[Oneshot] Hit the Floor: Androphobia

Hit the Floor sequel: Androphobia
Sato Miharu
Arashi Sakurai Sho
Song: Kimi ni Aeru Kara – Kis-My-Ft2
By: Shield Via Yoichi
Karena Miki (ngotot) minta part Miharu di post akibat rasa penasaran yang berlebihan XDDD sebenarnya ini hanya untuk konsumsi pribadi, tapi yah yah yah…(?) dan~ ini ff pertama dengan chara selain member Hey! Say! JUMP yuhu~~ bahagia~
Warning: OOC sangat, imajinasi aneh dari sang author yang suka WB kepanjangan~
Happy reading~

“Jadi, bagaimana pekerjaanmu? Apa baik-baik saja?”
Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan oleh Miharu, “Ya, lumayan. Tidak ada hal-hal aneh yang terjadi. Aku sudah mulai bisa menguasai diri. Arina-nee tidak perlu khawatir.”
Arina melihat gadis itu. Sato Miharu, sepupu jauhnya yang memiliki penyakit aneh sejak kecil yang membuat Arina menjadi sedikit protektif padanya. Androphobia, ketakutan berlebih terhadap laki-laki menyerang Miharu kecil. Ibu Miharu yang tidak sanggup dengan tingkah gila anaknya menitipkan Miharu pada keluarga Arina dan menjadikan Arina berperan sebagai kakak gadis itu.
Arina masih ingat saat Miharu ingin sekali masuk kuliah dan bekerja di tempatnya sekarang ini. Padahal gadis itu selalu menangis setiap pulang sekolah dan bilang tidak mau masuk sekolah lagi. Miharu memang sudah menjalani terapi, namun Arina tetap saja merasa khawatir. Tampaknya Arina juga tidak perlu khawatir seperti itu lagi karena Miharu sendiri sudah bisa mengunjungi club yang notabene kebanyakan pengunjung pria.
“Aku minta segelas lagi~”
Arina tersadar kemudian menuangkan minuman ke gelas Miharu, “Jangan mabuk, aku tidak akan mengantarmu pulang atau aku suruh saja pak satpam mengantarmu ya?” godanya.
Miharu yang sedang minum tersedak. Tenggorokannya terasa sakit, airmata mengumpul di sudut matanya. Arina tertawa geli.
“Arina-nee jahat sekali! Aku kan….” ia menggantungkan kalimatnya, “Ukh… Bikin kesal saja!” katanya dengan suara pelan namun masih bisa didengar oleh Arina. Membuat Arina semakin geli.
“Maaf, maaf…”
“Sudah, jangan tertawa lagi!” Miharu memajukan bibirnya kesal. Miharu beranjak berdiri sambil memegang gelasnya yang penuh.
“Mau kemana?”
“Mencari Miki. Mungkin saja dia masih di sekitar sini.” jawabnya. Arina mengangguk. Miharu tersenyum, kemudian melangkahkan kakinya ke belakang tanpa dia tahu kalau ada seseorang yang berdiri di belakangnya.
Miharu yang merasa sedang menabrak seseorang pun berbalik dengan cepat. Matanya sedikit membesar karena yang dia tabrak adalah seorang pria. Tanpa sadar tangannya menyiramkan isi gelasnya dengan cepat pada orang itu dan membuatnya basah.
“AKH!” pekiknya saat sadar dengan apa yang dia lakukan. Pelan-pelan ia melirik Arina, namun gadis itu juga tampak terkejut. Miharu mengutuk dirinya sendiri.

***

“I-ini..” Miharu memberikan sapu tangannya pada orang itu. Pria itu mengambilnya dan mencoba mengeringkan bajunya dengan itu.
Kini mereka duduk disuatu tempat di lantai atas, hanya berdua. Miharu duduk jauh dari pria itu, dua atau tiga kursi jauhnya dari pria itu. Musik terdengar sangat keras dan ribut, tapi mereka berdua hanya diam.
“Maafkan aku, aku tidak sengaja.” Miharu menunduk menyesal, “Aku akan mengganti uang laundry-nya.”
“Tidak usah.” kata orang itu. Namun Miharu tetap merasa menyesal. Bagaimana bisa ia refleks menyiram orang ini.
“Kalau begitu, aku akan membelikan kemeja untukmu.”
Pria itu tertawa kecil, “Sudah kubilang tidak usah. Ngomong-ngomong…”
“A-ada apa?”
“Kenapa kau duduk jauh sekali dariku?” tanyanya setelah sadar dengan jarak antara mereka. Miharu menjawabnya dengan senyum canggung, “Apa kita saling kenal dan kau membenciku makanya kau menyiramku?”
“Tidak, tidak. Kita baru pertama kali bertemu dan maaf membuat bajumu basah. Aku hanya punya masalah dengan diriku sendiri. Ya… seperti itu.” jelas Miharu, ia ingin secepatnya masalah dengan pria ini selesai. Dia tidak ingin ada urusan dengan pria mana pun.
Pria itu mengangguk mengerti, “Ya sudah kalau memang kau ingin mengganti rugi, ayo ikut aku.” Ia berdiri, Miharu memandangnya dengan tatapan heran.
“Kemana?”
“Sudah, ikut saja.” Pria itu mendekati Miharu, gadis itu melihat sosok itu dengan waswas.
Ia memegang tangan Miharu. Belum lagi dia menarik gadis itu berdiri, Miharu menghempaskan tangan itu, “AAAKH!”
“Kenapa?” tanya orang itu heran. Miharu menggeleng. Tubuhnya bergetar, mata Miharu terus melihat ke arah tangannya dan orang itu. Pria itu seperti mendapat sinyal kenapa Miharu bertindak aneh, “Tenang, aku bukan pria yang jahat. Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu. Aku memegang tanganmu agar kita tidak terpisah saat keluar dari tempat yang padat ini, tidak apa-apa kan?”
Miharu menatap orang itu, sepertinya Miharu harus mengambil resiko itu agar masalahnya dengan pria ini selesai hari ini juga. Miharu mencoba menenangkan diri dan kembali melihat orang itu. Ia menaikkan alisnya menunggu jawaban Miharu dan Miharu mengangguk pelan.
Pria itu menggenggam tangan Miharu lembut. Hangat, itu yang Miharu rasakan pada tangannya yang dingin karena takut. Tapi kehangatan itu tertutupi dengan ketakutannya sendiri. Mereka menyusuri lautan manusia dan tak lama mereka berhasil keluar dari gedung itu.
Namun orang itu tidak kunjung melepaskan tangan Miharu dan terus saja menelurusi jalan. Miharu berhenti membuat orang itu juga berhenti.
“Ada apa?”
Miharu tidak menjawab, ia hanya melihat ke arah tangan mereka yang bertautan. Tersadar, pria itu langsung melepaskan genggamannya. Miharu bernapas sedikit lega.
“Maaf.” ucapnya, “Oh, iya. Kalau boleh tahu, siapa namamu?”
“Miharu.” jawabnya seadanya.
Pria itu mengangguk, “Aku Sho.” Ia menjulurkan tangannya untuk bersalaman tapi Miharu hanya melihat tangan besar itu. Sho pun menyimpan tangannya kembali.
“Kita mau kemana?”
“Pertama, kita ke supermarket lalu ke rumahku.”
Mata Miharu membesar, “K-ke rumahmu?”
Sho mengangguk, “Iya, ke rumahku. Tenang, aku tidak akan melakukan macam-macam kok.”
Sho kembali berjalan, Miharu masih saja mematung. Sho berbalik saat sadar Miharu tidak mengikutinya, “Miharu, ayo..”
Kenapa aku bisa sesial ini?, tanya Miharu dalam hatinya. Dia melangkahkan kakinya mendekati Sho dan berjalan bersama.

***

Mata Miharu melebar saat melihat rumah milik Sho. Rumah besar dengan gaya rumah ala barat membuat Miharu terpana. Bahkan saat memasuki rumah tersebut, Miharu menganga. Perabotan yang ada di dalam terlihat mahal dan antik. Padahal Miharu pikir rumah semua laki-laki itu kotor dan segala hal buruk ada di dalamnya.
Sho hanya tertawa melihat ekspresi Miharu, “Apa rumahku membuatmu sekaget itu?”
“Ya… begitulah.” kata Miharu. Sho semakin tertawa.
“Nah, ini permintaanku untuk menebus kesalahanmu. Tolong masakan makan malam, tadi kita sudah membeli bahan-bahannya.” Sho menunjuk plastik-plastik berisi barang-barang yang mereka beli tadi.
Miharu menaikkan alisnya, “Eh? Hanya itu?” Padahal Miharu sudah memikirkan bermacam-macam kemungkinan negatif dan cara untuk keluar dari hal itu.
“Iya, setelah itu kau boleh pulang dan masalah kita selesai.” jelas Sho.
Miharu mengangguk mengerti, “Baiklah.”

***

Miharu meletakkan sepiring makanan yang baru dia masak di depan Sho. Sho memandang Miharu sebentar lalu melihat ke masakan Miharu. Tangannya meraih sendok dan mencoba memakan makanan itu. Sementara Miharu melihatnya di jarak yang agak jauh, “Itadakimasu!”
“Wah, ini enak!” pujinya dengan mulut yang masih penuh setelah merasakan sesuap. Miharu sedikit bernapas lega, “Kau tidak makan?”
Miharu menggeleng, “Tidak.”
“Kenapa? Tidak apa-apa, ini kan masakanmu. Kau boleh pulang setelah kau juga makan bersamaku.”
Mau tidak mau Miharu mengambil piring dan ikut makan bersama orang itu. Daripada pria itu malah menyerangnya atau menyuapinya, oke, imajinasi Miharu terhadap pria selalu negatif. Padahal dia sudah bersiap-siap untuk pulang.
Selama makan, Miharu merasa mata Sho terus saja melihat ke arahnya. Beberapa kali mereka saling bertatapan dengan tidak sengaja dan membuat suasana semakin canggung.
“Kau lihat apa?” tanya Miharu karena semakin merasa risih.
Sho menggeleng dengan cepat, “Tidak ada, makananmu mengingatkanku pada ibu.”
Miharu hanya mengangguk tanda mengerti, tidak mau lanjut membahas yang bukan urusannya.
Miharu beranjak dari kursinya setelah makanan di piringnya tandas dan berlalu menuju dapur untuk mencuci piringnya. Tak lupa juga mencuci milik Sho yang sudah terlebih dahulu selesai makan.
Tidak apa-apa, ini akan segera berakhir sebentar lagi., ucap Miharu dalam hatinya. Berusaha menenangkan dirinya sendiri.
“Miharu..” panggilnya seperti sudah berhubungan sangat dekat dengan gadis itu. Miharu sedikit meliriknya dengan takut.
“Hm?”
“Bagaimana kalau kau jadi juru masak di rumahku?”
Pertanyaan itu menghentikan tangan Miharu membilas piring. Alis matanya menaik. Apa orang ini gila? Baru kenal beberapa jam lho!
“M-maaf, kau bilang apa, Sho-san?” tanya Miharu, memastikan kalau ia tidak salah dengar.
Sho mendekati Miharu, Miharu sedikit bergerak menjauh, “Ahahaha… Aku bercanda!”
Kening Miharu berkeringat, tangannya sedikit bergetar. Perasaan yang dia rasa saat Sho memegang tangannya tadi kembali. Miharu mencoba mengatur napas, namun rasa sesaknya tetap tidak berkurang.
Sehabis mencuci piring, Miharu langsung menyambar tas kerjanya. Ia tidak bisa berlama-lama lagi di sana.
“Kau sudah mau pulang?” Miharu mengangguk, “Tunggu, akan kuantar.”
“Tidak perlu!” ucap Miharu sesegera mungkin. Bagaimana bisa ia pulang bersama dengan sosok yang harus ia hindari?
“Tapi, ini sudah malam…”
“Tidak apa-apa, aku bisa pulang sendiri. Shitsurei shimasu.” Miharu langsung berjalan menuju pintu dan keluar setelah memakai sepatunya.
Langkahnya dipercepat dengan sengaja. Mungkin saja Sho mengejarnya, mengingat pria itu sudah memakai jaketnya tadi.
“Kenapa semua pria itu menakutkan?” tanya Miharu sambil mengelus badannya sendiri yang mulai terasa nyeri karena rasa takutnya.
“Oh, begitu ternyata.”
Tubuh Miharu menegang, membuatnya menghentikan langkahnya. Ia merinding mendengarnya kemudian perlahan-lahan melihat ke asal suara, “AKH!” pekiknya saat melihat siapa yang mengajak berbicara, Sho.
Sho sedikit memperpendek jaraknya dengan Miharu, “Apa kau selalu berteriak pada pria? Kau tahu, aku tidak bisa membiarkan wanita pulang sendiri selarut ini.” katanya, berharap Miharu mengerti kalau ia adalah pria yang baik-baik.
“T-tapi aku sudah bilang kalau bisa pulang sendiri.” Miharu berjalan lagi, Sho mengekorinya.
“Bukannya akan lebih bahaya kalau sendiri? Yah, apa lagi wanita sepertimu….”
“S-seperti apa maksudmu?” Pikiran Miharu kembali diisi dengan semua yang negatif.
“Kau takut padaku, maksudku pada kaumku kan?”
Deg! Miharu bertanya-tanya bagaimana pria itu bisa tahu. Bahkan didunia ini hanya Arina, bos dan manajernya yang mengetahui itu. Apa sebegitu terlihatnya? Tidak, tidak. Apa karena ucapannya tadi?
“Maaf, Sho-san. Tapi aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”
“Soalnya kau gugup, gelisah bahkan tidak melihatku saat berbicara. Waktu melihatku, kau pucat seperti melihat hantu. Bukan hanya itu, sikapmu juga aneh. Padahal kau bilang tidak kenal padaku dan tidak membenciku. Tapi kau seperti sedang menghindar dari kejaran musuh.” jelas Sho, “Kalau kau biarkan, bisa semakin parah lho.”
Miharu hanya diam dan terus berusaha mempercepat langkah kakinya. Bagaimana bisa orang yang baru mengenalnya beberapa jam bisa langsung menebak kalau semua pria di dunia ini adalah musuh besarnya.
“Oh iya, kenapa kau tidak pulang dengan taksi? Sepertinya rumahmu masih jauh.”
Ya, kalau saja supir taksinya itu wanita., Miharu membatin.

***

Miharu menatap gedung apartemennya yang semakin dekat seiring dengan langkah kakinya yang menuju ke sana. Ia melirik Sho yang ada di sampingnya. Pria cerewet itu mulai menutup mulutnya beberapa menit yang lalu karena tidak ada respon dari wanita itu. Miharu menghela napas dan memilih untuk menghentikan langkahnya.
“Ada apa?” tanya Sho bingung sambil menatap Miharu.
Miharu memberinya senyum canggung, “Apartemenku sudah dekat, Sho-san sudah bisa pulang. Terima kasih sudah mengantarku pulang.”
“Ah, begitu ya. Kalau begitu, sampai jumpa. Semoga kita bisa bertemu lagi lain waktu.” Sho tersenyum, Miharu hanya melihatnya datar, “Terima kasih untuk makanannya, itu lezat sekali.”
Miharu menaikkan alisnya sebelah, berpikir seberapa lama lagi pria itu berbicara padanya.
Sho masih tersenyum, “Jya, oyasumi.” Miharu tidak menjawab sama sekali. Ia berbalik dan melangkah pelan menjauh dari Miharu.
Miharu memutar bola matanya, kemudian berlari menuju gedung apartemennya secepat mungkin. Ya, agar Sho tidak melihat dimana dia tinggal. Berbahaya kalau pria itu tahu, menurut Miharu.
Tanpa dia sadari, pria itu terus melihatnya dari ujung matanya. Senyumnya sedikit mengembang saat Miharu berhasil memasuki gedung apartemen dengan selamat.

***

“Sato-san…”
Miharu yang baru saja berkumpul dengan Miki dan Kumiko, menoleh saat namanya disebut. Ia sedikit terkejut, manajer memanggilnya.
“Iya, ada apa?”
“Kau dipanggil ke ruangan Presdir.”
Miharu mengangkat alisnya, bingung. Kenapa? Ada apa? Apa ada sesuatu yang buruk yang telah Miharu perbuat? Pagi ini pun ia tidak melihat kalau atasannya datang.
Dia melirik jendela ruangan Presdir yang tertutup tirai kemudian kembali melihat manajernya. Ia mengangguk, “Baiklah.”
Setelah manajernya berlalu, Miharu merilekskan dirinya dulu baru melangkah menuju ruangan Direktur. Sebelumnya, ia melapor dulu pada sekretaris direktur kemudian dipersilakan masuk.
Miharu sedikit menelan ludah saat melihat sang Presdir berdiri ke arah jendela yang memperlihatkan langit biru. Hanya punggung tegapnya yang bisa Miharu lihat. Baru kali ini ia masuk ke ruangan itu dan rasanya gugup.
“Miharu,” alis mata Miharu sedikit berkedut, telinganya menangkap suara yang dia kenal. Tubuh atasannya berputar ke arahnya, “tak kusangka kita bertemu lagi.”
Miharu menatap atasannya yang tersenyum dengan pandangan tidak percaya, “S-sho-san? K-kenapa?”
Atasannya yang ternyata adalah Sho masih tersenyum memberi isyarat untuk Miharu melihat ke papan nama yang ada di meja. President Sakurai Sho, tulisan di papan nama itu. Bola mata Miharu rasanya hendak keluar dari tempatnya.
Dalam hatinya, Miharu berharap bisa memutar waktu. Mengulangi waktu mulai dari ia mengusulkan untuk ke club malam. Gadis itu bahkan mulai mengumpat dirinya sendiri, kenapa harus memilih club untuk refreshing. Andai ia tahu, dia lebih memilih untuk ke kedai ramen dan meminum arak atau ke tempat karaoke. Dan seorang Miharu tidak akan bertemu Sakurai Sho.
Masih dengan wajah kagetnya, Miharu melihat Sho, “K-kau, err.. Maksud saya, Anda anak dari Saichou?” Miharu mencoba mengingat papan nama di depan gerbang rumah Sho, sayang dia memang tidak melihat ke papan nama itu.
“Ya,” jawab Sho, “Aku akan menggantikan posisinya mulai hari ini.”
Dari sekian banyak orang bermarga Sakurai, kenapa harus dia yang menjadi atasanku? Pertanda apa ini?, ucap Miharu dalam hati.
“Lalu, kenapa Anda memanggil saya?” Tegang, namun Miharu berusaha berpikir positif untuk membuat dirinya tenang.
“Miharu, tidak usah berbicara formal seperti itu. Kita sudah kenal sebelumnya kan?”
“Tapi, itu tidak sopan. Anda adalah atasan saya.” bantah Miharu. Dalam hatinya, Miharu menggerutu. Sho mengangguk atas jawaban Miharu.
“Aku ingin memecatmu. Orang sepertimu tidak dibutuhkan di perusahaan ini.”
Miharu mengangkat alisnya. Matanya membelalak kaget, “Saya…. dipecat?” Sho hanya mengangguk, “Kenapa, presdir? Apa saya pernah melakukan suatu kesalahan yang fatal?”
“Tidak, kinerjamu baik.” Sho melihat absensi Miharu, “Kau juga tidak pernah terlambat masuk kerja. Tapi…”
“T-tapi kenapa, presdir?”
“Kalau aku bilang aku tidak suka kau bekerja disini, apa kau akan terima?”
Miharu menautkan alisnya bingung, ada apa dengan atasan barunya ini? Apa dia orang yang suka memecat karyawan tanpa alasan yang jelas? Sho menahan tawanya melihat Miharu yang sedang bingung.
“Aku akan pertimbangkan untuk tidak memecatmu, asal….”
“Asal?” tanya Miharu yang penasaran dengan kata selanjutnya dari Sho. Ia menatap Sho penuh harap.
“Asal kau bisa sembuh dari penyakit aneh itu.”
Alis Miharu menaik, “Eh?”

***

Miharu, Miki dan Kumiko jalan menuju sebuah tempat makan untuk makan siang. Sampai di sana, mereka duduk di tempat yang biasa mereka tempati, memesan makanan dan minuman, kemudian berbincang-bincang.
Miki bercerita panjang lebar tentang kejadian di club, membuat Miharu juga ingat dengan insiden di tempat itu dan juga pria yang mengganggunya itu. Membuatnya menjadi kesal.
“Ah, Miharu mencoba menggaet pria bartender.” kata Kumiko saat mendengar cerita Miki tentang Miharu kemarin malam itu.
“Apaan sih. Bukan seperti yang kalian pikirkan.” Miharu mengibaskan tangannya beberapa kali. Mood-nya semakin turun, dengan sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak marah.
Pesanan mereka akhirnya memenuhi meja, mata Kumiko dan Miki tak lepas dari semua pesanan milik Miharu. Sementara mata Miharu berbinar. Memang baik Miki dan Kumiko tidak mendengar apa saja pesanan Miharu karena sibuk berbincang. Miharu memesan kare porsi besar, segelas cokelat dan semangkuk es serut. Sesuatu yang manis bisa memperbaiki mood-nya yang jelek.
“Miharu, baik-baik saja?” tanya Miki mengkerutkan dahinya. Miharu mengangguk.
Ia mengambil sesuatu dari tasnya lalu memarutnya di atas kare-nya.
“K-kau menambahkan cokelat di atas kare-mu? Setelah semua minuman cokelat dan es serut penuh sirup ini?”
“Memangnya ada yang salah?” tanya Miharu polos.
Kumiko mengangguk, “Semua makanan manis ini…. kau tidak takut gemuk?”
“Tenang, tenang,” Miharu tersenyum. Ia menyuapkan kare-nya, “Aku tidak makan ini setiap hari kok!”

***

Seminggu berlalu sejak bergantinya atasan Miharu. Mood Miharu selama itu pun naik-turun terlebih saat sang presdir keluar dari ruangannya dan tersenyum pada Miharu saat melewati para karyawan. Padahal jarak mereka begitu jauh.
Hari ini gadis itu kembali dipanggil menuju ruang presdir, melihat senyum manis Sho membuat Miharu muak.
“Ada apa?” tanya Miharu tidak sopan. Tapi Sho tidak memusingkan hal itu.
“Sudah berkonsultasi dengan doktermu?”
“Apa pedulimu dengan penyakitku?”
“Aku peduli karena kau karyawanku. Atasan yang baik memperhatikan karyawannya kan?” Sho tersenyum, membuat Miharu semakin jengkel.
Ingin rasanya Miharu berkata lebih kasar lagi, andai saja ia tidak ingat kalau pria yang ada di depannya adalah bosnya.
“Bagaimana kalau aku yang membantumu sembuh? Latihan menghabiskan waktu dengan laki-laki juga bisa membantu kan?”
“Hah? Jangan seenaknya!” Masih dengan tatapan yang tadi, Miharu menatap Sho yang tersenyum ramah padanya, “Nanti aku akan konsultasi dengan dokterku!”
“Aku ikut ya?”
“Hah?”

***

“Apa-apaan? Apanya yang harus lebih sering berinteraksi dengan laki-laki? Apanya yang harus kontak mata dengan laki-laki? Aku bisa ke club saja itu sebuah kemajuan kan? Hah! Aku bisa gila!!!” oceh Miharu di dalam mobil.
Ia baru saja berkonsultasi dengan dokternya dan membuatnya semakin labil. Sementara Sho yang menemani Miharu hanya diam melihat gadis yang duduk di bagian belakang itu melalui kaca mobil sambil terus menyetir. Seperti seorang supir yang mendengarkan atasannya mendumel.
Miharu mengacak rambutnya, “Ini semua salahmu!” Ia menunjuk Sho yang ada di kursi pengemudi, “Semua laki-laki itu sama saja! Egois! Menyebalkan! Mengerikan! Aku benci kalian semua!”
Sho menghela napas panjang, Miharu mulai lepas kendali.
“Kau pasti sembuh, Miharu.”
Miharu menaikkan alisnya marah, “Tahu dari mana kau?”
“Aku tahu karena aku yang akan membuatmu sembuh.” kata Sho dengan tenang. Miharu memutar bola matanya dan berdecih tak senang.

***

“Apa lagi?” tanya Miharu yang kembali ke ruangan presdir setelah kemarin seharian atasannya menemani atau lebih tepatnya menjadi tempat Miharu mengumpat dan memakinya atas nama seluruh pria di dunia.
Sho tetap menyambut Miharu dengan senyum, “Tersenyum, ini masih pagi lho.” Miharu hanya membuang napasnya menanggapi, “Nanti ikut aku ya..”
“Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menggangguku, Presdir Sakurai?”
“Ya sudah, sekarang saja. Aku tidak kerjaan hari ini.” jawab Sho.
“Eh?” Mata Miharu membelalak, “Tapi pekerjaanku… Ada banyak file yang harus–”
Sho menggeleng, “Tidak perlu mencemaskan itu, ayo!”
“T-tapi, mau kemana?”
“Memberimu terapi.” Setelah menjawab Miharu, pria itu keluar dari ruangannya. Meninggalkan Miharu yang menatap punggung pria itu dengan geram.

***

“Sho-san, ini masih jam kerja! Kau kenapa sih? Bukannya kau atasanku? Kenapa malah pergi tidak jelas begini?” Miharu melemparkan banyak pertanyaan. Sebenarnya masih banyak lagi yang mau dia katakan tapi ia tahan untuk sementara.
“Sudah. Tenanglah, Miharu.”
Karena pertanyaannya tidak ada yang dijawab, Miharu kembali mendumel tidak jelas. Sho sudah tidak peduli lagi dengan segala ocehan Miharu. Ia lebih memilih diam sambil sesekali melirik gadis itu melalui kaca spion.
Akhirnya mobil itu menepi dan berhenti, Sho langsung keluar dari mobil dan membuka pintu mobil bagian belakang. Menyuruh Miharu untuk ikut keluar.
“Katanya mau terapi, kenapa ke taman hiburan?” tanya Miharu setelah keluar dari mobil.
Sho tersenyum kecil, “Terapi membuatmu terbiasa dengan banyak orang. Disana pasti bukan cuma cewek-cewek saja kan?”
Miharu menghela napas, “Sebenarnya…. Aku sudah tidak begitu takut kalau hanya di kerumunan pria sekalipun, asal mereka tidak menyentuhku.”
“Seperti ini?” Sho memegang tangan Miharu. Seketika tubuh gadis itu menegang dan wajahnya mulai pucat, “Astaga, Miharu. Tenang… Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu. Rilekskan dirimu, tarik napasmu dalam-dalam lalu lepaskan.”
Miharu pun mengikuti saran Sho dan beberapa saat kemudian detak jantungnya yang berdetak tidak keruan kembali normal.
“Jadi, kau mau naik wahana apa?”
Miharu yang masih menenangkan diri mulai berpikir, “Hm.. Roller coaster tampaknya menarik.”
“Eh?” Giliran Sho yang merasa kaku sekujur tubuh, “Tidak yang lain? Komedi putar, mungkin?”
“Memangnya aku anak-anak?” tanya Miharu tidak suka, “Ya sudah, aku kembali ke kantor saja kalau begitu. Aku juga tidak minat ke taman hiburan.”
“Baiklah, baiklah. Kita naik roller coaster.” kata Sho akhirnya pasrah.
Ia menarik tangan Miharu agar masuk ke taman hiburan itu, menggenggamnya dengan erat seakan tidak mau Miharu hilang. Gadis itu mengikutinya dalam diam.

***

Miharu melihat Sho yang duduk di sebelahnya. Merasa aneh karena pria itu menjadi pendiam sejak memasuki wahana. Tunggu, kenapa Miharu peduli dengan pria itu?
Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan dan berusaha untuk tidak melihat eksistensi yang duduk diam di sebelahnya. Namun, ia tetap saja melihat ke arah Sho yang wajahnya mulai memucat.
“Sho-san, daijoubu?”
“Hm?” Sho mengangkat alisnya sambil melihat ke arah Miharu, bingung.
“Kau kelihatan pucat, jangan-jangan kau takut?”
Tiba-tiba Sho tertawa kecil walau tampak terpaksa, “Kenapa? Kau khawatir? Aku tidak apa-apa.”
Roller coaster pun mulai berjalan. Miharu bisa melihat wajah Sho yang semakin pucat, mata yang ditutup rapat dan bibirnya yang terus saja komat-kamit tidak jelas. Seiring semakin kencang wahana itu berjalan, semakin keras suara yang keluar dari bibir Sho. Teriakan ketakutan Sho membuat Miharu menarik kesimpulan kalau pria itu takut ketinggian.
“Sho-san…” panggil Miharu saat roller coaster sudah berhenti sepenuhnya.
Tubuh pria itu lemas, kepalanya menunduk.
“Kau baik-baik saja?”
“Aku.. aku baik-baik saja..” jawab Sho lemah.
“Kenapa kau ikut naik kalau kau takut? Kau kan bisa menungguku.”
Sho keluar dari kursinya perlahan. Tubuhnya masih terasa tidak enak, “Itu yang mau aku tunjukkan padamu.”
“Hah?” Miharu melirik pria yang berjalan di sebelahnya itu dengan bingung.
Sho tersenyum, “Walau kau takut, kau harus melawannya untuk suatu alasan dan ada kemauan. Buktinya, aku bisa melewatinya kan? Kau juga harus seperti itu.”
Miharu tertegun. Ingin membantah, tapi apa yang dibilang Sho benar. Semua bisa dilewati kalau ada kemauan yang kuat.
“Aku tidak takut pria, aku membencinya.”
“Tapi aku melihat ketakutan di matamu dibandingkan kebencian.”
Miharu tidak membalas apa-apa lagi. Sho menggenggam tangan gadis itu, Miharu menatapnya yang sedang tersenyum, “Kau pasti bisa, percaya padaku.”

***

Sudah tiga hari Miharu tidak masuk kerja. Sejak hari mereka ke taman bermain, pikiran Miharu jadi kacau. Dia sudah memberi tahu manajernya kalau sedang sakit. Untung saja manajernya mengerti keadaan Miharu.
Miharu melihat kamarnya yang berantakan. Sampah makanan yang berserakan, tisu bekas yang bertumpuk, bantal yang jatuh, benar-benar tidak terurus. Gadis itu bergerak dari tidurnya untuk mengambil telepon genggamnya dan membukanya.
Ada beberapa panggilan tak terjawab dan email yang masuk. Ia mengeceknya, semua berasal dari teman-teman kerjanya—Miki dan Kumiko— dan Arina. Miharu menghela napas lalu melemparkan handphone-nya ke sembarang arah.
Ia kembali merebahkan tubuhnya, melihat langit-langit kamarnya. Tak lama, bayangan Sho muncul di sana dan jantung Miharu mulai ribut.
Miharu menggelengkan kepalanya kuat, “Kenapa wajahnya terus muncul sih? Kenapa deg-degan begini?” kata Miharu pelan.
Tiba-tiba bel apartemennya berbunyi. Miharu berpikir, apa salah satu temannya berkunjung? Miharu pun berjalan ke depan dan membuka pintunya.
Di depannya berdiri seseorang yang menggunakan setelan jas dan sepatu pantofel. Tangannya membawa bungkusan dan tas kerjanya, wajahnya tersenyum pada Miharu.
“Yo, Miharu! Aku dengar kau sakit ya?” ucapnya ramah. Miharu masih mematung melihatnya, “Miharu?”
Tersadar, Miharu berusaha menenangkan diri dari rasa deg-degan yang kembali dialaminya, “K-kenapa kau bisa tahu tempatku, Sho-san? Dan untuk apa kemari?”
“Apa bicara di depan pintu seperti ini terasa nyaman untukmu?” Miharu mengangkat alisnya bingung, “Kita bicara di dalam saja, bisa kan?”
“A-ah, douzo.” Miharu segera menyingkirkan tubuhnya dari depan pintu dan membiarkannya masuk. Miharu heran, kenapa ia tidak bisa marah pada Sho hari ini.
“Ini, aku bawakan buah dan juga pizza. Katanya kau suka pizza kan?” Sho meletakkan bungkusan itu di meja dapur Miharu, “Miharu? Kenapa kau diam saja?”
Miharu tersentak kaget kemudian meringis, “Tidak apa-apa.”
Sho menatapnya, tidak biasanya Miharu sekalem itu. Apa dia mulai terbiasa dengan Sho? Kalau benar, Sho senang dengan hal itu.
Sho membawa kotak pizza beserta dua kaleng bir yang dia beli tadi itu dan duduk di sofa milik Miharu, membuka kotak pizzanya lalu melihat Miharu, “Ayo, sini makan.” Gadis itu mengangguk.
Miharu mengambil posisi duduk di sebelah Sho, pria itu keheranan. Wah, perubahan Miharu membuatnya kaget.
“Tumben kau tidak marah-marah padaku.” ucap Sho memecahkan keheningan. Hanya ada suara kunyahan dan meneguk bir.
Miharu menaikkan alisnya, “Jadi kau lebih suka aku marah-marah? Baiklah.”
“Bukan begitu! Aneh saja kau tenang waktu bersamaku.”
“Sebenarnya…” Miharu membuka suara dengan mulut sedikit penuh, “….aku juga heran. Kenapa aku tidak merasa begitu takut denganmu.”
Sho tersenyum lebar, akhirnya Miharu bisa menerima kehadiran pria itu dalam hidupnya, “Bagaimana kalau kita menjalani terapi kedua?”
“Terapi kedua?”
“Un!” Sho mengangguk semangat, “Karena aku sudah pindah jadi tetanggamu, bagaimana kalau setiap hari kita makan bersama?” Meski sebenarnya tidak mungkin makan bersama setiap hari karena kesibukan Sho mengurus perusahaan.
“Eh? Sebentar….” Miharu memandang Sho heran, “Kau jadi tetanggaku? Sejak kapan?”
“Sejak hari ini.”
“Eh?”

***

Itadakimasu!”
Disinilah Miharu, bersama dengan Sho yang sedang makan di meja makan mininya. Sudah kesekian kalinya Miharu menghela napas, ia memijit keningnya. Pria itu bilang ia akan makan di tempat Miharu agar Miharu jadi tidak repot. Walau gadis itu menolak, tetap saja ia kalah.
“Ukh…”
Miharu melihat Sho yang menutup mulutnya dengan tangan, “Kau kenapa? Tidak enak ya?”
Sho melirik Miharu dengan mata yang berair, namun gadis itu tidak peka. Ia kembali mengunyah makanannya dengan mata tertutup dan menelannya. Kemudian ia terbatuk.
“Hei, kau baik-baik saja?” ucap Miharu bingung melihat wajah Sho yang memerah, “Kau jangan mati disini.” Miharu segera memberi segelas air pada Sho yang langsung diminum habis oleh pria itu.
“M-makanan ini pedas sekali…” jelas Sho dengan suara serak, “Aku tidak bisa makan makanan pedas.”
Miharu mengerjapkan matanya berkali-kali kemudian tertawa geli, “Ahahahahahaha….” Padahal Miharu pikir dia tidak sengaja memasukkan racun ke dalam makanan itu.
Mata Sho terpaku pada Miharu yang sedang menertawainya. Seulas senyum muncul di bibir pria itu, “Ah, kau tertawa!”
Mendengar itu, Miharu langsung menghentikan tawanya dan kembali bersikap biasa, “Kau tidak bisa makan pedas? Dengan wajah sangar begini? Kau juga takut ketinggian, ya ampun, ini menggelikan!”
“Tidak ada hubungannya!”

***

“Jadi, apa yang terjadi hari ini?”
Pertanyaan itu selalu keluar dari bibir Sho setelah makan malam selesai. Masih segar di ingatan Sho saat penyakit Miharu kambuh, gadis itu marah-marah dan melempar boneka-boneka pajangannya pada Sho. Marah karena sikap kliennya dan hanya pada Sho sajalah Miharu bisa melampiaskannya. Saat itu, Sho benar-benar ingin memeluk Miharu, tapi tidak bisa ia lakukan karena akan membuat Miharu semakin parah.
Miharu melihat Sho malas, “Tidak ada.”
“Kau yakin? Cerita saja atau lempari aku dengan apapun sampai kau puas.” kata Sho walau dalam hatinya ia tidak mau Miharu melemparkan benda keras dan tajam padanya.
“Un, tidak ada. Ah, besok aku pulang larut jadi jangan berharap aku memasak untukmu.”
Sho tersenyum tipis, “Jadi memang tidak masalah kan aku datang ke tempatmu setiap hari kalau kau ada di apartemen?”
Miharu terdiam, ia tampak bingung, “Tidak, aku tidak bilang seperti itu!” Gadis itu menggeleng. Baru dua bulan mereka menjalani rutinitas aneh itu, tapi Miharu sedikit menerima kehadiran pria itu. Mungkin karena Sho menerima semua yang dikatakan dan dilakukan Miharu padanya.
Memakinya, melemparinya bahkan mengusirnya sudah Miharu lakukan, namun pria itu hanya tersenyum dan menyuruh gadis itu melakukan itu sampai Miharu benar-benar lega.

***

Hari ini adalah perayaan ulang tahun Miki dan Kumiko, Miharu ikut untuk memeriahkan acara. Namun, ia tak menyangka akan pulang selarut ini.
Ia keluar dari mobil dan melambai setelah mengucapkan terimakasih pada pacar Miki yang membawa mobil. Lalu masuk ke gedung apartemennya dan naik menggunakan lift.
Baru saja ia keluar dari lift, ia melihat sesuatu yang aneh di depan pintu apartemennya. Dengan cepat ia berjalan menuju pintu.
“Eh?” kagetnya, “Sho-san?” Ia mendapati atasannya tertidur di depan pintunya, “Bagaimana cara membangunkannya?”
Bingung, Miharu menekan kepala pria itu dengan satu jari dan membuatnya terbangun.
“Ah, Miharu, kau sudah pulang?” katanya kemudian bangkit berdiri sambil menggosok matanya pelan.
“Kenapa kau ada disini? Sudah kubilang kan, jangan menungguku?”
“Aku pikir kau tidak sebegitu lamanya pulang. Aku khawatir!” Sho memegang pundak Miharu, menatap wajah gadis itu dengan perasaan lega.
“Eh?”
Dada Miharu seakan meledak, jantungnya berdetak sangat kencang. Bahkan ia tidak melepaskan tangan Sho dari pundaknya dan menatap balik pria itu. Tersadar, Miharu mengalihkan pandangannya lalu menurunkan tangan Sho dari bahunya.
“Aku baik-baik saja. Pulanglah, kau tidak perlu khawatir. Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Miharu membuka pintunya dan masuk. Memutar badannya ke arah Sho yang masih berdiri di tempat, “Besok kau kerja kan, Presdir? Istirahatlah, akan kusiapkan sarapan dan bekal makan siangmu besok.”
Miharu menutup pintu apartemennya. Raut wajahnya berubah, tangannya memegang dada, “Apa ini, aku kenapa?”
Rasa deg-degan itu kembali setelah beberapa bulan yang lalu tidak Miharu rasakan.

***

“Ugh! Aku mengantuk sekali!” keluh Miharu. Ia mengambil posisi tidur pada sofa panjangnya.
“Masih memikirkan perasaan aneh itu padahal sudah dua hari berlalu sampai tidak tidur?” tanya lawan bicara Miharu yang mampir ke tempat gadis itu. Ya, hari ini hari Minggu jadi ada banyak waktu ulang.
Miharu mengangguk, “Aku tidak mengerti, Arina-nee. Rasanya seperti… entahlah, deg-degan tak keruan waktu dia bilang khawatir. Ada rasa hangat menjalar ke tubuhku.”
“Wah, kemajuan nih. Miharu mulai membuka hati pada pria!” Arina memasang senyum lebar, temannya sudah mulai normal.
“Eh? Maksudnya, aku suka pada Sho-san?” Miharu mengangkat alisnya, “Ahahaha… Leluconmu tidak lucu..”
“What? Aku serius, Miharuuu!”
Miharu yang masih tertawa mencoba menahan tawanya, “Tidak mungkin. Dia semena-mena begitu.”
“Benar juga.” Arina mengangguk, “Tapi, kau juga aneh. Mengikuti apa yang dia suruh, kalau cuma diancam berhenti kerja kan bisa cari kerja di tempat yang lain.”
“Huh, Arina-nee kan tahu aku dari dulu ingin masuk perusahaan itu. Kalau ini aku tinggalkan juga sayang. Karena fobia ini, aku sulit menyesuaikan diri dengan cepat.” jelas Miharu sambil menggelung di sofa. Mencari posisi yang nyaman untuk tidur.
Hening sesaat, seakan kehilangan topik pembicaraan. Hanya suara televisi yang terdengar.
“Oh ya, atasanmu itu pernah menemuiku lagi setelah insiden kalian waktu itu.” kata Arina memancing percakapan. Namun, gadis itu tidak mendapat tanggapan, “Miharu?”
Dia menoleh dan mendapati Miharu sudah terlelap. Arina tersenyum lembut melihat wajah tidur Miharu lalu mengecilkan volume suara TV.

***

Ne, Miharu. Kasih tahu dong, kau dengan Presdir Sakurai itu ada hubungan apa? Tetangga apa yang setiap hari makan di apartemenmu?” tanya Kumiko.
Miharu melihat temannya itu dengan mata malas. Setelah Kumiko menginap di tempatnya, gadis itu sering bertanya dan semakin gencar menghujani Miharu dengan pertanyaan itu setelah kembali ke apartemen kekasihnya.
Miki, yang tidak tahu apa-apa hanya bisa terkejut, “Apa? Miharu dengan Presdir? Uso!”
“Iya, presdir bilang ‘tadaima~’ saat masuk ke apartemen Miharu. Mencurigakan kan?” Miki mengangguk antusias, “Ah, ada juga….”
Miharu hanya bisa menghela napas mendengar Kumiko bercerita dengan penuh semangat tentang hubungannya dengan atasannya. Sepertinya, memang sudah saatnya untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Ehem.” ucap Miharu membuat Kumiko dan Miki menoleh padanya, “Aku mau memberitahukan sesuatu.”
“Apa? Apa? Kau memang pacaran dengan presdir?”
“Atau kau tunangannya presdir?”
“Bukan!” bentak Miharu. Kumiko dan Miki sedikit tercekat, “Aku… sebenarnya…” Kedua temannya sudah melihat Miharu lekat-lekat. Miharu menelan sedikit ludah, “aku pengidap androphobia.
Hening. Tidak ada yang bereaksi. Miki melirik Kumiko yang juga sama bingung dengan dirinya.
“Andro…. phobia itu apa?” tanya Miki akhirnya.
Miharu melihat Miki lalu tersenyum, “Androphobia itu artinya ketakutan berlebih pada pria.”
“Eh??? Jadi, kau dengan presdir itu apa?” tanya Kumiko butuh penjelasan lebih.
Miharu pun menceritakan kejadiannya dari awal sampai pada hari dimana Kumiko menginap ditempat Miharu. Kumiko menatap Miharu tidak percaya.
Uso, deshou?” tanya Miki pelan.
“Untuk apa aku berbohong?” tanya Miharu balik. Benar, untuk apa Miharu bilang dia takut dengan lelaki kalau sebenarnya tidak?
“Dan presdir mengancam untuk memecatmu kalau kau tidak sembuh?” Miharu mengangguk, “Ini juga mencurigakan.”
Miharu menaikkan alisnya, “Mencurigakan kenapa?”
“Dia melibatkan diri sendiri untuk salah satu karyawan, aneh bukan? Sampai pindah tempat tinggal segala. Jangan-jangan dia suka padamu?”
Miki mengangguk, “Bisa saja kan?”
Miharu jadi berpikir, apa memang pria itu suka padanya? Dari segi mana ia menyukai Miharu setelah sekian banyak respon buruk yang Miharu kasih padanya?

***

Miharu tersenyum melihat layar terpanya. Entah kenapa ia merasa senang saat Sho mengirimnya pesan atau meneleponnya akhir-akhir ini. Miharu pun merasa bahagia bisa melewati hari-hari bersama pria itu. Tidak seperti dulu yang dia lakukan dengan terpaksa. Apalagi saat pria itu sedang ada di luar kota.
“Ohohoho… Miharu kelihatannya bahagia sekali. Ada apa?” tanya Miki dengan senyum jahilnya.
Miharu tersenyum lebar, “Tidak ada kok.”
“Masa sih?” tanya Kumiko penasaran lalu mengambil handphone gadis itu dan membaca email-nya, “’Nanti aku bawakan oleh-oleh. Apa kau mau titip sesuatu?’ Wah, ini dari pres–umh!”
Miharu langsung menutup bibir heboh Kumiko dengan telapak tangannya, “Jangan keras-keras! Bahaya kalau orang kantor lainnya tahu!” Kumiko mengangguk pelan.
“Sho-san ada perjalanan dinas ya? Kau kesepian dong?”
“Kenapa aku harus kesepian?”
“Hm… Biasanya kan melewati malam bersama.” jelas Miki.
Miharu menyipitkan mata, “Kenapa omonganmu terkesan ambigu ya?”
Nada dering Miharu melantun dengan indah, ada sebuah telepon masuk, “Aku angkat dulu ya.” Kumiko dan Miki mengangguk, gadis itu pun menjauh dari keduanya.
Ne, Miki..”
“Hm?”
“Akhir-akhir ini Miharu kelihatan bahagia banget ya? Kau bisa merasakannya, tidak?”
Miki mengangguk cepat, “Un, dia sudah jarang marah dan menggoda kita. Suaranya juga melembut.”
Mereka berdua melihat gadis itu, mendengar jawaban Miharu pada orang yang meneleponnya.
“Hah? Kau kangen padaku? Baka, berhenti menggodaku! Kerja saja yang benar sana!” ucap Miharu kesal.
“Sebenarnya Miharu lagi bicara dengan atasannya atau bawahannya sih? Aku heran. Kalau didengar karyawan lain, Miharu bisa dianggap tidak sopan.” kata Miki.
“Dia itu sedang bicara sama orang yang dia sukai tapi dia tidak peka dengan perasaannya sendiri.” simpul Kumiko, Miki mengangguk mengiyakan.
Kemudian mereka berdua tertawa melihat Miharu kesal yang terus digoda oleh si penelepon.

***

“Sho-san mana sih?”
Miharu melirik jam tangannya, sudah 15 menit dia menunggu pria itu di depan supermarket, padahal Sho bilang padanya kalau pria itu sudah dekat dengan tempatnya berdiri sekarang. Miharu melihat sekeliling, entah kenapa tidak banyak orang yang berlalu lalang malam itu. Membuat perasaan Miharu tidak enak.
Gadis itu terus saja melirik jam tangannya dan sesekali mengecek handphone-nya, mungkin saja Sho meneleponnya. Namun tidak ada apa-apa.
Waktu terus berjalan, tapi pria bernama Sakurai Sho itu sama sekali belum kelihatan. Malah beberapa orang berandalan yang terlihat oleh Miharu. Miharu melirik mereka takut-takut dan langsung berbalik arah saat mengetahui kalau mereka juga melihat Miharu.
Sial, kenapa aku takut begini? Bukannya waktu dengan Sho-san aku sudah tidak merasa takut lagi?, tanya Miharu dalam hati.
“Hai, cantik. Kenapa membelakangi begitu?” ucap salah satu berandal itu. Mereka sudah mengerumuni Miharu seperti semut yang melihat gula. Tubuh Miharu mulai gemetar.
Satu tangan berandal itu memegang pundaknya, badan Miharu langsung menegang dan napasnya mulai tidak teratur. Tubuhnya diputar ke arah para berandal agar mereka bisa melihat wajah Miharu. Ingin rasanya gadis itu berteriak tapi lidahnya kelu.
Cengiran jorok dan candaan menjijikkan Miharu dengar untuk dirinya. Miharu tak mampu melawan, ia menunduk. Miharu tidak membawa pepper spray atau stun gun karena dokternya pernah melanggarnya padahal itu sangat berguna kalau seperti ini. Dalam hatinya berharap ada pahlawan yang menolongnya.
Tiba-tiba Miharu merasa sedang ditarik dan dipeluk, “Ada perlu apa dengan pacarku?”
Miharu langsung membuka matanya dan melihat ke arah orang yang memeluknya saat mendengar suara yang tak asing lagi baginya, suara Sho. Seketika ketakutannya tadi menghilang.
“Yah, tidak asyik. Ayo pergi.” kata berandal itu pada teman-temannya lalu meninggalkan Miharu dan Sho.
“Miharu, kau tidak apa-apa?” tanya Sho. Miharu tidak menjawabnya, “Maaf, tadi aku–”
Belum selesai menjelaskan alasan dia lambat datang, Miharu tiba-tiba terisak. Bahunya bergetar hebat, Miharu terlihat sangat rapuh. Ia memeluk erat gadis itu dan Miharu membalasnya. Sho hanya bisa mengelus rambut gadis itu sampai tangisnya reda.

***

“Miharu, bagaimana kalau kita pacaran?”
Miharu yang sedang meneguk minumannya tersedak, “A-apa kau bilang? Tadi juga kau menyebutku pacarmu.”
“Pacaran, bagaimana? Lagipula sudah setahun kan kita kenal.” jelasnya.
“Eh? Sudah setahun? Kok tidak terasa ya…” ucap Miharu sedikit kaget, tak menyangka sudah setahun berlalu.
Sho mengangguk, “Jadi kau tidak tahu kenapa aku mengajakmu makan di luar? Ini untuk perayaan setahunnya kita bertemu dan tahun yang lalu kau juga membuat bajuku basah kan?”
Ya, Sho harus memakai baju yang lembab karena Miharu menangis hebat di pelukannya. Miharu gelagapan, Sho tertawa kecil.
“Dan ini juga ucapan terima kasihku padamu.”
Miharu memiringkan kepalanya bingung. Seharusnya gadis itu yang berterima kasih padanya, “Terima kasih untuk apa?”
Sho pun menjelaskan alasan kehadiran Miharu sangat penting baginya saat itu. Miharu tak menyangka kejadian konyol itu berdampak baik bagi Sho, padahal Miharu selalu mengutuk kejadian itu. Tapi sepertinya sekarang dia juga harus bersyukur karena bisa bertemu dengan pria itu. Sho juga menjelaskan kalau niatnya memecat Miharu hanya caranya untuk bisa dekat dengan gadis itu, Miharu pura-pura marah dan kemudian tertawa.
“Kenapa mengajakku pacaran? Banyak kan gadis normal di luar sana? Kau juga tidak tahu kenapa aku bisa memiliki fobia ini kan?”
“Aku tahu, aku tahu semua tentangmu.”
Miharu membelalakkan matanya, “B-bagaimana bisa? Dan… dan bukannya kau tersiksa dengan perlakuan burukku pada pria?”
Sho mengangkat bahu, “Tapi sekarang kau merasa nyaman denganku kan? Yang bisa menenangkanmu juga cuma aku kan?” Sho balik bertanya.
“Nanti kalau aku kambuh lagi, bagaimana? Ini akan merepotkan lho.”
“Hm… I will accept any side of you. That’s because I chose you, Miharu.” Sho memandang Miharu dengan tatapan serius, meyakinkan Miharu kalau dia sedang tidak bercanda.
Wajah Miharu memerah, jantungnya berdegup dengan kencang dan Miharu kini menyadari perasaannya. Tak pernah dia ingin mencintai seorang pria seperti yang dia rasakan saat ini.
Tangan Sho menggapai tangan Miharu, menyatukan jari-jari dan telapak tangan mereka dan membagi kehangatan satu sama lain dari sana. Miharu menatap pria itu, Sho tersenyum kemudian mengangkat alisnya seakan bertanya tentang jawaban Miharu. Gadis itu tersenyum lalu mengangguk kecil. Senyum Sho melebar, dia merasa perjuangannya membuat Miharu lepas dari fobianya tidak sia-sia dan perjalanan cinta mereka yang pasti akan penuh rintangan pun dimulai.

Advertisements

One thought on “[Oneshot] Hit the Floor: Androphobia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s