[Multichapter] Desire Or Love? (Chap 9)

Desire or Love?
By: kyomochii
Genre: Friendship, Romance, Drama
Rating: PG-13
Cast: Ichigo Yua (OC), Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro (SixTONES), Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Okamoto Keito (HSJ)
Disclaimer: Semua Cast cowok dalam cerita ini under talent agency Johnny’s & Associates dari berbagai grup yang berbeda, bisa ada, bisa tidak tiap chapternya, tergantung mood author :p
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

“Aku membuatkan catatan untukmu selama kamu tidak masuk. Tidak perlu dikembalikan.” Yua membuka lembar demi lembar buku yang diberikan Hokuto padanya, terheran-heran dengan tulisan Hokuto yang sangat rapi melebihi tulisannya.

“Kamu lebih rajin mencatat ketimbang aku, lebih rapi pula. Terus kenapa masih meminjam catatanku?” Hokuto baru akan menjelaskan, sebelum keburu disambar oleh Shintaro. “Itu namanya modus, Yua-chan! Gimana sih kamu ini!?”

Mendengar penjelasan Shintaro, entah kenapa Yua mengangguk-angguk mulai memahami kenapa Hokuto selalu mencari-cari kesempatan berbicara dengannya. Mulai dari meminjam catatannya, mengajak ke perpustakaan (meski dibatalin), dan mengajaknya untuk merayakan pesta ulang tahunnya. Yua tidak menyangka kalau Hokuto mempunyai perasaan padanya.

“Maaf, Matsumura-san. Tapi aku  belum ada niatan berpacaran sampai ada Universitas yang mau menerimaku sebagai muridnya.” Yua memasang tampang paling memelas yang bisa dia ciptakan.

“Berarti aku juga gak ada kesempatan nih, Yua-chan?” Shintaro akting merajuk di depan Yua, membuatnya membalas dengan ketus, “Gak.”

“Terserah kalian sudah. Aku cuma berniat baik membalas kebaikan yang sudah Ichigo-san lakukan untukku. Tidak lebih.” Yua dan Shintaro saling berpandangan, tahu persis kalau Hokuto mengatakannya setengah hati.

Wajah Hokuto memerah karena menahan malu gara-gara kelakuan Shintaro. Hokuto sudah berjanji kepada Yugo untuk tidak akan mengungkit kejadian malam itu, jadi sebagai gantinya dia membuatkan salinan catatan untuk Yua, sebagai ganti permintaan maafnya. Tapi mendengar penolakan Yua, bahkan sebelum dia menyatakan cinta, rasanya benar-benar memalukan.

Lagian aku gak ada rencana menyatakan cinta padanya kok, gak akan pernah. Hokuto memperhatikan Yua yang masih membolak-balikkan salinan catatan pemberiannya. Membayangkan bagaimana perasaan gadis itu saat ini. Apakah dia masih terguncang gara-gara kejadian malam itu? Tapi melihat senyum Yua saat menyapa teman-teman yang masuk ke kelas, membuatnya tidak menyesal karena tidak menanyakan tentang kejadian malam itu pada Yua.

“Biarkan dia tersenyum di hadapan teman-temannya seperti yang dia inginkan.” Hokuto mengulang kata-kata yang pernah diucapkan Yugo saat terakhir kali mereka bertemu. Teruslah tersenyum, Ichigo-san.

********

“Mulai minggu depan akan ada guru praktek yang mengajar di tempat bimbel kita. Silahkan perkenalkan diri kalian.”

“Terima kasih untuk waktunya. Perkenalkan nama saya Okamoto Keito, spesialisasi mata pelajaran bahasa inggris. Yoroshiku onegaishimasu.” Keito mempersilahkan Yamada untuk giliran selanjutnya.

“Terima kasih, Okamoto-san. Perkenalkan nama saya Yamada Ryosuke, spesialisasi mata pelajaran Fisika. Yoroshiku onegaishimasu.” Panjang dan bentuk perkenalan yang sama, namun reaksi berbeda dari seisi ruangan. Yamada-senpai selalu mempunyai kharisma untuk menarik perhatian orang di sekitarnya. Yua duduk di bangku paling depan, membuat Yua mudah dinotis oleh Yamada-senpai yang tersenyum ke arahnya di akhir pertemuan perkenalan mereka.

“Yua-chan mau langsung pulang?” Yua melihat Yamada berjalan cepat menuju ke arahnya, berusaha mensejajari langkahnya.

“Belum, sih. Sebenarnya aku  mau mampir ke suatu tempat dulu. Yamada-senpai mau langsung pulang?”

“Iya, ini kan jalan ke arah stasiun.” Sebenarnya Yua masih merasa canggung jalan berdua saja dengan Yamada, karena biasanya selalu bertiga dengan Yugo. Namun karena tujuan mereka satu arah, tidak mungkin tiba-tiba Yua memutar arah dan sengaja meninggalkan Yamada.

“Kamu mau ke café ini? Aku sedang tidak terburu-buru sih. Apa aku boleh masuk bersamamu?” Memangnya Yua memiliki pilihan untuk menolak tawaran Yamada, setelah keduanya sekarang sudah berada tepat di depan sebuah café?

“Irrashaimase, meja untuk dua orang? Silahkan lewat sini.” Yua dan Yamada tidak ada pilihan selain mengikuti pelayan, karena tempat itu sedang sangat penuh.

“Aku akan datang lagi untuk mencatat pesanan Anda.” Pelayan itu meninggalkan mereka setelah meletakkan buku menu di atas meja. Yamada masih sibuk memilih menu ketika Yua sudah memanggil pelayan lain menuju ke arah meja mereka.

“Ohisashiburi, Ichigo-san. Sudah menentukan pesanannya?” Yuto tersenyum sangat lebar saat mengetahui siapa pelanggan yang memanggilnya.

“Pesanan yang sama?” Yua mengangguk, mengiyakan. Yuto menggoreskan penanya di atas kertas pesanan, masih mengingat dengan jelas pesanan yang dibuat Yua saat terakhir kali datang ke café itu.

“Strawberry crepes ukuran jumbo dan strawberry milkshake gelas sedang. Ada lagi?” Yuto menanyakan pesanan Yamada.

“Sama saja kalau begitu.” Yuto kembali ke counter pegawai untuk menyerahkan pesanan Yua dan Yamada.

“Kamu sering ke sini?” Yamada bertanya pada Yua begitu Yuto sudah pergi. “Baru dua kali ini.”

“Tapi kamu kelihatan sudah akrab sekali dengan pegawainya, bahkan dia mengingat pesanan terakhirmu dengan baik.” Yamada bertanya seolah-olah tidak suka dengan kedekatan Yua dan Yuto.

“Oh, Yuto-san? Dia itu senpainya kouhaiku, Umin. Umin masih anak tahun pertama, jadi Yamada-senpai mungkin tidak mengenalnya. Dia yang pertama kali mengajakku ke café ini.”

“Seperti biasa kamu memang sangat populer di kalangan adik tingkat ya.” Yua merasakan pipinya memanas. Untuk pertama kali seumur hidupnya, akhirnya Yua merasakan bagaimana rasanya mendengar pujian dari mulut sang idola.

“Tidak cukup populer untuk mengalahkan kepopuleran Yamada-senpai tentunya.” Yamada tertawa mendengar balasan Yua.

“Kalau saja aku bukan anak sepak bola, mungkin aku tidak akan sepopuler sekarang. Aku anaknya clumsy banget aslinya.” Yua teringat cerita tentang Yamada yang berusaha bunuh diri hanya karena diputuskan cinta monyetnya. Mungkin benar, sebenarnya Yamada tidak secharming yang dia bayangkan selama ini. Kalau saja dia bukan bintang sepak bola, mungkin Yua juga tidak akan menyukainya.

“Tashika ni.” Ups, Yua keceplosan menggumamkannya cukup keras, membuat Yamada mendelik sekilas ke arahnya, lalu tertawa.

“Yua-chan memang selalu jujur ya. Tapi itu kenapa aku suka Yua-chan.” Eh, suka? Sebagai kouhai kan? Seperti Kaito menyukainya sebagai senpai. Iya, pasti.

Yua memang menyukai Yamada sebagai idola, tapi untuk menumbuhkan rasa suka yang sebenarnya, Yua tidak pernah berani memikirkannya. “Arigatou gozaimasu.” Yua menganggap itu sebagai pujian kedua Yamada untuknya hari ini.

Pada akhirnya, rencana Yua untuk menghabiskan waktu membaca manga sepuasnya, terpaksa batal. Setelah cukup lama mengobrol dengan Yamada di café, Yua menemani Yamada hingga depan stasiun..

“Sampai ketemu hari senin, Yua-chan.” Yua membalas lambaian tangan Yamada sampai sosok Yamada benar-benar menghilang dari pandangannya. Yua mengeluarkan ponselnya, memastikan dia masih punya cukup banyak waktu sebelum jam 10. Dilihatnya ada sebuah pesan, dari Hokuto.

From: Matsumura Hokuto
Kamu sudah sampai rumah?
Sudah malam.

Sudah beberapa hari, meskipun tidak setiap hari, Hokuto rajin mengingatkan Yua untuk sudah di rumah sebelum larut malam. Yua tidak mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan pemuda itu. Tapi entah kenapa, Yua senang merasakannya.

********

“Hasil ujian kalian hari ini akan aku umumkan secara personal melalui email, jadi tolong tuliskan alamat email kalian dengan benar di kertas yang sudah aku bagikan ya.” Keito mengakhiri kelas pertamanya dengan cukup lancar.

“Bilang saja sensei mau modus buat dapetin alamat email murid-murid cewek yang cantik, kan?” Shintaro terkekeh dari bangkunya disambut gelak tawa seisi kelas.

“Yasudah kalau begitu, apa perlu aku tempelkan saja hasil kalian di papan pengumuman?” Keito menanggapi godaan Shintaro dengan balas menggodanya.

“Kenapa sensei tidak membagikan kembali kertas hasil ujian kami saja? Biasanya juga begitu.” Hokuto mewakili suara teman-teman sekelasnya, yang sebenarnya merasa enggan membagikan alamat email mereka kepada orang asing.

“Aku sudah mendapat ijin dari pihak manajemen ‘Jenius’ untuk menyimpan hasil ujian kalian sebagai arsip laporan hasil praktekku. Aku memerlukan beberapa lembar, salah satunya, ujian pertama yang aku selenggarakan ini. Jadi, mohon pengertiannya.”

Setelah mendengar penjelasan Keito, dengan terpaksa mereka menuliskan alamat email masing-masing di selebaran kertas lalu mengembalikannya ke Keito.

“Otsukaresama deshita, mata ashita.” Keito meninggalkan ruang kelas yang isinya sudah siap untuk menyembur keluar ruangan.

Belum ada 30 menit, Yua meninggalkan gedung tempatnya bimbel, dia sudah menerima pesan dari Keito.

From: Okamoto Keito
Omedetou \(^o^)/
Nilai sempurna untuk Ichigo Yua.
You’re the best.
Keep spirit!!
~Okamoto-sensei~

Sumpah cepet banget! Atau memang masih punyaku saja yang sudah selesai dikoreksi? Sepertinya menyenangkan kalau punya teman yang jago bahasa inggris. Tanpa pikir panjang, Yua membalas pesan Keito agar bisa memberikan kesan baik di mata guru prakteknya itu.

From: Ichigo Yua
Thank you so much, sir ^^
Hai, ganbarimasu \(^o^)/

Anak yang menyenangkan. Keito menutup ponselnya setelah membaca pesan balasan Yua. Dari 20 anak yang dikiriminya email, hanya 2 orang yang membalas, Matsumura Hokuto dan Ichigo Yua. Meskipun hasil ujian mereka menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan, namun tidak dipungkiri kalau keduanya lah yang mendapatkan skor tertinggi dalam ujian pertama yang diadakan olehnya.

Aku tidak menyangka kemampuan bahasa inggris mereka sangat parah. Apalagi si Morimoto Shintaro hanya bisa menjawab 2 pertanyaan dengan benar dari 20 soal yang kuberikan. Sepertinya aku harus bekerja lebih giat lagi.

**********

“Serius kamu mendapatkan nilai sempurna? Bahkan tanpa belajar sebelumnya?” Hokuto tidak hentinya berdecak kagum, setelah melihat pesan Keito di layar ponsel Yua.

“Sebenarnya aku sudah pernah mengerjakan soal yang diberikan Okamoto-sensei. Bukannya bermaksud curang, tapi soal-soal yang diberikan persis dengan soal yang pernah aku pakai buat latihan.” Yua mengeluarkan sebuah buku contoh soal-soal masuk perguruan tinggi yang dimilikinya.

“Soal-soal itu diambil acak dari buku ini. Untung saja aku sudah selesai mengerjakan bagian bahasa inggrisnya semua.” Hokuto tidak tahu harus berkomentar apa lagi.

“Pantas saja nilai kalian paling tinggi di ujian pertamaku. Kalian sering belajar bareng?” Hokuto sedikit terperosok dari tempatnya duduk, kehilangan keseimbangan karena kaget, mendadak Keito muncul dan menepuk bahunya.

“Ya ampun, Okamoto-sensei. Untung aku tidak punya penyakit jantung.” Hokuto mengelus dadanya, sedikit hiperbola.

“Makanya duduk itu yang benar. Itu kursi buat diduduki, bukan buat pajangan. Jangan malah duduk di bagian mejanya.” Hokuto meringis mendengar teguran Keito, memamerkan gigi taringnya yang membuatnya tampak sangat manis.

“Ngomong-ngomong, kalau diperhatikan baik-baik, wajah kalian itu mirip ya?” Keito menamatkan wajah Yua dan Hokuto bergantian, lalu mengangguk-angguk. Sedangkan orang yang dibicarakan malah saling berpandangan, tidak percaya.

“Butuh cermin?” Yua mengeluarkan pocket-mirror miliknya dan memandang ke cermin bersamaan dengan Hokuto. Memandang wajah mereka berdua bersamaan di cermin, Yua dan Hokuto malah tertawa terbahak-bahak.

“Mirip apaan sih, sensei? Masa’ wajahku disama-samain sama pipi bakpau kayak gini?” Hokuto menangkupkan kedua tangannya ke pipi Yua, nyaris mencubitnya.

“Terima kasih atas pujiannya. Lagian, siapa juga yang mau disama-samain sama wajah sok ero kayak gitu.” Yua menyingkirkan tangan Hokuto dari pipinya, tepat sebelum pemuda itu berhasil mencubitnya.

“Sudah sudah, jangan bertengkar. Nanti beneran suka lho.” Melihat reaksi Yua dan Hokuto membuat Keito semakin ingin menggoda keduanya.

“Gak mungkin!” Yua dan Hokuto membalas nyaris bersamaan. “Tuh kan, jawabnya saja sudah kompakan.” Keito tertawa puas karena bisa mengerjai murid-muridnya.

“Sudah dong, sensei. Jangan bercanda mulu. Sebentar lagi sudah masuk jam pelajaran selanjutnya lho. Sensei ada perlu dengan kita?” Hokuto sebenarnya tidak yakin Keito memiliki perlu dengannya, tapi tidak enak kalau langsung menanyakan sesuai ekspektasi si penjawab.

“Sebenarnya aku ingin meminta bantuan Ichigo-san.” Sesuai dengan dugaan Hokuto.

“Eh, aku sensei?” Jujur saja, Yua tidak tahu apa yang bisa dia lakukan untuk membantu Keito.

“Aku lihat, kamu sangat jago di bahasa inggris. Kamu tahu kan, sebenarnya aku juga masih dalam proses pembelajaran?” Yua menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa sungkan dipuji oleh orang yang lebih jago darinya.

“Aku memerlukan bantuanmu untuk membuat materi yang harus aku sampaikan di kelas ini agar lebih efektif. Materi yang ingin dipelajari dari sudut pandang murid tanpa mengurangi substansi yang harus diberikan.” Sebenarnya Yua masih belum terlalu paham dengan maksud Keito, tapi dia mengangguk mengiyakan karena merasa tidak enak.

“Tapi apa Matsumura-san boleh ikut membantu juga?” Hokuto kaget mendengar namanya keluar dari mulut Yua. Tangannya mengepal dengan ibu jari mengarah ke dadanya, memandang tak yakin ke arah Yua, mengisyaratkan pertanyaan, ‘Aku juga?’

“Aku akan menerima bantuan dari kalian berdua dengan senang hati.”

“Kenapa bawa-bawa aku? Aku kan tidak sejago kamu.” Hokuto protes setelah Keito meninggalkan mereka kembali berdua.

“Kok protesnya baru sekarang?” Yua tersenyum jahil, menggoda Hokuto.

“Kan tidak enak kalau harus menolak permintaan guru. Lagian, dari awal harusnya aku tidak perlu menolak kalau saja tidak dilibatkan.” Hokuto menggerutu kesal.

“Sebenarnya aku kurang paham maksud Okamoto-sensei, jadi aku memerlukanmu karena sepertinya kamu lebih paham ketimbang aku. Terlebih lagi, aku tidak mau kalau harus sering-sering berduaan dengan cowok yang tidak aku kenal.” Yua memasang wajah memelas, berusaha membuat hati Hokuto luluh. “Terserah kamu saja.”

“Ciyeeee, yang berdua-duaan terus. Kalian sudah jadian ya?” Shintaro masuk kelas, menghampiri Yua dan Hokuto sambil membawa sisa nanas bekunya. Hokuto tidak menggubris Shintaro dan kembali ke bangkunya begitu saja.

“Dia kenapa? Kalian marahan? Padahal baru jadian.” Shintaro berhasil menghabiskan sisa nanas beku dalam sekali lahap, membuatnya memenuhi mulutnya sekarang.

“Mungkin lagi PMS. Dan juga, kita tidak jadian.” Yua mengeluarkan buku catatan untuk pelajaran selanjutnya.

“Berarti aku masih punya kesempatan?” Yua mendelik ke arah Shintaro sebagai jawaban atas pertanyaannya. Sambil terkikik, Shintaro terpaksa kembali ke bangkunya karena bel pelajaran selanjutnya sudah berbunyi.

ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s