[Multichapter] Desire Or Love? (Chap 11)

Desire or Love?
By: kyomochii
Genre: Friendship, Romance, Drama
Rating: PG-13
Cast: Ichigo Yua, Morita Mirai (OC), Kouchi Yugo, Matsumura Hokuto (SixTONES), Yamada Ryosuke (HSJ), Special Character Chinen Saaya dan 2 cast kejutan di akhir cerita ><
Disclaimer: Semua Cast cowok dalam cerita ini under talent agency Johnny’s & Associates dari berbagai grup yang berbeda, bisa ada, bisa tidak tiap chapternya, tergantung mood author :p
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Yua masih enggan berpisah dengan bantalnya, saat Yugo memasuki kamar gadis itu dan memaksanya menyikat gigi dan membasuh wajahnya. Yua bergidik saat tetesan air menyiprat ke wajahnya. “Yuu-chan, aku masih ngantuk.”

“Ya ampun anak gadisku satu ini, kamu gak inget sudah bikin janji dengan siapa saja? Gak ada waktu, cepat pakai yukatamu.” Yugo membiarkan Yua menyikat giginya dan sibuk merapikan rambut Yua, yang untungnya tidak terlalu sulit diatur.

“Bantu pakein ya. Aku males pasang obi sendiri.” Yua mengeluarkan salah satu yukata favoritenya dengan motif kupu-kupu berwarna ungu.

“Tahun kemarin  kan sudah pake ini. Aku cari yang lain, kamu make up atau benerin rambut dulu.” Yua membiarkan Yugo mengobrak-abrik lemarinya, sementara dirinya malas-malasan membubuhkan bedak di wajahnya.

“Yuu, kamu bakal ngajak cewekmu?” Yugo mendongak memandang wajah Yua di tengah kesibukannya memasangkan obi gadis itu. “Nanti kita ketemuan di sana, aku akan mengenalkannya denganmu.”

Sebenarnya Yua malas berkenalan dengan pacar Yugo yang sekarang. Entah kenapa rasanya gadis itu akan merebut Yugo dari kehidupannya. “Menurutku dia pasti bakal tidak menyukaiku karena aku selalu merepotkanmu.”

Yugo sudah selesai memasang obi dan merapikan yukata Yua. “Aku gak pernah ngerasa direpotkan. Ayo berangkat.” Iya kamu gak ngerasa repot, tapi orang lain pasti nganggap aku selalu ngerepotin kamu tahu. Yua mengomel dalam hati karena Yugo selalu saja tidak pernah mempedulikan bagaimana orang lain menganggap hubungan mereka.

Benar saja, saat Yua bertemu dengan pacar Yugo, kelihatan jelas gadis itu tidak menyukai kehadiran Yua di antara mereka. Rasanya ingin cepat menghilang saja dari hadapan mereka, batin Yua.

From: Morita Mirai

Lihat arah jam 10. Cepat ke sini. Aku belum siap

bertemu pacar baru Yuu-chan.

Yua tersenyum membaca pesan Mirai. Sahabatnya itu selalu tahu saat yang tepat kapan dibutuhkan. Yua menunjukkan pesan Mirai ke Yugo, lalu berpisah setelah memutuskan tempat mereka akan berkumpul kembali.

“Sumpah aku gak suka cewek itu! Untuk pertama kali dalam hidupku, Yuu-chan benar-benar mengabaikanku. Dikira aku obat nyamuk apa?!” Yua melampiaskan rasa frustasinya sambil menelan takoyaki yang masih panas, membuatnya tersedak.

“Kalau makan jangan sambil marah-marah.” Tiba-tiba sesosok pemuda menempelkan minuman dingin di pipinya, membuatnya refleks menghindar.

“Matsumura-san!” Yua kaget melihat pemuda yang sudah berdiri di sebelahnya, mengenakan yukata, terlihat sangat cocok dengannya.

“Oh, ini Matsumura Hokuto yang sering kamu ceritakan? Lumayan juga.” Mirai berdecak, menilai penampilan Hokuto.

“Gak sopan tahu menilai orang hanya dari penampilan. Matsumura-san, kenalkan ini sahabatku Morita Mirai.” Melihat senyum Hokuto, Yua merasa dianugerahi karena bisa bertemu dengan cowok semanis itu.

“Melihatmu bisa marah seperti itu, berarti aku tidak perlu mencemaskan perasaanmu lagi. Sudah baikan, kan?”

“Orang marah-marah kok dibilang baikan sih? Kalau marah, berarti perasaanku lagi gak baik.” Yua berpandangan dengan Mirai, dia yakin sahabatnya mempunyai pemikiran yang sama dengannya, Hokuto itu cowok aneh.

“Kalau perasaanmu tidak baik, kamu tidak akan berada di tempat ini. Diam mengurung diri di kamar, tidak mau bertemu siapa-siapa. Bisa melihatmu melampiaskan kemarahanmu, berarti kamu sudah bisa melegakan kekesalan yang memenuhi hatimu.”

Kalau dipikir-pikir, apa yang dikatakan Hokuto ada benarnya. Sangat benar, malah. Yua memang gadis yang seperti itu. “Deshou nee.” Mirai setuju dengan Hokuto.

“Tapi aku benar-benar gak suka sama pacar Yuu-chan. Dia seolah gak menginginkan aku mengganggu hidup Yuu-chan lagi. Dia ingin memonopoli Yuu-chan.” Meskipun setuju dengan kedua temannya tentang perasaannya, tapi Yua benar-benar masih merasa kesal.

“Sudah hal wajar, pacar bertingkah seperti itu. Dia ingin Kouchi-san hanya memperhatikannya, bukan gadis lain. Apalagi kedekatan kalian memang sulit membuat gadis lain tidak cemburu. Mungkin sudah saatnya Ichigo-san mencari pacar, biar tidak terus-terusan bergantung pada Kouchi-san?” Hokuto tersenyum jahil, menggoda Yua.

“Apaan sih. Sudah kubilang aku belum ada niatan berpacaran sampai ada Universitas yang mau menerimaku sebagai muridnya.” Meskipun mengelak, Yua tidak bisa memungkiri jantungnya berdetak sangat cepat saat melihat senyum Hokuto.

Ada yang salah. Yua masih tidak ingin mengakui perasaannya ke Hokuto.

“Sepertinya aku harus kembali ke teman-temanku. Selamat bersenang-senang.” Hokuto meninggalkan Yua dan Mirai berdua lagi, yang masih menunggu Jesse dan lainnya datang.

“Kamu yakin gak naksir Matsumura-san? Dia lumayan kok.” Yua sudah bisa menebak kalau Mirai akan menanyakan hal tersebut.

“Kamu kenal aku kan, Mirai? Kamu kira jantungku tenang-tenang saja setiap kali dia tersenyum manis padaku? Apalagi setiap kali dia perhatian ke aku, rasanya ‘kyuun’! Tapi entah kenapa, ada perasaan kuat yang melarangku untuk jatuh cinta dengannya.” Belum sempat Mirai menanyakan maksud Yua, seorang pemuda datang menghampiri mereka.

“Terima kasih sudah datang, Yua-chan.” Yua memandang pemuda yang berdiri tepat di depannya, tersenyum memperhatikan dandanannya. “Kamu manis banget.” Dia menambahkan.

“Aku datang bukan demi Yamada-senpai. Aku sudah janji dengan teman-teman jauh sebelum senpai mengajakku.” Yua menolak saat Yamada mengajaknya pergi berdua karena tidak mau meninggalkan Mirai sendiran.

Bahkan setelah Jesse dan yang lainnya datang, Yua tetap memilih bersama dengan teman-temannya. Yamada hanya bisa pasrah dan mengikuti mereka karena tidak membuat janji dengan orang lain, selain Yua.

“Yamada-kun, bagaimana kabarmu?” Seorang gadis mungil, berambut pendek, berjalan menghampiri Yamada dan rombongannya. Membawa kembang gula di salah satu tangannya dan tas buntal lucu di tangan lainnya, gadis itu terlihat sangat lucu, dan familiar sekali bagi Yua.

“Konbanwa Chinen-san.” Eh? Chinen? Yua terkejut mendengar nama yang keluar dari mulut Yamada.

“Sudah kubilang panggil aku Saaya. Sedang liburan juga? Yang mana nih pacarmu?” Yua berusaha mengalihkan pandangannya, mengajak ngobrol Jesse, supaya cewek yang bernama ‘Saaya’ itu tidak menotisnya.

“Mereka juniorku di SMA, kebetulan tadi ketemu jadi sekalian bareng. Saaya-san ke sini dengan siapa?” Maksud hati ingin berbasa-basi, tapi jawaban Saaya membuat Yamada menyesal sudah bertanya.

“Biasa, adikku satu-satunya, Yuuri. Dia tadi katanya mau ke toilet, tapi lama banget kembalinya.” Yua sudah tidak sanggup lagi berdiam di tempatnya. Dia mengajak Mirai membeli takoyaki keduanya, sebagai alasan meninggalkan rombongan.

Ternyata gadis tadi, kakak perempuan Chinen-kun. Bahkan Chinen memiliki saudara saja, Yua tidak pernah tahu. Tidak tahu apa-apa. “Kamu baik-baik saja, Yua?” Mirai masih tidak melepaskan genggaman tangan Yua, takut-takut kalau mereka terpisah karena pkiran Yua sedang tidak fokus.

“Chinen-kun gak pernah cerita apa-apa tentang keluarganya padaku.” Mirai merasakan genggaman Yua menguat, meremas pelan tangannya.

“Kalian kan pacaran cuma sebentar. LDR-an pula. Bagaimana Chinen-senpai mengenalkanmu dengan keluarganya?” Mirai mencoba mencari penjelasan untuk menenangkan Yua.

“Aku merasa sangat gak mengenalnya, padahal dia sudah…” Yua tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Mirai tidak berani menanyakan apa yang sudah terjadi antara Chinen dan Yua sebenarnya, melihat sahabatnya memang tidak pernah ingin membahasnya. Mirai mengajak Yua duduk di bangku taman, menenangkan diri, sebelum memutuskan kembali ke teman-temannya.

Yua berharap, meskipun dia tahu Chinen berada dekat dengannya saat ini, mereka tidak usah bertemu untuk malam ini. Sepanjang jalan menuju spot terbaik untuk melihat kembang api, Yua hati-hati menyembunyikan tubuh mungilnya di balik tubuh raksasa Jesse.

Yua merasakan tangannya ada yang menarik, tepat sebelum sampai di tempat tujuan mereka. “Kumohon pergilah berdua saja denganku di saat-saat terakhir sebelum kembang api diluncurkan.” Yua tidak tega melihat wajah memohon Yamada dan memutuskan menerima ajakannya.

“Bolehkah aku menanyakan hal yang bersifat pribadi?” Yamada berhasil mengajak Yua ke sisi lain, sedikit terpisah dari teman-temannya, di kelilingi orang-orang yang tidak mereka kenal.

“Tumben tanya, biasanya juga main tembak aja.” Yua tidak bermaksud menyudutkan Yamada, hanya mengatakan yang sebenarnya. “Gomen.” Yamada menjawab lirih.

“Kenapa Yua-chan tadi pergi saat mendengar Chinen juga ada di sini? Apa Yua-chan masih menyukai Chinen? Ah bukan, apa Yua-chan mulai menyukainya saat kalian sudah berpisah?”

Merasakan sayang saat sudah kehilangan? Itu hanya sebuah quotes galau, batin Yua. Dibandingkan rasa sayang, ada keinginan yang tidak ingin Yua rasakan saat melihat wajah Chinen lagi.

Melihat Yua tidak ada keinginan menjawab pertanyaannya, Yamada melanjutkan pertanyaannya. “Apa aku tidak bisa menggantikan Chinen di hatimu? Bukannya sebelumnya tempat itu milikku? Apa aku tidak boleh merebutnya lagi?”

Dibandingkan menjawab pertanyaan Yamada, perhatian Yua kini tertuju pada pemuda yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, Nakajima Yuto. Pemuda itu sedang tertawa-tawa bersama teman-temannya. Hanya melihat Yuto, rasanya membuat beban dipikiran Yua menghilang seketika.

Apa dia bakal menghampiriku kalau aku memanggilnya? Tapi di keramaian seperti ini, mana mungkin dia menyadari keberadaanku.

Kembang api mulai diluncurkan, memancarkan kecantikannya. Di kanan-kiri, sekeliling Yua, mulai banyak pasangan berciuman. Seperti ada yang sengaja menyetelnya, bayangan Chinen memenuhi pikiran Yua. Bayangan kejadian-kejadian yang mereka alami bersama, kenangan malam itu. Tiba-tiba Yua merasakan tangannya ada yang menarik.

Saat Yua berhasil menguasai alam sadarnya lagi, wajah Yamada sudah berjarak kurang dari 5 senti di depan wajahnya, perlahan semakin mendekat. Merasa tidak siap, Yua mendorong pelan pundak Yamada, menjauhkan darinya.

“Aku hanya menganggap senpai sebagai idola, tidak lebih. Dari dulu hingga sekarang perasaanku ke Yamada-senpai tidak pernah lebih dari rasa cinta seorang fans.” Yua tidak berani memandang wajah Yamada, menebak-nebak bagaimana ekspresi Yamada saat ini saat mendengar jawabannya.

“Tempat Yamada-senpai di hatiku tidak pernah berubah dan tidak pernah direbut oleh siapapun. Tapi aku yakin itu bukan cinta, hanya rasa kagum.” Yua merasakan kedua tangan Yamada menelusuri dagunya, mengangkatnya pelan, membuat wajah Yua kini menghadap tepat ke wajah Yamada.

“Bagaimana kamu tahu itu bukan cinta?” Yua melihat keseriusan tidak hanya di wajah Yamada tapi juga di setiap kata yang keluar dari mulut pemuda itu.

Lagi, Yamada berusaha mengarahkan wajahnya mendekati wajah Yua, perlahan semakin dekat. Yua dapat merasakan nafas Yamada menyapu wajahnya bersamaan dengan lembutnya angin musim panas. Yua memejamkan matanya, mencoba pasrah.

Tidak. Yua bukan mendorong Yamada, tapi kali ini berusaha menarik dirinya. Tanpa disadarinya, dia sedang berada di ujung undakan dan malah membuatnya terjatuh. Cepat-cepat Yua membalikkan badannya, berharap tangannya cukup kuat menahan badannya agar tidak menghempas tanah.

Tepat sebelum terjatuh, ada seseorang sedang berjalan di bawah Yua, membuat kecelakaan antara keduanya tidak terelakkan.

Kini badan Yua tepat menimpa badan seorang pemuda. Tidak hanya itu, bibir Yua pun berhasil mendarat mulus di atas bibir pemuda itu. Rasanya lembut dan nyaman. Yua dapat merasakan hembusan nafas lembut yang seolah menina-bobokannya, membuatnya enggan terbangun dan meninggalkan posisinya sekarang.

Yua tahu pemuda itu sama sadarnya dengannya, tampak sama enggannya mengakhiri ciuman mereka. Sampai sebuah tangan mengangkat tubuh mungilnya, membantu Yua berdiri dan mengumpulkan kesadarannya yang nyata. Perlahan Yua mulai membuka matanya, mencari tahu sosok yang sedang mengalami kesialan karena tertimpa dirinya.

“Taiga, kamu gapapa?” Tampak seorang pemuda kurus sedang membantu temannya berdiri.

“Aku gapapa kok, Juri.” Pemuda yang bernama Taiga itu kini sudah berdiri tepat di hadapan Yua, tersenyum ke arahnya.

Cantik. Kata itu yang pertama kali terbesit di pikiran Yua saat melihat pemuda kurus, berkulit putih mulus, dengan rambut coklat lurus dan senyuman hangat yang sangat familiar, membuat Yua rindu.

Taiga? Sepertinya Yua tidak asing mendengar nama itu. Tapi dimana? Kapan? Pikiran Yua bermain liar, berusaha mengingat-ingat kalau mereka pernah bertemu sebelumnya. Tidak biasanya Yua melupakan wajah orang, yang biasanya dia akan terus mengingatnya hanya dengan sekali lihat. Kecuali mereka memang tidak bertemu lagi dalam jangka waktu lama, sangat lama sampai wajah mereka benar-benar berubah.

“Ohisashiburi, Chii-chan”

ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s