sedikit kesal dan bingung, “Sebentar lagi kan ulang tahunnya Chinen, Arina-nee dan Sora-nee…”

“Jadi kau memanggil kami berkumpul saat kerja untuk membicarakan ini?” tanya Inoo sebelum Miharu selesai menjelaskan.

“Err… Inoo-senpai, kerja apa di hari libur begini?” tanya Miki penasaran.

“Tidur.”

Miharu melihat pacarnya tidak suka, “Ya sudah, balik saja sana ke kamarmu!”

“Jangan ngambek begitu, sayang. Nanti saja ke kamar bersamamu.” bujuk Inoo sambil menggoda, ia tersenyum manis lalu mengedipkan matanya sebelah membuat Miharu semakin jengkel padanya.

“Siapa yang ngambek?”

“Itu, buktinya kau manyun begitu.”

“Tidak!”

Miki dan Takaki hanya bisa menghela napas, tapi mereka tidak bisa pura-pura tidak kenal dengan pasangan itu karena sedang duduk satu meja.

Nee, sudah, sudah.. Pengunjung cafè melihat kalian tuh.” Miki menenangkan. Miharu mendengus kesal.

Takaki juga menyikut Inoo agar sadar dengan situasi sekitar mereka. Tapi pemuda itu masih saja memasang senyum menggodanya.

“Oke, kau saja yang lanjutkan, Miki.” suruh Miharu.

Miki mengangguk, “Jadi begini rencananya…”

Miki menjelaskan semuanya dengan panjang lebar, Miharu juga ikut membantu menjelaskan, “Jadi bagaimana? Ada ide lain?”

“Kalau aku sih ikut kalian saja.” jawab Takaki.

“Yamada gimana?”

Miharu tersenyum, “Nanti aku urus. Pokoknya kalian ikuti apa yang sudah direncanakan. Jangan sampai hampir gagal kayak surprise ulang tahun Miki. Kusembelih kalian satu satu kalau itu terjadi.”

Mereka bertiga menelan ludah, selain Arina yang punya ancaman berbahaya, Miharu juga salah satu gadis yang tidak ragu-ragu mengancam kalau tidak sesuai dengan yang ia rencanakan.

Okay~”

***

“Miki, kau sudah siap? Aku sedang di jalan untuk menjemputmu di kampus.” ucap sang penelpon di seberang sana, Miki yang menjadi lawan bicaranya hanya menghela napas.

“Yuri, tidak usah hari ini aku di jemput sama Takaki-senpai.” ujarnya, langkah kaki gadis itu melangkah keluar kelas menuju halaman kampus untuk menemui penjemputnya yaitu Takaki Yuya, kekasih temannya sendiri.

“Hah? Di jemput Yuya? Kenapa tiba-tiba…”

“Jangan cerewet deh, kebetulan saja aku di jemput sama dia karena katanya sekalian lewat… Ah! Hai, Takaki-senpai,” setelah mengatakan itu, Miki langsung menyapa Takaki yang sudah menunggunya di parkiran.

“Huft. Kau ini, ya sudah. Bagaimana.. kalau hari ini kita jalan-jalan? Aku merindukanmu. Kau tau?” protes Chinen, ya karena seminggu ini Miki selalu menolak Chinen untuk jalan-jalan bersamanya, bahkan kalau main ke rumah gadis itu sedang sibuk dengan tugas, ia baru masuk kuliah.

Sehingga kehadiran Chinen di rumah itu hanya sia-sia karena Miki mengunci kamarnya dan tak keluar kamar sama sekali.

Gomen… Aku tidak bisa, banyak tugas.” kata Miki dengan santai, padahal dalam hatinya ia ingin tertawa keras-keras.

Dapat gadis itu dengar kalau kekasihnya mendengus kesal, “Baiklah kalau begitu.” detik berikutnya sambungan terputus.

“Dimatikan? Seram juga si pendek itu,” kata Takaki yang bergidik, tapi fokusnya tak lengah untuk menyetir.

“Hahaha… Tapi aku suka.. Takaki-senpai bisakah kita lebih mesra lagi?”

“Sshh… Kalau begitu panggil aku Yuya saja, kalau kau ingin kita lebih mesra.” ia menoleh sebentar lalu tersenyum—ugh oke Miki akui kali ini ia tampan.

Tadaimaaa~” Miki dan Takaki masuk ke dalam rumah, tanpa rasa bersalah padahal di sofa ruang tamu sudah ada Sora yang menunggu kehadiran Takaki sejak tadi.

Melihat Miki dan Takaki masuk bersamaan, alis gadis tertua di rumah ini tertaut, “Ada apa dengan kalian? Tumben sekali pulang berdua,” curiganya.

“Katanya sekalian lewat, iya kan, Yuya?” Miki menoleh ke arah lelaki gondrong yang sedang menempati dirinya duduk di samping Sora.

“Iya, sekalian aku tadi lewat kampus Miki, jadi aku jemput saja dia.” tangan Takaki mengeluarkan sebatang rokok dan pemantik.

Tidak, ia belum mau merokok hanya mengeluarkannya saja dan menaruh benda itu di atas meja depan sofa.

“Yuya? Sejak kapan Miki memanggilmu Yuya?” Setahu Sora gadis itu selama ini memanggil Yuya itu Takaki, mengapa tiba-tiba jadi aneh?

“Sejak tadi, kenapa? Kau cemburu? Ahahahaha…”Takaki tertawa.

“Diam, atau aku ambil rokokmu itu?” ancam Sora.

“Tidak, jangan ini sisa satu,” mohon Takaki yang masih menahan tawanya.

***

“Miki… Aku kangen…”

“Pandangi saja foto ku…”

“Tidak, aku ingin memeluk mu,

“Peluk saja foto ku…”

“Aish, kau ini kenapa sih? Aku serius. protes Chinen yang sudah geram akan tingkah Miki terhadapnya, padahal tanpa ia tahu kalau Miki sedang mengulum senyum malu, sekaligus ingin tertawa.

“Aku juga serius Yuri, kau tahu kan aku ini mahasiswa baru jadi aku banyak diberi tugas.” alasan sih sebenarnya, tugas Miki sudah selesai sejak sore tadi.

“Aku akan mengantarmu besok,

No, aku akan diantar oleh Yuya.Jya, Yuri.Oyasumi~”

“Eehh Yuya? Chotto mak—” klik, sambungan teleponnya terputus, tak lama kamar indah yang sedikit berantakan itu dipenuhi tawa kerasnya.

Sadar kalau di samping itu adalah kamar Miharu, gadis itu langsung menutup mulutnya, di sambung dengan tawa kecil.

Senang sekali gadis itu membuat Chinen cemburu. Ini lebih seru daripada menggoda Miharu atau Arina.

***

“Aku gak nyangka, ternyata Miki itu manis ya.”

Sora melihat kekasihnya dengan alis ditekuk, “Maksudnya?”

Takaki tersenyum kecil, “Dia lucu, kadang childish. Tiba-tiba berubah dewasa dalam sekejap. Selama ini aku tidak menyadarinya karena jarang ngomong dengannya.” jelasnya.

Sora tidak menjawab. Ia diam sambil memotong steak-nya. Lantunan musik klasik yang diputar di restoran tempat mereka makan sekarang sama sekali tidak menghiburnya.

Apa maksud dari tingkah pemuda itu? Dia jarang sekali mengajak Sora makan di restoran dan malah membicarakan cewek lain. Padahal Sora mengharapkan sesuatu yang romantis, ya karena kerjaannya di kantor membuat kepalanya mumet.

“Sora?” suara bariton Takaki membuat Sora menoleh ke arahnya, “Kenapa diam? Kau sakit?”

Sora menggeleng, “Tidak, aku cuma lelah. Di kantor banyak kerjaan.”

“Ya sudah, habiskan makanannya lalu kita pulang.” kata Takaki sambil tersenyum. Sora hanya mengangguk lemah.

***

Nee, Yamada-kun kenapa jarang kemari?”tanya Miharu pada sosok gadis yang sedang melahap cemilannya.

Gadis itu menoleh ke arah Miharu heran, “Dia sibuk, kenapa?”

“Yah…” kecewa Miharu, “Padahal aku mau minta bantuannya.”

Arina menaikkan alisnya, “Bantuan? Bantuan apa?”

“Hm…. Rahasia!” Miharu memeletkan lidahnya centil. Semenjak gadis itu berpacaran dengan si playboy Inoo Kei, ia semakin lihai untuk menggoda Arina, Sora dan Miki dengan tingkahnya.

“Heh… Mencurigakan!”

“Ahahahaha… Bercanda, Arina-nee… Aku cuma mau dia melatihku interview kerja kok.”

“Yang seperti itu butuh dilatih? Kenapa bukan minta bantuan sama Inoo?”

Miharu mendengus, “Nee, Yamada-kun itu bos kan? Lebih enak dinilai sama bos daripada karyawan kayak Kei dong. Gimana sih, nee..” Arina menatap Miharu dengan tatapan mencurigakan, “Berhenti menatap seperti itu, nee. Kau membuatku takut.”

“Ahahahahaha….”

Bunyi kenop pintu dibuka, Miharu dan Arina yang sedang duduk di tempat tidur Arina melihat ke arah pintu dan menemukan Sora melongok dari sana.

“Kalian ngapain disini? Sana ke bawah, pacar kalian sudah datang tuh.”

“Eh? Yamada-kun datang?” heboh Miharu. Sora dan Arina memandangnya heran karena dia menghebohkan Yamada dan bukannya Inoo, pacarnya. Miharu tertawa kecil lalu menarik tangan Arina, “Ayo, nee,”

Sebenarnya pacar mereka berempat sudah ada di rumah itu.Tapi Sora dan Chinen bahkan tidak senang dekat dengan pacar mereka karena baik Miki maupun Takaki malah saling menggombal berdua.Membiarkan Sora dan Chinen yang kesal melihat pemandangan itu.

“Miharu, gimana interview semalam?”tanya Inoo sambil memeluk kekasihnya. Miharu mengangkat kepalanya melihat Inoo, menghela napas kemudian menggeleng. Inoo tersenyum lembut padanya, “Tidak apa-apa, jangan menyerah. Miharu pasti bisa kok.”

Di antara pasangan yang menebar banyak cinta di sekitar mereka, Yamada dan Arina hanya saling memandang.

“Kau tidak kangen padaku, Ricchan?” tanya pemuda itu akhirnya. Ia merangkul Arina, menatap gadis itu dalam-dalam.

“Gimana ya~”

Yamada mendengus geli lalu menatap Arina dengan wajah gemas. Arina memandangnya cuek.

Melihat mereka mulai bermesraan, Miharu langsung melepaskan pelukan Inoo dan menghampiri mereka.

“Yamada-kun..”

Yamada menoleh, “Ah, Miharu. Kemarin kau mengirimku emailkan? Mau bicara apa?”

Gadis itu menggaruk kepalanya tidak gatal, “Ehehe… Kita bicara berdua saja, bisa kan?”

“Hm, boleh.” Yamada mengangguk dan berjalan bersama Miharu ke luar rumah.

Semua mata tertuju pada mereka berdua. Walau Arina tampak tidak peduli, tapi dalam hatinya dia berharap bisa mendengar perbincangan mereka. Bahkan matanya terus saja melihat ke arah pintu.

“Kenapa tuh?” tanya Sora.

“Katanya mau minta bantuan Ryo latihan interview kerja sih.” jawab Arina.

Sora mengangkat alisnya, “Hah? Lucu banget deh, pakai latihan segala. Kenapa bukan denganmu saja?” Sora melirik Inoo.

Sadar kalau dia diajak bicara, Inoo pun menggeleng, “Katanya sih kalau sama Yamada lebih enak.”

“Kalian semua aneh. Heran.” ucap Sora.

Takaki, Miki, dan Inoo saling bertukar pandangan. Mereka tersenyum geli sesaat lalu berusaha untuk kembali netral agar mereka tidak ketahuan sedang mengerjai mereka. Sementara Chinen lebih memilih untuk diam dan melihat apa yang sedang terjadi.

Menyadari kekasihnya hanya diam saja sedari tadi, Miki coba mendekati Chinen.

Tidak tega juga mendiamkan pemuda imut itu, wajah cemberutnya malah membuat Miki gemas.

“Yuri,” Miki menyenggol lengan Chinen menggunakan sikunya, melihat respon Chinen yang sedikit cuek Miki mencoba untuk mendekatinya lagi dengan cara memeluk lengan pemuda itu.

“Ngambek~” jari gadis itu menusuk-nusuk pipi Chinen. Tapi pemuda itu tetap bergeming, tahu kalau pemuda itu sudah sedikit marah Miki malah ingin menambah level marahnya.

“Ah, Yuri gak asik. Aku main sama Yuya saja, jya.”

“Ya sudah, mainlah sama Yuya, asal dia tidak macam-macam denganmu.” ucap Chinen yang terdengar seperti ancaman untuk Yuya.

Sadar namanya disebut, Takaki tertawa, “Ampun Yuri, Miki itu sudah seperti adik untukku. Ya kan, Miki?” Takaki menatap Miki meminta persetujuan, lalu di jawab anggukan oleh gadis itu. Chinen hanya menghela napas seakan tidak peduli dengan omongan Takaki.

Melihat adegan di hadapannya, Arina mendengus, “Aneh deh kalian semua. Gak biasanya kayak gini.” lalu tanpa pamit Arina melangkah menuju kamarnya.

“Loh… Arina mana?” tanya Yamada saat dirinya masuk bersama Miharu.

“Masuk kamar tadi.” jawab Inoo. Yamada menanggapi dengan anggukan tanpa ada gerakan untuk menemui kekasihnya di kamar.

Beberapa hari telah berlalu, semua berjalan seperti biasanya.

Tapi, ada yang berbeda kali ini karena sepertinya pasangan antara Miki dan Chinen, Sora dan Takaki, Miharu dan Inoo dan juga Yamada dan Arina bertukaran.

Menjadi Miki-Takaki, Miharu-Yamada, sedangkan yang lainnya mereka bingung harus berpasangan dengan siapa. Karena heran melihat pasangan masing-masing yang malah lebih dekat dengan pasangan temannya.

“Bisa jelaskan ini ada apa? Kenapa kalian jadi aneh?” Inoo mulai bicara karena Arina dan Sora selalu mengeluh kepadanya tentang pacar-pacar mereka sampai membuat telinga Inoo hampir tuli. Sedangkan Chinen, sebagai seorang laki-laki dia hanya diam. Walau hatinya ingin menjerit.

“Kau, Miharu,” telunjuk Inoo mengarah pada wajah gadis itu, “kenapa jadi nempel sama Yamada terus? Kau bisa tidak menjaga perasaanku dan Arina?” Hanya keheningan setelahnya, di dalam rumah besar milik Arina ini. Karena Miharu tidak melihat ke arah Inoo maupun Arina, dia hanya sedikit menunduk dengan wajah tidak bersalah tanpa menjawab apapun.

“Kau juga, Miki,” kali ini telunjuk Inoo pindah ke hadapan wajah Miki, gadis itu menatap Inoo seakan tak ada rasa takut sedikit pun, “kau tidak bisa menjaga perasaan Chinen dan Sora-san? Kau selalu saja menempel sama Yuya. Berapa tahun kau berteman dengan Sora-san? Kau tega sekali, dasar bocah!”

“Ya, aku memang bocah!” Miki berdiri dari duduknya, “Dan aku selalu di anggap bocah oleh Yuri, aku bosan! Aku lebih nyaman sama Yuya yang menganggapku dewasa, aku ingin terus dekat dengannya. Aku salah? Aku bosan pacaran sama Yuri! Bosan!!” Setelah itu Miki lari keluar dari rumah Arina, entah ia akan kemana.

Melihat dan mendengar ucapan Miki, Chinen sontak ingin mengejar gadisnya itu, tapi sial Takaki sudah lebih dulu melangkah, lebih lagi Inoo menahan langkah Chinen yang ingin mengikuti Takaki keluar.

“Apa-apaan itu??” Sora berseru tak terima juga kalau Takaki mengejar Miki keluar.

***

Malam itu, hanya ada Sora dan Arina duduk di sofa ruang tengah. Miki semenjak hari itu lebih senang mengunci diri di kamarnya, sementara Miharu hampir tiap hari pulang larut.

“Pekerjaanmu gimana, Arina?” tanya Sora. Oke, saat ini Sora benar-benar tidak tahu topik apa yang harus mereka bicarakan di saat yang tidak baik begini.

Arina yang sedari tadi memencet remote TV tanpa minat menonton channel apapun sedikit melirik ke si penanya, “Biasa saja. Sora-nee?”

“Sama sih.”

Hening. Tiba-tiba mereka merasa asing satu sama lain. Sora maupun Arina sama-sama berpikir keras agar mereka tidak canggung.

Ano ne.. Sebenarnya aku tidak begitu peduli dengan Ryo dan Miharu karena aku tau Miharu hanya mau latihan interview dengan Ryo.” ucap Arina tiba-tiba, “Tapi kenapa Ryo jadi cuek dan lebih suka ngobrol dengan Miharu daripada aku? Waktu Inoo marah sama Miharu, aku sedikit senang sih..”

Sora menghela napas, “Aku juga heran. Miki yang biasanya gak bisa lepas dari Chinen tiba-tiba dekat dengan Yuyan. Lebih aneh lagi, Yuyan anggap Miki kayak adik. Sejak kapan?”

“Ahahaha… Sepertinya ada yang salah dengan mereka semua. Chinen juga jadi pendiam gitu karena ditinggal Miki.”

“Gimana dia gak galau coba? Memangnya kau tidak galau lihat pacarmu asyik dengan cewek lain?” Sora menaikkan alisnya.

Nee sendiri gimana?”

“Ya, galau dong!” kata Sora sedikit menaikkan volume suaranya.

Arina mengangguk kecil, “Nah, itu jawabannya.”

“Miharu sekarang suka pulang malam, Miki suka mengurung diri di kamar.. Mereka kenapa ya?”

Arina mengangkat bahu, “Kita tanya juga mereka gak mau jawab kan? Sudah berapa kali kita tanya, jawabannya selalu ‘tidak apa-apa’ kan,”

Sora pun mengangguk mengiyakan. Sora tidak ingin pertemanan mereka hancur, ia lebih memilih melepaskan pacarnya daripada kehilangan teman-temannya.

“Aku jadi mau membuntuti mereka,”

“Malas ah, nee. Biarkan saja dulu, kalau mereka masih bikin kita makin kesal dengan hubungan mereka baru deh kita buntuti. Mungkin ada hal lain yang bikin mereka kayak gini.”

“Benar juga.”

***

“AHAHAHAHAHAHA….”

Suara tawa memenuhi sebuah ruangan yang berisi Miharu, Miki, Takaki, Inoo dan Yamada. Mereka tertawa mendengar sebuah rekaman suara Arina dan Sora yang mengeluh. Miki diam-diam merekamnya saat itu.

“Ya ampun, kau hebat bisa merekam ini tanpa ketahuan, Miki.” puji Takaki yang masih sibuk menahan tawanya. Rekaman itu sangat menggelikan baginya.

“Waktu itu aku mau ambil air, eh dengar mereka lagi curhat, aku rekam deh.” Miki tertawa jahil.

“Masih ingat waktu Kei marah-marah?” tanya Miharu antusias, yang lain mengangguk, “Wajah Sora-nee dan Chinen-kun kesal banget waktu Takaki-kun yang kejar Miki. Hahaha…”

“Masa? Ahahaha.. Aku jadi mau lihat.”

Acting Inoo juga bagus banget, mereka pada percaya gitu kalau lagi cemburu.” tambah Yamada.

Inoo tertawa nakal, “Aku ini dulunya playboy, harus bisa acting kan?”

Kemudian lengan pemuda itu mendapat cubitan keras dari Miharu. Takaki, Miki, dan Yamada tertawa melihatnya.

“Jadi strategi selanjutnya apa?” tanya Takaki tidak sabaran. Dia suka melihat gadisnya kesal dengan tingkah tidak wajarnya itu.

“Sebentar…” Miharu memegang dagunya, berpikir mencari ide, “Kei, mereka belum pernah ke apartemenmu ini kan?”

Inoo menggeleng, “Belum, kenapa?”

“Ehehehe… Buat jaga-jaga kalau mereka nanti mau membuntuti aku dan Miki.”

“Ah, aku punya ide!” teriak Miki. Tatapan penasaran yang tertuju padanya mengembangkan senyum liciknya.

***

“Miharuuu aku datang~” kaki Inoo dengan santainya melenggang masuk ke dalam rumah besar Arina itu, rumah yang berisi empat orang wanita.

Salah satunya keluar dari kamar, melihat Inoo yang sudah duduk di sofa, menunggu sang kekasih si Miharu. Tapi nampaknya gadis itu tidak ada karena yang keluar adalah Arina.

“Miharu tidak ada, dia pergi dari siang tadi,” kata Arina sambil berlalu ke dapur, “mau minum apa?”

“Air putih saja.” jawab Inoo langsung.

Keheningan kembali menyelimuti mereka, Arina meletakan gelas berisi air mineral dingin di hadapan Inoo dan duduk di sampingnya.

“Aku.. merasa ada yang tidak beres, rasanya ingin putus saja dengan Miharu.” ujar Inoo memulai obrolan tiba-tiba, kebetulan Sora juga baru saja keluar dari kamarnya dan mendengar kata-kata Inoo.

“Apa katamu?” cecar Sora, “Langsung mengambil keputusan bodoh begitu.” kemudian menempatkan dirinya disisi Inoo juga.

“Begini loh ya, aku rasa Miharu dan Yamada itu bukan hanya sekedar untuk training wawancara saja, tapi pasti ada iyaiya nya.”

“Apa-apanya mungkin,” sahut Arina jutek.

“Itu maksudku.” Inoo tak mau dipersalahkan, “Dia lebih sering keluar dengan Yamada. Padahal kan aku kangen.” lanjutnya dengan gaya sedikit berlebihan.

“Ya.. Aku sih tidak memikirkan soal itu, Arina saja kelihatan santai. Ya kan?”

“Santai apanya, Sora-nee?! Kalau aku bertemu dengannya nanti, ingin kubuang dia ke lautan yang penuh dengan ikan piranha.” Oke, kalau sudah begitu Sora dan Inoo hanya bisa diam.

Keheningan kembali terjadi diantara mereka berdua. Inoo juga sebenarnya bingung ingin bicara apalagi.

Tiba-tiba..

“Aku datang, Miki….” Sosok pemuda pendek itu membuat semua eksistensi yang ada di ruang tamu menatapnya, dalam diam.

“Miki… mana?” Merasa ada kecanggungan akhirnya Chinen lebih memilih untuk bertanya akan keberadaan kekasihnya. Walaupun mereka tidak saling bicara, sebagai kekasih yang baik Chinen selalu datang untuk melihat Miki. Bukan hanya Chinen, Inoo yang ‘dibuang’ oleh Miharu pun juga begitu.

Segera Sora mendengus, “Entah dia juga pergi dari pagi tadi. Padahal, biasanya di hari Senin ia pulang cepat dari kampus,” tutur Sora yang sangat hapal dengan jadwal Miki.

Penjelasan dari Sora membuat Chinen berdecak, “Tadi aku cari di kampus juga dia tidak ada.” ucap Chinen, nada bicaranya terdengar kalau pemuda itu sedang kesal.

Inoo seakan di sambar petir, langsung menyuruh Chinen duduk disampingnya, menggeser posisi Arina memberi ruang untuk Chinen, “Kocchi, kocchi..” baru ingat tujuan awalnya datang ke sini untuk apa.

“Ada apa?” tanya Chinen penasaran, “Sepertinya penting sekali.” ujarnya lagi.

Kemudian Inoo mengeluarkan handphone-nya, “Ini genting. Tadi pagi aku ingin ke apartemen Yuya, main saja sekalian kesini sama-sama tapi aku tidak sengaja melihat ini.”

Tak menjawab apapun, Chinen, Sora dan Arina lebih memilih untuk melihat apa yang ada di handphone Inoo.

Tak lama, terlihat rekaman Miki dan Takaki sedang berada di dalam apartemen Takaki, kelihatannya Inoo sempat masuk setengah ruangan Takaki.

Mereka sedang berhadapan saling memandang satu sama lain, langkah Takaki mendekati Miki yang sedang berada dapur, membelakangi kamera.

Tapi mata mereka hapal kalau itu adalah tubuh mungil Miki, dipeluknya tubuh gadis itu oleh Takaki.

“Yuyaa~ geli ah,” entah apa yang Takaki lakukan oleh gadis itu hingga Miki bergidik geli.

Kemudian, terlihat Takaki menarik lengan Miki dan memojokkannya di dinding, menatap mata gadis itu lurus mendekati wajahnya pada wajah gadis itu.

Chinen yang menonton mulai geram.

“Miki-chan,” suara Takaki terdengar sangat serius, “aku… menyukaimu.”

“Tapi bagaimana dengan Sora-nee?”

“Jangan pikirkan dia,” Takaki acuh, “hatiku sekarang hanya ingin kamu, Miki.”Kembali, mata pemuda itu menatap mata Miki menunggu jawaban dan Miki.

Ada keheningan sebentar dari mereka kemudian terlihat samar Miki mengangguk, dan kemudian Takaki lebih mendekatkan wajahnya ke arah Miki.

PRANG!!

Handphone Inoo hancur di lantai detik itu juga karena ulah Chinen yang membantingnya.

Tadaimaaa~” bersamaan dengan itu, Miki masuk ke rumah dan melihat kelakuan Chinen, hanya ada keheningan di antara mereka.

Dengan Sora kembali masuk ke dalam kamar membanting pintu dan Chinen yang pulang tanpa pamit bahkan mengatakan sepata katapun.

“Oi, handphone-ku!” Inoo masa bodo dengan reaksi mereka, malah memikirkan handphone-nya yang hancur.

Sedangkan Arina, ia menyuruh Miki masuk ke kamarnya untuk diintrogasi.

“Heh, apa yang sudah kau lakukan, Miki?” marah Arina setelah mengunci kamar Miki. Sementara gadis yang dimarahi terlihat bingung.

“Memangnya aku ngapain?”

Arina mengendus kesal, “Tidak usah sok polos! Kau selingkuh dengan Takaki kan? Kau punya otak gak sih? Itu pacar temanmu dan kau belum putus dari Chinen kan?”

Miki hanya diam. Namun ia menatap Arina dengan tatapan menantang.

“Ada apa dengan tatapanmu itu, hah? Harusnya kau merasa bersalah!” Arina melotot. Rasanya ia mau menenggelamkan Miki ke samudera Pasifik sekarang juga.

Bukannya menunduk bersalah, Miki malah tertawa keras. Tertawa mengejek orang yang lebih tua darinya itu, “Untuk apa, nee?”

“Apanya?”

“Untuk apa kau mengurusiku sementara Yamada-senpai juga tidak peduli denganmu, nee?”

Arina memandang Miki tidak percaya. Kenapa gadis itu jadi seperti ini? Amarah Arina mulai tidak terkendali lagi.

“Tidak usah mengalihkan—”

“Kenapa? Nee takut kalau itu memang terjadi? Buktinya Miharu-nee lebih suka bersama Yamada-kun, dia juga gitu. Aku benar kan? Memangnya Inoo-kun tidak mengeluh?” tanya Miki semakin menyulut api amarah Arina.

“KAU!!!” geram Arina. Tapi dia segera keluar dari kamar Miki, mencari tempat untuk menenangkan diri.

Miki langsung mengunci kamarnya dan menghela napas lega.

“Arina-nee seram banget, huft..” bisik Miki lemas.Dadanya terasa sesak, untung saja wajahnya tidak pucat.Bisa curiga Arina melihat itu.

Untuk beberapa saat kemudian, Miki masih menenangkan dirinya sampai ia melihat jam dan ternyata sudah jam 9 malam. Dia yakin tidak ada satu orang pun dari penghuni rumah itu yang keluar kamar sejak kejadian itu.

Miki mengambil handphone-nya, lalu menelepon orang yang membuat ide gila ini, “Moshimoshi, Miharu-nee..”

“Gimana? Berhasil?” terdengar nada penasaran dari Miharu.

“Hah, aku takut banget waktu Arina-nee marah. Seram banget, untungnya sih berhasil. Gugup banget deh, serius.” ucapnya sedikit merinding.

“Hahahaha… Sorry, Miki. Aku bikin kamu jadi kena marah gitu. Padahal aku pikir Chinen atau Sora-nee yang ngamuk ke kamu.”

“Wah, itu bisa lebih gawat lagi.” katanya sambil tertawa kecil.

“Jadi mere— ugh, Kei.. Aku lagi bicara sama Miki nih.. Aduh, Miki. Sebentar ya..”

“Un..” Miki mengangguk walau Miharu tidak melihatnya. Dia bisa mendengar sepasang kekasih itu sedang berkelahi kecil karena Inoo yang menggoda Miharu. Dalam hati Miki merasa iri.

“Halo, Miki.. Kau masih di sana?” Sepertinya dia sudah menjauh dari penganggunya.

“Hm… Aku mau juga mesra-mesraan kayak nee..” bisiknya.

“Hahaha… Sana, sama Takaki tuh mesra-mesraan biar Sora-nee makin ngamuk.”

“Huh, Miharu-nee bikin iri! Aku maunya sama Yuri!”

“Sabar, misi kita masih panjaaaang~” Miki mendengus kesal, “Sudah ya, bentar lagi aku pulang. Jya~”

***

Chinen berjalan menelurusi malam. Dia mau melampiaskan sakit hati tapi tidak tahu harus kemana. Ia sudah mengirim email pada teman-temannya, tidak satu pun yang bisa menghiburkan karena berbagai alasan. Tiba-tiba terlintas satu nama di otaknya, ya mungkin pemuda ini mau bisa diajak bicara karena mereka sama-sama sedang patah hati.

Pemuda pendek itu berhenti dan merogoh handphone-nya yang ada di saku celananya, “Inoo?”

Benar dugaan Chinen, pemuda itu menyetujui ajakannya. Tanpa menunggu waktu lama, Chinen segera menuju suatu tempat makan yang sudah ditentukan oleh Inoo.

“Chinen, kau harus ganti rugi!” Seorang pemuda tinggi berparas cantik yang baru masuk ke tempat makan itu langsung menghampiri Chinen sambil menunjukkan layar telepon genggamnya yang hancur, “Syukur syukur tadi masih bisa menjawab teleponmu,”

Chinen tercengang kaget lalu menggaruk kepalanya bingung, “M-maaf. Aku tadi emosi melihat video itu dan gak sengaja….. Maaf deh, aku ganti secepatnya kok,” maafnya. Dalam hatinya ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa menahan emosinya.

Inoo menahan senyum gelinya sekuat tenaga, “Oke, nanti aku tagih.Kalau begitu, sekarang kau yang traktir. Kita makan sampai puas, haha…”

Mau tidak mau Chinen pun mengiyakannya karena rasa bersalahnya itu.

***

Setelah melihat rekaman itu, Sora lebih memilih untuk berdiam diri di dalam kamarnya, tidak menghiraukan kehadiran Takaki ke rumah.

Bahkan, telepon dari Takaki tidak digubris sama sekali.

Musik yang keras terdengar dari kamar Sora, di jam 10 malam seperti ini menganggu gendang telinga seisi rumah.

Ditambah, Sora tidak masak seharian ini. Membuat seisi rumah kecuali Sora merasa kesusahan hari ini.

Merasa sangat terganggu, Arina akhirnya keluar dari kamar dan menggedor pintu Sora “Sora nee, matikan speaker mu itu… Aku mau tiduuuurr…” teriak Arina, selaras kencangnya musik itu.

Musiknya memang enak didengar, hanya musik klasik tapi itu membuat mereka tidak bisa tidur, “Hoii, Sora-nee!!” semakin Arina protes, semakin kencang musik dari kamar Sora.

“Aarghh, pusing!!”

“Ada apa sih?” Miki keluar dengan muka asamnya dan rambut acak-acakan, lengan piyama panjangnya menutupi tangan Miki yang menutup mulut saat menguap, lalu menggaruk kepala belakangnya.

Melihat Miki, membuat amarah Arina semakin jadi, “Ini karena kau!” teriak Arina, “Sora-nee jadi orang stres begitu.”

“Hah? Jangan salahkan aku. Oke, oke, coba aku bujuk.” Karena tidak ada pilihan lain selain mereka berduayangmenghentikanSora. Sementara Miharu belum pulang sampai sekarang. Akhirnya Miki mendekati pintu Sora dan mengetuknya, “Sora-nee…” Miki memanggilnya pelan.

Ajaib bagaikan sihir, musik itu tidak terlalu terdengar kencang lagi, “Tidurlah.. Sudah malam ini, jangan terlalu dipikirkan..” Tak ada jawaban, namun musik itu sudah mati total.

Merasa mengantuk, Arina dan Miki hanya bisa bernapas lega dan kembali ke kamar masing-masing untuk tidur.

Besok paginya, sarapan tak ada di meja makan mereka, sehingga harus membuat Miki masak sendiri, begitu juga Arina dan Miharu.

“Aduh kan repot, ini gara-gara kau sih, Miki!” umpat Arina sambil memasak, Miki tak menjawab hanya mengulum senyum geli.

Diam-diam Miharu juga begitu dan saling melirik satu sama lain.

Sora sendiri sudah tidak ada di rumah, dia pergi pagi-pagi sekali. Ia tidak ingin melihat wajah teman-temannya, apalagi Miki. Sakit hati? Jelas saja. Tapi dia tidak tahu harus sakit hati ke Miki atau Takaki, pacarnya.

Memang diantara mereka berempat, Sora lah yang tertua. Seharusnya dia bisa menahan emosinya dan sebagai contoh untuk Arina, Miharu, dan Miki.Namun, kejadian itu terlalu fatal untuknya. Di dalam otaknya, terus bertanya kenapa harus Miki yang menjadi sasaran si playboy Takaki, kenapa Miki mau dengannya dan kenapa teman-temannya menjadi aneh seperti ini.

Sepertinya Sora harus menyelidikinya untuk tahu jawaban pastinya. Ya, setelah hatinya mulai sedikit tenang.

***

Suara keyboard yang ditekan-tekan dengan kencang—karena aktivitas mengetik— adalah suara yang selalu memenuhi ruang kerja. Tapi bagi Arina sekarang suara itu tidak terdengar lagi. Ia hanya bisa mendengar suara hatinya yang penuh dengan banyak tanya dan kertas kerjanya hanya dilihatnya saja tanpa ada disentuh.

Namun sebuah suara mengalihkan pandangannya, suara sepatu yang berbenturan dengan lantai. Sangat khas, bahkan tanpa melihatnya pun Arina sudah tahu siapa pemilik langkah itu. Yamada Ryosuke, anak pemilik perusahaan ini dan juga kekasihnya.

Biasanya pemuda itu akan meliriknya beberapa detik dan memberikan senyum terbaiknya dan biasanya dianggap Arina dengan risih. Tapi sekarang Arina hanya bisa mengingat dan merindukan hal itu karena Yamada sama sekali tidak melihat ke arahnya. Gadis itu melihat kekasihnya sampai masuk ke ruangannya, kemudian menghela napas.Ia harus fokus, tidak membawa urusan pribadi ke dalam kantor.

“Untuk apa mikirin dia? Dia saja gak peduli, huh!” bisik Arina pada dirinya sendiri.

Di dalam ruangannya, Yamada mengintip dari gordyn, matanya hanya terpaku pada satu karyawan istimewanya, Arina. Dia sedikit tersenyum geli karena tahu kalau gadis itu sedang rindu padanya.

Gomen ne, Ricchan.” ucapnya lalu tertawa kecil.

***

“Apa ini, Ricchan? Kenapa banyak sekali yang salah?!” Suara bentakan memekakkan telinga Arina. Gadis itu sedikit terkejut. Bahkan berkas yang tadi ia kasih ke bosnya itu dicampakkan begitu saja, “Seharusnya kau lebih teliti lagi!”

“Maafkan saya, Yamada–”

“Ryo,” potongnya, “Hanya kita berdua kan di ruangan ini? Sudah berapa kali aku bilang?”

“I-ini di kantor.”

Yamada memutar bola matanya, “Terserahmu.”

“Maaf, akan segera saya perbaiki.” Arina menunduk pada Yamada. Mengambil kertas-kertas yang berserakan di meja kerja Yamada. Ia mengumpat dirinya sendiri dalam hati.

“Ada apa denganmu? Miharu malah lebih cekatan darimu.”

Alis mata Arina berkedut saat nama Miharu disebut dan dipuji oleh kekasihnya, “Miharu?”

“Iya, Miharu temanmu itu. Dia cantik, pintar, teliti, profesional. Aku tidak heran kalau Inoo tergila-gila dengannya.”

“Dari segi apa kau menilainya seperti itu? Memangnya dia pernah membuat ini?” emosinya sedikit tersulut saat Yamada memuji wanita lain dan membandingkannya dengan Arina.

Yamada mengangguk, “Aku pernah iseng menyuruhnya untuk membantu pekerjaanku dan hasilnya sangat bagus. Dia akan jadi karyawan teladan kalau masuk perusahaan ini.”

Arina menatap Yamada kesal, “Jadi maksudmu aku ini buruk?”

“Yah… Buktinya kau tidak bisa fokus dengan pekerjaanmu. Perhatianmu ada di tempat lain. Coba untuk bertindak profesional, jangan membawa urusan rumahmu ke kantor kalau mau pekerjaanmu selesai dengan baik!” kata Yamada dengan wajah serius.

“Hah? Oke, oke. Maaf kalau aku bukan karyawan yang profesional. Asal kau tahu saja, ini semua karena kau!” kata Arina yang tidak bisa menahan emosinya, “Permisi.”

Ia berjalan keluar ruangan itu tanpa menyadari kalau wajah Yamada sudah berubah penuh dengan rasa bersalah dan kemudian tertawa geli. Melihat Arina yang galau itu jarang terjadi.

Gomen ne, Ricchan.” Untuk ke sekian kalinya ia terus mengucapkan kalimat itu.

***

“Sialan dia, awas saja kalau ketemu. Akan ku cincang-cincang. Katanya latihan interview kerja, omong doang. Yang dilakukan malah beda.” umpat Arina selama dalam perjalanan pulang ke rumahnya.

Baru dia memasuki gerbang rumahnya, ia melihat seorang pemuda yang keluar dari mobilnya dan ternyata itu Inoo.

“Inoo-kun?”

“Hai, Arina. Kau baru pulang?” tanya Inoo dengan ramah dan dijawab anggukan dari Arina, “Kenapa wajahmu ditekuk begitu?”

“Bukan urusanmu.”

“Haha… Oke, oke..” Inoo tertawa karena dia sudah tahu penyebab Arina terlihat kusut. Yamada sudah menceritakan padanya, ia hanya ingin menggodanya saja.

“Untuk apa kau kemari? Miharu sekarang pulangnya malam banget. Kayaknya dia gak di rumah deh.”

Arina membuka pintu rumahnya dan melihat Miharu sedang duduk di sofa, sepertinya sedang membaca majalah.

“Nah, itu dia!” ucap Inoo senang.

Ia menghampiri kekasihnya dan memeluknya dari belakang sementara Arina berjalan menuju dapur untuk meminum segelas air. Tenggorokannya kering akibat mengoceh sepanjang jalan.

“Apaan sih, Kei!”

Arina mendengar suara tidak suka Miharu, bahkan dia mendorong kepala Inoo menjauh darinya.

“Kau gak kangen padaku?”

“Tidak! Sana, menjauh dariku!Sudah kubilang kan buat menjauh dulu sampai aku dapat kerja?”

Arina menyerit bingung. Sejak kapan Miharu tidak tertarik pada pesona seorang Inoo Kei? Biasanya gadis itu pun tidak ingat tempat kalau sudah bermesraan dengan Inoo sekalipun dia bilang mau menjauh dari pemuda itu. Jangan-jangan…

“Kau kenapa sih, Miharu? Aku kangen, salah mau mesra-mesraan dengan pacarku sendiri?” tanya Inoo mulai tak sabaran.

“Gak kenapa-napa.”

“Apa menghabiskan waktu dengan Yamada lebih seru?”

Miharu menatap Inoo, “Hah?Kenapa bawa-bawa nama Yamada-kun?”

“Habisnya kau–”

“Ah!! Aku tidak mau dengar penjelasanmu! Pulang sana! Mengganggu saja.” Miharu berjalan meninggalkan Inoo yang masih melihatnya tidak percaya, menaiki tangga menuju kamarnya.

Inoo mengacak-acak rambutnya frustasi lalu melemparkan tinjunya ke kepala sofa, “Lagi-lagi kayak gini, ck.”

Arina yang masih setia melihat adegan perkelahian itu mendekati Inoo, “Lagi? Pernah seperti ini sebelumnya?”

Inoo melirik Arina kemudian mengangguk pelan, “Beberapa hari yang lalu, di cafè.”

Arina melihat Inoo iba. Tak menyangka seorang playboy sepertinya bisa serapuh ini hanya karena gadis seperti Miharu.

“Inoo, aku punya ide.” ucap Arina tiba-tiba.

Inoo mengangkat kepalanya, “Ide apa?”

“Gimana kalau kita ikuti mereka selama sehari? Tapi jangan sampai ketahuan.”

“Hanya kita berdua?”

Arina mengeleng, “Sora-nee dan Chinen juga.”

Inoo mengangkat bahunya, “Terserah saja.”

“Oke.Sekarang kau pulanglah, nanti aku kabari kapan kita berdiskusi.”

Inoo mengangguk, “Maaf sudah membuatmu melihat semuanya tadi.”

Arina mengibas-ngibaskan tangannya kemudian tersenyum, “Sudah, sudah.Lupakan hal itu. Pulang dan tenangkan hatimu.”

“Terima kasih, Arina.Selamat malam.”Inoo tersenyum lembut padanya.Dan ya, Arina yakin cewek-cewek manapun yang melihat senyum itu bisa langsung luluh.

“Selamat malam, Inoo.”

Inoo melangkah keluar rumah, seringainya tak hilang sampai ia menuju mobilnya, karena Miharu menjanjikan sesuatu padanya kalau rencana ini berhasil.

“Cepatlah hari H, aku sudah tidak sabar menanti hadiah dari Miharu dan saat di mana Miharu dan Miki dimarahi oleh mereka. Ahahahaha…”

***

Hari ini, sesuai rencana yang telah Miki dan Miharu katakan kepada Yamada, Inoo dan Takaki mereka akan pergi ke suatu tempat yang membuat Sora, Chinen dan Arina semakin kesal.

Karena, sesuai info dari Inoo mereka akan mengikuti kegiatan Miki dan Miharu hari ini, seharian penuh.

“Ano, Inoo kalau aku dan Sora mengikuti Miharu saja bagaimana?” tanya Chinen di sela perdebatan mereka bagaimana caranya agar bisa mengikuti kegiatan Miharu dan Miki.

Tidak mau termakan cemburu, Chinen dan Sora sepakat untuk mengikuti Miharu saja, ketimbang Miki.

Tapi sepertinya Inoo tak terima, pemuda itu terlihat geram, “Ikuti pasangan masing-masing dong! Masa kau mau mengikuti Miharu? Apa jangan-jangan kau!”

“Tidak begitu…” kata-kata Chinen menggantung, lalu kemudian ia membuang napasnya berat, “baiklah aku dan Sora akan mengikuti Miki.”

“Eeh? Kau ini!” Sora nampak tak terima.

“Hayolah Sora-neechan, benar kata Inoo kita harus mengikuti pacar masing-masing.” merasa kalah, akhirnya Sora hanya bisa menerima keputusan itu.

Hingga hari itu tiba, akhirnya Miki dan Takaki pun memulai aksinya.

“Ayo, Miki,” Takaki dan Miki pun keluar dari restoran, hanya berdua. Dan mereka tahu kalau di belakang Sora dan Chinen sedang membuntuti mereka, tangan Takaki menggandeng Miki sampai ke mobil.

“Err.. kenapa harus pegangan segala?” geram Chinen yang melihat pemandangan itu dari dalam mobil, Sora di sampingnya hanya mendengus.

Tak lama kemudian, setelah Miki dan Takaki masuk ke dalam mobil, kendaraan beroda empat itupun mulai melaju ke jalan raya, langsung saja Sora melepas rem tangan dan mengikuti kemana arah mobil Takaki—sebenarnya kalau di tanya kenapa bukan Chinen yang membawa mobil, itu karena ia tidak bisa mengendarai mobil.

Setelah beberapa jam, mobil mereka akhirnya sampai di sebuah pantai.

Pantai kesukaan Sora, pantai tempat ia dan Takaki sering kunjungi. Sejenak gadis itu berhenti dan hanya menatap Takaki dan Miki yang turun dari mobil lalu berjalan menuju mulut pantai.

Kelihatan senang sekali.

Hey Sora-neechan, parkir dulu.” teguran Chinen membuat Sora tersadar dari lamunannya.

“Oh iya,” baru akhirnya Sora melajukan mobil ke tempat parkir.

Mereka pun keluar, lalu menyembunyikan diri di balik pohon.

“Ck, aku kesal sekali melihat itu.” protes Chinen saat matanya menangkap Miki yang sedang bermain air bersama Takaki, apalagi gadis itu memakai baju sedikit terbuka di hari dingin seperti ini.

“Dasar, Yuyan…..” Kali ini Sora yang geram.

Baru satu langkah Sora bergerak, Chinen menahannya, “Sst, jaga emosimu, nee..” bisik Chinen.

Hingga, mau tak mau walau hati keduanya panas Sora dan Chinen masih tetap memantau mereka sambil sesekali mengambil gambar kemesraan mereka.

Untuk bukti, mungkin.

“Mereka bodoh atau apa? Hari mulai dingin seperti ini malah ke pantai, pakai baju terbuka lagi,” omel Sora dan gadis itu merutuki pikirannya sendiri yang malah mengingat saat dia dan Takaki bermain di pantai itu.

***

Tak berapa lama setelah Miki meninggalkan rumah, Miharu pun keluar dari rumah. Dia merapatkan syal yang ada di lehernya karena udara dingin menusuk kulitnya.

Arina dan Inoo yang melihat gadis itu melenggang menuju ke jalan pun mengikutinya dari jarak yang agak jauh.

“Kau yakin mau mengikutinya tanpa mobil, Arina?” tanya Inoo. Karena yang dia tahu, Miharu tidak bisa mengendarai apa-apa dan hanya menggunakan kendaraan umum atau berjalan kaki. Sementara Arina pasti sejak kecil sudah naik-turun dari mobil.

“Tenang saja, sudah jangan bawel.” jawabnya sekenanya.

Pemuda itu pun memilih untuk diam walau dalam hatinya sudah ingin tertawa sekencang-kencangnya.

Miharu tiba-tiba berhenti, ia membuka tasnya dan mengambil benda yang berbunyi bising dari sana.

“Ah, Ryo-chan!” katanya menjawab telepon itu.

“Heh, Ryo-chan katanya? Sejak kapaaaan?!” geram Arina mendengar percakapan Miharu dengan orang yang sudah pasti Yamada. Arina ingat sekali Yamada bilang kalau yang memanggilnya dengan nama Ryo hanya gadis yang paling dia sayang. Berarti Miharu……?

“Ssst! Kau berisik!” bisik Inoo.

Arina meliriknya kesal, “Memangnya kau tidak cemburu?”

“Cemburu sih, tapi nanti saja melampiaskannya. Aku sudah tidak sabar untuk menghukumnya, terlalu berani membuatku cemburu.” Ada sedikit seringai di bibir Inoo yang membuat Arina sedikit menelan ludah. Dia tahu apa maksud dari omongan Inoo.

“Dasar mesum.”

“Sudah jangan berisik, aku gak bisa dengar dia ngomong apa nih.”

Arina mengendus kesal. Fokusnya kembali pada Miharu yang sedang mengulum senyum manisnya.

“Iya, iya. Aku lagi jalan kok. Oke, jya.”

Miharu melanjutkan langkahnya setelah memutuskan sambungan telepon itu.

Inoo dan Arina terus mengikuti gadis itu sampai Miharu masuk ke sebuah gedung yang besar.

“I-ini….”Arina menatap nanar gedung itu, “Ini kan kantornya Ryo!!!”

“Eh???” kaget Inoo. Matanya tidak kalah lebar dengan mata Arina saat ini.

“Ngapain dia kesini??”

“Ayo kita masuk ke dalam buat cari tau..” Inoo bergerak menuju pintu masuk kantor itu.

“Gak bisa!” Arina menarik jaket Inoo yang membuatnya berhenti, “Aku gak bisa masuk ke dalam.”

“Eh? Kenapa?”

Arina melihat Inoo dengan wajah bersalah, “Aku izin dengan alasan check-up ke dokter.”

Inoo menganga, “Apa? Jadi gimana? Kalau begini sama saja dong.”

Arina menyatukan alisnya, berpikir, “Ah!!”

“A-apa?”

“Kau saja yang masuk, bilang ke resepsionis kau mencari Ryo.”

“Terus kau?”

“Aku akan menunggu di…. hm… Nanti telepon saja aku kalau kau sudah keluar. Kasih tau apa saja yang terjadi, kalau perlu rekam.” jelas Arina.

“Baiklah.” Inoo pun meninggalkan Arina di luar gedung.

Arina berjalan mundur, matanya terus saja melihat gedung itu. Pikirannya berkecamuk. Ada hal apa Miharu sampai ke kantor ini? Ingin bertemu Yamada atau mau melamar kerja? Tapi pilihan kedua sepertinya bukan, karena gadis itu tadi memakai baju santai.Bukan baju formal.

Tak lama, handphone-nya berdering.

Moshi moshi..”

“Aku tidak bisa masuk. Katanya Yamada ada tamu, jadi aku disuruh menunggu.”

“Eh? Siapa tamunya?”

“Mereka gak ngasih tau, tapi katanya cewek.”

Mendengar penjelasan Inoo, Arina bisa menarik kesimpulan kalau itu memang Miharu, “Oke, kita tunggu sampai Miharu keluar saja. Aku masih di dekat gedung kok.”

“Oke.”

Mereka pun bertemu dan mencari tempat untuk bersembunyi.

***

“Apa mereka gak kedinginan? Awas saja kalau mereka merengek sakit nanti, aku gak peduli.” oceh Sora. Rasanya dia ingin segera mendekat, menampar Takaki dan menyeret Miki pulang. Tapi kalau dia melakukannya, mungkin akan membuat keadaan semakin runyam.

“Apa kita perlu mendekat, nee? Biar kita bisa dengar mereka bicara apa saja.” tanya Chinen yang mulai gerah melihat Takaki dan Miki yang kelihatannya sedang bercanda ria. Bahkan mereka bisa mendengar tawa mereka berdua yang terbawa angin.

“Jangan!!” tahan Sora, “Kalau kita mendekat, dimana kita akan bersembunyi?”

Chinen mendengus kesal, ia kembali melihat ke arah Takaki dan Miki, “HEH! MEREKA BERPELUKAN? APA KITA HARUS DIAM SAJA KAYAK GINI?” katanya dengan emosi yang mulai tidak terbendung lagi.

“Cih.” Sora mendecih, kemudian menggertakkan giginya, “Eh, kelihatannya mereka mau pergi tuh. Ayo cepat ke mobil, sebelum mereka melihat kita.”

Chinen mengangguk pasti dan berjalan bersama Sora yang lebih dulu berjalan di depannya.

***

Untuk beberapa menit, Arina dan Inoo masih setia menunggu di tempat persembunyian mereka.

“Eh, Arina. Itu Miharu!” pekik Inoo sambil menepuk pundak Arina.

Arina mengangguk, “Kenapa dia sendiri? Ryo gak ikut?”

Inoo hanya mengangkat bahunya menjawab Arina.

“Dia mau kemana sih?” tanya Arina saat mereka memasuki jalanan yang lumayan sering dia lewati. Tapi dia tidak begitu memikirkannya, kakinya tetap melangkah mengikuti jejak Miharu.

Tak lama, langkah mereka kembali terhenti karena Miharu memasuki sebuah gedung untuk kedua kalinya.

“Ini kan gedung apartemen, apartemen siapa yang dia kunjungi?” tanya Inoo heran, “Apartemen semewah ini pula.”

Arina menatap pemuda itu lalu melihat ke arah gedung, “Ayo masuk.”

“Eh? Kau yakin? Kalau ketahuan kita mengikutinya, gimana?”

“Gak apa-apa, itu lebih bagus.”

Inoo menaikkan alisnya heran, “Eh?”

Mau tak mau, Inoo mengikuti kata Arina. Untung saja mereka belum kehilangan jejak Miharu.

Miharu berhenti di sebuah pintu lalu membukanya dengan kunci miliknya. Arina melihat gadis itu dari kejauhan dengan wajah tidak percaya.

“Miharu punya apartemen?” bisiknya.

Setelah yakin kalau Miharu sudah di dalam apartemen dan tidak ada tanda-tanda gadis itu berada di dekat pintu, Arina dan Inoo mendekati apartemen itu.

“Eh? Disini ditulis Yamada..” tunjuk Inoo pada papan nama yang ada di sana, “Arina?”

Inoo melihat gadis itu membelalakkan matanya membaca papan nama itu dengan mulut sedikit terbuka, pemuda itu yakin kalau gadis di depannya itu sedang berpikiran aneh-aneh.

“Cih.” Hanya itu yang keluar dari bibir Arina lalu pergi dari tempat itu dengan penuh marah.

***

“Ck, sialan!” Chinen membanting tubuhnya disofa saat pulang lagi ke rumah Arina, berkumpul bersama Arina, Sora, dan Inoo.

Otaknya hampir pecah saat ia tahu kalau terakhir Miki pulang malah ke rumah Takaki, bukan ke rumah Arina.

“Aku dan Arina kehilangan jejak Miharu dan Yamada.” ujar Inoo, ikut panik saat itu. Arina dan Inoo saat itu sempat menunggu Miharu di sebuah café di dekat apartemen itu, tapi gadis itu tak kunjung terlihat melintas di sana.

Arina sibuk mondar-mandir di depan sofa, menggigit jarinya, “Aku tidak percaya ini, tidak mungkin Ryo begitu. Ini pasti karena Miharu yang genit ke Ryo!”

“Heh?! Apa kau bilang? Jangan sembarangan!” bentak pemuda cantik itu tak terima.

“Hah? Buktinya, Miharu ke kantor Ryo dan… Apa-apaan itu masuk ke apartemen milik Yamada, dia yang mengincar kekasihku!”

“Jangan asal tuduh, bisa saja kan Yamada pendek itu yang menyuruh Miharu,”

“Aku jadi kepikiran juga, jangan-jangan… Yuya sudah melakukan macam-macam kepada Miki,” ucapan Chinen sukses membuat argumen Arina dan Inoo berhenti. Kepala mereka kompak menoleh kearah Chinen.

“Maksudmu apa, Chinen?” tanya Sora yang sedari tadi hanya diam, tapi kali ini rasanya ia harus ikut bersuara, “Macam-macam seperti apa?”

“Layaknya orang sudah menikah,”

PLAK!

“Jaga omonganmu!” teriakan Sora menggema di rumah besar Arina itu, dan kemudian semua menjadi canggung.

Diam, tidak tahu harus berkata apa lagi.

Serasa asing satu sama lain.

Hingga Miki dan Miharu pulang, mereka tak peduli sama sekali.

Sedangkan, Miki, Miharu, Yamada, Inoo dan Takaki yang sudah membuat grup chat di media sosial sibuk menertawakan mereka melalui chat group tersebut, mengetahui reaksi target mereka dari Inoo.

***

Sora menatap kalender, hari ini tanggal 29 November. Tak lama lagi Desember yang artinya Arina akan bertambah usia dan disusul beberapa hari kemudian adalah ulang tahunnya.

“Tunggu dulu, sebelum Arina ulang tahun sepertinya ada yang ulang tahun. Siapa ya? Kenapa aku gak ingat?” tanya Sora.

Namun ia tidak memusingkan hal itu. Jangankan perayaan, untuk mengucapkan selamat saja rasanya canggung di situasi yang kacau ini.

Sora melemparkan tubuhnya ke kasur, sudah beberapa hari setelah mereka membuntuti Miki dan Miharu dan berakhir dengan perkelahian antar kelompok yang mengikuti pacar masing-masing.

Sora menghela napas, “Apa yang harus kulakukan?” Matanya bergerak melirik jam digital di mejanya, “Ah, yabai! Aku bisa telat!”

***

Arina memainkan jarinya dengan cepat di keyboard komputernya.

“Kurang ajar. Apa lebihnya si bocah itu?” katanya pelan karena teringat dengan Miharu. Semenjak melihat Miharu masuk ke kantornya dan juga ke sebuah apartemen dengan nama pemilik Yamada, membuatnya sensitif mengingat temannya yang satu itu.

Beberapa rekan kerjanya menatapnya ngeri, disekitar Arina terasa aura menyeramkan.

“Apa?” katanya saat sadar dipandangi. Tapi rekan kerjanya langsung melihat ke arah lain dan menjauh dari gadis itu, “Cih. Lihat saja, cukup tinggal di rumahku. Tidak perlu tinggal di hati pacarku juga!!” geramnya.

Layar handphone yang menyala menggangu konsentrasinya, ia melihatnya sebentar.

“Sora-nee?”

“Ah, nanti kau pulang cepat ya.”

“Aku gak bisa, aku lembur hari ini.”

“Kumohon, Arina. Pulanglah sebelum jam 8, bye~”

“Eh? Tung—” sambungan sudah terputus.

Arina mendengus kesal, mau tidak mau dia harus pulang ke rumah sebelum jam 8. Mungkin ada yang penting, “Gimana caranya menyelesaikan ini sebelum jam 8?”

***

Arina menghela napas setelah menutup pagar rumahnya. Ia berhasil pulang sebelum jam 8 dan menyelesaikan semua pekerjaannya. Gadis itu berbalik ke arah pagar saat mendengar mesin sebuah mobil dan sebuah motor.Matanya sedikit membelalak.

“Inoo? Chinen?” Ia melihat ke arah kedua pemuda itu bergantian, “Kenapa kau kesini?” Arina melihat Inoo seperti mau menerkam pemuda itu. Ia ingat perkelahiannya dengan pemuda cantik itu tempo hari.

“Hei, aku diundang Sora kesini. Dan yang waktu itu…. maaf.” ucapnya.

“Eh? Aku juga diundang Sora-nee. Ada apa ya?” tanya Chinen.

Arina mengangkat bahu, “Gak tau, aku juga disuruh pulang cepat olehnya.”

“Kalau gitu, kita tanya langsung saja sama dia.” kata Chinen menanggapi.

Mereka pun berjalan masuk ke rumah besar Arina.

“Eh? Kenapa gelap begini?” heran Arina saat membuka pintu rumahnya. Ia meraba-raba dinding di sebelahnya dan menemukan sakelar lampu dan menghidupkannya.

HAPPY BIRTHDAY!!!!” teriak Sora setelah lampu dihidupkan. Ia melempar confetti dengan hebohnya pada ketiga orang yang menatapnya bingung.

“Sore-nee, ulang tahunku masih dua hari lagi.” kata Arina santai.

Sora mengangguk cepat, “Aku tau itu. Aku hanya lupa siapa yang ulang tahun sebelummu, Arina. Kau ya, Inoo?”

“Ah, bukan.” Inoo menggeleng, “Ulang tahunku sudah lewat dan itu di bulan Juni.”

Semua mata langsung melihat Chinen yang diam saja.Ia melihat sekeliling kemudian tersenyum canggung.

Happy birthday~” ucap Arina, Sora, dan Inoo. Mereka pun heboh melempari confetti pada pemuda mungil itu. Walau ada sedikit rasa canggung.

“Tapi ulang tahunku besok.” ucapnya setelah mereka tidak heboh lagi.

“Walaupun ini kecepatan, setidaknya kita rayakan kan?” ucap Inoo. Sora dan Arina mengangguk mengiyakan, Chinen tersenyum senang.

Sora tiba-tiba teringat sesuatu, ia menarik Chinen ke sofa ruang tengah. Kemudian gadis itu berlari kecil ke dapur dan kembali sambil membawa sebuah kue yang dibuatnya sendiri, ada tiga lilin di atasnya, “Sebenarnya ini mau sekalian merayakan ulang tahun Arina dan aku, makanya lilinnya ada tiga. Hehe…”

“Ya sudah, gimana kalau sekarang acara tiup lilin?” Inoo antusias.Entah dia antusias mau mencolek krim kuenya dan mengoles ke wajah-wajah yang ulang tahun atau dia mau memakan kue itu.

Inoo menghidupkan lilinnya dan tersenyum, “Happy birthday to you~ happy birthday to you~ happy birthday, dear… Happy birthday to you~

Setelah Inoo selesai menyanyikan lagu, mereka saling menatap sambil tersenyum. Memejamkan mata sebentar lalu menarik napas dan meniup lilinnya.

“Horee~”

Selesai menyantap kue ulang tahun itu, rasa canggung diantara mereka hilang.

“Maaf mengganggu kesenangan, tapi ada sesuatu yang harus aku bilang pada kalian.”

“Apa?” tanya Sora, alisnya bertautan.

Inoo mengeluarkan handphone-nya dan membuka sebuah chat dari seseorang, “Begini… Kata seseorang yang aku suruh mengikuti Miharu–”

“Kau masih mengikutinya?” Arina melihat pemuda itu tidak percaya. Dia sedikit bergidik ngeri, “Bahaya punya pacar sepertimu.”

“Ya, mau gimana lagi. Miharu itu cewek yang paling susah kutaklukkan, dia berharga. Jadi gak mungkin aku lepaskan gitu saja.” jelas Inoo, “Bukannya pacar pacar kalian juga berharga?”

Sora, Arina, dan Chinen menatap ke arah lantai. Seakan-akan mencari jawaban di sana. Sementara Inoo sibuk mati-matian menahan diri untuk tidak mengeluarkan seringai atau tawa jahatnya.

“Oke, aku lanjutkan. Jadi, dua hari lagi katanya mereka akan check-in hotel.”

“Mereka? Siapa?” Chinen buka suara, “Miharu dan Miki?”

Inoo mengangguk, “Iya. Bersama Yamada dan Yuya tentunya.”

“Eh? Ngapain?” Giliran Arina penasaran.

Saa… Aku gak tau pasti, katanya main bareng. Tapi memangnya main apa di hotel?” tanya Inoo balik, “Apa kita ikuti saja lagi?”

Mereka berempat saling melirik, sejenak terasa hening. Mereka terlalu banyak membuang waktu untuk berpikir.

“Baiklah, kita ikuti saja mereka. Biar semuanya jelas, jadi kita gak perlu lagi bertengkar karena salah paham kayak waktu itu kan?”Sora angkat suara, “Nah, Inoo. Coba kalau cari tau rencana mereka lebih lengkap biar kita bisa ikuti mereka.”

“Oke.”

***

Sebuah kunci kamar hotel VIP telah ada di tangan Yamada. Tak heran pria itu memang adalah pria paling kaya di antara teman-temannya yang lain.

Mereka sengaja memesan kamar yang ukuran besar karena ini untuk merayakan ulang tahun tiga orang sekaligus, Chinen, Arina, dan Sora.

Namun sepertinya ruangan itu belum di dekor sama sekali oleh mereka, karena Miharu yang meninggalkan mereka saat akan mendekor ruangan untuk membeli beberapa cemilan. Kenapa Miharu yang santai? Ya, karena alat-alat dekor itu ia semua yang beli jadi Miharu anggap tugasnya ‘selesai’ dan hanya ingin melihat kerja Miki, Yamada, dan Takaki.

“Astaga,” gadis itu terkejut saat mendapati kalau Yamada sedang tertidur di kasur, Miki sedang bermain dengan handphone-nya, Takaki ke balkon hotel sedang merokok.

“Kalian ini!” seruan Miharu membuat semua, termasuk Yamada yang sedang tidur melihatnya dan langsung mendekat satu sama lain. Takaki buru-buru membuang puntung rokoknya ke bawah.

“Hmm.. Gomen ne, aku lelah sekali ja—”

“Ini sudah jam berapa? Cepat selesaikan ini sebelum jam 7. Kita sudah mengatur ini semua kan? Kalau gagal di akhir, akan ku rebus kalian semua. Dan… jangan buat hari cuti kalian besok jadi sia-sia,” suruh Miharu memotong penjelasan Yamada, dan dalam sekejap mereka pun mulai bekerja karena ancaman Miharu yang sama bahayanya dengan ancaman dari Arina, tak menutup kemungkinan Miharu ikut turun tangan untuk membantu mereka semua.

“Miring ituuuu.. Kiri lagi!” instruksi Miki saat Takakiakan meletakan balon huruf Y dari kata HAPPY BIRTHDAY, “Ya! Cukup,”

Kemudian, Takaki turun dari tangga dan mengelap peluhnya yang ada di kening, “Fyuuhh, akhirnya,”

Takaki, Miki, Miharu, dan Yamada melihat hasil kerja mereka yang beberapa jam lalu masih sangat berantakan dan kini menjadi rapih.

Kue ulang tahun dengan ukuran besar sudah ada di antara mereka berempat.

Tinggal menunggu kedatangan sang target bersama umpan—Inoo Kei.

Sedang asyiknya melihat hasil kerja mereka, tiba-tiba handphone Miharu berbunyi, tanda adanya pesan masuk.

“Ah, Kei!” kata Miharu menjelaskan saat mereka menatap Miharu seolah bertanya ‘itu siapa?’ dan kemudian mereka mendekat, ingin tahu kabar dari umpan mereka, “Dia bilang mereka akan segera sampai ke hotel ini. Cepat kita keluar, sudah ingat kan kita ngapain saja selama mereka mengintai?”

Semua mengangguk kemudian keluar untuk menjalankan rencana terakhir mereka.

***

“Wuah, hotel ini!” ucap Sora seakan takjub. Ya, hotel paling terkenal di negara itu. Tapi dia tidak heran karena salah satu yang mereka intai adalah orang terkaya di antara mereka, Yamada Ryosuke.

“Jam berapa mereka akan kesini?” tanya Arina tidak sabar.

Inoo melihat ke arah jam tangannya, “Seharusnya mereka sudah jalan menuju ke sini.”

“Hei, hei… Itu Miki!” kata Chinen menunjuk pasangan yang sedang berangkulan, “di belakangnya juga ada Miharu.”

Beberapa pasang mata segera melihat ke arah yang ditunjuk Chinen. Arina mengepal tangannya kuat. Melihat kekasihnya bergandengan tangan dan bermesraan dengan temannya benar-benar menyakitkan. Lebih baik Yamada selingkuh dengan orang lain daripada temannya sendiri. Sora juga merasakan hal yang sama.

“Ayo kita ikuti,” instruksi Inoo.

“Tapi bagaimana kita tau kamarnya? Ini gak mungkin, kita bisa ketahuan kalau jarak kita terlalu dekat.” Pertanyaan Sora disetujui oleh dua orang lainnya. Inoo hanya tersenyum.

“Itu gampang.” Ia melihat ke arah resepsionis dan berjalan ke sana.

Arina, Sora, dan Chinen menunggu dari kejauhan, melihat pemuda itu berbicara sok akrab dengan wanita penerima tamu itu. Tak lama, ia kembali dengan senyum yang semakin mengembang.

“Gimana?”

“Sudah kubilang kan, ini gampang,” ucapnya, “aku hanya menggodanya sedikit dan dengan mudah dia memberikan nomor kamar atas nama Yamada Ryosuke itu.”

Diam-diam mereka merasa bersyukur jurus pria playboy itu bisa berguna di saat seperti ini.

Tak mau menunggu lama, mereka langsung menuju ke tempat tersebut.

“Ini ya kamarnya? Cuma satu?” Terdengar suara Arina berada di depan pintu. Miharu, Miki, Yamada, dan Takaki yang ada di dalam langsung menahan suara mereka.

“Iya, kata staff-nya tadi sih, ini kamar yang besar ada dua kasur king size,” suara Inoo menjelaskan.

“Waw,” Chinen ikut menimpali, Sora dan Arina sudah berwajah masam. Dan kemudian…

“Ah! Tolong! Yuri tolong aku ngh, tidak….. jangan , Yuya,”

“Ryo-chan, ingat Arina akh– tidak jangan lakukan ngh…”

“Oi apa-apaan itu??” Chinen yang mendengar suara itu memanas, padahal itu hanya sebuah rekaman yang dibuat oleh Miharu dan Miki sedangkan Takaki dan Yamada tidak melakukan apapun.

Jika didengar dengan baik, tidak ada bunyi lain selain keluhan Miharu dan Miki. Manusia yang ada di dalam kamar sibuk menahan tawa mereka.

“Ini sudah keterlaluan…” suara Arina terdengar ingin menangis, ditambah suara Miharu dan Miki yang terus mengeluh itu memenuhi telinganya.

“Yuyan kurang ajar!” Baru saja Sora ingin mendobrak, namun Inoo menahannya.

Tangan Inoo menunjukan sebuah kartu untuk membuka pintu tersebut, “Kita punya ini, jangan main dobrak nanti di suruh ganti biayanya kan susah,” ucap Inoo walau ia tahu Sora tidak akan bisa membuat pintu itu hancur, namun tetap saja harus dicegah.

Hingga akhirnya pintu itu terbuka dan mereka masuk.

“…..kok gak ada suara?”

“Oi Inoo, kau ingin mengerjai kami?!”Chinen benar-benar naik pitam kali ini.

Tubuh Inoo berbalik ke arah tiga orang itu, bibirnya menanjak, “Memang,” Kemudian ia menjentikkan jari.

“KEJUTAAAAAAANNNNN!!” tiba-tiba lampu kamar itu terang dan ditambah lagi ruangan tersebut sudah ramai akan atribut ulang tahun.

Miki, Takaki, Yamada, dan Miharu menembakkan confetti ke arah mereka.

Otanjoubi omedetouuu!!” kata Miharu di hadapan Sora dan Arina.

Otanjoubi Om—mpphh!!” sedangkan, Chinen sudah lebih dulu membungkam mulut Miki dengan ciumannya, membuat yang lain terdiam.

Cukup lama, dan akhirnya ciuman itu lepas, “Hukumanmu sudah membuatku marah,”

“Yaaa, yaa, nanti saja lanjutkan hukumannya, sekarang mari berpestaaa~” seru Takaki seakan tak peduli kalau Sora juga akan berulang tahun.

Tapi, akhirnya mendekat karena Sora sedari tadi hanya diam.

“Hm? Kenapa? Mukamu jelek tau,” gurauTakaki, namun gadis itu masih diam hingga akhirnya Takaki memeluk tubuh Sora dengan erat, “Tenang saja, aku dan Miki tidak ada apa-apa.” bisik Takaki, membuat Sora seketika luluh dan kemudian membalas pelukan pria itu.

Sedangkan Arina dan Yamada? Mereka sibuk berdebat walau akhirnya mereka tetap saling berpelukan karena kesalahpahaman yang akhirnya sudah menemui titik terang. Mengetahui selama ini semua hanyalah bohongan.

Gomen, Ricchan.” ucap Yamada, Arina mencibir.

“Kuenya nganggur nih?” Inoo memecahkan atmosfer kasmaran di antara mereka semua. Membuat mereka sadar kalau acara inti daritadi belum di mulai.

Minna minna, karena Yuri ulang tahun kemarin, jadi biarkan dia yang memotong kuenya pertama kali ya!” pinta Miki kepada yang lain, dan dijawab anggukan oleh mereka.

Sesuai permintaan sang gadis Chinen pun memotong kue itu dan menaruhnya di piring kecil.

“Siapa yang akan kau suap pertama kali?” tanya Arina, mencoba memancing lagi keributan di antara mereka.

Chinen yang tahu akan maksud Arina langsung menghampiri gadis itu, yang sedang di rangkul oleh Yamada.Yamada menatap mereka heran.

“Tentu saja aku menyuapimu,” kata Chinen, dan tangannya langsung mengarahkan garpu yang tertusuk kue tersebut ke arah mulut Arina.

Namun kegiatannya berhenti karena tiba-tiba Miki sudah melumuri wajah pria itu dengan krim kue, “Yuri baka!! Aku dan Takaki-kun tidak melakukan apapun!! Jangan suap yang lain selain–haup…” ucapan Miki berhenti saat Chinen menyuapkan kue kemulut Miki yang sedang mengoceh.

“Bawel, aku bercanda tahu, hahaha…” ruangan itu kini di penuhi oleh tawa mereka karena melihat adegan Chinen dan Miki sedangkan gadis paling muda itu hanya menunduk malu karena ditertawakan.

Tak mau malunya bertambah, Miki langsung melumuri semua krim kue itu ke wajah siapapun yang ada di dekatnya, terutama Arina, Sora, dan Chinen.

“Oi, hentikan!! Oi!!” protes mereka bersahutan.

Hari itu, adalah hari yang panjang untuk mereka berdelapan.

***

Yeah~!” teriak beberapa gadis dan pemuda yang sedang menyentuhkan gelas mereka.

“Akhirnya berakhir juga~” kata Inoo setelah meneguk minumannya, “Aku gak perlu dengar ocehan-ocehan mereka lagi,”

Arina menoleh ke arah Inoo dan tersenyum dipaksakan, “Maaf membuatmu lelah mendengar curhatan kami.”

Mereka tertawa, tak ada satupun yang curiga kalau Arina, Sora, dan Chinen sedang merencanakan pembalasan untuk mereka.

Setelah mereka menghabiskan minuman dan cemilan, Arina berdiri di depan Inoo, Miharu, Miki, Yamada dan Takaki. Sora dan Chinen ada di sampingnya, sama seperti gadis itu, mau menghakimi.

“A-ada apa?” tanya Miharu, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang buruk. Miharu merinding karena aura negatif yang begitu kuat seperti menghampirinya.

Gadis itu melirik Miki yang juga terlihat mulai pucat.

“Kalian harus tanggung jawab karena membuat kami harus meliburkan diri hari ini.” ucap Chinen.

“Eh, kami juga meliburkan diri untuk kalian.” Yamada membela diri. Kalau memang itu alasan untuk menghukumnya, Yamada punya banyak alasan lagi untuk meloloskannya dari hukuman.

“Kalau begitu, tanggung jawab karena sudah membuat kami tidak bisa fokus melakukan apapun,”

“Tapi, nee… Kalau gak kayak gitu, acara surprise-nya gak akan berjalan lancar.” jelas Miharu takut-takut.

“Diam!” bentak Arina. Tubuh Miharu langsung menegak, “Jahilmu itu bisa dikurangi gak sih, Miharu?”

Miharu tidak menjawab. Dia lebih memilih untuk menunduk dan merapatkan diri ke punggung Inoo.

Di antara mereka, tidak ada yang lebih jahil dari Miharu. Bahkan dia tidak segan-segan mengerjai semua orang agar rencana jahilnya berjalan sesuai yang dia pikirkan. Masih jelas di ingatan Sora, Arina, dan Miki bagaimana gadis itu mengerjai Miki sampai gadis yang paling muda itu menangis.

“Aku sih gak akan marah atau ngasih hukuman ke kalian,” kata Sora, “aku cuma mau bilang kalau kalian sukses membuat pikiranku bercabang-cabang dengan tingkah gak wajar kalian. Bagian menghukum aku serahkan pada Arina saja.”

“Jadi kalian mau balas dendam nih?” tanya Takaki, mereka mengangguk.

Miharu, Miki, Inoo, Yamada, dan Takaki menelan ludah kasar. Kemudian dalam hati komat-kamit agar hukuman Arina tidak sadis.

Arina menyeringai melihat wajah tegang mereka, lalu tertawa jahat.

“Untuk Miki, kau harus membersihkan rumah ini setiap pagi selama dua minggu,” perintah Arina. Miki kaget, dia bukan orang yang bisa bangun pagi, “Aku akan mengeceknya sebelum pergi ke kantor.”

“Juga, dia harus menurut apa yang aku suruh.” sambung Chinen. Arina mengangguk setuju. Miki menganga tidak percaya.

Pandangan Arina pindah ke kekasihnya, Yamada, “Kau, jangan muncul di hadapanku selama dua minggu.”

Yamada tertawa, “Kita satu kantor, kau karyawanku. Kau lupa?”

“Tidak,” seringai Arina makin lebar, “Di kantor juga begitu. Kita bicara kalau dibutuhkan saja. Gak ada telepon, gak ada email, maupun ke rumah.”

Rahang Yamada seolah-olah jatuh. Tidak percaya kalau gadis yang ia gilai itu benar-benar bertindak kejam kepadanya.

“Untuk Takaki, apa ada yang Sora-nee inginkan?” Sora menjawab dengan gelengan, “Oke, Takaki yang harus belanja untuk dapur kita.”

Semua mata yang iri tertuju pada sosok yang menghela napas lega karena hukumannya tidak sesadis teman-temannya dan masih bisa berduaan dengan Sora.

“Hm… Karena kau yang merencanakan semuanya…” Mata Arina tertuju pada Miharu yang sedang bersembunyi di punggung Inoo, dia tidak mampu untuk menatap Arina yang mengeluarkan aura membunuh padanya. Arina memutar otaknya, mencari hukuman yang tepat untuk gadis jahil dan pacarnya itu. Arina tersenyum saat ide muncul di kepalanya, “Selama sebulan–“

“Sebulan?” pekik Inoo.

“Dengar dulu.” kata Chinen tanpa menjawab kegelisahan Inoo.

“Selama sebulan, Miharu yang memasak—“

Miharu membelalakkan mata, “Memasak? Menu masakanku masih sedikit,”

“—dan tidak bisa bermesraan dengan Inoo sampai tahun baru. Kau bisa minta bantuanku kalau mau pergi kemana-mana.” lanjut Arina, tidak peduli dengan keluhan Miharu.

“APA?!” teriak Miharu dan Inoo serentak.

“Maksud nee, waktu natal dan tahun baru aku di rumah sendirian sementara kalian asyik dengan pacar kalian?” Miharu memijat pelipisnya, “Ini gak adil!”

“Tunggu, Arina. Aku harus menagih janji dari Miharu,”

“Janji?”

Inoo mengangguk cepat, “Iya. Dia janji memberiku hadiah setelah surprise itu berhasil.”

Memang tugas Inoo paling berat karena harus pura-pura tersakiti dan mendengar ocehan dari ketiga orang didepan mereka itu, sementara yang lainnya hanya bermodal gombal yang ditujukan pada pasangan yang sudah diatur oleh Miharu. Jadi wajar kalau pemuda itu menuntut ‘bayaran’ pada kekasihnya.

“Tagih setelah hukuman selesai saja. Waktu masih panjang kan? Bersabarlah sedikit.” kata Sora lalu tertawa kecil.

Inoo menghela napas dan mengangguk pelan, “Tapi aku bisa datang ke rumah ini kan?” Ia tersenyum manis, meminta belas kasihan dari Arina.

“Bisa. Kau bisa kesini tiap hari dan makan masakan Miharu tapi… kau makan di ruang tengah, Miharu makan di dapur. Jadi kalian gak bisa mesra-mesraan.” jawab Arina seakan tahu tujuan Inoo.

“Kalau begitu, mesra-mesra sekarang sebelum dilarang.” Inoo memeluk Miharu yang ada di samping. Miharu sendiri sudah seperti kehilangan nyawanya karena hukuman itu.

“Ya sudah, sekarang nikmati dulu waktu berduaan kalian. Aku dan Arina akan memasak makan malam.” ucap Sora sambil menarik Arina. Ia merencanakan sesuatu.

Sementara Chinen duduk di samping Miki. Takaki mencoba menghibur Yamada yang terpuruk dengan hukumannya.

***

Setelah lama berkutat dengan bahan-bahan masakan di dapur, Arina dan Sora kembali ke ruang tengah membawa nampan dengan piring-piring berisi nasi kare di atasnya.Arina segera membagikannya ke masing-masing orang, sementara Sora balik ke dapur untuk mengambil air minum kemudian dia kembali lagi dan duduk di samping Takaki.

“Ayo dimakan selagi panas.” ajak Sora.

Itadakimasu!”

Namun di antara yang heboh menyuapi mulutnya, Miharu hanya diam.

“Kenapa kau tidak makan, Miharu? Kau tidak lapar?” tanya Arina.

Miharu menggeleng, “Bukan, tapi aku mencium sesuatu yang menyengat… hm, lada?”

Sora tertawa hambar karena sang target mengetahui jebakan mereka, “Ahahaha… bukannya hidungmu jadi lebih sensitif kalau cuaca dingin seperti ini?” katanya, “Makanlah, ini akan menghangatkan tubuhmu.”

Miharu pun mengangguk, ia mengambil kare itu sesendok dengan ragu-ragu. Tapi ia tetap menyuapkannya ke mulutnya dan mengunyahnya.

“HAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!”

Semua mata mengarah pada sosok yang teriak itu.

“Miharu, kau gak apa-apa?” tanya Inoo sedikit khawatir melihat wajah Miharu yang memerah, begitu juga bibirnya. Matanya berair.

Gadis itu tidak menjawab kekasihnya, ia menegak minumannya hingga tandas dan meminum juga minuman milik Inoo.

“INI PEDAS, AKU GAK MAU!!” katanya dengan suara keras. Miharu menengadah dengan mulut menganga. Yamada, Miki, Chinen, Inoo, dan Takaki melihatnya dengan tatapan bingung karena makanan mereka sama sekali tidak pedas, “Sudah kuduga, bau ladanya terlalu menyengat. Gak mau, aku tidak mau memakannya, aku bisa mati,”

Arina dan Sora saling beradu pandang, tak tahan menahan tawa lebih lama akhirnya tawa mereka pecah.

“Selamat, Miharu! Kau baru saja kami kerjai!” ucap Arina disela-sela tawanya. Bahkan tangannya memegang perutnya yang mulai sakit akibat tertawa.

“Apa?” Miharu langsung melihat Arina yang terpingkal-pingkal, “Arina-nee jahat!”

Sora berdeham, menahan tawanya, “Habiskan itu, Miharu. Kalau tidak, kau tidak bisa bermesraan dengan Inoo dua bulan. Atau sampai awal musim semi? Hahaha…”

Miharu menganga, “Kenapa yang lain gak ikut dikerjai juga?”

“Kau kan dalangnya, jelas kalau kau dihukum lebih berat,”

“Ugh!!!” Miharu mendengus kesal. Mau tidak mau gadis itu memakannya perlahan-lahan. Sesekali ia terbatuk, menggeleng-geleng kencang karena tidak tahan dengan rasa pedasnya. Sementara Inoo hanya bisa mengelus punggungnya dan memberinya segelas air.

“Oh iya, kau sekarang tinggal di apartemen ya, Ryo?” tanya Arina yang penasaran sejak dia dengan Inoo mengikuti Miharu.

Yamada menggeleng, “Tidak, aku masih tinggal dengan orangtuaku.”

“Jadi itu apartemen siapa?”

“Apartemennya Inoo yang papan namanya diganti sama Miharu waktu itu. Kenapa? Kau merasa cemburu karena Miharu yang tau lebih dulu kalau aku punya apartemen?” tanya Yamada menggoda, dia mendekatkan wajahnya ke arah Arina.

Arina langsung memalingkan wajahnya, “Tidak. Siapa yang cemburu?”

“Jujur saja dong, Ricchan. Aku tau kau cemburu.” Pemuda itu merangkul pacarnya, Arina hanya meliriknya, “Lihat, pipimu memerah gitu.” katanya sambil mencubit pipi gadis itu gemas. Arina diam, namun sebuah senyuman tipis terlukis di wajahnya.

“Awas kalau menolak ajakanku lagi ya~” ucap Chinen sambil memencet hidung Miki.

Miki tertawa kemudian memeluk pemuda mungil itu, “Iya, Yuri sayang~ Iya~”

Berbeda dengan ketiga pasangan itu, Sora dan Takaki malah hening.

“Kau tidak mau memarahiku?” tanya Takaki heran dengan sikap diam Sora.

“Kau mau aku marahi? Baiklah.”Sora membuat jeda sebentar, “Kenapa kau membawa Miki ke pantai kesukaanku? Juga, kau malah membicakan Miki waktu kita kencan di restoran. Pokoknya kau harus melakukan sesuatu biar aku tidak marah lagi!”

“Hah, itu lebih baik daripada kau diam begitu.” Takaki merangkulnya, Sora memeluk pinggang pemuda itu sambil tersenyum.

“Sudah, sudah cukup bermesraannya. Kalian yang cowok-cowok pulang sana.” ucap Arina yang kumat galaknya, membuyarkan suasana romantis di ruang tengah rumahnya itu.

“Loh, katanya bisa mesra-mesraan sebelum hukuman dijalankan.” Inoo tidak terima, “Jadi aku mau menginap sampai besok.”

“Wah, benar aku juga,” sahut Takaki.

Chinen mengangguk, “Aku juga berencana begitu.”

Alis Arina berkedut, “Hah? Terserah! Awas kalau suara kalian sampai ke kamarku.” Inoo tiba-tiba terbatuk, Chinen menggaruk kepalanya salah tingkah, dan Takaki menjatuhkan sendoknya. Arina berlalu menuju kamarnya sambil menahan tawa dan menggeleng pelan.

Yamada tertawa lebar lalu dia mengacungkan jempol pada teman-temannya kemudian mengekori Arina menuju kamar gadis itu. Semuanya tertawa melihat pasangan aneh itu.

the end

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s