[Multichapter] Little Things Called Love (#16)

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 16)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

Pagi ini cuaca New York cukup cerah. Memasuki musim gugur sisa-sisa panas dari musim panas kemarin masih terasa, namun Aika memutuskan untuk memakai cardigan sebagai penghalau angin di pagi ini. Langkahnya mantap menyusuri jalan menuju hotel dimana Ayahnya menginap. Namun sebelumnya Aika menyempatkan diri untuk membeli kudapan yang disukai Ayahnya. Aika menolak ikut menginap di hotel, dan tetap pulang ke flatnya setelah mengantar Ayah ke hotel.

Ohayou,” Aika sudah menghubungi Ayah dan ternyata Ayahnya ada di kamarnya, sedang menikmati sarapannya bersama Jesse.

Ohayou,” sapa Ayahnya kemudian Aika mencium pelan pipi Ayah, “Tidur nyenyak semalam, Yah?”

Ayahnya mengangguk, “Cukuplah untuk menghalau jet lag ku, omong-omong ini enak juga,” ucapnya memasukkan benedict egg yang ada di piring ke mulutnya, “Jesse-kun coba ini! Enak loh!” ucapnya pada Jesse yang hanya mengangguk.

“Ayah,” Aika menatap Ayahnya dengan wajah serius, “Aku ingin bicara serius,”

Mendengar hal itu Jesse pamit ke kamarnya dan membiarkan Ayah dan Aika bicara berdua saja.

“Apa lagi? Kau masih mau menolak pertunanganmu dengan Jesse-kun?”

Aika menelan ludah, kerongkongannya tiba-tiba terasa kering, “Aku ingin mencoba tour ini sekali saja Ayah, setelah bertahun-tahun aku belajar piano akhirnya aku bisa ikut profesional orkestra, bukan hanya orkestra di sekolah,” Aika menarik napas, “Setelah puluhan audisi yang gagal akhirnya aku bisa bergabung dengan orkestra ini, Ayah! Seumur hidupku aku selalu mendengarkanmu tapi untuk kali ini aku mohon, izinkan aku ikut tur!” suara Aika terdengar makin tegas.

Setelah menit-menit mendebarkan bagi Aika, tiba-tiba Ayahnya bersuara, “Baiklah. Hanya satu tur saja, setelah itu pulanglah, menikahlah dengan Jesse-kun,”

“Soal itu…”

“Kenapa lagi? Masih tidak mau menikah dengan Jesse-kun?”

“Ayah selama ini tau kan aku dan Jesse, tidak saling mencintai….”

“Ayah tau tapi ini yang terbaik bagimu!” Ayah berhenti makan akhirnya dan menatap Aika dengan pandangan marah.

Kembali menarik napas panjang, Aika berusaha tidak terbawa emosi, “Tapi Ayah dan Ibu juga menikah karena saling mencintai! Lalu kenapa aku tidak boleh?”

“Karena Ayah tidak ingin kamu merasakan apa yang Ayah dan Ibu rasakan!”

“Lalu Ayah berhak membuatku tidak bahagia?!”

Seakan tersentak, baru kali ini Aika gadis kecilnya yang selalu menurut padanya berteriak kepadanya, Aika selalu ‘memberontak’ dengan melarikan diri, namun setelah itu Aika akan menuruti apapun yang Ayah katakan, permintaannya ke Amerika pun didasari oleh perintah Ayah karena sesungguhnya Aika ingin mengambil sekolah musiknya di Eropa.

“Aika, pemuda seperti Tanaka itu belum tentu bisa membuatmu bahagia. Kamu tidak perlu tau, bagaimana rasanya kelaparan karena tidak punya uang, dimaki-maki saat bekerja, kamu tidak perlu merasakannya dan karena itulah Ayah yang menentukan siapa pria yang bisa membuatmu bahagia,” Ayah mengatakannya dengan tenang, dengan harapan Aika juga akan ikut tenang.

“Aku berterima kasih akan hal itu, Ayah, tapi mungkin Ayah lupa,” Aika menatap mata Ayahnya langsung, “Aku lah yang berhak menentukan aku bahagia atau tidak, bukan Ayah atau bahkan Ibu!” Aika terdiam beberapa saat, menunggu respon dari Ayahnya, “Aku ingin bertemu dengan Juri-kun sekali lagi! Jika memang pada akhirnya kami tidak bisa bersama, aku akan mengalah, aku akan menikah dengan Jesse seperti permintaan Ayah!”

Akhirnya Ayah mengangguk, “Wakatta,”

“Tapi…”

“Apalagi?” kali ini Ayah sudah terlihat lebih santai, megambil gelas susunya dan meneguknya.

“Kalaupun aku tidak memilih Jesse-kun, soal merger dengan Lewis Company….”

Ayahnya tiba-tiba saja tertawa, “Aika, kau harus tau satu hal. Jesse Lewis mungkin masih muda, tapi aku tau kemampuannya, bahkan soal manajemen dia lebih pintar dari kakak iparmu,” Suami kakak perempuannya pun merupakan salah satu manajer terbaik di perusahaan Ayah yang membantu Ayah mengontrol bisnisnya di beberapa cabang di luar negri, “Melepas Jesse-kun dari perusahaan kita sama saja bunuh diri. Tapi aku tetap berharap kau memilihnya, mengikat kesetiaan Jesse lebih kuat di sini,”

Souka,”

“Kau itu mirip ibumu, tau tidak?”

“Eh? Dengan Ibu?”

“Kau tau kan Ibumu itu anak orang terpandang di pemerintahan? Dia memilihku, chef dengan penghasilan kecil yang terus menerus pindah dari satu restoran ke restoran lain. Ibumu melarikan diri denganku, butuh waktu hingga dirimu lahir dan usaha restoran Ayah jalan untuk membuat kakekmu dari pihak Ibu mau menemui kita,”

“Bohong! Masa sih, Yah?” mata Aika terbelalak tak percaya.

“Ibumu tidak pernah setuju aku menceritakan ini pada kalian berdua. Melarikan diri itu bukan contoh yang baik, kata ibumu, lagipula kakekmu sudah memaafkan kami. Jadi Ibu bilang ini tidak perlu diceritakan lagi,” Ayah lalu tersenyum, Aika sedikit lega melihatnya, “Arigatou ne, sudah jujur pada Ayah. Tapi kalau Ayah boleh memilih, lebih baik kau menikah dengan Jesse,”

“Sekali lagi saja, Yah. Aku ingin menemui Juri-kun, mungkin aku akan ditolak, tapi setidaknya aku sudah berusaha,” ucapnya sambil tersenyum.

“Tapi tetap saja Aika, kau tidak boleh pulang selain diantar oleh Jesse,”

Sudah capek berdebat, Aika hanya mengiyakan permintaan itu.

***

Shintaro memeriksa kembali jam di ponselnya, memang belum terlambat, mungkin memang dirinya yang datang terlalu cepat. Sambil menunggu Shintaro membeli teh hangat dari mesin penjual otomatis.

“Shin-kun! Hisashiburi!” Shintaro yang sedang menunggu teh nya muncul dari mesin di hadapannya sontak menoleh. Airin belum berubah, kecuali rambutnya yang kini lebih pendek. Selain itu, masih Airin yang dulu.

“Ho! Mau teh?”

Airin mengangguk, “Shin-kun tidak berubah ya,”

Shintaro memberikan satu kaleng pada Airin dan membuka tehnya sendiri, “Aku berubah ko, jadi lebih tampan,” sukses membuat Airin tergelak apalagi Shintaro kini berpose sok ganteng dihadapannya.

Arigatou,” ucap Airin saat menerima kaleng teh hangat itu, “Jadi Shin-kun sudah menyadari bahwa dirimu dan Sona-chan ternyata memang cocok,”

“Yeah, ini semua berkat Ai-chan,”

“Aku ikut senang hubungan kalian berjalan dengan baik,” kata Airin lagi.

Belum Shintaro menjawab, terdengar teriakan Sonata dari kejauhan memanggil nama Airin dan Shintaro. Saat keduanya menoleh, Sonata ternyata sedang berlari ke arah mereka sambil tersenyum sumringah dan melambaikan tangannya dengan bersemangat.

“Eh?” air muka Airin sedikit berubah ketika melihat siapa yang berjala di belakang Sonata.

Gomen ne, Ai-chan, kami ingin memberi tahumu tapi Aniki bilang biarlah kedatangannya jadi kejutan saja,” ucap Shintaro.

Airin menggeleng, “Tidak apa-apa ko,”

Masih segar dalam ingatan Airin, baju yang Hokuto pakai sekarang adalah hadiah ulang tahun dari Airin. Memang tidak mahal, tapi saat itu Hokuto akan mulai mencari pekerjaan tetap, Airin membelikannya sebuah kemeja berwarna hitam, yang tak sangka sangat disukai oleh Hokuto.

“Yo! Hisashiburi!” sapa Hokuto pada Airin.

“Kita bertemu beberapa hari lalu, ko,” kata Airin mengingatkan Hokuto mengenai pertemuan mereka tempo hari. Hokuto tidak menjawab dan hanya tersenyum menanggapinya.

Hari ini rencananya mereka akan jalan ke taman bermain. Semuanya keinginan Sonata dan Shintaro yang tampak menikmati semua wahana dengan bahagia sementara Airin dan Hokuto lebih banyak hanya ikut kemana saja pasangan muda itu pergi. Berkali-kali Hokuto dan Airin harus duduk bersebelahan namun tetap saja tidak ada pembicaraan yang penting diantara keduanya. Sonata sampai gemas melihat keduanya hanya basa-basi dan terlibat percakapan yang tidak penting sepeti menawarkan minum saja atau basa-basi berkomentar soal wahana yang mereka tumpangi.

“Uhmmm.. kita kayaknya harus ninggalin mereka berdua deh,” kata Sonata yang kini sedang asyik naik komidi putar, padahal Shintaro mati-matian menolak namun akhirnya terpaksa ikut naik. Disangkanya Hokuto akan menolak ikut tapi ternyata ikut naik juga dengan Airin.

Shintaro tidak berkomentar, hanya mendengarkan kekasihnya itu bermain mak comblang dan mengikuti keinginan gadis itu, “Caranya?”

Sonata tampak berpikir, “Kita pulang duluan aja, yuk! Jadi mereka bisa punya waktu berdua,”

Akhirnya Shintaro mengiyakan ide dari Sonata dan setelah komidi putar berhenti mereka akan pulang dengan alasan akan membeli sesuatu sebelum pulang, “Kenapa Sona-chan ngotot menjodohkan Ai-chan dengan Aniki?” tanya Shintaro, beberapa menit lagi komidi putar akan berhenti dan Shintaro sedikit penasaran dengan alasan Sonata, “Apa karena Sona-chan ingin Hokuto-san menerima hubungan kita dan tidak mengganggu kita lagi?”

Sonata menggeleng, “Karena Hoku-nii terlihat lebih bahagia saat bersama Ai-chan,” ucapnya lirih.

.

Hokuto sudah curiga, ketika Sonata tiba-tiba pamit dengan Shintaro. Alasannya mereka masih harus membeli sesuatu untuk tugas Sonata dan tokonya sudah tutup kalau kemalaman. Suka tidak suka sekarang ia sedang berjalan besama dengan Airin menyusuri jalan ke restoran yang sudah ia booking sehari sebelumnya. Untuk empat orang, tapi mereka kini hanya berdua. Bukannya Hokuto tidak ingin berduaan dengan Airin, tapi rasa canggung yang menyelubungi ini membunuhnya pelan-pelan.

Untuk Hokuto, berjalan berdekatan dengan Airin seperti ini tanpa bisa menyatukan tangannya dengan tangan Airin begitu menyesakkan. Ingin sekali ia memeluk Airin jika tidak ingat dirinya lah yang meninggalkan Airin, membuatnya sedih bahkan menangis. Sudah bisa dipastikan Airin sudah membencinya sekarang ini.

“Silahkan,” Hokuto membukakan pintu restoran, Airin tersenyum dan masuk mendahului Hokuto. Bahkan senyum Airin masih berdampak aneh pada kerja jantungnya, sial.

Hokuto memesan meja di dekat jendela besar yang pemandangannya langsung menghadap ke lampu malam kota Tokyo. Ini adalah restoran rekomendasi dari Ruika, dia pernah ke sini sekali dengan Ruika dan jatuh cinta pada makanannya yang enak serta pemandangannya yang spektakuler.

“Indah sekali,” ujar Airin, sambil menatap ke kerlap-kerlip lampu kota Tokyo di hadapannya.

Hokuto hanya bisa mengangguk sambil mencoba memerintahkan jantungnya agar tidak berulah, cantik sekali, pikir Hokuto menatap Airin yang kini menatap jendela sambil tersenyum takjub. Beberapa saat kemudian pelayan datang dan mereka memesan makanan masing-masing. Keduanya belum juga mengobrol karena masih dalam keadaan canggung satu sama lain.

“Hoku-nii,” panggil Airin, sebagai jawaban Hokuto hanya menatap Airin, “Aku senang Hoku-nii sehat, dan bahkan kini sudah sukses,” ucapnya.

“Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan,” Hokuto berdehem, meneguk champagne di hadapannya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering, “Aku mau minta maaf, mungkin selama aku bersamamu aku hanya bisa menyakitimu,”

“Apaan sih Hoku-nii, jangan membuat wajah yang serius begitu aku jadi takut, hehehe,” Airin berusaha mencairkan suasana yang terlanjur jadi serius karena perkataan Hokuto.

Tapi Hokuto tidak bergeming, masih menunjukkan wajah seriusnya, “Aku benar-benar minta maaf,”

Pembicaraan keduanya harus terputus karena pesanan mereka yang datang. Airin berusaha mengalihkan pembicaraan mengenai makanan dan suasana restoran yang sangat nyaman. Sudah agak lama sejak terakhir Airin keluar makan di restoran se mewah dan se nyaman ini. Belakangan disibukkan dengan kuliah dan kerja sampingannya di sebuah toko buku, Airin mencari kesibukan agar kehidupan kuliahnya lebih menyenangkan karena harus jauh dari orang tua dan teman-temanya semasa SMA.

“Ai-chan,” piring-piring di hadapan mereka sudah kosong. Hokuto kini kembali mencoba berbicara pada Airin yang sejak tadi terus-terusan kabur dari pembicaraan mereka, “Kau masih marah padaku?”

Mata Airin menatap langsung pada mata Hokuto, sepertinya percuma saja menghindar, Hokuto benar-benar ingin membicarakan soal hubungan mereka, “Kadang aku bertanya-tanya, di mana salahku lagi hingga membuat Hoku-nii akhirnya memilih untuk melepaskan aku,”

Hokuto diam, tidak ingin menimpali sebelum mendengar keseluruhan keluhan dari Airin. Bukankah ia datang hari ini untuk mendengarkan semuanya?

“Dua tahun yang lalu aku akui, kalau aku masih muda, tidak berpengalaman, hanya seorang gadis muda yang jatuh cinta padamu. Tapi terkadang, aku ingin tau alasan sebenarnya kau memilih untuk melepasku walaupun alasanmu adalah kuliahku, tapi bukankah kita seharusnya bisa berusaha menjalani hubungan jarak jauh daripada harus berpisah?” Airin akhirnya menumpahkan semua amarah, dan keingintahuannya mengenai alasan Hokuto meninggalkannya.

Ada keheningan tercipta sebagai imbas dari ketegangan yang diciptakan oleh kalimat yang terlontar dari Airin. Hokuto menarik napas panjang, ia ingin menjelaskan semudah mungkin, karena semuanya pasti terdengar hanya alasan untuk Airin saat ini.

“Karena aku butuh fokus ada karir pilihanku. Saat itu aku tidak punya pilihan selain melepaskanmu, aku butuh fokus seratus persen dan aku yakin kau juga begitu. Mungkin ini terdengar seperti sebuah alasan konyol, tapi entah keyakinan dari mana, aku tau jika saatnya tiba aku bisa memperbaiki ini semua denganmu,”

Airin menatap Hokuto tak percaya, “Alasanmu itu…”

“Konyol. Aku tau,” Hokuto tiba-tiba berdiri, mengitari meja dan duduk di sebelah Airin, “Karena satu hal aku pernah berjanji pada diriku. Saat aku bertemu Ai-chan lagi, berarti hari itu aku sudah siap,” Hokuto sengaja menggantung kalimatnya.

“Untuk apa? Aku tidak mau kembali padamu dan harus merasakan kekecewaan yang sama nantinya!” mati-matian Airin mencoba menahan air matanya. Tidak adil Hokuto tetap membuatnya merasa istimewa setelah semua yang dilakukannya dulu.

“Aku tidak mau pacaran lagi denganmu, Ai-chan,” ucapan Hokuto berhasil membuat benteng pertahanan Airin roboh, air matanya kini sudah mengalir, mulutnya terkunci rapat. Hokuto masih sama seperti dulu, tidak peduli pada perasaan Airin.

“Kalau begitu tak ada lagi yang harus kita bicarakan,” Airin menghapus air matanya dengan punggung tangannya, namun ketika ia hendak berdiri Hokuto menariknya kembali duduk.

“Kita menikah saja,” karena kaget air mata Airin benar-benar berhenti, “Aku sudah pernah merasakan hidup tanpamu, dan untuk ke depannya kurasa aku tidak ingin merasakan hal itu lagi,”

“Hah?” Alih-alih menjawab Airin hanya bisa menatap Hokuto tak percaya.

***

Untuk pesta pertunangan putri semata wayangnya, Kirie-san sudah memesan sebuah cruise yang akan berlayar dari Tokyo ke Yokohama. Walaupun memang tamunya tidak sampai seratus lima puluh orang, Kirie-san ingin yang terbaik untuk putrinya.

“Hazuki!” Aika membuka pintu kamar milik Hazuki yang merupakan kamar paling bagus dan paling besar di kapal ini.

“Dandananku aneh?” tanya Hazuki menatap dirinya di cermin. Untuk pertama Hazuki akhirnya mengalah pada Ayahnya untuk menggunakan kimono, begitupun dengan tempat acara ini yang akhirnya disetujui oleh Hazuki setelah perdebatan panjang dengan Ayah.

Aika menggeleng, “Senang bisa melihat Hazuki jadi feminim kan sekali-sekali,” ucap Aika.

Akhirnya Aika pulang dengan Jesse beberapa hari yang lalu sebelum pesta pertunangan Hazuki. Yang membuat Hazuki kaget dan tiba-tiba saja sahabatnya itu ada di hadapannya, “Hai!” ucapnya saat bertemu dengan Hazuki, sukses membuat Hazuki mencubit pipi Aika berkali-kali karena gadis itu sudah menghilang lima bulan dan tiba-tiba muncul.

“Sudah bertemu… Juri?” tanya Hazuki.

Aika hanya menggeleng. Sebenarnya sejak tadi dia menghindari masuk ke ballroom karena sudah bisa dipastikan dia akan bertemu Juri di sana, hatinya masih belum siap, “Yang penting sekarang ayo kita masuk ke ballroom dan kita tunangkan Hazuki dengan Taiga, hehehe,”

Hazuki kembali menatap dirinya di cermin yang memantulkan bayangan dirinya dengan kimono cantik berwarna dasar putih dengan ornamen ungu, “Aku tidak tau ini keputusan yang benar atau tidak, aku tidak pernah benar-benar memikirkan apakah aku mencintai Taiga atau tidak. Hubungan kami berjalan sangat lancar tapi begitulah, bahkan butuh serangkaian pemikiran untuk melanjutkan ini semua. Kau pikir ini aneh?”

“Uhmmm.. tapi kau tau Taiga sangat mencintaimu, kan?”

“Aku tau dan aku takut tidak bisa membalas perasaannya, entahlah aku bingung,” setelah berkata begitu akhirnya Hazuki beranjak dari tempat duduknya dan berjalan memasuki ballroom bersama Aika.

Taiga sudah menunggunya, dengan setelan kimono berwarna gelap, berdiri di antara tamu lalu menerima tangan Hazuki dari Aika. Keduanya diumumkan bertunangan, bertukar cincin dan memotong kue. Sebagai hadiah pertunangan, Hokuto membuat sebuah video mengenai Hazuki dan Taiga.

Arigatou,” Taiga berbisik pada Hazuki saat mereka di daulat untuk memulai dansa pertama mereka, “Dan maafkan semua kekacauan pesta pertunangan ini. Aku tau kau tidak suka kehebohan,” ucapnya lagi.

Hazuki menggeleng, “Tidak apa-apa, ini juga ulah Ayahku,”

I love you,” bisik Taiga, memeluk tunangannya itu lebih erat dan entah kenapa Hazuki tidak bisa menjawab, bibirnya kelu, hanya bisa tersenyum menganggap semua ini sudah benar. Keputusannya benar dan dia tidak menyesalinya.

.

Bohong jika Aika tidak menyadari keberadaan Juri yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Juri sedang mengobrol dengan Kouchi yang juga diundang ke pesta pertunangan ini. Mata mereka juga sempat bertemu namun Aika memilih untuk terus menghindar, berpegangan pada jas Hokuto yang mendampinginya sejak tadi.

“Masih main kucing-kucingan? Katanya mau ngobrol dengan Juri?” tanya Hokuto menoleh pada Aika yang masih curi-curi pandang pada Juri.

“Eh?” Aika menatap Hokuto seolah ia tertangkap basah melakukan sesuatu yang buruk, “Uhm? Aduh udah jangan bawel,” hardik Aika.

Hokuto malah tergelak melihat tingkah Aika, “Wanna dance, ms. Kimura?” Hokuto menarik Aika dan membawa gadis itu ke tengah orang-orang yang sedang berdansa tanpa sempat Aika memprotesnya. Beberapa gerakan Aika masih berkonsentrasi dengan gerakan Hokuto yang berputar-putar dan tiba-tiba saja pria itu berhenti, ketika Aika sadar, dia sudah berada di hadapan Juri yang kini sudah sendirian, entah kemana Kouchi pergi.

“Pesanannya tiba, tuan Tanaka,” ucap Hokuto dengan senyumnya yang jahil sementara baik Juri maupun Aika sama-sama terkesiap menatap satu sama lain. Hokuto pamit setelahnya, sementara keduanya hanya saling bepandangan.

“Butuh udara segar?” ucap Juri sambil menatap ke dek kapal yang terdapat kolam renang serta beberapa kursi untuk berjemur di luar. Cahaya lampu kota Tokyo terlihat indah di luar. Sebenarnya Juri yang butuh udara segar. Kini jaraknya dengan Aika sangat dekat dan jika dia tidak mengontrol dirinya sendiri, sudah pasti ia ingin memeluk Aika sekarang juga.

Aika mengangguk dan berjalan mendahului Juri sementara pemuda itu mengambil dua gelas wine untuknya dan Aika. Gaun biru Aika yang berpotongan sederhana hingga kebawah lututnya itu berayun halus mengikuti angin sepoi-sepoi yang menyapa kulitnya, bagian atasnya terasa sedikit lebih dingin karena gaun itu mengekspos bahu dan lengannya.

“Hai,” Juri menyerahkan wine itu pada Aika dan langsung diteguk oleh gadis itu, “Apa kabarmu?”

“Baik, Juri-kun apa kabar?” setengah dirinya sudah siap menangis dan memeluk Juri, tapi egonya berkata sebaliknya.

“Seperti yang bisa kau lihat, aku masih hidup,” ucap Juri, mencoba mencairkan suasana antara mereka. Aika ikut tersenyum, Juri sedikit lega melihat senyuman itu. Aika baik-baik saja, katanya dalam hati, “Aku lihat pertunjukanmu setahun yang lalu, Aika keren, baru kali itu aku menonton orkestra dan terkesima karena permainan pianomu,”

Aika menoleh pada Juri, “Yang dimana?”

“Di Kanazawa, setahun lalu Aika tampil di sana, kan?”

Memang setahun yang lalu Aika sempat pulang untuk tampil sebagai salah satu bagian parade orkestra, Aika bermain bersama teman-teman satu kampusnya.

“Bagaimana bisa?” Aika menatap Juri, masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

Juri memang berusaha mencari Aika hari itu. Tapi saat itu Juri melihat Aika, bersama dengan Jesse dan Ayah Aika. Bahkan ia sudah membeli buket bunga demi Aika, tapi saat melihat Aika berbicara dengan Jesse, ia tidak yakin apakah Aika dan dirinya memang ditakdirkan bersama? Bukankah lebih baik Aika bersama dengan Jesse dan melanjutkan mimpi tanpa dirinya. Kabar mengenai Aika dan Jesse pun semakin kencang berhembus, bahkan hingga rencana pernikahan mereka yang disinyalir akan terjadi akhir tahun ini. Juri memutuskan untuk menyerah saat itu juga.

“Aku kan fansmu nomor satu, ingat kan?” memang pernah, Juri mengatakannya sambil menonton Aika bermain piano kala itu.

Kembali meneguk wine nya hingga tandas, Aika merasa dirinya butuh sedikit mabuk, untuk membuatnya sedikit waras sekarang ini, “Juri-kun, aku dengar soal kekasih barumu,” Aika menatap Juri yang berdiri di sebelahnya, dengan matanya lurus melihat cahaya kerlap kerlip lampu Tokyo yang semakin menjauh, “Apakah dia orang yang baik?”

Tak Aika sangka, Juri tersenyum, “Dia sangat baik, dan masakannya enak sekali,”

Souka,” tidak rela. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya sekarang. Tidak boleh ada yang membuat Juri tersenyum seperti itu kecuali dirinya. Kenyataannya Juri sudah bukan miliknya, “Kau tau, aku bicara pada Ayahku, dan dia mau memberi kesempatan pada kita,” ucap Aika.

“Kesempatan?”

Aika mengangguk, “Ayah mau menerima kita, dan kita bisa mengusahakannya berdua, aku yakin!” saat Aika selesai bicara, Juri bukannya menjawab namun menunduk, menggeleng pelan.

“Aku sangat senang mendengarnya. Tapi, itu sudah tidak mungkin,”

Nande?” tangan Aika kini mampir di lengan Juri, “Kenapa tidak bisa? Juri-kun tidak mau memperbaiki hubungan kita lagi?”

Juri membuang napas berat, tidak bisa menjelaskan lebih jauh, Juri memperlihatkan foto yang sama yang dia perlihatkan pada Hazuki beberapa hari yang lalu. Aika menutup mulutnya, kaget dengan apa yang dilihatnya.

“Tanaka Juri yang dulu sudah tidak ada, Aika, kau harus bahagia. Jesse-san orang baik, kamu pasti bisa bahagia dengannya,”

Tak bisa lagi menahan tangisnya, Aika menunduk, menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, terisak hebat karena hatinya kini merasa sakit sekali. Ia terus menangis saat merasakan bahunya ditarik oleh Juri dan pemuda itu memeluknya. Sudah tidak ada harapan lagi, Aika bahkan tidak tau lagi bagaimana caranya bahagia sekarang, ia ingin segera kabur, melupakan kenyataan.

***

Show nya malam ini berhasil dan Ruika sedikit lega bisa benyanyi full selama satu jam setengah walaupun sebenarnya dia sedang agak serak. Sambil meneguk air teh hangat dengan lemon yang disediakan oleh Shigeoka, manajernya, Ruika memainkan ponselnya. Tidak ada yang menarik, ucapnya dalam hati. Hokuto sedang sibuk dengan pesta pertunangan Taiga, dia diundang tapi kebetulan bentrok dengan jadwal manggungnya sehingga Ruika hanya bisa mengirimkan ucapan selamat lewat aplikasi chat dan bunga ke tempat pertunangan berlangsung.

“Rui, ada kiriman,” Shigeoka masuk ke dalam ruang gantinya, membawakan sebuah kotak berwarna hitam, Ruika mengambil kotak dengan ukuran tiga puluh kali tiga puluh itu, simbol di atas kotak itu sangat ia kenal. Segera ia buka kotak itu, sebuah fruit cheese cake ada di dalamnya, berikut sebuah kartu ucapan.

Congratulation for your first show this year. I’m happy to see you again. JC.

“Shigeoka!!” Ruika langsung berdiri dan membuka pintu untuk mencari manajernya, alangkah kagetnya yang ia temui justru rang yang paling tidak ingin ia temui, “Jesse,” bisik Ruika lirih, matanya terpaku pada wajah Jesse yang muncul di hadapannya dengan senyumannya yang khas sementara Ruika menatapnya seakan-akan Jesse adalah hantu.

Hisashiburi,” ucapnya, menyerahkan sebuket bunga lily pada Ruika.

“Ada urusan apa ke sini?” akhirnya Ruika bisa menguasai dirinya. Menahan diri untuk tidak memeluk Jesse sekarang juga.

“Menemuimu tentu saja,” senyum itu masih sama seperti terakhir kali Ruika mengingatnya.

“Untuk apa? Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa,”

“Kau yakin kita mau berbicara di sini?” untung saja Jesse mengingatkan, dan Ruika segera menarik Jesse masuk ke ruang gantinya. Bertemu paparazi adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan sekarang.

“Bagaimana bisa kau ada di sini?”

Jesse terkekeh pelan, “Aku memang seharusnya ada di sini, Ruika-san, aku ini sponsor utamamu,”

“HAH?! Sponsor utama?!”

“Yeah, perusahaan Kimura juga memiliki cabang banyak, begitupun perusahaan Lewis dan mereka adalah sponsor utamamu,”

Seingat Ruika sponsor utamanya adalah franchise restoran cepat saji yang sudah terkenal dimana-mana, Ruika segera mengambil pamflet yang merupakan iklan dari show nya. Ia baru sadar kalau logo Kimura Company bertengger di bawah nama restoran cepat saji itu. Dengan kesal Ruika melempar pamfletnya.

“Aku sengaja memakai franchise restoran cepat saji karena kau pasti tidak mau kalau benar-benar aku yang menjadi sponsormu. Tapi aku melihat bakatmu dan kau berhak mendapatkan sponsor. Aku tidak akan bertaruh pada sesuatu yang tidak menguntungkan, itu pemikiranku sebagai seorang pebisnis,” Jesse duduk di salah satu sisi sofa berwarna coklat yang ada di tengah ruangan. Sementara Ruika masih berdiri menatap Jesse dengan tak percaya.

“Jesse Lewis! Kapan kau akan berhenti menghantui hidupku?!” suara Ruika meninggi, wajahnya terlihat lebih marah.

Jesse beranjak lagi dari sofa, menghampiri Ruika yang kini sudah mundur beberapa langkah karena merasakan sinyal bahaya dari gerak tubuh Jesse yang semakin mendekatinya, “Tidak bisa, Ruika, aku tidak bisa meninggalkanmu dan tidak bisa berhenti memperhatikanmu! Aku mencintaimu!”

Ruika mendorong bahu Jesse yang kini jaraknya sudah terlalu dekat menurutnya, “Kalau begitu, pergi! Tinggalkan aku, masalahku selesai dan Jesse juga bisa hidup bahagia dengan Aika-san,”

“Dan kamu tau itu tidak mungkin!”

“Dan Jesse tau aku tidak bisa membuat diriku berbahagia sementara ada gadis lain yang sedih karena aku,”

“Aika tidak pernah suka padaku, semua pertunangan ini hanya bisnis,” ucap Jesse, ia mendekat kembali pada Ruika yang makin mundur dan saat sadar punggungnya sudah membentur tembok di belakangnya.

“Aw!” Jesse menarik pinggang Ruika mendekat padanya, tubuh mereka menempel satu sama lain.

“Jesse Lewis, lepaskan aku!” dan baik Ruika maupun Jesse tau kalau kalimat itu mengandung dua arti, “kecuali kau bisa melepaskan ambisimu,”

***

Kouchi menatap punggung Sora yang sedang memasak sarapan untuknya. Sementara dirinya masih duduk di atas kasur, dengan perasaan campur aduk. Ide buruk bertemu dengan Yua karena gelombang perasaan terhadap gadis itu seakan menghantamnya kembali, menggoyahkan dirinya yang sudah mantap akan memilih Sora.

“Kouchi-kun ingat pertama kali kita main ke pantai dan Kouchi mengajakku naik perahu kecil, tak taunya kita malah terbawa ombak! Aku ingat wajahmu saat itu panik sekali!” kemarin malam, Yua dan Kouchi berbicara di dek lantai atas sebelum tidur.

“Tentu saja aku panik! Karena Yua terus menangis, aku takut sekali!” balas Kouchi.

Yua tertawa, “Tapi aku ingat, Kou-chan, maksudku…”

“Panggil Kou-chan saja, aneh rasanya mendengarmu memanggilku dengan nama lengkap,”

“Kou-chan bilang, ‘tenang saja! Aku pasti melindungimu!’ dan saat mendengarnya aku menjadi sedikit lebih tenang,” Yua mengarahkan pandangannya ke arah lampu kota Yokohama yang semakin mendekat, walaupun jaraknya dekat tapi pelayaran ini memang sengaja dilakukan semalaman, jadi mereka akan tiba di Yokohama besok pagi, bermalam di atas kapal.

“Aku bersungguh-sungguh saat itu!”

“Aku tau,” jawab Yua, “kau sudah melindungiku terus sebelumnya dan setelah itu bahkan hingga kita kuliah,” Yua kembali tersenyum, “Karena itulah saat itu pun aku memercayai Kou-chan sepenuh hatiku,”

“Sebaliknya, Yua juga menjagaku tetap pada jalur yang baik, kau tau itu,”

“Itu kan karena Kou-chan terus membuntutiku!” seru Yua, disambut tawa dari Kouchi, “Ah! Ada bintang jatuh!” seru Yua menunjuk ke langit, namun Kouchi tidak bisa menemukannya.

“Jangan-jangan Yua masih suka berharap pada bintang jatuh?!” goda Kouchi.

Yua meninju pelan bahu Kouchi, “Urusai!

“Memangnya minta apa sama bintang?”

“Rahasia lah! Kalau dikasih tau Kou-chan nanti tidak terkabul!” kata Yua lalu merebahkan tubuhnya pada kursi malas agar pandangannya ke langit tidak perlu sambil tengadah. Kouchi ikut berbaring di kursi sebelah, “Kalau Kou-chan, mau minta apa pada bintang?”

Kouchi menoleh, menatap Yua, “Aku mau minta… Yua bisa menatapku lebih dari sekedar sahabat,” kata-kata itu meluncur tak terbendung oleh Kouchi. Seakan-akan dia menyuarakan hatinya, tidak ingat bahwa ini adalah topik yang sangat sensitif bagi Yua.

“Kou-chan…aku..”

Gomen gomen! Sudah malam, lebih baik Yua tidur,”

Mengingat kejadian malam kemarin, Kouchi menyadari satu hal. Setelah pelariannya selama dua tahun ini, seakan sia-sia saja karena perasaannya masih sama seperti dulu. Rasa bersalah pun menghampirinya, Sora yang sudah menemaninya dua tahun ini, bahkan tidak bisa membuatnya berpaling pada perasaan Sora. Memang belum genap dua bulan dia dan Sora memutuskan untuk pacaran, tapi selama dua tahun ini baik di India maupun di Syria, Sora selalu menemaninya.

“Sora-chan,” Kouchi menghampiri Sora dan memeluk wanita itu dari belakang, “Sarapannya sudah siap?”

“Gosok gigi dulu sana!” Sora menjauhkan wajah Kouchi yang sudah menempel pada wajahnya, Kouchi menggeleng. Pilihannya dengan Sora sudah benar dan tidak seharusnya ia manjadi bimbang hanya karena Yua.

“Sora, menikah yuk!”

Gerakan Sora yang sedang menaburkan coklat di atas pancake itu berhenti, dia menggeleng, “Tidak mau!”

“Eh?” pelukan Kouchi lepas, Sora berbalik menghadap padanya.

Sora menepuk pelan kepala Kouchi, “Aku bisa melihatnya. Dengan sangat jelas, saat Yugo bertemu dengan Ichigo-san tempo hari. Bereskan dulu masalah hatimu dengannya, jika pada akhirnya memang aku jawabannya, aku masih akan disini menunggumu,”

***

To Be Continue~

Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#16)

  1. magentaclover

    Aku kesepian dan baca ulang ff ini >< gak mau komen panjang karena lewat pc entar sial –" pokoknya aku menunggu pernikahan hazutai ya bonus deh hokuairin kak XD terus shin x sona selalu kutunggu juga konfliknya karena hati ini lelah mikirin juri (lol) suka suka jesse sama ruika semoga mereka hidup bahagia ya…. dan itu sora karakternya dewasa ya, kouchi kayaknya sudah frustasi main ajak nikah aja hahaha

    keep writing kak ^^ readermu menunggu

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s