[Multichapter] Death Point (Chap 4)

Death Point
Genre: Thrill, Fantasy, Horror, Little Romance
Type: Multichapter
Chapter: 4 (Four)
Author: VDV-san
Fandom: Hey! Say! JUMP, HKT48
Cast : Yamada Ryosuke (HSJ), Chinen Yuri (HSJ), Murashige Anna (HKT48)

“Untuk apa ke hutan?? Malam malam seperti ini… hampir pagi, kalian tak lihat?” Laki-laki paruh baya—yang tampak seperti staff Devident ini sepertinya mulai tegas, entah apa yang ditutupi dalam hutan ini—Mereka sebenarnya sudah tahu.

Buku itu Anna selipkan dalam mantel tipis piyamanya, berusaha untuk tidak ketahuan.

Sayangnya buku itu terlalu besar, tidak sesuai dengan ukuran badan Anna. “apakah kita bisa meminta bantuan pada Umika?” Bisiknya perlahan. Hal gila memang. Tapi didalam otaknya, terlintas sebuah pikiran.

“Aku selalu disini” Bisikan dari suara yang tadi menuntun mereka terdengar dari sebelah kanan Yuri. Syukurlah, Umika selalu ada untuk membantu mereka.

“Umika-san, bisa matikan senter itu sebentar untuk kami?” Pinta Anna pada suara tak berwujud itu, dengan bisikkan tentunya. Sementara Yuri dan Ryosuke hanya terdiam.

Beberapa detik kemudian, entah bagaimana caranya, cahaya yang tadi menerangi ketiga remaja ini kini tiba tiba mati. Dengan cepat, Anna menyembunyikan buku itu dibalik pohon–menguburnya dibawah tanah agar tak diketahui oleh para staff, setelah itu Ia melumuri lututnya dengan tanah, berjaga jaga jika Ia dicurigai. Kemudian kembali ke posisi awal.

Saat lampu dinyalakan.. “Itte..” Anna berpura-pura jatuh ke tanah, sehingga para staff melihat bagaimana tangan dan lutut Anna bisa dilumuri oleh tanah. Ide yang cukup cerdas, bukan?

“Kalian tidak bisa dibiarkan berkeliaran ke hutan lagi” Ucap salah satu staff.

***

Keesokan harinya, saat mereka ingin berangkat sekolah, mereka melihat sekeliling hutan sudah diisi dengan para staff–penjaga. Jarak antara penjaga satu dengan yang lainnya tidak jauh. Hanya sekitar 10 meter. Otomatis mereka akan melihat siapapun yang melewati batasan.

“Yabai…” Ucap Anna, “Aku menyembunyikan buku itu disana..” kali ini Ia berbisik.

Mata Yuri menghitung seberapa banyak staff yang berjaga–anak ini memang cepat dalam perhitungan.

“Hanya 15 orang” Kata Yuri pelan, memasukan kedua tangannya di dalam saku celana seragamnya.

“Lalu Yuri, bagaimana caranya kita bisa ambil buku itu?” Tanya Ryosuke yang berjalan di samping Yuri, bertanya pada temannya itu kemungkinan besar ada jalan keluar karena Yuri dekat dengan makhluk itu.

“Kita bicarakan ini nanti, saat pulang sekolah” Kata Yuri, kakinya mulai melangkah meninggalkan asrama mereka bersama Ryosuke dan Anna.

.

Saat pulang sekolah, Yuri mulai menjelaskan apa saja yang telah ia rencanakan saat di kelas tadi–Yuri berpura-pura belajar sambil memikirkan rencana dan menulisnya di sebuah buku.

Kedua temannya itu membaca apa yang telah Yuri tulis di sana “kau, dan aku? Lalu Anna?” Tanya Ryosuke setelah membaca tulisan Yuri dengan baik.

“Ck kau ini baca yang teliti” Kata Yuri, setelah itu Ryosuke kembali membaca nya dan mengangguk-angguk, “baiklah wakatteru” Kata Ryosuke.

Yuri tersenyum karena rencanya kini telah di konfirmasi oleh kedua temannya.

***

Besok paginya, saat berangkat sekolah rencana pertama mulai mereka lakukan.

Anna memakai syall tebal dan juga jaket tebal saat menuju ke sekolah “UHUK” sesekali Anna terbatuk-batuk.

Sambil berjalan ke sekolah Ryosuke dan Yuri melihat ke arah staff tersebut lalu saling melihat satu sama lain.

Keduanya saling menunjukan jempol tanda mereka sukses.

Rencana pertama : Anna berpura-pura sakit agar para staff tahu kalau Anna tidak akan keluar asrama setelah pulang sekolah.

Semua staff jaga tampak sudah paham, mata mereka terfokus pada Anna dan kelihatannya gadis ini sukses membuat akting yang meyakinkan—dalam balutan syall dan mantelnya.

Anna akan diperkirakan tetap pada asrama—pelajaran selesaipun Ia segera pulang.

Sementara Ryosuke dan Yuri masih berkutat di lapangan sekolah, dari lapangan samping hingga ke belakang—menuju asrama. Setiap penjaga mengamati gerak-gerik mereka, tampak 12 dari 15 termakan ide mereka. 3 orang sisanya masih menunggu di balik asrama.

“Bagaimana?” Tanya Yuri.

Sahabatnya menjawab, “90% sukses.” Para pemuda ini bersiap untuk kembali ke asrama, dalam seragam cardigan nya—Ryosuke masih berpikir.

“Kita melakukan pengumpanan nanti malam, tapi ingat jangan sampai lewat dari batas sungai.” Ryosuke memperingatkan,

“Cukup sampai tengah hutan. Lebih dalam lagi mereka semua akan mencurigai kita benar benar telah mengetahui keberadaan perpustakaan itu.”

.

Sore mulai datang, sedikit gelap dan mendung. Gawat bila buku itu tidak berhasil dijangkau hari ini—tanah akan basah. Meresap kedalam buku akan menjadi hal yang fatal.

Kali ini benar benar akan beraksi.

Rencana kedua : Yuri dan Ryosuke, melakukan pengumpanan dengan tubuh merekayang berlari ke hutan seraya mencari sesuatu. Agar setiap penjaga mengikuti mereka. Sementara Anna pada tugasnyamengambil buku di saat sepi.

.

Anna menghela napas panjang “Gerahnya..” Kemudian memandangi jendela yang bertatapan langsung dengan hutan–posisi dimana buku mantra itu Ia simpan.

Ganbare, Ryosuke.. Yuri..’ Ucapnya dalam hati seraya berdoa untuk keselamatan dua sahabatnya dan juga dirinya.

“Oi!! Apa yang kalian lakukan?!” Suara seorang staff terdengar jelas dari dalam asrama, sepertinya Ryosuke dan Yuri sudah memulai misi.

Kini saatnya Anna memantau pergerakan para penjaga, menit pertama 5 orang penjaga pergi, menit ke empat, 5 orang lagi pergi. Dan kini tersisa 5 orang lagi. Ini belum cukup. Ryosuke dan Yuri harus terus berlari untuk menarik para penjaga masuk ke dalam hutan.

Sekitar setengah jam para penjaga itu belum juga kembali. Dan akhirnya 5 orang penjaga yang tersisa juga memutuskan untuk masuk ke dalam hutan.

Setelah mereka sudah cukup jauh, Anna mulai beraksi. Ia keluar dari asrama dan mulai mencari letak buku tersebut. Pikirannya mengingat jelas bahwa buku tersebut terkubur di belakang sebuah pohon.

Yabai.. pohon yang mana?” Anna mencoba untuk ingat. Dalam ingatannya, posisi pohon dan jendela kamar sangatlah lurus. Jadi, Ia hanya harus melihat posisi pohon yang benar.

Setelah hampir lima belas menit melihat posisi pohon–kembali untuk melihat dari jendela–dan kembali lagi ke sisi hutan, akhirnya ia berhasil menemukan pohon, dan juga buku yang terkubur di dalam tanah di belakang pohon tersebut.

Setelah berhasil menemukannya, Anna kembali meratakan tanah tersebut dan langsung kembali ke asrama, tak lupa ia menyembunyikan buku tersebut di bawah kasur Yuri–karena cukup rendah dan ringan.

Dan kini, ia hanya perlu menunggu Ryosuke dan Yuri kembali untuk membaca mantra tersebut.

Rencana ketiga : Setelah mendapatkan buku, Anna akan segera kembali ke asrama, dan jika sudah hampir gelap, Yuri dan Ryosuke akan kembali ke tempat dimana Anna menaruh buku tersebut–Yuri mengetahui jelas dimana tempatnya. Jika mereka melihat Anna sudah tidak ada, itu berarti misi mereka untuk mengulur waktu berhasil. Dan mereka hanya perlu kembali ke asrama.

.

Hari sudah semakin gelap dan  itu artinya Yuri dan Ryosuke sudah harus kembali ke asrama. Namun sebelumnya mereka harus menuju pohon tempat Anna menyimpan buku itu, lalu kembali ke asrama.

“Ahh sudahlah aku lelah” Kata Yuri yang langsung berdiri di samping Ryosuke sambil memegang lututnya–terengah.

Yuri megedipkan matanya ke arah Ryosuke lalu pria itu mengangguk tanda ia mengerti “ah aku dan teman ku hanya ingin mencari inspirasi untuk tugas kesenian kami. Kemarin malampun begitu” Kata Ryosuke dengan sedikit berteriak.

Mendengar kata-kata Ryosuke, para staff itu saling berpandangan satu sama lain.

“Kalau kalian tidak percaya, ikuti kami. Aku tadi menemukan pohon yang sangat indah, Ryosuke” Kata Yuri dan merekapun langsung menuju pohon tersebut–pohon tempat Anna mengubur buku itu.

Setelah sampai, ternyata Anna sudah tidak ada di sana.

Senyum kedua pria ini mengembang “ah sayang sekali ya Yuri, Anna sedang sakit coba kalau tidak kita kan bisa disini untuk diskusi pemandangan pohon ini” Kata Ryosuke–tentu saja Ia bohong.

“Iya” Sahut Yuri “tapi kita bisa gambar dulu ini lalu perlihatkan kepada Anna”

“Jadi kalian benar-benar hanya ingin mencari inspirasi untuk tugas?” Tanya seorang staff penjaga tersebut membuat dua sekawan itu membalikan badan–baru sadar mereka sedari tadi membelakangi staff-staff tersebut.

“Iya…. Sudahlah kami bukan murid yang nakal..” Kata Ryosuke menenangkan.

Kemudian satu persatu para staff penjaga tersebut bubar karena merasa tidak perlu lagi menjaga hutan.

Setelah aman, Ryosuke dan Yuri langsung tertawa bersama dan tos. Ah rasanya sudah lama mereka tak seceria ini.

Kemudian, merekapun kembali ke asrama.

Rencana keempat : Kembali ke asrama lalu membaca mantra di buku itu untuk menghilangkan shinigami tidak hanya untuk mereka bertiga. Tapi untuk seluruh murid yang ada di Devident dan juga Resident.

.

Tadaima.”

Sahut 2 laki laki ini bersamaan, memasuki asrama.

Anna yang sedari tadi mengamati di jendela terlihat mengetahui bahwa kejadian pengumpanan itu telah berhasil—gadis ini mendengar semuanya.

Yatta ne!!” Melompat girang, memeluk kedua sahabatnya, dan seketika malu telah memeluk Ryosuke.

Ketiga sekawan ini melihat sekeliling asrama, memastikan bahwa sudah tidak ada penjaga sama sekali—untuk memulai membuka buku kuno itu.

Mereka mengangguk bersamaan. Sekarang lah saatnya.

Dalam bangunan kayu dingin—berpenerangan lampu seadanya dan kehangatan selimut, mereka bertiga berkumpul dalam satu kasur.

Anna duduk diatasnya, Yuri duduk pada sisi satunya dan Ryosuke hanya menepi.

Anna mengusapkan jemarinya pada cover buku, membersihkan debu debu disana dan membaca judulnya. Sementara Yuri ikut memerhatikan dengan fokus.

「Смерть Всемирной.

Yuri tercengang.

“Tulisan apa ini…” Ocehnya sedikit kecewa.

Ryosuke pun ikut terkejut, memperhatikan dalam hening, tanpa bisa menjawab.

“Matte.” Gadis ini mencerna perlahan, “Kore Russian dayo.” Gulir mata indahnya mengamati. Tepatnya ini Rusian kuno.

Kedua teman sekamarnya itu saling bertukar pandang dan baru mengingat, bahwa Anna memang layaknya putri bangsawan dari negara yang berbeda.

Ryosuke mengerutkan dahi,

“Kau bisa membacanya?”

Sang putri mengangguk.

Un, sukoshi.

Ia mulai membuka halaman itu satu persatu sampai akhirnya ia menemukan halaman berjudul ‘Roh Jahat’ dalam bahasa Russia tentunya.

Ia mulai mencari dengan teliti mantra yang dapat menghilangkan roh jahat–shinigami yang saat ini mengancam nyawa mereka.

Mitsuketa~” Ucapnya ringan. Ia mulai mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan, kemudian gadis bermata indah ini mulai membaca

Святой слово , слушать голос , который читает , защитить их от всякого зла , уничтожить всех злых духов , которые разрушают , уничтожают их

Seketika lampu–lilin yang menerangi mereka padam, kemudian buku tersebut membolak balik seluruh halaman dengan cepat. Angin yang cukup kencang tapi sejuk bertiup di sekeliling mereka.

Setelah semua hal itu berangsur angsur menghilang, Yuri kembali menyalakan lilin. “apakah ini berhasil?” Tanyanya.

Wakanai.. kita harus memastikannya..” Ucap Anna sembari menutup buku yang baru saja Ia baca itu dengan perlahan.

“Bagaimana?” Ryosuke dan Yuri memandang Anna. “besok, aku akan datang terlambat ke sekolah untuk memastikannya” Anna tersenyum.

Baka! Point mu hanya tersisa 50! Jangan sampai itu berkurang lagi!” Ryosuke sedikit membentaknya. Tapi Anna hanya tersenyum.

Daijoubu dayo, jika shinigami sudah menghilang, kekurangan point tidak akan membuatku kehilangan nyawa”

Keesokan harinya, Anna mulai agak telat datang ke sekolah sedangkan Ryosuke dan Yuri datang ke sekolah lebih dahulu.

Saat di absen, dan nama Anna di panggil tidak ada yang menyahut.

“Ke mana Murashige Anna?” Tanya guru yang mengajar pada jam pertama.

Baru saja Yuri ingin memberitahu, tiba-tiba pintu kelas terbuka dan tampaklah Anna di sana–kedua temannya otomatis tersenyum.

Gomennasai… Aku telat bangun karena semalam aku demam tinggi” Kata Anna sambil menunduk di hadapan guru tersebut, sang guru hanya menjawab dengan singkat lalu menyuruh Anna duduk.

Saat menuju ke tempat duduk Anna melihat ke arah Yuri dan Ryosuke, sebuah jempol ia tunjukan.

Rencana sukses.

***

Keterlambatan Anna, ini tidak mengurangi point. Sontak menjadi perbincangan hits di kalangan para siswa Devident.

Mereka bertanya-tanya pada sang gadis Rusia, bagaimana bisa lalai disiplin tetapi tetap selamat. Seketika murid pindahan Resident seperti mereka bertiga, ini terkenal diantara pada Devident—yang semula mempunyai kebencian tersendiri.

Namun pada Devident tak mempercayai—tidak sebelum mereka mencoba lalai dengan cara mereka sendiri.

Hari selanjutnya, 5 siswa kelas 3 bertaruh dan nekat tidak membawa tugas. Setelah dimarahi guru, hasil selanjutnya? Mereka tak mengalami sakit apapun dari perlawanan shinigami—point mereka tetap?

Hari kedua, satu deret bangku pada kelas 2 memberontak untuk tidak masuk kelas. Namun kesepuluh orang ini, sama sekali tak menerima apapun.

Pembuktian semakin banyak yang melakukan—dalam arti, sekolah telah mulai rusuh dari dalam. Puluhan guru kewalahan.

Alhasil, sesuatu yang sangat mengganggu ini akhirnya sampai juga pada telinga kepala pimpinan Resident sekaligus Devident.

‘BRUAAAK’

Lima pria juga wanita berseragam resmi staff, hanya mampu tertund

“APA? APA KALIAN BILANG TADI?”

pria senja ini memukul meja luar biasa keras—tampak sangat murka.

“ANAK ANAK MEMBERONTAK?” Tidak masuk akal, pikirnya. Mengapa bisa seperti ini—apakah shinigami tak bekerja untuk menyiksa lalu membunuh mereka, atau bagaimana.

Membanting diri untuk duduk pada sofa besar, megah nya—setelah sempat murka dan sedikit berdiri.

Kali ini Ia mulai tenang. “Sejak kapan ini terjadi?” Menilik peristiwa belakangan ini. “Apa ada sesuatu yang mencurigakan belakangan ini?”

.

Ryosuke, Anna, dan Yuri yang sontak jadi perbincangan para murid—membuat iri salah satu, seseorang dari Devident yg sangat menanam kebencian pada murid Resident.

Ia berniat membocorkan dan mengkambinghitamkan, tiga sekawan ini.

Lirikan gadis berambut hitam mengkilat itu sangat tajam–tertuju pada Anna. “Cih.” Kemudian Ia pergi meninggalkan lorong dimana para siswa-siswi sedang mengerubungi Anna.

Entah apa yang dilakukan gadis ber-name tag ‘Nakamoto Suzuka’. Ia mendekati salah satu staff dan berbicara pada staff itu.

“Aku akan mengambil jatah makan dulu ne!” Yuri berlari meninggalkan Ryosuke dan juga Anna yang akan segera kembali ke asrama.

“Un, hati hati ya!” Balas Ryosuke, ketiga sahabat itu kini sudah bisa tersenyum. Bagaimana tidak? Nyawa mereka sudah tidak dipertaruhkan lagi. Setelah itu, Anna dan Ryosuke kembali ke asrama dan menunggu Yuri untuk kembali.

“Chinen Yuri?” lima orang staff menghadang Yuri yang baru saja mengambil tiga kotak makanan dan ingin kembali ke asrama. “Hai?

“Kau harus ikut kami” Ucap salah satu staff, kemudian mereka menarik kedua tangan Yuri dengan kasar hingga tiga kotak makanan itu terjatuh.

Yuri osoi ne..” ucap Anna sambil memandang jendela, berharap Yuri cepat kembali karena Ia sudah kelaparan–dan malu karena hanya berdua dengan Ryosuke.

Ini sudah lebih dari 2 jam dan hari semakin gelap, tapi Yuri masih belum kembali.

“Apa yang Yuri lakukan?” Kali ini Ryosuke yang berbicara.

.

“Lepaskan aku!!” Yuri terus berontak dari genggaman para staff tersebut, semakin Ia memberontak semakin kencang genggaman yang Ia rasakan di pergelangan tangannya.

Mata Yuri di tutup dengan kain hitam sehingga ia tak tahu sekarang dia di bawa ke mana.

“Lepaskan!!”

PLAK!

Satu tamparan telak membuat Yuri terdiam.

“Diam atau kami buang kau ke tengah sugai!” Ancamnya, membuat tubuh Yuri gemetar, seumur hidupnya, Ia tak pernah di perlakukan kasar seperti ini oleh siapapun.

Tak lama, Yuri mendengar seseorang membuka gembok dan sebuah pintu–sepertinya besi karena bunyinya sangat khas dan tak lama tubuh Yuri di hempaskan ke lantai membuatnya tersungkur.

Matanya pun kini telah di buka dari ikatan tersebut tapi kaki dan tangan Yuri di kali ini yang di kunci.

“Dimana aku?” Tanya Yuri melihat keadaan sekitar.

Gelap, lembab, dan kelihatan sangat tidak layak untuk di sebut tempat kehidupan. Di hadapan Yuri sudah ada besi-besi yang menjulang tinggi, sepertinya ia masuk ke sebuah penjara di bawah tanah.

“DIMANA AKU?!” Yuri berteriak karena keadaannya sangat bahaya saat ini.

BUGH!

Perut Yuri di tendang oleh seorang staff yang menangkap Yuri. Membuat darah segar keluar dari mulut pria mungil itu.

“Uhuk uhuk” Yuri terbatuk.

“Tidak usah banyak tanya, sekarang aku yang akan bertanya. Apa maksud mu dan teman-teman mu masuk ke hutan pada malam itu?” Tanya pria itu dengan nada yang seolah–harus di jawab dengan jujur.

Yuri terdiam.

“JAWAB!!”

“SUDAH KAMI BILANG UNTUK TUGAS!!” Tidak suka dibentak, Yuri balas membentak.

“Jadi begitu ya…. Kami akan menunggu mu sampai kau mau jujur” Mereka pun keluar dan mengunci pintu itu.

“KURUNG SAJA AKU, AKU SUDAH BERKATA JUJUR!!” Teriak Yuri namun tak digubris sama sekali.

Setelah itu, Yuri mulai memberontak untuk melepas ikatan yang ada di kaki dan tangannya.

.

Lama menunggu, satu sahabatnya itu tak kunjung datang. Menunggu hampa di meja makan, pikirannya tak tenang.

Akhirnya Ryosuke bangkit dari tempat duduknya. “Ada yang tidak beres.” Laki laki ini melangkah keluar.

“Aku ikut!” Ucap Anna segera bersiap, di hari yang semakin petang. Menyusuri jalan, kembali kearah sekolah. Pertama, mereka kembali mendatangi tempat pembagian makanan.

Namun betapa terkejutnya.

“Yuri…”

Ternyata—bahkan tempat itu telah kosong dari antrian.

Ryosuke berlari dan bertanya, kearah dapur menemui petugas logistik “Sejak kapan selesai pembagian makanan?”

Staff itu melihat jam pada ruang ini, bertengger besar pada tengah tembok khas Devident—beraroma kayu.

“Sekitar 2 jam yang lalu.” Jawabnya.

Kesal, memukul meja dan mengepalkan tangannya—yang tengah menyanggah dirinya saat bertanya.

Desir Anna mulai mengkhawatirkan Yuri, “Kemana dia…”

“Tapi tadi ada salah satu siswa yang dipanggil dan diseret oleh staff. Makanannya tumpah semua—” tampaknya petugss logistik ini tidak mengetahui Yuri adalah teman Anna dan Ryosuke—yang juga tengah diincar.

Pemuda ini menyipitkan matanya, “Benarkah? Souka. Kemana kira kira anak itu? Gawat sekali bisa sampai diseret.” Lugas Ryosuke—penuh klise, bak tak mengerti apa apa—untuk menggali jawaban lawan bicaranya.

“Entahlah, dia seperti melakukan kesalahan terbesar, terakhir ada penyeretan seperti itu… kalau tidak salah satu tahun yang lalu, yang menjadi korban gadis bernama Umika”

Kedua penyimak ini saling bertatapan, terkejut.

‘—BINGO! itu pasti Yuri.’ Kemudian raut Anna, sedih dan panik.

Ryosuke menghalanginya dengan lengan—agar dapat mengendalikan emosi, pengorekan informasi ini belum selesai.

“Sou sou, aku kenal Umika itu. Mayatnya di samping kamar kami. Benar-benar mengerikan.” Pemuda ini masih fokus akan aktingnya, “kira kira dimana kalau murid ini disekap? Seram sekali.”

Ibu petugas logistik paruh baya, ini berpikir.

“Kalau tidak salah sih ada penjara lama anak anak yang benar benar tak mau mengikuti aturan. Di pertengahan Resident dan Devident—”

Kedua orang ini menyimak dengan penuh konsentrasi.

“Atau… disekitar sini, ada bangunan yang tak terpakai masih milik Devident, ya.. entah jadi apa bangunan itu saat ini. Sebelah timur sekolah.” Selesai, menjelaskan dan semua terekam dengan baik di otak kedua anak ini.

Ryosuke tersenyum kecil.

“Ah tapi kalian murid baik baik kan, tentu saja tak akan bertindak sebodoh itu. Jangan sampai melanggar aturan, kalau bisa.” Lanjut wanita ini disambung tawa nya.

“Ahaha, sou ne. Tentu saja tidak akan. Terima kasih peringatannya Bu. Sangat berharga—” kedua murid ini pun melangkah keluar. “Kami akan mengingatnya.” Dan melambai di pintu sebelum menghilang.

“Ya… sangat penting. Dan kami benar-benar akan mengingatnya.” Smirk—Ryosuke berhasil pada rencananya, dan mengorek informasi terpenting.

“Haruskah kita kembalikan buku itu pada tempatnya?” Tanya Anna sembari berjalan mengikuti Ryosuke.

Pria ini tersenyum, “tidak usah—” tertawa kecil. “Kita selamatkan Yuri.”

To Be Continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s