[Minichapter] 360 Degrees (Chap 2)

360 Degrees
By. Magentaclover
Genre : Romance
Cast : Kyomoto Taiga (SixTONES), Tanaka Juri (SixTONES), Hideyoshi Sora (OC), Tsuchika Sora (OC)
a/n : This story sequel from (Ficlet : Umbrella Love). Sorry for typo, etc.

Tiga ratus enam puluh derajat, bola mata itu selalu melihat apa yang ingin dilihatnya sedemikian rupa. Tiga ratus enam puluh derajat, cintanya selalu saja kembali ke tempat yang sama. Entah kapan. Dimana. Bagaimana. Tiga ratus enam puluh derajat selalu menjadi pertanyaan yang berputar-putar. Tiga ratus enam puluh derajat kembali menempatkan hatinya pada tempat yang sama.

Dalam sudut tiga ratus enam puluh derajat… kata-kata itu masih terngiang nyata.

.

.

.

Hari ini senja datang dengan gerimis kecil pada sudut tiga ratus empat puluh derajat. Rasanya tak jauh untuk sampai pada sudut tiga ratus enam puluh derajat, namun nyatanya tak semudah itu untuk sampai di sana. Langkahnya pun terasa masih panjang untuk menggapai sudut tiga ratus enam puluh derajat di masa lalunya. Berputar-putar tentu saja, membingungkan—bahkan menelan korban pada kenyataannya. Hatinya tak ingin mengorbankan apapun, apalagi mengorbankan hati seseorang di luar sudut tiga ratus enam puluh derajatnya.

Kyomoto Taiga tahu hal itu, tetapi apa yang dapat ia lakukan ketika seorang Tsuchika Sora memulai kejujurannya?

“Aku menyukaimu… dan itu pilihanku.”

Kata-kata itu terus teringat di benak Taiga, sejak tadi dan hingga kakinya melangkah sejauh ini. Raut wajah Sora pun masih tergambar jelas dalam ingatannya. Ada senyum di sana, senyuman menyakitkan yang entah mengapa terasa hangat dengan sendirinya. Taiga pun tak menduga hal ini akan terjadi secepat hari ini sehingga membuat mulutnya terkunci rapat di tempatnya. Siang tadi tak ada kata yang terlontar, pemuda itu hanya mematung seraya menyaksikan gadis itu tersenyum di hadapannya.

Jahat memang. Langit mendung pun tak menutupinya.

“Kau masih seperti dahulu ya, Kyomoto Taiga…”

Suara itu membuyarkan lamunan Taiga, membuat wajah pemuda itu menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya di sini. Ada perasaan yang bercampur di hari ini, perasaan yang tak ia mengerti ketika langit masa lalunya datang lagi di tengah gerimis ini. Baginya berputar di dalam kisah ini terlalu sulit. Ya, tentu saja… hujan pun tahu dengan nyata.

“Raut wajahmu itu…” gumam sosok itu, Hideyoshi Sora ada di sana. “—entah mengapa sedikit terlihat seperti diriku di hari yang lalu.”

Kyomoto Taiga tersenyum simpul, seolah terlalu rindu dengan sosok lama di hadapannya. Tanpa sadar telapak tangannya telah menarik jatuh tubuh Sora ke dalam pelukannya, mendekapnya hangat dan begitu dalam. Tentunya hal ini terjadi dengan sendirinya, tanpa ada niatan sedikitpun untuk merencanakannya. Bagaimanapun rasanya rindu, rasanya terlalu ingin menggapai lagi apa yang dahulu belum sempat dimiliki. Begitulah.

“Taiga,”

“Sebentar saja tak apa ‘kan?”

Hideyoshi Sora mengangguk di sana, di dalam dekapan pemuda yang telah lama tak dijumpainya. Nyatanya memang ada rindu, namun entah mengapa ada sedikit perih di sana. Rasanya tak mau mengingat masa lalu yang disesalinya. Rasanya ingin memutar lagi sudutnya hingga kembali ke hari itu—dimana hanya ada kisah manisnya dengan seorang Kyomoto Taiga. Sayangnya semua hanya ingin, yang sampai kapanpun akan kalah dengan sebuah realita.

***

Malamnya, Sora hanya duduk seorang diri di balkon rumahnya seraya menyesap aroma kopi yang menenangkan. Masa lalu itu masih selalu teringat nyata walau musim telah berganti sekian banyak. Di hari itu ada dirinya dan Taiga yang masih mengenakan seragam SMA. Begitu polos dan manis, mungkin deskripsi kasarnya seperti itu walau tak sepenuhnya benar adanya. Dalam kisah itu ada Taiga yang memperhatikannya, tentu saja di hari-harinya yang singkat seperti bunga sakura mekar. Walaupun begitu banyak kenangan manis di sana, yang berakhir ketika Taiga menyatakan cinta padanya. Singkatnya.

Sampai kapanpun Sora tak akan melupakan kata-katanya sendiri ketika dirinya menghilang setelah pernyataan cinta dari Taiga. Bukannya tak ingin bersama, hanya saja waktu seolah tak mendukung mereka berdua. Saat itu Sora harus pindah sekolah karena pekerjaan Ayahnya yang menuntut keluarganya untuk berpindah-pindah tempat tinggal. Pergaulannya memang biasa saja, Sora masih mempunyai beberapa teman dekat dengan waktu yang singkat di setiap sekolah barunya. Sayangnya baru kali ini ia terjebak dalam sebuah kisah cinta yang berawal singkat. Terlalu singkat.

Kyomoto Taiga membuat gadis itu memiliki perasan yang selalu dihindarinya. Dalam hari-hari yang singkat itu rasa nyaman hadir dengan sendirinya, membuat perasaan cinta tak dapat lagi dihilangkan oleh gadis itu. Sora mengerti waktunya tak lama bersama Taiga, namun gadis itupun tak bisa membuang jauh perasaannya pada Taiga. Hari-hari bersama Taiga terlalu nyaman baginya, bahkan di saat hujan turun pun masih terasa hangat saat keduanya berada di bawah payung yang sama. Kenangan itu awalnya ingin Sora hapuskan, sayangnya gagal berkali-kali ketika kerinduan kembali datang bermain.

Sora memejamkan matanya, mengingat lagi saat ia berdiri di sudut sembilan puluh derajat dengan cintanya.

.

Hari itu langit terlihat cerah saat Taiga mengajaknya pergi ke atap sekolah setelah jam pelajaran usai. Dengan senang hati Sora menuruti ajakan pemuda itu, duduk bersama di bawah langit biru yang indah di musim gugur. Hawa dingin pun hanya mampir sesaat, tepatnya sebelum Taiga menggenggam hangat telapak tangan Sora yang mulai dingin. Setelahnya semua terasa hangat dengan senyuman Taiga di sana, dengan setiap tutur katanya yang membuat Sora merasa nyaman sedemikian rupa.

Gadis itu tak menduga kisahnya akan seperti ini, dekat dengan seorang player di sekolahnya. Semua tahu hal itu dan beberapa merasa bingung dengan kedekatan mereka. Sejujurnya tak perlu melihat dari sisi orang lain, Sora pun bingung dengan hubungan ini. Ketika Taiga menggenggam tangannya, ketika Taiga tersenyum kepadanya dan ketika Taiga berucap kepadanya—rasanya terlalu menyenangkan bagi dirinya. Apakah mungkin karena Taiga adalah seorang player? Apakah hal ini terjadi karena Taiga mahir dalam permainannya?

Awalnya Sora berpikir demikian, dengan niat lain menikmati permainan yang dibuat oleh pemuda itu. Dalam waktunya yang singkat mungkin tak ada salahnya terjebak dalam permainan Kyomoto Taiga. Sakit hati tak ada salahnya jika hanya sebentar, toh tak ada niatan menyakiti hati Taiga. Jika pemuda itu benar-benar tengah ‘bermain’ maka tak ada perasaan yang benar-benar nyata di dalamnya bukan?

Ya, begitulah awalnya. Awalan yang membuat Sora tercengang pada akhirnya.

“Aku menyukaimu, Sora.”

Singkat saja kata-kata itu, bahkan detik itu Taiga sama sekali tak menatapnya. Namun, di bawah langit biru yang cerah ini Sora dapat melihat semburat merah muda yang mampir di wajah tampan Taiga. Pemuda itu tersipu malu, mungkin sedikit tak yakin dengan kata-katanya sendiri.

“Aku tak begitu yakin ini benar, namun aku pun tak bisa mengatakan ini kebohongan,” gumam Taiga yang kini berbalik menatap gadis di sampingnya. “Aku menyukaimu, entah kau mau percaya atau tidak.”

“Taiga…”

Sora tak menjawab di tempatnya, gadis itu hanya diam dengan banyak hal dalam pikirannya.

“Kau tak harus langsung menjawab, pikirkan saja lagi.” Taiga tersenyum lembut di sana, mempererat genggaman tangannya secara nyata. “Aku tak mau kau ragu dengan hatimu sendiri, Sora…”

Akhirnya Sora hanya tertunduk dalam atau sesekali berpura-pura memandang langit biru yang indah di atas sana. Hari ini adalah hari terakhirnya, entah bagaimana Sora memikirkan kata-kata Taiga yang baru saja didengarnya. Sampai kapan ia harus memikirkannya? Sampai kapan ia harus menyimpannya jika esok mereka sudah tak bertemu? Tak ada lagi genggaman hangat itu, tak ada lagi yang seperti hari kemarin. Di hari esok yang ada hanyalah kata-kata Taiga yang terus terngiang nyata dalam realita.

Kisahnya mungkin berakhir…. membawa kembali dirinya pada sudut nol derajat seperti permulaan.

.

Sora kembali membuka kelopak matanya, menatap cangkir kopi yang sejak tadi masih digenggamnya kala angannya kembali menjelajah di masa lalu yang tak dapat ia hapuskan. Sorot matanya tajam menatap langit malam yang sangat gelap hari ini. Hujan memang telah berhenti beberapa saat yang lalu, namun dinginnya masih abadi di sini jika saja Sora tak mengenakan pakaian hangat yang nyaman untuknya. Hatinya pun masih dingin, masih penasaran dengan jawabannya sendiri ketika Taiga mengatakan cinta di hari yang lalu. Apakah masih belum terlambat jika gadis itu menjawabnya sekarang? Sora tak yakin dengan jawabannya. Entah menyakiti hati Taiga atau membuat hati pemuda itu bebas dari rasa penasarannya.

Memikirkannya membuat Sora tak sadar jika sejak tadi ponselnya bergetar penuh pesan.

“Juri?!”

Belum sempat berpikir panjang, tiba-tiba saja sosok Juri muncul di bawah sana seraya melambaikan tangan pada Sora yang masih terkejut dengan kedatangan pemuda itu. Tanaka Juri tersenyum bahagia di sana, nampak seperti tak ada masalah dalam hidupnya.

“Apa kau mau membuatku mati kedinginan karena menunggumu?!” teriak Juri yang masih berdiri di tempatnya.

Sejenak Sora menarik napas dalam, “Kalau kau tidak mengajakku makan malam maka akan aku biarkan kau membeku di sana.” Kekeh Sora setelahnya dan Juri pun hanya tersenyum di sana seolah menunggu gadis itu turun menghampirinya.

Benar saja, tak butuh waktu lama bagi Juri untuk menunggu Sora di tempatnya. Hanya dalam waktu beberapa menit saja gadis cantik itu telah siap di hadapannya dengan pakaian santai yang hangat. Rambut panjang Sora dibiarkan tergerai begitu saja dengan maksud menghangatkan lehernya di malam yang cukup dingin ini. Langkah kaki keduanya pun mulai sejajar kala menyusuri jalan yang cukup ramai walau hujan baru saja reda beberapa saat yang lalu.

Tak banyak kata yang penting kala keduanya saling mengobrol, hanya kata-kata singkat saja yang membuat keduanya saling bertukar tawa. Sejak saat itu Juri memang selalu ada dalam harinya, pemuda itu tak jarang mengajaknya makan malam bersama seperti malam ini. Malamnya dengan Juri mungkin dapat sedikit membantu Sora untuk melupakan kisah lalunya bersama Taiga yang tak kunjung usai. Semoga dengan begini hatinya sedikit ringan dan tak terlalu terbebani oleh kata-kata Taiga yang masih terus menari-nari dalam benaknya.

Hatinya belum terasa nyaman jika sosok Kyomoto Taiga masih di sana.

Tentu saja, kenyataan itu sangat disadari Sora.

Bagaimanapun dan dengan alasan apapun.

“Melamun ya?” dengan usil Juri mengacak helaian indah milik Sora, membuat sang empunya kembali tertarik sadar ke dalam dunia nyatanya.

“Lamunan lama, hehehe…” tawa Sora canggung. Tak nyaman rasanya jika Juri terus-menerus mengetahui isi hatinya yang sesungguhnya.

Sesaat Juri tak membalas, pemuda itu memilih diam dengan langkahnya. “Sampai kapan kau terus memikirkannya?”

Di sana langkah Sora terhenti. Gadis itu terdiam penuh tanda tanya. Rasanya terlalu ironi jika bukan dirinya sendiri yang mengatakan hal tersebut.

Sampai kapan?

Sampai kapan memikirkannya?

Memikirkan seorang Kyomoto Taiga?

.

.

Untuk sudut sembilan puluh derajat dari masa lalu, apakah kenyataan ini membawa kembali kisah cintanya tepat ke sudut nol derajat?

*End For Chapter 2*

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s