[Multichapter] Little Things Called Love (#17)

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 17)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

Semuanya terasa berbeda ketika pagi ini Ruika bangun. Kamar ini terasa begitu luas dan ketika ia duduk, matanya langsung menangkap bayangan dirinya sendiri karena terdapat cermin yang sangat besar di hadapannya. Kepalanya agak sakit untuk mengingat semua yang terjadi kemarin malam, terutama karena separuh hatinya memang tidak ingin mengingatnya. Saat Ruika masih mencoba mengumpulkan nyawanya, pintu kamar mandi terbuka dan sosok yang membuat semua kenangan semalam kembali itu berjalan ke arahnya. Dengan rambut basah, dan handuk yang melilit di bagian tubuh bawah si pemuda, memberikan akses bebas untuk Ruika memelototi bagian atas tubuh putih mulus dengan biseps dan otot perut yang terlihat begitu sempurna.

Secara refleks Ruika menutupi tubuhnya dengan selimut, menyembunyikan wajahnya yang mungkin sekarang sudah sematang kepiting rebus, Thanks to her dirty mind.

“Kita sarapan dulu yuk!” Ruika belum mau membuka selimutnya, ia tau pemuda itu sudah duduk di tepian kasur, tapi Ruika tidak mau membayangkan apakah tubuh si pemuda sudah tertutupi oleh pakaian atau belum.

Belum sempat Ruika menjawab, ponselnya menjerit-jerit tanda sebuah telepon masuk. Ruika akhirnya membuka selimutnya, dan melihat pria itu berjalan ke arahnya sambil menyerahkan ponsel milik Ruika. Uhm, ya, dia sudah berpakaian, dengan jeans dan kaos oblong warna hitam.

Arigatou, Jesse-kun,” sebagai jawaban, Jesse tersenyum, “Ya? Shigeoka?” angkat Ruika setelah sempat terpesona dengan senyuman Jesse, “Iya… iya… uhm… tiga puluh menit lagi,” ia baru ingat kalau pagi ini harusnya ia sudah stand by untuk pemotretan sebuah majalah. Selesai menerima telepon ia menatap Jesse yang ternyata masih memerhatikannya.

“Butuh tumpangan?” tanya Jesse kepada Ruika.

“Uhmmm… maaf merepotkan, ya,” setelah mengatakan itu Ruika beranjak dari kasur sambil menarik selimut yang masih membalut tubuhnya, “Aku mandi dulu,” ucapnya ketika melewati Jesse dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

Memang bukan pertama kalinya, Ruika sudah pernah menatap tubuh itu sebelumnya. Tapi setelah tiga tahun ini tidak bertemu sama sekali dengan Jesse, dadanya masih berdebar ketika menatap Jesse dan merasakan sentuhan demi sentuhan yang ternyata memang ia rindukan. Ia benci Jesse, benci karena setelah tiga tahun tanpa kehadirannya Ruika masih merasakan hal yang sama.

Melihat pantulan wajahnya di cermin membawa Ruika pada kejadian semalam.

“Aw!” Jesse menarik pinggang Ruika mendekat padanya, tubuh mereka menempel satu sama lain.

“Jesse Lewis, lepaskan aku!” dan baik Ruika maupun Jesse tau kalau kalimat itu mengandung dua arti, “kecuali kau bisa melepaskan ambisimu,”

Bukannya menjawab, Jesse menyentuhkan bibirnya dengan bibir Ruika. Sementara itu, tangan kanannya sudah naik bergerak ke belakang leher Ruika, menahan posisi kepala Ruika agar tetap begitu. Ciuman kali ini tidak selembut biasanya jika Jesse memulai, ini ciuman yang terburu-buru dan menuntut. Lidahnya mendesak masuk ke rongga mulut dan Ruika mengalami perasaan familier yang ternyata selama ini ia rindukan.

Stop!” ucap Ruika di sela-sela ciuman mereka. Seakan tidak peduli, Jesse menarik dagu Ruika, mendaratkan lagi ciuman yang sempat terputus. Tangan Ruika yang kini mencoba mendorong bahu Jesse pun kini nasibnya sudah ditahan oleh tangan Jesse yang jelas lebih besar dan kuat.

We need to move from here,” Jesse melepaskan ciumannya secara tiba-tiba dan menarik lengan Ruika, membawa gadis itu dan tas yang tergelatak di atas sofa di ruangan dengan terburu-buru. Bahkan Ruika tidak sempat protes. Tidak sampai dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di hotel bintang lima. And here we go, terjadilah apa yang terjadi semalam.

Setiap sentuhan Jesse rasanya masih membekas di kulitnya, ia menggeleng, mencoba kembali pada kenyataan. Tiga puluh menit ke depan ia harus segera berada di lokasi pemotretan. Kalau tidak mau kena marah Shigeoka lagi. Ia pun segera mandi, memakai pakaiannya, yang pasti akan dipertanyakan oleh Shigeoka pagi ini karena masih berpakaian yang sama seperti kemarin, dan segera beranjak keluar dari kamar. Dilihatnya Jesse sedang menelepon seseorang, kemungkinan bawahannya di kantor.

“Sudah siap? Benar tidak mau sarapan dulu?” tanya Jesse setelah mengakhiri pembicaraan di telepon.

“Aku sudah telat. Nanti saja sarapan di lokasi!” Ruika mengambil tasnya dan segera memberi kode pada Jesse untuk mengikutinya. Selama perjalanan yang tidak begitu lama itu baik Ruika dan Jesse seakan kehilangan kata-kata. Kejadian semalam terlalu spontan, Jesse hilang akal ketika menghirp wangi tubuh Ruika yang sangat ia rindukan, ingin merasa bersalah tapi toh Jesse merasa bahagia di saat bersamaan.

“Jesse-kun,” Ruika akhirnya membuka pembicaraan dan ia tau dalam hitungan menit ia akan sampai di lokasi pemotretannya, “Di akhir tur Jepangku nanti,” Ruika mengambil napas sebanyak-banyaknya, mencoba menenangkan dirinya, “Aku ingin mendengar jawabanmu. Jika memang tidak ada harapan bagiku untuk mendapatkanmu, kumohon jangan ganggu lagi hidupku. Aku ingin hidup tenang jika memang tidak bisa bersamamu. Tapi, aku akan menunggu sampai turku selesai, bagaimana?”

Jesse menepikan mobilnya, yang kini sudah tidak berwarna merah tapi warna hitam karena ini mobil kantornya, ia menatap Ruika yang tiba-tiba terasa jauh padahal jarak mereka tidak lebih dari beberapa sentimeter saja, “Wakatta, Good luck for your tour!

Ruika tersenyum dan turun dari mobil milik Jesse, perasaannya lebih ringan. Ia sudah mempersiapkan dirinya untuk benar-benar melepaskan Jesse. Selamanya. Jika memang diperlukan.

***

Ketika Jesse turun dari mobilnya setelah parkir di basement gedung mansion itu, langkahnya mantap menuju lantai paling atas. Penthouse, miliknya dan Aika, hadiah dari Ayah tentu saja. Aika menghubunginya tadi, Jesse merasa sedikit khawatir karena suara Aika tidak terdengar seperti biasanya.

“Aika!!” Jesse menyimpan kunci mobilnya di meja depan, menatap mansion yang berukuran luas itu seperti tidak ada penghuninya, “Aikaaa!!” Jesse menuju kamar Aika, di dengarnya pancuran air menyala, bersahutan dengan suara isak tangis gadis itu. Jesse menimbang-nimbang, apakah bijak untuk masuk sekarang? Bagaimana jika Aika sedang tidak berpakaian?

Ia mengetuk pintu kamar Aika, dan masih belum ada jawaban, kemungkinan Aika tidak mendengarnya.

“Aikaaaa kau baik-baik saja?” sesaat kemudian shower  di kamar mandi sudah tidak terdengar dan kemudian diikuti dengan langkah Aika yang keluar dari kamar mandi, “Aku di dapur ya!” setelah itu Jesse membuka jaketnya, menyiapkan secangkir coklat hangat untuk gadis itu.

Tak lama Aika keluar dari kamar mandi dengan mata sembab, rambutnya masih terlihat basah dan piyama pinknya terlihat terkena tetesan dari rambut Aika yang kini sudah panjang lebih dari sebahu, “Okaeri,” ucap Aika lalu duduk di meja makan, menatap cangkir berisikan coklat panas di hadapannya.

“Ada apa denganmu?” Jesse berdiri di dekat meja makan, menatap Aika yang tiba-tiba saja menunduk, air matanya kembali mengalir.

Hanya hitungan detik Jesse memutar ke sebelah Aika dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Aika menumpahkan segalanya, mengenai Juri dan hatinya yang kini kalau menurut Aika, hancur lebur, hilang bersamaan dengan jawaban Juri kemarin. Hubungan Jesse dan Aika entah sejak kapan sudah terasa seperti adik-kakak. Jesse selalu ada untuk memperbaiki kesalahan Aika, ketika dulu mobil Aika mogok di Manhattan, atau saat Aika tak sengaja membakar dapur di flat nya, atau menjemput Aika karena gadis itu tersesat hingga ke Boston karena salah naik rute bis. Walaupun sambil memarahi Aika, tapi Jesse selalu mencoba membantu gadis itu. Bukan karena Jesse punya perasaan khusus, tapi karena Jesse merasa Ayah sudah menitipkan Aika padanya.

“Masa aku harus benar-benar menikah dengan Jesse-kun? Uhuhuhu,” Aika masih terisak sambil memeluk Jesse, “Gak mauuuu Jesse-kun galaaakk!!” kata Aika lagi. Sukses membuat Jesse merasa dongkol mendengarnya.

“Rasain! You stuck with me forever!” ucap Jesse.

Aika melepaskan pelukan Jesse, menghapus jejak air mata dari pipinya, lalu meneguk coklat panas yang sudah disiapkan Jesse, “Aku harus gimana?” tanyanya kepada Jesse.

Yang ditanya hanya menggeleng, jujur saja, mendengar bahwa Juri sudah punya calon istri bahkan calon anak, sedikit banyak membuat Jesse khawatir. Berarti ini berakhir sudah? Ia harus menikahi Aika? Atau memang akhirnya dia harus melepaskan mimpinya dan memulai semuanya dari nol bersama Ruika?

“Aku mau shopping ah, pinjem mobil dong,” Aika menengadahkan tangannya kepada Jesse, meminta kunci mobil. Shopping will heal her, setidaknya untuk sesaat dia bisa melupakan kenyataan pahitnya.

“Aika, setir di sini sebelah kanan loh!” Jesse mengingatkan karena Aika baru bisa menyetir setelah berada di Amerika Serikat, itu pun karena paksaan Jesse yang tidak mau terus-terusan harus mengantar si gadis kemanapun dia mau.

“Biarin! Mending aku nyetir sendiri daripada shopping direcokkin sama Jesse-kun!” ucap Aika yang kemudian menghilang dari hadapan Jesse, kemungkinan bersiap-siap untuk pergi berbelanja.

***

Setelah membayar taksinya Juri berlari sepanjang jalan menuju ke tempat kedatangan dari dalam negri. Ia mendapatkan telepon dari Chiru dan alangkah kagetnya mendengar wanita itu sudah ada di Tokyo. Mata Juri meenyisir keadaan di sekelilingnya dan tak lama melihat Chiru sedang duduk di sebuah bangku sambil memainkan ponselnya.

“Chiru-chan!” Juri mendekati Chiru yang lalu menatap Juri sambil tersenyum.

“Yay!” Chiru berpose dengan tanda victory sambil tesenyum senang, “Aku bosan jadi memutuskan untuk ke sini!” ucapnya lagi.

“Kandunganmu…”

Hai! Hai! Tenang saja aku sudah ke dokter sebelum berangkat ke sini!” Chiru meraih tangan Juri dan berdiri dengan susah payah, Juri membantunya berdiri.

Chiru menceritakan bagaimana dia bisa sampai ke Tokyo, bagaimana dia meminta izin kepada dokternya dan berangkat menggunakan pesawat sehari setelah izin itu keluar. Juri tidak habis pikir, padahal sudah jelas-jelas ia melarang Chiru, dan sebenarnya Juri ingin melarikan diri dari Chiru, itulah kenapa ia tidak mengajak Chiru ke Tokyo.

“Chiru, kau baik-baik saja?” keduanya sudah berada di Taksi, menuju ke rumah Tanaka. Kali ini ia harus menjelaskan pada keluarganya, Ibunya pasti kaget sekali.

Wajah Chiru terlihat pucat, keringat dingin membasahi tubuh gadis itu, “Un! Aku hanya kecapekan,” katanya.

“Lebih baik kita ke Rumah Sakit, ya?!”

Chiru menggeleng, “Tidak perlu, kalau sudah istirahat aku pasti baik-baik saja,”

“Chiru-san, kupikir sebaiknya kita ke Rumah Sakit,” Juri menatap ngeri ke arah kaki Chiru yang sudah berlumuran darah. Chiru tidak menjawab karena sepertinya tubuhnya melemah dan Chiru memejamkan matanya, menahan sakit karena tangannya mencengkram lengan Juri dengan sekuat tenaga.

Juri menginstrusikan pengemudi Taksi untuk membawa mereka ke Rumah Sakit terdekat. Untunglah posisi mereka sekarang tidak jauh dari Rumah Sakit dan tidak sampai sepuluh menit mereka sudah tiba. Hingga Chiru masuk ke ruang penanganan Gawat Darurat, mata Juri tidak lepas dari Chiru yang terus meronta-ronta kesakitan. Semuanya terjadi begitu cepat dan Chieru diminta langsung masuk ke ruang operasi, Juri tidak begitu mengerti apa yang terjadi dan sekarang hanya bisa menunggu di depan pintu ruang operasi.

***

“Ini masih sore, Taiga,” Taiga menoleh, melihat Hokuto berjalan ke arahnya sambil membuka jaket hitam yang dikenakannya, lalu menyampirkannya di sandaran kursi sebelum akhirnya duduk di sebelah Taiga, “Kyomoto Taiga mengajakku minum sore-sore, kau pasti ada masalah,” tebak Hokuto.

Taiga mengaduk minuman di hadapannya, matanya tertuju pada putaran air tapi kosong, “Apakah menikah itu harus karena cinta?” tanyanya.

Sebelum menjawab pertanyaan Taiga, Hokuto memesan bir untuknya dan menoleh pada Taiga setelah berbicara kepada bartender yang ada di hadapannya, “Uhmm… menurutku sih iya, ada masalah apa sih? Ada masalah lagi dengan Hazuki?”

Setiap ada masalah dengan Hazuki, sudah dipastikan Taiga akan sedikit stress dan mencoba untuk  mencari hiburan dengan minum-minum, yang didaulat untuk menemani tentu saja Hokuto. Entah itu tengah malam atau siang bolong Taiga akan meneleponnya. Tentu saja setelah bekerja Hokuto tidak bisa sembarangan pergi dari kantor saat siang hari, kecuali saat akhir pekan seperti sekarang.

“Kita bertengkar hebat semalam dan tiba-tiba saja Hazuki berteriak padaku bahwa dia tidak yakin akan pernikahan kami, bisa kau bayangkan, di malam pertunangan, aku dan Hazuki malah bertengkar hebat,” saat Taiga mengatakannya semua jadi masuk akal kenapa keduanya terlihat murung saat pulang tadi pagi.

“Tapi kau tau sejak awal Hazuki memang belum benar-benar bisa jatuh cinta padamu kan, walaupun setelah tiga tahun ini,” kata Hokuto, meneguk bir yang sudah tersedia di meja.

Taiga menarik napas berat, “Apakah ada yang salah dari caraku mencintainya?”

Tentu saja itu tidak bisa dijawab oleh Hokuto bahkan Taiga karena hanya Hazuki yang tau bagaimana keinginannya dicintai. Hazuki pernah mengaku pada Hokuto bahwa dia sudah sepenuhnya melupakan perasaannya pada Juri, tapi belum bisa menerima sepenuhnya perasaan Taiga. Hazuki kenal Taiga bukan hanya sehari dua hari, tapi tahunan, sejak SMA. Hazuki tau selama tiga tahun ini Taiga berusaha setia, bukan lagi Taiga yang dulu, yang punya pacar di setiap angkatan SMA nya, yang putus sebulan atau dua bulan, bahkan rekor pacaran Taiga hanya setahun, setau Hokuto. Tapi keraguan sepertinya masih menghantui Hazuki.

“Mungkin Hazuki hanya kena marriage blue, kau tau kan.. dia terlalu gugup jadi mikir yang aneh-aneh,” kata Hokuto.

Taiga menggeleng, “Entahlah,” ia mengacak rambutnya sendiri lalu menempelkan dahinya di meja counter.

Saat itulah Hokuto menepuk-nepuk punggung Taiga, menenangkan sahabatnya, “Jangan lari dari kenyataan, Taiga,”

Taiga mengangkat kepalanya dan menatap Hokuto, “Apa lebih baik jika aku melepaskannya saja? Mungkin selama ini aku sudah terlalu mengekangnya dan dia tidak suka dengan hal itu,” ucapnya, meminta persetujuan dari raut wajah Hokuto.

“Uhmmmm…. aku tidak bisa menentukan yang terbaik untukmu, tapi jika menurutmu itu memang diperlukan, lakukan saja,”

Taiga meneguk minumannya hingga tandas, lalu meminta diisi kembali oleh si bartender di hadapannya. Mungkin malam ini Hokuto akan membiarkan Taiga mabuk, walaupun berarti dia harus memapah Taiga hingga ke apartemennya. Biarlah, mungkin ini yang sedang diperlukan sahabatnya.

***

“Kou-chan!” Yua menatap Kouchi yang berjalan ke arahnya, sementara dirinya sedang menunggu kereta untuk pulang ke kampung halamannya, “Kau juga mau pulang?”

Kouchi menunjuk tas ransel berwarna hitam yang ada di punggungnya, “Festival tahun ini aku ingin datang, sudah tiga tahun sejak aku ikut festival, kan?”

Yua mengangguk-angguk, “Kau benar!”

Di kota kecil mereka memang selalu diadakan festival tahunan menyambut musim gugur dan musim dingin, serta menandakan berakhirnya musim panas. Diadakan berbagai macam stand makanan serta permainan, juga ada berbagai penampilan warga lokal serta kembang api sebagai penutupnya. Yua juga tidak selalu ikut tiap tahun, tapi untuk kali ini dia sengaja minta izin kepada Taiga untuk pulang selama beberapa hari.

Saat Kouchi duduk di samping Yua, setelah sebelumnya melepaskan ranselnya, keduanya tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing. Hanya suara pengumuman mengenai kereta, lalu lalang manusia di sekitar mereka yang membuat bising sementara keduanya tidak lagi berbicara. Tak lama Kouchi mengeluarkan sebungkus permen, menyerahkannya satu kepada Yua.

“Ya ampun! Permen ini! Ahahaha,” permen warna biru itu adalah salah satu permen yang dijual sejak mereka masih sekolah dasar dulu, “Bagaimana bisa?!”

“Kau tau kan aku sekarang volunteer di Rumah Yatim? Kadang-kadang kita dapat kiriman makanan kecil macam ini, hehehe, saat lihat permen ini otomatis aku ingat Yua-chan,”

Yua terkekeh, “Kou-chan terjun ke kolam ikan di sekolah gara-gara aku menangisi permenku yang dibuang Reina-chan ke sana,”

“Padahal sudah diambil juga tetap saja Yua-chan menangis karena tiak bisa dimakan lagi, sampai akhirnya aku membelikan yang baru walaupun hanya satu biji, karena uang jajanku sudah habis!” Kouchi ikut tertawa mengingatnya.

“Aku ingat besoknya Kou-chan sakit demam, gara-gara masuk ke kolam itu saat musim dingin!” ahahaha,” tawa Yua membuat mata gadis itu menghilang dan bahkan hingga mengeluarkan air mata, Kouchi spontan mencubit pipi Yua, membuat gadis itu beraduh-aduh.

Hanya dengan Kouchi rasanya Yua bisa tertawa dengan lepas seperti sekarang. Semua kenangannya dengan Kouchi tiba-tiba saja berputar ulang di dalam kepalanya seperti kaset rusak yang terus-terusan terputar ulang, ia ingin Kouchi kembali bersamanya. Tertawa dengannya, mengganggunya setiap malam dengan ketukan di pintu dan sebungkus makanan di tangannya, atau mengkudeta kasurnya karena kamarnya terlalu berantakan.

“Eh! Kereta kita datang!” Yua berdiri, menarik kopernya sementara Kouchi mengekor dari belakang, membantu Yua masuk ke dalam kereta, “Festival nanti, pergi bareng yuk!” ajak Yua sebelum Kouchi pamit untuk duduk di kursinya.

“Kalau Yua-chan pakai Yukata, aku mau deh pergi bareng!” ujar Kouchi sambil tersenyum.

Ryoukai!”

Kouchi menepuk pelan kepala Yua, “Jya! Sampai ketemu nanti!”

Kouchi hendak melangkah ke peron di belakangnya ketika ia merasakan tangannya dicegah oleh Yua yang berdiri tepat di belakangnya, “Uhm,”

“Kenapa?” Kouchi berbalik menatap Yua.

“Janji ya, jangan menghilang lagi!”

***

Saking paniknya Hazuki tidak ingat dimana ia memarkir mobilnya. Ia segera berlari dengan langkah agak terburu-buru, menerobos beberapa orang yang sedang berbicara di lorong, lalu berbelok ke ruangan dengan tulisan Instalasi Gawat Darurat. Beberapa orang di sana terlihat serius menangani pasien, ada juga para perawat yang mengecek pasien di sana.

Anou, gomen, aku mencari Kimura Aika,” Hazuki berbicara pada seorang perawat yang lewat di hadapannya. Si perawat menunjuk salah satu bilik, Hazuki segera menuju ke sana, “Aika!!” ketika tirainya dibuka, terlihat gadis itu sedang duduk sambil mengecek ponselnya.

“Hello!”

BAKA!! Kau tidak apa-apa?!” seru Hazuki, hampir berteriak kalau tidak ingat ini di Rumah Sakit.

Alih-alih menjawab, Aika malah tersenyum sumringah, “Ehehehe, hanya kecelakaan kecil ko, tapi tanganku membentur setir agak keras dan kakiku terjepit perseneling, jadi…. ya gitu deh,” Hazuki menatap tangan dan kaki Aika yang sudah dibalut.

“Ya ampun.. aku kira kau kenapa-kenapa?!” ketika tadi di telepon oleh pihak Rumah Sakit, Hazuki segera meninggalkan cafe nya, mengemudi sendiri ke Rumah Sakit karena tidak bisa menghubungi supirnya, “Kimura Aika sekarang bisa menyetir?”

“Tentu saja!” jawab Aika, “Tapi di Amerika sih, aku tidak biasa setir di kanan, jadilah tadi aku menabrak trotoar dengan sedikit kencang,”

“Ya ampun! Kemana supir-supirmu?”

“Aku malas menghubungi supirku tadi, ceritanya mau me time, hehehe, sekarang saja aku tidak menghubungi Jesse atau Ayah karena urusannya bisa jadi panjang,” ucap Aika masih menatap layar ponselnya.

“Soal itu…. gomen Aika,”

“Kimura-san,” tirai terbuka lagi dan seorang perawat membawa kursi roda di hadapannya, “mari saya antar ke ruang VVIP,”

“Hah?!” mata Aika otomatis menatap Hazuki dengan pandangan bertanya.

Gomen, karena panik aku menelepon Ayahmu tadi,”

Aika hanya manyun namun akhirnya menurut, dibantu oleh perawat dan Hazuki, ia pun naik ke kursi roda itu. Padahah jika hasil X-Ray dan CT Scan nya bagus, Aika sudah diperbolehkan pulang. Namun menurut perawat, Ayah Aika menginginkan pemeriksaan yang menyeluruh sehingga mau tak mau Aika harus di rawat inap malam ini.

Mau protes, tapi Aika mengerti kepanikan Hazuki sehingga ia memilih untuk diam, menatap lorong demi lorong yang mereka lewati. Aika belum pernah di rawat inap sebelumnya, ia hanya ingat pernah menemani Neneknya yang sakit, jika sakit lebih banyak Aika di rawat di rumah saja. Tubuhnya memang tidak rewel, hanya demam, flu dan penyakit-penyakit biasa saja yang menyerangnya sesekali.

Ruangan VVIP ini terletak di lantai tiga dari Rumah Sakit ini, ruangannya besar, bahkan ada kamar khusus untuk pendamping pasien dan ada kamar mandi, kulkas, TV, rasanya seperti ada di dalam kamar hotel saja. Aika segera dipapah naik ke ranjang, dan diberi tau bahwa nanti dokter akan menemuinya dengan hasil X-Ray dan CT-Scan nya. Aika hanya mengangguk mengerti, menelepon Ayahnya untuk berterima kasih.

“Karena ini semua salahku, aku akan tanggung jawab menemanimu di sini,” ucap Hazuki yang kini duduk di kursi sebelah ranjang Aika.

Aika mengangguk, “Yatta! Ngomong-ngomong, tumben sendirian, biasanya sama Taiga-kun,” Aika mengambil botol minuman yang tersedia di samping tempat tidurnya, lalu membukanya.

Wajah Hazuki berubah muram, tanpa menjawab Hazuki menunduk, mengambil ponselnya untuk mengalihkan perhatian Aika, “Dia sibuk,” jawabnya singkat.

Gerakan Aika yang sedang minum terhenti, “Kalian kenapa?”

Hazuki menatap Aika dan tersenyum, “Tidak ada apa-apa, serius deh dia lagi sibuk syuting proyek barunya,”

“Bohong,” ucap Aika, “Bohong, kan?” tanya Aika penuh selidik.

“Tiba-tiba saja aku tidak yakin padanya, Aika,” Hazuki mengeluarkan napas berat, percuma berbohong pada Aika, “Entahlah. Semalam malah kita bertengkar hebat,”

“Ya ampun! Gomen,” Aika menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang di dengarnya, “Terus? Uhmmm.. apa kata Taiga-kun?”

“Aku belum dengar kabar apapun darinya seharian ini, aku juga butuh sendirian, jadi lebih baik kita berdua tidak berkomunikasi sampai pikiran kami sudah tenang,” kata Hazuki, “Sudahlah jangan mengkhawatirkan aku, oke? Ah sudah jam segini, aku harus menelepon dulu,” Hazuki memperlihatkan ponselnya, “urusan cafe,” ia segera keluar dari kamar Aika.

Sementara Aika menatap keluar, kebetulan jendelanya langsung menghadap ke jalanan depan Rumah Sakit. Pandangannya terhenti pada sosok yang sedang berjalan ke arah Rumah Sakit, langkahnya terburu-buru dengan tas yang agak besar di tangannya. Mata Aika tidak pernah salah menangkap sosok itu. Tanaka Juri yang sedang berjalan itu, sekilas Aika bisa melihat darah di baju pemuda itu.

***

Ketika melihat awan dari balik jendela pesawat, angan Airin ikut menerawang ke kejadian malam itu. Saat Hokuto meminta untuk menikah dengannya. Begitu mudahnya pria itu meninggalkannya dan kini memintanya kembali, ugh, walaupun jujur saja dia memang senang, tapi sebagian hatinya menolak karena masih tidak rela Hokuto seenaknya mempermainkan hatinya. Kali ini Airin harus kembali ke Hiroshima untuk mengumpulkan beberapa bahan penelitiannya di kampus, maka dia akan kembali ke Tokyo dalam dua minggu ke depan.

“Kita menikah saja, aku sudah pernah merasakan hidup tanpamu, dan untuk ke depannya kurasa aku tidak ingin merasakan hal itu lagi,”

Airin sudah lelah bermain kejar-kejaran dengan perasaan Hokuto. Sekarang pun demikian. Ketika Airin sudah siap memulai hidupnya yang baru, Hokuto tiba-tiba saja datang kembali, bahkan menginginkan seluruh hidupnya bersama. Ada satu hal yang belum Airin ceritakan pada siapapun, termasuk Sonata atau Hokuto. Airin menemukan seseorang yang mau mendengarkannya selama setahun belakangan ini. Berawal dari obrolan selama kerja dan berlanjut ke perbincangan mereka saat weekend atau sekedar menonton film bersama. Pria itu lebih tua dari Hokuto, dan merupakan atasannya di toko buku tempatnya bekerja.

Berbeda dengan Hokuto, pria ini tidak pernah membuatnya menunggu, tidak membuatnya sedih karena ketidakpastian hatinya, juga tidak pernah memintanya untuk lebih memilih masa depannya atau dirinya. Di bagian itu Airin merasa tenang, walaupun ia jujur pada pria itu bahwa hatinya belum bisa sepenuhnya melupakan Hokuto, pria itu mengerti. Walaupun status mereka kini hanya teman dekat, hati Airin sebenarnya sudah mulai siap menerima kedatangan cinta baru, namun Hokuto membuatnya kacau kembali.

Airin kembali mengingat kejadian malam itu, saat pulang dan Hokuto mengantarnya sampai ke depan rumah, membelai rambutnya, mendaratkan ciuman lembut di bibirnya, seakan itu adalah jaminan bahwa Hokuto sudah mantap dengan pilihannya kali ini. Hati Airin bersorak, namun sebagian hatinya merasa ini terlalu tidak adil bagi dirinya yang dulu, yang bersikeras untuk tinggal dan Hokuto melepaskannya begitu saja.

“Yo! Tadaima!” Airin menarik kopernya, berjalan ke arah pria yang menyapanya.

“Ya ampun Chinen-kun, kan tidak usah sampai menjemput segala,” Chinen Yuri, pria yang sekarang jadi teman dekatnya itu, hanya tersenyum, megambil alih koper milik Airin.

“Aku kan sedang libur, lagipula ada booth es krim baru di alun-alun kota, kita ke sana, gimana?”

Airin menatap punggung Chinen yang menjauh, harusnya sangat mudah untuknya memilih Chinen jika saja Hokuto tidak kembali mengganggu hidupnya.

“Ai-chan!” panggil Chinen, membuyarkan lamunan Airin yang lalu menyusul langkah Chinen, “Kau baik-baik saja?”

Tentu saja sebagai jawaban Airin segera mengangguk, meyakinkan Chinen bahwa dirinya baik-baik saja. Saat tangan Chinen meraih tangannya, ia merasa tenang, tapi tidak bisa menggantikan tangan Hokuto yang selalu membuatnya dag-dig-dug bahagia. Hatinya tidak baik-baik saja. Ia punya waktu dua minggu untuk memikirkannya.

***

Malam ini berbeda dengan kencan mereka yang biasa. Sonata sengaja ke apartemen Shintaro sepulang dari kampus. Seperti kebanyakan remaja, mereka ingin merayakan hari jadi mereka, terlebih sekarang sudah tiga tahun lamanya mereka pacaran. Namun karena sibuk dengan urusan masing-masing, Sonata dan Shintaro baru bisa melakukannya malam ini.

Sejak mulai sekolah chefnya, Shintaro memang pindah ke apartemen yang tidak jauh dari tempatnya sekolah dan bekerja. Untuk memudahkan mobilitas selain itu apartemen ini juga tidak jauh dari rumah Sonata yang baru.

Ojamashimasu,” Sonata membuka pintu apartemen itu, Shintaro terlihat memunggunginya, tangannya sibuk di atas kompor, pasti sedang memasak.

Shintaro menoleh, “Hai! Gomen belom beres, sebentar lagi ko!” ucapnya sambil tersenyum.

Sonata mengangguk, mengeluarkan champagne dari kantung kertas supermarket, “Aku beli champagne loh!” seru Sonata.

Sugeee! Arigatou ne,”

Sambil membereskan meja makan, Sonata lalu mengambil satu set piring dan peralatan makan di lemari dapur. Dari keseluruhan apartemen ini, dapur memiliki sisi yang paling besar. Memang inilah yang diinginkan oleh Shintaro saat mencari apartemen.

“Sudah siaaapp!” Shintaro membawa satu piring besar berisikan pasta.

“Waaaa!! Sugoi! Terlihat enak sekali!” Sonata bertepuk tangan saat makanan itu sudah terhidang di atas meja makan. Shintaro menjelaskan bahwa semua makanan kali ini adalah makanan Prancis, karena mulai minggu ini dia sedang belajar makanan Prancis.

Menurut Sonata semakin lama Shintaro memang semakin baik kualitas memasaknya. Walaupun sebenarnya Sonata tidak begitu mengerti mengenai makanan, tapi melihat dari cara Shintaro menghidangkan makanan dan rasanya pun semakin lama semakin enak.

“Enak!! Aaaa!!” Sonata baru saja mencoba pasta buatan Shintaro dan merasa puas dengan rasa yang mampir di lidahnya sesaat saat pasta itu masuk ke mulutnya, “Shin-kun semakin mahir!”

Arigatou, melihat wajahmu saja aku sudah senang,” Shintaro hanya menatap Sonata yang kini mengunyah tanpa henti.

Setelah makan malam selesai keduanya memang berencana untuk nonton film. Entah untuk keberapa kalinya Sonata ingin menonton ulang Twilight. Maraton Twilight memang bukan pertama kalinya mereka lakukan. Shintaro biasanya sudah tertidur di tengah-tengah film.

“Sebelum mulai nonton, ini hadiah untukmu!” Sonata menyerahkan sebuah kotak yang agak besar. Shintaro tersenyum, di dalam kotak itu ada sebuah seragam chef berwarna hitam dengan aksen merah di beberapa tempat.

Dengan wajah sumingah Shintaro memeluk kekasihnya itu, “Arigatou!!” tak lama Shintaro pun mengeluarkan kotak berwarna hijau, “Untukmu,”

Saat dibuka, ternyata isinya adalah semacam scrap book berisikan foto-foto mereka sejak tiga tahun lalu. Tidak lupa dengan beberapa tulisan dari Shintaro, seperti kenangan mereka semua tertuang disitu, “Ya ampun! Shin-kun buat sendiri?”

“Dibantu Ai-chan sih, aku juga minta beberapa fotomu dari Hokuto-san,”

“Ya ampun! Ini foto kita di festival sekolah!” seru Sonata menatap fotonya bersama Shintaro dan Airin, “Waktu berlalu cepat sekali ya!” Sonata terus membuka lembaran itu hingga di lembar terakhir, Sonata terhenyak.

“Mulai lembar ini, Sona-chan akan melaporkan hal-hal apa saja yang ada di Prancis,”

Sonata menatap Shintaro, “Sebentar! Bagaimana bisa?”

“Aku dengar dari Hokuto-san, soal pertukaran mahasiswa ke Prancis,” Shintaro tersenyum, “Aku tak rela sih, tapi harus rela, toh hanya setahun kan, kita pasti bisa bertahan kalau hanya setahun saja!”

Malam ini rencananya memang Sonata mau menanyakan pendapat Shintaro mengenai pertukaran mahasiswa yang ditawarkan padanya. Namun ternyata kakaknya sudah terlebih dahulu mengambil langkah untuk memberitahukannya pada Shintaro.

“Hoku-nii memaksa Shin-kun untuk setuju?”

Shintaro terkekeh lalu menggeleng, “Tentu saja tidak, ini memang keinginanku untuk mendukung mimpi Sona-chan,”

Tiba-tiba saja Sonata merasa ingin menangis. Campuran antara sedih dan senang. Campuran antara tidak ingin meninggalkan Shintaro dan rasa senang karena Shintaro ternyata ingin mendukung mimpinya. Sonata menghambur ke pelukan Shintaro, “Uhuhuhu.. Arigatouuu,”

Shintaro memeluk Sonata dengan erat, “Sudah jangan menangis!”

***

To Be Continue

Advertisements

5 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#17)

  1. kyomochii39

    ruika-jesse-aika-juri masih rumit banget ceritanya ><
    dan as always my favorite part is yua-yugo and shin-sona :*
    tenang shin, cuma setahun! yua ditinggal yugo 3 tahun XD
    saya menantikan malam festival~ hahahahaha

    Reply
  2. magentaclover

    Waaaa sudah smp chapter 17 >< suka hubungan mereka yg kakak-adik gitu kakak jes galak bngt tp lol aika mau bilang ayah nikahin jesse sm ruika aja XD buat hazutai itu mereka knp lg? Masih bnyk keraguan? Kirain mereka sudah fix (?)

    shin ditinggal sona u.u tp mereka ttp manis di mataku… semoga mereka kuat ldr-an XD terus airin ya… aku kyknya tau perasaan dia gmn 😂hoku seenaknya sih ya jd ada chinen deh tp maunya sm hoku tp gmn chinen?? *ribet*

    Reply
    1. magentaclover

      Buat yua x yugo mereka baikan ya tp gm nanti seterusnya??? Terua gimana sama sora? 😂 gimana jg sama chiru? Gmn sama juri? Duh aika pake ketemu juri segala sih -_- tolong dong kakak jes sm ruika jemput aika*oi*

      Reply
  3. kiriehazuki

    Taiga Hazuki ngapain sih berantem mlu. udah buruan bikin anak biar ndak berantem *eh

    Yua Yugo masni manis lagi… plis plis mereka jangan pisah lagi
    Airin pilih Chinen aja, Hokuto sama Yaiga aja kan dia yg bisa menemani dan menghibur taiga /plak

    Shin SOna emang dari dulu yang paling manis yaaa jangan aja di perancis sona ketemu siapa yang mengalihkan pandangannya juga ._.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s