[Oneshot] Earphone

Earphone

by. magentaclover

Genre : Romance

Rating : PG-13

Cast : Nakajima Yuto (Hey!Say!JUMP), Kiyoshi Harumi (OC)

 

Senja hari ini nampak mendung ketika aku melihat bayanganmu yang terpantul nyata. Jalanan beraspal ini pun nampak lurus seperti rambut panjangmu yang terurai indah. Apa kau pikir aku dapat melupakanmu? Senyuman itu? Tawa itu haruskan kuhapuskan begitu saja? Saat itu tak bisa dan sekarang pun sama adanya. Aku memang bukan siapa-siapa bagimu, namun kau sangatlah spesial bagiku.

Kau… apa kau tahu alunan musik ini membawa nostalgia saat bersamamu?

Aku merasakan genggaman tanganmu itu secara nyata—di sini, ketika kudengarkan musik yang sama seperti hari yang lalu. Kau… kau yang saat itu bersamaku menatap musim panas yang indah. Kuingat itu selalu, hari dimana aku jatuh ke dalam perasaan ini. Aku yang menyukaimu, tentu saja diriku yang tak sebanding dengan sosok itu. Aku di sini mencintaimu dan kau bersamaku dengan cintamu untuk sosok lain. Aku tahu itu.

Diriku di sini mengerti bahwa lagu itu hanya mempertemukan kita, bukan menyatukan hati ini. Apakah spekulasiku salah? Apakah suatu kejahatan bagiku jika tak bisa melupakanmu? Begitukah?

***

Dalam hariku di sini selalu ada cerita dimana dirimu yang memonopoli segalanya. Cerita itu tentang sebuah tatapan yang jatuh padamu—dari diriku yang diam di sini. Air kolam renang yang biru sedikit membuat kedua kakimu dimanjakan bukan? Kau nampak bahagia di sini ketika kau mainkan air itu. Lagu itu terdengar nyata ketika kau membagi earphonemu padaku. Alunan itu hanya kita yang mendengar bukan? Rasanya seperti hanya berdua saja di dunia ini. Tempat dimana hanya ada aku dan dirimu.

“Kupikir kau tahu lagu ini,” suaramu terucap di sana dan aku hanya dapat menggelengkan kepala karena sungguh aku tak berbohong ketika aku berkata tak mengetahuinya.

“Aku tidak tahu karena menurutku tak seharusnya aku mendengarkan lagu ini.”

“Eh? Kenapa?”

Kau menatapku ya, tatapan penuh tanya bercampur rasa penasaran. Sangat manis.

“Karena kupikir tak akan cocok di telingaku.” Jawabku, dan di luar dugaan kau terkekeh pelan di sana.

Kau menatap langit biru itu, tersenyum seraya mengulurkan tanganmu pada langit musim panas yang jauh. “Kau terlalu pemilih,” ucapmu. “Setiap melodi memiliki arti masing-masing bukan? Saat kau sedih dan saat kau senang apakah kau mendengarkan melodi yang sama? Dan di sini… saat kau jatuh cinta haruskah kau selalu mendengarkan lagu bahagia?”

Beberapa saat aku hanya diam, tentu saja masih menatapnya penuh tanya. Jatuh cinta ya, entah mengapa aku merasa tak begitu peduli dengan hal tersebut. Apakah selama ini aku sudah benar-benar mencintai seseorang? Ataukah aku terlalu pasif untuk hal-hal seperti itu? Di sini untuk siapakah cintaku? Apakah gadis yang kucintai nanti akan berbalik mencintaiku sehingga selalu kudengarkan lagu bahagia seperti yang kau katakan?

“Jatuh cinta itu tak selalu membahagiakan,” kau tersenyum, namun kutahu hatimu sebaliknya. “Cintamu akan sia-sia saja jika yang kau cintai tak membalas perasaanmu. Saat itulah melodi sedihmenjadi background kisah cintamu. Benar ‘kan?”

“Jadi, lagu sedih ini untuk kisah cintamu?”

Kau mengangguk, “Ya, kisah cintaku yang kusadari tak akan pernah sampai padanya.”

“Kalau kau mencintainya maka kau harus mengejarnya bukan?” aku tak mengerti mengapa aku mengatakan hal itu padamu. Sungguh.

Untuk sesaat kau menatapku tak percaya, hingga kemudian terkekeh karena hal implisit yang tak kuketahui. “Apakah wajar mengejar seseorang yang telah menjadi milik orang lain?”

“EH?”

“Aku menyukainya… dirinya yang bersama sahabatku.” Kau bergumam dengan senyuman itu. “Apakah ini sebuah kejahatan?”

Andai aku pernah benar-benar jatuh cinta pada seseorang pastilah aku akan mencoba menjawabnya. Sayangnya aku tak pernah benar-benar merasakan hal tersebut. Aku tak tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang telah menjadi milik orang lain. Di sini aku tak mengerti bagaimana perasaanmu yang selalu menatap kedua orang itu dalam diam. Rasanya sesakit apa? Begitu menyiksakah perasaan itu?

“Aku baik-baik saja…” kau tertunduk dan tentu saja aku hanya dapat menatapmu dengan diamku. “Ini tak apa-apa selama aku masih bisa melihatnya. Mungkin.”

Mungkin. Apakah tidak ada kebohongan di sana? Raut wajahmu mungkin saja sedang menutupinya, namun hatimu tak bisa melakukannya bukan? Rasanya pasti tak bahagia. Perasaan yang tertahan itu pasti menyakitkan jika terus menjadi rahasia. Aku hanya menebak saja memang.

“Kau memang tidak bisa memilikinya,” aku masih menatap sosoknya yang kini masih tertunduk. “—tetapi bukan berarti kau tak bisa mengungkapkannya bukan?”

Di sini entah mengapa telapak tanganku dengan ringan terulur ke arahnya. Kuacak lembut helaian rambut hitam itu. Percayalah hal ini terjadi secara tiba-tiba tanpa kuketahui apa sebabnya. Sosokmu pun nampak terkejut di sana, aku tahu itu hanya dari caramu menatapku. Apakah aku salah jika aku melakukan hal tersebut padamu? Apakah dengan mengusap kepalamu bisa membuatku jatuh cinta padamu?

Arigatou, Yuto-kun…”

***

Ini adalah sebuah kisah tentang dirimu dan diriku yang sejak saat itu semakin dekat. Kau memang belum mengatakan pada sosok itu jika kau menyukainya. Kau hanya mengatakan padaku jika dirimu tengah menunggu saat yang tepat untuk mengatakannya. Kau yakin jika kau akan mengungkapkannya suatu saat nanti. Kemudian aku pun semakin terlarut dalam senyumanmu di sini. Mungkin aku mulai menaruh rasa padamu. Mungkin saja kisahnya akan serupa dengan kisahmu ya.

“Hari ini sibuk tidak?” kau bertanya padaku yang kini baru saja memulai waktu piketku.

“Tidak sih,” jawabku seraya menghapus tulisan demi tulisan di papan tulis tersebut. “Ada apa?”

“Temani aku yuk!” ucapmu antusias.

Sejenak aku pun menatap bingung senyuman itu. Sebenarnya dirimu ingin pergi kemana sampai-sampai sebahagia itu? Apakah ada kedai makanan baru di sekitar sini sehingga kau berniat untuk mengunjunginya? Atau kau ingin membeli gantungan kunci baru untuk tasmu? Ah, rasanya aku terlalu mengetahui dirimu karena sejujurnya aku memang mulai sering memperhatikanmu. Apakah semua itu berlebihan?

“Aku ingin makan es krim! Menurut temanku, es krim di dekat persimpangan jalan itu rasanya sangat enak.” Kau semakin antusias di sini. “Kau harus temani aku, oke?!”

“Bukannya es krim rasanya sama saja ya?”

“Ayolah… onegai!”

Seperti pemaksaan memang, namun aku mengangguk dan mengiyakan hal tersebut. Bodoh.

“Tunggu aku lima belas menit.”

“Oke!”

….

“Waaa… oishiiii!” kau sangat bahagia ketika memakan es krim itu. Bagiku seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru. “Terima kasih sudah mau menemaniku.”

“Sebenarnya aku tidak mau,” gumamku jujur saja. “Sayangnya kau seolah memaksaku, Harumi.”

“Hahaha, gomen. Entah mengapa aku ingin mengajakmu karena rasanya menyenangkan saat seorang Nakajima Yuto berada di sampingku.” Kau berucap demikian tanpa tahu bagaimana perasaanku telah berubah karenamu.

“Jangan terlalu sering bersamaku.”

“Eh? Kenapa? Salah ya?”

Aku mengangguk sejenak. “Mungkin akan menjadi sangat salah jika salah satu dari kita mulai memiliki perasaan yang tak seharusnya. Mungkin teramat salah nantinya jika aku jatuh cinta kepadamu.”

Detik berikutnya kau diam tanpa menatapku. Mungkin kau tak suka dengan perkataanku, benar ‘kan? Mungkin bagimu perasaanku ini terlalu asing sehingga kau akan mengacuhkannya di hari-hari yang akan datang. Kemudian kau akan menjauhiku. Ya, mungkin saja begitu.

“Hei,” panggilmu. “Sejujurnya aku sangat senang jika kau benar-benar menyukaiku, namun…” kau menatapku dalam dengan sebuah senyuman yang sangat samar. “—sulit bagiku untuk memiliki perasaan yang sama.”

“Santai saja, toh aku hanya berucap saja. Perasaanmu adalah milikmu, kau berhak menyukai siapapun dan aku pun demikian.”

Gomen ne, Yuto-kun…”

Daijoubu, hahahaha.” Aku tertawa di sana karena sesungguhnya hatiku sudah menebak kata-kata itu. Aku baik-baik saja selama bisa menatapmu di sini. “Namun jangan salahkan aku jika perasaan itu akan susah hilangnya.”

“Hatimu adalah milikmu dan kau berhak menuliskan nama siapapun di sana, berapa lama pun itu. Benar ‘kan?”

Aku mengacak rambutnya pelan. Gadis yang kusukai—yang sangat manis tentu saja. Ini adalah cinta pertamaku dengan dirimu yang menyukai sosok lain. Aku masih tak apa-apa hingga detik ini. Kuyakin selamanya akan selalu kuingat senyuman itu. Entah sampai kapan—dimana pun itu. Kau, Harumi… senyumanmu membuatku jatuh terlalu dalam seolah lupa jika perasaan ini tak terbalas.

***

Setiap detik di sini terasa begitu lama memang. Aku hanya melihat jalan yang sedikit basah akibat hujan gerimis beberapa saat lalu. Kaca bus ini pun nyatanya berembun ketika kusadari ada bayangan dirimu yang terpantul. Aku tak tahu pasti apakah ini adalah khayalanku yang merindukanmu ataukah kenyataan yang tiba-tiba. Dari sini aku melihatmu, dengan keterkejutan yang nyata aku pun menatap lagi wajah itu setelah beribu-ribu menit kita tak saling berjumpa.

“Lama tak bertemu ya, Yuto-kun…” kau di sana dengan terusan panjang berwarna pastel. Sangat manis ketika rambut sebahumu terurai nyata. “Masih ingat denganku ‘kan?”

Aku mengangguk, tentu saja kau tak akan pernah terlupakan walau saat itu telah berlalu terlalu lama. “Harumi,” gumamku. “Kenapa kau—”

“Aku tidak sengaja melihatmu ketika memasuki bus ini dan kuputuskan untuk menghampirimu.”

Souka,” aku mengalihkan pandanganku ke sekeliling bus ini. Terlalu sepi, bahkan sangat sepi ketika menyadari hanya dirimu dan diriku serta dua orang remaja SMA yang berada di dalamnya.

“Ngomong-ngomong kau turun dimana?” tanyamu.

“Halte selanjutnya. Kau sendiri?”

“Sama denganmu.” Kau tersenyum lagi. Apa kau tidak tahu aku sudah hampir gila dengan keadaan ini? Perasaan itu masih di sini dengan sosokmu yang kembali hadir. Sebuah tanya pun tiba-tiba saja muncul tentang perasaanmu pada sosok yang lalu itu. Bagaimana? Apakah masih sama?

Sayangnya, dimenit-menit berikutnya kami hanya terdiam canggung. Tentu saja keadaan ini tak asing bagi dua orang yang sudah lama tak berjumpa. Dahulu kita memang selalu tertawa bersama, menaiki sepeda yang sama dan pergi makan bersama tanpa canggung walaupun kau tahu aku menyukaimu. Aku tahu sulit bagimu ketika mengetahui perasaanku, namun aku salut padamu karena kau tidak mencoba menjauhiku.

Ano… Harumi,”

“Hmm?”

“Bagaimana dengan dirimu?”

Kau menatapku bingung, tentu saja aku pun bingung dengan ucapanku. “Apanya?”

“Itu… tentang hatimu,” gumamku sedikit ragu. “Apa kau masih menyimpan nama itu? Ah, kalau kau tak mau menjawabnya tak apa sih. Anggap saja pertanyaanku itu hanya angin yang lewat.”

Kau terkejut untuk menit berikutnya. Mungkin aku harus meminta maaf padamu karena telah berkata demikian. Aku salah karena membahas kisah yang lalu itu dan mungkin kau tak mau lagi mendengar masa lalumu. Namun di sini aku masih terjebak dengan masa laluku bersama dirimu yang sejak dahulu mengisi ruang hatiku ini.

“Aku tidak menyangka kau masih mengingatnya.” Kau mulai berucap di sana. Matamu menatapku kala itu, sebelum aku mengalihkan pandanganku darimu tentu saja. “Aku mulai melupakannya ketika aku berhasil mengutarakan perasaanku pada sosok itu. Aku tahu akan penolakan itu dan aku menerimanya dengan segera. Tak terlalu buruk untuk kisah cinta di masa SMA.” Kau terkekeh pelan dengan diriku yang sedikit bingung karena ucapanmu.

“Kapan kau mengutarakan perasaanmu?”

“Saat kau tiba-tiba saja pergi setelah upacara kelulusan.” Kau tertunduk dengan diam yang cukup mengganggu. “Saat itu pun aku tahu bagaimana rasanya kehilangan. Aku sadar siapa yang membuatku merasakan cinta.”

Kau menatapku. Benar. Kenapa tatapan itu membuatku bertanya-tanya tentang kisah cinta yang lalu? Apakah bisa aku berharap memilikimu? Sungguh aku tak yakin dengan semua ini.

***

Untuk cintaku di masa lalu, mengapa kau tak kunjung hilang walau hujan sekalipun? Di sini aku membuka payung beningku untuk kita berdua. Sesaat tadi kau cukup panik kala tak membawa payung dan gerimis masih menari-nari di sana. Aku mengajakmu dengan niatan bersamamu lebih lama dan ajaibnya kau mengiyakannya. Aku sangat senang tentu saja, kala kau dan aku berjalan bersama di bawah payung yang hanya membisu.

Kau tahu aku ingin memelukmu? Apa kau tahu aku ingin memilikimu? Dan pertanyaan itu selalu muncul ketika aku mengingat hal tersebut dalam hatiku. Hari itu, ketika aku pergi dari hadapanmu apakah ada rindu yang tertinggal? Apakah orang yang membuatmu merasa kehilangan adalah aku? Apakah aku salah dan terlalu berharap akan kebenaran spekulasi itu? Namun aku ingin kau mengangguk dan mengiyakan segalanya. Aku masih menginginkan dirimu—kau yang datang dari masa lalu.

Etto—apa ada yang salah denganku?” kau bertanya kikuk, “—itu… kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Eh?!”

Sungguh, dalam nyata ini aku pun tak sadar jika tengah menatapmu terlalu lama di sini. Rasanya malu ketika menyadari hal tersebut. Baik diriku maupun dirimu seraya mengalihkan pandangan entah kemana. Wajahku sedikit memerah di sini dan kulihat sekilas wajahmu pun serupa.

Gomen,” aku berucap tanpa berani menatapmu. Aku pun kikuk di sini.

“Umm…”

Bagaimana ini? Kenapa menjadi secanggung ini? Apakah tidak akan pernah ada kemajuan baik di masa lalu atau di masa kini? Apakah sang cupid tak berniat memanahkan cinta itu sekali lagi? Apakah diriku sudah tak diberikan kesempatan untuk mengutarakan perasaan itu sekali lagi? Seperti orang bodoh saja. Sungguh.

….

Kita masih bersama di tempat ini, terdiam memandang langit setelah hujan gerimis. Aku mengeluarkan earphone itu dalam nyataku, seperti nostalgia memang ketika aku selalu mendengarkan lagu yang lalu itu untuk mengingat bagaimana kisah cintaku. Di sini kau pun menatap bingung ketika aku hanya diam menikmati melodi yang mengalun dari earphone tersebut. Sejak saat itu aku mencoba mendengarkan melodi baru di setiap langkahku. Tentu saja melodi yang kuketahui dari sosokmu.

“Aku selalu mendengarkan lagu ini,” gumamku seraya tersenyum lurus. “Aku pun ingat perkataanmu di hari yang lalu bahwa tak selalu jatuh cinta itu membahagiakan. Pastilah ada cerita sedih di sana ketika cintamu tak terbalas.”

Kau menatapku—lagi-lagi terkejut dengan perkataanku. Sesaat setelahnya kau pun tertunduk diam. Entah apa yang kau pikirkan dalam anganmu, apakah sudah ada namaku di sana? Ataukah masih tak ada tempat untukku berpijak di dalam hatimu? Ah, ironi sekali ya.

“Jatuh cinta memang tak selalu membahagiakan. Perasaan cinta pun bisa saja salah dan sangat terlambat ketika kau menyadarinya.” Dirimu di sana memperdengarkan suara parau itu di senja hari ini.

“Aku tahu itu,” senyumanku terukir sekilas. “Menurutku tak apa terlambat jika kau masih bisa mengungkapkan perasaan itu pada sosok yang kau maksud.”

“Apa menurutmu semua orang akan dengan mudah menerima keterlambatan itu? Bagaimana jika sosok itu sudah melupakanmu atau mungkin sudah memiliki sosok lain yang dicintainya?!”

Di sini kau membuatku terkejut, sampai-sampai aku melepaskan earphone itu dari telingaku. Wajah itu mengapa menunjukkan ekspresi seperti ini di hadapanku? Mengapa kau menahan air matamu di sini? Mungkinkah pertemuan ini malah menyakitkanmu?

“Harumi—”

“Sangat terlambat bagiku untuk mengucapkan hal ini, aku tahu itu. Di sini mungkin kau akan menertawakanku ketika aku mengatakan bahwa aku selalu memikirkanmu ketika kau menghilang di hari kelulusan kita.” Kau menggenggam erat ujung jaketku. Tanganmu sedikit bergetar ketika aku merasakannya dalam nyataku. “Aku selalu memikirkanmu… bahkan di sini aku sangat menyesal ketika mengingat masa lalu.”

Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan di hadapanmu, kau menangis di hadapanku untuk detik berikutnya. Apakah sesedih itu cintamu? Apakah meninggalkanmu adalah suatu kesalahan besar bagiku? Aku tak tahu. Aku tak menyadarinya karena di mataku kau tak pernah merespon balik perasaanku. Senyuman yang kau tunjukkan pun hanya sebatas senyuman pertemanan saja bukan?

“Mungkin kau tak menerimanya, namun izinkan aku untuk mengatakan kejujuran ini padamu.” Ucapmu yang masih terisak pelan. Sesaat kemudian kau menatapku nyata—terlalu dalam memang. “A-aku jatuh cinta kepadamu…. aku merasakannya ketika kehilanganmu, Nakajima Yuto.”

Senja di sini menjadi saksi bisu kala kau menyuarakan kata-katamu. Aku pun tak bisa menahan keterkejutanku di sini. Aku merasa senang, namun ada sedikit kecewa di sana. Haruskah selama ini aku menantimu? Setelah bertahun-tahun tak bertemu dan aku masih menyimpan perasaan itu untukmu. Di sini aku pun masih selalu memikirkanmu. Cinta itu hanya tertuju padamu. Kau—gadis yang selalu tersenyum bersamaku di dalam kisah yang lalu.

Arigatou, Harumi….” aku memeluknya. Aku tak ingin lagi melepaskannya dan meninggalkannya. Di sini aku ingin selalu melangkah bersamamu seperti hari-hari sebelumnya. “Percayalah aku masih memiliki perasaan yang sama untukmu. Hanya dirimu.”

“Ukh… yokatta,”

.

.

.

.

Ini adalah kisah cinta dari masa lalu yang entah mengapa berlanjut hingga detik ini. Perasaanku adalah milikku. Hatiku adalalah milikku yang selalu menuliskan namamu di dalamnya.

Terima kasih telah hadir kembali dan membuat kisah masa kini tak serupa dengan kisah yang lalu. Terima kasih untukmu yang kucintai, kau selalu di sini—hidup dalam perasaan cinta yang nyata.

Aku dan perasaanku tak akan pernah bisa menghapuskanmu—hanya dirimu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s