[Minichapter] Attraction (Chap 3) -END

ATTRACTION
by. NadiaMiki, Devan, Vero
Genre: Fantasy, Action, Horror, Thrill
Type: Minichapter.
Chapter: 3 (last)
Fandom: HSJ, HKT48
Cast : Yamada Ryosuke (HSJ), Chinen Yuri (HSJ), Murashige Anna (HKT48), Tanaka Natsumi, Takaki Yuya (HSJ), Sato Shori (Sexy Zone)

1472769164759

“Rumah sampah itu berada di suatu daerah di Tokyo, tapi setauku daerah itu adalah pembuangan sampah Anna langsung mengeluarkan chip dan membuka sebuah tablet. “Ryosuke, keluarkan aura vampire mu”

Pinta Anna, setelah Ryosuke mengeluarkan aura nya, Anna langsung menyerap nya dan memindahkan ke dalam tablet canggihnya.

Selang beberapa detik dalam keheningan. “Mi~tsuketa!” Anna tertawa kemudian berdiri dan menunjukkan tablet nya.

“Sesuai dugaanku, makhluk ini hidup di tempat pembuanganiie, tepatnya di alam lain dalam alam yang berbeda. Dan pintu masuknya ada di tempat pembuangan sampah itu. Cih sampah” jelas Anna.

“Kita tak bisa kesana tanpa aura vampire dan demon Ryosuke. kita juga belum tau bagaimana keadaan disana. Jadi sebaiknya kita menyusun rencana dan berlatih untuk memperkuat skill dan mental kita” sambung Anna.

Chinen mengangguk “sebaiknya sekarang aku pulang dulu, aku akan membawa banyak tegangan listrik dan aku akan mengisi kekuatan ku dulu”

setelah berpamitan, Chinen langsung terbang menuju rumahtepatnya seperti toko elektronik di sana karena banyak sekali benda-benda yang berhubungan dengan listrik, bahkan energi matahari.

Chinen masuk dan langsung menyambungkan beberapa jenis kabel menjadikannya satu, setelah itu ia tempelkan di tubuhnya. Chinen terduduk diam sambil memejamkan mata menunggu energy itu masuk ke tubuh Chinen.

Sehingga kini tubuh Chinen berubah menjadi biru laut, begitu juga matanya saat ia membuka mata. Karena hal itu, Chinen bisa menghilang dan tubuhnya akan menyerupai petir kecil. Blitz.

Setelah di rasanya cukup Chinen kembali terbang dengan membawa berbagai macam alat, dan kabel untuk cadangan membuat kolaborasi bersama Ryosuke dan Anna.

Ketika sampai, ia merubah dirinya menjaadi blitz, sukses mambuat kedua temannya terkejut.

“Hahahaha” Chinen tertawa melihat ekspresi temannya, dan kembali berwujud manusia. “Ini aku…” Kata Chinen.

Ketiga sekawan ini berpidah, untuk mempersiapkan skill masing masing dan apa yg mereka butuhkan. Lalu kembali, berkumpul di depan sekolah.

Chinen membuat mereka terkejut tengil memang tingkahnya, sama sekali tak bisa diam. Sebuah jitakan ryosuke sukses mendarat di kepalanya.

 

“Kau sudah siap Anna? Apa yg kau bawa?”

Kesiapan Chinen tak lagi perlu dipertanyakan. Ia sudah lebih dari fit untuk melakukan hal sejail tadi.

Mendengar beberapa fungsi alat perang anna yg berupa chip, Ryosuke menjadi semakin yakin. Ia sama sekali tak rugi berada dalam formasi kelompok seperti ini. Kesiapan dirinya sendiri, telah mengembangkan racun dalam hitungan detik yang dapat menewaskan puluhan ekor gajah sekalipun. Dan dapat memulihkan luka dalam jangka waktu cepat.

“Hora”

Laki laki ini menyayat lengannya sendiri dengan duri mawar beracun dari salah satu tangannya. Dan luka sayat lebar itu dengan cepat menguap dan kembali merapat. Salah satu yg berhasil ia kembangkantepatnya ia ambil kemampuan itu dari salah satu atas 47 wanita yg kemsrin menyekap anna. Teknik pencurian kemampuan.

Oke, kali ini mereka berpikir.

Pintu masuk utama ke dunia yg berbeda itu hanya satu. Tentu mereka tak ingin dengan begitu cerobohnya masuk bertiga kemudian terperangkaptak ada yang bisa keluar.

Semua harus di perhitungkan dengan matang.

“Kita masuk satu demi satu, namun dalam jangka waktu panjang.”

Ryosuke membuka peta dalam tab Anna, “pinjam sebentar.” dan memejamkan matamenyalurkan energi vampire nya untuk mempertajam kemampuan melacak Monsterism alat milik Annamembaca alur jalur masuk pintu tak terlihat itu. Dan apa saja di dalamnya.

“Luar biasa seperti labirin, juga goa.” Takjub Chinen melihat detail kerangka denah medan perang itu.

Mulai menganalisa lagi, “jadi, waktu kita satu hari penuh. Ada pagi, siang dan malam. Dibagi 3.” Menjelaskan gelombang pengintaiannya.

“Baiklah, aku akan masuk pertama untuk melacak tempat itu dan menaruh beberapa chip disana” kata Anna seraya memasukan semua chip nya kedalam sebuah ikat pinggang dengan warna hitam, senada dengan rok sekolah nya.

“Akan kuberi sinyal pada kalian jika Aku berada dalam bahaya” ucapnya lagi.

“Tapi sebelum itu, kita harus melatih kemampuan bersama sama” timpa Yuri. “kita tak bisa masuk kesana tanpa persiapan yang benar benar lengkap” lanjutnya lagi.

Akhirnya, ketiga prajurit itu pergi ke rumahlaboratorium Anna, dimana ia bisa menjadikan tempat itu sebagai apapun, tempat latihan bagi para dewa seperti mereka bertiga bahkan bisa dibuat oleh Anna.

Anna membuat sebuah arena dimana terdapat ribuanbahkan jutaan bunga mawar, dan juga listrik.

“Bagus Anna” Chinen terbang, mencoba untuk menghisap semua aliran listrik itu ke tubuhnya, sebuah petir tiba-tiba datangitu akibat dari tubuh Chinen.

Matanya seketika terbuka, dan aliran listrik itu langsung ia masukan ke seluruh mawar yang ada di sana, tanpa satupun yang terlewatkan, seketika mawar itu sedikit ada cahaya biru tapi dengan cepat Chinen sembunyikan dan ia jadikan jika di pegang oleh Yamada atau Anna mereka tidak akan kesetrum.

Tangan Chinen membentuk lingkaran, ketika itu keluarlah sebuah gambar illumination dari tangannya. Menangkupkan tangan, dan mengarahkannya ke mawar-mawar itu.

“Dengan begini, jika Ryosuke melemparkan mawar ini ke monster tersebut, ia akan tersengat tanpa ampun”

Sedangkan Ryosuke sibuk dengan kekuatan vampirenya, ia menghamburkan banyak racun di dalam mawar tersebut.

“Oi Chinen! Apa yang kau lakukan” Seru Yamada, karena seketika duri-duri dari mawar itu melayang dengan kendali Chinen dan menghilang terhisap dalam dua telapak tangan Chinen.

“Kau bisa lihat nanti” Chinen menyeringai, sayapnya semakin membesar.

“Aku akan masuk saat malam hari, dan aku akan menyerangnya dari atas kalian sudah tahu kan kekuatan ku yang baru?” Chinen membuat senyuman smirk nya, melirik ke arah ryosuke dan juga Anna. Mereka ngangguk mengerti.

Selagi Chinen mengisi tenanganya Anna sibuk dengan chip dan beberapa alat miliknya yang Chinen tidak ketahui.

“Ini” anna melemparkan sebuah Chip ke arah Chinen, dan langsung ditangkap “jika kau kehabisan tenaga telan saja chip itu. Tegangan listriknya sangat tinggi maka kau tidak akan kekurangan energy” ujar Anna, Chinen tersenyum manis.

“Arigatou na” Chinen mengenggamnya, dalam sekejap, chip itu hilang.

Tenang chip itu tidak benar-benar hilang.

Mendengarkan setiap rekannya beraksi akan kemampuan mereka ia yakin dengan pertimbangan masing masing individu di hadapannya kini, Ryosuke kembali menganalisis.

Sebisa mungkin ia ingin kelebihannya dapat menjadi penutup kelemahan kedua temannya.

Anna yg menjadi pengintai pertama, pagi hari.

“Kemarilah.” Ucap Ryosuke singkat pada Anna, seraya mengumpulkan energi pada dalam setiap hembusan napasnya.

Ryosuke menjangkau tangan Anna dan memegangnya. Memanjangkan lengan gadis ini. Mengambil napas dalam dalammencoba mentransfer kekuatan baru nya dalam aliran tangan yg menjalari lengan Annayaitu bisa memulihkan luka dalam sekejap.

“Dengan begini kau aman.” Kemudian kembali berpikir dan teringat akan sesuatu.

Pemuda ini meyatukan ratusan mawar di tempat latihan yang mereka pijaki. Memecahnya menjadi ribuan kelopak bunga hingga irisan terkecil berputar putar mengelilingi mereka bertiga, hingga akhirnya seketika mawar itu lenyap.

“Mereka sudah menyusupi tiap inchi chip mu, menyelimuti secara tak terlihat. Dengan begitu chip mu akan tahan air dan lebih mudah di kendalikan.”

Ternyata itu yg dilakukan pria inidia akhiri dengan senyuman.

“Ganbatte ne.” Menepuk kepala adik kelasnya itu, ringan.

Benar benar sosok pemimpin yg mengaggumkan, sukses ia perlihatkan.

Dengan begini Anna akan lebih aman dalam pengintaiannya.

“Kita tetap disini dan berjaga, juga mempertajam insting telepati kita. Pada apapun itu bentuk sinyalnya dari anna.”

Permintaan Ryosuke, pada rekan pria nya.

Kini hanya tinggal Chinen dan Ryosuke dalam tempat latihan ini. Gadis itu melejit secepat cahaya bersama skate andalan nya.

Anna menghela napas panjang sebelum masuk kedalam permainan yang mengasyikan. Ia memang selalu siap. Satu satunya cara agar ia dapat masuk ke dalam dimensi itu adalah dengan menjilat darahnya sendiri.

Akhirnya Anna menggigit lengannya hingga berdarah. Dijilatnyabahkan dihisapnya darah itu sebelum lukanya membaik. Dan seketika, ia menghilang ke dimensi lain yang gelap dan penuh api, bagaikan neraka.

Anna mulai berjalan, kesana dan kemari. Tak lupa ka meletakkan chip chip di setiap tempat yang ia lewati. Kemudian menyambungkan telepatinya dengan kedua temannya itu, ia menyampaikan kalau ia baik baik saja dan belum menemukan apapun. Telepatinya terus tersambung pada Ryosuke dan Chinen.

Setelah berjalan beberapa langkah, Anna mendengar derap kaki mendekat ke arahnya. Tapi ketika ia menunggu, hanya langkah kaki yang terdengar, tak ada orang disana. Ia menyampaikan kalau makhluk disini tak terlihat. Manusia seperti Anna dan teman temannya hanya dapat mendengarkan langkah kaki.

Chinen menatap Ryosuke saat mendengar kata-kata Anna, dengan seperti ini ia harus berubah menjadi blitz ketika menyerang.

“Ryosuke!” Rekannya menoleh ketika Chinen memanggil, melihat isyarat dari Chinen agar mendekat sedetik kemudian Ryosuke terkejut karena Chinen menyengat dadanya, dahi Ryosuke mengkerut tidak suka.

“Kau ingat kata-kata ku? Berpurah-puralah kau menjadi lemah saat di hadapan matahari, sentuh dada mu dan kau akan terlihat gosong, tenang hanya fisik diri mu tidak akan benar-benar hangus” kata Chinen menjelaskan  maksudnya melakukan hal tadi.

“Jadi begitu,” Yamada meraih kaki Chinen yang masih terbang, lalu menariknya sehingga Chinen menapakan kakinya ke lantai dan sayapnya lenyap.

Tangan Ryosuke berganti mengenggam tangan Chinen, lalu memejamkan mata “berikan aliran listrik mu sedikit untukku, dan aku akan memberikan racun ku ke dirimu” Chinen menyeringai, lalu Chinen ikut memejamkan mata.

Keduanya saling mentransfer energy masing-masing sesuai kemampuan mereka, petir mulai menggema di ruangan itu, dan juga kelopak bunga mawar mengelilingi mereka. Hingga akhirnya keduanya pecah. Mata mereka kembali terbuka.

Siang sudah mulai datang, kini saatnya Ryosuke yang datang ke sana “Ryosuke hati-hati ya” pria vampire itu mengangguk lalu menghilang dalam sekejap.

“Anna, Ryosuke akan segera datang” ucap Chinen memberi tahu Anna dari sambungan telepatinya.

Selesai mendapat transfer energi baru kini Ryosuke mulai menyukainya. Memainkan sengatan listrik pada jari nya satu sama lain. terlihat kepulan asap kecil. “Menyenangkan” desis nya.

Pria ini membuka telepati dengan Anna di dalam sana.

“Kau bisa dengar aku? sebentar lagi ku menuju kesana. Kau mau berputar balik atau meneruskan penelusuran?” Menunggu jawaban rekannya, namun ternyata sinyal suara di dalam tak cukup kuat untuk menembus keluar.

Semakin dalam tampak semakin sulit. Layaknya lorong hampa energi, tak dapat merambat kekuatan apapun menjangkau dunia luar.

Ryosuke menganalisa itu. “Kalau kau bisa dengar ini, dan merasa situasi tak memungkinkan, keluar lah”

Siap dengan mental dan skill nya, half bloody ini melangkah. Menghilangkan keberadaannya “biar aku yang melanjutkan.”

Sesuai laporan Anna, didalam sini cukup kelam. Jutaan emosi manusia yang dapat disalurkan, segala amarah dan kekecewaan bergemuruh di insting Ryosuke yang mudah peka akan emosi.

Amarah dan kedengkian ini menambah kesan gelap pada lorong yang ia lewatilorong ini pun tampak mengambang diantara semuanya.

Seperti anti grafitasi. Kanan dan kiri, atas maupun bawah. Hingga kedepan, mata hanya memandang kegelapan. Beruntung sempat Chinen berikan kekuatan listriknya. Jemari kekar pria ini mengeluarkan percikan cahaya.

Aroma mawar menuntunnya ke tempat tanpa jalan buntu. Laki laki ini melangkah dengan percaya diri. Yang dirasakan Anna semakin dalam disini bukanlah makhluk tak kasat mata.

“Begitu rupanya.” Senyum Ryosuke mengerti.

Ternyata disini penuh roh jahat manusia yang mencari celah untuk merasuki mangsanya sebagai tempat singgah baru.

Beruntung Anna bukan manusia biasa, seperti cyborg. Ia tak punya celah untuk dirasuki. Jawaban monster yg tak terlihat, dan merasuki tiap siswa di SMA Demon mulai terpecahkan.

“Ternyata dedemitnya berasal dari lorong dimensi ini.”

Melanjutkan langkahnya, tanpa sengaja melihat kawah raksasa seukuran planet. Dan disana ia menemukan rekannya.

Baru saja Anna ingin melangkah lagi, Ryosuke sudah menepuk bahunya. “apa yang” belum sempat melanjutkan kalimatnya, mulut Ryosuke sudah dibungkam oleh tangan halus Anna.

“Diamlah, aku menemukan sesuatu. Lihat disana” kata Anna dalam telepatinyakemudian menunjuk ke arah sebuah singgasana mewah yang dipenuhi tengkorak dan juga api.

Disana duduklah seorang pria yang bisa dibilang seukuran Yuritidak, lebih tinggi dari itu.

“Itu Sato Shori” Yamada kembali berbicara dalam pikirannya.

Beberapa detik, Anna dan Ryosuke saling menatap–menandakan kalau permainan akan segera dimulai.

“Yuri, datanglah ketika aku suruh. Jangan datang sesuai rencana” pinta Ryosuke pada yuri melewati telepati. Tentu saja Anna bisa mendengarnya.

“Apa yang kau tunggu? Menghilanglah” kini Anna sedikit memerintah Ryosukebermaksud agar ia bisa mengecoh sang demon.

Chinen mengangguk setelah mendengar perintah Ryosuke dari telepati, sembari itu Chinen memikirkan caranya agar bisa masuk ke alam sana.

Untung saja ia sempat mengambil beberapa duri dari mawar milik Yamada, jari Chinen menjentik dan keluarlah beberapa duri itu, senyum manisnya mengembang dan ia kembali mengenggamnyarencanya sudah tersusun rapi.

Chinen kembali menerima telepati dari Ryosuke “kemarilah, tapi kau harus terus kebawah hingga menemukan goa. Hati-hati selama perjalanan” Chinen mengangguk,

Kembali mengeluarkan duri itu dan melukai dirinya sendiri.

Yap, kini ia sudah berada di alam yang berbeda untuk menyusul Ryosuke dan Anna, Chinen terus menghubungi Yamada dan Anna meskipun sedikit kesusahan.

Saat menemukan mereka, Chinen langsung berubah menjadi blitz di hadapan keduanya, mereka mengerti dan Chinen langsung melesat ke atas, menyerang dari sana.

“Bagaimana? Apa yang sedang dia lakukan?” Tanya Chinen kepada dua rekannya melalui telepati.

“Dia mulai menghilang!” Seru Anna, jari Chinen menjentik, mengeluarkan sebuah alat tipis yang hanya bisa ia gunakan, alat itu gunanya untuk melihat makhluk halus termasuk monster itu.

“Aku mendapatkannya, awas ada di dekat mu, Ryosuke” Chinen memperingartkan.

“Dengarkan kata-kata ku, aku bisa melihatnya dari sini” ujar Chinen lagi.

Sepertinya pengintaian tak lagi dilakukankini berubah menjadi pertarungan.

Sulit memang, lawan yang di hadapi kerap kali menghilang. Menerka keberadaannya bukan pekerjaan mudah.

Ryosuke mempertajam insting buasnya. Mencoba menghayati setiap perubahan hati yg terjadi di sekelilingnya. Gerak gerik aura monster diantara kehampaan ini.

Mereka bertiga berpencar turun kedalam kawah raksasa itudimana sang demon telah menyadari keberadaan mereka. Berpencar membentuk segitiga untuk mengepung, dalam jarak jauh.

Anna terbang dengan skate nya, Yuri menggunakan sayap dari sudut lain. Dan Ryosuke mulai turun menghadapinya secara langsung.

Drap.

Lompat pria ini dari ketinggian, lalu mendekat kearah singgasana monster itu. Licik memang, sang aura hitam yg dihadapi tampak memanfaatkan raga Shori mati matian, hingga menjadi pucat pasi. Tak ada lagi hangat kehidupan seorang manusia di tubuhnya.

“Kau.” Berjalan mendekat. “Keluar lah.”

Menantang monster itu dihadapan mata. Yang ingin ia tahu kemampuannya sepertinya cukup besar memang.

Anna mulai melakukan serangan, kali ini dengan busur dan anak panah beracun dan penuh aliran listrik ia tembakan kearah makhluk yang sedang ditangani Ryosuke.

Tiba tiba dari arah jauh, sekelebat kabut hitam dengan cepat melesat ke arah Ryosuke. “ooii!!” Reflek, Anna menarik tubuh Ryosuke ke udara.

Betapa kagetnya saat mereka melihat kabut hitam itu benar benar menjadi sebuah bendaiie, tepatnya monster. Takaki yuya.

Kabut hitam lainnya datang mendekati Yuri, tapi untungnya kecepatan Yuri sudah melebihi kecepatan cahaya dan berhasil menghindar.

Sekelebat kabut itu kini berubah menjadi monster lainnya, Tanaka Natsumi

“Ck kuso!”

Kekuatan racun dari Ryosuke, ia kumpulkan dengan kekuatan listrik, hingga menjadi sebuah bundaran kecil. Dengan cepat ia tembakan bulatan itu ke monster bewujud Takaki Yuya tersebut.

Tapi gagal.

“Anna! Tembakan panah mu, Ryosuke, tebarkan kelopak bunga mu” pinta Chinen melalu telepati, dengan segera mereka menurut apa kata Chinen.

Menyerang ketiganya dengan cara itu. Tapi lagi-lagi gagal, mereka mudah sekali menghilang.

Seketika keheningan terjadi, cahaya menjadi sangat terang dan begitu damai, mereka bertiga mendongak ingin mengetahui apa yang terjadi. Tapi, tiba-tiba saja sebuah cahaya Matahari datang, memantulakannya tepat ke arah Ryosuke.

“Ryosuke ingat kata-kata ku!” Mengangguk, lalu ia dengan cepat memegang dadanya. Tubuh Ryosuke seketika berubah menjadi hitam legamgosong terbakar.

Anna menatap Chinen dengan kesal dan heran “tenang, itu hanya buatan” ucap Chinen menenangkan.

Tak lama, kabut hitam kembali datang, dan Shori mendekat ke tubuh Ryosuke yang lemah tepatnya itu hanya akting.

Saat dilihatnya Shori sudah sangat dekat dengan Ryosuke, Chinen langsung berteriak.

“Anna sekarang!” Dengan cepat keduanya langsung menyerang Shori, Anna menembakan panahnya, dan Chinen menebarkan duri mawar beracun.

Dan Ryosuke, dia sudah terbang sama seperti Chinen, kini Shori terperangkap meskipun ia belum mati. Tanpa mereka sadari dari dua sudut sudah ada kabut hitam lainnya yang akan menyerang mereka.

Merasakan Shori mendekat dan aura hitam itu berada pada titik lemahnya, dalam sekejap Ryosuke bangkit dan berdiri. Mengunci tubuh Shori dan menimpanya, lengan pemuda ini mencekik leher musuhnya menggunakan siku, sulit bernapas.

Tangan Ryosuke yang lain mencengkram kuat wajah Shori. Memegang dahi dan merajai wajah juga penglihatannya. Gunanya mengunci aura hitam itu dari tubuh Shori agar tak keluar dan melarikan diri.

Ryosuke menggunakan mantra dalam tangannya. Aura vampire pemuda ini mencapai high tension. Taringnya kembali keluar.

“Kalau kau monster kau akan takut dengan ini.”

Sinar bermunculan dari dahi Ryosuke. Pemuda ini merasukan kekuatan salib pada dirinya. Membuat perlawanan tambahan. Monster dihadapannya tampak mulai kewalahan. Tapi Ryosuke tak kehabisan akal, selain menguncinya ia harus berhasil membunuhnya.

Namun dengan cara apa?

Disaat yang bersamaan dua aura monster lain yg berhasil dibangkitkan itu nyaris menyerang rekan rekannya.

“GRAAAAURR.”

Half bloody ini menggeram, menjauhkan kegelapan itu dgn tekanan udara.

Sang vampire mengamuk.

“NIGEROO!”

Teriak suara besar Ryosuke.

“INI AKU YANG URUS. LARI HADAPI MEREKA!!”

Masih menahan raga Shori bersamaan dengan monster besar di dalamnya. Mempercayakan sisanya pada teman temannya.

Anna melawan Natsumi dan mulai menjauh mencari jarak, sedangkan Chinen pergi menggiring Yuya agar lepas dari koneksi kekuatan monster inti yang Ryosuke tahan.

“Sekarang kau mangsaku.”

Senyum Ryosuke menyeramkan.

Anna tersenyum menyeringai melihat Natsumi ada di hadapannya lagi saat ini.

“Apakah kalian tidak bisa mencari pintu gerbang yang lebih bagus? Seperti di dalam ruang operasi, laboratorium atau semacamnya?” Anna mulai mengejek Natsumi dan komplotannya yang masing masing sedang di hadapi oleh Ryosuke dan Yuri.  “Tapi, tempat pembuangan sampah memang cocok untuk kalian. Dasar sampah. Hahaha” Anna tertawa riang.

Raut wajah Natsumi kini berubah menjadi raut wajah menyeramkan, ia juga mengeluarkan api dari dalam tubuhnya.

Anna hanya tersenyumsmirk sambil terus menghindari tembakan api dari Natsumi. “Cih” Kemudian ia berputar putar bagaikan sedang menari balet, menghasilkan gelombang suara yang sangat mematikan. Manusia ataupun monster yang mendengarnya, bisa mati saat itu juga. Beruntung Yuri dan Ryosuke sudah kebal.

“NNNGGGGG”

Suara nyaring itu sungguh mengganggu pendengaran telinga, ditambah dengan gelak tawa Anna melihat Natsumi sengsara. Selang beberapa detik, Natsumi ambruk dan tubuh yang digunakan sang demon hangus terbakar. Demon itu lenyap karena kekuatan suara yang dihasilkan Anna. Tapi sayang, gelombang itu tidak begitu mempengaruhi Yuya dan Shori. Mungkin karena jarak atau mereka memang lebih kuat dari Natsumi.

“Okelah Yuya” Chinen merenggangkan ototnya “kau menjadi monster sekarang” senyum sumringah Chinen mengembang “jadi manusia saja kau tak layak, apalagi menjadi monster, kau hanya cocok menjadi sebutir pasir yang selalu di injak. Hahahaha” tawa Chinen mengelegar hingga langit-langit berubah menjadi sangat kelam, dan beberpa petir terpancar dari sana.

Untung Chinen membawa Yuya jauh dari tempat Anna dan juga Ryosuke.

Tak terima, monster Yuya semakin membara “GRAAAAUUUU” monster itu mulai menyerang Chinen, hampir saja tangannya meraih Chinen tapi dalam sekejap Chinen berubah menjadi blitz.

Berpindah ke belakang Yuya, menggunakan kesempatan itu Chinen langsung mengangkat kedua tangannya ke udara. Mengendalikan awan dan alam ke dalam tubuhnya, dan tangan itu kembali turun menyerang Yuya “GYAAAAAAAAAAAA” Cahaya listrik, petir, dan juga duri mawar yang tersisa menyerang tubuh Yuya.

Hingga akhirnya monster itu ambruk, bersamaan dengan demon nya yang telah habis, hanya tersisa asap di sana.

Karena, tubuh Yuya sudah habis terbakar. Chinen meludah “keparat.”

Kepakan sayap Chinen menggema di sana.

Kelihatannya kedua temannya telah sukses melawan monster bawahan itu. Kini tinggal dirinyaRyosuke masih beradu tenaga dengan monster yg ia tahan.

Tak hanya beradu tenaga dengan raga Shori, namun pertarungan kekuatan dengan Monster di dalamnya.

“Kau pikir akan mengenaiku? Hah?”

Runtuk pemuda yang dengan mudahnya menghilangkan dirinya ini. Mengincar Ryosuke bagaikan mengincar asap, bisa lenyap begitu saja. Mustahil tepat sasaran.

Sembari mengelak tanpa batas, ia memikirkan sesuatulayaknya mengulur waktu.

Belakangan ini ia mempelajari bahwa ada posisi dan lambang terlarang dalam bukunya, yang tak boleh digunakan. Tapi kesempatan kali ini ia akan mencoba menggunakannya.

Sepersekian detik ia melihat kegelapan itu melukiskan pentagram. Mematikan.

Dan kalau pemikiran Ryosuke berhasil, lambang itu akan ia halikan untuk memutar kembali kekuatan musuh menjadi lemah.

“Aku harus menggambar terbalik.”

Monster itu terus sibuk menyerang Ryosuke dengan kibasan aura hitamnya yg mencapai ratusannamun tanpa disadari, Ryosuke menghindari semua itu seraya meletakan tanda dengan mawar yang tak biasa.

Ia menghilang, seketika diujung sini kemudian di ujung sana. Mematri sesuatu.

“Kena kau.”

Monster itu mengerang luar Biasa.

Ryosuke berhasil mengukir gambar terbalik dengan kemampuannya mengalihkan perhatiannya. Ia sibuk memanjangkan auranya mengikuti alur kelopak bunga yang ia letakan. Hingga lambang terbalik ini kini bercahaya.

Gambar sebuah lambang terbalik merupakan larangan jeras untuk dunia kegelapan.

Ryosuke yang memiliki buku terlarang, tentu mengetahuinya dengan kemampuan mempelajari cepat nya itu, sangat bisa diandalkan.

Pemuda ini mengisinya dengan mantra. Kuat. Dan berhasil menyegel kemampuan sang monster. Bahkan aura gelap kini tak bisa kabur kemana mana.Segera setelahnya kedua kawannya pun kembali datang dan menghampiri.

Setelah kedua tangan kanan dari Shori itu musnah, Anna dan Yuri kembali mendekati Ryosuke yang kini sudah berhasil menjinakkan shori.

“Apa yang kau inginkan?!” Kata Anna seraya menehan kepala Shori dengan kakinya. “kenapa kau lakukan ini?!” Tanya nya lagi. Anna melimpahkan banyak pertanyaan kepada makhluk tak berguna itu.

Shori menjelaskan kalau ia melakukan ini karena iri kepada tiga dewa itu. Ia ingin menguasai seisi sekolah dan memperbudak mereka.

Mendengar itu, Anna semakin panas saja. Ia menekan kakinya lebih kuatmenekan kepala shori. “Kuso!”

“Sudahlah Anna. Jangan sakiti raga Sato Shori. Raganya tak bersalah” kata Ryosuke menenangkan.

“Lenyaplah kau dasar sampah” Anna meludah tepat di atas kepala raga Shori.

Chinen melipat kedua tangannya di dada, kepakan sayapnya semakin kuat karena sudah terlanjur kesal.

“Orang seperti mu, layaknya di musnahkan. Dasar penghancur dunia” matanya mengeluarkan laser dan membolongi kaki Shori, seketika otaknya merencanakan sesuatu.

“Seperti nya kita main-main dulu dengan makhluk satu ini, asik juga” kata Chinen dengan nada meremehkan.

Chinen memberi isyarat agar Ryosuke terbang menggunakan sayap listrik yang ia berikan, Anna terbang dengan sketboard gravitasinya.

Mereka terbang tinggi, dengan posisi membentuk segitiga mengelilingi makhluk itu.

Masing-masing dari kami sedang mengisi energi untuk mematikan makhluk itu, Chinen membuat petir yang sehingga alam di atas kelam kelabu dan petir muncul dari sana-sini, Ryosuke dengan kekuatan racunnya bersama kelopak bunga mawar yang mengelilingi, sedangkan Anna sedang tertawa puas melihat reaksi Shori sudah kesetanan, meraung, bahkan memberontak, tawa Anna membuat Shori tidak tahan mendengarnya.

Setelah puas melihat kesengsaraan makhluk itu, mereka berdua mulai menyerang Shori secara bersamaan. Kecuali Ryosuke. Melihat emosi kawan kawannya, Ryosuke tetap tenang.

“Bodoh!”

Menyadari kesalahanpelakunya bukan raga ini, untuk apa menghakiminya. Sama bodohnya dengan memukuli maling motor di rumahmu. Tak ada bedanya dengan penduduk awampadahal mereka berpendidikan tinggi.

Pemuda ini menyinari Shori dan membalut lukanya dengan ribuan kelopak mawar. Seketika lukanya kembali rapatmenyembuhkan segala dampak dari emosi tak terkendali.

“Dinginkan kepala kalian” menegaskan, “Kekuatan tanpa kepala dingin, juga sampah.”

Tentunya mereka tak ingin menjadi pahlawan gagal, bukan? Memusnahkan manusia tak berdosa.

Mungkin benar Shori sedikit iri, tapi segala kekuatan dan kedengkian itu yg memumpuk adalah monster. Juga semua dampak merugikan yg ia buatbukan niat shori seutuhnya.

“Yang harus dimusnahkan adalah rohnya.”

Pemuda ini terbang dengan ketiga rekannya membentuk satu kekuatan besar.

Ryosuke berusaha mengeluarkan mantra dengan kekuatan vampire nya dan memisahkan roh dari raga hingga naik ke permukaan dan terlihat jelas. “Seranglah sekarang!”

Cih” Anna jadi sedikit kesal karena perkataan Ryosuke.

Namun memang benar adanya.

Kini tiga dewa itu sudah terbang tinggi dan mulai mengeluarkan kekuatan masing masing. Ryosuke dengan racun nya, Anna dengan howling nya, dan Yuri dengan petir nya.

Anna berada di posisi tengah, memulai putaran yang cantik tapi mematikan, menghasilkan suara yang amat sangat menyiksa telinga. Kemudian Ryosuke dan Yuri melepaskan duri beracun dan petir mematikan mereka sehingga dapat terbawa oleh aliran suara yang dihasilkan Anna dan tepat mengenai sasaran.

Sosok Shori, sosok roh yang merasuki Shori mulai terbakar, secara halus berubah menjadi asap hitam dan menghilang. Kini hanya tersisa raga Shori yang mulai memucat dan kaku.

Ketiga dewa itu turun dan kembali menapaki tanah, menatap tubuh Shori yang sudah tidak bernyawa itu. Mereka serempak mendekati tubuh Shori, dan Ryosuke memegang tangannya, memeriksa denyut nadi pria itumemastikan memang sudah mati atau bagaimana.

Setelah yakin, Ryosuke menatap kedua rekannya “dia sudah tiada sejak lama” ujarnya, bisa Ryosuke rasakan kekosongan raga itu yang sudah lama tidak isi oleh roh aslinyadalam arti kata monster itu sudah merasuki tubuh Shori dalam jangka waktu yang lama.

Tiba-tiba, alam yang mereka singgahi ini menghilang, bersamaan dengan mayat Shori yang lenyap entah kemana. Mereka bertiga terperangah saat ternyata kini mereka ada di ruangan Anna.

Ryosuke tersenyum “ternyata alam itu hanya buatan sang monster” katanya.

Chinen menjetikan jarinya, bersamaan dengan keluarnya sebuah Chip yang Anna berikan, dan saat itu Chinen langsung melahapnya, membuat kedua temannya melihat Chinen “kenapa? Energy ku habis gara-gara tadi” kata Chinen.

Listrik di tubuh Ryosuke perlahan menghilang, begitu juga racun yang Ryosuke berikan kepada Chinen. Mereka memang hanya memakainya untuk menaklukan makhluk itu.

“Saa minna!” Anna memanggil teman-temannya. Saat melihat jam tangan yang bertengger manis di pergelangan tangannya “sekarang sudah pagi dan saatnya sekolah, ikou kita lihat kedaan sekolah!” semalam suntuk berperang tak menyurutkan semangat mereka, karena berhasil mendulang kemenangan.

“Ikou!” Seru Ryosuke dan Chinen serempak, dalam sekejapberpencar berganti pakaian hingga baju mereka sudah kembali rapih dan siap untuk berangkat sekolah.

-++-

Benar, sekolah kembali damai dan tak ada lagi yang menganggu mereka bertiga.

Zzrtt!

“Ah itte sumimasen”

Chinen menoleh ke suatu lorong saat mendengar sengatan listrik, matanya menyipit.

Ternyata ada seorang murid yang ingin di ganggui oleh pacarnya, tapi murid perempuan itu malah menempelkan benda berbentuk hati kepada sang kekasihitu hanya perkiraan Chinen.

“Hahahah” mengingat sesuatu “hadiah ku berguna juga” setelah itu ia terbang menuju kelasnya.

Sekolah damai seperti biasa kembali semula. Segelap & sehebat apapun ilmu yang kami pelajari, kami memang tak menutup interaksi satu sama lain, bahkan dengan dunia luar. Kami akademi terbuka, walaupun high school Demon memang luar biasa.

“Kalian dari mana saja?”

Bersandar pada koridor ukiran antik, yg gagah milik sekolah Ryosuke menunggu di depan ruangannya sejak tadi.

Anna mengrenyit, “Memang ada apa?” Sedikit heran.

Tak lama, Chinen datang dengan semangat.

“Yo kalian!!” Nyaris menubruk dalam terbangnya.

Ryosuke tersenyum, tak menjawab apapun. Tak ingin memberitahu. Namun memberikan isyarat untuk mengikuti.

“Hei ada apa, katakan cepat.” Tanya Anna semakin penasaran tanpa henti menyikut pria acuh ini.

Suara manja rekan satunya ikut menyahuti. “Mou Ryosuke.”

Ketiganya berjalan menyusuri koridor hingga Aula sekolah yang terdapat juga di lantai ini.Semua persiapan sudah megah terlaksana.

Tanpa menduga, mereka disambut oleh sederetan guru dan murid yang kini kembali sadar dari pengaruh kegelapan. Jamuan beraneka ragam tersaji, lilin, juga interior sedemikian rupa dirancang bagaikan pesta. Warga sekolah menyambut mereka dengan senyum.

“Kita dibuatkan pesta penghargaan.”

Jelas Ryosuke pada akhirnya, dengan senyum bahagia.

Ya, memang akhir yang membahagiakan. Bagaikan menyelamatkan semua generasi. Mereka benar benar di hargai.

“Nikmatilah.”

Berpesta sepanjang hari, dan bersenang senang dalam acara sekolah, untuk ketiga pahlawannya.

 

  • OWARI ●

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s