[Multichapter] Desire Or Love? (Chap 14) ~End~

Desire or Love?
By: kyomochii
Genre: Friendship, Romance, Drama
Rating: PG-13
Cast: Ichigo Yua, Morita Mirai (OC), Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES), Chinen Yuri (HSJ), Shimekake Ryuya, Morita Myuto (Travis Japan)
Disclaimer: Semua Cast cowok dalam cerita ini under talent agency Johnny’s & Associates dari berbagai grup yang berbeda, bisa ada, bisa tidak tiap chapternya, tergantung mood author :p
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Taiga masih sibuk mengaduk coklat di cangkirnya, bahkan setelah minuman itu tidak lagi panas. Sambil sesekali mengecek ke arah pantry, menunggu sosok yang keluar dari sana dan berjalan menuju ke arahnya. Sudah lebih dari 30 menit Taiga menunggu.

“Gomen, Kyomoto-san. Aku terkejut tiba-tiba kamu menghubungiku dan ingin menemuiku.” Sosok pemuda yang sedari tadi ditunggu Taiga, kini sudah duduk di sebelahnya, menawarkan sepiring cookie yang baru selesai dipanggangnya. “Tenang, yang ini gratis. Anggap saja aku menjamu tamuku.”

“Arigatou.” Balas Taiga mencoba membalas keramahan pemuda itu.

“Ada apa? Ada hal penting yang harus kita bicarakan? Tentang Yua-chan?” Taiga melihat sorot kekhawatiran di mata pemuda itu saat menyebutkan nama gadis yang memang akan menjadi topik pembicaraan mereka kali ini. “Chinen-san sudah menghubungi Chii-chan?” tanya Taiga, memulai perbincangannya.

“Aku menelponnya beberapa waktu lalu. Aku mendengar suaranya. Tapi sepertinya dia sedang mengalami kesulitan, karena aku mengenal setiap perubahan dari suaranya. Aku ingin sekali pergi menemuinya, tapi aku masih takut dengan penolakannya. Apa kamu tahu apa yang terjadi dengannya?”

“Yuu-chan dapat beasiswa melanjutkan sekolah di Eropa. Jadi mereka harus berpisah. Karena itu Chii-chan jadi sedih.” Jelas Taiga. Chinen mengangguk-angguk tanda memahami apa yang telah terjadi. Berangsur-angsur kekhawatiran di wajah Chinen mulai memudar, membuat Taiga gatal untuk bertanya. “Chinen-san tidak cemburu sama kedekatan Chii-chan dengan Yuu-chan?”

“Kenapa?” Refleks Chinen membalas pertanyaan Taiga dengan pertanyaan. “Mereka selalu bersama dari kecil. Dari semua orang, Yuu-chan lah yang paling mengerti tentang Chii-chan. Mungkin, dari semua orang juga, Yuu-chan lah satu-satunya orang yang bisa membahagiakan Chii-chan. Memikirkannya saja membuatku merasa bersalah karena membawa Chinen-san kembali ke kehidupan Chii-chan.” Jelas Taiga sedikit frustasi.

“Tapi mereka tidak saling mencintai. Aku tahu itu. Yugo selalu memikirkan Yua seperti adiknya sendiri. Meskipun aku tidak punya adik, tapi aku bisa merasakannya.” Chinen berusaha meyakinkan dirinya sendiri tentang apa yang dirasakannya, tidak ingin terpengaruh dengan sugesti yang diberikan Taiga.

“Apa Chinen-san benar-benar mencintai Chii-chan?” Chinen mengangguk pasti, meyakinkan Taiga tentang perasaannya. “Aku hanya ingin melihat Chii-chan bahagia. Dengan begitu aku tidak akan pernah menyesal karena Tuhan sudah memberiku kesempatan kedua.”

“Apa aku boleh bertanya sesuatu?” Melihat ekspresi Taiga membuat Chinen penasaran mengapa pemuda itu sangat menginginkan kebahagiaan Yua sampai seperti itu. Taiga menatap ragu ke arah Chinen, menerka-nerka pertanyaan apa yang akan ditanyakan pemuda itu. Setelah menimbang cukup lama, akhirnya Taiga mengangguk, mengijinkan Chinen mengajukan beberapa pertanyaan.

“Aku hanya tahu, hubunganmu dengan Yua sama seperti hubungannya dengan Yugo. Bedanya, kamu harus berpisah dari mereka sejak masih kecil. Tapi, apa benar hubunganmu dengan Yua hanya sebatas itu? Mengapa kamu begitu menginginkan Yua bahagia dengan orang lain? Bagaimana denganmu? Apa kamu tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Yua? Jujur, saat melihatmu bersama Yua di stasiun hari itu, aku tidak bisa menganggapmu seperti aku menganggap Yugo di kehidupan Yua.” Bukan sekedar pertanyaan, Chinen mengungkapkan apa yang selama ini selalu mengganggu pikirannya. Sejak awal mengenal Taiga, saat pemuda itu tahu kalau Yua yang dikenal Chinen adalah Yua dari masa kecilnya, Chinen menyadari sorot kerinduan yang sangat dalam selalu terpancar dari kedua mata pemuda itu setiap kali mereka membicarakan Yua. Tidak hanya itu, bukan satu atau dua kali, Chinen juga dapat merasakan Taiga begitu membencinya jika mengingat kejadian di tempat karaoke setahun yang lalu. Chinen bisa merasakan, perasaan Taiga ke Yua bukan hanya sekedar rasa sayang seorang kakak yang ingin melindungi adiknya seperti yang selalu Yugo lakukan. Taiga memikirkan Yua lebih dari sekedar seorang adik.

“Aku mencintainya. Di masa lalu, masa sekarang bahkan di masa setelah kematian. Jika nanti aku dilahirkan kembali, aku tetap ingin menjadi orang yang selalu mencintainya.” Chinen tertegun mendengar jawaban Taiga. Meskipun sudah dapat mengira jawaban seperti itu akan keluar dari mulut Taiga, tapi melihat keseriusan sekaligus kesedihan di wajah Taiga membuat Chinen tidak mampu berkata-kata.

“Tapi sayangnya, aku bukan orang yang bisa membahagiakannya. Aku sudah pernah satu kali membuatnya tidak bahagia. Melihat bagaimana dia melupakanku, membuang semua kenangan tentang kami, cukup membuatku sadar bagaimana Tuhan menghukumku tentang apa yang sudah aku lakukan padanya. Meskipun aku tidak menyangka Tuhan mau memberiku kesempatan kedua untuk kembali melihatnya. Karena itu, aku memutuskan untuk menjadi orang yang membawa kebahagiaan dalam hidupnya. Begitulah caraku mencintainya.” Taiga mengakhiri penjelasannya seraya meneguk sisa coklat yang ada di cangkirnya.

“Meskipun harus mengorbankan kebahagiaanmu? Jangan jawab, aku bahagia hanya melihatnya bahagia!” tegas Chinen, tidak habis pikir ternyata ada orang yang berpikir seperti itu di dunia nyata. Taiga hanya membalas pernyataan Chinen dengan senyuman, tanda membenarkan.

“Terserah kamu mau berpikir seperti apa. Tapi aku yakin, cuma aku yang bisa membahagiakannya. Lihat saja! Karena itu kamu harus janji, kamu akan bahagia saat kami nanti bahagia dan tidak pernah berusaha merebutnya!” Taiga menyunggingkan senyum mengejek mendengar pernyataan Chinen dan mulai menggodanya. “Kamu yakin bisa membahagiakannya, tapi mengungkapkan perasaanmu kepadanya sekali lagi saja belum berani? Kapan kamu membahagiakannya? Sebaiknya kamu cepat, sebelum aku cari orang lain untuk membahagiakannya.”

“Minggu depan, setelah ujian, aku akan segera pulang dan menemuinya. Aku akan mengungkapkan perasaanku sekali lagi padanya.”  Janji Chinen. Taiga dapat melihat kesungguhan perasaan yang dimiliki Chinen. Kali ini, dia tidak lagi meragukan keputusannya. “Tapi ada satu hal lagi yang membuatku penasaran. Kenapa sepertinya kamu terlalu terburu-buru ingin membuatku kembali dengan Yua?”

“Aku dengar dari Yuu-chan, ada cowok bernama Hokuto yang sedang dekat dengan Chii-chan. Mereka selalu bersama dan sepertinya cowok itu suka sama Chii-chan. Aku tidak rela kalau Chii-chan harus dengan cowok yang tidak aku kenal.” Taiga memasang wajah kesal saat menjelaskan alasannya kepada Chinen.

“Memangnya kamu mengenalku? Bagaimana kamu yakin aku bisa membahagiakan Yua padahal kamu tidak mengenalku?”

“Bukannya kamu baru saja menjelaskan ke aku kalau kamu akan membahagiakan Chii-chan?” Balas Taiga, sedikit membentak, tidak suka dengan pertanyaan Chinen yang terkesan menggodanya. “Maksudku sebelum hari ini.” Jelas Chinen menahan tawa melihat ekspresi Taiga sedikit salah tingkah.

“Aku tidak mengenalmu. Tapi aku mengenal Chii-chan jauh sebelum kamu mengenalnya. Aku paham dari setiap ekspresi yang tersirat di wajahnya. Saat terakhir dia melihatmu di stasiun, aku bisa melihat betapa dia masih menyukaimu. Makanya, saat aku tahu kamu masih begitu mempedulikannya, bahkan sampai menolak beberapa cewek demi menjaga perasaanmu padanya, aku ingin kamu kembali padanya dan membahagiakannya.”

“Tapi apa memang harus secepat ini? Aku masih takut ditolak. Yua itu selalu keukeuh dengan pendiriannya. Kamu tahu apa yang sudah aku lakukan padanya, kan? Meskipun aku melakukannya karena aku mencintainya, tapi aku sadar kalau aku sudah berlebihan.” Jelas Chinen mengutarakan keraguannya.

“Maaf, mungkin ini keegoisanku. Tapi aku ingin sekali saja, melihat Chii-chan bahagia sebelum aku harus pergi. Setelah bertemu lagi dengannya, aku hanya selalu menangkap ekspresi sedih di wajahnya. Aku ingin melihat keceriaannya yang dulu, seperti Chii-chan yang aku kenal. Waktuku sudah tidak banyak lagi.”

“Kamu mau pergi ke mana? Apakah setelah itu kamu tidak bisa melihat Yua lagi? Seolah-olah kamu mau mati saja.” Taiga tidak menjawab pertanyaan Chinen. Dia mulai mengambil cookie yang tadi dibawakan Chinen, lalu melahapnya. Suasana di antara mereka menjadi hening untuk beberapa saat sampai akhirnya Taiga memutuskan untuk menceritakan semua tentang dirinya kepada Chinen.

*********

Hari ini adalah hari pertama Hokuto akan bertemu dengan Yua lagi setelah malam itu. Hokuto kaget saat menerima pesan dari Yua yang mengajaknya mengikuti pesta yang diadakan Mirai di villa keluarganya. Awalnya Hokuto hendak menolak, karena takut tidak mengenal siapapun di sana. Tapi begitu mengetahui Shintaro juga akan pergi bersama mereka, dia menyetujuinya. Sudah sejak 10 menit yang lalu, Hokuto menunggu di depan rumah keluarga Ichigo, karena mereka janji berangkat bersama menuju tempat bimbel, tempat berkumpulnya dengan teman-teman yang lain.

“Sudah lama nungguinnya? Gomen >< Aku belum terbiasa melakukan semuanya sendiri. Biasanya Yuu-chan yang selalu menyiapkan keperluanku kalau untuk acara seperti ini. Sekali lagi, gomen ya ><” Yua berlari kecil menuju arah Hokuto sambil menarik koper kecil warna pastel yang serasi dengan jaket tebal yang dikenakannya.

“Sini aku bantu bawa. Karena sekarang gak ada Kouchi-san, ijinkan aku menjadi guardianmu sampai sang guardian yang asli kembali, nona muda.” Hokuto menunduk sambil mengulurkan tangannya, memberikan akses pada Yua untuk mendorong kopernya ke arahnya. “Ijin diterima.” Balas Yua sambil memberikan kopernya pada Hokuto, membuat kedua tangannya sekarang bisa memeluk kantong plastik berisi bahan makanan yang sudah dipesan Mirai untuk dibawakannya.

Sebelumnya, Hokuto dan Yua sudah memutuskan untuk melupakan kejadian malam itu. Tidak ada yang bisa menggantikan Yugo bagi Yua, begitupun Hokuto sudah berjanji tidak akan mencoba menjadi pengganti Yugo di kehidupan Yua. Tapi Hokuto tidak bisa berjanji untuk tidak menggantikan Yugo sebagai pelindung Yua selama pemuda itu tidak ada di sisi Yua. Yua menyetujuinya, hanya sebagai pelindung.

“Itu mereka datang. Yua-chaaaan, ayo buruan!!! Dingin banget nih di sini!” Yua masih memeluk kantong plastik bawaannya, yang lalu diangkatnya sampai menutupi wajahnya berusaha menunjukkan dia sedang berjuang membawa barang, membuatnya tidak memperhatikan seseorang yang sudah berjalan ke arahnya, mengambil kantong itu dari tangannya.

“Taiga!!!? Kamu kenapa ada di sini? Kok gak kasih tahu aku dulu?” tanya Yua beruntun karena kekagetannya melihat Taiga ada bersama mereka. “Sureprise!!” seru Taiga disambut gelak tawa keduanya, membuat Yua meninggalkan Hokuto yang memandangi mereka dengan perasaan gelisah.

“Myuto dan teman-teman lainnya sudah berangkat duluan. Jadi tinggal kita berlima yang tersisa.” Yua melihat Shintaro yang sudah bersiap di bangku pengemudi, menyuruh mereka untuk segera masuk.

Di sepanjang perjalanan, Yua sibuk menginterogasi Taiga ini itu karena tidak memberitahunya tentang kedatangannya. “Bukannya kamu baru selesai ujian kemarin? Kenapa tiba-tiba bisa ada di sini?”

“Ya kan ujiannya kemarin. Terus aku gak sengaja lihat postingan Mirai kalau kalian mau liburan. Jadi, mana mungkin aku melewatkannya begitu saja, kan?!” Jawab Taiga santai, membuat Yua semakin merajuk karena tidak hanya Taiga, tapi Mirai juga bersekongkol tidak memberitahunya.

“Kamu sendirian?” Tanya Yua, masih cemberut. “Maunya aku sama siapa, hayooo?” Goda Taiga, sengaja ingin membuat Yua semakin merajuk. “Ya, biasanya kamu sama Juri. Kalian kan sepaket, gak bisa dipisahin.” Siapa lagi yang diharapkan Yua datang bersama Taiga kalau bukan Juri?! Kalaupun Yua mengharapkan orang lain, Yua tahu hal itu sangat mustahil terjadi. “Juri ada di mobil satunya. Dia meninggalkanku demi Myuto. Hiks.” Kali ini gantian Taiga yang pura-pura merajuk. “Enak ya jadi cowok. Cepat banget akrabnya. Padahal mereka baru pertama bertemu satu kali musim panas tahun lalu. Tapi sudah bisa berteman akrab gitu.”

“Kamu tahu Yua, Myuto sampai bela-belain gak mau tinggal di asrama lagi biar bisa sering-sering ke Tokyo menemui Juri dan Taiga. Mana aku gak pernah diajak.” Sahut Mirai sewot dari bangku depan. “Yaudah, nanti kamu ke Tokyonya sama aku saja. Lagipula, aku belum pernah sekalipun mengunjungi rumah keluarga Kyomoto. Selalu Taiga yang ke sini untuk menemuiku dan Yuu-chan.” Yua berjanji pada Mirai untuk menenangkannya.

“Bagaimana kalau lain kali, gantian kita yang liburan ke Tokyo? Banyak tempat yang ingin aku kunjungi juga. Bagaimana menurutmu, Hokuto?” Kali ini Shintaro ikut nimbrung dalam percakapan, berusaha menyeret Hokuto juga masuk ke dalamnya. Tapi pemuda itu menjawab malas-malasan, “Kita lihat nanti.” Namun jawaban Hokuto tidak mengendurkan semangat Shintaro yang mulai membuat mereka asyik mendiskusikan rencana liburan ke Tokyo nanti. Sampai akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.

“Yua-chan ikut aku mengambil bahan-bahan lain di rumah induk sebentar. Shin-chan juga ikut kita.” Segera setelah turun dari mobil, Yua dan Shintaro mengikuti Mirai menuju rumah induk. “Kira-kira, segini cukup gak buat 10 orang?” tanya Mirai setelah selesai menyusun semua bahan ke dalam beberapa keranjang untuk memudahkan mereka bawa.

“10 orang? Bukannya kita hanya bersembilan?” Yua mulai menghitung satu per satu orang yang mungkin ikut dalam rombongan mereka. “Jangan lupa, kita punya satu orang yang mungkin bisa menghabiskan dua porsi sendiri.” Mirai melirik sinis ke arah Shintaro. “Terima kasih atas pujiannya, Mirai yang cantik. Aku jadi terharu kamu begitu memikirkanku.” Gurau Shintaro membuat ketiganya tertawa.

Saat ketiganya datang, Yua hanya melihat Hokuto bertiga saja dengan Jesse dan Ryuya menyiapkan perlengkapan barbekyu, sedangkan tiga yang lainnya entah menghilang ke mana. “Tenang saja, semuanya sudah siap kok. Dessert dan lainnya sudah kita siapkan di ruang tengah. Myuto sepertinya mengantarkan Taiga dan Juri untuk membeli sesuatu. Kan kita cuma di sini untuk semalam ini saja.” Ryuya menjelaskan.

“Ngomong-ngomong, kita ngadain pesta ini dalam rangka apa sih?” Hokuto selalu mempunyai pertanyaan ini sejak hari Yua mengajaknya untuk ikut bersamanya. “Hokuto-kun, mulai hari ini, kita semua yang ada di tempat ini, kebetulan tiga yang lainnya memang gak termasuk, akan melewati hari-hari sebagai teman seperjuangan. Meskipun kita diterima di fakultas yang berbeda-beda, tapi kita tetap satu Universitas, kan? Apakah alasan ini kurang patut digunakan untuk merayakannya?” Hokuto tertegun mendengar jawaban Jesse. Baru kali ini baginya melakukan kegiatan seperti ini bersama dengan teman-temannya. Bahkan Hokuto belum secara resmi menjadi teman mereka, karena di tempat itu hanya Yua, Mirai dan Shintaro yang dikenalnya.

“Pesta untuk mempererat persahabatan.” Gumam Hokuto yang sayangnya dapat didengar jelas oleh Jesse. “Ada apa, Hokuto-kun? Emm, apa aku boleh memanggilmu Hokuto saja?” Selama ini tidak ada yang memanggil namanya saja selain Shintaro, dan tentu saja Yua akhir-akhir ini. Hokuto membalas senyuman Jesse dengan anggukan yang kelewat bersemangat, membuat keduanya tertawa malu-malu. “Jesse?” Hokuto mengulurkan tangannya, menerima jabat tangan Jesse, tanda mulainya persahabatan di antara mereka.

“Kenapa mereka lama sekali sih? Aku akan coba hubungi Taiga.” Yua masih separuh jalan menuju ruang tengah untuk mengambil ponselnya, saat melihat sosok yang sangat dikenalnya berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah kue berhiaskan lilin angka 17, diikuti nyanyian selamat ulang tahun dari teman-teman yang lainnya.

Ada dua hal yang menyebabkan Yua tidak mampu berkata-kata saat ini. Pertama, Yua tidak menyangka teman-temannya merencanakan untuk merayakan ulang tahunnya lagi. Karena minggu lalu, saat tepat di hari ulang tahunnya, mereka sudah membuat pesta kejutan untuknya sepulang sekolah. Dan kedua, orang membawa kue untuknya, Chinen Yuri. Orang yang sudah dengan susah payah Yua lupakan, kini berada tepat di hadapannya, merayakan hari ulang tahunnya bersama dengan teman-temannya.

“Selamat ulang tahun, Chii-chan. Maaf telat seminggu aku merayakannya. Meskipun seminggu yang lalu aku sudah mengucapkannya, sih. Ini hadiah dariku dan Juri.” Yua menerima sebuah boneka kucing seukuran dengan tubuhnya, lalu meninju pelan ke arah Taiga. “Bukannya minggu kemarin kamu sudah mengirimkan 3 boneka kucing ke rumahku? Kamu mau menjadikan kamarku museum boneka kucing darimu?” Taiga membalas tinjuan Yua dengan sebuah pelukan, membuat keduanya larut sesaat dalam perasaan masing-masing, sebelum Taiga menyadari apa yang harus dilakukannya.

Taiga menarik Juri dan Myuto berjalan ke arah teman-teman yang lain, memberikan Chinen kesempatan untuk berjalan lebih dekat menuju ke arah Yua. “Selamat ulang tahun, Yua-chan. Semoga kamu menyukai kue buatanku.” Rasanya Yua ingin melarikan diri saat itu juga, kalau saja tidak melihat teman-temannya yang sedang menunggunya untuk melakukan pesta barbekyu bersamanya. “Arigatou, Chinen-kun. Aku selalu menyukai kue buatanmu kok.” Jawaban Yua membuat Chinen tertegun, antara senang tapi juga takut, karena Chinen tahu Yua mengatakannya dengan nada kesal.

Yua meniup lilinnya, lalu segera berbalik menuju sisi Mirai, meminta penjelasan. Tapi sebelum sempat melangkah lebih jauh, Yua merasakan tangan Chinen memeganginya dengan erat, tidak mengijinkannya pergi. “Lepaskan aku, Chinen-kun. Teman-teman sudah menungguku.” Pinta Yua, sedikit mengerang karena genggaman Chinen di lengannya semakin menguat. “Kita harus bicara berdua lebih dulu. Aku tidak ingin mengacaukan suasana buat yang lainnya karena emosimu yang sedang kacau.” Chinen memohon. “Salah siapa kalau emosiku sekarang jadi kacau?” Yua masih berkeras tidak ingin mengikuti Chinen.

“Kita masih punya 30 menit sebelum pukul 8 malam. Jangan menculiknya terlalu lama, Chinen-kun.” Yua mendelik ke arah Mirai, sumber suara yang membuat sebuah senyum mengembang di bibir Chinen. Yua benci mengakuinya, meskipun dia sangat membenci keadaannya saat ini, tapi melihat senyum Chinen yang sudah sangat dirindukannya itu, seperti menggiringnya kembali ke alam mimpi.

Yua menahan diri untuk tidak menangis dan terpaksa menurut, mengikuti Chinen berjalan menuju balkon tempat terakhir mereka menghabiskan malam bersama. “Yua-chan, maafkan aku.” Chinen berusaha memulai pembicaraan, memecah keheningan di antara keduanya. “Untuk apa?” tanya Yua, masih dengan ekspresi kesal.

Butuh waktu lebih dari 5 menit, sebelum Chinen mampu membuat pengakuan baru kepada gadis yang dicintainya itu. “Maafkan aku atas semua yang sudah aku lakukan padamu. Maafkan aku karena lari darimu setelah apa yang sudah aku lakukan padamu. Aku gak tahu mengapa aku bisa melakukan padamu sampai sejauh itu, tapi satu yang aku yakin, aku mencintaimu.”

Yua masih tidak bergeming. Dalam hatinya, sejak awal dia tidak percaya kalau Chinen benar-benar mencintainya dengan tulus. “Aku gak pernah memikirkannya saat bersama gadis lain, aku cuma menginginkanmu, cuma kamu untuk menjadi milikku.”

PLAK. “Aku bukan barang yang bisa menjadi hak milik, Chinen-kun.” Balas Yua, sekarang tidak sanggup lagi menahan air matanya. “Bukan itu maksudku, Yua-chan.” Sela Chinen, sebelum Yua berasumsi lebih jauh tentang apa yang dipikirkannya. “Aku gak bermaksud seperti itu. Aku cuma mau bilang, aku mencintaimu. Cintaku padamu membuatku melakukan itu semua.”

“Tapi bukan cuma aku yang Chinen-kun suka! Bahkan setelah putus denganku, Chinen-kun dengan mudahnya menggandeng cewek lain. Bahkan cewek itu bisa langsung dekat dengan keluarga Chinen-kun, bisa dekat dengan Saaya-san. Sedangkan aku, Chinen-kun gak pernah sekalipun mengenalkanku dengan keluargamu! Kamu berapa bersaudara, orang tuamu seperti apa, aku gak tahu semuanya!” Yua berusaha mengungkapkan semua yang ada di pikirannya di sela-sela tangisnya.

“Tunggu. Cewek mana yang kamu maksud?” Chinen mengingat setiap gadis yang pernah dekat dengannya setelah putus dengan Yua. Memang sebagian besar dari mereka adalah teman-teman Saaya, jadi wajar kalau mereka dekat dengan Saaya. Tapi bagaimana Yua bisa tahu dengan gadis-gadis itu?

Tiba-tiba Chinen teringat kejadian di stasiun saat terakhir mereka bertemu. “Cewek itu bukan cewekku. Dia Aika, sepupuku.” Tentu saja Yua tidak bisa percaya begitu saja dengan penjelasan Chinen. Selain gadis itu, pasti masih ada gadis lain yang dekat dengannya. “Aku gak dekat dengan siapapun setelah putus denganmu. Ya, meskipun banyak yang mendekatiku, tapi kamu bisa menanyakan semuanya pada Kyomoto-san, aku gak pernah sekalipun dekat dengan mereka seperti yang kamu bayangkan.” Yua terdiam saat nama Taiga dibawa-bawa dalam obrolan mereka. Yua percaya kalau Taiga tidak akan pernah berbohong kepadanya, yang berarti Chinen juga tidak berbohong padanya.

“Selain itu, kamu bilang, aku gak pernah mengenalkanmu dengan keluargaku? Bagaimana bisa aku mengenalkanmu? Selama kita pacaran, kamu ada di mana, aku ada di mana. Tapi meskipun aku gak ngenalin kamu sama keluargaku, kamu bisa kenal dengan sendirinya dengan Saaya. Jujur, aku kaget saat tahu kalau Saaya sudah kenal denganmu di stasiun dulu. Tapi aku senang, karena sepertinya kalian saling cocok satu sama lain.” Mendengar penjelasan Chinen kali ini, berhasil membuat hati Yua kembali luluh. Semua yang dikatakan Chinen benar-benar sesuai dengan keadaan mereka. Bukan salah Chinen, tapi keadaan yang menjadikan mereka salah paham selama ini. Yua membiarkan tangan Chinen menyapu pipinya, menghapus air mata yang mulai berhenti mengalir dari kedua matanya.

“Aku gak ngerti apa itu cinta. Tapi sejak malam kita melakukan itu di sini, aku gak bisa berhenti memikirkan Chinen-kun. Aku tahu yang kita lakukan itu kelewat batas. Makanya saat kita putus, aku mencari banyak alasan untuk mulai membencimu. Tapi semakin aku berusaha membencimu, semakin aku memikirkanmu.” Yua menghela napas sejenak. “Setiap kali ada cowok yang mendekatiku, secara gak sadar aku selalu membandingkannya denganmu. Meskipun aku tahu, kamu gak punya kelebihan apapun yang bisa aku bandingkan, tapi aku selalu merasa mereka gak lebih baik darimu. Bahkan saat ada seseorang yang bisa menerima masa laluku denganmu, aku tetap gak bisa menerimanya karena aku selalu mengingatmu saat bersamanya.” Orang itu pasti Yamada, batin Chinen tidak ingin menyela pengakuan Yua.

“Bahkan bukan sekali atau dua kali aku memimpikan lagi hari itu, aku memimpikan kita melakukannya lagi. Aku mulai mencari orang lain yang bisa membuatku lupa denganmu. Tapi saat aku sudah mulai melupakanmu, kamu kembali dalam kehidupanku. Aku tidak tahu apa yang kupikirkan saat itu, tapi aku ingin kamu kembali padaku. Aku selalu memikirkanmu. Aku gak tahu apa itu cinta, tapi mengapa aku begitu menginginkanmu? Apa ini cinta? Atau ini hanya sebuah keinginan? Ambisi? Nafsu?”

Yua merasakan bibir Chinen sudah mengunci mulutnya, tidak membiarkannya berkata lebih jauh lagi. Sedetik kemudian membuatnya larut dalam ciuman itu, ciuman yang begitu Yua rindukan. Entah apa itu cinta ataukah hanya sebuah nafsu, Yua tidak ingin melepaskannya lagi kali ini.

“Ehem, waktu kalian sudah habis.” Seketika Yua menjauhkan dirinya dari Chinen saat mendengar suara Taiga mengingatkan mereka. “Aku akan pura-pura gak lihat. Jadi bersikap biasa saja sama aku, okay!?” Senyumnya jahil sebelum pergi meninggalkan Chinen dan Yua yang saling berpandangan.

“Jadi kita sudah baikan?” Sekali lagi, Chinen meminta kepastian pada Yua. Yua mengecup bibir Chinen sebelum menarik pemuda itu berjalan mengikuti Taiga, tanda mengiyakan.

 

Terkadang, cinta itu bisa timbul karena terlalu seringnya kita saling menyentuh.
Mungkin itu yang dinamakan “ingatan daging”.
Karena di setiap sentuhan itu, rasa sayang ditinggalkan.
Tapi apa benar ini yang dinamakan cinta?
Entahlah, Yua masih belum menyadarinya dan memahami arti cinta yang sebenarnya.
Ini bukanlah akhir dari kisah mereka, tapi ini hanya sebuah akhir dari kisah Desire or Love yang berpusat pada kisah Yua dan Chinen.
Sampai ketemu di lanjutan kisah dengan judul yang berbeda berikutnya ~

 

~The End of Chapter Desire or Love~

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s