[Multichapter] Little Things Called Love (#19) – END

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 19)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

Syutingnya sudah selesai hari ini. Bekerja tanpa asisten memang sedikit merepotkan, manajernya hanya mau meneleponnya, berbeda dengan Yua yang berinisiatif datang ke mansionnya, menyeret dirinya saat harus syuting pagi. Taiga kembali menatap ponselnya, belum ada kabar dari Hazuki dan inilah mungkin saatnya dia mengambil keputusan. Tidak lagi ada keraguan, Taiga malam ini menyupir sendiri ke tempat tujuannya, dimana seseorang sudah menunggunya.

Kenangannya bersama Hazuki berputar di dalam otaknya. Apalagi kenangan indahnya saat berkeliling Eropa. Dua puluh empat jam saat itu dia bisa bersama Hazuki, menatap cara gadis itu makan atau marah-marah jika tempatnya tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Hazuki yang selalu berjalan lebih cepat dari dirinya, melompat-lompat kegirangan jika melihat pemandangan yang indah.

Hazuki-nya.

Hazuki yang baru saja beberapa minggu yang lalu diperkenalkan sebagai tunangannya, Taiga pernah melamar Hazuki sebelumnya di sebuah pantai saat mereka di Yunani. Dengan latar belakang matahari terbenam, Taiga mengucapkannya sepenuh hati. Saat itu dia sudah yakin, hanya Hazuki yang bisa merobohkan pertahanannya, menghapuskan kata tidak percayanya terhadap cinta.

“Hazuki,” saat itu Hazuki menoleh, senyum khas masih menghiasi wajah gadis itu karena kagumnya dengan matahari terbenam di ufuk barat, “Terus temani aku ya, apapun yang terjadi, aku ingin hanya Hazuki yang bersamaku,”

Mata Hazuki saat itu terlihat lembut, senyumnya masih mengembang, “Un! Wakatta!” namun ternyata Hazuki mungkin mengartikan itu bukan sebagai lamaran. Hazuki bersikap seolah-olah liburan mereka ke Eropa hanya berakhir di Eropa. Hazuki kembali dingin, tidak peduli, Taiga pun berusaha semampunya untuk meyakinkan Hazuki, hingga akhirnya gadis itu menyerah, menerima lamarannya dan setuju bertunangan.

Tanpa Taiga sadari mobilnya sudah sampai di tempat tujuan. Ia merapikan sekilas kemejanya, mengambil jasnya di kursi sebelah. Langkahnya mantap menyusuri halaman rumah yang cukup luas itu.

Ojamashimasu,” Taiga memencet belnya, seorang wanita paruh baya menyambutnya.

“Kyomoto-sama, silahkan masuk, Kirie-sama sudah menunggu anda,” katanya sambil tersenyum, semua pelayan di rumah ini diharuskan memakai kimono, Taiga sudah hapal sekali dengan peraturan itu.

“Ayah, maaf mengganggu kedatanganmu ke Jepang,” itulah kata pertama yang Taiga ucapkan ketika melihat Ayah dari Hazuki sudah menunggunya di ruang tamu.

“Tentu saja tidak mengganggu, Taiga-kun, kamu kan calon menantuku,”

Taiga segera duduk di hadapan Ayah, tak lama seorang pelayan mengantarkan kudapan dan teh hijau untuk dirinya dan Ayah, “Ku harap Ayah mau mengerti setelah mendengar penjelasanku,” Taiga menarik napas panjang, mencoba berbicara sejelas dan setenang mungkin, “Aku rasa lebih baik pertunanganku dengan Hazuki-san dibatalkan,” tangan Kirie-san berhenti di udara saat mengambil gelas teh hijaunya, menatap Taiga dengan heran, “Aku rasa, tidak baik memaksakan kehendak kita terhadap Hazuki-san, kalau dia tidak bahagia, aku pun tidak bisa membuatnya bahagia, kurasa itu akan buruk bagi dirinya. Kumohon Ayah mengerti,”

Ada pause yang panjang sekali, Taiga sudah mengatakannya, dan walaupun ini sangat menyakitkan untuknya, asal Hazuki tidak lagi merasa tertekan, itu sudah cukup untuknya. Demi Hazuki.

***

“Tidak perlu minta maaf, harusnya aku yang minta maaf,” Hokuto kembali menatap Airin, “apakah itu jawaban darimu? Untuk pertanyaanku tempo hari?” seakan kelu, Airin hanya bisa manatap balik ke arah Hokuto, hatinya masih bingung. Sangat bingung sampai rasanya dia ingin kabur saja daripada harus menjawab pertanyaan Hokuto.

“Aku….” Airin terlihat gelisah, Hokuto jadi ikut tegang dengan ucapan yang akan keluar dari mulut Airin, mata gadis itu tidak mampu menatap wajah Hokuto, ia terus menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sekarang pasti berekspresi tidak jelas.

“Ai-chan,” suara Hokuto melembut, tidak bagus bagi kerja jantung Airin yang sekarang mendadak ingin memeluk Hokuto ditengah kebingungannya, “Besok, penerbanganku jam dua belas siang. Aku akan menunggumu di bandara hingga pukul setengah dua belas, berikan jawabanmu. Apapun itu, aku akan menerimanya,” tangan Hokuto terulur, menepuk pelan kepala gadis itu dengan sayang, “pilihlah apa yang menurutmu benar, aku tidak akan memaksa,”

Ketika mengingat kejadian semalam Airin merasa makin salah tingkah. Semalaman dia tak bisa tidur, dan telepon dari Chinen sama sekali tak ia gubris. Berapa kalipun pria itu meneleponnya, Airin hanya memandanginya dengan tak napsu. Apa yang harus ia jelaskan kepada Chinen? Bagaimana jika Chinen menuntut jawabannya juga? Airin mengacak rambutnya, frustasi dengan keadaan ini. Ia ingin menelepon Sonata, tapi takut keadaan malah semakin rumit karena bagaimanapun juga Sonata pasti di posisi sahabat namun juga sekaligus adik dari Hokuto, penilaiannya akan jadi sangat subjektif.

Airin mengambil ponselnya, mendial nomor yang sudah lama tidak ia hubungi, menunggu nada dering yang hanya beberapa detik itu terasa lama baginya.

Moshi-moshi?” angkat suara di seberang.

“Shin-kun!” ia lega mendengar suara Shintaro di ujung telepon itu, “Anou, aku ingin cerita, ada waktu, gak?” Shintaro mengiyakan dan setengah setelahnya Airin menceritakan garis besar permasalahannya dengan Hokuto dan Chinen, begitu pula dengan kegalauan dirinya untuk memilih keduanya, “Gimana dong, Shin-kun??!!” Airin mencoba sedikit tenang, semoga ia tidak perlu menangis lagi kali ini.

“Uhmmm… sulit juga ya,” ucap Shintaro, ada jeda yang cukup lama, Shintaro akhirnya berdehem, “Sekarang coba Ai-chan pikirkan, diantara dua pria itu, mana yang lebih membuat Ai-chan merasa kehilangan jika tidak bersamanya? Yang lebih Ai-chan cintai?”

“Tapi Shin-kun,”

“Ai-chan tidak berubah ya, dengarkan aku, kau pun tidak berhasil mencoba hubungan baru denganku kan karena kenyataannya Ai-chan saat itu hatinya lebih memilih Aniki. Jadi sekarang pikirkan, mana yang hatimu pilih, jangan keras kepala dan memikirkan perasaan orang lain, pikirkan perasaanmu sendiri!”

Airin terpaku, ucapan Shintaro tidak ada yang salah sama sekali. Tidak ada. Dia hanya baru menyadarinya.

***

Lampion-lampion yang tergantung indah di sepanjang jalan utama, beberapa umbul-umbul juga menghiasi jalan yang kini terlihat semarak. Di ujung-ujung jalan ada gerbang sebagai pintu masuk ke festival tahunan ini. Kouchi berdiri di depan gerbang, tangannya sibuk memainkan ponselnya, orang yang ditunggunya belum juga datang.

“Kou-chan!” Kouchi menoleh, seorang gadis dengan yukata berwarna biru tua dengan corak bunga-bunga berdiri di hadapannya, untuk melengkapi penampilannya gadis itu menyematkan bunga di rambutnya yang dibiarkan tergerai sebahu, juga tak lupa memakai geta.

Yappari Yua-chan memang selalu aneh pake yukata,” ucap Kouchi, lalu tertawa. Yua hanya manyun menanggapi ucapan Kouchi, “Terakhir kali aku melihatmu pakai yukata mungkin waktu kita SMP ya,”

Yua mengangguk, “Festival musim panas, aku telat pun karena harus berkutat dengan obi bersama ibu selama beberapa jam, ehehe, jadi Kou-chan juga memutuskan untuk pakai yukata?” Yua menarik lengan yukata Kouchi yang berwarna coklat tua, pria itu hanya tertawa.

Jya, ayo kita mulai festivalnya!” Kouchi berbalik untuk mulai masuk menelusuri stand-stand yang ada di festival. Kebanyakan makanan, dan permainan khas musim panas. Karena sudah lama sekali rasanya tidak ke festival, Kouchi ikut bermain di stand-stand permainan seperti mengambil ikan mas memakai pancingan kertas atau permainan khas menembak sasaran untuk mendapatkan boneka yang tersedia di sana. Yua meminta Kouchi mendapatkan boneka panda, tapi Kouchi hanya mampu memberikan sebuah boneka kecil berbentuk beruang.

“Ah! Ada oden!” Yua menunjuk ke arah salah satu stand yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri, “Beli yuk!” serunya sambil menarik lengan Kouchi yang pasrah mengikuti Yua padahal setengah jam yang lalu mereka baru saja makan takoyaki.

“Kouchi?!” baik Kouchi dan Yua secara spontan menoleh.

“Eh? Abe!!” Abe Aran, teman mereka semasa SMP menyapa.

“Eh? Ichigo-san juga di sini?” Aran menghampiri Kouchi dan Yua lalu menyalami keduanya, “Hisashiburi! Apa kabarmu?”

Kouchi tersenyum, “Ya baik-baik saja, bagaimana denganmu?”

Genki da yo!” lalu entah kenapa Aran tersenyum mencurigakan menatap Kouchi dan Yua, “Jadi akhirnya kalian bersama? Sudah kuduga,”

“Eh? Apa maksudmu?” tanya Yua bingung.

“Kou-kun sudah menyukaimu sejak SMP, kan,”

Baik Yua dan Kouchi hanya terdiam. Ketiganya terlibat percakapan basa-basi setelahnya sampai Aran harus pamit karena masih ada urusan di stand yang dia punya. Ternyata Aran tidak pindah dari kota mereka bahkan sekarang meneruskan restoran Ayahnya di kota. Satu lagi faktanya, Yua ingin sekali menanyakan langsung pada Kouchi

***

Tidak pernah mudah untuk berbicara kepada seorang Kimura-san. Auranya yang sangat kuat dan mengintimidasi selalu membuat Jesse sedikit bingung saat harus berbicara dengan pria itu. Walaupun setelah tiga tahun pertunangannya dengan Aika, ia semakin santai tapi untuk kali ini, Jesse merasakan telapak tangannya berkeringat. Bukan hal yang mudah, tapi harus dilakukan.

Jesse mengetuk pintu itu, bertahun-tahun lalu ketika ia datang Kimura-san mengancamnya soal Ruika, dua tahun kemudian ia datang dan Kimura-san memintanya untuk berangkat ke Amerika, menemani Aika, mengelola salah satu franchise baru di New York. Tapi kali ini berbeda, bukan Kimura-san yang akan meminta, tapi dirinya.

“Masuk,” terdengar suara dari dalam ruangan. Jesse membuka pintunya, “Ohhh Jesse-kun!” Ayah yang duduk di mejanya terlihat sehat dan gembira. Semoga tidak ada apa-apa setelah Jesse mnegatakan keinginnya, “Ada apa?”

Tanpa sepatah kata pun yang terlontar Jesse menyerahkan sebuah surat. Air muka Ayah tentu saja sepersekian detik kemudian sudah berubah muram. Jesse menunduk, mencoba mencari kata-kata yang tepat namun tidak menemukannya. Semua yang akan dia katakan pasti terdengar salah sekarang.

“Kau yakin?” suara Ayah menjadi dingin, Jesse tidak mampu menatap matanya.

“Maafkan aku Ayah, aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Aika, tapi aku mohon jangan batalkan merger Lewis dan Kimura. Aku yang akan bertanggung jawab dan meninggalkan perusahaan, atas kemauanku sendiri!” Jesse menunduk dalam, memohon pada seorang Kimura Kazuya, “Onegaishimasu!!”

Detik berikutnya Ayah merobek surat pengunduran diri milik Jesse, “Pertunanganmu dengan Aika boleh batal, tapi kau staff terbaikku, dan tidak mungkin kau lari dari perusahaan Ayahmu sendiri, kan? Lewis-san dan aku sudah berteman lama dan aku tidak ingin beresiko membuat perusahaan tidak stabil dengan kepergianmu,” Jesse kini mampu menatap wajah Ayah Aika, kini giliran dia yang kaget, “Perlu kau tau, Aika sudah dari kemarin-kemarin meminta pertunangan kalian dibatalkan dan aku sebenarnya sudah mengabulkannya,”

“Eh?”

“Aku masih berharap tentu saja kau dan Aika benar-benar menikah. Tapi rasanya aku sudah melakukan kesalahan fatal dan saatnya aku memperbaikinya,” Jesse kembali menunduk, berterima kasih atas kemurahan hati dari seorang Kimura-san, bagaimanapun juga perusahaan Ayahnya tidak akan bertahan jika tanpa merger dengan perusahaan Kimura.

Arigatou, Kimura-san!!” ucap Jesse sepenuh hati.

“Kau masih bisa memanggilku Ayah, tapi… kurasa ada beberapa hal yang tidak akan kau dapatkan lagi, termasuk mansionmu dan Aika,”

Jesse hanya mengangguk. Dia tidak kehilangan pekerjaan dan perusahaan Ayahnya selamat. Entah bagaimana rasanya dia ingin segera berlari ke tempat Ruika berada. Kali ini ia ingin memeluk gadisnya, tidak ada lagi yang bisa mencegahnya.

***

Ruangan ini terasa lebih luas dari biasanya. Separuh barang di dalamnya sudah dipindahkan tadi pagi, peralatan dapur pun demikian. Juri mengeluarkan sandwich yang ia beli, malam ini terpaksa makan makanan dari toko dua puluh empat jam karena memang begini keadaannya setelah seminggu ditinggal oleh Chiru.

Seperti yang Chiru katakan, sepulang mereka dari Tokyo Chiru benar-benar meninggalkan Juri, meminta Juri tidak lagi mengganggunya. Walaupun memang Chiru adalah seseorang yang ingin di tolongnya, bohong jika Juri tidak peduli pada Chiru, apalagi kali ini ia merasa bersalah, terutama terhadap bayi yang Chiru kandung. Kalau saja dia tidak membuat Chiru khawatir dan membuat Chiru sampai harus menyusulnya ke Tokyo.

Bel apartemen mungil itu berbunyi. Lamunan Juri terganggu, dalam hitungan detik ia beranjak untuk membuka pintu apartemennya.

“Hey!” satu sosok dengan senyuman khas itu muncul di hadapan Juri.

“HAZUKI!?!!” Juri hampir berteriak karena kaget melihat gadis itu ada di hadapannya, “Ngapain di sini?!!”

“Liburan tentu saja!” kata Hazuki ringan, “Tadinya aku baru pulang dari departement store lalu tiba-tiba saja aku ingin ke bandara, dan dipikir-pikir tanpa persiapan aku mending ke Fukuoka saja, hehehe,” Juri masih terpaku melihat ke-random-an Hazuki dan tanpa sungkan gadis itu melangkah masuk ke apartemen Juri, “Ojamashimaaassuu,”

“Kau itu, bagaimana kalau Taiga khawatir?”

Hazuki duduk di tengah ruangan itu, mengambil satu sandwich yang ada di atas meja yang belum di makan oleh Juri, “Dia tidak akan khawatir,” karena Taiga sudah membatalkan pertunangan kami, tambah Hazuki dalam hati.

Juri menarik napas panjang, “Ada apa dengan kalian?”

“JURI-KUUUNN!!” Hazuki mencari Hokuto dan mendapati pria itu ternyata sedang ke Hiroshima maka dari itulah dia memutuskan untuk terbang ke Fukuoka, melarikan diri, ingin melupakan sekejap rasa sakitnya. Hazuki menghambur ke pelukan Juri, untuk sesaat Juri membiarkan tangis Hazuki tumpah ruah, seakan gadis itu sudah menahannya sejak tadi.

Setelah agak tenang Hazuki menceritakan bahwa tadi tiba-tiba saja Ayah memintanya untuk bicara, dan mengabarkan perihal pertunangan mereka yang sudah dibatalkan oleh Taiga. Lalu saat Hazuki berusaha menghubungi Taiga, jawaban dari Taiga sangat menejutkan.

“Aku tidak mau menunggumu lagi, jya! Semoga kau beruntung,” telepon lalu ditutup.

“Kau sendiri yang bilang tidak bisa percaya diri dengan Taiga lalu sekarang kau malah menangisi kepergiannya, Hazuki! Aku tidak mengerti mau mu itu apa?” Juri menyodorkan segelas teh hangat di hadapan Hazuki yang masih terisak-isak.

“Tapi Juri-kun.. hiks.. hiks..”

“Jadi sekarang menyesal?” tanya Juri, yang kini menatapnya sambil melipat tangannya di dada.

Hazuki bingung. Apalagi Ayah tadi menyerahkan kunci mansion, Taiga menyerahkannya kepada Hazuki, tanpa meminta imbalan apapun. Sekejap dia merasa bebas, namun detik berikutnya ia sadar, jika benar dia tidak bisa lagi bertemu dengan Taiga, bagaimana hidupnya?

***

Anou Kou-chan, itu… benar?” gatal sekali rasanya ingin bertanya. Kalau memang benar, bagaimana bisa Kouchi menyembunyikannya selama ini? Bukankah mereka selalu bersama?

Sambil menatap aliran sungai di hadapan mereka, dan lampu-lampu festival yang tidak jauh dari tempat mereka duduk sekarang, Kouchi menatap Yua, “Sepertinya semua orang menyadarinya kecuali Yua-chan sendiri,” ia pun tersenyum.

Apakah selama ini memang ternyata Yua saja yang tidak menyadarinya. Bahwa yang sebenarnya tidak sensitif adalah dirinya sendiri. Menyembunyikannya selama ini apakah Kouchi merasa menderita karena itu? Yua menatap Kouchi yang masih mengunyah oden, menatap ke arah sungai.

“Maafkan karena aku tidak menyadarinya,” bisik Yua.

“Yua-chan tidak sensitif, aku tau. Tidak sabaran, aku tau. Yua-chan lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri, aku tau. Dan walaupun kau tidak menyadarinya aku masih terus bisa disampingmu, jadi aku tidak pernah merasa menyesal. Justru aku menyesal karena kecerobohanku, aku menyatakannya, membuatmu jauh dariku ternyata lebih menyakitkan,” ungkap Kouchi, matanya masih menatap ke arah sungai.

“Kou-chan,”

“Aku mencintai Yua-chan bukan berarti Yua-chan harus balik mencintaiku, itu yang terpenting. Tapi melihatmu dari dekat, waktu itu aku ketakutan. Bagaimana jika Yua-chan menemukan pria lain dan aku harus menatapmu terus-terusan tanpa bisa memilikimu. Maka dari itu aku kabur, meninggalkanmu, mencoba menetralkan perasaanku agar jika suatu saat memang Yua-chan harus bersama pria lain, aku sudah siap jauh darimu,” Kouchi terkekeh, “Aku sudah terlalu lama bergantung padamu dan itu tidak baik untukmu juga, aku ingin….” Kouchi menatap Yua, “Yua-chan bahagia, itu saja yang penting sekarang,”

“Tapi Kou-chan,”

“Aku mengerti. Sekarang pikirkanlah dirimu sendiri dan jangan pikirkan soalku atau perasaanku,” gerakan Kouchi selanjutnya membuat Yua sedikit kaget karena pria itu menepuk bahunya, merangkulnya. Bukan pertama kali tentu saja. Yua dan Kouchi dulunya tidak canggung untuk saling merangkul bahkan memeluk, semuanya jadi terasa berbeda setelah kejadian-kejadian tiga tahun belakangan ini.

Belum sempat Yua menjawab, cahaya kembang api terlihat, suaranya pun terdengar menggelegar dengan semburat indah di langit. Baik Kouchi dan Yua larut dalam kekaguman dan menatap langit bersamaan, namun detik berikutnya Yua memandangi wajah Kouchi. Apakah sanggup dirinya jika setelah ini mereka benar-benar pisah atau bahkan ternyata Kouchi benar-benar menghilang dari hadapannya?

“Ne, Kou-chan,” panggil Yua, Kouchi menatap Yua dengan pandangan bertanya, “Apakah setelah ini Kou-chan akan pergi lagi?”

“Maksudmu soal volunteer?

Yua mengangguk.

“Entahlah. Aku masih suka volunteer mungkin bisa saja aku pergi lagi ke tempat lain, tapi untuk sementara aku akan di Rumah Sakura, aku ingin mengajar di sana untuk sementara waktu,” ucap Kouchi, “Nande?

“Kalau… aku minta Kou-chan tidak pergi lagi, bagaimana?” Sesaat Kouchi menatap Yua dengan takjub, sesaat kemudian Yua tiba-tiba berdiri, “Gomen aku mengatakan hal yang sangat egois. Tapi…” kata-kata itu sudah diujung lidahnya dan menunggu untuk diucapkan. Yua menatap wajah Kouchi yang masih menunggu ucapannya, tapi Yua malah berbalik badan memunggungi Kouchi, “Selama tiga tahun ini, bagaimanapun aku mencoba hidup dengan bahagia, rasanya tetap tidak sama jika tidak bersama Kou-chan,”

Yua merasakan tangan Kouchi merangkulnya dan saat ia menoleh, benar saja Kouchi sudah berdiri di sampingnya, “Itu sangat egois, Ichigo Yua-san,” tapi saat mengatakannya Kouchi tersenyum, “Tapi aku mengerti, memang tidak sama jika tidak bersama Yua, aku juga merasakannya. Tapi Yua-chan harus ingat, saatnya nanti Yua-chan menemukan pangerannya, aku juga akhirnya harus mundur dan meninggalkanmu, kan?”

“Kou-chan itu baka ya?”

“HAH?” Kouchi mengerenyitkan dahinya tak mengerti.

Sebagai jawaban, Yua tidak mengatakan apapun tapi menarik bahu Kouchi dan detik selanjutnya tanpa aba-aba Yua menyentuh bibir Kouchi dengan bibirnya. Posisi itu bertahan untuk beberapa detik karena Kouchi kaget, begitu pula Yua kaget dengan keberaniannya.

“Yua… kau… serius?” karena sudah mempersiapkan dirinya untuk patah hati lagi, Kouchi sama sekali tidak menduga akan begini kejadiannya.

Yappari… aneh ya ciuman dengan Kou-chan,” walaupun mengatakan itu, Yua merasa jantungnya berdebar tak karuan dan wajahnya kini panas dan jika saja tempat ini lebih terang, mungkin terlihat sudah merona karena malu, “Demo… daisuki da yo,” itu jawabannya. Saat ia mencoba mencari jawaban perasaan apakah yang muncul dari hubungannya bersama Kouchi, ia akhirnya tau kalau ini adalah cinta, rasa takut kehilangan, rasa tak ingin jauh dari seorang Kouchi Yugo.

“Bukan aneh,” Kouchi menarik Yua untuk duduk kembali, “Kita hanya butuh lebih banyak latihan, ahahaha,” sedetik kemudian tawa Kouchi menghilang bersamaan dengan menyatunya bibir mereka kembali. Kouchi menopang kepala Yua dengan tangannya sementara bibirnya sudah memagut pelan bibir Yua. Ichigo Yua, sahabatnya, sahabat yang dia inginkan untuk selamanya.

Yua membiarkan Kouchi menelusuri ruang di dalam mulutnya, merasakan getaran saat lidah mereka bersentuhan, dan hangat napas di depan wajahnya. Dan bahagia itu nyata kali ini, Yua merasakannya, dan mungkin sudah saatnya Yua mengalah pada perasaannya, mengabaikan logikanya. Jauh di dalam hatinya Yua pernah takut jika mereka bersama sebagai sepasang kekasih, Kouchi suatu saat akan meninggalkannya, tapi faktanya saat mereka berjauhan Yua lebih merasa menyedihkan. Mereka akan baik-baik saja, Yua tau, mereka akan baik-baik saja.

***

Pagi ini Hokuto bangkit dari tempat tidur hotelnya dengan setengah mengantuk. Dia hanya tidur kurang dari dua jam. Semalaman hatinya tidak tenang, menunggu memang ternyata tidak pernah lebih mudah. Bahkan sekarang. Apakah dulu begini perasaan Airin saat dirinya menjadi brengsek, meninggalkan gadis itu, saat dirinya dengan semena-mena meminta Airin meninggalkannya. Selama ini ternyata Hokuto sudah terlalu egois. Bodoh sekali ia beru menyadarinya setelah tiga tahun berlalu.

Dulu, saat hidupnya belum semudah sekarang, Hokuto memikirkan segalanya dari sisi dirinya. Bahwa ada Ibu dan Sonata yang menjadi tanggung jawabnya. Dia tidak akan pernah menjadi seperti ayahnya yang tidak bertanggung jawab itu. Sonata dan Ibu harus hidup berkecukupan walaupun dia harus banting tulang demi terwujudnya hal itu. Karena itulah dia mengorbankan perasaannya sendiri.

“Aku berangkat sekarang,” ucap Hokuto kepada adiknya yang baru saja meneleponnya.

“Kok suara Hoku-nii lemes gitu sih? Ada apa denganmu dan Ai-chan?” tanya Sonata masih belum menyerah menelepon kakaknya.

“Bawel! Sana packing jangan sampe ada yang ketinggalan!” Hokuto mengingatkan karena besok Sonata akan terbang ke Paris, mengikuti pertukaran pelajar serta magang di sebuah perusahaan mode. Dengan semena-mena Hokuto menutup ponselnya, memutuskan bahwa ini sudah saatnya dia bersiap-siap untuk berangkat ke bandara karena jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.

Terdengar suara ketukan di pintu kamar.

Hokuto menatap pintu kamar hotelnya. Ia tidak memesan room service apapun. Toh tadi dia sudah turun untuk sarapan. Dengan malas ia menuju ke arah pintu dengan masih membawa handuk yang baru saja ia ambil dari lemari hotel.

Ohayou,” rasa kantuk Hokuto hilang seketika.

“Eh? Nande?” Entah karena gugup, atau karena dirinya masih mengantuk dan mungkin saja ini khayalannya.

“Belum mandi ya?” kata sosok di hadapannya, tersenyum ke arahnya.

“Ai-chan,” seakan tidak tau harus mengatakan apa, Airin berdiri di hadapannya seakan ini adalah rumah Hokuto dan dirinya sedang datang mengunjungi, “Uhm… masuk dulu deh,” seakan kembali ke dunia nyata Hokuto akhirnya meminta Airin untuk masuk ke dalam ruangan hotel, dan Airin pun melangkah tanpa ragu.

“Aku membawa jawaban untukmu!” seru Airin. Hokuto menatap Airin dengan pandangan yang bahkan Airin tidak bisa gambarkan. Bingung, penasaran, kaget. Hokuto masih menunggu, matanya langsung menatap mata Airin. Ada hening untuk beberapa saat karena Airin melangkah mendekati Hokuto, “Aku tidak mau menikah denganmu,” Airin menggantung kalimatnya, detik berikutnya Airin menarik kerah kaos milik Hokuto, bibir mereka tiba-tiba saja menyatu tanpa bisa Hokuto cegah, “sekarang, nanti saja kalau sudah lulus kuliah ya,” senyum Airin masih mengembang, Hokuto tiba-tiba merasa dirinya sangat lega.

Tidak butuh waktu lama untuk Hokuto menarik gadis itu ke dalam pelukannya, menciumi gadis itu tanpa ampun. Miliknya. Airin-nya.

“Mandi sanaaaa!!” Airin mendorong bahu Hokuto, “Iiihhh,” Airin kegelian karena Hokuto terus menciumi lehernya.

“Jangan pernah pergi lagi,” bisik Hokuto.

Sehebat apapun dirinya mencoba untuk merasa lebih baik ketika bersama Chinen, tidak ada yang mengalahkan perasaannya saat bersama Hokuto. Airin tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya, namun untuk saat ini, ia ingin Hokuto. Itu saja sudah cukup untuk meyakinkan dirinya bahwa Hokuto lah yang memilik hatinya.

***

Juri menepikan mobil milik Hazuki sementara gadis itu tanpa menunggu Juri langsung berlari ke dalam. Hatinya tidak tenang, rasanya tiba-tiba ia merasa ingin menghilang dari dunia ini. Saat Hazuki melangkah ia masih mendengar teriakan Juri yang mengatakan bahwa ia akan memarkir mobil terlebih dahulu, Hazuki tidak menjawab. Kakinya melangkah lebih cepat sehingga ia terlihat seperti berlari kecil.

“Di mana?!” seru Hazuki menempelkan ponselnya di telinga sementara matanya terus mencari orang yang sejak tadi meneleponnya, memastikan Hazuki segera sampai di Rumah Sakit, “Ruangan mana? Okay,” setelah mendengar nomor kamarnya Hazuki segera naik tangga. Debar jantungnya tidak dapat ia sembunyikan lagi, tangisnya hampir tumpah ruah sekarang.

Saat membuka pintu dan melihat sosok itu terbaring dengan memar di sana-sini, alat bantu pernapasan bahkan wajah cantiknya kini terluka, Hazuki spontan menangis.

“Taigaaaa!!” Hazuki menghampiri tubuh Taiga yang terbaring, air matanya tumpah ruah. Aika merangkul bahu Hazuki, mencoba menenangkan sahabatnya itu.

Tadi, tiba-tiba saja Aika meneleponnya, “Hazuki?! Kau di mana??!!”

“Eh… uhmmm… Fukuoka..” jawabnya santai.

Aika menceritakan bahwa Taiga baru saja mengalami kecelakaan, dengan mobil sportnya. Saat itu mobil Taiga tiba-tiba oleng dan menabrak pembatas jalan dengan cukup keras, namun kenyataannya Taiga tidak mabuk, entah kenapa Taiga bisa sampai menabrak. Aika diberi kabar oleh Ayah Taiga dan selanjutnya Aika segera meluncur ke Rumah Sakit sambil menelepon Hazuki.

“Taiga!” pintu kamar kembali terbuka, dan ada Juri yang juga terlihat sama khawatirnya. Karena takut terjadi apa-apa pada Hazuki yang terlihat sangat panik, Juri memutuskan untuk ikut ke Tokyo. Bagaimanapun Taiga juga sahabatnya.

Mata Aika dan Juri bertemu, tiba-tiba atmosfer tidak nyaman tercipta sementara Hazuki masih saja menangis, meraih tangan Taiga dan menggenggamnya dengan protektif, “Jangan mati duluuuu aku belum minta maaf padamuuu!! Hiks,” Hazuki duduk di samping tempat tidur Taiga, menunduk, berurai air mata, “Taigaaaa.. aku tak mau kehilanganmuuuu, hiks,”

“Berisik!” seru Taiga yang tiba-tiba saja membuka matanya.

“Eh?” tangis Hazuki spontan berhenti, ia menatap Aika yang sedang ikut tertawa dengan Taiga.

“Kan, sudah kubilang Hazuki pasti menangis!” seru Aika sambil menunjuk Hazuki.

Taiga melepaskan masker pernapasannya, tangannya terulur untuk menghapus jejak air mata di pipi Hazuki, “Gomen na, aku tidak apa-apa kok,” Hazuki manyun, meninju lengan Taiga yang langsung membuat pemuda itu beraduh-aduh, “Pelanggaran! kamu gak boleh menyiksa pasien!” seru Taiga.

“Huhuhu!” Hazuki kembali menangis dan tiba-tiba saja ia ingin memeluk Taiga, betapa leganya ia melihat Taiga baik-baik saja, “Jangan buat aku jantungaaann!!” kemudian Taiga duduk dan menarik Hazuki ke dalam pelukannya.

Gomen, semalam pikiranku kalut sekali dan tiba-tiba saja di depan ada mobil, aku menghindar dan malah menabrak pembatas jalan dengan cukup keras,” Hazuki tidak menjawab, membenamkan wajahnya di dada Taiga, terus terisak kali ini karena lega.

“Kalau begitu aku keluar dulu ya,” ucap Aika, memberikan kode pada Juri untuk mengikutinya keluar kamar.

“Jadi, Kirie Hazuki tidak mau kehilanganku?” Taiga tersenyum jahil, ia menatap wajah Hazuki yang kini sembab, gadis itu menggeleng, “Aku tidak bisa memberikan kepastian ke depannya, tapi…. mau coba lagi membangun hubungan kita, kan? Daisuki dakara, aku membutuhkanmu, Hazuki,” dan ucapan Taiga sanggup membuat Hazuki yakin, apapun yang terjadi mungkin nantinya, ia mau berjuang bersama dengan Taiga.

Wakatta,” mungkin mulai sekarang Hazuki memang seharusnya mencari keberanian untuk dirinya dan untuk menghadapi dunia bersama Taiga. Asal dia percaya pada Taiga, dia akan percaya pada dirinya sendiri. Hazuki kembali memeluk Taiga, hanya sepersekian detik tadi saat ia merasa takut kehilangan Taiga, ia tau, ia memang nyatanya jatuh cinta pada Taiga. Hanya karena ketakutannya lah ia mencoba menyangkal perasaan itu selama ini.

***

Jaraknya dengan Aika kelewat dekat, Juri merasa tidak bisa mengendalikan debaran di jantungnya. Aika duduk di sebelahnya dan sejak tadi baik dirinya dan Aika tidak punya kata-kata yang tepat sehingga keheningan meliputi mereka.

“Apa kabarmu?” tanya Juri, setelah berdebat dengan dirinya sendiri mengenai apa yang seharunya ia tanyakan, Juri akhirnya mengeluarkan suara.

“Uhmmm.. baik-baik saja,” jawab Aika, sama-sama canggung.

“Kau kelihatan baik, kakimu sudah sembuh?” tanya Juri lagi.

Eh? Dari mana Juri tau? Aika spontan menatap Juri, “Eh? Uhmmm… baik-baik saja sih,” ketika matanya menatap mata Juri, Aika merasa jika terlalu lama pertahanan dirinya akan runtuh karena kini debaran jantungnya sampai-sampai menyesakkan dada. Ia ingin memeluk Juri, menyesap wangi yang dulu sekali menjadi wangi favoritenya. Ia ingin mencium Juri, segala sesuatu mengenai Juri terlalu membuatnya mabuk kepayang padahal pria itu sudah dengan semena-mena meninggalkannya, memulai hidup baru tanpa menanyakan apakah Aika baik-baik saja.

Hening kembali menyergap keduanya. Aika menunduk, mencari pengalihan perhatian daripada dirinya terus-terusan merasa deg-degan karena Juri di sampingnya. Ingin kabur tapi rasanya aneh juga mengingat sebenarnya mereka berdua adalah teman, dulunya.

“Aku turut prihatin, masalah Nishinoya-san,” ungkap Aika akhirnya.

Juri mengangguk, “Aku dengar dari Chiru, kau menengoknya, arigatou ne,”

“Yang penting Juri-kun mendukungnya terus, itu yang Nishinoya-san butuhkan sekarang,” bohong jika Aika merasa dirinya kini tulus, tapi jika Aika di posisi Chiru, pasti itulah yang ia inginkan.

Keduanya kembali diam, keadaan yang terlalu canggung membuat Aika tidak nyaman. Ingin rasanya tiba-tiba Hazuki muncul menyelamatkan keadaan ini. Atau siapapun yang penting mereka tidak hanya berdua.

“Aku dengar dari Hazuki, kalau Aika-chan akan kembali ke Amerika besok lusa,” kata Juri memecah keheningan, “Ganbatte ne,” tambahnya, ketika Aika melirik ke arah Juri, pemuda itu sedang tersenyum ke arahnya membuat dirinya salah tingkah.

“Kalau….” Aika menarik napasnya, hatinya sudah terlalu capek memikirkan orang lain dan walaupun Aika tau Juri kini masih bersama Chiru, ia ingin mengatakannya, “Kalau Juri-kun bilang ‘jangan pergi’ aku tidak akan pergi,” ucap Aika.

“Aika-chan,” bisik Juri lirih.

“Aku serius. Juri-kun hanya perlu mengatakannya dan aku akan menurutinya,” ucap Aika lagi, gadis itu menunduk semakin dalam.

Gomen Aika… itu…. mustahil,”

Sebelum Juri bisa mencegah, Aika sudah beranjak meninggalkannya. Sementara Aika yang meninggalkan Juri kini sudah tau, mungkin selama ini, hanya Aika yang mencintai Juri dan selama ini memang sudah tidak ada lagi nama Aika di hati Juri. Harusnya ia tau diri.

***

“Nyari apa sih?” Hokuto memperhatika Sonata yang terus menoleh kesana kemari, seakan mencari sesuatu, “Ada yang ketinggalan?” tanya Hokuto lagi.

“Bukan… Shin-kun mana ya?” Sonata terlihat khawatir. Sebenarnya Shintaro memang tidak berjanji bisa mengantar Sonata karena pekerjaannya di restoran semakin sibuk dan temannya yang ia minta untuk bergantian shift belum juga memberikan kabar apakah dia bisa menggantikan Shintaro atau tidak.

Hokuto tidak protes, dia tau pasti Sonata ingin sekali bertemu Shintaro sebelum keberangkatannya walaupun praktis seminggu ini Sonata sudah berpindah ke apartemen Shintaro untuk sementara karena permintaan gadis itu. Walaupun berat Hokuto membiarkannya.

“Mungkin masih di jalan,” ucap Hokuto menenangkan.

Sonata tidak tenang, pagi tadi ia bertengkar dengan Shintaro. Masalah sepele memang, tapi mereka belum sempat berbaikan karena Shintaro harus segera pergi kerja. Menilik ke belakang memang sebenarnya Shintaro bisa dibilang cukup sabar dengan sifat kekanakan dan emosi Sonata yang terkadang tidak memikirkan apa yang ia ucapkan. Selama tiga tahun ini Sonata merasa Shintaro semakin dewasa, bahkan ketika tanpa alsan Sonata cemburu terhadap salah satu partner kerja Shintaro.

Ia ingat saat itu Sonata memaki-maki Shintaro, mengatakan bahwa pemuda itu tidak setia tapi Shintaro jarang sekali meninggikan nada suaranya pada Sonata. Shintaro akan diam, membiarkan Sonata pergi kabur lalu keesokannya Shintaro membawa gadis itu, menjelaskan semuanya. Atau saat Shintaro tidak bisa datang ke salah satu pagelaran kampusnya. Sonata benar-benar ngambek bahkan mengancam putus, padahal saat itu Shintaro memang harus fokus pada ujiannya. Sonata merasa terlalu egois, dan semua usaha bertahan bersamanya hanya dilakukan oleh Shintaro.

Bagaimanapun Sonata tidak mau berangkat tanpa meminta maaf langsung kepada Shintaro. Apalagi pemuda itu tidak menjawab telepon atau chatnya sama sekali sejak pagi.

“Sona, sudah saatnya boarding,” Hokuto mengingatkan, menunjuk ke papan pengumuman yang menunjukkan bahwa penerbangan ke Prancis diminta untuk boarding segera.

“Tapi Hoku-nii,” Sonata masih menatap ke arah belakang, hatinya berat sekali meninggalkan Jepang kalau harus begini, harusnya ia tidka marah pada Shintaro tadi pagi.

“SONAAA!!” Sonata sontak menoleh, ia melihat Shintaro berlari ke arahnya dan Hokuto. Segera setelahnya Hokuto menghindar dari keduanya, “Gomen, aku telat. Oven di restoran tadi tiba-tiba saja ngadat,” Shintaro menyerahkan sebuah kotak makan, “Dibukanya nanti saja ya di pesawat,”

Sonata secara spontan menghambur ke pelukan Shintaro, betapa leganya dia kekasihnya ini tidak marah padanya, “Aku kira Shin-kun tidak akan datang,”

Shintaro tidak menjawab, ia sibuk memeluk gadisnya, setahun ke depan ini akan sangat ia rindukan, “Jaga dirimu, jangan sering-sering makan mie instan,” bisik Shintaro.

“Shin-kun seperti Ibuku saja, hehehe,”

“Sampai ketemu tahun depan ya,” Shintaro mengecup bibir mungil Sonata sekilas, “Sana cepat boarding!

Ketika sudah di atas pesawat akhirnya Sonata membuka kotak makan itu. Selusin lebih cookies berbentuk wajah Sonata dan Shintaro dengan ekspresi yang berbeda-beda dan ada satu gantungan kunci berbentuk gorilla. Sonata menatap gantungan itu dengan heran, setelahnya Sonata tidak bisa menahan tawanya, ‘Karena Sona-chan bilang aku kayak gorilla :p’.

***

Senyum penonton saat menonton konsernya selalu jadi pengobat letih untuknya. Setidaknya dengan begitu ia tau, bahwa penonton menyukai musiknya, menikmati suaranya. Ruika membaca sebagian komentar dari fansnya setelah menonton konsernya, kebanyakan menyukai dan meminta tur kecil-kecilan ini diperpanjang bahkan ditambah kotanya.

Yokatta ne,” Ruika menoleh, dirinya memang sedang beristirahat di lorong, belum beranjak setelah mengambil minuman tadi karena ponselnya meneriakkan notifikasi yang cukup banyak, dan larut dengan apa yang ia baca sejak tadi.

“Hamada…” suara Ruika tercekat karena sedikit kaget dengan keberadaan Hamada yang muncul tiba-tiba.

“Yo! Kulihat kau sering memegang ponselmu, tapi kenapa pesanku tidak ada yang kau jawab?” tanyanya, tanpa meminta izin lalu duduk di samping Ruika.

“Aku rasa kau sudah tau jawabannya kan, jangan ganggu aku terus,” Ruika merasa dirinya harus segera beranjak dan meninggalkan Hamada. Sejak mereka bertemu di satu acara, Hamada meminta nomor teleponnya, awalnya Ruika memberikannya sebagai basa-basi karena Hamada adalah senpainya di dunia entertainment. Dia kebetulan adalah seorang gitaris dari band terkenal.

Pertama kali mengajaknya keluar, Ruika mengiyakan dan malam itu dia menghargai Hamada dan tak enak untuk menolak. Namun sejak malam itu Hamada bisa dibilang sedikit menerornya, meminta Ruika untuk mendatanginya, dan kadang seperti sekarang, tiba-tiba datang di konser atau acara yang Ruika datangi.

“Aku pergi dulu, Hamada-san,” Ruika beranjak namun tangannya dicegah oleh Hamada, tapi sesaat kemudian Ruika melihat tangan lain menarik tangan Hamada dari tangannya.

“Tolong jangan ganggu Ruika lagi,” Jesse Lewis berdiri tepaat di sebelahnya.

“Kamu… bodyguardnya?”

Jesse menarik tubuh Ruika ke belakangnya, “Bukan, aku kekasihnya, maaf kami harus segera pergi,” masih belum bisa mencerna apa yang terjadi, Jesse menggenggam tangan Ruika, menjauh dari Hamada. Ruika mengikuti langkah Jesse yang ternyata membawanya ke ruang ganti miliknya.

“Ngapain di sini?” tanya Ruika bingung.

“Menonton konser pacarku, lagipula aku promotormu,”

Ruika menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Pacar? Promotor? Sebentar… maksudnya?”

Jesse tersenyum, geli melihat Ruika yang terheran-heran dan kebingungan saat ini. Kemudian Jesse mengeluarkan ponselnya, mengutak-atik sebentar sebelum akhirnya menyerahkannya ada Ruika.

“Pertunangan Kimura Aika, putri dari Kimura Kazuya, dengan Jesse Lewis….” Ruika membacanya, lalu menutup mulutnya, “DIBATALKAN?!” matanya langsung mengarah kepada sosok Jesse, “Maksudnyaaaa? Jadi… kita… kamu?? Eh…”

“Itu artikel yang akan muncul besok,” ucap Jesse masih santai, “I choose you,” ucapnya.

“Lalu… perusahaanmu? Ayahmu?”

“Percaya atau tidak Aika lah yang membatalkan pertunangan kami, jadi… semuanya baik-baik saja. Kecuali kenyataan aku bukan lagi penerus perusahaan Kimura, mungkin sekarang hanya seorang pegawai dari perusahaan Kimura dan penerus usaha Ayah,” jelas Jesse lagi, “Bagaimana? Masih mau menerimaku?”

“Kau bercanda?!” seru Ruika. Jesse menariknya untuk duduk di samping Jesse, “Ngomong-ngomong, ini belum akhir turku,”

“Aku tau,” Jesse merangkul bahu Ruika, mencium puncak kepala gadis itu, “Aku tidak mau menunggu selama itu,” tambahnya.

“Oh ya, kita masih harus menyembunyikan hubungan kita,” Ruika tiba-tiba ingin tertawa.

“Hah?!”

“Aku ini publik figur, Jesse Lewis!!” seru Ruika tak percaya Jesse tidak menyadari hal itu.

“SIAL! Benar juga,”

***

“Makasih loh, Hoku-tan,” sekali lagi Aika menatap kamarnya, yang akan kembali ia tinggalkan berbulan-bulan. Aika sudah siap untuk latihan intensif tour nya dan kalau beruntung, dia akan berhasil merayu Ayah untuk memperpanjang kontraknya dengan The Massive Melody. Ini mimpinya, dan karena ia sudah tidak punya alasan untuk tinggal di Jepang, mungkin menetap di Amerika, bahkan mungkin bisa berkeliling dunia, tidak buruk, kan?

Hokuto mengangkat koper-koper milik Aika, gadis ini rasanya mau pindahan lagi karena kopernya saja ada tiga buah, ditambah dengan tas jinjingnya, “Kalau aku menikah, jangan lupa pulang,” ucap Hokuto sambil menarik koper-koper itu, ketika mereka keluar dari kamar pelayan Aika langsung membantu Hokuto untuk membawakan sebagian kopernya.

“Tentu saja!! I wouldn’t miss it even if I have to cancel one of my tour!” seru Aika, hasil tiga tahun di Amerika nya menghasilkan pengucapan sempurna dari mulutnya.

“Yakin tidak mau ketemu Juri dulu?” Hokuto masih menanyakannya ketika mobil Hokuto meluncur meninggalkan kediaman Kimura.

Aika menggeleng, “Sudah cukup, aku lelah Hoku-tan,”

“Hazuki bilang dia ingin mengantar tapi…”

“Tidak apa-apa Taiga-kun lebih membutuhkannya, aku mengerti,”

Hokuto mengoceh soal bagaimana seharusnya Aika tidak menghilang, memberikan petuah-petuahnya seperti biasa. Dan Aika hanya mendengarnya sambil angin lalu, matanya terlalu sibuk menangkap semua yang dilihatnya, menjadikannya memori yang akan selalu ia ingat.

Mobil Hokuto berhenti tiba-tiba, Aika kaget dan siap memarahi Hokuto, namun matanya menangkap sosok Juri yang berada di luar, tak jauh dari posisi mobil Hokuto sekarang. Wajah Juri terlihat khawatir, ia terus-terusan menatap jam tangannya.

“Bagaimana?” Hokuto menatap Aika.

“Bagaimana apanyaaa??” Aika membuang muka, setengah hatinya ingin turun, menghampiri Juri, tapi setengahnya lagi merasa gengsi.

“Turun sana!” Hokuto mendorong bahu Aika, “Ayo sebelum aku benar-benar tancap gas dan berakhirlah kesempatan terakhirmu.

Aika menatap Hokuto dengan kesal, “Aku harus bicara apa dengannya?” tanya Aika.

“Entahlah,” Hokuto mengangkat bahunya, “Yakin nih?”

Menimbang-nimbang, Aika kembali menatap Juri, dan saat Juri memberhentikan sebuah taksi lalu masuk ke dalamnya, Aika tiba-tiba saja mencubit Hokuto, “Kejar!! Kejaaarrr!!”

“Aduh!” Hokuto segera tancap gas, mengejar taksi yang baru saja Juri naiki, “Hadang saja nih?” Hokuto menekan klakson, meminta si pengendara untuk berhenti. Untung saja berhasil dan Taksi itu pun berhenti. Aika segera turun dari mobil, Juri yang juga turun kaget melihat Aika di hadapannya.

“Maaf pak, ini ongkosnya,” perhatian Juri beralih ke pengemudi Taksi, menyerahkan sejumlah uang sebelum akhirnya Taksi itu berlalu, “Belum ke bandara?”

“Eh?”

“Aku baru mau ke sana,” ucap Juri, sementara Aika masih bengong menatap Juri.

“Juri-kun mau menyusulku?”

Juri mengacak rambutnya sebelum menghampiri Aika, “Yeah,” dan wajah Juri yang terlihat malu-malu inilah yang dirindukan Aika, “Aku bilang mustahil saat di Rumah sakit, sepertinya Aika-chan salah paham,”

“Salah paham?”

“Aku tidak akan pernah memintamu memilih antara diriku atau mimpimu. Jadi kalaupun kau memintaku untuk mencegahmu pergi, itu tidak akan pernah aku lakukan. Justru, aku ingin mendukungmu, aku….” Juri menarik bahu Aika, mengndangnya masuk ke dekapan Juri, “akan menunggumu,”

“Juri-kun….”

“Aku tidak akan melepaskanmu lagi, Aika,” pelukan Juri semakin erat, “Ganbatte ne,” Aika mengangguk dengan bersemangat, saat ini ia berurai air mata tapi jelas karena dirinya merasa bahagia.

“Maaf Tanaka-san, sepertinya kita harus segera mengantarkan Kimura-san ke Bandara,” ucap Hokuto dari dalam mobil. Keduanya tertawa dan masuk ke mobil.

“Ngapain duduk di belakang dua-duanya? Juri! Duduk di depan!” seru Hokuto protes, kemarin Sonata dan sekarang Aika. Dosa apa hingga dirinya harus mengantar kedua orang ini dan menonton perpisahan dua pasangan ini.

“Ayolah Hokuto, hanya sekali ini, kan? Ahahaha,”

Aika memeluk Juri dengan sikap protektif membuat Hokuto akhirnya mengalah, membiarkan pasangan itu mengobrol di belakang.

Wakarimashita, tuan.. nyonya…” seru Hokuto kembali meluncur menuju bandara.

Kemarin, Jesse menemuinya. Juri bingung kenapa pria itu tiba-tiba mendatanginya. Jesse menjelaskan soal Aika, dan keputusan Aika membatalkan pertunangan. Jesse bilang, tidak ada satu hariun perasaan Aika goyah kepadanya, padahal tiga tahun sudah lewat. Juri tau, untuk saat ini mungkin Ayah Aika belum tentu menerimanya, itu tidak masalah. Dia hanya butuh Aika dan dia yakin, masalah apapun yang akan ia hadapi bersama Aika, kali ini dia berani menghadapinya. Karena Juri tau, Aika punya keberanian yang sama. Mereka akan baik-baik saja.

***

THE END

See you on SPECIAL EPISODES ^^

Maafkan segala kekurangan selama fanfic ini ditulis dan ketidak mampuan saya membuat kalian terhibur. Ehehehe. Love you all my reader. Otsukaresamadeshita

Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#19) – END

  1. kirie

    KAAAAAAAAAAAAAAAK!!!!
    JELASKAN APA MAKSUD THE END ITU JELASKAN KAAAAAAAAAK >….<
    Hazuki belum punya anak dari taiga kaaak jadi belom boleh end kaaaak *oiii

    Reply
  2. kyomochii39

    KAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!!!
    SAMPAIKAN SALAM TERIMA KASIHKU KEPADA SEORANG ABE ARAN KAK!!! WKWKWK
    YUGOYUA OFFICIALLY COUPLE, YAY!!
    *sengaja banget capslock buat OC sendiri wkwkwk
    SHINSONA, HOKUAI no komen.
    JESSRUI, kasian amat nasib jess!! pacaran sama rui dari dulu bekstrit mulu XD
    TAIHAZU, kirain si taiga bunuh diri gara2 kehilangan hazuki. habis nada2nya dia frustasi banget waktu batalin pertunangan mereka. trnyata emang CUMA kecelakaan. wwww
    dan akhirnya JURIAIKA BAHAGIA XD *sumpah demen banget sama sifatnya juri yang “gak egois”! mau satu dong cowok kayak gitu uhuy

    PS: HOKU TAMPANG SUPIR, KAK?! *ditabok dila

    Reply
  3. magentaclover

    Sebelumnya makasih buat kak din yg udah ngegarap habis ff ini ^3^ good job kak! We love you!!! Next, suka banget endingnya baper pas yua sama yugo duh itu begitu pake yukata waaaa manisssss terus ruika sama jesse tuh kapan sih hubungan mereka terang2an? Hahaha buat shin x sona semoga sona lebih dewasa lagi ya kasin dedek shinnya kena amuk terus (lol) hoku x airin…. manissss galau2 nyelekit gara2 hokutonya sialan *oi* tapi akhirnya manis XD hazuki x taiga /0/ kyaaaa~ taiga dramamu mas bikin mewek ciwai love lah XD dan terakhir juri x aika… oh yeahh juri pengertian sekali!!!! Sukaaaaaaaaa!!!! Gak apa jur dulu pergi bgt aja sm ciwai lain ga apa aika mah XD

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s