[Multichapter] Death Point (Chap 6) -END

Death Point
by. VDV-san
Genre: Thrill, Fantasy, Horror, Little Romance
Type: Multichapter
Chapter: 6 (Last)
Fandom: Hey! Say! JUMP, HKT48
Cast : Yamada Ryosuke (HSJ), Chinen Yuri (HSJ), Murashige Anna (HKT48)

Menyakitkan, rasanya. Melihat teman temannya terbentak seperti itu, sangat terkejut. Bahkan Ryosuke ingin menangis dalam hatinya.

Namun ia percaya pada penjaga itu dan semua janji sang penguasa, sekolah. Teman nya tentu akan baik-baik saja. Mereka akan sangat nyaman, jauh lebih baik daripada terus berlari dengan kondisi terseok seok—melelahkan. Ryosuke tahu, ia tak mengambil keputusan yang salah.

Setidaknya temannya terselamatkan.

“Gomenasai…” desir Ryosuke, yang sempat melihat tangisan Anna, hingga memandangi mereka keluar dari perpustakaan tua ini—sementara dirinya sendiri tetap disini.

Kembali membalik badan, dingin—segera setelah sahabatnya itu menghilang dari jangkauan mata.

Sekarang, giliran usahanya yang memikirkan bagaimana caranya melepaskan diri dari semua ini. Bagaikan masuk kedalam kelamnya kegelapan. Menyerahkan diri dengan pasrah.

Namun tak semudah itu, menguasai Ryosuke.

Ia bukan siswa biasa, ia pasti bisa bebas seperti sedia kala.

Hanya berharap.

Temannya akan baik baik saja, dan tetap berpikir, dirinya tetap ada di pihak mereka.

‘Percayalah padaku, Yuri… Anna…’ angan Ryosuke mencoba meraih hati kecil temannya—yang telah jauh darinya kini.

Ryosuke kembali berjalan ke dalam, menuju ruang tadi. Goa itu ia susuri, dengan penyambutan hangat sang ketua pemimpin segala—apapun ini, sudah malas otaknya memikirkan itu.

Mereka berdua mulai melangkah, menuju ke pintu lain. Sisi dalam goa yang penuh terowongan ini. Bebatuan lembab di sepanjang dinding, tetesan air juga keheningan. Menyeramkan.

Meskipun demikian, pemuda 1993 ini tak peduli.

Akhirnya sampai, mereka berdua pada pintu satunya. Pintu yang lebih besar, di dalamnya terdapat ruangan lain. Mereka memasukinya.

Sungguh berbeda dari perpustakaan, ruangan kali ini besar—namun terawat. Layaknya kastil baru. Bebatuan yang mendindingi tampak kokoh, penerangan di dalam tetaplah redup namun berada. Hunian para bangsawan, interior yang tidak begitu beraneka ragam—namun luar biasa megah. Mungkin hanya karpet, kursi meja. Juga rak buku. Perapian, dan berbagai hal umum lainnya—dalam balutan kekayaan.

Tak di pungkiri, pemilik yayasan ini memang luar biasa. Sangat sejahtera—pastinya.

“Duduk lah.” Suara nya memerintahkan Ryosuke untuk duduk, tepat di hadapan mejanya. Terdapat sofa penuh busa namun dalam kulit binatang langka—tepat disebelahnya, tidur seekor anjing mematikan bertubuh besar seukuran beruang.

Ryosuke pun duduk, dan pria setengah abad itu mulai berbicara.

“Sudah berapa lama kau menjadi murid disini?” Berjalan berputar disekitar Ryosuke, mengitari.

“Sudah 2 tahun.” Jawab Ryosuke singkat.

Pria dihadapannya ini tampak benar benar menikmati keberadan Ryosuke. Sungguh tertarik.

“Kau tahu alasan ku mengajakmu bergabung?”

Tak mendapat jawaban dari Ryosuke—yang hanya mengamati gestur orang aneh ini.

“Sebenarnya, aku mencari penerus.”

Ia membuka semuanya, berbicara langsung pada Ryosuke—membuat pemuda ini sadar, bahwa semuanya bisa ia manfaatkan. Tetap menyimak.

“Aku mencari penerusku, untuk semua ini—” mengangguk, “semakin tua, maka setiap harta, kekuasaan dan management yang merepotkan ini harus ku limpahkan pada seseorang.” Menepuk bahu Ryosuke, seraya menanamkan kepercayaan. “Seseorang yang istimewa, dan menjanjikan.”

Mulai membuka mulut, Ryosuke pun menimpali, “jadi?” Ia sudah mengira, penerus yang dimaksud itu kemungkinan besar akan dilimpahkan pada dirinya, namun ia ingin mendengar banyak celotehan tak berguna lain dari sang pria tua, menyenangkan. Tawa pemuda ini dalam hatinya—kepribadian Ryosuke yang sebenarnya memang sangat menyeramkan. Ia bisa sangat kuat bila menjadi teman, dan dipihak sahabatnya. Namun akan sangat mengerikan bila pemuda seperti ini menjadi musuh, benar benar tak terkalahkan. Mungkin ini yang membuatnya menjadi siswa menarik di mata sang penguasa.

Pria tua ini mulai serius, ia kembali pada meja dan duduk pada kursinya, menopang dagu. “Apa saja kemampuanmu?” Lanjutnya, langsung pada point yang di harapkan.

Ryosuke tak kalah beraninya, sama sekali tak gentar “apa saja yang kau lihat?” ia menjawab, bersandar pada sofa megah itu dan menaikan satu kakinya pada kaki lain—tepatnya, melempar balik pertanyaan, dan tersenyum menanjak.

Pria tua itu tertawa, merasa tertantang. Murid di hadapannya ini memang benar benar menarik.

Akhirnya pria itu mengucapkan—memutuskan,

“Kau lah penerusku.”

***

“Yuri!” Anna langsung mendekati Yuri yang baru saja masuk menggunakan kursi roda dan infus.

“Apa yang terjadi? …” tanya Yuri pada sahabatnya itu “Dimana Ryosuke?” Ia bertanya untuk kedua kalinya.

Anna terdiam. Ia juga tidak tau apa yang harus ia jawab. Semuanya begitu rumit dan terlalu cepat. “Entahlah Yuri…”

Tiba-tiba staff yang mengantar Yuri bersuara “kalian akan kembali bersekolah dan tinggal disini. Ingat. Peraturan masih tetap berlaku” ucap staff tersebut, kemudian langsung meninggalkan Anna dan Yuri.

Anna mendorong kursi roda Yuri untuk masuk lebih dalam ke villa Rose yang megah ini. Benar benar sangat berbeda dari asrama mereka di Devident.

“Ne.. Anna, Ryosuke.. apa menurutmu dia menghianati kita?” Tanya Yuri lagi. Pria ini memang tak akan berhenti sebelum ia mendapat jawaban yang pasti.

Otak Anna yakin bahwa Ryosuke berkhianat, tapi hati kecilnya tidak percaya akan hal itu. Ia masih yakin kalau Ryosuke masih bersama mereka. ‘Tapi kenapa?’

Ryosuke awalnya hanya ingin mencari bahan makanan, tapi kemudian ia kembali bersama dua penjaga dengan dinginnya, penjaga itu langsung membawa Anna dan Yuri untuk pelayanan yang layak.

‘Apa yang terjadi? Apa Ryosuke yang melakukan semua ini? Bagaimana bisa?’

“Anna..” Yuri menyadarkan Anna dari lamunannya. “Dandelion ada di sebelah kita” ucapnya. Yuri teringat akan alat-alat elektronik yang ada di dalam asrama Dandeloin—kemungkinan bisa membantu mereka untuk menyelamatkan sekolah ini, tidak maksudnya anak-anak yang ada di sekolah ini.

“Dandelion?–” Anna terdiam beberapa saat. “ah!” Kemudian berlari keluar Rose–melihat apakah penjaga masih berada di sekitar mereka.

“Yuri, kita punya kesempatan!” Ucap gadis itu sembari menutup pintu asrama yang megah.

“Tapi bagaimana caranya? Aku di kursi roda dan di infus, akan sulit jika aku menyelinap kesana–” “aku yang akan kesana” ucap Anna dengan pasti–mulai memberanikan diri.

“Tidak! kau gila? Bisa saja mereka ada di sana” Yuri menatap Anna sambil berpikir apa yang ada di otak gadis blasteran ini.

Daijoubu.. kau bisa disini, menjaga Rose–” Anna tertunduk. “–menunggu Ryosuke kembali”

Setelah dipikir matang-matang, benar juga kata Anna, semakin lama tindakan ini ditunda akan semakin bahaya mereka harus cepat mengambil tindakan, akhirnya Yuri setuju dengan apa yang Anna katakan. Malamnya, Anna mulai beraksi, sementara Yuri mengawasi bila ada penjaga yang datang.

Menyelinap–tidak, ini lebih pantas disebut dengan ‘berkunjung’ karena tak ada satupun penjaga yang ada di sekitar sini.

Kini Anna sudah berada di dalam Dandelion. “Sugee..” memang benar, asrama Dandelion berisi berbagai macam alat elektronik. Dari mulai handphone yang sebenarnya tidak diperbolehkan disini, hingga barang barang yang menggunakan internet lainnya.

Tapi Anna hanya membutuhkan alat perekam.

Ia mencari barang yang ia butuhkan. Mulai dari ruang tamu, kamar, dapur, hingga kamar mandi.

Sepertinya alat itu disembunyikan. Sangat sulit untuk mencarinya.

.

Kini Anna sudah pergi dan memasuki asrama Dandelion, Yuri yang memang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menunggunya di kamar sambil memandang keluar jendela.

Namun, saat pandangannya sudah tidak menangkap tubuh Anna lagi, Yuri memandangi kamar asrama Rose ini, rasanya sangat nyaman dan–juga memilukan hati Yuri, karena disinilah Miku mati demi dirinya.

Yuri terdiam, memikirkan nasibnya yang entah kenapa dulu ia pikir sangat beruntung namun berubah menjadi sebuah penyesalan, sepertinya takdir sedang mempermainkan dirinya.

“Yuri.. Anna” pria mungil itu tersadar kalau ada suara, suara yang sangat familiar baginya.

Langsung ia memutar kursi rodanya dan keluar dari kamar, ternyata benar. Ryosuke datang.

“Ryosuke!” seru Yuri sambil mencoba berdiri tapi ia baru ingat kalau kini dia harus duduk di kursi roda.

Ryosuke menahan tubuh Yuri dan menyuruh sahabatnya itu kembali duduk, Ryosuke jongkok di hadapan Yuri, memegang kedua pegangan kursi roda itu.

“Anna mana?” Tanya Ryosuke to the point, entah kenapa Yuri merasakan kengerian saat menatap mata Ryosuke–ini bukan sahabatnya, dia berbeda.

“Anoo… Anna.. Dia…” Tiba-tiba lidah Yuri kelu untuk bicara kalau Anna ada di Dandelion.

“Dia–”

“Katakan pada ku” katanya lagi dengan suara berat.

“Dia ke asrama Dandelion” akhirnya bisa Yuri katakan.

“…bodoh kenapa kau suruh dia ke sana?!” Ryosuke berdiri dan membelakangi Yuri, lelaki itu berdecak kesal.

“Aku sudah tahan dia tapi tetap saja–”

“Tadaima…” Belum sempat Yuri selesaikan kalimatnya, Anna sudah membuka pintu dan terkejut kalau Ryosuke ada di hadapannya.

“Mengapa senekat itu?!”

Kembalinya Anna menuai bentakan dari Ryosuke—sangat khawatir akan gadis di hadapannya ini.

Anna hanya bisa terdiam, membatu. Kedua kalinya ia menyaksikan Ryosuke mudah emosi seperti ini.

Tapi ini memang saat yang genting, semua di pertaruhkan.

Pemuda ini mendekati Anna dan mengambil benda kecil yang dipegangnya, “kau dapat ini?” Memutar mutar alat perekam itu—sebelum mengantonginya.

Gadis ini mulai menitikan air mata, “Kau sendiri… kenapa disini… kenapa membentakku…” suaranya bergetar, dan lemah. “kenapa mudah marah… kenapa kau hanya berdiam di perpustakaan, tak ikut kami kembali… kenapa kami bisa dikembalikan… kenapa—” ucapan Anna terhenti.

Ryosuke mengunci mulut gadis ini dengan jarinya, dari serbuan pertanyaan Anna.

“Ceritanya panjang.”

Pria ini kembali bersiap untuk pergi dan melangkah keluar. Sorot matanya berapi-api, ia datang ke Rose dengan menyelinap, dan tak bisa lama.

“Semua akan segera berakhir, percayalah.”

Pintu megah Rose terbuka lebar, menghantarkan sinar bulan yang sangat terang malam ini. Menyoroti sosok yang akan kembali menghilang—kali ini, Ryosuke tersenyum. Benar benar senyum yang sama dengan dirinya dulu, sosok yang Anna rindukan. Tulus dan menyejukan hati.

Membuat kedua sahabatnya percaya—Ryosuke tidaklah berubah. Masih sosok sahabat yang mereka kenal.

Anna terdiam, melihat sosok yang ia tunggu itu pergi. Begitu juga dengan senyuman yang menyejukkan hatinya. Senyuman yang berarti banyak hal.

Kemudian ia tersadar. “Yuri, hayakku” Anna menghapus airmatanya dan langsung mendorong kursi roda Yuri keluar asrama Rose–menuju Dandelion.

Setelah sampai, Anna mendorong kursi roda Yuri ke sebuah kamar penuh dengan monitor dan juga speaker. “Disini aku menemukan alat perekam itu” ucap Anna. “aku rasa.. alat perekam itu terhubung dengan alat alat disini” Anna mendorong kursi roda–Yuri mendekati meja tersebut.

Yuri mencoba mengotak-atik benda yang ada diatas meja. “Dandelion sugoi na..” kagum pria tersebut. “Tempat ini sudah seperti tempat siaran radio–”

“Siaran?!” Keduanya saling bertatapan. Kemudian Yuri mulai memencet tombol yang ada disana dan mengambil mic kecil di sisi monitor.

“Ryosuke?” Ia berbicara di dekat mic itu. Sungguh luar biasa siswa di asrama Dandelion. Alat itu terhubung secara langsung.

Sementara Ryosuke di seberang sana terdiam bingung mendengar suara Yuri. “Yuri?…” ucapnya.

“Ryosuke…” Anna menutup mulutnya–tidak percaya kalau alat itu benar benar terhubung.

“Anna? Kau disana juga?” Tanya Ryosuke. “Kalau begitu.. pastikan semua yang kalian dengar agar terekam”

“Baiklah, aku rekam sekarang” Yuri membalas dan jarinya menekan sebuah tombol merah bertuliskan 「Rec」

Mereka kembali diam karena Ryosuke menyuruh mereka mulai merekam dan kini hanya terdengar langkah kaki Ryosuke dari sana.

Tak lama, seperti ada suara pintu yang terbuka dan seseorang mendudukan dirinya di sebuah sofa.

Anna dan Yuri masih fokus mendengarkan, tidak mau bicara karena kalau sampai terjadi kesalahan sedikit saja akibatnya akan sangat fatal.

“Darimana?” Tanya seseorang–bersuara besar yang Yuri dan Anna yakin dia adalah orang tua. Anna bertanya dalam diam “siapa?” sementara Yuri coba mengingat suara yang ada di seberang sana.

Kemungkinan besar ia adalah pemilik sekolah Devident dan Resident ini, Yuri ingat betul suara pria lansia itu saat di dalam mimpinya. Segera Yuri memberitahunya lewat bisikan, merasa gadis itu mengerti Anna dan Yuri saling bertatapan, dan kembali fokus mendengarkan ucapan mereka.

“Dari luar sebentar” itu suara Ryosuke “mencari udara segar” katanya.

“Jadi… Kau sudah mau menjadi penerusku kan? Untuk sekolah ini…” Kini suara pak tua itu lagi yang terdengar.

“Tapi… Sebelum aku memutuskan untuk jadi penerus mu atau tidak–aku ingin tahu dulu asal usul kenapa sekolah ini di bangun” yep, pertanyaan yang bagus Ryosuke–pikir Anna dan Yuri.

Tanpa pria tua itu sadari kalau pertanyaan Ryosuke adalah titik point kehancurannya.

Hening sebentar, lalu gelak tawa mulai terdengar.

“Hahaha…. Itu berawal sejak aku mulai beranjak dewasa. Aku mempunyai banyak keponakan remaja saat itu, mereka sangat nakal kehidupan mereka susah di atur. Sedangkan aku hanya ingin semua apa yang aku perintah di turuti dengan cepat. Tapi mereka? mereka menentangku dan melawan dengan ku bahkan mereka, keponakan ku, aku bunuh secara diam-diam tak terkecuali anak kandung ku” ia menyesap rokoknya, lalu menghembuskan asap itu dan mulai kembali berbicara “…sejak saat itu aku sadar bahwa aku benci dengan para remaja. Dan aku ingin memusnahkan mereka–”

Sedangkan di asrama Dandelion Yuri dan Anna terperangah mendengarkan tuturan darinya barusan, hampir saja Anna menjerit namun dengan cepat Yuri tahan.

“Dengan cara menyekolahkan anak remaja disini, dan membunuh mereka menggunakan shinigami” ucapnya mengakhiri.

“Lalu.. Yang lulus dari sini?”

Ia tertawa kencang “Itu keberuntungan.. Makanya lulusan dari sini aku beri dia bonus beasiswa keluar negeri karena telah menuruti semua perintah ku hahahaha” tawa pria tua itu, membuat Anna dan Yuri semakin kesal, mungkin Ryosuke juga begitu.

“Jadi, kau mau?” Tanya nya kembali, karena sejak tadi Ryosuke belum menjawab dan hanya seperti–masih menimbang-nimbang untuk menjawab.

Walau pria itu sudah memutuskan ‘Ryosuke lah penerusnya’ tapi kalau Ryosuke belum berkata ‘Ya’ itu belum resmi.

Hanya keputusan sepihak.

.

Indah sekali, rekaman yang ia peroleh. Segala kejelasan itu.

“Jawaban akan ku berikan besok.” Singkat Ryosuke, benar benar mengabaikan.

Bergerak dari sofa itu, dan mencari tempat istirahat—tepatnya kamar terdekat. Dirinya sungguh lelah.

Berani, memang. Ryosuke tak akan gentar. Ia tahu dirinya sangat dibutuhkan oleh sang pemimpin itu, semua akan dilimpahkan begitu saja pada pundak Ryosuke—karena kepercayaan mendalam itu lah, Ryosuke sangat tega untuk menginjak injak nya.

Ia berpikir, dahulu bahkan sang kepala sekolah—dari segalanya, ini lah yang menginjak injak kepercayaannya.

Kepercayaan seluruh murid akan sekolah yang bagus. Pada kenyataannya? Mereka dibunuh.

Sekarang giliran Ryosuke menginjak injak harga diri sang kepala sekolah. Pemuda ini memang luar biasa.

Ryosuke diantarkan oleh petugas, ke kamar yang disediakan. Sangat bagus. Hanya keluar dari ruang kerja pimpinan gila itu, masuk satu ruangan. Dengan tempat tidur terlebar yang pernah ia lihat—hanya di nikmati dirinya sendiri.

Tirai kemerahan, dan kain-kain tebal menghiasi interior. Rajutan emas, mewah. Sangat. Bagai ruang tidur tamu seorang raja, yang sangat di hormati.

Selimut sehalus sutera—menyangga tubuh pemuda ini yang mulai terlelap.

“Kalian sudah dengar semuanya kan?” Suara pelan Ryosuke, “tugasku sudah selesai, sekarang ku percayakan pada kalian.” mendekatkan alat perekam itu dalam mulutnya—menggenggam dengan tangan besar laki-lakinya, hingga menjadi tak terlihat. Sehingga tak mencurigakan, kalaupun dalam ruangan ini terdapat kamera pengintai.

“Kalian lah penyelamat akhir semua ini.”

Tutup Ryosuke pada sambungan itu, mempercayai Yuri dan Anna di seberang sana.

Hingga pemuda ini akhirnya tertidur, dalam kelelahan yang menyelimutinya.

.

Anna duduk di sebuah kursi disamping Yuri, ia mencari buku telepon disana. Dan yang ia temukan adalah kertas berisi nomor polisi.

“Nomor polisi? Kenapa Dandelion tidak melaporkan ini sejak awal?” Tanya Yuri sambil melihat Anna yang sedang mencari telepon.

“Aku rasa mereka tidak punya bukti yang kuat” ucap Anna. “atta!” Seru Anna ketika menemukan sebuah telepon.

Kemudian Anna langsung menekan tombol sesuai dengan nomor yang tertera pada kertas yang tadi ia temukan.

“Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?” Ucap pria diseberang sana, menjawab panggilan Anna.

“Maaf, saya ingin melaporkan sesuatu.. tolong dengarkan pengakuan penjahat ini, tuan…” kemudian Anna memutar rekaman yang ia dapatkan dari Ryosuke tadi. Sekitar 6 menit rekaman itu didengarkan oleh sang operator, setelah itu Anna dan Yuri menjelaskan kejadian apa saja yang mereka alami selama bersekolah di Resident dan Devident. Kemudian ia berkata kalau mereka akan menuju ke tempat Anna dan Yuri dengan melacak GPS dari telepon mereka.

“Yosh, semua sudah selesai. Sekarang kita hanya perlu menunggu dan berdoa” Anna bangkit dari tempat duduknya dan mendorong kursi roda yang Yuri duduki untuk kembali ke asrama Rose.

Saat sampai di asrama Rose, Yuri dan Anna merasa beruntung mereka cepat kembali karena setelah itu petugas datang untuk melepas infus Yuri–sebenarnya ingin di ganti tapi Yuri meminta untuk di lepas saja dan mereka menurut.

Ah yokatta setidaknya aku tidak perlu bawa infus kalau sudah keluar dari sekolah ini” kata Yuri sambil tersenyum, mengelus tangannya yang di plester bekas infus. Anna juga ikut tersenyum dan mengangguk—menyetujuinya.

Dan, tak lama kemudian polisi datang, namun mereka ke arah asrama Dandelion.

“P-pak polisi” refleks Yuri yang melihat polisi itu dari jendela berlari keluar dan menghampiri mereka.

Anna yang melihat itu sontak kaget “Yuri… Jangan lari!” Teriaknya khawatir, tapi Yuri tidak menanggapinya.

Polisi itu melihat ke arah Yuri dan Anna yang menghampiri mereka.

“Kalian siapa?” Tanya pak polisi tersebut–kelihatannya dia yang memimpin.

“Kami yang menelpon tadi, pelakunya ada di daerah sekolah Devident” kata Anna.

“Baiklah ayo kita ke sana” mereka pun melangkah menuju mobil tersebut untuk ke sekolah Devident.

Tapi, saat di perjalanan Anna berbisik kepada Yuri.

“Kau.. Sudah tidak apa-apa?” Tanya Anna khawatir, sedangkan yang di tanya hanya tersenyum menunjukan jempolnya.

Anna bernapas lega.

Hingga akhirnya, dengan tuntunan arah jalan dari Yuri–yang pria itu ingat saat di ajak oleh Umika.

Mereka sampai ke ruangan pak tua pemilik sekolah megah ini.

“Tangkap dia” kata pemimpin polisi itu menyuruh anak buahnya.

Dan dengan cepat mereka pun mengunci tangan pria itu yang sedang bersantai di kursi besarnya.

“Apa-apaan ini?” Tanya nya dengan panik.

“Kau di tangkap atas tuduhan pembunuhan berencana, praktek sihir ilegal, penyekapan siswa, dan penganiayaan” kata pemimpin tersebut, para staff yang ada di sana pun ikut tertangkap.

“Dan sekolah ini akan kami tutup”

“Tidaak aku tidak bersalah!!” Dia berontak seperti orang gila, sebelum ia di seret keluar mata nya dan mata Yuri saling  bertatapan.

Namun pria itu tersenyum meremehkan “akhirnya. Yang baik tetaplah menang” kata pria pendek itu setelah pria tua itu benar-benar di seret keluar sambil berteriak tidak keruan. “mereka yang membuat ku jadi seperti ini!!” serunya lagi sambil menunjuk-nunjuk Yuri dan Anna—sebagai perwakilan anak-anak remaja.

Ingat, induk shinigami itu masih ada di genggaman si pak tua tersebut. Dengan brutal ia menyakiti para polisi yang menahannya dan anak buahnya, hingga mereka merasa kesakitan dan melepaskan genggaman mereka dari manusia iblis tersebut—para staff mencoba kabur namun gagal karena kaki mereka langsung di tembak oleh kepala kepolisian yang sedang berdiri di samping Yuri dan Anna sehingga mereka refleks terduduk di lantai, melihat apa yang terjadi pria tua itu tertawa kencang “kalian tidak bisa menangkap ku!! Dasar manusia sialan!!” kembali pak tua itu berniat untuk menyakiti semua orang, namun.

DOR!

Tiba-tiba terdengar suara tembakan, dan peluru itu tepat mengenai jantung pemilik sekolah ini, waktu bagaikan berhenti untuk sejenak, kejadian itu sungguh mengejutkan dan membuat semua orang yang ada di sana terkejut, pelan namun pasti tubuh orang tua itupun ambruk ke lantai bersama induk shinigami yang hilang entah kemana.

Pistol yang menembaknya barusan jatuh dari tangan pria mungil, ia bergetar lalu berlutut—menyesali perbuatannya.

“Yuri?” Anna memegang pundak Yuri, menyuruh lelaki itu berdiri. Namun bukannya menuruti Anna, Yuri malah menatap sang polisi.

“Gomenna… aku.. tidak sengaja…” suara Yuri bergetar, begitu juga dengan tangannya. Tidak ada dalam sejarah hidup seorang Chinen Yuri manjadi pembunuh—sebelum ini tentunya. Ya, orang yang menembak pemilik sekolah ini adalah Yuri.

Diam sejenak, lalu pak polisi benar-benar menarik tubuh Yuri untuk berdiri.

“Bagus nak” pak polisi itu menepuk kedua pundak siswa ini “kalian seperti pahlawan”

“He?” Yuri mengerutkan dahinya “maksudnya?”

Pria berwibawa itu tertawa “kau meringankan tugas kami, sudah seharusnya dia di hukum mati. Tapi kau sudah duluan, lagipula kalau kau tidak cepat tadi kita semua bisa lengah dan dia akan kabur” menatap para anak buahnya yang sedang menahan kesakitan, “terima kasih” ia tersenyum “tinggal anak buah nya yang kami tangani” kemudian, Anna dan Yuri mengangguk paham akan maksud dari pak Polisi, Yuri juga merasa lega karena tindakannya tidak salah tetapi malah sangat benar, seketika Yuri merasa ada kepuasan sendiri karena telah membunuh monster dari sebuah permainan disekolah ini. Yah, anggap saja ini adalah game yang sedang menguji adrenalin mu.

“Kalian hanya berdua?” tanya pak polisi itu setelah ada keheningan sejenak di antara mereka, dan para staff tersebut sudah di seret oleh polisi-polisi lainnya untuk di pidanakan. Kesakitan para polisi itu hanya sementara.

Iie.. Sebenarnya di balik ini ada teman ku juga yang terlibat” Yuri angkat bicara, jangan sampai pengorbanan Ryosuke di abaikan.

“Oh ya? Siapa dia?”

“Ryo–”

“Sumimasen…” Ucapan Anna terpotong karena Ryosuke akhirnya masuk ke dalam ruangan tersebut, di sambut senyuman oleh kedua temannya.

“Ryosuke, Yamada Ryosuke” lanjut Anna.

“Hai boku” Ryosuke menunduk hormat di hadapan ketua polisi tersebut, ia melihat sikap Ryosuke terhadapnya, lalu berdecak kagum.

“Benar-benar siswa yang sangat membanggakan, sebagai gantinya aku akan membiayai sekolah kalian di tempat yang layak, bagaimana?” Kata pria itu.

Ketiga sekawan ini saling bertatap meminta persetujuan masing-masing. Lalu seakan mengerti satu sama lain—sebenarnya memang begitu, mereka mengangguk kompak.

“Arigatou” kata mereka serempak.

“Haha sekarang bereskan barang kalian dan pulanglah, aku akan mengurus sekolah kalian yang baru”

Lalu, mereka pun keluar bersama, saling bercerita dan tertawa, meninggalkan sekolah kebanggaan mereka—pada awalnya.

Benar, pada akhirnya yang baik tetaplah menang.

“Ngomong-ngomong aku mendengar suara tembakan tadi” ujar Ryosuke saat sedang di dalam mobil polisi itu—di antarkan pulang.

Merasa dibicarakan Yuri menoleh “aku yang menembaknya”

“Alasan mu menembak dia kenapa, nak? Itu tindakan bahaya kalau tidak tepat sasaran” tanya ketua polisi yang sedang menyupir.

Lalu, tangan Yuri mengeluarkan sebuah kertas dari kantung celananya, ‘Cara menghilangkan Induk Shinigami’ tertulis di kertas tersebut. “saat Anna menjatuhkan buku di perpustakaan, kertas ini keluar dari bukunya, dan sesuai petunjuk disini kalau shinigami itu ada di dalam diri seseorang, orang tersebut harus di bunuh. Kebetulan aku tadi panik…dan …langsung mengambil pistol pak polisi lalu menembaknya. Go-gomenne” ucapan Yuri yang sedikit terbata membuat mereka tergelak tawa. Suara Yuri yang bergetar dan cukup cempreng lalu wajah Yuri yang terlihat polos itu sukses membuat perut mereka tergelitik, “untung kau tepat sasaran” canda Anna, lalu kembali terpingkal bersama, termasuk Yuri.

***

Satu minggu setelah kejadian penangkapan, semua peristiwa itu langsung menjadi viral di media—akan kekejaman sekolah yang dinilai elit di masyarakat, juga segala runtutan kronologis kejadiannya.

Sekarang hidup mereka menjadi lebih tenang, ya. Mereka bertiga. Anna, Yuri, dan Ryosuke. Jauh lebih baik, dalam sekolah baru mereka yang terbeasiswa penuh oleh pemerintah. Kepindahan mereka telah diatur sedemikian rupa, agar tak lagi repot mengurusi hal-hal kecil.

Mungkin sekolah ini tak semegah Resident, tidak mengikuti sistem asrama yang mampu membiayai setiap siswa dengan adanya bangunan semacam Rose. Tapi di sekolah ini—yang masih cukup bagus, tentunya. Bertingkat tinggi, luas dalam lapangan berhektar ukuran, gedung gedung olahraga dan aula, juga fasilitas super lengkap. Mereka sangat nyaman. Sekolah pilihan pemerintah memang luar biasa.

Terbuka dengan lingkungan luar. Pendidikan normal, kedisiplinan tetap ditegakan namun tanpa hukuman nyawa.

Ketiga siswa ini secepat kilat, terkenal dalam angkatannya. Karena jasa mereka, juga karena secara penampilan, memang sangat memanjakan mata. Tampan—juga cantik. Fans mereka banyak. Sulit untuk bermain, dalam lingkup sekolah karena sibuk membalas sapaan.

“Kocchi dayo, kocchi!” Anna menarik tangan Ryosuke, naik keatas atap sekolah yang luas. “Nah, kita sampai. Disini saja.” Memasuki pintu atap—loteng, yang sesuai dugaan memang sepi siswa disini. Jauh lebih damai.

“Haaah. Enaknya disini.” Berputar putar tiada henti, bak anak kecil yang senang sekali bermain di area lapang. Anna benar-benar merasakan kebebasan.

Ryosuke pun tersenyum—menghirup napas dalam-dalam, dan menghembuskannya.

Ini lah yang mereka idamkan sejak dulu. Masa sekolah normal seperti remaja pada umumnya. Tanpa khawatir apapun.

Mengadah keatas, menikmati matahari. Ryosuke memandangi iringan awan putih yang saling berjalan. Di atap ini hanya ada mereka berdua, dirinya—Ryosuke dan Anna.

Seketika hati pemuda ini berdebar, mengingat suatu peristiwa.

Dalam kamar asrama Devident, suara kecil Anna mengagetkannya.

“Suki da.”

Ujar Anna malam itu, yang membuat pemuda ini benar-benar bingung dibuatnya—terkejut, sahabatnya menyimpan rasa.

Belum sempat menjawab. Kali ini kejadian itu kembali terngiang.

“Anna.” Panggil Ryosuke, tiba-tiba. Membuat gadis ceria itu menoleh, seraya mengatakan ‘hm?’ Dalam ambangan angin yang menerpa rambut terurainya—sambil tersenyum.

Satu menit, dua menit.

Pemuda ini terdiam, tak kunjung mengeluarkan suara. Keheningan diantara keduanya.

“Ada yang mau aku sampaikan.”

Kini saatnya pemuda ini menyatakan responnya—apa akan ia berikan positif, atau bahkan tidak.

“Aku—” Gestur mulutnya seraya akan mengatakan sesuatu lagi, dalam diam—

“MINNAA!”

Namun terhenti—seketika Yuri masuk begitu saja dan membanting pintu loteng penuh semangat, nyaris jantungan Ryosuke dibuatnya. Ia menoleh, pada Yuri.

Yokatta, aku tau akhirnya akan menemukan kalian disini!”

Pria kecil itu mendekati—setelah sempat berlari, dengan melompat kegirangan.

“Hampir saja aku kehabisan napas dibawah—” melangkah mendekati sahabatnya, “kalian lihat? ini kamera baru. Tadi aku dibawah, baru saja bergabung dengan club photography.” Ujarnya, menenteng-nenteng SLR canggih itu yang talinya melingkari leher pemuda ini,

“Seru sekali, tapi mereka sungguh banyak bertanya, seperti fans. Aku kewalahan.” Lanjut Yuri, sekaligus menjelaskan—kenapa ia bisa berada disini.

Anna tertawa melihatnya, dan Ryosuke pun hanya tersenyum mendengar sahabatnya yang sedang terengah menormalkan pernapasannya.

Yuri mengisyaratkan, kedua sahabatnya mendekat. “Hora hora, kalian!” Mengarahkan tangannya. “Ayo ku foto kalian berdua, teman-teman berhargaku.” Ungkapnya senang, mencoba memfoto lebih banyak hal dengan kamera barunya itu.

Ryosuke dan Anna dituntun berdampingan, bersandar menempel pada dinding—belakang pintu loteng untuk masuk. Dalam latar tembok putih sekolah, dari bangunan kecil atap, itu. Mereka tertawa.

“Ayo gaya kalian jangan terlalu kaku.” Arah Yuri.

Sungguh senyum yang menyejukan satu sama lain.

“Satu, dua, ti—”

Yuri sibuk memfokuskan kamera nya, bak fotografer handal untuk memotret dua sahabat berharganya—sedikit lagi, dan hampir menekan tombol kameranya—seketika kawanan burung berformasi, terbang diatas atap sekolah.

‘Bak bak bak bak.’

Riuh bunyi nya, sungguh semangat dilangit biru ini.

“Waaa!! Ada burung!” Laki laki ini membelokan arah kameranya, mengikuti jalannya kawanan terbang itu, “Minna mitte, indahnya!!” Sibuk mengabadikan kesempatan langka ini.

Untuk sepersekian detik matahari sedikit terhalangi.

Ryosuke yang berdiri disamping Anna, mendekatkan wajahnya, memejamkan mata—dan tiba tiba.

‘Cup.’

Bibir pria ini mendarat mulus, pada Anna—yang sukses membuatnya terkejut bukan main. Jantungnya seperti terhenti.

Lantai atap penuh bayangan unggas-unggas terbang itu, sangat indah.

Tak lama, bibir yang saling bertaut itu terlepas. Tepat dengan berbalik nya pandangan Yuri.

Ryosuke pun bergerak, melangkah untuk pergi—meninggalkan Anna yang sibuk menormalkan jantungnya.

“Hei Ryosuke, mau kemana?” Tanya Yuri heran, “kan fotonya belum selesai! Heeei!” Memanggil-manggil, namun pemuda yang telah menjauh itu tetap berjalan.

“Kau foto Anna saja.” Tawa Ryosuke, menjawabnya. Seraya melambai untuk turun kebawah.

“Mouuu….”

Yuri pun beralih melihat Anna—yang tak kalah membuatnya heran. Gadis ini hanya memegangi pipinya, dengan rona merah sangat menyala.

“Anna? Anna hei kau kenapa?” Dengan nada bercanda, namun penasaran bertanya. “Hei? Kau sakit?”

Gadis itu menggeleng dan tersenyum—masih sulit untuk menjawab.

Pria kekar ini melangkah, dan merenung—hanya berpikir, mungkin ia memang tak bisa menyatakan apa yang ia rasakan secara langsung untuk Anna. Tapi ia berharap, dari ciumannya itu Anna dapat merasakan ketulusanya. Entah kedepannya seperti apa, Ryosuke tak memikirkannya. Ia senang dengan apa adanya mereka bertiga seperti ini. Tidak terikat ikatan berat apapun namun saling menjaga.

“Hei Anna, katakan.” Merajuk, mencoba meraih kejelasan semua ini, “ayo katakan.”

Anna bersikeras menggeleng, “tidak mau.”

Pria gigi kelinci ini semakin curiga, atas Ryosuke dan Anna.

“Apa yang dilakukan Ryosuke padamu?” Mengerutkan dahi.

Namun gadis ini masih dalam alam imajinasinya, “Tidak tahu.”

“Heii apaa?” Sekali lagi.

Senyum Anna semakin merekah, kala berkali-kali di tanya seperti itu, semua kejadian itu sekilas namun tampak berulang kembali. “Tidak tahuuu, Yuri!”

“Ayoo katakannn.”

“Tidak mauuu.” Tak menyadari pernyataan cintanya yang lalu belum sempat terjawab, tapi Anna sudah bahagia.

Perdebatan kecil mereka terus berlanjut—terdengar oleh Ryosuke, yang masih berpijak pada tangga turun loteng sekolah, tertawa mendengarnya.

  • OWARI●
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s