[Minichapter] 360 Degrees (Chap 3)

360 Degrees
by. Magentaclover
Genre : Romance
Cast : Kyomoto Taiga (SixTONES), Tanaka Juri (SixTONES), Hideyoshi Sora (OC), Tsuchika Sora (OC)
a/n : This story sequel from (Ficlet : Umbrella Love). Sorry for typo, etc.

Tiga ratus enam puluh derajat, bola mata itu selalu melihat apa yang ingin dilihatnya sedemikian rupa. Tiga ratus enam puluh derajat, cintanya selalu saja kembali ke tempat yang sama. Entah kapan. Dimana. Bagaimana. Tiga ratus enam puluh derajat selalu menjadi pertanyaan yang berputar-putar. Tiga ratus enam puluh derajat kembali menempatkan hatinya pada tempat yang sama.

Dalam sudut tiga ratus enam puluh derajat… langkah ini masih ingin kembali padamu yang lalu.

.

.

.

Malam itu menjadi hujan gerimis, dengan Hideyoshi Sora yang berdiri di bawah payung bening yang sama dengan Juri. Dirinya di sini seolah mengingat kisah lama yang tak kunjung hilang. Saat itu, di waktu yang lalu ada Taiga yang berdiri di sampingnya. Sepulang sekolah di masa itu ada jemari lembut Taiga yang tak sengaja menyentuh telapak tangannya. Sengatan itu nyata adanya, merasuk ke hati hingga tak ingin lupa dengan segalanya. Detik ini—di sini kembali teringat yang lalu dan terlalu mau rasanya berbalik mengunjungi masa lalu.

Juri yang diam di sana hanya memperhatikan lamunan Sora. Pemuda itu tahu dengan pasti apa yang ada di dalam benak gadis itu. Satu nama itu belum hilang, berulang kali dilihat malah menjadi semakin nyata. Memang tak salah jika membiarkan nama itu ada. Tak ada salahnya menyimpan sosok itu dalam hati Sora. Hanya saja jika masih tak ada kata yang terlontar untuk apa segalanya ada? Mereka hanya berputar-putar dalam sudut tiga ratus enam puluh derajat tanpa titik yang jelas.

“Sepertinya suasana ini tak baik untukmu,” Juri berucap di sana, membuat Sora menoleh sejenak ke arah pemuda itu. Rambut merah Juri sedikit basah kala Sora melihatnya sekilas. Gerimis hujan di sini sepertinya terlalu ingin menyapa helaian lembut itu.

“Aku baik-baik saja…” gadis itu nyatanya ragu. Hatinya tak baik-baik saja. Tak pernah membaik dengan sosok yang lain. “—sepertinya,”

Juri menghela napas sejenak, menatap Sora yang telah menghentikan langkahnya di sana. “Aku tahu kau tak baik-baik saja. Apa kau pikir aku bukan siapa-siapamu?” tak lama Juri tersenyum menatap gadis itu.

Sora terkesiap, tak tahu harus berkata apa kala menatap lagi senyuman itu. Sudah lama memang. Sejak hari itu Juri ada bersamanya—di saat itu menjadi sosok yang selalu mendekapnya nyata. Di sini, di dalam kisah yang pasti.

***

Mudah rasanya untuk berpikir demikian. Keluar dari sudut tiga ratus enam puluh derajat yang lalu ini. Sayangnya pemikiran hanyalah sekedar angan, berulang kali hanya berpikir tanpa melangkah pergi. Mungkin saja segalanya malah terbalik. Pemuda itu tanpa sadar terus melangkah mundur menyusuri sudut tiga ratus enam puluh derajatnya yang lalu. Di sini Taiga masih terus mencari hal yang lampau walau ada sosok baru yang mencoba mengukir sudutnya sendiri. Rasanya tak bisa meninggalkan jalan yang lalu. Terlalu sulit jika saja kisahnya belum usai di bawah langit yang di hari yang berlalu.

Kisah itu masih tentang Hideyoshi Sora, sesungguhnya tak akan berganti nama menjadi Tsuchika Sora. Begitulah.

“Yakin tidak ada yang tertinggal?”

Taiga sedikit terkejut dengan suara Sora yang membuyarkan lamunannya. Tsuchika Sora ada di hadapannya, menatap bingung mimik wajah Taiga yang tertuju padanya.

“Hei?” Sora berucap lagi, mencoba menyadarkan pemuda itu.

“Maaf,” akhirnya Taiga bergumam nyata. “Tadi hanya sedikit melamun.” Lanjutnya. Sora pun hanya mengangguk mengerti.

Kini keduanya hanya terdiam dengan lamunannya masing-masing. Sora berusaha tenang dengan hatinya. Kemarin, beberapa hari yang lalu Taiga menolaknya secara nyata. Gadis itupun tak terlalu terkejut memang walau tak berarti hatinya baik-baik saja. Taiga sendiri masih tak enak hati dengan penolakan itu. Namun mau bagaimana lagi? Apakah cintanya harus berlatar belakang keterpaksaan? Konyol saja, membayangkannya membuatnya muak.

“Terima kasih sudah membantu segalanya,” Taiga tersenyum ketika melihat Sora yang tengah memasukkan beberapa barang ke dalam koper. ‘Maaf juga untuk segalanya.’ Ucapnya dalam hati.

Sora mengangguk, “Jangan sungkan seperti itu, bukankah kita teman?” Memang. Hanya teman. Selamanya. Sekedar teman. Tak ada yang lebih.

Taiga tahu kata-kata itu implisit. Ya, teman. Hanya teman. Kyomoto Taiga tak bisa menjadikannya lebih dari sekedar teman. Hatinya berkata hanya teman. Begitulah yang nyata.

“Ngomong-ngomong apa kau akan ikut ke stasiun?” Taiga menatap Sora, sedikit berharap gadis itu akan mengangguk sebagai jawaban.

“Haruskah Tsuchika Sora? Apa kau tak berharap seorang Hideyoshi Sora yang pergi?” gadis itu tersenyum. Mencoba tersenyum lebih tepatnya.

Baka! Walau aku ingin tetap saja tidak mungkin ‘kan? Jangan pura-pura tak tahu, Tsuchika Sora.”

Benar saja. Memang tak mungkin hal itu terjadi. Rasanya mengharap pun sudah menjadi setengah hati. Sungguh, kejadian malam itu belum bisa terhapuskan dari ingatan Taiga. Malam itu, di hari gerimis yang nyata dirinya dan Tsuchika Sora berada di dalam lingkaran yang tak tepat. Dua pasang bola mata itu tentu saja dapat dengan jelas melihat sosok Hideyoshi Sora yang berada di bawah payung beningnya.

Sosok itu masih indah tentu saja, walau nyatanya ada laki-laki lain yang bersamanya. Di malam itu benar-benar nyata. Kedua bibir itu saling bersentuhan lembut, di bawah payung yang sama tentu saja. Keduanya mengukir kehangatan di sana, begitulah yang ditangkap oleh kedua bola mata Taiga.

Hideyoshi Sora bukanlah miliknya. Benar saja.

“Aku tahu Kyoto tak sejauh London atau apalah itu, tetapi apa Kyomoto Taiga tak ingin memastikan segalanya?”

“Apa?”

“Perasaanmu kepada gadis itu. Sekali lagi.” Sora merebahkan tubuhnya di samping Taiga. “Apa kau siap menyesal jika spekulasimu salah?”

.

.

Di hari yang sama Juri masih menyandarkan kepalanya di bahu Hideyoshi Sora. Pemuda itu tak peduli berapa kali Sora memarahinya. Juri hanya senang melakukan hal ini, bersama Sora membuatnya merasa nyaman walau gadis itu tak sepenuhnya nyaman dengan kehadirannya tentu saja. Tanaka Juri tahu tempatnya bukan lagi di samping gadis itu. Kisah mereka sudah berakhir, sudah menjadi hal yang lalu pada nyatanya. Namun keduanya masih bersama, tak merubah segalanya secara seratus delapan puluh derajat dalam putaran mereka.

“Juri…” keluh Sora lagi. Baginya sedikit tak wajar seorang mantan pacar masih melakukan hal ini padanya.

“Hmm?”

“Tidak wajar ‘kan seperti ini?!” walau berkata seperti itu tetap saja Sora iseng membelai rambut Juri dengan lembut. Tangannya melakukan apapun tanpa kendalinya. Mungkin serupa dengan malam itu.

Juri mengubah posisinya, menatap ke dalam bola mata Sora, “Kenapa? Apa karena aku hanya mantan pacarmu?”

Detik berikutnya Sora mengalihkan pandangannya menjauhi tatapan pemuda itu. Rasanya kebersamaan mereka sudah lama berakhir dan sekarang harus diungkit kembali. Aneh memang, putarannya sangat berbeda dengan tiga ratus enam puluh derajatnya bersama Taiga. Sayangnya, walau semua itu terasa aneh tetap saja keduanya masih sedekat ini. Sora tak pernah menjauh. Juri pun tak sepenuhnya bisa meninggalkan Sora.

Malam itupun begitu adanya, ketika keduanya berciuman di bawah payung bening yang sama.

“Apa ada yang salah dengan mantan pacar, jika kau menciumku malam itu?” Juri berbisik lirih tepat di telinga Sora. Begitu dekat, membuat Sora tak bisa menjaga debaran jantungnya sendiri.

Benar. Malam itu, di hari gerimis itu Sora mengecup singkat bibir Juri hingga membuat pemuda itu terkesiap nyata. Entah apa yang ada di dalam pikiran gadis itu, hatinya hanya ingin memastikan perasaannya pada Juri. Apakah masih ada yang tertinggal seperti perasaannya pada Taiga? Ataukah sudah sampai di hari yang lalu saja perasaannya pada Juri?

Hideyoshi Sora bukanlah sosok yang bisa mencintai dua orang dalam sekaligus. Hatinya hanya satu. Cintanya hanya untuk seseorang yang ia yakini. Sosok yang lalu, yang entah masih peduli padanya atau hanya formalitas belaka.

Pelukan di hari itu tak dapat menjamin segalanya bukan?!

“Tidak usah meyakinkan lagi hatimu untuk siapa karena aku sudah tahu pasti jawabannya.”

Tak lama Juri berlalu meninggalkan Sora yang masih terkejut dengan kata-kata pemuda itu. Wajahnya memerah tentu saja karena beberapa saat lalu Juri mengecup lembut pipinya. Detak jantungnya masih tak terkontrol di sana, setelah sekian lama hal itu menjadi kenangan dan hari ini harus ia rasakan kembali debarannya. Kecupan itu sangat lembut. Tidak bisa membuat hatinya tenang tentu saja. Hal sepele itu entah mengapa lebih membuat jantungnya berdebar kencang dari pada malam itu, dimana dirinya mengecup singkat bibir Juri.

“Hatiku untuk siapa?” gumam Sora lirih, “Hatimu untuk siapa?” jemari itupun masih menyentuh bekas kecupan di pipinya. “Lalu hatinya…. apakah aku tahu untuk siapa?”

***

“Sudah yakin?” gumam gadis di hadapan Taiga. Entah kenapa malah Tsuchika Sora yang bersikap seperti itu.

Taiga tersenyum seolah mencerminkan keyakinan yang nyata. “Terima kasih sudah mencemaskanku,” selanjutnya Taiga mengusap lembut puncak kepala Sora. “Aku baik-baik saja.”

Hari ini memang dirinya akan berangkat ke Kyoto. Kepindahannya sangat di luar dugaan karena orang tuanya meminta Taiga untuk ikut bersama mereka. Mau tidak mau Taiga menurut saja, tak ada salahnya meninggalkan kota ini untuk sedikit keluar dari sudut tiga ratus enam puluh derajatnya bersama Hideyoshi Sora. Dan secara tidak langsung, tentu saja Taiga seolah melarikan diri dari gadis yang kini berada di hadapannya. Tak adil memang, namun mau bagaimana lagi?

“Hati-hati ya, semoga lebih bahagia di sana.” Sora tersenyum seadanya walau tak nyaman dengan hatinya sendiri. Walaupun sudah ada penolakan dari Taiga, tetap saja hatinya masih ingin mencintai pemuda itu. Tak apa walau hanya sepihak. Tak apa tak ada balasan.

Sejak awal Sora sangat yakin perasaannya tak akan terbalas. Sejak awal memang hanya mencoba saja mengatakan kejujurannya karena sudah tersirat dalam nyatanya. Mencintai Kyomoto Taiga memang bukan hal yang mudah. Perasaannya yang dahulu hanya sekedar teman entah mengapa menjadi cinta. Tentu saja hatinya tak baik-baik saja dengan perubahan itu. Semuanya di luar kendalinya. Mungkin untuk beberapa waktu ada penyesalan di sana. Rasa sesal yang menyalahkan dirinya sendiri ketika perasaan itu berubah menjadi cinta.

Awalnya memang berpikir untuk menghapuskannya. Cukup sampai di sana saja. Sayangnya tak semudah itu. Banyak penolakan yang ia dapatkan dalam hatinya hingga gadis itu memutuskan untuk tetap menyimpan perasaan itu hingga detik ini. Dalam hatinya biarlah nama Taiga terukir jelas. Di sana, Tsuchika Sora masih membiarkan pemuda itu memonopoli perasaannya walau dengan segala kecurangan yang ada. Mungkin gadis itu seorang masokis. Kenyataannya tak khayal membenarkan spekulasinya. Tentu saja demikian.

“Jaga dirimu ya, Sora. Lain kali kau harus mengunjungiku di Kyoto, bagaimmana?” gumam Taiga sebelum pemuda itu melangkah meninggalkan sosok di hadapannya. Sora pun hanya mengangguk sebagai jawaban.

Sayangnya, beberapa menit kemudian egonya menjadi terlalu tinggi. Hatinya terkalahkan oleh pikiran egoisnya. Telapak tangannya menarik pelan jaket yang dikenakan Taiga. Sungguh egois jika ia sadar akan hal ini. Namun hatinya yang masokis hanya dapat menyaksikan segalanya tanpa membantah yang ada.

Bagai sebuah klise belaka, kedua tangan itu melingkar nyata seraya mendekap erat tubuh Taiga yang terkesiap di sana.

Seperti fana memang.

Begitulah.  

—gomenasai…

Sungguh sebuah tanda tanya besar, semua ini tidak benar bukan?!

.

.

.

Untuk sudut tiga ratus enam puluh derajat yang tak sama, haruskah terjadi anomali dalam titiknya? Seperti inikah pergerakan sudut dari sisi yang berlawanan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s