[Multichapter] Desire Or Love? (Chap 8)

Desire or Love?
By: kyomochii
Genre: Friendship, Romance, Drama
Rating: PG-13
Cast: Ichigo Yua, Morita Mirai, Ichigo Hidetoshi (OC), Kouchi Yugo, Matsumura Hokuto (SixTONES), Yamada Ryosuke (HSJ)
Disclaimer: Semua Cast cowok dalam cerita ini under talent agency Johnny’s & Associates dari berbagai grup yang berbeda, bisa ada, bisa tidak tiap chapternya, tergantung mood author :p
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Kabar kedekatan Yugo dengan gadis lain sepertinya sudah sampai ke telinga Mirai. Yua merasa, beberapa hari ini dia tidak bisa menghubungi Mirai sama sekali. Semua pesannya tidak ada yang dibalas dan teleponnya direject. Yua beberapa kali mencoba menemui Mirai saat latihan dan mengorbankan kelas bimbelnya, namun gadis itu tetap menghindarinya. Sama seperti yang dia lakukan ke Yugo.

Merasa lelah karena terus-terusan menghindari Yugo, Yua menunggu sahabatnya itu di depan tempat bimbelnya, berharap Yugo datang menghampirinya seusai latihan.

“Ichigo-san menunggu jemputan?” Hokuto menghampiri Yua yang masih berdiri di depan tempat bimbel, padahal malam sudah mulai larut.

“Bukan jemputan juga sih. Aku sudah mau pulang kok.” Hokuto menahan Yua sebelum gadis itu sempat beranjak dari tempatnya.

“Ichigo-san tidak keberatan menemaniku pergi ke suatu tempat sebentar? Nanti aku antar sampai rumah deh.” Melihat wajah memohon Hokuto, Yua tidak tega untuk menolaknya.

Hokuto mengajak Yua ke sebuah toko roti dan memintanya untuk membantu memilih kue ulang tahun menurut selera Yua. Setelah membeli lilin angka 17 dan pemantik api di supermarket 24 jam yang mereka lewati, Hokuto mengajak Yua mampir ke sebuah café tidak jauh dari tempat bimbel mereka.

“Sebenarnya hari ini ulang tahunku yang ke-17.”

“Eh?” Yua tidak tahu harus bereaksi seperti apa karena Hokuto mengatakannya secara tiba-tiba. “Otanjoubi omedetou, Matsumura-san.”

“Arigatou, Ichigo-san.” Hokuto tersenyum lurus menatap Yua, membuat Yua tersadar kalau sebenarnya senyum pemuda yang sekarang ada di depannya saat ini, sangat manis!

“Aku hanya pernah merayakan ulang tahun sampai umurku lima tahun, sebelum kedua orang tua-ku dipindah tugaskn ke luar negeri. Mereka hanya pulang setahun sekali saat liburan panjang natal dan tahun baru, jadi tidak ada waktu untuk merayakan ulang tahunku lagi.” Yua sebenarnya tidak tertarik mendengar masalah orang lain, tapi dia tidak dalam posisi bisa menolak untuk mendengarkannya.

“Biasanya aku juga tidak pernah peduli dengan perayaan ulang tahun. Tapi entah kenapa, aku ingin sekali  meniup lilin angka 17, sekali seumur hidup bukan?” Yua mengangguk berusaha memahami apa yang ingin disampaikan Hokuto.

“Umur 17 itu sangat spesial, kan?! Makanya, aku ingin meniup lilin di umurku yang ke-17.” Hokuto menyudahi penjelasannya dengan cengiran tanpa dosa menghiasi wajahnya, membuat Yua terheran-heran, bagaimana bisa ada cowok seaneh Hokuto.

“Yasudah, kita nyalain lilinnya sekarang?” Yua menawarkan pemantik api ke arah Hokuto, namun Hokuto memberikan tanda agar Yua yang menyalakan api untuknya.  Diiringi senandung ‘selamat ulang tahun’ dari keduanya, Hokuto meniup lilin angka 17-nya setelah membuat permohonan. Dengan meminjam beberapa perlengkapan dari café, Hokuto memotong kuenya dan menyimpang potongan pertama untuk dia bawa pulang, sebagai ceremonial diberikan buat papa-mamanya. Potongan kedua, yang cukup besar untuk Yua, lalu satu potong untuk dirinya sendiri, dan sisanya dibagikan pada pengunjung lain, yang kebetulan tidak terlalu ramai.

“Terima kasih, Ichigo-san. Sudah mau menemaniku sampai selarut ini.” Yua lupa tidak mengecek waktu sampai Hokuto menyadarkannya. Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul setengah 10, setengah jam sebelum orang tuanya pulang, pada normalnya.

“Aku harus pulang sekarang.” Yua bergegas membereskan barangnya, berjalan terburu-buru meninggalkan Hokuto yang kebingungan. Hokuto mengejar Yua dengan panik, tidak tahu apa yang harus dilakukan, berusaha mensejajari langkah Yua yang berjalan sangat cepat, hampir berlari.

Rumah Yua berpenerangan sangat terang, seolah-olah sudah ada banyak orang yang siap menyambut kedatangan mereka.

“Matsumura-san, tidak usah mengantarku sampai dalam. Cukup sampai sini saja. Terima kasih buat traktirannya hari ini.” Hokuto memaksa untuk mengantarkan Yua sampai bertemu orang-tuanya tapi Yua menolak dengan tegas, lalu gadis itu mengatur nafas, berjalan setenang mungkin menuju rumahnya. Sebelum masuk rumah, Yua berpesan pada Hokuto untuk bersembunyi bila terdengar keributan dari dalam rumah demi keselamatan dirinya. Meskipun tidak paham apa maksudnya, Hokuto mengiyakan.

“Darimana saja anak perempuan jam segini baru pulang? Apa kamu mau menjadi perempuan jalang seperti Ibumu?” Teriakan dalam rumah cukup keras, sehingga Hokuto yang berada di luar pagar pun bisa mendengarnya, bahkan satu kompleks sepertinya bisa mendengarnya.

Teriakan dan kata-kata serapah masih berlanjut keluar dari sosok yang Hokuto yakin, Ayah Yua. Semakin lama, intonasinya semakin tinggi. Refleks, Hokuto langsung bersembunyi di balik semak dekat tempatnya berdiri. Sesaat kemudian, sesosok pemuda berlari ke arah rumah Yua, melewati Hokuto dalam bayangan.

PLAK. Bunyi tamparan yang sangat keras terdengar hingga luar membuat pemuda yang berlari tadi terhenti sejenak, lalu berlari sekuat tenaga menuju rumah Yua, membenturkan pintunya dengan keras. Hokuto ingat, pemuda itu Kouchi Yugo, pemuda yang sedang ramai menjadi perbincangan di sekolahnya, sekarang di depan matanya sendiri, menyaksikan pemuda itu menerjang rumah seorang gadis untuk menyelamatkannya.

Keadaan menjadi hening, sudah 10 menit tapi tidak terlihat seorang pun keluar dari rumah Yua, tidak Yua, tidak Yugo, tidak juga Ayah Yua. Hokuto tidak berani menebak-nebak apa yang sudah terjadi di rumah itu. Hokuto memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya dan berjalan pulang dalam keadaan masih sedikit terpukul.

*********

Sudah seminggu Hokuto tidak melihat Yua datang ke tempat bimbel. Hokuto masih belum berani menghubungi Yua, karena tidak tahu harus mengatakan apa. Akhir pekan ini akan ada pertandingan pre-eliminasi sepak bola antara sekolahnya dan sekolah Yua. Hokuto yakin kalau gadis itu akan datang karena Kouchi Yugo akan bermain. Mereka tampaknya selalu bersama.

Hari pertandingan tiba. Hokuto yang hampir tidak pernah peduli dengan kegiatan olahraga, sengaja mengosongkan jadwalnya untuk datang. Sepanjang pertandingan, Hokuto menyapukan pandangannya ke seluruh bangku penonton, berharap menangkap sosok Yua. Tapi nihil. Berapa kali pun Hokuto berusaha mencari Yua, tidak tampak sama sekali gadis itu datang ke pertandingan untuk mendukung Yugo. Pilihan terakhir, Hokuto harus bertanya langsung ke Yugo.

“Tunggu, aku mau bicara sebentar.” Hokuto menghadang Yugo yang sedang berjalan dengan segerombolan gadis mengitarinya. Melihat wajah kebingungan Yugo, Hokuto menyebutkan nama Yua sebagai kata kunci dan membuat Yugo meminta ijin pada gerombolan fansnya dan pergi mengikuti Hokuto.

“Perkenalkan, aku Matsumura Hokuto, teman Ichigo-san di tempat bimbel.” Hokuto memperkenalkan dirinya, berharap Yugo membalasnya dengan ramah.

“Aku tahu. Kamu cowok yang mengajak Chii-chan ke perpustakaan tapi gak berani menemuinya karena takut ketahuan teman-temanmu sedang berduaan dengan cewek di tempat umum. Kamu juga, pengecut yang membuat Chii-chan pulang larut malam tapi membiarkannya masuk ke rumah sendiri.”

“Aku tidak bermaksud. Ichigo-san melarangku.” Hokuto memalingkan wajahnya, tidak berani memandang wajah Yugo. Meskipun nada bicaranya biasa saja, Hokuto tahu kalau Yugo sedang marah kepadanya.

“Tentu saja Chii-chan akan melarangmu, karena kamu bukan siapa-siapa yang harus dilibatkan dalam kehidupannya. Tapi seenggaknya, bagaimana bisa kamu mengajaknya keluar hingga larut malam tanpa tahu kebiasaannya?” Yugo kelihatan sudah sangat jengkel karena Hokuto sama sekali tidak berani melihat ke arahnya.

“Ah, sudahlah. Percuma bicara dengan pengecut sepertimu. Sebenarnya apa maksudmu mendekati Chii-chan? Apa karena dia pintar? Kamu hanya ingin memanfaatkannya saja, kan?” Yugo jalan memutar hingga wajahnya sekarang berada tepat di hadapan wajah Hokuto, memaksa pemuda itu untuk memandangnya.

“Bukan, bukan itu maksudku. Mungkin sedikit, aku memanfaatkan kebaikan Ichigo-san untuk membantuku dalam pelajaran bahasa inggris, tapi aku tulus ingin berteman dengannya.” Hokuto berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar.

“Sejak membatalkan janji dengannya di perpustakaan hari itu, aku mencari cara untuk meminta maaf padanya. Makanya aku mengajaknya untuk merayakan ulang tahunku, sekaligus membelikan kue yang dia sukai. Aku yakin, dia pasti menolak kalau aku beri kue secara langsung.  Sungguh, aku tidak tahu kalau kejadian seperti malam itu akan terjadi hanya karena pulang terlambat.”

“Hanya, katamu? Pulang di atas jam 10 adalah hal tabu di keluarga Ichigo. Lebih baik gak pulang sekalian daripada harus pulang di atas jam 10 malam. Ini memang bukan pertama kali terjadi. Padahal aku harus selalu di sampingnya untuk menjaganya dan memastikannya pulang tepat waktu. Tapi kemarin aku sedang bertengkar dengannya, sehingga kejadian seperti ini bisa terjadi.” Alih-alih melihat kemarahan, Hokuto melihat penyesalan yang teramat dari wajah Yugo. Tidak berani memperpanjang masalah, Hokuto ingin langsung menanyakan hal yang ingin dia tanyakan.

“Apakah Ichigo-san sekarang baik-baik saja?” Melihat wajah khawatir Hokuto, Yugo berusaha meredam emosinya.

“Dia akan mulai bimbel lagi besok senin. Bersikaplah biasa saja padanya. Pura-pura saja kamu gak tahu kejadian malam itu. Biarkan dia tersenyum di hadapan teman-temannya seperti yang dia inginkan.”

Hokuto merenungkan beberapa hal yang disampaikan Yugo tentang Yua, membuatnya memahami kenapa Yua tidak bersimpati padanya saat dia menceritakan tentang keluarganya. Karena bagi gadis itu, keadaannya saat ini, meskipun masih lengkap bersama kedua orang tuanya, lebih seperti tidak pernah ada orang tua di rumahnya. Ayahnya yang hanya pulang untuk memarahinya jika mendapati Yua melakukan kesalahan. Dan ibunya, yang entah hanya berapa hari sekali, bisa pulang ke rumah sebelum pukul 10, karena harus bekerja banting tulang demi menghidupi keluarganya.

***********

From: Yamada Ryosuke
Ini benar Yua-chan?
Aku Yamada Ryosuke. Ingat kan, aku pernah meminta
kontakmu lewat akun media sosial?
Bagaimana kabarmu

From: Ichigo Yua
Bukannya baru sebulan kita tidak ketemu ya? Haha
Kabarku baik, senpai sendiri bagaimana?

From: Yamada Ryosuke
Hehe, iya juga ya.
Kabarku juga baik.
Oiya, beberapa hari lalu aku seperti melihatmu keluar
dari tempat bimbingan belajar ‘Jenius’.
Aku cuma ingin memastikan kalau aku tidak salah lihat.

From: Ichigo Yua
Iya, senpai.
Aku sekarang sedang mengambil bimbingan belajar di
tempat itu.

From: Yamada Ryosuke
Kebetulan sekali. Aku sebenarnya akan praktek mengajar
di tempat bimbingan itu mulai awal Juli, selama satu
bulan. Sekalian memanfaatkan liburan musim panas.
Hehe
Yoroshiku ne n_n

From: Ichigo Yua
Wah, aku sangat menantikannya.
Yoroshiku n_n

From: Morita Mirai
Yua-chan bagaimana keadaanmu?
Aku baru bertemu dengan Yuu-chan, dia menceritakan
semua kejadiannya. Aku minta maaf karena terus
menghindarimu di kelas T^T
Aku akan segera ke rumahmu, tunggu aku.
PS: jangan lupa siapkan makanan. Aku menginap

Melihat pesan Mirai, mengalahkan kebahagiaan Yua karena bisa berkirim pesan dengan Yamada-senpai. Sahabatnya itu akan datang ke rumahnya, kembali berteman dengannya, apalagi yang dia harapkan lebih dari ini? Meskipun Mirai suka seenaknya sendiri, tapi cuma gadis itu yang mampu memahami Yua lebih baik dari siapapun, sebagaimana Yugo memahami dirinya.

“Kamu tahu, aku pikir kita gak bakal pernah bisa berbaikan. Maaf, karena aku kamu harus merasakan sakit hati seperti ini. Kalau saja aku gak memaksa Yuu-chan untuk berpacaran denganmu, mungkin kita bisa berteman baik tanpa ada masalah seperti ini. Makanya dari dulu aku paling gak percaya sama yang namanya sahabat jadi cinta.” Yua tersedu-sedu, membenamkan wajahnya di dalam pangkuan Mirai.

“Kamu tahu Yua, dari awal aku yang salah, karena berteman denganmu demi bisa dekat dengan Yuu-chan. Bahkan demi keegoisanku, kamu memohon agar Yuu-chan mau berpacaran denganku. Aku sahabat yang buruk untukmu. Maafkan aku, Yua.” Mirai membelai rambut Yua, menyibakkannya karena menutupi wajah sahabatnya, menghapus air mata yang mengkilap di pipi chubby itu.

“Bagaimana keadaanmu sekarang? Masih sakit?” Mirai membelai pipi kiri Yua yang dia yakini bekas tamparan Ichigo-papa.

“Cuma terasa panas malam itu saja. Gak separah waktu kejadian dia menyeretku dari ruang klub astronomi dulu. Hehe” Mirai masih mengingat dengan jelas kejadian di ruang klub astronomi di tahun kedua mereka.

“Kamu tahu, Mirai, Yamada-senpai menghubungiku lhoo! Dia bilang, akan mengajar di tempat bimbelku selama satu bulan mulai awal bulan nanti. Beruntungnya aku.” Tidak ingin Mirai membayangkan kejadian malam itu lagi, Yua mengalihkan pembicaraan mereka.

“Bukannya kamu sudah melupakan rasa sukamu ke Yamada-senpai?” Mirai paham betul kalau Yua hanya berusaha mengalihkan pembicaraan mereka, tanpa bermaksud bersungguh-sungguh mengungkit perasaannya ke Yamada-senpai.

“Iya sih. Tapi kan sebentar lagi musim panas. Musim panas dan cinta, musim panas adalah saatnya jatuh cinta! Aku gak mau menghabiskan musim panas terakhir masa SMAku hampa tanpa cinta. Seenggaknya, bisa bersama dengan idolamu selama satu bulan, apa kamu bisa membayangkannya?” Yua bangkit dari posisinya, menyambar boneka anjingnya, looky, dan memeluknya.

“Mantan idola. Yamada-senpai cuma mantan idolamu, Yua.” Mirai gemas dan merebut looky gantian memeluknya.

“Sepertinya aku juga harus mencari cinta yang baru di musim panas ini.” Yua sadar kalau dia lupa menanyakan bagaimana hubungan Yugo dan Mirai saat ini. Tapi mendengar pernyataannya barusan, Yua sepertinya tidak perlu bertanya lagi.

Melihat wajah Yua yang mendadak tidak bersemangat, Mirai membalikkan badannya, sengaja menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Yua, lalu menggelitik pinggang sahabatnya.

“Kamu tahu, Yua. Meskipun kisah cintaku dengan Yuu-chan harus berakhir, aku gak akan pernah menyesalinya. Berawal dari mencintainya, aku bisa bertemu dengamu dan menjadi sahabatmu. Aku merasa sangat kehilangan ketika harus terus menghindarimu beberapa minggu ini.”

“Siapa juga yang nyuruh?” Yua merapikan rambut dan bajunya yang berantakan gara-gara menghindari serangan bertubi-tubi Mirai.

“Lagian, aku suka heran sama kalian para cewek. Apa sih yang kalian lihat dari Yuu-chan? Oke, dia memang populer dan bermulut manis. Tapi dia kan buaya. Untung saja aku terlahir sebagai sahabatnya dari kecil. Jadi sudah kebal dengan mulut manis dan perlakuan baiknya yang sering disalah-artikan sebagai perhatian berlebih oleh kalian para cewek.” Mirai mengacak kembali rambut Yua mendengar pernyataan sahabatnya yang lugu itu.

“Mungkin buatmu perhatian Yuu-chan itu biasa karena sudah sering mendapatkannya dari kecil. Tapi bagi kami ‘para cewek’, mempunyai cowok yang populer dan selalu berkata manis itu adalah sebuah impian. Apalagi kalau sampai bisa jadi ‘harta berharga’ bagi cowok itu.”

“Aaaaargh, aku gak paham. Aku merasa gagal sebagai cewek.” Yua menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukan looky.

“Sejak kapan kamu jadi cewek? Ah iya, kan sudah pernah pacaran sekali sama Chinen-senpai ya?” Mirai menggoda Yua, berusaha akan menggelitiknya lagi.

“Jangan pernah sebut nama dia lagi. Ku mohon.” Suara Yua sedikit teredam bonekanya. Tapi cukup jelas untuk Mirai memahami kalau menyebutkan nama Chinen sudah membuat sahabatnya mengingat kenangan buruk, melihat bahu Yua bergetar saat menyebut nama Chinen.

Selama berpacaran dengan Chinen, Yua memang sudah tidak tinggal bersamanya di asrama. Sehingga Mirai jarang mendengar Yua menceritakan kisah percintaan mereka. Mirai hanya mendengar kalau mereka putus baik-baik karena Chinen-senpai ingin lebih fokus untuk persiapan ujian masuk perguruan tingginya tahun depan. Namun setelah kejadian menginap di vila keluarganya, hubungan mereka sepertinya sudah benar-benar putus.

Sebenarnya Mirai menyadari keanehan-keanehan dari sikap Yua, seperti tiba-tiba ingin mengikuti bimbingan belajar. Namun Mirai tidak ada waktu untuk memikirkannya, karena dia sudah cukup sibuk mempersiapkan diri untuk pertandingan final yang kurang seminggu lagi, ditambah masalahnya dengan Yugo, yang sebenarnya tanpa sepengetahuan Yua, sudah terjadi sejak sebelum pertandingan semi-final basket. Memang, terkadang kita tidak bisa menceritakan semua masalah kita, bahkan ke orang terdekat sekalipun.

ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s