[Oneshot] November Rain

November Rain
By: kyomochii
Genre: Drama, Romance, Supranatural
Rating: PG
Cast: Nakajima Yuto, Chinen Yuri (HSJ); Shigeoka Daiki (Johnny’s WEST); Kanata Hongo; Kaede (E-girls); Yua, Michiru, Aki (OC)
Disclaimer: Cerita ini berupa curhatan kehidupan author, selebihnya author tidak memiliki apa-apa.
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Sejak pagi, hujan sudah mengguyur tanpa henti. Beberapa siswa, terpaksa mengurungkan niat untuk pulang lebih awal karena ceroboh telah mengabaikan ramalan cuaca pagi tadi.

And when your fears subside
And shadows still remain uh yeeeah
I know that you can love me
When there’s no one left to blame
So never mind the darkness
We still can find a way
‘Cause nothin’ lasts forever
Even cold November rain 🎶 … “

Shige menyipitkan matanya dari bangku seberang, memandang lesu ke arah sumber suara. “Yua, kamu bisa berhenti nyanyi tidak sih? Suaramu itu… menghancurkan gendang telingaku.”

Yua balik memandang sipit ke arah Shige, menilai tidak suka. “Kamu kenapa, sih? Sedikit-sedikit, emosi. Dibawa hepi aja kenapa. Kamu bertengkar lagi sama Kaede?”

Hmphhhh… Shige menghela napas panjang. Belum sempat Shige mengeluarkan sepatah kata, seorang gadis masuk ke dalam kelasnya, mendadak seolah menyuntikkan energi ke dalam dirinya. “Kaede-chan!” serunya terlewat bersemangat, memanggil gadis yang sudah menjadi pacarnya sejak musim dingin tahun lalu.

“Bagaimana kegiatan klubmu?” tanya Shige penasaran, karena pasalnya, Kaede menyuruh Shige pulang sendiri karena dia ada kegiatan klub mendadak. “Sudah selesai. Ternyata cuma pembagian tim untuk kompetisi mendatang. Kamu tahu!? Aku terpilih jadi center lho.” Senyum mengembang di wajah keduanya, seolah itu adalah sebuah pencapaian yang sangat besar. Padahal, semua orang tahu. Tidak akan sulit bagi seorang Kaede, anak seorang dancer profesional, untuk menjadi bagian dari tim dance sekolah mereka, yang selama 3 tahun belakangan tidak pernah memperoleh juara, bahkan masuk ke semifinal pun tidak.

“Daiki mau pulang sekarang? Aku bawa payung, tapi cuma satu. Kalau Daiki tidak keberatan, kita bisa pulang bersama.” Kaede mengatakannya cukup pelan, berharap hanya mereka berdua yang dapat mendengarnya. “Sudah sana kalian pulang saja! Tinggalkan aku seorang diri, Sometimes I need some time… on my own. Sometimes I need some time… all alone. Everybody needs some time… on their own. Don’t you know you need some time… all alone?” Sindir Yua sambil melanjutkan nyanyian November Rain-nya.

“Dia kenapa, sih?” Memang pasangan menyebalkan. Tidak hanya Shige, sekarang Kaede juga ikutan memandang Yua dengan tatapan mencela. “Idih. Aku kan cuma nyanyi. Kalian saja yang sensi. Sudah sana pulang. Aku mau ke studio, sambil nunggu hujan reda.” Kata Yua seraya bangkit dari bangkunya, hendak meninggalkan kedua temannya.

“Makanya jadi cewek itu yang perhatian kayak Kaede-chan. Mana ada cowok yang mau sama cewek selebor kayak kamu.” Shige mulai mengeluarkan ceramah andalannya, sebelum Yua benar-benar menghilang dari pandangannya. “Bodo.” balas Yua tidak peduli.

Ketiganya memang berteman sejak masih kecil, terutama Shige dan Yua, mereka bersebelahan rumah. Kaede adalah anak komplek sebelah yang sering bermain di taman bermain daerah rumah mereka. Kaede gadis yang sangat lembut dan penuh perhatian. Tapi jangan salah, beda halnya saat dia mulai menari. Setiap gerakannya penuh dengan emosi, begitu berenergi. Sedangkan Yua, dia tidak lebih dari seorang gadis urakan yang manja. Setidaknya, begitulah semua orang menilainya. Tapi, hanya Kaede dan Shige yang tahu bagaimana Yua yang sebenarnya. Meskipun terlihat tidak peduli, Yua sebenarnya gadis yang sangat baik hati, hanya saja, dia memang sedikit pemilih.

Saat berjalan menuju studio, Yua tidak sengaja melihat seorang pemuda yang selama ini sudah menjadi idamannya, Nakajima Yuto. Yua berhenti, lalu berusaha menyembunyikan diri di balik dinding terdekatnya, berusaha tetap mengamati. Yua melihat Yuto sudah bersiap membuka payungnya untuk bergegas pulang. Tapi kemudian, Aika, gadis cantik teman sekelas Yuto – yang sering dilihat Yua selalu menempel pada Yuto, datang mendekatinya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi Yua melihat Yuto memberikan payungnya kepada Aika, lalu berbalik, kembali masuk ke lobi sekolah, berjalan ke arahnya.

Di tengah kebingungannya, takut kalau-kalau Yuto menangkap basah dirinya sedang mengawasi diam=diam, Yua mendapati seekor kucing lucu sudah menggelung di sekitar kakinya. Yua membungkuk, dan mengangkatnya, menggendongnya penuh manja. “Kamu kucing siapa? Aneh. Kenapa bisa ada kucing di sekitar sekolah? Kamu tersesat? Pasti gara-gara hujan ya?” Yua bergumam sendiri, seolah berharap si kucing akan mengerti.

“Wah, kucingnya lucu sekali. Punya Yu-chan, kah?” Sebuah suara, yang sangat ditakuti Yua akan mengahampirinya, berhasil membuatnya kaget dan sudah berdiri di sebelahnya. “Eh, Yuto-kun.” Refleks Yua menjawabnya.

“Eh, bukan. Aku menemukannya.” buru-buru Yua menambahkan, berusaha menjaga suaranya agar terlihat normal. “Lucunya. Aku kira punya Yu-chan. Cocok lho. Sama-sama kawaii-nya.”

BLUSH. Yua merasa seolah ada orang iseng yang sedang menuangkan air panas ke wajahnya. Terima kasih hujan, karena berkatmu, rasa panas ini masih bisa tersamarkan, batin Yua bersuka cita, masih tidak sanggup berkata-kata.

“Yu-chan mau ke mana? Kok belum, pulang?” Yuto berusaha mengalihkan perhatian karena sadar sudah mengatakan hal yang sangat memalukan. “Aku lupa tidak bawa payung. Jadi aku mau ke studio sambil menunggu hujan reda.” Topik teralihkan, Yua menghela napas lega.

“Oh begitu. Sayang sekali, aku harus ke ruang guru karena kata Aika, Yabu-sensei memanggilku. Padahal aku juga ingin sekali ke studio sebetulnya. Jya, Yu-chan.” Setelah mengatakan itu, Yuto meminta ijin untuk pergi terlebih dulu.

Yua memasuki studio masih dengan wajah berseri-seri. Semua, yang baru saja dia alami, semuanya, seperti mimpi! Itu memang bukan pertama kalinya Yua bicara langsung dengan Yuto. Tapi tetap saja, bisa bicara dengan orang yang disuka merupakan momen yang sangat berharga. Apalagi, Yuto memanggilnya ‘Yu-chan’! Padahal, kalau di depan teman-teman lainnya, Yuto memanggilnya ‘Yua’, seolah panggilan ‘Yuchan’ hanya spesial untuk dirinya. Entah hanya Yua yang kegeeran, yang penting, intinya Yua bahagia.

Nee, neko-nyan, semuanya berkat kamu. Dia memujiku kawaii karena aku menemukanmu. Arigachuu.” Kata Yua seraya mendekap kucing yang baru ditemukannya itu. “Aku akan mencari pemilikmu. Tapi kalau tidak ada yang mencarimu, aku janji akan selalu merawatmu. Karena kamu sudah sangat berjasa dalam hidupku.”

“Kamu kenapa sih, Yua? Sehat?” Yua mendongakkan kepalanya, melihat seorang gadis yang sudah berdiri di depannya, sedang memandanginya keheranan. Lalu Yua menyeringai, membalas pertanyaan gadis itu dengan penuh kebanggaan “Coba tebak aku habis ngobrol sama siapa?”

“Siapa memangnya?” tanya gadis itu tidak antusias, karena sejujurnya dia sudah sangat bisa menebak siapa orang yang sedang Yua bicarakan. Melihat ekspresinya itu, sudah tidak salah lagi. “Yuto-kuuuuuun. Aku habis ngobrol sama Yuto-kun! Terus terus, dia bilang aku kawaii lhooo. Berkat kucing ini.” Jawab Yua penuh semangat sambil memamerkan kucing yang baru dia temukan.

“Kamu nemu kucing lagi? Ini bukan pertama kalinya lho, Yua. Kenapa sih, kucing-kucing ini hobi banget berkerumun di sekitarmu?” tanya gadis itu keheranan.

“Itu karena Yua-senpai punya pheromon kucing, Michiru-senpai. Jadi, tanpa Yua-senpai sadari, kucing-kucing itu sudah terpikat olehnya. Semacam ada magnetnya gitu.”

“Ada ya yang seperti itu, Aki? Coba saja kalau pheromon-ku itu buat cowok, pasti gampang bikin cowok nempel sama aku.” Yua tidak dapat menahan tawa saat mengatakan jawabannya, Aki pun ikut tertawa bersamanya.

Pheromon apa’an sih. Iya kali ada yang begituan. Yang ada, kamu bau ikan! Makanya kucing-kucing itu nempel terus sama kamu.” Yua mendelik ke arah Michiru, tidak terima dikatakan dirinya seperti bau ikan.

“Dan siapakah cowok itu?” tanya Aki penuh semangat, seolah tidak menghiraukan komentar Michiru.

“Siapa lagi kalau bukan, Yuto-kun?!!!!” lalu keduanya kembali tertawa, membuat Michiru jengkel dibuatnya.

“Yuto lagi Yuto lagi. Mau sampai kapan sih kamu suka sama cowok kayak gitu? Cowok sok caper ke guru. Kenapa bukan dia saja yang jadi ketua kelas, kalau sebegitunya ingin diperhatikan guru? Kenapa malah Yasui-kun yang pontang-panting ke sana-sini, tapi tetep dia yang lebih disayang guru-guru!?” Yua dan Aki terpaksa berhenti tertawa. Mereka tahu, Michiru sangat menyukai Yasui Kentaro, ketua kelas di kelas Michiru dan Yuto. Ya, Michiru adalah teman sekelas Yuto. Yua sendiri kenal dengan Michiru karena keduanya mengikuti klub yang sama sejak kelas satu.

Sejak Michiru tahu kalau Yua menyukai Yuto, pertanyaan ‘Apa sih yang kamu suka dari cowok itu?’ selalu menjadi topik bahasan yang tidak pernah ada ujung penyelesaiannya.

‘Dia baik.’
‘Dia cuma sok baik.’
‘Dia pintar.’
‘Dia itu caper, bukan Pintar. Makanya guru-guru suka sama dia, terus nilainya jadi bagus semua.’
‘Senyumnya manis.’
‘Masih banyak cowok di luar sana yang punya senyum lebih manis daripada dia, Yua. Lupakan saja dia.’ Selalu seperti itu.

Karena tidak ingin menimbulkan perdebatan panjang terulang lagi, Yua mencoba mengalihkan perhatian kedua temannya dengan mendiskusikan cara mencari pemilik kucing yang ditemukannya, dan keduanya bersedia membantunya.

Tapi, sudah dua hari berlalu sejak Yua menemukan kucing itu, belum ada yang menghubungi mereka dan mengaku sebagai pemiliknya. “Aku akan merawatnya.” Michiru dan Aki tampak tidak yakin dengan keputusan Yua.

“Lagipula kan aku yang menemukannya.” Yua menambahkan, mencoba meyakinkan, saat melihat wajah khawatir teman-temannya. “Apa orang tuamu akan mengijinkan?”

“Nah itu. Aku kurang yakin sebenarnya.” Jawab Yua sambil tertawa. “Tapi tenang saja. Geok* juga punya kucing di rumahnya. Kalau orang tuaku melarang, aku bisa menitipkan ke rumahnya. Tapi tetap aku yang akan merawatnya.” Yua sudah mantap dengan keputusannya. (*Geok, panggilan sayang Yua kepada Shigeoka Daiki)

“Kalau Shige menolak, bagaimana?” tanya Michiru ragu-ragu. “Mana berani dia menolak permintaanku. Lagipula dia maniak kucing, lebih dari yang bisa kalian bayangkan. Percayalah padaku.” Michiru dan Aki hanya bisa mengangguk pasrah pada akhirnya.

“Kalau mau merawatnya, senpai harus memberinya nama. Senpai akan menamainya siapa?”

“Hmmmm, karena dia cowok, aku akan memberinya nama Kanata.” Entah kenapa, tiba-tiba saja nama itu terlintas di pikiran Yua. “Kenapa Kanata? Bukan seperti nama kucing saja.” Michiru dan Aki sepakat tidak menyukai nama itu. Karena menurut mereka, namanya tidak cocok untuk kucing. Kurang lucu.

“Ini kan kucingku, suka-suka aku dong mau kasih nama apa. Lagipula kan seru kalau aku memberinya nama Kanata. Mirip nama cowok. Jadi anggap saja, mulai sekarang, Kanata adalah cowokku.” Kata Yua, mencoba memberi alasan. “Dasar jones. Mimpi kok pacaran sama kucing. Terserah kamu saja sudah.” Michiru dan Aki pun menyerah. Toh mereka juga tidak akan perlu ikut repot untuk merawatnya.

*****

Sudah dua minggu sejak Kanata tinggal bersamanya. Saat orang tuanya memberikan ijin untuk merawatnya, Yua sangat bahagia. Kanata sering mengikuti Yua sampai ke depan gerbang sekolah, lalu akan pulang, dan menunggu Yua di sebuah kuil dekat rumah mereka, sampai Yua menjemputnya.

“Yua, aku duluan ya.” Shige berlari menuju sekolah, meninggalkan Yua saat melihat Kaede melambai ke arahnya. Yua tidak menanggapi, karena perhatiannya sedang tertuju pada hal lain, mengamati.

“Jadi Aika suka Juri-kun? Terus kenapa tiap hari dia nempel terus sama Yuto-kun?” gumam Yua saat melihat Aika dan Juri jalan bersama berangkat ke sekolah. Yua dapat melihat dari tatapan keduanya, tatapan yang hangat, penuh cinta, seperti tatapan yang tiap hari Yua lihat ada di mata Shige dan Kaede saat mereka bersama.

“Ohayou, Yu-chan.” Sebuah suara mengagetkan Yua, buru-buru membuatnya mengalihkan pandangannya. “Ohayou, Yuto-kun.” Balas Yua cepat-cepat.

“Di antar lagi hari ini? Kamu sekarang punya pengawal pribadi, nih?” goda Yuto jahil, melihat ke arah Kanata pergi. “Ah, kamu bisa saja.” jawab Yua salah tingkah. “Woi, Aika, Juri, buruan kenapa jalannya. Keburu bel nih.” Teriak Yuto ke arah kedua temannya, membuat Yua sadar kalau dia harus segera pergi.

Tebakan Yua ternyata benar. Michiru mengiyakan kalau Aika dan Juri berpacaran. Yua merasakan perasaan senasib dengan kesamaan hubungan pertemanannya dan Yuto. Tapi jujur saja, Yua merasa iri dengan hubungan mereka. “Enak ya kalau cowok. Biarpun sahabatnya pacaran, tetap tidak ada yang berubah di antara mereka. Sedekat apapun Aika dengan Yuto-kun, Juri-kun tidak akan mudah cemburu, karena menurutnya itu cuma bercanda. Yang penting Aika sudah menjadi miliknya. Beda halnya kalau cewek. Bahkan Geok sendiri yang menjaga jarak denganku. Biar Kaede tidak cemburu, katanya. Ahhh, iri iri iri!!”

“Itu sih, karena Yuto saja yang tidak peka. Semua orang di kelas, sering membicarakan mereka. Kalau menurutku, mungkin sebenarnya Aika suka sama Yuto. Tapi karena Yuto selalu menganggapnya teman saja, saat Juri menembaknya, dia menerimanya. Sudahlah Yua, lebih baik kamu berhenti saja mengharapkan Yuto. Daripada kamu nanti sakit hati gara-gara dia.” Michiru mencoba menasehati.

“Tenang saja, Michiru sayang. Aku cuma mengaguminya. Aku tidak pernah mengharapkan menjadi pacarnya. Jadi aku tidak akan merasa sakit karena ketidak pekaannya.” Yua memang menyukai Yuto sejak kelas satu. Tapi dia sudah cukup puas menjadikannya idola, tidak pernah sekalipun mengharapkan lebih. Karena sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, masih ada seseorang yang belum bisa sepenuhnya dia lupakan.

Sepulang sekolah, Yua pergi ke studio untuk mengambil bukunya yang ketinggalan. Yua berpapasan dengan beberapa anak klub broadcast yang sepertinya baru mengadakan rapat di sana. Seperti yang Yua duga, Yuto juga ada di sana. “Hei, Yu-chan. Ada apa?” sapa Yuto saat melihatnya memasuki ruangan.

“Ambil buku ketinggalan. Kalian habis rapat apa?” tanya Yua basa-basi, berusaha memulai pembicaraan.

“Yabu-sensei mengabarkan kalau saat natal nanti bakal ada radio show spesial di OBS*. Acaranya boleh dilihat untuk umum sih, tapi jumlahnya dibatasi. Makanya Yabu-sensei menawari anak-anak broadcast, siapa tahu ada yang berminat datang.” Yuto menjelaskan. (*OBS = Oita Broadcasting System, salah satu stasiun radio di perfektur Oita)

“Oh iya, dengar-dengar Yu-chan sangat suka Hanae Natsuki ya? Nanti dia bakal jadi tamu spesialnya lhoo. Juga ada beberapa seiyuu lagi yang aku tidak hafal namanya.”

Majika?!” Yua menghentikan kesibukan mencari bukunya, memandang Yuto tidak percaya. “Hanaecchi mau ke sini? Ke Oita? Aku mau ikuut.” Rengek Yua manja, membuat Yuto tertawa saat melihatnya.

“Yabu-sensei pilih kasih. Harusnya anak klub dubbing juga dikasih tahu! Kan jarang-jarang banyak seiyuu ngadain show jauh-jauh ke Oita!?” protes Yua masih tidak terima.

“Kan tadi aku sudah bilang, Yu-chan, jumlah pengunjungnya dibatasi. Ada banyak sekolah yang berpartisipasi. Jadi Yabu-sensei cukup bijak menawarkan dulu ke anak broadcast, karena memang inti dari acara itu, kita semacam mendapat scouting tentang dunia broadcasting. Mereka, para seiyuu itu, bukan sekedar seiyuu pengisi suara anime. Tapi mereka yang punya acara radio dan mau membagi ilmu mereka kepada kami.” Jelas Yuto mencoba menenangkan Yua yang terduduk di kursi, masih merajuk.

“Tapi kalau kamu memang mau ikut, aku bisa mendaftarkan namamu tanpa Yabu-sensei perlu tahu kalau kamu bukan anggota klub broadcast.” Yuto menawari. Mendengar tawaran yang sangat menggiurkan itu, seketika Yua mengangguk penuh semangat. “Mau mau mau.”

“Baiklah. Kamu akan pergi denganku ke acara itu. Jadi jangan sampai lupa ya, Yu-chan. Ayo berikan emailmu.” Yuto mendekatkan ponselnya ke arah Yua yang langsung mengeluarkan ponselnya untuk bertukar alamat email dengan Yuto. “Jya~” Lalu Yuto pergi meninggalkan Yua yang kembali sibuk mencari bukunya.

Yua terlalu bahagia membayangkan akan bertemu dengan seiyuu idolanya, sampai dia tidak menyadari kalau dia sudah berhasil mendapatkan email orang yang dia suka. Keesokan harinya baru menyadari kalau sudah membuat janji dengan Yuto, idolanya, di hari natal pula! “Aku akan menghabiskan malam natal dengan Yuto-kun, Geok! Oh, senangnya.” Kata Yua tiada henti sejak mereka keluar dari rumah untuk berangkat ke sekolah.

“Oh, syukurlah. Hari natal besok aku berencana mengajak Kaede kencan berdua. Aku sempat khawatir kalau kita tidak bisa menghabiskan natal bersamamu seperti biasa. Kamu tahu, ini anniversary pertama kami sejak menjadi sepasang kekasih.” Kata Shige lega.

Perasaan aneh mengusik hati Yua, seperti ada yang salah. Tapi entah apa. Yua terlalu bahagia untuk memikirkannya. “Hmm, baiklah. Semoga kita berdua sama-sama bahagia.”

Pada hari natal yang dijanjikan, Yua sudah menunggu Yuto di depan OBS, mengenakan pakaian musim dingin terbaiknya, terlihat sangat cantik, berbeda dari biasanya. Jarang-jarang, Yua menata rambutnya sedemikian rupa. Berkat bantuan mamanya, Yua berhasil membuat wajahnya sedikit berwarna, dengan polesan make-up tipis di sana-sini dan sentuhan lipgloss kesayangannya.

Yua melambaikan tangan ke arah Yuto, yang datang dengan beberapa teman ceweknya. Oh, tentu saja! Pekik Yua dalam hati. Yuto memang sangat populer di kalangan teman-teman ceweknya di klub broadcast. Pasti mereka berhasil melancarkan berbagai cara agar para anggota cowok tidak ada yang berminat datang ke acara ini bersama mereka. Harusnya Yua sudah bisa menduganya. Bahkan saat Yuto berjalan ke arahnya, Yua dapat merasakan pandangan-pandangan tidak suka menyerangnya.

“Sudah lama?” tanya Yuto ramah. Yuto mengenakan pakaian yang sangat modis dan terlihat keren saat dikenakannya. Dengan postur tinggi, wajah yang rupawan, membuat gadis manapun yang memandangnya akan terpana. “Ah, eh, tidak kok. Aku juga baru sampai.” Jawab Yua gagap saat mencoba kembali ke alam nyatanya.

“Yasudah, masuk yuk. Di luar dingin banget.” Kata Yuto seraya menarik tangan Yua untuk mengikutinya. Saat acara berlangsung, Yuto menjaga Yua agar tetap dalam jarak pandangnya, sehingga meminta gadis itu duduk tepat di sampingnya. Meskipun berpasang-pasang mata menatapnya tidak suka, Yua berusaha mengabaikannya. Toh, dia datang ke sini bukan karena Yuto semata, tapi demi bisa bertemu dengan seiyuu idolanya.

Baru pertama kali Yua bisa bertatap muka langsung dengan seiyuu yang sesungguhnya. Meskipun sudah bertahun-tahun dia menekuni hobinya, Yua tidak tahu sudah sejauh mana kemampuannya, kalau dibandingkan dengan seiyuu yang aslinya. Yua memang sudah langganan memenangkan perlombaan dubbing yang di adakan di kotanya. Bahkan Yua dan anggota klubnya sering mengerjakan proyek anime bersama dengan anak-anak klub manga dan animasi, meskipun belum pernah mengkomersilkannya. Tapi Yua tidak cukup berpuas sampai di situ. Yua berencana akan pindah ke Tokyo setelah lulus SMA, demi mengejar cita-citanya menjadi seiyuu yang ternama.

Saat jeda acara, Yua melihat Yuto sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya, mendiskusikan tentang berbagai hal yang akan mereka ajukan di sesi tanya jawab nanti. Yua memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi berkeliling dan beralasan ingin ke toilet sehingga membuat Yuto terpaksa mengijinkannya. Yua berjalan mengitari ruangan-ruangan di sekitar studio, berharap di salah satu ruangan itu, Yua dapat melihat Hanae dan seiyuu lainnya sedang beristirahat.

Setelah berjalan cukup jauh, di salah satu ruangan data, bukannya melihat Hanae, Yua melihat orang yang selama ini sudah berusaha keras untuk dia lupakan, Chinen Yuri. Chinen adalah mantan kekasihnya saat SMP dulu. Sebenarnya, dibilang kekasih, terlalu singkat waktunya. Mereka hanya berpacaran sepanjang musim dingin, di sisa tahun terakhir mereka di sekolah.

Buru-buru Yua menyembunyikan dirinya saat melihat Chinen berjalan keluar dari ruangan data, karena belum siap untuk bertemu lagi dengannya. Yua melihat seorang gadis berjalan ke arah Chinen saat dia sudah memasuki lobi, lalu pergi dengan mengaitkan tangannya, merangkul Chinen dengan manja.

Bohong kalau Yua tidak cemburu. Meskipun mereka hanya bersama dalam waktu yang sebentar, meskipun mereka sudah berpisah selama dua tahun, tapi Yua masih belum bisa sepenuhnya melupakannya. Bagaimana mungkin Yua bisa. Pemuda itu adalah pacar pertamanya. Orang pertama yang menciumnya. Masih terekam jelas diingatan Yua saat bibir Chinen menyentuh lembut bibirnya di hari perpisahan mereka. Tanpa Yua sadari, air mata mulai menitik membasahi pipinya.

Mereka berpisah karena Chinen memutuskan untuk melanjutkan sekolah seiyuu di Tokyo dan merintis karirnya sedini mungkin. Yua tidak mungkin mencegahnya. Karena dia juga mempunyai mimpi yang sama. Tapi Yua tidak mendapatkan ijin kedua orang tuanya, karena menurut mereka ‘Kamu masih terlalu muda, sayang. Kamu pasti masih bisa mencapainya meski harus menunggu lulus SMA.’ ucap mamanya mencegahnya. Di sisi lain, Yua tidak ingin menjadi beban dalam kehidupan Chinen kalau mereka tetap bersama. Karena Yua tahu, tidak akan ada hari tanpa Yua merasa iri dengan perjuangan Chinen. Mereka pasti akan sering bertengkar, dan berpisah juga pada akhirnya. Yua tidak ingin itu terjadi. Makanya, Yua memutuskan berpisah saat mereka masih saling menyukai.

Tanpa Yua sadari, ada seorang pemuda sedang berdiri tidak jauh darinya, memperhatikannya. “Eh, maaf aku salah mengenali orang.” Kata pemuda itu saat Yua kaget melihat tangannya sudah berada di bahu Yua.

Buru-buru Yua menghapus air matanya. Betapa malunya dia saat ada orang lain yang memergokinya sedang menangis. “Tolong anggap ini tidak pernah terjadi. Anggap kamu tidak melihat apa-apa ya? Janji?” pinta Yua kepada pemuda, yang sepertinya berusia 20 tahunan itu.

“Ah, eh, baiklah.” Kata pemuda itu pada akhirnya sambil memberikan sapu tangannya. “Tidak usah. Aku bawa banyak tisu kok. Lagipula aku tidak ingin berhutang untuk mengembalikannya.” Tolak Yua sopan, mengeluarkan tissue-pocket dari tas sampingnya.

Yua memperhatikan baik-baik pemuda yang sedang berdiri di depannya. Dia membawa tas samping hitam, yang Yua yakin isinya kamera. Dia seorang jurnalis mungkin, kata Yua dalam hati. Lalu pandangan Yua tertuju pada gantungan kucing lucu yang menghiasi tas pemuda itu. “Ah lucunya.” kata Yua kelepasan, membuat pemuda itu bisa mendengarnya.

Pemuda itu mengikuti arah pandangan Yua yang tertuju pada gantungan kucingnya. “Kalau kamu mau, kamu bisa memilikinya.” Kata pemuda itu seraya melepas gantungan kucing dari tasnya.

“Ah, tidak usah. Itu kan punyamu. Lagipula ini baru pertama kali kita bertemu.” Yua berusaha menolak, tapi tangannya tidak bisa berkompromi dan tetap terulur saat pemuda itu memaksanya untuk menerimanya. “Arigatou.” Katanya pada akhirnya.

“Gantungan kucing itu bukan punyaku kok. Itu punya adikku dan sepertinya mau dia berikan kepada seseorang.” Pemuda itu menjelaskan. “Waktu pertama melihatmu tadi, aku pikir kamu gadis itu. Tapi sepertinya aku salah. Aku tidak yakin, karena dia sudah tidak pernah datang lagi sejak adikku masuk rumah sakit.” Yua melihat kesedihan tersirat di wajah pemuda itu setiap kali menyebut kata ‘adikku’.

“Dia selalu menyimpan benda itu sampai akhir hayatnya, berharap bisa memberikan langsung kepada gadis itu. Tapi sampai dia meninggal, gadis itu tidak kunjung datang. Aku pikir, kalau aku membawa gantungan kucing itu, aku akan bisa memberikannya pada gadis itu sebagai wakil adikku. Sampai akhirnya aku menyadari, dia pasti sudah sangat berubah. Bisa jadi, dia tidak mengingat apapun lagi tentang adikku. Dan yang terparah, bahkan aku tidak tahu namanya. Makanya, lebih baik kamu yang memilikinya.”

“Tapi ini kan benda yang sangat penting buat adikmu, seharusnya kamu tetap menyimpannya.” Yua berusaha mengembalikan gantungan kucing yang ada di tangannya, merasa tidak enak karena sudah merasa ingin memilikinya. “Dia akan senang kalau benda itu jatuh ke tangan gadis manis sepertimu. Kamu pasti akan merawatnya, kan? Untuk adikku juga.” Yua mengangguk, lalu membiarkan pemuda itu pergi meninggalkannya.

“Ah, aku lupa tanya namanya.” Sesal Yua karena kebodohannya saat melihat pemuda itu sudah pergi jauh. Lalu dia memutuskan untuk kembali ke studio karena yakin Yuto pasti sudah mencari-carinya. Saat kembali, Yua sudah melewatkan separuh dari acara sesi kedua. Yua melihat Yuto sedang mengajukan beberapa pertanyaan sebagai perwakilan sekolahnya, dan juga bangku kosong di sebelahnya. Yua yakin, bangku kosong itu Yuto siapkan untuk dirinya. Tapi tempat duduk Yuto terlalu di depan, sehingga membuat Yua ragu untuk maju, dan memutuskan duduk di bangku kosong terdekat dari tempatnya berdiri.

Seusai acara, Yuto menghampirinya dan mengajak Yua untuk foto bersama. Harusnya Yua bahagia, tapi entah kenapa, ada perasaan berat yang mengganggunya. Bahkan dia sempat berfoto dan meminta tanda tangan Hanae Natsuki. Tapi semua itu seolah tidak bisa menghilangkan perasaan berat yang menghantuinya. Perasaan penyesalan dan merasa bersalah.

Melihat kebahagiaan Yuto bersama teman-temannya, membuat Yua tidak tega untuk mengganggunya. Sehingga dia meminta ijin untuk pulang lebih awal dan terpaksa menolak tawaran Yuto untuk mengantarnya, karena tidak ingin mengganggu acara natalnya.

“Kalau begitu aku akan mengantarmu sampai depan gedung. Kamu yakin tidak ingin lanjut pesta bersama kami?” Sepertinya Yua tidak akan menyesal sudah menolak ajakan Yuto malam ini. Karena dia tidak ingin sepanjang pesta masih akan terus menerima pandangan tidak suka dari teman-teman cewek Yuto karena Yuto lebih mengkhawatirkannya.

“Tidak apa-apa. Lagipula ini natal pertamaku bersama Kanata. Dia akan marah kalau aku pulang tidak membawakannya hadiah.” Yua berhasil membuat Yuto tertawa mendengar jawabannya dan menghilangkan kekhawatiran berlebihnya untuk melepas Yua pulang sendirian. “Baiklah. Hati-hati. Kabari aku kalau sudah sampai rumah ya.” Yua memberikan tanda tangan oke sebagai jawaban pertanyaan Yuto, malas membalas teriakan Yuto karena dia sudah berjalan cukup jauh dari gedung stasiun radio.

Dalam perjalanan pulang, Yua terus memikirkan hal berat apa yang sudah mengganggu pikirannya. Masa’ iya cuma gara-gara melihat Chinen bersama cewek lain? Sepertinya bukan itu.

Tidak jauh dari rumahnya, Yua melihat seekor kucing sedang berdiri menunggu tuannya. Kucingnya, Kanata. Seperti biasa, begitu melihat Yua, kucing itu langsung berlari ke arahnya. “Kamu sudah menungguku ya? Kucing pintar.” Yua membelai bulu halus Kanata, mendekapnya erat dalam pelukannya. Setiap kali melakukan itu, perasaan yang menganggu Yua akan hilang seketika.

“Aku membawakan hadiah untukmu.” Yua mengeluarkan sekotak makanan kucing yang dibelinya tadi di perjalanan pulang. Kanata menggosok-gosokkan kepalanya ke punggung tangan Yua dengan manja, seolah ingin mengucapkan rasa terima kasih. “Aku punya satu lagi yang bakal kamu suka.” Kata Yua seraya mengalungkan gantungan kucing yang baru didapatnya ke leher Kanata. “Merry Christmas, Kanata.”

*****

Yua sedang berada di sebuah taman, terlalu jauh dari komplek rumahnya. Tadi rencananya, Yua akan pergi ke rumah Kaede. Tapi sepertinya dia sudah salah belok, dan terus salah karena tidak kunjung menemukan rumah yang dia anggap mirip rumah Kaede. Shige sedang pergi ke luar kota bersama keluarganya, sehingga dia merasa kesepian karena tidak punya teman yang bisa diajak bermain. Makanya dia nekat pergi mencari rumah Kaede, berbekal ingatannya yang parah dalam menghafal jalan.

“Kamu tersesat ya?” Seorang anak laki-laki, kelihatannya sepantaran dengannya, duduk tidak jauh darinya, sedang asyik bermain dengan kucing-kucing liar. “Aku mencari rumah temanku di blok XX, tapi sepertinya aku salah belok dan akhirnya malah sampai di sini deh.” Yua menjawab pertanyaan anak itu sambil cengengesan, tidak merasa bersalah.

“Terus sekarang kamu tidak tahu jalan pulang?” tanya anak itu, masih bermain dengan kucing-kucing liar yang sedang asyik mencoba merebut bola dari tangannya. Yua menggeleng, lalu berjalan mendekati anak itu. “Kok mereka bisa nurut gitu sama kamu?” pandangan Yua mulai tertarik dengan kucing-kucing liar yang bermain dengan anak itu.

“Mereka suka sama aku. Mereka juga suka sama kamu kok.” Katanya saat seekor kucing sedang sibuk menggelungkan badannya di kaki mungil Yua. “Ih, geli.” Yua tertawa dan anak laki-laki itu ikut tertawa bersamanya.

Sejak hari itu, Yua sering bermain dengannya dan pergi ke rumahnya. Meskipun mereka sepantaran, anak laki-laki itu terlihat sangat dewasa dan bisa diandalkan dibandingkan Yua, bahkan lebih bisa diandalkan daripada Shige. Anak itu akan menjemput dan mengantar Yua sampai ke taman dekat rumahnya, karena tahu, Yua tidak akan bisa mengingat jalan ke rumahnya.

“Tante, minggu depan ulang tahun Yua yang ke-7 lhoo. Tapi kata mama, ulang tahun Yua tidak akan dirayakan sebelum usia 17 tahun. Selain buang-buang uang, kalau ulang tahun dirayakan setiap tahun, jadi terasa tidak spesial nantinya. Tapi mama Yua selalu membuatkan kue ulang tahun setiap ulang tahun Yua, meskipun tidak seenak kue buatan tante sih.” Kata Yua saat sedang sibuk membantu wanita yang dipanggilnya ‘tante’ itu menghias kue natal. “Umm, boleh tidak kalau ulang tahun Yua tahun ini, tante yang membuatkan Kuenya?” tanya Yua penuh harap.

“Ulang tahun Yua tanggal berapa, sayang?” tanya wanita itu penuh sayang. “Yua lahir di malam tahun baru, ma. Tepat satu detik sebelum tahun baru. Makanya dia suka tidak terima kalau orang-orang merayakan di tanggal satunya.” Seorang anak laki-laki menggunakan pakaian dinginnya terlewat berlebihan, membuat efek gemuk di badan super kurusnya, muncul dari dalam kamarnya. Yua ingin marah mendengar anak itu menggodanya, tapi terpaksa mengurungkannya. Melihat kondisi anak itu, Yua merasa kasihan dan tidak tahu harus berbuat apa.

“Kamu kenapa keluar, Kanata? Kamu di kamar saja.” Kata Yua dengan nada khawatir. “Makanya dia cuma bisa merayakan ulang tahunya, tepat di waktu kelahirannya bersama papa mamanya.” Lanjut anak laki-laki bernama Kanata, tidak menghiraukan pertanyaan Yua. “Kata mamanya dia baru boleh merayakan ulang tahunnya di usia 17, karena pada usia itu mamanya baru akan mengijinkan Yua pulang sampai malam.” Jelas Kanata kepada mamanya, seolah dia sudah mengetahui banyak hal tentang Yua.

“Kalau begitu, tahun ini, kita harus mengundang papa-mama Yua merayakan malam tahun baru di sini, biar kita semua bisa sama-sama merayakan ulang tahun Yua, bagaimana?” mamanya Kanata mengusulkan ide yang langsung disambut penuh semangat oleh keduanya.

“Hore. Kuenya selesai.” Sorak Yua yang langsung berlari ke arah Kanata, duduk di sebelahnya. Kanata sedang membelai bulu halus kucing kesayangannya saat Yua protes karena tidak pernah dibolehkan Kanata untuk membelainya. “Nanti kesetiaannya akan berpindah ke kamu kalau aku membiarkannya.” Kata Kanata setiap kali Yua ingin memegang kucingnya.

Kanata akan mengijinkan Yua memiliki apapun yang menjadi miliknya, kecuali satu, kucingnya. “Kamu mau kado apa untuk ulang tahunmu, Yua?” Kanata mencoba merayu Yua yang masih marah kepadanya. “Kucing.” Jawabnya singkat.

“Aku akan membelikan kucing untukmu kalau begitu.” Ucapnya, menjanjikan. Mendengar janji Kanata, hati Yua luluh dan keduanya pun berbaikan seketika.

Setelah selesai makan malam bersama keluarga Kanata, Yua pulang diantarkan kakak Kanata, karena keadaan Kanata tidak memungkinkan untuk mengantarkannya. Sebelumnya, Yua sudah berjanji dengan Kaede dan Shige akan merayakan natal bertiga di rumah Kaede, dan orang tuanya mengijinkan. Sehingga Yua hanya meminta kakak Kanata untuk mengantarnya sampai taman komplek dekat rumah Kaede saja.

“Sampai sini saja, kyuti? Yakin tidak mau aniki antar sampai rumah?” Kakak Kanata tinggal bersama keluarga pamannya di Tokyo, sehingga selama ini Yua jarang bertemu dengannya. Dia lebih suka memanggilnya kyuti, yang entah artinya apa, dibandingkan memanggil namanya. Mereka baru bertemu sore tadi, sehingga membuat Yua masih merasa kurang nyaman saat berada di dekatnya.

“Tidak apa-apa, onii-chan. Aku hapal jalannya kok kalau dari sini. Onii-chan bisa langsung pulang saja. Bilang tante dan Kanata kalau aku sudah sampai rumah Kaede dengan selamat ya.” Yua memperhatikan kakak Kanata yang sudah pergi meninggalkannya, lalu berbalik berjalan menuju rumah Kaede.

Hari itu, adalah hari terakhir Yua pergi ke rumah Kanata dan bertemu dengannya. Mama Kanata tidak pernah menghubungi papa mamanya untuk mengundang mereka ke pesta tahun baru seperti yang dijanjikan. Dan Kanata juga tidak pernah sekalipun muncul di taman komplek rumahnya untuk menjemputnya. Bukan sekali, berkali-kali, Yua memaksa Shige untuk menemaninya mencari rumah Kanata, tapi tidak berhasil sampai akhirnya Shige memintanya untuk menyerah. Dan sejak saat itulah, Yua mulai melupakan keberadaan Kanata.

*****

Yua terbangun dari tidurnya dengan mimpi yang masih sama sejak beberapa hari lalu. Sejak hari natal, tepatnya. Dia memimpikan tentang kenangan masa kecilnya bersama Kanata, anak laki-laki yang dulu pernah menjadi temannya. Mengingat nama itu, seolah memberikan jawaban mengapa Yua ingin memberi nama kucingnya Kanata.

“Kanata, kamu di mana?” tanya Yua, menerawang ke langit-langit kamarnya, mencoba mencari jawaban. Sesuatu yang halus, menggosok-gosok tangannya, seolah berusaha membangunkannya. Kanata ada di sampingnya. Ya, kucingnya, Kanata, akan selalu ada di sampingnya. Yua meyakinkan.

Sore hari tanggal 30 itu, Yua tidak bisa menemukan Kanata di seluruh sudut rumahnya, tidak juga di kamarnya. “Ma, Kanata di mana?” Berulang kali Yua menanyakan pertanyaan yang sama kepada mamanya. Tapi mamanya sama tidak tahunya dengan dirinya. “Aku akan mencarinya di luar, sebentar.”

Yua mencari Kanata ke rumah Shige, rumah kedua bagi kucingnya. Tapi tidak ada di sana. Lalu dia memutuskan menuju kuil, tempat Kanata selalu menunggunya, saat Yua melihat seorang laki-laki sedang bermain dengan kucingnya. “Kanata?”

Pemuda itu menoleh ke arahnya, tersenyum padanya. Yua merasa familiar dengan wajahnya. “Ah, kamu cowok yang ketemu di OBS, kemarin!” seru Yua saat berhasil mengingat di mana mereka pernah bertemu sebelumnya. “Aku sudah menunggumu.” Kata pemuda itu.

Yua berjalan mendekat ke arah pemuda itu, duduk di sebelahnya. “Aku tidak sengaja melihat Taiga saat mampir di rumah temanku.” Pemuda itu menunjuk sebuah rumah tidak jauh dari kuil, yang dijelaskannya sebagai rumah temannya. “Waktu aku lihat gantungan kucing ini, aku yakin pasti kamu yang sudah merawatnya selama ini.” Pemuda itu menjelaskan. “Taiga?” tanya Yua tidak mengerti.

“Kucing ini sebelumnya milik keluarga kami, namanya Taiga. Aku bisa mengenalinya dari warna bulu di sekitar kakinya. Lihat, ini warnanya berbeda dari bulu di seluruh badannya, kan?” Kata pemuda itu sambil menunjukkan warna bulu di kaki Kanata yang dimaksudnya. “Jadi kamu ingin mengambilnya?”

“Tidak. Sekarang tidak akan ada yang merawatnya di rumah. Kurasa dia lebih bahagia kalau kamu yang merawatnya.” Sepertinya Yua tahu alasan kenapa pemuda itu bicara seperti itu kepadanya, “Kucing ini juga milik adikmu?” tanya Yua ragu-ragu, hanya ingin sekedar memastikan.

“Aku tahu. Kamu pasti bisa menebaknya.” Senyum lembut menghiasi wajahnya. “Sehari setelah kematian adikku, tiba-tiba saja Taiga menghilang. Kami sudah berusaha mencari, tapi tidak juga menemukannya. Jadi kami mengikhlaskannya karena yakin, Taiga akan memilih sendiri orang yang akan menjadi tuannya.”

“Tapi begitu tahu kalau kamu yang merawatnya, aku merasa lega. Aku menunggumu karena ingin mengucapkan terima kasih karena sudah merawatnya.” Lalu pemuda itu berdiri dan berpamitan untuk pergi. “Sepertinya, semua hal kesayangan adikku ditakdirkan untuk menjadi milikmu pada akhirnya.” Kata pemuda itu sebelum meninggalkan Yua.

“Ano, apa aku boleh tanya sesuatu?” Pemuda itu mengangguk, mengijinkan Yua untuk bertanya sebelum berpisah. “Apa aku boleh tahu nama adikmu?” tanya Yua pada akhirnya. Yua mempunyai perasaan yang kuat kalau Yua mengenal adik pemuda itu, siapapun dia.

“Kanata. Hongo Kanata.”

Akhirnya Yua tahu kalau pemuda itu adalah kakak Kanata yang dikenalnya. Dia menjelaskan kenapa Kanata tidak pernah datang menemui Yua.

Kanata masuk rumah sakit sejak natal, terakhir kali Yua bertemu dengannya. Sejak hari itu, Kanata tidak sadarkan diri untuk beberapa waktu lamanya. Mama maupun kakak Kanata, tidak pernah tahu di mana rumah Yua. Bahkan nomor telepon rumah Yua, hanya Kanata yang menyimpannya. Saat Kanata tersadar, ingatannya begitu lemah. Dia hampir melupakan semua hal, bahkan namanya.

“Jadi kamu Taiga?” Yua ingat, itu nama kucing kesayangan Kanata yang tidak pernah boleh dipegangnya. Yua mendekap Taiga, nama asli kucingnya, ke dalam pelukannya. Semuanya terasa sangat berat untuk bisa dipahaminya. Bahkan malam itu, Yua tidak nafsu makan malam bersama keluarganya, dan langsung mengurung diri di kamarnya.

Keesokan harinya, mamanya sudah mengundang beberapa teman Yua tanpa sepengetahuannya. Orang tuanya ingin menepati janji untuk merayakan ulang tahun ke 17-nya. Bahkan Yuto-pun juga ada di sana! Yua terpaksa menyudahi masa berkabungnya. Toh, Kanata juga tidak akan pernah mengharapkannya. Kanata pasti tidak ingin melihat Yua bersedih karenanya. Tapi, andai Yua bisa meminta, Yua juga ingin Kanata ada di sana, bersama dengan dirinya, merayakan ulang tahunnya. Yua memejamkan mata, berharap kalau dia membukanya, Kanata akan ada di sana.

Tepat satu detik sebelum tahun baru, semua orang mengucapkan selamat ulang tahun untuknya, tidak terkecuali kucing kesayangannya Taiga. Taiga berdiri tepat di sisi Yua. Yua dapat merasakan sensasi seseorang sedang menggenggam tangannya. Yua menoleh, betapa terkejutnya dia melihat Kanata benar-benar ada di sana! Tapi sepertinya, hanya dia yang bisa melihatnya. Karena semua teman-temannya, melewati Kanata begitu saja saat hendak menyalaminya.

Saat semua orang sedang menikmati pesta kecil tahun baru mereka, Yua diam-diam ijin kembali ke kamarnya. Bersama Kanata, tentunya. “Kanata?” Yua masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Hai, Yua! Lama tidak berjumpa ya.” Kata Kanata membalas sapaan Yua santai. “Bagaimana bisa?” tanya Yua masih tidak percaya.

“Sini duduk sini. Seperti kita biasanya.” Kanata meminta Yua untuk duduk di sebelahnya, sementara dia sedang membelai Taiga, persis seperti malam terakhir mereka bersama. Yua menuruti permintaan Kanata, lalu kembali menuntut penjelasan dari pemuda itu.

“Selamat ulang tahun yang ke-17, Yua. Selamat, sekarang kamu lebih tua satu tahun dari aku!”

“Eh? Apa maksudmu?”

“Aku meninggal tepat sehari sebelum ulang tahunku, 14 November. Jadi aku tidak akan pernah 17 tahun selamanya.”

“Jadi kamu benar sudah meninggal? Lalu bagaimana bisa kamu sekarang ada di sini, di kamarku?” Kanata menurunkan Taiga dari pelukannya, lalu mengarahkan tubuhnya menghadap Yua, menatap gadis itu tajam, tapi penuh rasa kerinduan.

“Kamu pikir, aku mau pergi tanpa menemuimu dulu? Aku begitu merindukanmu.” Kata Kanata sambil membelai lembut wajah Yua. “Tapi kata aniki, kamu kehilangan memorimu?”

“Aku memang tidak bisa mengingatmu sampai sebelum kematianku. Tapi di saat terakhir aku menghembuskan napasku, aku melihat bayanganmu keluar dari gantungan kucing ini, dan aku jadi ingat semuanya.” Kanata melepas gantungan kucing dari leher Taiga, lalu memberikannya pada Yua. “Ini hadiah ulang tahunmu yang ke-7 dariku. Aku tidak sempat memberikannya, tapi aku selalu menyimpannya. Aku tidak menyangka, memoriku tentang dirimu tersimpan baik di dalamnya.” Yua menerima hadiah itu, tapi masih tidak melepaskan pandangannya dari Kanata, menuntut penjelasan lebih.

“Setelah melihat bayanganmu, aku merasa masih punya waktu 49 hari untuk mencarimu. Jadi aku pergi bersama Taiga untuk mencarimu. Ternyata tidak sulit menemukanmu dalam bentuk kucing. Seperti biasa, kamu selalu menjadi idola di antara mereka.” Kanata tersenyum jahil, menggoda Yua.

“Tapi lebih tepatnya, aku menemukanmu karena aku mendengarmu menyanyikan lagu itu. Lagu kenangan kita. Lagu yang pertama kali kita nyanyikan bersama, meskipun kita tidak tahu artinya. Kamu menyanyikan lagu November Rain di hari kamu menemukan Taiga, kan?” Yua mengangguk, mengingat hari pertama dia bertemu dengan Taiga.

“Sejak hari itu juga, aku selalu bersamamu dalam bentuk Taiga. Berulang kali aku ingin bilang kepadamu kalau aku Kanata, tapi ternyata mustahil aku bisa melakukannya. Aku sadar, aku hanya seekor kucing di depanmu.”

“Lalu, sekarang bagaimana bisa aku melihatmu?” Yua mengerjapkan matanya, berharap ini bukan halusinasinya saja. Bukan, Kanata masih ada di depannya. Tapi sekalipun ini hanya halusinasinya saja, Yua tidak keberatan, asal bisa terus melihat Kanata di sisinya.

“Sebenarnya, aku sudah mulai bisa kembali ke wujud manusiaku sejak kamu mengalungkan gantungan kucing ini pada Taiga. Tapi ternyata, menunjukkan diri di depanmu tidak semudah yang aku duga. Beberapa kali aku mencoba, tapi aku terlalu takut untuk melakukannya. Aku tahu, kamu juga mulai melupakanku.” Yua malu mengakuinya, tapi dia mengangguk karena memang itu dirasakannya sebelum bertemu dengan kakak Kanata.

“Aku mulai dari masuk ke mimpimu, membuatmu kembali mengingatnya, tentang pertemuan kita.” Jadi ini alasan kenapa aku selalu memimpikannya, batin Yua. “Tapi kalau hanya dari mimpi, aku tahu kamu tidak akan sadar kalau aku sebenarnya sudah tiada. Jadi, sekali lagi aku mencoba mempertemukanmu dengan aniki. Aku yang mencarinya. Aku tahu dia berbohong dengan mengatakan kalau kebetulan bertemu Taiga. Karena dia tidak ingin mengakui dirinya sudah gila, percaya pada kucing.” Kanata tertawa, membayangkan bagaimana ekspresi kakaknya saat menemukan Taiga.

“Setelah kamu tahu keadaanku yang sebenarnya, baru aku bisa menunjukkan diri di depanmu, malam ini.” Kata Kanata mengakhiri ceritanya. “Nee, Kanata. Kamu bilang, kamu cuma punya waktu 49 hari untuk mencariku? Kamu meninggal sehari sebelum ulang tahunmu, kan? Berarti, sekarang hari terakhir dari sisa waktumu?” Terdapat jeda lama sebelum Kanata menjawab pertanyaannya. Keduanya saling melihat satu sama lain, penuh makna. Yua tidak ingin percaya kalau Kanata akan pergi untuk selamanya. Padahal mereka baru bisa bertemu lagi setelah sekian lama.

“Masih ada waktu satu hari sampai tengah malam besok sebelum 49 hariku habis.” Yua hendak memprotes saat tiba-tiba Kanata menarik tubuh Yua ke dalam pelukannya. “Selama ini, selalu kamu yang memelukku. Aku ingin sepanjang hari sisa waktuku, aku yang akan memelukmu.” Yua terdiam, mengurungkan niatnya, lalu membalas pelukan Kanata.

“Meskipun hanya untuk satu hari, aku bersyukur karena aku masih diberi kesempatan untuk bertemu denganmu lagi. Setidaknya aku bisa menepati janjiku untuk menjadi orang pertama yang ada di sampingmu di usiamu yang ke-17. Terus juga, aku bisa memberikan kado kucing yang sudah aku janjikan. Meskipun bekas punyaku, sih.” Kanata tertawa, masih memeluk Yua. Yua tidak bisa merasakan kehangatan dalam pelukan itu, ataupun hembusan napas yang membelai tengkuknya saat Kanata bicara dari balik punggungnya. Tapi, selama Kanata yang memeluknya, meskipun hantu sekalipun, Yua tetap bisa merasakan perasaan hangat menjalari seluruh tubuhnya.

“Yu-chan, kamu di dalam?” Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Yua dari balik pintu kamarnya, suara Yuto memanggilnya. “Iya, Yuto-kun.” Jawab Yua cepat-cepat, melepaskan diri dari pelukan Kanata, lari menuju pintu karena tidak ingin Yuto masuk dan mengecek keadaan kamarnya. Meskipun Yua tahu, Yuto tidak akan bisa melihat Kanata. “Ada apa?”

“Aku lihat tadi kamu masuk ke kamar, lama sekali tidak keluar-keluar. Aku takut kamu ketiduran. Padahal, kamu kan belum makan sama sekali. Sebaiknya kamu turun, semua orang mencarimu.” Kata Yuto menjelaskan. “Baiklah habis ini aku turun. Kamu duluan saja.”

Setelah Yuto pergi, Yua kembali masuk ke kamarnya, menghampiri Kanata yang sudah tersenyum jahil siap-siap menggodanya. “Ciyeee, yang sudah dekat banget sama sang idola. Tinggal tunggu kabar bahagianya, nih.”

“Ngejek ya? Kamu pasti tahu siapa orang yang aku suka. Orang yang benar-benar aku suka, maksudnya.” Yua mendelik ke arah Kanata, memasang tampang pura-pura marah.

“Cowok Tokyo itu ya? Hmmm, dia juga lumayan oke. Tapi apa dia masih memikirkanmu juga?” Pertanyaan Kanata seolah memaksa Yua kembali ke kenyataan yang selama ini berusaha tidak ingin diakuinya. Benar, Yua tidak tahu apakah Chinen masih juga memikirkannya.

“Bodo ah. Lagipula, Yuto-kun cuma menganggapku sebagai teman biasa. Dia baik sama semua orang. Aku tidak mau berlebih dalam mengartikan perhatiannya.” Kata Yua mantap sambil menatap wajah Kanata.

“Aku tidak peduli Chinen-kun masih memikirkanku atau tidak, tapi dia salah satu motivasiku untuk mengejar mimpiku. Jadi aku akan tetap menyimpan perasaan ini sampai aku bertemu lagi dengannya. Ayo sekarang kita turun. Kamu janji akan bersamaku selama satu hari penuh ini.” Lalu keduanya pun turun, menemui teman-teman Yua. Kanata bahagia, bisa melihat Yua bahagia.

I’ll do anything to make you happy, Yua. Selama aku masih bisa.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Yua, dari seseorang yang selama ini dia anggap sudah melupakannya.

Otanjoubi Omedetou, Yua.
Maaf aku tidak bisa datang ke acara perayaan kecilmu.
Padahal mamamu sudah mengundangku, aku jadi tidak enak ><
Tapi aku tetap percaya janjimu. Kita akan bertemu lagi setelah kamu lulus SMA.
Semoga kita bisa merayakan ulang tahunmu saat kita kembali bersama. – Yuri

PS: Sampaikan maafku pada mamamu karena sudah menolak undangannya.
Ada event penting yang tidak bisa aku tinggalkan.
Hari ini event perdanaku sebagai seiyuu!!
Aku akan terus menunggu sampai kita bisa bekerja bersama.

Yua masih tidak percaya membaca pesan yang didapatnya. Semoga ini bukan sekedar mimpi indah.

Lalu sebuah lagu mengalun dari ponselnya.

When I look into your eyes
I can see a love restrained
But darlin’ when I hold you
Don’t you know I feel the same?
‘Cause nothin’ lasts forever
And we both know hearts can change
And it’s hard to hold a candle
In the cold November rain 🎶

“Yua, ini sudah bulan Januari! Kenapa kamu malah pasang lagu November Rain, sih? Kamu suka banget sama lagu itu ya?” Yua tidak mempedulikan Shige yang sedang mengkomentarinya, dia malah berjalan ke arah speaker dan memasang ponselnya di sana, agar semua orang bisa mendengarkan lagunya.

We’ve been through this such a long long time
Just tryin’ to kill the pain 🎶

But lovers always come and lovers always go
And no one’s really sure who’s lettin’ go today
Walking away 🎶

If we could take the time
To lay it on the line
I could rest my head
Just knowin’ that you were mine
All mine
So, if you want to love me
Then darlin’ don’t refrain
Or I’ll just end up walkin’
In the cold November rain 🎶

Do you need some time… on your own?
Do you need some time… all alone?
Everybody needs some time… on their own
Don’t you know you need some time… all alone? 🎶

I know it’s hard to keep an open heart
When even friends seem out to harm you
But if you could heal a broken heart
Wouldn’t time be out to charm you 🎶

Sometimes I need some time… on my own
Sometimes I need some time… all alone
Everybody needs some time… on their own
Don’t you know you need some time… all alone? 🎶

And when your fears subside
And shadows still remain
I know that you can love me
When there’s no one left to blame
So never mind the darkness
We still can find a way
‘Cause nothin’ lasts forever
Even cold November rain 🎶

Don’t ya think that you need somebody
Don’t ya think that you need someone
Everybody needs somebody
You’re not the only one
You’re not the only one 🎶

Yua tahu, semua ini karena Kanata. Kebahagiaan ini, semua datang berkat Kanata. Dan lagu ini, aku persembahkan untukmu, Kanata.

I Love You

OMAKE:

Banyak hal yang ingin Yua lakukan bersama Kanata hari ini. Tapi mengingat hanya Yua yang bisa melihat Kanata, akan aneh rasanya kalau orang lain melihatnya berjalan sendiri kemana-mana. Akhirnya mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu di kuil dekat rumah Yua, tempat di mana mereka sering menghabiskan waktu bersama selama Kanata menjadi kucingnya, selain kamar Yua tentunya.

“Terus kita mau ngapain di sini? Aku tidak tahu bagaimana cara menghabiskan waktu bersama hantu sepanjang hari. Andai ada buku panduannya.” Kata Yua menggerutu kesal.

“Bagaimana kalau dari hal yang ingin Yua lakukan saat bersamaku?” Yua berpikir keras, memikirkan hal apa yang ingin dia lakukan bersama Kanata. “Kita sudah terlalu lama tidak bertemu. Aku tidak bisa memikirkan hal apapun yang ingin aku lakukan denganmu. Kalau Kanata, apa yang ingin Kanata lakukan bersamaku?”

“Pejamkan matamu.” Yua tidak tahu apa yang ingin Kanata lakukan, tapi dia menurut dan menutup matanya. Lama, Yua tidak merasakan apa-apa, membuatnya mulai curiga apa yang ingin Kanata lakukan dengannya. Yua memutuskan untuk membuka matanya dan terkejut melihat apa yang sudah Kanata lakukan terhadapnya. Pemuda itu sedang menempelkan bibirnya ke bibir Yua, mereka sedang berciuman. Tapi aneh, Yua tidak merasakan apa-apa.

“Padahal aku ingin sekali melakukannya dengan Yua. Bahkan saat kita masih kecil dulu. Aku menyesal tidak pernah melakukannya sekalipun selama aku masih hidup.” Kata Kanata saat sadar Yua sudah membuka matanya dan menarik tubuhnya menjauh dari Yua, namun berkata cukup santai seolah yang dilakukannya hal biasa. Yua masih tidak bisa berkata-kata.

“Apa yang sudah kamu lakukan, Kanata?” Yua mulai bisa mengumpulkan seluruh kesadarannya. “Kamu sendiri kan yang bertanya, apa yang ingin aku lakukan bersamamu. Aku ingin menciummu. Tapi ternyata, tidak terasa apa-apa.”

“Menurutmu aku tidak merasakan apa-apa? Kamu tidak tahu bagaimana sekarang jantungku sudah berdetak tak karuan? Aku memang tidak merasakannya secara nyata, tapi hatiku merasakannya. Aku juga ingin melakukannya.” Kali ini Yua yang mencoba menempelkan bibirnya ke bibir Kanata, tapi kali ini dengan mata terbuka. Matanya bertatapan langsung dengan mata Kanata, menembus ke dalamnya, melihat dengan jelas apa yang sedang dirasakannya. Sama sepertinya, Kanata juga mencintainya.

“Di kehidupan berikutnya, aku janji akan mencarimu secepatnya. Kita akan menghabiskan banyak waktu bersama.” Yua mengangguk, masih enggan melepas ciumannya.

“Sampai ketemu di kehidupan berikutnya.”

The End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s