[Minichapter] Suddenly In Love (Chap 3)

Suddenly In Love
By. Kiriechan, Veve dan Dinchan
Minichapter (Chapter 3)
Genre: Romance, Shounen-Ai, Yaoi, Friendship
Rating    : PG-15 tapi nyerempet NC-17, tapi karena gak eksplisit jadi gak aku kunci yaaa
Starring : Hagiya Keigo, Yasui Kentaro, Nagatsuma Reo (Love Tune)
Disclaimer: We don’t own all characters here. Love Tune members are under Johnnys & Associates

photogrid_1480478980877
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil collab gara-gara liat foto anak Love Tune yang oh-so-fanficable banget (?). PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for us! ^^

Reo menguap untuk kesekian kalinya. Dia benar-benar menyesal menuruti permintaan sepupunya menonton film Suicide Squad semalam, jadinya dia kurang tidur dan sangat mengantuk sekarang. Reo menoleh, dia semakin lemas melihat banyak sekali tumpukan berkas di mejanya. “Aku mau istirahaaaaat,” erang Reo.

“Tidur saja kalau capek.”

Reo langsung menegakkan tubuhnya mendengar suara Yasui. Dia tersenyum gugup, buru-buru mengerjakan tugasnya.

Hm?

Reo menatap Yasui, dahinya berkerut melihat Yasui yang diam saja.

Kenapa dia?

Reo diam menatap Yasui, dia heran dengan sikap Yasui yang jauh lebih pendiam dari biasanya. Bahkan yang lain juga kelihatan heran. Reo berdehem, dia beranjak dari tempatnya dan mendekati Yasui. “Dear Mr. Supervisor, ini laporan yang kemarin,” ucap Reo sambil menyerahkan sebuah berkas, “Tolong diperiksa.”

“Letakkan di meja,” jawab Yasui singkat sambil memijit keningnya.

Reo meletakkan berkas itu, dia memijit kening Yasui. “Sepertinya Anda pusing,” ucap Reo, “Pijitan saya memabukkan lho. Semua teman ketagihan dengan pijatan saya.”

Yasui diam, kelihatan sekali dia terkejut. Reo tersenyum, dia memijit lembut kepala Yasui. “Saya bisa memijat Anda kapanpun Anda mau,” ucap Reo, dia mendekat dan berbisik, “Anytime you want, I’ll come for you.”

“Hoi.”

Reo menoleh, dia menatap Hagiya yang menatapnya tajam di mejanya. “Kebiasaan, caper ke atasan,” komentar Hagiya, “kemarin caper ke dosen, sekarang ke Yasui-San. Kalau mau dapat pujian, usaha dong.”

Reo tersenyum, dia melangkah kembali ke mejanya. “Cemburu, ya?” Reo berbisik kepada Hagiya, “aku juga bisa memijatmu kalau kau mau.” Reo tersenyum tipis, dia senang melihat wajah tegang Hagiya.

“Oi, Reo.”

Reo menoleh, dia menatap Hagiya yang mendekatinya dengan senyum mengembang. Hagiya mendekatkan wajahnya, dia berbisik, “Jijik.”

Ming.

Reo langsung melumat bibir Hagiya, dia buru-buru berlari sambil tergelak.

“Jijik, Reo! AH BANGSAT!”

***

Hagiya menyandarkan tubuhnya di sofa. Hari ini cukup melelahkan karena dirinya harus mempersiapkan acara dari Baby Posh, bersama Yasui. Beberapa hari setelah kejadian kemarin Yasui bersikap agak berbeda padanya. Lebih ramah, lebih sering menyapanya, dan yang jelas mereka sering curi-curi saling sapa lewat aplikasi chat. Benar-benar seperti orang pacaran saja. Sampai tadi siang saat Reo menciumnya di depan Yasui. Wajah galak Yasui kembali lagi, semuanya gara-gara Reo.

“Ayo dong angkat,” gumam Hagiya menatap ponselnya yang masih mendial nomor milik Yasui dan belum juga ada jawaban.

“Ya?” setelah percobaan ke delapan akhirnya Yasui mengangkat teleponnya.

“Yasui-san!! Akhirnya.. kenapa tidak membalas chat ku atau mengangkat teleponku?”

“Menurutmu?” jawab Yasui ketus.

“Ayolah.. Reo hanya bercanda.. aku tidak ada perasaan apapun padanya!” tegas Hagiya.

“Bohong,”

“Aku serius Yasui-san,”

“Sudahlah. aku harus istirahat. Oyasumi,”

Baru kali ini dia merasa cemburu. Sangat cemburu sampai dadanya terasa sakit setiap teringat bagaimana Reo mencium Hagiya tadi. Dari semua hubungannya bersama wanita, biasanya Yasui tidak begitu serius. Baginya berpacaran hanyalah sebatas mengisi waktunya saja. Tapi kali ini berbeda, bersama Hagiya dia merasakan ketakutan jika harus kehilangan pemuda itu. Dan rasanya tidak enak. Sejujurnya Yasui memiliki ketakutan tersendiri. Bagaimana dia menghadapi dunia jika sudah memutuskan bersama Hagiya? Bagaimana dengan reputasinya? Bagaimana hidupnya ke depan?

Walaupun sulit, Yasui mengakui bahwa dirinya memang jatuh cinta pada Hagiya, sebagian dirinya sudah siap mengundang Hagiya sepenuhnya tapi sebagian dirinya yang lain gengsi, tidak ingin merusak reputasinya selama ini. Perlahan dibukanya foto yang kemarin dia ambil ketika Hagiya tertidur di apartemennya. Karena mereka berbincang hingga lupa waktu dan Hagiya tertidur ketika menunggunya mandi. Wajah Hagiya terlihat sangat polos dan damai. Hagiya-nya. Cukupkah rasa cinta ini melindungi mereka berdua nantinya? Yasui menghela napasnya. Mematikan ponselnya dan memutuskan untuk memejamkan matanya. Dia lelah.

***

“Yasui san, Otsukare sama,” Matsui Jurina gadis divisi lain yang pernah terlihat berciuman dengan Yasui menepuk bahu Yasui yang sedang menunggu lift. “Bagaimana keadaanmu? Makin akrab yaa dengan kedua anak magang itu,” lanjutnya. Yasui tersenyum mendengar pertanyaan Jurina.

“Anak magang di tempatku semuanya wanita… dan berisik,” Jurina asik menceritakan anak magangnya, sesekali Yasui terkikik mendengar cerita gadis itu. Badan tinggi, cantik, dan selalu menjadi rebutan staff pria. Mungkin hanya Yasui yang tidak merespon Jurina yang belakangan kembali mencoba mendekatinya.

“Ah, liftnya sudah tiba. Ayo masuk,” Yasui sopan mengajak gadis cantik itu masuk. Sesaat terasa canggung karena hanya mereka berdua di lift.

Jurina tiba tiba kembali memeluk Yasui, “aku menunggu momen ini Yasui san”, Yasui mencoba melepaskan pelukan gadis itu, tapi gagal. Tenaganya habis terkuras karena ia masih ngambek dengan Hagiya.

Jurina menempelkan bibirnya. Lift yang langsung berhenti di loby terbuka.

Hagiya berdiri di depan lift tak percaya yang ia lihat. Bagaimana bisa dia asik bercumbu dengan wanita saat ia didiamkan seperti ini! Yasui kaget buru-buru melepaskan Jurina, menghampiri Hagiya untuk menjelaskan, tapi Hagiya cuek.

“Tunggu Hagi, aku bisa jelaskan”,

“Otsukaresama.. ” Hagiya yang berniat mengambil laporannya yang tertinggal mengurungkan niat, memilih untuk pulang.

Ah! Sial! Batin Yasui kesal. Jurina yang melihat sedikit ngeri.

“Ah, Jurina maaf aku harus pulang dulu. Hati-hati diperjalanan pulangmu. Byee…”. Yasui mencoba mengejar Hagiya. Terlambat. Hagiya memilih naik taksi agar Yasui tak bisa mengejarnya.

***

Yasui mencoba menghubungi Hagiya, tapi tak satupun pesan maupun telpinnya yang direspon. Sial berkali lipat rasanya. Setelah sebelumnya ia memergoki Reo mencium Hagiya, sekarang gantian, Hagiya melihatnya dicium Jurina. Tapi kenapa ia sepanik ini?

Berkali kali ia coba hubungi Hagiya, tapi masih tak ada respon.

/Aku sudah tak peduli kau dicium Reo atau bagaimana,
Tapi tolong dengarkan dulu penjelasanku tentang Matsui Jurina.
Aku bisa jelaskan semuanya
dia mendadak menciumku di lift.
Percayalah Hagi/

Send.

Yasui merebahkan tubuhnya di kasur. Benar benar beberapa hari yang melelahkan.

Sementara itu Hagiya yang membaca pesan singkat dari Yasui tersenyum geli. Aku akan pura-pura marah ke Yasui!

***

“TIDAAAAKKKK!”

Pagi hari dihebohkan dengan teriakan Reo. Dia mengobrak-abrik mejanya, wajahnya jelas sangat panik. “Dimana laporan magangku?! Dimana dimana DIMANA?!” Reo sangat panik, dia melempar-lempar semua map ke segala arah hingga kertas-kertasnya berhamburan.

“Ohay…… Apa-apaan ini?!”

Seisi ruangan–kecuali Reo yang masih panik–terkejut mendengar suara Yasui. Yasui muncul, matanya melebar dan memberikan ekspresi kaget bercampur marah. “Nagatsuma Reo!” Yasui menahan Reo, “Kau jangan mengacaukan ruangan!”

“Persetan dengan ruangan, laporan magangku hilang!” balas Reo. Dia memberontak dan kembali mengobrak-abrik ruangan.

Yasui mendengus, dia menangkup pipi Reo dengan kedua tangannya dan mendekatkan wajah Reo ke wajahnya. “Panik tidak akan menyelesaikan apapun, Nagatsuma,” ucapnya.

Reo diam, jantungnya berdegup tidak karuan melihat wajah Yasui dari jarak sedekat ini. “Sekarang bereskan dulu semua kekacauan ini,” ucap Yasui tenang, “ayo semua, bantu Nagatsuma.”

“Tapi laporannya…”

“Bagaimana kau bisa menemukan laporanmu dalam keadaan ruangan berantakan begini?” Yasui menyahut, “sambil membereskan, kau ingat-ingat dimana terakhir kali kau menyimpannya.”

Reo termangu, dia terdiam melihat Yasui. Di satu sisi, Yasui sangat jahat seakan dia adalah reinkarnasi diktator dunia. Tapi, di sisi lain Yasui juga tenang dan mampu menyelesaikan masalah tanpa kepanikan. Benar-benar dewasa.

Sesuai, lah, dengan usianya yang tidak muda lagi.

“Oi, Reo.”

Reo berhenti, dia menoleh kearah Hagiya yang menatapnya datar. “Aku cuma mau memberitahu kalau laporan magang yang kau cari sudah dikumpulkan kepada dosen pembimbing dua hari lalu,” ucap Hagiya.

.

.

“REO NAGATSUMA!”

***

Setelah kekacauan yang dilakukan oleh Reo tadi pagi, kelihatannya mood Yasui memburuk. Beberapa kali Hagiya melihat wajah Yasui yang tidak bersahabat dan membuatnya takut. Padahal beberapa hari ini Yasui terlihat lebih santai dan menyenangkan.

“Hagiya-kun, bisa ikut aku sebentar,” aksi ngambeknya pada Yasui memang belum berakhir, tapi karena ini di kantor ia tidak bisa menolak karena bisa saja ini masalah pekerjaan.

Hagiya mengikuti langkah Yasui masuk ke sebuah ruangan meeting kedap suara, air muka Yasui sama sekali tidak berubah sejak tadi.

“Aku ingin.. kita melupakan apapun yang terjadi antara kita,” nada suaranya dingin. Hagiya kaget dengan apa yang diutarakan oleh Yasui.

Chotto Yasui-san!” Hagiya mendekat namun Yasui mendorong bahu pemuda itu.

“Yappari.. aku tidak bisa suka pada pria. Tempo hari aku hanya terbawa suasana,” Yasui menolak memandang Hagiya yang kini terlihat terluka.

“Jangan bohong!” seru Hagiya, “Kau berharap aku bisa percaya omong kosongmu itu?!” setelah semua yang terjadi, ciuman ciuman itu, sentuhan sentuhan yang bahkan belum pernah Hagiya rasakan sebelumnya. Mustahil Yasui tidak merasakan apapun padanya.

“Lupakan semuanya,” Yasui memandang mata Hagiya dengan tatapan yang sulit Hagiya kategorikan, “Aku sudah berpacaran dengan Jurina dan kurasa itu sudah cukup jelas, aku tidak menyukaimu,” bibir Hagiya mendadak kelu, “Tolong bersikaplah profesional. Aku tau kau masih mahasiswa, tapi kau staff di sini,” setelah berkata demikian Yasui meninggalkan ruangan, meninggalkan Hagiya yang terluka dan tidak percaya dengan apa yang ia dengar tadi.

***

Untuk beberapa saat Yasui menunduk di dalam toilet. Hatinya sakit, tapi ini adalah suatu hal yang menurutnya benar untuk dilakukan.

Hagiya bisa jadi menyukainya, tapi sikapnya belakangan sama sekali membuatnya bingung. Di lain pihak Yasui menolak meninggalkan egonya, memilih peran sebagai pria normal yang digilai wanita.  Itu yang dia pilih, dan untuk itu dia harus meninggalkan Hagiya sekarang juga. Sebelum perasaannya semakin dalam pada pemuda itu.

Yasui berpikir semalaman, setelah semua yang terjadi antara dirinya dan Hagiya dalam waktu yang sangat singkat seorang Hagiya mampu merebut hatinya, meruntuhkan egonya. Ini adalah pengalaman pertamanya jatuh cinta pada seseorang, tapi ternyata hatinya lebih sering sakit, hatinya kebanyakan bingung dengan sikap Hagiya dan belakangan malah membuatnya tersiksa.

Mereka tidak bisa menjadi pasangan normal yang mengumumkan pada dunia bahwa mereka bersama, setidaknya begitu menurut Yasui. Tapi kali ini logikanya mengambil alih pengambilan keputusan. Bahwa bersama Hagiya terlalu banyak hal yang harus ia korbankan. Jujur saja dia tidak sanggup.

Maka Yasui memutuskan untuk melanjutkan hidup, memilih Jurina sebagai tamengnya hingga paling tidak Hagiya benar benar meninggalkan hidupnya.

***

Hagiya terhuyung jalan ke mejanya. Apa yang salah dengan Yasui? Baru malam sebelumnya ia bilang tidak ada hubungan, kenapa tiba tiba? Hagiya menyenderkan kepalanya di meja, tapi justru wajah Yasui yang minta sentuhannya muncul dalam otaknya. Ah! Hagiya menuju pantry, secangkir kopi panas mungkin bisa meredakan kepalanya. Di tempat ini pertama kali ia memimpikan Yasui. Pertama kali pula ia dapat menyentuh Yasui.

Air panas ia tuangkan ke cangkir kopinya saat tiba-tiba Jurina masuk. Jantung Hagiya berdetak sangat kencang. Sesaat ingin memukul gadis itu, tapi dengan motif apa? Hagiya masuk smoking room dengan kopi yang dibawanya. Satu batang habis tanpa disadari. Otaknya terlalu kacau untuk berpikir logis.

Semuanya terjadi begitu tiba-tiba.

“Oi sampai kapan kau di dalam sana? Uhuuk uhuuk” Reo tiba tiba membuka pintu dan terbatuk oleh asap Hagiya.

Masa bodoh, Hagiya mematikan rokok keduanya dan berjalan meninggalkan Reo yang masih bingung.

Sial! Kenapa orang ini selalu membuatku makin penasaran tiap hari? Batin Reo seraya menatap punggung Hagiya yang menjauh.

***

Sudah sebulan sejak Yasui memutuskan berpisah dari Hagiya. Sebulan juga Hagiya masih tidak terima perlakuan Yasui yang tiba-tiba berubah. Yasui masuk ke ruangan, disusul Jurina di depannya. Hagiya makin kesal, sejak kapan divisi Humas menjadi sedekat itu dengan divisi penjualan?

“Yasui san, ini laporan yang tadi kau minta,” sengaja Hagiya mendekat. Dijatuhkannya laporan dengan sedikit keras, terpaksa memang. Untuk mengambil perhatian dari atasannya itu.

“Hagiya kun ya?” Jurina mebaca nama id card Hagiya. “Yasui sering sekali membicarakanmu, ternyata kau memang tampan yaa” jurina tersenyum, rasanya Hagiya masih ingin memukul gadis ini, tapi ditahannya.

“Terima kasih,” Hagiya berakting tersenyum dan seolah biasa saja.

Yasui curi curi pandang ke Hagiya, sesekali membuang tatapannya ke tempat lain, takut ketahuan.

“Tinggalkan saja dulu, nanti ku koreksi” Jawabnya singkat.

***

Reo baru akan pulang saat dilihatnya Hagiya melamun di mejanya. Reo diam sejenak, dia menghela napas dan mendekati Hagiya. “Oi, pulang yuk,” ajak Reo, “kau mau menginap disini?”

Hagiya tidak menanggapi, dia bahkan mungkin tidak menyadari kalau Reo di dekatnya. “Hagiya,” panggil Reo, “woi maniak bokep, ayo pulang.”

Masih tidak ada tanggapan dari Hagiya. Reo mendengus, dia menoleh dan lantas berteriak. “Ya ampun Yasui-San dan Jurina-San ciuman hot sekali!”

“Mana?!”

Reo melirik jahil Hagiya yang tampak panik, dia tergelak. “Dasar bodoh,” Reo menoyor kepala Hagiya, “logikanya, mana mungkin aku berteriak sekeras itu kalau mereka benar-benar disana hah?”

Hagiya berdecak, dengan wajah kesal dia berjalan meninggalkan Reo. Reo berlari mengejar Hagiya, dia merangkul kawannya itu seraya berkata, “Sudahlah, jangan terlalu memikirkan Yasui-San. Dia bukan jodohmu.”

“Bukan urusanmu,” sahut Hagiya cuek.

“Kau ini aneh,” ucap Reo, “sudah jelas Yasui-San menolakmu, kenapa kau masih saja mengharapkannya?”

“Kubilang bukan urusanmu,” Hagiya mulai kesal.

“Lihat aku.”

Hagiya menghela napas, dia menatap Reo yang juga menatapnya. “Aku ada disini, jadi berhenti melihat yang sudah tidak mengharapkanmu,” ucap Reo, “aku ada di hadapanmu, jadi berhentilah mencari yang bahkan tidak lagi menyadari keberadaanmu.”

Hagiya terdiam, jelas sekali dia terkejut dengan ucapan Reo. “Aku sangat menyayangimu, jadi lihatlah aku,” ucap Reo, “kumohon.”

Hagiya terdiam beberapa saat, dia hanya menatap Reo. “Nagatsuma……” Hagiya berucap lirih.

“Bagus, ya, dialognya.”

Ngek.

“BANGSAT!” Hagiya menendang kaki Reo, dia langsung melangkah pergi. Sialan sekali Reo itu, sudah serius ternyata cuma dialog. Kebanyakan nonton drama jadinya begitu, tuh.

Reo tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah kesal Hagiya, perlahan tawanya reda dan berganti dengan tatapan sendu. “Setidaknya lewat dialog itu kau bisa menyadari perasaanku,” ucap Reo lirih. Dia menghela napas panjang, lalu berlari mengejar Hagiya. “Sayaaaaang, ngedate yuuuuk,” goda Reo.

“Jijik, bangsat!”

***

Hagiya menyibukkan dirinya. Apapun yang bisa ia lakukan untuk melupakan sakit hatinya setiap melihat Yasui dan Jurina bersama. Mungkin Yasui benar-benar mencintai Jurina, dan sudah saatnya dia move on. Tapi bagaimanapun mudah mengatakannya, melakukannya adalah hal yang sangat sulit. Padahal sudah lewat hampir empat bulan, bahkan Yasui tidak pernah mengungkit apapun, terlihat cuek, sikapnya kembali seperti mereka pertama bertemu, tapi Hagiya baru mengerti, mencintai seseorang tidak berarti akan selalu membahagiakan.

“Dokumen yang aku minta, sudah selesai?” Hagiya tersadar dari lamunannya, Yasui berdiri di samping mejanya. Dan seperti biasa, masih memberikan efek pada jantungnya,”Hagi…” ucap Yasui lagi karena Hagiya malah bengong menatapnya.

“Ah iya Yasui-san! Ini…” Hagiya mengambilkan dokumen yang Yasui maksud dan setelahnya seniornya itu langsung berlalu dari hadapannya.

“Kentarooo..” Hagiya melihat Jurina berjalan ke ruangan mereka dan setiap melihat Jurina, Hagiya merasakan ketidaknyamanan saat melihat interaksi keduanya apalagi empat bulan terakhir Jurina sering sekali ke sini.

“Malam ini ikut pesta perpisahan Shingo-san, kan?” tangan Juri meraih lengan Yasui dan wanita itu bergelayut manja pada Yasui.

“Tentu saja,” jawab Yasui, “Ini belum jam istirahat, Jurina..”

“Tapi aku kangen Ken-kuunn,”

Hagiya masih melirik keduanya dan walaupun dia hanya bisa mendengar sedikit percakapan mereka, hatinya sakit sekali dan Hagiya menghela napas. Sabar… hanya perlu bertahan dua minggu lagi.. dua minggu lagi!! seru Hagiya dalam hati.

“Hagi.. kau bisa membunuh dengan tatapanmu itu!” Hagiya merasakan sebuah tepukan di pundaknya, Abe Aran, teman satu divisi yang kubikelnya bersebelahan dengannya, “Sudah telepon pihak Onsen untuk field trip minggu depan, kan?” Aran dan dirinya memang ditunjuk sebagai penanggung jawab untuk mengatur perjalanan ke onsen untuk divisi Humas sebagai acara akhir tahun dan sekaligus perpisahan untuk anak magang sebelum ada keputusan apakah Hagiya dan Reo akan direkrut menjadi staff tetap di musim semi tahun depan.

Melihat keadaannya sekarang, dia berharap tidak direkrut saja. Harus melihat pemandangan Yasui dan Jurina setiap hari? Sepertinya dia akan cepat mati kalau benar terjadi. Maka Hagiya sudah mulai mencari pekerjaan baru, “Sudah Abe-san, semuanya sudah dipersiapkan,” jawab Hagiya.

“Oke.. bus sudah siap, jangan lupa persiapkan pertunjukanmu dengan Reo, ya?”

“Eh? pertunjukan apa?!” seru Hagiya. Dia baru dengar.

“Aku lupa bilang ya, sebagai anak magang kau harus tampil sebagai perpisahan. Walaupun aku yakin sih, kau akan direkrut sebagai staff tetap,” katanya.

“Tampil apa ya?” Hagiya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Bicarakanlah dengan Reo,” Aran menepuk bahu Hagiya.

“Araaannn.. ayo makan siaaanngg!!” terlihat Myuto lewat sambil memanggil Aran, “Katanya mau traktir,”

“Jya!! Ganbare!!”

Reo dan Hagiya tampak asik membahas apa yang akan mereka tampilkan di acara perpisahan dikantir perusahaan. Beberapa kali keduanya terkikik sambil memperagakan sesuatu. Dari kejauhan tampal Yasui yang seda bersama Jurina menatap keduanya. Rupanya dia sudah bisa tersenyum lagi, semoga keputusanku tidak salah, batin Yasui sakit.

***

“Hagiya san, Nagatsuma san ikut saya sebentar ke ruang meeting,” Pagi-pagi Yasui sudah memanggil keduanya. “Direktur kemarin menemuiku dan memutuskan merekrut kalian berdua,” Reo dan Hagiya tercengang mendengar tawaran itu. Reo. “Pikirkanlah dulu, jangan terburu-buru mengambil keputusan.” Yasui mengakhiri dan keluar dari ruangan

“Jadi kau ambil nih, Kei?”

“Entahlah, mungkin tidak,” jawab Hagiya sambil masih menatap Yasui yang berlalu

“Kau masih sakit hati dengan Yasui san dan Jurina san yaa? Ayolaaah aku kan ada di sini” Reo merangkulkan tangannya ke leher Reo. Reo tidak menolaknya

“Sudah, yuk kembali ke ruangan” Hagiya tersenyum melepas rangkulan Reo.

Reo menghembuskan nafas panjang.

“Sampai kapan kau menunggu Yasui yas?” sedikit suara ditinggikan.

Hagiya terhenti, “Sampai aku lelah,” jawabnya pelan tanpa melihat Reo

Sudah hampir jam pulang, Hagiya masih sibuk menyelesaikan tugasnya yang menumpuk. Lehernya terasa pegal, matanya juga karena terlalu banyak menatap layar komputer. Lirikan matanya mengikuti langkah Yasui yang keluar ruangan, diam dia ia menyusul Yasui.

Ruang 2×1 itu pernah menjadi sejarah keduanya. Hagiya tak menampik ia rindu kulit dan sentuhan Yasui setelah beberapa bulan terakhir ia tak lagi berinteraksi secara intim dengan atasannya itu. Yasui masih asik merokok sambil memainkan smartphonennya. Tampilannya sedikit berantakan, entah memikirkan apa. Hagiya menatap dari kejauhan, sosok Jurina tiba tiba masuk dan menyerang Yasuidengan agresif. Yasui tidak melawan. Rasa sakit yang dirasakan Hagiya menyeruak kembali. Hatinya panas, sakit. Tak lama Jurina keluar dari smoking room dengan wajah kesal. Yasui masih terduduk di smoking room, memegang kepalanya. Tanpa sadar Hagiya masuk menghampiri Yasui menyudutkannya lagi di tempat dan posisi yang lama.

“Hagiya, apa yang kau lakukan. … berhenti…” Yasui mencoba menghindari Hagiya. Tapi Hagiya yang pikirannya kosong tak peduli perlawanan Yasui.

Ciuman mendadak ditujukan ke bibir Yasui, begitu kasar dan buas. Yasui masih melawan, Hagiya terus memaksakan ciumannya.

Yasui mengerang, nafasnya berat.

“Hagi stooop… uuuh Hagi…” nafas Yasui semakin berat menangkap setiap serangan Hagiya yang tanpa sadar sudah melepas paksa kancing baju Yasui

“Aku tidak bisa menahan lagi Yasui-san!” Hagiya menggigit Yasui, dari leher turun dan turun. Yasui nyata tau kalau ia merindukan belaian Hagiya dan kali ini benar-benar nikmat.

Hagiya nyaris khilaf saat dia menyadari desahan Yasui. Hagiya melepas ciuman agresifnya. mendorong pundak Yasui, nafasnya satu-satu seakan habis berlari marathon. Hagiya menatap Yasui dengan sedih.

“Maafkan aku, aku hanya ….. melihat Yasui san dan Matsui-san barusan, ternyata memang tidak bisa,”  Hagiya memundurkan langkahnya. Perlahan membenarkan kemejanya dan pergi meninggalkan Yasui.

Yasui duduk lemas. Sakit. Ia benar benar lebih menikmati belaian Hagiya daripada Juriya.

***

Reo bersiul, dia membereskan mejanya bersiap untuk pulang. Reo baru menyandangkan tasnya saat dia melihat Hagiya muncul dengan wajah sedih. Reo menghela napas, dia tersenyum dan langsung merangkul Hagiya. “Yo, Man!” Reo berucap ceria, “makan, yuk. Aku lapar, nih.”

“Aku tidak lapar,” ucap Hagiya.

“Ck, aku traktir deeeh,” bujuk Reo, “ya ya ya ya? Pleeease.”

Hagiya menghela napas, dia akhirnya mengangguk. Reo langsung mengajak Hagiya keluar, dia merangkul kawannya itu akrab. “Aku sudah menduga sejak awal kalau Abe-San dan Morita-san punya hubungan khusus,” ucap Reo mengoceh, “tadi aku melihat mereka berciuman panas di pantry. Iyuwh, menjijikkan sekali.”

“Hm,” jawab Hagiya cuek.

“Aku jadi curiga, jangan-jangan Morohoshi-san dan Sanada-san juga berpacaran,” ucap Reo.

Dan keempat orang itu bersin bersamaan.

Reo menoleh, dia menghela napas dan menghadapkan Hagiya kearahnya. “Ayolah, sampai kapan kau seperti ini?” ucap Reo, kedua tangannya menggenggam bahu Hagiya, “kau tidak bisa seperti ini terus.”

“Aku melihat mereka berciuman,” ucap Hagiya pelan.

Reo menghela napas lagi, dia kesal Hagiya masih saja mengharapkan Yasui. Reo merangkul Hagiya lagi, dia mengajak pemuda itu berjalan keluar kantor. “Kita makan saja dulu,” ucap Reo, “let’s seishuuun!”

“Reo…”

“Ya?” Reo menoleh.

“Cium aku.”

Reo menatap Hagiya. “Cium aku,” sahut Hagiya, wajahnya entah sedang marah atau senang Reo tidak mengerti. “Ah, nanti kamu teriak-teriak lebai, ogah,” ucap Reo.

“Ya sudah,” Hagiya berlalu.

Reo menatap Hagiya yang berlalu, dia akhirnya meraih Hagiya dan mencium bibir pemuda itu. Reo bodoh, kenapa dia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini?

Yasui diam, tangannya mengepal keras dan menatap geram Hagiya dan Reo. Yasui mendengus, dia akhirnya berlalu dari tempat itu.

***

To Be Continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s