[Multichapter] Little Things Called Love (#14)

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 14)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13 uhm… nyerempet ke NC nya agak2 lumayan *bow
Starring : Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

Suasana Paris di malam hari memang selalu magis dan memesona bagi siapa saja yang melihatnya. Termasuk untuk Hazuki, walaupun agak dingin karena efek baju tanpa lengannya, Eiffel cantik sekali malam ini, tidak menyurutkan perasaan Hazuki untuk lama-lama berada di depan menara yang termasuk ke dalam daftar keajaiban dunia ini, memandanginya dari sebuah kursi tak jauh dari bangunan menara megah itu.

Douzo,” Taiga datang membawa secangir teh hangat kemudian duduk di sebelah Hazuki ketika cangkir kertas itu sudah beralih ke tangan Hazuki.

Arigatou,” Hazuki menyesap teh jasmine yang memang ia sukai, tiap datang ke sini rasanya kurang pas kalau tidak minum teh ini, “dan terima kasih juga jamuan makan malamnya, aku tidak tau kalau kau kenal dengan Arnold-san,”

Taiga mengangguk-angguk, “Beberapa kali Arnold ke Jepang selain untuk berwisata juga untuk belajar masak, aku kenal dengannya di salah satu bar langgananku. Dia cukup terkenal dengan ke-playboy-annya, hahaha sampai akhir tahun kemarin dia kembali ke Paris, jadi sekarang aku hanya berhubungan dengannya lewat sosial media,” jelas Taiga.

Souka, pantas saja makanannya sangat enak, dia memasak sendiri?” tanya Hazuki, Taiga mengangguk, “Impianku juga punya restoran sendiri, padahal aku tidak bisa masak, hahaha,”

Baka!” Taiga mengacak pelan rambut Hazuki yang membuat gadis itu sedikit kaget dan perlakuan sederhana itu membuatnya deg-degan. Ada yang tak beres dengan jantungnya! Seru Hazuki dalam hati. Jantung ini dulu hanya deg-degan kalo dekat dengan Juri, bukan orang lain!

“Sudah puas lihat Eiffel nya? Kita pulang yuk, besok jangan ngambek lagi biar kita bisa jalan-jalan keliling Paris!” ujar Taiga yang disambut tinjuan pelan di lengan pemuda itu.

“Salah siapa, coba?”

Taiga menggeleng, memasang wajah tanpa dosanya,”Bukan aku, bukan aku,” ucapnya jenaka, membuat Hazuki kesal tapi tak lama ia pun tertawa.

Sampai di hotel waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hazuki merasa kakinya agak kram karena terlalu lama pakai stiletto ditambah sepatu tinggi itu ia pakai untuk berjalan-jalan di sekitaran menara Eiffel. Sungguh ide yang sangat buruk sekarang betisnya rasanya mau copot saja.

“Kakiku sakit,” keluh Hazuki lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, memijat-mijat bagian betisnya dengan tangan.

“Ganti baju sana, nanti ke kamar mandi ya,” pesan Taiga sebelum Hazuki beranjak dari sofa.

“Kamar mandi?”

“Udah jangan banyak protes!”

Hazuki terlalu lelah untuk berdebat dan sepuluh menit kemudian ia sudah berjalan ke kamar mandi yang terletak tepat di sebelah kamar tidur, Taiga menyerahkan gelas tinggi berisi wine dan menarik tangan Hazuki ke dalam kamar mandi. Terlihat bathtub berwarna putih itu sudah terisi seperempatnya dengan air, bahkan ditaburi kelopak bunga mawar merah.

“Apa itu?” tanya Hazuki sambil mengerenyitkan dahi.

“Rendam kakimu sebelum tidur,” Taiga menuntun Hazuki dengan pelan duduk di pinggiran bathtub dan merendam kakinya dengan air hangat yang disediakan oleh Taiga, yang ternyata memang ampuh, pegalnya sedikit berkurang.

Arigatou,” Hazuki tersenyum pada Taiga yang juga ikut-ikutan merendam kakinya di sebelah Hazuki.

“Hazuki,” panggil Taiga, dan tanpa menjawab Hazuki hanya menoleh pada pemuda itu setelah menyesap wine nya, “Soal pagi itu, aku minta maaf,”

Tetap tak menjawab, hanya kerongkongannya tiba-tiba terasa haus dan alhasil wine di gelas tinggi itu tiba-tiba sudah ludes diminumnya. Hazuki mengalihkan pandangannya dari Taiga ke kelopak bunga yang bertaburan di bawah kakinya.

“Sebenarnya pagi itu, bohong kalau aku bilang tidak menginginkan lebih, tapi…”

Napas Hazuki semakin tercekat. Ia takut tiba-tiba Taiga mengatakan sesuatu yang membuatnya tambah bimbang, “Terus kenapa berhenti?” No Hazuki, that’s really a bad question! Hardiknya pada diri sendiri.

“Karena kamu, berbeda, Hazuki,” Taiga seperti terlihat serba salah, “Dan kamu tunanganku dan aku merasa bertanggung jawab untuk menjagamu, Ayahmu akan membunuhku jika terjadi apa-apa terhadapmu,”

Hazuki mengerjapkan kelopak matanya dengan cepat, mencoba mencerna kata-kata Taiga tadi, “Hanya itu?”

“Itu bukan ‘hanya’!” Taiga terlihat ngambek, jenis ngambek anak kecil kehilangan permennya yang malah terlihat menggemaskan bagi Hazuki.

Hazuki tertawa, “Ya sudah, asal kau tau Taiga-kun, Ayahku tidak peduli padaku sebegitunya,”

Tapi Taiga malah menggeleng, “Kau hanya tidak tau, Ayahmu sulit berkomunikasi denganmu setelah Ibumu meninggal. Beliau ingin sekali mengembalikan dirimu yang se ceria dahulu, makanya dia tidak pernah protes kamu melakukan apapun yang kamu inginkan kecuali pindah dari rumah. Karena itu satu-satunya cara dia bisa tetap memantaumu walaupun tidak secara langsung,”

Hazuki terdiam. Taiga kini menatapnya sambil tersenyum.

“Tapi beliau membelikanmu mansion itu, dia sudah siap melepasmu tapi sayangnya tidak sendirian, tetap harus bersamaku. Aku masih mencoba merayunya agar mau memberikan mansion itu tanpa syarat menikahiku,”

“Ngomong-ngomong, tau semua ini dari mana?”

Taiga menggeser duduknya mendekat pada Hazuki, “Aku sering bertemu dengan Ayahmu belakangan ini. Dan Kirie-san bercerita banyak hal, termasuk memintaku memanggilnya Ayah, hahaha,”

Hazuki langsung melirik tajam pada Taiga, “Not gonna happen!

Disusul tawa Taiga yang semakin keras, “Mau wine lagi?” tawar Taiga, dijawab anggukan dari Hazuki. Taiga pun menuangkan kembali wine ke gelas milik Hazuki sementara dirinya minum langsung dari botolnya.

Karena airnya sudah mulai dingin, Hazuki dan Taiga memutuskan untuk beranjak dan kembali ke ruang tengah. Taiga menyalakan TV yang memuat orang-orang berbahasa Prancis, keduanya hanya terus mengobrol, melupakan jam dan melupakan sudah beberapa botol bir yang mereka minum, selain satu botol wine yang mereka minum tadi. Hazuki dan Taiga duduk di bawah sofa, Hazuki merasa agak ngantuk maka ia pun mendekat pada Taiga, merebahkan kepalanya di bahu pemuda itu.

“Tidur sana!” ucap Taiga yang masih saja memindahkan channel televisi.

Hazuki menggeleng, tidak tau kenapa tapi tak rela malam ini berakhir.

“Sudah jam dua,” ucap Taiga lagi. Dan sebagai jawaban Hazuki hanya mengangguk, “Nanti aku cium loh!” Taiga tidak menyangka reaksi dari ucapannya tadi Hazuki malah mengangguk, “heh! Jangan bercanda!”

“Aku tidak bercanda,” bisik Hazuki.

“Hazuki..”

“Taiga-kun..” Hazuki kini duduk tegak dan menatap Taiga dengan wajah yang serius, “Aku… penasaran, dan rasa penasaran ini tidak akan sembuh kecuali kau yang menyembuhkannya,”

“Jangan bercanda! Kamu mabuk, ayo tidur!” Taiga berdiri dan menarik tangan Hazuki namun gadis itu menghempaskan pegangan tangan Taiga.

“Memang segitu gak maunya kamu sama aku?”

“B-bukan gitu, Hazuki,” otak Taiga bekerja cepat untuk mencari jawaban diplomatis lain yang mungkin bisa menjawab rasa penasaran Hazuki, “Justru karena aku gak mau kamu susah makanya mending kita gak usah ngelakuin apa-apa. Kita masih teman, dan aku gak mau kamu nanti menyesal,”

“Kalau aku bilang aku gak akan menyesal?”

Taiga menggeleng frustasi. Hazuki selalu bisa membuatnya gila, entah gila karena penasaran atau seperti sekarang, penuntut dan keras kepala.

“Gimana kalau kita lupakan konsekuensinya untuk saat ini dan kita lihat kemana arahnya nanti,”

“Hazuki!” Taiga berteriak karena Hazuki membuka kancing kemeja teratasnya, Taiga masih terkejut dan Hazuki melanjutkan membuka kancing keduanya, “Demi kebaikanmu, Hazuki! Jangan macam-macam!”

“Terlambat,”

Kesal karena Taiga belum juga melakukan apa-apa, Hazuki mendekati Taiga. Dengan gerakan lambat Hazuki mengalungkan tangannya ke leher Taiga dan sesaat kemudian ia menyentuhkan bibirnya ke bibir Taiga. Pemuda itu tidak menolak, tapi tidak juga membalas. Taiga membelit tubuh Hazuki akhirnya. Tubuh mereka melekat rapat tidak memberikan celah sedikitpun. Isi kepala Taiga menguap begitu saja. Persetan dengan semua kekhawatirannya, kali ini Taiga benar-benar menginginkan sentuhan Hazuki dan ingin menyentuh gadis itu.

“Aku harap kamu benar-benar tidak akan menyesal…dan…” Taiga tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena bibirnya keburu terkunci oleh ciuman Hazuki lagi. Agak terburu-buru, Taiga juga membalas kuluman bibir Hazuki tak kalah bersemangat. Taiga tau Hazuki berusaha menyeimbangkan tinggi mereka dengan agak berjinjit maka langkah selanjutnya Taiga menarik tubuh Hazuki lebih tinggi dan gadis itu membalasnya dengan mengalungkan kakinya ke tubuh pemuda itu.

Ciuman itu tidak berhenti sampai Taiga membawa tubuh Hazuki ke dalam kamar, merebahkannya di atas kasur, ciuman di bibir beralih ke leher, terdengar erangan Hazuki yang membuat Taiga semakin bersemangat menggoda gadis itu.

“Uhm.. Taiga.. pintunya…” ucap Hazuki di sela-sela ciuman Taiga.

Taiga menggeram dan membanting pintu kamar hingga tertutup. Lalu kembali pada Hazuki yang masih berbaring, “Taiga-kun, lampunya,”

“Hazuki, please berhenti protes!” Taiga kembali menyerang leher dan daun telinga Hazuki, mau tidak mau Hazuki mengakui kelihaian lidah Taiga menyerang titik rangsangnya. Oh yeah, Hazuki lupa kalau Taiga sudah berpengalaman, berbeda dengan dirinya.

“Lam-pu-nya,” ucap Hazuki lagi sambil menahan desahannya. Taiga kembali menggeram lalu beranjak untuk mematikan lampu kamar mereka, sehingga lampu menara Eiffel di luar terlihat jelas masuk ke ruangan itu.

Stop protesting!” untuk membungkam Hazuki, Taiga mencium bibir gadis itu lagi, tangannya tidak diam, menarik paksa kemeja Hazuki dan gadis itu juga tidak tinggal diam, menarik paksa kaos hitam yang dikenakan Taiga melewati kepalanya.

Stop talking!” Hazuki menarik kepala Taiga dengan kedua tangannya, apapun yang mereka lakukan malam itu, Hazuki yakin dia tidak akan menyesal.

***

A MONTH LATER

“Yakin tidak mau bilang pada Juri?” Hokuto membawa tas milik Aika, dan menyimpannya di atas troli, mendorongnya.

Aika menggeleng dan tersenyum, “Tidak usah, secara ajaib dia di transfer ke Fukuoka, aku tidak mau berurusan dengan pengawal Ayah lagi untuk sekarang,”

Hari-harinya setelah pisah dengan Juri memang menyakitkan. Aika cukup lama mengurung diri hingga bahkan Yasui harus turun tangan membujuk Aika untuk makan. Setelah itu Aika mulai memikirkan apa yang harus ia katakan pada Ayah. Bagaimana membujuk Ayah. Tapi pada akhirnya, Aika harus mengalah. Pertunangannya dengan Jesse tidak akan batal, Jesse pun sudah setuju, tapi Aika meminta satu persyaratan.

“Kenapa harus Ohio sih?”

“Karena pengucapannya seperti bahasa Jepang? Ehehehe,” jawaban Aika sukses membuat Hokuto memukul pelan kepala gadis itu yang kini beraduh-aduh mengomel pada Hokuto.

“Gak bisa sekolah di Jepang aja?”

“Hoku-tan, selalu deh pertanyaannya gak bisa satu, pasti berbuntut!” protes Aika lagi.

“Makanya di jawab,” Hokuto akhirnya bisa mencubit pipi Aika ketika mereka sampai di ruang tunggu bandara.

Tetap tidak menjawab, Aika mengambilkan Hokuto secangkir kopi, “Kalau aku tidak bisa mendapatkan Juri-kun, mungkin satu mimpi ini bisa kuraih. Lagipula aku berhasil mendapatkan rekomendasi dari profesorku di kampus, jadi tunggu apa lagi?”

“Dan melarikan diri dari Ayahmu dan Jesse-san, kan?”

Aika menunujukkan jempolnya, “Sasuga Hoku-tan!”

“Jangan lupa makan, jangan lupa beri aku kabar,” Hokuto memeluk sahabatnya itu, “Tidak mau tunggu Taiga dan Hazuki pulang dari Eropa?”

Aika menggeleng, “Pasti mereka sedang bulan madu, huh! Ku yakin tidak akan pulang cepat! Hehehe,” Entah dengan alasan apa Taiga dan Hazuki memutuskan tidak hanya berkeliling Paris, tapi juga berkeliling Eropa. Sampai hampir awal semester baru keduanya belum juga kembali dari Eropa.

“Tapi mereka pasti kesal kalau Aika pergi tanpa pamit begini,”

Mengeluarkan ponselnya, Aika menunjukkan pesan yang ia tulis beberapa saat sebelum berangkat dari rumah, ‘Sayonara! Aika berangkat ke Cleveland, USA!Aku akan merindukanmu!!’.

“Itu pesan yang absurd sekali, Aika!”

“Aku harus berangkat sekarang, Hoku-tan harus bahagia ya! Kirim fotomu dan Ai-chan nanti!” Aika kembali memeluk Hokuto dan meninggalkan pemuda itu.

Seminggu yang lalu Aika meminta persetujuan untuk transfer ke Cleveland Institute of Music di Ohio, Amerika Serikat. Karena prestasi Aika yang gemilang di kampus, Aika mendapatkan rekomendasi itu dengan cepat, dan pihak CIM pun menerima dengan tangan terbuka. Aika memang mahasiswa jurusan musik, kepindahannya ke CIM untuk memperdalam ilmunya mengenai orkestra. Mimpinya sebagai komposer, inilah yang sedang ia kejar. Jadi Aika meyakini dirinya bukan lari dari kenyataan, tapi lari mengejar mimpinya yang lain.

***

Sudah sebulan, dan bohong jika Juri tidak kepikiran soal Aika. Bohong besar. Sejak sebulan lalu dia dipindah tugaskan ke Fukuoka. Sekolahnya memang tinggal praktek lapangan, bekerja di bengkel ini memang salah satu tugas belajarnya. Juri dipindahkan ke cabang Fukuoka. Walaupun tidak mengakuinya, ia tau siapa dibalik pemindahannya, Juri terlalu lelah untuk berdebat dan menerima keputusan itu.

Untuk meminimalisir patah hatinya, Juri terus bekerja siang dan malam, tak peduli seberapa capeknya dia dan mengambil pekerjaan sampingan di luar bengkel dan pengerjaan laporannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membunuh waktu yang terasa melambat semenjak Aika tak lagi bisa menghubunginya. Ponsel Juri pun ikut dimusnahkan dan diberikan ponsel baru. Dunia tanpa Aika memang tidak pernah indah, tapi inilah kenyataan hidupnya.

Time will heal. Semoga. Setiap membaca kalimat yang dikirimkan Hazuki itu dia selalu berdoa semoga saja quotes itu tidak hanya sekedar kalimat, tapi benar-benar terjadi. Hazuki mengabarinya dari Eropa lewat sosial media nya. Juri tau, gadis itu sudah benar-benar melupakan perasaannya kepada Juri, Taiga membantunya untuk sembuh.

“Juri-kun, makan malam dulu?” sebuah ketukan, disusul suara dari luar menyapa telinganya.

“Iya Chiru-san!” Juri keluar, seorang wanita dengan rambut sebahu sudah menunggunya di luar. Nishinoya Chiru adalah anak dari pemilik apartemen ini. Setiap malam sabtu mereka sering makan bersama dengan keluarga Nishinoya, sudah menjadi kebiasaan dan Juri pun tidak keberatan karena bisa menghemat pengeluarannya. Chiru sendiri berbeda lima tahun dengannya.

“Ngomong-ngomong, seharian di kamar ngapain aja?” tanya Chiru ketika keduanya melangkah ke rumah utama yang ditinggali oleh keluarga Nishinoya.

“Kenapa Chiru-san?”

“Ini hari libur dan kau tidak keluar kamar! Hampir saja Ibuku mau mendobrak pintumu tadi, hahaha,”

“Chie-san selalu saja khawatir padaku, padahal aku hanya tidur seharian ko,” Juri tersenyum dan meyakinkan Chiru bahwa dia baik-baik saja. Chie-san adalah Ibu dari Nishinoya Chiru.

Di Fukuoka dia mendapatkan keluarga baru. Mungkin ini juga lah yang membuat Juri tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Keluarga Nishinoya sangat ramah dan menjamunya seperti anak sendiri. Ponsel Juri bergetar, sebuah pesan masuk, ‘Aika berangkat ke Amerika, kau tidak mau menyusulnya?’ dari Hokuto. Juri mengetik cepat sambil menunggu Chie-san membawa makanan dari dapur, ’Semoga dia baik-baik saja di sana,’ kalaulah tembok yang menghalangi dirinya dengan Aika tidak setinggi ini, sekarang juga dia akan berlari untuk menemui Aika. Hokuto sempat memarahinya, mempertanyakan keseriusan Juri mengejar cinta Aika. Tapi untuk saat ini, dia belum pantas mendampingi Aika. Suatu hari mungkin, dia akan bisa bersanding dengan Aika, tanpa ada krisis kepercayaan diri.

***

Tidak sempat Yua mengatar Kouchi ke bandara saat keberangkatannya ke India. Bukan karena tidak mau, tapi justru karena Kouchi tidak memberi tau hari keberangkatannya dan malah mengabarinya setelah sampai di India. “Aku tidak yakin bisa tahan tidak menangis jika Yua mengantarku. Aku sudah sampai India!” ditambah dengan fotonya memakai hindi di keningnya. Hubungannya dengan Kouchi tidak bisa kembali normal. Bagaimanapun juga keinginan Yua, sudah terlalu sulit keduanya melupakan kenyataan bahwa Kouchi pernah menyatakan perasaan dan Yua akhirnya menolaknya.

Sebagian hati Yua tercabik, kadang dia berpikir bagaimana jadinya jika saat itu ia menerima Kouchi, dan apakah ketakutan soal sahabat jadi cinta terbukti adanya. Bagaimanapun hubungan sebagai teman dan sebagai kekasih tidaklah sama. Tapi Kouchi berusaha sebaik mungkin, mereka tetap sering bertemu, bahkan mengunjungi orang tua masing-masing. Kouchi masih se-ceria dulu walaupun perasaan kecewa tidak bisa sepenuhnya ia tutupi. Yua bukan berteman dengan Kouchi satu atau dua tahun, tapi hampir dua puluh tahun, karena itulah perbedaan sekecil apapun dapat Yua rasakan.

“Yua-chan, Kimura-san ingin bicara denganmu,” Shintaro menepuk bahu Yua dan segera di jawab dengan anggukan oleh Yua.

Saat Yua masuk ke dalam ruangan Kimura Kazuya yang jarang sekali ditempati, Yua langsung disodori sebuah pamflet yang berisi beberapa lembar tulisan, dengan bahasa Inggris.

Culinary Arts Switzerland?” Yua membaca judul dari pamflet itu.

“Aku bisa melihat bakatmu, Ichigo-kun, dan kurasa aku tidak akan buang-buang uang dengan menyekolahkanmu di sana. Kau boleh pilih spesialisasi pastry atau bachelor, aku tidak akan memaksamu memilih yang mana,”

Yua menatap Kimura Kazuya dengan takjub, “Anda… memberi saya… beasiswa?”

Kimura-san mengangguk, “Bakatmu alamiah dan aku pikir, akan sangat bagus jika kamu mau memperdalam ilmu memasakmu dan mungkin, akan jadi staff terbaikku nanti,”

“Tapi, Kimura-san… kuliahku di sini?”

“Ini memang egois. Pilihannya memang ke sana dan meninggalkan kuliahmu, atau menolakku dan tetap jadi staff dapur biasa, dan mungkin suatu hari kamu pun akan mencari pekerjaan lain, bukan di restoranku,”

Yua menelan ludahnya sendiri, kuliahnya di universitasnya sekarang memang tidak ada hubungannya dengan dunia kuliner, justru dengan pendidikan. Selama ini Yua ingin menjadi pendidik tapi juga mempunyai kecenderungan menyukai kuliner. Walaupun Yua tidak menyadarinya, tapi ia memang selalu senang memasak terutama dessert dan kue-kue.

“Beri aku jawaban dalam satu minggu,”

***

Memang masih di New Delhi, salah satu kota terbesar di India dan dengan penduduk yang padat pula. Memang masih New Delhi dengan gedung-gedung pencakar langit, rumah-rumah gedongan, banyak pula mobil mewah berseliweran, tapi ini juga New Delhi, di salah satu sudut kota di mana Kouchi sedang mengajari tidak lebih dari lima belas anak kurang beruntung yang bahkan untuk makan saja mereka harus meminta-minta tak jarang tidak makan hingga esok hari.

Kouchi menunjukkan beberapa angka kepada mereka, mengajar mereka tidak mudah namun tidak sulit juga. Berkisar antara umur lima sampai sepuluh tahun, belajar hal yang sama yang penting mereka bisa membaca dan menghitung satu sampai sepuluh dulu lah pada awal Kouchi datang. Kini mereka sudah pintar menambahkan angka puluhan.

Pertama kali menginjakkan kaki di India sebulan lalu, Kouchi disambut oleh pihak pelatihan, dibawa ke sebuah hotel mewah dan mengikuti pelatihan dari Senin hingga Jumat, sementara di hari Sabtu dan Minggu saat pertama Kouchi dibawa oleh ketua volunteer Sakura Education, baru akhirnya Kouchi sadar tidak semua anak India beruntung, bahkan di kota besarnya. Mulai hari itu Kouchi memutuskan untuk tetap mengikuti pelatihan namun setiap selesai pelatihan dia akan keluar dari hotel, mengajar anak-anak itu, bercerita, atau kadang sekedar ikut bermain bola dengan mereka. Ia hampir tidak ingat rasa sakitnya setelah penolakan Yua, hari-harinya terlalu sibuk untuk mengikuti pelatihan, bersama dengan anak-anak dan pulang mengerjakan laporan. Terus berputar seperti itu dan kadang lupa mengabari Ibu di rumah jika Ibunya tidak mengiriminya pesan sekitar sepuluh kali sehari.

“Hari ini mau ikut ke rumah Ghandari-san?” seorang wanita yang tampak menggunakan rok panjang dan kaos putih bertuliskan, ‘Sakura’, salah satu partnernya di Sakura Education. Ghandari adalah nama seorang wanita hebat yang ikut andil membantu Sakura Education, beliau adalah orang India dari keturunan bangsawan tapi tidak kagok ketika harus bersentuhan langsung dengan anak-anak jalanan.

“Boleh deh, lagipula sudah seminggu ini aku kangen kari buatannya, hahaha. Ngomong-ngomong Sora-chan, cobalah bujuk Lakshmi ke dokter, anak itu terus saja menolak jika aku yang ajak,” Lakshmi adalah salah satu anak didik mereka yang sudah seminggu ini terus-terusan batuk membuat Kouchi khawatir.

Sora mengangguk, “Besok aku temui dia deh, oh ya, jangan lupa kirimkan daftar kebutuhan ke headquarter ya… tugasmu loh, Yugo!”

Hideyoshi Sora yang membuat anak-anak didiknya memanggilnya Yugo juga. Katanya pengucapan Kouchi terlalu sulit untuk anak india, dan setelah itu hingga sekarang dia dikenal sebagai mister Yugo, panggilan kesayangan dari muridnya. Soal Sora, dia adalah gadis Jepang yang sudah tinggal di India selama tiga tahun lebih. Kecintaannya kepada dunia pendidikan membuatnya memilih meninggalkan Jepang dan menetap di India.

“Belum menghubungi Yua-chan?” Entah karena Sora terasa seperti kakak perempuannya sendiri, Kouchi berakhir bercerita mengenai Yua saat mereka sedang dalam perjalan dari sebuah desa yang agak terpencil menuju New Delhi, maka Sora tau mengenai kisahnya dengan Yua dan tau kalau Kouchi belum juga brhasil mengetikkan satu kalimat pun untuk Yua selain saat mengabarkan dirinya sudah sampai di India. Malah kini Kouchi bertukar pesan dengan Sonata setiap hari yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri, menanyakan kemajuan belajar untuk masuk universitasnya.

Sebagai jawaban Kouchi menggeleng, dirinya terlalu pengecut, tidak bisa mengatakan pada Yua kalau dirinya sakit hati, kalau dirinya patah hati. Ingin sekali Kouchi membalikkan waktu dan menarik kembali pernyataan cintanya, tapi semua sudah terlanjur. Kouchi menyesalinya tapi untuk sekarang, mungkin ini adalah hidup yang bisa ia jalani.

“Jangan saling menunggu. Saling menunggu artinya tidak akan ada kemajuan untuk hubungan kalian ke depan, bagaimanapun juga Yua-chan adalah sahabatmu, kan?” Kouchi mafhum, Sora juga punya kisah yang hampir mirip dengannya. Bedanya, kini orang yang ia cintai sudah menikah dengan orang lain. Walaupun tidak mau mengakuinya tapi Kouchi tau Sora melarikan diri ke India.

“Memangnya bisa kita kembali jadi sahabat? Aku tidak yakin, Sora-chan,”

“Sebelum Yugo jatuh cinta pada Yua-chan, kalian berteman kan? Kalian sudah berbagi hidup kalian lebih dari setengah hidupmu, lalu apa yang kau takutkan?”

Kouchi terdiam. Hanya Yua yang bahkan bisa membaca apa yang dipikirkannya tanpa Kouchi harus mengatakannya dan kehilangan orang yang sedekat itu, bisa saja membuatnya seperti kehilangan separuh jiwanya. Secepatnya, dia harus segera menghubungi Yua.

***

“Ruika-chan, jadi ini hari pertamamu?” Hokuto mensejajarkan langkahnya dengan Ruika, keduanya sudah selesai bekerja di kantin untuk malam ini.

Ruika mengangguk, “Nanti saja tapi ya kalau mau nonton, aku masih gak pede!” serunya menunjuk pada Hokuto.

“Ayolah, aku tidak akan mengatakan apapun. Aku janji tidak berkomentar!” kata Hokuto lagi.

Ruika menggeleng, “Sudah yaaa! Aku hampir telat nih, doakan aku berhasil!” berari meninggalkan Hokuto, hari ini adalah hari pertamanya bekerja di sebuah bar, bukan sebagai pelayan seperti biasanya, tapi sebagai penyanyi bar.

Sebenarnya iseng sih, Ruika memang ingin menambah penghasilan, tapi menjadi pelayan lagi di tempat lain akan membuatnya terlalu capek, dan tawaran ini datang dari teman satu kampusnya, waktunya pun setelah pekerjaan di kantin selesai, hanya tiga sampai empat kali seminggu, apalagi bayarannya juga lumayan.

Sudah sebulan penuh Jesse benar-benar menghilang dari kehidupannya. Malam itu adalah malam terakhir dirinya menghubungi Jesse. Setelah menangis hingga mata rasanya akan copot dari rongganya, Jesse pun sama-sama menangis, Ruika menghapus kontak Jesse. Walaupun menolak, Jesse akhirnya menghapus kontak milik Ruika. Sudah berakhir, Ruika tidak ingin tau apapun soal Jesse, padahal berita soal merger perusahaan Kimura dan Lewis sudah ramai dibicarakan. Calon suami Kimura Aika bahkan disebut-sebut akan menjadi partner kerja calon Ayah mertuanya. Semuanya ada di koran, ada di majalah, ada di berita online yang kadang terpaksa ia baca karena lewat di akun media sosialnya.

Jesse sudah mendapatkan yang ia inginkan dan bagi Ruika itu sudah cukup. Tau mengenai kebahagiaan Jesse harus menjadi kebahagiaannya. Untuk sekarang Ruika hanya memikirkan bagaimana menghidupi adik dan Ayahnya serta secepatnya lulus dari universitas agar bisa bekerja penuh waktu.

“Shigeoka-san, konbanwa!

Konbanwa, tepat waktu loh, Mizutani-san,” Shigeoka Daiki adalah salah seorang bartender di yang kebetulan juga pemilik bar ini.

Ruika mengacungkan jempolnya, “Selalu!”

“Nyanyi yang bagus siapa tau ada produser melihatmu, ahahaha,” Shigeoka pernah bercerita mengenai salah satu penyanyi bar nya yang di rekrut dan kini jadi penyanyi debutan.

Ganbarimasu! Aku ganti baju dulu ya, Shigeoka-san!”

Sebelum berganti baju dia melihat ponselnya, sebuah pesan masuk dari temannya yang juga dulu bekerja dengannya di Lewis Bakery di group chat mereka, “Ada berita heboh loh guys! Kimura Aika dikabarkan sekolah ke luar negri loh! Bagaimana nasib bos kita ya? Atau jangan-jangan mereka berangkat bareng ke luar negri? Iiihh.. so sweet banget ya kalo beneran!”

Tidak perlu tau. Tidak perlu tau. Tidak perlu tau. Ucap Ruika dalam hati segera mematikan ponselnya dan berganti baju. Apapun yang Jesse lakukan di luar sana, dia harusnya sudah tidak peduli.

***

“Udah jam delapan nih, Ai-chan, Hoku-nii kemana ya?” musim gugur sudah tiba dan angin pun cenderung semakin dingin, tapi tidak menyurutkan langkah ketiga orang ini mendatangi festival lampu kota, menurut rencana seharusnya mereka sedang double date tapi Hokuto belum juga muncul.

“Tadi dia jawab ko, Sona-chan, tenang saja,” ucap Airin. Keduanya sedang menunggu Shintaro membelikan teh hangat untuk mereka berdua.

“Sona-chan ingat tidak festival musim panas?”

“Yang mana ya?” Sonata bertanya sambil mengunyah takoyaki yang juga tadi dibelikan Shintaro.

“Itu… yang Sona-chan malah pergi dan tidak ikut bersamaku dan Shin-kun,”

Sonata berhenti mengunyah dan menatap Airin, “Uhm… itu ya…”

“Sebenarnya karena Sona-chan lari aku jadi sadar kalau Sona-chan sebenarnya menyukai Shin-kun,”

“EEHHH?”

Airin hanya tertawa melihat ekspresi Sonata yang kaget dengan masih mengunyah takoyaki sehingga selain matanya terbelalak, pipinya pun menggembung karena berisikan takoyaki, “Lagian Shin-kun kalau sedang bersamaku lebih sering bicarain Sona-chan,” sukses menimbulkan semburat merah muda di pipi Sonata.

Gomen ada keterlambatan kereta gara-gara kecelakaan, aku telat ya?” Hokuto sudah berdiri di hadapan Airin dan Sonata.

“Tidak apa-apa ko, Hoku-nii,” jawab Airin dan tepat saat itu Shintaro juga membawa tiga kaleng teh hangat di tangannya.

“Ngantri banget deh! Eh Aniki!” sapanya pada Hokuto yang tidak dijawab dengan ramah seperti biasanya.

Shintaro menyerahkan dua kaleng teh pada Airin dan Sonata, dan satu kaleng lagi pada Hokuto, “Aku kira Aniki belum datang,”

“Jelas-jelas judulnya double date, gimana sih?” protes Hokuto.

“Kenapa judes sih, nii-chan?” Sonata blak-blakan mendekati Shintaro dan menggandeng tangan pemuda itu di depan kakaknya.

“Dulu dia cuma temanmu, lalu jadi mantan pacarnya Ai-chan, sekarang jadi pacarmu! Jadi menurutmu aku tidak berhak memberinya sedikit pelajaran?” ucap Hokuto pada Sonata, “Bagaimanapun juga kau belum mendapat restuku!”

“Ayolah kakak ipar, jangan galak-galak dong!” Airin menarik tangan Hokuto dan berjalan mendahului Sonata dan Shintaro.

“YA AMPUN!!” Sonata tiba-tiba berteriak, membuat langkah Airin dan Hokuto berhenti, bahkan Shintaro menatapnya dengan aneh, “Aku baru sadar! Ai-chan nanti jadi kakak iparku yaaa?!! WAAAA!!” disambut gelak tawa dari Airin, Hokuto dan Shintaro, lalu Hokuto mencubit pipi Sonata dengan gemas.

“Masih terlalu jauh, Sona!”

Airin menatap ketiganya dengan senyuman. Tidak. Dia tidak ingin ada yang berubah. Sekarang atau nanti masih ingin bersahabat dengan Sonata dan Shintaro, tapi tidak juga mau berpisah dari Hokuto.

“Kalau mau dapat restuku, traktir kita ya,” ucap Hokuto.

“Aduh kakak ipar, aku belum gajiaaann,” keluh Shintaro.

“Jangan coba-coba panggil aku kakak ipar!!” Hokuto menarik tangan Sonata dan ketiganya berjalan di depan Shintaro yang masih berdebat soal pemanggilan kakak ipar dan adik ipar.

***

To Be Continue

Advertisements

10 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#14)

  1. magentaclover

    Wah wah akhirnya hazuki x taiga beneran anu-anu hahahah, cara mereka mesra-mesraan elit sekali kak XD Kouchi sama yua lagi ldr ya? *eh* kayak aika sama juri dong? ah, gak deh mereka mah udah putus hahahah… makin banyak oc ya, kira-kira oc-nya pengaruh banget ka ke depannya? sedih sedih aika lagi ke amerika mau jadi komposer, eh juri di fukuoka kerja terus DX rui beneran memulai hidup baru tanpa jesse? btw, jesse lagi apa kak di sini ga ada tu makhluk wkwkkw. Dan aku selalu sangat amat suka keempat orang itu, airin, hokuto, shin sama sona. Mereka manisssssss! Kakak ipar, adek ipar, duhh semoga selalu langgeng seperti ingin airin.

    Reply
  2. sparklingstar48

    Akhirnya hazukitaiga begituan/? udah nikah aja mereka wkeke xD
    yah, yugo-yua jd begitu gabisa ya jadian rasa temen?:(
    Noo aika juri kenapa gtuuu, sama2 menjauhhh tp smoga mereka balikan lah :”
    Ruika beneran ngelupain jesse? Udh jesse sm ruika ajaaaaa
    Dan aku suka part hoku-airin, sona-shin kyk keluarga kecil#eh

    Reply
  3. kiriehazuki

    aku ulang ulang part Hazutai kak diiin…
    so sweeet abiisssss dan paling panjang dan bikin degdegan.
    kapan nikah mereka? tiap beda negara beda suasana Hazutai begituan mulu jangan jangan. udah nikah di italy aja pulang pulang bawa anaklah hahahaha XD

    kouchi…. kenapa jadi gitu sama yua sih, dari paling sweet jadi jaga jarak gitu nggak tega.
    jess mana jess? nggak ada jess baru sadar hahaha

    Reply
  4. elsaindahmustika

    hei kak din maaf baru sempet komen, ini juga karna diingetin lol tong marah sama sona ya :3 *dikemplang

    okee ini lebih fokus sama hazutai ya hihi fokus ke sona shin kapan? #plak *diemajaanakkecil😂
    taiga nya pengertian banget sih, itu bagian pas di kamar mandi uhh pasti nyaman>< aika greget banget pesannya gitu doang wkwkwk tapi lucu:3 hokunii berasa kakak semua orang ya😂✌
    juri… jangan2 dia bakal sama chiru?😱 hell no!! lagu kattun kali ah wkwk sekian😘 *digelindingin

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s