[Minichapter] Sweet Cream (Chapter 1)

Title: Sweet Cream Chapter 1
Cast: Yamada Ryosuke (Hey! Say! JUMP), Yabu Kota (Hey! Say! JUMP), Inoo Kei (Hey! Say! JUMP), Okamoto Keito (Hey! Say! JUMP), Yamada Hikari (OC)
Author: Shiina Hikari
Rating: PG
Genre: Family, Romance
Tema cerita kali ini adalah makanan manis, gara-gara lihat Ruruka jadi kepingin buat cerita tentang manisan. Semoga kalian suka, silahkan tinggalkan comment.

Seorang gadis kecil berumur 11 tahun duduk sambil membuat karangan bunga sambil sesekali melihat kakaknya bermain sepakbola bersama beberapa temannya.

“Yosha! Kami menang!” seru seorang anak laki-laki.

Anak laki-laki itu berjalan menuju gadis kecil yang dari tadi duduk menunggunya. Anak laki-laki itu menegur gadis kecil itu. Gadis itu tersenyum melihat anak laki-laki itu.

“Omedetou Ryosuke Oniichan! Ini hadiah dari Hikari.” Ucap gadis itu sambil menaruh karangan bunga itu keatas kepala anak yang bernama Yamada Ryosuke itu.

“Un! Arigatou!”

Yamada menggandeng tangan adiknya itu dan berjalan pulang.

***

Yamada dan Hikari berjalan ke sebuah perumahan kecil dan masuk ke dalam salah satu rumah. Mereka tinggal di rumah kecil sederhana. Ibu mereka adalah orang tua tunggal, sementara ayah mereka sudah lama meninggal. Meskipun begitu, ibu mereka tidak berniat untuk menikah lagi.

“Ini.” ucap Hikari sambil menyodorkan sepotong kue eclair berwarna hijau kepada Yamada.

“Oishii!” ucap Yamada dengan senang.

Hikari paling suka membuat macam-macam manisan. Dari bahan yang sangat sedikit, Hikari bisa membuat bermacam-macam kue dan manisan yang sangat enak.

“Nee Hikari… Apa kamu tidak ingin sekolah?”

Hikari menoleh dan menatap kakaknya dengan bingung.

“Hm? Kenapa aku harus melakukannya?”

“Kalau kamu sekolah kan kamu bisa memasuk klub memasak atau klub lain semacam itu.”

“Hikari tidak suka memasak. Yang Hikari suka hanya membuat kue dan bermacam-macam manisan. Lagipula kita tidak punya biaya untuk sekolahku. Biaya sekolah Oniichan saja sudah cukup besar. Hai, aaam!” jawab Hikari sambil menyuapkan kue kepada kakaknya.

Yamada hanya terdiam sambil memakan kue Hikari. Yang Hikari katakan itu benar. Untuk membayar biaya sekolahnya saja ibunya sudah harus bekerja sampai malam, apalagi jika Hikari ikut sekolah.

***

Yamada dipanggil oleh ibunya saat Hikari sedang pergi keluar untuk membeli sesuatu. Yamada sudah merasakan firasat tidak baik dari ibunya.

“Ibu akan menikah lagi.”

Deg! Yamada kaget ketika ibunya mengatakan kata-kata yang tidak ingin ia dengar. Selama ini dia memang berusaha agar ibunya tidak menikah lagi. Hikari yang tanpa sengaja mendengarkan percakapan itu langsung masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat kakaknya sangat sedih mendengar perkataan ibunya.

“Bagaimana menurut Hikari?” tanya ibunya.

“Hikari tidak keberatan. Sejak awal memang terlalu sulit jika okaasan membesarkan kami berdua.” jawab Hikari dengan tenang.

Yamada langsung berlari kearah adiknya.

“Okaasan akan menikah! Itu artinya kita akan punya keluarga baru! Okaasan juga akan mencintai orang lain! Kenapa kamu mengizinkannya???” ucap Yamada sambil menangis.

***

Hikari duduk diruang ganti pengantin wanita bersama kakak dan ibunya. Hikari sudah memakai gaun yang sangat cantik sama seperti ibunya. Kali ini dia akan menjadi pembawa bunga bersama bibinya. Yamada yang memakai setelan jas hanya bisa duduk diam sambil mengacuhkan ibunya. Pada akhirnya Yamada menyetujui pernikahan ibunya walaupun tidak sepenuhnya ia setuju.

“Okaasan, kore!” ucap Hikari sambil menyodorkan kue eclair berwarna biru muda kepada ibunya.

“Pengantin wanita harus tersenyum di hari pernikahan. Itu yang kakek bilang.” tambahnya.

Ibunya tersenyum hangat kepadanya. Hikari berlari menuju kakaknya dan memeluk kakaknya dengan lembut.

“Kita pasti akan baik-baik saja. Hikari kan selalu bersama Niichan. Hai, aaam!” ucap Hikari sambil menyuapkan kue eclair kesukaan kakaknya itu.

Yamada tersenyum mendengar perkataan adiknya itu. Meskipun ibunya akan menikah, mereka berdua belum pernah bertemu dengan calon ayah mereka atau saudara tiri mereka.

“Oishii.” ucap Yamada.

Hikari tersenyum mendengar pujian Yamada.

“Deshou. Manisan itu ada untuk membuat orang bahagia. Selanjutnya, Hikari yang akan menikah dengan Niichan.” ucap Hikari sambil tersenyum manis.

***

Hikari berjalan diatas altar berdampingan dengan bibinya sambil menebar bunga. Dari deretan undangan, Hikari bisa mendengar dengan jelas jika para tamu undangan memuji penampilannya. Setelah janji suci diucapkan, ibunya yang terlihat sangat bahagia itu melemparkan bunga yang ia pegang kepada para undangan. Konon katanya, siapapun yang berhasil menangkap bunga yang pengantin wanita lemparkan, maka orang itu akan segera menikah dengan orang yang ia cintai. Hikari berdiri bersama kakak dan kedua saudara tirinya diantara semua undangan yang berusaha menangkap bunga yang ibunya bawa. Hikari tidak berniat untuk mendapatkan bunganya. Dia hanya ingin melihat ibunya melemparkan bunga itu.

PLUK!

Bunga itu terjatuh tepat diatas tangan Hikari. Hikari pun tersenyum manis melihat bunga cantik itu yang ada ditangannya, sementara undangan lainnya bertepuk tangan.

***

Hikari berjalan sambil membawa bunganya masuk ke dalam rumah barunya. Ibunya memperkenalkan ayah barunya dan juga saudara tiri mereka. Kemudian meninggalkan mereka berempat di ruang tamu. Yamada terlihat tidak peduli melihat kedua saudara tirinya.

“Hajimemashite. Namaku Yabu Kota.” ucap anak laki-laki berwajah manis dengan tubuh kurus.

“Kalau aku Inoo Kei.” ucap anak laki-laki yang berwajah cantik.

“Kenapa marganya berbeda?” tanya Hikari.

“Ah… Ayahku sebelumnya menikahi ibunya Kei dan beberapa tahun lalu ibu Kei meninggal. Ayahku tidak pernah memaksa memakai marganya. Jadi kalian tidak perlu mengganti marga kalian.” ucap Yabu dengan ramah.

“Cih! Siapa juga yang mau memakai marga ayahmu?” ucap Yamada dengan kesal.

“Niichan! Tidak sopan seperti itu.” ucap Hikari.

“Daijoubu. Kei dulu juga seperti itu.” ucap Yabu sambil tertawa.

“Ah? Saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Yamada Hikari dan ini kakak saya Ryosuke. Yoroshiku onegaishimasu!” ucap Hikari dengan sopan.

***

Yamada bangun dari tidurnya dan melihat ke sekelilingnya. Dia terbangun di sebuah tempat tidur empuk dan kamar yang mewah. Biasanya dia tidur sekamar dengan Hikari. Kali ini dia tidur sendirian karena mereka sudah diberikan kamar sendiri-sendiri. Yamada berbalik kearah kanan dan menarik selimutnya, tapi anehnya, dia merasa sangat kesulitan saat menarik selimutnya. Saat Yamada membuka selimutnya, dia melihat Hikari tidur disebelahnya. Hikari tidak terbangun dari tidurnya, malah dia langsung memeluk Yamada yang terbaring disebelahnya.

“Hikari.” panggil Yamada.

Berapa kali pun ia memanggilnya, Hikari tidak kunjung bangun. Yamada pun menyerah dan memeluk balik adiknya itu. Deg! Tiba-tiba ia merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Wajahnya pun terasa memanas. Yamada kebingungan. Dia tidak mengerti perasaan macam apa yang dia rasakan.

KRINGGG!!!!!

Alarm dikamar Yamada berbunyi dan membuat Hikari terbangun. Yamada yang terkejut langsung menjauhi adiknya itu.

“Mou asa da?” tanya Hikari sambil mengusap-usap matanya.

“Un. Waktunya sekolah.” Jawab Yamada dengan panik.

“Sekolah?”

***

Hikari duduk di meja makan sambil mengaduk-aduk supnya. Dia tidak ingin berangkat sekolah. Ini pertama kalinya dia sekolah setelah 6 tahun dia menolak untuk masuk sekolah. Hikari tidak bisa masuk sekolah dasar karena umurnya sudah terlalu besar, karena itu hari ini dia mengikuti ujian untuk mendapatkan surat kelulusan sekolah dasar. Jika ia lulus, besoknya dia sudah diperbolehkan melanjutkan pendidikannya ketingkat selanjutnya.

“Doushita no?” tanya Yabu.

“Yabu-san, Hikari tidak ingin pergi ke sekolah.” Jawab Hikari sambil cemberut.

“Yabu-san? Hikari-chan bisa memanggilku Kota. Dan panggil saja dia Kei.” Ucap Yabu sambil menunjuk kearah Kei.

***

Hikari berjalan menuju sebuah gedung sekolah. Di depannya tertulis nama sekolah itu. Hikari memperhatikan papan nama yang tertulis di depan sekolah itu.

“Chuugakusei?”

Hikari berjalan memasuki sekolah itu dan menuju ruang guru. Hikari menyerahkan beberapa dokumen dan menyerahkannya kepada guru disana.

“Hikari-chan sedang apa disini?”

Hikari menoleh kearah orang yang bicara itu, ternyata itu adalah kakak tirinya Inoo Kei.

“Hikari lulus dan disuruh masuk SMP ini.” Ucap Hikari dengan singkat.

***

Yabu, Inoo dan Yamada memperhatikan kertas-kertas hasil nilai ujian akhir Hikari dengan takjub. Hikari mendapatkan nilai sempurna dari setiap mata pelajaran, padahal dia belum pernah sekalipun mengikuti pendidikan resmi. Setelah tinggal bersama selama seminggu, Yamada mulai terbiasa dengan Yabu dan Inoo. Bahkan sekarang mereka bertiga menjadi lebih akrab.

“Hai! Vanilla choux creamnya sudah jadi!” ucap Hikari sambil membawa manisan buatannya.

“Nee Hikari, ini tidak terlihat seperti manisan? Ini terlihat seperti roti.” ucap Inoo.

“Ckckck… Kei-nii tidak paham ya? Membuat manisan itu tidak terbatas berbentuk permen. Selama rasanya itu manis dan membuat orang bahagia, makanan tersebut akan disebut manisan.” jelas Hikari.

Hikari meletakkan roti buatannya diatas meja dan duduk disamping Yamada. Yabu dan Inoo mengambil roti buatan Hikari dan memakannya

“OISHII!!!!” ucap mereka berdua.

“Deshou? Hai, aaam!” ucap Hikari sambil menyuapi Yamada dengan rotinya.

“Oishii!” puji Yamada.

Hikari tersenyum mendengar pujian kakaknya.

“Dari tadi ada hal yang menggangguku.” ucap Yabu.

“Apa itu?”

“Kenapa Ryosuke tidur dipangkuanmu?” tanya Yabu.

“Ah! Ini. Kami sudah biasa seperti ini.” jawab Hikari.

“Ryosuke-kun, aku juga ingin tidur dipangkuan Hikari-chan.” ucap Inoo dengan memohon.

Yamada menjulurkan lidahnya dan mengabaikan kedua orang itu.

***

Hikari duduk dipinggir lapangan sambil melihat Yabu dan Yamada bermain sepakbola. Kedua kakaknya itu sangat mahir bermain sepakbola. Bahkan keduanya sangat ingin menjadi pemain sepakbola profesional. Hikari yang tidak terlalu mengerti jalan permainannya hanya bisa duduk diam sambil melihat kakak-kakaknya bermain.

“Kei-nii tidak ingin ikut bermain?” tanya Hikari.

“Aku tidak terlalu pandai berolahraga.” jawab Inoo sambil menundukkan kepalanya.

“Doushita no?”

“Hm, betsu ni. Hanya saja aku terlihat sangat lemah diantara semua anak laki-laki.” jawab Inoo sambil merendahkan dirinya.

“Sonna koto janai yo! Kei-nii itu sangat pintar bermain piano. Suara Kei-nii juga sangat bagus. Jangan merendahkan diri! Setiap orang pasti punya kelebihan sendiri-sendiri.” Ucap Hikari sambil marah.

Inoo mengusap kepala Hikari perlahan sambil tersenyum.

“Tidak perlu marah begitu. Aku mengerti kok apa maksudmu.” Jawab Inoo sambil tersenyum.

***

“Idol?” tanya Yamada.

“Sou! Idol! Bukannya sekarang banyak anak seumuran kita yang menjadi idol.” Jawab Inoo.

“Hmm… Aku tidak terlalu tertarik dengan yang seperti itu.” Komentar Yamada.

“Aku juga tidak ingin menjadi idol.” Tolak Yabu.

“Hee? Kalian tidak seru. Hikari-chan bagaimana?” tanya Inoo.

“Eh? Hikari? Hikari tidak pandai menyanyi atau menari. Suara Hikari juga tidak bagus.” Tolak Hikari.

Inoo kelihatan kecewa sekali mendengar jawaban dari saudara-saudaranya.

“A-Ah? Kei-nii, jangan sedih begitu.” Ucap Hikari dengan panik.

“Sudah Hikari-chan, biarkan saja. Nanti juga dia baikan sendiri. Kami pergi main bola dulu.” Ucap Yabu.

***

Yabu, Inoo, Yamada dan Hikari duduk disebuah kursi tunggu bersama ibu dan beberapa peserta lain.

“Oy! Kenapa aku dibawa kesini??? Dan juga aku masih menggunakan seragam bolaku!!!” celoteh Yabu.

“Tenanglah Oniichan, karena aku juga berada di situasi yang sama denganmu.” ucap Yamada sambil menahan amarah.

Sekarang mereka berempat berada di gedung Johnny’s Assossiation. Yamada dan Yabu dibawa dengan paksa menuju tempat audisi Johnny’s talent karena berkali-kali menolak pergi kesana.

“Mou Hikari! Kenapa aku harus melakukan ini!” teriak Yamada dan Yabu.

“Hey! Jangan berisik! Kita sedang berada di tempat umum.” ucap Inoo.

Yamada dan Yabu memperhatikan Inoo dari atas sampai bawah. Terlihat sekali cara berpakaiannya yang sangat rapi dan tampan. Baju kaos, jaket, celana jeans, sepatu kets, dan juga topi. Gaya berpakaian Inoo terlihat sangat pantas.

“Kenapa hanya dia yang terlihat keren?” gumam Yabu.

“Hai! Genki dayo oniichantachi. Kore!” ucap Hikari sambil memberikan dua buah kue eclair untuk menghibur kedua kakaknya.

***

Hikari, Yabu, Inoo dan Yamada duduk di ruang keluarga di rumahnya sambil merebahkan diri di sofa yang empuk. Yabu dan Yamada menatap hasil audisi terakhir mereka.

“Kenapa aku bisa lolos audisinya?” ucap mereka berdua sambil menangis.

“Heee? Itu kabar baik loh. Sekarang kalian bertiga bisa sama-sama menjadi idol.” ucap Hikari.

Hikari meletakkan sepiring creme brulee yang baru saja ia buat.

“Ryo-nii, kore!” ucap Hikari sambil menyuapi dengan kue eclair yang biasa ia buat khusus untuk kakaknya.

“Oishii!” ucap Yamada.

“Mou Hikari! Suapi aku juga. Jangan Ryosuke saja yang disuapi.” Ucap Yabu sambil cemberut.

Yabu pun duduk sambil memakan creme brulee dengan kesal. Hikari yang melihat sikap Yabu yang kesal langsung mendatangi Yabu dan menyuapkan kue eclair yang selalu dia berikan kepada Yamada. Yabu yang kaget secara refleks langsung menjauhi Hikari. Hikari hanya tersenyum kepada kakaknya itu dan berlalu menuju Inoo dan menyuapkan kue yang sama.

“Ah… Kenapa kamu berikan kue kesukaanku?” tanya Yamada dengan sedih.

“Tidak apa-apa kan? Biar adil.” Jawab Hikari sambil berlalu ke kamarnya.

***

Hikari duduk di depan televisinya sambil melihat acara yang menyajikan video clip sambil menghias coklat yang baru saja ia buat.

CKLEK!

Bunyi gagang pintu rumah yang terbuka membuatnya terkejut dan segera melihat kearah pintu. Disana ada kakak sulungnya yang sedang menutup pintu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Kakaknya itu menghela nafas berat. Terdengar sekali kalau kakanya itu kelelahan. Hikari segera menghampiri kakak sambil membawa sepotong bakerzin yang sudah selesai dia buat.

“Kou-nii! Kore!” ucapnya sambil menyuapi kakak sulungnya itu dengan bakerzin yang ia buat.

“Sugoii! Oshii yo Hikari!” ucap kakaknya itu sambil tersenyum lebar.

“Kou-nii kenapa? Kelihatannya sedang kesal sekali?” tanya Hikari sambil mengajak kakaknya duduk.

“Hm… Belakangan ini sedang banyak jadwal. Aku hanya sedikit kelelahan.” Jawab Yabu sambil tersenyum hambar.

Sekarang Yabu, Inoo dan Hikaru bekerja sebagai idol di agensi yang sama. Tetapi mereka berada di grup yang berbeda, jadi mereka jarang bertemu di tempat kerjanya. Mereka juga kadi karang pulang ke rumah ataupun pergi ke sekolah.

“Hikari.” Panggil Yabu.

“Hm?”

“Kalau dipikir-pikir, aku tidak pernah melihat Hikari membawa teman ke rumah. Kenapa tidak ajak mereka kemari?” tanya Yabu.

Hikari hanya tersenyum kepada Yabu.

“Kou-nii tidak mau makan? Menu hari ini pasta.” Tanya Hikari.

“Pasta? Ayo kita makan!” ucap Yabu dengan antusias.

***

Yabu duduk di depan televisi sambil mengganti-ganti channel televisinya. Sedangkan Yamada duduk di sebelah Yabu sambil memainkan gamenya. Di sisi lain, Hikari dan Inoo berada di lantai dua. Mereka berdua ada di ruang musik yang terletak di lantai dua. Dentingan piano pun berakhir. Ino menarik nafas panjang dan tersenyum kepada Hikari.

“Dou?” tanya Inoo.

“Bagus sekali. Yappari! Jari yang cantik akan menghasilkan melodi yang cantik.” Ucap Hikari yang bertepuk tangan.

“Apa jariku sebegitu cantiknya?” tanya Inoo dengan heran.

“Un! Bukan jarinya saja! Wajah Kei-nii juga sangat cantik!” jawab Hikari dengan antusias.

Hikari terlihat sangat senang saat memuji kakaknya yang cantik itu. Inoo hanya tertawa kecil melihat tingkah adiknya itu. Inoo bangkit dari tempat duduknya dan menuju tempat Hikari berdiri. Inoo mendekatkan wajahnya kepada adiknya itu.

“Apa benar aku secantik itu?” goda Inoo.

“U-Un..” jawab Hikari singkat sambil mundur perlahan.

Inoo terus berjalan maju mendekati adiknya itu, sementara adiknya itu terus mundur melihat kakaknya yang semakin mendekatinya. Sayangnya Hikari tidak bisa terus mundur. Dinding menghentikan langkahnya. Melihat kondisi itu, Hikari langsung berusaha melarikan diri, tapi sayangnya Inoo sudah memperkirakan hal itu dan segera menaruh tangannya di dinding dan menutup jalan keluar untuk Hikari. Hikari hanya diam sambil menatap kakaknya itu. Seketika dia membeku dan tidak bisa melakukan apa-apa.

“Akan aku tunjukkan kalau aku juga seorang pria.” Ucap Inoo sambil tersenyum menggoda.

Wajah kakaknya semakin dekat dengannya, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Semakin lama wajah kakaknya semakin mendekatinya. Bahkan bibir mereka hampir bersentuhan.

CKLEK!

Inoo langsung menjauh dari Hikari dan melihat arah lain.

“Aku pikir kalian kenapa-kenapa. Aku agak panik waktu tidak mendengar suara pianomu lagi Kei.” ucap Yabu dengan khawatir.

Inoo membuang muka dari Yabu. Dia kelihatan agak kesal karena Yabu datang di waktu yang tidak tepat. Inoo pun keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Yabu dan Hikari.

“Daijoubu?” tanya Yabu dengan panik.

Hikari langsung tersadar dari keterkejutannya dan tersenyum kepada kakak sulungnya itu.

***

Inoo berbaring di kamarnya dengan kesal. Harusnya tadi dia bisa mencium Hikari. Seandainya Yabu tidak datang, dia pasti bisa mencium adiknya itu. Meskipun Yabu khawatir, di wajahnya tidak terlihat sedikitpun kekhawatiran kepada Inoo. Jelas sekali terlihat kalau Yabu menguping saat dia dan Hikari sedang ada di ruang musik karena di ruang musik mereka dibuat kedap suara agar tidak mengganggu penghuni rumah dan juga agar orang yang menggunakan ruang itu tidak merasa terganggu dengan keributan diluar. Orang buta saja bisa tahu jika ruang itu dibuat kedap suara.

“Kei-nii…” panggil Hikari dengan lirih.

Inoo langsung terbangun saat adiknya itu memanggilnya dari balik pintu. Hikari masuk ke kamar kakaknya dengan ragu-ragu. Hikari menyodorkan sekotak coklat yang ia buat sendiri kepada kakaknya itu.

“Aku minta maaf karena aku menyebut Kei-nii cantik. Kelihatannya Kei-nii sangat kesal. Aku janji aku tidak akan bilang begitu lagi. Coklat. Untuk permintaan maaf.” Ucap Hikari sambil menunduk.

Inoo tersenyum sambil mengelus pelan kepala adiknya itu. Ia pun tertawa karena adiknya mengira dia melakukan perbuatan itu karena ia marah. Inoo mengambil coklat itu dan memakan coklat buatan adiknya itu.

“Enak seperti biasanya.” puji Inoo.

“Ha? Seperti biasanya? Apa coklat buatanku sebiasa itu rasanya?” tanya Hikari dengan kesal.

“Iie, bukan itu maksudku. Maksudku apa pun yang kamu buat selalu terasa enak dan manis. Itu pujian loh.” Jelas Inoo.

Muka Hikari langsung berubah memerah. Hikari memalingkan wajahnya dari kakaknya itu. Inoo menarik Hikai ke pelukannya.

“Aku tidak marah soal itu. Apapun yang Hikari katakan, bagiku itu sebuah pujian.” Ucap Inoo sambil tersenyum.

“Lalu marah karena apa?”

Inoo melepas pelukannya dan menatap adiknya sejenak. Inoo mendekatkan wajahnya kepada Hikari. Saat wajahnya sudah sangat dekat dengan Hikari, Hikari menutup matanya. Terlihat sekali jika adiknya itu takut.

CHUU!

Sebuah ciuman mendarat di puncak kepalanya. Hikari membuka matanya dan melihat kakaknya tersenyum.

“Kenapa menutup mata? Apa yang kamu harapkan Hikari?” goda Inoo sambil tertawa.

“Da-Datte…”

Inoo mengelus pelan kepala adiknya.

“Kamu terlalu banyak membaca komiknya Ryosuke sih. Ciumannya ditunda dulu ya?”

“Eh?”

“Aku tidak ingin jadi orang jahat yang mengambil ciuman pertama adikku. Sudah malam. Sebaiknya kamu tidur. Oyasumi.” Ucap Inoo sambil tersenyum manis.

***

“Tadaima!” ucap Yamada sambil membuka pintu rumahnya.

“Okaeri Ryo-nii…” ucap Hikari.

Hikari tiba-tiba jatuh kearah Yamada. Dengan sigap Yamada menangkap adiknya. Badan Hikari terasa sangat panas. Yamada pun segera membawa Hikari ke kamarnya. Yamada terus menjaga adiknya itu sampai dia tertidur di samping tempat tidur Hikari.

***

Hikari tiba-tiba terbangun dan duduk diatas tempat tidurnya. Yamada yang tertidur disamping tempat tidur Hikari terlonjak kaget ketika tangan Hikari yang tiba-tiba bergerak. Yamada mengusap matanya perlahan dan melihat adiknya itu duduk diatas tempat tidurnya dengan keadaan yang masih setengah terbangun.

“Doushita no?” tanya Yamada.

“Toilet.”

Yamada pun membantu adiknya bangun dan membawa adiknya menuju kamar mandi. Karena Hikari tidak bisa berjalan dengan baik, Yamada pun terpaksa menggendong adiknya sampai ke kamar mandi. Hikari masih terus tidur saat Yamada menggendongnya.

“Oniichan, atama ga itaiiii… Kepalaku sakit sekali.” keluh Hikari.

“Hai, hai. Setelah ini kamu minum obat dulu.” Jawab Yamada.

Setelah Hikari keluar dari kamar mandinya, Yamada berusaha membantu adiknya itu berjalan kembali ke tempat tidurnya, tanpa disangka Hikari terjatuh. Yamada yang berusaha menangkapnya malah ikut terjatuh karena tergelincir. Mereka berdua terbaring di lantai. Yamada merasa kepalanya sangat sakit. Yamada pun membuka matanya, ia terkejut karena adiknya sudah ada diatas tubuhnya. Dan bukan itu saja, tanpa sengaja Hikari mencium Yamada. Yamada bisa merasakan bibir lembut adiknya itu menyentuh bibirnya. Hikari bangun dan mengangkat kepalanya. Wajahnya terlihat sangat merah. Yamada yang tadinya ingin minta maaf, segera mengurungkan niatnya ketika melihat adiknya belum sepenuhnya sadar.

“Oniichan… Samuii…” ucap Hikari yang kemudian kembali tertidur diatas tubuh Yamada.

Yamada menghela nafas berat. Hampir saja ia mati karena malu. Kini wajah Yamada sudah semerah adiknya. Yamada pun mengangkat tubuh adiknya dan membawa adiknya kembali ke teempat tidurnya. Yamada menyelimuti adiknya kemudian duduk disamping adiknya. Yamada mengusap lembut wajah adiknya. Yamada menyentuh pelan pipi adiknya, kemudian jari-jarinya turun menyentuh bibir adiknya. Yamada berpikir sejenak dan mendekatkan wajahnya kepada adiknya.

***

Hikari terbangun di tempat tidurnya. Dia sudah merasa lebih baik. Hikari melihat kearah Yamada yang tertidur disebelahnya. Hikari tersenyum dan kembali berbaring disebelahnya.

“Oniichan…” panggil Hikari.

Yamada tidak menyahut panggilan Hikari dan amsih terus tertidur. Hikari menusuk-nusuk pipi Yamada, tapi Yamada tidak kunjung bangun.

BRAAKKK!!!!

“HIKARI!!!!”

Yabu dan Inoo masuk tergesa-gesa ke dalam kamar Hikari. Hikari dan Yamada segera bangun ketika mendengar Yabu dan Inoo berteriak.

“Aku dengar kamu sakit.” ucap Yabu dengan panik.

“Apa kamu baik-baik saja? Mana yang sakit?” tanya Inoo dengan panik.

Yabu dan Inoo langsung melihat kearah Yamada yang duduk disebelah Hikari.

“A-Aku tidak melakukan apa-apa kok.” Ucap Yamada dengan panik.

Inoo dan Yabu menatap tajam kearah Yamada sementara Yamada berusaha menjelaskan apa yang terjadi.

“Nee, Hikari! Besok kita bisa mulai sekolah bersam-sama lagi!” ucap Yabu dengan antusias.

“Hontou?”

“Hai! Setelah perjalanan panjang, akhirnya kami bisa kembali ke sekolah lagi.” Jelas Inoo.

***

Hikari berlari menuju sekolahnya dengan tergesa-gesa. Dia tidak berangkat bersama kakaknya karena harus membuat kue yang akan dia makan bersama kakaknya disekolah. Hikari melihat jam tangannya berkali-kali untuk memastikan dia tidak telat.

BRUKKK!!!

Hikari menabrak seorang pria yang tadinya berjalan di depannya.

“Su-Sumimasen! Daijoubu desu ka?” tanya Hikari dengan khawatir.

Pria itu tersenyum dan mengatakan kalau dia baik-baik saja.

“Ko-Kore! Ini untuk ucapan maaf. Saya permisi dulu.”

Hikari segera berlari setelah memberikan sebungkus kue yang ia buat sebagai permintaan maaf kepada pria itu. Pria itu masih duduk ditempat ia terjatuh sambil tersenyum memandang Hikari yang pergi meninggalkannya.

***

“Terus juga ada senpai yang suka sekali marah-marah dengan kouhainya. Itu menyebalkan sekali tahu.” celoteh Yabu.

Hikari dan kedua kakaknya tertawa mendengar Yabu yang marah-marah. Mereka berempat selalu makan siang diatap sekolah. Karena mereka kelasnya berbeda, mereka jadi jarang bertemu disekolah. Sekarang Yabu dan Inoo berada di kelas tiga. Sedangkan Yamada dan Hikari duduk di kelas dua. Hikari lompat tingkat ke kelas dua karena nilainya yang bagus.

“Ano…” ucap seseorang dari balik pintu.

“Ah! Keito-kun! Ayo kemari!” ucap Inoo sambil menarik seorang anak laki-laki ikut bergabung.

“Dia Okamoto Keito. Dia juga satu agensi dengan kami.” Jelas Inoo.

“Okamoto-san kelas berapa?” tanya Hikari.

“Aku kelas tiga. Aku lompat tingkat. Seharusnya sekarang aku kelas dua.” Jelas Okamoto.

“Hee… Onaji desu yo ne… Hikari juga lompat tingkat. Tadinya Hikari bisa masuk kelas tiga, tapi karena aku kasihan dengan Ryo-nii yang akan sendirian, jadi aku lompat tingkatnya ke kelas dua. Namaku Yamada Hikari. Yoroshiku ne Okamoto-senpai.” Ucap Hikari dengan panjang lebar.

“Panggil Keito saja. Tidak perlu memanggilku senpai karena aku seharusnya masih kelas dua.” Ucap Okamoto sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Hikari.

“Aku juga seharusnya masih kelas satu. Jadi tetap saja harus memanggil senpai.”

“Ehm!” ucap Yabu.

Seketika Okamoto dan Hikari melihat kearah Yabu.

“Sepertinya kami jadi terlupakan.” Ucap Yabu dengan sebal.

Hikari tertawa melihat Yabu yang sebal karena merasa dirinya diacuhkan.

“Hai! Kore! Hari ini Hikari membuatkan savarin.”

Mereka berempat pun menyicipi kue savarin yang Hikari buat.

“SUGOIII!!! OSHII!!!!” teriak mereka berempat.

“Deshou! Savarin kali ini aku buat berbeda. Biasanya savarin yang asli diisi dengan buah-buahan, tapi karena aku pecinta manisan, jadi aku ganti coklat belgia asli yang dilelehkan. Sore wa saigo!!!” ucap Hikari sambil membayangkan betapa enaknya savarin buatannya.

“Eh?”

Hikari terkejut ketika melihat savarin buatannya sudah habis dimakan mereka berempat.

“Mou!!! Kenapa kalian habiskan savarinku???” tanya Hikari dengan shock.

“Datte, umai desu.” Jawab Yamada dengan polos.

“Ukh! Tapi, aku sudah menduga hal ini. Jadi aku sudah siapkan satu bungkus lagi.” Ucap Hikari dengan bangga memperlihatkan savarin buatannya.

“Aku mau!!!”

***

Setelah perjuangan Hikari untuk mempertahankan savarinnya gagal dan savarinnya akhirnya dimakan oleh mereka berempat, akhirnya mereka semua kembali tenang.

“Jadi kalian mau masuk SMA mana?” tanya Hikari.

“Hmm… Aku dan Kota mungkin masuk ke Horikoshi Gakuen.” Jawab Inoo sambil berpikir.

“Aku juga mugkin akan masuk kesana. Agensi kami menyarankan kami sekolah disana agar waktunya lebih fleksibel.” Jelas Yamada.

“Horikoshi Gakuen?”

Hikari membuka keitainya dan menyambungkan keitainya ke wifi sekolahnya dan mencari informasi tentang sekolah itu.

“WHAATTT??? SEKOLAH MACAM APA INI???” teriak Hikari.

“BIAYANYA MAHAL SEKALI!!!!” lanjutnya.

“Ah… Soal itu agensi kami yang membayarnya. Sebenarnya Hikari, kami berempat akan segera debut sebagai satu grup.” Jelas Yamada.

“HEEE??? SUGOII YO!!! Kita harus merayakannya.” Ucap Hikari dengan antusias.

“Iie, iie. Belum tentu kami akan sukses.” Tolak Yabu.

“Eeehh??? Tsumaranai. Jadi ini tahum terakhir kita sekolah sama-sama ya?” ucap Hikari dengan sedih.

“EEEHHH??? DOUSHITE???” ucap Inoo dengan kaget.

“Aku mana bisa masuk sekolah sehebat itu. Dan juga biayanya mahal sekali. Murid beasiswa juga harus punya bakat khusus. Aku kan tidak punya. Jadi tidak mungkin bisa.” Jelas Hikari.

“Anoo… Hikari… Sebenarnya ada lagi. Kami juga akan tinggal di asrama yang disediakan oleh agensi kami.” Tambah Yabu.

Hikari terdiam dan segera beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun.

***

To be continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s