[Multichapter] Death Point (Chap 3)

Title: Death Point
Genre: Thrill, Fantasy, Horror, Little Romance
Type: Multichapter
Chapter: 3 (Three)
Author: VDV-san
Fandom: Hey! Say! JUMP, HKT48
Cast : Yamada Ryosuke (HSJ), Chinen Yuri (HSJ), Murashige Anna (HKT48)

Lima belas orang dari Resident yang berhasil diungsikan dalam Devident tampak keberatan, terlihat dalam hati mereka mengeluhkan atas apa yang mereka dapat.

Beruntung peraturan sekolah ini sedikit longgar akan menentang sekolah—setidaknya desir protes mereka tidak berujung pada pengurangan point.

Matahari mulai tinggi, kamar kayu yang mereka dapati sangat khas dengan pegunungan. Lokasi sekolah ini.

Daripada disebut kamar atau villa, layaknya pada asrama Rose, hunian Devident ini tampak seperti Cottage tua yang horror tak terawat.

Bertambah peraturan, berkurang penderitaan—Resident. Berkurang peraturan, bertambah penderitaan—Devident. Entah mengapa seperti ini.

“Yabaii!” Ryosuke terbangun dalam panasnya matahari tepat disamping jendela, mereka tertidur. Bahkan kasur saja blm sempat mereka benahi.

“Anna! Yuri! Okiro!” Panggil pemuda ini mengguncangkan bahu temannya agar bangun. “Sudah pagi, setengah jam lagi masuk.”

Mengingat peraturan sekolah mereka yang tetap sama—yaitu, terlambat dikurangi point.

Ketiga siswa ini pun bergegas mandi dan berbenah, apapun itu mereka harus cepat sampai dikelas—bahkan mereka harus mencari ruangan terlebih dahulu. Sarapan pun tak sempat.

Keluar dari asrama 4—dari 489, mereka melangkah sedikit bingung. Pasalnya gedung Devident tua dan rumit. Perkelahian dapat terjadi kapan saja. Bunuh membunuh, merupakan hal wajar—selonggar itulah yang terjadi. Namun sekolah dalam kelas tetap harus berlangsung.

“Jadi ini pindahan Resident yang sampai tadi malam? Siswa siswa elit itu?” Desas desus cibiran di belakang mereka banyak terdengar, lebih lagi dari angkatan tua Devident. Yang sudah terbiasa dengan kehidupan keras disini.

Mereka yang dari Resident dipandang bak—para tuan muda yang tidak mau hidup susah—hanya mau nyaman. Di rendahkan tekadnya.

Ryosuke semakin geli atas ini. Geram dalam hatinya, namun ia dan dua temannya ini tetap berjalan, bahkan—tak ada gunanya memikirkan celotehan mereka.

“Permisi.”

Ketiga transferan Resident ini memasuki kelas barunya yang akhirnya mereka temukan, mencoba mencari bangku yang masih kosong sebagai tempatnya. Dan berdoa, semoga belajarnya dalam sekolah ini juga dilancarkan layaknya pada tempat lama—mengingat sebentar lagi akan diadakan ujian kenaikan kelas, mereka akan menjadi siswa kelas dua.

Kelas yang sangat berbeda dari kelas mereka sebelumnya di Residents. Anna, sebagai tuan putri dari keluarga Murashige belum bisa terbiasa dengan ini. Karena ia memang selalu hidup di tempat yang bersih dan rapih. Pelayan pelayan selalu datang membersihkan ruangan yang kotor. Tapi disini, Anna harus melakukannya sendiri, ditambah, ia satu satunya gadis dari Rose yang tersisa.

Pelajaran selesai, dan ini waktunya istirahat. Anna, Yuri dan Ryosuke mulai berkeliling sekolah, melihat lihat keaadan. Dari mulai lantai satu, lantai dua dan tiga, hingga atap.

“Ada yang mau ke kantin?” Tanya Yuri memecahkan keheningan di atap sekolah baru mereka.

Anna yang bersandar pada pembatas atap hanya menggeleng–menandakan ia tidak ingin ke kantin. “aku tidak bernapsu untuk makan, Yuri” sahut Ryosuke.

“Souka, aku pikir juga sebaiknya kita disini dulu” kata Yuri yang duduk di lantai atap.

Panas terik langsung mengenai kepala tiga siswa elite yang baru saja pindah sekolah itu.

“Kalau tidak salah, nanti ada jadwal untuk mengambil makanan untuk setiap asrama..” kata Anna tiba tiba.

 

“Aku saja yang ambil” jawab Yuri bersemangat, itulah seorang Yuri. Berbeda dari Anna dan Ryosuke. Sifatnya sangat mirip dengan Miku.

“Aku saja. Kau dan Anna tunggulah di asrama” Ryosuke tersenyum. Mungkin memang Ryosuke yang mampu menerobos kerumunan siswa dari Devident. Dia tidak emosional seperti Yuri dan Anna. Ryosuke juga bisa menahan emosi nya sehingga tidak akan melanggar peraturan.

Setelah jam sekolah selesai, Anna dan Yuri kembali ke kamar, sementara Ryosuke pergi mengambil bahan makanan dan minuman. Beruntung mayat di kamar mereka sudah di benahi.

“Ne Yuri.. apa menurutmu aku–kita bisa bertahan disini?” Tanya Anna pada lawan bicaranya–Yuri yang duduk di depannya

“Entahlah tapi bagaimanapun kita harus lulus dari sini” kata Yuri sambil melihat-lihat isi ruangan ini di saat telah terang dan semuanya kelihatan jelas, sangat berbeda dari asrama Rose yang mereka tempati sebelumnya.

Tak lama Ryosuke datang dengan tiga kotak makanan di kedua tangannya.

Yuri mengernyit, ia tak pernah makan dari kotak-kotak seperti ini, bisa di bilang Yuri selalu makan makanan yang enak walau di rumahnya tidak ada pelayan tapi keluarga Yuri tegolong kaya.

Douzo” Ryosuke duduk di meja makan bersama Anna dan Yuri, saat di buka…benar saja makanan itu terlihat tidak sehat, sangat–yah begitulah.

Yuri menelan ludah “bagaimana ini Ryosuke? Anna?” Yuri menatap kedua temannya.

“Sudahlah makan saja” kata Ryosuke dan akhirnya mereka pun makan dengan terpaksa–dari pada mati kelaparan.

.

Hingga malam hari pun tiba, suasana kembali gelap di asrama baru mereka, memang di asrama itu ada lampu, tapi lampunya hanya bercahaya sedikit seakan sudah waktunya untuk rusak.

Yuri yang saat itu sudah mengantuk tapi rasanya ia ingin pipis, akhirnya memutuskan untuk ke kamar mandi.

Saat sampai di sana, Yuri mendapati makhluk aneh dengan wajah yang sangat buruk, badannya juga hanya setengah “KYAAAAAAAA” Yuri langsung lari kembali ke kamar.

Kali ini, mereka bertiga tidur dalam satu kamar.

Sedangkan dalam diamnya Ryosuke berpikir, bahkan makanan yang disediakan jauh dari layak. Sepertinya Ryosuke harus memutar otak mencari bahan makanan yang ada di sekitar sekolah—untuk dimanfaatkan sebagai masakan. Kemampuannya tak akan sia sia disini. Namun apa?

Yuri yang sontak berteriak dari kamar kecil, membangunkan pria ini dari istirahatnya.

“Sesuatu yang menyeramkan lagi?”

Lugas Ryosuke, menepuk dahinya sendiri—sudah terbiasa, asrama yang merepotkan.

Berjam jam ia terbangun, sulit untuk tidur kembali. Banyak pikiran mengambang dalam pandangan kosongnya atas langit langit kayu kamar mereka.

‘Sreek sreek’

Seketika terdengar, Anna bangun dan turun dari tempat tidur. Melangkah keluar menuju pintu belakang, masih dalam piyamanya.

Ryosuke berbalik—dari posisi tidur yang menghadap tembok kamar. Melepas selimut, dan diam diam mengikuti.

Gadis berambut coklat ini merenung, duduk dalam tangga kayu kecil—pintu masuk asrama. Ia tak bergeming 10, 15, bahkan 20 menit. Hanya helaan napas berat yang terdengar.

“Sedang apa?” Tanya Ryosuke, pada akhirnya.

Mengambil posisi duduk tepat disampingnya. Melempar pandangan kearah depan—hanya terdapat deretan pohon layaknya hutan. Cemara, mendominasi. Tinggi menjulang berdaun tajam.

Gadis ini menggeleng, “Hm mm.”

Di malam yang hanya ada mereka berdua seperti ini, seharusnya bisa membuat Anna sedikit lebih terbuka.

“Merindukan Miku?”

Gadis itu menggeleng, walau terlihat sedikit setuju.

Ryosuke dapat membaca gestur dan kebiasaan Anna, tak jauh darinya. Yang dipikirkan sang gadis juga soal sekolah ini.

Namun Ryosuke tak ingin mempertegas itu, biarkan dalam angan saja. Di ungkit setiap malam tak akan menemukan jalan keluar, justru akan membuat down psikis Anna.

Laki laki ini mengusap lembut rambut Anna, seraya mengatakan.

‘Kau kuat. Kau pasti bisa…’

Dengan lembut Ryosuke mengelus rambut Anna yang terurai begitu saja, membuat pipi gadis ini merona. Bagaimana tidak? Ryosuke adalah orang yang ia suka. Ia menatap sosok disampingnya itu sesaat kemudian kembali menghadap depan karena takut Ryosuke akan melihat pipinya yang memerah.

Arigatou..” ucapnya dalam keheningan. Tidak seperti Residents yang dibatasi oleh tembok tembok beton nan kokoh. Devident justru penuh dengan pohon pohon besar yang menjulang tinggi–menutup pandangan para murid dari dunia luar.

“Devident.. kowai ne..” Anna berbicara lagi setelah berhasil mengontrol rasa malu pada Ryosuke.

Pria disebelahnya tersenyum. “bukankah lebih menakutkan Residents?” Tanya nya lembut–membalas kalimat Anna. Sementara Anna hanya bisa tersenyum mendengar jawaban dari lawan bicara nya itu.

Selang beberapa menit kemudian, mereka memutuskan kembali ke kamar dan tertidur di kasur masing masing.

***

Keesokan harinya, mereka bangun tepat waktu, termasuk Yuri. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan hal ini.

Perjalanan ke gedung sekolah Devident tidak begitu lama. Jadi mereka dapat tepat waktu.

Selama perjalanan, Anna terus saja memandang ke kanan dan ke kiri. “ada apa?” Tanya pria yang lebih pendek darinya–Yuri.

“Nee..” Anna berbisik. “aku saja, atau memang sepanjang lorong ini banyak siswa siswi yang bermesraan?” Tanya Anna–polos.

Ryosuke tertawa kecil mendengar pertanyaan Anna. “bukankah staff Residents sudah memberitau kalau peraturan itu, disini tidak berlaku?”

“E-eh? S-souka..” otak Anna memutar, ‘berpacaran diperbolehkan? Rasa suka diperbolehkan? itu berarti.. aku dan Ryosuke–‘ tiba tiba ia teringat sesuatu.

“Kalau saja Miku masih ada bersama kita, point Miku tak akan dikurangi karena menyukai Yuri..” ucap gadis yang berada di antara Ryosuke dan Yuri. Sementara dua temannya hanya menghela napas–setuju dengan apa yang Anna katakan.

Mendengar kata-kata Anna, Yuri hanya tersenyum–mengingat tingkah Miku yang selama sisa hidupnya bersama mereka di asrama Rose.

“Tapi..” Langkah Yuri berhenti, sontak membuat Ryosuke dan Anna juga menghentikan langkahnya, wajah Yuri melihat ke langit-langit “…aku masih tidak bisa menerima Miku karena aku sudah punya kekasih” kata Yuri membuat Anna terkejut, kecuali Ryosuke karena ia sudah Yuri ceritakan sebelumnya.

“Pantas saja kau tolak aku pikir….karena ingin menyelamatkan diri” celetuk Anna, membuat Yuri tertawa kecil lalu kembali melangkah untuk pulang.

.

Malamnya, seperti biasa ketiga sekawan itu tertidur lelap namun tidak dengan Yuri, ia gelisah berpindah tempat ke sana kemari.

“T-tidak” igau Yuri “aku tidak mauu!!” Kemudian pria itu langsung terbangun, nafasnya tersengal seperti orang habis berlari jauh, peluh juga membasahi seluruh tubuhnya hingga membuat bajunya lembab oleh keringat.

Beberapa hari ini hampir setiap malam, Yuri terbangun. Layaknya bermimpi buruk.

“Kau mimpi lagi?”

Ryosuke menenangkan sahabatnya ini seraya mengusap punggungnya. Dan Anna memberikan air putih.

Namun setiap kali ditanya Yuri sulit untuk memecahkan maksud dari mimpi itu. Ia sering tak mengerti.

Ima wa ne… seperti ada yang gawat.” Terengah engah napas laki laki ini.Ryosuke menyimak, “nani ga?

Gadis satu satunya dalam kamar ini pun ikut serius mendengarkan.

“Seperti ada yang mengajakku keluar.” Yuri menunjuk hutan gelap dari jendela asrama, diluar tak ada sosok apapun. Tapi tak ada yang tahu dimata pemuda ini seperti apa.

Setelah berusaha menenangkan, akhirnya ia kembali tertidur. Terkadang pagi pun membuat Yuri kurang beristirahat.

.

Yuri selalu saja terbangun dengan keringat yang membasahi tubuhnya, entahlah apa yang ia mimpikan.

Anna terdiam memikirkan apa yang terjadi pada Yuri. Melirik ke kanan dan kiri, tak ada apapun. Yuri juga sepertinya sudah tertidur. ia kembali teringat dengan Miku–tidak, ia teringat dengan peraturan tentang percintaan yang longgar disini.

“Ne Ryosuke, apa kau masih bangun?” Ucap gadis itu–bisik bisik. “Nani? Tidak bisa tidur?” Suara khas dari pria yang ia sukai, Ryosuke.

“Un.. ne Ryosuke..” Anna berbalik ke arah Ryosuke yang berada di sisi kamar lainnya. “suki” ucap Anna singkat, kemudian ia langsung berbalik menghadap tembok, menutupi wajahnya yang memerah, sementara Ryosuke hanya terdiam mendengar ucapan Anna.

***

Keesokan harinya, mereka bertiga sudah sampai di gedung sekolah Devident dan siap untuk belajar. Bedanya, Anna hari ini sedikit diam. Dia memang pendiam, tapi hari ini berbeda.

Doushita no?” Yuri tiba tiba menepuk bahu Anna, dengan halus tentunya. “hm? A-ah.  Iie, betsuni” Anna tersenyum dan mulai mengeluarkan alat alat belajarnya, sementara Ryosuke hanya memandang kedua temannya itu dari arah samping.

Seperti biasa, satu perwakilan dorm harus mengambil jatah makan di kantin. Kali ini Anna yang pergi walaupun sudah dilarang oleh Yuri dan Ryosuke.

Sekitar setengah jam Anna mengambil jatah makanan, ia akhirnya kembali ke kamar. “tadaima..” ucap gadis itu dengan suara khas.

Yattaa, aku sudah lapar!” Ucap Yuri sambil menyambar salah satu kotak yang Anna bawa. “Gomen gomen, lama ya? Hai Ryosuke, kore” Anna memberikan satu kotak lagi kepada Ryosuke.

“Eh? Hanya dua?” Tanya Yuri, pria ini memang selalu mengatakan apa yang ada di otaknya. “punyamu mana?” Kali ini Ryosuke yang bertanya.

“Maa.. karena aku sedikit takut untuk menerobos kerumunan, jadi aku dapat bagian terakhir dan hanya tersisa dua, hehehe” Anna tertawa, tapi kedua temannya menatapnya heran. “kalian makan saja, aku tidak lapar” kemudian Anna masuk ke dalam kamar.

“Aneh…” Kata Yuri kemudian mulai makan dengan tenang. Pikirannya terus saja melayang pada mimpinya akhir-akhir ini–seorang perempuan menyeramkan terus saja mengajaknya ke suatu tempat yang sedikit mengerikan. Tempat itu masih di sekitar sekolah ini, dan juga sedikit ke arah sekolah Resident.

“Yuri!” Hampir saja pria itu tersedak karena tepukan Ryosuke di bahunya, “ada apa?” Tanya Yuri, baru ingat kalau sedari tadi ia melamum dan hanya makan satu suap.

“Sisihkan untuk Anna, aku sudah menyisihkannya. Kasihan kalau dia tidak makan” kata Ryosuke lalu menaruh kotak itu di meja makan, sedangkan Yuri ia hanya memandang makanannya dengan tatapan kosong.

.

Kembali malam dan malam itu, Yuri malah takut tidur dan iseng mengajak kedua temannya mengobrol “Yuri sudahlah aku mengantuk” protes Anna lalu terdengar ia menguap.

“Iya Yuri aku juga ngantuk” sahut Ryosuke.

“Tapi aku takut…” Belum sempat melanjutkan, Yuri sudah mendengar dengkuran dari Ryosuke, dan sepertinya Anna juga sudah tertidur.

Kemudian, ia pun terpaksa tidur namun tak lama itu Yuri merasakan dirinya seperti ada di hutan.

Kepala Yuri menengok ke sana kemari, dan ah ada sekolah Resident.

“Ba!” Yuri meloncat saat mendengar seruan itu, di depannya sudah ada perempuan manis sambil tersenyum–hampir saja Yuri terpikat.

“Kau?”

“Iya aku hantu yang selama ini bersama mu. Maaf, kemarin kau ketakutan terus ya? Hehe” katanya, wajah pucat pasi terpancar menandakan kalau ia memang benar-benar hanya makhluk halus.

Yuri tersenyum “iya..” Katanya singkat.

“Sebenarnya aku ingin menunjukan sesuatu kepada mu dan ingin meminta tolong dengan mu dan teman-teman mu itu untuk menyelamatkan anak-anak sekolah” kata gadis itu dengan tergesa-gesa, dahi Yuri mengkerut.

“Maksud mu?” Tanya Yuri, ia pun mengikuti langkah gadis itu setelah sang gadis mengisyaratkannya untuk ikut bersamanya.

Sebuah bangunan besar dan kokoh kini berada di hadapan Yuri, hingga akhirnya ia masuk ke sebuah ruangan–mereka seperti tak terlihat oleh orang-orang di sana.

Di dalam, ada seorang pria tua dengan kaca mata tebal, asap rokok mengepul saat ia menghembuskannya “bagaimana anak-anak di Resident? Sudah kalian pindahkan ke Devident?” Tanya pak tua itu.

Yuri terkejut mendengarnya.

“Sudah” kata seorang pegawai yang memakai baju seragam Resident.

Pak tua itu tersenyum–licik “aku suka melihat mereka semua mati” katanya. “Perlihatkan rekaman cctv itu saat mereka semua akan keluar dari gerbang sekolah” sesuai perintahnya, salah satu staff tersebut menghidupkan televisi yang berada disudut ruangan besar ini, tak lama tayangan orang-orang yang tubuhnya di sabit oleh shinigami terlihat di sana, jeritan, pertumpahan darah, semuanya terlihat dan terdengar dari televisi itu, bercampur dengan tawa iblis dari pak tua tersebut.

Yuri yang berada di sana menutup telinganya sambil menggeleng frustasi.

“Kyaaaa” lagi-lagi Yuri terbangun.

.

Mengusik, membuat Ryosuke terbangun dari tidurnya.

Mata yang belum terbuka sepenuhnya—sedikit menyipit, ia melihat ke sekeliling. Tak nampak Yuri dalam tempat tidurnya.

“Anna. Anna…” pelan mengguncang bahu gadis itu, dan membangunkan. “Yuri tak ada.” Ucap Ryosuke mulai heran, tapi ia tak mau panik.

Masih berpositif thinking—kalau perginya Yuri hanya ke sekitar.

“Sudah ketemu?”

Gadis ini menggeleng— terengah engah, mencari di kamar mandi. Terus berputar hingga keluar asrama, sementara Ryosuke mencari senter dan berniat menyusuri pintu belakang.

Ini aneh.

Bermodal jaket tipisnya, ia mulai bersiap, “aku pergi.” Lugas pria ini, sebelum berangkat kehutan.

Anna menahan bahunya, “aku ikut.”

Berpikir beberapa detik—bahaya memang Anna, bila malam seperti ini ikut keluar mencari di hutan. Tapi ia disini pun tak ada yang menjaga, semua siswa sudah tidur. Sama bahayanya meninggalkan di sarang serigala, yang kapan saja bisa menyerang pemukiman warga—akhirnya Ryosuke mengangguk, setuju.

“Tapi jangan terpisah dariku.”

Gadis itu mengangguk—mereka berjalan dalam rute setapak, masih rapi Anna dalam piyamanya.

“Kyaa!”

Kelam, sangat liar disini. Satu penyinaran memang tidak cukup, benar benar seadanya.

“Astaga… apa itu.”

Gadis ini tampak sedikit menjerit bila ada suara sesuatu yang lewat, entah itu semak, tupai atau apapun.

Laki-laki ini tak banyak bicara—hanya mulai menggandeng erat Anna, seraya memberi kekuatan.

“Fokus mencari Yuri.” Singkatnya, agar Anna tak memikirkan ketakutan apapun.

Beberapa puluh meter jauhnya dari bangunan kayu asrama, telah mereka tapaki. Terdengar suara aliran air. Seperti… sungai, namun sangat deras.

Pemuda ini juga mendengar derap kaki. Secercah pakaian yang sangat ia kenal muncul dari balik semak.

Berjalan… mendekat ke sungai, tampak tanpa kesadaran.

“YURIII!!” sontak Ryosuke berlari secepat yang ia bisa, menubruk teman nya kini hingga tersungkur.

Akhirnya dia tersadar.

“Sedang apa kau disini?! apa kau sadar? kau hampir tenggelam! mau mati hah??”

Omel Ryosuke yang khawatir luar biasa.

Sulit mencari Yuri, ternyata ia ada sejauh ini.

Anna yang mendengar tampak ketakutan, dan ikut kesal dibuatnya. Benar benar mengkhawatirkan.

Namun Yuri tadi seperti dikendalikan sesuatu, apa benar? Mengikuti apa anak ini…

“A-ano.. sebaiknya kita kembali ke asrama sekarang..” ucap gadis bersurai cokelat ini menghentikan pertanyaan Ryosuke yang bertubi tubi kepada Yuri.

Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh, bahkan mungkin lebih jauh dibanding saat mereka pergi.

Ketika sampai di asrama, Anna langsung memberikan segelas air kepada Yuri, untuk menenangkannya dan membuatnya lebih sadar.

“Sebaiknya malam ini kita tidur dulu, karena sebentar lagi pagi” ucap Ryosuke sambil menepuk bahu Yuri. “kau, istirahatlah” kalimat Ryosuke ini dibalas dengan anggukan dari Yuri. Sepertinya dia masih kaget dan–syok mungkin.

***

Keesokan harinya, seperti biasa mereka sudah sampai di gedung sekolah Devident. Yuri kelihatan sangat lesu, bahkan wajahnya pucat. Ryosuke dan Anna yang melihatnya menjadi panik.

“Yuri.. daijoubu?” Tanya Anna yang memang duduk di antara Yuri dan Ryosuke. Yuri kembali menggeleng. “nanti aku ceritakan..” kata Yuri dengan suara yang sedikit ketakutan.

.

Saat di asrama, Yuri menceritakan semuanya. Di mulai dari ia menemui gadis cantik dan di ajak ke sebuah bangunan tersebut, mendapat laki-laki tua yang berkata senang melihat anak-anak remaja mati, melihat pembunuhan massal anak-anak Resident saat akan kabur dari sekolah.

Hingga akhir, ia cerita kalau dirinya terbangun namun masih bisa melihat perempuan itu, sang perempuan ingin mengajaknya lagi ke suatu tempat “tapi aku terbangun karena Ryosuke mengagetkan ku” kata Yuri mengakhiri ceritanya.

Keheningan terjadi di antara mereka “kira-kira…” Ryosuke berbicara pelan “dia mau mengajak mu kemana?” Tanya Ryosuke menatap mata sayu temannya itu.

Yuri menggeleng “dia hanya bilang, di sana ada buku berisi mantra yang bisa menghilangkan shinigami” kata Yuri mengingat sedikit kejadian semalam.

Ryosuke dan Anna saling bertatapan heran “berarti pemilik sekolah ini ada maksud jahat” kata Anna berpendapat, di jawab anggukan dari kedua temannya–menandakan kalau mereka setuju.

.

Malam harinya mereka bertiga telah siap tidur seperti biasa—namun di sisipi rencana pada tindakan kali ini.

Mereka tak mau gegabah.

Rencananya adalah, tangan Yuri dan tangan Anna akan saling terhubung, diikatkan tali merah yang kuat namun tak menyesakan. Mengapa? Agar saat Yuri terbangun dan melakukan tindakan—maupun berjalan keluar, hal itu akan menuntun Anna. Yuri tak akan sendiri, sedangkan Ryosuke, menjaga mereka—dari belakang mengikuti dan menyinari setiap langkah nya juga mengawasi kalau kalau ada sesuatu yang membahayakan Yuri di depannya. Ia tak akan celaka. Langkah ini akan dilakukan lebih berhati hati.

Mereka pun memejamkan mata.

Oyasumi

Sahut bersamaan sembari mematikan penerangan kecil dalam asrama kayu itu.

Satu jam, dua jam, tiga jam—tepat dugaan.

Ryosuke masih terbangun dalam baring nya, berjaga 24 jam untuk kedua temannya. Anna tertidur, karena ia akan tertarik otomatis bila Yuri bangun.

Pukul 1 malam, pemuda kecil ini mulai keluar dari selimutnya.

Kitta…” Ryosuke berdesir pelan, mulai siap dengan pencahayaannya.

Satu satunya gadis dalam kamar ini ikut—sedikit tertarik, pergelangan dan jarinya terangkat.

“Anna… Anna bangun, Anna.”

Ucap Ryosuke berulang ulang untuk membangunkan putri bangsawan ini, juga—selain tarikan Yuri. Agar ia tak terkejut dan terseret.

Anna pun terbangun, dan bergegas dengan sandal nya.

“Ikuti Yuri.” Sinyal senter Ryosuke menunjuk ke arah satu sahabatnya itu yang nyaris keluar asrama—ia benar benar akan melangkah kembali ke hutan.

‘Hihi… bermain kereta keretaan ya?’

Desir duara gadis misterius di hadapan Yuri—namun yang terdengar bagi Ryosuke dan Anna hanyalah angin.

‘Jadi semua ingin ikut? Baiklah.’

Sosok dalam balutan seragam lengkap—namun koyak—itu tertawa, menuntun dalam terbangnya.

Anna terdiam sambil terus mengikuti langkah Yuri karena tangannya yang terikat. “Kowai..” ucapnya perlahan.

Suasana hutan yang begitu gelap dan dingin membuat semuanya makin menakutkan.

Setelah lama berjalan, Yuri–mereka akhirnya sampai pada sungai yang hampir menenggelamkan yuri waktu itu.

“Ryosuke doushiyou?” Tanya Anna sambil sedikit menahan tali yang akan menariknya. Jangan sampai Yuri terjatuh ke dalam sungai itu.

‘Hihihi baiklah, jangan lewat sini’ ucap gadis yang wujudnya–bahkan suaranya tak bisa didengar oleh Anna dan Ryosuke.

Dengan sendirinya, Yuri memutar arah melewati pinggir sungai, dua temannya yang mengikuti sedaritadi hanya bisa diam–tercengang, tapi tetap mengikuti langkah demi langkah yang Yuri ambil.

Cukup lama mereka berjalan, hingga sungai tak terlihat lagi. Dedaunan yang semakin lebat Membuat suasana semakin gelap, bahkan cahaya bulan tak dapat menembus daun daun itu.

Itte..” Anna tersandung sesuatu, untungnya tidak terjatuh. “ada apa?” Tanya Ryosuke sembari mengarahkan senter ke arah kaki Anna untuk melihat apa yang menyandung Anna.

Betapa terkejutnya mereka saat melihat sebuah tengkorak manusia di atas tanah. Itu membuat Anna langsung mundur dari sana. “K-kowai…

‘Hm.. bagaimana ya, bahaya jika mereka juga jadi korban’

Tanpa disadari Ryosuke dan Anna, roh gadis yang sedaritadi menuntun Yuri kini sudah masuk ke dalam raga yuri. “nee nee, sudah kan? Ayo kita jalan lagi!” Ucap Yuri–tidak, suaranya berubah menjadi suara seorang gadis.

Mereka terkejut mendengar perubahan suara Yuri.

“Kau siapa?” Tanya Anna takut dan mulai menjauhkan dirinya dari Yuri, Yuri–gadis itu tersenyum.

“Umika desu” wanita yang mengaku sebagai Umika itu melepas ikatan tangan Yuri dan Anna “nah sekarang kalian bisa berjalan dengan bebas, ikuti aku sembari itu akan ku ceritakan maksud ku mengajak kalian dan satu teman kalian ke sana”

“Tapi Yuri?” Ryosuke memikirkan nasib roh teman satunya itu “tenang saja dia mengikuti mu” katanya sambil tersenyum, Ryosuke lega lalu mengangguk dan mulai berjalan mengikutin tubuh Yuri yang sedang berjalan.

Ternyata dari cerita Umika, ia adalah anak Resident yang juga di pindahkan ke Devident karena kasusnya sama seperti yang Yuri, Ryosuke dan Anna alami, pada suatu malam tanpa gadis itu sadari ia berjalan menyusuri hutan dan masuk ke dalam sebuah bangunan besar dan masuk ke sebuah ruangan.

Di sana, terdapat bos–pemilik Resident plus Devident, Umika menguping kalau ia membangun sekolah ini untuk memusnahkan anak-anak remaja dengan cara menghukum mati mereka dengan shinigami–agar nama sang pemilik bersih dan tidak di permasalahkan sampai ke pihak kepolisian.

Dan, saat itu sang pemilik sekolah menyebutkan kalau di perpustakaan lama terdapat buku mantra untuk menghilangkan shinigami.

“Tapi, saat aku ingin mengambil dan membaca mantra nya beberapa penjaga menarik ku ke sebuah ruang bawah tanah, mereka membunuh ku di sana, membelah tubuh ku lalu mereka membawa ku lagi ke asrama dan manaruh ku di kamar ini tapatnya kamar yang kalian tempati saat ini” Umika mengakhiri ceritanya tepat di depan sebuah perpustakaan lama–‘Resident Library’ terpampang jelas di atas pintu masuk perpustakaan.

“Buku nya terjatuh saat aku di tangkap semoga saja masih ada” kata gadis itu yang kini sedang meminjam tubuh Yuri.

Ryosuke dan Anna masih setia mengikuti tubuh Yuri sambil mendengar setiap cerita dari Umika–karena setiap cerita dari Umika adalah hal paling penting bagi mereka.

“Nah itu ada” seru Yuri–Umika dan langsung menghampiri buku itu, memberikannya kepada Anna “carilah di mana mantra itu karena aku belum membacanya sama sekali” ia tersenyum.

“Saat shinigami itu hilang aku akan tenang, jya..ne” selang beberapa detik kemudian tubuh Yuri terjatuh ke lantai–ia pingsan.

Buku yang bertengger manis di tangan Anna—tampak tua, rapuh penuh debu. Layaknya sudah dikubur berkali kali lalu dibongkar kembali. Benar benar aroma tanah basah. Lembar perlembar dibuat dari kulit binatang dan goresan pena tinta berujung tajam. Seperti materi terlarang yang dipelajari berabad silam.

Memanggil—dan memusnahkan shinigami.

Yuri telah sadar, dan Ryosuke memegangi bahunya erat. Menjaga keseimbangan sahabatnya.

“Sudah baikan?” Tanya pria ini dalam suara berat—penuh bebatuan nyaris bergema.

Laki-laki dengan tubuh kecil itu mengangguk samar. Dan menengok kanan—kiri, mencari tahu dimana keberadaan nya saat ini.

“Koko… doko?”

“Nanti saja ceritanya, sekarang kita harus cepat keluar.” Ryosuke membereskan senternya yang ia taruh begitu saja, dan membantu memapah Yuri. “bawa buku itu Anna.”

Gadis Russia ini pun mengangguk, mereka mencari jalan keluar sebelum pagi menyangsang dan ketiga anak ini terperangkap didalam tanpa bisa bersekolah—selalu berjaga jaga agar point tidak berkurang, tidak bila shinigami bisa di musnahkan.

Perjalanan kembali kali ini lebih merepotkan—entah kenapa, mungkin karena arwah Umika tadi benar benar mengenal medan hutan sehingga ia tahu kemana harus menuntun dalam jalan yang lebih baik—sedangkan ketiga orang ini, aslinya sangat awam.

Sampai akhirnya mereka tiba di muka hutan—sedikit lagi sampai asrama, namun.

“Sedang apa kalian?” Sorot senter berdiameter lebih besar sukses menyinari pengelihatan ketiga anak ini, membuat mereka sedikit terpejam karena menyilaukan.

“Untuk apa kehutan?? Malam malam seperti ini… hampir pagi, kalian tak lihat?” Laki-laki paruh baya—yang tampak seperti staff Devident ini sepertinya mulai tegas, entah apa yang ditutupi dalam hutan ini—Mereka sebenarnya sudah tahu.

Buku itu Anna selipkan dalam mantel tipis piyamanya, berusaha untuk tidak ketahuan.

To Be Continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s