[Multichapter] Little Things Called Love (#18)

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 18)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

Seakan tersedot ke dunia lain, Aika masih menatap langit-langit Rumah Sakit dengan takjub. Memang langit-langit itu tidak berubah sejak semalam, tapi tetap saja Aika ingin memandanginya, berharap apa yang ia dengar tadi hanya sekedar bercandaan, langit-langit tidak bisa menjawabnya setidaknya bisa membuatnya sedikit lebih tenang.

Tadi pagi Aika yang mencoba beranjak dari kasurnya akhirnya berhasil, berjalan tertatih menggunakan tongkat penyangga dari perawat dan mencari keberadaan Juri. Sejak kemarin siang dirinya bertanya-tanya. Ada apa dengan Tanaka Juri? Kenapa pria itu berada di Rumah Sakit? Mencoba berbaik sangka, Aika berpikir mungkin saja Juri menolong orang yang kecelakaan, dan ia pun sebenarnya berharap demikian. Namun, di lorong lantai dua ketika Aika turun menggunakan lift, ia bertemu Juri, yang berdiri di depan kamar nomor 203. Pandangan Juri terlihat muram, sedetik kemudian pria itu berbalik, meninggalkan pintu kamar itu dan menghilang di lorong tangga darurat.

Ingin tak peduli tapi Aika benar-benar penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan Juri? Siapa yang ada di dalam. Sedikit bersusah payah Aika berjalan tertatih-tatih, membaca nama di depan kamar 203 itu. Nishinoya Chiru. Aika belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tidak ada kaca atau celah di pintu itu, tapi Aika benar-benar penasaran kenapa Juri terlihat sesedih itu barusan. Siapa wanita ini? Dengan perlahan Aika menggeser pintunya, hanya ingin melihat siapa yang ada di dalam.

“Maaf, kenalannya Chiru-chan?” Aika terperangah, dari arah belakang seorang paruh baya menyapanya. Aika mati gaya. Di ruangan itu hanya ada Chiru dan tidak mungkin Aika berbohong dengan mengatakan ia mencari orang lain karena nama Chiru tertera jelas di depan. Akhirnya Aika hanya bisa mengangguk, “Silahkan masuk,” wanita itu membuka pintu dan mempersilahkan Aika masuk, “Chiru-chan, ini ada temanmu,”

Chiru yang sedang berbaring membelakangi pintu pun berbalik. Barulah Aika tau siapa Nishinoya Chiru. Wanita yang dipanggil Chiru itu pun terlihat kaget melihatnya.

“Kimura Aika-san, kan?”

Aika ingat bagaimana wajah Chiru terlihat seperti habis menangis dan letih sekali. Aika saat itu hanya bisa mengangguk, dia bertanya-tanya kenapa wanita itu bisa mengenalinya. Tidak salah lagi memang, ini wanita yang juga pacar alias calon istri Juri. Dia ingat wajah wanita itu di ponsel Juri, tidak salah lagi.

Yappari Kimura-san, tapi… Juri-kun sedang keluar,”

Dengan otomatis Aika menggeleng, beralasan bahwa dirinya hanya melihat Juri kemarin dan penasaran siapa yang sakit, “Kupikir ada keluarga Tanaka-san yang sakit, aku teman SMA nya, jadi aku… penasaran,” bohong dan Aika tidak bisa tidak merasa bodoh sekarang ini.

Jawaban Chiru saat itu sangat mengejutkan, “Aku tau kok, Kimura-san, bukan hanya sekali dua kali Juri-kun menyebut namamu, saat sadar atau tidak sadar,” dan wanita itu pun tersenyum padanya. Aika kaget, lidahnya terasa kelu, kakinya bahkan kini berdenyut-denyut karena menopang tubuhnya terlalu lama.

Okaa-san gomen, aku mau bicara dengan Kimura-san sebentar, belikan aku pudding ya di bawah,” ucap Chiru kepada wanita paruh baya yang ternyata adalah ibunya. Beberapa saat kemudian ibunya Chiru pun keluar dari kamar, “Silahkan duduk, Kimura-san,” Chiru menunjuk sebuah kursi di sebelah ranjang tempatnya berbaring. Seperti robot Aika mengikuti perintah dari Chiru.

Setelah itu bagaikan mimpi yang terus terputar di otaknya, Aika mendengar cerita tentang Chiru dan Juri, “Aku baru saja keguguran,”

“Eh?”

“Kandunganku sudah bermasalah sejak awal, tapi aku ingin mempertahankannya, ternyata memang tetap saja tidak tertolong,”

Gomen, aku tidak tau,” Aika menunduk, merasa bersalah.

Chiru menggeleng, “Tidak apa-apa. Salahku juga bilang ingin mempertahankannya, padahal aku hanya tidak ingin kehilangan Juri-kun,”

Aika kembali menatap Chiru dengan kebingungan.

“Juri-kun itu baik sekali ya, walaupun aku hamil dengan orang lain, dan orang itu meninggalkanku, dia masih saja bilang, ‘Aku akan melindungimu dan anakmu’ katanya, dan tidak peduli apa yang dikatakan orang lain dia tinggal bersamaku, bahkan bekerja untukku,” Chiru tersenyum, tapi wajahnya jelas terlihat sedih, “Walaupun aku tau dia masih mencintai Kimura-san, tapi dengan egoisnya aku ingin dirinya di sisiku, jahat sekali kan aku?”

Juri masih mencintainya? Aika tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya sekarang. Dia tau itu tidak sopan untuk Chiru, tapi hatinya merasa sedikit senang, tidak bisa ia cegah. Dan satu jam setelah pembicaraannya dengan Chiru tadi, Aika masih bertanya-tanya apa yang akan Juri lakukan sekarang? Tapi mengetahui sifat Juri, setelah ini pun pria itu tidak akan sanggup meninggalkan Chiru, dan kenyataan bahwa Chiru mengakui bahwa Juri masih mencintai Aika, tidak bisa mengubah kenyataan pahit itu.

***

Suasana cafe sudah sepi, maklumlah sudah hampir waktu tutupnya yaitu jam sepuluh malam. Aika tidak bisa dihubungi, gadis itu hanya mengirimkan pesan bahwa hari ini dia ingin sendirian, entahlah dia sudah pulang atau belum Hazuki tidak begitu mengerti.

“Bos, aku pulang duluan ya,” sapaan salah satu pegawainya membuyarkan lamunan Hazuki, ia hanya tersenyum, “Otsukaresama deshita, tenchou,” ucapnya sebelum menghilang dari pintu dapur.

Pandangan Hazuki terpaku pada pintu itu, sekali lagi ia menghela napas berat, masalahnya dengan Taiga belum juga usai dan beberapa kali ia mencoba menetapkan hatinya, ingin menghubungi Taiga namun di saat yang bersamaan gengsinya setinggi gunung, dia tidak mampu men-dial nomor Taiga sekedar mengetahui keadaan pria itu. Terdengar pintu cafe terbuka, Hazuki segera menoleh, sosok yang tidak ia sangka masuk ke dalam cafe nya.

“Kau tau, cafe ini sudah tutup tuan Matsumura,” ucap Hazuki melihat Hokuto melangkah masuk, masih dengan setelan jas kerjanya, pasti dia lembur lagi, pikir Hazuki.

“Justru aku sengaja datang saat cafe sudah tutup, jadi aku bisa dapat makanan gratis dari pemilik cafe,” jawab Hokuto, menghampiri Hazuki dan emmeluk gadis itu sekilas, “kuperhatikan kau sedang melamun, tidak baik menghela napas berulang-ulang begitu, memendekkan umur katanya,” Hokuto duduk di sebelah Hazuki setelah melepaskan jasnya.

“Mau minum apa? Bir? Kopi?” Hazuki beranjak dan memutar ke arah stand, untuk mengambilkan minum.

“Bir saja,” jawab Hokuto.

Tak lama Hazuki datang memberikan satu gelas bir untuk Hokuto dan segelas lagi untuk dirinya, “Lembur lagi?” tanya Hazuki setelah ia meneguk birnya.

Hokuto mengangguk, “Semuanya demi warga Jepang, kau tau itu, ahahaha,” Hazuki ikut tertawa mendengarnya, “Senyum itu lebih bagus terlihatnya untukmu,” kata Hokuto.

“Aku tau kenapa kau ke sini, Kyomoto-san meminta Matsumura-san menanyakan keadaanku? Dan pasti sebagai teman yang baik Hokuto akan juga meminta penjelasan mengenai kejadian setelah pertunangan karena jelas sekali Taiga hanya akan bercerita padamu,” tebak Hazuki dan dengan melihat wajah Hokuto yang tersenyum saja Hazuki sudah tau jawabannya.

“Ada apa sebenarnya?”

Hazuki menggeleng, “Entahlah, aku kehilangan kepercayaan diriku untuk bersanding dengan seorang Kyomoto Taiga,” Hazuki menatap Hokuto dan pria itu tidak mengatakan apapun, seakan meminta penjelasan lebih, “Dia itu…. sempurna. Dia tampan, romantis, tapi di sisi lain aku bertanya-tanya apakah aku sepadan dengannya? Banyak gadis yang antri untuknya dan kenapa Kyomoto Taiga memilihku? Kau tau kan, mungkin dia hanya penasaran padaku, karena selama ini hanya aku yang terang-terangan menolaknya,”

“Hazuki, kau membuat semua ini terlihat seperti kesalahan Taiga,”

Hazuki meneguk birnya hingga tandas, “Tidak. Ini salahku, dan hingga sekarang aku masih tidak bisa meyakinkan diriku sendiri untuk bersama dengan Taiga,”

“Kau tau, aku paling sering bersama Taiga, dan belum pernah aku melihat seorang Taiga seyakin ini dengan seorang wanita. Dia playboy aku tau, tapi itu dulu,” Hokuto mendekati Hazuki, merangkul gadis itu, “Mungkin Hazuki hanya butuh sedikit keberanian untuk menghadapi dunia bersama Taiga, bukankah begitu?”

Tak disangka Hazuki menunduk, terisak pelan, itulah masalahnya mungkin dia tidak punya keberanian sebesar itu untuk menghadapi dunia yang tidak dia kenal, dunia yang kini menjadi tempat Taiga hidup dan dia ketakutan, dia tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi nantinya, apakah nanti cinta Taiga akan cukup untuk mempertahankan mereka berdua?

***

Pagi yang cukup cerah, Yua rindu suasana pagi tanpa teringat pesanan kue atau keharusan segera membuka matanya untuk mengemudi ke tempat Taiga, membangunkan alias menyeret Taiga ke kamar mandi dan menyiapkan sarapan si mega bintang. Yua rindu dia bisa menggeliat dan tidur sebentar lagi melepaskan lelahnya karena sebagian besar waktunya selama 365 hari bergerak dari satu tempat ke tempat lain, mengemudi, mengambilkan laundry, mengantar Taiga ke tempat syuting, begitu terus dua puluh empat jam.

Yua membuka selimutnya, melangkah keluar masih dengan setelan tidurnya, ia melihat Kouchi ada di ruang makannya, bersama ibu, “Ngapain di sini?” tanya Yua lalu duduk di hadapan Kouchi, menyambar segelas susu yang ada di hadapan Kouchi.

Ohayou. Iseng, ahaha, aku sudah lama tidak sarapan di sini, ya kan bi?” ucapnya pada Ibu yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.

“Iya sudah lama Ibu tidak bertemu dengan Kou-chan,” tak lama ibunya muncul di hadapan mereka, “Kou-chan, bantu-bantu beres gudang boleh kan?”

“Bu, Kou-chan mau liburan bukan bantu-bantu beres rumah kita,”

Kouchi tertawa, “Tidak masalah bi, asal aku bisa makan siang di sini, aku juga rindu kare buatan bibi,”

Dan begitulah satu jam kemudian Yua dan Kouchi berkutat dengan debu dan barang-barang yang menumpuk di halaman belakang rumah kediaman Ichigo. Yua berkali-kali harus bersin dan menggeleng-geleng bagaimana bisa ibu dan ayahnya menyimpan barang sebanyak ini di rumah.

“Yua.. mendingan kamu mundur sedikit deh, aku mau mengeluarkan mesin cuci dari dalam dan sepertinya debunya banyak sekali nanti kamu batuk,” ucap Kouchi, menarik lengan Yua agak menjauh dari pintu gudang.

“Memangnya bisa menariknya sendirian?” tanya Yua.

Kouchi menunjukkan ibu jarinya, “Tenang saja, aku ini kuat loh! Ahahaha,” Yua hanya mencibir dan menurut, Yua menarik sebuah kotak yang disimpan oleh Kouchi di dekat pintu gudang, sepertinya ia kenal kotak itu.

“Waaa! Barang-barangku!” ucap Yua tiba-tiba merasa kangen melihat beberapa barang semasa ia sekolah dasar dan menengah. Ada buku harian, kaset dan CD yang tersimpan rapi di dalamnya. Ada juga buku-buku sekolahnya.

Dengan iseng ia membuka salah satu buku hariannya, tertawa dengan setiap kata-kata yang ia tuliskan di sana. Begitu polos dan apa adanya, bahkan konyol ketika ia membacanya kembali. Yua masih membuka semua halaman demi halaman di buku itu sampai pada sebuah halaman yang bukan merupakan tulisan tangannya.

“Eh?” Yua membaca tulisan yang hanya satu paragraf pendek itu. Tertulis di bawah curhatannya mengenai kakak kelas tiga yang pernah ia taksir saat sekolah menengah.

Kau menyukainya, tapi aku menyukaimu. Mau pura-pura tidak membacanya jelas sekali itu tulisan siapa.

“Yua!! Bisa ambilkan sapu?!” Yua menutup buku harian itu dengan cepat.

“Iya! Sebentar ya Kou-chan,” Itu bukunya saat sekolah menengah, dan tulisan itu tulisan tangan Kouchi. Sambil kembali ke dalam rumah Yua bertanya-tanya kalau begitu Kouchi sudah menyukainya selama itu? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Kouchi menyembunyikannya lebih dari satu dekade padahal mereka nyaris bersama-sama setiap hari.

***

“Masih ada seminggu lagi, ya?” Shintaro mengambil kalender dari atas rak, menunjukkannya kepada Sonata yang kini berada di apartemen milik Shintaro. Mereka sudah selesai makan malam dan kali ini terasa lebih spesial, Shintaro menyulap apartemennya jadi lebih romantis. Suasana meja makan kecil itu berubah drastis dengan disuguhi cahaya lilin dan bunga mawar putih.

“Apa batalkan saja?” ucap Sonata asal. Waktu kepergiannya ke Paris tinggal besok, tiba-tiba saja hatinya merasa tidak siap meninggalkan Shintaro.

Baka! Aku akan menyeretmu ke bandara kalau perlu,” Shintaro menarik Sonata ke pelukannya, kini posisi Sonata bersandar pada tubuh Shintaro, gadis itu terlihat sedih, mukanya ditekuk karena kesal, “Kesempatannya belum tentu datang lagi, Sona-chan,”

“Tapi…”

Shintaro menutup mulut Sonata dengan tangannya, “Stop!” dengan sikap posesif ia memeluk tubuh Sonata dengan erat, “Berjauhan setahun tidak akan mengubah apapun di antara kita, aku masih akan tetap membuatmu kesal setiap kau datang ke apartemenku karena masih saja berantakan. Aku juga masih akan kesal setiap kali menunggumu dandan ketika kita akan kencan. Yang berubah hanya rindu kita akan menumpuk tapi itu tidak masalah karena ini semua untuk masa depan Sona-chan,” Shintaro menarik napas berat, Sonata bisa merasakan helaan napas itu tepat di telinganya, “Jangan khawatir, Sona-chan,”

Sonata merasa tenang tapi air matanya ternyata mengkhianatinya. Sonata menunduk, mati-matian mencoba berhenti menangis tapi nyatanya tidak bisa, ia pun mulai terisak pelan. Ruangan yang kini hanya diterangi oleh lilin itu hening, hanya ada suara isakan Sonata. Sementara itu Shintaro pun menunduk, menyembunyikan wajahnya di antara helaian rambut dan leher Sonata, diam-diam juga menitikkan air mata.

“Ini sudah malam, kupikir sebaiknya aku mengantarmu pulang,” Shintaro diam-diam menghapus air matanya dan hendak melepaskan diri dari sofa, namun Sonata menahan lengan Shintaro.

“Aku tidak mau pulang,” Sonata menggeleng, matanya masih berurai air mata.

“Kakakmu akan membunuhku kalau kau tidak sampai di rumahmu dalam setengah jam,” Shintaro menunjuk ke arah jam dinding yang ada di ruangan itu. Tapi Sonata tetap menggeleng, keras kepala. Shintaro menepuk pelan kepala Sonata, menariknya lagi ke dalam pelukannya, “Baiklah, kita ambil resiko kehilangan nyawa di tangan Matsumura Hokuto kalau begitu,”

Sonata memiringkan tubuhnya, bersandar mencari posisi lebih nyaman dan kini ia terkekeh pelan, “Hoku-nii hanya akan marah sedikit, percayalah,” selama ini Shintaro selalu mengikuti aturan rumah Matsumura, bahwa Sonata tidak boleh pulang lebih malam dari jam sepuluh malam, bahkan ketika Sonata sudah dua puluh tahun aturan itu tidak pernah berubah.

Tak lama ponsel Sonata berbunyi, Hokuto pasti sudah mulai mencari keberadaan Sonata. Wajah Shintaro berubah sedikit tegang, entah apa yang dibicarakan Sonata dan Hokuto karena gadis itu mendadak beranjak saat mengangkat teleponnya.

“Tuh kan, masalah selesai, Hoku-nii bilang tidak apa-apa!” ucap Sonata saat kembali ke sofa.

“Kok bisa? Aniki salah minum obat apa?” seru Shintaro, posisi duduknya kini kembali tegak.

“Ahahaha itu rahasiaku dengan Hoku-nii,” Sonata kembali duduk di sofa, merebahkan kembali badannya pada badan Shintaro. Hidung Sonata langsung familiar dengan aroma maskulin dari Shintaro, her favorite aroma ever! Ia menyesapnya dalam-dalam, dalam waktu seminggu aroma ini akan dirindukannya selama setahun dan tidak ada yang bisa menggantikannya.

“Sona-chan,” panggil Shintaro lembut, dan saat Sonata menengadah untuk menatap Shintaro, detik berikutnya bibir pemuda itu sudah menginvasi bibir mungilnya. Spontan, seperti biasanya. Shintaro menyesap bibir Sonata dengan lembut, menarik tubuh Sonata lebih dekat untuk memberikan akses lebih mudah bagi dirinya, sebagai hasilnya kini Sonata sudah duduk di pangkuan Shintaro.

Setiap ciuman Shintaro selalu magis bagi Sonata. Caranya memagut bibirnya dari pelan hingga berubah sedikit memaksa atau cara Shintaro merengkuh wajahnya, membuat seorang Sonata yang malu-malu pun berhasil menjadi sedikit liar apalagi ketika lidah Shintaro kini menguasai mulutnya. Sonata selalu suka rasa bibir Shintaro, kali ini cheese cake karena tak kurang dari setengah jam yang lalu mereka baru saja memakannya.

“Sial,” Shintaro melepaskan ciumannya, tangannya masih merengkuh posesif pada wajah Sonata, “Aku rasa jika lebih dari ini aku tidak akan bisa berhenti,” ucapnya, napas Shintaro tersengal pelan.

“Kalau begitu jangan berhenti,” jawab Sonata, wajahnya merona dan detik itu pula Shintaro mengurungkan niatnya untuk berhenti.

***

“Katanya mau alamat Ai-chan di Hiroshima… kalau begitu izinkan aku bermalam di apartemen Shin-kun ya?”

Hokuto mencibir pada ponselnya. Adik semata wayangnya sudah berhasil bernegosiasi dengannya. Ia kalah telak dan terpaksa membiarkan Sonata bermalam di sana. Memang sih, Sonata sudah dua puluh tahun, tapi tetap saja bagi dirinya Sonata masih kecil.

Bel rumahnya tiba-tiba berbunyi. Hokuto berlari ke depan, dan dilihatnya seseorang dengan kaca mata hitam, masker dan jaket hitam.

“Yo!” sosok itu mengankat tangan kanannya menyapa Hokuto.

“Ini hampir tengah malam, Ruika-sama!” Hokuto mempersilahkan Ruika masuk.

Ruika langsung membuka kaca mata hitam dan maskernya, “Habis kabur dari Shigeoka. Aku tidak mau ikut after party hari ini, ehehe,”

“Naik taksi?” tanya Hokuto, dan gadis itu mengangguk, “Baka!” ucapnya lalu Hokuto memberikan segelas teh hangat pada Ruika.

Arigatou!” Ruika memperhatikan rumah Hokuto, “Loh? Sona-chan sudah tidur?”

Hokuto duduk di seberang Ruika, menggeleng frustasi, “Dia bermalam di tempat Shin-kun,”

“Whoaaa!! Akhirnya?” wajah Ruika terlihat seakan meledek Hokuto.

Urusai!” Hokuto melemparkan serbet ke wajah Ruika yang hanya ditanggapi dengan tawa menggelegar dari Ruika, “Ngomong-ngomong tumben tidak ikut after party?

“Punya makanan gak? Aku lapar,” ucap Ruika, Hokuto masuk ke dapur dan mengambilkan sandwich yang tadinya ia sisakan untuk Sonata esok pagi, “Uhmm.. hanya lelah bersosialisasi, sedang tidak mood,”

“Apa karena ada siapa itu… siapa sih anggota band yang kau bilang mendekatimu?”

Ruika melahap sandwich dan sambil mengunyah ia menjawab, “Hamada?” Hokuto mengangguk, “Ada dia atau tidak memangnya ngaruh?”

“Kenapa tidak coba menjadi akrab dengannya? Siapa tau cocok? Ahahaha,” Hokuto tertawa karena melihat ekspresi wajah Ruika yang mendadak terlihat galak dan masih dalam keadaan mengunyah.

“Aku tidak bisa memutuskan untuk mendekati siapapun sampai jawaban itu datang dari Jesse,”

“Masih Jesse? Yang benar saja!” seru Hokuto.

Ruika mencibir, “Maaf ya Matsumura-san, aku tidak mau diceramahi oleh orang yang sama-sama belum bisa move on! Masih Airin?! Yang benar saja!” ucap Ruika menirukan ucapan Hokuto tadi.

“Kalau jawabannya tidak?” ekspresi wajah Hokuto menjadi serius.

“Maka mungkin saatnya aku move on! Kau juga janji ya, kalau jawaban Ai-chan tidak, sudah saatnya kau move on,” memang tidak akan mudah, tapi setidaknya karena ada orang yang mendukungnya Ruika akan bisa melakukannya dan karena itulah ia juga akan mendukung Hokuto sebisanya. Karena saat ini nasib mereka sama-sama sedang menunggu jawaban kepastian.

***

Ruangan ini sudah terlihat kosong. Beberapa kali Juri masuk ke kamar mandi untuk memeriksa apakah ada barang-barang yang tertinggal atau tidak, begitu juga dengan rak penyimpanan di sebelah ranjang Chiru. Dengan hati-hati ia membantu Chiru naik ke atas kursi roda, Ibu Chiru lalu mendorong kursi roda itu sedangkan Juri membawa barang-barang milik Chiru. Setelah hampir lima hari akhirnya Chiru diperbolehkan pulang.

“Selamat atas kepulangannya, Nishinoya-san,” seorang suster mengantar mereka hingga ke lobby Rumah Sakit dimana sebuah Taksi sudah menunggu mereka. Juri menaikkan barang-barang milik Chiru dan membantunya masuk ke Taksi.

“Benar mau langsung ke Fukuoka?” tanya Juri yang duduk di sebelah depan, sementara Chiru duduk di belakang dengan Ibu.

Chiru mengangguk, “Aku sudah tidak apa-apa kok,” padahal jelas tergambar kesedihan di wajah wanita itu. Juri pun sudah pamit pada orang tuanya untuk kembali ke Fukuoka karena sebenarnya waktu liburannya sudah habis, bahkan Juri harus menambah waktu cutinya karena kejadian Chiru keguguran.

“Baiklah,” jika sudah keras kepala Chiru memang sulit dibujuk. Juri menatap ponselnya, masih ada pesan dari Hazuki yang mengabarkan bahwa Aika kecelakaan, lengkap dengan foto kaki Aika yang terkilir dan sebuah pesan mengabarkan bahwa dalam dua hari ke depan Aika akan kembali ke Amerika, bahwa gadis itu sudah memutuskan untuk ikut tour orkestra.

Berkali-kali sudah Juri membulatkan tekadnya untuk mendatangi Aika. Namun selalu gagal saat dirinya sudah berada di depan kamar VIP itu. Pertama kali datang, Juri melihat Aika sedang tertidur, ia tidak ingin mengganggu gadis itu. Selanjutnya ia melihat Jesse ada di kamar Aika.

“Makanya sudah kubilang jangan nyetir sendiri!” Juri melihat tangan Jesse menyentil pelan dahi Aika, gadis itu terlihat terganggu dan menggosok-gosokkan dahinya dengan kesal. Juri rindu ekspresi wajah Aika yang menurutnya lucu itu, saat kesal dan gadis itu akan merengut menggemaskan.

“Lihat sekarang kamu malah tidak bisa berjalan!”

Aika kembali merengut, “Aku lapar, tapi bosan makan di sini, ke kantin bawah yuk,” Juri memperhatikan Aika merentangkan tangannya pada Jesse dan detik berikutnya Jesse memeluk tubuh Aika untuk mengangkat gadis itu naik ke kursi rodanya. Seakan Aika sudah nyaman dengan keberadaan Jesse dan saat itulah Juri kembali mengurungkan niatnya untuk bertemu Aika. Mungkin memang, Aika lebih baik bersama Jesse. Sekarang dia pun sudah punya Chiru, harusnya tidak boleh lagi ada penyesalan, toh hal ini dia yang memutuskan.

“Juri-kun, tidak akan menyesal kembali ke Fukuoka?” saat ini mereka sedang menunggu pesawat untuk kembali ke Fukuoka.

Juri menggeleng, “Tentu saja tidak,” ia mencoba tersenyum untuk menenangkan Chiru.

“Setelah kembali ke Fukuoka, aku ingin pisah dengan Juri-kun, aku akan kembali ke rumah Ibu,” ucap Chiru yang walaupun pelan terdengar jelas di telinga Juri.

Nande?!” Juri terkesiap, tidak siap dengan pernyataan yang keluar dari mulut Chiru.

“Tolong berhenti mengasihani aku, Juri-kun,” ucapan Chiru membuat Juri terdiam, “Aku ingin bersama Juri-kun tapi bukan sebagai pihak yang kau kasihani, Juri-kun masih mencintai Kimura-san, kan?” belum Juri menjawab, Chiru kembali berkata, “Jangan bohongi aku! Aku hanya berpura-pura tidak menyadari sikapmu selama ini. Juri-kun masih sering menatap foto Kimura-san, bahkan mengigau saat tidur menyebutkan namanya,”

“Tapi Chiru, aku….”

“Aku ingin berhenti berpura-pura bahagia dengan semua sikapmu itu, jadi, lebih baik Juri-kun pun berhenti berpura-pura mencintaiku dan hadapi Kimura-san,”

Terdengar panggilan dari pengeras suara, penerbangan ke Fukuoka segera boarding. Chiru berdiri, menghampiri Ibunya yang duduk agak jauh dari keduanya dan melenggang meninggalkan Juri yang masih terpaku menatap punggung itu menjauh darinya.

***

Airin kembali mengecek rak yang dipenuhi oleh buku fiksi, pandangannya menelusuri apakah semuanya sudah tersimpan dengan rapi seperti seharusnya. Akhirnya Airin mengangguk, mantap merasa buku di rak itu sudah rapi semua, ia pun menandai dengan tanda ceklis di dokumen yang sedang ia pegang.

Ohayou,” ini memang sudah sore, tapi menyapa ohayou adalah kebiasaan orang Jepang setiap bertemu pertama kali untuk bekerja.

Ohayou Chinen-senpai,” balas Airin.

Shiftmu berakhir jam delapan, kan?” kata Chinen sambil menyimpan beberapa buku di rak seberang, Airin mengangguk, “Kalau gitu, kita jalan-jalan sehabis shift mu habis, ya?” Chinen memang pegawai tetap di sana, berbeda dengan dirinya yang hanya anak magang.

“Aku tidak enak sering ditraktir oleh senpai, jadi kali ini aku yang traktir, ya?” kata Airin, kini ikut membantu Chinen menyimpan buku-buku ke rak penyimpanan.

“Harusnya kau tidak perlu mngkhawatirkan hal-hal semacam itu, aku tidak keberatan ko,” Chinen tersenyum dan memang senyum Chinen Yuri yang mungkin menyelamatkannya kala itu, saat dirinya merasa terpuruk dan ada kalanya Airin tidak lagi percaya dengan cinta.

Chinen kembali memintanya jadi pacar saat Airin kembali dari Tokyo. Walaupun Chinen bilang tidak memaksanya untuk menjawab secepatnya, Airin merasa terbebani. Ini bukan pertama kalinya dan tiba-tiba saja Airin merasa memanfaatkan kebaikan hati dan rasa suka Chinen padanya. Padahal dalam hatinya masih bingung dengan Hokuto, terlebih sejak Hokuto melamarnya kemarin.

Shiftnya sudah selesai dan Airin menunggu Chinen di pintu belakang, tak lama pria itu muncul sudah berganti pakaian dan tanpa basa-basi menggandeng tangan Airin, “Uhmm.. makan dulu deh ya?”

Lagi-lagi Airin tidak bisa menolak kebaikan hati Chinen dan tidak bisa bohong, Chinen membuatnya merasa aman dan nyaman ketika di sampingnya. Semua ini membuatnya sedikit pusing, apakah seharusnya memberi kesempatan pada Chinen? Atau malah menerima kembali Hokuto?

“Ai-chan,” Airin yang sedang melamun menoleh, begitupun dengan Chinen. Tak jauh dari tempatnya menunggu bis bersama Chinen, Hokuto berdiri mematung menatap Airin dan Chinen dengan pandangan yang sulit dilukiskan oleh Airin.

“Hoku-nii,” bisik Airin lirih, secara spontan ia melepaskan genggaman tangannya dengan Chinen.

“Hey, aku baru saja akan ke apartemenmu,” kata Hokuto, langkahnya sedikit tersendat, beginikah rasanya cemburu? Hokuto merasa tiba-tiba ingin memukul pria yang semena-mena menggenggam tangan Airin itu.

“Eh? Ke apartemenku? Nande?” mata Airin masih terpaku pada sosok Hokuto, iris matanya melebar tak percaya ada Hokuto di hadapannya.

Hokuto ingin tersenyum tapi dadanya merasa sesak, “Awalnya untuk surprise sih,” dan malah dirinya yang mendapat kejutan sekarang.

“Oh?! Hokuto yang legendaris itu, ya?” ucap Chinen tiba-tiba. Hokuto tidak menjawab dan hanya mengerenyit melihat pria yang jelas jauh lebih pendek darinya itu.

“Ini… Matsumura Hokuto,” kata Airin berinisiatif untuk mengenalkannya pada Chinen, “Hoku-nii, ini Chinen Yuri, supervisorku di tempat kerja,” ucapnya kini pada Hokuto.

Sebagai jawaban Hokuto hanya menunduk sekilas begitu pula dengan Chinen.

“Ayo pergi,” Hokuto menarik lengan Airin dengan sedikit memaksa, namun detik berikutnya lengan Chinen menahannya.

“Tidak perlu kasar,” kini senyum Chinen hilang dan terlihat marah.

“Maaf Chinen-san, tapi ini bukan urusanmu,” nada suara Hokuto juga sedingin es.

“Jadi urusanku. Aku menyukai Ai-chan jadi ini juga urusanku,” saling tatap setajam pisau itu terus terjadi antara Chinen dan Hokuto. Airin menatap keduanya dengan bingung.

“Uhmmm.. gomen Chinen-senpai, jalan-jalannya lain kali saja ya,” sebelum ada pertumpahan darah sebaiknya Airin menyeret Hokuto menjauh dari Chinen saat itu juga, “Ayo pergi!!” Airin lah kini yang menarik lengan Hokuto menjauh dari halte, ia masih menarik lengan itu hingga mereka masuk ke sebuah restoran cepat saji tak jauh dari halte.

Airin segera membelikan dua minuman soda dan menyimpannya di hadapan Hokuto, “Kenapa tidak memberitahuku dulu?” sesaat setelah ia duduk di hadapan Hokuto, pertanyaan itu langsung ia lontarkan.

“Siapa pria itu?” wajah Hokuto sejak tadi tidak berubah. Begitu dingin dan aura kemarahan jelas terihat dari wajah itu.

“Kan sudah kubilang dia supervisorku di tempat kerja,” jawab Airin, mengalihkan perhatiannya ke minuman soda, apa saja selain tatapan membunuh Hokuto sekarang.

Setelah beberapa menit beralu Hokuto mengehela napas, “Aku baru sadar satu hal,” suara Hokuto tidak lagi sedingin tadi, “Aku bukan siapa-siapa mu, tapi melihatmu berpegangan tangan dengannya, rasanya aku sudah siap membunuh pria tadi,” seakan mencoba menenangkan hatinya Hokuto meminum air soda itu dengan kecepatan kilat.

Gomen,” bisik Airin lirih.

“Tidak perlu minta maaf, harusnya aku yang minta maaf,” Hokuto kembali menatap Airin, “apakah itu jawaban darimu? Untuk pertanyaanku tempo hari?” seakan kelu, Airin hanya bisa manatap balik ke arah Hokuto, hatinya masih bingung. Sangat bingung sampai rasanya dia ingin kabur saja daripada harus menjawab pertanyaan Hokuto.

***

To Be Continue ~

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#18)

  1. KirieHazuki

    Kak diiiiin aku comment yaaaaa

    1. Yua Yugo udah nikah aja udah yaaa jangan pisah lagiii ku tak rela pairinganfavorit selain HazuTai pisah lagi 😢

    2. Hokuto! Makannya anak kecil perasaannya jangan di mainin, ngga tau gmana sakitnya Ai pas ditinggal?

    3. Jadi aika balikan sama jure apa tetep sama jess ? Ruika gmana? Ah mereka berempat ganti pairingan senua ajaaa

    4. Shin jahat merebut kepolosan Sona, bayanganimutku ke mereka jadi luntur 😂😂😂

    5. Aku sejauh ini baru sadar loh kak, ternyata cuman HazuTai yg ngga ada orang ketiganya menurutku, karna Juri pun cm ada di masa lalu Hazuki. Cuman ya kapan mereka nikah? Errr kesel sama OC sendiri labil amat sih woy, udah dirobekin taiga juga masih ragu 😂😂😂😂😂😂😂😂😂

    Reply
  2. magentaclover

    Degdegan gitu pas baca juri aika chiru 😂 gimana deh itu gak ngerti ahahahaha shin x sona udah ngapain aja hei wahai kalian anak2? *oi* hoku tuh ya kok masih seenaknya aja dikiranya perasaan wanita itu apa #tshahhh

    Ruika x jesse cepatlah kalian bersatuuuuu *oi

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s