[Multichapter] ITS REASON (#2)

Its Reason
By: kyomochii
Genre: Drama, Friendship, Romance
Rating: PG-15
Cast: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Kouchi Yugo, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Morita Myuto, Yasui Kentaro, Sanada Yuma, Hagiya Keigo (Love Tune as Figuran); Ichigo Yua, Kirie Hazuki, Kimura Aika, Akane Hayakawa (Ayaka), Nishinoya Chiru, Suomi Risa, Takahara Airin, Hideyoshi Sora (OC)
Disclaimer: Thanks to All My “Rusuh Random” Friends Who Lend Their OC for This Story.
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Tiba-tiba saja Ayaka berubah pikiran dan meminta Jesse untuk langsung mengantarnya pulang. Setibanya di apartemen, Jesse hanya mengikuti Ayaka masih dalam diam. Ayaka menyalakan TV dan memindah salurannya dengan acak, tanpa berniat menonton satu acara pun. Ada yang salah, pikir Jesse. “Aya-chan, kamu marah?” Ayaka masih diam.

Jesse menarik bahu Ayaka, memeluknya, lalu menyandarkan kepala gadis itu di pundaknya. “Kalau kamu ada masalah, cerita sama aku. Kita sudah janji tidak ada rahasia di antara kita.” Kata Jesse seraya mengecup ujung kepala gadis yang dicintanya itu. Jesse kaget, tiba-tiba Ayaka menarik diri dan mendorong Jesse.

“Kenapa kamu mencium ujung kepalaku?” kata Ayaka dengan nada marah. “Apa karena di depan Aika?” lanjutnya masih dalam kemarahan.

Jesse benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud oleh Ayaka. Kenapa kekasihnya mempermasalahkan dia yang mengecup ujung kepalanya? Lalu kenapa membawa-bawa nama Aika?

“Kamu masih menyukainya! Makanya kamu tidak mau menciumku di depan Aika!” Jesse mengerjapkan matanya, berusaha menyadari apa yang dimaksudkan Ayaka.

Sekarang dia paham kenapa Ayaka marah kepadanya. Lalu dia menarik Ayaka dengan paksa, menekan bibir gadis itu dengan bibirnya. Jesse menggerakkan lidahnya, berusaha menerobos mulut Ayaka yang masih terkunci. Ayaka berusaha melepaskan diri, tapi Jesse mempererat pelukannya sehingga membuat Ayaka terpaksa pasrah.

Perlahan Jesse melepaskan pelukannya dan berhenti mencium Ayaka, membiarkan gadis itu memikirkan lagi perasaannya. “Kenapa kamu tidak membalas ciumanku? Apa kamu tidak bisa lagi merasakan cintaku?” Ayaka masih terdiam, tidak mau berkata apa-apa.

“Aku sudah menjelaskan padamu, aku hanya pernah menyukai Aika, bukan mencintainya. Cuma kamu satu-satunya yang kucinta.” Jesse menjelaskan dengan putus asa.

“Tapi kamu tidak bisa berhenti berada di dekat Aika! Kamu selalu mengajak Aika bergabung dengan kelompok kita! Pasti bukan hanya karena alasan kita dari SMA yang sama?! Kamu masih selalu memikirkannya!” Jawab Ayaka di sela-sela tangis dan teriakannya.

“Berhenti menuduhku! Kamu tidak tahu apa-apa!” Jesse tidak sadar mulai menaikkan nada suaranya juga.

“Bagaimana aku tahu kalau kamu tidak pernah memberitahuku?! Kamu tidak mau menciumku di depan Aika! Kamu cuma mengecup ujung kepalaku! Apa-apaan itu?!” Ayaka masih tidak mau menyerah dengan tuduhan-tuduhannya.

“Kamu juga tidak pernah memberitahuku apa hubunganmu dengan Taiga!” Jesse balik menuduh Ayaka.

“Kenapa bawa-bawa Taiga? Jelas-jelas aku tidak ada hubungan dengannya!” Jawab Ayaka dengan suara sedikit tertahan, tampak sedang menyembunyikan sesuatu.

“Aku mengenalmu Ayaka! Sangat mengenalmu! Aku selalu tahu saat kamu berbohong, tapi aku hanya diam. Karena aku yakin, kamu akan cerita kepadaku di saat yang tepat. Karena kita sudah berjanji tidak akan menyembunyikan apapun di antara kita!”

“Tapi kamu menyembunyikan sesuatu dariku tentang Aika!” Ayaka mencoba mengembalikan topik pada Aika.

“Baik. Aku akan mengatakannya padamu.” Jesse mencoba menenangkan diri, mengatur suaranya agar tidak meninggi.

“Aku memang selalu memperhatikan Aika, tapi bukan karena aku mencintainya. Hanya karena aku sudah berjanji pada Hazuki tidak akan pernah membiarkan Aika sendiri. Lagipula ada orang lain yang dicintainya, tapi aku tidak bisa memberitahumu, karena aku tidak berhak memberitahukan tanpa seijinnya. Bukan aku tidak ingin memberitahumu, tapi aku sudah berjanji akan merahasiakannya sampai Aika sendiri yang mengatakannya.”

Ayaka tahu, Jesse sudah berkata jujur kepadanya. Sejak tinggal di Jepang, keluarga Lewis banyak menerima bantuan dari keluarga Kirie, sehingga membuatnya selalu ingin membalas budi kepada Hazuki meskipun gadis itu tidak pernah memintanya. Mungkin ini kali pertama Hazuki memohon pada Jesse untuk memperhatikan Aika. Terlebih, mendengar kenyataan kalau ada orang lain yang dicintai Aika, beban di hati Ayaka menjadi terasa terangkat semua.

“Taiga mendekatiku karena dia ingin memohon bantuanku untuk mendekati Chiru. Tapi aku tahu dia hanya ingin mendekati Chiru untuk mendobrak popularitas, makanya aku lebih memilih membantu Juri. Karena itu, aku tahu kalau Taiga tidak mungkin suka dengan Yua.” Jelas Ayaka sudah dengan suara normalnya.

“Taiga ingin mendekati Chiru? Itu kabar baru buatku!” Jesse sampai terlonjak dari tempat duduknya, menghiperbolis keterkejutannya.

“Kamu belum tahu Taiga juga berniat mencalonkan diri sebagai duta kampus mewakili angkatan kita? Jadi ini kali pertama ada perwakilan laki-laki dan perempuan dari angkatan tahun pertama. Dia ingin menempel pada Chiru untuk meningkatkan popularitasnya sekaligus menyerap ilmunya.”

“Maaf aku sudah curiga. Aku percaya denganmu. Selalu.” Jesse memegang erat tangan Ayaka.

“Aku juga minta maaf. Aku yang memulainya. Aku tidak bermaksud menyembunyikan tentang Taiga darimu. Tapi aku kesal karena mengira kamu menyembunyikan sesuatu tentang Aika. Tapi mulai sekarang, aku akan selalu percaya padamu. Aku janji.” Ayaka mengecup lembut bibir Jesse.

*****
Juri dan Chiru memutuskan kencan pertama mereka dengan pergi ke taman hiburan. “Mau naik roller coaster?”

“Tidak. Aku trauma dengan roller coaster.” Kata Chiru menolak tawaran Juri. “Kenapa? Ada pengalaman buruk?” tanya Juri penasaran. “Bukan pengalaman sendiri sih. Tapi sejak nonton Final Destination 3, membuatku parno dengan roller coaster.” Jawab Chiru malu-malu.

“Ya ampun, Chiru!! Cewek perfek kayak kamu ternyata bisa trauma cuma gara-gara habis nonton film?” Juri terbahak-bahak, masih tidak percaya Chiru ternyata bisa polos juga.

“Sudah dong Juri-kun tertawanya! Kita cari yang lain saja, yuk! Mau naik biang lala?”

“Hmm, Oke!” Juri mengikuti Chiru menaiki wahana hiburan pilihannya. Juri memperhatikan Chiru yang sangat senang menikmati pemandangan. Tanpa sadar membuat tangannya refleks menggenggam tangan Chiru.

“Juri-kun?” Juri kaget dengan apa yang dilakukannya, lalu buru-buru melepas genggaman tangannya.

Ano, apa aku boleh tanya sesuatu?” Juri mengangguk, menunggu Chiru mengutarakan pertanyaannya. “Apa yang Juri-kun suka dariku?”

Pertanyaan yang sederhana, seharusnya Juri bisa memberikan jawabannya dengan mudah. Tapi Juri hanya terdiam untuk beberapa saat, memikirkan jawaban apa yang harus dia katakan. Akankah Chiru bisa menerima kalau Juri mengatakan, ‘karena kamu cantik.’? Apa yang harus aku katakan? Juri masih terus berpikir keras.

“Apa karena aku banyak yang mendekati, jadi kamu juga mencoba peruntungan untuk mendekatiku juga?” Juri terkejut mendengar pernyataan Chiru, lalu buru-buru tidak membenarkannya.

“Bukan begitu. Tentu saja bukan hanya karena itu. Aku begitu menyukaimu. Hanya itu saja yang aku tahu.”

“Kalau kamu begitu menyukaiku, kenapa kamu tidak pernah berniat menciumku?” Lagi-lagi Juri dibuat terkejut dengan pertanyaan Chiru yang terlalu terus terang. “Ah, itu.” Juri berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya.

“Kupikir, aku akan sangat tidak sopan kalau melakukannya saat Chiru tidak mempunyai perasaan yang sama denganku.”

“Kalau aku tidak menyukaimu, mana mungkin aku menerimamu.” Juri bisa melihat semburat merah di pipi Chiru, menunjukkan gadis itu menahan malu saat mengatakannya. Ini pertama kalinya, Juri mendengar seseorang bilang menyukainya. Apalagi ini seorang Chiru, gadis perfek yang selalu menjadi idamannya!

“Bolehkah aku menciummu?” tanya Juri untuk memastikan kalau dia tidak salah mengartikan jawaban terakhir Chiru. Chiru mengangguk, membuat Juri yakin kalau dia memang tidak keliru.

Juri menarik lembut bahu Chiru, membuat gadis itu sekarang menatap langsung ke arahnya. Jantung Juri berpacu cepat saking gugupnya, masih ragu untuk melakukannya. Chiru menutup matanya, memberikan tanda kalau Juri sudah boleh menciumnya. Perlahan Juri mulai menempelkan bibirnya di atas bibir Chiru, mencoba menghirup napas Chiru yang memburu sama seperti napasnya. Juri dapat merasakan desiran aneh di dadanya, sangat tidak nyaman. Setelah dirasa cukup lama, Juri melepaskan ciumannya.

Aneh. Memang benar ini ciuman pertama Juri, bukan pertama sih, tapi setidaknya pertama kali dengan gadis yang dia sukai. Dia sudah berkali-kali melihat adegan ciuman yang penuh gairah dari film-film luar negeri yang ditontonnya. Bahkan dia sering dengan sengaja membeli DVD anime ecchi bahkan hentai hanya untuk mempelajari bagaimana caranya berhubungan dengan perempuan. Tapi aneh. Juri tidak merasakan gairah sama sekali saat menempelkan bibirnya di bibir Chiru tadi. Juri menciumnya, tapi tidak merasakan apa-apa.

“Juri-kun baru pertama kali ciuman ya?” Pertanyaan Chiru berhasil mengembalikan Juri dari alam bawah sadarnya. “Eh? Tidak. Ah, iya.” Juri bingung mau menjawab apa.

“Pantas saja, ciuman Juri-kun terasa seperti ciuman pertamaku saat SMP. Bahkan anak SMP sekarang bisa melakukan ciuman lebih bergairah daripada ciuman Juri-kun tadi.”

“Itu bukan sesuatu yang harusnya dibanggakan, kan? Aku cuma ingin menyimpan ciumanku untuk orang yang benar-benar aku cintai.” Juri memberikan pembelaan.

“Berarti Juri-kun tidak mencintaiku. Itu tadi bukan cara seseorang mencium orang yang dicintainya.” Pintu biang lala terbuka, Chiru keluar meninggalkan Juri yang masih terdiam tidak bergerak, sehingga membuat petugas biang lala terpaksa menutup pintu lagi dan membiarkan Juri naik sekali lagi.

*****
Yua dan Hazuki bersiap turun saat Taiga mengabari sudah ada di lobi. “Kalian lama banget, sih?” Omel Taiga saat melihat Hazuki dan Yua keluar dari lift.

“Yasudah, tidak perlu pakai marah biar tidak tambah lama.” Hazuki menjulurkan lidahnya, berjalan cepat menuju mobil Taiga.

Yua melihat Shintaro duduk di bangku depan sebelah Hokuto yang memegang kemudi. “Lho, Shin juga ikut? Katanya mau ke rumah…” Yua belum menyelesaikan kalimatnya saat tangan Taiga sudah membekap mulutnya.

“Ssstt, jangan dibahas sekarang.” Yua mengangguk, menuruti kata-kata Taiga, lalu duduk di bangku belakang, bertiga dengan Hazuki juga.

“Lama kita tidak kumpul lengkap berlima seperti ini!” Hazuki berseru dari bangku belakang. “Andai Aika bisa ikut juga, pasti tambah seru!”

“Kenapa tidak kamu coba hubungi saja dia? Siapa tahu, dia lagi senggang malam ini.” Usul Taiga menanggapi ide Yua.

“Hmm, boleh juga. Aku pinjam ponselmu, punyaku habis baterainya. Aku lupa bawa charger.”

Yua menelusuri kontak Aika di ponsel Taiga, lalu memencet tombol ‘call’ begitu menemukannya. Tidak lama kemudian, terdengar suara Aika di seberang. “Moshi moshi.”

Moshi moshi, Aika kamu sedang apa?” tanya Yua.

“Tidak ada. Ada apa, Yua-chan?”

“Ikutan kita ke pesta, yuk? Acaranya di café SixTONES dekat tempatmu. Perlu dijemput juga, kah?” Yua merasakan berpasang-pasang mata menatapnya, seolah bertanya ‘mau ditaruh mana si Aika?’

“Kalian sudah berangkat? Aku masih perlu siap-siap. Jadi aku nyusul saja deh. Lagipula dekat juga dari apartemenku. See you there.” Aika menutup sambungan telepon mereka.

“Beres, kan?” Yua nyengir melihat ekspresi lega di wajah teman-temannya.

“Nanti kalian mau perform apa cuma tamu undangan?” Shintaro mulai bertanya, berhenti menjadi silent listener.

“Sebenarnya cuma dapat undangan sebagai tamu sih dari si Myuto. Dia kan manajer di tempat itu. Tapi kalau disuruh perform, ya kita siap-siap saja sih.” Hokuto menjawab tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan.

“Hah? Ini café, manajernya si Myuto? Aika tahu? Bukannya dia sedang menghindari Myuto?” Shintaro memang tidak terlalu dekat dengan Aika, sahabat Hazuki dan Yua. Karena Aika berasal dari SMA yang berbeda dari mereka.

“Tahu kok. Kita juga sering ke sana bersama Aika. Lagipula, Aika tidak pernah menghindari Myuto. Itu cuma gosip.” Hazuki menjelaskan. Lalu kelimanya membahas lagu apa yang akan mereka bawakan kalau mendadak disuruh menjadi pengisi acara.

Untuk pertama kalinya, Yua melihat café SixTONES sepenuh itu. Kebanyakan dari tamu yang datang, tampak seperti masih SMA. Yua dan kawan-kawan pergi menghampiri Myuto dan Yasui, dua orang dari sekian banyak tamu yang bisa mereka kenali.

“Jadi, tugas resume jurnalmu sudah selesai?” tanya Hazuki sinis saat melihat Myuto.

“Sudah dong! Kan dibantuin Yassu!” Jawab Myuto dengan bangga.

“Aku semakin prihatin dengan Yasui.” Komen Taiga sependapat dengan Hazuki.

“Ini pesta ulang tahun ya? Ulang tahun siapa?” tanya Yua penasaran.

“Nah, kalian tidak akan percaya kalau aku mengatakannya!” Myuto tampak sangat bersemangat saat akan menjelaskan pesta siapa yang diadakan di café tempatnya bekerja.

“Awalnya aku mengira dia hanya gadis SMA biasa, bernama Hideyoshi Hikari. Aku tidak mengenalnya. Karena menurutku Hideyoshi itu nama keluarga yang umum sekali, kan?”

“Hideyoshi?” tanya Hokuto dengan penuh penekanan saat menyebutkan nama itu.

“Yup yup! Hideyoshi Hikari, adik dari Hideyoshi Sora. Dia adik Sora-senpai!” kata Myuto membuat teman-temannya sekarang sibuk mengitarkan pandangan berusaha mencari sosok Sora-senpai.

“Sora-senpai masih ke toilet sepertinya. Tunggu saja, dia pasti ke sini kalau melihatmu Hokuto! Saat melihatku, dia menanyakan apakah kamu akan datang juga ke acara ini.” Kata Yasui. Hokuto terkesiap mendengar kata-kata Yasui.

“Aku? Kenapa?” tanya Hokuto sok polos.

“Iya. Sora-senpai sepertinya cuma mengenalmu. Dia tahu yassu, tapi lupa namanya. Sedangkan saat melihatku, dia seperti tidak pernah mengenalku. Sedih banget, kan?” Curhat Myuto sedikit mendramatisir.

“Wah, jangan-jangan kode nih buat kamu, Hoku! Kapan lagi coba, senpai keren cuma menotismu? Aku akan mendukungmu dengan sepenuh hatiku!” Shintaro mengacungkan kedua jempolnya untuk Hokuto, begitu juga Yasui sangat menyetujui pendapat Shintaro. Hokuto mengalihkan pandangannya, tidak ingin menanggapi Shintaro dan Yasui.

“Wait wait! Kan yang mengidolakan Sora-senpai aku? Kenapa kalian malah memberikan dukungan buat Hokuto?” Myuto tidak terima dengan sikap Shintaro dan Yasui, berusaha merayu kedua temannya untuk memberikan dukungan untuknya juga.

Taiga merasakan ponselnya bergetar, dia melihat nama Aika di layarnya. “Yua, Aika sepertinya sudah di depan. Aku jemput dia dulu ya.” Lalu Taiga menghilang dari pandangan teman-temannya.

“Aika?” tanya Myuto. Kekagetan tersirat jelas di wajahnya mendengar nama Aika disebut.

“Nah, makanya kamu biarkan Sora-senpai dengan Hoku! Kamu fokus dengan Aika saja!” Yasui mengangguk, menyetujui ide Shintaro.

“Hei, kan sudah kubilang Aika…” Hazuki merasakan Yua menarik tangannya, mencoba menahannya untuk melanjutkan kata-katanya.

“Myuto, kamu baik-baik sama Aika ya!” kata Yua memberikan dukungan pada Myuto, satu suara dengan Shintaro dan Yasui. Hazuki menatap Yua, meminta penjelasan.

“Besok aku ceritakan. Percayalah padaku.” Yua berbisik tepat ke telinga Hazuki agar tidak ada orang lain yang mendengarnya, berhasil membuat Hazuki terpaksa mengangguk dan kembali menikmati pestanya.

“Hey, semua! Aika sudah datang! Kalian lagi ngomongin apa? Pasti lagi ngomongin aku ya?” kata Aika saat bergabung dengan teman-temannya.

“Kok kamu tahu?” tanya Myuto. “Kan aku memang populer, jadi banyak yang ngomongin.” Aika tertawa.

“Bukan kita sih, tapi memang ada yang mau ngomong sama kamu.” Kata Yasui memberikan kode.

“Aika, mau ngobrol berdua denganku?” tanya Myuto ragu-ragu menanggapi kode Yasui.

“Wah, padahal Aika baru sampai, kamu sudah mau memonopolinya!” protes Hazuki.

“Sebentar saja. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan.” Aika memperhatikan kedua sahabatnya, meminta dukungan. Hazuki dengan enggan menganggukkan kepalanya, sedangkan Yua menganggukkan kepalanya tanpa ragu, memberikan dukungan penuh.

“Baiklah. Hanya sebentar saja ya?” Aika mengikuti Myuto pergi meninggalkan teman-temannya.

“Eh? Ngomong-ngomong Taiga mana ya? Kok belum balik padahal Aikanya sudah sampai sini?” Yua berusaha mencari sosok Taiga, tapi sejauh mata memandang Yua tidak bisa menemukannya.

“Palingan juga ketemu cewek cantik yang membuatnya nyangkut.” Yua mengangguk, setuju dengan Hokuto. “Benar juga.”

“Itu sepertinya Sora-senpai. Aku akan pergi menyapanya. Sampai nanti, semua.” Hokuto beranjak dari tempat duduknya, berjalan menghampiri Sora yang duduk tidak jauh dari tempat duduk mereka. Yua merasakan Hazuki menyenggol tangannnya cukup keras, membuatnya mengaduh “Apa?”

“Kamu tadi dengar tidak nada suara Hokutan seperti cemburu waktu bilang Taiga mungkin ketemu cewek cantik?” kata Hazuki penuh semangat.

“Hah? Menurutku biasa saja. Kamu saja yang berlebihan memikirkannya, Hazu.” Kata Yua, menolak menyetujui gagasan Hazuki.

“Ih, lihat deh. Makanya Hokutan langsung bilang mau menyapa Sora-senpai. Karena dia semacam ingin membuktikan kalau tidak cuma Taiga yang bisa mendekati cewek.” Hazuki berbicara sedekat mungkin dengan Yua agar Shintaro dan Yasui tidak dapat mendengar suaranya. Yua memandang Hazuki tidak percaya, tapi enggan memulai perdebatannya dengannya dan terpaksa diam saja tidak menanggapinya.

Sudah satu jam lebih, tapi Aika dan Myuto belum kembali juga. “Myuto sama Aika kok belum balik juga, ya? Katanya sebentar.” Hazuki mulai gelisah karena pestanya sudah hampir selesai. “Yasui-kun, antar aku mencari mereka.”

“Eeee? Kenapa? Kan mereka sudah janji pasti kembali kalau urusan mereka selesai. Kalau belum kembali, berarti urusan mereka belum selesai.” Yasui tampak enggan menerima ajakan Hazuki.

“Iya, Hazuki. Tenang saja, Myuto tidak mungkin berani ngapa-ngapain Aika. Kalaupun dia ngapa-ngapain, Aika pasti bisa membela diri. Dia sabuk hitam, kan?” kata Shintaro berusaha menenangkan.

Tapi sepertinya kata-kata Shintaro tidak menggoyahkan keinginan Hazuki yang masih memaksa Yasui mengantarnya untuk sekedar mengecek keadaan, katanya. Akhirnya Yasui menyerah dan mengikuti Hazuki, meninggalkan Yua hanya berdua dengan Shintaro.

“Aku bosan berdua terus denganmu dari tadi pagi.” Kata Yua.

“Kamu kira aku tidak bosan? Lagi-lagi kamu, lagi-lagi kamu.” Protes Shintaro tidak mau kalah, lalu keduanya pun tertawa. Tiba-tiba, Shintaro terdiam saat seorang gadis berjalan melewati tempat duduk mereka.

“Yua, itu Ai-chan, kan? Aku tidak salah lihat, kan?” Yua memfokuskan pandangannya pada gadis yang baru melewatinya. Yua tidak yakin, karena dia tidak pernah bertemu langsung dengan Airin. Yua hanya selalu mendengar tentang Airin dari cerita Shintaro dan yang lain.

Shintaro berdiri, berusaha mengejar gadis itu, membuat Yua terpaksa mengikutinya. Langkah keduanya terhenti saat gadis itu sekarang sedang mengobrol dengan manja bersama seorang pemuda, yang mereka kenal bernama Hagiya. “Itu memang Ai-chan.” Kata Shintaro dengan suara berat.

Yua memandang Shintaro dengan khawatir, tidak tahu harus berbuat apa. Yua menggenggam tangan Shintaro, mencoba menenangkan. Yua bisa merasakan tangan Shintaro bergetar saking emosinya. “Shin…” Yua mempererat genggaman tangannya, takut kalau-kalau Shintaro tidak dapat menahan emosinya.

Setelah cukup lama, akhirnya Yua dapat merasakan tangan Shintaro tidak lagi bergetar dan mulai berbicara dengan tenang. “Aku akan berbicara dengannya.” Yua melepaskan genggaman tangannya, tapi masih terus mengawasi dengan perasaan was-was.

“Airin.” Terdengar Shintaro memanggil nama kekasihnya. Airin sangat terkejut, tidak menyangka bisa bertemu Shintaro di pesta, dia pikir tidak ada seorang pun yang akan mengenalnya.

“Shin-kun?” Wajah Airin terlihat lebih pucat dari sebelumnya, di bawah sorot lampu café yang tidak terlalu terang.

“Kebetulan kita bertemu di sini. Kamu kenal dengan yang punya pesta?” tanya Shintaro masih tetap tenang, meskipun Yua yakin dapat mendengar nada menuduh di setiap katanya.

“Ah, aku tadi lupa bawa ponsel ke sekolah. Waktu sampai rumah aku mau membalas pesanmu, tapi ternyata baterainya drop. Jadi aku berencana membalas pesanmu setelah pulang nanti.” Airin berusaha menjelaskan.

“Kamu kenal dengan yang punya pesta? Pasti pergi ke pesta dengan Hagiya jauh lebih penting daripada membalas pesanku?” Shintaro tidak dapat lagi menyembunyikan nada penuh tuduhannya. Wajah Airin tampak semakin memucat.

“Bukan begitu. Hagiya mengajakku karena Risa-chan…” Suara Airin bergetar terlalu hebat membuatnya tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya.

“Tenang dulu, Shintaro-kun. Kamu salah paham. Aku bisa menjelaskannya.” Hagiya tampak berusaha menengahi.

“Kamu tidak perlu ikut campur! Cuma satu orang yang harus menjelaskan semuanya.” Shintaro membentak Hagiya, membuat beberapa tamu undangan menoleh ke arah mereka.

Yua khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan sehingga nekad masuk ke dalam masalah, tepat sebelum Taiga menarik tangannya untuk mencegahnya. “Yua-chan jangan ikut-ikut. Shin pasti tahu yang harus dilakukannya.”

“Tapi Taiga, tangan Shin-chan tadi bergetar hebat sekali. Kalau dia mengamuk, bagaimana?” Taiga mengelus kepala Yua, mencoba menenangkan.

“Dia tidak akan mengamuk di keramaian. Kamu tenang saja.” Secara magis, Taiga selalu berhasil membuat Yua menuruti kata-katanya.

“Kamu membuatnya takut.” Hagiya masih berusaha menjadi penengah di antara Shintaro dan Airin.

“Kubilang kamu tidak usah ikut campur!” Bentak Shintaro lagi, tapi tidak dengan suara setinggi tadi. Lebih terdengar seperti ancaman daripada bentakan.

“Ayo, kita pulang! Aku akan menjelaskan semuanya.” Airin menarik tangan Shintaro, mengajaknya pergi, tapi Hagiya menahannya.

“Tidak perlu mengkhawatirkanku, Hagi-kun. Kamu juga punya urusan yang harus kamu luruskan. Gomen, aku harus memperbaiki masalahku terlebih dulu.” Shintaro pergi begitu saja, mengikuti Airin masih tanpa bersuara.

“Kita juga harus pulang. Teman-teman sudah menunggu kita.” Yua mengangguk, mengikuti langkah Taiga.

“Shintaro akan baik-baik saja.” Yua bergumam, mencoba menenangkan dirinya. Taiga menepuk lembut kepala Yua.

*****
Risa memandangi sebuah pesan yang ditempelkan Hagiya di pintu kulkas rumah mereka, untuk memberitahukan keberadaannya.

Pergi ke Pesta Ulang Tahun Hikari dengan AIRIN. – Hagi –

“Perlu banget ya ditulis pergi dengan siapa? Pake capslock semua pula nama Airinnya.” Gumam Risa sambil membuka pintu kulkasnya untuk mengambil jus jambu miliknya.

“Lah, kok tinggal separuh? Ma… Pa… Jus jambuku kok sisa setengah? Kalian minum ya??!” Risa berteriak agar kedua orang tuanya bisa mendengarnya.

“Tidak kooook!” Jawab mama-papanya satu suara berasal dari satu tempat. “Ih, kalian kok kompakan sih bohongnya? Awas ya kalau sampai memergoki kalian minum jusku! Kalian harus menambah uang sakuku, kalau sampai ketahuan!” kata Risa masih berteriak.

“Padahal aku sudah capek-capek memanen sendiri jambunya.” Keluh Risa sambil meneguk sisa jus jambunya. “Eh, tidak juga sih. Hagi-chan yang memetik semuanya, aku yang memandorinya.” Risa tertawa. Kalau dipikir-pikir, seharusnya dia berbagi jus itu dengan Hagiya. Berhubung tinggal setengah, Risa tidak rela untuk membaginya.

“Eh, atau jangan-jangan Hagi-chan yang sudah meminum setengahnya?” Risa sibuk membayangkan Hagiya yang sedang meminum jusnya, ketika sebuah pesan masuk membuyarkan pikirannya.

Risa membuka ponselnya. Dia mendapatkan pesan singkat yang benar-benar sangat singkat.

Colek.

Hanya satu kata itu yang tampak di layar ponselnya. Risa tidak bisa menebak, orang iseng mana yang mengiriminya pesan itu. Dia menutup lagi ponselnya, lalu berjalan kembali ke kamar. Tiba-tiba pesan berikutnya masuk lagi.

Kok tidak dibalas? Ini Risa-chan, kan?

“Dia tahu aku? Bagaimana dia bisa tahu nomorku? Stalker?” Tidak ada pilihan lain selain bertanya langsung pada si pengirim pesan. Ini siapa? Risa mengetik di ponselnya.

Ya ampun, aku lupa tidak memberitahukan namaku.
Aku Kouchi Yugo, teman Shintaro yang ketemu di café tadi.
Kamu masih ingat, kan?

Risa berusaha mengingat siapa yang ditemuinya sepanjang sore tadi. Risa tadi bertemu dengan Shintaro, lalu Taiga dan Hokuto datang bersama seorang pemuda yang belum dikenal Risa. Pemuda itu memperkenalkan dirinya, namanya Kouchi Yugo.

Ah iya, aku ingat!
Kouchi-san yang datang bersama dengan Hokuto-kun dan Taiga-kun, kan?
Maaf tadi tidak sempat ngobrol banyak.

Kouchi melihat balasan Risa, senyum mengembang di wajahnya. Ternyata gadis itu mengingatnya. “Terus harus bahas apa lagi ya? Hmmm.” Kouchi memikirkan cukup lama topik pembicaraan apa yang sebaiknya dia pilih untuk memulai pembicaraan di antara mereka. “Sepertinya tanya hal-hal yang kemungkinan kita sama-sama tahu saja dulu. Biar bisa nyambung dan mudah akrabnya.”

Iya sayang sekali tadi tidak bisa ngobrol banyak.
Ngomong-ngomong, Risa-chan kenal baik sama Shintaro, Hokuto, Taiga ya?
Sepertinya kalian akrab sekali.

Sebenarnya, Risa tidak berniat terlalu menanggapi pesan dari Kouchi. Tapi, berhubung pemuda itu membawa nama-nama senpainya, bahkan Taiga, senpai idolanya, Risa tidak ingin memberikan kesan buruk di mata Kouchi.

Sebenarnya tidak terlalu kenal, kok!
Aku kenal mereka karena mereka sahabat Yua-nee.
Yua-nee sudah seperti kakak buatku.
Kita kenal baik dari masih SMP.

“Wah, ternyata Yua tidak cuma di brotherzone sama Taiga. Tapi juga di sisterzone sama Risa.” Kouchi tertawa. “Berarti, terpaksa harus membahas tentang Yua nih? Padahal aku tidak punya kesan baik sedikitpun tentang cewek itu. Tapi mana mungkin aku menjelek-jelekan Yua di depan Risa, dia sudah menganggap Yua seperti kakaknya sendiri.” Kouchi berpikir keras untuk mengetikkan pesan balasannya.

Oh, kamu kenal Yua juga?
Aku tidak terlalu mengenalnya sih.
Hanya sekedar tahu, karena dia selalu bersama Taiga.
Aku satu kelas dengan Taiga.

Risa hampir lupa, kalau Taiga, idolanya, memang selalu dekat dengan Yua, gadis yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri. Pesan Kouchi singkat, tapi sepertinya Risa membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk memahami maknanya dan mengatur perasaannya.

“Jadi Yua-nee masih terus sama Taiga-kun? Mereka sudah pacaran belum ya? Apa aku tanyakan pada Kouchi-san saja? Tapi apa tidak apa-apa? Pasti Kouchi-san menghubungku bukan untuk membahas masalah mereka.” Berkali-kali Risa mengetikkan kata-kata lalu menghapusnya lagi, bingung apa yang harus dia katakan.

Moshi-moshi.
Risa-chan? Sudah tidur ya?

Kouchi memandang layar ponselnya. Masih tidak ada balasan. “Hmmm, sepertinya dia memang sudah tidur.”

Beneran sudah tidur ya?
Yasudah kalau begitu, disambung besok lagi ya.
Oyasuminasai.

“Disambung besok lagi? Oh, ya ampun, sepertinya dia berniat mendekatiku.” Pikir Risa. Tapi kenyataan itu masih belum bisa sepenuhnya mengalihkan perhatian Risa dari keingintahuannya tentang hubungan Yua dan Taiga. Dia memutuskan untuk membiarkan Kouchi beranggapan kalau dia sudah tidur, lalu mengetikkan beberapa kata, dan mengirimnya ke seseorang yang sudah beberapa bulan ini tidak dihubunginya.

To be continued…

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] ITS REASON (#2)

  1. hanazuki00

    Awalannya udah begitu jess ayaka hahahaha
    Aku bingung deh sama Hazuki otaknya jalannya cepet amat kalo tentang HokuTai wkwkwk
    Mulai berpasang pasangan, Hazuki sendiri sama imajinasinya haha
    Nunggu keganjenan Hoku-sora dan kepolosan Shin-ai

    Reply
  2. magentaclover

    Aaaaaa lanjutkannnnnnn ASAP 😂😂
    Duh Airin kamu ngapain sama Hagiya? Lol itu Aika dibawa bawa sama hubungannya Ayaka x Jesse… Aika salah apa??? Aika sabuk hitam lol dan Hazuki sama Yua kyaknya ada yg dukung Aika sama Myuto ada yg gak. Sentuhan Taiga magis buat Yua sentuhan playboy XD dan Kouchii?? Omg kamu genit sekali mas deketikn Risa lol. Sora-senpai mana mana kok ga ada sesuatu sama Hokuto???? Juri x Chiru ya itu Juri kok baka ya bilang ciumannya buat orang yang bener2 dia cintai wkww Hazuki mana nih ga ngefujo? XD

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s