[Multichapter] Death Point (Chap 2)

Death Point
Genre: Thrill, Fantasy, Horror, Little Romance
Type: Multichapter
Chapter: 2 (Two)
Author: VDV-san
Fandom: Hey! Say! JUMP, HKT48
Cast : Yamada Ryosuke (HSJ), Chinen Yuri (HSJ), Murashige Anna (HKT48), Tanaka Miku (HKT48)

“Memikirkan apa?” Tanya Ryosuke–mengagetkan Anna. Dan anna hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya pelan, kemudian tersenyum.

Anna juga sudah mengganti seragamnya menjadi seragam yang bersih dan siap untuk belajar. Berharap tak ada hal aneh yang terjadi.

***

Sekitar satu setengah bulan berada di sekolah itu, Anna, Miku, Ryosuke dan Yuri sudah mulai terbiasa dengan setiap peraturan yang ada.

Tapi makin hari, Anna makin penasaran dengan diri Ryosuke. Sementara Miku. Ia makin sering memperhatikan Yuri.

“Ne Anna chan..” ujar Miku saat sedang berada di kamar bersama Anna. “hm?’ Jawab Anna singkat, diikuti dengan senyuman. “aku… sepertinya menyukai Yuri” katanya lagi. “apa?!” Anna kaget, bukan karena hal lain melainkan, percintaan didalam sekolah adalah dilarang keras.

Tiba tiba Miku terlihat kesakitan dan memegangi dadanya untuk beberapa saat.
“Mikurin?!”

Iie.. iie.. daijoubu desu…” jawab Miku beberapa saat kemudian.

.

Malam itu, Ryosuke yang mengaku bisa masak dari pertama kali kami tinggal disini, lalu saat pertama kali kami ribut ingin makan, saat ini Ryosuke juga sudah masak makan malam untuk kami berempat.

Dan seperti biasa Yuri juga membantu Ryosuke, walau terkadang Yuri mencuri makanan yang Ryosuke buat “hoi, belum selesai” protesnya dan hanya dijawab cengiran oleh Yuri.

Setelah semua sudah siap, Yuri dan Ryosuke meletakan piring yang berisi makanan itu, dan Yuri langsung menuju ke kamar para perempuan.

“Aku…sepertinya menyukai Yuri” baru saja tangan Yuri ingin mengetuk pintu, tapi berhenti saat mendengar kata-kata itu, itu..suara Miku.

Ah, mungkin saja Yuri salah dengar, akhirnya dengan santai Yuri mengetuk pintu kamar Anna dan Miku “Anna.. Miku.. Makan malam sudah siap” katanya dan kembali menuju ruang makan saat mendapat jawaban ‘iya’ dari mereka.

Miku menyukainya? Entah kenapa Yuri terus berpikiran hal itu. Bisa bahaya kalau Miku benar-benar mempunyai perasaan kepada nya.

Makan malam asrama Rose berlangsung damai, dan mengalun—music jazz mengisi ruangan dari keheningan. Kesukaan pemuda koki ini, terlebih suara dari saxophone classic. Ryosuke hanyut di dalamnya.

Tak ada keganjilan—namun, terasa canggung bagi Yuri. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Ritme makannya sangat pelan tak seperti biasanya.

“Kau sakit?” Perhatian Ryosuke tertuju langsung pada sahabat itu, yang peka akan perubahan tingkah laku nya.

Pemuda ini memang benar benar lekat bila soal kepedulian, terlebih teman dekat—ia tak akan ragu.

‘Apa yang aku dengar itu benar…’

Berputar putar kalimat itu di pikiran Yuri, hanya menggeleng atas pertanyaan Ryosuke.

Diam diam ia mencuri pandang atas ekspresi Miku saat makan—berkali kali pandangan mereka bertemu, karena Miku juga sering memperhatikannya diam diam.

‘Yabaii ne…’ tampaknya memang benar, dan kini Yuri telah meyakininya.
Makan malam pun selesai.

Bulan semakin tinggi menanjak, hampir tengah malam dan Ryosuke masih belum beranjak dari ruang tengah.

Sibuk belajar dengan beberapa saxophone ringan dalam headset.

“Memecahkan soal hitungan memang sulit.” Lanturnya pada diri sendiri, berkutat menangani kelemahannya.

Disekolah ini ia tak boleh mendapat prestasi buruk sekalipun ia membenci hitungan—laki laki ini benar benar berusaha.

Tanpa sadar seseorang terbangun dari lantai atas, namun Ryosuke tak bergeming karena tertutup suara headset telinganya.

.

Anna masih berpikir tentang apa yang Miku katakan. Sangat berbahaya jika Miku sampai memberitahu Yuri tentang perasaannya, dia bisa mati.

Karena dilihatnya Miku sudah tertidur, ia sedikit tenang dan memutuskan untuk mengambil minum dibawah. Dan saat dibawah, ia melihat sosok Ryosuke yang sedang berkutat dengan buku buku.

“Sedang apa?” tanya tuan putri ini sambil memberikan jus jeruk kepada Ryosuke.
Tanpa sadar, Miku terbangun dan turun kebawah dengan perlahan, ia tahu kalau Ryosuke dan Anna masih terbangun dan sibuk dengan angka angka.

“Fuh..” Miku menghela napas perlahan mengetahui ia tidak ketahuan.

Setelah dipikirnya aman, ia membuka kamar Yuri dan Ryosuke, lalu masuk ke dalam tanpa diketahui Anna dan Ryosuke, ataupun Yuri yang sudah tertidur.

.

Setelah makan malam, Yuri memutuskan untuk berlalu ke kamarnya, ia belum mengantuk, tapi Yuri bilang akan tidur terlebih dahulu kepada Ryosuke.

Saat di kamar, Yuri mengambil selembar foto yang ia selipkan di bawah bantal, memandangnya lalu tersenyum “oyasumi” katanya lalu mengecup foto itu, foto seorang perempuan yang sangat berarti bagi Yuri.

Setelah kembali meletakannya di bawah bantal Yuri mencoba untuk terlelap, berbelok mencari posisi yang nyaman namun gagal. Kegelisahannya akan perasaan Miku terhadap dirinya membuat Yuri ketakutan.

Miku tidak boleh mati.

“Ahh” Yuri menutup seluruh tubuhnya sampai kepala dengan selimut, kembali untuk terlelap.

Tapi kembali gagal, Yuri membuka selimutnya dengan kasar karena kesal.

Tapi, ia di kejutkan karena Miku sudah ada di hadapan Yuri.

Eh?

“Yuri-kun..” Suara Miku sangat pelan, perlahan wajahnya terus mendekati
wajah Yuri “aku tahu…kalau disini ada larangan mencintai sesama murid…tapi..”

“Ssssttt”

“Aku menyukai Yuri” terlambat. Miku sudah mengatakan kata-kata mematikan untuk dirinya sendiri.

“Aargh!” Miku tiba-tiba memegang dadanya sampai terduduk, sontak membuat Yuri bangkit dan memeluk Miku.

Daijoubu ka? Miku jangan mengatakan itu” kata Yuri dengan nada khawatir.

“T-tapi…”

Gomen Miku…aku..sudah punya pacar…di luar sekolah” kata Yuri pelan, ia tidak bohong dan bukan hanya untuk melindungi gadis dipelukannya ini. Tapi memang begitulah kenyatannya.

Yuri bisa melihat eskpresi sedih dari Miku, tapi dengan cepat Yuri memeluk Miku–sekedar untuk menenangkan gadis itu.

.

Pemuda ini membuka headset nya agar lebih dapat dengar dan menyimak.

Pensil ia selipkan pada mulutnya, mamanyunkan seraya berpikir keras atas apa yang
Anna ajarkan. Ryosuke sedikit banyak terbantu oleh gadis ini.

“Nah, sampai disitu mengerti?” Guru—teman asrama nya ini meletakan pensil di meja setelah panjang lebar menjelaskan penyelesaian soal terakhir.

Ryosuke tersenyum, “naru hodo ne.”

Melipat tangan bangga, berhasil mengajari. Anna mengangguk angguk senang.
Seketika malam mereka pecah oleh suara teriakan.

“Arrrgghh!”

Ryosuke dan Anna saling pandang—panik. Atas yang mereka dengar, sangat dikenalnya.

“MIKUU!!” serempak, mereka segera menuju tempat asal suara—naik ke lantai atas.
Membuka pintu kamar laki laki, dengan segera.

“DOUSHITA NO?” Tanya kedua orang yang dari bawah telah panik, ini.
Tak ingin kejadian kurang mengenakan terjadi dalam asrama mereka.

Miku memegangi dadanya, persis seperti apa yang Anna lihat saat Miku bilang kalau ia menyukai Yuri.

“Miku.. jangan jangan.. point mu…” kata Anna dengan nada takut, berpikir kalau bisa saja point Miku sudah berkurang sebanyak duakali.

“Nee, apakah kita bisa melihat berapa point yang kita miliki?” Tanya Anna pada Ryosuke. Sementara Ryosuke berusaha mengingat sesuatu.

Tanpa berkata kata, Ryosuke langsung berlari ke ruang bawah dan membuka sebuah buku bertuliskan -POINT- , Anna, Yuri dan Miku ada di belakangnya.

“Di dalam buku ini, terdapat setiap nama siswa dan jumlah point yang mereka miliki. Buku ini akan berubah dengan sendirinya jika point seseorang berkurang” Jelas Ryosuke panjang lebar, sementara yang lainnya menunggu Ryosuke untuk membuka buku itu.

“Baiklah..” Ryosuke mulai membukanya dan mencari daftar asrama bernama Rose. Setelah dapat, ia menyebutkan masing masing point.

“Chinen Yuri, 100.

Yamada Ryosuke, 100.

Tanaka Miku… 30… Yabai

Point Miku hanya tersisa 30, jika ia melakukan kesalahan lagi, itu adalah akhir.

“Miku, kau harus tetap hidup” ucap Anna sambil menggenggam tangan sahabat sekamarnya itu, sementara Ryosuke terdiam membaca lanjutan dari buku tersebut.

“Ryosuke, ada apa?” Tanya Yuri tiba tiba, dan Ryosuke akhirnya berbicara tentang apa yang ia baca. “Murashige Anna, 50 point…”

Anna terdiam, ia sudah mengetahui ini, ini karena ia menyukai Ryosuke secara diam diam. Point nya berkurang 50, dan karena itu juga ia tau. Setiap point berkurang, dada orang tersebut akan terasa seperti ditusuk oleh sesuatu.

Ryosuke bangkit dari tempatnya dan berbalik ke arah Anna, “Apa yang kau lakukan?” Anna hanya tertunduk mendengar pertanyaan Ryosuke, kalau ia katakan yang sejujurnya, point nya bisa berkurang seperti Miku.

“Sudah..” Yuri memecahkan keheningan sejenak di antara mereka, tidak ingin kecanggungan ini terus berlanjut “Miku, bagaimanapun juga tetap pertahankan point mu” kata Yuri tegas, memegang pundak gadis itu sambil mengguncangnya lembut.

Miku mengangguk pelan “dan kau Anna” kali ini Yuri beralih kepada Anna “pertahankan juga, kita tidak boleh mati dikelas satu ini oke?”

“Oke!!” kata mereka serempak, bagaimana pun Yuri ingin lulus bersama teman sekamarnya ini.

Setelah itu mereka pun kembali masuk ke kamar masing-masing, Yuri sudah mengantuk sekali rasanya.

“Yuri…” Setelah membereskan bukunya Ryosuke tidur di samping kasur Yuri, sedangkan yang di ajak bicara sudah menutup matanya, tapi ia masih bisa mendengar.

“Hmm?”

“Memang apa yang terjadi tadi…sampai Miku kekurangan point sebanyak itu” mendengar pertanyaan Ryosuke, Yuri langsung membuka mata dan menghadap Ryosuke yang sedang tertidur sambil memandang langit-langit kamar.

“Miku…dia bilang dia menyukai ku” kata Yuri “aku sudah cegah agar dia tidak berkata begitu tapi aku terlambat” jelas Yuri, membuat Ryosuke menoleh.

“Apa kau juga menyukainya?” Tanya Ryosuke, pertanyaan bahaya memang, tapi… Ryosuke penasaran.

Terdiam sejenak, lalu menggeleng “aku sudah punya pacar dari luar sekolah” kata Yuri membuat Ryosuke bernafas lega.

Setidaknya Yuri aman.

Memikirkan alasan yang diberi tahu Yuri, Ryosuke semakin menyadari betapa bahayanya sekolah ini. Bahkan perasaan yang manusiawi seperti itu dilarang dan terancam nyawa—benar benar kenyataan dan terjadi pada teman asrama nya.

Ia merenungi point Anna yang berkurang. Sepengetahuan pria ini, Murashige Anna merupakan sosok yang patuh, murid tepat waktu dan dalam kelas masuk pada golongan cerdas.

Tidak membawa tugas, terlambat, dan segala kecerobohan disiplin, rasanya bukan Anna sama sekali. Tapi apa, apa yang membuat point nya berkurang banyak.

Mungkin kah Anna pernah salah berkata pada guru, sedikit menentang keputusan sekolah? Mengingat Anna memang pada awalnya sangat takut akan aturan ini, hingga menangis.

“Apa ucapan Anna terlepas begitu saja pada guru, disaat yang tidak ku ketahui?”
Pusing memikirkannya, lelaki ini pun menutupi diri dengan selimut. Dan tidur begitu saja. Memang tipe orang yang malas sekali—repot.
Ryosuke… masih belum menyadari kemungkinan yang lain—bahwa sesungguhnya Anna menyukai dirinya. Ia tidak peka atas itu.

.

Anna tidur bersama dengan Miku, terus saja Anna memandangi sosok gadis yang tidur di tempat tidur lain, tepat di depannya.

“Kau nekat ya..” ucap Anna dalam keheningan, “aku iri padamu, kau merelakan point mu untuk orang yang kau sukai” lanjutnya.

Anna adalah orang yang penakut, ia tak akan berani mengungkapkan perasaannya jika akhirnya point miliknya akan dikurangi. “Aku akan lulus dengan selamat” ia bertekad.

“Agar aku bisa mengungkapkan perasaanku ketika lulus nanti” wajahnya merona, kemudian ia terlelap di balik selimutnya.

***

Keesokan harinya, Anna, Yuri dan juga Ryosuke sudah siap untuk berangkat sekolah. Tapi Miku, ia terus terdiam di atas tempat tidurnya sambil memeluk kakinya.

“Miku.. ayo, nanti kita telat…” kata Anna dengan lembut–membujuk Miku agar ia mau berangkat sekolah. Yuri dan Ryosuke juga membantu Anna untuk membujuk Miku.

“Miku chan.. ayolah.. kau tidak boleh kehilangan point mu lagi..” kali ini Yuri yang bersuara.

“Kalian saja, aku ti–”

Sebelum Miku melanjutkan kalimatnya, Ryosuke sudah memotong “tidak, Miku. Kau harus tetap hidup.”

“Mikurin…”

“Sudahlah kalian pergi saja, aku tidak ingin sekolah lagi!” Ucap Miku dengan lantang.

“Yabai…”

Sekelebat kabut hitam tiba tiba hadir disamping tubuh Miku dan berubah menjadi sosok penjaga.

“Tanaka Miku, menentang sekolah. Point dikurangi 100. Sisa point : -70”

Dengan sabitnya yang besar, penjaga itu membelah tubuh mungil Miku dihadapan ketiga temannya.

Anna yang tepat berada di samping Miku langsung terjatuh, tak percaya dengan apa yang terjadi pada Miku. Airmatanya mengalir dengan deras. “Miku…rin..” darah segar memenuhi seisi kamar, juga seragam ketiga remaja itu.

Yuri yang melihat itu menutup mulutnya tidak percaya “uso…” Air mata Yuri tanpa sadar keluar begitu saja.

“Ryosuke! Anna! Periksa lagi ini tidak mungkin!” Yuri masih tak terima dengan apa yang baru saja terjadi, teman satu asrama nya mati, tepat di depan matanya.

“Yuri kita harus ke sekolah, kita tidak boleh telat” Ryosuke menarik tangan Yuri yang masih diam di tempat, sedangkan Anna sudah keluar duluan sambil menangis.

D-demoo Ryo..”

“Iya aku mengerti tapi kita harus cepat kita tidak boleh telat” terpaksa Ryosuke menarik Yuri yang masih shock.

.

Selama perjalanan menuju kelas, Yuri terus saja melamun.

Dan juga saat di kelas ia sempat melawan guru, dadanya terasa sakit. Sepertinya point Yuri sudah berkurang.

“Ini..” Ryosuke menyodorkan sebotol air mineral di hadapan Yuri, dan ia ambil dengan lesu.

Setelah itu, Ryosuke duduk di samping Yuri, mayat Miku sudah di bersihkan jadi saat ini hanya tersisa Anna, Yuri, dan Ryosuke di dalam asrama Rose.

“Kenapa hal ini harus terjadi?” Yuri meremas botol yang barusan Ryosuke beri “kenapa harus dia..”

“Ssttt jangan katakan hal-hal mengantar nyawa mu” kata Ryosuke dengan tenang.
Dapat Ryosuke rasakan, keceriaan dari Yuri perlahan menghilang entah kemana.
Ryosuke hanya melihat kesedihan dari mata sahabat nya yang berwajah imut itu.
Tidak cocok dengan wajahnya kalau ia selalu bersedih, pikir Ryosuke.

Tepukan Ryosuke yang keras memecah lamunan Yuri.

“Kau mau membuat mati nya Miku sia-sia?” Gadis itu nekat, memang. Sangat nekat.
Tetapi perasaan manusia tak ada yang bisa menghalau.

“Miku tewas karena dia menyukai mu.” Laki laki ini berjalan, mengitari Yuri yang duduk tanpa nyawa. “Ia tak bersemangat karena kau tolak—” memegang bahu pria ini, “Tapi apakah kau akan mengulangi kebodohan yang sama dengannya?” Kedua tangan kekar
Ryosuke meraih pria ini, mengguncangnya. “Kau akan terpuruk. Lalu tak ingin berbuat apa apa juga, begitu Yuri? Begitu?” Mencoba menyadarkan sahabat sekamarnya. “Lalu buat apa ia rela mati demi kau, buat apa ia menunjukan semua hukum nyata ini di hadapan kita. Kalau kita tetap bodoh.”

Geram Ryosuke melihat kedua sahabatnya sedih, “sadar lah…”

Kemudian pergi begitu saja. “Dinginkan kepala kalian.”

.
Setelah keributan dalam Asrama Rose ini, malam hari terasa berlalu lebih sunyi dari biasanya—dengan 3 orang.

Tawa dan keceriaan Miku tampak hampa, terngiang tak berwujud.

Mereka bertiga masih sangat mengingat eksistensi sahabatnya. Sunyi, menangis dalam diam. Anna, Yuri. Dan Ryosuke pun tak banyak bicara lagi.

Burung hantu tampak terdengar jelas memecah kesunyian.

Kesibukan terasa di Asrama lain, masih dalam lingkup tingkat angkatan kelas 1. Dandelion.

Berisi otak cerdas, hacked sistem militer Rusia, dan photograph memory, tiga orang siswa pilihan, yang menerima undangan—tak jauh beda dari Rose.

Salah satu diantara mereka, mencoba merasuk kedalam sistem sekolah dengan segala sambungan kabel pada laptop hidup dalam kamarnya.

Anna tak berani masuk ke kamarnya walaupun mayat Miku sudah dibersihkan. Tentu saja, siapa yang tahan melihat sahabatnya sendiri mati di depan matanya langsung?

Anna memutuskan untuk meminjam bantal dari kamar Yuri dan Ryosuke, juga selimut. Ia tak ingin terbayang bayang Miku lagi. Seperti yang tadi Ryosuke bilang. Ia tidak ingin terpuruk seperti Miku.

Tawa riang di asrama Dandelion terdengar sangat jelas, sepertinya mereka berhasil membobol akses keluar dari Residents. Tapi tiga orang di dalam Rose tidak memperdulikannya.

“Anna, tidurlah di kamarmu” kata Yuri–tak tega melihat Anna tidur di sofa, mungkin.
Tapi Anna hanya menggeleng, mengisyaratkan ia tak ingin kekamar. Walaupun ia memcoba sekuat tenaga untuk melupakan ingatan saat Miku terbunuh, ia tak akan bisa.
Sebuah penyesalan juga hadir di dalam benak gadis blasteran Jepang-Russia itu.
“Kalau saja aku berada di kamar saat itu… aku tak akan membiarkan Miku keluar…” Anna meremas bantal yang ia peluk sedaritadi.

Melihat Anna sepertinya memang tidak ingin masuk kamar, Yuri akhirnya menyerah dan memilih tidak ingin memaksa gadis itu.

Yuri pun meminum air yang Ryosuke berikan tadi—untuk menangkan diri.

Kemudian ia ke kamar-yang di sana sudah ada Ryosuke di atas tempat tidur.

“Ryosuke” Yuri meletakan botol mineral itu  di atas meja belajar lalu ia duduk di kursi–mencoba untuk mengerjakan tugas yang akan segera di kumpul “apa yang harus ku lakukan untuk menebus kesalahan ku kepada Miku? Aku ingin berbuat sesuatu untuknya” walaupun di hadapan Yuri terdapat pena, dan buku tapi pikiran pria itu kemana-mana.

“Dengar tawa dari asrama sebelah aku jadi terus terbayang akan wajah Miku”

“Yuri cukup!” Teriak Ryosuke karena mendengar sahabatnya itu terus bicara soal Miku “kalau kau sedih seperti itu apa Miku akan bahagia di sana? Tidak kan?”

“Asrama sebelah..mereka berhasil membuka akses internet dari sekolah…dan mungkin mereka sedang menghubungi keluarga mereka” lanjut Ryosuke.

Yuri tidak perduli akan hal itu, meskipun sejujurnya pria itu merindukan keluarga nya, tapi kemungkinan besar nyawa mereka juga jadi taruhan.

***

Hingga beberapa hari kemudian, ternyata akses internet yang telah berhasil di bobol itu menjadi heboh dan banyak yang menggunakan akses internet untuk meminta tolong keluar dari sekolah Resident.

Beberapa dari mereka juga sudah ada yang nekat merusak sistem kunci gerbang sekolah.
Anna, Yuri, dan Ryosuke yang mendengar berita ini tentu saja panik meskipun mereka tidak ikut campur sedikit pun.

Sayup sayup keributan dibelakang para murid terdengar. Gembong Dandelion itu menyusun strategi sedemikian rupa dan berhasil merauk banyak kawanan yang juga muak terdiam atas sekolah ini. Mereka merancang semuanya, berdiskusi di asrama samping Rose dengan begitu ricuhnya hingga tengah malam—selalu, beberapa hari ini berlangsung seperti itu.

Mereka cerdas, menjaga ucapan mereka namun tetap memikirkan strategi. Ryosuke dapat merasakannya.

Namun ia tidak mengambil pusing atas itu.

“Salah satu dari kita jangan ada yg terhasut oleh mereka.” Pemuda ini memperingatkan teman asrama nya, disela jam istirahat pada teras.

Ia hanya berjaga jaga, mengetahui temannya sudah mengalami kejadian yang membuat mereka shock—tapi jangan sampai hal itu merusak pikiran dingin mereka dan ingin lari dari semua peraturan ini.

Ryosuke menegaskan, “Ingat. Sesuatu yang diawali dengan cara yang tidak baik, akan berakhir dengan cara yang tidak baik juga.”

Itu benar. Usaha komplotan Dandelion dan dedemitnya yang licik memang tidak baik, entah kenapa untuk sampai ke akhirnya Ryosuke pun merasakan firasat yang tidak enak, akan menimpa kumpulan orang itu.

Menatap langit yang kosong dengan kotak susu miliknya,

“Kita tetap disini, sampai akhir. Lulus dan selamat bersama.”

Iya benar, itulah cara terbaiknya. Jalan aman saat ini—agar tidak terlalu gegabah.
Lihat saja nanti, apa yang akan terjadi.

.

Malam itu, di teras sekolah Anna terdiam melihat asrama Dandelion yang begitu ribut. “aku rindu keluargaku.. cocoa juga…” ucapnya. Anna, Yuri, dan Ryosuke hanya diam melihat para murid yang akan segera melewati gerbang itu.

Anna ingin ikut keluar sana, tapi seperti yang Ryosuke bilang. Nyawa bisa jadi taruhannya.

“Aku juga rindu anjing kecilku” ucap Ryosuke. Sama seperti Anna, ia juga memiliki seekor anjing.

“Eh? Kau mempunyai anjing? Aku juga” Anna tersenyum, mencoba mengalihkan perhatiannya dari para murid yang akan menerobos keluar Residents.

Ryosuke tertawa, “dia satu satunya keluargaku. Cookie” ucap Ryosuke.

“Hee, tak kusangka pria sepertimu menamai anjing peliharaan dengan nama Cookie” kali ini Yuri yang berbicara–mengejek Ryosuke sambil tertawa. “Aku menamainya cookie karna dia–”

Belum sempat melanjutkan kalimat, suara teriakan sudah mengambil perhatian tiga orang yang sedang duduk di teras itu. Tidak hanya satu, dua atau tiga. Suara teriakan itu bercampur, mungkin lebih dari sepuluh.

“Apa itu..” Anna mulai ketakutan, ia mulai menggenggam erat lengan Yuri yang saat itu berada di sebelahnya.

“Sebaiknya kita masuk” Ryosuke langsung bangkit, tak lupa menarik Anna dan Yuri, lalu mengunci pintu.

“Aku rasa itu suara para murid yang mencoba melewati gerbang” kata Yuri sambil terus memandang jendela. “Un, tidak salah lagi” Ryosuke membenarkan.

“A-apa mereka mati? S-seperti yang dialami Miku…” Anna berjongkok kemudian menutup kupingnya–ketakutan.

“Aku rasa begitu, karena menerobos keluar gerbang tanpa izin sama saja menentang sekolah. Dan untuk itu, point akan dikurangi 100” jelas Ryosuke lagi.

Tiba-tiba suara berisik menyelimuti keheningan mereka, baling-baling helikopter yang begitu riuh membuat Anna, Ryosuke dan Yuri keluar dari asrama.

Ternyata baling-baling itu ada di atas asrama mereka, dan tak lama tali panjang terurai dari pintu helikopter dan turun kearah tiga sekawan itu.

“Maksud nya apa ini?” Tanya Yuri masih kebingungan, mendongak ke atas walau angin begitu kencang membuat rambutnya berantakan.

Seseorang dari dalam helikopter keluar dan mengisyaratkan agar mereka naik.

Tak mau ambil resiko, akhirnya mereka naik dan duduk dalam damai.

Tapi, tidak dengan Yuri, dia masih penasaran dengan apa maksudnya mereka di suruh naik helikopter.

“A-anuu…” Belum sempat Yuri bertanya, seseorang yang menyuruh mereka naik tadi bersuara-seakan tahu kalau Yuri akan bertanya sesuatu.

“Kalian akan kami ungsikan ke sekolah Devident untuk sementara” ujarnya, membuat Yuri, Anna, dan Ryosuke saling bertatapan bingung.

Kenapa harus di ungsikan?

Evakuasi dadakan ini membuat ketiga orang—yang kini hanya bisa duduk terdiam, bertanya tanya.

Belasan helikopter diterbangkan, saling convoy bersama membentuk kawanan formasi terbang. Memang luar biasa sekolah elit ini. Tengah malam kami di terbangkan.
Seorang staff berseragam Resident tepat dihadapan, juga tak banyak bicara.

“Lihat lah kebawah” sontak ketiga siswa ini melongok, diatas ketinggian ratusan meter gerbang sekolah—yang besar mencakar langit itu bahkan tampak kecil. Namun ada yang janggal, gerbang itu terbuka lebar. Dan ada onggokan hitam juga laut genangan merah dibawah sana.

“Apa itu?” Tanya Ryosuke langsung, pada intinya.

Staff ini menjelaskan, memegang papan data siswa.

“Itu adalah jasad ratusan murid yang telah mencoba kabur.”
Anna dan Yuri segera teringat dengan Dandelion tepat disamping asrama mereka. Apa itu ajalnya?

Terngiang kembali peringatan dari Ryosuke.

“Sesuatu yang diawali dengan cara yang tidak baik, akan berakhir dengan cara yang tidak baik juga”

Firasat buruk Ryosuke pun terbukti benar.

“Mereka nekat menerobos keluar, saat pintu terbuka. Tanpa menyadari Shinigami yang ada di belakang mereka tak akan mampu untuk dihilangkan.” Jelas staff ini kembali, “menentang sekolah -100.”

Kembali, Anna melongok pandangannya kebawah, seraya helikopter yang semakin menjauh.
Ratusan siswa itu kini mati konyol atas tindakan mereka. Tubuh yang terbelah belah. Dan organ yang tercecer hanya akan dianggap sampah mengotori sekolah. Para Shinigami itu pasti berlaku sadis dengan sabit mereka.

Benar benar pembantaian masal.

Anna yang duduk di tengah hanya bisa terdiam setelah melihat lautan mayat di gerbang sekolah mereka.

“Kita akan diungsikan kemana? Devident? Apa itu?” Tanya Yuri yang daritadi memang ingin bertanya.

Akhirnya sang staff menjelaskan. “Devident adalah sekolah bawah dari Residents. Kalian akan dipindahkan kesana. Memang tidak sebagus dan se elite Residents. Tapi ingat, peraturan tetap peraturan. Tapi ada beberapa peraturan yang tidak berlaku disana. Seperti terlambat dan yang lainnya. Jangan remehkan Devident. Karena kami para staff Residents akan memantau kalian.”

Setelah staff itu menjelaskan, mereka terdiam hingga akhirnya sampai di atas bangunan tua yang tidak mencerminkan sekolah atau asrama.

“Nah, kalian boleh turun. Ini kunci kamar kalian. Barang barang kalian juga sudah di evakuasi kan” kata staff itu sambil memberikan kunci dengan angka 489.
Setelah turun dengan tangga yang terbuat dari tali, Anna, Yuri, dan Ryosuke langsung masuk ke dalam bangunan tua–asrama itu.

“Gelap..” ujar Anna sambil memegang tangan salah satu temannya, entah siapa, karena di tempat itu memang gelap, mungkin mereka yang pertama sampai di asrama ini. Hanya lilin lilin yang hampir redup yang menerangi nama nama dari setiap kamar.

Kamar nomor 489 ternyata berada hampir di pojok bangunan.

“Anna, gomen.. aku buka pintu dulu” ucap Ryosuke yang tangannya Anna genggam sedari tadi. Ryosuke membuka kamar itu menggunakan kunci yang diberikan oleh staff, kemudian mereka bertiga masuk.

Lampu yang redup membuat suasana di dalam ruangan menjadi mencekam.

“180 derajat terbalik dari kamar kita yang sebelumnya…” ucap Yuri sambil melihat seisi ruangan yang hanya ada dua kamar dan satu kamarmandi. Tak seperti di dalam Rose. Mereka tak punya dapur atau ruang tamu.

Anna memberanikan diri untuk masuk ke salah satu kamar. Bau busuk tercium sangat kuat saat pintu kamar itu dibuka. “kyaaaaaa!!” Anna berteriak dan langsung membeku di tempat sambil tangannya menunjuk sesuatu di dalam kamar.

“Ada apa?!” Ryosuke dan Yuri langsung masuk ke dalam kamar. “kuso, bau busuk apa ini?” Ryosuke menutup hidungnya dengan tangan. Sementara Yuri sudah membeku seperti Anna.

Saat Ryosuke melihat ke arah yang dilihat oleh Yuri dan Anna, betapa terkejutnya ia saat melihat mayat yang sudah membusuk, bahkan setengah tubuhnya hilang dan menyisakan tulang. Mayat itu tergantung tepat di depan lemari. Seragam yang hampir mirip dengan seragam Anna memberitahu kalau mayat itu adalah mayat dari seorang murid di Devident. Dan dia adalah perempuan.

Cepat-cepat Yuri keluar dari kamar dan menuju ke kamar mandi untuk muntah tapi–sialan di westafel itu banyak belatung, membuat Yuri mundur dan akhirnya muntah di lantai.

“Hoek!!” Yuri memang tidak kuat melihat hal-hal berbau darah, sebenarnya sudah dari tadi Yuri menahan mual tapi tidak mungkin kan ia muntah di dalam helikopter.

“Yuri doushite?” Suara Ryosuke membuat Yuri menoleh dan langsung menggeleng ketakutan.

“Kenapa kau muntah di lantai?” Tanya Anna mengerutkan keningnya–heran, kemudian melihat ke westafel.

Anna tidak kalah terkejutnya seperti Yuri “belatung” kata gadis itu gemetar.

“Ck kuso” Ryosuke geram dengan semua keadaan ini, bahkan sekarang sekolah Devident ini lebih merepotkannya dibanding sekolah Resident.

“Yuri bersihkan mulut mu dan minumlah, aku akan bereskan semua ini” meskipun tak yakin ia akan melakukannya sendirian.

“Aku akan membantu mu” kata Anna, walau sedikit takut tapi kalau seperti ini terus ketakutannya tidak akan berhenti.

Sedangkan Yuri belum bisa berbicara karena mulutnya masih kotor oleh muntahan, kemudian ia membersihkan mulutnya dan minum–meskipun minuman itu sepertinya sudah lama sekali tidak di sentuh.

“Aku akan membantu kalian” ujar Yuri lalu dengan segera membantu Anna dan Ryosuke membereskan kamar ini.

Hingga akhirnya berapa jam berlalu mereka tertidur dilantai kamar bertiga, tidak tahu lagi kamar itu untuk siapa, tubuh mereka sudah terlalu lelah.

To Be Continue.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s