[Multichapter] Little Things Called Love (#15)

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 15)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

3 YEARS LATER

Hazuki kembali melihat ponselnya, mencoba menghubungi nomor yang menurut Hokuto adalah nomor milik Aika, dan sama  sekali belum ada jawaban. Hanya nada sambung yang terus berdenging di telinganya. Total lima bulan ini Aika menghilang bak ditelan bumi. Terakhir kali Aika bilang ia sedang berkonsentrasi pada tugas akhir dan audisi di beberapa orkestra. Lalu setelah itu Aika menghilang, apa karena kabar Juri? Hazuki tidak yakin, tapi mungkin saja.

Sorry aku telat,” pemuda yang menyapanya membuka kaca mata hitamnya dan mengecup dahi Hazuki sebelum akhirnya duduk di hadapan gadis itu, “Aika belum juga muncul?”

Hazuki menggeleng frustasi, “Apa perlu kita susulin dia kesana?” serunya lalu menyimpan ponselnya sembarangan di atas meja, mengaduk capucinno nya dengan sembarangan, “Harus banget bikin kita kelabakan gini ya?! Lima bulan loh!! Lima bulan!!”

“Minum dulu, jangan emosi, kerutan di mata tidak bagus untuk foto pertunangan kita, hehehe,”

“Taiga-kun! Aku serius!” Hazuki manyun, menatap tunangannya – bukan – calon tunangannya itu dengan pandangan marah.

“Aku juga serius. Aika mungkin butuh waktu waktu, dia pasti akan muncul dengan sendirinya,”

Sambil menghela napas berat Hazuki menggeleng pelan, “Lagian aku gak ngerti kenapa Juri tiba-tiba seperti itu, yakin dia tidak sedang mabuk ketika mengatakannya?”

Taiga menggeleng, “Yang jelas, Juri pasti punya alasan kenapa tiba-tiba saja setelah sekian lama dia akhirnya memutuskan untuk bersama dengan orang lain, bukan Aika,”

“Walaupun kita semua tau, Aika memang masih terikat perjodohan dengan Jesse, tapi aku sendiri yang menyaksikan kesungguhan Juri mencintai Aika sejak SMA. Lalu sekarang, bilang dia menemukan seseorang, lebih parah bahkan menyatakan mungkin dia serius? Ko aku tak percaya, ya?” Hazuki kembali men-dial nomor Aika yang diberikan oleh Hokuto dan masih saja tidak ada jawaban. Taiga menarik ponsel milik Hazuki dari tangan si pemilik.

Stop! Lebih baik habiskan minummu, kita masih banyak urusan hari ini,”

Akhirnya Hazuki mengangguk dan setuju dengan pendapat Taiga. Butuh tiga tahun untuk Taiga meyakinkan Hazuki agar setuju bertunangan dengannya. Walaupun secara tidak resmi mereka memang dijodohkan, tapi Hazuki menolak Taiga terang-terangan, dan tidak seperti Aika, pertunangan Hazuki bersama Taiga tidak bersifat memaksa.

Setelah perjalanan Eropa Taiga pikir Hazuki sudah menerimanya, namun ternyata salah besar. Hazuki masih mengkategorikan hubungan mereka sebagai teman. Taiga tidak ingin jadi pemaksa dan bersabar, menunjukkan pada Hazuki bahwa hanya Hazuki satu-satunya gadis yang ia kencani dengan serius. Hingga akhirnya dua bulan lalu Hazuki setuju bertunangan dengannya.

“Oke, aku akan bertunangan denganmu, tapi…. kalau soal nikah, pikir nanti lagi ya,”

Berita itu pun mampir di telinga Ayah Hazuki dan Taiga sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk membuat sebuah pesta pertunangan. Mereka tak bisa menolaknya, terpaksa menyetujui rencana tersebut.

“Juri bilang mau datang, tidak?” tanya Hazuki ketika keduanya sudah berada di mobil Taiga, menuju ke sebuah rumah mode milik teman Hazuki, untuk mencari gaun pertunangannya. Ayah ingin dirinya menggunakan kimono, tapi Hazuki belum memutuskan apakah dia mau mengenakan kimono pada saat pertunangan.

“Uhmmm… kurasa iya, jawaban dia hanya iya iya saja sih, entahlah,” Taiga memarkirkan mobilnya di sebuah gedung perkantoran, dan turun bersama Hazuki. Sebenarnya merepotkan untuk tampil di depan publik bersama seorang Kyomoto Taiga. Pemuda itu nyaris selalu harus menyembunyikan dirinya dari pers karena statusnya yang seorang aktor sekarang ini. Resiko bertunangan tanpa ditutupi pun diambil oleh Taiga. Menurutnya itu tidak akan mempengaruhi karirnya.

“Oh ya, Hokuto bilang dia pasti datang, kemarin aku bertemu dengannya,”

Tentu saja Hazuki sudah tau, tapi dia hanya mengangguk pada Taiga yang berjalan di sebelahnya dengan ponsel menempel di telinganya, “Aku lupa bilang pada Yua-chan,”

***

Sambil berjalan keluar dari sebuah gedung Yua menatap ponselnya, sebuah telepon masuk. Orang yang sudah ia cari sejak setengah jam lalu akhirnya menelepon, “Taiga! Kemana saja kau?!”

“Errgghh.. gomen, aku lupa bilang hari ini aku fiitting baju dengan Hazuki, masih ada waktu dua jam kan?” ucap suara di seberang.

“Iya sih, dua jam lagi, tapi nyetir sendiri ya! Aku harus balik ambil laundrymu dulu,”

Setelah mendengar jawaban iya Yua menutup ponselnya, berjalan lebih cepat ke arah parkiran untuk segera menuju ke tempat laundry dan membereskan urusan bisnis kue kecil-kecilan miliknya. Ichigo Yua tidak mengambil kesempatannya menjadi seorang pastry chef dengan bantuan Kimura-san, tapi dia tetap sekolah pastry di Tokyo, namun dengan bantuan Taiga. Sebagai balasan, sudah dua tahun ini dia menjadi asisten pribadi Kyomoto Taiga, mengurus keperluan sang aktor ketika bekerja. Uang hasil bekerja selain membayar hutang pada Taiga juga dimanfaatkannya untuk mencoba bisnis kue yang baru saja ia mulai dua bulan belakangan.

Awalnya Yua goyah, dia tentu saja ingin sekolah pastry namun dengan bantuan Kimura-san berarti setidaknya dia terikat pada tempat itu untuk waktu yang tidak singkat, sementara Yua ingin mengembangkan kemampuan dan bisnisnya sendiri. Setelah menolak tawaran beasiswa, Yua masih bekerja di sana hingga bertemu dengan Taiga, mereka mengobrol cukup lama, Taiga menawarkan bantuannya sementara saat itu Yua pun baru selesai mengerjakan tugas akhir kuliahnya. Setelah lulus, bukannya bekerja sebagai pendidik Yua memulai semuanya dari awal, ia sekolah pastry dan menjadi asisten Taiga. Kini sekolah pastry nya sudah masuk tahun kedua.

“Maaf ya Rumi-chan, meninggalkanmu sendirian, bagaimana hari ini?” Yua menatap Rumi, pekerjanya yang membantunya menjual kue-kuenya di salah satu sudut kantin kampus.

“Lumayan ko Ichigo-san, tidak usah khawatir, aku kan sudah terbiasa!” ucapnya bersemangat. Salah satu alasan Yua sangat percaya pada Rumi karena segala sesuatunya tercatat dengan rapi, Yua tidak perlu khawatir sama sekali.

Arigatou Rumi-chan, ini aku bawakan sisanya untuk hari ini,” Yua menyimpan beberapa kotak kue di sebelah Rumi yang segera gadis itu bereskan dengan cekatan.

“Mudah-mudahan Ichigo-san cepat punya toko sendiri, ya!”

Yua mengangguk mantap, salah satu impiannya, “Un! Nanti Rumi-chan langsung naik pangkat jadi supervisor deh!”

Rumi tersenyum mengiyakan, masih membereskan kue-kue nya di etalase.

Drrtt drrtt. Ponselnya bergetar dan Yua otomatis menatap layarnya, pasti Taiga, pikirnya. Namun satu nama muncul. Nama yang sudah hampir tiga tahun ini tidak muncul di ponselnya. Mata Yua melebar, menatapnya dengan takjub.

Yuaaaa! Aku pulang loh minggu besok, ketemu bisa?

Yua menyentuh layar itu, membuka apikasi chat nya. Kouchi Yugo sent you a message.

KOUCHI YUGO.

***

“Ponselmu itu berisik!” sambil menyetir pemuda itu protes, apalagi Aika tidak ada niat untuk mengangkat teleponnya, “Angkat saja atau matikan ponselmu!” seru pemuda itu lagi.

“Bawel banget sih! Biarin aja, aku gak mau matiin ponsel tapi gak mau angkat telepon ini!” balas Aika, “Lagian kita mau kemana sih?”

“Bandara,” jawab pemuda itu cuek.

“Bandaraaa??!! Aku gak mau pulang!!”

“Siapa yang ngajak pulang?! Kita jemput Ayah,”

Errgghh, sudah tiga tahun menjabat sebagai tunangannya, Jesse Lewis tidak berubah sedikitpun. Tetap menyebalkan, tetap bossy dan tukang ngatur. Harusnya malam ini Aika menghadiri pesta perpisahan dirinya yang akan segera bergabung dengan grup orkestra ternama, The Massive Melody, pimpinan salah satu dosennya di Cleveland Institute of Music. Ia lolos audisi dan bersiap untuk latihan intensif serta tur keliling Amerika. Namun Jesse tiba-tiba muncul di depan flatnya, menjemputnya, katanya ada urusan penting. Lima bulan belakangan Aika pindah ke New York setelah lulus dari CIM sesuai permintaan Ayah, mengikuti banyak audisi dan kadang ikut di sebuah orkestra setempat, atau sekedar ikut mengajar di sebuah sekolah musik di sana.

Selama setahun belakangan Jesse memang pindah ke Amerika, Ayah menugaskan Jesse untuk mengelola salah satu cabangnya di Amerika. Merger Lewis-Kimura sudah terjadi, Ayah bahkan membiarkan Jesse mengelola bisnisnya di Amerika, sungguh kemajuan yang terlalu pesat, Aika sampai takut kalau dirinya akan segera dinikahkan dengan Jesse. Pemuda itu berusaha mendekati Aika, walaupun terlihat jelas tidak niatnya. Jesse bilang kalu mereka menikah harusnya mereka akur-akur jangan lebih sering bertengkar, tapi nyatanya Aika tetap sering adu pendapat dengan Jesse, sungguh melelahkan.

Aika tau, maksud Hazuki meneleponnya, untuk memastikan dirinya baik-baik saja setelah kabar dari Juri lima bulan lalu. Juri-nya sudah memutuskan untuk melanjutkan hidup tanpanya, entah kenapa. Padahal Juri sudah berjanji, menjadi orang yang pantas untuknya lalu kembali pada Aika, tapi kabar terakhir Tanaka Juri sudah punya kekasih. Bohong jika Aika bilang tidak peduli. Ia teralu peduli sehingga malam-malam kemarin ia habiskan untuk menangisi kebodohannya menunggu Juri. Mereka memang tidak bisa lagi berkomunikasi, semua terpantau Ayah, tapi Aika tau update nya dari Yasui-kun atau teman-temannya.

“Aika, kamu mau turun atau menunggu di mobil?” Jesse ternyata sudah menepikan mobilnya di parkiran bandara. Aika segera turun mengekor langkah Jesse yang cepat, jari pemuda itu tak lepas dari ponselnya, lalu menghubungi seseorang, “Ah itu!” Jesse berlari ke arah gate kedatangan, Aika mengikuti langkah Jesse, melihat Ayahnya yang jarang sekali ia temui. Mungkin hanya setahun sekali, beda dengan Ibunya yang sering meluangkan waktu menjenguk putri bungsunya, walaupun modus ibunya untuk belanja tentu saja.

“Ayah!” Aika menghambur memeluk Ayahnya, bergantian dengan Jesse, “Kenapa tidak mengabariku?”

“Oh tentu saja aku mengabari Jesse, jadi sama saja, kan?”

Aika melirik ke arah Jesse dan pemuda itu tersenyum, lalu mengangguk. Tak lupa sebagai pelengkap Jesse mengambil koper milik Ayah.

“Padahal Ayah sudah bilang tidak perlu menjemput. Supirku di sini siap dua puluh empat jam, ko!” seru Ayahnya. Aika tau, makanya dia sebenarnya agak heran mengapa Jesse repot-repot menjemput Ayah segala.

“Tidak apa-apa, Otou-san, mumpung kami tidak sedang sibuk,”

Oh yeah, sejak kapan kata Jesse dan Aika menjadi ‘kami’. Aika malas berdebat di depan Ayah dan hanya mensejajarkan langkahnya dengan Ayah menuju ke parkiran.

“Oh iya, setelah urusan Ayah selesai, kita pulang ke Jepang ya,”

Aika menatap Ayahnya takjub, “Aku juga?”

“Tentu saja! Jesse tidak bilang pernikahan kalian akan dipercepat?”

***

“Hisashiburi!” Airin berlari pada Sonata yang sedang menunggunya di sebuah kedai kopi. Sonata menyambutnya, mencium pipi kanan dan kiri Airin sebelum akhirnya gadis itu duduk di hadapannya.

Hisashiburi! Apa kabarmu, Ai-chan?” total sudah dua tahun lebih Sonata tidak bertemu dengan Airin. Gadis itu memilih kuliah di luar kota dan jarang sekali Sonata bisa menemui Airin saat gadis itu pulang untuk Natal atau Tahun Baru.

Sudah dua tahun juga, Airin putus dengan kakaknya. Putus cinta yang penuh drama karena Airin hampir saja menolak kuliah literaturnya di Hiroshima karena Hokuto dan kakaknya itu bersikeras agar Airin mengambilnya. Hingga Hokuto memutuskan Airin, mengatakan pada gadis itu untuk sekolah terlebih dahulu, Hokuto bahkan tidak mau sekedar berhubungan jarak jauh.

“Hoku-nii…” ada keraguan dari suara Airin namun gadis itu melanjutkan, “Apa kabar?”

Sonata meneguk es teh manis yang tadi ia pesan sebelum menjawab, “Baik ko, sekarang niichan bekerja di pemerintahan, kau tau kan, itu loh, pegawai negri dan sejak saat itu aku tidak kerja lagi, niichan memintaku untuk fokus pada sekolah desainku,”

Sasuga Hoku-nii,” obrolan mereka terhenti sebentar saat Airin memesan minuman, “Shin-kun apa kabar?”

“Baik juga. Dia sekolah chef sekarang,”

“Baik juga denganmu? Kulihat kalian semakin mesra saja, Ahahaha,”

“Ihhh, gak gitu ko, biasa aja ko!” wajah Sonata berekspresi macam-macam membuat Airin ingin tertawa dibuatnya.

“Shin-kun tidak pernah absen mengucapkan anniversary setiap tahunnya, manis sekali ya dia,” ucap Airin sambil menunjukkan profil twitter milik Shintaro yang memuat nama Sonata dan sedang dia buka di ponselnya.

Mouuu…sudahlah tak usah dibahas, aku kan jadi malu!” Sonata terlihat senang dan Airin juga ikut senang hubungan Sonata dengan Shintaro berjalan dengan lancar, “Omong-omong Ai-chan sampai kapan di Tokyo?” tanya Sonata.

“Cukup lama sih, aku kan sekalian magang, sekitar tiga sampai enam bulan,”

Yatta!! Berarti kita bisa sering main dong!”

Airin hanya tersenyum, mengangguk. Matanya tertumbuk pada pintu kedai yang terbuka, beberapa saat kemudian Hokuto masuk dengan seorang wanita yang memakai kaca mata hitam, masker serta menggunakan jaket besar.

“Hoku-nii,” gumam Airin. Sonata sontak menoleh, dan memanggil Hokuto yang langsung menghampirinya sementara wanita yang bersamanya langsung menuju ke bagian atas kedai menggunakan tangga.

“Hey,” mata Airin dan Hokuto bertemu, waktu seakan berhenti bagi Airin. Rasanya ingin sekali menghambur ke pelukan pria itu jika saja dia tidak ingat Hokuto ke sini dengan seorang wanita, “Gomen, aku harus ke atas dulu, ngobrol nanti ya!”

“Bahkan sekedar say hi saja tidak bisa,” ucap Airin menatap punggung Hokuto yang masih dengan setelan jas kerjanya itu berlalu.

“Itu Ruika-san, kenal kan?”

“Ruika-san? Eh? Bukannya dia sekarang jadi penyanyi terkenal?”

Sonata mengangguk, “Tapi niichan sering bertemu dengannya, entah apa saja yang mereka bicarakan,”

***

“Duh, tadi ada Ai-chan ya? Sayangnya aku tak bisa menyapanya,” ucap Ruika membuka kaca mata hitam, topi serta maskernya.

“Tidak apa-apa dia pasti mafhum ko,” Keduanya memang sudah memesan sebuah ruangan private di kedai langganan Ruika ini.

Keberuntungan memang memihak pada Ruika sejak dirinya menjadi penyanyi di bar milik Shigeoka-san. Memang Ruika pun mencoba peruntungan dengan menunjukkan kemampuannya di media sosial, tak lama kemampuan Ruika terendus oleh banyak orang termasuk salah satu produser rekaman yang menawarinya kontrak album pertamanya. Dengan nama panggung RUIKA sekarang bukan hanya penyanyi, Ruika juga merambah ke dunia iklan dan akting.

“Makasih loh traktirannya,” kata Hokuto saat melihat makanan di atas meja mereka.

Ruika meneguk birnya, “Sama-sama. Lagian kita sudah lama tidak ketemu ya, terakhir sebelum aku ke Korea ya?”

“Ruika-sama sekarang sibuk, aku mengerti, ahahaha,”

“Errgghh, hanya karena aku menolak wawancara sekali saja namaku tiba-tiba jadi Ruika-sama, sungguh para wartawan itu harus dikasih sedikit pengetahuan mengenai jam kerjaku yang melelahkan,” kata Ruika kembali meneguk bir nya, “Iina, Hoku punya jam kerja yang pasti, tidak seperti diriku,”

Hokuto mengunyah sashimi sambil menatap Ruika, “Ini cita-citamu, Ruika-sama, jadi pegawai negri bukan cita-citaku, ahahaha,” ya, dan cita-cita itu pun tercapai dengan resiko lainnya seperti merelakan kuliahnya demi mengejar karir keartisannya.

“Tapi ngobrol dengan Hoku selalu bisa membuatku sedikit waras. Kau tau, aku pusing dengan orang-orang bermuka dua, hanya dengan Hoku aku bisa makan sashimi, minum bir tanpa make up dan senyum lebar menghiasi wajahku setiap saat,”

“Jadi kau mentraktirku untuk menumpahkan keluh kesahmu, nona?”

Ruika mengangguk, “Tepat sekali Matsumura-san!”

“Tumben Shigeoka-san tidak ikut,”

“Dia masih ada meeting katanya, entahlah. Mungkin soal drama terbaru itu loh, aku masih pikir-pikir ambil atau tidak, baru saja lepas syuting akhir bulan kemarin. Aku butuh liburaaannnn!!”

“Atau kau mengajakku makan karena berita Aika dan Jesse?”

Tangan Ruika yang sedang mengambil sashimi terhenti, tanpa perlu menjawab Hokuto tau karena air muka Ruika berubah. Walaupun tidak mau mengakuinya pasti Ruika merasa sedikit sedih. Berita soal merger dan gosip pernikahan Jesse pasti sudah mampir di telinga Ruika.

“Aku tidak peduli lagi soal dirinya,” ucap Ruika segera memasukkan sashimi itu ke mulutnya. Mata Ruika menghindari mata Hokuto, dan itu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Ruika masih peduli tentu saja.

“Kalau Jesse kembali ke Jepang, akankah Ruika-sama mencoba berbicara lagi dengannya?” tanya Hokuto masih memandangi Ruika.

Ruika menggeleng, “No thanks,” ketus memang, tapi Hokuto tau Ruika belum bisa sepenuhnya move on dari Jesse, “Eh ya, gara-gara liat Ai-chan, aku jadi penasaran sebenarnya kenapa kalian putus?”

“Ruika-sama, jangan mengalihkan pembicaraan!”

“Hokuto-sama, aku benar-benar penasaran. Kalian kan baik-baik saja, tiba-tiba saja putus dan kamu tidak pernah mau mebahasnya!”

Hokuto tersenyum, “Terkadang kita memang harus melepaskan seseorang demi mimpinya dan demi mimpiku sendiri,” sesaat Hokuto menatap Ruika, “Bagaimana menurutmu?”

***

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga, Juri memasukkan beberapa bajunya dan alat-alat mandinya. Akhirnya dia pulang ke rumah setelah Natal kemarin terakhir kalinya dia pulang. Selesai packing Juri keluar dari kamar, membawa tasnya.

“Harus banget pergi ya?” tanya wanita yang kini menatap layar televisi, masih ngambek dengan kepergian Juri hari ini.

Juri menghela napas, “Harus Chiru, aku ingin ketemu Ibuku dan ini juga sekalian pesta pertunangan Hazuki, aku bisa-bisa di demo kalau sampai tidak datang,”

“Lalu kenapa aku tidak boleh ikut?!”

Dengan lembut Juri duduk di sebelah Chiru, melingkarkan tangannya di bahu wanita berambut sebahu itu, “Kandunganmu sudah masuk lima bulan, terlalu bahaya kan naik pesawat,” sebenarnya di kehamilan biasa lima bulan sudah cukup kuat namun di kasus Chiru kandungannya tidak begitu kuat dan tidak mengizinkan Chiru untuk pergi jauh.

Chiru menatap Juri, setuju dengan pendapat pemuda itu tapi sekaligus masih saja merajuk, meminta Juri tidak jadi pergi.

“Selesai urusanku, pasti aku langsung pulang, telepon saja ya kalau ada apa-apa. Aku juga sudah bilang pada Ikuta-san di sebelah, menitipmu padanya,” Juri mengecup pelan dahi Chiru sebelum akhirnya benar-benar keluar dari apartemen mereka.

Sambil berjalan turun dari lantai tiga Juri memikirkan hidupnya, langkahnya tidak lagi sendirian. Segera empat bulan lagi tanggung jawab Juri bertambah. Chiru akan melahirkan, dan ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa apapun yang terjadi anak Chiru adalah tanggungannya. Memikirkan hidupnya yang penuh kejutan, Juri sebenarnya ingin melarikan diri sekejap dari kenyataan.

Tiba di bandara Juri langsung boarding dan berangkat menuju Tokyo. Dibilang siap, tidak juga. Menghadiri pertunangan Hazuki dan Taiga berarti lima puluh persen dia akan bertemu Aika. Kenyataan itu tidak membuat dirinya lebih baik, sebaliknya dia sangat gugup. Apa yang akan dia lakukan jika Aika benar-benar ada di hadapannya dan dengan kemungkinan nol persen Aika bisa kembali ke pelukannya. Sakit memang, setiap kali Juri curi-curi waktu menatap fotonya bersama Aika, setiap sentuhan tangannya dengan Aika, setiap gerak-gerik Aika, setiap senyum dan tingkah konyol Aika masih terekam jelas oleh otaknya yang menolak untuk menghapus semua bagian itu dari memorinya. Tapi inilah kenyataan hidup yang seharusnya tidak boleh Juri sesali lagi.

“Juri-kuunnn!!” sesampainya di Narita, Juri sudah ditunggu oleh Hazuki yang melambaikan tangannya dengan semangat ketika melihat Juri di gerbang kedatangan.

“Hey! Katanya sama Taiga?” tanya Juri ketika sudah di hadapan Hazuki.

“Syutingnya molor, jadi gak bisa jemput, biasalaaahh, Ayo!” Hazuki menggandeng tangan Juri, “Apa kabar?” tanya Hazuki sambil keduanya berjalan ke pintu keluar bandara, menunggu supir Hazuki menjemput mereka.

“Begitulah. Aku masih hidup dan baik-baik saja, bagaimana denganmu?”

Hazuki melirik Juri, “Tentu saja baik! Tapi sebenarnya, ada yang ingin kutanyakan padamu,”

“Soal Aika?” tepat saat Juri bertanya sebuah mobil hitam berhenti di hadapan mereka dan pembicaraan pun harus terhenti hingga keduanya masuk ke dalam mobil.

“Iya soal Aika,” ucap Hazuki.

Juri menatap ke jendela, Hazuki bisa merasakan kraguan dari jawaban Juri selanjutnya, “Aku sudah menentukan jalan hidupku sendiri, Aika juga sudah menentukan hidupnya sendiri,”

“Tapi…”

Juri mengeluarkan ponselnya, beberapa saat kemudian Juri menunjukkan layarnya kepada Hazuki, “Hah? Serius?!” Hazuki terlihat shock sekaligus bingung, “Ini….” foto Juri dengan seorang wanita yang sedang hamil.

“Bukan, kami belum menikah. Chiru-san dan aku akan menikah setelah bayi kami lahir,”

USOOOO!! Bagaimana bisa? Maksudku… kau mabuk? Bodoh!!” Hazuki memukuli lengan Juri dan pria itu hanya beraduh-aduh membiarkan Hazuki memukulinya.

Bagaimana bisa? Ya, Juri juga tidak bisa menjawabnya untuk sekarang.

***

“Tinggal satu agenda lagi,” Yua menatap PDA nya, lalu menatap Taiga, “Syuting dengan anak kecil loh,”

Taiga balik menatap Yua, “Lalu? Aku suka anak kecil ko,”

Alih-alih percaya Yua malah menertawakan Taiga, “Please, kayak aku percaya aja,”

“Sudahlah jangan mengejekku terus!” Taiga memilih untuk melihat ponselnya, Hazuki sudah menjemput Juri karena syuting filmnya terpaksa molor tadi karena kesalahan teknis.

“Yua-chan,” panggil Taiga, dan hanya dijawab gumaman dari mulut Yua yang sibuk menatap ponselnya juga, “Yua-chan suka anak-anak?”

Yua mengangguk, “Suka! Itu salah satu alasanku mengambil kuliah pendidikan, maaa sekarang mungkin belum saatnya aku jadi guru, tapi suatu saat pasti!”

Sugeee na, mungkin karena aku tidak pernah punya adik, rasanya aneh berurusan dengan anak kecil, mereka berisik, terlalu banyak energi yang keluar jika kita main dengan anak-anak, memikirkannya saja aku sudah lelah,”

“Hahahahaha! Ya ampun Taiga-kun, melelahkan tapi menyenangkan ko! Hari ini jadi kali pertamamu bermain dengan mereka, dan pasti nanti ketagihan!” jelas Yua.

Mobil van hitam itu menepi di sebuah rumah yatim piatu. Yua dan Taiga turun, disambut oleh seorang staff TV yang meminta Taiga menjadi guru untuk satu hari ini, sebagai bagian VTR untuk sebuah acara.

Ohayou gozaimasu! Kyomoto-san, ke sebelah sini, saya akan mengenalkan dengan para volunteer yang juga mengajar di sini,” staff TV itu membawa Taiga dan Yua ke dalam rumah yatim piatu itu, ke ruangan guru dan staff rumah yatim piatu itu.

“KOUCHI!!” Taiga kaget melihat Kouchi Yugo ada dia antara staff di sana.

“HO! Taiga!!” matanya beralih menatap Yua yang sama kagetnya dengan Taiga, “Yua-chan,” ucapnya lirih.

.

Hisashiburi desu ne,” Kouchi dan Yua akhirnya menepi ke taman belakang sekolah sementara Taiga sedang syuting di dalam.

“Kouchi-kun, apa kabar?” bibirnya kelu. Seakan terlalu lama bibirnya tidak menyebutkan nama itu, Yua tiba-tiba merasa salah jika harus memanggilnya ‘Kou-chan’.

Kouchi mengangguk, “Setelah lulus aku kembali ke India, total satu tahun di sana,”

“Satu tahun sisanya?”

“Aku ke Syria, di sana lebih mengkhawatirkan keadaannya, dan bulan ini kami diminta kembali ke headquarter di Jepang,”

“Kouchi-kun keren ya! Bisa memutuskan untuk jadi volunteer dan keliling dunia untuk mengajar!” sepulangnya dari tiga bulannya di India, Kouchi memang mempercepat kuliahnya, lulus kurang dari tiga setengah tahun kuliah lalu segera ke India setelahnya. Yua hanya sempat bertemu dengan Kouchi beberapa kali karena Yua memutuskan untuk pindah dari apartemen lamanya yang bersebelahan dengan Kouchi. Saat Yua sadar harusnya tidak benar terus menghindar dari Kouchi, Yua sudah kehilangan kontak, pria itu sudah benar-benar meninggalkannya.

“Antara keren dan melarikan diri sih,” kata-kata Kouchi yang terdengar bercanda namun malah membuat Yua sedih. Dia melarikan diri dan hasilnya, Kouchi pun memutuskan untuk melarikan diri, “Yua-chan sendiri, sekarang jadi asisten Taiga?”

Yua mengangguk, menceritakan garis besar alasannya menjadi asisten Taiga dan sekolah pastry yang sedang ia jalani. Walaupun sedikit canggung, Yua tidak mengalami kesulitan menceritakan apapun pada Kouchi. Rasanya Yua menjadi rindu sekali bisa bercengkrama dengan Kouchi seperti dulu.

“Yugo!” Yua menoleh untuk melihat sumber suara, seorang wanita dengan rambut panjang dan memakai apron yang sama dengan Kouchi berdiri tak jauh dari mereka.

“Oh, Sora-chan! Ada apa?”

“Maaf mengganggu, tapi, makan siang sudah siap. Aku diminta untuk memanggil kalian,”

Wakatta!” Kouchi berdiri dan mengajak Yua untuk ikut dengannya.

“Jadi sekarang panggilanmu Yugo?” ucap Yua sambil menatap Kouchi yang berjalan di sebelahnya.

“Karena Sora-chan bilang nama Kouchi terlalu sulit dilafalkan oleh orang luar,”

Di ruang makan sudah ada staff TV dan staff Rumah Yatim Piatu yang berbaur, makanannya sederhana tapi suasananya sangat menyenangkan. Taiga memanggil Yua dan Kouchi untuk bergabung dengannya. Tapi Kouchi hanya menyapa Taiga dan pamit sebentar untuk ikut melayani staff dan anak-anak yang makan bersama mereka.

Sejak tadi Yua memperhatikan. Bohong jika tidak menyadari bagaimana Kouchi berbicara dengan Sora. Sekarang saja Kouchi mendekati Sora dan sepertinya membicarakan sesuatu yang seru sampai Kouchi ikut tertawa dengan asyiknya. Melihat keduanya seperti membawa Yua ke masa lalu, ketika Kouchi hanya tertawa seperti itu bersamanya. Memang tidak bisa kembali ke masa lalu, tapi rasanya Yua merasa sangat sedih kali ini. Untuk kali ini Yua ingin sekali kembali ke masa lalu, mengambil Kouchi kembali ke sisinya, bukan tertawa dengan gadis lain.

***

Hokuto baru saja menyimpan tas dan membuka jas nya ketika mendengar suara bel dari luar rumah. Sonata yang sedang di dapur tiba-tiba berlari melewatinya, beberapa saat kemudian ternyata Shintaro yang datang malam-malam begini.

“Ini sudah malam, Shintaro,”

“Selamat malam Aniki!” sapa Shintaro dengan ceria, “Kelasku baru selesai dan aku membawakan ini,” Shintaro menyerahkan sebuah kotak bento yang isinya adalah hamburger dengan saus barbekyu.

“Waaaa keliatan enak sekali!! Lagian niichan, ini baru jam tujuh!” protes Sonata.

“Sudah jam tujuh!”

“Ih apaan sih aku kan sudah besar! Jangan ngatur-ngatur terus dong!”

Sejak Hokuto lulus kuliah dan berhasil bekerja di pemerintahan, pria itu membeli sebuah rumah. Sonata ikut tinggal dengan Hokuto sementara Ibu mereka sudah meninggal sejak dua tahun lalu karena sakitnya bertambah parah dan tidak bisa tertolong lagi.

Ojamashimasu, Hokuto-oniisama bagaimana kalau kita makan malam dulu?”

Hokuto melirik Shintaro dengan galak namun akhirnya bergabung dengan Shintaro dan Sonata untuk makan malam.

“Oh iya Shin-kun, Ai-chan pulang ke Tokyo, dia nanya kapan kita bisa main bareng lagi?”

Shintaro menatap Sonata sambil membelalakan mata seakan memberi sinyal bahwa seharusnya mereka tidak membicarakan soal Airin di depan Hokuto. Tapi Sonata malah terlihat bingung dan mengerenyit sambil melihat pacarnya itu bertingkah aneh.

“Shin-kun?”

“Uhmmm….” Shintaro melirik Hokuto yang menikmati hamburgernya tanpa memperdulikan Sonata atau Shintaro.

“Akhir minggu ini, gimana?” Sonata dan Shintaro langsung menatap Hokuto yang dengan santainya menjawab pertanyaan Sonata, “Aku ingin menghadapi Ai-chan sekali lagi, paling tidak untuk minta maaf,” Hokuto menyimpan pisau dan garpunya, “Gochisousama deshita! Arigatou makanannya Shintaro!” Hokuto mengambil tas dan jasnya, “Habis makan langsung pulang, ya!” ucapnya sebelum meninggalkan Shintaro dan Sonata berdua.

“Ngomong-ngomong Sona-chan, kapan Hokuto-san bisa menerimaku ya?”

Sonata menggeleng, “Kalau tidak direstui kita kawin lari saja yuk!” ucapnya sambil menatap Shintaro dengan wajah serius namun malah membuat pemuda itu ingin tertawa.

Baka! Sebelum sempat menculikmu nyawaku sudah melayang duluan di tangan Hokuto-san!”

Sonata menatap ke arah kamar kakaknya dan mencibir, “Huh! Makin tua malah makin posesif! Heran!”

“Karena Sona-chan satu-satunya orang yang harus dia lindungi sekarang. Benar kan?”

“Kalau gitu kita jodohin Hoku-nii sama Ai-chan lagi aja!!”

Tidak menjawab, Shintaro memilih untuk mencubit pipi Sonata. Perasaannya pada Sonata ternyata lebih serius dari yang dia bayangkan dulu. Hingga sekarang Shintaro merasa beruntung memiliki Sonata, apapun rintangan yang mereka hadapi ke depannya, dia ingin bersama Sonata.

***

To Be Continue~

Advertisements

5 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#15)

  1. KirieHazuki

    Kak din aku pusing bacanyaaa dan terlalu bayak ber “eeeehhhh…. ehhhhh… eeeeeh… wuuuuoooh” waktu baca 😂😂

    3 tahun kemudian, lama yaaa HazuTai belum nikah, tp setidaknya Hazuki nerima Taiga, apalagi aktor OMG berasa mimpi aku nikah ama artis 😂

    Hoku putus sama ai, terus sama ruika temenan doang kan? Kasian ai udah jauhan putis pula. Untung sona shin aman, awas tuh sona jgn sampe ternodai sama Shin hihii

    Yua Yugo kok sedih bacanya ya kak. Mereka yg dulu bahagia terpisahkan karna perasaan masing masing, nda rela 😢

    Jure ngamilin oraaang? Dasaaaar 😭

    Reply
  2. kyomochii39

    kak din, rumi OCnya siapa?? haha XD first of all, HazuTai omedetou akhirnya tunangan!!!! Aika-Jesse, cepet akur yaaa!!! Yua-Yugo, rasain tuh Yua baru ngerasa kehilangan setelah sudah sama orang lain!!! (nyukurin OC sendiri. wkwk). Juri-Chiru, semoga bahagia ^^)/ Hoku-Ai, cepet balikan gih!!! Ruika sama Shigeoka aja deh!! /digampar Rui/ and as always, I love Sona-chan >< Shin-Sona langgeng terus yaaaa!!!

    kak din, sedikit komen ya penulisan ya. ceritanya oke sih. tapi entah kenapa, bacanya gak seenak biasanya. berasa baca ffku yg fail. wkwkwk

    ditunggu segera endingnya ~~

    Reply
  3. sparklingstar48

    Huweee ffnyaaa~~~
    semoga deh hazutai cepet nikah xD
    Yah yah yugo yua sedih:” yua kenapa dulu ga nerima yugo ajaaaaaaaT.T
    Ciee aika sm jesse cie cie akur2 yaa #plakplak
    JURI KMPRT LAH NGEHAMILIN ANAK ORANG DODOOOLLL EMANG-__________-
    DAN AIRIN HOKU PUTUS T…….T
    #dikeplaksekampung #capsjebol
    Nah setuju sm shin sm sona! Jodohin gih airin sm hoku xD #maunya
    Omedetoo taiga dan rui jd aktor dan penyanyii~~
    Dtunggu next chapnya kaak

    Reply
  4. magentaclover

    Aku ga tau harus komen apa hahaha bingung ini kejutan banget! Plotnya oke aja bagiku walau ceritanya emang ngenes banyaknya ._. Masih banyak yg harus dijelaskan (?) masih panjang dong kak berarti?

    Charanya udah pada dewasa ya udah kerja XD udah pada kuliah bukan anak2 lagi kisah mereka tambah ruweh XD

    Apapun itu aku selalu tunggu ♡ keep writing kak semangat! Tetap bahagiakan readermu 😄

    Reply
  5. elsaindahmustika

    uh pas liat kak din ngetik 15 aja! di line, aku kita bakal tamat, tapi setelah liat to be continued ah agak lega gimana gitu walaupun masih kepo maksimal kelanjutannya wkwk

    aku terkejut sama semua ceritanya😂 wajar sih orang tiga tahun kemudian, disini rasanya udah pada sukses semua, nee-chan kakoii;* tapi kasian masih ada bayang2 jess yg nyebelin uh -,- taiga juga dengan mengejutkan jadi aktor, tunangan lagi sama hazuki! ahh akhirnya, nikah dong sekalian tar undang sona 😜*oi *siapalu

    yua-chan usaha kecil2annya semoga bakal berkembang pesat! tapi ini masih aja galau yuayugo, gak rela mereka pisah T-T why don’t both of them jadian?!:”v

    ruika akhirnya sukses yayyyyyy ruika-samaaa>u<

    DAN YANG PALING BIKIN KAGET JURIIII ARGHHHH STUPID! KENAPA MASALAHNYA BISA SAMPE HAMILIN ANAK ORANG??😂😂😂
    *caps *ditimpuk author

    wwww maaf kak din baru sempet komen, ok sekian🙇

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s