[Multichapter] ITS REASON (#1)

ITS REASON
By: kyomochii
Genre: Drama, Friendship, Romance
Rating: PG-15
Cast: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Kouchi Yugo, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Morita Myuto, Yasui Kentaro, Sanada Yuma, Hagiya Keigo (Love Tune as Figuran); Ichigo Yua, Kirie Hazuki, Kimura Aika, Akane Hayakawa (Ayaka), Nishinoya Chiru, Suomi Risa, Takahara Airin, Hideyoshi Sora (OC)
Disclaimer: Thanks to All My “Rusuh Random” Friends Who Lend Their OC for This Story.
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Otsukaresama! Aku duluan ya. Sudah ada janji. Bagian yang harus kukerjakan, nanti kirim email ya beb. Mmuah.” Juri mengerlingkan matanya ke arah Yua dan Shintaro sebelum meninggalkan kedua teman sekelompoknya itu.

“Dia sehat?” tanya Yua. Shintaro tampak memandang ke arah Juri, masih geli sekaligus ngeri. Keduanya lalu berpandangan tidak dapat menahan tawa. “Kamu sudah dengar belum, Yua?”

“Dengar apa?” Shintaro mengatur napas, berusaha menghentikan tawanya. “Kamu pasti tidak percaya!” Yua memasang kedua telinganya baik-baik, bersiap menerima informasi ajaib yang akan disampaikan Shintaro. “Kemarin kan aku lagi main ke anak-anak klub basket. Terus mereka lagi rame banget ngomongin kalau Juri nekat nembak si Chiru!!”

Yua tidak tahu harus berekspresi bagaimana mendengar berita itu. Dengan wajah tanpa ekspresi, Yua menanyakan pertanyaan yang dia yakin jawabannya pasti terdengar sangat mustahil. “Terus diterima?” Shintaro mengangguk, mengiyakan pertanyaan Yua. Keadaan hening untuk beberapa saat. Yua dapat melihat ekspresi tidak percaya juga terpancar di wajah Shintaro meskipun ditutupi keinginannnya untuk tertawa.

“Mustahil!!!!” Akhirnya Yua tidak bisa lagi menahan keterkejutannya. “Deshou! Semua orang juga berpikir itu mustahil! Tapi si Juri beruntung banget deh. Atau mungkin si Chiru lagi mabuk waktu kasih jawaban ke Juri? Si perfeksionis dan si biang rusuh paling caper. Arienai.” Shintaro lagi-lagi tertawa, tapi Yua enggan mengikutinya kali ini.

“Aku masih tidak bisa bayangkan, Shin! Kamu tidak bercanda, kan?” Tidak ada pilihan lain, akhirnya Shintaro mengeluarkan senjata andalannya untuk membuktikan kebenaran itu pada Yua. Shintaro mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto kepada Yua.

“Juri mengirimkan foto ini hampir ke semua anak cowok sebagai bukti kalau dia benar-benar pacaran dengan Chiru.” Yua melihat foto Juri sedang memeluk bahu Chiru dengan mesra, senyum mengembang di wajah keduanya. Masih tidak ingin percaya, tapi Yua akhirnya seperti dipaksa untuk percaya juga. “Bagaimana bisa?”

“Sepertinya ini semua berkat Ayaka. Cewek supel kayak dia pasti punya seribu cara untuk meyakinkan si Chiru buat nerima Juri. Secara Juri kan sahabat baik pacarnya, Jesse.” Shintaro membuat asumsi. “Hmm, masuk akal juga sih. Berarti kesimpulannya, si Juri beruntung dan si Chiru buntung ya?” Kali ini Yua mengikuti Shintaro, melepas tawa sekencang-kencangnya. Anggap saja, sebagai bentuk ucapan selamat atas keberuntungan Juri.

“Heh, kalau tertawa yang sopan bisa tidak sih? Kedengaran sampai luar ruangan, tahu! Untung saja lagi tidak ada si Sanapi. Kalau ada, kalian pasti sudah diusir. Lagian, beres-beres doang daritadi tidak selesai-selesai. Tinggal kalian berdua lho.” Yua melihat ke arah pintu, seorang pemuda sudah berdiri di sana, memperhatikan mereka berdua.

“Kamu mau ngapain ke sini? Bukannya kelas kami jadwal terakhir yang menggunakan laboratorium untuk hari ini?” Pemuda itu menunjukkan sebuah kunci yang artinya dia sedang melakukan piket laboratorium hari ini. Yua buru-buru memasukkan sisa-sisa bukunya ke dalam tas, lalu memaksa Shintaro untuk cepat-cepat mengikutinya meninggalkan laboratorium.

“Kamu ada masalah sama Kouchi?” tanya Shintaro saat keduanya sudah berjalan cukup jauh meninggalkan laboratorium. “Tidak ada sih. Tapi melihatnya saja sudah membuatku sebal. Kalau bukan karena teman sekelas Taiga, aku berharap tidak pernah mengenalnya.”

“Panjang umur, itu yang lagi diomongin muncul. Taiga, woi Taiga!” Taiga berjalan santai ke arah kedua teman yang memanggilnya. “Baru selesai ngelab?” tanya Taiga.

“Bisa lihat lah. Nanti malam jadi?” Taiga tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Yua. “Lihat nanti ya. Tunggu di tempat Hazuki, jadi tidak jadi aku akan menjemputmu. Aku sudah janji mengantarmu pulang hari ini.”

“Kalian mau ke mana?” tanya Shintaro. “Biasa, ada undangan pesta di salah satu kafe tempat kita nongkrong. Mau ikut?” Yua berbaik hati menawarkan, meskipun sebenarnya dia sudah tahu pasti apa yang akan dikatakan Shintaro. “Next time, ya. Aku harus ke rumah Ai-chan.” Shintaro mengecek jam tangannya. “Sudah jam pulang nih. Aku mau jemput Ai-chan dulu ya. Bye.”

Taiga dan Yua saling berpandangan. “Dia masih sama Airin?” Yua mengangkat bahunya. “Harusnya kamu yang lebih tahu. Bukannya kalian berteman lebih lama?”

“Terakhir dengar kabar, si Airin sudah punya pacar baru. Entahlah, hanya Shin-chan dan Tuhan yang tahu.” Yua dan Taiga tersenyum penuh makna. “Semoga Shin selalu bahagia.”

“Kamu masih ada kelas?” Pertanyaan Yua belum sempat dijawab Taiga, Kouchi datang memberikan jawaban untuk Yua. “Taiga, rapat asisten lab magang dimulai sepuluh menit lagi.”

“Yua kita harus pergi. Nanti aku hubungi lagi. Langsung ke tempat Hazuki, jangan kemana-mana, oke!?” Taiga menepuk lembut kepala Yua, saat gadis itu mengangguk, lalu pergi meninggalkannya.

Ketika sudah berjalan cukup jauh, hingga yakin Yua tidak dapat mendengar percakapan mereka, Kouchi berinisiatif untuk bertanya. “Kamu pacaran sama Yua?”

Seperti sudah tidak kaget dengan pertanyaan serupa, Taiga menjawab santai pertanyaan Kouchi. “Yua itu sudah seperti adikku sendiri. Kamu tahu kan, aku anak tunggal? Begitupun Yua. Jadi kita saling mengisi peran kakak-adik yang selama ini kita inginkan.”

“Yah, brotherzone dong? Kamu yakin tidak ada perasaan apa-apa sama Yua? Nanti nyesel lho kalau dia sudah sama orang lain!” Ledek Kouchi, memperingatkan Taiga. “Kalau orang itu bisa menjaga Yua lebih baik dari aku, kenapa tidak? Lagipula, masa depan Yua akan lebih bahagia kalau bukan aku yang harus mendampinginya.”

“Kenapa bisa begitu? Kamu kan tidak tahu masa depan.” Taiga tersenyum mendengar pertanyaan Kouchi. “Aku lebih tahu tentang diriku sendiri.” Jawab Taiga. “Kamu kenapa tanya-tanya tentang Yua? Naksir ya? Ingat, kamu harus bisa meyakinkanku dulu buat bisa merebut adikku dariku!”

“Enak saja. Aku kan cuma penasaran. Cowok sepertiku, sepuluh kali lebih baik dari cowok manapun yang pantas mendekati Yua. Lagipula, Yua bukan seleraku.” Kouchi berjalan cepat sebelum Taiga bisa memukulnya.

*****
Jesse memperhatikan Aika yang masih sibuk memilah buku-buku untuk dijadikan referensi tugas kelompok mereka, dan Chiru di sampingnya sedang sibuk membagi tugas dan mencatat beberapa judul buku. Sudah hampir satu jam Jesse terjebak di perpustakaan bersama dua gadis paling perfeksionis di kelasnya.

“Ayaka kemana, sih?” Jesse memencet nomor di ponselnya, berusaha menghubungi kekasihnya. “Ayaka tadi bilang mau menemui Kiritani-sensei, sekalian mengambilkan formulir kontes duta kampus untukku.”

“Kamu serius jadi ikut kontes itu, Chiru? Padahal kesempatan menang untuk anak tahun pertama seperti kita ini hampir mustahil lho.” Aika memandang Chiru dengan ekspresi khawatir.

“Kenapa, mustahil? Aku sudah punya banyak pengalaman tentang segala hal yang berbau modelling. Lagipula, ini kesempatan emas untuk memperbesar peluang untuk jadi kandidat asisten dosen. Kalaupun tidak menang tahun ini, tahun depan aku masih bisa mencobanya lagi.” Jawab Chiru dengan penuh percaya diri.

Aika terdiam. Kalau urusan tentang kepercayaan diri, dia mengaku masih kalah jauh dibandingkan dengan Chiru. “Oh iya, Aika. Aku dengar Myuto masih suka mengganggumu, kamu baik-baik saja? Sepertinya kamu perlu cepat punya pacar baru biar dia tidak terus-terusan mengganggumu.”

“Aku tidak pacaran dengan Myuto. Dan dia tidak menggangguku. Daripada Myuto, ada orang lain yang lebih menggangguku.” Mengganggu pikiranku, maksudnya. Aika menambahkan dalam hati.

“Siapa?” Aika tidak ingin menjawab pertanyaan Chiru, karena merasa memang tidak ada kewajiban Chiru mengetahuinya, mereka tidak terlalu dekat untuk berbagi rahasia. “Ah, itu Ayaka sudah balik. Sama Juri juga.” Seketika Aika dan Chiru menghentikan aktifitas mereka. Keduanya memalingkan wajah ke arah yang ditunjuk Jesse sebagai arah datang Ayaka dan Juri.

“Kenapa biang rusuh itu ikut juga? Jess, bagianmu belum selasai. Awas saja kalau kamu main kabur sama Juri!” Aika menatap galak ke arah Jesse yang dibalas dengan senyum jahil dari wajah pemuda blasteran itu. “Juri ke sini bukan untuk menemuiku. Ada orang lain yang mau diajaknya pergi, bukan aku.”

“Maksudmu?” tanya Aika tidak mengerti maksud Jesse.

“Chiruuuu, ini aku sudah mengambilkan formulir untukmu.” Ayaka menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Chiru lalu duduk di sebelah Jesse yang menyambutnya dengan suka cita, membuat Jesse tidak mempedulikan pertanyaan Aika tadi. “Sekalian aku pungut pacar barumu.” Ayaka menambahkan.

“Enak saja, pungut pungut. Emangnya aku sampah?!” Juri menggertak Ayaka tapi tidak bisa menyembunyikan perasaan gugupnya. “Hai!” Juri memalingkan wajahnya, menatap Chiru dengan penuh makna. “Sudah selesai kerja kelompoknya? Atau aku harus menunggu dulu?” tanya Juri kepada Chiru, masih dengan ekspresi gugup.

“Aku sudah menyelesaikan bagianku kok. Kita bisa pergi sekarang.” Jawab Chiru sambil membereskan beberapa barangnya, lalu berdiri merangkul tangan Juri. “Aika, jangan biarkan mereka pacaran mulu! Aku mengandalkanmu. Kita pergi dulu ya, bye.”

Aika masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari bayangan Juri dan Chiru yang mulai menghilang dari balik pintu. Masih sulit untuk mempercayai apa yang sudah dilihatnya. “Chiru sungguhan pacaran sama Juri?”

Jesse dan Ayaka terkikik melihat wajah kebingungan Aika. “Sungguhan kok.” Jawab Jesse. “Bagaimana bisa?” tanya Aika masih belum bisa percaya.

“Ya bisa saja. Chiru kan lagi jomblo. Lagipula, Juri tidak buruk-buruk amat. Mungkin dengan pacaran sama Chiru bisa merubah sikap urakan Juri menjadi lebih baik.” kata Ayaka. Mau tidak mau, Aika setuju dengan pendapat Ayaka. Aika tidak pernah berpikiran Juri sebagai orang yang buruk, sebenarnya.

“Wah aku akan sangat menantikan saat itu terjadi kalau begitu.” Lalu ketiganya pun tertawa pelan, mengingat mereka sedang berada di perpustakaan.

Setelah selesai memutuskan buku mana saja yang akan mereka jadikan referensi, Aika membagikan tugas kepada Ayaka dan Jesse sesuai dengan catatan yang sudah dibuatkan Chiru. “Mau ke kantin dulu?”

Pass. Aku ada janji dengan Yua dan Hazuki malam ini.” Kata Aika. Sebenarnya itu hanya alasannya saja untuk menolak ajakan Jesse karena merasa tidak enak dengan Ayaka yang memberikan kode mereka hanya ingin pergi berdua. “Sama Taiga juga, pasti?”

“Ya, tahu sendiri lah. Taiga dan Yua itu sudah seperti satu paket. Dimana ada Yua, di situ ada Taiga.”

“Mereka itu seperti orang pacaran saja.” kata Jesse dengan nada tidak peduli. “Mereka tidak mungkin pacaran.” kata Ayaka. Jesse menatap Ayaka dengan curiga. “Bagaimana kamu bisa seyakin itu?”

“Kamu tahu sendiri kan? Taiga itu selalu dekat dengan cewek-cewek cantik dan perfeksionis. Mana mungkin dia tertarik dengan Yua yang cuek dan childish? Cewek-cewek seperti Yua dan aku itu, hanya akan menarik untuk orang-orang yang tidak pernah melihat seseorang dari penampilan fisiknya. Seperti kamu.” Jelas Ayaka. Jesse mengecup ujung kepala kekasihnya itu dengan penuh sayang. “Kata siapa kamu tidak cantik? Kamu gadis tercantik yang pernah kutemui.”

“Mending kalian langsung pulang saja kalau mau mesra-mesraan seperti itu. Jangan di tempat umum. Aku pergi dulu.” Kata Aika sewot, siap-siap meninggalkan kedua temannya. “Makanya jangan jaim-jaim amat. Balikan saja sama si Myuto, biar bisa mesra-mesraan lagi.”

No, Thanks.” Jawab Aika setengah berteriak, tidak mempedulikan orang-orang yang menegurnya, lalu berjalan cepat meninggalkan perpustakaan.

*****
Hazuki berkali-kali mengecek ponselnya dengan khawatir. “Kenapa tidak bisa dihubungi sih anak ini?!”

“Ada apa, Hazuki?” Hokuto mendekati Hazuki, penasaran apa yang sedang terjadi.

“Ini Hokutan, aku tidak bisa menghubungi Yua. Padahal baru beberapa menit lalu dia mengirim pesan kalau dia mau ke tempatku.” Jelas Hazuki.

“Dia punya kunci apartemenmu, kan? Sudahlah, dia pasti juga tahu kalau kamu harus ikut rapat dulu. Taiga tadi memberitahuku kalau dia sudah bertemu Yua saat perjalanan ke sini. Sepertinya Taiga lupa kalau kamu asisten lab magang juga. Tapi aku yakin, Yua pasti tahu.” Hazuki mengangguk mendengar penjelasan Hokuto.

“Kamu sudah ketemu Taiga?” Hazuki melihat Hokuto penuh makna. “Tadi kebetulan papasan saat absensi.” Jawab Hokuto.

“Oooh, kebetulan?”

Sepertinya Hokuto tidak menyadari kata-kata terakhir Hazuki sebagai sebuah pertanyaan dan mengabaikannya. Lalu keduanya berkumpul dengan beberapa mahasiswa tahun pertama yang mendaftar sebagai asisten lab magang di jurusan mereka. Hazuki hanya mengenali beberapa di antara mereka seperti Taiga, Kouchi, Myuto dan Yasui selain Hokuto yang berasal dari kelas yang sama dengannya.

Sepertinya tidak banyak anak perempuan yang mencalonkan diri sebagai asisten lab. Mungkin menurut mereka, menjadi asisten lab adalah pekerjaan paruh waktu yang membosankan. Tapi Hazuki senang, setidaknya pemikiran itu tidak berlaku untuk semua gadis cantik yang dikenalnya. Hazuki dapat melihat seorang Sora-senpai, mahasiswa tingkat akhir yang sangat populer bahkan di angkatannya, ada di antara jajaran asisten senior yang akan membimbing mereka.

Hideyoshi Sora, pemenang kontes duta kampus selama 3 tahun berturut-turut sejak tahun keduanya, cantik, ramah dan idola semua pria. Bahkan dosen-dosen memperebutkan untuk menjadikannya asisten dosen mereka.

“Hei, Sora-senpai asisten lab juga? Wah, pasti beruntung banget yang di bawah bimbingannya. Kalian sudah tahu belum siapa saja yang akan dibimbing Sora-senpai?” tanya Myuto penuh semangat.

“Makanya sekarang kita di sini untuk mengetahui itu, Myuto. Sebaiknya kamu diam dulu atau Profesor Johnny akan menandaimu.” Ancaman Yasui berhasil membuat Myuto tidak lagi berkata-kata. Ditandai oleh Profesor Johnny adalah mimpi buruk, apalagi untuk seorang asisten. Profesor Johnny tidak pernah main-main dengan nilai, tapi sekalinya dia menandai seorang mahasiswa, maka dia akan menjadikan mahasiswa itu sebagai “asisten pribadi”nya selama masa pendidikan mereka.

Setelah beberapa pengarahan, akhirnya pembagian kelompok diumumkan. Empat asisten magang dalam satu kelompok, dan Hazuki harus menerima nasibnya satu kelompok bersama Taiga, Myuto dan Kouchi dibawah bimbingan Sanada-senpai. Sedangkan Hokuto dan Yasui bersama dua orang lain yang belum dikenal Hazuki di bawah bimbingan Sora-senpai.

“Yoy, kita sekelompok.” Kata Taiga menyapa Hazuki. “Sepertinya aku apes banget bisa sekelompok sama kamu.” Balas Hazuki meladeni sapaan Taiga.

“Yaelah Hazuki, bilang saja kalau kamu senang bisa satu kelompok denganku. Aku tahu kok. Saking senangnya, kamu sampai menggembungkan pipimu sebesar itu. Aku jadi terharu.” Myuto dan Kouchi ikut tertawa mendengar lelucon Taiga.

“Tuh, kan. Kamu pasti menggodaku terus kalau kita sekelompok. Aku mau minta dipindahin kelompok saja kalau begitu.” Kata Hazuki pura-pura merajuk.

“Hazuki di sini saja. Punya anggota kelompok cewek itu sangat berharga. Kami tidak akan membiarkanmu pindah kelompok. Abaikan saja Taiga, oke?” Kouchi merayu Hazuki untuk mengurungkan niatnya, lalu terpaksa mengangguk menyetujui. Kouchi imut sekali, pikir Hazuki. Hazuki selalu lemah kalau harus menolak permintaan dari orang-orang yang dipikirnya imut, seperti Yua. Dengan alasan yang sama, Hazuki tidak pernah keberatan berteman dengan Taiga yang selalu suka menggodanya.

“Enaknya jadi Hokuto dan Yassu. Bisa sedekat itu dengan Sora-senpai… Aku juga mauuuu!” Myuto melihat kelompok Hokuto dengan penuh keirian. “Kalau kamu mau, aku rela menukarkanmu dengan Hokuto. Tapi nanti aku akan prihatin dengan Yasui harus sekelompok denganmu lagi.” Kata Taiga.

“Sudah-sudah. Kelompok ini hanya sementara, selama pelatihan saja. Nanti kita harus bekerja sendiri kalau sudah terlatih.” Kouchi berusaha menengahi. “Lagipula, kamu sudah menyerah dengan Aika? Dia mengabaikanmu lagi, ya?”

“Hmmm, dia sepertinya masih tidak bisa memaafkan kesalahanku.” Ekspresi di wajah Myuto mendadak berubah menjadi murung. “Aku pikir, waktu aku pacaran dengan Aika, aku sudah putus dengan Ruika. Tapi tiba-tiba saja dia kembali dan mengatakan kalau kita masih pacaran. Aika tidak mau mendengar penjelasan apapun dariku. Aku jadi merasa bersalah.”

“Lhoo, memang kalian pernah pacaran ya? Aika tidak pernah bilang tuh sama aku ataupun Yua.” Kata-kata Hazuki sepertinya berhasil membawa Myuto kembali ke kenyataan. “Emm, memang belum sih. Tapi aku sudah mengatakan kalau aku menyukainya.”

“Tenang saja, Aika tidak pernah membencimu atau menganggapmu sebagai pengganggu. Karena ada orang lain yang lebih mengganggunya dibandingkan kamu.” terang Hazuki.

“Terus aku harus sedih atau senang nih mendengarnya?”

“Sepertinya kamu harus bersedih karena Profesor Johnny sudah menyuruh Sanapi jalan kemari.” Hazuki, Myuto dan Kouchi refleks melihat arah pandangan Taiga, lalu tertegun bersama.

30 menit sudah berlalu sejak Sanada mulai menjelaskan tentang tugas-tugas dan perlengkapan yang harus disiapkan timnya untuk satu bulan ke depan. Untung saja, dia tidak marah-marah.

“Karena besok kita harus sudah mulai, sebisa mungkin hari ini ada yang bersedia membeli bahan-bahannya. Kouchi, aku menunjukmu sebagai ketua. Jadi aku ingin kamu bertanggung jawab pada timmu. Sekian untuk hari ini.”

Setelah Sanada pergi, Kouchi memandang teman-temannya bergantian. “Aku pass. Ada tugas kelompok yang harus kukerjakan karena besok pengumpulan terakhir.” Kata Myuto.

“Tugas kelompok yang mana?” tanya Taiga curiga.

“Tugas kelompok resume jurnal bio-kinetik. Aku belum menyelesaikan bagianku.” Jawab Myuto malu-malu.

“Tugas dari minggu kemarin itu? Ya ampun, Myuto! Aku semakin prihatin dengan Yasui karena harus selalu berpasangan denganmu.”

“Setidaknya Yassu tidak pernah benar-benar merasa begitu. Cuma dia yang paling mengertiku.” Myuto tertawa.

“Aku pulang dulu ya.” Myuto menghampiri Yasui sebelum pulang, lalu keduanya pun pergi bersama.

“Jadi kita pergi bertiga?” kata Hazuki. “Tidak Hazuki, kamu pulang juga. Yua sudah menunggumu. Biar aku dan Kouchi saja yang mengurusinya. Nanti begitu selesai, aku akan langsung ke tempatmu.”

“Baiklah kalau begitu.” Hazuki ijin untuk pulang lebih dulu.

“Pulang duluan?” tanya Hokuto saat Hazuki berjalan melewatinya.

“Iya, Taiga menyuruhku pulang duluan karena mengkhawatirkan Yua. Timmu siapa yang berangkat beli bahan?”

“Semua bahan sudah disiapkan Sora-senpai di apartemennya. Jadi besok aku dan Yasui tinggal ambil saja.” Jelas Hokuto.

“Enaknya. Coba Sanada-senpai juga lebih bertanggung jawab seperti itu.” Keluh Hazuki.

“Jangan samakan Sora-senpai dengan Sanapi!” Hokuto tertawa.

“Belum mau pulang?” tanya Hazuki.

“Taiga bisa membunuhku kalau aku pulang duluan. Dia dan Kouchi yang harus beli bahan, kan? Jadi aku harus mengantarkan mereka. Sampai ketemu nanti malam.”

Hazuki masih memperhatikan Hokuto yang berjalan pergi, menuju Taiga dan Kouchi. Dia terkikik sendiri membayangkan apa yang mungkin terjadi.

“Mau beli bahan bareng?” tanya Taiga saat Hokuto sudah di dekatnya. “Sudah disiapkan Sora-senpai semua.” Jawab Hokuto.

“Enaknya. Coba Sanapi juga lebih… “

“…bertanggung jawab seperti itu.” Hokuto melanjutkan komentar Taiga.

“Hei, kamu selalu tahu apa yang mau kukatakan!” Taiga menepuk pelan bahu Hokuto, mengagumi kekompakan mereka.

“Bukan begitu. Kata-katamu persis dengan yang dikatakan Hazuki.” Hokuto menyanggah kesimpulan yang dibuat Taiga.

“Oh.” Balas Taiga singkat. “Terus kamu ngapain ke sini?” Taiga memasang wajah kesal, masih gengsi karena sudah kegeeran tadi.

“Oh gitu? Yasudah aku pulang saja kalau begitu.” Hokuto bersiap meninggalkan Taiga dan Kouchi saat bahunya ditarik oleh Taiga.

“Hei! Aku malas bawa mobil sendiri.”

“Kan ada Kouchi?” Hokuto berusaha melepaskan cengkeraman tangan Taiga dari bahunya.

“Aku tidak bisa mempercayakan mobilku sama orang yang belum pernah membawanya.”

“Iya iya, aku tahu. Makanya aku tidak pulang dulu. Sekarang lepaskan tanganmu!” Hokuto tahu, Taiga pasti akan berkata begitu. “Jadi, mana alamatnya?”

“Ya ampun, tadi Sanapi tidak kasih tahu kita di mana alamatnya!” Kouchi menepuk jidat, merasa bodoh karena sampai lupa menanyakan hal sepenting itu. Taiga memasang wajah polosnya, seolah dia tidak bertanggung jawab karena dia bukan ketuanya. Hokuto hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan kedua temannya. “Aku akan tanya Sora-senpai dulu kalau begitu. Kalian langsung tunggu di mobil saja!”

Hokuto menghampiri Sora, yang untungnya masih belum pulang dan menanyakan alamatnya. “Pemilik toko itu kenalan kakekku. Bilang saja kalian temanku, pasti mereka tidak akan menjual dengan harga terlalu mahal. Hati-hati ya.”

“Terima kasih, senpai. Sora-senpai memang yang terbaik!” Hokuto cepat-cepat menuju tempat Kouchi dan Taiga menunggunya. “Sudah dapat alamatnya? Jauh?” tanya Taiga.

“Sudah dong! Tenang saja, dekat dengan SMA kita.” Lalu ketiganya meluncur menuju tempat tujuan.

*****
Risa menyesal sudah memutuskan untuk kembali ke kelas karena harus melihat pemandangan yang tidak seharusnya dia lihat. “Gomen. Silahkan lanjutkan.” Lalu dia pun berbalik, sebelum pemuda itu memanggilnya. “Risa-chan, tunggu!”

“Kamu salah paham. Aku tidak ada apa-apa dengan Airin. Dia cuma mengembalikan CD yang dipinjamnya minggu lalu.” Dia berusaha menjelaskan. Risa terpaksa menghentikan langkahnya dan berbalik.

“Hagi-chan, aku tidak melarangmu untuk dekat dengan siapapun. Kamu juga tidak perlu menjelaskan apapun padaku.” Risa berbalik lagi, berjalan meninggalkan Hagiya. “Baiklah kalau begitu, aku akan berkencan dengan Airin.”

Risa mengabaikan Hagiya dan memutuskan untuk pulang tanpa mengambil tasnya terlebih dulu, karena yakin Hagiya akan sekalian membawakannya pulang. Sudah satu tahun, Hagiya tinggal di rumahnya sejak kedua orang tua Hagiya memutuskan pindah kota. Hagiya bersikeras untuk menyelesaikan SMAnya di Tokyo dan melanjutkan kuliah tanpa harus membebani kedua orang tuanya lagi. Tapi, karena tidak tega membiarkan Hagiya dewasa sebelum waktunya, kedua orang tua Risa meminta Hagiya untuk tinggal bersama sampai setidaknya lulus SMA, dan Hagiya menyetujuinya.

“Shintaro-kun, sedang apa di sini?” Risa terkejut saat melihat Shintaro sedang bersandar di gerbang sekolahnya. “Ohisashiburi, Risa-chan. Aku sedang menunggu Ai-chan. Apa kamu melihatnya?” Risa tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin mengatakan pada Shintaro kalau dia baru saja melihat Airin sedang berduaan di kelas dengan Hagiya.

“Umm, ano, aku tidak sekelas dengan Airin, Shintaro-kun. Jadi aku tidak melihatnya.” Risa terpaksa berbohong. “Shintaro-kun sudah menghubunginya? Mungkin dia sudah pulang lebih dulu atau mungkin tidak masuk sekolah?”

“Aku sudah mencoba menghubunginya, tapi dia tidak menjawab sama sekali. Aku belum melihatnya keluar daritadi. Tapi tidak biasanya dia keluar terakhir. Mungkin benar, dia sudah pulang lebih awal.” Kata Shintaro terlihat menyerah.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita mampir ke café ujung jalan situ? Baru dibuka lho. Kita sudah lama tidak ketemu, bagaimana kalau ngobrol-ngobrol dulu?” Entah mengapa, rasanya Risa ingin menghindari pertemuan Shintaro dengan Airin yang bersama Hagiya.

“Boleh juga. Kebetulan aku juga sudah haus karena berdiri terlalu lama.” Risa berhasil mengalihkan perhatian Shintaro. Karena sekilas sebelum mereka pergi, Risa melihat bayang-bayang Airin dan Hagiya keluar dari sekolah.

Baru beberapa menit Shintaro dan Risa masuk ke café, beberapa orang yang mereka kenal juga masuk dan berjalan ke arah mereka. “Ohisashiburi, Risa-chan! Genki desuka?”

Hai, genki desu. Taiga-kun wa?” Risa menyadari wajahnya sudah memerah. Dia tidak menyangka bisa bertemu Taiga. Setelah beberapa bulan tidak melihatnya, Risa menyadari perubahan Taiga yang semakin menawan. Apalagi, style westernnya, yang sebelumnya hanya pernah sekali Risa lihat, berhasil menyita seluruh perhatiannya. Selama ini, Risa cukup berpuas diri meski hanya bisa mengagumi Taiga sebatas dalam balutan gakuran sekolah mereka.

“Kok kalian bisa berdua? Katanya mau ketemu Airin?” tanya Taiga ke Shintaro. “Nah, kalian juga ngapain ada di sini?” Shintaro balik bertanya, malas menjelaskan.

“Kita lagi beli bahan-bahan penelitian di sekitar sini. Oh iya, kenalin aku Kouchi Yugo.” Kata Kouchi berinisiatif memperkenalkan diri kepada Risa karena melihat teman-temannya tidak ada yang berniat memperkenalkan dirinya. “Suomi Risa desu. Panggil Risa saja.” Risa mengangguk sopan, memperkenalkan dirinya juga.

“Ya ampun, Shintaro-kun. Aku lupa kalau dompetku ada di tas. Sepertinya aku tidak bisa menemanimu. Kebetulan senpai-tachi sudah datang, jadi aku pamit pulang dulu ya.” Risa buru-buru meninggalkan Shintaro dan kawan-kawan karena tidak ingin terlalu lama melihat Taiga dengan jarak sedekat itu, tidak baik untuk kesehatan jantungnya.

“Yah, kok pulang sih? Padahal kan akan lebih asyik kalau ada ceweknya.” Kouchi mengeluh saat Risa sudah jauh. “Gara-gara kalian datang sih. Padahal tadi dia yang mengajakku ngobrol di sini.” Keluh Shintaro.

“Jadi? Sudah ganti dari Airin ke Risa?” kata Hokuto menegaskan pertanyaan Taiga. “Aku tadi sedang menunggu Airin, tapi dia tidak muncul-muncul juga. Tiba-tiba saja Risa mengajakku ke café ini katanya mau ngobrol karena sudah lama tidak ketemu. Ya mana mungkin aku tolak lah. Menolak rejeki namanya.”

“Dia sudah punya pacar belum?” tanya Kouchi mencoba mencari perhatian teman-temannya. “Hmmm, aku tidak tahu. Tapi sepertinya ada cowok bernama Hagiya yang tinggal di rumahnya. Ada kan cerita cinta yang bermula karena tinggal bersama?” jelas Shintaro.

“Tinggal bersama? Berdua?” Kouchi terlihat shock mendengar kenyataan itu sekaligus patah hati. “Tentu saja bersama orang tua Risa juga! Ingat, mereka masih SMA.”

“Tapi belum tentu tinggal serumah bisa jadi cinta. Aku tinggal berdua dengan Taiga, amit-amit dah kalau sampai jatuh cinta.” Hokuto tertawa, disusul teman-temannya. “Jadi, belum pasti kan dia free atau taken? Aku masih ada kesempatan, dong?” kata Kouchi meminta pendapat teman-temannya.

“Kamu serius mau mendekatinya? Padahal baru bertemu?” Hokuto melihat Kouchi dengan ekspresi tidak percaya.

Love at the first sight, mungkin?” Kouchi tersenyum, yakin dengan keputusannya. Shintaro memberikan kontak Risa sehingga Kouchi bisa menghubunginya. Shintaro dan Hokuto fokus dengan cara-cara bagaimana Kouchi bisa mendekati Risa tanpa ada yang menyadari kalau Taiga masih diam seribu bahasa. Taiga hanya sesekali ikut tertawa dan bergumam ya dan tidak saat teman-temannya meminta pendapatnya. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Entah apa.

To be Continued …

Advertisements

4 thoughts on “[Multichapter] ITS REASON (#1)

  1. Dinchan

    aaaaaa bersambuuunngg semuanya masih misteri (?) aku menunggu konflik yg lebih bikin greget.
    so far aku suka karakternya yua, sora, sama ayaka.. wkwk cowoknya suka taiga.. greget soalnya dia. ahahaha
    next chap pleeeaaassseee

    Reply
  2. hanazukidesu

    Hokuto taiga nyaaaa anu sekali, mereka tinggal serumah? Ngapain ajaaaaa hahahaha
    Aku masih blm paham cerita sama charanya. Ditunggu chapter selanjutnyaaa dev 😆😆😆😆

    Reply
  3. Andriani

    Ide ceritanya bagus ngil. Kompleks, ada banyak karakter *sembari ngebayangin mukanya anak2 bakalea* 😁 G gampang ngemix banyak karakter dalam satu cerita, soale kamu harus nunjukin ciri khas masing2 karakternya dengan permasalahannya masing2. Klo g gitu ntar jatuhe flat, ketika ada percakapan tanpa disebutin namanya (ini lagi baca percakapannya taiga atau hokuto).
    Sedikit masukan dari segi redaksional, untuk kata2 asing, jepang ataupun inggris, (misal otsukaresama, ohisashiburi, ataupun kalimat inggris “love at the first sight”) akan lebih enak bacanya klo tulisannya di italic. Untuk memudahkan pembaca aja seh (terutama untuk pembaca macam ane yg masih minim vocab jepang😅). Oh ya ada lagi, percakapan dalam hati, juga di italic juga ngil. Untuk ngebedain ini orang lagi ngebatin atau apa😆 Penasaran sama apa yg ada di pikirannya taiga pas ending2…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s