[Multichapter] Death Point (Chap 1)

Death Point
Genre: Thrill, Fantasy, Horror, Little Romance
Type: Multichapter.
Chapter: 1 (One)
Author: VDV-san
Fandom: Hey! Say! JUMP, HKT48
Cast : Yamada Ryosuke (HSJ), Chinen Yuri (HSJ), Murashige Anna (HKT48), Tanaka Miku (HKT48)
Halo halo comeback lagi bersama kami bertiga Vero, Nadia, dan Devan. Kali ini kami kembali membuat cerita yang seru namun sedikit ada romance2nya uhuy, kalau di tanya “Kok author nya VDV-san?” itu karena kami mau buat nama resmi dari singkatan nama kami Vero, naDia, Devan. Jadilah VDV-san bukan DVD ya XD. untuk -san itu anggep aja panggilan ala Jepang, contohnya Nadia-san gitu. oke? Douzo!

1475271668527

~~~~

Pagi datang, mentari sudah menyinari kamar milik Chinen Yuri, namun sang empunya kamar masih bergelung di balik selimutnya.

“Yuri!” Panggil seorang perempuan, ia bisa di kenal sebagai kakak perempuan Yuri, Saya Chinen “Yuri bangun” Saya menarik selimut Chinen hingga terlihat kalau adiknya itu masih terpejam.

“Heeyy kau ini laki-laki tapi malas sekaliii~~” tangan kakak perempuan Yuri menjewer telinga sang adik, sehingga sukses membuat Yuri terbangun.

“Aaahh neechannnn ini hari Sabtu!” Yuri menepis tangan sang kakak, dan kembali menarik selimutnya–menutupi tubuh untuk kembali terlelap ke alam mimpi.

“Ah kau ini, yasudahlah padahal ada surat undangan dari SMA Resident, katanya kau mendapat beasiswa di sana. Aku buang saja aahh~” dengan riang Saya kembali keluar dari kamar sang adik.

Tapi, langkahnya terhenti karena Chinen–yang entah sejak kapan– sudah berdiri di hadapannya “SMA Resident?!” Tanya Yuri memasang senyum sumringahnya, Saya mengangguk.

“Sekolah terkaya yang katanya sangat sulit untuk masuk ke sana?!” Tanya Yuri lagi, dan Saya kembali mengangguk–ekspresinya mulai ketakutan.

Ada keheningan sejenak di sana, walau wajah Yuri semakin lama semakin menunjukan ekspresi yang sulit di artikan.

“YATTAAAAAA!!!” Yuri menyambar surat yang masih terbungkus amplop, lambang SMA Resident tergambar besar di amplop tersebut. Artinya itu benar-benar dari SMA Resident.

Dengan tak sabar Yuri merobek amplopnya, dan membaca surat itu dengan lantang “Untuk Chinen Yuri, selamat anda mendapatkan bea siswa untuk belajar di SMA Resident”.

“HUWAAAAHHHH NEECHAN NEECHAN AKU MASUK SMA RESIDENT HAHAHAHAHA” Refleks Yuri memeluk sang kakak dan melompat-lompat, mendengar dan melihat kebahagiaan Yuri tentu saja membuat sang kakak gemas dan langsung mencium pipi sang adik. “Kau ini”

Sadar akan kelakuan kakaknya, Yuri langsung keluar kamar dan turun “ibuuuuuuuu saya neechan mencium pipi kuuu” teriakan Chinen menggema di rumah besarnya.

“Kalian berhentilah bertengkar!” Protes ibu kedua kakak beradik beda jenis kelamin itu.

Pagi yang tenang, seperti biasa. Merasuki tirai tirai panjang milik keluarga Yamada. Ruang tengah yang besar, bernuansa Eropa—tempat pria ini duduk dengan peliharaannya.

“Ada apa cookie?” Anjing itu berlarian menuju pintu, cepat dan kembali membawa sesuatu. Cardigan hangat yang dipakai pemuda ini menyelimuti tangannya, panjang—menjangkau pojok isi surat, yang dibawa peliharaan kesayangannya. Pat pats—pada cookie sembari membaca isinya.

「Yamada Ryosuke e.」 Congrats for being accepted in Resident High school, Tokyo.
We are waiting for your presence at ceremony.
March 5th, 20xx.
Sincerely, Resident Staff.

—isi suratnya, yang kini telah ia letakan.

Rumah megah pemuda ini memang selalu sepi, semua sibuk. Manusia sibuk—entah sibuk di luar negri maupun dalam negri. Ryosuke terbiasa atas ini, ia tak senang—juga tak sedih. Untuk merasakan kebahagiaan dan sorak sorai keluarga, bagi laki laki 1993 tahun ini hanyalah mitos.

Duduk bersandar di sofa besarnya, panjang. Berukiran cantik—ia berpikir. “Resident Gakuen, ka…” lugasnya pelan, menatap cerahnya langit pada kaca jendela raksasa di ruang tengahnya.

Ryosuke sama sekali tak berpikir akan mengikuti kehidupan sekolah remaja nya, dengan seperti apa. Bahkan ia tak membayangkan masa pubertas muda layaknya orang seumurannya.

Semua ia lakukan begitu saja. Pemikiran jangka pendek.

“Ohayou, otou-sama” Anna membungkukan badan kepada ayahnya yang sedang duduk di meja makan yang besar–menunggu sarapan.

Kemudian ia berlari menuju dapur, dengan jahil mencium pipi ibunya “Ohayou, okaa-aama” lalu tertawa jahil. Anna membantu ibunya dan para pelayan untuk menyiapkan sarapan.

Wangi masakan pagi hari tercium dengan kuat, membuat seisi rumah megah itu tercium seperti makanan yang baru saja dipanggang.

“Woof woof!!” Tiba tiba anjing kecilnya berlari ke arah Anna sambil membawa surat di mulutnya. “Cocoa? Itu apa?’ Anna menggendong anjing berwarna coklat itu kemudian mengambil surat yang digigitnya dan mulai membacanya.

To: Murashige oujo-sama.
you are invited and chosen to be one of students in Residents High school. We will hold the reception Ceremony on March, 10th, 20xx.
-Please accept our invitation.-
With respetful, Residents staff.

Anna terdiam sesaat memandangi surat itu– “kyaaaaa!!!” Suara teriakannya memenuhi sesisi dapur. “okaa-sama!” Anna menunjuknan surat itu kepada ibunya dan membuat ibunya tersenyum lebar melihat surat itu. “beritahu otou-sama” katanya.

Anna mengangguk pasti kemudian berlari ke ruang makan. “otou-sama~!” — “Anna, jangan berlari dan berteriak didalam rumah” kata ayahnya–diikuti dengan senyuman.

“a-ah, gomennasai otou-sama” setelah membungkukan badannya, Anna langsung menunjukkan surat yang tadi ia baca kepada ayahnya.

“Yokatta..” ucap ayah Anna setelah membaca surat itu, dan membuat Anna tersenyum.

“Permisi, otou-sama” Anna membungkuk lagi lalu segera beranjak menuju kamarnya yang luas.

“Kyaaaaaaaaaaa” ia kembali berteriak sambil tertawa riang, kemudian ia mulai membereskan barang barangnya untuk masuk ke dalam Residents high school.

Yuri tersenyum sumringah saat ia sampai di Resident Gakuen, dimana sekolah itu sangat tertutup. Dan informasi lengkap yang dapat kau ketahui hanya ketika kau sudah menjadi anak murid di sana.

Sekolah impian Yuri sejak ia masih kecil, gedung bernuansa Eropa itu begitu memikat hati Yuri di tambah yang katanya di sana ada asrama, meskipun berat harus meninggalkan keluarga tapi ia ingin sekali masuk ke sekolah itu.

“Yuri…” Ia menatap sang kakak ketika Yuri hampir turun dari mobil besar milik keluarga Chinen, seketika Yuri merasakan pelukan hangat “baik-baik di sana, kau itu tukang tidur jangan bangun siang kalau bukan aku yang membangunkan mu. Oke?” Pesan Saya nee, lalu ia melepaskan pelukannya, menatap Yuri sambil terenyum walau ada air mata di pipinya.

Yuri menggeleng, tangannya menghapus air mata itu “jangan drama neechan, aku sudah besar tahu. Ah neechan kebanyakan nonton film nih” protes Yuri tapi wajahnya tersenyum seakan ‘aku akan baik-baik saja’

Kemudian, Yuri melihat ibu dan ayahnya yang duduk di bagian depan “ayah, ibu. Yuri pamit ya”

“Jaga dirimu ya… Jangan sampai memalukan orang tua mu” kata sang ibu “iya. Ayah yakin kau bisa”

“Siap!” Tangan Yuri membentuk hormat lalu mereka tertawa.

Setelah itu, Yuri turun sambil membawa kopernya menuju gerbang pintu masuk Resident Gakuen.

Entah bermimpi apa, di hadapannya kini benar-benar Resident Gakuen, sekolah impiannya “yappari da ne….” Yuri mendongak ke sana ke mari sambil terus masuk ke halaman sekolah “benar-benar keren” kagum Yuri.

Akhirnya, hari upacara pembukaan ajaran baru tiba.
Musim yang indah bagi siapapun yang memandangnya—terutama pemuda yang kini tengah merenung dalam kaca mobilnya.

Pakaian telah rapi, ratusan pelayan dirumahnya memang sigap. Tapi ia sama sekali tak bangga atas itu—biasa saja.

Tampak seperti siswa sekolah biasa, kali ini Ryosuke berusaha memulai hidup barunya yang nyaris—jarang sekali sang pemuda keluar rumah, karena malas berkepentingan dengan dunia luar. Tapi kali ini ia keluar, setelah sekian lama—dan akan memasuki sekolah yang baru, berusaha beradaptasi. Dia akan melakukannya secepat mungkin—menjadi pribadi yang baru.

Satu jam perjalanan pun tiba pada tujuan. Gerbang megah sekolah ini yang tinggi dan gagah membatasi dengan dunia luar—tampak terpampang jelas.
Ada staff yang berjaga disana, membukakan setiap pintu mobil bagi pengantar murid baru—hingga membuat deretan mobil mewah mengelilihi hektaran area depan sekolah.

“Cookie.” Ucap pria ini memanggil, pada peliharaan kesayangannya. Anjing kecil itu sangat bersemangat dan melompati tubuh Ryosuke.

Dialah satu satunya yang membuat pemuda ini tersenyum—disaat tak ada seorangpun keluarga dirumahnya. Cookie lah keluarga itu. Anjing ini manja di tangan Ryosuke yang membawanya keluar dalam tangannya.

“Selamat datang tuan.” Sapaan pagi hari pria berseragam hitam yang membukakan pintunya.

Ryosuke membungkuk, sangat menghormati.

“Di asrama ini membawa peliharaan diperbolehkan?”Petugas itu menggeleng, seraya mengatakan tidak secara halus “maaf tuan.” Lalu meminta maaf.”HEEEE? NANDEE? COOKIE KU BAGAIMANA?” teriak pemuda ini, histeris—bak tak mau kehilangan belahan jiwanya.
Namun peraturan tetap peraturan, Ryosuke mau tak mau harus—terpaksa mengikutinya.
Meninggalkan Cookie pada supir kepercayaannya dengan wajah sedih—lucu nya.

“Aku berangkat ya, okaa-sama, otou-sama..” setelah Anna membungkuk dan memeluk kedua orangtuanya, tak lupa ia berpesan kepada para pelayannya untuk menjaga Cocoa dengan baik.

Ia pergi ke sekolah elite itu bersama sang supir pribadi. Setelah sampai, pintu
dibukakan oleh staff dengan seragam rapi dan langsung menyambutnya. Sekolah megah yang bahkan tidak terlihat seperti sekolah itu saat ini ada di depan mata Anna. Sekolah yang sangat besar.

Setelah upacara penerimaan dan pembagian kamar, para siswa langsung menuju kamar mereka untuk menaruh barang barang.

“Rose.. rose…” ucap Anna sambil terus berjalan mencari kamar bertuliskan ‘Rose’. Setelah berjalan cukup jauh akhirnya Anna menemukan kamar–tidak, bangunan ini lebih tepat disebut sebagai rumah daripada kamar, dan terlalu besar untuk disebut kamar.
Anna pun memasuki rumah itu yang ternyata tidak dikunci, berarti sudah ada yang masuk ke dalam. “oujamashimasu..” katanya sambil masuk perlahan.

“A-ah? Apa kau teman kamarku?” Tanya seorang gadis berambut panjang yang sedang duduk di sofa.

Anna membungkuk sesaat, “Un, Murashige desu. Yoroshiku onegaishimasu” jawabnya pada gadis yang cukup pendek itu.

“Aku Tanaka Miku, yoroshiku ne” gadis bernama Miku itu memberikan tangannya untuk bersalaman dengan Anna. Setelah mengobrol cukup lama, mereka melihat lihat seisi rumah. Dan semuanya lengkap. Ada dua kamar dengan 4 tempat tidur, dapur dan meja makan, kamar mandi, juga ruangtamu.

“Residents school sugoi na…” ucap keduanya.

Setelah upacara penerimaan murid baru, Yuri mendapatkan kunci kamar yang bertuliskan ‘Rose’…. Rose? Bukankah biasanya kalau kunci kamar itu di cantumkan nomor?

Kening Yuri berkerut, tapi dengan masa bodo ia mencari kamar itu, menikmati setiap sudut lingkungan sekolah impiannya. Menghirup udara maskulin dan begitu menenangkan hati “sugoii…”

Sampai akhirnya, Yuri menemukan kamar—salah itu rumah.

Rumah? “Eeeeehhh?” Dengan cepat Yuri menghampiri rumah itu, dan masuk. Pintunya tidak terkunci.

“Oujomashimasu~” Yuri sedikit menongolkan kepalanya untuk melihat keadaan rumah. Nuansa Eropa masih sangat kental di dalam rumah itu, banyak ukiran-ukiran unik dan lampu-lampu mewah menghiasi ruang tamu.

Perlahan, Yuri masuk dan baru sadar kalau ada dua orang wanita di dalam.

“Eh? Yoroshiku, Chinen Yuri desu” Yuri tersenyum dan mengulurkan tangannya ke hadapan mereka.

“Murashige Anna desu” kata salah satunya “Tanaka Miku desu” dan kata gadis satunya lagi.

Kemudian, Yuri duduk di samping mereka “yume ka? Ini luar biasa” kagum Yuri.

Berhasil menemukan lambang Rose sesuai pada kuncinya—Ryosuke cukup terkejut. Ternyata bukanlah sebuah kamar, namun bangunan.

Ia memasuki rumah itu, tepatnya—’siswa diberi asrama, atau diberi villa?’ Pertanyaan lugu seperti itu pasti terpendam di pemikiran setiap murid baru. Memang benar, kenyataannya seperti itu.

Pemuda ini menyapukan pandangan ke sekeliling menangkap 3 penghuni lain yang telah tiba terlebih dahulu—tampaknya dirinya yang terakhir.

“Doumo, Yamada Ryosuke desu.” Bungkuknya menghormati semua orang baru itu. Ketiga temannya.

Kalau boleh dibilang, memang interior Rose yang mereka dapatkan cukup megah—tapi untuk Ryosuke, ia sudah terbiasa. Rasanya seperti berangkat dari rumah, kembali ke rumah—huniannya juga bergaya Eropa seperti ini, namun yang berbeda adalah, ketika ia dirumah tak ada siapapun—kini ia menemukan keluarga baru, teman temannya. Rumah takkan lagi terasa sepi.

Awal yang indah, pemuda ini tersenyum dan dalam hitungan detik mereka berempat akrab—mungkin karena diusia yang tak terlampau jauh berbeda, dan pemikiran mereka masih sejalan.

“Asik juga punya teman.” Desir Ryosuke yang telah lama tak bersua—sosialisasi dengan dunia luar.

Seketika terdengar suara terompet yang memecah harmonisnya suasana damai.

‘TEET TOREEEEET’

Keempatnya baru mengingat, ketika suara terompet di kumandangkan, secepat kilat seluruh siswa diperuntukan berkumpul dilapangan karena ada sesuatu yang penting. Iya, itu adalah panggilan penting.

“Kau tahu? Katanya akan diberikan sesuatu pada masing masing siswa.” Chinen Yuri yang berjalan keluar bersama Ryosuke itu memang anak yang tampak selalu bersemangat.

Ryosuke menyambungkan “Sou ne, aku juga mendengarnya. Tapi ku tak tahu apa itu.” —mereka cepat akrab.

Kedua laki laki, dan dua wanita dibelakang mereka, tampaknya pun telah akrab.

“Hm.. kira kira apa ya?” Tanya Anna kepada Miku yang sedang berjalan di sebelahnya.

Saat sampai di lapangan, keempat remaja itu langsung berbaris dengan rapi. Di podium terdapat beberapa guru dan.. kabut hitam yang mengisi barisan belakang mereka. ‘Apa itu?’ Hati Anna bertanya.

“Para murid sekalian–” ucap salah satu guru, tidak. Sepertinya kepala sekolah. “hari ini adalah hari pertama kalian. Dan hari ini. Satu demon baru akan mendampingi kalian selama kalian berada di sekolah.” Saat sang kepala sekolah mengucapkan itu, bisikan para murid terdengar jelas–menggema di aula yang besar.

“Diam!” Kepala sekolah itu kali ini bersuara lebih keras dan tegas. Ia menggerakkan tangannya seolah menyuruh pasukan maju melawan. Dengan cepat, kabut hitam yang tadinya berada di belakang sang kepala sekolah, kini beterbangan mendekati para murid. dan dalam hitungan detik, mereka berubah jadi makhluk berjubah hitam yang wajahnya tak dapat terlihat. Setiap satu siswa memiliki satu makhluk seperti itu di sisi kiri mereka.

Sang kepala sekolah kembali bersuara. “Kalian memiliki 100 point! Point akan dikurangi jika kalian melakukan kesalahan!
Telat – 20
Tidak masuk sekolah- 30
Tidak membawa tugas atau perlengkapan sekolah – 15
Dan jika diketahui ada percintaan diantara siswa maka point dikurangi 50.
Jika point kalian habis? Para penjaga yang akan menghukum kalian”

“Wahh” seluruh murid ketakutan. Ternyata peraturan yang selama ini tidak mereka ketahui sangat menyeramkan, pikiran muridpun mulai melayang ke hal-hal yang buruk.

“Kowaii..” Yuri bergidik ngeri di samping Ryosuke, melihat orang berjubah hitam.

“Kira-kira.. Hukumannya apa?” Tanya Yuri setelah ia mengangkat tangan dan di perbolehkan bertanya. Anak ini memang dari dulu tidak canggung untuk menanyakan hal yang membuatnya penasaran, hal ini yang membuat seluruh guru SMP Yuri menyukainya, supel, dan selalu ingin tahu tentang hal-hal yang menambah ilmu.

“Kematian” kata kepala sekolah, Yuri kembali bergidik, tanpa sadar ia meremas baju seragam Ryosuke yang berada si samping kanannya “aku sering telat bangun bagaimana ini?” Bisik Yuri, sukses membuat Ryosuke ingin tertawa.

Semua penjelasan itu tepat langsung di mengerti Ryosuke—ia memang pribadi yang cepat menghapal dan nengingat.

Pemberian demon pengawas guna mendidik siswa mereka agar taat peraturan dengan sanksi yang tegas—tak main main, nyawa taruhannya.

Ini sekolah kehidupan. Generasi unggul yang disiplin lah yang akan lulus.

Memang Resident yang dikagumi banyak orang, pantas lulusannya benar benar dicari bahkan hingga ke luar negri.

“Tenang saja, aku yang akan membangunkanmu.” Tawa Ryosuke pada teman sekamarnya itu, “aku terbiasa bangun pagi—” itu benar, pemuda ini cukup rajin dirumahnya, tak ingin berpangku tangan dan mandiri. “Bahkan di suasana sehening apapun.” Mengingat kembali keluarganya tak pernah ada disana.

Ryosuke melirik shinigami di samping—belakangnya.

“Jadi begitu.” Dingin pria ini, sekilas. Kembali terfokus oleh apa yang ia lihat di depan.

Selanjutnya kepala sekolah memperkenalkan setiap guru yang akan menjadi wali kelas mereka dan peraturan saat sedang dalam pelajaran.

Ryosuke mengingatnya semua dengan sangat baik.

Setelah melewati pemberian penjaga pada masing masing siswa, para guru akhirnya memperbolehkan para murid untuk kembali ke asrama mereka diiringi dengan para penjaga.

Tapi para penjaga itu menghilang saat mereka mulai memasuki asrama. “kowai..” Anna terdiam di depan pintu ketika melihat penjaga penjaga itu menghilang. Sementara ketiga temannya sudah memasuki asrama dan berkumpul di ruang tamu.

“Aku ingin pulang..” suara Miku bergetar seolah menahan sesuatu. Begitupun Anna yang memang penakut. Ia menutup pintu perlahan dan menguncinya. Lalu menempatkan diri untuk duduk di sebelah Miku.

Untuk beberapa saat keempat remaja itu terdiam, merenungkan apa yang baru saja mereka alami. “okaa-sama.. otou-sama…” Anna meremas rok sekolahnya–menahan tangis. Sedangkan tangisan Miku sudah pecah. Dua orang yang lainnya hanya terdiam. Mereka juga kaget karena mengetahui apa yang sebenarnya terpendam di dalam Residents high school.

Setelah lama terjadi keheningan, dan tangisan tidak ada lagi, Yuri menuju dapur dan membuka kulkas, mencari sesuatu untuk di minum.

Saat kulkas itu terbuka, Yuri di kejutkan dengan berbagai macam bahan makanan di sana “sugeeeee” seru Yuri, namun kembali murung. Jika melihat makanan, Yuri teringat akan kakak perempuannya yang selalu mengoceh saat Yuri menganggunya memasak atau makan makanan miliknya yang ada di kulkas, tanpa sadar Yuri mencengkram kuat pegangan kulkas itu.

“Doushita?” Tanya Ryosuke, kaget akan sapaan itu, Yuri menghapus air matanya, sialan Yuri menangis, pria ini tak biasa menangis di hadapan orang–apalagi orang yang baru di kenal.
“Daijoubu” Yuri memasang senyum manis nya dan mengambil sebotol jus.
“Besok kita mulai sekolah ya..” Yuri duduk di sofa, entah ia berbicara dengan siapa “aku rasa, aku salah masuk sekolah” katanya lagi, lalu menengguk jus itu dengan cepat.

Berbeda dengan Yuri, Ryosuke sudah terbiasa akan kesendirian—tidak ada yang ia kenang. Mungkin ada, sosok peliharaan kesayangannya. Namun kehampaan ini sudah wajar baginya, sehingga ia menjalani kehidupan asrama dengan datar.

“Sou.” Singkat pria ini menggigit pojok roti, menenteng kaleng susu.

Bahan makanan pilihan benar benar dipersiapkan untuk generasi pilihan.
Sekolah ini tak main main akan fasilitasnya, juga tak main main—akan hukuman di dalamnya.

Mengobrol berdua dalam dapur luas itu, setelah selesai makan. Hingga tak terasa mulai sore.

“Berkemas lah, lalu tidur cepat kalau tak ingin kesiangan.” Bergurau seraya pergi dari ruang makan, dapur. Memperingatkan Yuri dengan candanya.

Pemuda ini melangkah kekamarnya, mengemas segala isi koper yang ia bawa dalam lemari yang telah disediakan. Segera setelahnya ia putuskan untuk mandi—berkalung handuk.

Saat sudah tenang, Anna dan Miku pergi ke kamar dan segera berkemas, memasukkan barang barang mereka kedalam lemari yang besar di dalam kamar. Kemudian mempersiapkan alat alat untuk mandi.

“Mau duluan saja, Anna chan” Kata miku sembari tersenyum. ‘-chan, katanya.. ‘ Anna tersenyum kemudian mengangguk. Membawa handuk putih yang lembut menuju kamar mandi di dekat dapur.

Suara keran air menyala menandakan ada orang didalam. ‘Mungkin Hamada-san atau Chinen-san’ pikirnya. Akhirnya Anna pergi kedapur, membuka kulkas dan mengambil botol kecil berisi air mineral. Meminum air mineral membuatnya sedikit lebih tenang.
Setelah Ryosuke selesai mandi, kini giliran Anna yang membersihkan diri dan juga pikirannya. Dilanjutkan dengan Miku, lalu Yuri.

Keesokan harinya, Anna dan Miku bangun bersamaan, setelah mandi dan bersiap siap, mereka hendak berangkat.

Mereka menemukan pintu villa masih terkunci. ‘Berarti Yamada-san dan Chinen-san masih dikamar..” ucap Miku. “Yabai” reflek Anna dan Miku langsung berlari memasuki kamar Ryosuke dan Yuri. Dan disana, Ryosuke sudah rapih dan siap untuk berangkat sekolah, sementara Yuri masih sibuk membenahi tas nya.

“Hayakku! Nanti telat!” Miku bersuara lagi.

Yabai yo ne! Yuri terlambat bangun padahal dia sudah di bangunkan oleh Ryosuke berkali-kali, tapi pria itu malah mengigau kalau kakak perempuannya hanya menganggu tidur Yuri di siang bolong.

“Entah, dia memanggil ku Saya ne terus selama tidur, kau mengigau Chii? Haha” ujar Ryosuke membuat Yuri mengembungkan pipinya–sebal.

“Maaf aku belum terbiasa”

“Sudah sekarang cepatlah bersiap” kata Miku sambil mensreliting tas Yuri dan berakhir memberikan tas itu kepada pria manis yang tak jauh beda tingginya.

Yuri mengambil tasnya dan tersenyum “arigatou. Ikou!” Kemudian mereka berempat pun berangkat bersama, Yuri bersama Ryosuke dan Anna bersama Miku, tanpa pria itu sadari kalau Miku sedari tadi memperhatikan Yuri.

Pelajaran dimulai seperti biasa, perkenalan antar guru dan siswa satu persatu.

Banyak yang mencuri pandang saat dikenalkannya nama Chinen Yuri juga Yamada Ryosuke, satu demi satu siswi berbisik.

Hari pertama, pemuda ini memilih kursi di baris depan agar dapan memperhatikan pelajaran dengan mudah. Matanya sedikit minus sehingga perlu melihat dari jarak dekat, sedangkan dua rekan asramanya yang wanita memilih baris di belakang.

Awal pelajaran dibuka Math. Sial bagi Ryosuke, yang lemah atas itu. Ia sulit dalam hitungan, beruntung teman asrama sekamarnya yang pria—Yuri, duduk di sampingnya, tak jauh. Dan nampaknya dapan diandalkan soal hitung menghitung.

“Sensei.” Mengangkat tangan, dan bertanya. “Diskusi dengan teman diperbolehkan?” Memastikan agar tak melanggar peraturan maupun mengurangi point.

Dan diperbolehkan oleh sang guru, asalkan tidak dilakukan saat ujian.

Anna dan Miku tampak serius dibelakang—tidak, Anna melamun. Entah merenungi hal apa, ia terus melihat kedepan.

Pelajaran pertama dimulai, matematika. Ini adalah salah satu mata pelajaran yang Anna sukai. Tapi dikelas, entah kenapa Anna tak bisa fokus pada pelajaran karena terhalang–tidak, karena tepat di barisan depan ada Ryosuke. Otak Anna memilah milah diri Ryosuke yang ada di depan.

Sifatnya yang tenang dan tidak terburu buru. ‘Hus, Anna’ ia menyadarkan dirinya sendiri. Kemudian kembali melanjutkan pelajaran.

“Sensei, kenapa kita harus didampingi dewa kematian?!” Tanya salah satu siswa berambut hitam yang jangkung itu. Dengan suara keras.

‘Yabai’ ucap anna, ia tau akan ada masalah.

Tiba tiba salah satu penjaga menampakan dirinya tepat di belakang pria itu.

“Aku tidak ingin mengikuti peraturan disini! Kenapa kalian mengkekang?!” ucapnya lagi. Tiba tiba suatu suara muncul “Nakajima Yuto, Menentang peraturan sekolah, -100” Dengan suara berat yang menakutkan.

Dengan sekejap sang penjaga mengeluarkan sabit nya dan dengan cepat membagi dua tubuh pria bernama Nakajima Yuto itu sehingga darah segar membasahi semua yang ada di sekitarnya. Termasuk Anna dan Miku karena mereka berada di belakang pria itu.

“KYAAAAAAAAAA” seluruh siswa dalam kelas berteriak, termasuk Anna dan Miku. Reflek–Anna berdiri, mundur ke belakang hingga menabrak tembok. Berjongkok dan menutup kupingnya.

“Aku ingin pulang.. okaa-sama..” ucapnya dalam suara yang bergetar. Sementara Miku masih terpaku dengan pemandangan yang ada di depannya.

Melihat kejadian barusan, Yuri cepat-cepat permisi untuk ke toilet dan langsung muntah saat dia sampai westafel, benar-benar menjijikan.

Apakah anak murid harus di perlakukan seperti binatang? Dengan mudahnya dibunuh begitu saja.

“Ahh hh” Yuri menatap wajahnya di pantulan cermin, wajah ketakutan. Ia harus bertahan hidup, Yuri tidak ingin mati konyol di sekolahan ini, Ibu, Ayah, Saya ne menunggunya sampai kelulusan nanti.

Iya, Yuri tidak boleh lengah. Setelah dirasanya tenang, Yuri keluar dari toilet dan masuk ke kelas.

“Uwow” Yuri berseru dalam hati, pelajaran math telah selesai rupanya, seorang guru perempuan hmm–seksi sukses membuat Yuri terdiam di depan pintu.

“Kau” guru itu mengacungkan tongkat nya ke hadapan Yuri, membuat Yuri kaget “cepat duduk”

“Y-yaa” langsung saja Yuri berjalan cepat ke bangkunya dan duduk dengan tenang.

Pelajaran selanjutnya dimulai, setelah yang sebelumnya sempat ricuh dengan tewasnya seorang siswa membangkang.

Ternyata kejadian menyeramkan itu benar benar dapat terjadi secara nyata—bukan hanya ancaman.

Ryosuke mengurut halus dahinya, ia telah masuk ke sekolah yang merepotkan.
Kang Ji Young-sensei, begitu ia memperkenalkan dirinya. Mengajar Bahasa Inggris.
Namun suasana kelas terasa tidak kondusif, masih berjibaku dengan atmosphere menyeramkan tadi.

“URUSE.” Sang guru ini tampak emosi, menghentakan tangannya keras pada papan hingga menggema di kelas. “PERHATIKAN BAIK BAIK.”

Mulai geram tampak merah aura dibelakang pengajar ini—entah setiap pengajar juga diberikan pengawal seperti shinigami atau tidak, tapi seperti ada sesuatu dibelakangnya.

Ingin rasanya Ryosuke bangkit dan berdiri menghalau guru emosi ini, namun ia kembali ingat—melawan sekolah point berkurang 100. Berjaga jaga agar tak salah langkah, ia akhirnya diam dan memutar otak.

Akhirnya menemukan cara, “Sensei.” Mengangkat tangan, “halaman 10 masih belum di mengerti.” Bertanya.

Sang guru lekas melihat buku, dan mempelajari hingga menjelaskan kembali untuk kedua kalinya—walaupun sebenarnya Ryosuke telah menghapalnya dengan sangat baik.
Pemuda ini sukses menghalau perhatian sang guru, hingga kembali fokus—ia tersenyum.

Anna yang masih kaget atas apa yang terjadi hanya bisa terduduk di kursinya yang penuh darah segar milik pria bernama Nakajima Yuto-san. Tubuhnya yang terbelah dua masih ada dihadapannya saat ini, daging dan juga isi perut yang keluar membuat Anna ingin muntah.

Sepanjang pelajaran, Anna tidak mengikutinya sama sekali, malahan ia tidak tahu apa yang sedang diajarkan.

Setelah pelajaran selesai, tiba tiba orang orang berseragam putih masuk ke dalam kelas, entah siapa mereka. Mereka membenahi mayat Nakajima Yuto dari hadapan Anna dan juga darah yang tersisa. Walaupun sudah bersih, baju Anna tetap saja memiliki bercak merah.

“Murashige…san?” Ucap Yuri–mencoba menyadarkan Anna. Entah apa yang ada di pikiran gadis blasteran itu saat ini. Sementara Miku sudah mulai tenang karena mayat Nakajima Yuto sudah dibenahi

“Daijoubu ka?” Tanya Chinen lagi melihat keadaan gadis teman satu asramanya ini.

“Sepertinya dia takut karena tadi..” Yang menjawab malah Miku, Yuri menghela nafasnya.

“Yasudah, ini jam istirahat lebih baik kita ke asrama dulu. Tenangkan diri mu” saran Yuri, gadis yang bernama Anna itu mengangguk lalu berdiri untuk menuju ke asrama–bersama Yamada, Yuri, dan Miku tentunya.

“Ini..” Yuri menyodorkan segelas air mineral ke hadapan Anna, berniat untuk membuat gadis itu membaik.

“Ini bahaya…” Ujar Ryosuke tiba-tiba “sekolah ini membuat aku kerepotan” sambung Ryosuke lagi, membuat teman satu asramanya memperhatikannya.

“Huf..” Yuri melipat kedua tangannya “mereka tidak memikirkan bagaimana reaksi orang tua anak itu nanti? Aku lebih baik ma–ff” kata-kata Yuri tiba-tiba berhenti karena Miku menutup mulut Yuri dengan tangannya.

“Sssttt” Miku meletakan jari telunjuknya di depan bibir “jangan sembarangan ngomong…” Miku berbisik.

Aah.. Kenapa Miku bisa tahu kalau Yuri ingin mengatakan kata-kata yang menyabut nyawanya sendiri? Hampir saja nyawa Yuri melayang.

Ryosuke membisikan sesuatu, “jaga ucapanmu, kematian selalu berada disampingmu.”

Seraya menepuk pundak Yuri, dan melirik aura hitam shinigami itu.

Sungguh tak bercanda, sekolah ini memang benar benar merepotkan.

Keempat siswa siswi itu tengah duduk beristirahat pada teras sekolah—dlm kursi batu berukiran kanan dan kirinya. Kau tahu kursi jaman roma? Begitulah arsitektur sekolah ini. Air mancur megah di tengah sekolah semakin memperindah bangunan itu. Mereka menenangkan hati masing masing, dimana hari hari awal mungkin memang masih sulit untuk menerima medan perang. Tapi akan kah selanjutnya mereka akan terbiasa? Akan kah sampai akhir mereka akan lulus? Tidak. Mungkin lebih tepatnya—Akan kah sampai akhir mereka akan hidup?

Jentikan jari Ryosuke menyadarkan lamunan Anna.

“Memikirkan apa?” Tutur pria ini memperhatikan Anna setengah jam tak bergeming dari posisinya.

“Sudah saatnya masuk.” Laki laki ini singkat mengingatkan.
Bel sudah berbunyi sejak tadi, tentunya mereka tak ingin ada satupun teman asramanya telat, bukan?

To Be Continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s