[Multichapter] Desire Or Love? (Chap 13)

Desire or Love?
By: kyomochii
Genre: Friendship, Romance, Drama
Rating: PG-13
Cast: Ichigo Yua, Morita Mirai (OC), Kyomoto Taiga, Kouchi Yugo, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro (SixTONES), Chinen Yuri (HSJ)
Disclaimer: Semua Cast cowok dalam cerita ini under talent agency Johnny’s & Associates dari berbagai grup yang berbeda, bisa ada, bisa tidak tiap chapternya, tergantung mood author :p
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

“Yua-chan!!! Aku diterima di jurusan sastra. Kita satu Universitas, yay! Kamu jurusan apa?” Ya. Hari ini adalah hari pengumuman hasil ujian masuk perguruan tinggi. Yua melihat Mirai sangat bersemangat menunjukkan lembar pengumumannya, yang menyatakan gadis itu akan resmi menjadi mahasiswa di Universitas Seikou mulai musim semi tahun ini.

“Teknik Industri.” Jawab Yua seraya membiarkan Mirai merebut kertas pengumumannya, lalu berseru tidak percaya. Jangankan Mirai, Yua pun tidak percaya dengan hasil yang di raihnya.

“Omedetou.” Mirai memeluk Yua dengan erat saking senangnya. “Sudah ah. Aku mau cari Yuu-chan. Kamu mau ikut?” Yua mendorong pelan tubuh Mirai agar gadis itu melonggarkan pelukannya, karena Yua mulai merasa pelukan Mirai akan meremukkan tubuh mungilnya.

“Aku mau cari Jesse-kun sama Ryuya-kun dulu. Katanya mereka satu Fakultas denganku. Nanti aku nyusul, bye.” Yang pamitan dulu siapa, yang ninggalin duluan siapa. Dasar Mirai. Yua menggerutu dalam hati.

“Di kelas, gak ada. Di lapangan, gak ada. Di ruang klub sepak bola, gak ada. Yuu-chan di mana sih?” Sudah hampir setengah jam Yua berkeliling sekolah mencari sosok Yugo, tapi tidak ketemu juga. “Yua-chan, Matsumoto-sensei mencarimu. Kamu ditunggu di ruang guru.” Ya ampun, Yua lupa kalau dia harus menemui Matsumoto-sensei untuk menyerahkan beberapa berkas acara perpisahan tahun lalu yang ada padanya. “Padahal sudah dari sebulan yang lalu Matsumoto-sensei memintanya. Untung aku gak lupa bawa tadi pagi.”

Di perjalanan menuju ruang guru, Yua melihat Yugo sedang berbicara, sepertinya sangat serius, dengan Aiba-sensei. Merasa penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, Yua sengaja menyembunyikan dirinya di tempat yang tidak terlalu jauh untuk bisa mendengar percakapan Yugo dengan Aiba-sensei.

“Kedua orang tua saya sudah mengijinkan sejak lama, sensei. Dengan hasil seperti ini, saya siap berangkat kapan saja.” Yugo mengatakannya dengan penuh keyakinan.

“Baiklah, urusan administrasi sudah aku bantu urus semuanya. Karena ini program khusus, kamu harus memulainya lebih awal dari murid biasanya. Jadi awal bulan depan, kamu sudah harus berangkat.” Aiba-sensei menepuk bahu Yugo, memberikan semangat. “Siap sensei.”

Apa maksudnya ini? Yuu-chan akan pergi? Kemana? Kenapa Yuu-chan gak memberitahuku? Begitu banyak pertanyaan yang tidak bisa Yua temukan jawabannya, selain bertanya langsung pada orang yang bersangkutan. Tapi tiba-tiba kakinya lemas, bahkan tidak mampu baginya untuk sekedar mengucapkan ‘hai’ kepada pemuda itu.

Sepulang sekolah, Yua harus ke tempat bimbel untuk menyampaikan hasil penerimaannya sebagai referensi angkatan berikutnya. Tentu saja, orang pertama yang sudah menunggu-nunggu kabar darinya adalah Hokuto. Pemuda itu sudah menunggu Yua di depan gerbang tempat bimbel dan menyerbunya dengan pertanyaan, “Bagaimana hasilmu, Yua-chan?”

“Teknik Industri, Universitas Seikou. Hokuto sendiri?” Kedekatan Yua dan Hokuto sepertinya berjalan ke arah yang baik. Bahkan sudah sejak beberapa bulan lalu, setelah liburan musim panas, keduanya menjadi cukup dekat untuk saling memanggil nama depan masing-masing.

“Syukurlah kita satu Fakultas. Aku Teknik Fisika, kore kara mo yoroshiku ne.” Lalu keduanya memasuki gedung, menuju bagian alumni. Di sana mereka bertemu Shintaro yang baru menyampaikan hasilnya. Setelah mendengar Yua dan Hokuto diterima di Fakultas yang sama, Shintaro siap menggoda keduanya lagi, seperti biasa.

“Ciyeee, yang gak mau pisah. Sampai kuliah maunya barengan terus.” Yua menangkap tangan Shintaro sebelum berhasil mencubit pipinya. “Oh iya, ngomong-ngomong aku ingat dulu Yua-chan bilang gak mau pacaran sampai ada Universitas yang menerimanya. Sekarang kan sudah resmi diterima, apakah kamu mau menerima cintaku yang tertunda?” Melihat Shintaro yang memasang mimik memohon ala pangeran, bukannya membuat Yua tersentuh tapi malah ingin tertawa.

“Shintaro, kamu apa-apaan sih? Gak lucu!” Yua meninju pelan dada pemuda di depannya, membuat keduanya tergelak tawa. “Iya iya, aku tahu aku bakal ditolak. Kan hati Yua-chan sudah milik orang lain.” Shintaro sengaja melirik jahil ke arah Hokuto, membuat orang yang disindir mengalihkan wajah.

“Sudah sudah kita mau masuk dulu. Setelah ini bagaimana kalo kita pergi makan-makan untuk merayakannya?” Mendengar ide Hokuto, Shintaro langsung menyetujuinya tanpa menunggu jawaban Yua. Kalau urusan makan, Shintaro memang selalu yang tercepat.

Sesuai rencana, ketiganya pergi ke sebuah rumah makan keluarga, yang menurut Shintaro, suguhan ramen di sana rasanya luar biasa nikmat. Selain itu mereka juga bisa menikmati yakiniku dengan harga kaki lima kelas bintang lima, karena daging di rumah makan itu berasal dari peternakan keluarga Morimoto. Ngomong-ngomong masalah peternakan, Shintaro berhasil diterima di Fakultas Peternakan yang diinginkannya. Dia memang berencana akan meneruskan bisnis keluarganya setelah lulus kuliah nanti.

“Kamu harus mengungkapkannya sekarang. Kalau enggak, nanti waktu kuliah sainganmu bakal tambah banyak lho. Kamu tahu Yua-chan sangat pintar kan? Pasti dia bakal populer.” Mendengar ucapan Shintaro, membuat Hokuto bergidik membayangkan Yua didekati banyak cowok di depan kedua matanya.

“Tapi aku belum yakin bagaimana perasaannya ke aku. Kalau aku ditolak gimana? Terus hubungan kita jadi aneh? Lebih baik seperti ini.” Mendengar jawaban Hokuto, Shintaro refleks melemparkan tasnya ke arah pemuda itu.

“Gimana kamu tahu perasaannya kalau ngungkapin aja gak pernah? Iya kalau ditolak? Kalau diterima?” Shintaro menyesal sudah melemparkan tasnya ke arah Hokuto, karena pemuda itu malah sengaja melemparkannya ke tempat sampah, membuatnya berteriak cukup keras dan membuat pengunjung lain menoleh ke arah mereka.

“Kalian ngapain sih? Teriakanmu kedengaran bahkan dari toilet wanita yang berada di ujung belakang.” Yua duduk di sebelah Hokuto, setelah kembali dari toilet.

“Hokuto sialan. Ini tas mahal tahu. Enak aja main lempar ke tong sampah.” Shintaro masih menggerutu sambil berusaha membersihkan beberapa noda yang sekarang menempel di tasnya.

“Aku kira kamu minta tolong ke aku buat membuangnya. Siapa suruh main lempar ke muka orang.” Mendengar perdebatan Hokuto dan Shintaro membuat Yua terbahak-bahak. Setiap kali bersama kedua temannya ini, dia selalu bisa melupakan masalah yang sedang dipikirkannya, termasuk masalah Yugo hari ini.

“Eeeeeh? Hujan?? Usooooo! Mana aku gak bawa payung lagi!” Shintaro mengutuk kebodohannya karena tidak memperhatikan ramalan cuaca pagi tagi.

“Aku bawa payung sih.” Yua megeluarkan payungnya. “Aku juga bawa.” Hokuto menjawab kompak. “Kalian curang!! Yasudah aku coba pinjam dulu.” Shintaro mencoba bertanya kepada pemilik rumah makan. Setelah beberapa menit, Shintaro kembali dengan wajah lesu. “Gimana? Boleh?”

“Boleh sih. Tapi masalahnya masih dipakai semua. Kalau mau menunggu mungkin sekitar satu jam lagi baru balik. Kalian pulang saja dulu, aku akan menunggu.” Jawab Shintaro pasrah.

“Kamu pakai payungku saja. Aku bisa gandengan sama Hokuto. Rumah kita searah. Lagipula, Hokuto juga akan mengantarku dulu.” Yua melihat payung Hokuto cukup besar untuk digunakan berdua dengannya. Jadi menurutnya, tidak masalah meminjamkan payung miliknya ke Shintaro.

“Ah Yua-chan, kamu baik sekali. Dengan senang hati aku menerima payungmu. Besok kalau senggang, pasti aku antar ke rumahmu. Bye. Aku duluan ya.” Setelah menerima payung dari Yua, Shintaro langsung beranjak meninggalkan kedua temannya. Tapi sempat sebelum benar-benar menghilang, dia berteriak “Semangat Hokuto!”

“Itu anak kenapa? Kenapa menyemangatimu?” Yua memandang Hokuto, meminta penjelasan. “Sudah jangan dipikirkan. Ayo kita pulang.”

Ini pertama kalinya bagi Hokuto berada satu payung dengan seorang gadis, apalagi gadis yang disukainya. Dengan hati-hati Hokuto menjaga jarak, tapi hujan yang cukup deras membuat keduanya harus berjalan berdekatan.

“Sejak kecil, aku selalu berjalan seperti ini dengan Yuu-chan setiap kali hujan turun sepulang sekolah. Dia selalu meminjamkan payungnya ke orang lain dan membuatku membiarkannya berjalan di bawah payung yang sama denganku sampai depan rumah.”

“Eh?” Hokuto tidak tahu harus bersikap bagaimana mendengar Yua yang tiba-tiba menceritakan tentang sahabatnya.

“Kita selalu bersama, kan? Taiga bilang, bagaimanapun takdir memisahkan, sahabat akan selalu bersama selamanya. Tapi aku gak mau pisah dari Yuu-chan. Kenapa dia harus pergi? Dia mau kemana? Kenapa dia gak cerita ke aku? Aku gak mau pisah sama Yuu-chan.” Mendengar dari suaranya yang bergetar, Hokuto yakin gadis itu sekarang sudah menangis.

Dengan perasaan was-was, Hokuto mencoba menenangkan Yua dengan memeluknya. Tidak ada respon penolakan, membuat Hokuto merasa sedikit lega. Selama hampir lima menit, keduanya hanya terdiam di tempat, tidak tahu apa yang harus dikatakan.

“Nee, Hokuto. Kamu pernah bilang kan kalau aku gak bisa selamanya bergantung pada Yuu-chan?” Yua mendongakkan kepalanya, memandang wajah Hokuto yang masih memeluknya. Yua ingat, Hokuto pernah mengatakannya saat festival kembang api di musim panas lalu.

“Katamu aku harus punya pacar biar gak terus-terusan bergantung sama Yuu-chan.” Yua menarik nafas cukup panjang sebelum melanjutkan kata-katanya. “Apa kamu mau menjadi pacarku?”

Hokuto tertegun mendengar pernyataan cinta Yua. Bohong kalau dia tidak senang, karena dia juga ingin, atau bahkan sangat ingin menjadi kekasih gadis yang sedang di peluknya. Tapi melihat situasinya yang seperti ini, Hokuto tidak ingin terkesan memanfaatkan keadaan. Hokuto yakin, Yua hanya bingung dengan perasaannya karena takut ditinggalkan, bukan karena tulus menyukainya.

“Yua-chan, kalau kamu merasa kehilangan Kouchi-san, kamu boleh menganggapku sebagai penggantinya. Tidak perlu sampai harus menjadi pacarku. Aku akan selalu ada untukmu, sama seperti Kouchi-san selalu ada untukmu. Karena apapun yang terjadi, aku sudah berjanji pada Kouchi-san untuk tidak akan pernah meninggalkanmu.” Yua terpaksa melepaskan pelukan Hokuto saat pemuda itu mengucapkan kalimat terakhirnya. “Kamu janji ke Yuu-chan? Sejak kapan? Buat apa?”

“Sejak setelah kejadian malam aku mengantarkanmu pulang untuk pertama kali.” Hokuto mengulurkan payungnya untuk memayungi Yua yang sekarang berdiri agak menjauh darinya, membiarkan bahunya sedikit basah. “Setelah malam itu, kamu gak masuk bimbel selama satu minggu, jadi aku menemui Kouchi-san untuk menanyakan keadaanmu. Kouchi-san menceritakan semua yang terjadi padaku tentang malam itu. Aku gak ingin hal seperti itu terjadi lagi padamu, jadi aku berjanji untuk terus menjagamu. Bahkan Kouchi-san membuatku berjanji untuk mengisi peran dirinya jika ada kemungkinan dia harus pergi, seperti sekarang.”

“Jadi Hokuto tahu Yuu-chan mau pergi? Bahkan sudah sejak lama?” Yua sudah benar-benar tidak peduli dirinya basah. Gadis itu sekarang berdiri cukup jauh, membuat jangkauan tangan Hokuto tidak mampu mencapainya. “Awalnya Kouchi-san juga gak yakin bakal bisa meninggalkanmu, bahkan setelah dia sengaja berusaha menghindarimu dengan memutuskan Mirai-chan dan berpacaran dengan gadis dari sekolahku. Tapi pada akhirnya dia ingin kamu benar-benar bisa bertahan meski tanpa dia, bila suatu hari kalian terpaksa harus berpisah. Jadi aku membantunya, agar kamu gak terlalu bergantung lagi ke dia bagaimanapun caranya.”

“Jadi Hokuto selama ini baik ke aku cuma karena Yuu-chan? Berusaha jadi pengganti Yuu-chan biar aku bisa melupakannya?” Yua akhirnya mulai memahami mengapa Hokuto selama ini selalu perhatian kepadanya, melakukan hal-hal yang selama ini hanya Yugo yang melakukannya untuknya. Ternyata Yugo sudah berniat meninggalkannya dan membuat Yua bisa menerima Hokuto sebagai penggantinya. “Aku gak butuh pengganti!!!! Karena sampai kapanpun gak akan ada yang bisa gantiin Yuu-chan di hidupku.” Yua berlari sekuat tenaga, tanpa menghiraukan hujan yang mengguyurnya, meninggalkan Hokuto yang berusaha mengejarnya.

Meski hatinya terasa sangat sakit, tapi ternyata tidak setes air matapun mengalir dari matanya. Yua dapat merasakan sensasi panas di kedua matanya, tapi tetap saja, tidak ada air mata di sana. Yua memandang lama bayangan dirinya dalam balutan piyama di balik cermin di hadapannya. “Jadi selama ini aku cuma salah paham menganggap Hokuto menyukaiku?” Yua bertanya pada bayangan dirinya, berharap memperoleh jawaban.

Kenyataan bahwa Hokuto tidak pernah menyukainya seperti harapannya, sebenarnya lebih menghancurkan hatinya dibandingkan kenyataan bahwa Yugo menyembunyikan rencana kepergian darinya sudah sejak lama. Yua pikir, akhirnya dia bisa melupakan bayangan Chinen saat bersama Hokuto, tidak pernah berusaha membandingkan pemuda itu dengan sosok Chinen. Tapi ternyata semuanya hanya kebodohan dirinya semata.

“Tapi apa aku benar-benar menyukai Hokuto? Bukannya aku hanya merasa nyaman di dekatnya, karena dia selalu memperlakukanku seperti Yuu-chan?” Yua sadar, alasan mengapa dia selalu merasa ragu setiap kali memikirkan perasaannya kepada Hokuto, tidak lain karena dia memang hanya menganggap Hokuto sebagai pengganti Yugo. Terlalu banyak kemiripan yang Yua rasakan di antara keduanya. Sejak Yugo mulai mencoba menjaga jarak dengannya, Hokuto datang, memperlakukan Yua seperti Yugo biasa memperhatikannya. Wajar saja kalau Yua ragu untuk jatuh cinta ke Hokuto, karena tidak mungkin bagi Yua untuk jatuh cinta ke orang yang sudah dia anggap sebagai sahabatnya sendiri. Sebab, tidak akan pernah ada dalam kamus Yua yang namanya ‘Sahabat Jadi Cinta’, Yua pernah bersumpah.

“Sekarang apa yang harus aku lakukan?” Seolah menjawab pertanyaannya, ponsel Yua bergetar, menunjukkan sebuah nomor menelponnya. “Nomor tidak dikenal? Siapa ya?” Ragu-ragu Yua mengangkatnya. “Moshi moshi, Akari-san?” Terdengar suara cowok di seberang sana. “Ini betul nomornya Akari-san, kan?” Sekali lagi, pemuda itu mengulangi pertanyaannya. Mencari tahu kalau dia sudah menghubungi nomor yang benar. “Chinen-kun?” Yua bertanya ragu-ragu.

“Eh? Yua-chan? Maaf aku kira ini nomor teman kelas bimbelku. Aku lupa menyimpannya di mana. Kalau begitu aku akan menyimpan nomor ini sebagai kontak barumu. Maaf mengganggu. Jya.” Belum sempat Yua menjawab sepatah kata pun, Chinen sudah mengakhiri telponnya.

Yua memperhatikan nomor yang baru saja menghubunginya. Betul saja, Yua merasa sangat familiar. Tapi karena ini ponsel baru, yang lama hancur saat Yua membantingnya, Yua sengaja tidak lagi menyimpan kontak Chinen. Setelah membeli ponsel baru pun, Yua memutuskan menggunakan nomor baru. Seolah berusaha menghilangkan keberadaanya dari kehidupan seorang Chinen. Yua menebak-nebak bagaimana Chinen bisa mendapatkan nomornya. Jangan-jangan dari Taiga? Aku harus menanyakannya.

Belum sempat Yua mencari kontak Taiga, nomor tadi, nomor Chinen menelponnya lagi. Sekali, tidak dijawab oleh Yua. Dua kali, Yua masih malas untuk menjawabnya. Tiga kali, akhirnya Yua menjawabnya karena dia butuh ponselnya segera untuk menghubungi Taiga. “Ini Yua bukan Akari-san, Chinen-kun.” Yua sudah siap-siap mengakhiri telponnya saat mendenga Chinen buru-buru mencegahnya. “Tunggu dulu jangan dimatikan.”

“Ada apa?” Yua memasang intonasi suara seolah tidak peduli. “Kamu baik-baik saja?” Yua tidak menjawab. Hanya dari suaranya saja, Chinen tahu kalau Yua sedang tidak baik-baik saja. Karena mereka sejak dulu berpacaran jarak jauh, perubahan sedikit pun dari suara Yua, Chinen dapat merasakannya. “Baiklah kalau kamu gak mau menjawabnya sekarang. Bagaimana hasil ujian masukmu?” Chinen berusaha mengubah topik pembicaraan.

“Teknik Industri, Universitas Seikou.” Jawab Yua singkat, tanpa merubah intonasi tidak pedulinya. “Sugeeee! Omedetou, Yua-chan. Aku akan ikut ujian bulan depan. Doakan aku ya.” Nada bicara Chinen mendadak berubah, membuat Yua salah tingkah. Pemuda itu berbicara padanya sama seperti dulu saat mereka masih berpacaran. Dengan penuh semangat dan keceriaan. “Ganbatte.” Jawab Yua pada akhirnya, tanpa sadar nada suaranya menjadi sedikit lebih santai. “Un, ganbarimasu. Jaa, Oyasumi Yua-chan.” Chinen mengakhiri telponnya.

Heeeee? Kenapa? Kenapa ada, orang yang sudah susah payah berusaha dilupakan, di saat sudah benar-benar lupa, dia malah balik lagi seperti jelangkung!!??? Datang tanpa diundang! Kemunculannya pun di waktu yang sangat tepat, di saat Yua mulai meragukan perasaannya sendiri. Dipikir bagaimanapun, ini terlalu aneh untuk menjadikannya hanya sebagai sebuah kebetulan. Mungkinkah sebuah pertanda? Sebagai tanda kalau sesungguhnya Yua hanya akan memikirkan Chinen pada akhirnya? Entahlah.

*********

“Chii-chan, kamu yakin gak mau pergi?” Sudah hampir satu jam, Taiga hanya bisa duduk manis di samping kasur Yua, mencoba membangunkan gadis itu untuk mengajaknya pergi ke rumah keluarga Kouchi, menghadiri undangan makan malam perpisahan Yugo. “Kamu pergi aja. Bilang aku sakit perut.” Jawab Yua enggan beranjak dari kasurnya.

“Kamu tahu, Yuu-chan cuma pergi selama dua tahun. Dia pasti balik ke sini.” Taiga sudah berkali-kali berusaha menjelaskan hal yang sama. “Dua tahun itu gak bentar, Taiga. Apapun bisa terjadi selama dua tahun. Gimana kalau Yuu-chan betah di sana dan gak mau pulang?”

“Itu gak mungkin terjadi, Chii-chan. Yuu-chan gak bakal pernah ninggalin kamu apapun yang terjadi. Itu janji kita bertiga waktu kecil dulu.” Mendengar kata-kata Taiga malah membuat Yua semakin panas.

“Gak bakal ninggalin aku apapun yang terjadi? Terus kenapa kamu pergi dan baru kembali? Membuatku sedikitpun gak bisa mengingat tentang dirimu! Terus kenapa sekarang Yuu-chan juga pergi meninggalkanku? Gimana kalau aku juga bakal melupakan tentang Yuu-chan setelah kami berpisah?” Yua terduduk tegak di atas kasurnya, memandang marah ke arah Taiga, meluapkan kekesalannya. Hatinya terlalu lelah untuk menangis.

“Tapi aku kembali. Begitu pun Yuu-chan, dia pasti kembali. Lagipula, kamu gak akan pernah melupakannya. Aku akan selalu membuatmu ingat tentangnya kalau sampai hal itu terjadi.” Yua pasrah saat Taiga mendekat dan memeluknya, melakukan hal yang biasanya Yugo lakukan padanya.

“Bicaralah dengannya. Jangan pernah berpisah tanpa berbicara satu sama lain. Atau kamu bakal menyesalinya seumur hidupmu. Aku sudah pernah merasakannya. Aku gak ingin kalian juga merasakan apa yang aku rasakan.”

Yang dikatakan Taiga benar. Yua memang tidak ingin berpisah dengan Yugo, tapi kenyataannya mereka harus berpisah. Tapi bukan perpisahan tanpa berbicara satu sama lain seperti ini yang Yua inginkan. Bayangkan saja kalau terjadi hal yang tidak diinginkan saat mereka tidak bersama dan Yua tidak sempat mengucapkan kata selamat tinggal, tentu saja ini hanya perumpamaan, tidak tahu bagaimana betapa menyesalnya dia nanti.

“Aku harus bicara dengan Yuu-chan, Taiga. Aku harus menemui Yuu-chan.” Yua berusaha melepaskan diri dari pelukan Taiga, tapi pemuda itu masih enggan melepaskannya. “Kamu gak perlu kemana-mana, Chii-chan.” Yua memandang heran ke arah Taiga. Bukannya dia yang ingin Yua berbicara dengan Yugo? Tapi kenapa malah dia melarang Yua untuk pergi menemui Yugo?

“Masuklah, Yuu-chan.” Yua menoleh ke arah pintu masuk. Yugo masuk dengan senyuman khasnya yang tidak mungkin bisa Yua lupakan meskipun mereka harus berpisah sepuluh tahun sekalipun. Taiga melepaskan pelukannya, membiarkan Yua menghambur dalam pelukan Yugo. Mereka hanya terdiam cukup lama, sebelum akhirnya Yua mulai berbicara.

“Nee, Yuu-chan. Kenapa harus Eropa? Apa di Jepang gak ada sekolah bola yang bagus? Kenapa sampai jauh-jauh ke Eropa?” Sebenarnya, ada begitu banyak pertanyaan di kepala Yua yang ingin ditanyakannya pada Yugo. Tapi satu pertanyaan ini mempunyai tingkat interest paling tinggi di pikiran Yua yang membuatnya muncul seketika hanya dengan melihat Yugo ada di sekitarnya.

“Kamu tahu kan aku ingin menjadi pelatih bola terbaik yang membawa persepak bolaan Jepang menjadi nomor satu di dunia? Eropa punya semua pemain terbaik yang saat ini menjadi idola semua pemain bola di dunia. Aku akan mencuri ilmunya, lalu mengajarkannya ke semua bibit pemain handal kebanggan Jepang.” Jawab Yugo penuh semangat dan kebanggaan. “Tapi Eropa itu jauh banget.”

“Aku tahu kamu bakal merindukanku.” Sela Yugo menggoda Yua agar gadis itu tidak dapat mengeluh lebih jauh lagi kepadanya. “Kamu bakal lebih merindukanku.” Ejek Yua tidak terima saat pemuda itu mulai mengacak-acak rambutnya seperti biasanya. “Yasudah kalau kamu gak merindukanku, aku bakal cari cewek sana dan menetap.” Goda Yugo menanggapi ejekan Yua.

“Iya iya, aku bakal sangat merindukanmu. Aku akan menghubungimu setiap hari sampai gak ada waktu untuk melupakanku.” Yua merangkul lengan Yugo, bergelanyut manja. “Kita lihat saja nanti.” Melihat Yua dan Yugo tertawa bahagia, cukup untuk membuat Taiga merasakan kebahagiaan yang sama.

Apa aku sudah melakukan hal yang salah? Aku gak seharusnya merusak kebahagiaan ini, kan? Mungkin memang cuma Yuu-chan yang bisa jagain Chii-chan selamanya tanpa pernah meninggalkannya. Taiga diam-diam keluar dari kamar Yua, meninggalkan kedua sahabatnya, memberikan waktu keduanya untuk berdua saja.

ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s