[Minichapter] 360 Degrees (Chap 1)

360 Degrees (Chapter 1)

By. magentaclover

Genre : Romance

Cast : Kyomoto Taiga (SixTONES), Hideyoshi Sora (OC), Tsuchika Sora (OC)

a/n : This story sequel from (Ficlet : Umbrella Love). Sorry for typo and etc.

Tiga ratus enam puluh derajat, bola mata itu selalu melihat apa yang ingin dilihatnya sedemikian rupa. Tiga ratus enam puluh derajat, cintanya selalu saja kembali ke tempat yang sama. Entah kapan. Dimana. Bagaimana. Tiga ratus enam puluh derajat selalu menjadi pertanyaan yang berputar-putar. Tiga ratus enam puluh derajat kembali menempatkan hatinya pada tempat yang sama.

Dalam sudut tiga ratus enam puluh derajat… senyuman itu masih terekam nyata.

.

.

.

Kyomoto Taiga duduk seorang diri di sini, memainkan ponselnya dengan terpaksa karena tak tahu lagi harus melakukan apa di hari hujan ini. Suasananya cukup sepi dan kelas ini terasa canggung untuk dirinya sendiri. Pemuda itu pun mulai bosan dengan apa yang ia lakukan di sini sehingga langkah kakinya mulai terdengar nyaring di antara guyuran hujan di luar sana. Wajahnya terlihat malas di setiap langkahnya, pemuda itu hanya bingung bagaimana caranya melarikan diri dari sini jika hujan masih terus menyapa di luar sana.

Pemuda itu membutuhkan payung, mungkin payung yang sama seperti masa SMA-nya dahulu.

Jika boleh memilih maka pemuda itu akan terus berada di sana, di masa SMA-nya yang biasa saja—tadinya. Setelahnya semua berubah seratus delapan puluh derajat ketika sosok itu datang menawarkan payung padanya. Mudah saja, Taiga menyukainya… senyumannya dan jemari lembut itu ketika tak sengaja menyentuh kulit putihnya. Saat-saat itu memang mengukir kenangan indah yang membuat rindu serupa. Sayangnya sekarang lain halnya, karena terlalu rindu efeknya menyakitkan bukan? Tak terlihat tentunya, Kyomoto Taiga sendirilah yang bisa merasakannya.

“Apa hujan di sini membuatmu diam?”

Bola mata Taiga melirik tepat ke arah gadis bersurai panjang yang ada di hadapannya. Jarak mereka cukup jauh memang jika keduanya ingin membuat percakapan lebih jauh. Namun tentu saja Taiga bisa melihat ekspresi seperti apa yang nampak di wajah gadis itu. Tersenyum? Ya, tentu saja.

“Kau belum pulang?” tanya Taiga seraya berjalan mendekati gadis itu. “—atau menungguku?”

“Membuang waktuku per sekian detik tentu saja jika aku menunggumu di sini.” Bohong tentu saja, Taiga benar-benar tahu jika gadis itu selalu menunggunya diam-diam.

Taiga pun tersenyum dan berjalan mendahului gadis yang kini mengekor di belakangnya. Memang sering sekali seperti ini, entah kapan dan bagaimana segalanya terjadi. Kyomoto Taiga sedikit tak berminat untuk mengingatnya.

“Aku tahu kau pembohong ulung, Sora…”

Wajah gadis itu merona seketika, anatara malu dan kesal tentu saja. Untunglah Taiga tak dapat melihat raut wajahnya saat ini karena pemuda itu masih terus berjalan di depannya tanpa sekalipun menengok ke arah belakang. Semua yang dikatakan Taiga memang benar jika Sora memang tengah menunggunya—sering sekali mungkin. Gadis itu pun memang pembohong ulung—mahir, namun tidak untuk seorang Taiga. Permainannya masih terus berlanjut hingga saat ini walau Taiga telah mengetahui kebenarannya beberapa hari yang lalu. Permainan itu dibuatnya sendiri guna menutupi perasaannya pada seorang Kyomoto Taiga, awalnya. Konyol dan penuh dengan alasan yang bodoh. Begitulah.

Sora menyukai Taiga,

Taiga pun menyukai Sora,

Tak ada yang salah untuk sesaat, cintanya mungkin terlihat seimbang. Namun sayang, ada Sora yang lain di sana. Langit yang luas dan selalu Taiga kenang tiga ratus enam puluh derajat jika diumpamakan. Langit di masa lalu pemuda itu yang tak pernah berpindah tempat, selalu ada dan nyata berada di dalam hati seorang Kyomoto Taiga.

“Hujannya sudah reda…” gumam Sora, “Sepertinya kita bisa pergi dari sini sekarang,”

Taiga mengangguk, “Bagaimana jika sekalian pergi makan?”

“Dengan senang hati,”

***

Sudah hampir pukul sebelas malam dan keduanya masih asik mengobrol di kedai ramen sederhana tak jauh dari kampus mereka. Taiga lebih banyak bercerita tentang tugas kuliahnya yang menumpuk, sedangkan Sora lebih memilih untuk berkeluh kesah karena hari ini ia baru saja terkena amukan seorang dosen. Menyeramkan dan sangat buruk bagi gadis itu karena ia dimarahi oleh sebab yang bukan kesalahannya—menurut Sora tentunya.

“Lalu bagaimana ekspresimu saat itu? Apakah seperti ini?” Taiga membuat mimik wajahnya seperti seorang anak yang baru saja dimarahi ibunya. Seperti anak yang bodoh di mata Sora dan tentu saja menyebalkan bagi gadis itu kala melihat seorang Kyomoto Taiga saat ini.

“Aku tidak se-menyedih-kan itu!” ejanya sedikit kesal.

Taiga pun terkekeh lagi, puas menertawakan gadis yang masih duduk di hadapannya. Bola mata Taiga pun diam-diam menelusuri raut wajah Sora yang kini masih sibuk menyantap semangkuk ramen yang tak kunjung habis karena gadis itu terlalu banyak berbicara. Gadis itu cantik, sangat. Polesan di wajahnya pun sempurna walau Sora selalu mengelak kala Taiga mengatakan dirinya sangatlah cantik. Rambut panjangnya juga indah, bergelombang di ujungnya sehingga membuat Sora sedikit berbeda dari gadis-gadis di kampusnya.

Bola mata itu masih memperhatikan Sora, tak peduli jika sang empunya nama berbaik menatapnya penuh tanya. Taiga hanya penasaran kenapa dirinya tak bisa menemukan kesamaan antara Sora di hadapannya dengan Sora di masa lalunya. Mereka sama-sama cantik dan memang Taiga menyukai gadis cantik entah secara kebetulan atau memang sengaja mencari yang seperti itu. Namun kisahnya dengan Sora berbeda, mereka yang mendekat—mungkin saja dan Taiga yang tak tahu apa-apa pada awalnya.

Secara sekilas semua gadis terlihat cantik bagi Kyomoto Taiga, pemuda itu tak bohong dengan kata-katanya sendiri. Namun tentu saja ada yang membedakan kecantikan itu dengan sendirinya. Rasa nyaman dan senyuman, tentu saja hal itulah yang membuat Taiga belum bisa melupakan sosok Hideyoshi Sora walau kini yang ada di hadapannya adalah seorang Tsuchika Sora. Melihat keduanya memang mengingatkan Taiga pada hujan yang selalu saja turun di awal pertemuan mereka. Jika mengingat hal itu tentu saja Taiga berfikir lebih keras untuk mencari kemiripan antara keduanya.

“Berapa lama pun kau menatapku make up ini tak akan luntur,” kekeh Sora usil.

“Terima kasih karena sudah membuyarkan lamunanku.” Taiga sedikit kesal, namun tak keberatan juga sebenarnya karena Sora memang sering mengganggu lamunannya.

“Hey, menurutmu aku ini cantik ‘kan?” tanya Sora santai dan sepertinya ia sudah tahu jawabannya. Tak hanya Taiga, semua yang mengenalnya pasti akan mengatakan jika gadis itu cantik. Polesan alaminya benar-benar sempurna.

Taiga hanya diam menatap Sora yang sepertinya ingin melontarkan kata-kata lagi, “Apa kami berdua mirip?”

“Siapa?”

“Aku dan Sora… gadis yang kau sukai itu,”

“Kau maunya mirip atau tidak?” bukannya menjawab Taiga malah balik bertanya, ditambah lagi kekehan pemuda itu terdengar sangat menyebalkan di telinga Sora.

Keheningan tiba-tiba saja ada di antara mereka ketika Sora hanya terdiam tanpa menjawab apapun. Tatapannya tertuju pada sumpit yang kini digenggamnya, memainkan sumpit itu sesekali sehingga menimbulkan bunyi kala ujung sumpit itu menyentuh pinggiran mangkok ramennya. Gadis itu bingung bagaimana menjawab pertanyaan Taiga yang juga menjadi pertanyaan pribadinya. Apa Tsuchika Sora ingin dibilang mirip dengan Hideyoshi Sora? Apa dengan kemiripan itu seorang Kyomoto Taiga akan menyukai Tsuchika Sora seperti pemuda itu menyukai Hideyoshi Sora?

Bodoh.

“Begini,” Taiga berdehem sesaat, “Bagaimana perasaanmu saat melihat langit malam dan siang?”

Sora masih belum mengerti maksudnya, tetapi tentu saja orang bodoh juga mengerti langit malam dan siang berbeda adanya. “Tentu saja berbeda. Terang dan gelap?”

Taiga menggeleng, “Bukan seperti itu maksudku,”

“Lalu apa?”

“Matahari dan bulan, apa kau merasakan yang sama ketika melihat keduanya saat siang dan malam?”

Sejenak Sora berfikir dengan Taiga yang masih menanti Sora menjawab pertanyaannya. Mudah saja dijawab jika gadis itu mengerti, namun jika Sora yang berada di sampingnya ini tak cukup peka maka gadis itu tak akan menemukan jawabannya dengan cepat.

“Hmm…” Sora melirik ke arah Taiga, “Mungkin seperti matahari yang berada di malam hari dan bulan yang berada di siang hari?”

Taiga diam, malas menanggapi Sora yang satu ini. “Sudahlah Sora, aku mau pulang.”

“Ahahaha, aku bercanda…” tawa Sora riang dan dibalas dengan tatapan kesal oleh pemuda cantik di sampingnya.  

“Tidak lucu!”

“Kenapa?”

“Karena jika kata-katamu itu menjadi kenyataan maka dunia ini akan kiamat, baka!”

“Kyomoto Taiga pasti cemas ya karena belum bertemu langit masa lalunya, hahaha…” Sora tertawa riang seolah membiarkan hatinya sakit ketika mengatakan kata-kata itu. Sayangnya, mau bagaimana lagi? Kenyataannya seperti ini, pantaskah Tsuchika Sora mengubahnya sepihak?

Urusai!”

Pemuda itu mengacak helaian indah milik Sora, memainkannya sesuka hatinya dan tentu saja ini adalah kali pertama Taiga melakukannya pada seorang Tsuchika Sora. Detik itu pula semburat merah muda kembali nampak di wajah cantik Sora tanpa bisa ditahan lagi oleh sang empunya. Sentuhan Taiga benar-benar membuatnya malu sendiri, entah malu karena apa namun hatinya ingin meledak-ledak di sini. Senang dan malu, bagaimana dirinya harus bersikap di sini? Tsuchika Sora sudah tak tahu lagi harus mengontrol hatinya seperti apa untuk hari esok dan seterusnya.

“Ayo, pulang!” Taiga menggenggam pergelangan tangan itu. Sungguh, kembali membuat Sora terus-menerus menahan segalanya. “Kau berantakan sekali, astaga!”

“Ulahmu nih!” omel Sora tanpa berani menatap ke arah Taiga.

Gomen…” ucap Taiga, “Sengaja loh,”

“Sial,”

Lagi-lagi Taiga asik terkekeh di samping Sora tanpa tahu apa yang dirasakan gadis itu. Memang Taiga tahu bahwa Tsuchika Sora menyukainya tetapi bukan berarti Taiga benar-benar tahu apa yang dirasakan gadis itu saat dirinya ada di samping Sora. Saat Taiga tertawa, tersenyum ataupun diam seribu kata semuanya berbeda bagi Sora. Semuanya menjadi rahasia di hatinya dan biarlah Taiga tak tahu karena tak seharusnya pula Taiga mengintip sampai ke dasar hatinya. Percuma kemungkinannya.

Mungkin…. seharusnya begini lebih baik,

.

.

Untuk sudut enam puluh derajat, mungkin di sinilah kisah cinta ini menjadi terjal sekaligus menyulitkan untuk mencapai puncak di sudut sembilan puluh derajat. 

*End For Chapter 1*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s