[Multichapter] ITS REASON (#4)

Its Reason
By: kyomochii
Genre: Drama, Friendship, Romance
Rating: PG-15
Cast: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Kouchi Yugo, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Morita Myuto, Yasui Kentaro, Sanada Yuma, Hagiya Keigo (Love Tune as Figuran); Ichigo Yua, Kirie Hazuki, Kimura Aika, Akane Hayakawa (Ayaka), Nishinoya Chiru, Suomi Risa, Takahara Airin, Hideyoshi Sora (OC)
Disclaimer: Thanks to All My “Rusuh Random” Friends Who Lend Their OC for This Story.
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Setelah cukup yakin sudah menyusun tugasnya dengan benar, Yua memberikan pandangan puas ke arah kedua temannya.

“Akhirnya selesai juga, yay!” seru Shintaro, mengundang Yua dan Juri untuk ber-high five dengannya. Juri mengangkat tangannya dengan enggan, lalu memutuskan untuk pergi lebih awal kalau memang sudah tidak ada yang harus dia kerjakan lagi.

Yua dan Shintaro memandangi kepergian Juri dengan penuh tanda tanya. Sudah beberapa hari, Juri tampak tidak bersemangat seperti biasanya. Seperti ada yang sedang mengganggu pikirannya.

“Menurutmu, apa Juri sedang menghindariku karena aku dekat dengan Taiga?” tanya Yua meminta pendapat Shintaro.

“Lah, memang kenapa Juri harus menghindarimu?” Shintaro balik bertanya pada Yua, sibuk membereskan barang-barangnya.

“Kamu tahu sendiri kan, kalau akhir-akhir ini Chiru dekat dengan Taiga. Terus kabar putusnya Juri dengan Chiru terdengar setelah kedekatan mereka. Aku merasa, Juri menghindariku karena aku mengingatkannya dengan Taiga. Kamu tahu kan, seberapa dekat kita?” Yua masih sibuk memikirkan perubahan sikap Juri, sedangkan barang-barangnya belum ada yang dibereskan, membuat Shintaro terpaksa yang membereskannya.

“Oh, plis Yua! Itu hanya perasaanmu. Juri biasa saja ke aku, padahal kita sama-sama dekat dengan Taiga. Mungkin Juri memang sedang banyak pikiran. Lagipula, apa kamu yakin Chiru dan Taiga…?” Shintaro sengaja menggantungkan kata-katanya, karena ragu dengan apa yang sedang dipikirkannya.

“Akhir-akhir ini mereka selalu bersama. Entahlah.” Jawab Yua sekenanya, menerima tasnya yang sudah dirapikan Shintaro lalu mengajak pemuda itu segera meninggalkan perpustakaan.

“Kamu mau ke mana? Kuantar pulang?” Shintaro menawari Yua untuk mengantarnya pulang karena hari sudah mulai petang.

“Aku mau ke lab dulu. Siapa tahu Taiga sudah selesai. Dia janji mau mengantarku pulang hari ini. Sampai besok, Shin!” kata Yua seraya meninggalkan Shintaro dan berjalan menuju laboratorium.

Begitu sampai di laboratorium, kegiatan pelatihan asisten memang sudah selesai, tapi Yua tidak bisa menemukan Taiga, Hokuto maupun Hazuki. Hanya satu orang yang dikenal Yua, dan satu-satunya orang yang paling tidak ingin ditemui Yua saat ini. Tapi sebelum Yua sempat menghindar, pemuda itu memanggilnya, membuatnya terpaksa menghentikan langkahnya.

“Cari Taiga ya? Dia baru saja pergi dengan Chiru. Apa dia belum memberitahumu?” Kouchi memberitahu Yua.

“Tahu kok. Aku cari Hazuki ke sini.” Jawab Yua berbohong karena gengsi.

“Hazuki sepertinya ada urusan mendadak. Hokuto sedang mengantarnya. Taiga menyuruhku untuk mengantarmu pulang. Jadi tidak usah keras kepala berbohong di depanku.” Terang Kouchi, membuat Yua salah tingkah.

“Taiga menyuruhmu? Kenapa?” Yua tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Taiga lebih tahu dari siapapun bagaimana hubungan Kouchi dengan Yua. Bagaimana mungkin sahabatnya itu menyuruh Kouchi, musuh bebuyutan Yua, untuk mengantarnya?

“Dia sudah janji akan mengantarmu pulang, tapi dia tidak bisa menolak Chiru. Sedangkan Hazuki dan Hokuto pergi sebelum Chiru datang. Jadi Taiga, hanya bisa minta tolong padaku.” Jelas Kouchi dengan sabar, mengabaikan nada protes Yua yang bersikeras menolak untuk diantar pulang olehnya.

“Aku tidak tahu kamu sudah makan apa belum. Tapi aku lapar sekali, jadi kita mampir cari makan dulu. Kumohon jangan menolak! Kalau tidak, Taiga akan membunuhku kalau dia tahu kamu pulang sendiri karena aku tidak mengantarmu.” Kata Kouchi lagi, masih dengan kesabaran tingkat dewa menghadapi sikap Yua.

Untuk pertama kali dalam hidup Kouchi, dia bisa menahan emosi sehebat ini. Sebenarnya bukan hanya demi Taiga, tapi Kouchi juga sudah berjanji pada Risa untuk lebih ramah dengan Yua. Semua ini dia lakukan demi mendapat perhatian Risa. Ya, demi gadis yang disukainya. Karena itu, dia akan mencoba menahan emosinya sekuat tenaga demi bisa mendekatkan diri dengan Yua seperti harapan Risa.

Mendengar Kouchi masih terus menanggapinya dengan sabar, Yua mulai merasa bersalah karena menjadi satu-satunya pihak yang keras kepala. Akhirnya, Yua mengabaikan keegoisannya dan menerima tawaran Kouchi untuk mengantarkannya pulang. Laipula Yua tidak bisa menolak tawaran Kouchi saat mengatakan akan sekalian mentraktirnya makan malam. Tidak baik menolak rejeki, pikir Yua.

“Waa, seafood resto! Bagaimana kamu tahu makanan kesukaanku? Taiga memberitahumu?” Yua terlewat bersemangat saat Kouchi menepikan mobilnya di sebuah restoran seafood yang cukup terkenal di daerah sekitar kampus mereka. Bahkan sikapnya yang sejak tadi dingin, seketika berubah saat Kouchi mengatakan sudah bisa menebaknya.

“Apa maksudmu bisa menebaknya? Jadi bukan Taiga yang memberitahumu? Ayolah, cerita sama aku!” rengek Yua meminta penjelasan Kouchi, bahkan setelah mereka memesan menu pilihan, yang semuanya sama. “Bagaimana kamu bisa tahu semua kesukaanku?” tuntut Yua.

“Aku tidak tahu apa kesukaanmu, tapi itu semua menu favoritku. Kamu bisa menanyakan pada pelayan di sini kalau tidak percaya. Aku selalu memesan menu yang sama. Aku hanya menebak kalau kamu akan menyukai seafood resto sepertiku, karena Risa-chan mengatakan kalau kita mempunyai banyak kesukaan yang sama, aku juga tidak menyangka kalau sebanyak ini kesamaan kita.” Kouchi mencoba menjelaskan kalau dia sebenarnya merasa penasaran setiap kali Risa membahas kesamaan antara dirinya dan Yua.

“Risa-chan? Kamu sudah berhasil dekat sama dia nih?” tanya Yua, setengah menggoda Kouchi.

Maa, belum terlalu dekat sih. Cuma sebatas cerita-cerita yang kita sama-sama tahu saja. Tapi dia selalu menanggapiku dengan ramah. Kurasa, aku masih mempunyai peluang asal aku bisa mendapatkan hatinya.” Kata Kouchi optimis, sengaja tidak membahas kalau dia dan Risa malah sering membahas Yua dibandingkan hubungan mereka.

“Hmm, maaf atas sikapku kapan hari. Mungkin benar kata Hazuki, karena aku belum memahami perjuangan mendekati orang yang aku suka, makanya aku bersikap seperti itu padamu. Sebagai ganti traktiranmu hari ini, aku mau deh membantumu buat mendekati Risa.” Yua mencoba tersenyum ramah pada Kouchi, untuk pertama kalinya.

Melihat Yua tersenyum, Kouchi merasakan perasaan yang familiar menghampirinya, seperti pernah melihatnya sebelumnya. Tapi dimana? Kapan? Sepanjang ingatan Kouchi, belum pernah sekalipun Yua tersenyum ramah kepadanya.

Tersadar dari lamunannya, Kouchi menerima tawaran Yua dengan suka cita. Sebelum Yua merubah pikirannya lagi, batin Kouchi. Sejak malam ini, Kouchi berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan pernah membuat Yua membencinya lagi. Demi mellihat senyum ramah Yua. Eh, bukan. Demi mendapatkan hati Risa.

*****
Ayaka buru-buru memasukkan surat yang baru diterima, yang dialamatkan ke apartemennya, sebelum Jesse melihatnya. Ayaka yakin, surat itu berisi berkas-berkas konfirmasi beasiswa yang dikirimkannya beberapa waktu lalu. Ayaka belum siap melihat hasilnya, terlebih Ayaka belum siap melihat reaksi Jesse begitu mengetahuinya. Sehingga Ayaka memutuskan akan melihatnya nanti saja saat Jesse sudah meninggalkan rumahnya.

“Ada apa?” tanya Jesse melihat Ayaka yang masih berdiri di depan pintu, belum membuka pintu apartemennya.

“Eh, aku sepertinya tidak bisa menemukan kunciku.” Ayaka pura-pura kesulitan merogoh ke dalam tasnya untuk menutupi kebohongannya. Jesse terpaksa membukakan pintu apartemen Ayaka menggunakan kunci cadangan miliknya.

Ayaka melemparkan suratnya ke tumpukan majalah di dekat meja TV, lalu menyibukkan diri membongkar tas miliknya. “Ini dia, ketemu juga!” kata Ayaka sambil mengacungkan kunci miliknya membuat Jesse menghela napas lega.

“Lain kali, taruh di tempat yang mudah diambil, Aya-chan. Untung kamu lagi sama aku. Kalau sendiri, kamu bisa harus membongkar barangmu di depan pintu cuma untuk mencari kunci.” Jesse menepuk pelan kepala Ayaka, membalas cengiran kekasihnya itu.

Jesse sedang sibuk mengecek isi kulkas saat Ayaka tiba-tiba bertanya, “Mau pergi liburan akhir pekan ini?” Membuat Jesse seketika menghentikan aktifitasnya dan kembali duduk di meja makan berseberangan dengan Ayaka.

“Kemana? Mau mau! Berdua saja?” tanya Jesse penuh semangat, karena pasalnya Ayaka adalah tipe gadis yang senang menghabiskan waktu berdua di rumah saja. Jauh-jauh pergi pun, palingan juga ke taman komplek, buat joging atau sekedar cuci mata.

“Kamu pasti sudah dengar tentang kabar kedekatan Chiru dan Taiga, kan? Aku tidak tahu apa mereka benar pacaran, karena Chiru selalu menghindar tiap kutanya. Tapi aku ingin memanfaatkan momen ini untuk mendekatkan Juri dan Aika. Aku ingin menebus kesalahanku pada mereka. Menurutmu bagaimana?” Ayaka meminta pendapat Jesse, mengabaikan ekspresi kekecewaan di wajah pemuda blasteran itu.

“Oh, itu. Aku setuju saja sih.” Jawab Jesse setengah hati.

“Kok kamu seperti tidak ikhlas begitu? Bukannya kamu juga ingin Juri menyadari perasaannya ke Aika? Jangan bilang kamu sudah berubah pikiran?” tanya Ayaka pura-pura merajuk meskipun sebenarnya dia tahu alasan Jesse menjadi sensi.

“Bukannya begitu. Hanya saja, kupikir kamu merencanakan waktu untuk kita. Sudah 3 tahun kita pacaran, tapi belum pernah sekalipun kita liburan berdua.” kata Jesse.

Ayaka tahu, selama ini Jesse selalu menahan diri setiap kali bersamanya. Bersabar dengan sikap keras kepalanya, menerima setiap tuntutan-tuntutannya, bahkan tidak menyentuhnya melebihi dari sekedar pelukan dan ciuman. Bukannya sombong, Ayaka hanya merasa kalau Jesse tidak akan pernah meninggalkannya, sehingga dia tidak perlu khawatir mereka bisa melakukannya kapan saja.

Ayaka berdiri dari kursinya, berjalan ke arah Jesse, sengaja duduk di pangkuannya. “Kan kita berencana mendekatkan mereka. Jadi kita tetap punya waktu berdua saja. Kamu mau ke mana?”

Mendengar kata-kata Ayaka, seketika senyum kembali mengembang di wajah Jesse, lalu mendaratkan sebuah kecupan di bagian leher Ayaka yang sedari tadi sudah mencuri perhatiannya. Ayaka mendorong kepala Jesse, memandang wajah pemuda itu dengan senyuman manja. “Jadi?”

“Bagaimana kalau Osaka? Di sana banyak tujuan wisata. Lagipula, dengan begitu lebih mudah untuk mengajak Juri juga. Bilang saja mau mengajak dia berdoa di kuil untuk membuang nasib buruknya.” Jesse tertawa.

Ayaka menilai ide Jesse tidak buruk dan sepakat menggunakannya sebagai rencana pertama. Lalu keduanya pun mulai menyusun rencana lain yang mungkin mereka pilih kalau-kalau rencana pertama mereka tidak berjalan lancar.

****
Hokuto menepikan mobil Taiga di ujung sebuah taman, tempat Hazuki menyuruhnya untuk berhenti.

“Kenapa turun di sini? Aku bisa mengantarmu sampai depan rumah. Sudah lama aku tidak mampir ke sana.” tanya Hokuto masih enggan membukakan pintu mobil.

“Bagaimana kalau ayahmu juga sedang di rumahku? Tidak biasanya ayah menyuruhku pulang mendadak seperti ini. Sepertinya ada hal penting yang terjadi di laboratorium penelitian ayah. Kalau sampai itu terjadi, aku yakin semua staff kepercayaan ayah ada bersamanya. Kamu sudah siap bertemu ayahmu lagi? Katanya dia sudah mengusirmu? Bagaimana kalau sampai dia mengusirmu untuk kedua kali?” kata Hazuki, menyisipkan nada sindiran di kedua pertanyaan terakhirnya.

“Berhenti menggodaku! Aku cuma mengatakannya supaya terlihat keren saja.” gerutu Hokuto membuat Hazuki tertawa melihatnya. “Tapi betul juga. Aku masih belum mau bertemu dengan papa. Aku belum bisa merestui pernikahan keduanya.” kata Hokuto keras kepala.

“Aku tidak menyuruhmu untuk menerimanya sekarang. Makanya, aku memintamu untuk mengantarku sampai di sini saja.” Akhirnya Hokuto menyerah dan membiarkan Hazuki keluar dari mobil dan berjalan ke rumahnya tanpa dirinya.

“Tapi kamu harus mencoba menerimanya, Hoku. Ayahmu tidak salah. Dia perlu seseorang untuk merawatnya setelah kepergian ibumu. Sekarang, dia sudah tidak sekacau dulu, saat cuma tinggal berdua denganmu. Aku tidak menyuruhmu untuk kembali tinggal bersamanya, tapi sebaiknya kamu mulai berbicara lagi dengannya. Dia ayah yang baik.” kata Hazuki menasehati Hokuto sebelum menghilang dari pandangan pemuda itu.

Hokuto memikirkan kata-kata Hazuki sepanjang perjalanan kembali ke apartemen Taiga. Memang benar, sejak kematian ibunya, ayahnya jadi sering mabuk dan tanpa sadar memukuli Hokuto sebagai pelampiasan kemarahannya. Tapi sejak hari dimana ayahnya membuat cedera di lengan kanannya, yang membuatnya tidak bisa lagi bermain basket, olahraga favoritenya, Hokuto mulai berhenti bicara dengan ayahnya.

Keadaan semakin parah saat ayahnya mulai membawa pulang wanita ke rumah mereka. Hokuto tidak tahu tentang wanita-wanita itu, tidak mau tahu tepatnya. Dalam keadaan tertekan, Hokuto sempat ingin mengakhiri hidup dan pergi menyusul ibunya. Di saat itulah, Hazuki dan yang lainnya menyelamatkan hidupnya. Seberat apapun masalahnya, teman-temannya tidak akan pernah meninggalkannya.

Sampai saatnya tiba, ayahnya meminta ijin padanya untuk menikah lagi, tepat setelah upacara kelulusan. Tanpa mengucapkan kalimat penolakan ataupun persetujuan, Hokuto mengatakan ingin tinggal terpisah dari ayahnya. Karena keadaan keuangan yang belum stabil, ayah Hokuto sempat tidak mengijinkannya. Tapi Hokuto tidak menghiraukannya dan pergi begitu saja meninggalkan rumah. Mengetahui keadaan Hokuto, Taiga meminta kepada ayahnya untuk tinggal sendiri dan mengajak Hokuto untuk tinggal bersamanya. Dan sejak saat itu, Hokuto belum lagi berbicara, bahkan bertemu dengan ayahnya ataupun ibu barunya.

“Hmm, kalau diingat-ingat lagi, jadi kepikiran. Bagaimana cara Taiga meyakinkan Kyomo-papa untuk mengijinkannya tinggal sendiri ya?” gumam Hokuto, mengingat Taiga adalah anak semata wayang dan kesayangan kedua orang tuanya.

Hokuto belum melihat Taiga saat tiba di apartemen mereka. Sudah beberapa hari, Taiga sering pulang larut tengah malam. Bahkan Hokuto tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Karena merasa khawatir, Hokuto selalu menunggu sampai Taiga pulang dan memastikan keadaannya baik-baik saja sebelum pergi ke kamarnya.

“Sudah pukul satu, Taiga belum pulang juga.” Bolak-bailk Hokuto mengecek ponselnya dan terus menghubungi Taiga. Sudah dua jam berlalu sejak Taiga mengirimkan pesan padanya kalau sedang dalam perjalanan pulang. “Tapi sampai sekarang, kenapa belum datang juga?”

Di puncak kekhawatirannya, Hokuto memutuskan untuk pergi mencari Taiga. Tepat saat Hokuto hendak membuka pintu apartemennya, bunyi klik, tanda seseorang sedang membukanya, terdengar dari luar. Hokuto melihat Taiga sudah berdiri di depan pintu, bersandar pada Chiru dalam kondisi setengah sadar.

“Malam Hokuto-kun. Maaf aku mengantar Taiga dalam keadaan seperti ini. Aku tidak tahu kalau dia lemah sekali dengan alkohol. Kukira dia sudah terbiasa kalau melihat style-nya.” Jelas Chiru, terlihat kesusahan mempertahankan keseimbangan tubuh Taiga. Hokuto memindahkan Taiga ke dalam rangkulannya, lalu mempersilahkan Chiru untuk masuk terlebih dulu.

“Tidak Hokuto-kun, terima kasih. Tapi temanku sudah menungguku di lobi. Aku langsung pulang saja. Oyasumi.” pamit Chiru, meninggalkan Hokuto yang berusaha membawa Taiga ke kamarnya. Bau alkohol tercium keras dari tubuh Taiga, membuat Hokuto terpaksa melepaskan baju Taiga dan menggantinya.

“Sayang… Hoku… Yua… Bahagia… Hazu… Shin… Bersama…” Taiga mengigau dalam tidurnya, menyebutkan nama-nama semua sahabatnya.

Setelah selesai mengganti baju Taiga, untuk pertama kalinya Hokuto memperhatikan wajah Taiga sedekat ini. Tampak pucat sekali, lebih pucat dibanding orang yang sakit-sakitan. Tapi karena sudah biasa bersama, Hokuto jadi kurang memperhatikannya. Menurutnya, itu wajah Taiga yang biasa. Setelah membasuh wajah Taiga dan mengelapnya dengan handuk, Hokuto meninggalkannya.

Keesokan paginya, Taiga bangun lebih awal dari Hokuto, tidak seperti biasanya. “Ohayou, Hokkun!” sapa Taiga.

“Terima kasih, semalam sudah menunggu dan menggantikan bajuku. Aku tidak tahu kalau tidak ada kamu. Pasti papa akan sangat marah kalau sampai melihatku seperti itu.” Taiga tertawa mengingat kebodohannya semalam.

“Kalau sudah tahu tidak tahan dengan alkohol, kenapa masih minum? Apa karena demi Chiru?” suara Hokuto terdengar sedikit membentak. Tidak tahu mengapa, rasanya Hokuto ingin meluapkan amarahnya kepada Taiga.

Tidak tahukah dia, seberapa khawatirnya aku semalam karena dia tidak pulang-pulang!? Melihat keadaannya saat datang. Dan sekarang dia tertawa dengan begitu santainya? Batin Hokuto bergejolak.

“Kenapa akhir-akhir ini semua orang menghubung-hubungkanku dengan Chiru? Setelah kemarin Yua, sekarang kamu! Oh, baiklah. Lebih baik kamu cari pacar saja daripada sibuk mengurusi hidupku! Aku baik-baik saja tanpa kamu!” bentak Taiga terlewat emosi, kata-katanya bertolak belakang 180 derajat dari yang sebelumnya dia ucapkan. Taiga memutuskan kembali ke kamarnya karena merasa kepalanya masih sedikit pusing. Mungkin efek alkohol semalam masih tersisa?

Sedangkan Hokuto yang juga sedang banyak pikiran, mendengar Taiga membentaknya, membuatnya mengambil hati perkataan Taiga dan buru-buru pergi ke kampus untuk menenangkan hatinya.

*****
Bukan maksud hati Juri menghindari Yua. Tapi setiap melihat gadis itu membuatnya terus memikirkan Aika. Oke ini aneh. Harusnya, Juri menghindari Yua karena Yua dekat dengan Taiga. Dan Taiga adalah orang yang membuatnya putus dengan Chiru, setidaknya itu yang Juri percaya. Tapi Juri baik-baik saja dengan Shintaro yang juga dekat dengan Taiga. Jadi masalahnya, karena Yua dekat dengan Aika.

Beberapa kali Juri melihat Aika datang ke kelasnya untuk bertemu Yua. Dan setiap kali Yua habis bicara dengan Aika, secara refleks Juri akan mengabaikannya. “Padahal Yua tidak salah apa-apa.” gumam Juri merutuk diri.

Ohayou, Juri-kun!” Panjang umur. Baru saja dipikirkan, sudah muncul saja. Tidak hanya Yua, tapi juga Aika. Yua tampak bersemangat seperti biasanya.

Ohayou, Juri.” sapa Aika diikuti senyuman manisnya.

Oo…ohayou, Yua-chan, Aika.” balas Juri sedikit terbata.

Yabai! Padahal aku sudah menyuruhnya untuk melupakannya. Tapi mengapa malah aku sendiri yang tidak bisa melupakannya?! Terlebih, aku ingin menciumnya setiap kali melihatnya! Debat Juri dengan pikirannya sendiri.

“Juri-kun tumben akhir-akhir ini selalu datang pagi? Mau jadi anak rajin ya?” goda Yua mengkritik kebiasaan baru Juri.

“Entahlah. Tiba-tiba saja jadi kebiasaan.” Jawab Juri dengan nada sebiasa mungkin, berusaha menyembunyikan kegalauannya.

“Oh, itu Hoku! Tumben tidak bareng Taiga. Eh…” Yua sadar kalau dia menyebutkan nama yang seharusnya tidak dia sebutkan. Hati-hati Yua memperhatikan wajah Juri, terlihat sangat tegang.

Apa karena aku menyebut nama Taiga? Ya ampun, aku lupa. Pikir Yua dalam hati. Karena merasa tidak enak, Yua ingin kabur rasanya!

“Emm, aku mau ke Hoku dulu. Ada sesuatu yang mau aku tanyakan. Juri, nitip Aika ya!” kata Yua membuat alasan, lalu buru-buru meninggalkan Juri dan Aika.

Belum sempat Aika melarangnya, Yua sudah lari dengan lincahnya menuju Hokuto. Terpaksa Aika harus berjalan bersama Juri menuju fakultasnya.

Ini adalah saat pertama kali mereka jalan berdua lagi setelah kejadian hari itu. Kecanggungan luar biasa tercipta di antara keduanya. Tidak ada salah satupun yang berusaha memulai pembicaraan, sampai akhirnya Aika tiba di depan kelasnya.

“Aku duluan ya!” kata Aika seraya masuk ke dalam kelasnya, meninggalkan Juri melanjutkan perjalanan menuju kelasnya.

“Ya ampun, canggung banget!! Mau mati rasanya nahan napas waktu jalan bareng sama dia! Apa dia juga masih memikirkannya ya? Pasti tidak lah! Kan dia yang menyuruhku untuk melupakannya. Lagipula, dari dulu Juri memang jarang mengajakku ngobrol lebih dulu. Aku saja yang terlalu berlebihan menanggapinya.” gumam Aika begitu sampai di bangkunya.

“Oh, Aika. Berhentilah merasakan cinta bertepuk sebelah tangan! Juri juga mempunyai perasaan yang sama denganmu! Aku dan Jesse mempunyai rencana untuk membuat Juri mengungkapkan perasaannya.” kata Ayaka yang sedari tadi mengikuti Aika, lalu menceritakan rencana yang sudah disusunnya bersama Jesse kepada Aika.

Di lain pihak, Juri masih tidak bisa menghentikan debaran jantungnya yang semakin kencang karena waktu yang tidak sengaja dihabiskannya berdua saja dengan Aika pagi ini. Memang sih, hanya berjalan dari gerbang kampus menuju fakultasnya.

Tapi tetap saja, kalau dalam waktu sesingkat itu, kamu terus menerus membayangkan ingin menciumnya, tidak baik untuk kesehatan jantung! batin Juri.

Tidak ada gunanya lagi Juri menghindari perasaannya. Sudah jelas sekali kalau Juri menyukai Aika. Rasa suka melebihi yang pernah Juri rasakan kepada Chiru. Bahkan sepertinya, perasaan ini sudah sengaja dia tekan sejak lama. Tapi bagaimana dengan perasaan Aika?

Seusai kelas, Juri pergi ke tempat latihan basket seperti biasanya. Bermain basket adalah satu-satunya cara yang Juri tahu untuk menenangkan pikirannya. Hanya ada beberapa anak yang sedang bermain bersamanya.

“Yo, masih galau gara-gara Chiru?” tanya Aran, salah satu pemain basket fakultas sastra yang cukup dekat dengannya.

“Tidak juga. Aku lagi galau karena masalah lain.” Jawab Juri masih sibuk memainkan bola basketnya.

“Cewek juga?” Juri mengangguk mengiyakan. “Wah, sugeee. Temanku satu ini memang populer sekali! Setelah Chiru, sang diva fakultasnya, sekarang ada cewek lain lagi? Siapa? Gadis populer di fakultas apa?” tanya Aran beruntun saking semangatnya.

“Kamu tahu Aika, cewek yang biasanya bareng aku, Jesse dan Ayaka?” Aran tampak berusaha mengingat-ingat wajah Aika. “Hmm, iya aja deh. Maaf aku kurang perhatian soalnya.” Aran tertawa. “Bagaimana ceritanya?” lanjut Aran meminta Juri untuk menceritakan kisahnya.

Setelah Juri selesai menjelaskan kejadian yang menimpanya, Aran cuma bisa geleng-geleng kepala. “Kamu itu memang cowok paling tidak peka sedunia! Apa kamu tidak bisa menebak perasaannya? Mengapa dia menangis saat kamu memintanya untuk melupakannya? Dia menyukaimu, Juri.” Jelas Aran menyimpulkan.

“Apa mungkin? Tapi…” belum sempat Juri melanjutkan kata-katanya, Jesse sudah menepuk kepalanya cukup keras.

“Apaan sih!? Datang-datang main tepuk kepala orang seenaknya!” kata Juri sambil mengelus kepalanya yang ditepuk Jesse.

“Akhir pekan aku dan Aya-chan mau ke Osaka. Kita bisa pergi ke kuil untuk memintakanmu doa. Bagaimana mau ikut?” tanya Jesse to the point. “Dengan Aika juga?” tanya Juri.

“Kalau kamu mau, aku bisa mengajaknya juga. Lagipula, sudah biasa kan kamu jadi setan di antara aku dan Aya-chan?” kata Jesse sambil merebut bola dari tangan Juri.

“Hmm, oke deh aku ikut. Tapi Aika…” Juri terlihat masih memikirkannya. “Aku sendiri yang akan mengajaknya.” kata Juri akhirnya.

*****
Sudah beberapa hari, Shintaro perhatikan, Kouchi dan Yua semakin akrab saja. Mungkinkah dinding di antara mereka sekarang sudah runtuh?

“Ciyeee, yang sering berduaan sekarang. Sudah akur nih, ceritanya?” goda Shintaro saat menghampiri Kouchi dan Yua yang sedang makan berdua.

“Selama makan gratis sih. Eh, demi perjuangan mendapatkan cinta Risa!” jawab Yua asal sambil tertawa diikuti timpukan pelan Kouchi di kepalanya.

“Masih serius deketin Risa?” tanya Shintaro sambil mencomot beberapa sosis dari piring Yua.

“Ya serius lah.” Jawab Kouchi sewot karena Shintaro meragukannya.

“Hmmm, ya kali kamu bisa dapetin Risa kalau yang kamu deketin malah Yua.” kata Shintaro pelan, sengaja supaya Kouchi tidak bisa mendengarnya.

“Apa?” tanya Kouchi karena merasa Shintaro mengucapkan sesuatu.

“Oh, tidak. Cuma mau bilang makasih karena sudah berbaik hati selalu mentraktir Yua. Tenang saja, jajanannya selalu jajanan murah kok.” Shintaro tertawa melihat Yua menyemburkan sosisnya.

“Murah yang penting enak tau!” protes Yua kembali menikmati makan siangnya.

“Aku harus pergi dulu. Kouchi, aku titip Yua ya. Tenang saja, dia sudah bisa pulang sendiri kok, tidak usah terlalu mengkhawatirkannya.” Kata Shintaro setelah membaca sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.

“Sialan, dikira aku bocah, apa!?” maki Yua saat Shintaro sempat mengacak rambutnya sebelum pergi meninggalkan Kouchi dan Yua. Kouchi hanya tertawa melihatnya.

Shintaro sesekali melihat Yua dan Kouchi sebelum benar-benar menghilang dari pandangan keduanya, tersenyum karena pertama kali melihat Yua tidak lagi bergantung pada Taiga.

Beberapa saat kemudian, Shintaro sudah memasuki sebuah café, tempat Airin dan Hagiya sudah menunggunya.

Konnichiwa, Shintaro-kun.” Sapa Hagiya sopan. Shintaro menganggukkan kepalanya, membalas sapaan Hagiya. Shintaro duduk di sebelah Airin yang sudah memesankan minuman kesukaannya, menunggu Hagiya berbicara.

“Maaf merepotkanmu. Tapi aku ingin minta tolong padamu. Aku ingin, sekali lagi, Airin berpura-pura dekat denganku. Aku menemuimu karena aku tidak ingin ada kesalahpahaman lagi di antara kita seperti sebelumnya.” Kata Hagiya langsung pada tujuan.

“Untuk membuat Risa cemburu?” tanya Shintaro menanggapi permohonan Hagiya. Hagiya mengangguk malu-malu.

“Begini Hagiya-kun. Bukannya aku tidak mau membantu atau mengijinkan Airin untuk dekat denganmu. Tapi aku rasa, caramu tidak akan berhasil untuk kedua kalinya.” Kata Shintaro hati-hati tidak ingin membuat Hagiya kecewa, lalu melanjutkan penjelasannya.

“Kamu sudah lama bersama Risa, harusnya kamu paham bagaimana sifatnya. Kalau kamu memilih bersama Airin, kurasa Risa malah akan bahagia melihatnya. Karena dia menganggap kamu sudah bahagia dengan pilihanmu. Dia tidak akan merasa kehilangan kamu. Lagipula, dia sekarang sedang dekat dengan Kouchi, kan?” Hagiya terdiam mendengar penjelasan Shintaro, karena semua yang dikatakannya benar.

“Lalu aku harus bagaimana? Ini kesempatan terakhirku. Beberapa bulan lagi, aku sudah harus keluar dari rumahnya. Apa sampai saat itu, dia tidak akan pernah menyadari perasaanku? Padahal selama ini aku sudah berusaha menunjukkannya” Hagiya tampak frustasi saat mengatakannya.

“Mungkin kamu benar dengan membuatnya merasa kehilangan, tapi bukan dengan cara bahagia tanpanya. Tapi cukup menghilanglah dan membuatnya merasa bersalah.” Hagiya terdiam, tidak mengerti maksud Shintaro.

“Jadi maksud Shin-kun, kamu menjauh saja dari Risa, buat dia kehilangan kamu, tapi tidak perlu pura-pura dekat denganku. Mungkin sebaiknya kamu pergi dulu dari rumah Risa untuk sementara dan membuat Risa merasa bersalah. Saat itu kita akan tahu perasaan Risa yang sebenarnya.” Airin membantu menjelaskan maksud Shintaro pada Hagiya.

“Tapi dia sedang dekat dengan Kouchi-kun, kan? Bagaimana kalau Risa malah semakin dekat dengannya saat aku tidak ada? Lagipula, aku harus pergi kemana?” tanya Hagiya, meragukan saran yang diberikan Shintaro dan Airin.

“Kalau urusan Kouchi, serahkan saja padaku. Aku tahu dia tidak sungguh-sungguh mendekati Risa. Lagipula dia sedang dekat dengan Yua. Aku merasa mereka lebih cocok saat bersama, dibandingkan Kouchi dengan Risa. Kalau tempat tinggal, kamu bisa tinggal bersamaku sementara. Aku akan membantumu meminta ijin pada orang tua Risa.” Setelah memikirkan baik-baik saran Shintaro, akhirnya Hagiya menyetujuinya.

“Jadi untuk sementara waktu, aku tidak bisa sering-sering menginap di apartemen Shin-kun, dong?” rengek Airin saat Hagiya sudah pergi meninggalkan mereka berdua.

“Sementara, Ai-chan. Hanya sementara. Lagipula, aku lebih tidak rela kalau kamu sampai terlibat lagi dengan urusan mereka.” Kata Shintaro sambil membelai kepala Airin yang tersandar di bahunya.

“Lalu bagaimana rencana kita membuat Risa merasa kehilangan Hagi-kun dan membuat Kouchi-san menjauhinya?” Shintaro tersenyum mendengar pertanyaan Airin. “Tenang saja, aku sudah memikirkannya.”

*****
“Hagi-chan akan tinggal di tempat Shintaro-kun? Kenapa?” tanya Risa kepada ayahnya yang menjelaskan mengapa tidak melihat Hagiya sepanjang hari kemarin sampai hari ini dia akan berangkat sekolah.

“Mungkin Hagi hanya ingin lebih fokus belajarnya. Lagipula, dia ingin mengambil jurusan yang sama dengan Shintaro-kun. Mungkin akan lebih memudahkan baginya belajar langsung dari seniornya.” Jelas ayah Risa.

Tentu saja, Hagi-chan bohong! Tidak pernah sekalipun dia cerita ingin bekerja di laboratorium, sekalipun sebagai staff kantornya! Aku yang paling tahu jurusan apa yang ingin dimasuki Hagi-chan. Protes Risa dalam hati, tidak ingin membuat orang tuanya khawatir mengetahui Hagiya berbohong.

Tapi kenapa? Bukannya Hagi-chan mendekati Airin? Tapi kenapa sekarang malah tinggal bersama Shintaro-kun? Apa yang dia sembunyikan dariku? Pikir Risa, masih tidak mengerti alasan Hagiya meninggalkan rumahnya.

Hagiya masih saja terus menghindari Risa, bahkan di sekolah. Setiap kali Risa berusaha mendekatinya, untuk menanyakan alasan mengapa dia meninggalkan rumah, Hagiya selalu berhasil membuat alasan untuk pergi dari Risa.

“Pulang sekolah nanti aku harus bisa bicara dengannya! Aku tidak suka Hagi-chan menyimpan rahasia dariku!” Risa bertekad akan menunggu Hagiya bahkan kalau perlu menyusulnya sampai ke rumah Shintaro.

Tapi, kedatangan seseorang yang sudah menunggunya sepulang sekolah, membuat Risa lupa dengan semua rencananya tentang Hagiya. Risa hanya tertegun, memandang sosok yang sangat dia kagumi, berdiri di depan gerbang sekolah, melambaikan tangan ke arahnya.

“Taiga-kun mencariku?” tanya Risa salah tingkah saking senangnya.

“Risa-chan ada waktu sebentar? Aku mau mengajakmu jalan.” Semuanya seperti mimpi bagi Risa. Tanpa protes, Risa langsung menganggukkan kepalanya. Lalu keduanya pergi bersama, meninggalkan Hagiya yang mengamati dari jauh, merasa kalah.

To be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s