[Multichapter] Desire Or Love? (Chap 12)

Desire or Love?
By: kyomochii
Genre: Friendship, Romance, Drama
Rating: PG-13
Cast: Ichigo Yua, Morita Mirai (OC), Kyomoto Taiga, Kouchi Yugo, Matsumura Hokuto (SixTONES), Nakajima Yuto, Chinen Yuri, Yamada Ryosuke (HSJ), Special Cast Chinen Saaya
Disclaimer: Semua Cast cowok dalam cerita ini under talent agency Johnny’s & Associates dari berbagai grup yang berbeda, bisa ada, bisa tidak tiap chapternya, tergantung mood author :p
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

“Kamu ingat ini?” Yugo menyodorkan secarik kertas yang sudah ditulisinya ke arah Yua.

kouCHI-iCHIgo (chii)
YUgo-YUa (yuu)

“Waktu kita pertama kali bisa nulis hiragana, ini yang dibuat Ta-chan.” Taiga mengangguk bersemangat, berharap Yua bisa sedikit mengingat kenangan tentang dirinya. “Terus kita sepakat buat jadiin nama panggilan kita.”

Samar-samar Yua mengingat kenangan masa kecilnya dengan Yugo. “Kenapa harus aku yang dipanggil Chii-chan? Aku mau dipanggil Yuu-chan!” Yua merengek karena kalah berdebat dengan Yugo.

“Chii-chan itu lebih imut, gak cocok buat panggilan cowok. Jadi aku mau dipanggil Yuu-chan, Yua yang dipanggil Chii-chan.” Meskipun tangisan Yua semakin menjadi-jadi, Yugo tetap tidak mau mengalah.

“Tapi kalau nanti menikah, nama keluargaku bukan lagi Ichigo. Gimana kalau gak ada huruf ‘chi’nya sama sekali? Kalau Yugo selamanya bakal tetap Kouchi. Kamu saja yang dipanggil Chii-chan.”

 “Kalau begitu, nanti menikah saja denganku. Jadi nama keluargamu tetap ada huruf ‘chi’nya, kan?”

Yua tersenyum geli mengingat kenangan masa kecilnya. Sudah sangat lama, sejak dia melupakan kenapa Yugo memanggilnya Chii-chan. Bagi Yua, sudah menjadi hal wajar kalau teman masa kecil mempunyai panggilan yang berbeda.

Sejauh Yua mencoba mengingat kejadian masa lalunya, tidak ada sedikitpun kenangan tentang Taiga yang tersisa dalam memorinya. Aneh. Bagaimana bisa hanya Yua yang tidak mengingat Taiga?

“Gomen. Aku masih belum bisa mengingatmu sama sekali.” Yua dapat melihat dengan jelas ekspresi kecewa di wajah Taiga.

Kenapa aku gak bisa mengingatnya sama sekali? Apa terjadi sesuatu di masa laluku? Sampai-sampai aku melupakan Taiga? Yua menempelkan gelas dingin ke pipinya, mencoba mendinginkan kepalanya. Berapa kalipun Yua mencoba mengingat Taiga, hasilnya tetap sama.

“Ichigo-san baik-baik saja?” Yua menoleh ke asal suara yang menyadarkannya dari lamunan. “Tidak. Eh, aku tidak apa-apa maksudku.” Melihat pemuda yang sekarang duduk di depannya, benar-benar seperti obat penenang bagi Yua. Seketika beban di pikirannya hilang entah kemana.

“Yuto-san sudah mau pulang?” Sambil merapikan manga yang selesai dibacanya, sesekali Yua memandang canggung ke arah Yuto. “Aku bisa di sini lebih lama, kalau Ichigo-san perlu teman ngobrol. Sedang menunggu teman?”

Baru pertama kali ini Yua bicara berdua saja dengan Yuto. “Arigatou. Iya, aku sedang menunggu teman-temanku.” Jawab Yua sesantai mungkin supaya tidak terlihat kalau dia sedang gugup.

“Pasti lagi nungguin cowok yang dari tadi dipikirin ya?” goda Yuto, senang melihat Yua sekarang benar-benar salah tingkah menanggapi pertanyaannya. Memang benar, Yua sedang menunggu Yugo dan Taiga, pemuda yang sedari tadi memenuhi pikirannya. Yua menghela nafas, merasa bodoh menanggapi tebakan iseng Yuto.

“Yuto-san aku boleh tanya sesuatu?” Yuto melihat perubahan intonasi di nada suara Yua, melihat keseriusan di wajah gadis itu. “Kalau aku bisa jawab ya.” Tidak ingin memberikan ekspektasi tinggi akan jawabannya, Yuto menyetel nada suaranya sesantai mungkin, tapi serius.

“Mungkin tidak kita melupakan kenangan masa kecil kita, tapi hanya sebagian?” Yua menopang dagu dengan kedua tangannya, menunggu jawaban Yuto.

“Amnesia maksudnya?” Hanya jawaban itu yang terpikirkan oleh Yuto. Yua mengetuk-ngetuk pipinya pelan seraya memikirkan jawaban Yuto.

“Tapi kalau amnesia, kita melupakan semua kenangan masa lalu kita kan? Masalahnya aku hanya melupakan semua yang berhubungan dengan Taiga.” Hanya yang berhubungan dengan seseorang? Apa itu mungkin? Yuto memikirkan segala kemungkinan yang bisa menyebabkan seseorang melupakan kenangannya hanya sebagian. Melihat Yuto sama bingungnya dengannya, Yua menyerah dan meminta Yuto untuk tidak memikirkannya lagi.

“Bisa jadi trauma.” Yua tertegun melihat gadis yang tiba-tiba muncul dan menyahuti obrolannya dengan Yuto.

“Saaya-san, kapan datang?” Yuto menarik kursi dari meja sebelahnya, menyilahkan Saaya duduk bersama mereka.

“Baru kemarin pagi. Aku lagi nganterin kenalanku, katanya mau ketemu teman lamanya. Jadi sekalian saja aku pulang. Sudah 2 tahun ya kita gak ketemu, kamu kelihatan cowok sekarang, Yutti!” Yuto hanya tersenyum malu-malu, tidak menanggapi pujian Saaya. “Ini pacarmu?” Saaya menambahkan.

“Bukan, bukan. Kita cuma kenalan. Dia kakak kelas adik kelasku.” Buru-buru Yuto menjawab pertanyaan Saaya, seolah tidak ingin gadis itu salah paham dengan hubungan mereka. “Ichigo-san, kenalkan ini Saaya-san. Senpaiku waktu di tempat bimbingan belajar dulu.” Yua membalas senyuman Saaya, mencoba seramah mungkin, menutupi rasa tidak siapnya duduk semeja dengan kakak mantan kekasihnya.

“Aku tadi gak sengaja dengar kalian lagi membahas tentang hilang ingatan sebagian ya?” Ragu-ragu Yua menganggukkan kepalanya, membenarkan pernyataan Saaya.

“Sebenarnya aku juga gak banyak paham, tapi aku pernah membacanya di sebuah buku psikologi punya temanku, kalau hilang ingatan sebagian itu bisa jadi disebabkan oleh trauma.” Yua dan Yuto mendengarkan penjelasan Saaya dengan seksama.

“Misal saja, seseorang mengalami kecelakaan. Sebelum kecelakaan terjadi, orang itu mengalami kejadian yang sangat buruk dan ingin sekali melupakannya. Jadi waktu dia gak sadarkan diri akibat kecelakaan, alam bawah sadarnya secara otomatis membuang segala kenangan yang berhubungan dengan kejadian buruk yang ingin dilupakan itu.” Penjelasan Saaya memang sedikit sulit dipahami, tapi paling masuk akal dan cocok dengan kejadian yang sedang dialami Yua.

Cukup lama mereka mengobrol, membahas kemungkinan kalau-kalau Yua pernah mengalami kecelakaan yang parah, dan menyebabkan dia melupakan orang-orang yang berhubungan dengan trauma masa lalunya. “Sepertinya waktu kelas satu SMP, aku memang pernah jatuh. Tapi aku juga tidak terlalu ingat kejadiannya.”

“Ah, cowokku sudah datang. Aku pindah tempat ya. Senang berkenalan denganmu, etto… siapa nama depanmu?” Saaya gadis yang menyenangkan, tidak ada alasan untuk Yua menolak sikap ramah gadis itu, “Yua desu.” Sahut Yua dengan ceria.

“Senang bisa mengenalmu, Yua-chan.” Gadis itu berlalu, menghampiri seorang pemuda yang memilih tempat duduk agak jauh dari mereka.

“Pertama kali bertemu Ichigo-san, aku berpikir kalau kalian sangat mirip.” Pandangan Yuto masih tertuju ke arah Saaya, tampak sayu. Yua bisa melihat rasa tidak rela melepaskan kepergian Saaya bersama laki-laki lain.

“Cinta pertama?” Yuto tidak menjawab. Tapi melihat tingkah Yuto yang berusaha mengalihkan pandangannya dari Saaya secepatnya, Yua tidak memerlukan jawaban. BINGO.

Masih terdiam, Yua tidak tahu harus berkata apa. Berharap Yuto mulai berbicara dan memecah keheningan di antara mereka. “Dia menolakku karena aku lebih muda darinya.”

Eh? Sepertinya bukan pertama kali ini Yua mendengar ada gadis yang menolak cowok lebih muda darinya. Yuki-senpai dulu juga menolak Chinen dengan alasan yang sama. Memang kenapa kalau pacaran dengan cowok yang lebih muda?

“Mungkin buat cewek, punya pasangan yang lebih muda itu menyusahkan. Belum cukup dewasa, sehingga mereka tidak bisa bermanja-manja dan bergantung setiap kali ada masalah.” Yua merenungkan hipotesis yang dibuat Yuto, masih belum sepenuhnya paham. Karena bagi Yua, Kaito yang 2 tahun lebih muda darinya, tidak hanya dalam bersikap tapi juga pemikirannya, jauh lebih dewasa dari Yua.

“Karena itu, aku memutuskan untuk tidak pernah lagi jatuh cinta dengan cewek yang lebih tua.” Termasuk aku, tambah Yua dalam hati.

Belum sempat Yua menanggapi curhatan Yuto, dia melihat Yugo dan Taiga sudah berdiri di depan café, menunggunya. “Aku harus pergi, cowok-cowokku sudah datang.” Yua mencoba meniru gaya Saaya saat meninggalkan mereka tadi.

Mendengar pengucapan subjek jamak, Yuto mengarahkan pandangannya keluar café, arah tangan Yua menunjukkan orang-orang yang menunggunya. “Aku kira cowokmu yang tempo hari.” Yua mengurungkan niatnya sejenak untuk berdiri. “Tempo hari?”

“Iya, cowok yang bersamamu datang ke sini, yang juga bersamamu saat pertandingan final basket.”

“Oh, dia hanya kakak kelasku, bukan cowokku. Bye.” Yua meninggalkan Yuto menghampiri Yugo dan Taiga. Ya ampun, aku lupa dengan Yamada-senpai! Bahkan aku lupa membalas pesannya tadi malam. Tapi aku sudah memberikan jawaban kalau aku gak bisa berpacaran dengannya, kan?

“Ayo kita main sampai pagi!” Yugo menyambut Yua dengan semangat begitu melihat gadis itu keluar dari café, tempatnya menunggu.

*********

“Kamu bener gak apa-apa, gak pulang? Aku antar deh, mumpung masih belum tengah malam. Aku gak masalah kok cuma berdua sama Yuu-chan.” Berulang kali Taiga melihat jam tangannya, membujuk Yua supaya mau diantar pulang.

“Karena sudah tengah malam, lebih baik aku gak pulang, Taiga. Lagian ada Yuu-chan bersamaku. Aku tinggal bilang saja menginap di rumah keluarga Kouchi, pasti orang tuaku percaya.” Yua meyakinkan Taiga untuk tidak mengkhawatirkannya lagi.

Melihat senyum jahil Yua, mengingatkan Taiga akan masa kecilnya dulu. “Kamu gak banyak berubah ya. Senyummu masih sama.” Dipuji oleh orang yang baru ditemuinya, membuat Yua tidak terbiasa. Tapi bagi Taiga, mereka sudah saling mengenal cukup lama. Karenanya, Yua mencoba bersikap tidak terlalu kaku menanggapi Taiga.

“Parah. Dibilang mirip anak SMP masih wajar sih. Ini dikatain gak berubah sejak kecil? Ngajak berantem?” Yua siap melayangkan pukulannya ke arah Taiga, tentu saja hanya bercanda, ketika pemuda itu menjejalkan sepotong crepes ke mulutnya.

“Bahkan kamu masih menyukai strawberry crepes, jajanan pertama yang bisa kubelikan untukmu dengan uangku sendiri hasil jualan susu.” Yua tidak pernah tahu kalau dia mempunyai alasan khusus menyukai strawberry crepes. Selama ini dia hanya membelinya karena kebiasaan.

“Waktu itu aku mengajakmu berjalan jauh sampai stasiun, berdua saja. Padahal kita masih anak-anak.” Taiga terkekeh mengenang kejadian di masa kecilnya, membuat Yua merasa bersalah karena tidak bisa mengingatnya sama sekali.

“Terus waktu pulang, Yuu-chan memeluk kita dengan beruraian air mata. Takut kalau-kalau terjadi hal buruk selama kita menghilang.” Mendengar namanya disebut, Yugo menghampiri kedua sahabatnya, menyudahi permainan danzbasenya. Yugo menanggapi cerita Taiga, menertawakan betapa cengeng dirinya saat masih kecil dulu.

“Lalu kenapa kamu menghilang? Kenapa baru kembali sekarang?” Yua berusaha memancing obrolan Taiga dan Yugo ke masa yang bisa dia pahami, tidak ingin mendengarkan lagi cerita yang tidak tahu bagaimana dia harus menanggapi.

“Sewaktu kecil, hal buruk terjadi di keluargaku, membuatku harus diadopsi dan pergi bersama keluarga baruku.” Merasa ada yang aneh, Yua memandang Yugo meminta penjelasan, namun sahabatnya itu seperti bersekongkol, pura-pura tidak mengerti, membuat Yua menyerah dan mengulang pertanyaan keduanya.

“Kenapa baru kembali sekarang?” Taiga terlihat menimbang-nimbang, memilih kata-kata yang tepat untuk memberikan penjelasan pada Yua.

“Waktu itu aku masih sangat kecil, belum paham dengan nama-nama daerah dan asal di mana aku tinggal.” Benar juga, batin Yua.

“Waktu sudah agak besar, pernah sekali aku bertanya ke mama angkatku, tapi mama gak memberiku jawaban. Mama sudah membesarkanku dengan sangat baik dan penuh cinta. Pasti mama punya alasan gak memberitahuku dan melarangku untuk kembali ke sini.” Suasana hening sejenak, sebelum Taiga melanjutkan ceritanya.

“Tapi bukan berarti aku gak berusaha mencari kalian. Aku berusaha mencari akun media sosial kalian, tapi susah. Begitu aku menemukan akun Chii-chan yang tepat, berulang kali permintaan pertemananku ditolak.” Ups, Yua memang tidak pernah menerima permintaan teman dari orang yang tidak dikenalnya di dunia nyata.

“Sedangkan akun Yuu-chan, kalian bisa lihat sudah berapa puluh nama Kouchi atau Yugo yang ada di daftar pertemananku. Bahkan Kouchi Yugo yang aku temukan, bukan Kouchi Yugo yang aku cari. Aku gak tahu bagaimana lagi harus mencari kalian.” Karena sesungguhnya, seorang Kouchi Yugo memang tidak mempunyai akun media sosial.

“Sampai malam itu, aku gak sengaja melihatmu.” Yua tidak mengerti waktu yang dimaksud Taiga. “Malam itu?”

“Aku melihat gadis yang mirip denganmu. Meskipun kurang yakin, tapi feelingku mengatakan aku harus mengikuti gadis itu.” Tidak menanggapi pertanyaan Yua, Taiga melanjutkan ceritanya.

“Gadis itu pergi dengan seorang cowok ke tempat karaoke. Awalnya Juri melarangku untuk membuntutinya sampai ke dalam, jadi aku menunggunya di luar untuk memastikan kalau dia benar kamu.” Yua masih terdiam, menunggu kelanjutan cerita Taiga.

“Sudah 2 jam aku menunggu, tapi gadis itu gak keluar-keluar. Aku memaksa Juri untuk mengikutiku masuk ke dalam, hanya untuk memeriksa. Sampai aku melihat kejadian itu dan refleks menyelamatkanmu.” Yua tertegun mendengar cerita Taiga. Seketika kejadian malam itu bermain lagi di kepalanya, saat seorang penyelamat tiba-tiba saja datang dan memeluknya, dan seorang lagi memukul Chinen sampai pingsan.

“Kamu…” Belum sempat Yua mengajukan pertanyaan, Taiga sudah menyelanya lagi. “Saat memeluk gadis itu, aku sudah yakin kalau gadis itu kamu. Apalagi saat kamu menyebut nama Yuu-chan.” Yua memandang Yugo tidak percaya. “Kamu tahu kalau yang menyelamatkanku Taiga?” Yugo mengangguk.

“Aku mendengar dari Yuu-chan kalau kamu gak pernah lagi menyebut namaku, seolah lupa semua hal tentangku. Jadi aku menyuruh Yuu-chan untuk tidak menceritakan apapun dulu, sampai aku siap bertemu denganmu.”

Ternyata Yugo tidak menceritakan banyak hal kepadanya, terlalu banyak. Membuatnya merasa kesal saja. Yua tidak tahu harus berkomentar apa.

“Setelah merenungkan banyak hal, menyiapkan diri menerima penolakanmu, akhirnya aku memutuskan untuk menemuimu sekarang.” Yua merasakan tangan Taiga menepuk pelan kepalanya.

“Kamu gak perlu memaksakan diri untuk mengingatku. Kita mulai saja cerita baru. Bagaimanapun takdir memisahkan, sahabat akan selamanya bersama kan?” Melihat senyum Taiga, Yua merasakan sensasi familiar, membuatnya ingin menangis. Tangis Yua pecah saat Taiga dan Yugo memeluknya, rasanya sudah lama sekali dia tidak merasakan pelukan sahabat-sahabatnya.

************

Sejak kedatangan Taiga, hidup Yua terasa sangat lengkap. Sayang kebersamaan mereka harus berakhir, bersama dengan berakhirnya liburan musim panas.

“Jangan memasang wajah sedih gitu dong, Chii-chan. Kalian bisa kapan saja datang ke Tokyo untuk menemuiku. Aku juga bisa kapan saja pulang ke sini, kan?” Yua malas membenarkan komentar Taiga, masih tidak rela melepas genggaman sahabatnya itu.

“Kenapa teman-temanmu lama sekali, Ta-chan? Mereka gak salah lihat jadwal, kan? Atau jangan-jangan salah peron?” Meskipun terlihat sedikit urakan, untuk urusan ketepatan waktu Yugo sangat bisa diandalkan. Itu sebabnya dia terpilih menjadi kapten tim sepak bola sekolah mereka, meskipun skill nya biasa saja.

“Itu mereka.” Taiga menunjuk pada rombongan yang baru memasuki peron, berjalan ke arah mereka.

Taiga merasakan genggaman tangan Yua menguat. “Dia gak ingat kalau aku dan Juri yang sudah membuatnya pingsan malam itu. Aku juga terkejut, ternyata dia adik Saaya-sensei. Kakaknya guru les privatku sejak setahun yang lalu. Aku baru mengetahuinya saat akan pulang ke sini.” Taiga berbisik di telinga Yua, menjelaskan bagaimana dia bisa melakukan perjalanan bersama dengan Chinen bersaudara.

“Hey, Yua-chan! Ternyata kamu, teman lama Taiga. Dunia itu sempit ya.” Sesempit takdir membuat kita semua terhubung satu sama lain seperti sekarang ini. Yua berkomentar dalam hati.

Perhatian Yua kini terfokus pada gadis yang sedang bergelanyut manja di lengan Chinen, seolah ingin menunjukkan kalau dunia hanya milik mereka berdua. Entah kenapa, hatinya masih tidak rela.

Itu pacar baru Chinen-kun? Dia bahkan terlihat dekat dengan Saaya-san. Yua berusaha tetap tersenyum menanggapi sapaan Saaya, meskipun hatinya protes.

“Kalian saling kenal?” Chinen heran bagaimana kakaknya bisa mengenal Yua, padahal dia belum pernah mempertemukan mereka.

“Beberapa hari lalu aku gak sengaja berkenalan dengannya saat pergi ke café Yuto. Oh iya, Yua adik kelasmu kan?” Saaya tampak bersemangat mengetahui kalau adiknya berhubungan dengan teman barunya.

“Iya. Yugo juga juniorku di tim sepak bola.” Chinen menunjuk Yugo yang berdiri di sebelah Yua. Tampak sangat jelas, Chinen berusaha mengalihkan perhatian Saaya agar tidak mengungkit hubungan Chinen dengan Yua lebih jauh.

“Wah, anak sepak bola juga? Pantas kalian dekat dengan Yamada. Kalau aku gak salah lihat, kamu gadis yang malam itu sedang bersama dengan Yamada dan rombongan kan, Yua-chan? Aku ingat Yamada bilang kalau sedang bersama adik kelasnya. Aku baru mengingatnya setelah kamu meninggalkan café.”

“Eh, iya.” Yua merasakan pandangan menusuk dari Chinen ketika mendengar nama Yamada disebut.

Kenapa? Kamu cemburu? Terus kenapa sekarang malah bermesraan dengan cewek lain di depanku? Andai Chinen bisa mendengar suara hati, dia akan mendengar hati Yua sudah berteriak sangat keras sekarang.

“Nee-chan, ayo keretanya sudah mau berangkat, kita harus segera masuk.” Chinen lagi-lagi mencoba mengalihkan perhatian Saaya, yang kali ini mencoba mengungkit hubungan Yua dan Yamada lebih jauh.

Tiba-tiba Yua merasakan bibir Taiga sudah menempel di atas bibirnya, mengecupnya lembut. “Ciuman selamat tinggal. Karena kemarin Chii-chan sudah memberikan ciuman selamat datang.” Taiga tersenyum jahil lalu berlari menuju kereta, meninggalkan Yua yang tidak mungkin mengejarnya karena Taiga sudah hampir memasuki kereta.

“Taiga!! Awas kalau ketemu lagi ya!!” Mendengar teriakan Yua, membuat Taiga semakin ingin menggoda sahabatnya itu. “Kalau ketemu lagi, giliranku yang memberikan ciuman selamat datang. Karena kamu akan segera menemuiku ke Tokyo.”

Meskipun baru mengenal Taiga, bagi Yua yang sekarang, menerima perlakuan Taiga yang semena-mena terhadapnya tidaklah menimbulkan rasa risih. Yua merasa sudah sering menerima perlakuan seperti ini sebelumnya, meskipun ingatan tentang masa lalunya belum pulih sama sekali. Setidaknya Yua merasa lega, karena sebagian dari dirinya belum melupakan Taiga.

Pandangan Yua masih mengikuti bayangan Taiga yang mulai menghilang ketika pemuda itu memasuki gerbong kereta, tanpa disadarinya Chinen terus memperhatikan mereka. Chinen menghela nafas panjang melihat kelakuan Yua dan Taiga, berusaha tidak terlalu mengambil hati. Dia cukup yakin, tadi sekilas melihat Yua kesal saat melihatnya datang bersama gadis lain. Yua masih menyukainya.

“Sampai ketemu lagi, Yua-chan!” Saaya memeluk Yua, sebelum beranjak menuju keretanya. Chinen memperhatikan keduanya, tersenyum penuh arti, lalu menepuk kepala Yua pelan, membuat tenggorokan Yua tercekat seketika.

Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu masih juga mempermainkan perasaanku setelah semua ini? Kamu gak sadar yang kamu lakukan ke aku itu, JAHAT? Hati Yua rasanya ingin meledak. Pandangannya masih tertuju ke arah kereta yang mulai menghilang dari pandangannya.

“Chii-chan, aku harus menemui Chiko-chan. Sejak festival kembang api, aku belum menemuinya lagi karena harus menemani Ta-chan. Kamu mau langsung aku antar pulang?” Suara Yugo berhasil menghancurkan lamunan Yua yang masih membeku sejak beberapa menit yang lalu.

Baru saja Taiga pergi meninggalkannya, sekarang Yugo sudah ingin langsung meninggalkannya juga? Yua merasa kesal karena sahabatnya itu sekarang sudah tidak lagi mempedulikannya seperti dulu.

“Gak usah. Aku mau mampir ke café dulu.” Jawab Yua dengan nada kesal. “Souka. Kalau begitu aku antar sampai depan café.” Yugo menjawab dengan santai, sengaja mengabaikan kekesalan Yua.

“Kita pisah di sini saja. Aku bisa sendiri.” Tanpa menunggu respon Yugo, Yua sudah berjalan meninggalkan Yugo yang masih terdiam di tempatnya. Yugo hanya bisa pasrah menerima kekesalan Yua, karena dia harus bisa segera membuat Yua terbiasa tanpanya.

*********

“Irrashaimase. Ichigo-san sudah ada yang nungguin lho!” Senyum jahil Yuto membuat perasaan Yua merasa tidak enak. Benar saja, Yua melihat Yamada sudah duduk di salah satu meja café sambil mengaduk-aduk minumannya, seperti sudah menunggu kedatangan Yua.

“Dia sudah beberapa kali datang ke sini, menunggu Ichigo-san.” Ragu-ragu Yua mendekati meja Yamada. “Senpai?” Yua takut kalau-kalau ekspresi Yamada akan sangat marah saat melihatnya.

“Duduklah.” Jawab Yamada, menunjukkan raut wajah lega yang membuat Yua tidak mengerti. “Ada perlu apa Yamada-senpai sampai harus menungguku di sini?”

“Aku pikir kamu marah padaku gara-gara kejadian di festival kembang api kemarin. Kamu tidak pernah datang ke tempat bimbel sejak hari itu. Dan juga, kamu tidak membalas satu pun pesanku. Makanya, aku mencoba menunggumu di sini, kalau-kalau kamu akan datang.” Yua mendengarkan, menundukkan kepalanya, ragu-ragu untuk menjawab.

“Gomen, aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pesanmu. Tapi aku tidak bermaksud menghindarimu, karena aku harus menemani temanku sampai dia kembali ke Tokyo.” Jawab Yua, masih dengan kepala menunduk.

“Yua-chan… bisakah kamu memandang wajahku saat berbicara denganku?” Mendengar suara Yamada yang memohon, membuat Yua memberanikan diri mengangkat kepalanya. Ekspresi di wajah pemuda itu terlihat sangat tersakiti, membuat Yua merasa bersalah.

“Aku akan kembali ke Tokyo minggu depan. Sebelum kembali, bisakah aku mendengar kepastian darimu tentang perasaanmu sekali lagi?” Dari ekspresi Yua, sebenarnya Yamada sudah tahu jawaban apa yang akan diberikan. Tapi dia tetap ingin memastikan.

“Aku tidak bisa berpacaran dengan senpai.” Jawab Yua dengan suara tercekat, tidak ingin menangis, tidak di sini.

“Apa kamu mulai menyukai Chinen?” Yamada mengulangi pertanyaannya malam itu, yang belum dijawab oleh Yua. Pertanyaan Yamada terlalu frontal, tepat mengenai sasaran. Yua mengalihkan pandangannya berusaha menyembunyikan perasaannya, masih belum ingin menjawab. “Aku tahu. Bagaimanapun dia yang pertama buatmu. Pasti susah melupakan.”

“Aku masih tidak tahu tentang perasaanku. Tapi semakin aku mencoba melupakannya, semakin aku memikirkannya. Aku tidak ingin menyakiti Yamada-senpai lebih jauh kalau kita pacaran.” Akhirnya Yua memutuskan untuk jujur. Mungkin alasan Yua terlalu klasik untuk menolak cowok, tapi benar itu yang dirasakan Yua. Beberapa menit, keduanya hanya saling memandang dalam diam.

“Sebenarnya aku berpikir, mungkin kalau orang itu bukan Chinen, aku akan bisa membuatmu melupakannya.” Yamada mencoba memecah keheningan. “Aku sadar saat malam kamu menolakku, sebenarnya kamu bukan sepenuhnya menolakku. Tapi karena aku membuatmu teringat dengan Chinen, makanya kamu menolakku. Benar, kan?”

Bagaimana Yamada-senpai bisa menarik kesimpulan sejauh itu? Melihat ekspresi Yua, Yamada tahu kalau tebakannya benar. Tapi dia masih diam, menunggu Yua menjawab dengan mulutnya sendiri.

“Gomen, senpai.” Sebuah kata maaf yang menandakan kebenaran tebakannya, membuat Yamada menelan ludah meskipun dia sudah tahu akan berakhir seperti ini.

“Jangan meminta maaf. Aku senang kamu mau jujur padaku. Semoga kamu bisa segera menemukan kebahagiaanmu, Yua-chan.” Yua merasakan tangan Yamada menepuk pelan kepalanya, lalu beranjak dari kursinya, meninggalkan Yua.

Pada akhirnya, Yua harus merelakan Yamada demi perasaannya yang tidak pasti kepada Chinen. Yua benci masih harus terus memikirkan Chinen. Sedangkan pemuda yang dipikirkannya, sudah bisa menggantikannya dengan gadis lain.

Apa aku harus mencoba jatuh cinta sama cowok lain? Tapi siapa? “Ichigo-san baik-baik saja?” Yua terkejut saat mendapati Yuto sudah berdiri di sebelahnya.

“Ah, iya.” Jawab Yua berbohong. “Sudah mau pulang?” Yua memperhatikan Yuto sudah tidak menggunakan seragam kerjanya.

“Iya. Aku harus pulang lebih awal karena besok hari pertama masuk sekolah.” Merasa dirinya juga harus pulang, Yua berdiri dar kursinya. “Sepertinya aku juga mau pulang saja.”

Yuto menemani Yua sampai di persimpangan jalan yang memisahkan arah ke rumahnya dan rumah Yua. “Sampai ketemu lagi.” Yua melambaikan tangan, membalas lambaian tangan Yuto.

Bolehkah aku jatuh cinta ke Yuto?

*********

“Matsumura-san, terima kasih catatannya.” Yua meminjam catatan Hokuto selama dia tidak menghadiri kelas bimbel beberapa hari. “Maaf aku tidak sempat membuatkanmu catatan. Karena mulai sibuk dengan persiapan ujian.”

“Ini sudah lebih dari cukup kok.” Hokuto selalu baik kepada Yua, terlalu baik malah. Apa mungkin aku seharusnya jatuh cinta ke Matsumura-san saja?

“Yua-chan, pulang yuk?” Mirai menerobos masuk ke kelas Yua yang mulai kosong, membuyarkan lamunannya. Mirai mulai ikut bimbel setelah liburan musim panas berakhir. “Kita kan beda arah, Mirai?”

“Anterin aku ke toko buku bentar ya?” Yua melihat ponselnya, masih pukul 7. “Oke, jangan lama-lama tapi ya.”

“Aku perlu ikut?” Hokuto menawarkan diri karena tidak ingin membiarkan Yua pulang terlalu larut sendirian. “Tidak perlu. Matsumura-san besok ada ujian, kan? Aku bisa pulang sendiri kok.” Yua dan Mirai berjalan keluar meninggalkan Hokuto yang masih membereskan barangnya yang tersisa.

“Dia perhatian banget sama kamu, Yua? Kamu yakin gak punya perasaan apa-apa ke dia?” Sebenarnya Yua juga punya pertanyaan yang sama untuk dirinya sendiri.

“Aku juga gak tahu.” Jawab Yua singkat.

ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s