[Multichapter] Death Point (Chap 5)

Title: Death Point

Genre: Thrill, Fantasy, Horror, Little Romance

Type: Multichapter

Chapter: 5 (Five)

Author: VDV-san

Fandom: Hey! Say! JUMP, HKT48

Cast : Yamada Ryosuke (HSJ), Chinen Yuri (HSJ), Murashige Anna (HKT48)

“Bagaimana caranya kita menyelamatkan Yuri, Ryosuke? Jika dia saja tertangkap, para staff juga pasti mengincar kita kan?” Gadis itu sedikit ketakutan sambil mundar-mandir di dalam kamar–panik.

“Staff di dapur tadi bilang, kalau ada sebuah penjara dan tempat tidak terpakai di dalam hutan, iya kan?” Ryosuke mulai memutar otak untuk mencari jalan keluar. “Kita akan mencari tempat itu” lanjutnya.

“H-he?!” Anna berbalik, menatap Ryosuke heran. Ia mengingat bagaimana bagian dalam hutan yang sangat menyeramkan itu. Tapi, demi Yuri…. “Baiklah…”

“Yosh, daijoubu. Kita akan menemukannya” Ryosuke menepuk bahu Anna dengan perlahan.

Mereka menyusun rencana untuk menyelinap masuk ke dalam hutan besok malam, tentunya tanpa penerangan sedikitpun.

***

Entah sudah berapa jam Yuri tertidur di lantai dingin itu, dengan kaki dan tangan yang masih diikat, perlahan Yuri membuka matanya—tidak kaget karena keadaan di sana sangat gelap.

“Ryosuke… Anna…” Kata itulah yang pertama kali atau bahkan sering Yuri ucapkan sampai ia tertidur, Yuri mengharapkan bantuan dari kedua temannya.

Tak lama, seorang–tidak itu tiga orang staff penjaga datang dan masuk ke dalam ruangan Yuri, salah satunya mendekati Yuri dan membangunkan tubuh Yuri dengan kasar.

“Ugh!” Erang Yuri karena tubuhnya tertumbur keras ke tembok dingin itu.

“Jadi, kau saat ini sudah mau jujur?” Katanya dengan sedikit memaksa–wajahnya mendekat seakan ia sepenuhnya menguasai Yuri.

Namun dahi Yuri mengkerut “jujur? Apa?”

“Jangan pura-pura bodoh” ia menjenggut rambut Yuri tiba-tiba.

“Arrghh!!”

“Kalian mau melakukan apa malam itu di hutan? Hah?!” Bentaknya.

“Aku sudah katakan, untuk mencari tugas!!”

“Tapi hanya kalian bertiga yang ada di sana!!”

“Memangnya harus beramai-ramai?!!”

BUGH!

“UGH! Uhuk!! Uhuk!” tubuh Yuri kembali tersungkur karena perutnya di serang. Dan, kembali kepalanya mendongak karena jenggutan yang kuat.

“Kalau kau tidak mau jujur, dua teman mu tidak akan selamat” ancamnya.

“Cih, aku sudah jujur di tuduh bohong” Yuri meludahi darah, hampir mengenai staff tersebut, wajahnya sudah sangat pucat saat ini tapi senyum manisnya masih terpancar.

“Terserah” ia mendorong tubuh Yuri hingga Yuri kembali tertidur di lantai “cari kedua temannya dan bunuh”

“HEY!! KALAU BERANI BUNUH SAJA AKU DASAR BAJINGAN!!” namun lagi, tak ada respon dari mereka.

Mereka merasa tenang meninggalkan Yuri disini, pertama karena tangan dan kaki Yuri diikat jadi sudah pasti pria itu tidak akan bisa kabur.

Kedua, tempat ini adalah tempat yang strategis dan sulit untuk di cari. Jadi kemungkinan Yuri akan hilang sangat kecil.

“Kalian berdua… Semoga kalian tidak apa-apa” doa Yuri, tanpa sadar ia menangis–karena kedua sahabatnya itu ada dalam bahaya.

.

Malam hari menyelimuti, terlihat lebih gelap dari biasanya—karena bulan tak menyinari secara penuh.

Kedua orang ini mencari teman mereka dengan hati yang kalut—kalau boleh dikatakan. Ya, tentu saja khawatir, tapi mereka tetap menjaga agar dapat berotak dingin untuk memikirkan segala tindakannya.

Hanya dapat berharap semoga Yuri baik-baik saja—tidak, sebenarnya mereka sangat takut bila Yuri dibunuh. Namun firasat Ryosuke mengatakan Yuri sangatlah kuat. Dia kuat, dan Ryosuke percaya hal itu.

“Kau jangan terpisah.” Ucapnya pada Anna, sembari menyusuri jalan.

Mereka mengarah pada bagian timur dari area Devident. Yang dikatakan disana, terdapat bangunan tua tak terpakai. Akan mereka dekati satu per satu kemunkinan yang ada.

‘Sreek sreek’

Bunyi semak selalu memicu jantung keduanya—sangat takut bila sewaktu waktu mereka—yang merupakan incaran ini, disergap secara tiba tiba.

Sampai. Akhirnya pada bangunan tua itu. Benar benar luas dan khas, arsitektur yang kokoh. Kuat untuk ratusan tahun, namun sayang tak terawat.

Gulir mata Ryosuke terus mencari, dan memasang telinga dalam-dalam untuk setiap pergerakan suara.

“Sepertinya mereka tak disini…” Ucap Anna pelan, merasakan feelingnya—tak ada satupun pergerakan manusia disini. Mereka—Yuri dan para penyekap Devident, pasti menimbulkan suara cukup ricuh. Untuk tempat sehening ini. mustahil.

Ryosuke mengangguk.

Setelah selesai mengamati bangunan tua ini, dengan gembok rantai penuh karat yang erat tak terjamah—lapukan kayu, juga ratusan tanaman rambat yang menjulur liar dari jendela. Memang benar, disini, bahkan di dalam nampak tak ada kehidupan. Seperti sudah lama tak di pakai.

Kemungkinan selanjutnya—sekaligus presentase terbesar ditemukannya Yuri, adalah dalam penjara anak anak yang melanggar peraturan itu.

Itu berarti… Anna dan Ryosuke harus bertolak mencari, ditengah Devident dan Resident.

Yabai.. kalau Yuri saja ditangkap, berarti kita juga diincar.. doushiyou?” Anna mulai panik karena kejadian ini. Bagaimana tidak? Rencana yang awalnya baik baik saja dan berjalan lancar kini rusak. Ketiga sekawan itu harus memulai dari awal.

Malam itu di dalam hutan lebih gelap dari biasanya, ditambah–Anna dan Ryosuke sangat asing dengan hutan ini. Yang mengetahui dengan tepat peta hutan ini adalah Umika–dan Chinen mungkin.

Dou? Kita sudah berjalan sangat jauh.. bahkan perpustakaan saja sudah kita lewati.. aku lelah…” ujar Anna sambil memegangi lututnya. Ini memang sudah sangat jauh masuk ke dalam hutan, dan mereka memang tak membawa penerangan sama sekali agar tidak ketahuan.

“Ryosuke aku lel–” “ssshh” Ryosuke memberi kode kepada Anna untuk diam dan menutup mulutnya. Anna terlihat bingung.

Tiba tiba Ryosuke menariknya untuk bersembunyi di balik semak semak yang dedaunannya lebat. “ada apa…” bisik gadis yang tidak mengerti apa apa itu.

“Hora, mite..” Ryosuke menunjuk kawanan staff yang datang membawa alat alat untuk patroli seperti senter dan yang lainnya.

“Ayo ikuti mereka” Ryosuke menarik tangan Anna sambil mengendap endap–mengikuti para staff tersebut.

Hingga mereka sampai pada tangga yang turun ke bawah tanah, terlihat jelas pintu pintu besi disana. Mereka yakin, Yuri pasti disana.

.

Yuri kembali terbangun saat di rasanya secercah cahaya memantul dan menganggu retina Yuri.

Mata Yuri menyipit untuk menyesuaikan penglihatan–matanya sudah kabur karena terlalu pusing akibat sering di pukuli.

Krieet.

Pintu penjara itu pun terbuka, dan seorang dari staff tersebut jongkok di hadapan Yuri yang sedang tertidur di lantai–mengangkat tubuh Yuri lalu meraup wajahnya dengan satu tangan.

Yuri hanya bisa pasrah karena satu jam yang lalu tubuh Yuri habis dipukuli selama beberapa menit.

“Kapan kau ingin jujur?” Tanya staff tersebut–entah sudah yang keberapa kali.

Yuri hanya bisa diam, ia lelah di tanya hanya untuk hal sepele itu.

“Kenapa semua anak-anak bisa terlepas dari shinigami?” Jleb, seketika pertanyaan itu seperti menusuk dada Yuri–kenapa hal ini sampai di tanyakan kepada dirinya? Sudah pasti ada yang memberitahu.

Tapi… Siapa?

Ryosuke? Atau Anna? Tidak mungkin mereka berdua.

Pikir Yuri selama ini ia di tangkap karena pernah kepergok keluar hutan malam-malam saja, ternyata bukan itu titik permasalahannya.

“JAWAB AKU!!” bentaknya karena Yuri sedari tadi hanya diam.

“Mana aku tahu” jawab Yuri singkat, berusaha melepaskan tangan staff tersebut yang mencengkram kuat pipinya, lalu staff itu melemparkan wajah Yuri kasar.

“Ck, sayang sekali wajah manis mu itu sudah babak belur. Wajah manis tapi pikiran licik percuma kan?” Ucapnya meremehkan.

“Setidaknya hati ku tidak busuk seperti kalian” desis Yuri.

Dan.

BUGH!

“ARGH!”

Sekali lagi wajah Yuri di pukuli.

“Ini makanlah, kasihan juga kau belum makan hahahha” setelah meletakan piring di hadapan Yuri, mereka pun pergi dan suasana kembali gelap.

Demi apapun, dengan tangan di kunci ke belakang seperti ini mana bisa dia makan? Apalagi..mata Yuri sudah sangat kabur untuk melihat makanan apa yang mereka beri untuk Yuri.

“Yuri…” Seketika, ia mendengar suara Ryosuke memanggil nya tapi mata Yuri mencari kemana-mana.

.

Petugas itu telah menghilang dan berlalu begitu saja—menaiki tangga ruang bawah tanahnya dan beranjak keatas. Sementara Anna dan Ryosuke telah berhasil masuk ke bawah tanpa diketahui. Dan bersembunyi dibalik meja penjaga.

Langsung dengan segera—tanpa menimbulkan kegaduhan apapun, pemuda dan gadis ini menghampiri Yuri, temannya yang nyaris tak sadarkan diri—lagi.

“Yuri… Yuri…” julur Ryosuke, tangan kekar itu meraih kepala sahabatnya, dan mengusap pelan.

Anna pun sontak, haru. Akhirnya setelah perjalanan panjang dari hutan, ia  benar benar berhasil menemukan temannya. “Yuri sadarlah…” ucap gadis ini pelan, berusaha meraih kesadaran Yuri.

Pemuda kecil itu sedikit membuka mata… dan tersenyum lega.

“Minna…” desirnya pelan, mencoba tanpa keributan, “akhirnya…” hati Yuri kini tenang—tak hanya berhasil di temukan setelah bertubi tubi hukuman itu, namun juga senang—mengetahui temannya baik baik saja. Ancaman mereka memang palsu.

“Tapi bagaimana cara membuka… benda ini.” Anna bersi keras mengamati lubang kunci dan mencengkram kuat jeruji besi tebal itu, penjara tua.

Sementara ketiga sahabat ini ditengah paniknya mereka—karena sewaktu waktu petugas itu dapat datang kembali, maupun menggeledah penjara ini, tanpa ada tempat untuk Anna dan Ryosuke bersembunyi lagi—di tempat pimpinan, sang pelaku utama. Ternyata kembali beredar kericuhan.

“Jadi ternyata ini ulah seorang murid mencurigakan…” pria tua itu tersenyum licik.

Staff berseragam rapi nampak menghiasi pandangannya, “tapi dia tak mau jujur.”

“Kurasa bukan satu orang.”

“Murid Devident pun ada yang melaporkan, bahkan ada tiga siswa yang prilakunya janggal.”

“Namun yang kami tangkap baru satu orang.”

Sahut mereka saling menimpali, para staff itu memberikan teori konspirasi satu sama lain.

Sedangkan Ryosuke baru mengingat satu hal penting.

Kalau sampai petugas itu menyadari, dia dan Anna sudah tak ada lagi di asrama—mereka akan gencar mencari. Dan lebih mencari secara bergrilya—terutama untuk tujuan penjara bawah tanah ini. Para staff itu pasti segera terpikir kalau kedua murid mencurigakan yang tersisa, sudah bisa di duga akan menyelamatkan temannya.

Waktu mereka hanya sampai jam sekolah pagi, pukul 7.

Kalau sampai pagi itu mereka tidak ada di kelas, maka semua kecurigaan itu akan menjadi nyata. Dan Anna, Ryosuke, bahkan Yuri—akan tertangkap dengan sangat mudahnya di penjara ini. Bagai tikus bodoh yang masuk jebakan serangga.

“Ck, Sial.” Decik Ryosuke, memikirkan semua resiko itu.

“Yuri…” Anna meraih tangan sahabatnya itu sembari berpikir.

“Ah!” Ia mengingat sesuatu, Anna tadi menjepit sebagian rambutnya. Ia melepaskan jepitan itu untuk membuka gembok yang mengunci Yuri. Sementara Ryosuke hanya memperhatikan aksinya. ‘Klik’ suara gembok terbuka terdengar. “Yatta” ucap gadis yang rambutnya sekarang terurai.

“Ryosuke, kau bisa membantu Yuri kan?” tubuh Ryosuke pasti kuat untuk membantu Yuri berjalan, Anna juga akan membantu.

“Kita akan bersembunyi di perpustakaan. Disana terdapat banyak tempat yang ideal untuk bersembunyi” ujar gadis itu sambil masuk ke dalam penjara kemudian membuka ikatan tangan dan kaki Yuri.

Ryosuke mengangguk. “hayakku, kita tidak punya banyak waktu” Ryosuke mulai menggendong tubuh Yuri yang lemas tak berdaya. Sementara Anna menunjukkan jalan menuju perpustakaan.

Walaupun dalam keadaan takut. “sedikit lagi.. Yuri, bertahanlah” ucapnya. Tak lama, mereka sampai di dalam perpustakaan tepat sebelum para penjaga memulai patroli.

Mereka bersembunyi di balik rak rak buku yang sudah tua dan berdebu—bagian paling belakang.

Ryosuke dan Anna langsung merebahkan tubuh Yuri di lantai.

Di perpustakaan seluas ini, pasti petugas itu tidak akan menemui mereka yang jauh berada di belakang sudut perpustakaan.

“Ugh itte” keluh Yuri saat Ryosuke mencoba untuk menyentuh lebam yang ada di wajah Yuri dan juga memegang pergelangan tangan temannya itu.

Ironis sekali, pergelangan tangan Yuri memerah dan telapak tangannya terasa dingin–mungkin akibat terlalu lama di ikat.

“Gomenna” kata Ryosuke “gara-gara kami..”

“Iie iie” Yuri memotong kata-kata Anna yang akan menambahkan perkataan Ryosuke, ia tersenyum “ini perbuatan kita bertiga jadi aku tidak apa-apa” katanya, walau jelas sekali keadaan Yuri saat ini tidak layak untuk di katakan ‘tidak apa-apa’.

“Lalu.. Kita harus bagaimana sekarang?” Tanya Yuri, mencoba duduk tapi langsung di tahan oleh Anna dan Ryosuke, Yuri kembali tertidur dengan kepalanya ada di pangkuan Anna.

“Nanti kita pikirkan, yang penting kau sehat dulu” katanya, Yuri megangguk dan tak lama ia terpejam.

Baru kali ini Yuri bisa tertidur tenang karena teman-temannya ada di sisinya saat ini.

.

Sedangkan di tempat lain, para staff mulai kebingungan karena Yuri tidak ada di dalam penjara.

“Kemana mereka?” Tanya salah satu staff itu membentak–ia staff yang sering memarahi Yuri.

“Tidak tahu” timpal yang lain.

Baka! Jangan diam saja cepat cari!!” Suruhnya, dan sedetik kemudian mereka pun berpencar di hutan.

***

Entah sudah berapa jam mereka bertahan dalam perpustakaan itu, ketiganya.

Kondisi Yuri mulai membaik karena benar benar istirahat total, setidaknya dalam perpustakaan ini sunyi, jarang lewat penjaga bahkan jarang dijaga, karena sangat rahasia. Hanya segelintir orang yang tahu. Kondisi Yuri, secara fisik memang membaik—namun sebenarnya tidak. Bukan juga memburuk, Anna juga Ryosuke pun ikut merasakannya. Ketiga siswa ini bahkan belum makan sedikitpun sejak kemarin. Mungkin dua hari yang lalu, terakhir kalinya mereka menyicipi sesuatu didalam kerongkongan itu.

Tak bisa berdiam diri. Ryosuke kembali berpikir sesuatu—ia harus memiliki persediaan makanan. Mereka harus makan. Teman-teman berharga nya, terlebih Yuri yang membutuhkan kesadaran. Meski mata pemuda ini sebenarnya telah lelah. 24 jam terjaga demi mengawasi teman-temannya. Sesekali Anna tertidur, dalam memangku Yuri. Dan teman kecilnya itu memang banyak beristirahat.

Ryosuke memikirkan siasat, bagaimana dia bisa melepaskan pandangan dari teman-temannya, sekaligus menyelinap keluar mengambil air maupun buah yang ada, untuk kembali di bawa ke dalam.

Setelah dipikir matang-matang, saat yang tepat adalah pagi. Karena malam terlalu beresiko, banyak sekali penjagaan secara grilya. Sementara pagi, dari senja, mereka mulai melemah dan berkurang untuk pergantian giliran dengan penjaga lainnya maupun yang telah lelah beristirahat.

Setelah berjam-jam menunggu dan dirasa Ryosuke ini sudah pagi, ia pun mencoba untuk pergi. “Tunggu disini ne, aku akan kembali.” Seraya memberikan sebuah pamitan bersuara pelan—pada Anna dan Yuri yang tertidur. Penuh harap, saat ia pergi, penjaga tak akan menemukan mereka.

Anna yang setengah tidur itu terbangun saat mendengar kata-kata Ryosuke “Ryosuke mat–” belum sempat melanjutkan kalimatnya, Ryosuke sudah pergi meninggalkan Anna dan Yuri.

Mata Ryosuke melihat kekanan dan ke kiri, dalam tempo cepat—dan sekiranya telah aman, ia mulai berlari tanpa suara.

Menyelinapkan tubuhnya dalam tembok batu bata besar, ketika mendengar derap langkah.

Sepanjang koridor perpustakaan besar itu, yang ada hanyalah obor. Tak peduli hari itu siang—atau malam, didalam perpustakaan selalu sama. Gelap. Tertutup dari dunia luar.

Pemuda ini kembali melangkah, dalam balutan pakaian yang telah kotor—debu dan pergerakan aktif dua malam terakhir, hingga merangkak di lantai ia lakukan. Namun seketika Ryosuke mendengar suara aliran air. Benar benar tak jauh dan masih dalam lingkup perpustakaan—tepatnya di tengah gedung, namun seperti masuk dalam suatu pintu berantai besar.

Laki laki ini berdiri tegap memandang lilitan rantai itu. Dan meyakinkan dirinya untuk mencoba masuk—beruntung, tidak dikunci.

Ryosuke melihat keseluruhan ruangan yang ada di dalam—lebih tepatnya seperti terowongan tembus untuk ke suatu tempat—suara air semakin dekat, itu artinya ia tidak salah memasuki ruangan. Namun daripada disebut sebagai ruangan, terowongan ini nampak seperti goa. Penuh batu alam. Terowongan rahasia.

Masih tetap melangkah, semakin dalam terasa semakin lembab. Dan suara air cukup besar—layaknya terdapat air mancur atau terjun, dan semacamnya. Tapi kenapa di tempat seperti ini? Kenapa pintu di beri pengamanan, rantai?

Lima belas menit berjalan masuk melalui terowongan sempit, dalam rute yang sepertinya cukup panjang—akhirnya pemuda ini menemukan tebing besar, tepat dibaliknya terdapat kolam bebatuan dan air terjun kecil. Namun aneh… iris mata pemuda ini terkejut.

Seperti tempat pemujaan.

.

Saat ini, hanya Anna yang terjaga. Yuri masih beristirahat karena tubuhnya memang sangat lelah.

Dalam ketakutan, gadis itu terus mencoba untuk tenang, berharap tak akan ada yang menemukan mereka saat Ryosuke tidak ada.

Namun kemudian..

“Bagaimana dengan bangunan perpustakaan ini? Mungkin saja dia bersembunyi didalam” suara yang kemungkinan adalah staff itu terdengar tidak jauh.

‘Yabai…’ batin Anna. Panik, takut–segalanya bercampur aduk menjadi satu. “Yuri.. Yuri okite…” bisiknya sambil sedikit menggoyangkan badan Yuri.

“Ada apa?” Tanya Yuri dengan suara yang sangat pelan. “kita harus pergi dari sini” kemudian Anna langsung membantu Yuri untuk berdiri, dan mencari tempat aman.

Karena tubuhnya yang kecil, Anna membopong Yuri dan berjalan sedikit lambat karena tubuh Yuri yang berat.

“Ryosuke tasukete..

Mata gadis ini terus melirik kesana kemari, mencari celah agar mereka berdua dapat bersembunyi. Tak beberapa lama, matanya menangkap sebuah pintu tua yang dihiasi rantai berkarat.

“Aku tau kita harus kemana, Yuri. Ayo sedikit lagi” ucap gadis itu sambil terus berjalan dan membopong tubuh Yuri.

Suara langkah kaki terdengar memasuki ruangan perpustakaan. “coba kalian cari didalam” kata salah satu staff dengan suara yang cukup keras.

Pintu itu terbuka, ‘syukurlah’ Anna langsung membawa Yuri masuk ke dalam pintu itu dan langsung menutupnya rapat rapat–dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara.

Setelah masuk, Anna kembali membopong Yuri untuk menuruni anak tangga itu. Ruang bawah tanah. Sama dengan di atas, disini sangat gelap dan hanya dihiasi dengan obor obor kecil.

“Nani kore?” Mata Yuri bergulir melihat kesekeliling nya, tapi ia tak tahu apa yang ada di sekitar, matanya begitu kabur apalagi dengan cahaya yang sangat pudar ini.

Mou Anna, aku rasa kita harus kembali keluar dari sini, rasanya sesak” kata Yuri kepada Anna yang merangkul tangannya, lalu mengangguk dan naik untuk memeriksa keadaan di luar.

“Sudah aman, ayo kita keluar lagi” kata Anna, ia kembali turun dan membantu Yuri untuk naik dan keluar dari pintu itu, dan baru sadar kalau Ryosuke tidak ada di antara mereka.

“Ryosuke…doko?

“Katanya mau mencari makan dan minuman” kata Anna sambil menuntun Yuri untuk duduk di lantai lalu menyandarkan tubuh pria itu perlahan, dan ia duduk di sebelah Yuri.

“Eh? Souka… Tapi di luar bahaya Anna, bisa saja nanti dia bertemu dengan staff-staff itu lalu…”

“Sstt Ryosuke pasti akan baik-baik saja…” Kata Anna menenangkan Yuri.

Walau, hati gadis itu tak kalah khawatir seperti Yuri.

Keheningan kembali menyelimuti mereka, Yuri dan Anna kembali akan terlelap, tapi seketika mata Yuri terbuka dan menangkap sebuah buku tebal, berdebu dan…sangat kotor.

Apa itu buku penting?

“Anna…” Tangan Yuri mengguncang tangan Anna dan membuat gadis blasteran itu terbangun.

“Nani?” Anna mengucek matanya.

“Buku apa itu? Coba ambil” kata Yuri, rasa penasaran akan isi pada buku itu membuat Yuri ingin mengambilnya tapi tubuh pria itu masih terlalu lemah untuk banyak bergerak.

.

Melangkah mendekati sumber air—kolam itu, dengan air terjunnya. Dan memperhatikan. Goa itu seketika sejuk, sangat sejuk. Layaknya ada seseorang yang melindungi disini.

Tanpa ia sadari, salah satu arwah tengah tersenyum. Bahkan terperangah. Sosok yang baru saja memasuki ruangan ini—Ryosuke, di nilai sangat baik olehnya. Siapa dia?

Mendekat ke arah air itu, ia terkejut, air yang ia lihat berwarna kebiruan. Sangat jernih, benar benar baru kali ini Ryosuke melihat air sejernih itu—namun ia mulai ragu akan air ini. Pertama, ia menciumnya, menghirup dan memastikan tak ada bau mencurigakan apapun. Ternyata memang tak ada, bahkan aromanya khas sekali seperti jasmine.

Kemudian mencoba mengambil sedikit air itu dalam cakupan tangannya, benar benar sedikit, ia cicipi untuk memastikan apakah ini aman atau tidak—sampai ia berikan kepada temannya.

Satu teguk. Dua teguk, yang berhasil ia peroleh dari tangannya—dan luar biasa. Betapa terkejutnya Ryosuke saat menyadari seketika sakit tubuhnya telah hilang, lelah yang ia rasakan, juga perih di tenggorokan. Semua benar benar tak terasa kali ini—menghilang begitu saja. Ini bukan air jernih biasa.

Pemuda ini mencari sebuah wadah, yang bisa ia pergunakan untuk menampung air demi ia berikan pada temannya. Menemukan sisa-sisa batok kelapa. Kemudian ia bersihkan semua serabut itu, dan basuh agar tercuci. Satu wadah berisi air kebiruan ini, akhirnya selesai ia tempatkan. Ryosuke melangkah keluar tanpa pikir panjang lagi.

Namun langkahnya terhenti.

Seketika seorang pria paruh baya menyambutnya—nampak datang dari arah yang berbeda, tidak melalui pintu masuk tadi melainkan arah lebih dalam dari goa. Seperti ada tembusan, kearah suatu tempat. Terdapat dua pintu, atau mungkin lebih—Entah lah.

Well well, lihat siapa yang menghampiri.” Melangkah dalam balutan jas rapinya, seperti tuan dari sesuatu. “Kenapa kau sampai ke tempat ini, bocah? Hebat sekali.” Ia terkagum, tak pernah ada yang berhasil menemukan tempat pemujaannya ini. Tak seorangpun, bahkan para petugas itu. Tidak juga staff maupun tangan kanan nya sekalipun.

Ryosuke mengerutkan dahinya. Ada yang aneh…

Saat pria dihadapan nya memasuki ruangan ini seketika semua terasa panas. Sama sekali berbeda dari sejuk yang ia rasakan saat dirinya masuk.

Pria senja ini terus mendekat—seraya Ryosuke yang sedikit demi sedikit mundur, penuh kewaspadaan.

“Apa kau satu dari tiga siswa pemberontak itu?” Lanjutnya, “ah, sepertinya benar. Bahkan kau berhasil menemukan tempat seperti ini. Aku kagum, anak muda.”

Semakin mundur, hingga kaki Ryosuke kembali menyentuh tepian yang tadi ia wadahkan airnya. Betapa terkejutnya dia, saat menoleh. Keanehan terjadi lagi. Air yang tadi tampak biru entah kenapa sekarang seperti darah. Air apa ini sebenarnya? Tidak. Ruangan apa ini sebenarnya?

Seperti dapat berubah, berganti dalam waktu cepat. 180 derajat berbalik begitu saja. Ada suatu rahasia dibalik semua ini.

“Jangan sentuh air itu, dapat menjadi mematikan. Terlebih bila kau meminumnya.” Pria ini tersenyum puas, menjelaskan.

Apa? Mengapa seketika menjadi air beracun?

Padahal tadi air penyembuh, yang bahkan sempat Ryosuke cicipi sendiri.

Semua ini aneh.

Semakin terdesak, kondisi Ryosuke saat ini. “Apa mau mu?”

“Wah, tak sopan sebenarnya bertanya begitu saja pada orang yang lebih tua, anak muda. Terlebih ini tempatku, seharusnya aku yang bertanya.”

Ryosuke benar benar tak ingin membuang waktu, teman temannya membutuhkannya dalam waktu cepat.

“Tempat seperti apa ini?” Tanya Ryosuke kembali, yang tak kunjung mendapat jawaban pada pertanyaan sebelumnya.

“Ini bukan tempat biasa. Kau bisa merasakannya?” Pria senja yang tak diketahui namanya ini, sekali lagi terkagum pada kepekaan indera Ryosuke. “Bila kau memasuki ruangan ini dengan niat yang baik, makan aura sejuk dan air penuh manfaat yang akan kau terima. Bila kau memasukinya dengan penuh kedengkian, emosi, dan amarah mendalam, maka panas luar biasa dan air mematikan yang akan muncul. Merah. Semakin merah, bila semakin dalam amarahmu. Seperti darah.” Jelasnya, dengan santai.

Pantas saja, bila pria ini yang memasuki, seketika aura berubah tak menyenangkan. Ternyata itu istimewa ruangan ini.

“Memasuki goa yang kau pijak ini, bagaikan memasuki hatimu sendiri. Bila hatimu bersih, yang kau dapati adalah ketenangan. Bila hatimu kotor, maka kau akan memasuki ruangan penuh malapetaka.” Memanjangkan tangannya, seraya meraih sesuatu. “Kau lihat? Di tanganku terdapat aura hitam. Ini induk shinigami, induk kekuatan dari ratusan shinigami yang kubagikan kepada kalian—” kemudian meremasnya kuat. “Yang telah kalian musnahkan.”

Tidak main main, ternyata inilah dalang dari semua kekejaman itu. Sang kepala yayasan, gila.

Kembali menyambung ucapannya, “Teman teman mu pasti disekitar sini kan?” Tersenyum licik.

“MAU APA KAU? JANGAN SENTUH MEREKA!” suara Ryosuke meningkat emosi, air dalam wadah kelapa pada tangannya nyaris berubah warna—sepeka itu air ini pada perubahan hati manusia.

Jelas saja Ryosuke marah, sangat khawatir akan sahabatnya yang susah payah ia jaga.

“Baiklah begini saja, langsung ku ungkapkan. Aku tertarik pada kemampuan dan keberanianmu. Bergabunglah dengan ku, dengan kami. Maka kau akan dapat segalanya.” Tawar pria ini, “namun… bila kau menolak, tahu sendiri akibatnya. Teman teman mu tak akan selamat, dalam waktu singkat.” Merasa puas berhasil memojokan Ryosuke secara psikis.

Kali ini benar benar dihadapkan pada pilihan yang berat.

Tapi, secepat kilat Ryosuke menjawab, “aku setuju.”

Pria itu nampak senang.

“Tapi dengan syarat lain. Kalau aku bergabung, kau akan memberikan kesembuhan bagi teman temanku, menempatkan mereka pada tempat yang layak dan mendapat perawatan maksimal. Kembali ke Resident, dalam fasilitas yang memadai.” Lanjut Ryosuke, “aku ingin mereka aman.”

Syarat yang nampak mudah untuk dipenuhi pria ini—penguasa segalanya, dalam permainan disini.

“Tentu saja. Itu bukan masalah.” Sambut nya bangga.

Ryosuke pun melemah, mendekat dan mengikuti semua perintahnya.

.

Anna mengambil buku yang dilihat Yuri, kemudian kembali duduk di sebelahnya–membuka buku tersebut.

Kertas yang berwarna kekuningan serta tulisan yang hampir pudar–termakan oleh waktu. ‘Roh jahat’ tertulis di halaman pertama buku tersebut. “Buku apa ini?” Tanya Anna pada sahabatnya.

Buku itu berisi tentang asal usul, kekuatan, bahkan jenis-jenis roh jahat, termasuk shinigami. Sayangnya, halaman tentang cara menghapus roh jahat sudah dirobek. “Nani?.. siapa yang merobeknya?” Kedua orang ini saling bertatapan.

Matte, dimana Ryosuke?” Tanya Yuri tiba-tiba, membuat Anna teringat pada nya. “Iya ya, dia lama sekali” Anna sedikit berpikir, kemana Ryosuke kira kira? Setelah berpikir makin jauh, ia jadi khawatir.

“Aku akan mencari Ryosuke” ucapnya spontan dan langsung beranjak dari tempatnya–membuat buku yang ia pangku terjatuh.

Belum sempat ia berlari untuk mencari, sosok yang dikhawatirkan akhirnya datang. “yokatta Ryosuke kau–” kalimatnya terhenti ketika melihat dua penjaga datang bersama Ryosuke.

Anna terdiam, memperhatikan Ryosuke baik-baik. Ada yang aneh dengannya. “Yuri kita harus pergi” kemudian membantu Yuri untuk berdiri dan mulai berjalan–berusaha lari dari para penjaga itu.

“Anna. Sudahlah” ucap Ryosuke dengan sangat dingin. “Na-nani?…” tiba tiba seorang staff menggendong tubuh Yuri yang tadi dibopong oleh Anna.

Ma-matte! Jangan sentuh temanku!” Anna berusaha menarik tangan penjaga itu, tapi percuma. “Ryosuke! Bantu aku!”

Ryosuke hanya terdiam sambil sedikit menunduk. “Oi Ryosuke! Katakan sesuatu!” Anna berteriak. Kali ini ia benar benar tidak mengerti apa yang terjadi pada Ryosuke. Padahal selama ini Ryosuke yang selalu menyemangati kedua temannya untuk selalu bersemangat dan tidak menyerah. Dia juga yang selalu melindungi Anna dan Yuri.

“Ryosu–” – “Sudahlah Anna! Turuti saja apa yang mereka bilang!” Ryosuke membentak Anna, ia benar benar berubah menjadi sosok yang berbeda dari yang sebelumnya. ‘Apa dia sudah menyerah? Atau dia mengkhianati aku dan Yuri?’ Batin Anna. Ia hanya bisa terdiam–membiarkan airmatanya keluar.

Ryosuke adalah Sahabat–bahkan lebih dari itu untuk Anna, dan sekarang Ryosuke justru menyuruh Anna untuk menyerah–pasrah akan keadaan.

Anna masih terdiam sampai seorang staff menepuk bahunya–mengisyaratkan dirinya untuk mengikuti penjaga lain di depan. Sementara Ryosuke masih dalam posisi yang sama dengan saat membentak Anna.

Ditengah perjalanan, penjaga yang membawa Yuri itu memisahkan diri. “Ch-chotto! Mau kau bawa kemana dia?!”

“Sudahlah nona, kau akan bertemu dengannya nanti”

Kemudian penjaga tersebut membawa Anna ke asrama kecilnya. “bereskan barangmu dan barang temanmu” ucap penjaga itu–sangat singkat.

Anna hanya bisa menuruti perintahnya. ia membereskan barang barangnya dan juga barang milik Yuri. ‘Apa barang Ryosuke harus kubawa juga?’ Ia menunduk, mengingat tatapan dingin Ryosuke tadi. Selang beberapa detik, Anna menghembuskan napas dan mengambil tas Ryosuke–membereskannya.

“Sudah, nona?” Tanya penjaga tadi. “U-un…” jawab Anna yang sudah membawa tiga buah tas.

Kemudian sebuah tangga dari arah atas turun didekat posisinya saat ini. “naiklah.” Kata penjaga itu. “kau akan kembali Residents” lanjutnya.

‘Residents? Nande? Yuri wa? Ryosuke wa? ….’ otaknya terus bertanya, dan dengan pasrah, Anna menaiki tangga itu perlahan dan duduk dengan tenang di dalam helikopter sendirian. Walaupun hati gadis itu sebenarnya ketakutan.

.

Tubuh Yuri di gendong oleh salah satu staff yang datang bersama Ryosuke barusan, entah kenapa ia tak merasa begitu gelisah mungkin karena mereka datang bersama Ryosuke atau bagaimana–yang pasti Yuri tak merasakan gelisah sedikit pun.

Kini, mereka sampai di ruang kesehatan.

“Aku mau di bawa ke mana?” Tanya Yuri dingin, begitu tubuhnya di dudukan di sebuah kursi roda dan tangannya di pasang infus–sangat terbalik dengan kejadian yang ia alami beberapa jam yang lalu.

“Kami akan membawa ke suatu tempat, tenang kau akan baik-baik saja” ujar staff tersebut. Apa mau di kata Yuri hanya bisa mengangguk dan menurut dengan apa yang mereka lakukan pada tubuh Yuri.

Mulai dari mengobati luka Yuri, membalutnya dan terakhir ia di tuntun untuk masuk ke sebuah mobil.

Mobil besar itu melaju perlahan, Yuri hanya diam sambil memandangi jalan dengan tatapan kosong dan tak lama gerbang Resident ada di hadapan mobil yang Yuri tumpangi.

“Resident?” Tanya Yuri, namun pria itu hanya seperti berbicara dengan patung–tak ada respon sama sekali.

Hingga akhirnya, mereka sampai dan Yuri kembali di dudukan di sebuah kursi roda, mengantarkan pria itu ke depan asrama Rose.

Chotto….sebenarnya kenapa jadi aneh seperti ini? Pikir Yuri.

Kursi roda Yuri pun di dorong masuk ke dalam sana.

“Anna?” Panggil Yuri–wajahnya masih memasang raut penuh tanda tanya, mencoba untuk mendapatkan jawaban dari gadis itu.

Tapi sepertinya Anna juga tak punya jawaban.

To Be Continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s