[Multichapter] ITS REASON (#3)

Its Reason
By: kyomochii
Genre: Drama, Friendship, Romance
Rating: PG-15
Cast: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Kouchi Yugo, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Morita Myuto, Yasui Kentaro, Sanada Yuma, Hagiya Keigo (Love Tune as Figuran); Ichigo Yua, Kirie Hazuki, Kimura Aika, Akane Hayakawa (Ayaka), Nishinoya Chiru, Suomi Risa, Takahara Airin, Hideyoshi Sora (OC)
Disclaimer: Thanks to All My “Rusuh Random” Friends Who Lend Their OC for This Story.
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Shintaro tidak percaya Airin membawanya pulang ke apartemennya. Sepanjang perjalanan, Airin menyuruh Shintaro diam dan hanya mengikutinya kalau ingin mendengar penjelasan darinya. “Kenapa malah ke apartemenku?”

“Aku menginap di sini malam ini.” Jawab Airin singkat, masih sibuk membuka pintu apartemen Shintaro dengan kunci cadangan yang dimilikinya.

“Kenapa? Aku tidak bilang akan mengijinkanmu.” Balas Shintaro gusar. Sebenarnya Shintaro senang Airin memutuskan bermalam dengannya, tapi dia masih gengsi untuk memaafkan Airin karena sudah mengkhianatinya, lagi.

“Aku tidak memerlukan ijinmu, karena aku kekasihmu.” Airin menjelajah apartemen Shintaro sudah seperti rumahnya sendiri. Dia mengambil dua kaleng coke dari kulkas Shintaro, lalu menjejalkan salah satunya ke tangan Shintaro yang sudah duduk di atas tempat tidurnya.

“Jadi dengarkan aku! Aku sudah bosan Shin-kun salah paham terus denganku. Aku tidak pernah mengkhianatimu, sekarang ataupun dulu. Kukira Shin-kun sudah menyadari itu saat meminta kembali padaku.” Shintaro meneguk coke miliknya. Entah kenapa tenggorokannya terasa sangat kering, saat Airin mengingatkannya akan kesalahannya.

Airin mengikuti Shintaro meneguk coke miliknya sebelum melanjutkan penjelasannya. “Aku dan Hagi-kun, tidak pernah ada apa-apa di antara kami. Hagi-kun cuma minta tolong padaku untuk menemaninya pergi ke pesta, karena ingin membuat Risa-chan cemburu. Tadi siang sepertinya sudah terjadi kesalah pahaman di antara mereka dan akhirnya malah membuatku terbawa-bawa. Di sisi lain, aku memang fans berat Hideyoshi Hikari. Dia fashion model remaja yang lagi populer saat ini! Aku tidak menyangka kalau Hagi-kun berteman baik dengannya. Jadi bagaimana mungkin aku menolaknya saat dia mengajakku?”

“Aku juga tidak menyangka kalau Shin-kun mengenal Hikari juga!” kata Airin menambahkan.

Shintaro terdiam, masih belum bisa mempercayai penjelasan Airin sepenuhnya. Bisa saja dia mengarang cerita. Shintaro masih ingat kalau tadi siang, Risa menyebut nama Hagiya dengan baik-baik saja, jadi tidak mungkin ada masalah di antara mereka. “Aku tidak mengenalnya. Aku kenal dengan manajer cafenya.”

Airin melemparkan kaleng kosong cokenya ke tempat sampah di ujung ruangan. “Nice Shoot!” seru Airin saat kalengnya mendarat mulus ke dalam tong sampah.

“Jadi Shin-kun belum mempercayaiku ya?” tebak Airin karena menyadari tidak ada perubahan di suara Shintaro, masih saja dingin. Tidak mau menjawab pertanyaan Airin, Shintaro menghabiskan cokenya, lalu berdiri untuk membuang kalengnya.

Betapa terkejutnya Shintaro saat dia berbalik setelah membuang sampah, Airin sudah terlentang di atas tempat tidurnya, melepas bajunya, hanya menggunakan celana dalam dan bra. “Apa-apaan kamu, Airin?!” bentak Shintaro.

“Aku gerah. Begini lebih nyaman.” Airin bergulung-gulung di atas tempat tidur Shintaro. “Kenapa? Shin-kun tergoda?” Tentu saja Airin sengaja melakukannya. Dia mengamati reaksi Shintaro dengan apa yang dilakukannya. Tapi Shintaro malah berjalan menjauhi tempat tidur, memilih duduk di sofa.

Airin memutar badannya, kesal. Setelah sibuk bergulung-gulung, Airin memutuskan untuk berdiri dan menyusul Shintaro ke sofa. Shintaro berdiri, mengambil kemeja dari lemarinya, lalu menutupi tubuh Airin dengan kemejanya.

“Kamu bisa masuk angin kalau tidak pakai baju.” Shintaro berbalik, berniat kembali ke tempat tidur, meninggalkan Airin di sofa. Tapi Airin tidak akan membiarkannya. Airin menarik tangan Shintaro sampai pemuda itu terduduk di sebelahnya. Shintaro dan Airin saling bertatapan lama, sampai Airin berinisiatif menempelkan bibir mereka.

Awalnya Shintaro tidak berniat untuk membalas ciuman Airin, dan membiarkan gadis itu melakukan semaunya sampai dia jera. Tapi Airin tidak menyerah, hingga akhirnya Shintaro luluh juga. Airin begitu menikmati ciumannya, seolah mereka sudah lama tidak pernah melakukannya. Merasakan hembusan napas Shintaro yang menyapu wajahnya, dan menghirup aroma parfum pemuda yang dicintainya, sepertinya membuat Airin berani untuk mengatakannya. “Apa Shin-kun mau melakukannya?” tanya Airin di sela-sela ciumannya.

Shintaro terhenyak, tidak menyangka Airin akan mengatakannya. “Tidak. Belum sekarang. Kita sudah pernah membahasnya.”

Shintaro dan Airin memang pernah berkomitmen tidak akan melakukan hubungan yang terlalu jauh, sampai setidaknya Airin lulus SMA. “Tapi aku sudah 17 tahun. Aku sudah dewasa! Teman-temanku sudah banyak yang pernah melakukannya.” Protes Airin.

“Mungkin saja, kalau kita sudah pernah melakukannya, Shin-kun akan lebih mempercayaiku.” Airin menambahkan.

Bohong kalau Shintaro tidak menginginkannya juga, tapi dia mengingatkan dirinya sendiri akan komitmennya. “Baiklah, aku janji akan mempercayaimu mulai saat ini. Tapi jangan pernah meminta untuk melakukannya, sebelum lulus SMA. Tidak denganku, ataupun yang lainnya.”

“Aku cuma akan melakukannya dengan Shin-kun! Katanya percaya sama aku?” Airin menyela Shintaro yang mulai meragukannya lagi.

Shin menghela napas panjang. “Iya, maafkan aku. Aku ingin kamu tahu, sebenarnya aku juga sangat ingin melakukannya denganmu, tapi aku tidak ingin merusak masa depanmu. Aku tidak ingin membuatmu jadi gadis yang mengecewakan keluargamu.” Shintaro berusaha meyakinkan Airin.

Suasana menjadi hening saat Shintaro dan Airin saling merenungi keputusannya. Airin tahu, sangat sulit bagi Shintaro yang berasal dari keluarga terpandang, melakukan hal seperti itu hanya untuk main-main, apalagi dengan gadis yang dicintainya. Di saat yang bersamaan, Airin merasa sangat bahagia karena tidak salah memilih Shintaro sebagai kekasihnya.

“Panggil namaku!” pinta Airin. Shintaro tidak mengerti mengapa Airin memintanya untuk memanggil namanya, tapi dia melakukannya juga agar gadis itu mau mengerti keputusannya. “Airin.”

“Panggil namaku seperti biasa Shin-kun memanggilku.” pinta Airin sekali lagi. “Ai-chan?” Shintaro mengulangi memanggil Airin dengan panggilan kesayangannya.

“Selalu panggil aku dengan nama itu. Jangan menyebutku dengan ‘kamu’.” Airin tersenyum manja, membuat hati Shintaro luluh juga pada akhirnya.

“Aku mencintaimu.” Airin kembali mengecup bibir Shintaro dengan lembut. “Aku juga mencintaimu.” Balas Shintaro menyambut ciuman Airin dan membuatnya merasa sangat bahagia, karena akhirnya kesalah pahaman di antara mereka terselesaikan juga.

*****
Tidak biasanya, Juri sudah berada di kampus pagi-pagi sekali, setidaknya jam 10 masih sangat pagi buat Juri. Juri memutuskan akan menemui Chiru pagi itu juga untuk meminta maaf padanya. “Aika, kamu lihat Chiru tidak?” tanya Juri pada Aika yang kebetulan sedang berjalan keluar kelas.

“Kalau tidak salah dia lagi ada urusan di bagian administrasi. Mau sekalian bareng ke sana? Aku mau ke ruang dosen, ngumpulin tugas kelas soalnya.”

Aika tampak kesusahan membawa setumpuk makalah, sehingga Juri menawarkan diri untuk membantunya. “Boleh deh. Sini aku bantu bawa.”

Sankyu.” Juri memaksa Aika untuk membiarkannya membawa semua, sehingga Aika bisa santai mengikuti berjalan di sebelahnya. Setelah dari ruang dosen, Aika menemani Juri menuju bagian administrasi sebelum kembali ke kelasnya.

Tiba-tiba langkah kaki Juri terhenti saat melihat Chiru di depan ruang administrasi sedang bersama Taiga. Buru-buru Juri menarik Aika untuk bersembunyi. “Kenapa kita sembunyi?” tanya Aika, merasa tidak nyaman karena Juri berada dekat sekali. Aika dapat mencium parfum Juri saat pemuda itu semakin mendekatkan tubuhnya, membuat keduanya hampir berpelukan. Aika menahan napas, mencoba tidak terlalu memikirkan hal-hal yang mengganggu pikirannya.

Ini cuma Juri, si biang rusuh. Jangan terlalu dipikikan. Aika mengingatkan dirinya sendiri, mencoba menenangkan diri. Samar-samar Aika dan Juri mulai bisa mendengar suara Chiru dan Taiga yang berjalan ke arah mereka.

“Ya ampun, harus setiap malam? Padahal setiap sore, senin sampai jum’at aku harus ikut pelatihan asisten lab. Kalau sabtu-minggu saja, tidak bisa kah?” Suara Taiga terdengar memohon.

“Aku tidak akan membiarkanmu kabur. Aku janji akan membuatnya se-menyenangkan mungkin untukmu. Jangan membantah!” Jawab Chiru terdengar sangat manja, seperti sedang menggoda Taiga. “Oh, baiklah. Aku percaya sama kamu.”

Saat Taiga dan Chiru sudah berlalu, Juri masih diam terpaku. Saking dekatnya tubuh mereka, Aika dapat merasakan napas Juri memburu, menerpa ujung kepalanya. Aika dapat mendengar detak jantung Juri sangat tidak berarturan. Sepertinya, emosinya sedang sangat tidak stabil. Aika mulai mengkhawatirkan keadaan Juri, sehingga memanggilnya, mencoba menyadarkan dari lamunannya. “Juri?”

Setelah Aika memanggilnya berkali-kali, baru Juri bisa mengembalikan kesadarannya. “Oh, maaf.” Juri berusaha menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Aika, tapi kakinya tersandung kakinya sendiri sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan. Aika mencoba menahan Juri, tapi gaya gravitasi lebih kuat daripada usaha keduanya untuk tidak jatuh.

Aika jatuh tepat menimpa tubuh Juri, dan bibirnya mendarat tepat di atas bibir Juri. Aika hendak menarik tubuhnya untuk berdiri, ketika tangan Juri tiba-tiba menahan kepalanya, tidak melepaskan ciumannya. Malahan, Juri semakin bersemangat melumat bibir Aika. Kelembutan di setiap sentuhan bibir Juri, membuat Aika juga menikmatinya, bahkan berpikir untuk mulai membalasnya tepat sebelum Juri menghentikan ciumannya.

Juri sadar apa yang sudah dilakukannya, dia merasa sangat bersalah kepada Aika. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud.” Kata Juri. Keduanya sekarang sudah dalam posisi berdiri lagi, memutuskan untuk berhenti bersembunyi.

“Tidak apa-apa.” Balas Aika sangat pelan sehingga Juri tidak bisa mendengarnya. “Apa?” tanya Juri karena merasa Aika mengatakan sesuatu. Aika menggeleng.

“Maafkan aku untuk ciuman tadi. Anggap saja tidak pernah terjadi.” Aika memalingkan wajahnya saat mendengar Juri mengatakannya. Kata-kata itu seolah berhasil mengeluarkan kenangan lama yang selama ini berusaha keras dia sembunyikan jauh di dalam pikirannya. Tanpa sadar air mata menetes di pipi Aika.

Buru-buru Aika menghapus air matanya sebelum Juri menyadarinya. Tapi usahanya gagal, karena Juri sudah menarik dagu Aika sehingga wajahnya tepat menghadap Juri. Juri tampak kebingungan dengan apa yang terjadi. “Aika, ada apa? Kenapa kamu menangis? Maafkan aku karena sudah menciummu seperti tadi.”

“Bukan itu.” Kata-kata Aika terdengar sangat lemah, tapi kali ini Juri masih bisa mendengarnya. “Aku tidak benci Juri menciumku. Aku benci karena kamu selalu menyuruhku melupakannya. Ciuman tadi dan ciuman sebelumnya.”

Otak Juri bermain cepat, mencoba mengingat lagi kapan Juri pernah mencium Aika. “Kamu pernah menciumku saat kita masih SMA.” Aika mengingatkan Juri.

Kilas kejadian yang terjadi antara keduanya kembali berputar di dalam memori Juri, membuatnya menepuk jidat karena bagaimana mungkin bisa melupakannya. “Oh, waktu itu! Aku hanya melakukannya demi Jesse, supaya dia menyadari perasaannya ke Ayaka dan berhenti pura-pura menyukaimu.” Juri menjelaskan.

“Hah? Jesse pernah menyukaiku?” Ini merupakan informasi baru untuk Aika. Karena selama ini, Aika tahu Jesse selalu baik kepadanya karena sudah berjanji kepada Hazuki, agar selalu di sisi Aika sebagai ganti dirinya.

“Pura-pura. Kubilang pura-pura. Dia keras kepala menyembunyikan perasaannya ke Ayaka dan memilih menyukaimu karena kamu sangat populer saat SMA.” Wajah Aika memerah karena Juri masih mengingat kepopulerannya saat SMA. “Itu SMA. Sekarang aku tidak populer sama sekali.”

Juri mengabaikan komentar Aika dan melanjutkan ceritanya. “Aku ingin menunjukkan pada Jesse bagaimana reaksinya saat orang lain berusaha mencium orang yang dicintainya. Jesse tidak keberatan saat aku menciummu dan sangat marah bahkan saat aku masih berencana mendekati Ayaka.” Juri tersenyum geli saat mengingat reaksi Jesse begitu tahu Juri berencana mencium Ayaka.

“Sebenarnya dulu aku tidak berniat benar-benar menciummu, tapi aku seperti tidak sadar saat melakukannya. Ciuman tadi juga. Aku refleks melakukannya.” Juri menambahkan.

Juri tiba-tiba teringat kejadian yang dialaminya dengan Chiru tadi malam. Meskipun Chiru pacarnya, dan dia yakin menyukainya, tapi tidak pernah ada keinginan yang timbul untuk mencium Chiru seperti keinginannya mencium Aika. Juri tidak pernah merasa ada yang spesial di Aika, bahkan saat Aika populer dulu di SMA. Juri hanya dekat dengan Aika karena Jesse selalu berada di dekatnya. Itu saja. Tapi perasaan yang dirasakannya, kenikmatan saat berciuman dengan Aika, membuat Juri tidak bisa menghentikannya.

“Baiklah. Kalau begitu kita lupakan saja. Aku kembali ke kelas, 10 menit lagi kelas keduaku dimulai.” Aika berjalan meninggalkan Juri, berusaha terlihat baik-baik saja. Tapi perasaannya tidak mau berkompromi dengan keputusannya. Aika merasakan nyeri di sudut hatinya.

*****
Yua dan Hazuki memutuskan untuk pergi ke kantin terlebih dulu sebelum menuju kelas mereka. “Jadi Juri pacaran sama Chiru?” Hazuki mengulangi pernyataan Yua masih tidak percaya.

“Aku tahu memang sulit dipercaya. Tapi itu kenyataannya.”

“Makanya kamu membiarkan Myuto mendekati Aika, karena dengan begitu Aika tidak perlu terlalu sakit hati memikirkannya?” Yua mengangguk, membenarkan kesimpulan yang berhasil dibuat Hazuki.

Ohayou!” Yua terkejut melihat Kouchi berjalan ke arah mereka.

“Dia pasti mau ngobrol denganmu. Aku lebih baik pergi saja. Setiap kali bertemu dengannya, bawaannya emosi mulu.” Kata Yua. Hazuki hanya bisa mengangguk pasrah saat Yua sudah berdiri dari kursinya hendak meninggalkan mereka berdua.

“Yua mau kemana? Padahal aku sengaja menghampiri karena mau ngobrol denganmu.”

“HAAAAAH?” Mendengar Kouchi ingin ngobrol dengannya ternyata menimbulkan dampak keterkejutan yang lebih dahsyat dibandingkan mendengar kabar Juri dan Chiru pacaran. Mulut Yua masih menganga saat Kouchi terpaksa menjejalkan sisa roti miliknya untuk membuat mulut gadis itu menutup dan sibuk mengunyah.

“Tumben kamu mau ngobrol sama aku, bukannya ngajak berantem?!” kata Yua setelah selesai mengunyah roti yang dijejalkan Kouchi. “Aku mau tanya-tanya tentang Risa-chan padamu.”

“Risa-chan? Tunggu dulu.” Yua mengeluarkan ponselnya, mengecek beberapa pesan yang belum dibukanya. Yua ingat tadi pagi sempat melihat kalau semalam ada pesan masuk dari Risa. Yua mulai membaca pesan dari Risa.

Yua-nee kenal Kouchi-san?

Sudah? Itu saja? Apa hubungan Risa dan Kouchi?

Sepertinya Kouchi dapat membaca pikiran Yua dan mulai menjelaskan pada Yua dan Hazuki tentang pertemuannya dengan Risa kemarin.

“Jadi aku ingin tahu tentang kesukaan-kesukaan Risa, hobinya apa, begitu. Katanya, dia sudah menganggapmu seperti kakaknya sendiri. Pasti kalian dekat banget, kan? Bantuin aku ya, plis?” Kouchi memasang tampang memohonnya yang sangat imut, yang mampu meluluhkan hati Hazuki, tapi sayangnya tidak hati Yua.

“Kalau kamu memang serius ingin mendekatinya, harusnya kamu tanya langsung padanya. Bukan malah tanya sama aku. Sudahlah, aku balik ke kelas dulu.” Yua meninggalkan Kouchi begitu saja, merasa sangat kesal. Bisa-bisanya dia mau memanfaatkanku untuk mendekati cewek lain. Emangnya aku cewek apaan? Umpat Yua dalam hati.

Hazuki berlari mengejar Yua, berusaha menyeimbangi langkahnya. “Kamu kenapa kesal begitu? Kouchi kan cuma minta bantuanmu agar bisa mendekati Risa. Harusnya kamu lebih memahami bagaimana perjuangan mendekati orang yang kamu suka. Apalagi wajah memohonnya tadi, imut sekali.”

“Makan tuh wajah imut.” Yua menumpahkan kekesalannya pada Hazuki. “Maaf Hazu, aku tidak bermaksud marah denganmu. Tapi aku sudah bilang kan, setiap kali bertemu dengannya, bawaannya emosi mulu. Apalagi dia ingin memanfaatkanku. Apa coba untungnya buatku? Lagipula, aku tidak yakin mengikhlaskan Risa berpacaran dengan orang seperti itu.”

“Jangan benci-benci, nanti jadi cinta lho.” Ledek Hazuki. “Mending pacaran sama cumi daripada sama dia! Amit-amit dah!” Hazuki tertawa melihat reaksi Yua, lalu mencubiti pipinya.

“Tunggu, itu bukannya Chiru sama Taiga? Taiga! Taiga!” Yua berteriak memanggil Taiga. Taiga dan Chiru tampak berjalan ke arahnya. “Habis dari mana?” tanya Yua saat Taiga sudah di dekatnya.

“Dari ruang administrasi, ngumpulin formulir pendaftaran duta kampus.” Jawab Taiga.

“Kalian jadi daftar? Wah, kita pasti dukung dengan sepenuh hati untuk kemenangan kalian! Semangat! Chiru, mohon bantuannya untuk membimbing Taiga ya!” Yua membungkukkan badannya di depan Chiru, memintakan bantuan untuk Taiga.

“Aku pasti akan membantunya. Kita akan saling bantu sampai menjadi juara. Tenang saja, Yua.” Chiru menganggukkan kepalanya, meyakinkan Yua untuk mempercayainya. “Jangan pedulikan dia, Chiru. Anak ini memang berisik.” Kata Taiga seraya mencubit pipi Yua.

“Ya ampun, pipiku! Baru saja dicubit Hazu, sekarang dicubit Taiga. Lama-lama aku kasih price tag pipiku kalau kalian suka banget mencubitnya. Mau cubit? Bayar!” kata-kata Yua malah membuat Hazuki dan Taiga menyerang kedua pipinya, membuatnya mengaduh kesakitan. Chiru tertawa melihat kelakuan Yua, Hazuki dan Taiga.

*****
Jesse melihat Aika memasuki kelas dengan mata berkaca-kaca. Karena penasaran, Jesse mendekatinya. “Ada apa?” tanya Jesse.

“He? Apa?” Aika malah balik bertanya. “Juri ya? Apa karena dia pacaran dengan Chiru, jadi kamu sakit hati karenanya?” Jesse mencoba menebak apa yang sudah terjadi dengan Aika. Selama ini Jesse selalu tahu kalau Aika mencintai Juri, meskipun gadis itu selalu berpura-pura kesal setiap kali Juri mengganggunya.

“Oh, bukan itu. Tentu saja aku tidak keberatan dia pacaran dengan siapa saja. Aku tidak berhak melarangnya.” Jesse tidak percaya dengan yang dikatakan Aika, karena dia tahu betapa Aika mencintai Juri. “Kalau kamu mengijinkannya, seharusnya aku bisa membuat Juri sadar kalau dia juga mencintaimu.”

“Dengan cara pura-pura mau menciumku di depan Juri?” Jesse kaget bagaimana Aika bisa tahu ide yang akan diusulkannya, bahkan sebelum dia mengatakannya. “Juri memberitahuku.” Jelas Aika saat melihat wajah bertanya-tanya Jesse.

“Ide konyol sekali! Lagipula, mana mungkin Juri akan bereaksi sama denganmu. Karena aku tidak yakin apakah Juri juga mencintaiku. Dia bahkan bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa setelah menciumku.”

“Bodoh. Juri melakukan hal yang sama persis dengan apa yang aku lakukan dulu. Pura-pura menyukai Chiru untuk menutupi perasaannya ke kamu. Aku sahabatnya. Terkadang aku lebih tahu apa yang dia tidak tahu tentang dirinya.” Jesse berusaha meyakinkan Aika kalau Juri sebenarnya juga mencintai gadis itu.

“Jadi Aika mencintai Juri?” Aika dan Jesse sontak kaget saat melihat Ayaka sudah berdiri di belakang Jesse.

“Dan Juri juga mencintai Aika?” Ayaka mengulang pernyataan Jesse, meminta penegasan agar Jesse mengulanginya. Jesse mengangguk yakin. “Seandainya aku tahu, aku tidak akan membantunya untuk mendekati Chiru.”

“Tidak Ayaka. Juri mencintai Chiru. Aku tahu itu. Sebagai gadis yang mencintainya, aku melihatnya begitu bahagia saat dia bersama Chiru. Jangan khawatirkan aku.” Aika berusaha tersenyum seikhlas mungkin agar Ayaka berhenti menyalahkan diri.

“Juri tidak mencintai Chiru. Chiru menceritakannya padaku. Ada orang lain yang lebih Juri cintai. Mungkin saja orang itu kamu.” Aika mengerjapkan matanya, tidak mengerti maksud Ayaka.

Ayaka menceritakan tentang apa yang sudah Chiru ceritakan kepadanya, tentang ciuman Juri dan semua yang dikatakannya. Perasaan Aika jungkir balik membayangkan semuanya. Mengingat bagaimana cara Juri mencium Aika, hatinya melonjak bahagia. “Tapi bagaimana dengan Chiru?”

“Aika, ada banyak cowok yang berebut untuk menjadi pacarnya! Mana mungkin Chiru tertarik dengan Juri?” Jesse mengatakannya sambil tertawa. Aika memandang Jesse tidak suka. “Juri yang paling menarik menurutku.” Balas Aika disambut gelak tawa Jesse dan Ayaka. “Sebaiknya kalian kembali ke bangku kalian. Kiritani-sensei sudah datang.”

Aika memperhatikan Ayaka yang kembali ke tempat duduknya di samping Chiru. Saat melihat Chiru, Aika masih terus memikirkannya. “Bagaimana kalau Chiru benar-benar mencintai Juri? Apa aku boleh bahagia di atas kesedihannya?”

*****
Hokuto terpaksa mengambil bahan di apartemen Sora sendiri. Yasui memilih menghabiskan jam kosongnya untuk pergi bersama Myuto yang sedang patah hati. Ternyata Aika menjelaskan kalau selama ini Myuto hanya salah mengartikan perhatiannya. Aika selalu menganggap mereka hanya berteman. Terlebih, Aika menyarankan Myuto untuk kembali kepada Ruika, karena Aika tahu betapa gadis itu masih mencintai Myuto. Myuto terlihat begitu depresi, menyesali kebodohannya karena sudah menyerah dan setuju dengan keputusan Aika. Maka dari itu, Yasui sedang berusaha menghiburnya.

“Hokuto-kun sendiri saja? Katanya sama Yasui?” tanya Sora saat mendapati Hokuto seorang diri di depan pintu apartemennya. “Yasui ada urusan mendadak, senpai.”

“Oh. Yasudah masuk dulu.” Hokuto mengikuti Sora memasuki rumahnya, matanya menjelajah memperhatikan isi rumah Sora. “Senpai tinggal dengan Hikari?” tanya Hokuto basa-basi.

“Dia tinggal dengan Ayahku. Aku memutuskan tinggal sendiri setelah Ibuku menikah lagi.” Hokuto salah tingkah, tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Hokuto tidak menyangka kalau keluarga Sora sudah tidak bersama lagi. “Gomen, senpai.” Hokuto menyesal sudah bertanya tadi.

“Tenang saja. Aku tidak pernah berusaha menyembunyikannya. Tapi memang jarang ada yang bertanya.” Senyum Sora mampu mengobati rasa bersalah Hokuto dan memutuskan untuk tidak lagi membahasnya.

“Ini bahan-bahannya. Kamu bisa bawa sendiri ke bawah?” Sora mengulurkan sebuah kardus berukuran sedang kepada Hokuto. “Sora-senpai tidak sekalian bareng ke kampusnya?” Hokuto mencoba menawari.

“Tapi aku masih belum ganti. Nanti kamu lama nungguinnya.” Kata Sora tidak enak hati. “Tenang saja, aku bawa mobil Taiga. Selama senpai tidak membuat kita telat, selama apapun, aku akan tetap menunggu.”

Sora mengangguk, merasakan kupingnya memanas mendengar kata-kata Hokuto. Sora tahu, Hokuto mengatakannya tanpa ada maksud apapun. Tapi tetap saja, jantungnya berdebar cepat karena terlalu memikirkannya. “Aku akan berusaha secepat mungkin.” Kata Sora salah tingkah, buru-buru meninggalkan Hokuto dan masuk ke kamarnya.

Dengan kecepatan super kilat, untuk pertama kalinya, Sora dalam menyelesaikan riasannya hanya dalam waktu 10 menit. Rekor tercepat yang dimilikinya. Setelah cukup yakin dengan baju yang dipilih dan juga make up nya, Sora mengajak Hokuto untuk segera berangkat saja.

Selama ini Sora terlalu fokus dengan pekerjaan paruh waktu dan mempertahankan prestasi, sehingga tidak terlalu menanggapi cowok-cowok yang mendekatinya. Entah mengapa, Sora merasa kalau Hokuto berbeda. Setiap melihat Hokuto, Sora seperti melihat dirinya tapi dalam gender yang berbeda. Berulang kali Sora memikirkan topik pembicaraan untuk melunturkan kecanggungan di antara meraka.

Perhatian Sora tertuju pada foto lima remaja SMA yang terpasang di dashboard mobil di depannya. Hokuto menyadari Sora sedang memperhatikan fotonya dengan para sahabatnya. “Sora-senpai tahu Taiga dan Hazuki? Mereka asisten lab magang juga. Bimbingannya Sanada-senpai.” Sora mengangguk, memperhatikan tangan Hokuto yang menunjuk kedua temannya, Taiga dan Hazuki.

“Kalau yang ini namanya Shintaro, yang ini Yua.” Hokuto mengenalkan kedua temannya yang lain kepada Sora. Sora memperhatikan wajah-wajah sahabat Hokuto, merasa tidak asing dengan semuanya. “Mereka anak jurusan kita semua?”

“Iya. Kita memutuskan untuk memilih jurusan yang sama, karena ingin menggapai mimpi bersama.” Hokuto tersenyum, membanggakan teman-temannya. “Ii na.” Komentar Sora.

“Mereka sahabat terbaik yang aku punya. Meskipun aku berasal dari keluarga berantakan, mereka tetap mau berteman denganku. Bahkan Taiga mengajakku tinggal bersamanya setelah papa mengusirku. Andai aku tidak punya mereka, mungkin aku sudah memutuskan untuk meninggalkan dunia.”

Sora kaget, ternyata benar, Hokuto mempunyai masalah yang sama dengannya. Meskipun Sora tidak pernah merasakan diusir oleh orang tuanya, tapi Sora bisa mengerti bagaimana perasaan Hokuto saat mengalaminya. “Kamu beruntung mempunyai teman-teman seperti itu.”

Hokuto merasakan keirian dalam nada suara Sora, sehingga membuatnya memberanikan diri untuk bertanya. “Sora-senpai punya teman-teman seperti itu juga, kan?” tanya Hokuto hati-hati, mengawasi bagaimana reaksi Sora.

“Dulu aku juga punya. Tapi setelah kuliah, persahabatan kami terpecah-pecah. Semua mulai sibuk dengan kehidupan masing-masing. Setelah mereka punya pacar, sahabat tidak terlalu penting. Cuma Yuma yang masih bertahan, memutuskan selalu berada di dekatku.” Sora mengatakannya dengan santai, seolah hal itu sudah berlalu sangat lama sehingga tidak lagi menyakiti hatinya.

“Yuma?” Hokuto penasaran dengan satu nama yang terakhir disebutkan Sora. “Sanada Yuma. Kami juga berteman dari SMA sama seperti kalian.” Hokuto ber-oh panjang begitu mengetahui siapa Yuma yang dimaksud oleh Sora.

“Padahal aku tahu, dia tidak pernah bermimpi untuk menjadi scientist. Dia selalu mengatakan ingin menjadi dokter. Tapi setiap kali aku bertanya mengapa dia memutuskan untuk mengambil jurusan yang sama denganku, dia menjawab dengan santainya ‘toh sama-sama pakai jas putih’ katanya.” Sora membayangkan lagi saat Sanada harus rela melepas cita-citanya, dan memilih mengambil jurusan yang sama dengannya hanya karena mereka berdua berhasil mendapatkan beasiswa.

“Ternyata Sanapi baik juga ya. Padahal dia selalu galak sama adik tingkatnya.” Sora tertawa mendengar kata-kata Hokuto, membuat Hokuto ikut tertawa bersamanya. “Dia memang begitu. Yuma orangnya sangat taat pada peraturan. Dia tidak akan membiarkan seorang pun melanggar peraturan di depan matanya. Tapi sebenarnya dia bisa sangat baik kalau kalian sudah mengenalnya.”

Lalu mereka mulai menceritakan tentang persahabatan masing-masing. Sora begitu menikmati saat Hokuto menceritakan tentang sahabat-sahabatnya, membayangkan betapa menyenangkannya pengalaman mereka. Akhirnya kecanggunganpun mulai luntur di antara keduanya.

*****
Sejak semalam, sepertinya Hagiya sengaja menghindari Risa. Bahkan, Hagiya meninggalkan Risa saat berangkat sekolah, tidak menunggunya untuk berangkat bersama seperti biasa.

“Hagi-chan kenapa, sih?” keluh Risa saat melihat Hagiya terus menghindarinya. Bahkan saat pulang sekolah, Hagiya masih saja tidak menyapanya.

“Bodo’ ah. Aku jadi pengen beli jambu.” Risa memutuskan untuk pergi ke sebuah toko buah dekat sekolahnya, karena yakin Hagiya tidak akan mau membantu memanen jambu-jambu di kebun rumahnya.

Risa sedang asyik memilih beberapa jambu yang dirasanya cukup matang, ketika seorang pemuda datang mengagetkannya. “Hei, Risa-chan!” Sapa pemuda itu dengan senyuman imutnya.

“Oh, hei, Kouchi-san?” balas Risa setelah berhasil menghubungkan ingatan antara wajah yang pernah ditemuinya dan nama yang familiar di telinganya. “Sedang apa di sini?” tanya Risa menambahkan.

“Cari kamu.” Jawab Kouchi dengan senyum menggoda. Risa salah tingkah karena tidak menyangka Kouchi akan merespon seperti itu. Risa belum pernah menghadapi cowok blak-blakan sebelumnya. “Oh, eh.” Hanya jawaban tidak jelas yang keluar dari mulut Risa. Kouchi tertawa melihat reaksi Risa.

“Tidak perlu salah tingkah seperti itu. Kebetulan aku harus membeli beberapa bahan yang kelupaan di toko itu.” Kouchi menunjuk toko yang dia maksud. “Terus aku lihat kamu lewat, jadi aku mengikutimu.” Kouchi tersenyum puas melihat kelegaan di wajah Risa.

“Tapi berhubung ketemu kamu, mau ngobrol-ngobrol dulu? Aku traktir kamu deh! Aku masih ada satu jam sebelum harus kembali ke kampus.” Risa menimbang-nimbang sebelum memutuskan, tapi akhirnya mengangguk juga karena luluh setelah melihat wajah memohon Kouchi yang super imut.

Setelah mengobrol cukup lama, Risa mulai menemukan kenyamanan yang familiar saat bersama Kouchi, dan memutuskan memanggilnya dengan sapaan -kun. “Sumpah, Kouchi-kun mirip sekali dengan Yua-nee!”

Mendengar dirinya disama-samakan dengan Yua, Kouchi merasa tidak terima. “Apanya?” Wajah Kouchi penuh dengan tanda tanya.

“Pertama, kalian sama-sama imutnya. Aku jadi teringat Yua-nee setiap kali melihat senyum Kouchi-kun.” Kouchi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, malu-malu karena dibilang imut sama gadis yang lebih muda darinya.

“Kalian juga punya kesukaan yang sama, hobi sama, bahkan sifat kalian banyak yang sama!!” Risa tertawa menyadari terlalu banyak kesamaan di antara keduanya.

“Padahal dia selalu membuatku kesal cuma karena melihatnya.” Kouchi menggembungkan pipinya, kiri-kanan secara bergantian. Risa tersenyum melihat kebiasaan Kouchi yang juga sangat suka dilakukan Yua saat tidak sependapat dengannya. “Coba Kouchi-kun mengenal Yua-nee lebih baik, kamu pasti akan menyukainya!”

Kouchi hendak membantah komentar Risa saat gadis itu mengingatkannya untuk segera kembali ke kampus, karena waktu satu jam mereka sudah habis. Dengan perasaan masih setengah gondok, Kouchi terpaksa mengakhiri pertemuan mereka, dan memutuskan kembali ke kampusnya. “Kenapa juga akhirnya harus bahas Yua??!” gerutu Kouchi saat pergi meninggalkan Risa.

To be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s