[Multichapter] Desire Or Love? (Chap 10)

Desire or Love?
By: kyomochii
Genre: Friendship, Romance, Drama
Rating: PG-13
Cast: Ichigo Yua, Morita Mirai (OC), Jesse, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro (SixTONES), Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Okamoto Keito (HSJ), Nakamura Kaito, Morita Myuto, Shimekake Ryuya (Travis Japan)
Disclaimer: Semua Cast cowok dalam cerita ini under talent agency Johnny’s & Associates dari berbagai grup yang berbeda, bisa ada, bisa tidak tiap chapternya, tergantung mood author :p
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Hari Jum’at ini, Yua terpaksa harus membolos dari tempat bimbelnya. Yua sudah berjanji tidak akan melewatkan pertandingan final basket Mirai, apapun yang terjadi. Yugo sedang sibuk mengurusi tim sepak bolanya yang akan melaju di babak perempat final, sehingga terpaksa melewatkan kesempatan menyaksikan laga terakhir Mirai sebagai atlit basket SMA. Yua membuat janji akan menonton pertandingan bersama Jesse, Myuto dan Ryuya. Saat tiba di tempat pertandingan, mereka sudah melewatkan lebih dari separuh pertandingan tim putra.

“Yang perlu kita beri semangat Mirai, kan?” Myuto terkekeh, merasa acuh tidak mengindahkan pandangan marah Jesse, siap melumatnya, karena bisa-bisanya calon kapten pengganti malah menganggap remeh pertandingan lawan.

“Tenang Jesse, Myuto gak bermaksud berkata gitu. Kamu tahu bukan salah dia kita semua telat tiba di sini.” Ryuya berusaha menenangkan Jesse.

Yua tahu, ini semua salahnya. Karena kecerobohannya, dia harus mengalami kejadian disrempet mobil yang mengakibatkannya tidak bisa berjalan sampai menunggu Jesse, Myuto dan Ryuya menjemputnya. “Jesse-kun, gomen.”

“Yua-chan, aku bukannya marah karena kita telat datang. Hanya saja sikap gak peduli Myuto itu, kadang membuatku khawatir bagaimana nasib tim basket putra setahun kedepan.” Jesse menegakkan tubuh Yua, membantunya mencari tempat duduk paling nyaman.

“Tenang saja, masih ada Hanzawa-kun, Hagiya-kun, Umin dan beberapa pemain lainnya, yang akan berjuang bersama Myuto. Mereka kan tim.” Yua berusaha menenangkan Jesse, lalu memintanya untuk mengantarkan lemon beku buatannya ke ruang klub basket putri.

“Ichigo-senpai tidak apa-apa?” Tiba-tiba Kaito sudah berdiri di sebelah tempat duduk Yua, mengamati dari ujung rambut hingga ujung kaki, memastikan tidak ada luka parah yang dialami senpai kesayangannya itu.

“Tenang saja, kakiku cuma keseleo kok. Lecet di sikuku juga sudah diberi pertolongan pertama, tidak ada yang parah.” Wajah khawatir Kaito berangsur lebih tenang setelah mendengar penjelasan Yua.

“Bagaimana pertandingannya? Apakah Yuto-san bermain dengan bagus?” Kaito menceritakan tentang kehebatan Yuto dengan menggebu-gebu, dia juga sudah membuat catatan tentang semua strategi yang digunakan Yuto dalam pertandingan kali ini. Bahkan saat ini, Kaito yakin kalau tim basket sekolah Yuto akan memenangkan pertandingan meskipun tim lawan terus berusaha menyusul perolehan skor.

“Umin, sebaiknya kamu kembali ke tempat teman-temanmu. Pertandingan masih belum selesai, kan?” Jesse kembali dari ruang klub basket putri membawa seseorang bersamanya, membuat Yua terkejut.

“Senpai tidak ada jadwal mengajar hari ini?” Alih-alih menjawab, Yamada memilih duduk di sebelah Yua dan memperhatikan kaki gadis itu yang sudah dibalut perban. “Kakimu kenapa?”

“Tadi keserempet di jalan, jadinya keseleo. Tapi sudah dibawa ke klinik dan di rontgen untuk memastikan tidak ada yang retak kok, sekarang sudah tidak apa-apa. Bagaimana jadwal mengajarmu?” Yua berusaha mengembalikan pertanyaannya yang belum dijawab Yamada.

“Kebetulan jam mengajarku hari ini masih nanti malam, jadi aku punya beberapa jam luang sebelum pergi ke tempat bimbel.” Yamada masih memandangi kaki Yua sebelum akhirnya mengalihkan pendangannya ke pertandingan yang sedang berlangsung.

“Tumben Yamada-senpai nonton pertandingan basket?” Sebenarnya pertanyaan ini yang paling mengganggu Yua sejak melihat Yamada datang untuk menonton pertandingan, yang mungkin baru pertama kali ini dia saksikan. Selama ini, dunia olahraga Yamada hanya seputar bola dan bola.

“Sebenarnya aku berniat menyeretmu pergi ke tempat bimbel setelah pertandingan berakhir. Karena aku yakin, kamu pasti bolos bimbel hari ini demi melihat pertandingan Mirai-chan.” Yua meringis mendengar penjelasan Yamada.

“Tapi melihat keadaanmu seperti ini, mungkin aku terpaksa pergi sendiri.” Yamada kembali memgarahkan pandangannya ke kaki Yua.

“Ya ampun, senpai. Sekalipun keadaanku tidak seperti ini, aku juga akan menolak ajakanmu membawaku ke tempat bimbel. Karena kami akan merayakan kemenangan tim basket putri sekolah kita malam ini.” Yua menoleh ke arah Jesse meminta dukungan.

“Tentu saja kami tidak akan membiarkan senpai menculik Yua-chan dari kami meskipun kakinya tidak teluka.” Jesse membalas tos Yua, membuat keduanya tersenyum lebar.

“Tashika ni, nee.” Ketiganya tertawa sebelum menyadari kalau pertandingan basket putra telah berakhir dengan kemenangan untuk sekolah Yuto, sesuai prediksi Kaito.

Yua melambaikan tangannya dengan semangat ketika melihat Mirai memasuki lapangan, berharap Mirai menotis keberadaannya, tanpa Yua sadari malah orang lain yang tersenyum ke arahnya.

Pertandingan basket putri sudah berlangsung separuh jalan, ketika Yua sadar ada seorang pemuda berjalan memasuki bangku penonton dan memilih tempat duduk di depannya. Nakajima Yuto.

“Otsukaresama. Omedetou buat kemenangannya.” Yuto memutar separuh badannya, menghadap ke Yua.

“Terima kasih sudah menonton.” Yua masih belum terbiasa melihat senyuman manis yang diberikan Yuto. Rasa-rasanya jantungnya ingin copot setiap kali pemuda itu melakukannya.

“Tidak perlu berterima kasih. Aku datang sudah di menit-menit terakhir kok.” Yua merasa malu mengatakannya, namun tanpa sadar Yua selalu mengatakan hal yang sebenarnya.

“Dia cowok café yang kemarin?” Yamada berbisik di telinga Yua, membuatnya refleks menghindar karena tidak terbiasa.

“Iya, senpai. Itu Umin yang aku ceritakan.” Yua melambai ke arah Kaito yang sekarang berjalan ke arah mereka, ke arah Yuto lebih tepatnya. “Kamu tidak suka kan sama dia?”

“Eh?” Yua heran mengapa Yamada sampai menanyakan hal sepribadi itu. “Tidak perlu dijawab, aku cuma merasa sepertinya dia suka denganmu.”

“Tidak mungkin lah, senpai. Aku sama sekali tidak mengenalnya selain sebagai kakak kelas Umin, begitupun dia. Mana mungkin bisa suka sama orang yang tidak dikenal, kan?” Sebenarnya Yua tidak ingin membahasnya, tapi entah kenapa Yua ingin menenangkan dirinya sendiri, memastikan kalau Yuto tidak benar-benar menyukainya seperti kata Yamada.

“Tapi kamu bisa menyukai Chinen yang tidak kamu kenal.” Tidak hanya telinga Yua sekarang yang panas, wajah dan dadanya mendadak ikut panas mendengar nama Chinen keluar dari mulut Yamada.

Wajah Yua tidak hanya memanas, tapi air mata tiba-tiba saja sudah mengalir di pipinya. Andai saja dia bisa berjalan sendiri, sudah pasti dia akan lari sejauh-jauhnya dari tempat ini. Sambil berusaha menyeka air matanya yang jatuh, Yua mengatur nafasnya agar suaranya tidak bergetar.

Berapa kali pun Yua berusaha mengeluarkan suaranya, tidak ada kata-kata yang terpikir akan dia jelaskan pada Yamada. Membuat keheningan di antara keduanya terasa canggung. Hingga akhirnya sepanjang sisa pertandingan, mereka hanya fokus menyaksikan jalannya pertandingan.

“Omedetou, Mirai-chan! Tidak sia-sia aku meluangkan waktuku untuk melihat pertandingan ini. Tapi sayangnya aku harus segera pergi. Karena satu jam lagi jadwalku mengajar. Selamat bersenang-senang.” Yamada meninggalkan Mirai dan teman-teman tanpa sekalipun melihat ke arah Yua.

“Yamada-senpai kenapa? Bukannya dia datang menonton pertandingan basket demi kamu? Tapi malah pergi tanpa menyapamu seperti itu. Kalian bertengkar?” Mirai membopong Yua, membantunya duduk di bangku ruang klub sambil  menunggunya ganti baju.

“Entahlah. Dia tiba-tiba mengungkit ‘dia yang namanya tak boleh disebut’.”

“Kok bisa?” Yua menceritakan kejadian tentang percakapannya dengan Yuto yang membuat Yamada sampai menanyakan hal yang sifatnya pribadi. Pertanyan-pertanyaan lain dari Mirai membuat Yua menceritakan juga tentang sikap Yamada saat mereka pergi ke mangacafe tempat Yuto bekerja.

“Aku yakin Yamada-senpai menyukaimu. Kamu sendiri bagaimana?” Mirai sekarang sudah berdiri di hadapan Yua, menatap lurus wajah sahabatnya itu.

“Aku menyukainya, tapi selama ini aku hanya menganggapnya sebagai idola. Menurutmu aku harus bagaimana?”

“Aku pribadi gak suka cara dia cemburu sama Yuto, padahal dia belum siapa-siapa dalam hidupmu. Dia juga secara gak langsung membandingkan dirinya sendiri dengan ‘dia yang namanya tak boleh disebut’. Aku takut, dia cuma bakal menyakitimu dengan mengungkit-ungkit masa lalumu. Aku juga ingat ceritamu tentang sifat protektifnya waktu SMP dulu, membuatku khawatir kalau kamu harus berpacaran dengannya.” Yua merenungkan baik-baik setiap perkataan yang diucapkan Mirai.

“Tapi semua aku kembalikan ke perasaanmu. Kalau kamu menyukainya juga, kamu harus siap menerima apapun konsekuensinya.” Yua membalas pandangan Mirai, membiarkan tangan Mirai membelai pipinya, memberi ketenangan.

“Kamu tidak perlu terburu-buru memutuskannya sekarang. Yamada-senpai belum mengungkapkan perasaannya padamu, kan? Jadi tetap bersikap biasalah padanya, sambil memikirkan jawaban apa yang akan kamu berikan saat dia benar-benar mengungkapkan perasaannya.” Mirai membantu Yua berdiri dan keduanya berjalan keluar, menuju teman-temannya yang sudah menunggu untuk melakukan pesta perayaan kemenangan mereka.

*******

“Besok ada festival kembang api, kan? Kalian tidak ingin pergi  bersama untuk melihatnya?” Keito masih sering memanfaatkan kesempatan untuk menggoda Yua dan Hokuto, menjodoh-jodohkan keduanya.

“Mulai deh, sensei.” Hokuto dan Yua sedang membantu Keito mengevaluasi materi-plan mereka di ruang tentor.

“Beneran deh, kalian itu cocok tahu. Yamada-san tolong kemari sebentar.” Yua mendongakkan kepalanya mendengar nama yang disebut Keito, memutar kepalanya menoleh ke arah pintu  masuk. Yamada berjalan ke arah mereka tanpa ekspresi, hanya menunjukkan kelelahannya karena baru selesai mengajar.

“Ada apa, Okamoto-san?” Yamada berjalan lurus ke arah Keito, melewati Yua tanpa melihatnya.

“Coba lihat mereka berdua. Sama-sama manisnya, kan?” Ya ampun, sensei. Kamu bertanya pada orang yang salah. Yua hanya bisa berdoa agar kejadian selanjutnya tidak memperparah hubungannya dengan Yamada.

“Aku harus menjawab apa?” Yua memperhatikan ekspresi kaget di wajah Yamada karena harus menjawab pertanyaan seperti itu.

“Ya ampun, Yamada-san tinggal menjawab setuju atau tidak setuju saja.” Keito terus memaksa Yamada untuk menjawab pertanyaannya. “Setuju.” Yamada menjawab ogah-ogahan.

“Deshou. Mereka itu memang manis banget kalau bersama. Sudah kubilang, kalian jadian aja gih sana. Kita pasti mendukung kok.” Keito menggenggam tangan Yamada, seolah membuatnya sebagai tim pendukung pasangan Hokuto-Yua. Yua bisa melihat ekspresi tidak senang di wajah Yamada dengan jelas.

“Kita tidak ada hubungan apa-apa kok, sensei. Okamoto-sensei saja yang suka menjodoh-jodohkan kita. Iya kan, Ichigo-san?” Hokuto tidak ingin menimbulkan kesalah pahaman untuk Yamada gara-gara ulah Keito. Yua mengangguk mengiyakan dan melanjutkan mengerjakan bagiannya. Lebih baik, cepat selesai, cepat pulang.

“Sensei, aku sudah menyelesaikan bagianku. Aku harus segera pulang.” Yua mengecek jam di ponselnya.

“Aku akan mengantarmu. Tunggu, tinggal satu lembar. Masih setengah 9. Jalan ke rumahmu cuma 15 menit, kan?” Yua mengangguk, mengiyakan tawaran Hokuto.

“Ciyeee, sang pangeran tidak akan membiarkan sang puteri berjalan pulang sendirian.” Keito benar-benar tidak menyerah untuk menggoda Yua dan Hokuto.

“Aku tunggu di depan. Mau beli minuman bentar. Mau nitip?”

“Kopi satu, ini uangnya.” Yua menerima uang dari Hokuto dan berjalan keluar meninggalkan ruangan.

Yua mengambil nafas panjang setelah meneguk strawberry-milk yang dibelinya. “Kamu dekat sekali dengan Matsumura-san?” Yua kaget tiba-tiba Yamada sudah berdiri di sebelahnya.

“Kita hanya teman sekelas, tidak lebih.” Yua tetap memandang lurus kedepan, tidak berani menebak bagaimana ekspresi Yamada saat ini.

“Teman tapi perhatiannya sampai segitunya.” Yua merasakan nada menyindir dari suara Yamada.

“Senpai, aku benar-benar hanya berteman dengan Matsumura-san. Tolong jangan menilai buruk Matsumura-san kalau tidak mengenalnya dengan baik. Dia hanya mengantarku pulang karena Yuu-chan tidak bisa menjemputku seperti biasanya.” Yamada terkejut mendengar suara Yua yang bergetar, hampir menangis.

“Gomen, aku tidak bermaksud. Kumohon jangan menangis.” Yua merasakan tangan Yamada sudah menggenggam tangannya. Merasa tidak enak kalau dilihat orang, Yua melepaskan tangannya dari genggaman Yamada.

“Aku tidak menangis. Lagipula, kenapa aku harus menangis?” Yua berusaha keras menahan suaranya agar tidak bergetar, begitupun air matanya yang sudah hampir keluar.

“Gomen. Aku hanya tidak rela melihat cowok lain lebih perhatian kepadamu. Aku menyukaimu.” Yua tidak menyangka Yamada akan mengungkapkan perasaannya di saat seperti ini. Jujur saja, meskipun dia sudah menyiapkan jawaban yang akan diberikannya bila saat ini tiba, tapi tidak hari ini, dengan cara seperti ini. Benar-benar tidak romantis.

“Aku sudah lama memendamnya. Sejak malam kamu memelukku karena ketakutan saat kita menginap di villa keluarga Morita. Saat kamu tidur di pundakku sepanjang perjalanan menuju villa keluarga Morita. Sejak kamu datang bersama Chinen di pesta perpisahan klub sepak bola. Jauh sebelum itu, setiap kali kamu bersama Yugo mengikutiku sampai ke stasiun, setiap kali kamu datang ke pertandingan bersama Mirai-chan untuk menyemangati tim. Sejak selama itu aku memperhatikanmu dan sadar kalau sebenarnya kamu juga menyukaiku.”

Yua terkejut mendengar pernyataan terakhir Yamada. Jadi sebenarnya Yamada tahu kalau Yua mengidolakannya selama ini? Lalu kenapa dia tidak bilang apa-apa? Yua hanya berani bertanya-tanya dalam hati, karena belum sanggup memalingkan wajahnya untuk memandang wajah Yamada.

“Aku memutuskan akan mengungkapkannya saat upacara kelulusan, tapi aku terlambat. Saat melihat tangan Chinen menggenggam tanganmu dengan penuh kemenangan, aku merasa kalah tanpa sempat bertanding. Kenapa harus Chinen? Aku yakin, kamu sama sekali tidak tahu apa-apa tentangnya saat menerimanya.”

Plak. Tanpa sadar tangan Yua sudah mendarat di pipi pemuda itu, meninggalkan bekas merah di sana. “Gomen.” Yua tidak tahu kenapa dia refleks menampar Yamada.

“Tidak, aku yang seharusnya minta maaf karena mengungkit masa lalumu.” Yua kini berhadapan langsung dengan Yamada, melihat pemuda itu memegangi pipinya yang Yua yakin masih terasa panas.

“Tapi aku ingin kamu tahu, aku benar-benar menyukaimu, hanya kamu.” Yua melihat ketulusan di mata pemuda itu, tapi tetap saja mulutnya terkunci tidak sanggup mengungkapkan sepatah kata pun.

“Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan menunggumu di festival kembang api besok, pukul 7. Aku harap kamu tetap datang, apapun jawabanmu. Mata ashita.” Yamada meninggalkan Yua yang masih berdiri, tidak bergeming di tempatnya. Sampai seseorang menepuk bahunya, menyadarkannya dari lamunan.

“Jangan bengong di pintu, nanti kesambet. Ayo pulang.” Yua mengikuti Hokuto dalam diam, tidak ingin menunjukkan perasaannya yang sedang kacau. Merasa tidak ingin mengganggu pikiran Yua, Hokuto pun hanya menemani Yua dalam diam, sampai meeka tiba di depan rumah Yua.

“Besok mau pergi ke festival kembang api? Sedikit bersenang-senang, untuk melupakan masalahmu, mungkin?” Hokuto bertanya dengan hati-hati, takut kalau kalau ajakannya malah membuat perasaan Yua semakin kacau.

“Terima kasih ajakannya. Mungkin aku akan pergi dengan teman-temanku. Sampai ketemu di sana.” Yua meninggalkan Hokuto, memasuki rumahnya. Hokuto juga langsung pulang setelah memastikan Yua memasuki rumahnya. “Sampai ketemu besok, Ichigo-san.”

Yua merebahkan tubuhnya di tempat tidur, pandangannya menerawang entah kemana. Rasanya, Yua tidak bisa memikirkan apapun, selain kekosongan. Seseorang, bantu aku.

Mirai. Aku harus meminta bantuan Mirai. Yua mengambil ponselnya, lalu menghubungi nomor sahabatnya untuk meminta pertolongan.

ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s